Islam _ Konfusianisme

Document Sample
Islam _ Konfusianisme Powered By Docstoc
					Islam & Konfusianisme

Sejarah pertemuan
antara peradaban Islam dan peradaban Barat telah banyak ditulis dan
dibicarakan, begitu juga perkembangan interaksi dan saling pengaruh
diantara keduanya beserta dampak pertemuan-pertemuan ini terhadap
sejarah dan budaya dunia. Sebaliknya, pertemuan antara peradaban Cina
dan peradaban Islam sangat sedikit diketahui, setidaknya di luar Cina
dan bagi orang yang awam terhadap kajian ini. Pertemuan tersebut bahkan
paling minim diketahui dibanding pertemuan antara peradaban Islam dan
peradaban India. Hal ini mengejutkan, menimbang kenyataan bahwa
pertemuan antara peradaban Cina dan peradaban Islam berlangsung lebih
awal, terutama semasa pemerintaha Mongol, dan ada banyak
interaksi diantara keduanya di berbagai tingkatan termasuk ilmu
pengetahuan dan teknologi, ekonomi, politik dan militer. Dunia
Muslim-Melayu sendiri telah mengembangkan hubungan yang luas dengan
Cina selama berabad-abad.
Multi tingkat dan multi aspek pertemuan anatara peradaban Cina dengan
peradaban Islam seharusnya lebih banyak diketahui oleh dunia modern.
Ada beberapa alasan penting mengapa kita perlu mengungkapkan pertemuan
dengan segala dimensinya ini kepada dunia. Pertama, di dalam zaman
modern ini di mana tak satupun budaya hidup terisolasi dari
budaya-budaya lain di dunia, adalah suatu keuntungan untuk
menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang dapat menimbulkan saling
pengertian yang lebih besar terutama di antara kebudayaan-kebudayaan
besar. Peradaban Cina dan kebudayaan Islam pada kenyataannya
merupakan peradaban-peradaban besar dunia dilihat dari segi wilayah
maupun demografi, dan dari dampak dan pengaruhnya terhadap
perdaban-peradaban lain. Kedua peradabanini juga masih sangat hidup.
Dunia Muslim dan Cina masing-masing memiliki populasi sebesar satu
milyar orang dan meliputi lebih dari 40% ras manusia saat ini.



Seperti kita ketahui, peradaban Cina merupakan peradaban secara
mencolok dapat disebut Cina, ia tak hanya terus menunjukkan betapa
penting dirinya, tetapi juga menjanjikan masa depan. Dalam segi
spiritual dan moral, Cina modern sedang menyaksikan kelahiran kembali
Konfusianisme dan juga kepercayaan-kepercayaan bangsa lain termasuk
Islam. Dari segi ekonomi, menurut ramalan BAnk Dunia, pada tahun 2020,
tahun yang sama ketika Mahathir Muhammad menginginkan Malaysia muncul
sebagai negara muslim Industri maju, Cina akan menyalip USA sebagai
kekuatan ekonomi terbesar dunia. Jika dibandingkan, peradaban Islam
relatif muda. Sebenarnya merupakan yang termuda dari semua peradaban
yang berbasis agama dan kepercayaan. Muda dan kuat, Islam saat ini
masih kesulitan dengan diri sendiri, tak seperti masa lalunya yang
cemerlang ketika kepercayaan dirinya masih besar. Walaupun belum
menemukan kembali identitas peradabannya sendiri secara utuh setelah
selama berabad-abad diserang dari segala penjuru oleh peradaban Barat
yang modern dan sekular, peradaban Muslim saat ini mengalami sebuah
kebangkita spiritual dan peremajaan intelektual. Kedua hal tersebut
mewujud dalam cara-cara dan ukuran-ukuran yang membuat heran banyak
pemikir-pemikir modern, terutama mereka yang berada di bawah pengaruh
ideologi positivis Eropa abad ke-19. Ideologi inilah yang telah
meramalkan “kematian Tuhan”, dimana itulah akhir dari agama-agama
tradisional yang terorganisasi.



Saat ini, alih-alih terkubur dalam sejarah, agama telah bangkit
kembali. Kebangkitan relijius zaman ini tidak terbatas pada satu agama
tertentu saja, melainkan telah menjadi fenomena yang mendunia. tetapi,
melebihi agamayang lain, Islam lah diseluruh dunia yang berada pada
baris terdepan kebangkitan relijius selam paruh kedua abad ke-20.
Di negara-negara seperti Malaysia yang menunjukkan Islam sebagai agama
http://www.csl.or.id - Center for Spirituality & Leadership   Powered by Mambo   Generated: 5 November, 2006, 23:16
dominan dan kaum Muslim merupakan populasi mayoritas, kebangkitan
kembali Islam telah mengilhami dam mempengaruhi kebangkitan kembali
Islam telah mengilhami dan mempengaruhi kebangkitan relijius di antara
agama minoritas masing-masing.



Dengan jumlah pengikut dan sumber daya alam yang besar terilhami oleh
sejarah peradaban yang panjang baik dunia Cina dan dunia Muslim sam-sma
memainkan peran yang berani dan berpengaruh pada peristiwa-peristiwa
internasional di masa yang akan datang. Keberhasilan pertemuan
antar-peradaban yang menilputi banyak aspek kehidupan dan pemikiran
manusia ini, haruslah didukung. Jika budaya Cina dan Islam terikat
dalam interaksi kreatif lain yang berskala besar, kita bisa berharap
keduanya membuat sumbangan penting bagi masa depan yang lebih baik bagi
manusia. Sejarah membuktikan, aktinya pertemuan dan interaksi
agama-agama selalu menghasilkan keuntungan dan saling pengaruh.



Interaksi yang kreatif antara peradaban Cina dan peradaban Islam bukan
sekadar sesuatu dari masa lalu yang hanya menarik bagi para sejarahwan
dan par asarjana, tetapi memiliki kelanjutan di masa sekarang
walaupun dalam kondisi-kondisi perubahan yang amat besar. Ada banyak
masalah praktis yang menyertai pertemuan dan interaksi mereka saat ini
yang perlu dirumuskan dan dipecahkan kembali.



Pada bab ketiga, William Chittick, seorang cendikiawan Barat terkemuka
yang berkecimpung dalam spiritualitas Islam, bicara panjang lebar
tentang asas dasarajaran Islam yang secara umum membentuk sikap kaum
Muslim tradisional terhadap perbedaaan relijius. Dalam pandangannya,
tujuan cendikiawan Muslim dalam merumuskan peradaban Cina haruslah
untuk mengenali kebijakan yang melekat pada peradaban Cina tradisional
dan untuk mengesahkan bahwa kebijakan ini berakar pada kebijakan tauhid.



Osman Bakar, penulis bab empat pada dasarnya mengikuti pendekatan
filsafat yang sama seperti Chittick dalam memahami kebijakan Cina
tradisional yang terkandung dalam Analek-Analek konfusius. Osman Bakar
secara khusus mencoba menekankan pada sesama Muslim bahwa dari sudut
pandang ajaran spiritual Islam, amatlah sah bagi mereka untuk
menghayati Konfusius dan Analek-nya dengan cara Islami.
Osman BAkar berkecimpung dengan pertanyaan-pertanyaan seputar
apakah Konfusianieme itu suatu agama atau bukan dan dapat atau tidaknya
Konfusius dianggap sebagai rasul Tuhan dalam pengertian Islam.



Dalam Bab kelima, Lee Cheuk Yin memberi contoh nyata usaha-usaha yang
dibuat oleh kaum Muslim Cina di Cina untuk memperbaiki hubungan Islam
dan Konfusianime tidak hanya pada tingkatan etika, tetapi juga pada
tigkatan yang lebih sulit dan kompleks yaitu Teologi.

Sachiko Murata, cendikiawan Islam kelahiran Jepan telah menulis bab
enam dengan tujuan utama membantu memfasilitasi pemahaman tentang Islam
di kalangan orang-orang dari tradisi Timur Jauh.



Tujuan dasar utama dari bab tujuh milik Chung-Ying Cheng adalah
penggalian pokok pembicaraan umum yaitu pemahaman dan interaksi anatara
Konfusianisme dan Islam dan suatu penyelidikan tentang asas-asas moral
http://www.csl.or.id - Center for Spirituality & Leadership   Powered by Mambo   Generated: 5 November, 2006, 23:16
yang dapat dijadikan dasar bagi pencapaian pemahaman antar agama dan
perdamaian di kalangan masyarakat relijius dunia.



Bab delapan, sembilan dan sepuluh, masing-masing ditulis oleh Gan Teik
Chee, Chandra Muzaffar dan Kosugi Yasushi membahas tema umum sentral,
yaitu nilai-nilai inti yang dapat digunakan oleh Konfusianisme dan
Islam. Tetapi masing-masing penulis membicarakan tema dengan pokok
bahasan berbeda.



Bab sebelas, du belas dan tiga belas ditulis masing-masing oleh Arifin
Bey, Wang Gungwu dan Cheng Gek Nai semuanya peduli dengan peran dan
sumbangan Konfusianisme dalam konteks kemasyarakatan yang berbeda tanpa
membuat sedikitpun perbandingan dengan Islam.



Secara keseluruhan buku ini mungkin menjadi bacaan perkenalan yang
tidak hanya bernilai mengungkapkan persamaan dan perbedaaan anatara
Islam dan Konfusianisme dan juga tentang makna dan ati penting dialog
peradaban antara keduanya; tak hanya bermanfaat bagi hubungan Muslim
Konfusianis di negara-negara seperti Malaysia, Singapura, Indonesia dan
Cina tetapi juga bagi masa depan peradaban manusia di abad ke-21.
Judul Buku


Islam & Konfusianisme

Sebuah Dialog Peradaban


Editor dengan Pengantar


Osman Bakar


Co-Editor


Cheng Gek Nai


Penerbit


Teraju Mizan




http://www.csl.or.id - Center for Spirituality & Leadership   Powered by Mambo   Generated: 5 November, 2006, 23:16