Docstoc

Indonesia-2

Document Sample
Indonesia-2 Powered By Docstoc
					LAPORAN AKHIR

MALE AND FEMALE
GENITAL CUTTING
Konteks, Makna, dan
Keberlangsungan Praktek dalam
Masyarakat Yogyakarta dan Madura




Tim Peneliti

Dr. Muhadjir Darwin
Dr. Faturochman, M.A.
Basilica Dyah Putranti, S.Sos., M.A
Sri Purwatiningsih, S.Si., M.Kes.
Isaac Tri Octaviatie, S.Ant.


Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan
Universitas Gadjah Mada, Indonesia
Daftar Isi
Pengantar
Pendahuluan
       Mengapa meneliti MGC dan FGC di Indonesia?
       Bagaimana MGC dan FGC berlangsung?
       Desain penelitian
Rangkuman temuan penelitian
Konteks dan idiom
       Konteks sosial historis
       Idiom-idiom lokal
Pemaknaan
          Pemurnian - Kejawen
          Ritual pubertas
          Pemurnian - Islam
Praktek
       Prosedur
       Pelaku
       Usia dan upacara
       Konsekuensi bagi kesehatan
Keberlangsungan
          Relevansi sosial relijius
          Medikalisasi dan komersialisasi
          Mitos seksualitas
Rekomendasi
       Penelitian
       Kebijakan
Referensi
Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan
Universitas Gadjah Mada
Bulaksumur G-7 Yogyakarta 55281, Indonesia
Phone 62-274-563079, 522127, 901152 Fax 62-274-582230
E-mail publication@cpps.or.id Homepage http://www.cpps.or.id


Universitas Gadjah Mada merupakan universitas negeri pertama di Indonesia. Saat ini memiliki 27 pusat studi, enam
pusat pelayanan masyarakat, dan lima pusat antar universitas. Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas
Gadjah Mada (PSKK-UGM) yang dulu bernama Pusat Penelitian Kependudukan, didirikan pada tahun 1973 dengan
tujuan meningkatkan dan menyebarluaskan pengetahuan yang berkaitan dengan masalah kependudukan dan
pembangunan baik di perkotaan maupun di pedesaan di Indonesia.

Misi utama PSKK-UGM adalah meningkatkan kesadaran dan pemahaman publik akan masalah kependudukan di
Indonesia serta konsekuensinya terhadap upaya pembangunan, membantu pembuat kebijakan dalam memecahkan
persoalan yang terkait dengan kependudukan, mengintegrasikan kegiatan pengajaran dan penelitian dalam studi
kependudukan, serta mempromosikan penelitian interdisipliner mengenai masalah dan isu kependudukan.

Sehubungan dengan misi di atas, beberapa tujuan ingin dicapai oleh PSKK-UGM, yaitu : 1) Mengadakan penelitian yang
terkait pada isu kependudukan dan pembangunan dalam rangka memberikan kontribusi pada proses pembuatan
kebijakan; 2) Meningkatkan ketrampilan meneliti dan pengetahuan peneliti muda di seluruh Indonesia; 3) Membangun
jaringan dengan pusat penelitian sosial dan kependudukan lain baik di dalam maupun di luar negeri; 4) Menyebarluaskan
hasil penelitian melalui publikasi dan seminar.

Penelitian
Sejak tahun berdirinya, PSKK telah melakukan lebih dari 200 proyek penelitian, meliputi berbagai topik yang terkait
pada isu kependudukan dan pembangunan, antara lain :
•   1973-1980: Fertility and Family Planning, Population Dynamics, Urbanization and Transmigration, Productivity
    and Health, Value of Children, Women in University Environment, Unemployment and Poverty in Rural Areas,
    Social and Economic Condition in Natural Disaster Area of Mt. Merapi, Population Pressure, Family Life Cycle
    and Social Structure
•   1981-1990: Employment and Job Mobility, Fertility and Family Planning, The Evaluation of ZPG Programme in
    Indonesia, Population Policy, Population Dynamics, Informal Sector, Off-farm Employment, Female Worker,
    Human Resources Development, Small Scale Industries, Putting-out System, Population Education, Population
    Mobility, Urbanization and Metropolitanization, Marriage Patterns, Social Impact of Growth of the Young Age
    Group, Adolescent Personality, Family Life Education for Youth, Quality of Life, Population Projection,
    Demographic Transition, Social Mobility, Poverty and Social Changes, Population Quality Indicators
•   1996-1998: Population Policy, Work Opportunities, Small Scale Enterprise, Economic and Agriculture
    Transformation, Reproductive Health, Fertility, Family Welfare and Women’s Activities, Family Care for Elderly,
    Social Security and Social Policy, International Migration and Local Development, Violence against Women
•   1999-2001: Public Services, Decentralization, Reproductive Health, Violence Against Women, Master Plan for
    the Transmigration and Population Policy, International Migration, Female Labor Migrants, Human Resources
    Development Studies, Indonesia Family Life Survey, Policy Analysis and Capacity Building Using the Indonesia
    Family, Migration and the Dynamics of PLAN-supported Children, Governance and Decentralization Survey,
    Women and Child Trafficking In Great Meckong Areas, The Impacts of Conflict on Children.

Publikasi
Dari hasil-hasil penelitian di atas, PSKK-UGM telah mempublikasikan lebih dari 350 judul berupa: report series,
translation series, methodology series, working paper series, seminar report series, dan publikasi khusus. Semuanya
meliputi topik-topik kependudukan, lingkungan dan kesinambungan pembangunan, dinamika kependudukan,
mobilitas penduduk, industrialisasi dan urbanisasi, demografi, kualitas manusia dan kualitas sosial, kebijakan
kependudukan, dan gender. PSKK-UGM juga menerbitkan jurnal tengah tahunan POPULASI yang berisi artikel-
artikel berkaitan dengan isu-isu kependudukan dan kebijakan.

Training
Di samping penelitian, PSKK-UGM menyelenggarakan training penelitian kependudukan bagi para peneliti di bidang
kependudukan dan ilmu sosial, dan para staf perencanaan pembangunan daerah. Kegiatan ini meliputi : 1) Research
Methodology, Multivariate Analyses, and Secondary Data Analyses; 2) Population Dynamics and Population Projection; 3)
Population, Environment and Sustainable Development; 4) Industrialization and Urbanization; 5) Reproductive Health; 5)
Population Policy Analysis; 6) Population Studies CPPS-GMU Management; 7) Social Security and Social Policy; 8)
Gender and Development, 9) Migration; 10) Public service; 11) Governance and Decentralization. Secara rutin, PSKK-
UGM juga menjadi tuan rumah berbagai forum untuk menyebarluaskan hasil penelitian staf, dan peneliti lain baik dari
dalam maupun luar negeri, antara lain melalui seminar bulanan terbuka untuk umum.
Pendanaan
Sebagai lembaga otonom di lingkungan Universitas Gadjah Mada, PSKK-UGM hanya memperoleh bantuan dasar
berupa SDM, administrasi, bangunan fisik, dan fasilitas pendukung lainnya. Sedangkan pendanaan kegiatan PSKK-
UGM diperoleh dari lembaga donor baik dari dalam maupun luar negeri, antara lain: Depdagri, BAPPEDA, Depkes,
BKKBN, Menneg PP, Bappenas, Mendiknas, BPS, Depdiknas, Depnaker, Arun Liquid Natural Gas Company, the
United Nations Funds for Population Activities, the Ford Foundation, the Pathfinders' Fund, the Deutscher
Akademischer Austan Deschidientst (DAAD), Friederict Ebert Stiftung (FES), L’Institut Francais de Recherche
Scientifique pour le Développement en Cooperation (ORSTOM), the William and Flora Hewlett Foundation, the United
States Aids for International Development (USAID), Tennessee State University, Family Health International (FHI),
Neys-Van Hoogstraten Foundation, International Development Research Center (IDRC), United Nations Education
Scientific and Cultural Organization (UNESCO), Japan Foundation, Population Council, Rockefeller Foundation, the
ASEAN’S Population Program, World Bank, International Labour Organization (ILO), World Health Organization
(WHO), UNFPA, and UNICEF.

Jaringan
Dalam rangka memelihara dan memperkuat jaringan dengan pusat penelitian di Indonesia dan luar negeri, PSKK-
UGM melakukan beberapa terobosan antara lain:
•   Menjadi wakil Indonesia dalam the Asia Pacific Migration Research Network yang dikoordinasi oleh Center for
    Multicultural Studies University of Wollongong. Dalam hal ini, PSKK-UGM bertindak sebagai koordinator nasional
    untuk jaringan peneliti migrasi nasional yang melibatkan pusat penelitian di seluruh Indonesia
•   Mengadakan proyek kerja sama dengan the University of Amsterdam, ISS The Hague, dan the University of
    Nijmegen untuk penelitian jaminan sosial
•   Mengembangkan jaringan untuk penelitian Cross-Border Trafficking dengan negara-negara di kawasan Great
    Mekong seperti Thailand, Cambodia, Vietnam, Laos, Yunan, Philippines, dan Malaysia. Kegiatan ini didanai oleh
    The Rockefeller Foundation, Thailand
•   Membangun jaringan nasional dalam rangka mempromosikan pemahaman dan membangun kapasitas penelitian
    pada isu-isu kesehatan reproduksi. Jaringan ini didanai oleh The Ford Foundation, Indonesia dengan melibatkan
    para peneliti di bidang kepedudukan dan gender
•   Menjadi ‘core center’ atas kepercayaan Kementrian Kependudukan dalam upaya pengembangan jaringan antar
    pusat studi kependudukan, pada khususnya peneliti di bidang pemerintahan dan desentralisasi di seluruh
    Indonesia
•   Mengelola beasiswa dari UNFPA dand World Bank untuk tingkat masteral dan doktoral di bidang kependudukan
    dan bidang-bidang lain yang terkait sebagai upaya penguatan jaringan antar pusat studi di seluruh Indonesia
•   Mengelola Masri Singarimbun Reserch Award (MSRA) yang didanai oleh The Ford Foundation, Indonesia dalam
    rangka menyalurkan dana penelitian kepada para peneliti muda yang memiliki perhatian pada isu kesehatan
    reproduksi.
Tim Peneliti

MUHADJIR DARWIN
Peneliti senior di PSKK-UGM. Memperoleh gelar Ph.D. dalam Administrasi Publik di University of Southern California
pada tahun 1990. Dalam 10 tahun terakhir, tertarik pada studi gender dan kesehatan reproduksi. Beberapa posisi
penting yang pernah dipegang antara lain: Koordinator program Masri Singarimbun Research Award (sejak tahun
1998) untuk penelitian-penelitian kesehatan reproduksi; Anggota Steering Committee Asia-Pacific Network on Health
Social Science (tahun 2000); Koordinator penelitian kekerasan terhadap perempuan pada sektor publik di Indonesia
(tahun 1997-2001), dll. Menulis di berbagai media massa dan mempresentasikan paper di berbagai seminar nasional
dan internasional yang terkait dengan isu-isu penting kesehatan reproduksi seperti, keluarga berencana, seksualitas,
prostitusi, penyakit menular seksual, dan aborsi.
E-mail darwin@cpps.or.id

FATUROCHMAN
Peneliti senior di PSKK-UGM. Memperoleh gelar Doctor dalam Psikologi di Universitas Gadjah Mada, Indonesia pada
tahun 2002. Tertarik pada studi kependudukan serta ahli dalam bidang analisis data kuantitatif menggunakan SPSS,
Lisrel, dan AMOS. Berbagai studi yang dilakukan antara lain: Dampak Sosial Ekonomi terhadap Perkembangan
Anak, Survey Kehidupan Keluarga Indonesia, Jaminan Sosial dan Kebijakan Sosial di Indonesia, Dampak Keluarga
Berencana Sejahtera dan Kegiatan Perempuan, dll. Terlibat dalam pengembangan proposal, persiapan instrumen
penelitian, manajemen lapangan, pengumpulan dan analisis data, penulisan laporan, dan presentasi.
E-mail fatur@cpps.or.id

BASILICA DYAH PUTRANTI
Peneliti yunior di PSKK-UGM. Memperoleh gelar M.A. dalam Sosiologi di Ateneo de Manila University, The Philipines.
Tertarik pada studi gender, seksualitas, dan budaya. Beberapa saat ini mendalami studi yang terkait dengan isu-isu
Kekerasan terhadap Perempuan, dan menghasilkan beberapa tulisan mengenai isu-isu tersebut, serta
mempresentasikannya.
E-mail basilica@cpps.or.id

SRI PURWATININGSIH
Peneliti yunior di PSKK-UGM. Memperoleh gelar M.Kes. dalam Kesehatan Masyarakat di Universitas Gadjah Mada,
Indonesia. Tertarik pada studi kesehatan reproduksi, gender, dan seksualitas. Menjadi reviewer dalam Masri
Singarimbun Awards (MSRA) dan menghasilkan beberapa tulisan yang terkait dengan isu gender dan kesehatan
reproduksi.
E-mail nining@cpps.or.id

ISAAC TRI OCTAVIATIE
Asisten peneliti di PSKK-UGM. Menyelesaikan studi anthropologi di Universitas Gadjah Mada, Indonesia. Tertarik
pada studi gender dan kesehatan reproduksi. Terlibat dalam berbagai penelitian lapangan yang terkait dengan studi
tersebut.
Pengantar
       Proyek penelitian ini dipersiapkan oleh Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan,
Universitas Gadjah Mada, Indonesia bekerja sama dengan Australian National University dan
The Ford Foundation.
       Tim peneliti mengucapkan terima kasih kepada Prof. Terence H. Hull dan Dr. Iwu Utomo
dari Demography and Sociology Department, Australian National University, dan Dr. Meiwita
Budiharsana, Reproductive Health Program Officer of The Ford Foundation atas segala
bimbingan dan batuannya yang sangat berarti.
       Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada semua pihak atas berbagai bantuan yang telah
diberikan selama proses penyelesaian proyek penelitian ini.
Pendahuluan
        Genital        cutting      atau
pemotongan alat kelamin merupakan        Box 1. Memperjelas istilah: genital cutting, genital
praktek kuno yang dilakukan oleh         mutilation, dan circumcision
berbagai kalangan masyarakat di          Antara istilah genital cutting, genital mutilation, dan
seluruh dunia untuk alasan-alasan        circumcision seringkali dipertukarkan, dan hingga sekarang
sosial-kultural, dan hingga saat ini     debat mengenai istilah apa yang paling sesuai digunakan
masih terus berlangsung. Sebuah isu      masih terus berlangsung. Istilah circumcision berarti “cutting
                                         around” (memotong melingkar), secara spesifik menunjuk
penting berkaitan dengan fenomena        pada salah satu prosedur medis pemotongan alat kelamin
genital cutting ini adalah resiko        laki-laki. Istilah genital mutilation lebih dekat dengan
kesehatan        reproduksi        yang  pengertian “damaging” (perusakan). Istilah ini lebih
                                         bermakna politis, biasanya digunakan sebagai alat advokasi
ditimbulkan dari prosedur yang           aktivis hak-hak perempuan karena menekankan sisi negatif
dilakukan, termasuk di dalamnya          dari praktek female genital mutilation. Genital cutting
penanganan oleh orang yang tidak         (pemotongan alat kelamin) merupakan iIstilah yang paling
                                         netral karena mengindikasikan prosedur pemotongan
ahli, penggunaan peralatan yang          genital yang bersifat umum, adil, dan konduksif, baik secara
tidak steril seperti silet, pisau dapur, medis maupun non medis,                  bagi laki-laki maupun
bambu tajam, dsb, serta pengobatan       perempuan.

yang tidak tepat. Dalam banyak           Sumber: Population Reference Bureau “Abandoning Female
kasus, praktek semacam ini bisa          Genital Cutting: Prevalence, Attitudes, and Efforts to end the
                                         Practices, US, 2000.
mengakibatkan komplikasi yang
serius serta trauma psikis.
Kenyataan inilah yang kemudian mendorong perhatian dunia Internasional untuk lebih
memperhatikan fenomena genital cutting sebagai sebuah isu hak asasi manusia.

Mengapa meneliti genital cutting di Indonesia?
          Di Asia Tenggara, fenomena genital cutting baik pada laki-laki (Male Genital Cutting atau
                                                      F
disingkat MGC) maupun pada perempuan ( emale Genital Cutting atau FGC) belum banyak
tergali sehingga sedikit perhatian yang diberikan di kalangan dunia Internasional. Namun dari
beberapa studi yang pernah dilakukan, secara umum informasi yang ada menunjukkan bahwa
praktek MGC tersebar di berbagai daerah dan disahkan secara sosial.
                                                         Di sisi lain, praktek FGC merupakan
                                                         fenomena yang masih kabur meskipun
   Tipe-tipe FGC menurut WHO
                                                         dalam kenyataannya praktek ini juga
   Ada beberapa prosedur FGC yang secara                 memperoleh pengesahan sosial seperti
   internasional diberlakukan oleh WHO, antara lain:     halnya MGC.
   •    Clitoridectomy: penghilangan sebagian atau
        seluruh klitoris                                       Di     Indonesia,  FGC       kurang
   •    Excision: penghilangan sebagian atau seluruh     terperhatikan karena konteks masyarakat
        klitoris dan labio minora                        setempat cukup memberikan alasan yang
   •    Infibulation: penghilangan sebagian atau seluruh
        bagian luar genital dengan menjahit sebagian
                                                         tepat untuk mengabaikan persoalan ini.
        saluran kencing dan vagina                       Beberapa studi terdahulu menunjukkan
   •    Unclassified: semua prosedur FGC lainnya yang    bahwa praktek FGC berupa pemotongan
        bersifat membahayakan                            yang sesungguhnya pada sebagian kecil dari
   Sumber: WHO “Female Genital Mutilation: Report of     alat kelamin perempuan dipraktekkan di
   Technical Working Group”, Geneva, 1996.               beberapa tempat di Indonesia, seperti di
                                                         Lampung dan Madura.
Akan tetapi praktek ini hanya menimbulkan dampak minor bagi kesehatan reproduksi
(Musyarofah, Sari, dan Pemilawati, 2001; Mashud dan Ida, 2001). Bahkan di Jawa, menurut salah
studi terdahulu, praktek FGC dapat diminimalkan hanya pada tindakan simbolis, yaitu tanpa
terjadi pemotongan yang sesungguhnya pada alat kelamin (Feillard dan Marcoes, 1998). Ini
berarti bahwa prosedur FGC di Indonesia dianggap kurang membahayakan jika dibandingkan
dengan prosedur seperti clitoridectomy, excision, atau infibulation yang biasa dilakukan di negara-
negara Afrika (baca Box 2). Dalam studinya, Feillard and Marcoes juga menemukan adanya unsur
‘kerahasiaan’ yang meliputi praktek FGC di Indonesia. Hal ini merupakan salah satu alasan
mengapa pendokumentasian praktek FGC di berbagai daerah di Indonesia sangatlah miskin.
Sementara itu, studi lain yang dilakukan di pulau Jawa mengindikasikan bahwa FGC merupakan
“adat yang hampir punah” (Koentjaraningrat, 1985). Itu sebabnya orang seringkali menganggap
tidak cukup relevan untuk mengangkat persoalan ini ke permukaan.
        Hal serupa terjadi pada persoalan MGC di Indonesia. Tidak seperti di dunia Barat yang
mulai mempertimbangkan MGC sebagai sebuah persoalan hak asasi manusia, mempersoalkan
MGC di Indonesia seringkali dianggap tidak relevan. Anggapan ini dilatarbelakangi oleh adanya
konteks sosial setempat yang cenderung bersifat mengesahkan adanya praktek MGC. Studi C.
Geertz’s “The Religion of Java” (1960) misalnya, mengatakan bahwa MGC terkait dengan
upacara slametan yang secara sosial berfungsi penting untuk menjaga hubungan sosial yang
harmonis antar anggota masyarakat.
        Sementara itu dalam studi-studi
                                               Box 3 - Deklarasi ISC mengenai MGC sebagai isu hak
lainnya, MGC di Indonesia selalu               asasi manusia
ditempatkan dalam wacana keislaman.
Salah satu diantaranya adalah studi            MGC sebagai isu hak asasi manusia tercetus dalam
                                               Deklarasi ISC (the First International Symposium on
Ramali (1951) yang memaparkan MGC              Circumcision) di California, 3 Maret 1989 yang disponsori
sebagai salah satu hukum Islam yang            oleh The National Organization of Circumcision Information
terkait    dengan     aspek    kesehatan.      Resource Centers (NOCIRC) -sebuah organisasi yang
                                               berperhatian terhadap isu MGC dan FGC dan hak asasi
Pengesahan sosial ini pada akhirnya            manusia. Deklarasi tersebut berbunyi:
berdampak terhadap keterbatasan studi-         •    Kami mengakui hak setiap manusia atas tubuhnya
studi tentang MGC di Indonesia di luar              yang lengkap. Tanpa prasangka agama atau ras, kami
                                                    mengakui hak asasi manusia
wacana sosial-keagamaan (baca Box 3).          •    Kami mengakui kulit penis, klitoris, dan labia sebagai
        Pengesahan sosial merupakan                 bagian tubuh yang normal dan memiliki fungsi
faktor penting bagi keberlangsungan            •    Orang tua tidak memiliki hak untuk mengijinkan
praktek MGC dan FGC di Indonesia,                   operasi penghilangan atau perubahan alat genital
                                                    yang normal pada anak
yang dalam hal ini tidak bisa dilepaskan       •    Dokter dan perawat memiliki tanggung jawab untuk
dari elemen agama, pengetahuan medis,               menolak menghilangkan atau merusak bagian tubuh
dan adat istiadat yang berkembang di                yang normal
                                               •    Satu-satunya yang berhak mengijinkan prosedur
kalangan masyarakat setempat.                       medis yang tidak perlu atas diri sendiri adalah individu
        Sehubungan        dengan      itu,          yang telah mencapai usia dewasa dan telah
penelitian ini bertujuan untuk menggali             mendapatkan informasi lengkap mengenai resiko dan
                                                    keuntungan dari prosedur tersebut
saling keterkaitan antar elemen-elemen         •    Kami menyatakan bahwa circumcision menyebabkan
kunci tersebut sebagai sebuah proses                korban yang tidak dapat diterima
sosial dinamis yang mampu menekan
                                               Sumber: Declaration of the First International Symposium on
seseorang untuk tetap mempraktekkan            Circumcision. The Turth Seeker 1989: 1(3): 52.
genital cutting.
Melalui penelitian ini, dapat diketahui apakah proses sosial yang ada ikut menentukan berbagai
prosedur genital cutting yang berkembang, dan seberapa penting ini memberi makna bagi
kehidupan masyarakat setempat.

Bagaimana MGC dan FGC berlangsung di Indonesia?
        Sampai hari ini sebagian besar                 Proses sosial yang mendorong
masyarakat Indonesia mengenal MGC dan                 Keberlangsungan MGC dan FGC
FGC sebagai bagian dari pengajaran dan
penyiaran agama Islam, di mana praktek ini                              Pandangan
                                                                    masyarakat setempat
secara ritual dimaknai sebagai proses seseorang
menjadi Islam. Sedangkan pada lapisan sosial                              Aspek
tertentu, orang melihatnya sebagai bentuk                                 relijius
pelestarian tradisi kerajaan pada masa lampau
yang terkait dengan ritual daur hidup yang                         Keberlangsungan
menandai kedewasaan seseorang.                                         MGC & FGC
        Seiring dengan masuknya pengetahuan                  Proses                 Pelestarian
medis Barat ke Indonesia, MGC dan FGC                      medikalisasi              budaya
mulai dihubungkan dengan kebersihan alat
kelamin, dan hal ini ikut menentukan alasan
seseorang       untuk      meneruskan       atau
menghentikan praktek ini.
Meski tidak ada sumber yang pasti mengenai sejak kapan MGC dan FGC dipraktekkan di
Indonesia -apakah sebelum atau sesudah masuknya Islam pada abad 17 Masehi, dapat dilihat
bahwa aspek relijius, pelestarian budaya, dan proses medikalisasi merupakan elemen-elemen
kunci yang secara dinamis membentuk kerangka berpikir dan pandangan masyarakat Indonesia
mengenai praktek MGC dan FGC pada saat ini. Namun perlu dicatat bahwa dalam konteks
masyarakat Yogyakarta dan Madura, aspek relijius yang dimaksud berkaitan dengan pengajaran
Islam, sedangkan dalam masyarakat Indonesia bagian Timur seperti di Timor atau Papua, MGC
dan FGC mungkin tidak secara ekslusif berkaitan dengan Islam.

Desain penelitian
         Penelitian ini difokuskan di daerah Yogyakarta dan Madura berdasarkan beberapa
pertimbangan. Pertama, telah diketahui bahwa baik MGC maupun FGC dipraktekkan di kedua
daerah ini. Kedua, masyarakat di kedua daerah ini memiliki akar budaya yang sama, yaitu
budaya Jawa yang bersifat sinkretis -sebuah kombinasi pandangan antara animisme-dinamisme,
Hindu, Budha, dan Islam. Konteks ini penting dalam rangka membuktikan apakah masyarakat
setempat memang menerima MGC dan FGC sebagai bagian dari tradisi Islam. Untuk
membuktikan hal ini, praktek MGC dan FGC dalam konteks kelompok marjinal, seperti
komunitas Nasrani, Hindu, Budha, ataupun etnis China sebagai kelompok minoritas yang
bermukim di kedua daerah tersebut perlu diperhatikan pula. Pertimbangan ketiga bahwa kedua
daerah ini memiliki karakteritik sosial-demografis yang berbeda, di mana Yogyakarta
merupakan masyarakat yang lebih bersifat terbuka dan heterogen baik dalam hal etnis, agama,
maupun klas sosial. Sebaliknya Madura lebih tertutup dan homogen, di mana hampir 100 persen
penduduknya adalah penduduk asli yang menganut agama Islam dengan tingkat pendidikan yang
relatif lebih rendah. Adalah menarik untuk melihat apakah perbedaan ini mempengaruhi pola
MGC dan FGC yang berbeda pula.
        Penelitian dilakukan
                                                   Pulau Jawa dan Madura
selama tiga bulan (Februari-
April 2002). Pada awalnya
dilakukan     survey     kecil
terhadap 383 responden
laki-laki dan perempuan
baik di Yogyakarta dan                           JAWA
                                                                           MADURA
maupun Madura (Sampang,
                                                      Yogyakarta
Pamekasan, Sumenep) yang
dipilih secara purposive
random untuk mengetahui                  Samudera Indonesia
kecenderungan          umum
praktek MGC dan FGC
dalam masyarakat setempat.
        Selanjutnya, untuk memahami lebih mendalam kerangka berpikir dan pandangan
masyarakat setempat mengenai MGC dan FGC serta seberapa jauh intensitas praktek genital
cutting yang ada, dilakukan wawancara mendalam terhadap orang-orang kunci yang meliputi
para tokoh agama, anggota kelompok etnis, pelaku genital cutting baik dari kalangan medis
maupun non medis, serta laki-laki dan perempuan yang secara langsung mengalami genital
cutting. Untuk memperoleh orang-orang kunci yang tepat, peneliti menggunakan teknik
snowball. Pada tahap penulisan, studi literatur dan dokumentasi dilakukan untuk menggali latar
belakang daerah penelitian, memperbandingkan temuan data di daerah penelitian dengan di
daerah-daerah lain, serta menganalisisnya sesuai konteks sosial yang ada.



                        Ringkasan Temuan Penelitian
         1. Pandangan masyarakat setempat melatarbelakangi adanya konteks
            dan idiom lokal MGC dan FGC
         2. Praktek MGC dan FGC tersebar di daerah penelitian
         3. Makna MGC dan FGC terbentuk dari pemahaman kosmologi Jawa
            dan penafsiran kitab suci agama Islam
         4. Berbagai variasi prosedur MGC ditemukan di daerah penelitian
         5. Pemotongan bagian dari klitoris merupakan prosedur FGC yang
            umum, namun pemotongan simbolis tanpa terjadi perlukaan juga
            ditemukan
         6. Baik ahli tradisional maupun medis modern merupakan preferensi
            masyarakat setempat dalam mempraktekkan MGC dan FGC
         7. Implikasi medis yang serius tidak terungkap, namun efek jangka
            pendek MGC and FGC ditemukan
         8. Relevansi sosio-relijius dan proses medikalisasi MGC, serta mitos-
            mitos seksual mengenai MGC dan FGC yang bias laki-laki
            mendukung keberlangsungan praktek
         9. Lunturnya makna kultural dan tidak adanya relevansi medis FGC
            berakibat pada ketidakberlangsungan praktek
Konteks dan idiom
Konteks sosio-historis
                                             Telah disinggung di depan bahwa masyarakat
      Pandangan masyarakat            Yogyakarta dan Madura pada dasarnya berakar pada
    setempat melatarbelakangi         budaya yang sama, yaitu budaya Jawa yang bersifat
    adanya konteks dan idiom          sinkretis. Keterkaitan ini sebenarnya dimulai sejak
        lokal MGC dan FGC             masuknya kebudayaan Hindu di Jawa dan Madura (abad
                                      7), disusul dengan masuknya kebudayaan Budha (abad 8),
                                      dan terakhir Islam (abad 15).
Namun dalam perkembangan saat ini, kebudayaan Islam nampak lebih dominan berkembang di
Madura (kurang lebih 99 persen penduduknya beragama Islam) daripada di Yogyakarta (sekitar
91 persen). Perkembangan ini dapat dipahami dengan menelusur kembali sejarah masuknya
agama Islam di pulau Jawa dan Madura, terutama pada masa kerajaan Mataram yang dipimpin
oleh Sultan Agung (pertengahan abad 16).
        Sebelum masuknya agama Islam ke Indonesia, masyarakat Jawa dan Madura menganut
animisme dan dinamisme. Sinkretisme kebudayaan Jawa baru terbentuk seiring dengan
masuknya berturut-turut pengaruh Hindu, Budha, dan Islam. Pengaruh Islam berkembang pesat
di Jawa dimungkinkan dengan adanya penyiaran agama oleh Walisongo (sembilan wali) yang
dilakukan tanpa mengubah sama sekali orientasi budaya masyarakat setempat. Hasil sinkretisme
antara unsur Jawa (yang terdiri dari unsur animisme/dinamisme, Hindu, Budha) dan unsur Islam
adalah kebudayaan kejawen (mistik Jawa). Salah satunya terbukti dengan adanya sistem
penanggalan Jawa berdasarkan tahun Saka dan tahun Hijrah yang diciptakan oleh Sultan Agung.
Sejak itulah kebudayaan kejawen mendasari kebudayaan kerajaan-kerajaan yang terdapat di
pulau Jawa dan Madura (Abdulrachman, 1978).
        Di Yogyakarta, kebudayaan kejawen masih eksis hingga saat ini dan menjadi orientasi
hidup masyarakat setempat -meskipun secara formal penduduk Yogyakarta memiliki agama
yang beraneka ragam (92,4 persen beragama Islam, 4,8 persen Katolik, 2,71 persen Kristen, 0,91
persen Hindu, 0,17 persen Budha, dan 0,05 persen beragama lain -BPS Prop. DIY 2001).
Keadaan ini dimungkinkan dengan masih bertahannya kekuasaan kerajaan Yogyakarta yang
sangat adaptif terhadap perkembangan jaman. Sebaliknya di Madura, kebudayaan Islam “murni”
-yaitu Islam yang berorientasi pada kebudayaan Arab- lebih berkembang dominan. Keadaan ini
secara historis merupakan dampak politik pemerintahan Sultan Agung dalam mempersatukan
seluruh kerajaaan yang ada di kepulauan nusantara -salah satunyanya dengan menundukkan
kerajaan-kerajaan di daerah pinggiran, seperti halnya Madura. Politik ini berhasil dilakukan
melalui strategi perkawinan antar keluarga bangsawan Jawa dan Madura, serta dengan cara
memisahkan bangsawan Madura dari rakyatnya. Akibatnya pada saat itu, pengaruh kebudayaan
kejawen hanya berkembang di kalangan bangsawan Madura di daerah pedalaman. Sedangkan
kebudayaan rakyat Madura lebih dipangaruhi oleh kebudayaan Arab, Persia dan Gujarat yang
dibawa oleh pedagang Islam di daerah pesisir. Setelah runtuhnya kerajaan Mataram di Jawa
(awal abad 17), agama Islam “murni” pun semakin berkembang pesat di Madura, di mana
kekosongan pemerintahan di Madura kemudian diisi oleh para kyai (pemimpin informal agama
Islam)dari kalangan pesantren di desa-desa (Abdulrachman, 1978; 1988). Pada perkembangan
selanjutnya, kekuasaan kyai semakin diperhitungkan dan berhasil mengislamkan hampir 100
persen masyarakat Madura termasuk kaum bangsawannya. Salah satu bukti sejarah mengenai hal
ini adalah dibangunnya Mesjid Jamik oleh kerajaan Sumenep di Madura pada tahun 1763 yang
masih berdiri hingga saat ini.

Idiom-idiom lokal
         Perpaduan antara unsur Jawa dan Islam mempengaruhi cara masyarakat baik di
Yogyakarta maupun di Madura di dalam menerima genital cutting yang tercermin melalui idiom-
idiom lokal. Istilah sunat (dialek Jawa) atau sonat (dialek Madura) merupakan istilah yang secara
umum digunakan oleh masyarakat setempat untuk menunjuk praktek genital cutting. Sedangkan
istilah sunatan (Jawa) atau sonattan (Madura) digunakan untuk menunjuk genital cutting sebagai
sebuah ritual. Kedua istilah ini berasal dari bahasa Arab sunnah yang berarti adat kebiasaan atau
tradisi (dalam lingkungan kebudayaan Arab sebelum Islam). Namun sebagai hukum Islam, sunna
juga berarti tindakan-tindakan yang dianjurkan supaya dilakukan. Istilah-istilah ini pada dasarnya
berkembang sebagai bentuk akulturasi tradisi Jawa dan tradisi Arab, sehingga dapat dipastikan
bahwa masyarakat di Yogyakarta dan Madura mulai menggunakan istilah-istilah ini setelah
masuknya pengaruh Islam di Indonesia.
         Dalam komunitas homogen Islam seperti di Madura ataupun golongan Islam “murni” di
Yogyakarta, istilah khitan lebih sering digunakan untuk menyebut praktek genital cutting. Dalam
tradisi Islam Arab sendiri, istilah khitan secara teknik berarti bagian yang dipotong dari kemaluan
laki-laki dan perempuan:
       Ibnu Faris berkata, ‘Kha’, ta’, dan nun bisa membentuk dua kata yang berbeda. Pertama, khatn
       artinya memotong. Kedua, khatan artinya jalinan persaudaraan melalui perkawinan. Ada yang
       berpendapat bahwa khatn adalah istilah Arab yang berarti ‘khitan’ bagi laki-laki, sedangkan
       bagi perempuan adalah khafdh. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa istilah khatn berlaku
       bagi laki-laki dan perempuan (Al Marshafi, 1996).

Sedangkan sebagai sebuah ritual, khitanan merupakan tindakan yang sangat penting artinya
dalam rangka menjalankan ibadah agama. Namun dalam praktek sosial, istilah ini secara politis
memiliki sense ‘mengislamkan’.
         Yang menarik bahwa dalam masyarakat Yogyakarta, terdapat istilah lokal bagi genital
cutting yang dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Istilah yang diberikan bagi laki-laki
adalah tetakan atau supitan. Kedua istilah ini berasal dari bahasa Jawa tetak (memukul sesuatu
menggunakan benda tajam) -menunjuk pada cara, dan supit (alat untuk penjepit) -menunjuk pada
alat yang. biasa digunakan untuk melakukan genital cutting. Sementara itu istilah yang diberikan
bagi perempuan adalah tetesan -berasal dari bahasa Jawa tetes, atau dalam bahasa Indonesia
tetas/menetas, yang secara harafiah berarti ‘terbuka secara paksa dari dalam’. Arti simbolis pada
istilah ini menunjuk pada fungsi reproduksi perempuan yaitu hamil dan melahirkan seorang anak.
Pemaknaan
        Survai yang dilakukan di Yogyakarta dan Madura
menunjukkan tingginya prevalensi genital cutting. Di          Praktek MGC dan FGC
Yogyakarta, sekitar 87,5 persen laki-laki dan 43,5 persen       tersebar di daerah
perempuan mengaku pernah mengalaminya. Angka ini lebih               penelitian
tinggi di Madura, yaitu 98 persen laki-laki dan 94,7 persen
perempuan.
Namun menarik bahwa angka FGC di Yogyakarta hanya 43,5 persen. Karena prevalensi FGC di
Yogyakarta pada masa sebelumnya tidak terungkap, angka tidak dapat mengindikasikan apakah
prevalensi FGC pada masa lalu lebih tinggi. Meski demikian, angka dapat mengindikasikan
adanya kecenderungan semakin ditinggalkannya praktek FGC di Yogyakarta pada saat ini.
Kecenderungan ini dilatarbelakangi oleh adanya pemaknaan genital cutting yang dinamis dan
bervariasi di kalangan masyarakat setempat.

                                               Pemurnian – Kejawen
                                                      Dalam penelitian ini, tidak diperoleh
     PREVALENSI OF MGC & FGC                   dokumentasi yang bisa mengindikasikan bahwa
                                               masyarakat Jawa dan Madura telah mempraktekkan
     100                                       genital cutting sebelum masuknya pengaruh Islam
      80                                       ke Indonesia. Meski demikian, salah seorang ahli
      60
                              Laki laki        kejawen di Yogyakarta mengindikasikan kepada
      40                      Perempuan        peneliti bahwa genital cutting kemungkinan
      20                                       merupakan praktek animisime/dinamisme yang
       0                                       sudah dilakukan oleh masyarakat setempat jauh
           YGY     MDR
                                               sebelum      munculnya   kerajaan   Yogyakarta.
                                               Demikian penjelasannya:
       Sakemute bapak, sakdurunge ana kraton, ana mesjid, ana greja, kuwi wis ditindakake para sepuh
       Jowo. --Seingat bapak, sebelum ada kraton, ada mesjid, ada gereja, itu sudah dilakukan oleh para
       leluhur di Jawa.

Dalam hal ini, ritual genital cutting secara mistis mempunyai makna memurnikan diri atau
menghilangkan sukerto -yaitu hambatan, kotoran, kesialan yang dibawa manusia sejak lahir. Si
ahli kejawen lebih lanjut menjelaskan kepada peneliti:
       Tetakan utawa tetesan iku sarana ngilangi sukerto, sebab para sepuh Jowo iku kagungan
       keyakinan yen sukerto iku pembawaan kodrat saka romo ibu. Dadi tetakan utawa tetesan iku
       nduwe pajangka supaya bocah bersih, suci, ora kesenungan sukerto . --Tetakan atau tetesan
       adalah sarana untuk menghilangkan sukerto, karena para leluhur di Jawa memiliki keyakinan
       bahwa sukerto adalah pembawaan kodrat dari ayah dan ibu. Jadi, tetakan atau tetesan
       dimaksudkan agar seseorang tidak tertimpa sukerto .

       Dalam cerita mitologi Jawa, seseorang yang tertimpa sukerto ini seringkali digambarkan
sebagai korban dewa Betara Kala. Sehubungan dengan itu, ritual tetakan atau tetesan pada
dasarnya menyimbolkan pengorbanan, sekaligus pemurnian atau pembebasan (dari bahaya
Betara Kala) yang dilakukan oleh Sang Hyang Manikmaya -dewa yang bertugas untuk
menghilangkan sukerto. (Soebalidinata, tanpa tahun). Kepercayaan terhadap mitos ini tercermin
dalam tatacara ritual tetesan. Demikian diperkuat oleh si ahli kejawen:
       Nek neng Jowo, syarate tetesan ming ditempleki kunir. Kok ming kunir piye? Lha sing duwe tugas
       ngilangi sukertane bocah sing diteteske kuwi malaikat sing wujud kuning. Dongane dijawab
       kuwi… Jawabe, “Sang Hyang Manikmaya siro ngongkon labuhen sahliring sukerto…” --Di Jawa,
       syarat tetesan itu hanya ditempeli kunyit (klitorisnya). Kok hanya kunyit? Karena yang bertugas
       menghilangkan sukerto pada anak adalah malaikat berwujud kuning. Doanya dijawab…
       Jawabnya, “Sang Hyang Manikmaya (nama malaikat berwujud kuning tersebut), kamu
       menyuruhku membuang sukerto…”

Pemitosan yang sama berlaku pada ritual tetakan dengan cara memotong kulit penis. Namun jika
pada tetesan makna pemurnian disimbolkan dengan membuang potongan kunyit ke
laut/memendamnya ke dalam tanah, maka pada tetakan sisa potongan kulit penis itulah yang
dibuang/dipendam.

Ritual pubertas
                                                    Pendokumentasian yang lebih baru mengenai
      Makanan disediakan untuk               genital cutting di Jawa antara lain studi Geertz “The
        upacara Slametan dalam               Religion of Java” (1960) di Mojokuto yang
         praktek MGC dan FGC                 menunjukkan bahwa ritual sunatan atau khitanan hanya
                                             dilakukan bagi anak laki-laki, sedangkan bagi anak
                                             perempuan dilakukan ritual kepanggihan atau
                                             perkawinan. Geertz juga mengimplikasikan adanya
                                             percampuran antara unsur Jawa dan Islam, di mana
                                             sunatan atau khitanan tidak hanya bermakna sebagai
                                             ritual pubertas yang menandai masa menjelang dewasa,
                                             namun juga ritual Islami.
Dalam hal ini, sunatan atau khitanan dilihat sebagai salah satu siklus slametan (dari bahasa Jawa
slamet berarti selamat) --yaitu ritual inti dalam masyarakat Jawa berupa hidangan makan bersama
dan mengucapkan doa-doa secara Islam. Karena masyarakat Jawa memahami masa pubertas
sebagai saat-saat krisis dalam kehidupan manusia, maka penyelenggaraan slametan dipercayai
mampu mendatangkan ketenangan dan keselamatan.
        Berdasarkan pengamatan di lapangan, genital cutting sebagai ritual pubertas yang disertai
dengan upacara slametan memang sudah semakin ditinggalkan, terutama di kalangan masyarakat
perkotaan. Meski demikian, hal ini masih bisa dijumpai di lingkungan keluarga kerajaan
Yogyakarta serta sebagian masyarakat di pedesaan yang pada masa lampaunya banyak mendapat
pengaruh tradisi kerajaan. Agak berbeda pula dengan gambaran yang diberikan oleh Geertz,
genital cutting di sini tidak hanya dilakukan bagi anak laki-laki (tetakan/supitan), namun juga
anak perempuan (tetesan).
        Di lingkungan Kraton Yogyakarta, tetakan/supitan dan tetesan dilakukan melalui
serangkaian upacara adat kerajaan yang sangat rumit, dan berfungsi untuk mensosialisasikan
tingkah laku seorang bangsawan agar sesuai batas-batas norma pergaulan yang berlaku di
lingkungan kerajaan. Seorang putri raja di Kraton Yogyakarta mengungkapkan demikian:
    Kalau di kraton itu ada batas-batasnya. Anak       Makna MGC dan FGC terbentuk dari
    yang sudah diteteskan, sudah akil balik, harus      pemahaman kosmologi Jawa dan
    hati-hati kalau bergaul dengan pria. Harus          penafsiran kitab suci agama Islam
    tahu diri …kalau begini sudah tidak boleh…

      Sementara itu pelaksanaan ritual tetakan/supitan ataupun tetesan di daerah pedesaan pada
dasarnya mengikuti tradisi yang berkembang di kerajaan. Namun upacara yang dilakukan tidak
serumit yang dilakukan di lingkungan kerajaan. Secara sosial, ritual ini juga berfungsi untuk
memberi identitas dan peran seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Seperti diilustrasikan
seorang informan berasal dari desa Maguwoharjo:
                                           Ditetesi itu agar bisa jadi perempuan yang sejati. Bisa
      Upacara tetakan/supitan              mentruasi. Setelah menstruasi cepet ada yang meminang.
            dan tetesan                    Terus ya bisa punya anak… melahirkan. Kalau tetak sudah
       di Kraton Yogyakarta                bisa dianggap dewasa. Bisa mewakili orangtuanya kalau
                                           ada kenduren, ada upacara desa.

                                    Pemurnian - Islam
                                           Pada saat ini baik masyarakat Yogyakarta maupun
                                    Madura cenderung memaknai genital cutting sebagai
                                    sebuah ritual agama (Islam). Indikasi ini terlihat dalam hasil
                                    survey, di mana agama merupakan alasan paling dominan
                                    bagi seseorang mengalami genital cutting. Di Madura,
                                    alasan agama pada MGC mencapai 92,9 persen, dan pada
                                    FGC mencapai 79,3 persen. Sementara itu di Yogyakarta,
                                    alasan agama tidak mencapai lebih dari 50 persen, yaitu 50
                                    persen pada MGC dan 31 persen pada FGC. Meski
                                    demikian, alasan agama merupakan alasan yang paling
                                    banyak disebut oleh responden daripada alasan-alasan
                                    lainnya.
       Sebagai ritual agama Islam, perihal genital cutting memang tidak secara eksplisit
disebutkan di dalam Al-Qur’an. Meski demikian, para ulama sepakat bahwa genital cutting atau
khitan disyariatkan bagi kaum muslim dalam rangka meneladani perbuatan Nabi Muhammad
yang mendapat perintah Allah untuk mengikuti agama Nabi Ibrahim -yang dalam hal ini
ditafsirkan dengan cara ber-khitan:
       Kemudian aku wahyukan kepadamu                             ALASAN MGC & FGC
       (Muhammad),      hendaklah   mengikut
       millah (agama) Ibrahim yang lurus (QS         100
       an-Nahl 16:123 dalam KH. Husein                80                                   Agama
       Muhammad, 2001).
                                                      60                                   Adat istiadat
        Adapun makna khitan menurut                   40
                                                                                           Kesehatan
ajaran Islam, seperti halnya dalam kejawen,           20
adalah pemurnian. Dari hasil wawancara                 0
                                                                                           Lainnya
terhadap tokoh-tokoh agama Islam di                         YGY        MDR   YGY   MDR
Yogyakarta dan Madura, makna pemurnian                     Laki-laki           Perempuan
yang dimaksud terkait dengan upaya
menghilangkan najis dalam tubuh manusia.
Penghilangan najis itu sendiri merupakan syarat terpenuhinya ibadah sholat yang sah. Logika
pemaknaan ini dengan jelas diuraikan oleh seorang kyai di Sumenep, Madura kepada peneliti:
      Ibadah -terutama sholat- itu diwajibkan, dan syarat mutlaknya adalah suci. Kalau sudah saatnya
      ibadah, maka seorang hamba Allah harus suci, tidak ada setetes najis pun dalam tubuhnya.
      Makna najis adalah benda kotor. Karena kencing adalah bagian dari najis, maka khitan akan
      menghilangkan sisa kencing yang melekat pada tubuh manusia. Sebaliknya jika tidak dikhitan
      maka kesucian tubuh manusia diragukan. Ibadah pun menjadi tidak sah.

        Sehubungan dengan landasan hukum pelaksanaan khitan, para tokoh agama Islam di
Yogyakarta dan Madura terpecah pendapatnya antara wajib dan tidak wajib dilakukan khitan. Di
kalangan para kyai di Madura yang secara dominan beraliran Islam tradisionalis (Nadhatul
Ulama), khitan adalah -mengikuti mazhab Syafii- wajib hukumnya baik bagi laki-laki maupun
perempuan. Salah seorang kyai di Sampang, Madura menyatakan:
      Kalau saya mewajibkan (khitan bagi laki-laki dan perempuan). Untuk laki-laki jelas dasar
      Qur’annya… Kalau perempuan memang khilafiyah. Artinya banyak perbedaan pandangan di situ.
      Dalam nats Al Qur’an juga tidak jelas. Cuma ada Haditsnya. Tapi dalam fikih, imam syafii
      mewajibkan orang mandi besar… diistilahkan di situ bertemunya dua khitan. Nah di situ berarti,
      perempuan juga harus dikhitan.

Pandangan yang mewajibkan khitan bagi laki-laki maupun perempuan ini nampaknya merupakan
pandangan yang paling dominan di kalangan masyarakat Madura, terbukti oleh kenyataan di
mana lebih dari 90 persen laki-laki dan 80 persen perempuan di Madura mengaku pernah di-
khitan. Bahkan dalam penelitian ini ditemukan sebuah kasus yang cukup kontroversial, di mana
seorang kyai di sebuah desa, di daerah Sampang, Madura berhasil meng- khitankan perempuan
dewasa secara masal karena beranggapan apabila seorang perempuan belum di- khitan, maka
ibadah yang dilakukannya pun dianggap belum sah.
      Sebagian dari para tokoh agama Islam lainnya di Madura berpandangan bahwa khitan
adalah wajib hukumnya bagi laki, namun tidak wajib bagi perempuan. Seorang kyai dari
Sumenep, Madura menjelaskan mengapa khitan tidak diwajibkan bagi perempuan:
      Khitan itu dilaksanakan pada suatu benda yang berlebih, tidak berfungsi, atau tidak
      menguntungkan pada bagian alat kelamin wanita. Karena dari kelebihan itu dikhawatirkan akan
      memudahkan barang najis. Setiap kulit itu kan berbeda-beda pada setiap orang. Makanya, tidak
      setiap orang ada sesuatu yang harus dipotong. Tidak hanya perempuan, laki-laki juga begitu…

        Di Yogyakarta, pemahaman para tokoh agama Islam mengenai landasan hukum khitan
lebih lentur dan bervariasi. Hal ini tidak saja dilatarbelakangi oleh keanekaragaman kelompok
aliran agama yang berkembang di sana, namun juga karena sebagian besar pemeluk agama Islam
-apapun alirannya- cenderung mensikapi kewajiban khitan dalam syariat Islam sebagai bagian
dari tradisi Jawa.
        Di kalangan Islam tradisionalis (Nadhatul Ulama) -salah satu kelompok aliran agama yang
cukup dominan berkembang di Yogyakarta, khitan dianggap wajib baik bagi laki-laki maupun
perempuan. Meski demikian, pada prakteknya kewajiban ini tidak secara sungguh-sungguh
dipraktekkan -terutama pada perempuan. Hasil wawancara dengan kelompok perempuan santri
beraliran tradisionalis di Krapyak, Yogyakarta menunjukkan bahwa meskipun mengetahui bahwa
khitan adalah wajib hukumnya bagi perempuan, sebagian besar dari mereka mengaku belum
pernah di- khitan karena tradisi khitan tidak pernah dikenal di daerah asal mereka masing-masing.
Salah seorang perempuan santri bercerita:
      Dulu katanya ada tetesan. Tapi kalau di daerah saya, selama hidup saya belum pernah ada yang
      kayak gitu. Sebelah kampung saya itu masih ada. Tapi saya sendiri belum pernah melihat tetesan
      itu kayak apa. Khitanan itu model apa, saya juga belum tahu. Kalau kata guru, perempuan itu
      harus dikhitan juga… tapi saya belum melakukan. Di sini (pesantren) juga banyak yang belum.

Tidak adanya tekanan bagi individu untuk berkhitan meskipun dipahami sebagai kewajiban
agama nampaknya merupakan hal yang umum terjadi. Kemungkinan ini dipengaruhi oleh
lemahnya kontrol sosial di dalam kehidupan masyarakat setempat.
        Di kalangan Islam modernis (Muhammadiyah) -sebuah kelompok aliran agama dominan
lainnya di Yogyakarta, pendapat mengenai landasan hukum pelaksanaan khitan cukup beragam.
Mengenai khitan laki-laki, sebagian tokoh berpendapat wajib, dan sebagian yang lain
mengatakan sunnah. Sedangkan mengenai khitan perempuan, sebagian tokoh mengatakannya
                                    m
sebagai sesuatu yang dimuliakan ( akrumah). Namun sebagian yang lain berpendapat bahwa
tidak terdapat landasan hukum yang kuat mengenai hal ini baik di dalam Al-Qur’an maupun
Hadits. Menarik bahwa pada prakteknya, laki-laki dalam kelompok aliran ini menekankan khitan
untuk alasan kesehatan, selain juga alasan keagamaan. Di sisi lain, sulit untuk mendeteksi apakah
perempuan dalam kelompok aliran ini juga mempraktekkan khitan. Kalaupun ada, mereka
mempraktekkannya untuk alasan tradisi (Jawa). Seorang tokoh aliran Islam modernis di
Kotagede, Yogyakarta mengindikasikan hal ini:
       Sepanjang yang saya ketahui, saya belum mendapat petunjuk yang jelas (di Yogyakarta ini)
       mengenai khitan perempuan. Kalau ada yang mempraktekkan, itu karena adat…

        Sementara itu di kalangan Islam fundamentalis di Yogyakarta -mengikuti mazhab
Hambali- khitan dianggap wajib hukumnya bagi laki-laki, dan sunnah bagi perempuan. Meski
demikian, ketika peneliti mewawancarai sebuah kelompok santri aliran fundamentalis di Bantul,
Yogyakarta, ternyata khitan hanya dipraktekkan di kalangan laki-laki saja, sedangkan di kalangan
perempuan hanya beberapa yang telah mempraktekkannya.
       Persoala n wajib/tidaknya pelaksanaan khitan nampaknya bukan merupakan hal yang
esensial di kalangan minoritas Islam kejawen atau abangan yang ada di Yogyakarta pada saat ini.
Menurut salah seorang ahli Islam kejawen di salah satu universitas Islam, Yogyakarta, khitan
semata-tama dipahami sebagai tanda masuk Islam atau ngeslamke. Dan karena ngeslamke itu
sendiri dipandang sebagai tradisi, maka keputusan untuk melaksanakan khitan diserahkan
sepenuhnya kepada individu yang bersangkutan.
Praktek
        Penelitian lapangan menunjukkan bahwa praktek MGC dan FGC berbeda-beda di setiap
tempat tergantung pada pelaku, pihak keluarga, maupun peran pemimpin agama/adat setempat.
Secara umum, praktek MGC dan FGC baik di Yogyakarta maupun di Madura dilakukan secara
bervariasi oleh tenaga medis maupun non medis. Prosedur yang dilakukan juga bervariasi, namun
pada dasarnya berupa penghilangan seluruh/sebagian kulit penis atau pemotongan tanpa
penghilangan kulit penis pada MGC, serta pemotongan atau tanpa pemotongan bagian genital
pada FGC. Konsekuensi praktek ini terhadap kesehatan reproduksi juga menentukan praktek
genital cutting di Yogyakarta dan Madura.

Prosedur
                                              Prosedur MGC dan FGC yang dilakukan di
         Berbagai variasi               Yogyakarta dan Madura dapat diindikasikan melalui
    prosedur MGC ditemukan              beberapa istilah teknis genital cutting yang diterima oleh
       di daerah penelitian             masyarakat setempat. Istilah tetakan di Jawa misalnya,
                                        mengindikasikan prosedur tradisional MGC dengan cara
                                        ‘memukul menggunakan benda tajam’.
Meskipun sudah sulit ditemukan di kalangan masyarakat Yogyakarta, kemungkinan prosedur ini
tersebar luas di seluruh pelosok Jawa dan Madura pada masa lampau. Sebagaimana
diindikasikan dalam penelitian lapangan, prosedur semacam ini ditemukan di beberapa daerah
pelosok di Madura. Berikut gambaran prosedur tradisional MGC yang dilakukan oleh seorang
dukun laki-laki di sebuah area terpencil di Sampang, Madura:
       Dukun laki-laki ini memperoleh ilmu mengkhitan dari ayahnya. Cara ia mengkhitan adalah
       sebagai berikut: pertama-tama ia memasukkan pengungkit kayu ke dalam kulit penis. Kemudian
       pada ujung kulit penis bagian atas yang akan dipotong diletakkan pisau. Setelah itu, bagian atas
       pisau dipukul dengan palu. Pemukulan ini terkadang harus dilakukan beberapa kali pukulan
       sehingga ujung kulit penis terbelah menjadi dua bagian, dan kepala penis menjadi nampak.
       Setelah proses ini selesai, ia meludahi bagian kulit penis yang luka terpotong itu sembari
       membaca mantra-mantra, serta mengolesinya dengan air perasan temulawak.

         Prosedur MGC yang umum dilakukan
di Yogyakarta dan Madura saat ini adalah                           PROSEDUR MGC
memotong ujung kulit penis sehingga
sebagian     kulit  yang     ada   terbuang.            60

Kemungkinan prosedur ini berkembang                     50
                                                        40                       Circumcision
karena adanya pengaruh Islam. Hal ini dapat                                      Dorsumcision
                                                        30
dipahami melalui istilah khitan yang dikenal                                     Incision
                                                        20                       Tidak ingat
baik di Yogyakarta maupun Madura, di mana                             0.5
                                                        10
istilah ini mengimplikasikan prosedur genital            0
cutting yang dijalankan sesuai ketentuan                     YGY    MDR
dalam kitab Hadits, yaitu ‘memotong semua
kulit yang menutupi hasyafah (kepala penis)’
(Al Marshafi, 1996:44).
Sehubungan dengan ketentuan Hadits di atas, indikasi prosedur yang sama terlihat dalam survey
yang dilakukan terhadap 196 laki-laki di Yogyakarta dan Madura. Dalam hal ini prosedur MGC
dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu incision, dorsumcision, dan circumcision.
        Incision merupakan prosedur paling kuno diantara ketiganya dan selama penelitian
berlangsung hanya bisa ditemukan di Madura (0.5 persen). Prosedur ini pada dasarnya adalah
membuang sebagian kulit penis dengan cara memotong lurus atau miring ujung kulit penis.
Biasanya prosedur ini dilakukan oleh dukun laki-laki menggunakan peralatan dan penyembuhan
secara non medis, seperti diindikasikan pada kasus-kasus di bawah ini:
     Kasus di Sampang
     Bambu dimasukkan (ke dalam kulit penis) … terus dijepit … terus dipotong tebu pakai silet …
     didoakan bismilahirohmannirohmim … terus dikasih ultracilin … habis itu dibungkus pakai
     tensoplast.

     Kasus di Sumenep
     (Kulit penis) dijepit pakai klem bambu … terus dipotong pake pisau cukur … setelah dipotong (sisa
     kulit penis) dibuang …lantas kulit penis dimasukkan ke dalam telur ayam mentah, biar beku.

                                              Dorsumcision atau ‘memotong bagian punggung
       Peralatan non medis
      digunakan untuk MGC
                                       penis’ adalah semacam            pengembangan prosedur
            di Madura                  tradisional incision. Prosedur ini dilakukan di Yogyakarta
                                       dan Madura, baik oleh tenaga medis maupun non medis.
                                       Di Yogyakarta, prosedur ini sangat terkenal dilakukan
                                       oleh bong supit, yaitu tenaga non medis yang melakukan
                                       MGC dengan mengadopsi cara-cara medis. Secara umum
                                       prosedur ini dapat digambarkan sebagai berikut:

                                             Kulit penis ditarik ke depan. Dengan klemp dipasang ke
                                             arah jam 12:6, koher diletakkan melintang sehingga
                                             menjepit kulit penis diantara kepala penis dan kedua sisi
                                             jepitan koher. Setelah yakin glans penis dalam posisi
                                             bebas, dilakukan pembiusan lokal dengan cara
                                             menyemprot bagian kulit penis yang akan dipotong
                                             dengan cairan kloretil. Segera setelah itu pemotongan
                                             menggunakan bisturi atau gunting dilakukan di bawah
                                             atau di atas koher sehingga menghasilkan kulit penis
                                             yang terbuang di bagian atas atau punggung penis, dan
                                             tersisa di bagian bawahnya. Kulit penis yang tersisa ini
                                             dirapikan dengan cara menggulungnya ke belakang
                                             dengan atau tanpa dijahit. Selanjutnya, luka pada kulit
                                             penis dibalut dengan tissue kertas.

      Di Madura, prosedur dorsumcision biasanya dilakukan baik oleh mantri ataupun dokter.
Namun terkadang seorang dokter menggabungkan antara prosedur dorsumcision dan
circumcision. Prosedur circumcision itu sendiri pada dasarnya adalah ‘memotong kulit penis
secara melingkar’, biasanya dilakukan oleh seorang dokter, perawat atau mantri menggunakan
peralatan dan penyembuhan secara medis. Berikut gambaran bagaimana prosedur circumcision
dilakukan:
     Sebelum dilakukan pemotongan, bagian dalam antara penis dan kulit penis dibersihkan dengan
     larutan detol. Kemudian dilakukan pembiusan lokal dengan cara menyuntik alat kelamin. Setelah
     itu, kulit penis bagian ujung atas dipasang klem penjepit ke arah jam 11:1:6, dan dilanjutkan
     dengan pemotongan kulit penis. Arah potongan pertama-tama lurus membelah ke arah badan
     penis, kemudian melingkar mengikuti garis kepala penis –yaitu ke kiri, ke kanan, hingga ke bagian
     bawah. Dari sini pemotongan agak berbelok ke depan agar bagian pusat syaraf rangsangan
     (phrenulum) tidak ikut terpotong. Selesai pemotongan dilakukan, pendarahan dihentikan dengan
     cara menjahit sisa kulit penis. Kemudian luka pada kulit penis diolesi betadine dan dibungkus
     dengan verban.

        Sehubungan dengan FGC, pada dasarnya terdapat dua macam prosedur yang ditemukan
di lapangan, yaitu tindakan pemotongan atau penggoresan pada bagian alat kelamin perempuan,
dan tindakan simbolis.
Di Yogyakarta, tindakan simbolis dengan cara
memotong kunyit yang ditempelkan pada                Pemotongan bagian dari klitoris
ujung klitoris (tanpa terjadi perlukaan) adalah         merupakan prosedur FGC
prosedur yang umum dilakukan. Gambaran               yang umum, namun pemotongan
mengenai bagaimana prosedur ini dilakukan            simbolis tanpa terjadi perlukaan
                                                              juga ditemukan
tercermin dalam ucapan seorang dukun
perempuan di Kotagede, Yogyakarta:
       Niku nggih ming ngangge kunir dionceki, terus nyogok nggen nyenile wedok niku, njuk kunire
       sing dikethok. --Itu hanya memakai kunyit dikupas, terus dilekatkan pada alat kelamin
       perempuan, lalu kunyitnya yang dipotong.

                                                             Di lingkungan keluarga kerajaan
                 PROSEDUR FGC
                                                       Yogyakarta ataupun di daerah pedesaan,
                              Tindakan simbolis
    70                                                 prosedur ini biasa dilakukan oleh dukun
    60
                              Penggoresan, tidak       perempuan dalam rangka ritual tetesan -
    50
    40
                              berdarah                 sebuah ritual pubertas di Jawa yang
                              Penggoresan, berdarah
    30                                                 bermakna untuk mempersiapkan anak
    20
                              Pemotongan               perempuan menjadi perempuan dewasa
    10
                                                       seutuhnya. Meski demikian selama
     0                        Tidak ingat
          YGY       MDR                                proses penelitian berlangsung, tindakan
                                                       simbolis sebagai ritual tetesan ini juga
                                                       banyak ditemukan di daerah perkotaan.
Bedanya, prosedur ini dilakukan oleh bidan dalam rangka memenuhi keinginan klien yang
sengaja datang kepada bidan untuk ‘neteske’ bayi perempuannya. Menurut salah seorang bidan di
Kotagede, Yogyakarta, tindakan simbolis yang dimaksud tidak lain hanyalah membersihkan
daerah sekitar alat kelamin perempuan:
       Kalau sunat itu kan dipotong. Lha ini tetesan… kan cuma syarat saja. Ya cuma dibersihkan.
       Kalau bayi lahir, daerah sekitar labia itu kan kotor sekali, banyak lemaknya. Dibersihkan pake
       kapas dan betadine.

       Prosedur membersihkan alat kelamin perempuan oleh bidan ini juga ditemukan di daerah
perkotaan di Madura. Namun secara umum, pemotongan atau penggoresan alat kelamin lebih
banyak dilakukan di Madura, tidak hanya oleh dukun perempuan namun juga bidan. Nampaknya
hal ini dilatarbelakangi oleh fanatisme agama (Islam) yang sangat kuat, di mana adanya
ketentuan Hadits mengenai khitan perempuan yang menyebutkan ‘memotong sebagian kulit di
atas farji (vagina)’ (Muhammad, 2001:40) cenderung diterima secara mutlak oleh masyarakat
setempat. Dalam pelaksanaannya, ketentuan Hadits mengenai khitan perempuan ini
diinterpretasikan secara berbeda-beda.
Sebagian dukun perempuan yang ditemui peneliti, menggunakan        Dukun perempuan
                                                                       di Madura
pemes atau silet, dengan atau tanpa pendarahan, melakukan
prosedur memotong atau menggores pada ujung klitoris atau jelik
dalam bahasa Madura. Sementara sebagian yang lain
melakukannya pada labia --seperti yang dilakukan oleh seorang
dukun perempuan di Sampang, Madura berikut ini:
       Ya pokoknya dipotong sedikit. Kalau sampeyan liat bayi lahir
       itu mesti ada kelebihan di sebelah kanan (labia). Itu yang
       dipotong, pake silet dengan ditekan pakai kunyit. Kalau yang di
       atas (klitoris) bisa pendarahan… Ini pokoknya sampai keluar
       darah sedikit, ada yang melihat, biar sah (secara agama).

Pelaku MGC dan FGC
                                                         Sejak masa lampau di Yogyakarta dan
      Baik ahli tradisional maupun                 di Madura, praktek genital           cutting
   medis modern merupakan preferensi               dilakukan oleh dukun. Dukun adalah orang
      masyarakat setempat dalam                    memiliki kemampuan supranatural untuk
     mempraktekkan MGC dan FGC                     mengusir      roh-roh     jahat     ataupun
                                                   menyembuhkan seseorang dari penyakit.
Genital cutting itu sendiri, dalam kepercayaan mistis Jawa -seperti telah dibahas sebelumnya-
memiliki makna menghilangkan sial sekaligus merupakan proses pemurnian. Sehubungan
dengan inilah, dukun dipandang memiliki peranan penting dalam praktek genital cutting.
       Pada masa sekarang ini di Yogyakarta dan Madura, dukun sebagai satu-satunya pelaku
MGC dan FGC masih diterima masyarakat di pedesaan. Sedangkan di perkotaan, masyarakat
memiliki preferensi yang lebih beragam, seperti bong supit di Yogyakarta, kyai di Madura,
mantri, perawat, atau dokter sebagai pelaku MGC, serta bidan sebagai sebagai pelaku FGC.
Yang menarik dari gejala perkembangan ini adalah
bahwa masyarakat setempat pada masa sekarang                 Bong Supit di Yogyakarta
cenderung mendefinisikan dukun sebagai orang
yang memiliki pengetahuan dan keahlian non medis
yang diwariskan turun-temurun, dilawankan dengan
dokter, mantri, atau bidan yang memiliki
pengetahuan dan keahlian medis. Gejala ini tidak
lepas dari adanya proses medikalisasi yang terjadi -
tidak saja pada kasus genital cutting, namun juga
dalam pengetahuan mengenai kesehatan dan
penyakit secara umum.
       Berkaitan dengan MGC, ada beberapa pelaku yang diidentifikasi dalam penelitian ini.
Bong supit adalah salah satu sebutan bagi pelaku MGC non-medis yang terkenal kalangan
masyarakat Yogyakarta. Bong supit dipercayai memperoleh keahlian secara turun-temurun,
namun menggunakan tindakan medis sederhana di dalam melakukan MGC. Tindakan tersebut
meliputi: prosedur dorsumcision -pengembangan dari prosedur tradisional incision; peralatan
medis sederhana seperti pisau, gunting, koker, kapas, dan tissue kertas pengganti verban; serta
pengobatan medis sederhana berupa pembiusan, betadine, antibiotik, sulfat, dan vitamin.
Menurut informasi salah seorang bong supit di Bantul, Yogyakarta, penggunaan tindakan medis
oleh bong supit di Yogyakarta dimulai sejak tahun 1940an penjajahan Jepang, di mana
pendidikan medis mulai disosialisasikan di kalangan bong supit :

       Saya diwarisi keahlian ini dari bapak. Bapak sendiri dulu pernah belajar dari dokter. Itu… di
       rumah sakit negeri milik Jepang. Dulu jaman simbah kan modelnya masih tradisional sekali…
       sebelumnya disuruh kungkum, terus potongnya hanya pakai welat, sehingga mungkin terjadi
       infeksi. Lantas pengobatannya ditempeli daun lamtoro gung yang sebelumnya cuma dikunyah. Itu
       sebabnya diadakan kursus… untuk meningkatkan pendidikan dan ketrampilan mereka.

        Sementara itu di Madura, pelaku MGC non medis yang dikenal oleh masyarakat setempat
adalah dukun laki-laki dan kyai. Seperti halnya bong supit di Yogyakarta, dukun laki-laki di
Madura dipercayai memiliki keahlian melakukan genital cutting karena keturunan. Sedangkan
dalam kasus kyai, keahlian melakukan MGC didukung pula oleh pengetahuan mereka mengenai
kitab-kitab suci Islam -terutama berkaitan dengan hukum khitan. Baik dukun laki-laki maupun
kyai di Madura cenderung menggunakan prosedur, peralatan, dan pengobatan non medis. Meski
demikian, beberapa diantara mereka mulai memanfaatkan pengobatan medis sederhana seperti
alkohol, betadine, dan salep ultracilin.
        Karena MGC diterima sebagai masalah medis, terdapat kurikulum dan panduannya dalam
pendidikan medis, maka staf medis yaitu dokter dan perawat atau mantri merupakan preferensi
penting lainnya di dalam masyarakat. Baik di Yogyakarta maupun di Madura, praktek MGC oleh
staf medis ini seringkali dilakukan di rumah sakit, rumah praktek dokter, ataupun klinik-klinik
kesehatan (Puskesmas) yang tersedia di setiap desa. Terutama di kalangan masyarakat kelas
menengah dan atas, staf medis lebih menjadi pilihan karena resiko dari prosedur yang dilakukan
dapat diminimalkan, jika dibandingkan apa yang dilakukan oleh dukun.
        Tidak seperti halnya MGC, dalam
pengetahuan ataupun pendidikan medis
tidak pernah disebutkan FGC. Namun                    PREFERENSI PELAKU MGC & FGC
menarik bahwa selama penelitian di
                                                     70
Yogyakarta dan Madura, banyak ditemukan                                           Dokter
                                                     60
bidan -yaitu paramedis terdidik dalam hal            50
kesehatan ibu dan anak- yang melakukan               40
                                                                                  Mantri/Bidan

praktek FGC. Munculnya gejala ini pada               30                           Bong supit/
dasarnya dilatarbelakangi oleh dua                   20                           Dukun

keadaan. Di satu sisi, praktek tetesan dalam         10                           Lainnya

tradisi Jawa, ataupun khitan perempuan                0
                                                        YGY       MDR YGY   MDR
dalam tradisi Islam pada awalnya
merupakan bagian dari praktek persalinan                Laki-laki       Perempuan
dan perawatan bayi yang biasa dilakukan
oleh dukun beranak.
Di sisi lain, setelah terjadinya proses medikalisasi, praktek ini mulai diambil alih oleh bidan.
Namun sementara kepercayaan medis mulai diterima, praktek tetesan ataupun khitan perempuan
masih terus dipertahankan di kalangan masyarakat setempat. Akibatnya, banyak kasus muncul di
mana bidan yang menolong persalinan terpaksa juga melakukan tetesan atau khitan perempuan
atas permintaan orang tua si bayi. Seorang bidan di Kotabaru, Yogyakarta menceritakan
mengenai hal ini:
       Kita ini tidak pernah mendapatkan pelajaran tentang tetesan, Kita hanya tahu dari bidan-bidan
       yang dulu praktek di rumah… di situ biasanya (bidan) hanya melihat apa yang dilakukan oleh
       dukun-dukun. Jadi kita nggak tahu kalau ditanya apa kegunaannya, karena itu tradisi saja. Tapi
       ada permintaan ya kita lakukan, sekalian imunisasi bayi. Asal tidak membahayakan ya kita
       laksanakan.

       Karena FGC tidak tercakup dalam pendidikan medis, maka biasanya bidan hanya
melakukan prosedur pembersihan alat kelamin perempuan. Meski demikian, prosedur
pemotongan kadang terpaksa dilakukan karena tekanan dari pihak keluarga ataupun kyai yang
berpengaruh dalam masyarakat setempat. Seorang bidan di Pamekasan, Madura mengungkapkan:
      Kalau dukun pakai gunting, atau pakai silet, atau pakai kayu, terus pendarahan. Kan lebih baik
      kita saja yang ngerjakan. Kadang kita bisa ngecoh, nggak motong sama sekali. Tapi kadang
      pihak keluarga tetep nyari… kayaknya mereka bersalah banget kalau nggak digitukan (dipotong
      klitorisnya)… Jadi kita cuma ngambil kulitnya sedikit. Pokoknya gunting mepet, gitu aja.

Usia dan upacara
         Ada keterkaitan antara usia
dilaksanakannya genital cutting dan                       USIA MGC DAN FGC
upacara yang menyertai praktek genital
                                                80
cutting. Dalam hal ini, makna yang
                                                                                  < 1 tahun
terkandung dalam upacara genital                60
                                                                                  1-5 tahun
cutting ikut mempengaruhi usia                                                    6-10 tahun
                                                40
dilaksanakannya genital cutting.                                                  11-16 tahun
         Dalam tradisi Jawa di mana             20
                                                                                  > 16 tahun
genital cutting dimaknai sebagai ritual          0
pubertas, praktek MGC dan FGC biasa                YGY     MDR   YGY    MDR
dilakukan pada anak sebelum ia                     Laki-laki     Perempuan
memasuki usia dewasa dengan disertai
ritual inti slametan.
Usia MGC dan FGC ini tercermin melalui tatacara ritual pubertas di lingkungan Kraton
Yogyakarta, di mana menurut informasi seorang anggota keluarga kerajaan, genital cutting
merupakan salah satu tahapan dari keseluruhan rangkaian ritual pubertas yang meliputi:
       1) kencongan bagi anak laki-laki dan perempuan di bawah usia 7 tahun, menandai masa kanak-
          kanak
       2) supitan/tetakan bagi anak laki-laki usia 10-12 tahun, dan tetesan bagi anak perempuan
          berusia 7-9 tahun, menandai masa menjelang dewasa
       3) tarapan bagi anak perempuan pada usia di mana ia mendapat menstruasi untuk pertama
          kalinya
       4) semekanan bagi anak laki-laki dan perempuan berusia 16 tahun keatas, menandai bahwa
          seseorang telah sungguh-sungguh menjadi dewasa

       Pada anak perempuan, upacara tetesan di lingkungan Kraton Yogyakarta biasanya
dilakukan bersamaan dengan upacara windonan (dari bahasa Jawa windu = delapan, sewindu =
delapan tahun). Meski demikian, gejala akhir-akhir ini menunjukkan bahwa upacara tetesan di
kalangan masyarakat Yogyakarta lebih sering dilakukan pada anak perempuan berusia di bawah
satu tahun bersamaan dengan upacara selapanan (selapan = 35 hari) atau puput puser (ritual
lepasnya tali pusar pada bayi). Menurut salah seorang dukun perempuan di Kotagede,
Yogyakarta, semakin muda usia tetesan adalah semakin baik karena pada usia tersebut anak
belum memiliki rasa malu.
        Sementara itu upacara tetakan di Yogyakarta paling sering dilakukan pada anak laki-laki
berusia belasan tahun. Dalam kaitannya dengan pubertas, anak laki-laki pada usia ini lazim
dikenal oleh masyarakat Jawa dengan sebutan cah wancine sunat (waktunya anak disunat) -
menunjuk pada tingkatan status sosial seseorang, yaitu setelah meninggalkan masa kanak-kanak
dan sebelum menjadi uwong (manusia seutuhnya) (wawancara dengan informan di Sleman,
Yogyakarta). Meski demikian, pelaksanaan tetakan pada usia belasan tahun bagi masyarakat
Yogyakarta dewasa ini lebih dikaitkan dengan ajaran Islam, ataupun dengan kepercayaan medis
yang menganggap bahwa anak yang mengalami genital cutting pada usia tersebut bisa
mengurangi resiko komplikasi kesehatan yang serius.
        Selain pengaruh tradisi Jawa, usia genital cutting juga dipengaruhi oleh ajaran Islam,
terutama berkaitan dengan ketentuan dalam Hadits yang mewajibkan khitan baik bagi anak laki-
laki maupun anak perempuan yang memasuki usia akil balik -usia di mana seseorang diwajibkan
untuk bersholat (Al Marshafi 1996:55). Di Madura, ketentuan ini sangat kuat dipegang oleh
masyarakat setempat, di mana khitan laki-laki paling banyak dilakukan dalam usia 6-10 tahun,
sedangkan khitan perempuan dalam usia kurang dari satu tahun, terutama pada usia 7-40 hari.
Seperti halnya di Yogyakarta, usia MGC dan FGC di Madura ini juga berkaitan dengan ritual
pubertas, di mana FGC sering dilaksanakan bersamaan dengan ritual lepasnya tali pusar bayi
(atau dalam bahasa Madura cuplak puser), sedangkan MGC kadang dilaksanakan dengan
mengarak anak laki-laki tersebut dengan kuda.
        Meski usia MGC dan FGC di kalangan masyarakat Madura secara praktek terkait dengan
ritual pubertas dalam tradisi Jawa, penentuan usia tersebut secara simbolis lebih dimaknai sebagai
upaya pemenuhan ketentuan Hadits daripada sebagai upaya pelestarian adat istiadat setempat. Itu
sebabnya, baik praktek FGC maupun MGC di Madura lebih sering disertai dengan upacara
walimahan -sebuah upacara Islam yang bertujuan untuk mensyukuri nikmat Allah dan
memperoleh pahala sedekah (Al Marshafi 1996:73).

Konsekuensi bagi kesehatan reproduksi
       Survey yang dilakukan di Yogyakarta dan Madura secara umum mengindikasikan tidak
adanya komplikasi yang serius baik dalam praktek MGC maupun FGC. Sejauh ini dalam kasus
MGC, komplikasi yang dihasilkan oleh berbagai prosedur yang dilakukan hanya meliputi efek
jangka pendek seperti infeksi atau pendarahan. Sedangkan efek jangka panjang tidak terungkap
dalam penelitian ini. Di Yogyakarta, hal ini diperkuat melalui keterangan perawat di beberapa
rumah sakit yang pernah menangani kasus infeksi dan pendarahan akibat kesalahan prosedur
MGC yang dilakukan oleh Bong Supit. Seorang perawat pada salah satu rumah sakit di
Yogyakarta mengungkapkan:

     Kita ini sering didatangi sisa dari Bogem. Biasanya kasus pendaharan atau infeksi. Infeksi
     biasanya setelah satu minggu. Kalau pendarahan baru kemarin atau dua hari. Pendarahan itu
     biasanya karena prosesnya… pas motong mungkin kena pembuluh darah --We often accept the rest
     clientsof Bogem. Usually, the cases are bleeding or infection. Infection is after a week, while
     bleeding is just yesterday or two days ago. The bleeding is basically resulted from its process…
     when they cut (the foreskin), it probably affect the blood vessel.
       Dalam kasus lain, terjadi pula di mana staf medis
harus mengulangi proses genital cutting. Biasanya hal            Implikasi medis yang serius
ini terjadi pada klien yang sebelumnya pernah ditangani            tidak terungkap, namun
oleh dukun, namun prosedur genital cutting yang                   efek jangka pendek MGC
digunakan ternyata menimbulkan dampak infeksi pada                   and FGC ditemukan
alat kelamin. Seorang mantri di Pademawu, Pamekasan
mengungkapkan:

     Ada pasien, 25 tahun. Dulu waktu kecil disunat dukun. Cuma dikethok pucuke thok. Jadi masih
     nutup… mengeras dan lengket.Terus jadi koren… membengkak. Mungkin dia mau kawin tapi nggak
     enak sama istrinya. Makanya minta sunat ulang.

     Efek jangka pendek seperti infeksi dan pendarahan juga terjadi pada kasus FGC ketika
prosedur yang dilakukan melibatkan pemotongan bagian alat kelamin. Di Madura, kasus
semacam ini seringkali terjadi pada prosedur-prosedur yang dilakukan oleh dukun. Berikut kasus
FGC oleh dukun terhadap seorang bayi perempuan di Banyuanyar Sampang yang
mengindikasikan terjadinya penggoresan terlalu dalam di daerah labia sehingga menimbulkan
pendarahan. Seperti dituturkan oleh orangtua si bayi:

     Dulu itu waktu disunat sama bu X, terus pendarahan 5 hari. Kata bu X, itu cuma syaraf. Tapi kok 5
     hari tetap keluar darahnya. Sampai dokter Y marah, “dukunnya siapa ini kok sampai gini?” Lalu
     bidan Z yang yang njahit.
Keberlangsungan
        Meski praktek FGC di Yogyakarta            Relevansi sosio-relijius dan proses
sebagai sebuah ritual pubertas semakin             medikalisasi MGC, serta mitos-mitos
ditinggalkan, praktek MGC dan FGC secara            seksual mengenai MGC dan FGC
umum masih terus berlangsung dengan                  yang bias laki-laki mendukung
                                                       keberlangsungan praktek
prevalensi yang cukup tinggi baik di
Yogyakarta maupun di Madura.
Ada beberapa faktor kunci yang mendorong kelangsungan praktek ini, yaitu adanya relevansi
sosial-keagamaan, terjadinya proses medikalisasi dan komersialisasi, serta berkembangnya
mitos-mitos seksualitas sehubungan dengan praktek MGC dan FGC.

Relevansi sosial relijius
         Di Indonesia, agama dan adat-istiadat sangat menentukan bentuk hubungan sosial yang
ada. Oleh sebab itu, wacana MGC dan FGC yang berkembang dalam masyarakat Indonesia pun
sangat ditentukan oleh peranan para pemuka agama dan penjaga adat istiadat. Seperti telah
diuraikan di atas, makna MGC dan FGC menurut agama dan adat istiadat yang disosialisasikan
melalui para kyai, pelaku genital cutting, ataupun orangtua tidak saja penting bagi kehidupan
relijius seseorang, namun sekaligus memberikan identitas sosial. Dalam lslam misalnya, praktek
genital cutting diyakini sebagai kewajiban yang mana apabila tidak dilakukan akan menimbulkan
sanksi, yaitu dosa. Sedangkan sebagai adat istiadat, praktek genital cutting sulit untuk
ditinggalkan selama makna yang diberikan masih dianggap relevan bagi kehidupan masyarakat
setempat. Orang Jawa seringkali menyebutnya sebagai “naluri” --yaitu sesuatu tidak bisa
diungkapkan namun bisa dirasakan sebagai hakiki. Itu sebabnya, baik agama maupun adat
istiadat seringkali menjadi semacam kekuatan penekan bagi masyarakat untuk tetap melanjutkan
praktek MGC dan FGC.
         Hasil penelitian di Yogyakarta dan Madura menunjukkan bagaimana identitas sosial
ditimbulkan oleh adanya tekanan sosial yang mengharuskan seseorang untuk melakukan atau
tidak melakukan genital cutting. Tekanan sosial tersebut antara lain berasal dari pandangan, sikap
dan prasangka yang muncul dalam komunitas agama yang berbeda-beda. Dalam komunitas Islam
misalnya, seseorang yang tidak melakukan genital cutting dianggap “belum Islam” atau “kafir”.
Sebaliknya dalam komunitas Katolik dan Kristen melakukan genital cutting berkonotasi “pindah
agama Islam”, dianggap “murtad” (= ingkar terhadap agama). Bahkan menurut informasi salah
seorang pendeta di Yogyakarta, pada jaman dulu di Jawa jika ada pemeluk agama Kristen yang
melakukan genital cutting, maka oleh lembaga gereja diberi sanksi “pamerdi” (= pengucilan).
Sikap seperti ini menurutnya dilatarbelakangi oleh adanya pemahaman yang kaku mengenai
penghapusan tradisi genital cutting dalam ajaran Nasrani:

     Dalam kitab Perjanjian Lama, ‘sunat’ itu diwajibkan diantara bangsa Yahudi, sebagai tanda
     keselamatan dari Allah. Namun dalam kitab Perjanjian Baru, tanda keselamatan Allah itu sudah
     diganti dengan ‘sunat hati’ atau kebersihan hati, yaitu melalui sakramen babtis… ini tanda bahwa
     seseorang beriman pada Kristus … Makanya, sebelum Konsili Vatikan I tahun 1960, di Indonesia
     sunat dilarang (di kalangan umat Nasrani) supaya tidak mengaburkan makna babtis… karena
     waktu itu sunat identik dengan ’ngeslamke’. Tapi sekarang ini, atas dasar pertimbangan hygiene,
     gereja membolehkan… terutama gereja-gereja di Jawa sudah tidak mempermasalahkan lagi… asal
     tidak bertujuan untuk ngeslamke.
Pada saat ini, praktek MGC dan FGC dilakukan oleh sebagian anggota komunitas Nasrani,
terutama Katolik semata-mata dalam rangka melestarikan tradisi Jawa. Untuk menghindarkan
diri dari label ‘ngeslamke’, sebuah kasus keluarga Katolik di Kotagede, Yogyakarta misalnya,
secara politis lalu menggunakan istilah netral “pendewasaan” dalam rangka mengartikulasikan
alasan mereka melakukan MGC.
        Dalam komunitas Hindu dan Budha, baik MGC maupun FGC tidak dikenal baik dalam
ajaran agama maupun dalam praktek sehari-hari. Menurut informasi salah satu pemeluk Hindu
beretnis Bali yang tinggal di Yogyakarta, praktek genital cutting dilakukan di kalangan mereka
hanya karena alasan medis, terutama apabila ditemukan kelainan pada alat kelamin laki-laki.
Sedangkan dalam komunitas Budha beretnis Jawa, praktek ini dilakukan dalam rangka
melestarikan tradisi Jawa. Dalam hal ini, seorang pemeluk Budha beretnis Jawa di Yogyakarta
mengatakan bahwa praktek MGC biasa dilakukan di kalangan mereka dengan disertai upacara
slametan dan blessing Budha.
        Dalam komunitas beretnis China yang sebagian besar beragama Non Islam, praktek MGC
dan FGC tidak begitu dikenal. Berkaitan dengan ini, sering muncul prasangka sosial dalam
komunitas Islam di mana orang yang tidak melakukan genital cutting diidentikkan dengan
“China”. Di Yogyakarta, hal ini muncul sebagai bahan olok-olokan di kalangan anak-anak “cino
liding, peli cino wedi lading” (= penis China takut pisau). Meskipun demikian, menurut
informasi perawat dan mantri pada beberapa rumah sakit di Yogyakarta dan Madura yang
didatangi oleh peneliti, ada kecenderungan semakin banyaknya permintaan genital cutting yang
berasal dari kalangan etnis China berusia yang dewasa semata-mata untuk alasan kesehatan.
          Sementara itu di kalangan masyarakat Jawa, terutama di daerah pedesaan yang masih
memaknai genital cutting sebagai ritual pubertas, tidak melakukan genital cutting seringkali
menimbulkan ejekan seperti “belum pantas bergaul dengan teman-teman lain (yang sudah
dewasa)”, atau “belum bisa menikahi seorang perempuan”               (wawancara di Kotagede,
Yogyakarta).
        Seiring dengan munculnya kesadaran sosial di dalam masyarakat Indonesia akhir-akhir
ini, genital cutting tidak saja berfungsi sebagai identitas sosial, namun juga sebagai perekat
sosial antar kelompok sosial-keagamaan yang berbeda-beda. Di Pamekasan Madura misalnya,
para tokoh agama yang tergabung dalam Forum Komunikasi Persaudaraan dan Kemanusiaan
(FKPK) bersama-sama mengadakan sunatan massal. Bahkan di Yogyakarta, sebuah gereja
Katolik pernah memprakarsai kegiatan serupa bagi masyarakat miskin yang tinggal di daerah
Ledok Code. Semua ini mengindikasikan keberlanjutan praktek genital cutting karena secara
sosio-relijius masih dianggap relevan.

Medikalisasi dan komersialisasi
        Dalam ajaran Islam, disebutkan bahwa salah satu hikmah MGC adalah “cara hidup sehat
yang memelihara seseorang dari berbagai penyakit” (Hasan, tanpa tahun:182). Adalah suatu
kebetulan jika pemahaman Islam tentang manfaat MGC ini sejalan dengan pemahaman medis
Barat tentang MGC yang berkembang dalam masyarakat Indonesia. Dalam hal ini, MGC
tercakup dalam pengetahuan medis sebagai sebuah operasi minor yang dipercayai bermanfaat
bagi kesehatan. Kepercayaan medis ini tercermin dalam jawaban-jawaban responden di
Yogyakarta dan Madura yang secara umum mengatakan bahwa MGC berguna untuk “menjaga
hygiene”, “mencegah kanker penis”, “mencegah terjadinya pimosis”, dsb.
        Pada kenyataannya, kepercayaan medis tentang manfaat MGC ini berkembang tidak
terbatas dalam komunitas Islam saja, namun juga komunitas non Islam di Yogyakarta dan
Madura. Hal ini terutama didukung oleh kelebihan-kelebihan prosedur, peralatan, dan
pengobatan medis yang bersifat mengurangi rasa sakit dan resiko komplikasi yang serius. Bahkan
belakangan ini muncul berbagai inovasi baru sehubungan dengan teknik MGC. Sebuah artikel
surat kabar di Indonesia menuliskan:

       Seorang lelaki dewasa pernah datang kepadanya dengan naik sepeda motor dan meminta disunat.
       Dalam waktu tiga menit, Sofin berhasil menyunatnya. Setelah memakai celana, lelaki itu pun
       langsung pamit dan tetap mengebut mengendarai motornya. “Itulah kelebihan cara sunat
       memakai cincin yang ditemukannya,” kata kenalan sang penemu metode itu, dr Sofin Hadi.
       Padahal, seseorang yang dikhitan –atau lebih populer—disunat dengan cara klasik biasanya
       membutuhkan waktu beberapa hari untuk sembuh…Menurut Sofin, metode sunat terus
       dikembangkan sehingga berbagai inovasi pun ditemukan. Ada teknik sunat dengan laser, sunat
       mangkuk, sunat lonceng, dan sunat para klem… (Kompas, Jumat 28 Juni 2002, hal 12).

       Jika gejala medikalisasi dianggap berpengaruh positif bagi praktek MGC di Yogyakarta
dan Madura, tidak demikian halnya dalam kasus FGC. Menurut informasi para bidan di
Yogyakarta dan Madura, sejauh ini FGC tidak tercakup dalam pendidikan medis serta dianggap
“kurang bermanfaat secara medis”. Di Yogyakarta, anggapan bahwa FGC tidak bermanfaat
secara medis ini cukup gencar disosialisasikan oleh para bidan, antara lain dengan cara melarang
dukun melakukan praktek FGC. Seorang dukun perempuan di Kotagede, Yogyakarta
mengungkapkan:

       Sakniki kule nek netesi teng omah mawon. Mboten lunga-lunga, soale pun mboten pareng kaleh
       bu Bidan… --Sekarang saya kalau melakukan tetesan di rumah saja. Tidak pergi ke mana-mana.
       Soalnya tidak boleh sama bu bidan.

Sosialisasi ini berhasil seiring dengan gejala
menghilangnya tradisi Kraton “tetesan”, sehingga         Lunturnya makna kultural dan
mampu mendorong ketidakberlanjutan praktek                tidak adanya relevansi medis
FGC di kalangan masyarakat setempat. Sementara                FGC, berakibat pada
itu di Madura, anggapan ini nampaknya masih              ketidakberlangsungan praktek
menjadi kontroversi di antara staf medis, kyai, dan
masyarakat secara umum.
        Satu hal penting yang perlu ditambahkan dalam kaitannya dengan proses medikalisasi
adalah munculnya gejala komersialisasi praktek MGC dan FGC. Gejala ini dapat dilihat sebagai
salah satu faktor pendukung keberlangsungan MGC dan FGC di kalangan masyarakat setempat
karena memungkinkan pihak pelaku untuk memperoleh keuntungan material dengan
mempromosikan praktek genital cutting. Di Madura misalnya, biaya MGC yang dilakukan oleh
dukun laki-laki atau kyai berkisar 10-30.000 rupiah. Biaya MGC di Puskesmas oleh dokter atau
mantri berkisar 10-15.000 rupiah. Sedangkan biaya MGC yang dilayankan di rumah praktek
dokter lebih tinggi, berkisar 100-150.000 rupiah. Di Yogyakarta, biaya MGC jauh lebih tinggi.
Biaya MGC yang dilayankan di rumah sakit oleh dokter dan paramedis bisa mencapai 500.000
s/d 1.000.000 rupiah. Sedangkan di kalangan bong supit, biaya MGC lebih rendah, berkisar 200-
300.000 rupiah.
        Komersialisasi juga terjadi pada praktek FGC. Di Madura, dukun perempuan yang
melakukan praktek FGC biasanya memperoleh imbalan sekitar 5000-10.000 rupiah. Namun
beberapa dukun perempuan lainnya memasang tarif lebih tinggi, sekitar 30-50.000 rupiah. Tarif
ini termasuk paket pelayanan pijat dan memandikan bayi. Sedangkan praktek FGC yang
dilakukan oleh bidan biasanya meminta imbalan administrasi berkisar 5000-10.000 rupiah. Ini
sudah termasuk paket pelayanan tindik telinga. Hal serupa terjadi di Yogyakarta. Di kalangan
bidan, praktek FGC biasanya membebankan biaya administrasi sebesar 5000 rupiah. Beberapa
bidan lainnya memasang tarif lebih tinggi, sekitar 50-70.000 rupiah. Tarif ini termasuk paket
tindik telinga dan pembelian anting emas. Sedangkan di kalangan dukun perempuan, mereka
hanya menerima pemberian imbalan secara sukarela.

Mitos seksualitas
        Sejauh ini dalam Al-Qur’an ataupun dalam kepercayaan mistik Jawa, tidak ditemukan
sumber-sumber yang menyakinkan tentang adanya hubungan antara genital cutting dan masalah
seksualitas. Meski demikian, dalam masyarakat Yogyakarta dan Madura berkembang berbagai
mitos seksual yang terkait dengan MGC maupun FGC. Di kalangan pemeluk agama Islam,
berkembangnya mitos-mitos ini kemungkinan didorong oleh adanya berbagai intepretasi Hadits
yang mencoba menghubungkan keduanya. Dalam salah satu intepretasi Hadits misalnya,
menyebutkan hikmah genital cutting antara lain untuk “memperoleh kepuasan jima’ (hubungan
seksual)“ (Wahbah Az-Zuhaili dalam Muhammad, 2001:43), “menambah cantiknya wajah dan
kenikmatan bagi suami” (HR. Abud Dawud dalam Muhammad, 2001:44), “meluruskan
syahwat” (Hasan, tanpa tahun:184). Demikian seperti dikatakan seorang perempuan santri
beraliran fundamentalis di Bantul, Yogyakarta:

       Kalau dalam kitab fikih itu, kalau wanita syahwatnya tinggi… nah itu bisa menurunkan. Kalau
       syahwatnya rendah, bisa dinaikkan. Jadi tengah-tengah. Enggak terlalu kuat syahwatnya, nggak
       terlalu lemah juga. Ada temen yang dikhitan, setelah ia menikah, dia dulu kan syahwatnya agak
       rendah gitu, sekarang bisa normal.

       Selain intepretasi Hadits, banyak pula mitos-mitos seksual tentang genital cutting lainnya
yang berkembang di kalangan masyarakat setempat. Di Madura, mitos seksual yang paling
populer disosialisasikan oleh para kyai adalah “makan pisang lebih enak jika dibuka kulitnya”.
Mitos ini mengandaikan kegiatan seksual mengulum penis yang dianggap lebih terasa nikmat
apabila tanpa kulit penis yang tertinggal. Mitos bahwa hilangnya kulit penis dapat menimbulkan
kenikmatan seksual juga ditemui di Yogyakarta di kalangan Bong Supit -seperti dikatakan salah
seorang Bong Supit, “itu kan tidak nikmat (kalau kulit penis masih ada), seperti pakai kondom
saja…” Semua mitos ini pada dasarnya mengimplikasikan efek yang positif dan menguntungkan
genital cutting bagi kehidupan seksual, terutama untuk merangsang daya seksual seseorang.
Kenyataan ini secara tidak langsung ikut mendorong keberlangsungan praktek MGC dan FGC di
kalangan masyarakat setempat.
Rekomendasi
Penelitian
    Keseluruhan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aspek sosial-budaya merupakan hal
yang sangat krusial sehubungan dengan praktek genital cutting di Yogyakarta dan Madura. Hal
ini dapat dipahami melalui cara masyarakat setempat memahami praktek genital cutting, yaitu
sebagai sebuah ritual yang bermakna dalam kehidupan relijius dan sosial seseorang.
    Berbagai keterbatasan yang dihadapi dalam penelitian ini perlu disikapi dengan melakukan
penelitian lebih lanjut, yaitu berkaitan dengan:
    • Pendekatan medis dan studi seksualitas. Sehubungan konsen terhadap isu kesehatan
        reproduksi, penelitian yang lebih terfokus pada aspek sosio-kultural ini masih perlu
        dilengkapi dengan penelitian lebih lanjut baik melalui pendekatan medis maupun
        berkaitan dengan studi seksualitas.
    • Isu-isu spesifik. Beberapa isu-isu tentatif yang diangkat dalam penelitian ini masih perlu
        diperdalam melalui penelitian sejenis dengan mengangkat isu-isu yang lebih spesifik
        dalam rangka memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai persoalan
        genital cutting di Indonesia.
    • Penelitian aksi. Kontribusi penelitian ini pada tingkat konseptualisasi genital cutting perlu
        ditindaklanjuti dengan melakukan penelitian aksi dalam rangka merumuskan solusi-solusi
        praktis bagi persoalan genital cutting baik di daerah penelitian, maupun di dunia secara
        umum.

Kebijakan
       Penelitian ini merefleksikan bahwa persoalan genital cutting pada dasarnya berurusan
dengan keyakinan ideologi. Hal ini sama sekali tidak bisa diabaikan dan perlu dipahami bersama
oleh seluruh komponen penentu kebijakan atau stakeholder yang memiliki konsen terhadap
persoalan genital cutting. Adapun stakeholder yang dimaksud antara lain melibatkan departemen
kesehatan atau asosiasi profesi kesehatan, anthropolog dan sosiolog, serta pemimpin agama atau
masyarakat setempat. Sehubungan dengan hal ini, ada beberapa hal yang direkomendasikan
melalui penelitian ini:
    • Kesadaran isu. Kesadaran bahwa genital cutting merupakan persoalan sosio-kultural yang
       sangat kompleks dan berdampak pada praktek yang bisa membahayakan kesehatan
       reproduksi perlu diperluas baik di kalangan masyarakat umum, maupun dalam lingkup
       stakeholder sendiri. Proses penyadaran mengenai hal ini bisa diupayakan dengan
       memanfaatkan forum-forum umum yang dipandang cukup strategis untuk mengangkat isu
       genital cutting.
    • Pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi. Pengetahuan mengenai seksualitas dan
       kesehatan reproduksi perlu ditransferkan baik kepada pihak keluarga, pelaku, maupun
       pemimpin agama/masyarakat setempat dalam rangka menunjukkan berbagai implikasi
       yang bisa ditimbulkan dari adanya praktek genital cutting. Transfer pengetahuan ini dapat
       dilakukan melaui training-training yang diprakarsai oleh lembaga-lembaga terkait.
    • Studi yang kritis dan kontekstual mengenai Islam dan kesehatan reproduksi. Mengingat
       Islam merupakan pusat wacana dalam persoalan MGC dan FGC di Indonesia, maka
       diperlukan berbagai usaha untuk menafsirkan kembali hukum Islam dalam rangka
    menumbuhkan wacana mengenai MGC dan FGC yang lebih terbuka. Usaha ini mendesak
    di kalangan masyarakat Madura yang memiliki fanatisme Islam yang sangat kuat.
•   Eliminasi efek samping. Fakta bahwa praktek genital cutting memiliki efek samping yang
    membahayakan kesehatan reproduksi perlu ditindaklanjuti dengan langkah-langkah
    praktis dalam rangka mengeliminasinya. Salah satu langkah praktis adalah melakukan
    promosi Standard Operation System (SOP) dalam pelaksanaan MGC. Sementara itu, FGC
    perlu dikritisi lebih lanjut secara medis. Medikalisasi FGC yang mengindikasikan
    pergeseran prosedur dari ‘pemotongan sesungguhnya’ oleh dukun kepada ‘sekedar
    pembersihan’ oleh bidan perlu pula dipertimbangkan sebagai usaha yang cukup potensial
    untuk mengeliminasi praktek FGC yang membahayakan.
Referensi

Abdulrachman (1978). Selayang Pandang Madura. Fifth edition. Sumenep: Departemen
     Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Abdulrachman (1988). Kepemimpinan dalam administrasi pembangunan di Jawa Timur:
     Perbandingan kerjasama pimpinan formil dan pimpinan informil di Jawa Timur. In Madura
     II. Malang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Al Marshafi, Dr. Saad (1996). Khitan. Jakarta: Gema Insani Press.

Badan Pusat Statistik (2001). Daerah Istimewa Yogyakarta dalam Angka. Yogyakarta: BPS
     Propinsi DIY.

Feillard, Endre & Lies Marcoes (1998). Female circumcision in Indonesia: To “Islamize in
      ceremony or secrecy. Paris: Etude interdisciplinaires sur le monde insulindien.

Geertz, Clifford (1960). The Religion of Java. Glencoe: Free Press.

Hasan, M. Ali (years?). Masail Fiqhiyah Al-Haditsah: Pada masalah-masalah kontemporer
     hukum Islam. Jakarta: Rajawali Press.

Hull, Terrence H. & Meiwita Budiharsana (2001). Putting men in the picture: Problems of male
      reproductive health in Southeast Asia. A paper presented in IUSSP XXIV Congress,
      Salvador, Brazil 18-24 August 2001.

Ida, Rachmah & Mustain Mashud (2001). Sunat anak perempuan pada masyarakat etnis Madura
      di Madura (draft report). Yogyakarta: PSKK-UGM.

Koenjaraningrat (1985). Javanese Culture. Singapore: Oxford University Press.

Kompas (newspaper), June 28, 2002.

Muhammad, KH. Husein (2001). Figh Perempuan: Refleksi Kiai atas wacana agama dan gender.
    Yogyakarta: LKIS.

Musyarofah, Ristiani et.al. (2001). Khitan perempuan: suatu tinjauan kultural, Studi eksporasi di
    desa Wana, Lampung Timur (draft report). Yogyakarta: PSKK-UGM.

Population Reference Bureau (2000). Abandoning female genital cutting: Prevalence, attitude,
     and efforts to end the practices. US: PRB.

Ramali, Dr Med. Ahmad (1951). Peraturan-peraturan untuk memelihara kesehatan dalam hukum
    sjara’ Islam. Jakarta: Balai Pustaka.
Soebalidinata, Drs. RS. (years?). Cerita murwakala dan ruwatan di Jawa. Yogyakarta:
     Javanologi.

World Health Organization (1996). Female genital mutilation: Report of technical working
     group, Geneva: WHO