humanisme renaissance

Document Sample
humanisme renaissance Powered By Docstoc
					Nur Rachmi’s World: [ http://www.geocities.com/nurrachmi/ ]
                                             Humanisme
                                             Renaissance




 Nur Rachmi
      Humanisme Renaissance
                       Nur Rachmi
Bab I: Pendahuluan

D
          alam periodisasi sejarah Barat atau Eropa, nama Renais
          sance digunakan untuk menandai masa-masa antara abad
          ke-13 dan akhir abad ke-15. Kata Renaissance sendiri
berasal dari bahasa Perancis yang arti harfiahnya adalah kelahiran
kembali. Istilah ini mengandung arti bahwa terdapat sesuatu yang
pernah ditinggalkan atau dilupakan orang dan sekarang lahir atau
mulai dipakai kembali.
Sehubungan dengan hal di atas, perlu diketahui bahwa pada masa
periode sejarah sebelumnya, yaitu yang disebut sebagai Zaman
Pertengahan, ajaran agama Kristen sangat dalam berakar dalam
diri manusia-manusianya. Orientasi pemikiran pada zaman ini
bersifat teosentris, maka segala sesuatu dikaitkan dengan Tuhan.
Gereja dianggap sebagai kekuasaan suci, karena itu tidak ada yang
berani mengganggu gugat kekuasaannya, walaupun diketahui
terjadi praktek-praktek yang menyimpang di dalamnya.
Ciri awal Renaissance, yaitu semangat bebas mempelajari segala
sesuatu dan mengemukakan pendapat pribadi dengan
menggunakan bahasa sehari-hari, bahkan bahasa daerah, yang
merupakan penyimpangan dari penggunaan bahasa yang resmi,
yaitu bahasa Latin, mulai terasa pada akhir abad ke-13. Ciri ini
mulai terasa di dalam karya-karya Dante Alighieri (1265-1321),
penyair Italia. Ia mengawali pernyataan yang berani tentang rasa
tidak sukanya terhadap ambisi politik Paus Bonaface VIII.
Walaupun demikian hal ini tidak berarti bahwa ia juga membenci
agama Kristen. Dante juga mengawali perkembangan yang akan
menjadi ciri Renaissance. Ia menulis dalam bahasa Italia di samping
bahasa Latin yang sangat dihormati. Dan untuk karyanya “Devine
Comedy” ia memilih bahasa daerahnya, yaitu bahasa Tuscany, dan
mencontoh model puisi populer penyanyi troubadour Provencal,
bukan puisi epik klasik. Akan tetapi di dalam karyanya ini ia
memakai nama-nama figur klasik, baik yang nyata maupun yang
                               -1-
                    Nur rachmi’s worlD
berasal dari mitologi.
Akan tetapi figur yang merupakan pembangkit hawa segar pada
masa Renaissance bukanlah Dante, melainkan Francesco Petrarca
(1304-1374), atau lebih dikenal dengan sebutan Petrarch. Ia
menunjukkan munculnya Humanisme dalam zaman Renaissance,
tidak hanya melalui penghormatan dan pemujaannya terhadap
karya klasik, tapi juga melalui kedalaman perasaannya terhadap
keindahan-keindahan dunia ini.




                             -2-
                    Nur rachmi’s worlD
Bab II: Humanisme Renaissance

O
         rientasi pemikiran di zaman Renaissance ini dikenal
         bersifat antroposentris, yaitu segala sesuatu diukur
         melalui ukuran manusia, bukan lagi Tuhan. Maka timbul
gerakan “Humanisme”, yaitu gerakan yang ingin mengungkapkan
kembali nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam zaman Pertengahan, manusia dianggap sebagai ‘citra Tuhan’,
karena merupakan makhlukNya yang paling dekat dengan Tuhan
setelah dikaruniai akal. Tujuan hidup manusia adalah hidup sesuai
dengan ajaran dan kehendak Tuhan.
Dalam zaman Renaissance manusia dilihat melalui dua pandangan
antroposentris, yaitu naturalistis dan individualistis.
Secara naturalistis, manusia dilihat menurut kodratnya sendiri,
yang berbeda dengan kodrat binatang. Kodrat manusia adalah
sebagai makhluk berakal budi dan berkehendak bebas; berbeda
dengan binatang yang hanya mempunyai naluri. Dengan
mengembangkan akal budinya, manusia dapat memiliki
pengetahuan yang dalam tentang lingkungannya. Dan dengan
kehendak bebasnya manusia dapat memilih, mempertimbangkan
tindakannya dan mempertanggungjawabkannya.
Menurut pandangan individualistis, manusia adalah suatu
individu, yaitu unit yang berdiri sendiri, lengkap dalam dirinya
sendiri dan karena itu sempurna. Dengan ciri ini manusia memiliki
kemampuan untuk menguasai lingkungannya dan untuk
selanjutnya menguasai dunia.
Adanya pandangan antroposentris ini tidak berarti bahwa orang-
orang di zaman ini memusuhi agama. Mereka hanya berusaha
menampilkan kemampuan manusia untuk dapat berkembang dan
memahami hukum-hukum alam serta menguasai alam.
Kedua pandangan antroposentris di atas telah membangkitkan rasa
percaya diri yang besar di dalam diri orang-orang zaman ini. Maka
muncullah para humanis yang dengan kemampuan masing-masing
mencoba mengembangkan diri dan hidupnya.
Perlu dicatat di sini bahwa istilah ‘humanis’ di sini dipakai secara
                                -3-
                    Nur rachmi’s worlD
luas. Seorang humanis adalah seorang pemberontak terhadap
kosmologi Zaman Pertengahan dan kembali pada kosmologi
Zaman Yunani berdasarkan pemikiran Plato tentang dunia ide dan
pemikiran Aristoteles tentang akt dan potensi. Seorang humanis
adalah orang-orang yang ingin bertindak sebagai dirinya sendiri.
Maka kaum humanis mencakup ahli-ahli sastra dan seni, ahli
arsitektur, ahli ilmu pengetahuan dan sebagainya.
Seperti telah saya sebutkan dalam bab sebelumnya, humanis awal
zaman ini adalah Petrarch. Petrarch seorang Kristen yang taat, tapi
ia juga seorang pengagum karya-karya klasik. Baginya, kedua unsur
di atas haruslah dapat bersama-sama memperkaya jiwa manusia.
Tulisan-tulisannya mencerminkan usahanya tersebut. Ia banyak
mengumpulkan manuskrip Yunani kuno tulisan para filsuf
terkenal. Akan tetapi yang terkenal dari Petrarch kemudian
bukanlah tulisan-tulisannya yang berbahasa Latin, melainkan
soneta-soneta cintanya yang ditulis dalam bahasa daerah yang
merupakan ciri khas kebiasaan zaman Renaissance. Petrarch tidak
menyukai filsuf-filsuf Zaman Pertengahan karena dianggapnya
terlalu rasionalis, terlalu banyak memperhatikan detail. Sikap tidak
suka inipun merupakan ciri khas para humanis zaman Renais-
sance.
Seorang humanis lain yang cukup penting peranannya adalah
kawan dan murid Petrarch, yaitu Giovanni Boccaccio (1313-1375).
Ia mempelopori pandangan yang apa adanya tentang kelemahan-
kelemahan manusia, melalui karyanya “Decameron”. Sejak
ceritanya beredar, cerita yang bersifat duniawi dan tidak
berdasarkan agama Kristen mulai mendapat tempat di dalam
kesusastraan Eropa. Boccaccio banyak membantu Petrarch dalam
pengumpulan naskah-naskah kuno, dan ia membenci kerusakan
moral para pemimpin gereja, tapi bukan seorang yang anti-Kristen.
Setelah Petrarch dan Boccaccio, kaum humanis dapat dibagi
menjadi tiga golongan. Golongan pertama adalah orang-orang yang
mewarisi antusiasme Petrarch untuk mengumpulkan dan
mempelajari naskah-naskah kuno Yunani, yang terdiri dari para
sarjana, penguasa-penguasa yang berpendidikan dan para
pengusaha. Tokoh yang cukup mewakili golongan ini adalah
Lorenzo Valla (c. 1405-1477). Walaupun pemarah dan sering
menghina para humanis lawan-lawannya, ia menguasai
                                -4-
                    Nur rachmi’s worlD
pengetahuan yang dalam dan berani menggunakannya. Ia terkenal
dalam sejarah karena keberaniannya membuktikan kesalahan-
kesalahan dalam tulisan Cicero, penulis klasik, yang dianggap
sangat sempurna, dan mengatakan bahwa “Donation of
Constantine”, yang sejak lama merupakan basis untuk menolak
klaim Paus untuk mempunyai dominion sementara, adalah sebuah
karya palsu dengan mengajukan bukti-bukti.
Golongan kedua adalah penulis-penulis yang menggunakan bahasa
daerahnya masing-masing dalam karyanya, mengikuti jalan yang
dirintis oleh “Decameron”. Dua penulis yang termasuk golongan
kedua ini menunuukkan luasnya cakupan Renaissance. Yang
pertama adalah Geoffrey Chaucer (c. 1340-1400) dari Inggris.
Seperti Dante, ia memiliki baik ciri Zaman Pertengahan maupun
Renaissance. Karyanya, “Canterbury Tales”, mengambil latar
belakang zaman Pertengahan, akan tetapi menggunakan bahasa
daerah. Tulisan Chaucer menunjukkan mulai dipakainya bahasa
daerah dalam kesusastraan Inggris dan terjadinya sekularisasi dalam
profesi kesusastraan, yang semebumnya dipegang oleh para
pendata. Dan penulis yang kedua adalah F. Rabelais (c. 1494-1553)
dari Perancis. Ia lebih dikenal karena pornografinya. Akan tetapi
sebenarnya sumbangan bagi kesusastraanlah yang lebih banyak
diberikan. Ia mempelajari karya-karya klasik terutama Plato dan
penulis-penulis karya kedokteran; praktek dan mengajar sebagai
dokter, dan menciptakan dua figur komedi sastra yang besar, yaitu
Gargantua dan anaknya Pantagruel. Keduanya adalah raksasa.
Pandangan Rabelais yang terungkap melalui Gargantua adalah
bahwa manusia sebenarnya bebas melakukan apa saja sekehendak
hatinya, tapi dengan memberikan contoh antusiasme yang besar
untuk memperoleh pengetahuan sebanyak-banyaknya, yang
merupakan ciri-ciri manusia zaman Renaissance.
Dan golongan ketiga adalah orang-orang yang berusaha
menggabungkan unsur-unsur Kekristenan, Klasisisme dan unsur-
unsur lain untuk mendapatkan filsafat manusia yang universal.
Tokoh yang mewakili golongan ini adalah Pico della Mirandola
(1463-1494). Dalam karyanya “Oration on The Dignity of Man”,
ia mengutip dan menyetujui pendapat-pendapat teologis-teologis
Chaldea dan Persia, pendeta-pendeta dari Apollo, Socrates,
Pythagoras, Cicero, Moses (nabi Musa), St. Paul, St. Augustine,
                               -5-
                    Nur rachmi’s worlD
nabi Muhammad, St. Francis, St. Thomas Aquinas, dan banyak
lagi. Dalam berbagai kepercayaan di dunia ini, ia berusaha
menemukan satuan kepercayaan yang umum, yang dapat menjadi
kunci menuju pemahaman manusia dan alam semesta. Pico tentu
saja gagal. Tapi ia telah membuka jalan bagi studi perbandingan
agama dan perbandingan filsafat. Tokoh lain adalah Erasmus
(1466-1536) dari Belanda. Ia lah yang mematangkan semua usaha
yang dilakukan para humanis sebelumnya. Ia memiliki semua ciri
Renaissance seperti yang telah disebutkan. Ia menggabungkan
kecintaan pada karya-karya klasik dengan penghormatannya
terhadap nilai-nilai Kristen. Ia selalu mengumandangkan ‘filsafat
Jesus’ dan penerapannya pada doktrin cinta dan kasih sayang pada
sesama manusia. Dalam bidang lukisan, semangat Renaissance
terlihat pada usaha untuk menampilkan tiga dimensi dalam lukisan
dan bentuk tubuh manusia secara proporsional. Hal ini dilakukan
para pelukis-pelukisnya dengan mempelajari lebih dalam anatomi
manusia di samping mencoba menggabungkan berbagai teknik
melukis dengan teknik memahat. Nama-nama yang dikenal antara
lain Giotto, Botticelli dan Masaccio; Leonardo da Vinci dan
Michelangelo yang mendapatkan pelajarannya di Florence dan
terakhir Titian yang belajar di Venice.
Humanisme, selain dalam bidang seni dan sastra di atas, juga
mencakup bidang-bidang lain seperti bidang ilmu pengetahuan.
Dalam bidang teknologi dan penemuan misalnya, hasil semangat
humanisme terwujud dengan ditemukannya mesin cetak, yang
telah memungkinkan tersebarnya berbagai karya yang membantu
memperluas pandangan dan pemikiran orang-orang zaman
tersebut dalam jumlah yang besar. Dalam bidang kedokteran,
Vesalius dari Belgia membuka mata para ilmuwan terhadap
kesalahan pandangan masa lalu. Dalam bidang astronomi,
Copernicus membalikkan fungsi bumi, yang tadinya dianggap
sebagai pusat peredaran alam semesta, kepada matahari. Sedangkan
dalam bidang agama, humanisme dapat dianggap telah turut
membantu menciptakan krisis yang nantinya akan mendorong
terjadinya Reformasi agama Kristen.




                              -6-
                   Nur rachmi’s worlD
Bab III: Kesimpulan

W
           alaupun sulit untuk mendefinisikan gaya Renaissance
           secara singkat (sebab Renaissance adalah suatu zaman
           yang cukup kompleks), masih terasa ada perbedaan
antara orang-orang besar dan karya-karya besar zaman ini dengan
orang-orang besar dan karya-karya besar zaman lainnya. Orang-
orang zaman Renaissance hidup di zaman yang tidak lagi bersifat
seperti zaman Pertengahan, akan tetapi juga belum menjalani
kehidupan yang sepenuhnya modern.
Kaum humanis adalah pemberontak yang sadar, tanpa memandang
apakah mereka menujukan perhatiannya pada kesarjanaan, filsafat,
seni ataukah kesusastraan. Mereka sangat modern dalam kesadaran
mereka bahwa mereka sedang memberontak terhadap pendahulu
mereka dari zaman Pertengahan. Dengan kepercayaannya pada
kemampuan manusia untuk mengembangkan diri, mereka
memberontak terhadap cara hidup yang dicontohkan para
pemimpin agama, cara hidup yang busuk, terlalu berbelit-belit,
tidak segar dan tidak benar. Namun demikian, pemberontakan
kaum humanis tidaklah benar-benar bersifat anarkhis. Sebagai
pemberontak mereka harus bekerja keras untuk menghilangkan
kepercayaan orang terhadap kekuasaan dan kepercayaan lama. Dan
sebagaimana sifatnya proses sejarah, usaha mereka terlihat melalui
proses berjalannya waktu.
Orang dari zaman Pertengahan mungkin pernah menggabungkan
yang baik dan yang indah; tapi penekanannya pastilah pada yang
baik, menuruti keinginan Tuhan. Zaman humanisme ini memiliki
pandangan bukan hanya tentang dunia milik Tuhan, tapi juga
dunia milik alam dan dunia manusia. Seperti dikatakan Castiglione
dalam bukunya ‘The Courtier’ yang diterbitkan pada tahun 1528,
    “... Beside other things, therefore, it giveth a great praise to the
    world in saying that it is beautiful. It is praised in saying the
    beautiful heaven, beautiful earth, beautiful sea, beautiful rivers,
    beautiful woods, trees, gardens, beautiful cities, beautiful
    churches, houses, armies. In conclusion, this comely holy beauty




                                   -7-
                      Nur rachmi’s worlD
    is a wondrous setting out of everything. And it may be said that
    good and beautiful be after a sort one self thing ...1




1
 Castiglione, The Courtier, dikutip dalam Crane Brinton, et.all. 1907. “The
Renaissance,” A History of Civilization, T. Hoby, trans., modernized.
                                   -8-
                      Nur rachmi’s worlD
Daftar Pustaka
Brinton, Crane.
    1981           The Shaping of The Modern Mind. Diterjemahkan ke
                   bahasa Indonesia oleh Samekto dan Pia Alisjahbana.
                   Mutiara Jakarta. Jakarta.
Brinton, Crane. (et.all.)
                   “The Renaissance,” A History of Civilization, T. Hoby,
                   trans., modernized
“Renaissance”
                   Encyclopedia of Phylosophy. Hal. 174-178.
“Renaissance”
    1963           Encyclopedia Americana. Vol. XXIII.


                                                         10 Juni 1985




                 Modified & Authorised by: Edi Cahyono, Webmaster
         Disclaimer & Copyright Notice © 2005 Nur Rachmi’s World
                                  -9-
                      Nur rachmi’s worlD