Docstoc

Majas (Gaya Bahasa)

Document Sample
Majas (Gaya Bahasa) Powered By Docstoc
					                                                                                   August 3,
                                                KHAIRUL-ANAS.BLOGSPOT.COM
                                                                                      2010

MAJAS
Majas atau gaya bahasa adalah bahasa kias yang digunakan untuk mempertajam kamsud.
   A. Majas perbandingan
   1. Personifikasi, yaitu majas yang membandingkan benda yang tidak bernyawa seolah-olah
       dapat bertindak seperti manusia.
       Contoh :
       a.    Bulan menangis menyaksikan manusia saling bunuh.
       b.    Daun-daun memuji angin yang telah menyapanya.
   2. Metafora, yaitu membandingkan dua hal/benda tanpa menggunakan kata penghubung.
       Contoh :
       a.    Bumi itu perempuan jalang.
       b.    Tuhan adal;ah warga negara yang paling modern.
   3. Simile/Perumpamaan, yaitu membandingkan dua hal/benda dengan menggunakan kata
       penghubung.
       Contoh :
       a.    Wajahnya bagai bola api.
       b.    Tatapannya laksana matahari.
       c.    Seperti angin aku melayang kian kemari.
   4. Alegori, membandingkan hal/benda secara berkelanjutan membentuk sebuah cerita.
       Contoh :
       Perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing, yang
       kadang-kadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah, dan yang
       pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut.

   B. Majas pertentangan
   1. Hiperbola, mempertentangkan secara berlebih-lebihan.
      Contoh :
      a.     Saya telah berusaha setengah mati menyelesaikan soal itu.
      b.     Kekayaannya selangit.
   2. Litotes, mempertentangkaan dengan merendahkan diri.
      Contoh :
      a.     Kalau sempat mampirlah ke gubukku.
      b.     Ah, saya ini khan cuma kacung.
   3. Ironi, mempertentangkan yang bertujuan menyindir dengan menyampaikan sesuatu yang
      bertentangan dengan fakta yang sebenarnya.
      Contoh :
      a.     Hebat betul, pertanyaan semudah itu tidak bisa kaujawab.
      b.     Rajin betul, jam sepuluh baru datang!
   4. Oksimoron, mempertentangkan secara berlawanan bagian demi bagian.
      Contoh :
      a.     Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda.
      b.     Kesedihan adalah awal kebahagiaan.

   C. Majas pertautan
   1. Metonimia, menghubungkan ciri benda satu dengan benda lain yang disebutkan.
      Contoh :
      a.   Kakakku sedang membaca Pramudya Ananta Toer.
      b.   Belikan aku gudang garam filter.
   2. Sinekdoke, mernyebut sebagian untuk keseluruhan (pars pro toto) atau keseluruhan untuk
      sebagian (totum pro part).
      Contoh :
      a.   SMA Stella Duce 2 Yogyakarta berhasil masuk final pertandingan basket.
                                                                                     August 3,
                                                KHAIRUL-ANAS.BLOGSPOT.COM
                                                                                        2010

   b.     Roda duanya mogok.
3. Alusio, mempertautkan hal dengan peribahasa.
   Contoh :
   a.      Kalau kita menggunakan sebaiknya hemat jangan sampai lebih besar pasak daripada
        tiang.
   b.     Sebaiknya kita menggunakan ilmu padi dalam kehidupan kita, semakin berisi semakin
        tunduk.
4. Inversi, mengubah susunan kalimat.
   Contoh :
   a.      Hancurlah hatinya menyaksikan kekasihnya berpaling ke lelaki lain.
   b.     Merahlah mukanya mendengar caci maki sahabat karibnya.
D. Majas perulangan
1. Aliterasi, mengulang bunyi konsonan yang sama.
   Contoh :
   a.      Malam kelam suram hatiku semakin muram.
   b.     Gadis manis menangis hatinya teriris iris.
2. Antanaklaris, memgulang kata yang sama dengan arti yang berbeda.
   Contoh :
   a.      Buah hatinya menjadi buah bibir tetangganya.
   b.     Hatinya memintanya berhati-hati.
3. Repetisi, mengulang-ulang kata, frase, atau klausa yang dipentingkan.
   Contoh :
   a.      Di Stella Duce 2 Yogyakarta ia mulai meraih prestasi, di Stella Duce 2 Yogyakarta ia
        menemukan tambatan hati, di Stella Duce 2 Yogyakarta pula ia menunggu hari tuanya.
   b.     Tidak ada kata lain selain berjuang, berjuang, dan terus berjuang.
4. Paralelisme, mengulang ungkapan yang sama dengan tujuan memperkuat nuansa makna.
   Contoh :
   a.      Sunyi itu duka, sunyi itu kudus, sunyi itu lupa, sunyi itu mati.
   b.     Hidup adalah perjuangan, hidup adalah persaingan, hidup adalah kesia-siaan.

				
DOCUMENT INFO
Description: Majas gaya bahasa bahasa indonesia sma smp sd kelas 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12