Bahasa Nusantara

Document Sample
Bahasa Nusantara Powered By Docstoc
					                             Bahasa-bahasa Nusantara:
         Tipologinya dan tantangannya bagi Tatabahasa Leksikal-Fungsional

                                    I Wayan Arka
                               Linguistics, RSPAS, ANU

1    Pendahuluan
        Beragamnya bahasa-bahasa Nusantara menjadikan Nusantara sebagai
laboratorium alamiah untuk pengujian dan penerapan teori linguistik apa saja, termasuk
Tatabahasa Leksikal-Fungsional (selanjutnya TLF).
        Nusantara dihuni oleh lebih dari 500 bahasa, yang terbagi dalam dua kelompok
besar bahasa: bahasa Austronesia dan bahasa Papua. Kelompok bahasa Austronesia
terdapat hampir disuluruh Nusantara sementara kelompok bahasa Papua dijumpai di Irian
dan juga pulau-pulau sekitarnya termasuk berapa pulau di Nusa Tenggara Timur (Alor ke
Timur) dan Timor Timur.
        Dalam tulisan singkat ini akan diuraikan beberapa ciri-ciri penting berbagai
kelompok bahasa Nusantara dan tantangannya bagi TLF. Karena keterbatasan ruang serta
luasnya keragaman bahasa di Nusantara dan kerumitan aspek teoritis yang ada, maka
topik yang diangkat bersifat terbatas dan pembahasannya bersifat subjektif karena
perspektifnya mencerminkan pemahaman dan pengalaman penulis dalam meneliti bahasa-
bahasa Nusantara.
        Makalah ini disusun sebagai berikut. Keberadaan dua kelompok utama bahasa di
Nusantara (Austronesia dan Papua) diberikan pada subseksi 2.1–2.2, dilanjutkan dengan
uraian singkat mengenai TLF (sejarah dan model yang dianut) pada sub-seksi 3.1–3.3.
Pembahasan utama mengenai tantangan bahasa Nusantara terhadap TLF diberikan pada
4.1–4.5. Akhirnya, kesimpulan disampaikan pada bagian akhir tulisan ini.


2     Bahasa-bahasa Austronesia dan non-Austronesia di Nusantara

2.1    Kelompok Austonesia
         Secara genealogis bahasa-bahasa Austronesia di Nusantara ini setidak-tidaknya
terdiri dari tiga kelompok: kelompok Malayo-Polynesia Barat, Malayo-Polynesia Tengah
dan Halmahera Selatan Papua Barat (lihat gambar 1, Tryon (1994)). Namun secara
tipologis ada setidak-tidak empat kelompok (Arka 2002). Keempat kelompok tersebut
diuraikan dengan singkat di bawah ini.
         Pertama, bahasa-bahasa dengan system diatesis morfologis tipikal
Austronesia. Kelompok ini terbagi menjadi dua sub-kelompok, yakni bahasa bertipe
seperti bahasa Indonesia (selanjutnya akan disebut dengan tipe b.Ind) dan bahasa bertipe
seperti bahasa Tagalog (selanjutnya, b.Tag). Tipe b.Ind mendominasi di wilayah
Indonesia tengah dan barat (Sulawesi tengah dan selatan, sebelah barat Sumbawa, sampai
ke Sumatra dan Kalimantan Indonesia). Sementara itu b.Tag ditemui di Sulawesi utara
dan Kalimantan utara.
         Dari kelompok pertama ini, bahasa-bahasa yang sudah didokumentasikan dengan
baik meliputi bahasa Karo Batak (Woollams 1996) and bahasa Nias (Brown 2001) di
Sumatra, bahasa Jawa (Sudaryanto 1991) dan bahasa Sunda (Hardjadibrata 1985; Robins
1983) di Jawa, Toratan di Sulawsi (Himmelmann 2002; Himmelmann and Wolff 1999),
juga bahasa Bali (Arka 1998, to appear; Arka and Simpson 1998; Artawa 1994; Beratha
1992; Clynes 1995).
I Wayan Arka                    TLF: prinsip dasar dan tantangannya




                Figure 1. Nusantara dan sub-kelompok bahasa Austronesia
        Ada beberapa ciri utama tipe b.Ind. Pertama, bahasa tipe ini mempunyai diatesis
simetrikal, artinya alternasi diatesis yang memungkinkan tidak terjadinya perubahan
status keintian1 argument Agen atau Pasien dari verba transitif. Dua diatesis tersebut
adalah diatesis agentif (DA) dan diatesis objektif (DO).2 Diatesis agentif secara
tradisional adalah kalimat ‘aktif’, dicontohkan oleh kalimat (1)a dari bahasa Bali. Dalam
kalimat ini, argumen Agen menjadi PIVOT (subyek). Diatesis objektif dicontohkan oleh
kalimat (1)b menunjukkan Pasien sebagai PIVOT (PIV). Alternasi diatesis agentif-
objektif tidak menurunkan status Agen atau Pasien ke non-inti (Oblik/Oblique) 3. Jadi
dalam kedua kalimat ini agen dan pasiennya tetap inti, bukan non-inti. Bukti bahwa
keintian sintaksisnya tidak berubah datang dari berbagai test seperti pengikatan, salinan
pronomina (pronominal copy) dan quantifier float (lihat Arka 1998).

1
  Istilah ‘keintian argumen’ maksudnya klasifikasi argumen atas argumen inti (Core atau Term) dan non-inti
(atau non-Core, atau Oblique), lihat juga catatan kaki 3 di bawah. Argumen inti adalah klas argumen yang
mencakup Subjek dan Objek. Argumen inti ini biasanya direalisasikan sebagai FN (tidak mendapat markah
pre/postposisi). Pada bahasa-bahasa yang mempunyai pemarkah kasus, argumen inti ini mendapat kasus
utama seperti nominatif, akusatif, atau ergative. Ada bukti bahwa secara lintas bahasa kelompok argumen
inti mempunyai hirarki yang lebih tinggi dari yang non-inti; sehingga ada proses morfoleksikal tertetu yang
menurunkan status keintian argumen (dari inti ke non-inti) atau proses yang menaikkan status keintiannya
(dari non-inti menjadi inti). Masalah klasifikasi argumen dibahas pada 4.4 - 4.5.
2
  Singkatan yang dipakai pada makalah ini adalah sbb.: 1,2,3 (orang pertama, ke dua, ke tiga), APL
(aplikatif), D (determiner), DA (diatesis aktif), DEF (definit), DO (diatesis objektif), FUT (future), I
(Infeksi), IMP (imperatif), J (jamak), KL (kala), N (nomina), NUM (number), OBJ (objek), OBL (oblik),
SUBJ (subjek), P (pre/posposisi), P-A (proto-aktor), P-P (proto-pasien), PAS (pasif), PERF (perfectif), PF
(patient focus), PIV (pivot), POS (posesif), REC (regonitional), SS (subjek sama), T (tunggal), TLF (Teori
Leksikal-Fungsional), TO (Teori Optimalitas), V (verba).
3
  Oblik (Oblique) adalah argumen verba yang secara sintaktis bukan Subjek atau Objek, biasanya dimarkahi
oleh pre/posposisi. Dikatakan argumen, karena Oblik mencerminkan partisipan penting yang diminta oleh
verba. Jadi, Agen pada verba pasif adalah Oblik. Kehadirannya biasanya (walaupun tidak harus) opsional
sehingga Oblik mirip keterangan (adjunct). Beda Oblik dengan Adjucnt adalah yang pertama diminta oleh
verba sedangkan yang belakangan tidak. Contoh, Lokatif di meja pada verba taruh seperti taruh buku di
meja adalah Oblik sementara Lokatif di dapur pada makan di dapur adalah adjunct. Lokatif yang
belakangan bukanlah bagian dari makna ‘makan’; perannya di sini hanyalah memberi situasi tambahan.

                                                                                                         2
I Wayan Arka                   TLF: prinsip dasar dan tantangannya




    (1) Bahasa Bali
      a. Cang        lakar meli kedis-e                 nto          [PIV] [non-PIV]
         1T FUT      DA-beli burung-DEF                 itu          <INTI, INTI>
         ‘Saya akan membeli burung itu’                               Agen Pasien

      b. Kedis-e      nto lakar ∅-beli           cang                [PIV] [non-PIV]
         burung-DEF itu FUT DO-buy               1T
         ‘Burung itu akan saya beli’                                 < INTI, INTI>
                                                                      Agen Pasien
Ciri lain dari tipe b.Ind adalah: a) keberadaan pasif dengan agen oblik, b) keberadaan
aplikatif (misalnya –kan dan –i pada bahasa Indonesia), c) pemarkah diatesis lebih terkait
dengan peran semantis makro, yakni Actor (A) atau Proto-Agen (P-A) and Undergoer (U)
atau Proto-Pasient (P-P) dibandingkan dengan peran semantis mikro seperti Agen, Pasien
dan Lokatif.4 (Akan diperlihatkan di bawah bahwa diatesis pada bahasa tipe b.Tag lebih
mencerminkan peran semantis mikro) Misalnya, Subjek verba pasif pada b.Ind adalah U;
perannya tidak selalu identik dengan Pasien karena bisa Benefaktif/Sasaran (misalnya
pada verba diberikan/dilempari), atau bisa juga Lokatif (pada verba ditanami).
        Bahasa-bahasa Nusantara di Sulawesi utara, seperti Toratàn/Ratahan,
(Himmelmann 2002; Himmelmann and Wolff 1999), lebih mirip dengan bahasa tipe
b.Tag. Ciri-ciri tipe b.Tag antara lain: i) sistem diatesisnya simetris (seperti tipe b.Ind), ii)
tidak ada pasif dengan agen oblik, iii) sistem diatesis multi-dimensi dengan afiks yang
menyatakan peran semantis mikro (lihat perbandingan pada tabel 1), biasanya tidak
mempunyai afiks aplikatif, (iv) biasanya ada morfologi untuk menyatakan perbedaan
MOOD (realis/irrealis) dan (v) biasanya ada pemarkah argumen (misalnya ang pada
bahasa Tagalog). Tabel 1 (diadaptasi dari Himmelmann 2002: 126-127) menunjukkan
kemiripan bahasa Toratan dengan bahasa Tagalog dalam hal sitem diatesis yang multi
dimensi dengan berbagai tipe non-aktif yang terkait dengan peran semantis mikro dan
perbedaan realis dengan irrelais.

                 Table 1. Afiks diatesis bahasa Toratan dan Tagalog
                      +REALIS                      -REALIS
                      Toratan         Tagalog      Toratan         Tagalog
    ACTOR VOICE       -im-/N-         -um-/N-      -um-/M-         -um-/M-
    PATIENT VOICE     -in-            -in-         -an             -in
    LOCATIVE VOICE -in- -an           -in- -an     -an             -an
    THEME VOICE       -in-            i- -in       -∅              i-

       Bahasa lain di Sulawesi, utamanya di Sulawesi Tengah dan Selatan, seperti
bahasa. Balantak (Busenitz 1994), bahasa Makasar (Manyambeang 1996), lebih mirip ke
4
  Peran semantis makro A-U yang dimaksudkan di sini menuruti Foley dan Van Valin (1984) dan Van Valin
dan LaPolla (1999) dan P-A/P-P menuruti (Dowty 1991); keduanya dianggap disini kurang lebih sama,
yakni kelas peran semantis ‘umum’ yang secara lintas verba bisa diidenfikasikan sebagai berbagai peran
tematis/semantis yang spesifik seperti Agen, Benefaktif, Pasien, Lokatif dst. Untuk memudahkan
pembedaannya, peran semantis yang spesifik saya sebut sebagai peran semantis mikro. Jadi, peran makro A
atau P-A dalam verba aksi bisa identik dengan agen, sementara pada verba lain seperti verba yang
meyatakan rasa dan pikiran (pikir, lihat, dsb.) A/P-A bisa identik dengan perasa (experiencer). Perlu
dicatat bahwa peran makro terkait dengan argumen inti (Core), karena pada hakekatnya argumen inti
memang tidak terikat dengan peran semantis mikro tertentu (istilahnya thematically unrestricted, lihat
(Bresnan and Kanerva 1989)). Sementara itu, argumen non-inti (oblik) biasanya termarkahi dan
mencerminkan peran mikro tertentu; misalnya oleh (untuk agen atau Perasa), dengan (untuk Instrumen),
untuk (Benefaktif), di (Lokatif), ke (Sasaran).

                                                                                                     3
I Wayan Arka               TLF: prinsip dasar dan tantangannya


tipe b.Ind dibandingkan dengan tipe b.Tag karena bahasa-bahasa ini umumnya
menunjukkan verba non-aktif dengan peran semantis makro dan mempunyai aplikatif.
Namun harus diakui bahwa ada diantaranya yang mempunayi system ‘transisi’ antara tipe
b.Tag dengan tipe b.Ind. Salah satu bahasa yang demikian adalah bahasa Lauje (termasuk
kelompok Tomini-Tolitoli di Sulawsi Tengah bagian utara, Himmlemann 2002) yang
menjukkan system diatesis tiga arah dengan perbedaan [+/-REALIS] dan juga mempunyai
aplikatif. Yang menarik adalah sufiks aplikatif pada bahasa ini mempunyai distribusi
komplementer dengan diatesis lokatif. Maksudnya, seperti dinyatakan oleh Himmelmann
(2002: 135) sistem diatesis tiga arah disederhanakan menjadi sistem dua arah (seperti
dalam tipe b.Ind) apabila verbanya muncul dengan aplikatif.
         Kedua, bahasa-bahasa Nusantara dengan sistem diatesis campuran dengan
persesuaian pronominal. Bahasa tipe ini ditemui di Sulawesi Tenggara, misalnya
bahasa Muna (Van den Berg 1989), Wolio (Albert 2000), and Tukang Besi (Donohue
1995). Bahasa tipe ini mempunyai persesuaian pronominal pada verba atasan/mandiri
tetapi mempunyai sistem diatesis tipe b.Ind pada verba bawahan. Prefiks pronominanya
terkait secara ajeg dengan peran semantis Aktor dan biasanya ada frasa nomina bebas
yang bersesuaian dengan prefiks ini. Frasa nomina bebas ini dapat pula mendapatkan
pemarkah. Pada bahasa Tukang Besi, misalnya, ditemui pemarkah frasa nomina na
‘NOM’, yang sangat mirip dengan pemarkah frasa nomina pada bahasa-bahasa
Austronesia di Taiwan seperti Puyuma (Teng 2001).
         Ketiga, bahasa-bahasa isolasi. Bahasa-bahasa yang tergolong dalam tipe ini
terdapat utamanya di Flores, tetapi bisa juga ditemukan di Timor (Timur). Bahasa tipe ini
tidak mempunyai morfologi pada verbanya dan juga tidak ada afiks persesuaian.
Karenanya, urutan kata menjadi sangat penting dalam penentuan relasi gramatikal.
Verheijen (1977), Verheijen and Grimes (1995), Arka and Kosmas (2002) membahas
bahasa Manggarai (bahasa di Flores Barat. Arka (2000) memberikan laporan penelitian
komparatif mengenai bahasa di Flores dan sekitarnya (e.g. Bima, Sikka, Lio, and
Lamaholot). Hajek and Bowden (in press) membahas bahasa Waimoa, sebuah bahasa di
Timor Timur. Bahasa tipe isolasi seperti bahasa Manggarai biasanya menggunakan
strategi analitis untuk menyatakan diatesis.
         Keempat, bahasa-bahasa dengan persesuaian tanpa sistem diatesis. Bahasa
tipe ini utamanya ditemukan di Indonesia Timur (Nusa Tenggara Timur, Maluku Utara
dan Selatan) dan Timor Timur. Termasuk dalam kelompok ini adalah bahasa-bahasa di
Maluku seperti bahasa Taba (Bowden 2001) dan bahasa Buru (Grimes 1991), bahasa
Kambera di Sumba (Klamer 1998)), bahasa-bahasa di Timor diantaranya Dawan (Arka
2001b, 2001a; Steinhauer 1993, 1996) and Tetun (Van Klinken 1999). Setidak-tidak ada
tiga ciri utama bahasa kelompok bahasa ini: i) keberadaan persesuaian pronomina pada
verba, ii) ketiadaan diatesis dan iii) kecenderungan adanya serialisasi verba. Umumnya,
bahasa tipe ini menggunakan strategi pengedepanan atau pelesapan dengan tetap
mempertahankan persesuaian pronomina untuk konstruksi-konstruksi yang pada bahasa
tipe b.Ind akan memerlukan diatesis.


2.2   Kelompok Papua
        Deskripsi singkat kelompok bahasa Papua ini diambil dari Foley (1986).
Kelompok bahasa Papua yang jumlahnya tidak kurang dari 750 buah utamanya ditemukan
di Papua barat (Irian) dan Papua Nugini. Kelompok bahasa Papua juga di pulau-pulau
sekitarnya di Proponsi Nusa Tenggara Timur (di Alor dan Pantar, misalnya bahasa Abui,
Blagar, Hamap, Kabola, Kafoa, Kamang, Kolana dan Mauta), di Maluku (misalnya



                                                                                       4
I Wayan Arka               TLF: prinsip dasar dan tantangannya


Halmahera Utara) dan juga di Timor Timur. Distribusi bahasa Papua di wilayah
Nusantara Timur diperlihatkan dengan tanda bintang pada gambar 2 (Grimes et al. 1997).




               Figure 2. Nusantara Timur dan kelompok bahasa Papua
         Istilah ‘bahasa Papua’ sesungguhnya tidak membentuk kelompok bahasa secara
genetis seperti halnya rumpun bahasa Austronesia. Ada sekitar tidak kurang dari 60
rumpun secara genetis; karenanya istilah non-Austronesia mestinya lebih tepat. (Saya
akan tetap menggunakan istilah kelompok bahasa Papua dalam makalah ini dengan tetap
mengingat bahwa istilah ini tidak mengadung implikasi bahwa kelompok bahasa ini
membentuk satu rumpun secara genetis.)
         Secara tipologis ada beberapa karakter yang membedakan kelompok bahasa Papua
dengan Austronesia. Dari sudut fonologi, sistem fonemiknya biasanya sangat sederhana.
Sistem vokalnya tipikal terdiri dari lima vokal /i, e, a, o, u/. Sistem konsonannya biasanya
terdiri dari tiga tempat artikulasi (labial, dental/alveolar, dan velar), sering juga ada
palatal. Dari sudut sintaksis, kelompok Papua tipikal mempunyai tataurut dengan poros
datang terakhir (head final); jadi yang tipikal adalah klausa dengan verba di akhir kalimat
(SOV), dan frasa posposisi (FN +P), bukan frasa preposisi. Berikut ini contoh dari bahasa
Mauta (Oka Antara 2001), yang menunjukkan bahwa objek datang sebelum porosnya,
misalnya sebelum posposisi ya ‘ke’ pada (2)a atau sebelum verba transitif –kang ‘pukul’
(2)b. Perhatikan pula bahwa, subjek orang ke tiga yaya ‘ibu’ pada (2)a mendapat
persesuaian dengan pronomina bebas gang, sementara verba transitif (2)b juga muncul
dengan prefix gak- yang bersesuaian dengan objek Laoemaorey. (Persesuaian dinyatakan
dengan tanda subskrip i.)

 (2) Contoh bahasa Mauta
   a. Yaya         ga-ng        ang ya      si
      Ibu          3T-Inti      pasar P     pergi
      ‘Ibu pergi ke pasar’

   a. Na-ng     Laoemaorey i gak i -kang
      1T-Inti   NAMA            3T-pukul
      ‘Saya memukul Laoemaorey ‘


                                                                                          5
I Wayan Arka                TLF: prinsip dasar dan tantangannya


        Verba pada bahasa Papua umumnya kompleks secara morfologis (dengan afiks
yang menunjukka persesuaian dengan subjek, dan juga objek serta menyatakan
mood/kala) dan urutan argumen verba biasanya tidak kaku. Diatesis aktif dan pasif adalah
sesuatu yang sangat tidak lazim. Konstruksi yang lazim ditemui adalah konstruksi klausa
beruntun dan serialisasi verba. Dalam konstruksi ini, dua verba (atau lebih) beruntun
membentuk struktur yang ketat, yang biasanya ekuivalen dengan satu verba pada bahasa
lain. Bahasa dengan serialisasi verba biasanya lebih ekplisit dalam hal menyatakan fase
atau sub-kejadian yang membentuk kejadian lain. Misalnya, kata carikan (dua morfem
tetapi satu kata dalam bahasa Indonesia,) atau fetch (satu kata satu morfem dalam bahasa
Inggris) ekuivalen dengan sejumlah verba beruntun dalam bahasa Kalam (Papua Nugini,
Pawley (1980)) seperti terlihat dari contoh (3).

    (3) Contoh serialisasi dari bahasa Kalam
         Yad           am mon pk             d      ap         ay-p-yn
         Saya          pergi kayu pukul      pegang datang     taruh-PERF-1T
         ‘Saya pergi dan potong kayu dan mengambilnya dan datang dan menaruhnya’

Serialisasi serupa (yang tidak sekompleks bahasa Kalam) juga diperlihatkan oleh bahasa
Kombai, sebuah bahasa di Irian Jaya Selatan, termasuk Trans Nugini, (Vries 1993).
Contoh (4) memperlihatkan bahwa kejadian ‘membawa dan mengambil’ selalu
dinyatakan sebagai kombinasi dari sub-kejadian yang mengadung ‘datang dan pergi’ yang
juga menunjukkan arah perjalanan.

    (4) Contoh serialisasi dari bahasa Kombai
         a. Dunoro fali-me
             makanan bawa-datang.3T.NonFut
             ‘Ia membawa makanan’

         b. Foro    moja-ma-none!
            bawa.SS pergi-(ke)bawah-datang-IMP.J
            ‘Bawa (dia) ke bawah!’

Contoh serialisasi (3) dari bahasa Kalam tadi merupakan contoh yang ekstrim. Yang
lebih umum biasanya ada konstruksi serialisasi dengan dua verba dan salah satu
diantaranya adalah verba dengan arti jenerik seperti ‘lakukan’, ‘katakan’, seperti yang
ditemukan di bahasa Asmat di Irian Jaya (5).

    (5) Contoh serialisasi dari bahasa Asmat (Voorhoeve 1965 dalam Foley (1986))
         Atow          e- ‘main lakukan = bermain’
         Yan           e- ‘telinga lakukan =‘mendengar’

        Sebelum kita sampai pada uraian bagaimana bahasa-bahasa Nusantara yang telah
diuraikan tadi bisa memberi tantangan bagi teori bahasa, khususnya TLF, ada baiknya
secara singkat kita ketahui dulu sejarah, model dan prinsip dasar TLF secara singkat.


3     Pengenalan singkat TLF (Tatabahasa Leksikal-Fungsional)

3.1   Nama
       TLF termasuk tatabahasa generatif non-tranformational yang berbasiskan
leksikon. Sebagai tatabahasa jeneratif, TLF termasuk sekelompok dengan tatabahasa

                                                                                          6
I Wayan Arka               TLF: prinsip dasar dan tantangannya


generatif lain seperti tatabahasa Relasional dan tatabahasa transformasinya Noam
Chomsky (Government Binding, Principle and Parameters dan Minialist Program, lihat
diantaranya (Chomsky 1965, 1981; Chomsky 1986, 1995; Webelhuth 1995). Konsep
dasar yang menggolongkannya kedalam kelompok jeneratif adalah ide bahwa tatabahasa
terdiri dari seperangkat modul, prinsip-prinsip tertentu dan kendala-kendala tertentu yang
membentuk suatu mekanisme yang mampu menghasilkan ekpressi bahasa yang tidak
terbatas jumlahnya.
         Berbeda dengan tatabahasa transformasional, TLF tidak mengasumsikan adanya
transformasi, yakni pengubahan ‘struktur batin’ menjadi ‘struktur lahir’ dengan
mekanisme perpindahan (movement). Berbagai alternatif ekspresi ‘lahir’ seperti aktif-
pasif yang dianalisis sebagai hasil tranformasi oleh GB, dianalisis sebagai hasil proses
leksikal oleh TLF. Proses leksikal yang dimaksud mencakup perbedaan proses pemetaan
(mapping atau linking), didiskusikan pada subseksi 4 di bawah.
         Kata ‘leksikal’ pada TLF mengisyaratkan peran yang sangat penting bagi
informasi dan proses leksikal. Artinya, leksikon selain mengandung entri leksikal yang
menjukkan berbagai informasi yang dibawa oleh unit-unit leksikal (kata atau affix),
leksikon juga merupakan tempat terjadinnya berbagai proses pembentukan kata/unit
leksikal baru yang berdasarkan berbagai prinsip dan kedala-kendala yang bersistem.
Tidak mengherankan representasi unit/entri leksikal dalam TLF menjadi lumayan
kompleks. (Lihat pembahasan pada 3.3.2.)
         Kata ‘fungsional’ lebih dipakai dalam artian ‘fungsi matematis’; tidak persis
seperti penggunaan istilah ‘fungsional’ dalam wacana/penggunaan bahasa seperti halnya
pada Tatabahasa Sistemik Fungsional (Halliday 1994). Fungsi dalam TLF dikaitkan
dengan konsepsi bahwa relasi grammatical (seperti SUBJ, OBJ dsb.) dapat dimodelkan
dengan struktur matrik dengan relasi gramatikal dan informasi lainnya membentuk
pasangan atribut dan nilai dalam struktur formal yang disebut struktur-fungsional (str-f).
(Ada jenis struktur lain yang akan dibahas nanti, misalnya struktur konstituen (str-k) dan
struktur argumen (str-a)). Karenanya, SUBJ, OBJ dan OBL adalah fungsi gramatikal
dalam TLF. Pada awalnya dalam TLF klasik (Bresnan 1982), fungsi gramatikal ini
‘sangat’ primitif; tidak bisa didekomposisi menjadi fitur yang lebih kecil. Dalam
perkembangannya, walaupun ide keprimitifan fungsi masih dipertahankan, fungsi
gramatikal dipercaya bisa didekomposisi menjadi fitur yang lebih ‘primitif’, misalnya
fitur [+/- r] (r= restricted thematically). Ini akan dibahas pada 4.4–4.5


3.2    Sejarah singkat
        TLF dirintis oleh dua orang pendirinya, Joan Bresnan (seorang linguis di Stanford
University) dan R. Kaplan (seorang ahli matematika/linguis-komputasional, di Pusat
Penelitian Xerox Palo-Alto). Joan Bresnan pada awalnya adalah murid Chomsky di MIT,
sebelum kepindahannya ke Stanford di pertengahan tahun 70-an. Karena
ketidakpuasannya atas ide ‘transformasi’ dan dalam usaha untuk mendapatkan model
tatabahasa alternatif yang secara tipologis dapat menjelaskan berbagai fenomena bahasa
dari seluruh penjuru dunia (yang kebanyakan sangat berbeda dari bahasa Indo-Eropa) dan
yang secara matematis bisa dipakai dan diimplementasikan dalam pemrosesan bahasa
secara komputasional maka dia bekerja sama dengan R. Kaplan, yang kebetulan juga
mempunyai program riset yang sama. Hasilnya adalah versi pertama/klasik TLF yang
dibukukan sebagai Bresnan (1982). Walaupun ada penelitian utamanya dalam bentuk
tesis doktor dalam TLF, namun gaungnya tidak begitu kedengaran pada satu dekade
berikutnya. Setelah tahun 1990-an, setelah semakin banyak muridnya dan pengikutnya
yang tersebar ke berbagai penjuru dunia, maka mulai tahun 1996 (dan setiap tahun setelah


                                                                                         7
I Wayan Arka                   TLF: prinsip dasar dan tantangannya


itu) diadakan konferensi internasional untuk pengembangan TLF dan penerapannya dalam
berbagai analisis tipologis dan proyek komputasional. Sejak diadakannya konferensi
reguler tahunan, maka TLF telah menjadi salah satu model tata bahasa yang diminati dan
berkembang pesat. Ini terbukti dengan banyaknya proyek penelitian yang sedang
berlangsung dan semakin banyaknya buku acuan dalam TLF, tiga diataranya yang penting
adalah (Bresnan 2001; Dalrymple 2001; Falk 2001).5 Situs internet juga tersedia untuk
berbagai informasi yang terkait dengan TLF (http://www-lfg.stanford.edu/lfg/).


3.3     Beberapa prinsip dasar

3.3.1  Model TLF
       Model TLF secara garis besar dapat digambarkan seperti bagan (6) (dimodifikasi
dari Simpson (1991)).

    (6) Model TLF
                       Leksikon:
                       Entri leksikal                                Kaidah struktur frasa

                       Pembentukan kata


                             Kata                                    struktur linier/berhirarki

                                                 Peyelipan leksikal



                             Struktur fungsional                     Struktur konstituen



                             Interpretasi semantik                   Ekspresi fonetis



       Model ini memperlihatkan bahwa ada dua komponen penting TLF, yakni leksikon
dan kaidah struktur frasa. (Yang belakangan ini nanti menghasilkan struktur konstituen
yang disebut dengan struktur-k. Masing-masing akan diuraikan nanti pada 3.3.3dan
3.3.4) Keduanya beperan secara tandem, menghasilkan berbagai konstruksi bahasa (frasa

5
 Pada Konferensi internasional pertama diadakan di Xerox Rank, Grenoble 1996, penulis ikut
membawakan makalah (Arka and Wechsler 1996); selanjutnya penulis juga ikut presentasi pada konferensi
yang ke-3 di Brisbane Australia dengan dua makalah (Arka and Manning 1998; Arka and Simpson 1998).
Tesis doktor yang digarap penulis (Arka 1998) juga dalam model ini. Sejak tahun 90-an, ada beberapa
mahasiswa Indonesia belajar di Australia yang telah membuat tesis master dalam TLF seperti Sukarno
(1994) dan Udayana (1994). Selain itu, sejak kepulangan penulis ke Universitas Udayana tahun 1998 dan
dua tahun setelah itu penulis dengan proyek URGE dari Dikti telah pula melakukan riset dalam model ini
dan menghasilkan sepuluh tesis master yang membahas berbagai aspek kebahasaan di Indonesia timur
dalam model TLF (Japa 2000; Jauhary 2000; Kosmas 2000; Mekarini 2001; Oka Antara 2001; Partami
2001; Sawardi 2000; Sedeng 2000; Suciati 2001; Yudha 2001).



                                                                                                     8
I Wayan Arka               TLF: prinsip dasar dan tantangannya


dan kalimat). Secara ‘lahir’ lintas bahasa, konstruksi bahasa mempunyai tata urut kata
atau konstituensi yang sangat bervariasi dari satu bahasa ke bahasa lainnya, tetapi dalam
tataran yang lebih ‘dalam’, terdapat kesaamaan relasi gramatikal (hubungan argumen-
predikat, struktur fungsional) dan relasi semantik.
        Dalam perkembangannya, selain struktur fungsional dan struktur konstituen, ada
struktur lain yang diusulkan (dibahas sekilas di bawah). Yang penting untuk diingat
adalah konsepsi bahwa struktur-fungsional (struktur-f) dan struktur-konstituen (struktur-
k) (dan struktur lainnya) bersifat parallel. Artinya, satu sama lainnya walaupun berkaitan
tidak merupakan hubungan ‘derivasi’, masing-masing mempunyai karakteristik sendiri-
sendiri, yang satu tidak bisa didefinisikan dari yang lainnya, dan sifat hubungannya bukan
satu-satu.

3.3.2   Leksikon
        Leksikon merupakan tulang punggung TLF yang menyimpan segala macam
informasi (morfologis, gramatikal, semantis, dsb.) yang nantinya sangat penting untuk
berbagai operasi leksikal gramatikal yang menentukan ekspresi bahasa. Peran leksikon
sangat besar, tidak hanya menyimpan informasi yang tidak bisa diprediksi tetapi juga
menjadi tempat berbagai kaidah leksikal yang memungkikan terjadinya operasi leksikal
pembentukan kata (infleksi dan derivasi), termasuk bagaimana argumen dipetakan ke
fungsi gramatikal. Jadi, leksikon juga termasuk tempat berbagai proses yang beraturan
yang menentukan sintaksis.
        Entri leksikal memberi berbagai informasi yang terkait dengan kata dan afiks yang
keberadaan informasinya tidak bisa diprediksi. Informasi minimal termasuk diantaranya
bentuk (fonologis), informasi kategori—V(erba), P(reposisi), N(omina), dst., informasi
makna dan kepredikatan. Informasi kepredikatan (biasanya terkait dengan verba)
menyatakan informasi sintaktis-semantis predikat (disebut juga struktur argumen,
misalnya predikat dengan subkategorisaisinya serta peran semantiknya (satu, dua atau tiga
argument)). Contoh sederhana entri leksikal dalam TLF diperlihatkan untuk nomina
pohon (7)a (tidak mengandung struktur argumen), untuk verba taruh (7)b (dengan
struktur argumen), dan untuk determiner (D) itu, (7)c.

 (7) Contoh entri leksikal dalam bahasa Indonesia
      Bentuk:             Informasi semantis dan gramatikal:
   a. pohon /pohon/      N     (↑PRED) = ‘pohon’
   b. taruh /taruh/      V     (↑PRED) = ‘pukul’ <agen, pasien><lokatif>
   c. itu /itu/          D     (↑DEF) = +


Entri (7)a menyatakan bahwa ‘kata pohon mempunyai bentuk fonemis-fonetis /pohon/,
tergolong sebagai nomina (N), dan secara semantis mengacu pada entiti ‘pohon’. Entri
(7)b menyatkan bahwa kata taruh adalah verba (V) dengan bentuk fonemis-fonetis /taruh/
dan verba ini adalah predikat berargumen tiga, yang secara ekplisit diperlihatkan oleh
struktur argumennya (dinyatakan dalam kurung siku <…>). Terlihat bahwa verba ini
secara sintaktis transitif karena mengandung dua argumen inti (Agen dan Pasien),
direpresentasikan dalam kelompok terpisah dengan argumen non inti (lokatif). Dalam
TLF, kata yang mempunyai unit makna denotasi/referensial/leksikal direpresentasikan
membawa fitur PRED, seperti terlihat pada contoh (7)a-b. Unit ‘makna’ yang dibawa
oleh kata ditulis dalam tanda kutip ‘...’ setelah tanda ekuasi (=). (Perlu dicatat bahwa
PRED tidak selalu berarti ‘predikat berargumen’ karena nilai PRED bisa saja tanpa ada
struktur argumennya, misalnya (7)a.) Sementara sekelompok kata lain yang tidak


                                                                                         9
I Wayan Arka                TLF: prinsip dasar dan tantangannya


membawa makna leksikal, tidak membawa PRED; misalnya determiner itu (D) (7)c. Kata
ini membawa fitur kedefinitan (DEF) dengan nilai positif (+), artinya ‘definit’. Tanda
panah naik seperti pada (↑PRED) dan (↑DEF) disebut metavariabel. (Nanti akan kita
lihat juga ada tanda panah naik-turun ↑=↓). Tanda ini berfungsi untuk mengatur aliran
informasi pada struktur-k dan keterkaitannya dengan struktur-f. Ini akan dijelaskan secara
ringkas pada subseksi 3.3.4.
        Informasi lainnya yang bisa diprediksi (karena dihasilkan oleh mekanisme
pembentukan kata) tidak didaftar sebagai bagian dari entri leksikal; misalnya informasi
mengenai keterkaitan peran semantik dengan fungsi grammatikal seperti SUBJ dan OBJ.
Informasi ini pada versi TLF klasik (Bresnan 1982) masih merupakan bagian dari entri
leksikal, tetapi dalam perkembangannya karena realisasi argumen sebagai SUBJ atau OBJ
bisa diprediksi (lihat diskusi mengenai teori pemetaan leksikal, dibahas pada 4.4–4.5 di
bawah) maka informasi ini tidak lagi merupakan bagian dari entri leksikal.
        Demikian juga informasi mengenai unit-unit adverbial (misalnya, temporal atau
lokatif) yang memberikan informasi tambahan kepada verba tidak didaftar pada entri
leksikal verba bersangkutan. Tetapi perlu dicatat bahwa ada peran lokatif yang diminta
oleh leksikal tertentu dan karenanya harus diperlihatkan pada struktur argumen verba di
entri leksikalnya. Misalnya, peran lokatif pada kalimat (8)a tidak merupakan bagian dari
struktur argumen verba minum sehingga tidak diperlihatkan pada entri leksikalnya (9)a.
Namun peran lokatif pada verba taruh pada kalimat (8)a merupakan bagian struktur
argumen verba taruh seperti terlihat pada (9)b.

 (8) Peran lokatif dalam kalimat
      a. Mereka minum kopi di warung pojok
      b. Mereka menaruh gelas di meja

 (9) Entri leksikal minum dan taruh
      a. minum /minum/         V    (↑PRED) = ‘minum’ <Agen, Pasien>
      b. taruh /taruh/         V    (↑PRED) = ‘taruh’ <Agen, Pasien><Lokatif>

        Singkatnya, leksikon dalam TLF tidak hanya terdiri dari entri leksikal, tetapi juga
berbagai proses pembentukan kata yang menentukan sintaksis. Ini akan lebih jelas saat
kita melihat interaksi antara informasi yang dibawa oleh kata (saat terjadinya penyelipan
leksikal) dengan informasi lain dari kaidah pembentukan frasa.


3.3.3   Kaidah frasa dan Struktur konstituen (struktur-k)
        Kaidah frasa menentukan berbagai kemungkinan tataurut kata secara linier dan
hirarkhi yang membentuk struktur konstituen (struktur-k). Prinsip kaidah frasa menuruti
kaidah yang universal dalam teori X-bar. Misalnya, struktur dikonsepsikan endosentris;
artinya selalu ada porosnya (head). Ini bisa digambarkan pada (10). X melambangkan
kata untuk kategori manapun, dimengerti sebagai tingkat kosong (Xo). X adalah poros
struktur dan diproyeksikan (maksudnya bisa diperluas dengan unit-unit lain selain X)
menjadi unit yang lebih luas secara bertingkat (hierarchical). Secara baku, sekarang
disetujui ada dua tingkat; tingkat maksimal dilambangkan dengan FX (maksudnya frasa
X) dan tingkat antara dilambangkan dengan X’ (dibaca X-bar). Unit-unit perluasan yang
membentuk struktur bertingkat, diperlihatkan sebagai FY dan FZ pada (10). (Pada
diagram (10), perluasan FY diperlihatkan ke kiri dan perluasa FZ diperlihatkan ke kanan.
Perlu dicatat bahwa secara teoritis perluasan untuk FY dan FZ keduanya bisa ke kiri atau



                                                                                         10
I Wayan Arka                  TLF: prinsip dasar dan tantangannya


ke kanan. Terdapat perbedaan dari satu bahasa ke bahasa lainnya mengenai kendala yang
khusus apakah perluasan hanya bisa ke kiri saja atau bisa ke kiri dan kenan.)

 (10)        Proyeksi X-bar
                                    FX

                           (FY)     X’

                                    X          (FZ)

        X sebagai simbol unit kategori gramatikal (KG) dapat dikelompokkan menjadi
dua: i) kategori leksikal: N(omina), V(erba), A(jektiva), P(reposisi/posposisi),
ADV(erbia); dan ii) kategori gramatikal: D(eterminer), C(omplementiser), I(nflection).
Dengan berdasarkan prinsip X-bar, maka kita bisa mendapatkan proyeksi dengan kategori
yang berbeda-beda, misalnya dengan N kita mendapatkan N’ dan FN, dengan D kita
mendapatkan D’ dan FD, dst.
        Perlu diingat bahwa dalam konsepsi X-bar, setiap struktur selalu bersifat
endosentris. Tetapi, TLF tidak menganut X-bar secara kaku. Artinya, TLF percaya
bahwa struktur bahasa sangat beragam dan tidak selalu endosentris dan kofigurasional
(atau bertingkat-tingkat). Jadi, TLF menekankan bukti empiris lebih utama: kalau ada
bukti bahwa strukturnya tidak bertingkat atau tidak konfigurasional, seperti bahasa-bahasa
aborigin Australia (Austin and Bresnan 1996) dan Tagalog (Kroeger 1993), maka klausa
bisa saja direpresentasikan sebagai struktur yang rata (flat) dengan simbol K(lausa) (atau
S). Kontras stuktur klausa sebagai stuktur endosentris/konfigurasional dan struktur rata
diperlihatkan pada (11). Berbeda dengan struktur konfigurasional (11)a, pada struktur
rata (11)b, klausa (K) bisa terdiri dari verba (V), dan sejumlah unit lain *YP (tanda
bintang menyatakan jumlahnya lebih dari satu dengan tata urut yang bebas) dan tidak ada
bukti proyeksi bertingkat. (Harus diingat pula bahwa struktur rata (11)b juga sedikit
konfigurasional jika struktur diatas K diperhitungkan karena struktur FI memperlihatkan
hirarki stuktural I’ juga.)

 (11)        Klausa sebagai struktur konfigurasional (a) dan struktur rata (flat) (b).

        a.            FI                              b.            FI

                      I’                                            I’

                      I             FV                              I       K

                              ...   V’                                      X    *YP

                                 V      ...
           .
       Ciri yang unik dari representasi struktur-k dalam TLF adalah notasi tanda panah
naik-turun (metavariabel) yang muncul pada simpul diagram pohon seperti terlihat pada
contoh (12). Tanda panah ini bisa sederhana seperti ↑=↓, atau bisa juga dilengkapi
dengan fungsi grammatikal, misalnya (↑SUBJ)=↓.




                                                                                         11
I Wayan Arka               TLF: prinsip dasar dan tantangannya


 (12)      Contoh str-k beranotasi pada bahasa Indonesia

                          FI

        (↑SUBJ)=↓         ↑=↓
           FD              I’

                          ↑=↓               ↑=↓
           ↑=↓             I                 FV
            D’
                                            ↑=↓
           ↑=↓                               V’
            D
                                            ↑=↓
                                             V

           saya           akan              datang
        (↑PRED)=’pro’     (↑KL)=FUT         (↑PRED)= ‘datang’<SUBJ>
        (↑NUM) = T

        Simbol panah ini menyatakan dua hal penting: i) aliran informasi pada struktur-k
dan ii) korespondensi atau pementaan struktur-k dengan struktur-f. Efek aliran informasi
oleh simbol itu dua arah. Misalnya, tanda ↑=↓ pada simpul FV pada bagan (12) berarti
‘informasi yang ada pada simpul FV ini sama dengan informasi yand ada pada simpul
atasannya’. Atau sebaliknya, dapat juga berarti ‘informasi dari simpul atasan FV adalah
sama dengan informasi yang dibawa oleh simpul FV itu sendiri’. Jadi, ini adalah notasi
ekplisit yang menyatakan bahwa informasi yang dibawa oleh verba yang diproyeksikan
ke FV diteruskan ke atas melewati batas proyeksi maksimal kategori, yakni melewati
batas frasa. Demikian juga, tanda (↑SUBJ)=↓ pada simpul FD artinya, ‘informasi yang
dibawa oleh simpul FD ini adalah informasi mengenai SUBJ dari simpul atasannya’.
Atau, ‘simpul atasan FD (yakni FI, kalimat/klausa) mempunyai SUBJ dan informasinya
SUBJ ini adalah informasi yang dibawa oleh FD’. Selanjutnya informasi FD ini
datangnya dari simpul bawahannya, yakni D’ dan D. Secara matematis, efek aliran
informasi ini bisa dibuktikan lewat penghitungan deskripsi persamaan metavariabel, yang
akan diuraikan pada korespondensi struktur-k dengan struktur-f pada subseksi 3.3.4 di
bawah ini.


3.3.4   Deskripsi dan Struktur fungsional
        Struktur fungsional adalah struktur yang menyatakan representasi semantis-
gramatikal yang dimodelkan dengan matriks fungsi yang pada dasarnya mengandung
pasangan atribut-nilai seperti terlihat pada (13)a. Atribut bisa berupa fungsi gramatikal,
misalnya SUBJ seperti pada (13)b, atribut semantik PRED seperti (13)c, atau fitur
tertentu seperti DEF (definit) seperti (13)d. Nilai sebuah atribut bisa merupakan bentuk
semantik seperti (13)b, dengan kemungkinan mengandung subkategorisasi seperti (13)c,
atau hanya simbol seperti + pada (13)d. Pada kenyataannya nilai sebuah atribut bisa juga
sebuah struktur-f lain yang didalamnya terdapat lagi struktur-f secara berlapis; misalnya
frasa orang yang datang kemarin itu mempunyai struktur-f seperti yang diperlihatkan pad
(13)e. Terlihat di sini, nilai dari atribut ADJ (adjung) adalah struktur-f yang berlapis.



                                                                                        12
I Wayan Arka                    TLF: prinsip dasar dan tantangannya


(Tanda garis melengkung yang menghubungkan SUBJ pada ADJ dengan nilai ‘orang’
menyatakan hubungan ‘kontrol’: kedua atribut itu nilainya sama.)

    (13)        Atribut dan nilai dalam struktur-f
           a.            [Atribut          nilai]
           b.            [SUBJ             [PRED     ‘Amir’]]
           c.            [PRED             ‘lihat’<SUBJ, OBJ>]
           d.            [DEF              +]

           e.            PRED              ‘orang’

                         ADJ               SUBJ        __

                                           PRED        ‘datang<SUBJ>

                                           ADJ         [PRED          ‘kemarin’]

                         DEF               +

        Ada beberapa prinsip/kendala yang harus diperhatikan agar str-f bisa berterima
(well-formed). Diataranya, yang penting adalah prinsip konsistensi, kentuntasan dan
koherensi. Kosistensi maksudnya, tidak boleh ada nilai yang konflik dalam struktur-f;
misalnya ada [TENSE = PRESENT] dan TENSE = PAST dalam satu struktur-f).
Ketuntasan maksudnya, semua fungsi gramatikal yang disubkategorisasi oleh predikat
mesti diisi. Jadi sebuah struktur-f dengan predikat transitif tidak tuntas kalau hanya
atribut fungsi SUBJ saja yang terisi. Sebaliknya, koherensi meminta struktur-f tidak
boleh berisi fungsi melebihi dari yang ada di subkategorisasinya. Jadi sebuah struktur-f
dengan verba intransitif akan menjadi tidak koheren kalau dalam struktur-f-nya juga
terdapat OBJ.
        Seperti telah disebut terdahulu, struktur-f ini berkorespondensi dengan struktur-k.
Korespondensi itu didapatkan melalui deskripsi fungsional berdasarkan metavariabel
(↑=↓) pada simpul-simpul struktur-k. Sebagai ilustrasi bagaimana efek korespondensi ini
didapatkan, mari kita ambil contoh struktur-k beranotasi yang diperlihatkan pada (12).
Yang kita lakukan pertama-tama adalah mengubah setiap metavariabel tersebut menjadi
eksuasi yang unik (karena setiap simpul pada struktur-k merupakan simpul yang unik).
Untuk ini, setiap simpul bisa kita nomori6, misalnya dari atas ke bawah, ditulis dalam
boks. Selanjutnya, tanda panah kita ganti dengan f (untuk menyatakan unit struktur-f yang
terkait). Tanda panah ke atas diganti dengan f dengan nomor simpul atasannya, sementara
tanda panah turun diganti dengan f dengan nomor simpul itu sendiri. Jadi, (↑SUBJ)=↓
diganti dengan (f1SUBJ)=f2. Penomoran dan penggantian metavariabel ini secara
keseluruhan akan memberikan kita diagram pohon seperti yang terlihat pada (14)a.
        Selanjutnya, kita membuat daftar persamaan semua ekuasi tersebut untuk
mendapatkan deskripsi fungsional seperti terlihat pada (15). Deskripsi fungsional ini
secara jelas menunjukkan bahwa sejumlah simpul sesungguhnya menyatakan informasi
struktur-f yang sama; misalnya: f1=f3=f5=f6=f7. Jika semua bagian struktur-f disatukan
maka terbentuklah struktur-f seperti yang terlihat pada (14)b. Agar jelas, maka
korespondensi struktur-k dengan struktur-f dinyatakan juga dengan tanda panah.

6
 Altenatif lain untuk menunjukkan keunikan simpul ini adalah dengan menggunakan notasi huruf; misalnya
mulai dengan f, kita tandai simpulnya dari atas ke bawah dengan f,g,h, i, dst. Dengan demikian tanda
(↑SUBJ)=↓; misalnya, akan menjadi (f SUBJ)=g.

                                                                                                   13
I Wayan Arka                   TLF: prinsip dasar dan tantangannya




 (14)      Contoh korespondensi struktur-k ↔ struktur-f (bahasa Indonesia)

               a. struktur-k                                                b. struktur-f


                           FI      1

   2 (f1SUBJ)=f2           f1=f3 3                          f1       SUBJ f2 PRED ‘pro’
       FD                   I’                              f3               NUM T
                                                            f4
                           f3=f4 4        f3=f5 5           f5       PRED       ‘datang’<SUBJ>
                            I               FV              f6
                                                            f7       KL         FUT
                                          f5=f6    6
                                            V’

                                          f6=f7     7
                                          V

        saya           akan       datang
        (f2PRED)=’pro’ (f4KL)=FUT (f7PRED)= ‘datang’<SUBJ>
        f2NUM) = T

 (15)      Deskripsi dan kalkulasi persamaan berdasarkan struktur-k (14)a
   a. f1SUBJ = f2        d. f1=f3         g. f3=f5 j. f7 PRED = ‘datang’ <SUBJ>
   b. f2 PRED = ‘pro’ e. f3=f4            h. f5=f6
   c. f2 NUM = T         f. f4 KL = FUT i. f6=f7


3.3.5    Sistem dengan truktur parallel
         Dalam TLF, tatabahasa dikonsepsikan sebagai suatu sistem yang terdiri dari
struktur yang parallel. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, pada TLF klasik, ada dua
struktur penting, yakni struktur konstituen (struktur-k/str-k) dan struktur fungsional
(struktur-f/str-f).
         Ide yang melatabelakangi pemisahan kedua struktur ini adalah untuk menangkap
sifat tipologis bahasa. Di satu sisi, tidak dapat disangkal bahwa ekpresi lahir (misalnya,
tata urut dan kompleksitas morfologis) bahasa-bahasa di dunia sangat beragam. Namun
di pihak lain, penelitian kebahasaan juga menunjukkan bahwa bahasa-bahasa di dunia
mempunyai banyak kesamaan sehingga suatu generalisasi dan kesemestaan/keuniversalan
bahasa bisa diformulasikan. TLF menangkap keberagaman dalam kesemestaan ini
melalui struktur-k dan struktur-f. Struktur-k mengatur ekspresi tata urut kata, yang lebih
nyata dan bisa sangat bervariasi dari satu bahasa ke bahasa lainnya. Sementara struktur-f
mengatur relasi gramatikal (dan semantis) yang dianggap lebih konsisten dan berisi
properti yang bersifat (kurang lebih) ajeg secara lintas bahasa. Jadi, dalam banyak
bahasa kita bisa berbicara relasi-relasi seperti ‘subjek dari’, ‘objek dari’, ‘predikat dari’
dsb. walaupun kenyataannya relasi ini dinyatakan oleh ekspresi bahasa yang beraneka
ragam (misalnya beda urutkata, beda pemarkahan, dsb.). Karenanya. relasi seperti
predikat, subjek dan objek, yang merupakan bagian dari struktur-f merupakan relasi yang
dianggap universal dalam TLF.


                                                                                             14
I Wayan Arka                  TLF: prinsip dasar dan tantangannya


         Dalam perkembangannya, riset-riset dari berbagai bahasa dengan aneka tipologi
mengarah perlunya proliferasi konsepsi struktur dalam TLF. Struktur-f mesti dipisahkan
dari struktur semantis (struktur-s), dan untuk menagkap kesaaman bahasa ergatif/akusatif,
struktur argument (struktur-a) mesti dikonsepsikan sebagai struktur antara struktur-s
dengan struktur-f. (Pentingnya ide struktur-a untuk analisis bahasa Nusantara dibahas
dalam (Arka 1998), dan hanya akan disinggung sepintas pada 4.5.)
         Yang perlu dicatat dari sistem dengan struktur paralel ini adalah konsepsi bahwa
masing-masing struktur mempunyai sifat dan kendala-kendalanya sendiri-sendiri.
Misalnya, tata urut linear bahasa adalah sifat struktur-k; bukan struktur-f. Butir-butir
informasi pada struktur yang satu dengan struktur yang lainnya saling terkait. Keterkaitan
ini tidak bersifat kaku dan tidak ada hubungan yang satu-satu. Dalam kaitan inilah
pentingnya ide bahwa SUBJ sebagai relasi gramatikal bersifat ‘primitif’. Artinya, secara
teoritis SUBJ tidak bisa didefinisikan (dengan properti dari struktur lain). TLF tidak
mengasumsikan bahwa SUBJ mempunyai posisi yang unik secara lintas bahasa. Bisa saja
SUBJ muncul di awal kalimat pada satu bahasa, bisa juga di tengah atau di akhir kalimat
di bahasa lain. TLF tidak menyangkal bahwa relasi gramatikal kemungkinan mempunyai
sifat-sifat tertentu yang umum ditemukan secara lintas bahasa, tetapi sifat-sifat itu
(misalnya relatifisasi, kontrol dsb.) dianggap kecenderungan tipikal, bukan properti
absolut untuk mendifinsikan SUBJ secara lintas bahasa.


4     Beberapa Tantangan penerapan TLF pada bahasa-bahasa Nusantara

4.1    Masalah proses leksikal: Peran dan konsepsinya
        TLF, seperti namanya, adalah tatabahasa yang memberi peran yang sangat penting
pada leksikon. Pada tatabahasa lain (seperti tatabahasa transformasi) proses seperti
pasifisasi merupakan operasi sintaksis, tetapi pada TLF pasifisasi adalah operasi leksikal.
        Ide utamanya adalah sintaksis diproyeksikan dari leksikon. Poros utamanya
predikat. Jadi, predikat atau verba muncul dari leksikon lengkap dengan ‘pemetaan
argumen ke fungsi gramatikal’ dan mengisi ‘ujung-ujung’ simpul (terminal nodes) pada
struktur-k. Dalam konsepsi TLF (bandingkan dengan konsepsi Transformasi), afiks tidak
bisa mengisi ujung simpul struktur-k. Sebagai contoh, verba dipukul dan memukul
muncul dari leksikon dengan pemetaan yang lengkap seperti pada (16)b dan (16)c.
(Pemetaan digambarkan dengan garis yang menghubungkan argumen.) Perbedaan
pemetaan argumen dikarenakan afiksasi yang berbeda, afikasi meN- dan di-, yang
diterapkan atas dasar verba pukul yang bisa direpresentasikan sebagai (16)a. Singkatnya,
pemetaan sudah selesai di leksikon, sehingga sebuah verba muncul lengkap dengan
kategori fungsi gramatikalnya, misalnya memukul muncul sebagai ‘(aktif).pukul’ <SUBJ,
OBJ> (dengan SUBJ=Agen, dan OBJ = pasien). Selanjutnya, SUBJ menduduki posisi
struktural SUBJ (pada struktur-k) seperti terlihat pada (17)b, yang dihasilkan oleh kaidah
frasa (17)a. (Terlihat di sini keunikan TLF, yang memperlihatkan kaidah frasa dan
diagram pohon lengkap dengan anotasi fungsi gramatikal.)

    (16)      Contoh entri leksikal dan pemetaan fungsi gramatikal sederhana
           a. pukul          <Agen, Pasien>

           b. memukul       <Agen, Pasien>
                              |     |
                            SUBJ OBJ



                                                                                        15
I Wayan Arka                TLF: prinsip dasar dan tantangannya


        c. dipukul         <Agen, Pasien>
                             |     |
                           OBL SUBJ

 (17)        Contoh kaidah struktur frasa TLF dengan notasi metavariabel fungsi

   a. FI (S)         FN       I’             b.          FI
                   (↑SUBJ)=↓ ↑=↓
                                              (↑SUBJ)=↓                 ↑=↓
        I’           I          FV               FN                      I’
                    ↑=↓         ↑=↓
                                                                  ↑=↓          ↑=↓
        FV            FN        V’                                I             FV
                                ↑=↓
                                                                        FN           ↑=↓
        V’           V          FN                                                   V’
                     ↑=↓      (↑OBJ)=↓
                                                                              ↑=↓ (↑OBJ)=↓
                                                                              V       FN

        Dalam konsepsi TLF, tidak ada perpindahan. Efek ‘pindah’ terlihat sebagai
konsekuensi logis karena perbedaan pemetaan. Dalam verba aktif Pasien dipetakan ke
OBJ, seperti terlihat pada pemetaan (16)b. Karena fungsi OBJ datang setelah verba
(kendala struktur bahasa Indonesia) maka muncullah OBJ disana. Sebaliknya, dalam
verba pasif, Pasien dipetakan ke SUBJ dan karena fungsi SUBJ datang pada posisi SUBJ
maka muncullah pasien-SUBJ di posisi tersebut. Singkatnya, dalam TLF, argumen
Pasien ‘langsung’ muncul di posisi SUBJ (di depan verba) pada verba pasif; tidak
muncul terlebih dahulu di posisi OBJ lalu pindah ke posisi SUBJ. Ingat dalam konsepsi
transformasi, karena konstruksi aktif biasa dianggap ‘dasar’ dan pasif dianggap ‘derivasi’
dari aktif secara struktural, maka pasifisasi terlihat membawa efek perpindahan Pasien
dari OBJ (posisi setelah verba) ke SUBJ (posisi sebelum verba). Dalam konsepsi TLF,
tidak ada tuntutan bahwa Pasien yang menjadi SUBJ verba pasif harus dipetakan terlebih
dahulu ke OBJ.


4.1.1   Tantangan dari bahasa-bahasa isolasi: studi kasus bahasa Manggarai (Flores)
        Konsepsi dalam TLF bahwa pemetaan terjadi di leksikal sangat baik untuk bahasa-
bahasa yang menunjukkan proses morfoleksikal seperti bahasa Indonesia. Dalam bahasa
seperti ini terlihat jelas bahwa verba dengan pemarkah morfologis tertentu muncul dari
leksikon membawa kendala pemetaan tertentu. Dengan demikian, ide bahwa sintaksis
diproyeksikan dari leksikon terlihat jelas buktinya. Namun, konsepsi yang demikian
tampaknya mendapat tantangan dari kelompok bahasa isolasi seperti bahasa-bahasa di
Flores. Pada bahasa tipe ini, verba tidak mempunyai morfologi. Dengan kata lain, secara
morfologis tidak ada pembeda antara verba aktif dengan pasif. Tetapi, pada tataran klausa
(secara analitis), terbukti ada perbedaan diatesis. Ini terlihat jelas pada contoh (18) dari
bahasa Manggarai (Arka and Kosmas 2002). Kalimat (18)a menyatakan struktur aktif
dengan Pasien latung sebagai OBJ datang setelah verba dan terdapat enklitik =k yang
bersesuaian dengan SUBJ aku. Kalimat (18)b menyatakan struktur pasif, dengan
Pasiennya muncul sebagai SUBJ dan mendapatkan persesuaian enklitik =i. Bukti bahwa



                                                                                             16
I Wayan Arka                TLF: prinsip dasar dan tantangannya


pada kalimat semacam (18) telah terjadi alternasi aktif-pasif diberikan secara rinci oleh
Arka dan Kosmas (2002) (dan tidak diuraikan lebih lanjut di sini).

 (18)      Aktif-pasif dalam bahasa Manggarai
        a. Aku      cero       latung=k
           1T       goreng     jagung-1T
           ‘I menggoreng jagung’

        b. Latung hitu cero          l=aku=i
           jagung itu goreng         oleh=1T=3T
           ‘Jagung itu digoreng oleh saya’

         Yang menjadi masalah bagi TLF dari contoh di atas adalah kenyataan bahwa
verba pada kedua kalimat tersebut secara morfologis sama. Secara kasar, verba cero (dan
semua verba transitif pada bahasa Manggarai) bisa mendapat pemetaan alternatif seperti
terlihat pada (19). Untuk membedakannya, kedua verba ini dinomori dengan subskript 1
dan 2.

 (19)      Pemetaan verba transitif verba b. Manggarai
        a. cero1   ‘goreng’<Agen, Pasien>
                              |       |
                             SUBJ OBJ

        b. cero2     ‘goreng’<Agen, Pasien>
                               |     |
                              OBL SUBJ

        Pertanyaannya sekarang bagaimana menganalisisnya? Ini terkait dengan
pertanyaan lain, mana yang lebih dasar? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab dari sudut
morfologis, karena keduanya bentuknya sama. Kemungkinan analisisnya bisa dipaparkan
sebagai berikut.
        Analisis pertama. Analisis ini tetap mempertahankan ide TLF bahwa pemetaan
terjadi secara leksikal. Secara intuitif, mungkin cero2 (pasif) dianggap diderivasi dari
cero1. Ini misalnya diambil berdasarkan bukti bahwa klausa dengan verba cero2
(konstruksi pasif) secara pragmatis bermarkah (marked). Dalam analisis ini, hanya cero1
yang didaftar di entri leksikon, cero2 tidak. cero2 lahir dari proses ‘(morfo)leksikal’. Jadi,
dalam pemetaan kanonis, berdasarkan cero1, maka Agen dipetakan ke SUBJ dan Pasien ke
OBJ. Ini tentu tidak bermasalah sepanjang pemetaan kanonis yang diberlakukan (karena
diberbagai bahasa lain, hal yang sama juga terjadi).
        Analisis ini bermasalah karena berlawanan dengan konsepsi operasi baku TLF,
yakni untuk mendapatkan cero2, harus dilakukan operasi morfoleksikal dengan pemarkah
terntentu. Namun lagi-lagi tidak ada bukti bahwa proses yang demikian telah terjadi. Ini
mungkin bisa deselamatkan dengan dua cara. Yang pertama, kita mengatakan bahwa
telah ada operasi dengan pemarkah/afikasi kosong (zero). Tetapi ini menjadi aneh, karena
di bahasa ini tidak ada afiksasi lain. Yang kedua, kita bisa menggunakan operasi leksikal
yang berupa ‘kaidah leksikal’ (lexical rules) yang mengkonversi cero1 menjadi cero2.
Pemecahan yang kedua ini tampaknya kurang menarik karena operasi ini bersifat ad hoc,
sama halnya operasi transformasional awal 70-an yang terlalu tak berkendala (powerful)
dan tidak dilandasi oleh motivasi linguistis yang jelas.
        Analisis kedua adalah mengadopsi konsepsi TLF klasik dengan mendaftar kedua
verba tadi di entri leksikalnya sebagai verba dengan dua subkategori. Ini mirip dengan

                                                                                            17
I Wayan Arka               TLF: prinsip dasar dan tantangannya


penanganan verba give bahasa Inggris yang mempunyai dua subkategorisasi: (i)
<SUBJ(Agen), OBJ(Theme),OBL(Goal)> dan (ii) <SUBJ(Agen), OBJ (Goal),
OBJ(Theme)>. Menurut analisis ini (yang meniru penanganan dalam bahasa Inggris),
bahasa Manggarai mempunyai satu entri leksikal cero dengan dua subkategorisasi: (i)
<SUBJ(Agen), OBJ(Pasien)> dan (ii) <SUBJ(Pasien), OBL(Agen)>. (Sesungguhnya
analisis ini pada hakikatnya sama dengan mengatakan bahwa ada dua verba cero.)
Analisis dengan pendaftaran di entri leksikal in mungkin sangat baik untuk bahasa Inggris
karena pada bahasa Inggris keberadaan verba dengan bentuk morfologis yang sama
seperti give ini sangat sedikit. Tetapi untuk kasus bahasa Manggarai, analisis ini kurang
menarik dan sulit dipertahankan karena keberadaan verba yang demikian sangat
sistematis. Jumlahnya sangat banyak karena pada prinsipnya setiap verba transitif bersifat
demikian.
        Analisis ketiga. Analisis ini agak radikal, karena mengubah konsepsi standar TLF,
yakni mengadopsi konsepsi bahwa pemetaan tidak harus bersifat leksikal. Maksudnya,
sebuah verba diijinkan untuk muncul di sintaksis underspecified, tanpa spesifikasi yang
menunjukkan pemetaan argumennya ke fungsi gramatikal. Degan kata lain, pemetaannya
terjadi di ‘sintaksis’, berdasarkan informasi yang datang diantaranya dari pragmatis.
Dengan demikian, dalam konsepsi ini, setiap verba mempunyai satu entri; misalnya verba
cero ‘goreng’ mempunyai entri seperti terlihat pada (20).

 (20)      Cero ‘goreng’<Agen, Pasien>

Verba ini muncul dan mengisi simpul akhir di sintaksis tanpa pemetaan ke fungsi
gramatikal. Selanjutnya, informasi dari tataran pragmatik dan sintaksis yang menentukan
pemetaannya. Misalnya, jika dalam suatu penggunaannya, nomina Pasiennya tidak
definit dan Agennya definit maka struktur aktif yang muncul, yakni struktur kalimat
(18)a. Agen menempati posisi Subjek (datang sebelung verba) dan Pasien posisi Objek
(datang setelah verba). Sebaliknya, apabila Pasiennya definit dan karena alasan tertentu
Agennya ditempatkan dalam latar belakang (backgrounded) dengan pemarkah le, maka
struktur kalimat pasif (18)b yang muncul. Singkat kata, pemetaan peran semantik dengan
fungsi gramatikal pada bahasa-bahasa tipe analitik (seperti bahasa Manggarai),
dipaksakan (enforced) ke verba secara top-down oleh sintaksis; misalnya pemetaan Agen
ke OBL pada (18)b ditentukan oleh frasa preposisi l=aku yang muncul pada klausa.
Sementara itu, pada bahasa-bahasa dengan diatesis mofologis seperti bahasa Indonesia,
kendala pemetaan bisa dua arah (bottom-up dan top-down).


4.2    Masalah keuniversalan relasi gramatikal
        TLF menganut paham bahwa relasi gramatikal seperti SUBJ dan OBJ yang
merupakan bagian dari struktur-f bersifat ‘universal’. Salah satu dari interpretasi
keuniversalan ini adalah bahwa relasi ini ditemukan di setiap bahasa. Untuk bahasa-
bahasa yang bertipe b.Ind, hal ini mungkin tidak terlalu menjadi masalah, karena setidak-
tidaknya ada bukti —misalnya dari tes sintaktis seperti relativisasi dan kontrol sintaksis—
bahwa bahasa-bahasa ini memperlihatkan relasi gramatikal SUBJ (sering juga disebut
PIVOT). Tetapi, konsepsi keuniversalan ini bermasalah jika kita melihat bahasa-bahasa
Indonesia Timur, baik dari kelompok Austronesia maupun kelompok Papua.
        Seperti telah diuraikan pada 2.1 dan 2.2, bahasa-bahasa Indonesia Timur ini pada
umumnya mempunyai afiks pronominal yang menunjukkan persesuaian dan tidak
menunjukkan diatesis. Tidak ada bukti yang jelas bahwa bahasa-bahasa ini mempunyai
relasi gramatikal seperti SUBJ and OBJ seperti halnya bahasa-bahasa Austronesia di


                                                                                        18
I Wayan Arka               TLF: prinsip dasar dan tantangannya


Indonesia barat. Sebagai contoh, Bowden (2001)menunjukkan bahwa ‘relasi gramatikal’
bahasa Taba terkait dengan peran semantis Aktor (A) dan Pasien (P/O). Tidak seperti
kelompok Austronesia tipe b.Ind/b.Tag, Taba mengijinkan argumen Aktor dan Pasien
untuk direlatifkan tanpa ada perubahan bentuk verba/diatesis. Pada contoh (21) klausa
relatif dicetak miring. Kalimat (21)a menunjukkan relatifisasi argumen Aktor verba
intransitif dan kalimat (21)b relatifisasi argumen Pasien untuk verba transitif. Dalam
kedua kasus relatifisasi ini, verbanya masih tetap mempertahankan prefiks pronominanya.
Demikian juga contoh dari bahasa Mauta (dari Alor, termasuk kelompok Papua, (Oka
Antara 2001)) yang diperlihatkan pada contoh (22). Kalimat (22)a adalah kalimat kanonis
dengan struktur SOV, dan kalimat (22)b adalah kalimat dengan pengedepanan pasien.
Terlihat disini, permutasi argumen Pasien ke posisi awal kalimat tidak mengubah relasi
gramatikal karena bentuk persesuaian pada verba tetap sama.

 (21)     Contoh relativisasi bahasa Taba
   a. Lcayang      mamatuosi        ltagil   lahates                 do
      l=syang     mamatuo=si        l=tagil  l=ahates                do
      3J-sayang orangtua=J          3J=jalan 3J=tak.bisa             REAL
      ‘Mereka sayang orangtua yang tidak bisa jalan lagi’

      b. Lahon           yan mon ya          lwagik        lai     mo  ya
         l=ha-hon                            l=wag-ik
         3J=KAUS-makan ikan orang REC 3J=jual-APL barusan datang REC
         ‘Mereka makan ikan yang barusan orang itu jual kepada mereka’

 (22)    Contoh dari bahasa Mauta
   a. Na-ng      Lamoeryi gaki -kang                             (SOV)
      1T-Inti    NAMA 3T-pukul
      ‘Saya memukul Lamoery ’

      b. Lamoeryi na-ng      gaki-kang                           (OSV)
         NAMA       1T-Inti  3T-pukul
         ‘Lamoery saya memukulnya ’

        Secara sepintas, bukti empiris ini melemahkan klaim keuniversalan TLF. Orang
bisa berargumen, untuk mendeskripsikan bahasa tipe ini, cukup dengan mengacu pada
peran semantis seperti Agen dan Pasien. Dalam pandangan ini, tidak ada relasi
gramatikal pada bahasa tipe ini. Klaim ini mungkin ada benarnya, tetapi tidak seluruhnya
benar, setidak-tidaknya kalau pengertian universal yang dianut tidak seekstrem tadi.
(Saya akan kembali ke masalah ini pada 4.5 di bawah.)


4.3    Masalah Objek-Agen
        Secara tradisional fungsi OBJ terkait dengan non-aktor. Agen pada banyak bahasa
tidak dipetakan ke OBJ. Pada teori pemetaan dalam TLF, disebut teori pemetaan leksikal
atau LMT (Lexical Mapping Theory, (Bresnan and Kanerva 1989; Bresnan and Moshi
1990) hal ini dijadikan salah satu properti intrinsik yang bisa digambarkan sebagai (23).
Properti [+/-o] maksudnya properti ‘keobjekan’; [+o] berarti secara intrinsik menjadi
objek atau pelengkap verba, sementara [-o] tidak demikian. (Properti lain untuk
klasifikasi fungsi adalah [+/-r] (r= restricted, argumen yang secara tematis terbatas), akan



                                                                                         19
I Wayan Arka                   TLF: prinsip dasar dan tantangannya


dibahas pada 4.4 di bawah). Agen diklasifikasikan sebagai [-o] berarti Agen hanya boleh
dipetakan ke fungsi yang [-o], yakni SUBJ atau OBL.

    (23)    Klasifikasi intrinsik Agen
            Agen
              |
            [-o]

        Kalau bahasa-bahasa tipe b.Ind dan b.Tag diperiksa dengan seksama, maka
klasifikasi di atas mendapat tantangan serius. Misalnya, sudah diketahui sekarang bahwa
kalimat berdiatesis Objektif seperti contoh (1)b bahasa Bali, diulang sebagai contoh (24)b
di bawah, mempunyai Agen (cang ‘saya’) yang masih tergolong argumen inti, secara
gramatikal bukan SUBJ dan bukan OBL, diperlihatkan disini sebagai [non-PIVOT].
Secara teknis, Agennya bisa disebut sebagai OBJ (dalam definisi yang akan dibahas
dibawah). Bahwa Agen bisa OBJ sudah diusulkan oleh Kroeger (1993) untuk bahasa
Tagalog.

    (24)     Bahasa Bali
      a. Cang        lakar meli      kedis-e                  nto          [PIV] [non-PIV]
         1T          FUT DA-beli burung-DEF                   itu          <INTI, INTI>
         ‘Saya akan membeli burung itu’                                     Agen Pasien

     b. Kedis-e      nto lakar ∅-beli            cang                      [PIV] [non-PIV]
        burung-DEF itu FUT DO-buy                1T
        ‘Burung itu akan saya beli’                                         < INTI, INTI>
                                                                            Agen Pasien

        Kalau kita menerima pendapat seperti Kroeger—yang saya kira benar—maka teori
dengan kendala seperti (23) bersifat terlalu restriktif, dan perlu direvisi. Ini yang
dilakukan oleh Manning (1996) dan Arka (1998).
        Setidak-tidaknya ada dua cara revisi, yang keduanya pada prinsipnya akhirnya
mengijinkan adanya pemetaan Agen-OBJ.7 Yang pertama adalah meninggalkan kendala
yang melarang pemetaan agen ke OBJ seperti (23) di atas. Untuk menginjinkan prinsip
pemetaan Agen ke OBJ, Arka (1998) (mengikuti Manning (1996)) menggunakan struktur
argument (struktur-a) sintaktis (syntacticised argument-structure) yang menjembatani
antara peran semantis (Aktor dan Pasien) dan fungsi gramatikal (PIVOT dan non-
PIVOT). Representasi pemetaan dengan struktur-a secara kasar terlihat disebelah kanan
kalimat pada contoh (24); dan akan dibahas lagi pada 4.5.
        Jalan keluar yang kedua adalah tetap mempertahankan kendala (23) di atas, tetapi
dikonsepsikan dalam mekanisme TO (Teori Optimalitas, Optimality Theory). Dalam
konsepsi TO, kendala-kendala bersifat i) universal, ii) bisa dilanggar tetapi tidak membuat
struktur tidak berterima (ini yang membuatnya berbeda dengan teori lain), dan iii) bahasa-
bahasa di dunia berbeda dalam hal pemeringkatan (ranking) kendala-kendala (lihat Aissen
(2001) dan Sell (2001)). Dalam konsepsi TO, perbedaan antara tipe b.Ind/b.Tag yang
memperlihatkan OBJ-agen dengan b. Inggris yang tidak memperlihatkan fenomena ini
bisa dijelaskan sebagai berikut. Pertama, kendala (23) bisa dihipotesiskan sebagai
kendala negatif seperti (25)a, diantara beberapa kendalan lain (25)b-d. Jadi, *a=OBJ

7
  Memang, banyak orang belum siap menerima analisis bahwa Agen bisa OBJ; ini membingungkan secara
luas. Dalam analisis saya untuk bahasa Bali (Arka 1998), saya memakai istilah Komplemen Inti (term/core
complement) agar tidak terlalu membingungkan.

                                                                                                     20
I Wayan Arka                  TLF: prinsip dasar dan tantangannya


artinya ‘a(gen) tidak boleh dipetakan ke OBJ’. Secara universal, kendala ini ada pada
setiap bahasa; akan tetapi efeknya tidak selalu sama karena setiap bahasa memberi
peringkat dengan signifikansi yang berbeda-beda. Akan kita lihat nanti, ide
pemeringkatan ini sangat penting karena pelanggaran terhadap kendala negatif yang
peringkatnya sangat rendah tidak mendapat penalti yang keras. Oleh karena itu
pelanggaran ini tidak sampai membuat suatu struktur tidak berterima. Semakin tinggi
peringkat suatu kendala negatif, semakin keras penalti yang diberikan dan semakin
bermarkah ekspresi bahasa yang diminta untuk memenuhinya.

    (25)      Kendala negatif dalam TO (diadaptasi dari Sell 2001)
      a.   Agen tidak boleh OBJ, dinyatakan dengan *a=OBJ
      b.   Pasien tidak boleh OBJ, dinyatakan dengan *p=OBJ
      c.   Agen tidak boleh OBL, dinyatakan dengan *a=OBL
      d.   Pasient tidak boleh OBL, dinyatakan dengan *p=OBL

       Dalam konteks TO, sebagai ilustrasi secara kasar, perbedaan bahasa Indonesia
atau bahasa Bali dengan bahasa Inggris adalah pada pemeringkatan yang terkait dengan
*a=OBJ dan *p=OBJ. Ini bisa diperlihatkan seperti (26). Tanda >> artinya ‘dominasi’;
kendala yang di sebelah kiri >> mendominasi kendala yang disebelah kanan >>.
Terlihat di sini, pemeringkatan *a=OBJ pada bahasa Inggris sangat tinggi dan
mendominasi kendala-kendala yang lain.

    (26)       Beda pemeringkatan bahasa Indonesia vs. bahasa Inggris
           a. b. Inggris       *a=OBJ >> *p=OBL >> *a=OBL >> *p = OBJ
           b. b.Indonesia/Bali *p=OBL >> *a=OBL >> *p = OBJ >> *a=OBJ

         Pada bahasa Inggris, pelanggaran atas *a=OBJ lebih tinggi penaltinya dari
pelanggaran atas *p=OBJ. Terlihat di sini, pelanggaran *a=OBJ adalah pelanggaran yang
fatal, sangat tinggi peringkatnya, secara konvensional ditaruh paling kiri.8
         Dalam TO, kalimat yang berterima adalah kalimat yang paling optimal diantara
beberapa kandidat yang dihasilkan oleh tatabahasa berdasarkan masukan (input) yang ada.
Kalimat yang optimal tadi belum tentu bersih dari pelanggaran. Boleh saja ada
pelanggaran tetapi pelanggarannya mungkin merupakan pelanggaran atas kendala yang
peringkatnya sangat rendah. Sebagai contoh, apabila informasi masukan yang ada adalah
predikat berargumen ‘pukul’ dengan argumen a dan p sama-sama definit (misalnya, ‘saya’
dan p = ‘Joni’), maka luaran (output) yang dihasilkan yang optimal dan tidak bermarkah
akan berbeda antara bahasa Inggris dengan bahasa Bali karena perbedaan pemeringkatan
atas kendala-kendala seperti yang diperlihatkan pada (26). Perbedaan ini diperlihatkan
dalam Tableau (27) dan (28). Untuk bahasa Inggris, yang paling optimal dan tidak
bermarkah adalah struktur aktif I hit John (27)a sedangkan untuk bahasa Bali adalah
struktur objektif Joni jagur cang (28)b. Struktur optimal ditunjukkan oleh gambar tangan
menunjuk . Terlihat bahwa kedua struktur optimal tadi adalah struktur yang melanggar
salah satu kendala; bukan struktur yang betul-betul bersih dari pelanggaran. Misalnya,
struktur aktif (27)a untuk bahasa Inggris melanggar melanggar *p=OBJ (berterima) dan
struktur objektif (28)b untuk bahasa Bali melanggar *a=OBJ (juga berterima). Terlihat
pula struktur objektif untuk bahasa Inggris melanggar kendala secara fatal (dinyatakan
dengan *!; sehingga tidak berterima.


8
 Sell (2001) memberikan analisis yang berbeda dan lebih kompleks tanpa menaruh kendala *a=OBJ pada
posisi yang sangat dominan seperti diperlihatkan pada (26)a.

                                                                                                 21
I Wayan Arka                    TLF: prinsip dasar dan tantangannya


    (27)      Tableau untuk ‘pred<Agen (‘saya’), Pasien (‘Joni’) (Bahasa Inggris)
                               *a=OBJ *p=OBL *a=OBL *p = OBJ Diatesis:
a.         a=SUBJ, p=OBJ                                        *           ‘aktif’
b.         a=OBJ, p = SUBJ     *!                                           ‘objektif
c.         a=OBL, p = SUBJ                          *                       ‘ pasif’

    (28)      Tableau untuk ‘pred<Agen (‘saya’), Pasien (‘Joni’) (Bahasa Bali)
                               *p=OBL *a=OBL *p=OBJ *a=OBJ                   Diatesis:
a.         a=SUBJ, p=OBJ                            *                        ‘aktif’
b.         a=OBJ, p = SUBJ                                       *           ‘ objektif’
c.         a=OBL, p = SUBJ               *                                   ‘pasif’

        Singkatnya, dalam analisis TO, bahasa Bali sebenarnya juga ‘mewarisi’ kendala
universal larangan pemetaan Agent ke SUBJ (*a=OBJ); tetapi larangan ini peringkatnya
sangat rendah. Pelanggarannya dalam bahasa Bali tidak fatal, sementara pelanggarannya
pada bahasa Inggris fatal karena kendala ini pada bahasa Inggris mempunyai peringkat
yang sangat tinggi. Dengan kata lain, dalam bahasa Bali, struktur objektif (28)b adalah
struktur yang yang paling optimal diatara struktur-struktur lainnya karena struktur lain ini
juga setidak-tidaknya melanggar satu kendala lain yang penaltinya lebih berat.

4.4   Masalah klasifikasi fungsi: Objek-theta
        Fungsi gramatikal dalam TLF dengan hirarkinya diperlihatkan pada (29). Dalam
tulisan singkat ini hanya masalah OBJ theta saja yang dibahas. (Tanda > menyatakan
hirarki ‘... lebih tinggi dari ...’.)

    (29)        SUBJ > OBJ > OBJθ > OBLθ > (X)COMP > (X)ADJUNCT9

         OBJθ dibaca ‘objek theta’ adalah objek khusus yang terikat dengan peran theta
tertentu (peran theta = peran semantis). Konsepsi OBJ ini terkait dengan konsepsi dalam
Teori Pemetaan Leksikal/Lexical Mapping Theory (LMT) (Bresnan and Kanerva 1989;
Bresnan and Moshi 1990) yang menyatakan bahwa fungsi gramatikal terbentuk dari dua
fitur: [+/- r] (secara thematis terbatas atau tidak, r=restricted) dan [+/-o] (secara intrinsik
bersifat ‘objektif/menjadi komplemen verba transitif’ atau tidak). Klasifikasi fungsi
berdasarkan kedua fitur ini digambarkan pada (30).

    (30)       Klasifikasi fungsi berdasarkan fitur [+/-r], [+/-o]

                                           -r                     +r
                     -o            SUBJ                  OBLθ
                     +o            OBJ                   OBJθ

        Dalam konsepsi ini, fungsi gamatikal membentuk klas-klas alamiah, misalnya
SUBJ dan OBJ tergolong satu klas (sama-sama [-r]), demikian juga SUBJ dan OBL satu
klas (sama-sama [-o]). Hal ini dipakai untuk menjelaskan adanya alternasi fungsi yang

9
 Simbol X disini menyatakan fungsi grammatikal yang mengandung kontrol, yakni argumennya (biasanya
SUBJ) tidak (boleh) muncul secara ‘lahir’ dalam struktur-k, tetapi secara fungsional ‘ada’. Misalnya, untuk
XCOMP (fungsi komplemen dengan kontrol) dicontohkan oleh komplemen dengan verba berdagang dalam
kalimat saya mencoba berdagang. Dalam struktur ini SUBJ dari berdagang dikontrol oleh SUBJ verba
mencoba. Contoh XADJUNCT adalah klausa datang terlambat dalam kalimat datang terlambat, dia minta
maaf. SUBJ dari XADJUNCT datang terlambat ini dikontrol oleh SUBJ verba minta, yakni dia.

                                                                                                        22
I Wayan Arka                    TLF: prinsip dasar dan tantangannya


terkait dengan argumen tertentu. Misalnya, Agen yang secara intriksik adalah [-o] seperti
yang diperlihatkan oleh (23), bisa beralternasi antara SUBJ-OBL (seperti pada kasus
pasifisasi). (Tetapi, kita telah diskusikan pada subseksi 4.3 bahwa klasifikasi intrinsik
agen ini sangat restriktif, setidak-tidaknya dari sudut pandang analisis yang tidak
mengadopsi Teori Optimalitas.)
        OBJθ biasanya ditemukan dalam konstruksi ditransitif; peran semantisnya terbatas
pada peran theme. Konsepsi OBJθ juga sering dipakai untuk menjelaskan mengapa OBJ
jenis ini tidak berlaternasi dengan SUBJ, karena SUBJ [-o, -r] dan OBJθ [+o, +r] tidak
termasuk satu klas; keduanya tidak mempunyai fitur bersama. Efek ini terlihat, misalnya
pada bahasa Indonesia; contoh (31). Baju bisa dianggap sebagai OBJθ karena tidak bisa
beralternasi dengan SUBJ pasif, terbukti dari ketidakberterimaan kalimat (31)c.

     (31)      Contoh OBJθ bahasa Indonesia
            a. Ayah membelikan Amir baju
            b. Amir dibelikan baju (oleh Ayah)
            c. *Baju itu dibelikan Amir (oleh Ayah)

        Menurut hemat saya, konsepsi OBJθ sedikit bermasalah. Di satu sisi, konsepsi ini
bisa menerangkan mengapa salah satu OBJ dari struktur ditransitif —dalam hal ini
OBJθ— tidak bisa menjadi SUBJ verba pasif, misalnya untuk bahasa-bahasa seperti
bahasa Inggris dan Indonesia. Tetapi di sisi lain, keterkaitan dengan peran semantis
tertentu (yakni fitur [+r]) tampaknya bukan satu-satunya penyebab boleh tidaknya
argumen ini beralternasi dengan SUBJ. Ini terlihat jelas kalau kita lihat bahasa-bahasa
lain yang memungkinkan objek ganda simetris, seperti bahasa Bali, Jawa (dialek
tertentu)10 dan Tukang Besi. Bandingkan contoh (31)c dengan contoh yang ekuivalen dari
bahasa Jawa dialek Tegal (32)c di bawah. Kalimat (32)a adalah struktur aktif, (32)b
struktur pasif dengan peran Benefaktif sebagai SUBJ dan (32)c juga struktur pasif dengan
peran Theme sebagai SUBJ. Singkatnya, bahasa Jawa dialek Tegal mengijinkan kedua
argumen non-aktor dari verba ditransitif dipetakan ke SUBJ pada konstruksi pasif.

     (32)      Contoh bahasa dengan objek ganda simetris (bahasa Jawa, dialek Tegal)11
            a. Bapak-ne     arep n-(t)uku-kaken anak-e       umah       kuwe
               bapak-POS akan DA-beli-kan         anak-POS rumah        itu
               ‘Bapaknya akan membelikan anaknya rumah itu’

            b. Anak-e arep di-tuku-kaken umah         kuwe (daning bapak-ne)
               3Anak-POS akan PAS-beli-kan rumah            itu oleh ayah-3TPOS)
               ‘Anaknya akan dibelikan rumah itu oleh bapaknya’

            c. Umah     kuwe       arep di-tuku-kaken anak-e       (daning               bapak-ne)
               rumah itu           akan PAS-beli-kan anak-POS oleh                       ayah-3TPOS
                ‘Rumah itu akan dibelikan anaknya (oleh bapaknya)’


10
   Tampaknya tidak semua dialek bahasa Jawa memungkinkan kesimetrisan Objek. Sawardi (2001)
misalnya menunjukkan bahwa bahasa Jawa dalam dialek lain (dialek Solo?) menunjukkan Objek yang tidak
simetris. Dalam dialek ini, dari dua Objek verba intransitif (Objek yang berperan Benefaktif dan Tema),
hanya satu, yakni Objek Benefaktif, yang bisa beralternasi dengan Subjek verba pasif. Jadi, kalimat (32)c
akan tidak berterima dalam dialek ini.
11
   Data ini berasal dari data lapangan dari makalah tugas mahasiswa Ida Ayu Agung Ekasriadi untuk mata
kuliah sintaksis yang penulis asuh di S2 Linguistik Universitas Udayana.

                                                                                                      23
I Wayan Arka                TLF: prinsip dasar dan tantangannya


        Pada bahasa yang menganut sistem OBJ ganda simetris seperti bahasa Jawa di
atas, sesungguhnya kita juga mengatakan bahwa konstruksi ditransitifnya juga
mempunyai keterkaitan argumen peran semantis dan fungsi yang sama dengan bahasa-
bahasa yang menganut sistem OBJ ganda asimetris, yakni <Agen, Benefaktif, Theme>.
Maksudnya, terlepas apakah sistemnya simetris atau asimetris, pada konstruksi aktif,
agennya adalah SUBJ; OBJ yang pertama biasanya terbatas sebagai Benefaktif (atau
Goal/penerima/sasaran) dan OBJ yang kedua terbatas pada Theme. Secara kaku, kita bisa
mengiterpretasikan bahwa keduanya adalah OBJ yang terbatas. (Klaim ini tentu terlalu
keras dan tidak benar setidak-tidaknya dari sudut empiris karena salah satu OBJ ini mesti
[-r] karena bisa beralternasi dengan SUBJ. Untuk bahasa Indonesia/Inggris, yang [-r]
adalah argumen Benefaktifnya (karena OBJ ini yang beralternasi dengan SUBJ pasif),
sedangkan argumen Themenya adalah OBJθ. Untuk bahasa Jawa, keduanya mesti
diinterpretasikan tak terbatas [-r]. Akhirnya, di sini sedikit terjadi kontradiksi, dalam
pengertian misalnya pada bahasa dengan sistem OBJ simetris terdapat pula ‘OBJ yang
secara semantis terbatas, [+r] tetapi OBJ ini bisa beralternasi dengan SUBJ (artinya, OBJ
ini sesungguhnya juga [-r]).
        Masalah kesimetrisan OBJ ganda ini oleh LMT ditangani dengan mengijinkan
kedua argumen non-aktor mendapatkan [-r] untuk bahasa-bahasa terntetu. Alsina (1992)
mengusulkan adanya klasifikasi khusus untuk argumen non-aktor, yang disebut dengan
klasifikasi argumen internal (Internal Argument Classification, IAC) seperti terlihat pada
(33). (Istilah ‘internal’ di sini dikaitkan dengan ide klasifikasi argumen ke dalam dua
kelompok berdasarkan realisasi sintaksisnya dalam kaitannya dengan projeksi
kategorinya: internal argumen (non-aktor) muncul dalam FV (frasa verba) dan sementara
eksternal argumen (Aktor) muncul diluar FV.)

 (33)      Internal Argument Classification (IAC).

                θ or   θ   ≤ goal
                            
               [-r]         [+o]

   (34)    Hirarki Peran semantis (Thematic hierarchy)
           Agen > Benfaktif > Sasaran/pengalam (Goal/experiencer>
                                         Instrument >Theme/Pasien> Lokatif

(33) memberikan alternatif kepada argumen internal (non-aktor): pertama, argumen ini
pada prinsipnya boleh mendapatkan [-r] (sehingga bisa beralternasi dengan SUBJ); atau
kedua, [+o] (sehingga tidak bisa beralternasi dengan SUBJ). Pilihan kedua ada
kendalanya, yakni [+o] diberikan hanya kepada argumen yang lebih rendah dari (atau
sama dengan) sasaran (goal). (Prinsip penting dalam teori pemetaan leksikal adalah
konsepsi bahwa peran semantis membentuk hirarki seperi terlihat pada (34) (Alsina 1992;
Bresnan and Kanerva 1989; Bresnan and Mchombo 1987; Bresnan and Moshi 1990)
Pilihan kedua ini terdapat pada bahasa-bahasa tertentu yang menampilkan sistem OBJ
ganda asimetris. Dengan demikian, dalam struktur aplikatif ditransitif dalam bahasa
dengan sistem ini, argumen Theme selalu mendapat [+o] dan tidak bisa menjadi SUBJ
verba pasif. Sementara pada bahasa lain (seperti bahasa Jawa), hanya pilihan pertama
yang ada sehingga bila ada dua argumen internal, keduanya bisa mendapatkan [-r] dan
keduanya bisa beralternasi dengan SUBJ pada konstruksi pasif.
        Ringkasnya, OBJθ adalah OBJ yang secara thematis terbatas dan tidak bisa
beralternasi dengan SUBJ. Dari diskusi tadi, khususnya adanya variasi yang ditangkap


                                                                                        24
I Wayan Arka                TLF: prinsip dasar dan tantangannya


oleh IAC pada (33), jelas bahwa ketidakbolehan OBJ jenis ini beralternasi dengan SUBJ
bukanlah semata-mata ditentukan oleh ‘peran semantisnya yang terbatas’. Sebab, dalam
bahasa lain yang juga mempunyai sifat yang mirip, argumen yang demikian bisa
beralternasi dengan SUBJ. Walaupun solusi yang diberikan dalam hal ini dengan
memberikan kedua argumen internal/non-aktor fitur [-r], harus diingat bahwa hal ini
terkait dengan perbedaan ‘sistem bahasa dalam hal OBJ ganda’, bahwa ada bahasa yang
mempunyai OBJ ganda simetris dan ada yang asimetris. Karena itu, saya cenderung
memakai istilah yang lebih netral, kembali ke TLF klasik: OBJ1 dan OBJ2. Kendala
alternasi dengan SUBJ, walau ada benarnya bahwa peran semantiknya penting, saya
percaya ada kendala sistem gramatikal yang lebih luas yang bertanggung jawab atas
variasi ini.


4.5   Masalah klasifikasi fungsi: semua sama?
        Bagi orang yang ingin menerapkan analisis TLF terkadang merasa ‘dipaksa’ untuk
mempunyai struktur-f dengan fungsi-fungsi yang telah disebutkan pada (29). Salah satu
tantangan mengenai hal ini telah disinggung sebelumnya dalam kaitan dengan apakah
harus selalu ada SUBJ pada setiap bahasa. Demikian juga untuk fungsi yang lainnya; kita
sudah kritisi pembedaan dua jenis OBJ (menjadi OBJ dan OBJθ), dan sampai pada
kesimpulan bahwa OBJθ tidak selalu harus ada pada setiap bahasa.
        Sesungguhnya TLF tidak memaksakan bahwa relasi gramatikal dan klasifikasinya
mesti sama seperti yang terlihat pada (29). TLF mengelompokkan fungsi-fungsi tersebut
ke dalam kelas-kelas yang luas seperti terlihat pada (35). Terlihat di sini, fungsi-fungsi itu
pada tataran yang paling umum terbagi menjadi fungsi argumen (fungsi yang diminta oleh
predikat, bagian dari subkategorisasi) dan fungsi non-argumen. Argumen secara semantis
adalah partisipan dari suatu kejadian yang dinyatakan oleh predikat dan secara sintaktis
adalah unit-unit yang kehadirannya diminta oleh predikat. Sedangkan non-Argumen,
seperti Adjung, bukan merepresentasikan partisipan suatu kejadian; secara sintaktis
kehadirannya hanyalah memberikan tambahan situasi kepada predikat. Dalam
representasi entri leksikal fungsi argumen ditulis dalam kurung siku <…>, misalnya
‘pukul<SUBJ,OBJ>. Karena fungsi non-argumen tidak diminta oleh predikat maka
fungsi non-argumen tidak didaftar dalam entri leksikal. Jadi entri leksikal seperti
*‘makan’<SUBJ, OBJ, ADJ> tidak berterima. Selanjutnya, fungsi argumen
diklasifikasikan lebih lanjut menjadi fungsi inti (core atau term) dan non-inti (non-core
atau non-term). Pentingnya ide keintian ini dalam klasifikasi fungsi akan dibahas di
bawah.

 (35)      Klasifikasi relasi gramatikal dalam TLF

                  ARGUMEN                                NON-ARGUMEN
        64444444474444448                                64748
          INTI               NON-INTI
        64474448             6447448
        SUBJ > OBJ > OBJ > OBL > (X)COMP >               (X)ADJUNCT

       Ide klasifikasi fungsi seperti disebutkan di atas sangat penting. Ide ini
memungkinkan TLF sangat fleksibel untukmenangkap tipologi bahasa. Klasifikasi fungsi
yang demikian juga cukup ampuh untuk menolak logika yang sering membawa masalah
dalam hal keuniversalan fungsi. Dalam logika yang salah (karena sempit) ini, impilkasi
yang diambil adalah bahwa kalau klasifikasi argumen seperti SUBJ, OBJ, OBL dan


                                                                                           25
I Wayan Arka                   TLF: prinsip dasar dan tantangannya


(X)COMP bersifat universal maka klasifikasi tersebut ditemukan pada semua bahasa.
Kalau logika ini yang dianut, maka jelas sangat restriktif dan dari sudut tipologis tidak
menarik. Bahasa-bahasa Nusantara akan memberi bukti yang berlawanan, seperti yang
telah kita diskusikan tentang keberadaan SUBJ serta perbedaan dua juenis OBJ pada
subseksi sebelumnya.
        Posisi yang lebih baik adalah mengadopsi pemikiran dekomposisi fungsi
gramatikal dalam TLF, yang menyatakan bahwa dua atau lebih fungsi sesungguhnya
dapat membentuk klas alamiah yang lebih luas. Dalam hal ini, fungsi gramatikal
didekomposisi oleh fitur yang lebih primitif. Di atas kita telah kiritisi ide dekomposisi
fungsi berdasarkan fitur [+/-r] dan [+/-o].
        Yang perlu digarisbawahi dari ide dekomposisi fungsi ini adalah suatu fungsi
argumen bisa saja ‘underspecified’ dalam realisasinya. Hal ini bisa diilustrasikan dari
kontras antara memukul dan dipukul pada (36):

     (36)       Pemetaan dengan fitur [+/- r] dan [+/-o]
            a. aktif                                  b.   Pasif
            memukul ‘pukul’<Agen, Pasien>             dipukul ‘pukul <Agen, Pasien>
                             [-o]    [-r]                  PASS:       ∅ [-r]
                             [-r]
                             ___________                              __________
                             SUBJ OBJ                                      SUBJ

Pada kedua verba di atas (aktif dan pasif), Pasien secara intrinsik mendapat [-r]. Kalau
verbanya aktif seperti (36)a, maka argumen Agen yang secara intrinsic mendapatkan [-o]
(artinya tidak boleh objek, lihat (23)), mendapatkan fitur [-r] (fitur yang diberikan kepada
argumen yang paling tinggi secara tematis12). Karena Agen mendapatkan [-o, -r], lihat
(30), maka Agen menjadi SUBJ. Selanjutnya, argumen Pasien yang sudah [-r], tidak
mempunyai pilihan lain dan menjadi OBJ. Ingat fungsi lain selain SUBJ, hanya OBJ
yang berfitur [-r]. Pada verba pasif (36)b, pemarkah pasif di- menandai proses
morfoleksikal penghilangan Agen (ditandai dengan ∅). Sekarang tinggal Pasien, yang
karena secara intrinsik (dan karena argumen internal (lihat (33)) sudah mendapat [-r],
akhirnya menjadi SUBJ. (Ada kondisi dalam Teori Pemetaan Leksikal bahwa setiap
predikat mesti ada SUBJ-nya. Saya percaya ini tidak universal, setidak-tidaknya dari
sudut analisis yang tidak mengadopsi Teori Optimalitas.) Butir ide yang penting yang
perlu diingat adalah bahwa Pasien sebagai OBJ pada verba aktif (36)a dan sebagai SUBJ
pada verba pasif (36)b sesungguhnya ditentukan oleh sifat pemetaanya yang
underspecified; artinya Pasien hanya mendapat [-r], tidak mendapatkan semua fitur yang
diminta untuk realisasi sebuah fungsi.
         Ide dekomposisi fungsi kedalam fitur yang lebih primitif pada dasarnya sangat
baik. Usulan lain dekomposi fungsi untuk menangkap variasi realisasi fungsi lintas
bahasa adalah dengan properti keintian ([+/-INTI]) dan ke-PIVOT-an ([+/-PIV]), seperti
terlihat pada (37) (Arka 1998).




12
  Ingat TLF menganut paham bahwa argumen secara tematis mempunyai peringkat, dengan Agen sebagai
peran yang tertinggi, lihat (34).

                                                                                               26
I Wayan Arka                   TLF: prinsip dasar dan tantangannya


     (37)   Dekomposisi fungsi gramatikal berdasarkan [+/-INTI], [+/-PIV]

                                  +PIV                     -PIV
               +INTI              SUBJ                     OBJ
               -INTI              (?)13                    OBL

        Analisis berdasarkan dekomposisi (37) memberikan beberapa keutungan, yang
susah untuk didapatkan dari klasifikasi sebelumnya berdasarkan fitur [+/-o]. ([+/-INTI]
secara kasar ekuivalen dengan [+/-r].) Keuntungan pertama, misalnya, klasifikasi ini
memprediksikan bahwa OBJ dan OBL berada dalam satu klas (karena sama-sama [-PIV]).
Dengan demikian, diprediksikan bahwa OBJ dan OBL kemungkinan dimarkahi sama
dalam suatu bahasa. Ini mendapat dukungan dari kenyataan bahwa tidak selalu mudah
membedakan OBJ dengan OBL dalam bahasa tertentu. Misalnya, ng pada bahasa
Tagalog kemungkinan memarkahi [-PIV] saja sebab kita bisa dapatkan kalimat seperti
(38) berikut.

     (38)   Bahasa Tagalog (Foley and Valin 1984)
            B<in>ilh-an ng lalake            ng isda ng pera ang tindahan
            <PF>beli-LF           orang.laki     ikan         uang      toko
            ‘Orang (laki-laki) itu membeli ikan di toko itu dengan uang’

Dalam bahasa Tagalog, PIV dimarkahi dengan ang, sementara ng dianggap pemarkah
argumen inti yang bukan PIV (lihat misalnya Kroeger (1993: 40–48) yang menunjukkan
bukti bahwa Agen dan Pasien yang dimarkahi ng (ng lalake dan ng isda pada (38)) adalah
argumen inti. Akan tetapi di sini terlihat juga bahwa peran instrumen juga dimarkahi
dengan ng (ng pera); dan peran instrumen ini tampaknya bukanlah argumen yang diminta
oleh verba ‘beli’. Jika instrumen ini dianggap inti karena dimarkahi ng, maka verba ‘beli’
ini mempunyai empat argumen inti (termasuk argument PIV ang tindahan); sebuah
analisis yang aneh. Tetapi jika kita mengatakan bahwa ng hanya memarkahi [-PIV],
maka tidak ada implikasi bahwa verba ‘beli’ ini mempunyai empat argumen inti.
(Analisis ini tentu tidak menjawab pertanyaan mengapa non-argumen juga dimarkahi
sama dengan argumen (inti), dengan ng.) Penelitian lebih jauh diperlukan untuk melacak
subklasifikasi argumen (dan non-argumen) yang termasuk kelompok [-PIV], sifat-sifatnya
dan pemarkahannya.
        Keuntungan ke dua dari klasifikasi dengan fitur [+/-INTI] dan [+/-PIVOT] di atas
adalah penjelasan secara alamiah dua oposisi pemetaan lintas bahasa, yakni akusatif (39)a
dan ergatif (atau inverse) (39)b. Ide utamanya adalah, [+/-INTI] adalah fitur sintaksis
yang berada pada struktur argumen (struktur-a) yang menjembatani antara tataran
semantik dan tararan sintaktis lahir. Dalam analisis ini, SUBJ adalah [+PIVOT, +INTI],
dan OBJ adalah [-PIV, +INTI]. Dengan demikian, SUBJ dan OBJ betul-betul tidak
terkait dengan kendala peran semantis tertentu sehingga secara teoritis tidak ada halangan
mengapa Agen tidak boleh diklasifikasikan atau mendapatkan [-PIV, +INTI]. Ini yang
ditunjukkan oleh pemetaan ergatif pada (39)b. (Ingat pemetaan ergative ini
tidakdiperbolehkan oleh Teori Pemetaan Leksikal.)
13
   Secara teoritis berdasarkan fitur klasifikasi ini, kombinasi [+PIV,-INTI] adalah sesuatu kemungkinan,
tetapi di sini diperlihatkan sebagai kemungkinan yang masih ‘tanda tanya’. Belum jelas betul apakah ini
merupakan gap tipologis belaka atau memang penelitian bahasa tahap ini belum menemukan bahasa yang
demikian. Tampaknya isu keintian pada bahasa Tagalog (lihat diskusi mengenai kalimat (38)dan status PIV
yang oleh Sell (2001) dianggap statusnya klausa ekternal (bukan argumen), argumen sesungguhnya adalah
semacam argumen kosong secara klausa internal. Jika ini benar, maka [+PIV, -INTI] bukanlah lagi tanda
tanya seperti yang dikemukan dalam (37).

                                                                                                     27
I Wayan Arka                   TLF: prinsip dasar dan tantangannya




 (39)      a. Pemetaan akusatif                            b. Pemetaan ergatif

          +PIVOT -PIVOT                                     +PIVOT -PIVOT

   str-a: <+INTI +INTI             >                        <+INTI      +INTI >

               Agen   Pasien                                Agen        Pasien

        Keuntungan analisis dengan str-a seperti (39) diuraikan dalam Manning (1996),
Arka (1998) dan Arka dan Wechsler (1998) dalam kaitan dengan pengikatan refleksif
(reflexive binding). Analisis yang demikian meramalkan bahwa pengikatan terjadi pada
struktur-a, sehingga walaupun diadakan perubahan diatesis (aktif-objektif) maka
perubahan diatesis tersebut tidak mempengaruhi pengikatan refleksif. Kejadian bahwa
SUBJ atau PIVOT bisa diikat adalah sesuatu yang diprediksi dalam analisis ini. Ini
dicontohkan oleh kalimat (40).

 (40)      Pengikatan refleksif dan perubahan diatesis (bahasa Indonesia)
           a.       Dia membenci dirinya
           b.       Dirinya yang dia benci

Pada (40)a, refleksif OBJ dirinya diikat oleh SUBJ. Pengikatan OBJ oleh SUBJ ini adalah
sesuatu yang sudah umum. Tetapi pada, (40)b, SUBJ dirinya diikat oleh non-SUBJ, dia.
Pengikatan atas SUBJ oleh non-SUBJ ini tidak berterima untuk bahasa lain, umumnya
pada bahasa akusatif seperti bahasa Inggris. Dalam analisis yang bersandarkan struktur-a
seperti usulan yang dikemukakan disini, kedua kalimat pada (40) mempunyai struktur-a
seperti yang diperlihatkan pada (41):

 (41)      Struktur-a kalimat (40)

           ‘benci’ <’dia’i, ‘dirinya’i>
                    (INTI)(INTI)

Kedua argumen dari verba benci adalah INTI. Terlihat di sini refleksif dirinya diikat oleh
dia (pengikatan dinyatakan dengan indeks i). Pengikatnya (binder) adalah argumen aktor,
secara semantis lebih tinggi dari yang diikat. Selanjutnya pemetaan akusatif dan ergatif
seperti yang diperlihatkan pada memberikan dua struktur yang berbeda (yakni kalimat
aktif dan pasif) tanpa mengubah pengikatan. Ini diperlihatkan pada pemetaan berikut:

 (42)      Pemetaan atas str-a (41) yang menghasilkan struktur aktif dan objektif (40)
           a. kalimat aktif (40)a:            b. kalimat objektif (40)b:

                      +PIV -PIV                               +PIV -PIV

           ‘benci’ <’dia’i, ‘dirinya’i>               ‘benci’ <’dia’i, ‘dirinya’i>

Seperti terlihat pada (42)b, refleksif dirinya yang muncul sebagai PIV, tetapi dapat diikat
oleh non-PIV dia karena pengikatan dilakukan pada str-a, bukan str-f.


                                                                                         28
I Wayan Arka                  TLF: prinsip dasar dan tantangannya


         Keuntungan lebih jauh dari dekomposisi dengan [+/-PIV] dan [+/-INTI] terkait
dengan isu keuniversalan fungsi gramatikal. Dengan bersandar pada ide
underspecification of function dan hubungan pemetaan yang tidak selalu sama lintas
bahasa kita bisa menjelaskan bagaimana suatu bahasa seperti bahasa Taba di Indonesia
Timur bisa memperlihatkan relasi gramatikal yang agak berbeda, tanpa ada bukti yang
jelas mengenai SUBJ dan OBJ.
         Untuk ini, ide utama penjelasannya adalah bahwa fitur [+/-PIV], atau oposisi
PIVOT dan non-PIVOT, tidak mesti terrealisasi dalam semua bahasa walaupun fitur ini
merupakan khasanah yang universal. Ini sama halnya dengan mengatakan bahwa fitur
[+/-voiced] dalam fonologi bisa dikatakan ‘universal’, dalam artian bahwa fitur itu
merupakan salah satu dari gugus fitur-fitur lintas bahasa. Tetapi, ini tidak berarti bahwa
dalam setiap bahasa fitur [+/-voiced] terealisasi dengan cara yang sama. Dalam bahasa
tertentu (dan domain tertentu) oposisi itu mungkin tidak fungsional, sehingga misalnya
oposisi antara /s/ dan /z/, /f/ dan /v/ dinetralisasi. Demikian juga halnya dengan fitur [+/-
PIV] dalam sintaksis. Dalam kaitan ini, kita bisa katakan bahwa pada bahasa-bahasa
Indonesia Timur oposisi [+/-PIV] ‘dinetralisir’. Ketiadaan oposisi pada fitur ini
menyebabkan sistem relasi gramatikalnya menjadi ‘satu tingkat’ lebih sederhana, seperti
terlihat pada (43).

     (43)    Klasifikasi relasi gramatikal pada bahasa tanpa [+/-PIV]

               +INTI             SUBJ                    OBJ
               -INTI                                     OBL

Klasifikasi di atas memperlihatkan bahwa yang fungsional adalah properti [+/-INTI].
Diharapkan bahasa dengan sistem ini menunjukkan sifat-sifat morfosintaksis (persesuaian
dan relatifisasi terkait) yang sensitif terhadap perbedaan antara argumen INTI dan non-
INTI. Memang demikianlah kenyataan yang kita dapati; misalnya bahasa Taba (Bowden
2001), hanya argumen inti yang mendapat persesuaian, non-inti (OBL) tidak.
        Lebih lanjut, dengan memasukkan peran semantis makro, Proto-Aktor (P-A) dan
Proto-Pasient (P-P)14 serta pemarkahan pada verba pada bahasa-bahasa Indonesian Timur
kita bisa mendapatkan gambaran seperti yang terlihat pada (44). Pemetaan yang kita
dapatkan menggambarkan bahwa oposisi [+/-PIV] tidak relevan; yang relevan adalah [+/-
INTI] dan peran semantis (makro). Karena SUBJ dan OBJ sama-sama [+INTI], maka
properti pembedanya adalah peran semantis makronya; yakni P-A dan P-P. Pemarkahan
perbedaan ini bisa dilakukan cukup dengan memarkahi salah satu saja, biasanya dengan
memarkahi P-A seperti pada bahasa Kei, atau juga sekaligus memarkahi keduanya (P-A
dan P-P), seperti pada bahasa Muna.

     (44)    Pemetaan/asosiasi tipikal Peran semantis dan relasi gramatikal
             di bahasa-bahasa Indonesia Timur

                           [+INTI]                                                [-INTI]
      Fungsi gramatikal    SUBJ                          OBJ                      OBL
      Peran semantis makro Proto-Aktor                   Proto-Pasien             (peran mikro)
      Pemarkahan           Pronominal prefiks            (Pronominal sufiks)      Preposition


14
  Istilah Proto-Aktor (P-A) dan Proto-Pasien (P-P) dipakai di sini menuruti Dowty (1991) untuk
menyatakan peran semantis yang umum (marko) sebagai lawan peran thematis (mikro) seperti Agen,
pengalam dsb.

                                                                                                 29
I Wayan Arka               TLF: prinsip dasar dan tantangannya


        Sekarang mari kita kembali ke pertanyaan semula: dalam bahasa-bahasa Indonesia
Timur, karena relasi predikat-argumen bisa dijelaskan secara semantis seperti P-A dan P-
P, apakah masih relevan kita bicara SUBJ, OBJ, OBL? Apakah bahasa yang bersangkutan
bisa dikatakan tidak mempuyai struktur-f? Bolehkah ada TLF tanpa struktur-f?
        Untuk ini ada dua pendekatan. Pertama, lupakan saja struktur-f. Sesungguhnya,
menurut hemat saya, struktur-f hanyalah salah satu dari sekian struktur paralel dalam
TLF. Secara teoritis tidak ada alasan mengapa salah satu struktur yang tidak muncul
secara empiris mesti dimunculkan dalam representasi. Pendekatan ini mungkin baik
untuk deskripsi sederhana bahasa yang bersangkutan secara mandiri, tetapi tidak dalam
koteks komparatif tipologis. Dari sudut TLF, ini mungkin terlalu ektrem karena akan
terjadi model TLF tanpa struktur-f.
        Pendapat kedua, tetap ada struktur-f. Analisis kedua ini (saya sendiri cenderung
dengan yang ini) mesti didasari pada prinsip/model TLF berikut yang secara jelas
membedakan dua pengertian keuniversalan bahasa: keuniversalan absolut dan relatif.
Pertama, keuniversalan oposisi semantis P-A dan P-P bersifat absolut; artinya, tidak ada
bahasa yang tidak bisa membedakan P-A dengan P-P. Kedua, keuniversalan oposisi klas-
klas fungsi gramatikal bersifat relatif. Artinya, walaupun klas fungsi seperti [+/-PIV] dan
[+/-INTI] bagian dari khasanah fungsi universal, tidak semua bahasa menunjukkan
oposisi tersebut secara utuh. Hal ini sudah saya singgung tadi dalam kaitan dengan
analogi dengan fitur [+/-voiced] dalam fonologi.
        Demikian juga, walaupun dalam bahasa Indonesia ada bukti keberadan SUBJ
(atau argumen [+PIV]) tetapi tidak berarti setiap kalimat bahasa Indonesian mesti ada
SUBJ/PIVOT-nya. Keharusan atau kemanasukaan hadirnya suatu fungsi gramatikal
tertentu tidak menjadi alasan untuk mendukung/menolak ide keuniversalan fungsi
gramatikal.
        Karenanya, pembicaraan dengan menggunakan istilah SUBJ/OBJ secara lintas
bahasa merupakan pembicaraan pada level yang agak ‘abstrak’. TLF tidak
mengasumsikan SUBJ/OBJ bahasa Inggris mempunyai sifat sintaksis yang ‘(persis)
sama’ dengan SUBJ/OBJ bahasa Indonesia. Ini terkait dengan konsepsi bahwa fungsi
gramatikal bersifat ‘primitif’; tidak bisa didefinisikan dengan/dari properti struktur lain.
        Penggunaan fungsi gramatikal seperti SUBJ dan OBJ mencerminkan relasi
predikat-argument pada tataran yang abstrak yang tidak selalu mudah dinyatakan apabila
kita hanya menggunakan istilah semantis. Misalnya, walaupun ciri sintaksis SUBJ bahasa
Inggris dan Indonesia secara spesifik tidak sama, tetapi kesamaan relasi argumen SUBJ
dalam kaitanannya dengan predikatnya pada kedua bahasa itu bisa ditangkap: SUBJ verba
aktif baik pada bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia (dan juga bahasa-bahasa didunia
lainnya) adalah P-A; atau SUBJ dari verba pasif adalah P-P.
        Konsepsi penting dari TLF perlu diingat adalah hubungan semantis dan sintaksis
yang tidak selalu ajeg satu-satu secara lintas bahasa. Artinya, pemetaan argument P-A
dan P-P dengan ekpresi/relasi gramatikal bervariasi dari satu bahasa ke bahasa lainnya,
walapun variasinya sendiri masih tetap mengikuti prinsip-prinsip pemetaan (linking) yang
bersifat universal. Pada pembicaraan sebelumnya, kita telah berbicara tentang prinsip
pemetaan dengan fitur [+/-o] dan [+/-r] atau fitur [+/-INTI] dan [+/-PIVOT] dalam
kaitannya dengan bahasa yang menunjukkan diatesis. Dalam hal ini, kita menunjukkan
situasi yang memungkinkan argumen mendapat pemetaan alternatif (yakni lebih dari
satu). Mari kita sebut ini pemetaan argumen yang fleksibel. Secara teoritis dan tipologis,
model tatabahasa yang baik adalah yang tidak menutup kemungkinan pemetaan argumen
yang tidak fleksibel. Dalam kaitannya dengan inilah, kita mengatakan bahwa bahasa-
Bahasa Indonesia Timur bisa tergolong pada kelompok bahasa dengan pemetaak tak
fleksibel. Jadi sekali sebuah argumen dipetakan ke fungsi gramatikal, tidak ada alternatif


                                                                                         30
I Wayan Arka                TLF: prinsip dasar dan tantangannya


lain yang ekuivalen dengan diatesis seperti pada bahasa-bahasa Indonesia Barat. Singkat
kata, argument dipetakan secara kaku ke posisi fungsi terntentu.
         Dengan pandangan tadi, bahwa terdapat kemungkinan pemetaannya bersifat ajeg
(fixed) tadi, saya berargumentasi bahwa pada bahasa-bahasa Indonesia timur seperti Taba,
kita bisa tetap mempertahankan SUBJ, OBJ dan OBL, tanpa menimbulkan implikasi
teoritis yang serius. Yang mesti diingat, walaupun kaku, pemetaan tersebut menuruti
prinsip pemetaan universal pula. Misalnya, seperti halnya bahasa Inggris atau bahasa
Indonesia, kalau ada dua argumen, P-A dan P-P pada bahasa Taba; maka P-A yang utama
dan menjadi SUBJ sementara P-P menjadi OBJ; tidak sebaliknya. Ini disebabkan oleh
keuniversalan prinsip pemetaan yang cenderung harmonis: argument yang lebih tinggi
pada suatu tataran cenderung dipetakan ke argumen yang lebih tinggi pada tataran lain. P-
A dan SUBJ sama-sama merupakan argumen tertinggi pada tatarannya masing-masing.
         Pada bahasa bahasa dengan pemetaan yang ajeg, seperti bahasa Taba, maka ada
dua kosekuensi logis yang terjadi: (a) SUBJ selalu dikaitakan dengan P-A dan (b) tidak
ada kejelasan perbedaan antara relasi gramatikal dan relasi semantis. Dengan tetap
menggunakan istilah SUBJ dan OBJ pada bahasa ini, maka pada tataran lintas bahasa, kita
masih bisa berbicara tentang ‘kesamaan relasi predikat-argumen’ yang dikandung. Kita
bisa membuat generalisasi, misalnya, pernyataan seperti ‘SUBJ kanonisnya adalah P-A’.
Generalisai ini berlaku untuk ketiga bahasa ini tadi (Inggris, Indonesia, dan Taba) yang
secara tipologis sangat berbeda. Keuntungan untuk mendapatkan generalisasi yang
demikian akan susah kalau analisis yang disodorkan tidak mengunakan tataran yang agak
abstrak, dalam hal ini tataran/struktur fungsional.


5    Ringkasan dan Kesimpulan
        Tulisan singkat ini telah membahas keragaman morfosintaksis kebahasaan
Nusantara yang sangat ideal sebagai laboratorium untuk ujicoba teori bahasa
kontemporer. Tulisan ini telah mengangkat beberapa isu yang terkait dengan keragaman
tadi yang mungkin membawa masalah bagi penerapan teori TLF. Klarifikasi atas
beberapa asumsi telah diberikan dan alternatif pemecahan atas isu-isu yang muncul juga
disodorkan dan dibahas.
        Dalam apliakasi TLF untuk bahasa-bahasa Nusantara, ada beberapa
asumsi/konsepsi yang mesti dibuat ekplisit, diantaranya adalah sbb.: (a) Fungsi
gramatikal adalah abstraksi/netralisasi relasi atau oposisi tertentu yang realisasi
konkretnya (tata urut, pemarkahan, dsb.) bervariasi dari satu bahasa ke bahasa lainnya. (b)
Fungsi gramatikal membentuk klas-klas fungsi alamiah, yang komposisi internalnya bisa
membentuk klas dan subklas fungsi. Ini bisa dibuat ekplisit dalam pendekatan
dekomposisi fungsi dalam fitur-fitur primitif. (c) Realisasi suatu fitur dasar pembentuknya
bisa jadi tidak selalu terwujud pada suatu bahasa. Keuntungan yang kita dapat dari
konsepsi tadi adalah, i) pada tataran lintas bahasa, kita masih bisa berbicara tentang relasi
gramatikal (seperti SUBJ dan OBJ) untuk bahasa bahasa yang tidak sejara jelas
menunjukkan fitur yang lebih primitif pembentuk fungsi gramatikal, ii) tidak ada tuntutan
bahwa suatu jenis fungsi gramatikal terntetu harus menunjukkan properti tataurut, kasus,
dan semantik yang sama karena dalam kosenpsi ini yang ada hanyalah keterkaitan atau
pemetaan antara berbagai struktur lain ke struktur-f. Dan sifat pemetaan itu sendiri tidak
harus persis sama untuk semua bahasa walaupun diatur oleh prinsip-prinsip yang
universal.




                                                                                          31
I Wayan Arka              TLF: prinsip dasar dan tantangannya




DAFTAR PUSTAKA

Aissen, J. 2001. Markedness and subject choice in Optimality Theory. In Optimality-
        Theoritic Syntax, edited by G. Legendre, J. Grimshaw and S. Vinker, 61-96.
        Cambridge, Massachusetts: The MIT Press.
Alsina, A. 1992. On the Argument Structure of Causatives. Linguistic Inquiry.
Arka, I W., and S. Wechsler. 1996. Argument structure and linear order in Balinese
        binding.
Arka, I W. 1998. From Morphosyntax to Pragmatics in Balinese. PhD Dissertation,
        Linguistics Department, University of Sydney, Sydney.
Arka, I W., and C.D. Manning. 1998. Voice and grammatical relations in Indonesian: a
        new perspective. In The Proceedings of the LFG '98 Conference, edited by M.
        Butt and T. H. King. Stanford: CSLI: http://csli-
        publications.stanford.edu/LFG/3/lfg98-toc.html.
Arka, I W., and J. Simpson. 1998. Control and Complex arguments in Balinese. In The
        Proceedings of the LFG '98 Conference, edited by M. Butt and T. H. King.
        Stanford: CSLI: http://csli-publications.stanford.edu/LFG/3/lfg98-toc.html.
Arka, I W. 2000. On the Theoretical and Typological Aspects of Termhood in (Eastern)
        Indonesian Languages.(First Year Report, seminar paper). Jakarta: Directorate
        General of Higher Education, Ministry of Education and Culture.
———. 2001a. On the Theoretical and Typological aspects of Termhood in (Eastern)
        Indonesian languages (The second year research report). Jakarta: Directorate
        General of Higher Education, Ministry of Education.
———. 2001b. Nominative Marking and Linking in Dawan, at Canberra.
———. 2002. Voice systems in the Austronesian languages of Nusantara: Typology,
        symmetricality and Undergoer orientation, at Bali.
Arka, I W., and J. Kosmas. 2002. Passive without passive morphology? Evidence from
        Manggarai, at Canberra.
Arka, I W. to appear. Voice and the syntax of =a/-a verbs in Balinese. In Voice and
        Grammatical Relations in Austronesian Languages, edited by P. K. Austin and S.
        Musgrave. Stanford: CSLI.
Artawa, K. 1994. Ergativity and Balinese Syntax. Ph.D, Linguistics, La Trobe University,
        Bundoora, Australia.
Austin, P., and J. Bresnan. 1996. Nonconfigurationality in Australian Aboriginal
        Languages. Natural Language and Linguistic Theory 14:215-68.
Beratha, N. L. Sutjiati. 1992. Evolution of Verbal Morphology in Balinese. Ph.D
        dissertation, Australian National University, Canberra.
Bowden, J. 2001. Taba. Description of A south Halmahera language. Canberra: Pacific
        Linguistics.
Bresnan, J., and J. Kanerva. 1989. Locative Inversion in Chichewa: A Case study of
        factorization in Grammar. Linguistic Inquiry 20:1-50.
Bresnan, J., and L. Moshi. 1990. Object Asymmetries in Comparative Bantu Syntax.
        Linguistic Inquiry 21 (2):147-185.
Bresnan, J. 2001. Lexical Functional Syntax. London: Blackwell.
———, ed. 1982. The Mental Representation of Grammatical Relations. Cambridge,
        Massachusetts: the MIT Press.
Bresnan, J. , and S. Mchombo. 1987. Topic, Pronoun , and Agreement in Chichewa.
        Language (63):741-82.
Brown, L. 2001. A Grammar of Nias Selatan. PhD, Linguistics Department, the
        University of Sydney, Sydney.

                                                                                      32
I Wayan Arka               TLF: prinsip dasar dan tantangannya


Chomsky, N. 1986. The Barriers. Cambridge, Massachusetts: MIT Press.
———. 1995. The minimalist program. Cambridge, Mass.: The MIT Press.
Chomsky, N. 1965. Aspects of the Theory of Syntax. Cambridge, Massachusetts: MIT
        Press.
———. 1981. Lectures on Government and Binding Theory. Dordrecht: Foris.
Clynes, A. 1995. Topics in the Phonology and Morphosyntax of Balinese. Ph.D
        dissertation, Australian National University, Canberra.
Dalrymple, M. 2001. Lexical Functional Grammar, Syntax and Semantics. San Diego:
        Academic Press.
Donohue, M. 1995. The Tukang Besi language of southeast Sulawesi, Indonesia. PhD
        thesis, Linguistics Department, ANU, Canberra.
Dowty, D. 1991. Thematic Proto-roles and Argument selection. Language 67:547-617.
Falk, Y. 2001. Lexical-Functional Grammar. Stanford: CSLI.
Foley, W. A. 1986. Papuan Languages of New Guinea. London: Cambridge University
        Press.
Foley, W.A., and R. Van Valin. 1984. Functional Syntax and Universal Grammar.
        Cambridge: Cambridge University Press.
Grimes, C.E. 1991. The Buru language of Eastern Indonesia. PhD thesis, Linguistics,
        Australian National University, Canberra.
Grimes, C.E., T. Therik, B.D Grimes, and M. Jacob. 1997. A guide to the people and
        languages of Nusa Tenggara. Kupang: Artha Wacana Press.
Halliday, M.A.K. 1994. An introduction to functional grammar. London: E. Arnold.
Hardjadibrata, R.R. 1985. Sundanese : a syntactical analysis. Canberra: Linguistic Circle
        of Canberra, ANU.
Himmelmann, N.P, and J.U Wolff. 1999. Toratàn (Ratahan). München: Lincom Europa.
Himmelmann, N.P. 2002. Voice in two northern Sulawesi languages. In The history and
        typology of western Austronesian voice systems, edited by F. Wouk and M. D.
        Ross, 123-142. Canberra: Pacific Linguistics.
Japa, I W. 2000. Properti Argumen Inti, Interpretasi Tipologis dan Struktur Kausatif
        Bahasa Lamaholot Dialek Nusa Tadon, S2 Linguistik, Universitas Udayana,
        Denpasar.
Jauhary, E. 2000. Pasif bahasa Bima. Master thesis, Linguistik, Udayana, Denpasar.
Klamer, M. 1998. A Grammar of Kambera. Berlin: Mouton de Gruyter.
Kosmas, Jaladu. 2000. Argumen aktor dan pemetaannya, S2 Linguistik, Universitas
        Udayana, Denpasar.
Kroeger, P. 1993. Phrase Structure and Grammatical Relations in Tagalog. Stanford:
        CSLI Publications.
Manning, C.D. 1996. Ergativity: Argument Structure and Grammatical Relations.
        Stanford: CSLI.
Mekarini, N. W. 2001. Diatesis dan pengikatan bahasa Dawan, PS Linguistik,
        Pascasarjana Unud, Denpasar.
Oka Antara, I M. 2001. Keintian argumen dan keselarasan pemarkahan bahasa Mauta, PS
        Linguistik, Pascasarjana Unud, Denpasar.
Partami, N.L. 2001. Relasi gramatikal dan perelatifan bahasa Buna, PS Linguistik,
        Pascasarjana, Unud, Denpasar.
Pawley, A. K. 1980. On meeting a language that defies description by ordinary means, at
        Lae.
Robins, R.H. 1983. Sistem dan struktur bahasa Sunda. Jakarta: Jambatan.
Sawardi, F.X. 2000. Argumen kompleks bahasa Lio (Complex arguments in Lio). MA
        thesis, Linguistics, Udayana University, Denpasar.
———. 2001. Kesimetrisan objek bahasa Jawa. Nuansa Indonesia 16 (15):16-22.

                                                                                       33
I Wayan Arka               TLF: prinsip dasar dan tantangannya


Sedeng, I N. 2000. Kalimat Kompleks dan Relasi Gramatikal Bahasa Sikka. Master
        Thesis, S2 Linguistik, Universitas Udayana, Denpasar.
Sells, P. 2001. Form and function in the typology of grammatical voice systems. In
        Optimality-Theoritic Syntax, edited by G. Legendre, J. Grimshaw and S. Vinker,
        355-391. Cambridge, Massachusetts: The MIT Press.
Simpson, J. 1991. Warlpiri-Morpho Syntax. Dordrecht: Kluwer.
Steinhauer, H. 1993. Notes on verbs in Dawanese. In Topics in descriptive Austronesian
        linguistics, edited by G. P. Reesink, 130-158. Leiden: Department of languages
        and Cultures of Southeast Asia and Oceania.
———, ed. 1996. Morphemic Metathesis in Dawanese (Timor). Edited by H. Steinhauer.
        Vol. no.3, Papers in Austronesian linguistics. Canberra: Pacific Linguistics.
Suciati, N .L. G. 2001. Alinasi gramatikal dan diatesis bahasa Tetun dialek Fehan, PS
        Linguistik, Program Pascasarjana, Universitas Udayana, Denpasar.
Sudaryanto, ed. 1991. Tata Bahasa Baku Bahasa Jawa. Yogyakarta: Duta Wacana
        University Press.
Teng, S. 2001. An introduction to Puyuma (Nanwang dialect). a seminar handout.
        Deparment of Linguistics, RSPAS, ANU. Canberra.
Tryon, D.T., ed. 1994. Comparative Austronesian Dictionary. An Introduction to
        Austronesian Studies. Berlin: Mouton de Gruyter.
Van den Berg, R. 1989. A Grammar of the Muna Language. Dordrecht-Holland: Forris
        Publications.
Van Klinken, Catharina L. 1999. A grammar of the Fehan dialect of Tetun, an
        Austronesian language of West Timor. Canberra: Pacific Linguistics.
Van Valin, R.D. , and R.J. LaPolla. 1999. Syntax. Structure, meaning and function.
        Cambridge: Cambridge University Press.
Verheijen, J.A.J. 1977. The lack of formative in affixes in the Manggarai language. NUSA
        5:35-37.
Verheijen, J.A.J., and C.E. Grimes. 1995. Manggarai. In Comparative Austronesian
        Dictionary. An Introduction to Austronesian Studies., edited by D. T. Tryon, 585-
        592. Berlin: Mouton de Gruyter.
Vries, Lourens de. 1993. Forms and functions in Kombai, an Awyu language of Irian
        Jaya. Canberra: Pacific Linguistics.
Webelhuth, G, ed. 1995. Government and Binding Theory and the Minimalist Program.
        Oxford: Blackwell.
Woollams, G. 1996. A Grammar of Karo Batak, Sumatra, Pacific Linguistics Series C-
        130. Canberra.: Department of Linguistics, Australian National University,.
Yudha, I K. 2001. Fungsi gramatikal argumen inti dalam sistem terpilah bahasa Kolana,
        Master thesis, PS Linguistik, Pascasarjana Unud, Universitas Udayana, Denpasar.




                                                                                      34