Docstoc

Perbedaan Gender Dalam

Document Sample
Perbedaan Gender Dalam Powered By Docstoc
					    st
The 1 PPM National Conference on Management Research “ Manajemen di Era Globalisasi”
Sekolah Tinggi Manajemen PPM, 7 November 2007



                   PERBEDAAN GENDER DALAM
           KONFLIK ANTARA PEKERJAAN DAN KELUARGA
         PADA STAF AKADEMISI PERGURUAN TINGGI SWASTA
                                        Th. Agung M. Harsiwi
                                   Universitas Atma Jaya Yogyakarta

                                          Abstract
        This study examines conflict between work and family in two directions (work to
family and family to work) and gender differences in work-family conflict (WFC) and
family-work conflict (FWC). Finally, this study clarifies gender differences in the
predictors of conflict within each domain. Research object is academician from 16 private
universities or college in Kopertis Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta. Research use
instrument of WFC and FWC from Carikci (2002) and data analysis method use
descriptive statistics, independent sample t-test and hirarchical regression. The result
reports men have higher level of WFC than women, there are not different among men and
women. Women have higher level of FWC than men, eventhough there are not different
among men and women. The predictor of WFC for women is take away the job and for
men is living with parents or parents-in-law, beside that, the predictor of FWC for women
is take away the job, having childrens, availability of housework help and for men is status
of private universities or college, job tenure, functional position, living with parents or
parents-in-law.

Keywords: work-family conflict, family-work conflict, gender

PENDAHULUAN
        Peningkatan jumlah wanita bekerja, jumlah wanita bekerja yang berstatus sebagai
ibu, sampai dengan jumlah pasangan suami isteri yang keduanya bekerja telah menuntut
organisasi untuk mengadopsi kebijakan yang tanggap terhadap isu tentang konflik antara
pekerjaan dan keluarga.
        Konflik antara pekerjaan dan keluarga terjadi dari upaya individu untuk
mempertemukan tuntutan konflik yang berlebihan dari domain atau area yang berbeda di
tempat individu-individu tersebut beraktivitas. Jadi, konflik terjadi akibat keterkaitan
antara peran-peran pekerjaan dan keluarga.

TINJAUAN PUSTAKA
        Ada 2 konsep konflik antara pekerjaan dan keluarga menurut Marchese et al.
(2002), yaitu konflik kerja-keluarga, pekerjaan mempengaruhi keluarga atau Work-Family
Conflict (WFC) dan konflik keluarga-kerja, keluarga mempengaruhi pekerjaan atau
Family-Work Conflict (FWC). Contoh WFC adalah keluarga terlantar akibat tanggung
jawab pekerjaan menyita waktu karyawan berkeluarga, contoh FWC adalah gangguan
kerja akibat tanggung jawab keluarga dari karyawan.
        Greenhaus (2004) melihat WFC terjadi jika pekerjaan bertentangan dengan
kehidupan keluarga, sedang FWC terjadi jika keluarga bertentangan dengan kehidupan
kerja. Penyebab WFC adalah tekanan lingkungan kerja, seperti ketidakpastian dan
ketidakluwesan jam kerja, perjalanan jauh, kelebihan beban, transisi karir, dan tidak ada
dukungan atasan. Penyebab FWC adalah tekanan lingkungan keluarga, seperti kehadiran
anak kecil, tanggung jawab utama pada anak, perhatian pada orang tua, dan tidak ada
dukungan keluarga.
         Menurut Abbott, Cieri, dan Iverson, 1998 dalam Triaryati (2003), meski konflik
pekerjaan dan keluarga disadari masalah bagi pria maupun wanita, masalah tersebut tetap
saja memberikan tanggung jawab tambahan bagi wanita yang memiliki keluarga dan
bekerja. Seorang wanita profesional yang telah menikah dan memiliki status karir yang
sama dengan suaminya, tetap menghadapi pola tradisional yang tidak seimbang dalam
tugas menjaga anak dan pekerjaan rumah tangga sehari-hari seperti dikutip Vinokur,
Pierce, dan Buck, 1999 dalam Triaryati (2003).
         Lambert, 1990 dalam Carikci (2002) menyatakan dua hipotesis yang
mempertimbangkan perbedaan gender pada sumber konflik. Pertama, hipotesis domain
flexibility memprediksi domain pekerjaan sebagai sumber konflik lebih besar daripada
domain keluarga, baik pada pria maupun wanita. Kedua, hipotesis domain salience
memprediksi domain keluarga sebagai sumber konflik lebih besar bagi wanita, domain
pekerjaan merupakan sumber konflik lebih besar bagi pria.
         Banyak penelitian mendukung domain flexibility yang berdampak pada konflik
kerja-keluarga (WFC) lebih besar daripada konflik keluarga-kerja (FWC). Netemeyer et
al., 1996 dalam Haar (2004) menemukan keluarga lebih penting daripada pekerjaan, maka
orang cenderung berharap konflik kerja-keluarga lebih besar daripada konflik keluarga-
kerja. Izraeli, 1993, Evans dan Bartolome, 1984 dalam Carikci (2002) mengklaim domain
pekerjaan kurang fleksibel, jadi pekerjaan lebih mempengaruhi keluarga daripada
sebaliknya.
         Hipotesis domain salience didukung oleh Hall, 1972 dalam Carikci (2002) bahwa
wanita mungkin mengalami lebih banyak konflik peran sebagai akibat peran ganda yang
simultan dimilikinya. Tekanan dari domain keluarga seperti kehadiran anak kecil, dan
tekanan domain pekerjaan seperti jumlah hari kerja per minggu.
         Boyar et al. (2003) mengartikan tanggung jawab keluarga sebagai kewajiban
memperhatikan orang lain secara formal/informal sebagai anggota keluarga. Misal,
pasangan/orang lain yang signifikan, seperti orang tua, anak, saudara kandung, dan anak
saudara kandung. Higgins et al., 1992 dalam Boyar et al. (2003) menemukan keterlibatan
keluarga terkait dengan konflik keluarga-kerja, tetapi tidak berhubungan dengan konflik
kerja-keluarga. Tingginya tanggung jawab keluarga meningkatkan waktu yang dibutuhkan
dan tekanan pada keluarga, maka kelebihan beban itu terkait dengan peran kerja orang itu
(Boise dan Neal, 1996 dalam Boyar et al., 2003).

METODE PENELITIAN
       Populasi adalah seluruh staf akademisi PTS di Kopertis Wilayah V DIY, sedang
sampel adalah staf akademisi yang telah menikah, dosen tetap PTS, dan tidak studi lanjut.
Sampel diambil dengan purposive sampling dan direncanakan 300 orang. Hanya 226
kuesioner yang kembali dan 199 kuesioner lengkap dan dapat diproses lebih lanjut. Oleh
karena itu response rate keseluruhan mencapai 75,3%.


                                                                                       2
       Data dikumpulkan dengan instrumen WFC dan FWC milik Ilker Carikci (2002),
yang terdiri dari 5 item WFC dan 4 item FWC. Seluruh item berskala Likert mulai
favorable berskor 6 sampai unfavorable berskor 1.
       Data diolah dengan statistik deskriptif untuk profil, statistik inferensi dengan
independent sample t-test untuk mengeksplorasi besaran WFC dan FWC dan perbedaan
WFC dan FWC menurut gender, serta regresi hirarki untuk menguji prediktor yang
mempengaruhi WFC dan FWC.

HASIL PENELITIAN
       Kuesioner terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitas dengan metode try-out
terpakai. Pengujian menunjukkan seluruh item valid dan reliabel dengan alpha cronbach
WFC 0,7653 dan alpha cronbach FWC 0,8011.
       Profil responden dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini.
                                          TABEL 1
                                     PROFIL RESPONDEN
   DOMAIN PEKERJAAN            JUMLAH         DOMAIN KELUARGA             JUMLAH
                                   (%)                                      (%)
                              Ukuran sampel = 199 (100%)
 Jenis kelamin                             Usia responden
   Wanita                      97 (48,7%)      < 31 tahun                   10 (5,0%)
   Pria                       102 (51,3%)      31-40 tahun                109 (54,8%)
                                               41-50 tahun                 61 (30,7%)
                                               51-60 tahun                  15 (7,5%)
                                               > 61 tahun                   4 (2,0%)
 Pendidikan formal terakhir                Bertempat tinggal bersama
   Strata 1                    36 (18,1%) orang tua/mertua
   Strata 2                   157 (78,9%)      Ya                          29 (14,6%)
   Strata 3                     6 (3,0%)       Tidak                      170 (85,4%)
 Status PTS tempat bekerja                 Mempunyai anak
   Universitas                176 (88,4%)      Ya                         190 (95,5%)
   Sekolah Tinggi              23 (11,6%)      Tidak                        9 (4,5%)
 Lama bekerja                              Jumlah tanggungan kepala
   < 2 tahun                    4 (2,0%)   keluarga
   2-6 tahun                   32 (16,1%)      1-2 orang                   77 (38,7%)
   6-10 tahun                  51 (25,6%)      3-4 orang                  102 (51,3%)
   10-14 tahun                 56 (28,1%)      5-6 orang                    17 (8,5%)
   > 14 tahun                  56 (28,1%)      > 6 orang                     3 (1,5%)
 Golongan ruang                            Jumlah orang tinggal dalam 1
    III/a                      53 (26,6%) rumah
    III/b                      40 (20,1%)      1-2 orang                    12 (6,0%)
    III/c                      58 (29,1%)      3-4 orang                  101 (50,8%)
    III/d                      28 (14,1%)      5-6 orang                   74 (37,2%)
    IV/a                        16 (8,0%)      > 6 orang                    12 (6,0%)
    IV/b                        2 (1,0%)
    IV/c                        2 (1,0%)
 Jabatan fungsional                        Jumlah anak
    Asisten ahli              101 (50,8%)      Tidak ada                   7 (3,5%)
    Lektor                     88 (44,2%)      1 orang                    67 (33,7%)
    Lektor kepala               10 (5,0%)      2 orang                    80 (40,2%)
                                               3 orang                    37 (18,6%)
                                               4 orang                     6 (3,0%)
                                               Missing                     2 (1,0%)
 Menduduki jabatan                         Jumlah anak di bawah 10



                                                                                        3
    Ya                            88 (44,2%)   tahun
    Tidak                        111 (55,8%)       Tidak ada                    70 (35,2%)
                                                   1 orang                      69 (34,7%)
                                                   2 orang                      53 (26,6%)
                                                   3 orang                       5 (2,5%)
                                                   Missing                       2 (1,0%)
 Membawa pulang pekerjaan                      Ada pembantu pekerjaan RT
    Ya                           143 (71,9%)       Ya                          130 (65,3%)
    Tidak                         56 (28,1%)       Tidak                        69 (34,7%)
Sumber : Data primer (2007)
       Perbedaan konflik pekerjaan dan keluarga, baik WFC maupun FWC menurut
gender secara detail dapat dilihat dalam tabel 2 berikut ini.

                                TABEL 2
  PERBEDAAN KONFLIK PEKERJAAN DAN KELUARGA (WFC DAN FWC)                                DENGAN
                  PENGUJIAN INDEPENDENT SAMPLE T-TEST

    KATEGORI           MEAN      UJI F     KESIMPULAN         UJI t        KESIMPULAN
    MENURUT                      (sig.)                       (sig.)
 WFC menurut jenis
 kelamin
   Pria                13,3922    0,031     Kedua varians      1,703       Kedua rata-rata
   Wanita              12,6495   (0,860)   populasi identik   (0,090)      populasi identik
 FWC menurut jenis
 kelamin
   Pria                 9,2451    1,340     Kedua varians      -0,687      Kedua rata-rata
   Wanita               9,5052   (0,248)   populasi identik   (0,493)      populasi identik
Sumber: data diolah (2007)

        Tabel 2 menunjukkan dalam masyarakat akademis, gangguan pekerjaan terhadap
keluarga (WFC) lebih lazim atau lebih umum terjadi dibandingkan gangguan keluarga
terhadap pekerjaan (FWC). Selain itu, WFC staf akademisi pria lebih tinggi daripada WFC
staf akademisi wanita (13,3922 : 12,6495), sebaliknya FWC staf akademisi wanita lebih
tinggi daripada FWC staf akademisi pria (9,5052 : 9,2451). Hal ini menunjukkan pria
cenderung mengalami konflik di dalam keluarga sebagai akibat urusan kantor atau
pekerjaan yang mengganggu domain keluarga (WFC), sedangkan wanita cenderung
mengalami konflik di kantor sebagai akibat dari urusan keluarga yang mengganggu
pekerjaan (FWC).
        Hasil pengujian dengan independent sample t-test menegaskan tidak ada
perbedaan konflik kerja-keluarga (WFC) yang signifikan antara staf akademisi pria dan
wanita sebagaimana ditandai dengan nilai uji F 0,031 (p=0,860) dan uji t 1,703 (p=0,090).
Demikian pula, tidak ada perbedaan konflik keluarga-kerja (FWC) yang signifikan antara
staf akademisi pria dan wanita sebagaimana ditandai dengan nilai uji F 1,340 (p=0,248)
dan uji t -0,687 (p=0,493).
        Identifikasi prediktor yang mempengaruhi WFC pada staf akademisi pria dan
wanita dilakukan terpisah sebagaimana terlihat pada tabel 3 berikut ini.




                                                                                                 4
                                  TABEL 3
         HASIL REGRESI HIRARKI UNTUK KONFLIK KERJA-KELUARGA (WFC)
                                   WANITA (n=97)                       PRIA (n=102)
                                         2        2
PERSAMAAN                   B        R       ∆R         F       B       R2     ∆R2       F
Variabel Independen
Langkah I: demografi
  Usia                    0,43*                                -0,33
  Indeks pendidikan1      0,08*                        1,23    0,17                    2,76*
  Indeks pendidikan2       0,07     0,038    0,038    (0,30)   0,06    0,078   0,078   (0,04)
Langkah II: domain
keluarga
  Bertempat tinggal
  dengan ortu/mertua       -0,02                               0,27*
  Jumlah orang dalam 1
  rumah                    0,07                                -0,01
  Jumlah tanggungan
  kepala keluarga          -0,03                               0,11
  Mempunyai anak           -0,18                               0,03
  Jumlah anak              -0,28                               0,20
  Jumlah anak kecil
  (<10 tahun)              0,20                                -0,13
  Adanya pembantu                                      0,91                             1,85
  pekerjaan RT             -0,12    0,096    0,058    (0,52)   0,05    0,169   0,091   (0,06)
Langkah III: domain
pekerjaan
  Status PTS tempat
  bekerja                  -0,05                               -0,15
  Lama bekerja sebagai
  staf akademisi           -0,16                               -0,08
  Golongan ruang           0,07                                0,02
  Jabatan fungsional       -0,21                               0,05
  Menduduki jabatan
  struktural               -0,04                               -0,00
  Membawa pulang                                       1,68                             1,37
  pekerjaan               0,33*     0,253    0,157    (0,06)   0,09    0,205   0,036   (0,17)
 Sumber : Data Diolah (2007)
      Angka R square untuk WFC wanita 0,253 yang berarti 25,3% variasi dari WFC
wanita dijelaskan oleh variasi dari variabel bebasnya, sisanya dijelaskan oleh sebab lain.
Sementara itu angka R square untuk WFC pria 0,205 yang berarti 20,5% variasi dari WFC
pria dijelaskan oleh variasi dari variabel bebasnya, sisanya dijelaskan oleh sebab lain.
Secara umum, R square kedua persamaan tidak berbeda.
      Persamaan regresi bagi wanita pada tabel 3 menunjukkan dari sekumpulan anteseden
yang membentuk persamaan tersebut, domain pekerjaan memberikan kontribusi
tertinggi dengan ∆ R square 15,7%, diikuti domain keluarga yang memberi kontribusi ∆ R
square 5,8% dan nilai F 1,68 (p=0,06).
        Di antara domain pekerjaan hanya variabel membawa pulang pekerjaan yang
signifikan dengan beta 0,33 dan nilai t 3,329 (p=0,01). Aktivitas membawa pulang
pekerjaan berpengaruh pada peningkatan WFC, karena membawa pulang pekerjaan dapat
menimbulkan gangguan dalam melaksanakan tanggung jawab keluarga. Peningkatan
konflik keluarga akibat pekerjaan dibawa pulang dapat terjadi jika anggota keluarga




                                                                                                5
(suami, anak-anak, orang tua/mertua, atau lainnya) tidak memahami profesi seorang staf
akademisi yang sebagian besar (71,9%) membawa pulang pekerjaannya (lihat tabel 1).
       Tabel 3 juga menunjukkan persamaan regresi bagi pria yang menegaskan dari
sekumpulan anteseden yang membentuk persamaan tersebut, domain keluarga
memberikan kontribusi tertinggi dengan ∆ R square 9,1%, diikuti domain pekerjaan
dengan kontribusi ∆ R square 3,6%.
       Di antara domain keluarga hanya variabel bertempat tinggal bersama orang
tua/mertua yang signifikan dengan beta 0,27 dan nilai t 2,454 (p=0,016), berarti prediktor
konflik kerja-keluarga bagi pria adalah variabel bertempat tinggal bersama orang
tua/mertua. Bertempat tinggal bersama orang tua/mertua berpengaruh pada peningkatan
WFC karena bertempat tinggal bersama orang tua/mertua dapat menimbulkan gangguan
dalam melaksanakan tanggung jawab pekerjaan karena tidak semua aktivitas pekerjaan
dapat dipahami oleh orang tua/mertua yang dapat melihatnya sebagai gangguan dalam
kehidupan keluarga. Dengan kata lain, kebebasan yang timbul di rumah (termasuk bekerja
di rumah) akan berkurang karena bertempat tinggal bersama orang tua/mertua.
       Identifikasi prediktor yang mempengaruhi FWC pada staf akademisi pria dan
wanita dilakukan terpisah sebagaimana terlihat pada tabel 4 berikut ini.
                                  TABEL 4
         HASIL REGRESI HIRARKI UNTUK KONFLIK KELUARGA-KERJA (FWC)
                                 WANITA (n=97)                        PRIA (n=102)
                                       2        2
PERSAMAAN                 B        R       ∆R         F        B       R2     ∆R2       F
Variabel Independen
Langkah I: demografi
  Usia                   0,26                                -0,06
  Indeks pendidikan1     0,10                        0,62    0,28*                     2,40
  Indeks pendidikan2     -0,18    0,020    0,020    (0,60)   0,05     0,068   0,068   (0,07)
Langkah II: domain
pekerjaan
  Status PTS tempat
                         -0,06
  bekerja                                                    -0,29*
  Lama bekerja sebagai
                         -0,19
  staf akademisi                                             -0,38*
                         -0,00
  Golongan ruang                                              0,26
                         -0,11
  Jabatan fungsional                                         -0,32*
  Menduduki jabatan
                         -0,20
  struktural                                                 -0,08
                                                     1,67                             3,21*
  Membawa pulang
                         0,25*    0,148    0,128    (0,10)            0,239   0,171   (0,02)
  pekerjaan                                                  0,16




                                                                                               6
 Langkah III: domain
 keluarga
   Bertempat tinggal
   dengan ortu/mertua       -0,09                            0,27*
   Jumlah orang dalam 1
   rumah                    0,26                             0,04
   Jumlah tanggungan
   kepala keluarga          -0,12                            0,13
   Mempunyai anak          -0,22*                            0,03
   Jumlah anak              -0,20                            0,18
   Jumlah anak kecil (<10
   tahun)                   0,19                             -0,07
   Adanya pembantu                                  1,88*                            2,93*
   pekerjaan RT            -0,31*   0,274   0,126   (0,03)   0,05    0,356   0,117   (0,01)
Sumber : Data Diolah (2007)
      Angka R square untuk FWC wanita sebesar 0,274 yang berarti 27,4% variasi dari
FWC wanita dijelaskan oleh variasi dari variabel bebasnya, sisanya dijelaskan oleh sebab
lain. Sementara itu angka R square untuk FWC pria 0,356 yang berarti 35,6% variasi dari
FWC pria dijelaskan oleh variasi dari variabel bebas, sedangkan sisanya dijelaskan oleh
sebab lain. R square FWC pria lebih besar daripada wanita.
       Persamaan regresi bagi wanita pada tabel 4 menunjukkan dari sekumpulan
anteseden yang membentuk persamaan tersebut, domain pekerjaan memberikan
kontribusi tertinggi dengan ∆ R square 12,8%, diikuti domain keluarga dengan
kontribusi ∆ R square 12,6% dan nilai F 1,88 (p=0,03).
      Di antara domain pekerjaan hanya variabel membawa pulang pekerjaan yang
signifikan dengan beta 0,25 dan nilai t 2,552 (p=0,013). Sedang dari domain keluarga,
variabel mempunyai anak dan ada pembantu pekerjaan rumah tangga signifikan dengan
beta -0,22 dan nilai t -2,005 (p=0,048) serta beta -0,317 dan nilai t -2,817 (p=0,006).
Aktivitas membawa pulang pekerjaan berpengaruh pada peningkatan FWC, dapat
mengakibatkan terbengkalainya pekerjaan itu jika saat yang sama keluarga perlu perhatian
dari staf akademisi wanita. Gangguan ini terjadi jika anggota keluarga tidak memahami
profesi yang dijalani staf akademisi wanita.
      Mempunyai anak berpengaruh pada penurunan FWC, berarti dengan mempunyai
anak dapat menurunkan gangguan keluarga dalam melaksanakan tanggung jawab
pekerjaan. Hal ini dapat dimengerti karena adanya anak-anak menjadi pendorong
semangat bekerja dalam menjalani profesinya. Bahkan terdapat fenomena menarik, meski
kelelahan karena pekerjaan di kantor, namun jika berjumpa dengan anak-anaknya di
rumah segala kelelahan hilang tanpa bekas. Efek psikologis ini mungkin terjadi karena
dengan mempunyai anak makin memaknai eksistensi staf akademisi wanita, selain sebagai
wanita karir sekaligus istri bagi suaminya dan ibu bagi anak-anaknya. Sebaliknya bagi staf
akademisi wanita yang tidak/belum mempunyai anak dapat berpengaruh pada peningkatan
FWC. Ketiadaan anak menjadi beban pikiran tersendiri yang sangat mungkin
menimbulkan gangguan pada tanggung jawab pekerjaan sebagai akibat dari persoalan itu
dalam keluarganya.
       Adanya pembantu dalam pekerjaan rumah tangga berpengaruh pada penurunan
FWC, berarti adanya orang lain yang membantu pekerjaan rumah tangga dapat



                                                                                              7
menurunkan gangguan keluarga dalam melaksanakan tanggung jawab pekerjaan. Hal itu
dapat meningkatkan konsentrasi staf akademisi wanita dalam bekerja karena sebagian
beban tanggung jawab keluarga dialihkan pada orang lain.
        Persamaan regresi bagi pria pada tabel 4 menunjukkan dari sekumpulan anteseden
yang membentuk persamaan itu, domain pekerjaan memberikan kontribusi tertinggi
dengan ∆ R square 17,1% dan nilai F 3,21 (p=0,02), diikuti domain keluarga dengan
kontribusi ∆ R square 11,7% dan nilai F 2,93 (p=0,01).
        Di antara domain pekerjaan variabel yang signifikan adalah status PTS dengan beta
-0,29 dan nilai t -3,121 (p=0,02), lama bekerja dengan beta -0,38 dan nilai t -3,053
(p=0,03), dan jabatan fungsional dengan beta -0,32 dan nilai t -1,992 (p=0,05). Di antara
domain keluarga hanya variabel bertempat tinggal bersama orang tua/mertua yang
signifikan dengan beta 0,27 dan nilai t 2,639 (p=0,01), berarti prediktor konflik keluarga-
kerja bagi pria adalah variabel status PTS, lama bekerja, jabatan fungsional, dan bertempat
tinggal dengan orang tua/mertua.
        Jika status PTS tempat staf akademisi bekerja adalah universitas akan menurunkan
FWC, berarti dengan bekerja di universitas menurunkan gangguan keluarga dalam
melaksanakan tanggung jawab pekerjaan. Hal ini dapat dimengerti karena dengan bekerja
di universitas, seorang staf akademisi dapat mengembangkan Tri Dharma Perguruan
Tinggi yang menjadi tuntutan profesionalitas akademisi, tentu peluang pengembangan ini
mengarahkan staf akademisi itu pada kemapanan karir. Seiring dengan itu kemapanan
karir akan diikuti dengan kemapanan keluarga, sosial dan ekonomi keluarga, sehingga
gangguan pekerjaan dari tanggung jawab keluarga akan menurun karena faktor
kemapanan tersebut.
         Semakin lama bekerja menurunkan FWC, berarti semakin lama bekerja dapat
menurunkan gangguan keluarga dalam melaksanakan tanggung jawab pekerjaan. Bagi staf
akademisi pria yang menjadi tulang punggung keluarga, semakin lama bekerja
menciptakan kemapanan sosial dan ekonomi pada dirinya diiringi dengan kemapanan
sosial dan ekonomi keluarga, maka gangguan pekerjaan dari tanggung jawab keluarga
menurun karena faktor kemapanan itu.
        Semakin tinggi jabatan fungsional staf akademisi menurunkan FWC, berarti
semakin tinggi jabatan fungsional menurunkan gangguan keluarga dalam melaksanakan
tanggung jawab pekerjaan. Semakin tinggi jabatan fungsional mencerminkan kemapanan
karir staf akademisi pria yang berdampak pada kemapanan sosial dan ekonomi keluarga,
maka gangguan pekerjaan dari tanggung jawab keluarga menurun karena faktor
kemapanan itu.
        Bertempat tinggal bersama orang tua/mertua berpengaruh pada peningkatan FWC,
berarti bertempat tinggal bersama orang tua/mertua dapat menimbulkan gangguan dalam
melaksanakan tanggung jawab pekerjaan sebagai akibat dari tanggung jawab keluarga
yang dibebankan pada staf akademisi pria. Peningkatan konflik pekerjaan sebagai akibat
tanggung jawab menjaga orang tua/mertua yang tinggal bersama terjadi jika orang
tua/mertua sudah berusia lanjut dan mulai renta dan membutuhkan perhatian dari anak
atau menantunya.


                                                                                         8
PENUTUP
Kesimpulan
        Studi ini membuktikan konflik kerja-keluarga lebih lazim terjadi daripada konflik
keluarga-kerja, baik pada staf akademisi pria maupun wanita seperti ditunjukkan dari
WFC yang relatif tinggi dan FWC yang relatif rendah. Sekalipun WFC pria lebih tinggi
daripada wanita dan FWC wanita lebih tinggi daripada pria, tidak terdapat perbedaan
WFC maupun FWC menurut gender.
        Dapat pula disimpulkan hipotesis domain flexibility menurut Lambert, 1990
(domain pekerjaan adalah sumber konflik yang lebih besar daripada domain keluarga, baik
pada pria maupun wanita) telah terbukti dalam penelitian ini. Hal ini konsisten dengan
temuan penelitian terdahulu yang membuktikan WFC lebih besar daripada FWC.
Tingginya WFC karena domain pekerjaan kurang fleksibel jika dibandingkan dengan
domain keluarga, maka pekerjaan lebih mempengaruhi keluarga daripada sebaliknya.
        Selain itu dapat disimpulkan hipotesis domain salience menurut Lambert, 1990
(domain keluarga merupakan sumber konflik yang lebih besar bagi wanita daripada
domain pekerjaan, sebaliknya domain pekerjaan merupakan sumber konflik yang lebih
besar bagi pria daripada domain keluarga) telah terbukti dalam penelitian ini. Hal ini
konsisten dengan temuan penelitian terdahulu yang membuktikan WFC lebih dominan
terjadi pada pria dan FWC lebih dominan terjadi pada wanita. Kondisi ini terjadi karena
wanita mengalami lebih banyak konflik peran sebagai akibat peran simultan yang dimiliki.
          Dominasi konflik kerja-keluarga pada staf akademisi pria dapat disebabkan
karena orientasi kaum pria lebih banyak di sektor publik, sehingga gangguan yang sering
muncul justru konflik di dalam keluarga yang berbenturan           domain pekerjaan pria
tersebut. Di satu sisi, pria dihadapkan pada fungsi kepala keluarga yang menjadi tumpuan
penghidupan keluarga yang mengharuskan pria bertanggung jawab penuh atas kehidupan
keluarganya. Tanpa dukungan anggota keluarga, konflik kerja-keluarga akan sering terjadi
pada diri staf akademisi pria.
          Sebaliknya, dominasi konflik keluarga-kerja pada staf akademisi wanita karena
budaya ketimuran yang kuat. Salah satunya pandangan tugas utama wanita adalah di
sektor domestik, bukan di sektor publik, maka wanita dapat mengalami konflik kerja yang
disebabkan domain keluarga relatif lebih tinggi dibanding pria. Dikotomi peran publik dan
peran domestik yang mengakar dalam masyarakat pada gilirannya menyebabkan tidak
profesionalnya akademisi wanita dalam menjalani pekerjaan, bahkan karirnya, maka
selama pendapat itu masih “di-amini” konflik keluarga-kerja yang dialami staf akademisi
wanita akan semakin besar.
Keterbatasan
        Meski studi ini berhasil membuktikan tidak ada perbedaan konflik antara
pekerjaan dan keluarga menurut gender, perlu perhatian untuk penelitian selanjutnya
dalam melakukan generalisasi hasil karena responden adalah staf akademisi yang
berkarakteristik unik. Keterbatasan lain adalah variasi persamaan regresi sangat kecil,
maka dipastikan ada variabel lain yang lebih berpengaruh pada konflik antara pekerjaan
dan keluarga, jadi ada baiknya memasukkan anteseden lain.


                                                                                       9
                                DAFTAR PUSTAKA

Boyar, Scott L., Carl P. Maertz, Jr., Allison W. Pearson, dan Shawn Keough. 2003. Work-
       Family Conflict: A Model of Linkages Between Work and Family Domain
       Variables and Turnover Intentions. Journal of Managerial Issues, Vol. XV. No. 2.
       pp:175-191.
Carikci, Ilker. 2002. (Downloaded January 26, 2004). Gender Differences in Work Family
       Conflict among Managers in Turkey: Non Western Perspective. Presentation at
       EURAM, May 2002. Available at http://www.bc.ed.
Greenhaus, Jeffrey H. (Dowloaded: January 26, 2004). Work-Family Conflict. Available
       at http://www.bcfwp.org.
Haar, Jarrod M. (Downloaded: January 26, 2004). Examining Work-Family Conflict
       Within a New Zealand Local Government Organization. Available at
       http://www.hrinz.org.nz.
Marchese, et. al. 2002. Work-Family Conflict : A Virtue Ethics Analysis. Journal of
       Business Ethics. Netherlands. Kluwer Academic Publishers.
Triaryati, Nyoman. 2003. Pengaruh Adaptasi Kebijakan Mengenai Work Family Issue
       Terhadap Absen dan Turnover. Jurnal Manajemen & Kewirausahaan. Vol. 5.
       No.1.pp: 95-96.




                                                                                    10

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:593
posted:8/3/2010
language:Indonesian
pages:10
Description: Human Resource Management journal from The 1st PPM National Conference on Management Research “ Manajemen di Era Globalisasi”