Docstoc

Studi Exploratori Profil dan Status Adopsi Teknologi dan Manajemen Teknologi pada Perusahaan Manu

Document Sample
Studi Exploratori Profil dan Status Adopsi Teknologi dan Manajemen Teknologi pada Perusahaan Manu Powered By Docstoc
					    st
The 1 PPM National Conference on Management Research “ Manajemen di Era Globalisasi”
Sekolah Tinggi Manajemen PPM, 7 November 2007



STUDI EXPLORATORI PROFIL DAN STATUS ADOPSI TEKNOLOGI
     DAN MANAJEMEN TEKNOLOGI PADA PERUSAHAAN
             MANUFAKTUR DI JAWA TIMUR
                                                Lena Ellitan
                                Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya


                                               ABSTRACT
With increasing global competition for manufacturers, interests have grown among
researchers and practitioners in the role of technologies in assisting firms to achieve and to
maintain competitive edge. Although greater attentions have been given to the numerous
technology management and technology adoption issues, many organizations still fail to
manage their technology effectively and strategically. This paper is base on a field
investigation via face to face interviews with the top management, that was done in East Java
involving medium and large manufacturing companies from tobacco, plastic, pulp, furniture,
textile, cable and plywood sectors. This research is an exploratory to investigate the extent of
technology adoption and its management in medium and large Indonesian manufacturing
companies. Further, this study investigates the technology benefits perceived by respondents.
The study found that (1) The Indonesian manufacturing companies still lack the strategic
perspective when adopting technologies and they are more concern with short-term driver.
(2) They face problems related to people and organizational issues. (3) Lack of expertise and
lack of funds for investments are major inhibitors when adopting new technology. In
addition, the latter limits the choice technologies and together with the economic situation of
this country enforced short-term mindset of the top management.

PENDAHULUAN
        Pada beberapa dekade akhir ini banyak organisasi perusahaan telah melakukan
investasi teknologi secara besar-besaran, serta mengadopsi teknologi proses, maupun
teknologi produk untuk tetap bisa bersaing. Meningkatnya investasi teknologi telah menarik
perhatian para ahli dan peneliti untuk mengkaji secara lebih mendalam mengenai faktor-faktor
yang terkait dengan adopsi teknologi, bagaimana mengelola teknologi, dan strategi teknologi
yang dilakukan oleh perusahaan.
        Meskipun telah banyak studi yang memfokuskan pada faktor-faktor yang
mensukseskan adopsi teknologi maupun inovasi teknologi namun sedikit saja studi empiris
yang dilakukan dalam mengkaji hubungan antara adopsi teknologi dengan kinerja perusahaan.
Salah satu alasan kurangnya studi empirik yang menyoroti pengaruh antara adopsi teknologi
dengan kinerja adalah anggapan bahwa adopsi teknologi sudah pasti menguntungkan bagi
pihak yang mengadopsinya (adopter), tanpa mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti
manajemen teknologi, dan strategi teknologi, dan juga integrasi teknologi dengan strategi
bisnis dan strategi manufaktur. Rogers (dalam Irwin dan Hoffman, 1998) mengatakan hal ini
sebagai ‘pro innovation bias’.
        Sementara studi empirik yang mengkaji pengaruh adopsi teknologi terhadap kinerja
masih sedikit dilakukan sangat banyak literatur konseptual yang membahas hubungan
potensial antara adopsi teknologi dengan kinerja (Porter, 1985; Morone, 1989; Higgins, 1995;
Hottenstein and Dean, 1995). Dalam literatur sering dibahas dan dikemukakan bahwa
teknologi merupakan sumber potensial untuk mencapai keunggulan kompetitif. Madique dan
Patch (1988) mengemukakan bahwa kehadiran teknologi merupakan kekuatan kritis dalam
lingkungan kompetitif. Teknologi merupakan sumber kekuatan kompetitif (Morone, 1989)
dan kemajuan teknologi akan memainkan peran penting dalam mencapai kemampulabaan
jangka panjang (Stacey and Ashton, 1990). Teknologi juga diidentifikasi sebagai faktor yang
memberikan kontribusi terhadap keberhasilan operasi perusahaan (Higgins, 1995).
        Berdasar pada tinjauan konseptual yang beberapa studi empiris yang telah dilakukan,
maka perlu dilakukan suatu studi empiris yang khusus menyelidiki tentang adopsi teknologi
dalamhubungannya dengan kinerja. Teknologi dalam studi ini meliputi hard technology dan
soft technology. Hard technology terdiri dari peralatan atau sarana proses, teknologi berbasis
komputer (computer based technology), dan teknologi manufaktur maju (advanced
manufacturing technology). Sementara soft technology meliputi sistem yang mengendalikan
teknik dan proses-proses sumber daya manusia dalam organisasi yang meliputi: Total Quality
Management, Just In Time, Total Productive Maintenance, Manufacturing Resources
Planning, dan benchmarking.
        Hal lain yang perlu ditegaskan adalah studi ini lebih difokuskan kepada teknologi
proses, atas dasar pertimbangan dari hasil-hasil studi terdahulu, dan pengalaman negara-
negara berkembang seperti Thailand (Ignance, et. al., 1998), China (Chen, 1995, Tsang,
1995), Korea (Kim & Ro, 1995), negara-negara di Timur tengah seperti Turkey (Burgess, et
all. 1998) dan Arab Saudi (Al Ali, 1995), maupun negara-negara di Amerika Latin (Correa,
1995), yang menunjukan bahwa teknologi proses lebih ditekankan dan lebih dominan dalam
usaha meningkatkan keunggulan kompetitif. Salah satu alasan mengapa negara-negara
berkembang lebih tertumpu kepada teknologi proses adalah adanya keterbatasan ketrampilan,
tenaga ahli, dan keterbatasan biaya yang dimiliki industri-industri di negara-negara
berkembang.

2. Tujuan Studi Kasus
        Berdasar latar belakang masalah di atas, maka studi ini memiliki beberapa tujuan
antara lain:
    1. Untuk mengetahui tujuan umum adopsi teknologi oleh perusahaan manufaktur.
    2. Untuk mengetahui faktor eksternal dan internal yang mendorong perusahaan
        mengadopsi teknologi.
    3. Untuk mengidentikikasi jenis hard teknologi dan soft technology apa saja yang telah
        diadopsi dan mana yang lebih dominan digunakan, serta lebih dominan dalam
        mencapai keunggulan kompetitif.


                                                                                            2
   4. Untuk mengetahui bagaimana manajemen teknologi dilakukan, apa yang dilakukan
      perusahaan sebelum mengadopsi dan mengimplemetasikan teknologi baru, dasar apa
      saja yang digunakan sebagai pertimbangan dalam megadopsi teknologi baru, dari
      sumber mana saja ide baru diperoleh, dan siapa yang memonitor adopsi dan
      implementasi teknologi.
   5. Untuk mengetahui factor-faktor yang mendukung adopsi teknologi dan hambatan apa
      saja yang dihadapi dalam adopsi dan implementasi teknologi.
   6. Untuk mengetahui strategi teknologi yang dilakukan, yaitu dengan melihat technology
      sourcing, jenis teknologi proses atau teknologi produk yang lebih dominan serta di
      bidang apa saja perusahaan mengadopsi dan mempraktikan teknologi baru.
   7. Untuk mengetahui cara perusahaan mengembangkan kapabilitas teknologi dan benefit
      yang diharapkan serta yang telah diperoleh dengan mengadopsi teknologi baru.

TINJAUAN PUSTAKA
Teknologi Pada Industri Manufaktur
         Teknologi di satu sisi dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengenali
masalah-masalah teknis dan mengeksploitasi konsep-konsep yang dapat memecahkan
masalah teknis yang ada, serta di sisi lain teknologi merupakan peralatan atau perangkat
seperti equipment, software, dan hardware, yang digunakan untuk memecahkan masalah
operasional secara efektif dalam suatu organisasi (Autioe dan Leimanen, 1995). Teknologi
pada industri manufaktur mencakup hard technology dan soft technology. Hard technology
seperti Advanced Manufacturing Technology dan Computer Based Technology telah semakin
banyak diadopsi oleh indusrti menufaktur saat ini (Youseff, 1993; Schroeder dan Sohal, 1999;
Bucher, et al., 1999; Schroeder and Sohal, 1999).
         Peran Teknologi Manufaktur Maju dan Teknologi Berbasis Komputer terhadap kinerja
telah banyak dikaji secara konseptual maupun diuji secara empiris. Penelitian yang dilakukan
oleh Zammuto dan Connor (1992) pada industri manufaktur memberikan bukti bahwa
Teknologi Manufaktur Maju (AMT) memberikan beberapa manfaat seperti menurunkan
tenggang waktu (lead time) 40%, meningkatkan tingkat penggunaan mesin (machine
utilization) hingga 30 %, menurunkan biaya produksi sebesar 12%, dan juga menurunkan
biaya tenaga kerja dan biaya perbaikan kualitas produk dan proses sebesar 30%. Hasil
penelitian Youseff (1993) mengenai Teknologi Berbasis Komputer dan pengaruhnya terhadap
kinerja menunjukkan bahwa teknologi ini berhasil mengeliminasi aktivitas yang tidak
memberikan nilai tambah dan kelompok organisasi yang menerapkannya memiliki
fleksibilitas tinggi dibandingkan dengan kelompok yang tidak mengadopsinya.
         Di samping hard technology, soft technology juga memegang peranan penting dalam
proses operasional organisasi dan memperbaiki kinerja. Soft technology lebih dominan
digunakan daripada hard technology dalam kultur industri Jepang, maupun di negara-negara
berkembang. Soft technology merupakan sistem yang mengendalikan proses-proses teknis dan


                                                                                          3
proses sumber daya manusia dalam organisasi, seperti TQM, JIT, TPM, MRP2, dan juga
benchmarking (Harrison dan Samson,1997).
        TQM adalah optimasi kinerja pada semua bagian dan fungsi operasi, prosedur, sistem,
pengendalian, struktur, dan kultur organisasi (Warnock, 1996). TQM merupakan program
perbaikan terus menerus yang dilakukan secara bertahap dan tidak pernah berakhir (Sohal dan
Terziovsky, 2000). Beberapa hasil studi empiris menunjukkan bahwa penerapan TQM
memberikan hasil positif dalam meningkatkan produktivitas, provitabilitas maupun kinerja
secara keseluruhan (Ghobadian dan Galear, 1996; Forsberg and Nilson, 1999; Pace, 1998;
Sun, 2000; Sohal dan Terziovky, 2000)
        JIT adalah seperangkat metode atau teknik yang diaplikasikan pada sistem pembelian,
fungsi pabrikasi dan fungsi penghantaran. Filosofi JIT yaitu mengeliminasi semua aktivitas
yang tidak penting dan tidak memberikan nilai tambah di manapun aktivitas itu berada (Yasin
dan Wafa, 1997). Hasil penelitian yang ada menunjukkan bahwa JIT mampu mengurangi lead
time, menurunkan waktu proses, memperbaiki kualitas produk, meningkatkan produktivitas,
meningkatkan komunikasi internal dan eksternal, dan menumbuhkembangkan keterlibatan
manajerial (Arogyaswami dan Simmon, 1991; Imman dan Mehra; 1990; Ptak, 1991). JIT
sangat penting untuk mencapai keunggulan kompetitif (Sakakibara, et al., 1997).
        TPM adalah pendekatan inovatif untuk perawatan peralatan (hardware atau software)
dan mesin pabrik. Implemetasi TPM memberikan kontribusi dalam mengurangi work in
progress, meningkatkan kualitas produk, mengurangi waktu siklus produksi, (Paterson, et al.
1996) dan juga sangat efektif untuk optimasi keefektifan mesin dan peralatan (Tsang dan
Chan, 2000).
        MRP2 merupakan sistem berbasis komputer yang terintegrasi untuk mengendalikan
dan menjalankan fungsi seperti pemrosesan pesanan penjualan, perencanaan kapasitas
produksi, pemrosesan pesanan pembelian bahan, dan peramalan penjualan (Warnock, 1996).
Organisasi perusahaan yang berhasil menerapkan MRP2 dapat meningkatkan posisi
kompetitifnya dengan peningkatan kinerja finansial, perbaikan tingkat pelayanan kepada
pelanggan, meningkatkan efisiensi mesin, mengurangi biaya manufaktur, dan meningkatkan
koordinasi semua bidang fingsional (Humpreys, et al., 2001).
        Benchmarking adalah suatu metode praktis yang digunakan untuk memperbaiki
kinerja dengan memahami dan mempelajari metode dan praktik yang diterapkan oleh bidang
lain atau oleh perusahaan lain yang diacu sebagai patok duga yaitu best performer (Hinton,
Francis, dan Holloway, 2000). Benchmarking telah terbukti berhasil diterapkan sebagai suatu
metode untuk meningkatkan kinerja pada sektor swasta maupun pemerintah di Inggris
(Hinton, et al, 2000) dan juga digunakan sebagai suatu strategi untuk melakukan perubahan
terhadap proses manajemen (Freytag dan Hollensen, 2001).




                                                                                         4
Manajemen Teknologi
        Keberhasilan menggunakan teknologi sebagai sumber keunggulan kompetitif sangat
tergantung kepada manajemen teknologi, strategi teknologi yang dilakukan serta bagaimana
mengembangkan kapabilitas teknologi itu sendiri. Manajemen teknologi adalah suatu usaha
mengelola teknologi, mengintegrasikan teknologi ke dalam aktivitas operasional, serta cara
organisasi mengelola tenaga ahli dan tenaga operasional yang ada (Morone, 1989).
Manajemen teknologi pada dasarnya merupakan praktik integrasi strategi teknologi dengan
strategi teknologi perusahaan (Betz, 1993). Di samping itu perlu adanya keseimbangan antara
teknologi yang dikembangkan secara internal (melalui R&D) dan ekternal (dengan membeli
dan atau mengadopsi dari luar), serta melakukan strategi dan kebijaksanaan pengembangan
teknologi secara tepat (Mansfield, 1987).
        Menurut Harrison dan Samson (1997), isu-isu dalam manajemen teknologi meliputi:
1. Strategi teknologi adalah pola yang menetapkan tujuan dan peran teknologi dalam
    mencapai tujuan strategi bisnis dan tujuan perusahaan. Strategi teknologi mencakup
    keseluruhan proses untuk memperoleh dan mengeksploitasi teknologi untuk tujuan bisnis
    (Harisson dan Samson, 1997). Berdasar definisi ini, strategi teknologi meliputi: (a)
    pemilihan teknologi yang dibuat oleh perusahaan (b) usaha mengejawantahkan teknologi
    ke dalam produk atau proses baru (c) penerapan praktik-praktik organisasional dan proses-
    proses manajerial untuk menyebarkan sumber daya teknis.
2. Pengembangan kapabilitas teknologi yaitu suatu proses yang hati-hati dalam investasi
    teknologi, know-how, dan kapabilitas organisasional untuk secara efektif membangun dan
    mengeksploitasi teknologi yang diadopsi dan diimplementasikan oleh organisasi.
    Pengembangan kapabilitas teknologi meliputi pengenalan dan adopsi teknologi baru,
    pengembangan keahlian dan ketrampilan yang berhubungan dengan aspek teknologi,
    pengembangan sistem organisasional melalui basis teknologi yang digunakan (Harisson
    dan Samson, 1997). Dengan kapabilitas teknologi yang dimiliki, sangat memungkinkan
    bagi perusahaan untuk meningkatkan kemampuan untuk berinovasi serta meningkatkan
    kinerja operasionalnya.
3. Manajemen inovasi yaitu usaha pengembangan produk, proses, dan system organisasional
    yang kompleks yang baru bagi organisasi. Manajemen inovasi juga mencakup transfer
    teknologi dari ide ke tahap penciptaan nilai komersial dan biasanya melibatkan beberapa
    ketidakpastian.
4. Forecasting teknologi yaitu scanning terhadap lingkungan internal dan eksternal untuk
    mencari peluang bisnis yang terkait dengan teknologi dan dan untuk mengevaluasi serta
    mensejajarkan peluang peluang tersebut dengan strategi perusahaan dan strategi bisnis.
    Hal ini melibatkan penciptaan potensi teknologi untuk perusahaan yang dapat
    dikonversikan kepada nilai-nilai aktual perusahaan.




                                                                                           5
Selanjutnya akan dipaparkan secara terinci berbagai dimensi dalam mengelola teknologi
mulai dari strategi teknologi, pengembangan kapabilitas teknologi, manajemen inovasi dan
forecasting teknologi.

Strategi Teknologi
        Adler (1989) mendefinisikan strategi teknologi sebagai suatu pola pengambilan
keputusan yang menempatkan tujuan-tujuan teknologis dan prinsip-prinsip teknologis yang
berguna untuk mencapai tujuan teknologis dan tujuan bisnis perusahaan. Strategi teknologi
membentuk pilihan perusahaan untuk memperoleh, mengembangkan dan menyebarkan
teknologi untuk mencapai tujuan bisnis mereka. Sebagai perusahaan yang meningkatkan
adopsi teknologi dan secara proaktif mengembangkan teknologi produk dan teknologi proses
yang canggih maka tingkat keperluan akan strategi teknologi akan meningkat. Betz (1993)
menggambarkan tujuan strategi teknologi antara lain:
    1. Memelihara kapabilitas teknis dalam bisnis yang eksis dengan meningkatkan
        perbaikan- perbaikan produk dan proses.
    2. Ekspansi pasar dalam bisnis yang sedang berjalan atau mebuka bisnis yang baru
        melaui inovasi produk dan inovesi proses.
    3. Menentukan kapabilitas teknologi yang unggul dari sumber eksternal (Strategic
        sourcing).
        Untuk mencapai keberhasilan strategi teknologi peran manajer sangat diperlukan
karena bukan hanya strategi teknologi saja yang diinginkan pencapaian keberhasilannya tetapi
juga strateki bisnis perusahaan. Strategi teknologi harus diintegrasikan dengan strategi
fungsional perusahaan dan strategi bisnis perusahaan. Clark (1989) mengemukakan
pentingnya peran manajer dalam mencapai keberhasilan strategi teknologi. Untuk itu manajer
seharusnya:
    1. Memahami basis teknologi dan pembentukan visi sebagai keunggulan strategic.
    2. Mengambil perspektif global untuk teknologi dan mencari teknologi terbaik di mana
        pun teknologi ditemukan.
    3. Mendisiplinkan fungsi bisnis dalam hal fungsi produksi, pengetahuan bisnis yang
        difokuskan pada pengetahuan yang memberikan nilai tambah bagi pelanggan.
    4. Mengintegrasikan semua fungsi bisnis melalui sistem informasi pelanggan.
    5. Memfokuskan pada waktu sebagai faktor kritis dalam menggunakan inovasi untuk
        keunggulan kompetitif.
        Pencapaian strategi teknologi dan proses-proses         manajemen teknologi dapat
dicerminkan dalam karakteristik karakteristik sagai berikut (Harrison & Samson, 1997):
    1. Mekanisme yang efektif untuk mengintegrasikan teknologi dengan strategi bisnis.
    2. Mekanisme yang efektif untuk mengkoordinasikan aktivitas teknologi yang
        berhubungan dengan organisasi dan kerja kelompok.
    3. Keterlibatan semua fungsi yang berpengaruh dalam proses formulasi strategi.


                                                                                          6
    4. Pemahaman interrelationship antara elemen-elemen inti organisasi dan pentingnya
        untuk mengelola elemen-elemen tersebut menjadi satu kesatuan secara kolektif.
    5. Alokasi tanggung jawab jelas untuk pengelolaan teknologi.
    6. Pensejajaran struktur organisasi untuk mendukung strategi bisnis dan strategi
        teknologi.
    7. Mekanisme yang efektif untuk mengomunikasikan dan mendifusikan teknologi baru.
    8. Melakukan perencanaan teknologi jangka panjang secara proaktif.
    9. Melakukan penilaian secara regular atas kapabilitas teknis inti yang dimiliki
        organisasi.
    10. Terus menerus melakukan eksplorasi atas peluang dan tantangan teknologi baru.
    11.
Pengembangan Kapabilitas Teknologi
        Hamilton dan Singh (1992) mendefinisikan kapabilitas teknologi suatu organisasi
sebagai seperangkat skills yang berbeda-beda (yang terletak pada modal sumber daya
manusia), rutinitas organisasi (yang beroperasi pada level perusahaan) dan aset-aset spesifik
(teknologi manufaktur maju, sistem informasi, teknologi berbasis komputer. Kapabilitas
teknologi merupakan faktor yang sama penting dengan fungsi-fungsi yang lain dalam
organisasi, bahkan teknologi bisa menjadi senjata kompetitif utama. Kapabilitas teknologi
bisa digunakan sebagai alat strategik dalam pengembangan produk atau proses, meningkatkan
pangsa pasar dan kemampulabaan apabila kapabilitas teknologi terintegrasi dengan semua
kapabilitas fungsional perusahaan (Harisson dan Samson, 1997).
        Selanjutnya Clark dan Wheelwright (1992) mengemukakan bahwa semakin tinggi
kapabilitas teknologi, perusahaan memiliki kecenderungan mencapai kinerja yang lebih
tinggi. Kapabillitas teknologi bisa menjadi sumber keunggulan kompetitif perusahaan karena
dengan kapabilitas yang dimiliki ini perusahaan memiliki kemampuan untuk secara cepat
merespon secara konsisten perubahan pasar yang terjadi dengan produk baru atau dengan
proses baru. Pengembangan kapabilitas teknologi harus dilakukan secara terus menerus
karena teknologi saat ini semakin cepat berkembang dan terus berubah. Menurut pengalaman
hasil studi dari beberapa perusahaan manufaktur di Indonesia, pengembangkan kapabilitas
teknologi dapat dilakukan dengan cara (Ellitan, 2001):
    • Memperkenalkan teknologi baru yang penting untuk diadopsi dan memperbaiki
        kemampuan teknis dan operasional.
    • Meningkatkan ketrampilan dan keahlian tenaga kerja melalui pelatihan, memberikan
        pendidikan, dan mengirimkan karyawan dalam seminar dan workshop.
    • Memperbaiki struktur organisasi, (kes di Indonesia menunjukkan lebih banyak
        perusahaan yang masih menganut sentralisasi).
    • Menciptakan kultur yang inovatif dan mendorong pasrtisipasi dan keterlibatan
        karyawan yang dapat memperbaiki kapabilitas teknologi.
    • Meningkatkan kerjasama dengan supplier.


                                                                                           7
   •   Kerjasama dengan pelanggan.
   •   Bekerja sama dengan perusahaan lain, bahkan dengan pesaing, seperti melakukan
       benchmarking.

METODE PENELITIAN
Terdapat beberapa pendekatan untuk mempelajari adopsi teknologi. Beberapa peneliti
terdahulu mempelajari adopsi dan implementasi melalui kuesioner yang dikembangkan
dengan beberapa metode, (Schroeder & Sohal, 1999; Sim, 2001; Koo, et al., 2000; Burgess, et
al., 1998; Mechling, et al., 1995), dan melakukan interview secara langsung pada organisasi
yang ditelitinya (e.g. Doms, et al., 1994). Beberapa peneliti lainnya menggunakan studi kasus
untuk meneliti adopsi dan implementasi teknologi dan dampaknya terhadap kinerja organisasi
(Butcher, et al., 1999; Harrison & Samson, 1997).

Studi ini menggunakan metode yang telah dikembangkan oleh Dawson (1994), yang telah
dimodifikasi dan disesuaikan dengan tujuan studi. Pendekatan ini digunakan sebagai
acuanuntuk melakukan kajian terhadap pengalaman organisasi bisnis dalam mengadopsi dan
mengimplementasikan teknologi. Gambar 1 menyajikan kerangka kerja yang digunakan untuk
menganalisis faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan adopsi teknologi baru.




                       Adopsi                1. Manajemen
   Faktor-faktor       Teknologi             teknologi
   Motivational                                                         Kinerja:
   • Faktor-faktor     1. Hard               2 Strategi dalam
     Internal.                                                          Operational
                       Technology            adopsi teknologi
   • Faktor-faktor                                                      Keuangan
                       2. Soft               3. Pengembangan            Pemasaran
     External
                                                                        Pertumbuhan
                       technology            kapabilitas teknologi.




                                    Umpan balik

                     Gambar 1: Kerangka Kerja Proses Adopsi Teknologi




Untuk keperluan studi ini, sample diperoleh dari Direktori Perusahaan Manufaktur yang
dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik Indonesia, 20001. Tujuh perusahaan manufaktur di
Jawa Timur dengan tujuh bidang yang berbeda berpartisipasi dalam studi ini. Data



                                                                                           8
dikumpulkan dengan interview kepada pimpinan perusahaan dengan menggunakan kuesioner
semi terstruktur. Lebih kurang interview dilakukan selama 2 jam. Interview ini berkisar pada
isu-isu yang terkait dalam framework pada Gambar 1 di atas.

Profil tujuh perusahaan terpilih ditunjukkan dalam Tabel 1. Perusahaan-perusahaan tersebut
beroperasi pada industri tembakau, plastik, kertas, furnitur, tekstil, kabel, dan perkayuan.
Semua perusahaan merupakan perusahaam swasta yang telah beroperasi selama lebih dari
sepuluh tahun. Skala produksi perusahaan berkisar 200 sampai 24,000 karyawan yang bekerja
dalam waktu kerja penuh, dengan total aset berkisar 50 milyar rupiah hingga 100 milyar
rupiahatau lebih. Data tersebut dikumpulkan pada tahun 2001, dan sangat mengejutkan bahwa
kelima perusahaan diantaranya menunjukkan perbaikan kinerja finansial selama tiga tahun
terakhir.

                                               Table 1
                                        Profile Responden
 Responden   Bidang     Lama         Jumlah       Asset           Kepemilikam   Kinerja 3   tahun
             Usaha      beroperasi   Karyawan     (Billion Rp)                  terakhir
                        (Tahun)                   *
 1.          Tembakau   > 30 th.     24.000       > 100 Billion   Private       Meningkat > 0.15
 2.          Plastik    > 10 th        330        > 75 Billion    Private       Meningkat 0.10 -
                                                                                0.15
 3.          Pulp       > 10 th       7.274       > 100 Billion   Private       Menurun 0.05 -
                                                                                0.10
 4.          Perabot    > 10 th        200        > 100 Billion   Private       Meningkat 0.05-
                                                                                0.10
 5.          Tekstil    > 10 th       2.981       > 100 Billion   Private       Menurun > 0.15
 6.          Kabel      > 20 th         629       > 100 Billion   Private       Meningkat 0.05 –
                                                                                0.10
 7.           Plywood   > 20 th       2.367      > 50 Billion Private           Meningkat > 0.15
* US $ 1 = Rp. 9500
TEMUAN
Tujuan Umum dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Adopsi Teknologi

Apakah tujuan adopsi teknologi? Tabel 2 menunjukkan beberapa tujuan umum adopsi
teknologi. Terjadinya resesi dan lingkungan bisnis yang makin kompetitif, tidak mengejutkan
jika semua responden berusaha untuk meningkatkan keunggulan kompetitif sebagai tujuan
utama. Tujuan ini diikuti dengan memperbaiki kualitas produk dan proses, serta memperbaiki
tingkat produktivitas.




                                                                                                    9
                                                  Tabel 2

                             Tujuan Umum Adopsi dan Implementasi Teknologi
                                                                                               Persentase
                                           Perusahaan
                                           1     2    3          4       5       6       7     (%)
 Tujuan Umum
 Meningkatkan keunggulan kompetitif    x     x           x       x       x       x       x     100
 Memperbaiki kualitas produk dan x           x           -       x       x       x       x     85.7
 proses
 Meningkatkan produktifitas            x     x           -       x       x       x       -     71.5
 Memenuhi tuntutan pelanggan           x     x           -       -       -       x       -     42.8
 Memperbaiki               kemampuan -       x           -       -       x       -       x     42.8
 penghantaran
 Meningkatkan produktivitas            x                 x                                     28.6
 Memperluas pangsa pasar.              -     x           -       -       -       -       x     28.6
 Menurunkan biaya.                     -     x           -       -       -       -       -     14.3
 Memperbaiki daya saing                -     x           -       -       -       -       -     14.3
 Menciptakan harga bersaing.           -     x           -       -       -       -       -     14.3
 Pengembangan produk.                  -     -           -       -       -       x       -     14.3
 Pengembangan proses                   -     -           -       -       -       x       -     14.3
x : Tujuan Umum Adopsi dan Implementasi Teknologi

Ada beberapa faktor (baik faktor internal maupun eksternal) yang mendorong perusahaan
melakukan adopsi teknologi, yang disajikan dalam Tabel 3 dan 4. Faktor pendorong eksternal
yang utama adalah kompetisi global dan meningkatnya tuntutan konsumen terhadap kualitas.
Ketujuh responden menganggap kedua faktor ini merupakan faktor pendorong utama adopsi
teknologi. Sedangkan faktor internal meliputi perlunya mengimplementasikan strategi
teknologi dan meningkatnya biaya material.

                                                    Tabel 3
                           Faktor-faktor Eksternal Pendorong Adopsi Teknologi
                                        Perusahaan                                           Persentase
                                        1     2     3     4    5       6      7              (%)
 Faktor-faktor Eksternal
 Kompetisi global                     x     x     x          x       x       x       x       100
 Tuntutan     konsumen      terhadap x      x     x          x       x       x       x       100
 kualitas.
 Perubahan kondisi ekonomi.           x                      x               x       x       57.1
 Tingginya tekanan di pasar.                x                x       x       x               57.1
 Kelestarian lingkungan               x           x          x                       x       57.1
 Persaingan di pasar local.           x     x                                x               42.8
 Ulasan media.                        x                      x                               28.5
x: Faktor-faktor Eksternal Pendorong Adopsi Teknologi.




                                                                                                            10
                                                    Tabel 4
                          x: Faktor-faktor Internal Pendorong Adopsi Teknologi.
                                                                                      Persentase
                                       Perusahaan
                                       1     2    3      4     5       6          7   (%)
 Faktor-faktor Internal
 Implementasi strategi teknologi.     x      x    x      x     x       x          x   100
 Meningkatnya kos material.           x      x    x      x     x       x          x   100
 Meningkatnya kos operasional.               x           x             x          x   57.1
 Meningkatnya kos bisnis.                    x           x     x       x              57.1
 Meningkatnya kos tenaga kerja.                          x     x       x              42.8
 Peralatan dan mesin yang sudah                          x     x       x              42.8
 usang.
 Menurunnya profit.                                      x             x              28.5
 Menurunnya kualitas produk.                 x                         x              28.5
 Tingginya turn-over tenaga kerja.                                     x              14.3
x: Faktor-faktor Internal Pendorong Adopsi Teknologi.

Extent of Hard and Soft Technology Adoption

Adopsi teknologi dapat dikategorisasikan menjadi hard (semua yang terkait dengan fasilitas,
peralatan, mesin, robutik dan teknologi berbasis computer) dan soft (semua yang terkait
dengan sistem manajeria) seperti Total Quality Management (TQM), Just In Time (JIT), Total
Productive Manufacturing (TPM) dan others. Tabel 5 menunjukkan jenis-jenis hard
technologi yang diadopsi. Dalam hal hard technologi, tingkat adopsi teknologi masih dalam
level moderate, terutama untuk jenis teknologi seperti Computer Numerical Control (CNC)
machines, Updating Process Equipment (UPE), dan Computer Aided Design (CAD). Hanya
dua atau tiga responden yang mengindikasikan bahwa tingkat adopsi teknologi canggih
mereka seperti robotics dan Automated Guided Vehicles (AGV). Hal ini disebabkan oleh
kurangnya tenaga ahli yang memelihara dan mengoperasikan teknologi canggih tersebut.
Kondisi ini diperburuk dengan kurangnya sumber dana untuk melakukan investasi beberapa
teknologi canggih yang biasanya memang sangat mahal.
Tabel 6 to 10 menyatakan bahwa soft technologies seperti TQM, JIT, MRP2 (Manufacturing
Resources Planning), TPM and Benchmarking sudah meresap dalam sendi-sendi perusahaan.
Ini terkait dengan faktor pendorong internal organisasi yaitu tuntutan pelanggan atas kualitas
barang yang dihasilkan. Fokus pada soft technology juga disebabkan oleh investasi awal yang
relative lebih rendah dibanding hard technology. Untuk mengatasi berbagai hambatan seperti
meningkatnya persaingan perusahaan mencoba untuk tetap bertahan dan mendapatkan
keunggulan kompetitifnya dengan mengadopsi dan mengimplementasikan teknologi dan
praktek-praktek manajemen baru.




                                                                                                   11
                                                Tabel 5
                                    Hard Technology yang Diadopsi
                                                                                              Persentase
                             Perusahaan
                             1        2         3         4         5         6       7       (%)
Hard technology
CNC                       x          x    x               x         x         x       x       100
APE                       x          x    x               x         x         x       x       100
CAD                       x          x    x               x         x         x               85.7
AA                        x          x    x               x                           x       71.4
FMS                       x          x    x               x                           x       71.4
CAM                       x          x    x               x                           x       71.4
CAE                       x               x               x         x                 x       71.4
SFMC                      x          x                              x         x       x       71.4
FMC                       x               x               x                           x       57.1
CAPP                      x          x    x               x                                   57.1
AMHS                                      x               x                           x       42.8
AGV                       x               x                                           x       42.8
Robotic                              x                                        x               28.5
   X : technology that has been adopted.
   UPE: Updating process engineering (7)                      AA: Automated assembly (5)
   CNC: Computer numerical control (7).                       CAPP: Computer Aided process planning (4).
   CAD: Computer Aided Design (6)                             FMC: Flexible manufacturing cell (4).
   CAM: Computer Aided Manufacturing (5)                      AMHS: Automated material handling system
   FMS: Flexible manufacturing system (5)                     (3).
   CAE: Computer Aided Engineering (5)                        AGV: Automated Guide Vehicle (3).
   SFMC: Shop floor monitoring and control by                 Robotic (2).
   computer (5).


                                                    Table 6

                    Praktik-praktik TQM (Total Quality Management) yang diadopsi
                                                                                               Persentase
                                            Perusahaan
                                            1     2    3            4     5       6       7    (%)
Praktik-praktik TQM
Kepemimpinan manajemen kualitas             x         x       x     x     x       x       X    100
Informasi kualitas                          x         x       x     x     x       x       X    100
Perencanaan strategic tentang kualitas.     x         x       x     x     x       x       X    100
Pengandalian kualitas dengan metode         x         x       x     x     x       x       X    100
statistik.
Jaminan kualitas produk                     x         x       x     x     x       x       X    100
Jaminan kualitas proses                     x         x       x     x     x       x       X    100
Memperhatikan kepuasan pekerja.             x         x       x     x     x       x       X          100




                                                                                                            12
                                                    Tabel 7

                           Praktik-praktik JIT (Just In Time) yang diadopsi
                                                                                            Persentase
                                            Perusahaan
                                       1      2       3           4   5       6       7     (%)
Praktik-praktik JIT
Memodifikasi layout pabrik             x        x        x        x   x       x       X     100
Mengurangi waktu set-up mesin.         x        x        x        x   x       x       X     100
Menggunakan mesin-mesin                x        x        x        x   x       x       X     100
fungsional.
Meningkatkan level otomatisasi.        x        x        x        x   x       x       X     100
Standarisasi operasi.                  x        x        x        x   x       x       X     100
Penyederhanaan operasional.            x                 x        x   x       x       X     85.7

                                                    Tabel 8

                  Praktik-praktik TPM (Total Productive Maintenance) yang diadopsi
                                                                                          Persentase
                                            Perusahaan
                                            1     2    3          4   5       6   7       (%)
Praktik-praktik TPM
Menetapkan kebijakan-kebijakan dasar        x        x        x   x   x       x   x       100
TPM.
Merumuskan strategi                         x        x        x   x   x       x   x       100
perawatan/pemeliharaan.
Mengikuti perkembangan dan                  x        x        x   x   x       x   x       100
memperkenalkan teknologi
maintenance yang baru.
Mengembangkan jadual program                x        x        x   x   x       x   x       100
maintenance.
Pendidikan dan pelatihan untuk              x        x        x   x   x       x   x       100
memperbaiki ketrampilan
maintenance dan operasional.
Mengembangkan program maintenance           x                 x   x   x       x   x       85.7
secara mandiri.




                                                                                                         13
                                                  Tabel 9

               Praktik-praktik MRP2 (Manufacturing Resources Planning) yang diadopsi
                                                                                       Persentase
                                              Perusahaan
                                              1     2          3       4   5   6   7   (%)
 Praktik-praktik MRP
 Pemrosesan pesanan penjualan.                x       x        x       x   x   x   X   100
 Perencanaan kapasitas jangka panjang.        x       x        x       x   x   x   X   100
 Rencana induk fasilitas.                     x       x        x       x   x   x   X   100
 Perencanaan material yang diperlukan.        x       x        x       x   x   x   X   100
 Perencanaan sumber daya jangka pendek        x       x        x       x   x   x   X   100
 dan menengah.
 Pemrosesan pesanan pembelian.                x       -        x       x   x   x   X   85.7
 Pengendalian shop floor.                     x       x        x       x   x   x   -   85.7

                                                  Tabel 10

                              Praktik-praktik) Benchmarking yang diadopsi
                                                                                       Persentase
                                          Perusahaan
                                          1       2        3       4       5   6   7   (%)
 Praktik-praktek benchmarking
 Membandingkan kinerja proses             x       x        x       x       x   x   X   100
 operasional
 yang sama dalam perusahaan anda
 sendiri.
 (Internal benchmarking).
 Membandingkan perusahaan anda            x       x        x       x       x   x   X   100
 dengan dengan
  pesaing utama dan pesaing langsung.
 (Competitive benchmarking).
 Membandingkan metode proses dan          x       x        x       x       x   x   X   100
 fungsi perusahaan anda
 dengan proses dan fungsi yang sama
 perusahaan perusahaan lain.
 (Functional benchmarking).
 Membandingkan proses kerja dengan        x       -        x       x       -   x   -   57.1
 perusahaan lain yang lebih inovatif.
 (Generic process benchmarking)
x: Praktek-praktek yang sudah diadopsi.


Berdasarkan hasil survei ini, Tabel 11 menunjukkan bahwa hanya satu dari tujuh perusahaan
yang mengadopsi hard technology dan soft technology secara seimbang untuk mencapai
keunggulan operasional, sementara keenam perusahaan lainnya lebih banyak mengadopsi soft
technology.




                                                                                                    14
                                                Tabel 11

                                Hard Technology Vs Soft Technology
                                                                                   Persentase
                                  Perusahaan
                                  1       2        3       4    5     6    7       (%)
 Tipe Teknologi yang diadopso
 Soft technology                  x        x       x      x      x     x   x       85.7
 Hard technology                  x        -       -      -      -     -   -       14.3
Perusahaan 1 1: Keseimbangan antara hard technology and soft technology.


Terkait dengan tingkat adopsi, terdapat beberapa isu berdasarkan pengalaman perusahaan
selama melakukan adopsi dan implementasi teknologi. Setiap perusahaan memiliki isu yang
berbeda-beda ketika mengadopsi dan mengimplementasikan teknologi. Isu-isu yang muncul
terkait dengan masalah operasional yang mengindikasikan rendahnya perspektif strategic
ketika mengadopsi dan mengimplementasikan teknologi meskipun kompetisi dan permintaan
konsumen merupakan faktor pendorong utama. Tabel 12 menyajikan isu-isu terkait.


Tabel 12

 Isu-isu yang Berkembang selama Adopsi dan Implemetasi Teknologi.
 Perusahaan Isu-isu
 1.                • Hard technology dan soft technology memiliki kontribusi yang sama.
                   • Adopsi teknologi dilakukan untuk mencapai efisiensi dan stabilisasi proses
                      operasi.
                   • Mengadopso supply chain management and integrated business information
                      systems.
 2.                • Kurang kerjasama dengan supplier.
                   • Eliminasi semua aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah.
 3.                • Masalah-masalah organisasi (konflik dan sentralisasi) menjadi penghambat
                      optimalisasi benefit yang dapat diperoleh dari adopsi teknologi.
 4.                • Membangun teamwork yang solid, mendorong partisipasi dan keterlibatan
                      pekerja selama adopsi dan implementasi teknologi.
                   • Adopsi teknologi manufaktur maju (AMT) untuk menciptakan nilai tambah
                      produk dan mengembangkan disain produk baru.
 5.                • Disebabkan oleh masalah-masalah fungsional, perusahaan berusaha bertahan
                      dengan teknologi yang ada saat ini (plant, equipment, and machine).
 6.                • Kurangnya kerjasama dengan supplier dan pelanggan.
                   • Perusahaan tidak memiliki perencaanaan teknologi yang formal.
 7.                • Menekankan pada perbaikan teknologi yang terus menerus.
                   • Belajar dari keberhasilan organisasi lain melalui proses benchmarking.




                                                                                                  15
Manajemen Adopsi Teknologi
Ketepatan manajemen adopsi teknologi dan implementasi proses sangat diperlukan untuk
mencapai tujuan dan memperoleh manfaat dari adopsi teknologi. Seperti ditunjukkan dalam
Tabel 13, persiapan pre-adopsi mencakup: 1) membentuk tim khusus untuk menangani
teknologi baru dan menentukan teknologi yang tepat untuk diadopsi, 2) diskusi dengan
konsultan, dan 3) berkolaborasi dan melakukan negosiasi dengan pemasok. Pelatihan juga
diperlukan sebelum melakukan adopsi dan implementasi teknologi baru. Pada umumnya
semua perusahaan dalam studi ini menghadapi rendahnya dukungan pemerintah dalam proses
adopsi dan pengembangan teknologi.

                                                     Tabel 13

                                    Proses sebelum Adopsi Teknologi
                                                                                        Persentase
                                Perusahaan
                                1       2       3       4       5      6       7        (%)
 Proses sebelum Adopsi
 Membangun tim khusus           x         x     x       x       -      x       x        85.7
 Diskusi dengan konsultan       x         -     x       -       x      x       x        71.4
 Negosiasi dengan pelanggan     -         x     x       x       -      -       x        57.1


Kriteria Untuk Seleksi Teknologi Baru
Setiap perusahaan memiliki pertimbangan yang berbeda-beda ketika mengidentifikasi
teknologi baru untuk diadopsi. Tetapi, ketersediaan dana untuk membiayai teknologi baru
menjadi pertimbangan utama. Hal ini tidak mengejutkan mengingat kondisi perekonomian
Indonesia yang lesu dan tidak kondusif. Pertimbangan utama lainnya adalah pentingnya
teknologi dalam memperbaiki kinerja operasional. Hal ini diindikasikan bahwa dalam kondisi
perekonomian saat ini, perusahaan-perusahaan di Indonesia memiliki keterbatasan pilihan
teknologi karena hambatan ketersediaan dana, dan focus utama pada memperbaiki efisiensi
operasional jangka panjang.
                                                  Tabel 14
                         Dasar Pertimbangan Mengadopsi Teknologi Baru
  Perusahaan                        Alasan-alasan Mengadopsi Teknologi Baru.
 1.                  •    Berdasarkan ketersediaan dana .
                     •    Pentingnya teknologi untuk proses operasi.
 2.                  •    Pentingnya teknologi.
                     •    Memenuhi permintaan pelanggan.
                     •    Memperbaiki kualitas produk.
                     •    Anggaran untuk mengadopsi teknologi baru bersifat fleksibel, tergantung
                          pada urgensi teknologi tersebut.
 3.                  •    Memperbaiki kinerja proses dan kinerja produk.
 4.                  •    Pentingnya teknologi dalam proses operasional.
 5                   •    Tuntutan konsumen dan pelanggan.
                     •    Anggaran terbatas,bertahan dengan teknologi, peralatan dan mesin yang ada.


                                                                                                       16
 6.                  •      Ketersediaan dana, Perusahaan memiliki           dana   untuk   adopsi   dan
                            implementasi teknologi.
                     •      Urgensi teknologi baru yang akan diadopsi.
 7.                  •      Ketersedianaan dana.
                     •      Pentingnya teknologi.
Sumber Ide Teknologi Baru

Dari mana perusahaan mendapatkan ide untuk mengadopsi dan mengimplementasikan
teknologi baru? Tabel 15 menunjukkan sumber-sumber ide dari beberapa fungsi-fungsi
manajemen dalam perusahaan, sedangkan Tabel 16 mengidentifikasi sumber ide berdasarkan
tingkatan hirarki organisasi. Sumber daya manusia tidak terlihat sebagi sumber ide untuk
melakukan adopsi teknologi. Hal ini mungkin terkait dengan kepercayaan yang salah bahwa
inovasi administrative dan teknologi tidak memiliki kontribusi pada kinerja perusahaan.

Temuan penting lainnya adalah bahwa bagian produksi dan teknosi memiliki peran yang
dominant, kecuali pada responden 1, bagian penjualan dan departemen pemasaran tidak
memiliki kontribusi dalam menentukan ide teknologi baru. Hal ini mengindikasikan bahwa
keputusan perusahaan tidak dikendalikan olehpasar dan lebih memfokuskan pada inovasi
operasional. Hal ini juga mengakibatkan rendahnya pengembangan ide tim antar fungsi dalam
perusahaan.
                                                  Tabel 15

    Pencetus Ide untuk Mengadopsi dan Mengimplemetasikan Teknologi Baru berdasarkan Bidang
                                           Fungsonal
                                                                                  Persentase
                                   Perusahaan
                                   1      2     3     4    5     6        7       (%)
 Bidang Fungsional
 Produksi dan permesinan             x       x     x         x   x       x          x       100
 Penelitian dan pengembangan         x       x     x         x   x       x          -       85.7
 Konsultan                           x       -     x         -   -       x          x       57.1
 Akuntansi dan keuangan              x       -     -         x   x       -          -       42.8
 Pemasok                             x       x     -         -   -       x          -       42.8
 Penjualan dan pemasaran             x       -     -         -   -       -          -       14.2
 Personal/karyawan                   -       -     -         -   -       -          -       0.00


Tabel 16 menunjukkan bahwa ide-ide yang dihasilkan pada umumnya didominasi oleh senior
dan manajemen puncak. Hal ini merupakan efek budaya partial pada masyarakat Indonesia
dimana manajemen puncak bertindak sebagai figure bapak dan karyawan harus melaksanakan
semua keinginan dan perintahnya.




                                                                                                           17
                                                Tabel 16

   Pencetus Ide untuk Mengadopsi dan Mengimplemetasikan Teknologi Baru berdasarkan Jenjang
                                         Manajemen
                                                                                   Persentase
                                  Perusahaan
                                  1       2    3       4    5      6       7       (%)
 Level of management
 Top management                     x       x       x          x       x       x       x    100
 Senior management                  x       x       x          x       x       x       x    100
 Middle management                  x       x       -          x       x       x       x    85.7
 Junior management                  x       -       -          x       -       x       x    57.1
 Supervisory                        x       -       -          x       -       x       x    57.1
 Shop floor/ individual             -       -       -          -       -       -       -    00.0


Dalam hal pengambilan keputusan, Tabel 17 menunjukkan bahwa produksi dan bagian
teknisi, serta bagian akuntasi dan keuangan mendominasi keputusan untuk mengadopsi dan
mengimplementasikan teknologi baru terkait dengan keterbatasan dana dan focus pada kinerja
operasional. Sangat menarik untuk digarisbawahi bahwa konsultan memiliki peran dan
keterlibatan dominant selama proses adopsi. Peran mereka berkurang dalam tahap pembuatan
keputusan. Hal ini mengindikasikan bahwa pembuatan keputusan tergantung pada sumber-
sumber internal, sementara sebagian kecil dipengaruhi oleh pihak eksternal seperti konsultan,
konsumen (melalui pasar), dan pemasok.


                                                Tabel 17

           Pengambil keputusan untuk Mengadopsi dan Mengimplemetasikan Teknologi
                                                                               Persentase
                               Perusahaan
                               1       2    3       4    5    6        7       (%)
 Area Fungsional
 Produksi dan permesinan        x       x       x          x       x       x       x       100
 Penelitian dan pengembangan    x       x       x          x       x       x       x       100
 Konsultan                      x       x       x          x       x       x       -       85.7
 Akuntansi dan keuangan         x       -       x          -       -       -       x       42.8
 Pemasok                        x       -       -          -       x       -       -       28.5
 Penjualan dan pemasaran        -               -          -       -       x       -       14.2
 Personal/karyawan              -       -       -          -       -       -       -       0.00


Bagaimana proses adopsi dan implementasi dimonitor? Tabel 18 menunjukkan bahwa semua
perusahaan responden menyadari pentingnya monitoring setelah proses adopsi dan
implementasi. Seperti pada proses pengambilan keputusan, top manajemen, bidang produksi
dan keuangan mendominasi aktivitas ini.




                                                                                                   18
                                             Tabel 18

                      Pemonitor selama Adopsi dan Implementasi Teknologi
 Perusahaan     Pemonitor                      Perusahaan   Pemonitor
 1.             All management level.          5.           Production department.
                                                            Financial department.
                                                            Top management.
 2.             Top management.                6.           Top management
                Operation manager.                          All level management.
                Financial manager.
 3.             Top management.                7.           All level management
 4.             All level management           -            -

Seperti dalam studi Harrison and Samson (1997), studi ini menemukan faktor-faktor kritikal
berikut yang menjadi kunci keberhasilan adopsi teknologi:: (1) dukungan dan keterlibatan top
management), (2) budaya (keterbukaan untuk inovasi, partisipasi, sistem komunikasi yang
bersifat terbuka, dan sistem kerja lintas fungsional), (3) strategi (sumber teknologi dan sistem
monitoring), (4) skill development (pendidikan dan pelatihan karyawan), (5) dan sumber daya
(ketersediaan dana financial, , material and technocrat).


Ketika mengimplementasikan teknologi baru, perusahaan menghadapi kesulitan-kesulitan
utama dalam bentuk kurangnya ketrampilan dan tenaga ahli, kebutuhan untuk pendidikan dan
pelatihan karyawan untuk megoperasikan teknologi, serta melakukan pemeliharaan teknologi
yang diadopsiserta kurangnya sumber financial yang dialokasikan untuk hal ini. Hambatan
lain yang diidentifikasi oleh perusahaan responden adalah kurangnya dukungan pemerintah
yang terkait dengan investasi atau kebijakan dalam hal transfer teknologi. Karena studi ini
dilakukan dalam kondisi pemilihan dari resesi, tidaklah mengherankan bahwa faktor-faktor ini
merupakan hambatan yang signifikan. Namun mereka juga menekankan bahwa internal
konflik dalam organisasi dan resistance to change juga tidak bisa diabaikan.


Strategi Teknologi
Strategi teknologi mengacu pada seperangkat keputusan yang meliputi tujuan-tujuan adopsi
dan implementasi teknologi untuk mencapai tujuan organisasi secara umum. (Harrison &
Samson, 1997). It includes the whole process of acquiring, developing and exploiting
technologies. Strategi teknologi juga mencakup bagaimana perusahaan memandang
teknologi-sebagai sesuatu yang dapat menciptakan peluan atau sesuatu yang menjadi
tantangan perusahaan, dari mana memperoleh sumber teknologi (internal atau external), dan
apa focus teknologi mereka teknologi produk atau teknologi proses.




                                                                                             19
Responden secara umum menganggap teknologi lebih sebagai sesuatu yang menciptakan
peluang dari pada merupakan tantangan yang menakutkan. Seperti yang ditunjukkan dalam
table 19, responden cenderung sebagai risk takers, proaktif, dan berani menghadapi resiko dan
kegagalan. Teknologi dipandang sebagai senjata kompetitif menghadapi persaingan.
Teknologi adalah pemampu untuk mencapai pengembangan produk dan proses secara lebih
cepat, menciptakan desain dang lebih baik dan menarik. Teknologi merupakan mesin untuk
memperluas pangsa pasar, menciptakan ceruk pasar baru dan memperbaiki kinerja
keseluruhan organisasi.

                                                    Table 19

                               Teknologi Sebagai Peluang dan Tantangan
                                                                                           Persentase
                                       Perusahaan
                                       1       2      3          4   5      6       7      (%)
Tantangan dan Peluang
Peluang                                        x      x          x          x       -      57.1
Peluang dan tantangan                  x       -      -          -   -      -       x      28.7
Tantangan                                      -      -          -   x      -       -      14.2

Tabel 20 menunjukkan bahwa empat dari tujuh responden lebih menggunakan sumber
eksternal untuk adopsi dan pengembangan teknologi disebabkan oleh terbatasnya waktu,
kurangnya tenaga ahli dan terbatasnya biaya. due Mereka mengakui bahwa kurannya investasi
merupakan penghambat utama dalam mengembangkan R&D internal. Sementara itu, tiga
perusahaan lainnya lebih meilih mengembangkan teknologi secara internal melalui R&D yang
ada sebab mereka lebih memperhatikan ketepatan teknologi yang dikembangkan dan
diadopsi. Studi ini menemukan bahwa teknologi proses lebih diadopsi dibanding teknologi
produk sebab adopsi teknologi produk lebih besar resikonya dan memakan biaya lebih besar.
Hanya satu dari tujuh perusahaan (yang beroperasi dalam furniture) menyatakan bahwa
teknologi produk lebih utama.



                                            Tabel 20
                  Sumber Teknologi dan Dominasi Proses Vs Produk Teknologi.

                 Perusahaan
                 1         2               3              4          5          6          7

 Sumber          Internal   external       internal       external   internal   external   external
 Teknologi       and
                 external
 Teknologi       Process    Process        product        process    product    process    process
 proses    vs
 produk


                                                                                                        20
       Tabel 21 menggambarkan sifat teknologi yang diadopsi oleh masing-masing
responden. Keputusan adopsi terutama dibuat berdasarkan urgensi teknologi, ketersediaan
dana, persiapan adopsi, implementasi dan antisipasi resiko dan hambatan yang harus dihadapi.
Teknologi baru yang diadopsi meliputi plant dan equipment, computer hardware, computer
software, dan praktek atau teknik-teknik manajemen baru.

                                                   Tabel 21

                              Pengembangan dan Adopsi Teknologi Baru
 Perusahaan       Teknologi Baru yang Diadopsi       Perusahaan       Teknologi Baru yang Diadopsi
 1.               Plant                              4.               Plant & equipment
                  Equipment                                           Computer hardware
                  Computer hardware                                   Computer software
                  Computer software                                   New management practices.
                  Apply new management practice.
 2.               Plant & equipment                  5.               Apply new management practices
                  Computer hardware
                  Computer software
                  New management practices.
 3.               Plant & equipment                  6.               Plant and equipment
                  Computer hardware
                  Computer software
                  New management practices.
 -                -                                  7.               Plant and equipment


4.5. Kapabilitas Teknologi

Kapabilitas teknologi dapat digunakan sebagai alat strategic jika diintegrasikan dengan
kapabilitas fungsional dalam organisasi. (Harisson & Samson, 1997). Keseluruhan responden
dalam studi ini menyadari bahwa pengembangan kapabilitas teknologi sangat penting untuk
keberhasilan organisasi dalam persaingan. Namun demikian dalam praktek aktualnya
menunjukkan hal yang sebaliknya. Seperti yang disajikan dalam Tabel 22, studi ini
menyarankan bahwa tidak semua perusahaan mengintegrasikan kapabilitas teknologi dan
kapabilitas bidang fungsionalnya, sehingga konsekuensinya adalah kegagalan dalam adopsi,
implementasi dan pengembangan teknologi. Dengan kata lain teknologi yang dimiliki tidak
dapat memberikan hasil yang diimpikan.
                                                   Tabel 22

            Integrasi antara Kapabilitas Teknologi dan Kapabilitas Fungsional Lainnya
                                                                                     Persentase
Integrated/   Perusahaan
              1        2         3          4         5          6         7         (%)
Not
integrated
Yes           x                   x         x             x                   x         71.5
No.                     x                                         x                     28.5



                                                                                                       21
Manfaat-manfaat Adopsi Teknologi
Apa yang diperoleh perusahaan dari adopsi teknologi? Tabel 23 memaparkan manfaat-
manfaat adopsi teknologi menurut perusahaan responden. Sebagian besar manfaa yang
diperoleh menurut persepsi responden berkenaan dengan peningkatan kapabilitas operasional
yang pada akhirnya dapat mendukung prioritas kompetitif perusahaan. Manfaat-manfaat ini
meliputi peningkatan kinerja dalam bentuk penurunan biaya operasi, waktu siklus produksi,
peningkatan kualitas serta produktivitas. Secara jelas pemikiran responden lebih mengarah
kepada hal-hal taktis dibanding strategic, hanya responden 7 yang memiliki perhatian pada
lingkungan bisnis dan kompetisi.

                                           Table 23

                           Keuntungan yang Diperoleh Perusahaan
 Perusahaan   Manfaat yang diperoleh
 1.              • Menurunkan biaya produksi.
                 • Menurunkan siklus waktu proses.
                 • Meningkatkan kapabilitas waktu penghantaran.
                 • Menurunkan produk cacat.
                 • Meningkatkan produktivitas tenaga kerja.
                 • Meningkatkan efisiensi.
                 • Memperbaiki lingkungan kerja.
                 • Meningkatkan penjualan.
 2.              • Menurunkan waktu proses produksi.
                 • Meningkatkan roduktivitas.
                 • Meningkatkan kemampuan penghantaran.
                 • Mengeliminansi pemborosan energi dan material.
                 • Memperbaiki pengendalian produksi.
                 • Mengurangi sediaan barang setengah jadi. Reduction overhead cost.
                 • Memecahkan masalah teknis.
 3.              • Mengurangi waktu proses produksi.
                 • Peningkatan pengendalian manajemen untuk memudahkan pengendalian oleh
                      manajemen.
 4.              • Mengurangi waktu proses.
                 • Memperbaiki kapabilitas penghantaran produk.
                 • Menurunkan cacat produk.
                 • Memperbaiki kapabilitas untuk mengembangkan disain produk.
                 • Meningkatkan pangsa pasar.
                 • Meningkatkan produktivitas.
 5               • Mengurangi cacat produk.
                 • Stabilisasi proses produksi.
                 • Mengurangi siklus waktu produksi.
 6.              • Mengurangi kos produksi.
                 • Mengurangi rata-rata waktu siklus produksi.
                 • Memperbaiki kapabilitas penghantaran.
                 • Memperbaiki kualitas produk.
                 • Meningkatkan produktivitas.
                 • Mengeliminasi pemborosan
                 • Meningkatkan produktivitas




                                                                                           22
 7.            •   Untuk mempertahankan diri dari tekanan lingkungan bisnis. Improve working
                   environment.
               •   Mengatasi kurangnya ketrampilan.
               •   Memperbaiki respon atas tuntutan pelanggan.



SIMPULAN

Dapat dilihat dengan jelas bahwa perusahaan di Indonesia masih kurang memiliki perspektif
strategikketika mengadopsi teknologi. Mereka lebih memperhatikan pada faktor-faktor jangka
pendek., Sumber ide untuk mengadopsi teknologi secara internal terfokus dan tidak
melibatkan pemasok dan departemen pemasaran. Juha kultur ‘management knows best’ akan
mengarah pada rendahnya keterlibatan oleh bagian-bagian lain dalam organisasi.
Lebih jauh dari itu, mereka menghadapi masalah-masalah yang berkaitan dengan sumber daya
manusia sehingga mereka perlu memfokuskan masa isu-isu sumber daya masusia dan
organisasi seperti konflik, dan resistance to change, terlepas dari masalah-masalah teknis
selama proses adopsi dan implementasi. Pelatihan yang tepat dan kultur inovatif diperlukan
untuk keberhasilan adopsi teknologi.
Teknologi-teknologi yang dominant adalah teknologi proses dan yang diklasifikasikan
sebagai soft technologies. Manfaat yang diperoleh melalui adopsi teknologi menurut persepsi
responden hanya meliputi ukuran-ukuran efisiensi operasiona. Hal ini terkait dengan
dominannya peran top management, bagian produksi dan operasi dalam mencetuskan ide,
pengambilan keputusan dan monitoring proyek-proyek implementasi teknologi.
Skenario di atas terutama disebabkan oleh dua faktor utama yaitu kurangnya tenaga ahli dan
kurangnya sumber pendanaan investasi teknologi. Keterbatasan pemilihan teknologi yang
disebabkan oleh kondis ekonomi negara menyebabkan pemikiran jangka pendek top
management.




                                                                                               23
Bibliography

Al Ali, S. (1995), Developing countries and technology transfer. International Journal Of Technology
          Management, Vol. 10, Nos. 7/8, pp. 704-713.
Betz, F. (1993), Strategic Technology Management. McGraw Hill, Series Introduction.
Burgess, T.F. Gules, H.K. Gupta, J.N.D., & Tekin, (1998), Competitive priorities, process innovations and time
          based competition in the manufacturing sectors of industrializing economies: the case of Turky,
          Benchmarking for Quality Management and Technology, vol. 5 (4), pp. 304-316.
Butcher, P., Lee, G. ,& Sohal, A. (1999), Lesson for implementing AMT: some case experiences with CNC in
          Australia, Britain and Canada, International Journal of Production and Operation Management, vol. 19
          (5/6), pp. 515-526.
Schroeder, R. & Sohal, A, (1999), Organizational characteristics associated with AMT adoption: toward a
          contingency framework. International Journal of Operation & Production Management, Vol. 19 (12),
          pp 1270-1291.
Cagliano, R & Spina, G. (2000), How improvement programs of manufacturing are selected: the role of
          strategic priorities and past experience. International Journal of Production and Operation
          Management, Vol. 20 (7), pp. 772-791.
Forsberg, T., Nilson,L, & Anthony, M. (1999), Process orientation: the Swedish experience, Total Quality
          Management, vol 10. pp. 540-547.
Freytag, P.V. & Hollensen, S. (2001), The process of benchmarking, benchlearning, and benchaction, The TQM
          Magazine, vol. 13 (1), pp. 25-33.
Frohman, A.L. (1985), Putting technology in strategic planning, California Management Review, vol. 27(1),
          Winter, pp. 48.
Ghobadian, A. & Galear, D.N. (1996), TQM in SMEs. Omega, International Journal of Management Science.
          Vol. 24(1). Pp. 83-106.
Harrison, J.N. & Samson, D.A. (1997), International Best Practice In The Adoption and Management of New
          Technology, Jack Hilary Associates, Canberra.
Hinton, M., Francis, G. & Holloway J. (2000), Best practice benchmarking in UK. Benchmarking : An
          International Journal, vol. 7(1), pp. 52-61.
Hottenstein, M.P. & Dean, J.W. (1992), Managing risk in advance manufacturing technology. California
          Management Review, Summer, pp. 112-126.
Humpreys, P., McCurrie, L. & Mc. Aller, E. (2001), Achieving MRP2 class a status in an SME: a successful
          case study, Benchmarking: An International Journal, Vol. 8(1), pp. 48-61.
Ignance, Ng. Dart, J. & Shakar, A. (1998), The impact of management technology on SMEs peformance,
          Proceeding International Conference On Small and Medium Scale Enterprices, University Utara
          Malaysia, pp. 93-101.
Irwin, J.G. & Hoffman, J.J., Geiger, S.W. (1998), The effect of technological adoption on organizational
          performance. International Journal of Organization Analysis, Vol. 6(1) pp. 50-64
Ko, E; Kincade, D. & Brown, J.R. (2000), Impact of business type upon the adoption of quick response
          technologies: the apparel industry experience. International Journal of Production and Operation
          Management, vol. 20(7), pp. 772-791.
Morone, J. (1989), Strategic use of technology. California Management Review, Vol. 39(4), pp. 91-110.
Patterson, J.W. Frendall, L.D. Kennedy, W.J. & Mc Gee, A. (1996), Adapting total productive maintenance to
          Austin Inc, Production and Inventory Management Journal, vol. 37(4), pp. 32 -36.
Porter, M. (1985), Competitive Advantage, New York: Free Press.
Ptak, C.A. (1991), MRP, MRPII, OPT, JIT, and CIM - Succession, Evolution, or necessary combination,
          Production and Inventory Management Journal, second quarter, pp. 7-11.
Sakakibara, S., Flynn, B., Schroeder,R. & Morriss, W.T. (1997), The impact of JIT manufacturing and
          infrastructure on manufacturing performance, Management Science, Vol. 43. pp.1246-1257.
Schroeder, R. & Sohal, A, (1999), Organizational characteristics associated with AMT adoption: toward a
          contingency framework. International Journal of Operation & Production Management, Vol. 19 (12),
          pp 1270-1291.
Sim, K.L. (2001), An empirical examination of successive incremental improvement techniques and investment
          in manufacturing strategy, International Journal of Operation and Production Management, vol. 21(3),
          pp. 1-19.




                                                                                                           24
Sohal, A.S. & Terziovsky, M. (2000), TQM in Australian manufacturing: factor critical to success. International
         Journal of Quality and Reliability Management, vol. 17(2). Pp. 158-167.
Stacey, G. & Ashton, W. (1990), A structure approach to corporate technology strategy. International Journal of
         Technology Management, 5, pp. 389-407.
Subramanian, A. & Nilakanta, S. (1996), Organizational innovativeness: exploring the relationship between
         organizational determinant of innovations, and measures of organizational performance, Omega,
         International Journal of Management Science, Vol. 26 no. 6 pp. 631-647.
Tsang, A.J.H., & Chan, P.K. (2000), TPM implementation in China a case study, International Journal of
         Quality and Reliability Management. Vol. 17(2), pp. 144-157.
Yasin, M.M., Small, M., & Wafa, M.A. (1997), An empirical investigation of JIT effectiveness: an
         organizational perspective. Omega, International Journal of Management Science, vol. 25 pp. 461-471.
Youseff, M.A. (1993), Computer based technology and their impact on manufacturing flexibility. International
         Journal of Technology Management, Vol. 8. pp. 355-370.
Zammuto, R.F. & O’Connor, K. (1992), Gaining advanced manufacturing technologies benefit: the role of
         organization design and culture. Academy of Management Review, vol. 17(4). Pp. 701.




                                                                                                            25

				
DOCUMENT INFO
Description: Management strategic journal from The 1st PPM National Conference on Management Research “ Manajemen di Era Globalisasi”