Docstoc

JENIS MAKNA

Document Sample
JENIS MAKNA Powered By Docstoc
					       DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS
        MATA KULIAH : LINGUISTIK UMUM
                 SEMESTER : I
            DOSEN : YAHDILLAH, S.Pd.




                DISUSUN OLEH

                PUTRI KAHIRA


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
                  ( STKIP )
           STKIP SETIA BUDHI
                2008/2009
                                    JENIS MAKNA


A. Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual
 Makna Leksikal
      Makna lesikal adalah makna yang di miliki atau ada leksem meski tanpa konteks
       apapun.
      Makna leksikal adalah makna yang sebenarnya,makna yang sesuai dengan hasil
       obervasi indra kita, atau makna apa adanya.makna leksikal adalah makna yang
       ada dalam kamus.
      Misalnya leksem kuda memiliki makna leksikal’sejenis binatang berkaki empat
       yang biasa di kendarai’,


 Makna Gramatikal
       Makna gramatikal baru ada kalau terjadi proses gramatikal seperti afiksasi,
reduplikasi, komposisi, atau kalimatisasi.
      Proses afiksasi
       Prefiks ber- :
       kata ”baju”      → berbaju →      makna gramatikal ’mengenakan atau memakai
       baju’,
          rekreasi → berekreasi → makna gramatikal ’melakukan rekreasi’.
      Proses kalimatisasi
       kata-kata adik , menendang, dan bola menjadi kalimat → adik menendang
       bola.
      Proses komposisi
       Contoh : komposisi dasar sate dengan dasar ayam melahirkan makna ’bahan’;
       dengan dasar madura melahirkan makna ’asal’; dengan dasar lontong
       melahirkan makna ’bercampur’; dan dengan kata Pak Kumis melahirkan makna
       ’buatan’.


 Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada didalam satu
   konteks. Makna konteks dapat juga berkenaan dengn situasinya, yakni tempat,
   waktu, dan lingkungan penggunaan bahasa itu.
   contoh : makna konteks pada kata kepala berikut !
   a. Rambut di kepala nenek belum ada yang putih.
   b. Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid ini
   c. Nomor teleponnya ada pada kepala surat itu.


B. Makna Referensial dan Non –referensial
      Sebuah kata atau laksem disebut bermakna referensial kalau ada referensnya,
       atau acuannya.
       Seperti: kuda, merah, dan gambar → bermakna referensial karena ada acuannya
                                               dalam dunia nyata
                  Dan, atau, dan karena    → tidak bermakna referensial.
      Ada sejumlah kata yang disebut kata deiktik, yang acuannya tidak menetap pada
       satu maujud, melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu kepada maujud
       yang lain. Deiktik ini adalah kata-kata yang termasuk pronomina, seperti dia,
       saya, dan kamu. Kata-kata yang menyatakan ruang, seperti di sini, di sana, dan
       di situ.


C. Makna Denotatif dan Makna Konotatif
      Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang
       dimiliki oleh sebuah leksem.
      Makna konotatif adalah makna lain yang ”ditambah” pada makna denotatif tadi
       yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang
       menggunakan kata tersebut.


D. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
   Menurut Leech (1976) membagi makna menjadi makna konseptual dan makna
   asosiatif.
      Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari
       kontek atau asosiasi apa pun. Contoh kata kuda memiliki makna konseptual
       ’sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’. Jadi,makna konseptual
       sama saja dengan makna leksikal, makna denotatif, dan makna referensial.
      Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan
       dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa.
       Misalnya, kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian.
       Oleh leech (1976) ke dalam makna asosiasi ini dimasukkan juga yng disebut
       makna konotatif, makna stilistika, makna afektif, dan makna kolokatif.
       a. Makna konotatif termasuk dalam makna asosistif adalah karena kata-kata
          tersebut berasosiasi dengan nilai rasa terhadap kata itu. Misalnya kata babi,
          berasosiasi dengan rasa jijik, haram, dan kotor.
       b. Makna stilistika berkenaan dengan pembedaan penggunaan kata sehubungan
          dengan perbedaan sosial atau bidang kegiatan. Misalnya pembedaan
          penggunaan kata rumah, pondok, kediaman, istana, vila, dan wisma.
       c. Makna afektif berkenaan dengan perasaan pembicaraan terhadap lawan
          bicara atau terhadap objek yang dibicarakan.
       d. Makna kolokatif berkenaan dengan ciri makna tertentu yang dimiliki sebuah
          kata dari sejumlah kata-kata yang bersinonim, sehingga kata tersebut hanya
          cocok untuk digunakan berpasangan dengan kata tertentu lainnya. Misalnya,
          kata tampan yang sesungguhnya bersinonim dengan kata-kata cantik dan
          indah hanya cocok atau hanya berkolokasi dengan kata yang memiliki ciri
          ’pria’.


E. Makna Kata dan Makna Istilah
      Pada awalnya, makna yang dimiliki sebuah kata adalah makna leksikal, makna
       denotatif, atau makna konseptual. Namun, dalam penggunaannya makna kata itu
       baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada didalam konteks kalimatnya atau
       konteks situasinya.
      Istilah mempunyai makna yang pasti, yang jelas, yang tidak meragukan,
       meskipun tanpa konteks kalimat. Istilah itu bebas konteks, sedangkan kata tidak
       bebas konteks. Hanya saja istilah itu hanya digunakan pada bidang keilmuan
       atau kegiatan tertentu.


F. Makna Idiom Dan Peribahasa
       Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat ”diramalkan” dari
   makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal.
       Dua macam idiom, yaitu yang disebut idiom penuh dan idiom sebagian.
      Idom penuh adalah idiom yang semua unsur-unsurnya sudah melebur menjadi
       satu kesatuan, sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan itu.
       Contoh membanting tulang, menjual gigi, dan meja hijau.
   Idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna
    leksikalnya sendiri. Misalnya buku putih yang bermakna ’buku yang memuat
    keterangan resmi mengenai suatu kasus’.
    Peribahasa memiliki makna yang masih dapat ditelusuri atau dilacak dari makna
unsur-unsurnya karena adanya”asosiasi” antara makna asli dengan maknanya
sebagai peribahasa.
Contoh :
Seperti anjing dengan kucing
Yang bermakna ’dikatakan ihwal dua orang yang tidak pernah aku’
Tong kosong nyaring bunyinya
Yang bermaka ’orang yang banyak cakapnya biasanya tidak

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:12958
posted:8/2/2010
language:Indonesian
pages:5