Docstoc

Edukasi Natural dan Arsitektur Kognitif

Document Sample
Edukasi Natural dan Arsitektur Kognitif Powered By Docstoc
					Edukasi Natural dan Arsitektur Kognitif
Material dan metode edukasi dari perspektif sains kognitif*


RENDRA SUROSO
Dept Cognitive Science
Bandung Fe Institute
brs@cogsci.bandungfe.net
http://cogsci.bandungfe.net/


Abstrak
Pengetahuan adalah topik sentral di sains kognitif yang didukung oleh representasi
simbolik dan sistem keyakinan. Manusia bisa memperoleh dan mengembangkan
pengetahuan karena ada modul-modul kognitif yang didukung oleh arsitektur tertentu
yang berbeda dengan spesies manapun. Arsitektur yang dihasilkan evolusi ini mempunyai
domain spesifik dan domain general yang interaksi antar keduanya berpotensi
menghasilkan keyakinan dan perilaku yang tidak koheren secara logis, paling tidak
menurut standar sains. Edukasi natural adalah upaya sistematis untuk ‘memperbaiki’
inkoherensi, relatif terhadap kerangka acuan tertentu, meski di paper ini baru dicapai cara
‘mengenali’ inkoherensi ini.
Kata kunci: edukasi, epistemologi, sains, teori folk, representasi pengetahuan, arsitektur
kognitif.




1. PENDAHULUAN
Di kerja ini, pendidikan atau edukasi (yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
mempunyai arti lebih luas dibanding pendidikan)1 tidak dilihat sebagai sebuah konsep,
tugas, atau proyek masyarakat seperti yang selama ini biasa dijumpai dalam berbagai
eksplikasi konsep tentang pendidikan yang dipakai dalam kurikulum-kurikulum standar2.
Berbagai material edukasi yang ada atau pernah ada di masyarakat yang kemudian oleh



* Working Paper WPR2004, Bandung Fe Institute, Agustus 2004.
1 Meskipun lebih terdengar sebagai sinonimi, Kamus Besar Bahasa Indonesia membedakannya sebagai
berikut:
         pendidikan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha
         mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan; proses, perbuatan, cara mendidik
         (KBBI, 1990: 205);
dan:
         edukasi (perihal) pendidikan(KBBI, 1990: 218). Edukasi dengan demikian dianggap lebih luas.
2 Sebagai contoh, dalam bukunya yang paling sering diterjemahkan, The School and the Society, John Dewey

(1890) mendeskripsikan modifikasi metode dan kurikulum pendidikan sebagai:
         “… as much a product of the changed social situation, and as much an effort to meet the needs of the new society
         that is forming, as are changes in modes of industry and commerce.”
para teoretisi berusaha diterapkan, diubah, atau dijungkalkan sama sekali, hanya akan
menjadi contoh kerja atau ilustrasi semata, yaitu di kasus teori-teori folk.
  Alih-alih, edukasi secara konsisten dipandang secara individual, sebagai upaya aktif
dalam mengubah kecenderungan manusia, mental maupun behavioral, sebagai satu
spesies dengan kapasitas kognitif tertentu. Dengan ini, kita sampai di definisi edukasi
yang akan digunakan secara konsisten dalam kerja ini sebagai berikut:
       Definisi 1: edukasi adalah upaya dari subyek terhadap obyek untuk
       mengubah cara memperoleh dan mengembangkan pengetahuan menuju
       cara tertentu yang diinginkan oleh subyek.
   Dalam hal ini, subyek adalah pengajar, dan obyek adalah terajar. Pengetahuan sendiri
berbentuk serpihan apapun yang bisa diterima dan diproses oleh sistem kognitif manusia,
entah sebagai data sensori, sebagai himpunan string yang menjadi representasi obyek-
obyek yang dipersepsi, atau sebagai proses pengolahan simbol-simbol representasional,
yang kemudian dilekati nilai-kebenaran oleh isi mental sehingga sebuah teori semantik
tentang obyek-obyek terbentuk.
   Saat ini, saya berspekulasi bahwa program-program kurikuler edukasi saat ini
ditentukan oleh keberadaan banyak subyek yang mempunyai cara pengubahan dan
pemerolehan pengetahuan yang berbeda-beda, padahal hanya berusaha mengubah satu
obyek. Spekulasi ini diindikasikan oleh konstruksi kurikulum yang majemuk di sekolah-
sekolah dengan material yang berbeda-beda dan satu sama lain bisa dan potensial untuk
menjadi kontradiktif di titik tertentu. Di sisi lain, cara pemerolehan dan pengembangan
informasi tidak selalu terdefinisikan dengan baik.
   Bukannya saya berusaha menekankan bahwa pengetahuan inkoheren atau keyakinan
kontradiktif dalam satu organisme (Suroso, 2004b; Bermúdez, 2000; Bach, 1981) ternyata
juga bisa diakomodasi secara potensial oleh lingkungan, dalam hal ini, nilai-nilai sosial di
sekitar individu. Dalam paper ini, edukasi adalah melulu berhubungan dengan sifat unik
individual yang ada dengan atau tanpa pengaruh lingkungan di sekitarnya, dan edukasi
adalah alat untuk ‘mengubah’ kecenderungan unik ini sejalan dengan kerangka acuan
tertentu. Dalam beberapa hal, kerangka acuan yang dimaksud bisa dihubungkan dengan
meta-epistemologi (McCarthy, 1990) secara epistemologis atau kesatuan sains (Fodor,
1997) secara teleologis. Di paper ini, kami belum menentukan cara mengubah yang
dimaksud, dan kerangka acuan yang dipakai baru – tapi tidak melulu – seputar
kemampuan mengakuisisi pengetahuan saintifik.
   Mengambil edukasi sebagai sebuah titik tolak menjadi kelebihan dan kekurangan dari
paper ini yang konsekuensinya akan muncul di pengembangan selanjutnya.
   Kelebihannya terletak di pemakaian kerangka acuan tertentu yang bisa dipilih secara
arbitrer sebagai patokan dari pengubahan pengetahuan, misalnya kemampuan bertahan
hidup, pengetahuan tentang kemampuan bertahan hidup yang lebih rumit, dan
pengetahuan secara umum. Kekurangannya, adopsi beberapa terma gramar generatif
Chomskian untuk menghubungkan konstruksi biologis dan kultural mau tak mau harus
diiringi dengan representasi pengetahuan (mengganti sintaks bahasa natural dengan
sintaks bahasa formal); dua sudut pandang yang selama ini berkembang sendiri-sendiri.
Sudut pandang pertama berada di riset-riset linguistik yang meski berhubungan dengan
                                             2
aktivitas behavioral yang teramati, masih jauh dari kelengkapan formalisasi semantik
karena kadang cenderung mengakuisisi faktor non-linguistik, misalnya pada thematic role di
teori Government and Binding pada sintaks bahasa natural. Yang kedua ditemukan di riset-
riset AI berbasis logika yang baru mengeksplorasi semua kemungkinan semantik
(McCarthy, 1990), terutama yang model-teoretik. Keduanya belum terhubung dengan
baik, terutama karena arsitektur kognitif3 belum memainkan peranan secara optimal, bila
memang sudah.
   Kelebihan yang disebut di atas akan memudahkan riset selanjutnya, bagi edukasi
sendiri, maupun bagi sains kognitif secara umum, bila basis empiris memang diutamakan,
mengingat kita punya kelas, murid, guru dan kurikulum konvensional. Basis empiris yang
dimaksud bisa didapat dengan mengintegrasikan semua faktor yang ada dalam edukasi
konvensional di atas ke dalam sebuah sistem tutorial cerdas (STC) yang minimal
mempunyai dua spesifikasi berikut:
   1. Pencatat Tingkat Pembelajaran
       STC1 yang dihasilkan berfungsi sebagai theorem-prover di sebuah bidang ilmu.
       STC1 seperti ini bisa dibuat dengan teknik tertentu tanpa harus sama atau
       mirip dengan arsitektur kognitif obyek edukasi. Inilah yang biasa dijumpai
       karena memang ditujukan untuk menggantikan posisi guru dari darah dan
       daging. STC1 biasanya menambahkan beberapa prosedur ad hoc, misalnya
       STC1 yang bisa mengeluarkan pujian disamping hanya membenarkan atau
       menyalahkan proposisi obyek edukasi. Minimal, STC1 bisa memberikan
       dokumentasi tentang pembelajaran obyek edukasi dari waktu ke waktu.
   2. Pembanding Arsitektur Kognitif
       Ada STC2 yang didesain agar menyerupai arsitektur kognitif obyek edukasi,
       paling tidak, sebatas di problem-solving. Selanjutnya, dalam sebuah ekologi
       yang terkontrol, biarkan STC2 dan obyek edukasi tetap menerima
       pengajaran dari guru virtual STC1 dengan masih memakai metode
       dokumentasi yang sama. Bila basis empiris diutamakan, pendekatan seperti
       ini bisa dilakukan untuk jangka waktu yang panjang untuk satu obyek
       edukasi yang sama, sehingga bisa menghasilkan dokumentasi yang lebih
       lengkap dibanding prosedur-prosedur lama psikologi kognitif.
   Sementara itu, kekurangan yang disebut di atas, paling tidak, bisa memberi posisi netral
dalam berbagai perdebatan di arsitektur kognitif, mis.: tidak harus diambil posisi tegas
tentang status keberadaan isi mental; possible worlds begitu saja diasumsikan, kecuali untuk
beberapa hal tentang pengelompokan proposisi yang, sesuai hipotesis, dikendalikan teori
folk.




3Arsitektur kognitif mempunyai arti yang berlainan di berbagai tradisi riset yang berbeda (Cf. Pylyshyn,
1991). Tapi dalam paper ini, saya ingin memakai arti yang sama dengan Al Newell: arsitektur yang bisa
menjelaskan bagaimana himpunan semua komponen pikiran bisa bekerja bersama-sama sehingga:
         Even if the mind has parts, modules, components, or whatever, they all mesh together to produce behavior.
         (Newell, 1990:17).
                                                        3
  Dengan kata lain, sebagai langkah awal, sebagaimana disebutkan di judul, edukasi
sebagai salah satu proyek kultural yang mewadahi kapasitas kognitif manusia – terutama
untuk sains4 – bisa diberi sebuah kerangka eksperimental oleh paper ini.

2. PENGETAHUAN: Kecukupan Deskriptif
Topik ini perlu dieksplikasi dengan baik sebelumnya agar ada batas yang jelas antara
spekulasi filosofis tentang pengetahuan dan kemampuan manusia dalam memperoleh
pengetahuan. Tradisi AI yang berbasis representasi pengetahuan biasanya menyatakannya
dalam ‘keyakinan’ terhadap pengetahuan bahwa x dan ‘realitas’ bahwa x itu sendiri
(Fagin, Halpern, Vardi, 1984). Pernyataan-pernyataan seperti ini bisa dicocokkan ke
realitas dengan data sensori, bisa dinyatakan dalam ‘melihat x adalah mempercayai x’ (van
Linder, van der Hoek, Meyer, 2000).
   Yang pertama lebih terkait dengan epistemologi dan filsafat sains. Sejarah panjangnya
terbentang sejak masa Sokratik hingga perkembangan terakhir yang menjadi alur besar
saat ini, seperti falsifikasionisme (Popper, 1959; Lakatos, 1971). Selanjutnya, dari
epistemologi dan filsafat sains, bentuk-bentuk pengetahuan yang mungkin dan cara
memperolehnya akan didiskusikan lebih lanjut di bagian 2.1.
   Yang kedua terkait dengan kemampuan manusia dalam memperoleh pengetahuan, dan
secara khusus, sains, sesuai dengan struktur dan kapasitas kognitif yang dimilikinya.
Dalam bahasan kognisi level tinggi (khususnya mekanisme pemrosesan dan domain
stimulus), topik ini telah dan masih menempati prioritas penting dalam agenda sains
kognitif, terutama lewat pendekatan-pendekatan antropologi kognitif, psikologi
evolusioner, dan kepakaran. Pendekatan ini akan disatukan di bagian 3 paper ini dengan
memandang teori-teori folk dan keberhimpitan domain-domainnya dengan teori-teori
saintifik sebagai posisi kunci.

2.1 Induksi dan Deduksi
Bertrand Russell (1926) jauh hari menyatakan bahwa tidak ada informasi tambahan yang
bisa diperoleh dari deduksi karena deduksi bukan inferensi ‘yang sebenarnya’, bukan
informasi tambahan (sebagai efek mental) yang diperoleh dari data (sebagai efek sensori).
Deduksi hanyalah menulis-ulang informasi lama dengan mematuhi kaidah-kaidah logika.
Deduksi bukan masalah besar bagi teori pengetahuan, setidaknya sebelum bertemu
teorema ketidakkompletan Gödel (Gödel, 1931) yang bersentuhan dengan ‘kecukupan
deskriptif’ pengetahuan. Keterbatasan dari kemampuan deduktif alamiah manusia
nantinya akan membentuk ‘kecukupan eksplanatori’ pengetahuan5.
   Lebih jauh, Russell kemudian berusaha mereduksi berbagai pernyataan dalam variabel-
variabel yang bertindak sebagai terma singular, ditambah dengan beberapa konstanta logika


4 Terinspirasi oleh proyek gagal David Hume, Dialogues Concerning Natural Religion (1779), program edukasi
ini saya sebut ‘edukasi natural’.
5 Analog dengan kerja Noam Chomsky di teori sintaks, ‘kecukupan deskriptif’ di sini berarti ‘segala sesuatu

yang mungkin dimodelkan’, sedangkan ‘kecukupan eksplanatori’ berarti ‘segala sesuatu yang mungkin ada
dalam sistem yang dimodelkan’ (Cf. Chomsky, 1965:26-31). Bila di teori sintaks bahasa natural, kecukupan
eksplanatori berarti seleksi spesies gramar berdasarkan data linguistik, kecukupan deskriptif adalah deskripsi
lengkap dari semua gramar yang mungkin ada.
                                                      4
(quantifier, konektif) sehingga dari kedua jenis terma ini bisa didapat formula-formula yang
satu sama lain bisa saling dideduksikan dan membentuk proposisi baru.
   Proposisi-proposisi sebagai representasi tentang dunia bisa dihasilkan sepenuhnya
lewat inferensi yang bisa berbentuk induksi (tiap pernyataan yang berbeda adalah
pernyataan yang tidak terhubung satu sama lain sehingga hubungan logisnya satu sama
lain tidak berasal dari deduksi terhadap aksioma yang lebih elementer). Walau begitu,
dengan segera, cara melihat informasi diakuisisi dan diintegrasikan secara induktif ke
dalam pengetahuan seperti ini akan berhadapan dengan masalah yang lebih besar,
misalnya frame problem6 (McCarthy, Hayes, 1969; Harnad, 1993) yang memerlukan
pengembangan tertentu dari logika formal klasik. Frame problem biasanya dianggap serius
oleh periset AI hanya demi pertimbangan ekonomi formalisme serta kompleksitas
komputasional dari sebuah sistem deduktif semata, misalnya di berbagai program
automated reasoning. Tapi karena informasi tentang alam semesta tak terbatas, dan kapasitas
kognitif manusia terbatas, maka penalaran awam juga seharusnya mengalami frame problem.
   Salah satu akibatnya, mesin di balik kapasitas inferensi manusia ternyata tidak seketat
mesin logis Russell. Sesuai temuan berbagai eksperimen psikologi kognitif (tentang
memori, Cf. Miller, 1957; untuk inferensi, Cf. Johnson-Laird, 1980; untuk nesting klausa
bahasa natural, Cf. Atran, 2003), ‘induksi yang tidak semestinya’ memang inheren dalam
kapasitas kognitif manusia, dan bukan karena masalah yang dihadapi memang
membutuhkan induksi sine qua non. Dan sebagaimana akan ditunjukkan di spesifisitas
domain di 3.1, hal ini adalah konsekuensi dari kapasitas kognitif manusia yang didesain
oleh evolusi sedemikian rupa sehingga manusia memang bukan mesin logis sama sekali,
paling tidak di banyak aspek kapasitas kognitif.
   Pertanyaannya, dengan kembali meninjau-ulang teka-teki induksi kausal David Hume,
apakah yang mengendalikan kapasitas induktif manusia? Strategi lama menjawabnya
dengan mengutak-atik formalisme yang ada, yaitu menambahkan aturan inferensi tertentu
dalam induksi kausal awam (untuk ilustrasi tentang strategi ini, Cf. Surya, et. al., 2004). Di
kerja ini, strategi yang diambil – dan secara khusus disesuaikan dengan akuisisi
pengetahuan saintifik – adalah mesin yang berada di balik kapasitas induktif awam yang
meliputi berbagai domain pengetahuan, viz. teori folk.

2.2 Representasi Mental
Di paper ini, kami mengadopsi hipotesis bahasa pemikiran (Fodor, 1975) sebagai working
assumption dengan mengandaikan adanya kotak-keyakinan tepat seperti sindiran Dennett
(1995:419), yaitu semata memang demi kemudahan pengembangan teori.
6Versi pencipta bahasa pemrograman Lisp, John McCarthy, frame-problem yang menjadi masalah besar di AI
berbasis logika proposisional bisa digambarkan sebagai ‘penentuan tetap atau berubahnya nilai-kebenaran
proposisi-proposisi di tengah perubahan satu proposisi’.
Selain sebagai satu kelemahan deskripsi struktural di AI, frame-problem juga menjadi masalah dalam
penalaran awam (McCarthy, 1990), misalnya pada: ‘pengubahan posisi sebuah benda yang diwarnai akankah
mengubah warna benda itu sendiri?’. Bandingkan dengan tulisan Rudy Badil dalam ‘“Body Language”
Algojo Penalti’ (Kompas, 29 Juni 2004:41) berikut:
          Begitulah susahnya bersepak bola. Ya kalau bal-balan gampang, tentu PSSI sudah juara
          dunia berkali-kali. Hiih!;
yang menimbulkan pertanyaan: ‘bila sepak bola diubah dari sulit menjadi gampang, apakah PSSI yang
pecundang juga bisa berubah menjadi pemenang?’
                                                  5
   Status bahasa pemikiran sendiri berikut perdebatan seputar isi mental berada di luar
jangkauan paper ini. Ringkasnya, adopsi ini akan memudahkan kita dalam
menggambarkan pengetahuan dan derajat keyakinan terhadap pengetahuan sebagai suatu
entitas yang bisa diakomodasi bahasa formal, dan dengan demikian, bisa berbentuk
analogi Chomskian, yaitu ‘kecukupan deskriptif’ yang berwujud semua keadaan
pengetahuan yang mungkin. Meski bahasa pemikiran tidak terlalu relevan, konsekuensi
sifatnya ke arsitektur kognitif menjadi penting, setidaknya sebagai argumen pendukung
dari teori semantik bahasa formal yang sudah ada.
   Bentuk terluasnya, seperti biasa dimodelkan dalam AI berbasis representasi
pengetahuan, dianggap sama dengan hasil yang dicapai epistemologi dan filsafat sains,
berbentuk koherensi epistemologis dan perseptual, antara inferensi dan data. Karenanya,
definisi 1 yang mengasumsikan terma ‘pengetahuan’ sebagai representasi sintaktik yang
kemudian terhubung ke isi mental semantik ‘sedemikian rupa’, bisa dipakai secara leluasa.
   Setelah itu, maka tiba waktunya untuk mencari kesejajaran teori semantik ini dengan
struktur dan kapasitas kognitif yang memungkinkannya atau dengan kata lain, ‘kecukupan
eksplanatori’, yang dalam kerja ini, dianggap ditentukan oleh domain kognisi, baik yang
spesifik maupun yang general.

3. DOMAIN: Kecukupan Eksplanatori
Sebuah proses kognitif bisa dianggap berdomain general jika dan hanya jika seseorang
bisa melakukan sebuah aktivitas kognitif dengan stimulus yang berasal dari domain
apapun hanya dengan bantuan stimulus itu semata, dan mekanisme pemrosesan yang
terjadi benar-benar seragam dan berfungsi mengarahkan asosiasi dan generalisasi stimulus
yang bersangkutan (Atran, 1998). Temuan-temuan eksperimental dalam teori folk
menyatakan, yang terjadi ternyata tidak, atau tidak selamanya seperti itu (Carruthers,
2003a, 2003b).
   Cara melakukan penalaran, struktur pengetahuan, dan mekanisme pemerolehan
pengetahuan ditemukan berbeda-beda di berbagai aspek kognisi. Cara kita mengenali
bunyi-bunyian menjadi kata-kata yang mematuhi kaidah sintaktik sebagai sebuah model
mental sangat berbeda dengan cara navigasi visual kita di sebuah bidang datar sebagai
model mental yang lain (Pinker, 1981). Domain kognisi, setidaknya di tingkat perseptual,
ternyata spesifik.
   Kecukupan eksplanatori juga ditentukan oleh faktor lain, mis.: keterbatasan akuisisi
banyak variabel embedded dari sebuah pernyataan yang panjang, yang karena keterbatasan
memori, ternyata hanya mencapai lima sampai enam level, yang bisa dinyatakan dalam
formalisasi logika doksastik: ‘Aku yakin bahwa Anu tahu bahwa Ani berpikir bahwa …’.
Variabel embedded ini juga dialami oleh klausa dalam struktur kalimat yang juga berada di
bawah tujuh, yaitu untuk sebuah bahasa bebas-konteks L dengan perulangan simbol-
simbol non-terminal a dan b sebanyak n kali, maka: L = {anbn | a,b < 7} (Atran, 2003).
   Namun karena yang kami anggap relevan dengan edukasi adalah fiksasi sebuah
mekanisme inferensi dalam sistem keyakinan, maka fakta-fakta tentang memori jangka
pendek ini, maupun fakta-fakta lain tentang mekanisme sensori dan motori, tidak


                                           6
semenentukan akuisisi informasi. Dalam bahasa Jerry Fodor, perhatian utama dari paper
ini adalah ‘apa yang sebenarnya terjadi di proses sentral’.

3.1 Spesifisitas Domain
Perihal dimana spesifisitas domain itu terjadi dan bagaimana rupa mekanisme biologis
yang bertanggungjawab di belakangnya, adalah salah satu butir perdebatan di sains
kognitif yang belum selesai. Spesifisitas domain bisa terjadi di mekanisme persepsi,
antarmuka antara data sensori dari persepsi dengan sistem syaraf pusat, bahkan sampai di
sistem syaraf pusat itu sendiri.
   Bila kita berniat mencari biomekanisme yang bertanggungjawab terhadap spesifisitas
domain-domain ini, maka akan muncul jurang antara fisiologi yang disokong substrat
genetis, fenomena-fenomena kognisi tingkat tinggi yang diatasi arsitektur kognitif, dan
fakta-fakta behavioral. Perdebatan tentang biomekanisme ini masih akan berlanjut,
sehingga posisi aman di titik ini adalah dengan bersandar pada hipotesis nativistik di
banyak hal, meski secara tentatif belum bisa dikatakan disertai substrat genetis yang pasti
di belakangnya (Bates, 1994).
   Secara eksperimental, nativisme dalam sains kognitif, lebih khusus menyangkut
kemampuan linguistik, mungkin baru pertama kali ditegaskan oleh Chomsky (1965:25):
       To learn a language, then, the child must have a method for devising an appropriate
       grammar, given primary linguistic data.
   Penyelidikan awal Chomsky di wilayah linguistik akhirnya merembet ke berbagai topik
di sains kognitif, termasuk ke psikologi perkembangan. Banyak temuan yang
dihasilkannya akhirnya mengarahkan kita ke kesimpulan, bahwa pikiran kita mempunyai
banyak ‘mesin’ yang berbeda cara kerjanya, mempunyai input yang berbeda, ada sejak
lahir, bisa bekerja secara simultan tetapi tidak bisa saling mempengaruhi.
   Umumnya, ‘mesin-mesin’ ini dikelompokkan minimal dalam tiga cara: modularitas,
kepakaran, dan teori folk. Modularitas menyatakan bahwa pikiran terdiri dari sistem-
sistem terpisah (bahasa, persepsi visual, pengenalan wajah, etc.) dengan sifatnya masing-
masing (Fodor, 1983; Karmiloff-Smith, 1992). Pendekatan kepakaran masih menekankan
keterpisahan sistem-sistem, tetapi yang terpisah dan saling berbeda adalah tingkat
kepakaran seseorang dalam melakukan beberapa ketrampilan (bermain gitar, bermain
catur, menyelesaikan soal-soal fisika) (Chi, Feltovich, Glaser, 1981; Howe, Davidson,
Sloboda, 1998).
   Dua pendekatan ini, meskipun tidak lebih lemah, berada sedikit di luar relevansi kerja
ini karena terpaut cukup jauh dengan material edukasi yang dibahas di bagian 4, sehingga
satu-satunya cara yang paling kuat untuk mengelompokkan ‘mesin-mesin’ mental kita ini
adalah teori folk. Modularitas dan kepakaran hanya akan dijelaskan secara singkat di 3.2
untuk memberikan gambaran tentang model-model arsitektur kognitif yang telah ada dan
kapasitasnya untuk melakukan aktivitas saintifik. Dengan mengikuti Peter Carruthers
(2003a), Steven Pinker (1997b), dan serombongan teoretisi evolusioner lainnya,
pendekatan teori folk dan modularitas bisa digabungkan dalam bentuk modularitas masif
moderat (Lihat 3.2.2).

                                               7
3.2 Domain Kognisi
3.2.1 holisme
Holisme atau non-lokalitas isi mental akan membuat kemampuan saintifik menjadi
konter-faktual bila tetap berdomain spesifik. Modularitas sentralistik menjadi masuk akal.
Contoh klasik Fodor (1983) untuk hal ini adalah, ‘tak peduli seberapa jauh keterkaitannya,
kognisi akan dengan mudah menghubungkan botani dengan astronomi.’ Dari studi
tentang citraan7, Zenon Pylyshyn secara eksperimental juga menunjukkan bahwa ada
kondisi ketakterjamahan (impenetrability) kognisi oleh persepsi (Pylyshyn, 1999).




                           Gambar 1. Pengompletan Amodal Kanizsa
Berdasarkan gambar di kiri dan kanan, seharusnya kapasitas kognitif kita mengatakan bahwa gambar di
tengah memiliki bangun geometris yang sama (berdasarkan koherensi semantik atau kemiripan
maksimum). Tetapi penutupan oleh bangun geometris yang lain di gambar tengah membuat kapasitas
kognitif bekerja dengan cara lain karena secara spontan, kita membangkitkan gambar segi enam tak
beraturan dari gambar di tengah. Inilah yang disebut ‘ketakterjamahan’ kognisi oleh persepsi yang
mendukung hipotesis modularitas non-sentral. (Dari Kanizsa, 1985, seperti dinyatakan kembali dalam
Pylyshyn, 1999).


   Kritik terhadap non-lokalitas proses sentral dan periferalitas modular ini ditemukan
dalam modularitas masif dan modularitas masif moderat di 3.2.2. Kritik ini dalam satu
dan lain hal bisa menyempitkan holisme menjadi di area tertentu di proses sentral saja,
karena tidak selamanya yang terjadi di proses sentral berdomain general.
   Argumen melawan holisme bisa datang dari anggapan bahwa ketakterjamahan
Pylyshyn hanya menggambarkan proses terjadinya simbol representasional dari obyek
persepsi lewat mekanisme perseptual tertentu, y.i.: visual, dan bukan menggambarkan
terjadinya inferensi dan fiksasi keyakinan dari simbol-simbol representasional. Argumen
yang lain yang biasa diadopsi para modularis masif dan masif moderat didasarkan pada
beberapa ‘cacat’ di proses sentral, dari modus ponens, modus tollens, silogisme yang
berat sebelah, hingga tautologi; masing-masing cenderung diekspresikan secara tidak
semestinya, relatif terhadap rumusan logika klasik (van Gelder, Niklasson, 1994).

3.2.2 masif dan masif moderat
Secara bersamaan, domain-domain spesifik sudah begitu jauh berkembang dalam
sosiobiologi yang di tahun 1990-an dan menghasilkan disiplin baru bernama psikologi
evolusioner (Tooby & Cosmides, 1992).
   Domain yang spesifik ada karena suatu alasan, yaitu adaptasi. Dengan ini, maka
apapun proses kognitifnya, pasti ada alasan adaptifnya. Dan karena segenap kemampuan
kognitif dianggap dilahirkan oleh adaptasi untuk berbagai macam keperluan (menghindari

7 ‘Citraan’ di sini adalah padanan dari kata imagery yang secara sederhana berarti keadaan ketika kita ‘melihat’

sebuah obyek tanpa kehadiran obyek itu sendiri sebagai sesuatu yang bisa dilihat.
                                                       8
predator, mengenali konspesifik dan individual dalam spesies, mengenali free-rider dalam
kelompok), maka yang muncul adalah modularitas masif. Dan Sperber (2002) bahkan
menambahkan konsep mikro-modul. Kemampuan logis seperti modus ponens dianggap
sebagai modul yang bisa memproses representasi apapun dan hasilnya, beberapa ‘cacat’
deduksi manusia seperti yang digambarkan Tugas Seleksi Wason bisa terjelaskan. Bila
modul-modul dianggap masif dan segenap kemampuan kognitif dianggap modular, maka
tidak ada tempat untuk non-lokalitas isi mental pada modularitas klasik.




                                 Gambar 2. Tugas Seleksi Wason
Ada empat kartu yang di tiap kartunya tertera angka di satu sisi dan huruf di sisi lain. Satu sisi kartu
tampak di gambar di atas. Lalu ada pernyataan:
         Jika di satu kartu tertera 'huruf vokal' di sisi atas, maka di sisi bawah pasti tertera
         'angka ganjil'.
Kartu mana yang harus dibalik biar pernyataan di atas bisa dicek kebenarannya?
Eksperimen Peter Wason menunjukkan bahwa orang sangat susah untuk sampai ke kesimpulan bahwa
yang perlu dibalik cukup ‘E’, dan tidak perlu ikut membalik ‘5’. Eksperimen Wason ini sudah
digeneralisasi berulangkali dalam berbagai varian, misalnya yang disebutkan di Tabel 1.

   Sayangnya, bila modularitas diekstensikan ke semua aktivitas kognitif yang mungkin,
maka darimanakah datangnya kebaruan? Artinya, bila semua manusia dikendalikan
mikro-modul dalam membuat inferensi, bagaimana bisa ditemukan hukum-hukum
abstrak logika seperti double negation elimination? Bila modul saling terenkapsulasi tanpa
pembedaan sentral dan periferal, maka bukankah diperlukan modul spesifik yang begitu
kuat hingga bisa menghasilkan pengetahuan saintifik yang begitu kompleks dan menjadi
teramat jauh dengan model-model perseptual empirisisme?
   Solusinya – yang belum tentu memperjelas masalah – adalah modularitas masif
moderat (Carruthers, 2003a; Pinker, 1997a, 1997b). Di bagian yang modular, maka
pemrosesan informasi bersifat spesifik, meliputi berbagai macam teori folk. Tapi di sisi
lain, ada bagian yang berdomain general dan bisa menggabungkan informasi dari berbagai
domain, atau sebuah meta-modul yang beroperasi di berbagai domain yang cara kerjanya
disebut ‘redireksi representasional’ (Karmiloff-Smith, 1992).
   Sejauh ini, modularitas masif moderat adalah solusi terampuh dari masalah pemrosesan
informasi. Tapi menggabung proses periferal dan sentral, dan di saat yang sama, memisah
proses sentral, akan membuat teori sedikit menjauh dari minimalisme dan ekonomi.
Untuk seterusnya, saya ingin meneruskan deskripsi hanya dengan mempertimbangkan
representasi, dan bukan persepsi.

3.2.3 sains
Sains adalah produk kultural Barat (Atran, 1990; Smith, 1995) yang menemukan bentuk
formasi dan konfirmasi hipotesis yang konsisten setelah jaman Aufklarung. Yang terjadi
setelah Immanuel Kant, ada syarat-syarat konvensional dalam praktik-praktik saintifik.
Fisika kualitatif Aristotelian diganti fisika kuantitatif Kartesian. Perdebatan antara
rasionalisme dan empirisisme diganti dengan pemakaian syarat mutlak supaya aktivitas

                                                   9
saintifik bisa menghasilkan akumulasi pengetahuan yang memadai, yaitu kesejajaran
antara penyusunan hipotesis (lewat inferensi) dan bukti empiris (lewat eksperimentasi).
   Metode saintifik ini mulai dibakukan dalam program-program filsafat sains, terutama
positivisme logis Gottlob Frege dan Rudolph Carnap. Perkembangan sains yang
diakumulasikan dengan prosedur saintifik yang sama kemudian dibukukan dan
didokumentasikan dengan baik di perpustakaan-perpustakaan. Tapi paper ini tidak
menyertakan pembahasan antropologis yang mendetail tentang bagaimana budaya Barat
ini berkembang ke seluruh dunia lewat kolonialisme dan imperialisme satu sampai tiga
abad lalu. Yang ingin dikatakan hanyalah bahwa pada awalnya, sains juga dibentuk oleh
domain spesifik yang setelah didukung prosedur baku tertentu, akhirnya menjadi
berdomain general.
   Dengan kata lain, seiring dengan berjalannya waktu dari masa Pleistosen ke Holosen,
perbedaan antara manusia pemburu-peramu dan manusia modern bukan di substrat
genetik atau fisiologi organisme, tapi melulu di lingkungan sosial.
   Dan bila kesamaan substrat genetik dan fisiologi ini benar, maka antara anak-anak
pemburu-peramu dan anak-anak manusia modern masih mengalami fase pertumbuhan
dan fase akuisisi pengetahuan yang sama. Barulah ketika sampai di fase-fase tertentu,
misalnya begitu anak bisa berbicara dengan kalimat gramatikal (Pinker, 1997a) atau
mempunyai teori tentang pergerakan benda-benda fisis (Spelke, 1990), maka pengetahuan
apapun yang berbentuk representasi simbolik bisa diakuisisi. Di titik ini, di semua H.
sapiens, inferensi pengetahuan akan mengalami kegagalan pada kasus-kasus patologis.
   Patologi yang dimaksud mempunyai dua titik kemunculan: di sudut pandang teori folk
relatif terhadap teori saintifik, seorang anak kecil akan gagal mengembangkan teori folk,
mis.: pada penderita autisme, sindrom William dan psikopati yang tidak mempunyai
psikologi folk; di sudut pandang teori saintifik relatif terhadap kemajuan teori saintifik yang
ada, secara umum, tidak bisa dianggap sebagai patologi bila dibandingkan dengan apa
yang terjadi di teori folk, mengingat teori saintifik pada umumnya berdiam di domain
general, dan kemunduran tidak dianggap sebagai patologi, melainkan inkompetensi dalam
menguasai satu atau lebih topik.
   Kami tidak akan berspekulasi lebih jauh dengan menganggap bahwa ada domain-
domain spesifik dalam akuisisi pengetahuan saintifik, seperti yang ditemukan oleh studi-
studi tentang kepakaran (Tan, 1997). Kesimpulan sementara yang mengatakan bahwa
domain sains adalah general sudah dirasa cukup bila dihubungkan dengan motif dibalik
paper ini.

4. TEORI FOLK
Seorang pemain bola atau master biliar tidak perlu tahu gerak peluru atau hukum
kekekalan momentum untuk menjaringkan bola kulit ke gawang atau menyarangkan bola
marmer ke lubang. Seorang peternak di Temanggung atau di Rochester tahu bahwa
penyakit sapi gila tidak akan menyerang ayam atau bebek tanpa tahu organisme biang
keladinya. Seorang anak kecil tahu bahwa orang lain juga punya hasrat, keinginan, tujuan,
atau maksud-maksud tertentu yang cara kerjanya sama dengan yang dia punya tanpa
pernah membaca Freud atau Jung atau Adler. Seorang anak kecil, tanpa perlu

                                              10
propaganda, dengan berbekal penampakan saja, bisa mengembangkan prasangka rasial
yang rumit diantara sesama spesies manusia. Bahkan tanpa perlu diajari di sekolah,
seorang anak kecil akan bisa melakukan operasi penambahan dan pengurangan dengan
sendirinya.
   Kemampuan-kemampuan spesifik ini terkumpul menjadi teori-teori spesifik. Karena
teori-teori ini mempunyai domain dan inferensi yang unik dan cenderung berbeda dengan
inferensi teori-teori saintifik (fisika, biologi, psikologi, sosiologi, bahkan matematika),
maka teori-teori ini disebut teori folk.
   Teori folk adalah temuan eksperimental yang cenderung hanya bisa diinterpretasikan
dengan baik lewat hipotesis nativistik. Kita mendapatkannya sejak lahir dan
keberlangsungannya mulai tampak sejak masa-masa awal kanak-kanak dan bisa berlanjut
sampai usia dewasa, kadang konvergen dengan teori saintifik, kadang bertentangan,
tampak ketika keluarannya diekspresikan dalam perilaku.
   Seperti halnya modularitas dan kepakaran, teori-teori folk juga ditentukan lewat
perbedaan domain-domainnya dan dilabeli dengan membubuhkan kata ‘folk’ atau ‘naif’
sebelum nama-nama sains yang biasa kita kenal: fisika naif, matematika naif, biologi folk,
psikologi folk, dan sosiologi naif. Berlainan dengan pendekatan modular, teori folk pada
awalnya tidak terlalu dipusingkan dengan lokasi pemrosesan, entah di sistem-sistem
persepsi atau di proses sentral pada sistem syaraf pusat. Tapi seperti dijelaskan di 3.2.2,
teori folk dianggap terjadi di proses sentral.
   Dalam uraian selanjutnya, masing-masing dari teori-teori folk akan diperinci lebih jauh.
Di akhir perincian, akan ditambahkan pula divergensinya dengan teori saintifik standar
(domain spesifik), serta metode eksplikasinya dengan deduksi (domain general).
   Perbedaan perlakuan akan muncul di psikologi folk karena di teori folk ini, muncul
beberapa pandangan yang saling bertolak-belakang secara ekstrem, terutama karena
disinilah perbatasan antara entitas kognitif dan non-kognitif muncul ke permukaan
(materialisme eliminatif, Churchland, 1986). Di 4.4, sebuah deskripsi singkat dan laporan
riset tentang psikologi folk akan diberikan, tetapi hanya ditujukan untuk menunjukkan
bahwa teori folk ini masih susah untuk diintegrasikan dengan edukasi natural.

4.1 Matematika Naif: Yang simpel dan yang fundamental
Teori folk ini paling sederhana sekaligus paling fundamental struktur dan efeknya, karena
hanya melibatkan ketrampilan berhitung dan konsep aritmetis, paling tidak menurut
rumusan konvensional tentang matematika naif. Berbeda dengan konvensi, kemampuan
inferensi yang rapi juga kami masukkan dalam domain matematika naif. Terakhir, kami
menambahkan satu catatan tentang definisi yang menurut kami, meskipun tidak secara
eksplisit menjadi bahasan matematika naif, tidak bisa begitu saja dicangkokkan ke sebuah
bahasa formal.

4.1.1 konsep angka: rumusan konvensional
Di konsep angka, yaitu bilangan natural, matematika naif muncul secara spontan dan
menghasilkan performa yang sama di berbagai lingkup kultural yang berbeda. Sebagai
contoh, data menunjukkan bahwa lepas dari basis bilangan yang dipakai di suatu

                                            11
masyarakat, anak-anak tidak kesulitan dalam melakukan operasi penjumlahan, dengan
atau tanpa sekolah formal (Miller, et. al., 1995). Di lingkup masyarakat manapun,
aritmetika bisa berjalan tanpa, katakanlah, aksioma Peano tentang bilangan natural.
Bahkan di masyarakat prasejarah, konsep angka juga sudah dipakai untuk
menggambarkan kuantitas benda-benda secara diskrit, lengkap dengan operasi-
operasinya.
   Karena domainnya yang begitu spesifik dan fundamentallah, maka performa dan
akurasinya tinggi, meski karena itu pula, kemampuannya tidak bisa diekstensi atau
digeneralisasi dengan sendirinya ke konsep yang lebih abstrak, misalnya bilangan rasional
atau real, atau ke konsep ketakhinggaan (Lakoff, Nuñéz, 2000). Karena ini pula,
matematika naif di konsep angka tidak menemukan divergensi dengan matematika
saintifik.
   Maka tidak aneh bila tidak semua orang bisa memahami abstraksi matematis rumit
yang dibutuhkan untuk konsep yang lebih abstrak seperti fisika. Yang muncul akhirnya
fisika naif (Lihat 4.2) yang berwujud kumpulan teori tentang perilaku obyek-obyek yang
ditemui sehari-hari yang seharusnya dijelaskan mekanika klasik. Tetapi ini tidak terjadi
karena matematika naif yang ada tidak menyediakan alat untuk mekanika klasik. Aljabar
dan kalkulus jauh lebih menentukan dibanding sekedar aritmetika.
   Fisika naif tidak ditemukan menggunakan matematika dan fisika sekaligus. Keduanya
berjalan sendiri-sendiri dengan kumpulan teorinya sendiri-sendiri. Dan karena
matematika bersifat lebih abstrak dibanding fisika, maka matematika tidak menghasilkan
matematikawan amatir seperti halnya fisika naif menghasilkan montir.

4.1.2 inferensi
Disini, penalaran yang memakai logika klasik kami masukkan dalam domain matematika
naif. Penjelasan tentang matematika naif oleh banyak periset sebelumnya lebih peduli
dengan terma-terma singular dan mengesampingkan variabel, konstanta dan inferensi.
   Karena pada umumnya, matematika adalah ekstensi logika (Russell, 1926), maka
perangkat matematis adalah ekstensi dari operasi-operasi logis atau inferensi. Sangat aneh
bila dalam banyak kasus temuan psikologi kognitif, modus tollens yang menjadi salah satu
prinsip logika dengan mudah dilanggar oleh proses kognitif awam (van Gelder,
Niklasson, 1994). Silogisme yang telah menjadi standar sejak Aristoteles dan seharusnya
bisa direduksi menjadi logika orde-satu, ternyata mempunyai pola khusus ketika
berhadapan dengan silogisme (Johnson-Laird, 1980), kira-kira menghasilkan efek yang
mirip dengan yang dimaksudkan Frege sebagai ‘rasa’ (Frege, 1896).
   Sebagai catatan, anggapan bahwa rasionalitas adalah bawaan lahir atau tasit menjadi
naif, apalagi bila induksi dikendalikan oleh probabilitas murni, meskipun anggapan ini
meluas di agensi ekonomis yang melatari makroekonomi sampai pertengahan abad lalu.
                                  Tabel 1 Performa Inferensi
                                       disiplin                            Total
           Referen
                       psikolog        biolog      fisikawan   tanpa training    Training
 modus     Abstrak        83              92            92           89            100
 ponens    Konkret       100             100           100          100            100
 modus     Abstrak        33              33            58           41             53

                                              12
 tollens     Konkret         50             83              75              69              91
           (Dari Kern, Mirels, & Hinshaw, 1983; seperti disebutkan oleh van Gelder, Niklasson, 1994).


4.1.3 catatan tentang definisi
Selanjutnya, bagaimana dengan cara terma-terma singular bisa ditentukan oleh awam?
   Matematika sendiri adalah sistem deduktif yang paling maju dalam perkembangannya,
karena cara kerja matematika memang selalu dimulai dari pendefinisian, aksiomatisasi,
penurunan teorema, lemma dan seterusnya. Yang sering menjadi masalah adalah ketika
pendefinisian menjadi tidak rapi.
   Kesulitan pendefinisian ini lazim ditemui karena logika yang dipakai dalam bahasa
natural bukan logika orde-satu yang berisi variabel dan konstanta Russellian, tetapi
keluarga logika modal yang minimal mempunyai operator necessaily dan possibly atau logika
yang mempunyai karakter vague sehubungan dengan pemakaian quantifier seperti beberapa,
lama, sering; dan semua indikasi kuantitas diluar ∀ dan ∃ .
   Di sisi lain, suatu definisi adalah suatu representasi linguistik tentang suatu obyek lepas
dari obyek itu sendiri, kalau bisa secara unik sehingga satu definisi hanya
merepresentasikan tepat satu obyek. Lepas dari formalisme, ada pula masalah komitmen
ontologis atau lebih sederhana, ontologi, dalam arti yang berbeda dengan yang biasa
dipakai di filsafat.
   Ketika orang mengemukakan suatu ‘kata’ yang mewakili suatu obyek dan
diperdengarkan ke orang lain, maka ‘makna’ yang diperoleh dari kata itu akan berbeda di
tiap orang. Manusia mempunyai intensionalitas, qualia, rasa (Fregean) ketika sedang
‘memproses’ suatu kata. Ketika makna yang ingin dicapai dari suatu sintaks bukan lagi
sebuah nilai-kebenaran Boolean (yang dalam bahasa formal, terjadi di formula-formula
non-atomik dan mengandung predikat ke-n dengan n > 0), maka pluralitas komitmen
ontologis menjadi tak terelakkan, ditentukan oleh kecenderungan individual dalam
mempersepsi sesuatu (viz. data orang-pertama), dan dipengaruhi sistem keyakinan ketika
makna yang dimaksud muncul.
   Tapi masalah definisi bukan domain dari matematika naif, paling tidak, secara eksplisit.
Komitmen ontologis adalah fakta yang tak terelakkan dan tidak akan membuahkan hasil
bila kita ingin menyatukannya seperti cara filsuf-filsuf analitis paruh pertama abad lalu,
yaitu bahwa bahasa natural lebih baik ‘dihilangkan’ saja gara-gara penuh ambiguitas, dan
diganti dengan bahasa formal yang memakai logika proposisional. Kemajuan filsafat
analitis lebih terletak di inferensi daripada di definisi yang lebih terkait dengan konsep di
level bahasa pemikiran, dengan leksikon dan efek-efek pragmatik di level bahasa natural,
atau bahkan dengan intensionalitas sebagai alternatif bahasa pemikiran.
   Untuk mengatasi kemustahilan filolsofis ini, upaya awal berupa ‘mediasi ontologis’
(Alistair, Shapiro, 1998) dibuat untuk menjembatani komitmen ontologis yang berbeda-
beda di antara dua ‘prosesor’ atau ‘agen komputasional’. Memang tidak akan pernah
didapat sebuah kesamaan makna per se dari satu simbol yang dimiliki dua agen, tetapi dari
perspektif data orang-ketiga, perilaku yang diakibatkannya bisa diverifikasi.




                                                 13
Sebagai penutup bagian matematika naif, masalah divergensi dan eksplikasi ketiga poin di
atas mempunyai posisi kunci di domain general yang kecukupan eksplanatorinya lebih
ditentukan oleh lingkungan sosial setempat.
   Contohnya, dalam aktivitas sehari-hari seperti jual-beli di pasar ritel, tidak diperlukan
hasil akurat dari pembagian suatu bilangan pecahan dengan bilangan pecahan lain. Di
sini, bilangan natural tidak perlu dieksplikasi menjadi bilangan real. Tapi dalam
lingkungan yang berbeda, misalnya di sebuah laboratorium nuklir, pemakaian bilangan
takhingga, bilangan kompleks dan bilangan transenden menjadi kelaziman.
4.2 Fisika Naif
Kembali ke masa setengah milenium lalu, Galileo Galilei-lah yang pertama kali
menentang mekanika Aristotelian atau teori impetus, bahwa benda yang lebih berat akan
lebih cepat jatuh ke tanah, atau bahwa pergerakan benda dikendalikan oleh disipasi gaya
tertentu, bertolak belakang dengan medan gravitasi konservatif yang diajukan mekanika
klasik.
   Mekanika Aristotelian sebagai salah satu bentuk fisika naif – keyakinan awam tentang
cara benda-benda bekerja, terkait erat dengan mekanika klasik, sering membuahkan
kesimpulan yang salah secara sistematis – tentu berbeda dengan konsep abstrak seperti
geosentrisme Ptolemaeus yang dijungkalkan heliosentrisme Nicolaus Copernicus dan
Johannes Kepler. Fisika naif lebih menyangkut pergerakan benda-benda yang tampak,
konkret, dan praktis, persis seperti karakter teori folk lainnya. Kemampuan memecahkan
permasalahan-permasalahan fisika yang rumit lebih sering menjadi wilayah kajian
spesifisitas domain yang lain, yaitu kepakaran.
   Kesalahan-kesalahan di fisika naif muncul secara beragam, bisa tampak sejak masa
kakan-kanak dan menghilang ketika dewasa, tapi ada juga yang tetap bertahan meskipun
seseorang sudah dipengaruhi pendidikan. Fisika naif berikut kesalahan-kesalahan
sistematisnya – dan dengan demikian, divergensinya dari fisika saintifik –secara umum
bisa dilihat dari tiga sudut pandang: pragmatis, psikologis dan ontologis (Smith, 1995).
   Lewat sudut pandang pragmatis, fisika naif bukan teori sama sekali, tapi hanyalah
kumpulan rule of thumb yang bahkan tasit, kadang efektif dan bisa diimplementasikan
dalam arsitektur robotik (Blackwell, 1988), ad hoc, dan teori yang ditawarkannya jauh dari
struktur internal yang konsisten. Dalam sudut pandang ini, fisika naif ditaruh di bagian
paling luar kognisi karena sifatnya tak lebih dari kinestesia atau propriosepsi atau bahkan
gerak refleks. Kenyataannya, fisika naif mempunyai kaidah induksi kausal sendiri, seperti:
jika gelas jatuh maka gelas pecah. Sedangkan secara ontologis, fisika naif bahkan dianggap
sebagai gambaran awam tentang sifat dan pergerakan benda-benda dengan tingkat
validitasnya sendiri, sama dengan menganggap teori impetus itu benar, paling tidak dalam
batas konsepsi tertentu, yaitu konsepsi awam tentang gerakan benda-benda. Teori
impetus, seperti teori eter, tidak bisa direkonsiliasikan dengan fakta empiris.
   Jadi, sudut pandang psikologislah yang paling masuk akal, yaitu dengan
mengasumsikan keberadaan model mental tertentu yang mengendalikan fisika naif.
Kesalahan konsep mekanis yang berlawanan dengan konsep kecepatan benda jatuh bebas
Newtonian dianggap dikendalikan oleh model mental ini. Sesuai eksperimen, sangat aneh
bila ternyata banyak orang dewasa yang menggambarkan trajektori bola tetap mengikuti

                                            14
lingkaran atau kurva pada pipa-C yang horizontal (McCloskey, Caramazza, Geen, 1980).
Di saat lain, orang dewasa tidak kesulitan menggambarkan gerak parabolik dengan tepat
bila pipa-C ditaruh vertikal (Heyman, Phillips, Gelman, 2003). Namun ketika bola diganti
dengan air, kesalahan pipa-C horizontal tidak terjadi (Kaiser, Jonides, Alexander, 1986).
   Secara umum meskipun nyaris tanpa pola, prinsip gravitasi cenderung dikacaukan oleh
konsep massa, arah medan gravitasi, dan fase zat. Meskipun orang bisa tergoda untuk
menghubungkan fakta ini dengan beberapa asumsi evolusioner – y.i.: arborealisme di
primata dan bipedalisme di H. sapiens – secara umum, mengapa hal ini bisa terjadi masih
misterius.
   Kesalahan sistematis fisika naif yang sekilas tampak simplistik, inkonsisten dan
bergantung situasi, secara sekilas tidak pernah jauh-jauh terpisah dari konsep gravitasi.
Divergensinya tampak dari induksi kausal yang bersandar pada teori impetus. Divergensi
ini bisa dihilangkan dengan menekankan hukum Newton II yang harus diadopsi oleh
domain general kognisi yang terjemahan versi aslinya berbunyi:
       The alteration of motion is ever proportional to the motive force impressed; and is made
       in the direction of the right line in which that force is impressed.
   Dengan mendefinisikan ‘gaya’-nya Newton dengan baik, maka titik induktif ini secara
sempurna bisa diaplikasikan ke semua obyek mekanika klasik.
   Karena obyek fisika naif adalah obyek mekanika klasik, maka deduksi lanjutan
mungkin tapi belum tentu melibatkan instrumen matematis yang rumit seperti aljabar dan
kalkulus.

4.3 Biologi Folk
Dulu sewaktu di SD, saya diajari guru IPA bahwa hewan diciptakan dengan penampakan
sama atau hampir sama, sedangkan manusia diciptakan satu sama lain saling berbeda
secara mencolok. Kita bisa mengenali mengapa manusia bisa mempunyai lesung pipit,
rambut ikal, tahi lalat, atau bahkan senyum manis dan mata tajam. Tapi bila kita melihat
monyet atau anjing, kita tidak bisa mengenali mereka dengan penggambaran sedetail
sesama kita. Di film-film yang ‘pemeran utama’-nya fauna, kita sering tidak sadar bahwa
satu tokoh utama ternyata sering diperankan oleh beberapa satwa sekaligus.
   Setelah dewasa, saya tahu bahwa manusia tidak lebih kompleks dalam penampakan
dibanding primata lainnya. Bedanya, kita mengklasifikasikan atau mengkategorisasikan
manusia dengan cara berbeda dengan cara kita mengklasifikasikan hewan. Pada manusia,
kita mengkategorisasikan konspesifik berdasarkan modul tertentu bernama ‘pengenalan
wajah’ yang sejak masa Pleistosen, yang bersama-sama dengan identifikasi kepribadian
dan persamaan dialek, bisa mengenali ratusan sampai ribuan wajah yang berbeda di
sepanjang hidup (Miller, 2000:181). Dengan kemampuan kategorisasi ini akhirnya atribusi
sifat-sifat tertentu ke wajah yang ini dan yang itu menjadi mudah. Tetapi untuk spesies
lain, kita mempunyai sistem kategorisasi yang sama sekali berbeda, hanya
mengkategorisasikan berbagai spesies generik dan mengatribusikan sifat-sifatnya, bukan
di tingkat individual dalam satu populasi.
   Penyelidikan antropologis juga tidak menemukan keberadaan budaya yang
menyamakan manusia dengan hewan apapun (Atran, 1998). Kita mempunyai ‘mesin’
                                                 15
yang berbeda ketika mengenali sesama manusia dan mengenali hewan-hewan dan
tetumbuhan. Cara kita mengenali flora dan fauna tanpa bantuan biologi saintifik inilah
yang disebut biologi folk.
   Salah satu ciri biologi folk adalah cara orang mengklasifikasikan organisme menjadi
grup-grup mirip spesies seperti ‘buaya’ atau ‘pisang’. Grup-grup ini disebut ‘spesies
generik’. Pandangan awam berasumsi bahwa tiap spesies generik mempunyai ciri kausal
di belakangnya, semacam esensi, yang secara unik bertanggungjawab terhadap
penampakan, perilaku dan pilihan tempat hidup dari spesies generik yang bersangkutan.
Di berbagai budaya, esensi ini dianggap kompleks, mandiri, dan begitu kuatnya dalam
menjaga integritas spesies generik meskipun pada akhirnya dia akan tumbuh, seperti dari
berudu ke katak, atau dari pupa ke kupu-kupu. Biolog dengan mudah menjelaskannya,
tanpa asumsi esensi apapun, dengan membedakan genotip dan fenotip organisme.
   Keberagaman flora dan fauna yang spontan di daerah tertentu secara spontan akan
melahirkan klasifikasi folk tersendiri berdasarkan esensi, berwujud keberadaan grup
dalam grup (tidak arbitrer seperti klasifikasi bintang-bintang dalam rasi-rasi yang
dikendalikan koordinasi spasial, tidak pula modular seperti pada pengenalan wajah)
seperti ‘buaya darat – buaya – hewan melata’ atau ‘pisang raja – pisang – buah’.
   Begitu taksonomi folk ini berhasil mengatur dan menyimpulakan informasi biologis,
maka seperti di taksonomi modern, sifat-sifat organisme juga bisa diturunkan dari
taksonomi folk. Inilah sebabnya, meski tanpa tahu organisme penyebabnya, secara
spontan orang tahu bahwa sapi gila hanya menyerang organisme yang mirip sapi daripada
organisme yang tidak mirip sapi seperti unggas.
   Banyak klaim menyatakan bahwa sifat-sifat biologi folk di atas mengarah pada sifat
bawaan lahir dari biologi folk. Skenario biologi (atau psikologi) evolusioner biasanya
menyatakan bahwa kemampuan bawaan ini ada untuk tujuan bertahan hidup di masa-
masa awal H. sapiens, seperti bagaimana mencari makanan atau menghindari racun dan
penyakit. Biologi folk akan sangat membantu untuk kepentingan-kepentingan ini. Dan
meski secara sekilas, taksonomi folk dan taksonomi biologis terlihat mirip, ternyata ada
bagian-bagian yang berbeda secara radikal, sehingga berpotensi memunculkan divergensi
yang ekstrem.
   Divergensi ekstrem ini pasti akan berakhir dengan penyimpulan sifat-sifat organisme
yang secara ekstrem juga berbeda dengan temuan biologi. Dan bila penyimpulan folk ini
menjadi motivator aktivitas motorik tertentu, secara umum, akan membahayakan
kelangsungan hidup individu itu sendiri.
   Konsekuensinya menjadi nyata bagi program edukasi natural. Divergensi bisa muncul
sejak lahir, dan karena domainnya spesifik, maka tidak ada rumus umum edukasi natural
yang mengendalikan keseluruhan kemampuan kategorisasi.
   Untuk kasus biologi folk, edukasi natural mempunyai tugas sederhana, yaitu
menekankan bahwa kapasitas induktif (bawaan) berdasarkan klasifikasi folk (bawaan)
yang bisa muncul secara spontan dan tasit tidak selalu bisa dijadikan landasan yang
memadai untuk menyimpulkan keseluruhan sifat-sifat spesies generik. Tugas yang lain
adalah menyediakan perangkat deduktif bagi klasifikasi biologis, minimal berdasarkan
salah satu cabang taksonomi, yaitu sistematika, yang secara saintifik bekerja dengan cara

                                           16
menggambarkan hubungan kekerabatan antar-spesies berdasarkan perbedaan genotip dan
fenotip, dan menetapkan sifat-sifat yang sama untuk spesies-spesies yang mempunyai
leluhur sama.

4.4 Psikologi Folk: sebuah laporan tentang ‘perkecualian’
Psikologi folk mempunyai tempat khusus diantara teori folk lainnya, karena menyangkut
kemampuan orang awam dalam ‘menebak’ keadaan psikologis orang lain dengan cara
tertentu.
   Konsekuensinya, psikologi folk menjadi problematis bila dihubungkan dengan studi
tentang kognisi dan kesadaran.
   Di studi kognisi, bagi sebagian saintis kognitif, menyelidiki psikologi folk dengan
segenap sifat-sifatnya adalah tugas sains kognitif karena psikologi folk dianggap sebagai
‘keadaan mental’ yang sesungguhnya dari manusia. Meskipun dipaksakan berbeda dari
psikologi saintifik (Goldman, 1993), kenyataannya, psikologi folk masih memakai
terminologi yang sama dengan psikologi saintifik, karena keduanya masih sama-sama
memakai terminologi propositional attititude report (Cf. Evans, 1982) yang biasa dinyatakan
dalam formalisme logika doksastik.
   Dua pendekatan yang ada dalam psikologi folk yang diawali dari hipotesis tentang
keberadaan teori pikiran (Baron-Cohen, Leslie, & Frith, 1985), yaitu: simulasi – teori
(pengantar tentang ini bisa ditemukan di Goldman, 1993), dan teori – teori (argumen
yang mendukung paradigma ini bisa ditemukan di Carruthers, 1996) tidak akan dibahas di
sini. Dengan kata lain, karena tidak ditemukan perbedaan antara psikologi folk dan
psikologi saintifik, setidaknya sampai saat ini (tidak termasuk beberapa usulan untuk
membubarkan sama sekali psikologi folk dan menggantinya dengan neurofisiologi,
Churchland, 1986), maka psikologi folk belum bisa diakuisisi oleh edukasi natural.
   Dari psikologi folk, tidak ada proposisi yang terbukti legal sekaligus relevan dengan,
katakanlah, kurikulum. Bahkan kita juga tidak bisa menentukan divergensi antara yang
saintifik dan non-saintifik. Upaya awal – dan secara sekilas terlihat naif – dari saya untuk
memvalidasi proposisi bahwa mekanisme yang bertanggungjawab terhadap agensi
rasional adalah mekanisme psikologi folk masih belum bisa berkembang lebih jauh
(Suroso, 2004a). Upaya ini harus diakui, seperti komentar kolega-kolega saya di Bandung
Fe Institute – para ‘penganut sejati’ paradigma sistem kompleks – , tak lain adalah
“brojolan berkali-kali”.
   Tapi paling tidak, memulai penyelidikan psikologi folk dari modularitas minimal bisa
dianggap berada di jalur yang tepat, seperti moral metodologis versi Carruthers (dalam
persiapan) berikut:
       …if the project here is to show how non-domain-specific thinking in humans can emerge
       out of modular components, then we had better assume that the initial starting-state
       (before the evolution of our species began) was a modular one.
  Di sisi lain, di studi tentang kesadaran, psikologi folk juga rawan dengan masalah
penunjukan-pada-diri-sendiri (konsep kedirian dan kandungan non-konseptual,
Bermúdez, 1995). Bahkan belum ada jaminan bahwa ada relasi mutual antara keadaan
neural dan keadaan mental sebagai korespondensi satu-satu (multiple realizability,
                                               17
pertempuran sengit antara fungsionalisme dan fisikalisme, Cf. Churchland, 1986). Fakta
bahwa psikologi folk begitu terkait dengan masalah kesadaran – topik yang sedikit banyak
masih terbengkalai di riset-riset sains kognitif (Chalmers, 1990; Thagard, 1996) – sekali
lagi, menurut hemat saya, hanya memberikan peringatan pada kita agar tidak terburu-
buru mengintegrasikan psikologi folk ke studi-studi kognisi tingkat tinggi, yang dalam hal
ini adalah edukasi natural.

4.5 Sosiologi Naif
Serupa dengan biologi folk, sosiologi folk juga mempunyai tulang punggung di pola
klasifikasi dan penempelan label atau sifat-sifat tertentu terhadap kelompok yang jatuh
dalam klasifikasi tertentu.
   Hirschfeld (1996) yang diilhami oleh kerja-kerja psikologi developmental sebelumnya,
mengusulkan bahwa banyak ide-ide tentang karakteristik rasial sebenarnya diwadahi oleh
kapasitas kognitif tertentu yang lebih memandang ras lain sebagai homogenitas kolektif
daripada koleksi individu. Akibatnya, pandangan yang dihasilkan oleh sosiologi naif akan
menghasilkan teori-teori naif tentang ras lain, lepas dari keragaman yang pasti ada dalam
ras itu. ‘Padang’ sebagai akronim ‘pandai dagang’, atau ‘Batak’ sebagai akronim ‘banyak
taktik’ tersebar sebagai ungkapan sehari-hari. Ungkapan-ungkapan ini belum bisa
dipastikan akan mempengaruhi perilaku seseorang dalam berinteraksi dengan ras lain,
tetapi kenyataan bahwa tidak semua orang Minang pandai berdagang dan tidak semua
orang Tapanuli banyak taktik adalah keadaan yang menurut kami tidak perlu dibuktikan.
Atau kalau tidak, validitas stereotipikalisasi ini perlu diverifikasi oleh studi antropologi
ekstensif daripada diserahkan sepenuhnya ke kesimpulan yang didapat dari sosiologi naif.
   Di kasus yang lain, sosiologi naif yang menghasilkan pengetahuan default tertentu yang
disebut ‘kognisi sosial’ yang secara singkat dijelaskan cara kerjanya oleh Sperber dan
Lawrence Hirschfeld (2004:44) sebagai berikut:
       … existing mechanisms for social cognition were presented with culturally contrived
       superstimuli (just as in the case of face recognition superstimulated with make-up, or the
       activation of notions of kin-solidarity to strengthen nonkin-based coalitions).
       Cognitively, groups are characterized by whatever cues makes it possible to identify their
       members and by the inferences this identification affords.
   Contoh seperti solidaritas kekerabatan untuk memperkuat koalisi non-kekerabatan
sangat mungkin akan menghasilkan konsekuensi behavioral yang dramatis. Dalam
kondisi tertentu, mesin mental yang mengendalikan sosiologi naif dan dimunculkan oleh
suatu sebab evolusioner tertentu sejak sebelum ras-ras H. sapiens hadir di muka bumi
(Miller, 2000:222-3) bisa menjadi aktif dan mendominasi kapasitas kognitif yang
dikendalikan domain general apapun (dalam hal ini, mis.: konsep tentang HAM).
   Sayangnya, sampai saat ini, ‘konsekuensi behavioral dramatis’ yang aktif ‘dalam kondisi
tertentu’ seperti disebut di atas belum bisa kami integrasikan dengan fakta empiris,
meskipun untuk tujuan ini, berbagai kasus kerusuhan massal (rasial, etnis, religius) di
berbagai wilayah di Indonesia bisa menjadi acuan dari ‘kondisi’ yang dimaksud.
   Paling tidak, yang patut dicatat adalah, sebagaimana biologi naif, sosiologi naif
seringkali – tapi tidak selalu – menghasilkan kognisi sosial yang valid.
                                                 18
5. EDUKASI NATURAL
Setelah berbagai teori folk bisa diidentifikasi, setelah jenis-jenis representasi yang
mungkin diakuisisi manusia bisa diklasifikasikan, dan setelah mekanisme dasar yang
memungkinkan kognisi bisa berjalan diketahui – minimal, secara umum – maka edukasi
ditata-ulang sesuai dengan sifat-sifat alamiah dari sistem kognitif manusia.
   Yang patut dicatat dari langkah ini adalah, edukasi sebenarnya sebuah upaya untuk
mengubah sekumpulan proses mental X menjadi sekumpulan proses mental Y yang bisa
diturunkan dari beberapa acuan primitif P. Edukasi tanpa acuan – mis.: secara retoris
dinyatakan dalam ungkapan ‘menciptakan manusia yang mandiri’ – adalah paradoks.
   Acuan yang dipakai bisa ditujukan untuk membentuk pengetahuan untuk bertahan
hidup, satu perangkat pengetahuan tertentu secara lebih mendetail tetapi terbatas, dan
bahkan semua pengetahuan yang mungkin. Khusus untuk yang terakhir, ide tentang
sistem kompleks yang dengan sendirinya melibatkan level representasi yang berbeda-beda
(Suroso, 2004a) akan menjadi prototipe acuan yang sesuai. Untungnya, level representasi
yang berbeda-beda yang dipakai untuk menjelaskan dunia selalu dihasilkan oleh satu
mekanisme yang sama: domain pengetahuan general.

5.1. Edukasi Natural
       definisi 2: edukasi natural adalah upaya dari subyek terhadap obyek untuk
       mengubah cara memperoleh dan mengembangkan pengetahuan menuju
       cara tertentu yang diinginkan oleh subyek sehingga obyek memperoleh
       pengetahuan yang tepat untuk bertahan hidup.
   Dengan definisi di atas, maka edukasi natural (EN) yang berhasil akan mengubah cara
pandang (berwujud aturan inferensi) obyek ketika harus bertahan hidup. Dalam
masyarakat modern, bertahan hidup tidak lagi sesederhana mengumpulkan makanan atau
memburu mangsa seperti di masa Pleistosen dan awal Holosen, tetapi melibatkan cara
bertahan hidup yang sudah dimanifestasikan dalam sistem representasi yang kompleks.
   Pada praktiknya, EN adalah upaya mengubah sifat alamiah manusia yang berguna
untuk aktivitas bertahan hidup. Secara alamiah, seperti yang dikendalikan oleh teori-teori
folk, organisme bisa menghasilkan informasi dan kemudian perilaku yang salah dan tentu
pada akhirnya akan membahayakan kelangsungan hidup organisme itu sendiri.
   Lebih dari itu, sejak ‘ledakan bahasa’ yang dipercaya terjadi pada 40 ribu tahun lalu
(Cosmides, Tooby, 1994:69), manusia telah mengembangkan informasi yang
diakumulasikan. Manusia akhirnya tidak bisa lagi bertahan hidup dengan cara yang sama
dengan pemburu-peramu. Konsep-konsep yang berada dalam sistem keyakinan telah
berubah, meski perubahannya ditemukan berbeda-beda di grup yang berbeda-beda.
   Contoh ekstremnya adalah munculnya Sokrates yang bunuh diri sebelum dieksekusi
atau pilot Kamikaze yang menabrakkan pesawat tempur ke kapal musuh. Keduanya tidak
menggambarkan pola adaptif sama sekali (Carruthers, 2003a). Dengan kata lain, domain
general yang dikembangkan di sebuah masyarakat dengan sistem keyakinan tertentu telah
membelokkan sistem keyakinan yang terkait langsung dengan adaptivitas atau
survivabilitas.
                                           19
   Singkatnya, EN adalah upaya mengonfirmasi pengetahuan yang dihasilkan oleh
domain spesifik dengan pengetahuan yang dihasilkan oleh domain general. Sampai titik
ini, resiko munculnya paradoks antara kelompok-kelompok pengetahuan yang berbeda-
beda dikesampingkan dulu. Dalam versi lain, EN adalah upaya untuk mengubah
pengetahuan yang diperlukan untuk bertahan hidup (mencari makanan, bereproduksi,
menghindari mangsa, etc.) dengan pengetahuan yang sudah lebih kompleks karena sudah
dibangkitkan oleh domain general yang memakai bahasa peka-konteks.
   Tapi H. sapiens sapiens tidak hanya membutuhkan fitness biologis untuk bertahan hidup,
tetapi juga fitness kultural yang hanya bisa dicapai dengan mengembangkan pengetahuan
yang dihasilkan domain general. Dan sains sendiri yang menurut Scott Atran awalnya
dihasilkan oleh budaya Barat, memang tidak bisa dianggap terlepas dari efek kultural
(Faucher, et. al., 2002). Titik penting EN terletak di familiaritas masalah yang dihadapi
yang seharusnya sama untuk masyarakat yang berbeda-beda berdasarkan asumsi bahwa
kapasitas kognitif yang dihasilkan di masa Pleistosen tidak berubah sampai sekarang.
   Demi kemudahan, pengetahuan yang menjadi target dari EN kami sebut pengetahuan
orde-satu.
                    Tabel 2 Divergensi Teori Folk dan Teori Saintifik
           teori folk     Domain                        divergensi
           matematika     bilangan natural; inferensi   kesalahan inferensi
           fisika         massa; fasa; gravitasi        teori impetus
           biologi        spesies generik               inakurasi atribusi sifat
           psikologi      sikap proposisional           -
           sosiologi      kolektivitas; afiliasi        inakurasi atribusi sifat


5.2 Edukasi Ekstensif
Pada kasus-kasus seperti Sokrates atau Kamikaze, telah terjadi penggantian pola inferensi
dan fiksasi keyakinan yang relatif berbeda dengan yang dituntut adaptivitas biologis
maupun dengan sistem keyakinan masyarakat lain, mis.: sistem keyakinan masyarakat
liberal. Superioritas atau validitas masyarakat liberal di atas masyarakat otokratik Jepang
atau autarkis Athena adalah informasi yang harus dibahas dalam domain general.
   Karena itu, kerangka kerja di balik EN saja tidak cukup. Dibutuhkan Edukasi
Ekstensif (EE) sebagai berikut:
       definisi 3: edukasi ekstensif adalah upaya dari subyek terhadap obyek
       untuk mengubah cara memperoleh dan mengembangkan pengetahuan
       menuju cara tertentu yang diinginkan oleh subyek sehingga obyek bisa
       memperoleh satu kelompok pengetahuan yang tepat untuk
       mengembangkan kelompok pengetahuan itu sendiri.
  Definisi di atas dengan sendirinya akan bisa mengakuisisi jenis pengetahuan apapun,
baik yang diperlukan untuk survavibilitas maupun untuk pengembangan informasi itu
sendiri. Lain halnya dengan EN yang mempunyai titik optimum berupa kemampuan
maksimal untuk bertahan hidup secara biologis, EE mempunyai titik optimum kultural,
abstrak, dan dengan demikian kami sebut pengetahuan orde-dua.
  Ketika pengetahuan baru yang dihasilkan EE yang berdomain general tetapi terpartisi
berhasil mengganti pengetahuan lama yang dihasilkan EN yang berdomain general tetapi

                                              20
ditujukan untuk mengganti pengetahuan yang dihasilkan domain spesifik, maka
pertanyaan tentang tingkat adaptivitas perilaku Sokrates atau tentara Kamikaze menjadi
tidak penting lagi.
   Domain yang general bisa mengakuisisi informasi apapun dan bisa memfiksasikannya
dalam sistem keyakinan dan intensionalitas tertentu. Tetapi karena pengetahuan yang
dihasilkan terpartisi dalam kelompok-kelompok pengetahuan8 tertentu, maka akan sering
muncul kondisi penipuan diri.
   Terakhir, sebagai perbandingan, Carruthers (2002) menyatakan organisme hanya bisa
mengakuisisi sains bila organisme mempunyai prasyarat-prasyarat sebagai berikut:
    1.   A variety of innately channelled conceptual modules, including folk physics, folk
         psychology, folk biology, and perhaps some sort of ‘number sense’.
    2.   An innately channelled language-system which can take inputs from any of these
         modular systems, as well as providing outputs to them in turn. This system thus has the
         power to link together and combine the outputs of the others.
    3.   An innate capacity for imagination, enabling the generation of new ideas and new
         hypotheses.
    4.   An innately channelled set of constraints on theory choice, amounting to a distinct non-
         modular faculty of inference to the best explanation.
   Prasyarat-prasyarat Carruthers ini dalam banyak hal tepat dengan asumsi latar-belakang
di balik EE. Prasyarat 1) tepat sama dengan domain-domain spesifik yang dibawa sejak
lahir, tetapi tidak ditunjukkan bahwa pengetahuan yang dihasilkan oleh domain-domain
spesifik ini bisa menjadi divergen. Prasyarat 4) adalah bentuk yang lebih umum dari
kecukupan eksplanatori. Bedanya, di prasyarat 2), alih-alih memakai bahasa natural, EE
lebih didasarkan pada teori semantik yang mengikuti hipotesis bahasa pemikiran yang
lebih berupa ekspresi mental quasi-linguistik daripada murni linguistik. Sedangkan
prasyarat 3) tidak menambahkan hal apapun yang lebih spesifik ke teori tentang asal
muasal kebaruan dan kreativitas.
                              Tabel 3 Eksplikasi dalam EE
          teori folk        domain                            eksplikasi
          matematika        bilangan natural; inferensi       konsep angka; deduksi natural
          fisika            massa; fasa; gravitasi            mekanika
          biologi           spesies generik                   taksonomi dan sistematika
          psikologi         sikap proposisional               -
          sosiologi         kolektivitas; afiliasi            zooming grup


5.3. Edukasi Natural Ekstensif
Begitu kelompok-kelompok pengetahuan yang dihasilkan EN bisa dihubungkan secara
deduktif, maka yang muncul adalah Edukasi Natural Ekstensif (ENE), yaitu edukasi sains


8 Pemakaian kata ‘kelompok’ (Marvin Minsky menyebutnya frame untuk representasi informasi spasial, Herb
Simon menyebutnya chunk untuk unit-unit informasi dalam sebuah proses problem solving, van Gelder
menyebutnya clump untuk kumpulan proposisi yang terkait dalam sebuah inferensi kondisional) di sini
ditujukan ke keberadaan sekumpulan ekspresi yang satu sama lain bisa dideduksikan berdasarkan aksioma
yang terbatas. Inferensi antar-kelompok pengetahuan bisa diinduksikan berdasarkan data tertentu dengan
resiko, pada saat yang lain akan muncul kondisi penipuan-diri karena sistem yang dibangun tidak selalu
konsisten atau komplet, atau muncul penalaran non-monotonik.
                                                  21
yang berusaha mengubah obyek supaya tidak hanya bisa menggunakan satu atau
beberapa sains untuk bertahan hidup, tapi juga mengembangkan keseluruhan sains itu
sendiri sehingga didapat pengetahuan yang lebih lengkap dari organisme, artefak dan
lingkungan tempat individu berada.
        definisi 4: edukasi natural ekstensif adalah upaya dari subyek terhadap
        obyek untuk mengubah cara memperoleh dan mengembangkan
        pengetahuan menuju cara tertentu yang diinginkan oleh subyek sehingga
        obyek bisa memperoleh pengetahuan saintifik yang tepat untuk
        mengembangkan pengetahuan saintifik itu sendiri sebagai satu kesatuan
        pengetahuan.
   Edukasi natural ekstensif (ENE) tidak mempunyai titik optimum, paling tidak karena
diikat oleh diktum berikut: bahwa sains tidak pernah berhenti dikembangkan karena salah
satu karakter sains adalah kemungkinannya untuk selalu dijungkalkan oleh teori baru
(Popper, 1956).
   Kesimpulannya, ENE adalah edukasi dari semua proyek-proyek metafisis (atau
metasaintifik) yang pernah ada, yang pada titik-titik aksiomatisnya, berhadapan dengan
ontologi atau teleologi (Dennett, 1995).

6. CATATAN TENTANG ENE
Domain Edukasi Natural Ekstensif mempunyai karakter ideal9 sebagai berikut:
    - berdomain general, bisa mengolah representasi apapun;
    - tidak berguna untuk bertahan hidup secara biologis;
    - tidak dibawa sejak lahir sehingga murni dipelajari; dan
    - berwujud formasi (lewat deduksi) dan konfirmasi (lewat justifikasi empiris)
         hipotesis dengan memakai aturan-aturan inferensi terhadap proposisi-proposisi
         yang sepenuhnya dianggap sebagai representasi yang dihasilkan modul-modul
         spesifik.
   Pencapaian penuh dari ENE adalah tercapainya sebuah kecukupan deskriptif dari
semua keadaan yang mungkin dari pengetahuan manusia. Pengetahuan apapun yang
dihasilkan ENE adalah model apapun yang dihasilkan representasi pengetahuan (Lih. 2).
Di luar kecukupan deskriptif ini terletak berbagai masalah tentang status dari terma-terma
singular yang bukan lagi wilayah pembahasan sains, melainkan filsafat sains.
   Namun, kecukupan deskriptif tidak akan mungkin bisa tercapai secara penuh oleh satu
organisme karena alasan-alasan (yang menjadi kriteria kecukupan eksplanatori) sebagai
berikut:
    1. Keyakinan terhadap kelompok pengetahuan tertentu yang dihasilkan domain
         spesifik bisa diubah oleh domain general dan sebaliknya sebagai ekspresi dari
         teori-teori folk di tingkat neurofisiologis, arsitektural (seperti yang ditekankan
         paper ini) maupun perilaku.



9 Ideal di sini dalam arti kondisi dimana tidak ada vagueness dalam keanggotaan himpunan simbol-simbol
yang bisa diolah, viz. bahasa formal.
                                                 22
   2. Berubahnya keyakinan di atas terjadi karena selalu ada inferensi dan fiksasi
      keyakinan.
   3. Inferensi dan fiksasi keyakinan bisa membuat satu individu berpindah dari satu
      sistem keyakinan ke sistem keyakinan lain yang bertolak belakang secara logis.

7. KESIMPULAN
Fokus dari paper ini hanyalah EN, meskipun untuk kerja-kerja lanjutan yang dibutuhkan
untuk menjelaskan adaptivitas kultural, EN harus dikembangkan menjadi EE, dan bila
ditujukan untuk metasains, dikembangkan menjadi ENE. Selain itu, pengetahuan yang
dihasilkan domain spesifik tampak tidak sistematis (Lih. Tabel 2) sebagai konsekuensi
dari asal-mulanya: adaptivitas evolusioner yang berjalan secara heuristik, oportunistik dan
ireversibel.
   Beberapa konsekuensi filosofis:
    1. EN adalah kerangka berpikir yang dihasilkan domain general, memulai
        pembahasan dari survavibilitas dan sains-sains untuk survavibilitas. Kemudahan
        penerapan EN terletak di kedekatannya dengan fakta sehari-hari: BILANGAN ASLI,
        GRAVITASI, TAKSONOMI, RAS dan ETNIS; relatif terhadap fakta-fakta abstrak yang
        dihasilkan sains: BILANGAN KOMPLEKS, QUASAR, ONTOGENESIS, DIVISION OF
        LABOR.
    2. Sains yang relevan dengan EN adalah jenis sains khusus (Fodor, 1994) yang tidak
        problematis karena hanya menyangkut topik yang berguna untuk bertahan hidup.
        Pengembangan sainsnya sendiri harus dilakukan oleh EE. Kondisi problematis di
        psikologi folk dengan demikian tidak bisa dijadikan material EN, kecuali di kasus-
        kasus patologis seperti autisme atau psikopati.
    3. Sains dalam topik yang lebih umum yang mendobrak sekat-sekat sains khusus
        harus dikembangkan lewat ENE, termasuk metasains (metafisika, filsafat sains,
        metamatematika).
   Terakhir, bagian penting yang hilang karena belum dijelaskan dalam paper ini
mencakup asal muasal novelty yang dikendalikan kreativitas. Analog dengan terma di
TGG, mekanisme ‘parsing’ dan ‘generasi’ pengetahuan sudah disediakan, tetapi bagaimana
generasi pengetahuan baru bisa muncul – karena kapasitas imajinasi sedemikian rupa;
karena munculnya masalah baru yang harus diselesaikan; karena terekspresikannya sebuah
konsep (Fodorian); etc. – belum dapat dijelaskan secara rinci.
   Di samping itu, ‘kematangan modular’ yang mengendalikan semua teori folk (mis.:
kemunculan teori pikiran secara berangsur-angsur pada rentang usia tertentu, Cf. Baron-
Cohen, 1985) tidak dicapai secara bersamaan, sehingga EN tidak bisa begitu saja
diaplikasikan ke semua kelompok umur. Namun, bila dihubungkan dengan sebuah
kurikulum, fakta tentang kematangan modular ini justru menjadi acuan baru tentang
waktu-waktu yang tepat sebuah subyek mulai bisa diajarkan.

8. KERJA LANJUTAN
Secara keseluruhan, paper ini baru meletakkan dasar baru bagi konsep edukasi
berdasarkan sifat-sifat alamiah manusia yang telah ditemukan oleh berbagai program riset

                                            23
di sains kognitif, meliputi jenis-jenis sumber dan cara memperoleh pengetahuan,
mekanisme pemrosesan pengetahuan, perubahan pengetahuan dalam sistem keyakinan,
dan mekanisme pengembangan pengetahuan.
   Langkah selanjutnya adalah bagaimana menstrukturkan teori-teori dari domain spesifik
yang tercerai-berai dalam kerangka representasi pengetahuan. Kami berharap, sebuah
model sintaktik-representasional dan semantik-isi-mental yang disatukan dalam kerangka
representasi pengetahuan lengkap dengan modul-modul default-reasoning, mungkin
ditambah dengan port-port sensori dan motori tertentu sesuai dengan arsitektur modular-
klasik, akan bisa menghasilkan sebuah model kognisi in silico di STC2 yang lebih lengkap.
   Setelah itu, kerja selanjutnya akan diarahkan ke penerapan konsep EN dan EE ke
program-program edukasi yang ada, yaitu menemukan metode bagaimana domain
general dan domain spesifik bisa mengubah cara interaksi mereka dengan manipulasi
eksternal. Berbagai asumsi dan model yang selama ini berkembang dalam tema-tema riset
yang berdiri sendiri (untuk model mental tentatif fisika naif, Cf. Nersessian, Resnick,
1989; untuk model mental tentang penemuan saintifik, Cf. Dunbar, 1993) akan bisa
diintegrasikan.
   ENE menempati posisi lebih minor dalam kerja selanjutnya karena lebih terkait
dengan metasains, dan penekanan yang akan dilakukan lebih diarahkan ke sistem
kompleks. Tentu pengembangan ini baru bisa dilakukan bila masalah di seputar
penunjukan-pada-diri-sendiri telah terselesaikan.

9. PENGAKUAN
Saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya ke kolega-kolega di Bandung Fe
Institute: Hokky Situngkir, Yun Hariadi, Deni Khanafiah, Tiktik Sartika dan Ivan
Mulianta.
   Terima kasih juga disampaikan kepada orang-orang yang telah memberikan inspirasi
berupa fragmen data-data empiris orang-ketiga: Dodi Rustandi dari Brighten Institute
Bogor, Bambang Suroto dari Laboratorium Nuklir Departemen Fisika Institut Teknologi
Bandung, dan Muhammad Akbar dari Departemen Penerbangan Institut Teknologi
Bandung.
   Segala kealpaan tetap berada di tangan penulis.

10. REFERENSI
Atran, S. (1998). ‘Folkbiology and the anthropology of science: Cognitive universals and cultural
   particulars’. Behavioral and Brain Sciences, 21: 547-609.
Atran, S. (2003). ‘Modest adaptationism: Muddling Through Cognition and Language’. Behavioral and Brain
   Sciences, 25: 504-506.
Bach, K. (1981). ‘An Analysis of Self-Deception’. Philosophy and Phenomenological Research, 41(3): 351-70.
Baron-Cohen, S., A. Leslie, & U. Frith. (1985). ‘Does the autistic children have a “theory of mind”?’.
   Cognition, 21: 37-46.
Bates, E. (1994). ‘Modularity, Domain Specificity and the Development of Language’. Working paper, Center
   for Research in Language, University of California, San Diego.
Bermúdez, J. (1995). ‘Non-conceptual content’. Mind and Language, 10: 333-369.
Bermúdez, J. (2000). ‘Self-Deception, Intentions and Contradictory Beliefs’. Analysis, 60 (4): 309-19.
Blackwell, A. (1988). Spatial Reasoning for Robots: A Qualitative Approach. Tesis di Victoria University of
   Wellington, Oktober 1988.

                                                   24
Campbell, A., & S. Shapiro. (1998). ‘Algorithms for Ontological Mediation’. Dalam S. Harabagiu., (ed.).
   Usage of WordNet in Natural Language Processing Systems: Proceedings of the Workshop: 102-107. New
   Brunswick, NJ: COLING-ACL.
Carruthers, P. (1996). ‘Simulation and self-knowledge: a defence of theory-theory’. Dalam P. Carruthers, &
   P. Smith, (ed.)., Theories of Theories of Mind: 22-38. Cambridge: Cambridge University Press.
Carruthers, P. (2002). ‘The roots of scientific reasoning: infancy, modularity, and the art of tracking’.
   Dalam P.Carruthers, S. Stich, & M. Siegal (ed.)., The Cognitive Basis of Science: 73-95. Cambridge:
   Cambridge University Press.
Carruthers, P. (2003). ‘Moderately massive modularity’. Dalam A. O’Hear. (ed.)., Mind and Persons.
   Cambridge: Cambridge University Press.
Carruthers, P. (2003). ‘Is the mind a system of modules shaped by natural selection?’. Dalam C. Hitchcock.
   (ed.)., Contemporary Debates in the Philosophy of Science. Oxford: Blackwell.
Carruthers, P. (dalam persiapan). ‘Distinctively human thinking: modular precursors and components’.
   Dalam P. Carruthers, S. Laurence, & S. Stich, (ed.)., The Structure of the Innate Mind.
Chalmers, D. (1990). ‘Conscious and Cognition’. Tidak diterbitkan.
URL: http://jamaica.u.arizona.edu/~chalmers/papers/c-and-c.html
Chi, M., P. Feltovich, & R. Glaser. (1981). ‘Categorization and Representation of Physics Problems by
   Experts and Novices’. Cognitive Science, 5: 121-52.
Churchland, P. (1986). Neurophilosophy. Cambridge, MA: MIT Press.
Chomsky, N. (1965). Aspects of the Theory of Syntax. Cambridge, MA: MIT Press.
Cosmides, L., & J. Tooby. (1994). ‘Beyond intuition and instinct blindness: toward an evolutionarily
   rigorous cognitive science’. Cognition, 50: 41-77.
Dennett, D. (1995). Darwin’s Dangerous Idea: Evolution and the Meanings of Life. London: Penguin.
Dunbar, K. (1993). ‘Concept Discovery in a Scientific domain’. Cognitive Science, 17: 397-434.
Evans, G. (1982). The Varieties of Reference. Oxford: Clarendon Press.
Fagin, R., J. Halpern, & M. Vardi. (1984). ‘A Model-Theoretic Analysis of Knowledge’. Dalam Proc. 25th
   IEEE Symp. On Foundations of Computer Science, 1984: 268-78.
Faucher, L., R. Mallon, S. Nichols, D. Nazer, A. Ruby, S. Stich, & J. Weinberg. (2002). ‘The Baby in the
   Labcoat: Why Child Development Is An Inadequate Model for Understanding the Development of
   Science’. Dalam P. Carruthers, S. Stich, & M. Siegal, (ed.)., The Cognitive Basis of Science: 335-362.
   Cambridge: Cambridge University Press.
Fodor, J. (1975). The Language of Thought. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Fodor, J. (1983). Modularity of Mind. Cambridge, MA: MIT Press.
Frege, G. (1892/1980). ‘On Sense and Reference’. Zeitschrift für Philosophie und philosophische Kritik, 100.
Gödel, K. (1931/1962). ‘On formally undecidable propositions of Principia Mathematica and related
   systems 1’. Monatshefte für Mathematik und Physik, 38: 173-98, terj. B. Meltzer.
Goldman, A. (1993). ‘The Psychology of Folk Psychology’. Behavioral and Brain Sciences, 16: 15-28.
Harnad, S. (1993). ‘Problems, Problems: The Frame Problem as a Symptom of the Symbol Grounding
   Problem’. Psycholoquy, 4 (34).
URL: http://cogprints.soton.ac.uk/documents/disk0/00/00/15/89/index.html
Heyman, G., A. Phillips, & S. Gelman. (2003). ‘Children’s reasoning about physics within and across
   ontological kinds’. Cognition, 89: 43-61.
Hirschfeld, L. (1996). Race in the making: Cognition, culture, and the child's construction of human kinds. Cambridge,
   MA: MIT Press.
Howe, M., J. Davidson, & J. Sloboda. (1998). ‘Innate Gifts and Talents: Reality Or Myth?’. Behavioural And
   Brain Sciences, 21(3): 399-442.
Johnson-Laird, P. (1980). ‘Mental models in cognitive science’. Cognitive Science, 4: 71-115.
Kaiser, M., J. Jonides, & J. Alexander. (1986). ‘Intuitive reasoning about abstract and familiar physics
   problems’. Memory and Cognition, 14:308-312.
Karmiloff-Smith, A. (1992). Beyond Modularity: A Developmental Perspective on Cognitive Science. Cambridge, MA:
   MIT Press.
Lakatos, I. (1970). ‘Falsification and the methodology of scientific research programmes’. Dalam I.
   Lakatos, & A. Musgrave, (ed.)., Criticism and the Growth of Knowledge: 91-196. New York: Cambridge
   University Press.

                                                         25
Lakoff, G., & R. Núñez. (2000). Where Mathematics Comes From: How the Embodied Mind Brings Mathematics into
   Being. New York: Basic Books.
McCarthy, J. (1990). ‘Artificial Intelligence, Logic and Formalizing Common Sense’. Publikasi internet.
URL: http://www-formal.stanford.edu/jmc/
McCarthy, J., & P. Hayes. (1969). ‘Some philosophical problems from the standpoint of Artificial
   Intelligence’. Dalam B. Meltzer., & D. Michie. (ed.)., Machine Intelligence 4. Amsterdam: Elsevier.
McCloskey, M., A. Caramazza, & B. Green. (1980). ‘Curvilinear motion in the absence of external forces:
   Naive beliefs about the motion of objects’. Science, 210:1139-1141.
Miller, G. (2000). Mating Mind: How Sexual Choice Shaped the Evolution of Human Nature. New York: Random
   House.
Miller, K., C. Smith, J. Zhu, & H. Zhang. (1995). ‘Preschool origins of cross-national differences in
   mathematical competence: The role of number-naming systems’. Psychological Science, 6: 56-60.
Nersessian, N., & L. Resnick. (1989). ‘Comparing historical and intuitive explanations of motion: Does
   "naive physics" have a structure?’. Dalam Proceedings of the 11th Annual Conference of the Cognitive Science
   Society: 412-420. Hillsdale, NJ: Erlbaum.
Newell, A. (1990). Unified Theories of Cognition. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Pinker, S. (1981). ‘What spatial representation and language acquisition don’t have in common’. Cognition,
   10: 243-248.
Pinker, S. (1997). ‘Language Acquisition’. Dalam L. Gleitman, M. Liberman, & D. Osherson., (ed.)., An
   Invitation to Cognitive Science, Volume 1: Language. Cambridge, MA: MIT Press.
Pinker, S. (1997). How the Mind Works. London: Penguin.
Popper, K. (1959/1977). The Logic of Scientific Discovery. London: Routledge.
Pylyshyn, Z. W. (1991). ‘The Role of Cognitive Architecture in Theories of Cognition’. Dalam K. VanLehn
   (ed.). Architectures for Intelligence: 189-223. Hillsdale, N.J.: Erlbaum.
Pylyshyn, Z. W. (1999). ‘Is vision continuous with cognition?: The case for cognitive impenetrability of
   visual perception’. Behavioral and Brain Sciences, 22(3): 341-423.
Russell, B. (1911/1972). ‘The Philosophical Importance of Mathematical Logic’. Dalam Collected Papers of
   Bertrand Russell. London: Routledge.
Russell, B. (1926/1972). ‘Theory of Knowledge’. Dalam Collected Papers of Bertrand Russell. London:
   Routledge.
Smith, B. (1995). ‘The Structures of the Common-Sense World’. Acta Philosophica Fennica, 58: 290-317.
Spelke, E. (1990). ‘Principles of Object Perception’. Cognitive Science, 14: 29-56.
Sperber, D. (2002). ‘In Defense of Massive Modularity’. Dalam E. Dupoux, (ed.)., Language, Brain and
   Cognitive Development; Essays in Honor of Jacques Mehler: 47-57. Cambride, MA: MIT Press.
Sperber, D., & L. Hirschfeld. (2004). ‘The cognitive foundations of cultural stability and diversity’. Trends in
   Cognitive Sciences, 8(1): 40-6.
Suroso, R. (2004). ‘Economic Agency through Modularity Theory’. Working Paper WPC 2004, Bandung Fe
   Institute.
Suroso, R. (2004). ‘Internal Conflict: Natural Self-Deception of Human Cognition’. Journal of Social
   Complexity, 1(4): 14-9.
Tan, S. (1997). ‘The Elements of Expertise’. Journal of Education, Recreation, and Dance, 68(2): 30-3.
Thagard, P. (1996). Mind: Introduction to Cognitive Science. Cambridge, MA: MIT Press.
van Gelder, T., & L. Niklasson. (1994). ‘Classicalism and cognitive architecture’. Dalam Proceedings of the 16th
   Annual Conference of the Cognitive Science Society. Hillsdale, NJ: Erlbaum.




                                                      26
                                                                              LEGAL NOTICE



     PETUNJUK PENGGUNAAN DOKUMEN BFI
1. Tentang Dokumen
Dokumen ini adalah hasil riset sebagai sikap umum dari Bandung Fe Institute (BFI).
Dokumen ini telah melalui proses seleksi dan penjurian yang dilakukan oleh Board of
Science BFI bersama dengan penulisnya dan beberapa narasumber terkait. Tanggung
jawab terhadap kesalahan yang mungkin terdapat dalam isi dari masing-masing makalah
berada di tangan penulisnya. Segala bentuk usulan perbaikan, tambahan analisis, maupun
penerapan harus dilakukan dengan konsultasi dengan penulis bersangkutan melalui Kantor
Administrasi BFI (alamat di bawah).

2. Tentang Ketersediaan & Penggunaan Dokumen
    • Dokumen ini disediakan secara gratis dalam bentuk kopi elektronis yang dapat
       diakses melalui alamat web: www.bandungfe.net/wp.html. Siapapun yang
       berkeinginan untuk melihat dan memiliki kopi elektronis dari dokumen ini dapat
       memperolehnya secara gratis dengan men-download dari alamat tersebut.
    • Dokumen yang di-download dapat diperbanyak, didistribusikan, ataupun dikutip
       untuk penggunaan non-komersil, pengayaan riset ilmiah, dan keperluan pendidikan
       tanpa perlu meminta izin tertulis dari BFI. Khusus untuk pengutipan, dapat dilakukan
       tanpa izin tertulis dari BFI namun harus menyebutkan dengan baik sumber kutipan,
       meliputi nama penulis, nomor seri dokumen, penerbit BFI Press, dan tahun
       penerbitan sesuai dengan standar penulisan bibliografi di mana kutipan dilakukan.
    • Hard-Copy dari dokumen ini dapat diperoleh dengan permintaan tertulis kepada
       Kantor Administrasi BFI pada alamat di bawah. Hard-Copy dapat diperoleh dengan
       membayar uang pengganti cetak dokumen. Hard-Copy dapat diperbanyak,
       didistribusikan, ataupun dikutip untuk penggunaan non-komersil, pengayaan riset
       ilmiah, dan keperluan pendidikan tanpa perlu meminta izin tertulis dari BFI. Khusus
       untuk pengutipan, dapat dilakukan tanpa izin tertulis dari BFI namun harus
       menyebutkan dengan baik sumber kutipan, meliputi nama penulis, nomor seri
       dokumen, penerbit BFI Press, dan tahun penerbitan sesuai dengan standar
       penulisan bibliografi di mana kutipan dilakukan.
    • Segala kebijakan teknis, implementasi apapun yang dilakukan berdasarkan usulan
       teknis dari dokumen ini tanpa melalui koordinasi langsung di bawah arahan peneliti
       BFI yang bersangkutan dan tanpa melalui persetujuan dengan kantor administrasi
       BFI bukan merupakan tanggung jawab BFI sebagai institusi ataupun peneliti yang
       bersangkutan secara individual.

Hak-hak intelektual BFI dan penelitinya dilindungi oleh undang-undang (lihat pasal 380 ayat
1 & 2 KUHP). Pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan tersebut di atas adalah bentuk
pelanggaran hukum pidana dan mendapat ancaman hukuman/sanksi sesuai peraturan
perundangan yang berlaku di Indonesia.

Untuk informasi lebih lanjut hubungi Kantor Administrasi BFI dengan alamat:
BANDUNG FE INSTITUTE
Jl. Cemara 63 Bandung 40161
JAWA BARAT – INDONESIA
URL: http://www.bandungfe.net
Mail: bfi@bandungfe.net
Ph./Fax.: +62 22 2038628

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:352
posted:8/1/2010
language:Indonesian
pages:27