11 Kesaksian spektakuler

Document Sample
11 Kesaksian spektakuler Powered By Docstoc
					                                                 Majelis Mujahidin


Kesaksian spektakuler
 Kontribusi dari Fauzan Al-anshori
Jumat, 14 Januari 2005


Sidang ketiga belas (13/1) kasus dugaan terorisme terhadap Ustad Abu Bakar Ba'asyir ini sungguh sangat menarik.
Pasalnya, Tim Pembela berhasil menghadirkan saksi meringankan (adecharge) yang sangat signifikan, yakni Prof.Dr.
Syafii Maarif, Ketua Umum PP Muhammadiyah dan Fred Burks, mantan penerjemah di Departemen Luar Negeri (Deplu)
Amerika Serikat (AS).

Kesaksian Pak Syafii atas intervensi pemerintah AS terhadap kasus Ust Abu ini sebenarnya sudah ditulisnya sendiri di
rubrik Resonansi HU Republika (13/4/04) ketika ia diminta langsung oleh Dubes AS di Jakarta Ralph L Boyce (28/3/04)
atas perintah Washington agar melobi Ketua Mahkamah Agung (MA) dan Kapolri supaya Ust Abu tetap ditahan sebelum
pemilu dilangsungkan (5/4/04). Untuk kepentingan itu pihak Dubes menyiapkan semua fasilitas yang dibutuhkan.
Namun, Pak Syafii langsung menolak dengan tegas permintaan tersebut, kendatipun dia sendiri tidak sepaham dengan
visi dan misi perjuangan Ust Abu. Pak Syafii minta agar pemerintah AS menghormati keputusan Mahkamah Agung (MA)
yang akan membebaskan Ust Abu pada 30 April 2004. Pak Syafii tidak rela dirinya menjadi kacung AS.
 Adapun kesaksian Fred Burks (lahir 20/2/58), mantan penerjemah Deplu AS pada pertemuan presiden George W Bush
dan presiden Megawati di Gedung Putih (19/9/01) sepekan setelah tragedi WTC 11-9 juga melansir sendiri kesaksiannya
di koran The Washington Post (9/12/04). Kemudian kesaksian Fred dielaborasi oleh majalah Gatra edisi 1 Januari 2005.
Kesaksiannya di persidangan sebenarnya hanya mengulang apa yang pernah dia katakan di kedua media tersebut.
Diantaranya, Fred menyebut adanya negosiasi tingkat tinggi, di mana Amerika minta Indonesia menyerahkan Ust Abu ke
tahanan Amerika sebagaimana penyerahan Umar Al-Faruq (5/6/02). Tetapi Megawati menolak permintaan itu, dengan
alasan Ust Abu dikenal luas di Indonesia sehingga bisa menimbulkan instabilitas politik dan agama yang tidak sanggup
dipikulnya, kecuali jika opini publik mendukung langkah itu.

Fred juga berkata bahwa tiga pekan sebelum bom Bali (12/10/02) ada pertemuan rahasia di rumah kediaman pribadi
Megawati (16/9/02) yang dihadiri oleh Ralph L Boyce, dubes AS untuk Indonesia, Karen Brooks (Direktur Asia National
Security Council), seorang perempuan agen CIA yang diperkenalkan sebagai utusan khusus presiden Bush, dan Burks
sendiri, sedangkan Megawati hanya sendirian. Dalam pertemuan 20-an menit itu si agen CIA berkata bahwa pemerintah
Amerika minta agar Ust Abu diserahkan ke Amerika karena terkait jaringan Al-Qaeda.

Penolakan Megawati membuat agen CIA justru mengancam: "Jika Ba'asyir tidak diserahkan ke Amerika sebelum
Konferensi APEC (enam minggu setelah pertemuan itu) maka situasi akan bertambah sulit. Utusan khusus Bush itu tidak
menjelaskan lebih jauh apa yang dimaksud dengan "situasi akan bertambah sulit" tersebut. Pertemuan pun bubar. Bom
Bali pun meledak
(12/10/02). Burks berkata: "Peristiwa itu memberi alasan yang diperlukan Megawati sehingga Ba'asyir ditahan sampai
sekarang, meskipun dia (Mega) tidak menyerahkannya ke Amerika. Dan karena mayoritas korban adalah warga
Australia (88 orang, ingat sejarah dibentuknya Densus 88), peristiwa itu juga membuat pemerintah dan rakyat Australia
mendukung perang melawan terorisme, padahal mereka sebelumnya enggan. Pengakuan Fred ini dilakukan untuk
menghentikan penipuan oleh Amerika terhadap masyarakat Indonesia" (Gatra, 1/1/05).

Kedua kesaksian ini jelas telah mengkonfirmasi asumsi yang selama ini diyakini oleh Ust Abu, bahwa penangkapannya
secara paksa dari RS PKU Muhammadiyah Solo (28/10/02), penahanan dan persidangan pertama atas dirinya,
penangkapan paksa kedua kalinya dari Rutan Salemba (30/4/04), dan penahanan serta persidangannya kedua benar-
benar merupakan order pemerintah AS. Untuk itu pemerintah AS mengucurkan "carrot" sekitar US$ 657 sebagai balas
budi atas penzaliman terhadap ulama sepuh ini. Uang dolar itulah yang digunakan polri diantaranya untuk membeli
kendaraan dinas, membangun pusat pelatihan anti-teror di Semarang, dan membangun gedung Detasemen Khusus
(Densus 88) 33 tingkat di halaman Polda Metro Jaya yang aroma KKN-nya sangat menyengat itu.

Kesaksian Fred juga akan membuka tabir misteri peledakan bom Bali yang menewaskan 200-an orang serta menahan
lebih 200-an aktivis muslim sebagai tertuduh pelaku tindak pidana terorisme. Bom Bali itu juga telah menjadi pintu masuk
bagi kepolisian Australia (ASIO dan AFP) ke jantung Polri melalui kedok kerjasama memerangi terorisme. Bom Bali juga
telah menebas leher demokratisasi di Indonesia dengan keluarnya UU Anti-Terorisme no. 15 tahun 2003 yang memberi
wewenang mutlak kepada Satuan Tugas Khusus (Satgassus) untuk menangkap pelakunya dan membongkar jaringan
apa yang dinamakan Jamaah Islamiyah (JI), organisasi yang dianggap paling bertanggungjawab di balik bom Bali yang
amirnya didakwakan kepada Ust Abu.

Sungguh tidak pernah terlintas dalam benak saya sebelumnya akan ada seorang warga negara Amerika yang sangat
profesional dan berani membongkar kedok kebohongan dan kemunafikan rejim Amerika di Indonesia. Namun, seiring
perjalanan waktu ternyata Allah swt memberikan pelajaran yang berharga kepada bangsa Indonesia, menyusul teguran
keras berupa gempa dan gelombang tsunami di Aceh. Semoga bangsa ini semakin berani mengakui kesalahan sendiri
dan bertobat dari perilaku pengkhianat terhadap kedaulatan bangsanya demi mengejar segepok dolar yang tak berharga
sama sekali dan hanya akan menjadi api yang berkobar-kobar di dalam perut pemakannya di neraka kelak.

Akhirnya, dalam surat elektroniknya (email) kepada saya sebelum tiba di Indonesia, Fred menulis: "…Semoga kesaksian
http://majelis.mujahidin.or.id/new               _PDF_POWERED                                 _PDF_GENERATED 18 March, 2006, 14:05
                                              Majelis Mujahidin




saya berguna dalam mengungkap apa yang terjadi di belakang layar…Saya ikut berdoa semoga kebenaran akan diketahui
oleh semua pihak." (29/12/04). Amin, Sir!




http://majelis.mujahidin.or.id/new            _PDF_POWERED                             _PDF_GENERATED 18 March, 2006, 14:05

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:22
posted:8/1/2010
language:Indonesian
pages:2