Cara kerja otak

					A. INDIVIDU DENGAN OTAK KIRI Informasi diproses secara dengar (auditory); Orang ini senang
berbicara dan menuliskan sesuatu. Informasi yang didapat sedikit-sedikit, untuk mengetahui sesuatu
secara gambaran utuh. Mudah menangkap peraturan peraturan pada mengeja, tata bahasa, pemisahan
kata dan mudah memahami bahasa asing. Pola berpikirnya runtut ( sequensial), sangat logis dan
analitik, senang membuat daftar. Senang membuat aturan dan menaati aturan. Belajar lebih berhasil
dengan mengetahui langkah demi langkah yang harus dikerjakan untuk menyelesaikan suatu
pekerjaan dibanding bila didemonstrasikan. Ingatan disimpan dalam bentuk nama dan kata kata
dibandingkan dengan diimajinasikan. Biasanya sangat reliable, prestasi disekolah baik. Menyukai
sesuatu yang dikenalnya dan yang dapat diperkirakannya. Tidak menyenangi tantangan, ide baru dan
perubahan pada rutinitas. Mempunyai kecenderungan untuk menerima dan menghargai apa yang
didengar dan dibaca daripada bertanya dan berpikir secara mandiri. Mengerjakan sesuatu lebih
memilih dalam kelompok dibanding bekerja sendiri. Akan berhasil dalam pekerjaan rutinitas, tapi
tidak berhasil bila memerlukan kreatifitas untuk penyelesaian masalah.

B. INDIVIDU DENGAN OTAK KANAN Tipe pembelajaran visual (melalui rangsang mata). Dia
akan belajar dengan gambar lalu membuat dengan caranya sendiri Intuitif dan prosesnya acak (tidak
berurutan) Informasi terutama disimpan dalam bentuk gambar. Ingatan visualnya kuat, ingatan
dengarnya lemah. Ingatan dalam imajinasi dapat bertahan dalam waktu yang lama Terdapat
keterlambatan dalam memproses sesuatu yang didengar, karena kata yang didengar harus diubah
menjadi gambar mental (mental picture). Bila mengingat seseorang atau kejadian, akan ingat
imajinasi orang tersebut dan dapat mengingat detail kejadian Kurang mampu untuk menampilkan
sesuatu secara logis, atau pekerjaan yang berhubungan dengan bahasa.Lebih memilih menggambar
dan berkreasi dibanding menulis dan bicara. Senang mengerjakan beberapa pekerjaan pada saat yang
bersamaan. Menyukai pekerjaan dimana mereka dapat bergerak bebas dan tidak perlu duduk diam.
Tidak menyukai aturan, impulsif dan sering bertanya. Menyenangi tantangan baru, penuh ide, sangat
kompetitif dan perfeksionis. Seorang genius yang kreatif, menyenangi seni dan musik Cara
berpikirnya menyeluruh (holistik), proses belajar secara menyeluruh untuk mengetahui bagian bagian
kecil (whole to part learners) Berpikirnya spasial (ruang) dan 3 dimensi Keterampilan didapat dari
demonstrasi, tidak dari penjelasan tahapan tahapan yang harus dilalui C. INDIVIDU DENGAN
OTAK KIRI-KANAN Mempunyai kemampuan untuk memindahkan pekerjaan sesuai dengan otak
yang dibutuhkan. Bila melibatkan proses membaca dan melakukan pekerjaan yang logis, dapat
berlaku secara efisien dan secara berurutan. Mempunyai kemampuan kreatif misalnya menggambar,
memainkan musik Mempunyai kemampuan (menyeluruh) holistic untuk menyelesaikan masalah
yang besar dan perhatian detail. Mempunyai kemampuan untuk mengorganisir dari otak kiri dan
kemampuan kreatif dan brilliant dari otak kanan.

PROSES BELAJAR PADA OTAK KIRI DAN OTAK KANAN 1. BACA-TULIS- EJA PADA
OTAK KIRI . OTAK KIRI-KANAN: (Njiokiktjien 1997, NJiokiktjien 2003)

a. Pemahaman dan pengenalan apa yang dilihat. Mula mula anak belajar membaca melalui proses
penglihatan, dimana bentuk huruf dan kata harus dicamkan dan diingat; kemudian bentuk tersebut
diidentifikasi, diingat dan dihubungkan dengan bunyi huruf/kata. b. Hubungan antara deret huruf dan
deret bunyi Setelah ada proses pemahaman tentang apa yang dilihat, didalam otak deretan huruf akan
dirubah menjadi deretan bunyi, sehingga terjadi perekaman kata. Deretan huruf ini akan masuk
dalam proses didaerah pendengaran sehingga terjadi pemanggilan bunyi. c. Menganalisa apa yang
didengar. Perbendaharaan kata pada permulaan bahasa bicara diwujudkan sebagai kesatuan
bunyi,kemudian anak tahu bahwa satu kata terdiri dari beberapa bunyi tersendiri. Anak harus belajar
untuk menganalisa apa yang didengar. d. Pemahaman apa yang dibaca. Bila sudah terdapat kemajuan
dalam proses membaca, bacaan tersebut harus dapat dimengerti sehingga dapat membuat ringkasan
atau jalan pikiran dari apa yang telah dilihat. Untuk tahapan ini anak tidak boleh ada kesulitan dalam
menemukan kata, dapat bicara dengan lancar, mempunyai tata bahasa yang digunakan. PADA
OTAK KANAN (Freed, 1997) a. Mengeja (Visual Spelling) Proses berpikir pada individu dengan
otak kanan adalah secara visual dan spasial(penglihatan dalam ruang). Anak dapat membedakan
konsonan tapi sulit untuk membedakan vocal tertentu. Karena proses berpikirnya dalam ruang,
mudah terjadi inverse huruf, dan terlihat seperti cermin. Karena penglihatannya 3 dimensi, maka kata
yang dilihat dapat terimajinasi berotasi (dari arah atas, bawah, seperti cermin). Bentuk kata yang
dilihat , diimajinasikan, lalu diingat. Setelah itu baru dapat dieja kedepan atau dieja mundur. Agar
lebih mudah terperhatikan kata tersebut harus ditulis berwarna dengan masing suku kata diberi warna
yang berbeda. Perlihatkan keanak selama 20 detik agar dapat terekam dipikirannya. Anak akan sulit
untuk menuliskan apa yang dilihat karena harus melihat kebawah, yang mempengaruhi proses
pemanggilan kembali imajinasi visualnya. Setelah menguasai dengan satu kata, ditingkatkan dengan
gabungan beberapa kata atau satu kalimat.

 b. Membaca Proses membaca dimulai dengan melihat kata, diubah menjadi gambar didalam
pikirannya, lalu diucapkan dengan kata. Hal ini akan sulit dikerjakan karena konsentrasi anak lebih
mudah beralih, informasi diproses dengan acak dan pandangan dapat melompat atau mundur dari
kata yang harus dibaca. Jadi proses membaca menjadi tidak lancar; akan ada kata yang terlewati dan
baris yang terlompati. Bila anak ini mengerti konsep untuk mengubah kata menjadi gambar didalam
pikirannya (mental picture), anak akan dapat membaca dalam hati. Pola belajar yang whole to part,
mengakibatkan ketidak mampuan dalam belajar huruf bunyi (fonem). Anak biasanya baru dapat
membaca dikelas 3, setelah perbendaharaan kata yang dilihatnya banyak. Metode phonic yang
memecah kata menjadi huruf bunyi seperti yang diajarkan secara konfensional dan memerlukan
proses pendengaran dan berurutan, hanya dapat dipakai untuk pola belajar otak kiri atau ke 2 otak
(part to whole). Pada otak kanan dipakai metode bahasa yang menyeluruh (whole language), dimana
ini akan merangsang anak untuk senang membaca dan mengerti (komprehensif), baru kemudian
memperbaiki detail (ejaan dan tata bahasa). Anak diperlihatkan kata utuh dan dibacakan utuh untuk
kemudian direkam dalam pikirannya (jangan dibiarkan anak untuk menebak). c. Membaca dalam hati
Individu dengan pola belajar dengan otak kanan adalah seorang pembaca dalam hati yang ulung, dan
dapat membaca dengan cepat, karena membaca adalah komprehensif (pemahaman) dan
komprehensif adalah visual (sesuatu yang dapat dilihat). Pada individu dengan pola belajar memakai
otak kiri walau dapat membaca cepat, belum tentu pemahamannya baik. Untuk memahami apa yang
dibaca , harus dengan membaca perlahan (silent) dan pelan pelan (slowly), sehingga kata kata
tersebut akan masuk kedalam pikirannya. Biasanya menggunakan catatan , sehingga penyimpanan
informasinya sistimatik. Individu dengan otak kanan akan membaca dengan cepat, melakukan
scanning terhadap kata kata yang ada, sehingga mendapatkan gambaran detailnya. Mula mula
dibacakan, lalu disuruh untuk merubah kata kata tersebut menjadi gambar mental. d. Menulis.
Merupakan hal yang paling sulit untuk dikerjakan karena koordinasi motorikhalus umumnya juga
terganggu.
Orientasi visualnya yang multidimensi membuat kecenderungan untuk melakukan kesalahan dalam
menyalin huruf dan angka. Terdapat kesulitan dalam mengalihkan dari gambar yang ada dipikirannya
kedalam kertas dalam bentuk kata, membentuk huruf, ejaan, pemisahan kata, karena terjadi distorsi
dari mental picturenya. Pada otak kiri, berpikirnya secara symbol dan dalam bentuk kata,, sehingga
mudah untuk menerjemahkan pikirannya ke kertas. Pada otak kanan, sejak awal anak cenderung
perfeksionis. Jadi bila terdapat kesalahan menulis yang harus diperbaiki membuatnya tidak mau
menulis. Anak disuruh berbicara lambat, lalu kita menuliskan kata tersebut, beri tanda baca dan
pemisahan kata; dengan demikian dia mengerti bagaimana cara menulis. Kemudian kita berbicara
dengan lambat, anak disuruh menuliskan. Bila terdapat kesalahan perbaikilah kata tersebut secara
kata yang utuh.
BERHITUNG PADA OTAK KIRI (Njiokiktjien 1997, Njiokiktjien 2003).
a. Dapat menghitung dan mempunyai pengertian bilangan. Sebelum anak mampu berhitung, harus
ada pengertian tentang jumlah dan pengertian tentang perbedaan diantara jumlah tersebut. Saat balita
anak belajar berhitung dalam situasi fisik dan konkrit, menghubungkan jumlah tersebut dengan
bahasa yang diucapkan yaitu bilangan2 kemudian disusul dengan angka angka. Pengertian bilangan (
pengertian jumlah tanpa ada benda fisik /konkrit yang dapat dihitung) harus sudah dimiliki pada usia
5 tahun.
 b. Bahasa pada proses berhitung Membagi atau merubah suatu jumlah, pengertian ditambah dan
dikurangi, lebih besar dan lebih kecil perlu diajarkan selama perkembangan bicara dalam bentuk
gerakan dan penglihatan. Salah satu syarat untuk dapat berhitung adalah tidak mengalami gangguan
perkembangan berbahasa. c. Mengerjakan simbol simbol hitungan. Syarat lain untuk berhitung
adalah mengenal bentuk lambang hitungan, sehingga proses berhitung dapat berlangsung. d. Proses
berhitung sentral Operasi matematika (tambah, kurang, kali dan bagi) akan dipelajari pada ahir
periode manipulasi secara konkrit. Operasi matematika tidak tergantung dari simbul tertulis. e. Faktor
lain pada berhitung. Perhatian, pencaman dan daya ingat jangka pendek yang baik perlu untuk
mencongak. Juga perlu daya ingat yang baik tentang apa yang didengar verbal. Pada mencongak juga
diperlukan imajinasi penglihatan (visual) selama hitungan hitungan belum mampu dilakukan secara
otomatis. Pada operasi yang lebih besar diperlukan keberuntunan, yang
satu dulu, baru yang lain dan diperlukan urutan yang tepat serta perencanaan. PADA OTAK
KANAN (Freed, 1997) Proses pembelajaran secara berlatih (drill), pengulangan dan ujian dengan
waktu yang terbatas, hanya sesuai untuk individu dengan otak kiri. Karena pola belajar pada otak
kanan adalah visual, maka ilustrasikan konsep matematika secara visual misalmya menghitung uang,
menggunakan sempoa. Kekuatan individu ini terdapat pada intuisi matematika, sedangkan
perhitungan arithmatika yang sederhana merupakan sisi kelemahannya. Proses pembelajaran dengan
menarik minat mereka dengan memperkenalkannya pada konsep matematika yang kompleks
misalnya bilangan negatif, kuadrat, akar, tenaga (power), sebelum ahirnya diperkenalkan pada
konsep dasar yaitu penjumlahan, pembagian sederhana, perkalian. Kegiatan tersebut dapat berupa
menghitung volume air yang ada di botol, mengetahui berapa lama kereta api dapat menempuh jarak
bandung- jakarta bila kecepatannya tertentu, kegiatan memasak dengan cara menakar menggunakan
cangkir dan sendok akan mengajarkankonsep volume, pecahan, perkalian. Setelah dapat memahami
proses perhitungan sederhana dan persamaan, dengan mudah akan dapat memahami sesuatu yang
lebih abstrak dan konsep yang sulit ( misalnya geometri, kalkulus) Proses berpikirnya visual; hindari
anak disuruh menulis, tidak perlu menghitung dengan jari, dalam suasana relax, tidak ada tekanan
karena pembatasan waktu, lakukan latihan mental matematika yang melibatkan keberuntunan secara
auditori dan konsep matematika. Dengan cara ini akan memotong daerah kelemahan anak (proses
dengar) dan merubahnya menjadi kekuatan menggunakan kemampuan visualnya. Latihan mental
matematika ini juga memanfaatkan kemampuan visual tanpa gangguan untuk menuliskan atau
menunjukan cara (langkah) penyelesaian. Jangan memberi soal yang berlebihan ; cukup 5-10 soal
dengan masalah yang berbeda. KESIMPULAN Terdapat 3 tipe proses belajar pada individu yaitu
otak kiri, otak kanan dan kedua otak. Harus dikenali pola belajar pada anak didik agar metode
pembelajaran sesuai dengan yang dibutuhkan, sehingga hasil yang diperoleh optimal

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags: otak manusia
Stats:
views:2975
posted:7/30/2010
language:Indonesian
pages:6
Description: Cara kerja otak manusia