Dakwah dan Masyarakat

Reviews
Shared by: Maksum Muchtar
Categories
Tags
Stats
views:
843
rating:
not rated
reviews:
0
posted:
3/11/2009
language:
pages:
0
DAKWAH DAN PEMBANGUNAN MASYARAKAT Oleh : Maksum Muchtar (I) Mengubah Paradigma Dakwah Kata “dakwah”bagi pemeluk agama Islam memiliki muatan ideologi. Hal itu, selain karena diderivasikan, atau diturunkan dari kata da-’a-wa yang dapat digali dari al-Qur’an yang merupakan Kitab Suci ummat Islam, ”dakwah” juga telah diyakini sebagai kewajiban ummat Islam juga. Seperti sering disimpulkan dari ayat 125 Surat al-Nahl, dakwah bukan hanya merupakan kewajiban kelompok, melainkan juga kewajiban individu. Itulah yang kemudian dakwah memiliki kekuatan yang dahsyat. Kewajiban kelompok hadir justru karena setiap individu Kewajiban (muslim) dengan hadir kata ud’u dipanggil untuk melakukan dakwah. kelompok sebagai konsekwensi keserentakan masing-masing individu dalam menyahuti panggilan berdakwah. Ayat tersebut berbunyi : ud’u ilaa sabiili Rabbika b al-lhikmati wa al-lmau’idzati al-hasanati wa jaadilhum billatii hiya ahsan.....”Dakwah (ajak-panggil) lah ke jalan Rabbimu dengan Hikmah, dan Mau’idzah (teladan) Hasanah, dan jidaal (beri argumen) mereka dengan argumen yang baik...”. Dari ayat lain, (Ali Imran: 104), dakwah dapat dimaknai sebagai identitas kelompok, kelompok yang baik (khaira ummah). Identitas itu dirumuskan dalam perilaku mengajak kepada yang khair (baik), memerintah kepada ma’ruuf sebagi (yang disepakati sebagai baik), dan mencegah dari yang disepakati merusak (munkar). Bunyi ayat itu sebagai berikut : wal takun minkum ummatun yad’uuna ila al-khari wa ya’muruuna bi al-ma’ruufi wa yanhauna ’an almunkari.....”Hendaklah mengajak kepada ada diantara kamu sekelompok untuk orang (ummat) yang yang al- al-khair, memerintahkan melaksanakan ma’ruuf, dan mencegah dari al-munkar..”. Pesan serupa juga di dapatkan pada ayat setelahnya, yaitu ayat 110 Surat Ali Imran : Kuntum khara ummatin ukhrijat li al-Naasi ta’muruuna bi al-ma’ruufi wa tanhauna ’an al-munkari wa 1 tu’minuuna billahi...”Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada al-Ma’ruuf, dan mencegah dari al-Munkar, dan beriman kepada Allah...” Itulah karenanya sering dijelaskan bahwa dakwah itu adalah suatu aktivitas, baik yang dilakukan secara individu maupun kelompok, yang mengajak kepada yang ma’ruuf dan atau mencegah dari perbuatan munkar. Dakwah memiliki tujuan ”merubah”. Yang hendak dirubah adalah individu dan kemudian masyarakat. Atau bisa juga masyarakat dan kemudian individu. Akan tetapi karena masyarakat merupkan sekumpulan individu, maka yang biasa dikatakan sebagai tujuan dakwah ialah merubah masyarakat. Akan tetapi, yang perlu dicermati ialah perubahan itu, yang dari ayat... dicerminkan dari kata ”ilaa” (ilaa rabbika). Sekalipun tujuan perubahan sudah cukup jelas, tetapi sebetulnya tidak sedemikian pasti dalam hasilnya, atau dalam realitas yang terjadi. Bagi yang tidak menyadari ini, secara tidak sadar sering meniscayakan bahwa aktivitas dakwah akan menghasilkan perubahan ”ketidak positif pastian”, dalam bisa masyarakat. Perubahan dalam dirinya mengandung berubah kearah yang positif atau mungkin sebaliknya. Jelasnya, dengan dakwah masyarakat bisa berubah kearah yang positif atau kearah yang negatif, sekalipun dilakukan dengan niat yang baik menurut dirinya. Sekalipun diniatkan untuk ilaa sabiili rabbika. Dengan demikian, agar perubahan masyarakat itu perubahan yang membangun, niat yang baik saja tidaklah cukup. Al-Qur’an mengingatkan hal itu dengan menunjukkan garis-garis besar metodisnya, yaitu bi (1) al-hikmati, wa (2) al mau’idzatil hasanah, wa (3) jaadilhum billatii hiya ahsan. Jika dikaji lebih lanjut, nilai dasar yang ingin dijaga dengan ketiga metode itu ialah terwujudnya masyarakat, dan masyarakat yang lebih maju. Masyarakat yang ter”bangun”kan. Bahkan ter”bangun”kan secara sustainabel, tidak henti. Suatu masyarakat dalam dirinya mengandung potensi untuk berlanjut (sustain). Karenanya ketika hendak merubahnya, perubahan yang dilakukan tidak pada tempatnya menghentikan potensi sustein ini. Karena itu pulalah maka metode 2 yang dilakukan haruslah pula metode yang bukan hanya mempertimbangkan, melainkan Hikamah, semuanya juga harus menjamin Hasanah, terjadinya dan kesinambungan pengembangannya. Hasanah, dalamnya Mau’idzah tidak (sekalipun) jika tidak Mujaadalah terkandung di mungkin operasional semangat membangun yang berkesinambungan. Asas utama dari ketiga metode itu memang ”membangun” dan ”berkesinambungan”. Jadi, metode ini pada dasarnya untuk mengarahkan dan sekaligus menjamin agar yang terjadi adalah perubahan pada masyarakat, perubahan itu yang membangun, menjadikannya lebih baik, dan yang lebih baik itu tidak pernah ada hentinya. Mungkin kita dapat menyederhanakan semua itu dalam ungkapan bahwa dakwah itu untuk membangun masyarakat yang berubah kearah sabiili rabbika, kejalan kesempurnaan yang diridlai Allah, dan itu tidak akan ada akhirnya, karena AlRabb itu tidak pernah berbatas, dan tidak pernah terlampaui. Lantas ada pertanyaan lain yang perlu dipecahkan. Masayarakat mana yang harus membangun dan masyarakat mana pula yang harus dibangun. Secara sepintas, ayat 110 Ali Imran di atas, seolah mengandaikan adanya sebuah masyarakat (community) besar yang disebut ”ummah”, dan diantaranya ada ummah terbaik (khaira ummah), dan sekumpulan masyarakat besar yang lain tidak termasuk dalam unggulan dan menjadi sasaran dakwah. Mereka yang disebut terakhir ini dikategorikan sebagai al-Naas. Sesungguhnya dimungkinkan untuk merumuskan penafsiran lain. Masing-masing ummat memiliiki potensi khairo ummatin dihadapan yang lain. Yang menjadikannya betul-betul unggul dari yang lain itu ialah ketika berani mengambil inisiatif untuk ta’muruuna bil ma’ruufi wa tanhauna ’anil munkar, sesuai yang dimilikinya. Dalam perspektif ini, maka setiap masyarakat harus menyadari keunggulannya dan sekaligus keterbatasannya, sehingga masyarakat itu menjadi khaero ummah dalam bingkai kewajiban berinisiatif atau proaktif me”limpah”kan keunggulannya kepada yang lain. Namun, pada saat yang sama harus menyadari kekurangannya, sebagai al- Nas, untuk mau bealajar dan menerima dari keunggulan masyarakat yang lain. Kesadaran akan kesetaraan (musaawaa) itulah yang sesungguhnya menempatkan sebuah ummat menjadi khairo ummatin, sehingga sebuah ummat 3 tidak merasa menggurui yang lain, melainkan mengakui keunikan dan kelebihaannnya dan sekaligus berinisiatif belajar dari yang lain itu. Dengan demikian, dari kacamata sendiri dakwah, (dirinya) masyarakat dan yang harus yang dibangun lainnya ialah secara masyarakatnya masyarakat berkerendahan hati. Elaborasi lebih lanjut dari pemahaman di atas, ialah bahwa dakwah kemudian menjangkau masyarakat manapun dengan melampaui batas-batas primordialnya, atau batas-batas pembentuknya, seperti ideologi, agama, etnis, bahasa, kultur, pendidikan dan seterusnya. Konsep al-Naas dalam al-Qur’an memang meniadakan batas-batas seperti diatas. Jadi dakwah adalah ahtivitas ideologis, ketika dia dioperasionalkan kelimpahan lain dalam setiap berubah juga bentuk kesadaran yang sebagai kewajiban sehingga untuk orang memberikan atau sabili keunggulan kearah dimilikinya sebagai masyarakat rabbika. keunggulan pengejawantahan Dakwah merupakan aktivitas humanis karena apa yang berusaha dilimpahkan, dibagikan, atau didorongkan kepada yang lain untuk berubah itu, ”yang lain” itu dipandang semata-mata karena al-naas, karena human, mengabaikan atau melupakan batas apapun, termasuk batas agama, sebagai pengejawantahan rahmatan lil’alamiin, atau melaksanakan dakwah tugas tidak mewujudkan lain adalah sifat al-Raman wajib Allah. untuk Ujung dari semuanya, aktivitas membangun masyarakat (community development), masyarakat apapun dan manapun. (2) Mengembangkan Metode Dakwah Berorientasi Community Development 4 Masyarakat biasanya dibedakan dengan komunitas.Secara sederhana, komunitas sering diartikan sebagai bagian keluarga, dari dan masyarakat, tentu saja tetapi lebih besar Tetapi, dan kita menghimpun beberapa individu. menggunakan kedua istilah itu secara bergantian dengan mengacu pada esensi bahwa keduanya terkait dengan kelompok individu yang memiliki masalah bersama dan terkadang tujuan atau harapan yang sama. Masing-masing masyarakat memiliki karakter dan masalahnya sendiri. Secara umum, masalah yang ada di masyarakat dapat dibagi menjadi dua. Pertama, adalah masalah yang terkait dengan elemen-elemen di dalam masyarakat sendiri secara masing-masing, yaitu masalah yang dihadapi individu, dihadapi keluarga, dan dihadapi kelompok atau komunitas dalam masyarakat tersebut. Biasanya disebut masalah dan micro. Kedua, masalah atau yang sistem dihadapi sosialnya. masyarakat Biasanya secara dikenal bersama-sama lingkungannya, dengan masalah macro masyarakat. Masalah-masalah seperti diatas, swekalipun secara garis besar sama untuk semua masyarakat, namun pemecahannya tidak selaalu sama, sebab masing-masing masyarakat memiliki karakternya sendiri. Atau dari sisi masyarakat tertentu masalah-masalah yang dihadapinya memiliki konteksnya tersendiri, yang berimplikasi pada perbedaan dalam pemecahannya dengan masyarakat yang lain karena perbedaan konteksnya pula. Dakwah dalam paradigma yang lebih moderat, seperti yang diungkapkan dalam tulisan terdahulu, tidak lagi sebatas ”menyebarkan” agama, atau ”menyadarkan” ajaran, melainkan merupakan aktivitas merubah masyarakat agar mendapatkan kemajuan kesejahteraan yang berkelimpahan, fi sabiili rabbika. Kalimat rabb sendiri memuat makna penyejahteraan karena dibimbing oleh pendidik sejati, Allah. Salah satu adalah langkah yang semestinya dilakukan tersebut. melakukan untuk menggapai dengan atasnya. kesejahteraan atau mengatasi melainkan masalah-masalah ”bertindak” Dakwah ”solusi” demikian tidak lagi sebatas ”mengatakan” adanya masalah dalam masyarakat, ”menjelaskan”nya, Solusi jelas m,elampaui care, atau diatas ”peduli”. Dengan paradigma di atas, menunjukkan masalah, atau memiliki kepedulian terhadap masalah belum 5 termasuk dalam esensi dakwah, semuanya baru merupakan pintu masuk dakwah, atau masi berada di halaman teras dakwah. Dalam khazanah klasik kita, sering dikenal dengan ”dakwah bil lisan” dan ”dakwah bil haal”. Dakwah bil lisan dalam tradisi lama kita titik beratnya pada mengatakan dan menjelaskan. Mungkin tradisi ini dihubungkan dengan kata da’a-wa, sebagai akar kata dakwah, yang berarti mengundang. Secara leterlek mengundang itu dengan ucapan lisan. Dakwah jenis ini memang semarak. Sementara itu, yang dimaksud dengan dakwah bil hal konotasi utamaanya adalah peduli atau care, terhadap masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Ketika ada masyarakt yang lapar (hangry) maka yang biasanya dianggap dakwah bil hal ialah kita membantunya dengan memberi makanan, atau jika kita sendiri tidak cukup bantuan secara bisa, dan kita menghimbau orang-orang tersebut lapar berpunya serta itu. untuk memberikan menghimpun untuk bantuan mengatasi kemudian dari menyerahkannya belum dapat langsung Dilihat paradigma dakwah yang telah diurai diatas, maka dakwah bil haal seperti itu, dikataagorikan sebagai ”dakwah” yang sesungguhnya, karena dakwah sejenis itu tidak memasukkan ke dalamnya power, kesadaran, dan nilai untuk perubahan. Jaangan-jangan alih-alih mendorong perubahan, dakwah bil hal yang demikian malah sedang memperlemah power dan menggiringnya pada keadaan yang lebih tidak menguntungkan lagi. Masyarakat sesungguhnya menghadapi masalah-masalah riel yang dapat didefinisikan dengan jelas. Dan bahkan masalah-masalah itu selain berkelindan satu dengan yang lainnya, juga berkembang dari satu waktu ke waktu yang lain sehingga semakin komplek. Masalah micro misalnya dapat disebutkan : stress dan depresi, hambatan relasi, penyesuaian diri, kurang percaya diri, kesepian dan keterasingan, atau apatisme, perceraian, gangguan kekerasan mental dalam dan rumah lainnya tangga, yang bersifat dan psikologis, tawuran lainnya. Masalah macro misalnya kemiskinan, kebodohan, kesehatan, ketidak adilan, kesetaraan, keterlantaran, eksploitasi, penjualan manusia (trafficking), kelaparan, korupsi, akibat bencana, molimo dan sebagainya. Masalah-masalah demikian tentulah tidak lagi memadai untuk ditangani dengan menggunakan 6 dakwah berguna, versi tradisonal. harus Dakwah dianggap dalam tidak perspektif cukup lama bukannya untuk tidak melainkan tenaga melakukan pemecahan terhadap masalah-masalah riel seperti di atas, apalagi perubahan masyarakat. Dakwah, dengan demikian, menghadapi tuntutan baru yang lebih riel. Yaitu tuntutan untuk mengubah dan mengembangkan masyarakat dalam arti yang sesungguhnya. Bukan hanya menghadapi pemecahan masalah, melainkan juga memberdayakan untuk perubahan. Secara teoritis, agar dakwah bisa mendevelop, atau membangun masyarakat, apalagi secara sustainable, atau berkelanjutan, tiga metode yang telah disebutkan dalam al-Qur’an (al-Nahl: 125) harus dioperasionalkan dengan tepat dan komprehensif.. Pertama, Bi al-Hikmah. Kita yakini bahwa metode ini bukanlah kebetulan diletakkan pada urutan pertama. Kata Al-Hikmah dalam al-Qur’an terulang dua puluh kali, dengan makna ayang bervariasi. Salah satunya merujuk pada ilmu, bahkan ilmu yang cukup teruji, yang dalam bahasa keseharian diungkapkan dengan kata ”arif-bijaksana”. Dalam terminologi moderen arif bijaksana dapat diarahkan pada konsep ”ilmu terapan”, yang memang disiapkan peruntukannya untuk hal yang spesifik. Kearifan, sebagai salah satu makna al-hikmah, pada dasarnya adalah ”petunjuk untuk melakukan aktifitas tertentu” (Menurut Robert S Zais: guide to activity ), agar tujuan dapat dicapai, dan ini memang kerja ilmuilmu terapan. Karena merupakan petunjuk, maka dalam tabiatnya akan didukung oleh teori-teori dari beberapa disiplin keilmuan yang berbeda (menurut alIsfihani al-hikmah itu : ishabat al-haq bi al-’ilmi wa al-’aqli). Ini berarti bahwa pada kerja dakwah untuk perubahan tidak mungkin harus dan lagi mengandalkan pada pernyataan-pernyataan yang teruji abstrak, atau melainkan ilmu-ilmu tertumpu pengalaman-pengalaman kompetensi- kompetensi yang terukur. Disini, maka kata hikmah dalam pengertian lama yang sepenuhnya bersandar pada intuisi dan kebetulan sudah harus ditinggalkan. Jadi al-hikmah, atau kearifbijaksaan, itu harus merujuk pada teori-teori yang handal 7 dan pengalaman-pengalaman, serta kompetensi-kompetensi terselesaikan atau yang teruji dan terukur, sehingga lebih menjamin terpecahkannya masalah yang hidup dan timbul di dalam masyarakat sasaran dakwah. Kedua, Mau’idzah Hasanah. Pesan yang baik, atau peringatan yang baik adalah pesan yang dapat diterima dengan lapang dada. Kebaikan sebuah pesan ialah jika pesan itu dapat menyentuh dan menggerakkan kehendak dan hati sang penerima pesan. Kata mau’idzah hasanah, dalam konteks seperti two way itu, dapat traffic mau’dzah difahami mau’idzah hasanah, sebagai ”pemutusan” mau’idzah yang satu arah, dan sekaligus menghidupkan yang dua Dalam arah, sehingga terjadi (communication). perspektif komunikasi assertif, dapat diartikan sebagai mau’dzah yang membangkitkan dan selanjutnya berbasis pada self motivation dan participation dari audiencenya, dalam hal ini, masyarakat yang menjadi sasaran dakwah. Dengan begitu, maka pemecahan masalah tidak lagi dipaksakan, melainkan ditimbulkan sendiri oleh masyarakat berdasarkan konteksnya dan sesuai dengan pengetahuan, kemampuan, dan karakter masyarakat sendiri. Ketiga, Jaadilhum billati hiya ahsan. Kata ahsan (superlative degree dari hasan), seperti juga kata hasan dalam mau’idzah hasanah, sebaiknya difahami sebagai penekanan orientasi kepada sasaran dakwah, baik individu maupun masyarakat. Dengan demikian ”jidaal” tidak difahami sebagai indoktrinasi atau perdebatan berargumen yang yang doktriner, melainkan pada sebagai penyampaian untuk argumen, atau berlandaskan kemauen sharing (berbagi pengalaman) dan learning (saling belajar), yang didalamnya terdapat pandangan ”kesetaraan” , ”kemitraan” dan kemaun untuk ”mendengar” dari yang lain, yang menandai adanya sifat hasan dalam berargumen. Seorang da’i dalam konteks ini perlu menyadari atau membangun kesadaran bahwa dirinya mungkin tidak benar, mungkin keliru, mungkin tidak tepat, mungkin tidak sempurna dan lebih dari itu bersedia ”belajar” dari individu atau masyarakat sasarannya. Pengoperasian metode seperti diatas kiranya akan membuka peluang yang amat besar untuk secara langsung (bil haal) ”merubah” dan mendevelop masyarakat 8 dan dirinya dari sendiri, perasan karena perubahan , dan development pada yang dilakukan dan berangkat pengalaman Dakwah (charity) dihargai dan ”iba” tidak karena karena atau berbasis kesempatan pengetahuan ”amal yang al-hal dimilikinya, disini rasa partisipasinya sendiri. bi menghinakannya belas dengan kasihan, pemberian” melalui atas nama melainkan ”empowering” (pemberdayaan), ”enhancing”(meningkatkan) kapasitasnya (capasities), dan ”enriching” (memperkaya) semangat dan wawasannya, yang membuat individu atau masyarakat sasaran dakwah memecahkan masalahnya sendiri dengan penuh rasa percaya diri atau self convidence (bi nafsihi, bi anfusihim). Al-Qur’an menyatakan dalam Surat al-Ra’du ayat 11, innallaaha laa yughayyiru ma bi qaumin hattaa yughayyiru maa bi anfusihim...”sesungguhnya Allah tidak akan merubah (sesuatu, sesuatu pada) sebuah qaum (komunitas), hingga qaum itu merubah (apa yang ada pada) jiwa-jiwa (anggota komunitas)nya sendiri”. (3) Pendekatan Baru dalam Menyiapkan Da’i Dakwah dengan tujuan community development , seperti diuraikan sebelumnya, membutuhkan persiapan yang lebih seksaama. Hal itu justru karena tuntutan akan ”development” itu sendiri. Seperti halnya membangun sebuah gedung, membangun masyarakat memerlukan rencana, memerlukan rekayasa, memerlukan kerja dan evaluasi yang terukur dan terstandard. Dari sini, maka seorang da’i hendaknya bekerja profesional, dan sangat mungkin dakwah adalah pekerjaan profesi yang harus dilakukan oleh-orang-orang yang memiliki profesi yang jelas pula. 9 Persoalannya adalah hal-hal apa yang harus ada pada seorang pendakwah yang profesional ?. Pertanyaan seperti ini pasti sangat urgen bagi lembaga penyiapan da’i. Dengan pernyataan seperti itu, pertama diasumsikan bahwa pekerjaan dakwah tidak lagi dapat dilakukan oleh sembarang orang. Berikutnya ialah bahwa pendakwah itu harus dipersiapkan lewat proses pembelajaran, apakah pelatihan atau pendidikann. Jadi tidak lagi menganut fikiran lama bahwa pendakwah atau da’i itu hanya ”dilahirkan” (to be born), atau mengandalkan ”talenta” natural, melaiankan harus disiapkan. Beberapa aspek yang seyogyanya disiapkan, dengan mengacu pada pendapat Spencer an Spencer dalam bukunya Competence at Work; Models for Superior Performance (1993), yang dikutip oleh penulis buku Knowledge Management (2006) Knowlwdge, (3). Hard Skill. Spencer menggambarkan performance individu dan faktor-faktor yang adalah : (1). Soft Skill, (2). mempengaruhinya sebagai berikut : PENGETAHUAN MOTIF KOMPETE NSI INDIVIDU WATAK KONSEP DIRI KETERAMPILAN Gambar : Unsur Kompetensi Individual 10 (1). Soft Skill. Yang dimaksud adalah kompetensi yang diekspresikan dalam perilaku seseorang saat dia bekerja. Soft Skill atau kemampuan Perilaku ini ditentukan oleh empat hal, yaitu: Motive, atau sesuatu yang diinginkan; Traits atau karakteristik mental; Self Concept atau konsep diri; dan Knowledge. Seorang pendakwah (da’i) haruslah memiliki keinginan (motive) yang jelas dari pekerjaan yang dilakukannya. Inilah yang menuntut agar seorang da’i memiliki kesadaran akan pekerjaannya, kesadaran akan adanya proses dalam bekerja dan kejelasan tentang apa yang ingin ia capai dengan pekerjaannya itu. Selanjutnya, setiap pekerjaan memiliki karakteristiknya sendiri. Demikian juga dakwah. Karakter pekerjaan tersebut membuutuhkan karakter dan mentalitas yang sesuai dari orang-orang yang melaksanakannya. Dakwah menuntut orang-orang yang memiliki karakter dan mentalitas (traits) yang sesuai dengan pekerjaan dakwah. Karakter pekerjaan ditentukan oleh esensinya. Esensi dakwah antara lain, melayani, memotivasi, memediasi, membimbing, mendidik dan melatih. Dilihat dari esensinya maka tampak ada beberapa karakter yang perlu diperhatikan bagi seorang da’i, antara lain: Care (peduli), inklusif, integrity (jujur), mau belajar, berani mengmbil resiko, berani kreatif, dare to innovatient, entrepreneur, bisa bekerjasama dengan orang lain. Dakwah juga memerlukan mentalitas-mentalitas tertentu, sepert : sabar, ulet, pemaaf, mau belajar, berani berinisiatif, berani mengambil tanggung jawab dst. Motive (motif) dan traits (karakter) seorang da’i perlu disatukan dalam bingkai konsep diri (self concept) yang utuh, atau diperkuat olehnya. Self concept ini amat diperlukan untuk mengatur mind set, pola tindak, dan bentuk trampil, yang semuanya akan mengoptimalkan operasionalisasi dari inner dan outer power yang dimilikinya. Seorang da’i yang handal adalah mereka yang mampu mengaktulisakin secara optimal personal power nya dengan efektif. (2) Knowledge (Pengetahuan). Ada dua jenis pengetahuan yang diperlukan oleh seorang da’i yang baik. Pertama, pengetahuan yang berkaitan dengan misi dan sasaran pekerjaannya. Terkait dengan ini, seorang da’i yang disiapkan untuk melakukan community development dengan semangat keislaman, maka kepadanya perlu diberikan knowledge tentang nilai-nilai dasar dan moralitas 11 keislaman, selain pengetahuan dasar dan teori-teori yang relevan tentang masyarakat, tentang hakekat dan tabiat-tabiatnya, tentang latar asal-usul, kedaan sosial budayanya, dan tentang tantangan ekonomi, yang politik dihadapinya, kiranya dan keyakinannya, tentang dan untuk perkembangan potensinya didiskusikan, dipilihkan dan tentang diperlukan yang kemampuan catatan seterusnya. teori-teori Disinipun, atau bahwa yang knowledge intervensi disiapkan, khususnya dan tentang ilmu-ilmu sosial, tidak sebatas diarahkan untuk ”memahami”, melainkan memilki kemampuan untuk ”mengubah” ”menata” masyarakat. (Mungkin perlu mempertimbangkan konsep ilmu sosial profetiknya Kuntowijoyo dalam Islam sebagai Ilmu) Karena memang menjadi tujuan Dakwah dan merupakan ciri kerja profesional dakwah. ini Kedua, berguna pengetahuan yang terkait dengan kinerjanya. Pengetahuan jenis untuk mendukung penguatan dan pengembangan soft skill seperti diurai di atas, maupun penguatan dan pengembangan hard skill seperti diurai di bawah ini. Jadi pengetahuan jenis kedua ini adalah pengetahuan yang menjadi dasar bagi skill atau competensi, baik yang hard competences, maupun yang soft competences. (3). Hard Skill atau hard competences. Seorang da’i dalam konsep baru, yang bertujuan membangun masyarakat, dituntut memiliki kemampuan praktis untuk melekukan pekerjaannya, baik fisik maupun mental, yang kita kenal dengan kemampuan teknikal atau hard skill itu. Jika kita mencoba menangani masalah macro masyarakat, dalam rangka community development, maka tahapan-tahapan yang dapat dilalui secara umum dan sederhana ialah: 1. Masuk dan mengenali masyarakat, 2. Mengetahui masalah yang dihadapi atau yang dikehendaki masyarakat, 3. Memotivasi dan menggerakkan Melatih dan masyarakat, mendidik masyarakat, 4. Membimbing 6. dan memediasi masyarakat, 5. dan masyarakat, 7. Melakukan dan pembangunan pengembangan masyarakat. Memonitor mengevaluasi perkembangan Maka kemudian hard skill yang dibutuhkan bisa secara umum didefinisikan dan diinventarisir. 12 Untuk masuk dan mengenali masyarakat misalnya, keterampilan teknikal yang dibutuhkan adalah kemampuan berkomunikasi dan menguasai teknik-tekniknya, kemampuan menyesuaikan yang menggunakan diri dan dan media, kemampuan Sealanjutnya, masyarakat skill) seperti presentasi, untuk keterampilan masalah sejenisnya; dikehendaki teknikal mengetahui diahadapi misalnya, membutuhkan melakukan beragam keteramilan-ketrampilan reseach dengaan (hard kemampuan dalam model-moodelnya, kemampuan wawancara situasi, menguasai teknik-teknik komunikasi partisipatif, kemampuan memimpin kelompok, menguasai kemampuan teknik-teknik berdiskusi, problem kemampuan solving, melakukan need assessment, teknik-teknik mampu menerapkan decicion making dan seterusnya. Demikian seterusnya, setiap langkah-langkah di atas membutuhhkan sekian jenis keterampilan-keterampilan riel, yang pada taraf tertentu harus didukung pula oleh penguasaan knowledgenya secara memadai. Dengan demikian akan terkumpul sederet hard skill yang betul-betul dapat dipraktekkan secara memadai. Bisa saja, deretan hard skill itu kemudian distandarisasi dan dijadikan standard bagi seorang da’i. Diantara banyak keterampilan teknikal (hard skill) yang dapat diturunkan dari langkah-langkah seperti, di atas, dapat diingatkan beberapa keterampilan-keterampilan jenis proposal, penting kemampuan membuat kemampuan menghimpun atau mencari dana (fund rising), kemampuan membuat laporan keuangan (financial (legal teknikal report), serta kemampuan even menganalisa Belum dan lagi membuat sederet undang-undang keterampilan drafting), yang organizer. untuk dibutuhkan menangani masalah-masalah micro dalam masyarakat seperti yang telah diurai terdahulu. Dakwah selain dilakukan individual, lebih efektifnya dilakukan secara terorganisir. Dalam keadaan demikian, maka dibutuhkan keterampilan teknikal lain, seperti kemampuan berorganisasi, kemampuan kemampuan leadership tim atau bahkan building), transformational leadership, membangun (tim kemampuan bekerja dalam tim dan seterusnya. Kritik kita terhadap penyiapan tenaga da’i selama ini ialah bahwa materi yang diberikan lebih dititikberatkan pada knowledge, dalam arti teori-teori secara 13 umum, yang biasanya merupakan keseluruhan teori dalam satu disiplin ilmu tertentu. Jadi ketika memasuki salah satu disiplin ilmu, misalnya ilmu komunikasi, maka seluruh bangun ilmu komunikasi lengkap dengan sejarah perkembangan, teori-teori, dan tokoh-tokohnya dikupas sedemikian lengkap dan bermaksud tuntas, seolah sedang menyiapkan ahli dibidang komunikasi. Gambarannya ditandai dengan tuntutan penambahan sks untuk satu disiplin ilmu. Sedemikian rupa pembelajaran ilmu komunikasi itu hingga melupakan fokus utamanya untuk menyiapkan seorang profesional dibidang dakwah. Aspek kemampuan teknikal komunikasi yang sebenarnya dibutuhkan oleh seorang da’i justru tidak diupayakan. Begitu juga ketika mengajarkan sosiologi, ulumul Qur’an dan seterusnya. Ketika itu juga seolah dilupakan bahwa ilmu dakwah itu termasuk ilmu terapan yang bangun keilmuannya memang dikonstruk dari berbagai teori ilmu-ilmu lain (interdisipliner). Jadi sesungguhnya pengetahuan lengkap tentang disiplin-disiplin ilmu seperti diatas tidak begitu deperlukan, melainkan hanya yang secara praktis memang dibutuhkan dalam membangun soft dan hard competences dakwah. Kondisi demikian, mungkin bisa dimaklumi, karena konsep dakwah tradisional memang Ketika sebatas dakwah ”mengundang”, ditujukan untuk (community mengingatkan”, melakukan atau perubahan atau ”memberitahukan”. (change) bahkan dan untuk pembangunan masyarakat development) mempersiapkan pekerja sosial (social worker). Maka kurikulum, silabus, metode dan teknik pembelajaran mestilah dirsesuaikan, dirubah selaras dengan kebutuhannya. Program-program pelatihan dakwah atau pendidikan dakwah, kiranya perlu mempertimbangkan kemajuan tuntutan dan segala konsekwensinya. Pertanyaan yang diajukan untuk mencapai itu ialah : bagaimana pendidikan dakwah (jurusan Dakwah) dapat memenuhi kebutuhan untuk memperoleh pengetahuan dan kemampuan praktis untuk membangun masyarakat (dalam rangka dakwah) ?. Mungkin diantara jawabannya adalah dengan memberikan kepada mahasiswa kesempatan untuk mempelajari bingkai teori yang relevant, melakukan case study (study kasus) pembangunan masyarakat (Community development, atau 14 social work), dan memberikan pengalaman nyata (real-life) dari para praktisi commdev dan atau social workers yang sukses. Wallahu a’lam bi al-shawaab. 15

Related docs
premium docs
Other docs by Maksum Muchtar
Lembaga Pendidikan
Views: 2807  |  Downloads: 87