Docstoc

Lembaga Pendidikan

Document Sample
Lembaga Pendidikan Powered By Docstoc
					PROSPEK LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM
DALAM ERA STANDARISASI MUTU PENDIDIKAN NASIONAL
Oleh: Maksum Muchtar

A. Iftitah Salah satu isu penting dalam penyelenggaraan pendidikan kita sekarang adalah peningkatan mutu pendidikan. Sinyalemen yang muncul berkaitan dengan itu antara lain: telah terjadi kemerosotan kualitas pendidikan disegala tingkatannya. Hal itu diperkuat pula dengan sinyalemen lain bahwa kualitas pendidikan kita berada pada peringkat bawah dibanding kualitas pendidikan di negara-negara berkembang lainnya. Ironisnya, diantara negara yang berada diatas negara kita dalam kualitas pendidikan adalah negaranegara tetangga yang dahulunya pernah belajar pada kita dalam hal pendidikan. Bahkan dengan yang terakhir ini bukan hanya terbatas pada sinyalemen, tetapi telah menjadi tindakan konkrit. Semakin tahun semakin banyak orang-orang Indonesia yang lebih memilih menyekolahkan anaknya ke luar negeri (tetangga) dengan alasan kualitas. Perbincangan masalah ―mutu‖ dalam dunia pendidikan dapat dikatakan sebagai bukan perbincangan autentik. Asal muasal perbincangan ―mutu‖ justru dari dunia industri. Dunia pendidikan tertarik dengan masalah mutu setelah melihat keberhasilan dunia industri. Yang dimaksud di sini ialah keberhasilan industri Jepang pada tahun 80an dalam mencapai kemajuan, termasuk menguasai pasar dunia. Keberhasilan ini karena industri Jepang menerapkan Total Quality Management”(TQM). Filosofi mutu dan TQM ini sendiri sebetulnya berasal dari Amerika dan mulai tumbuh pada tahun 30-an. Menghubungkan dunia pendidikan dengan dunia industri sebetulnya bukan hal mudah. Kebanyakan orang masih percaya bahwa pendidikan adalah aktivitas sosial yang seharusnya jauh dari perbincangan rugi-laba yang sudah lazim dalam dunia industri atau bisnis. Sehingga terkesan bahwa menghubungkan keduanya berarti menciderai misi mulia dari pendidikan. Sekalipun demikian, mulai banyak rintisan berani untuk

menggugat paradigma lama pendidikan dan melihat bahwa pendidikan adalah aktivitas yang memproduksi jasa. Karenanya, sebagai aktivitas produksi, pendidikan harus dikelola dengan memperhatikan untung-rugi, yang dalam pengertian ini ialah efektifefisiennya yang dikalkulasikan dengan mutu keluarannya. Dengan demikian, aktivitas sosial dunia pendidikan dalam paradigma lama digeser dari aktivitas pengelolaan menjadi maktivitas ―persembahan‖, berupa kualitas berkelimpahan.

B. Mutu Pendidikan sebagai Tantangan Milenium III telah memasuki kita. Kehidupan di milenium ini berbeda dari milenium sebelumnya, bukan hanya soal waktu, melainkan karena adanya perubahanperubahan dihampir seluruh bidang kehidupan, khususnya kehidupan dibidang sosial dan ekonomi. Menurut Tampubolon, kehidupan di bidang sosial ekonomi ini diwarnai oleh empat proses perkembangan, yaitu: Globalisasi, Industrialisasi, Asianisasi, dan Sistem Informasi Canggih. Kesemuanya dapat mengubah seluruh tata kehidupan. Selanjutnya Tampubolon (2001, 11) menggambarkan akibat-akibat dari empat proses tersebut sbb:

No. Proses 1. Globalisasi

Akibat Utama

2.

3.

Keterbukaan Demokratisasi Persaingan dalam konteks kerja sama Rasionalitas Industrialisasi Dominasi KI Sekularisme Percaya diri Asia Asianisasi Pengaruh Budaya Asia ke Baarat dan bagian lain dunia Sistem Informasi Kesaratderasan informasi Canggih Perkembangan KI dan KE Simplifikasi, efisiensi, dan efektivitas dalam komunikasi Bahasa menjadi kebutuhan pokok Kemandirian memperoleh pengetahuan Perubahan sifat lembaga-lembaga pendidikan, khususnya Perguruan Tinggi

Apabila dikaji secara lebih mendalam, maka akibat-akibat utama yang tercantum pada tabel di atas, semuanya berkaitan erat dengan ―mutu‖. Mutu diperlukan sebagai antisipasi, respon, atau menjawab akibat-akibat lebih lanjut dari akibat-akibat utama di atas, maupun sebagai prasyarat untuk mengimplementasikannya. Dalam kontetks lembaga pendidikan , maka berarti bahwa lembaga pendidikan memerlukan kualitaskualitas tertentu dan bahkan terstandard agar bisa memasuki, beradaptasi, dan berperan sktif dalam proses-proses di atas. C. Pengertian Mutu Pendidikan Ketika membicarakan mutu pendidikan, khususnya kalam lingkup sekolah atau lembaga pendidikan, maka perhatian segera diarahkan pada segi yang ditunjukkan terhadap prestasi siswa atau mahasiswanya. Ini sama sekali tidak salah. Akan tetapi, biasanya yang dimaksudkan dengan prestasi itu tidak lain adalah capaian akademik dalam arti penguasaan terhadap materi pelajaran, atau materi perkuliahan.

Penyederhanaan terhadap prestasi siswa hanya dengan penguasaan materi inilah yang sesungguhnya membahayakan. Sekalipun demikian, secara empirik justru inilah yang memang dijadikan ukuran. Kecenderungan formal yang mengukur kualitas sekolah dengan perolehan NEM siswanya, atau bahkan pengukuran prestasi siswa yang hanya mengandalkan pada hasil UAN yang nota bene lebih merupakan pengukuran kognitif, serta penerimaan siswa atau mahasiswa dari satu jenjang pendidikan ke jenjang pendidikan lebih tinggi dengan mengacu pada NEM hasil UAN, semuanya merupakan indikasi bahwa prestasi selama ini hanya diukur dari kemampuan kognitif. Padahal, idealnya prestasi peserta didik yang merupakan cerminan mutu lembaga pendidikan, mestinya juga diukur tidak hanya dari segi kognitifnya, melainkan juga mencakup segi afektif dan psikomotornya. Selain prestasi akademik dan keterampilan, prestasi non akademik misalnya kematangan emosional-spiritual atau imtaq, kejujuran sealayaknya juga dijadikan acuan untu melabeli keberhasilan peserta didik, yang selanjutnya menggambarkan keberhasilan (kinerja) lembaga pendidikan. Disisi lain, pandangan mutu yang terbatas tersebut lebih diakibatkan oleh cara memandang mutu pendidikan dari sisi penyelenggara, bukan dilihat dari kepentingan orang luar, stakeholder.

Lebih lanjut, pandangan yang menyederhanakan pengertian mutu dengan sangat terbatas seperti di atas biasanya juga berasal atau sebagai akibat dari penyederhanaan pandangan lembaga pendidikan sebagai sebuah sistem. Yang dimaksud adalah memandang bahwa output, dalam hal ini prestasi siswa, akan dapat dipenuhi atau dicapai dengan sendirinya jika inputnya telah dipenuhi. Yang dimaksud input disini ialah Man, Money, Materials, Methods, Machine (Aan Komariah, Cepi Triatna: 2005, 2), atau yang rinciannya seperti tergambar dalam skema di bawah ini (Depdiknas: 2001, 24).

Input

Proses

Output

Perencanaan dan Evaluasi, Kurikulum Ketenagaan Fasilitas Keuangan Kesiswaan Hubungan Sekolah Masyarakat Iklim Sekolah

Proses Belajar Mrngajar

Prestasi Peserta Didik

Pandangan yang menyederhanakan pencapaian mutu dengan cara demikian, dapat dilihat dari meluasnya penerapan yang keliru terhadap pelaksanaan pendekatan education production function atau input-output analysis. Pendekatan ini sendiri, Menurut Jamaluddin (2005; 17) sebetulnya menempatkan lembaga pendidikan sebagai pusat produksi yang apabila dipenuhi seluruh inputnya (segala sesuatu yang harus tersedia), maka output akan terjadi. Namun dalam prakteknya, penekanan terhadap input amat berlebihan sehingga melupakan prosesnya. Padahal proses pendidikan juga merupakan faktor yang menentukan input. Proses dalam pengertian umum adalah serangkaian aktivitas yang dilakukan berulang-ulang dan bersamaan untuk mentransformasi sesuatu (input)—yang disediakan pemasok, menjadi sesuatu yang lain (output) yang diterima pelanggan (Fandy Ciptono, 2000: 28). Jadi, yang sebenarnya terjadi adalah, input akan mempengaruhi proses, dan proses menentukan output. Input tidak akan menentukan output secara langsung tanpa melewati proses.

Pembicaraan mutu pendidikan pada saat sekarang bukan lagi memandangnya dari pandangan dan paradigma yang terbatas, sekaligus menyesatkan, seperti diatas, melainkan memandangnya dari perspektif yang lebih luas dan komprehensif. Mutu disini dimaksudkan sebagai ―gambaran dan karakter menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat‖. Jadi, mutu dalam kaitan pendidikan ini bukaan hanya terkait dengan kepuasan penyelenggara, melainkan juga kepuasan pemakai atau bahkan masyarakat lebih luas. Josep M Juan (Jarome, 2005; 8), yang telah diakui sebagai ―Bapak Mutu‖, bahkan telah mengkonsepkan mutu sebagai ―tepat untuk dipakai‖ yang berati mengorientasikan penentuan mutu oleh fihak pemakai, bukan pemberi. Selain itu, mutu bukan hanya menyangkut output melainkan juga mencakup input dengan segala komponennya dan proses dengan seluruh aktivitasnya. Input yang pentng adalah peserta didik yang disebut raw input. Akan tetapi, input-input yang lain seperti digambarkan di atas juga penting diperhatikan karena akan mempengaruhi proses. Sedangkan proses yang dimaksud

adalah proses belajar mengajar. Namun demikian, juga termasuk proses-proses lain yang terkait dengan proses pembelajaran, yaitu proses pengambilan keputusan, proses pengelolaan kelembagaan, proses pengelolaan program, proses monitoring, dan proses evaluasi. Oleh karena itu, jika dicermati lebih lanjut, maka mutu pendidikan akan ditentukan oleh pengelolaannya dan kemudian kepemimpinan dalam lembaga pendidikan. D. Menciptakan Lembaga Pendidikan Bermutu Seperti diurai di atas, keinginan lembaga pendidikan untuk memfokuskan diri pada mutu, terinspirasi oleh keberhasilan dunia industri atau bisnis, Karena itu, usaha menciptakan lembaga pendikan yang bermutu tidak dapat dilepaskan dari pemikiranpemikiran tentang mutu dan aplikasi-aplikasinya di bidang tersebut. Pengadopsian semacam itu dimungkinkan dengan mendekatkan paradigma keduanya, yaitu dengan memandang sama antara dunia industri atau bisnis dengan dunia pendidikan, dalam hal jasa, yaitu ilmu pengetahuan dan ketrampilan, sikap, perilaku, moralitas dst. Salah satu yang telah diterapkan dalam dunia industri yang dapat diaplikasikan dalam dunia pendidikan ialah penerapan TQM (Total Quality Mangement). Konsepnya

dikemukakan oleh W Edward Deming, doktor matematika dan fisika dari Yale University. Sebetulnya selain Deming, terdapat beberapa nama lain yang mengajukan konsep yang berkaitan dengan mutu dan menerpkannya dalam dunia bisnis dan industri, dan menerapkannya, seperti Josep M. Juran yang terkenal dengan triloginya (Quality Planning, Quality Control, dan Quality Improvement); Philip B. Crosby yang terkenal dengan lima vaksin mutunya (Integritas, Sistem, Komunikasi, Palaksanaan, dan Kebijakan); Shigeo Shingo yang terkenal dengan kosep Total Quality Control yang mempedulikan sistem dan proses sekaligus; Kaoru Ishikawa penemu Fishbone Diagram; dan Genichi Taguchi yang terkenal dengan tiga konsep utamanya (Fungsi Kerugian Kuadrat, Desain Parameter, dan Percobaan terencana berdasarkan statistik) (Tampubolon: 2001, 38-67), namun konsep Deming inilah yang kiranya banyak diadopsi para profesional pendidikan. Definisi umum dari TQM ini adalah penerapan metode kuantitatif dan pengetahuan kemanusiaan untuk : 1. Memperbaiki meterial dan jasa yang menjadi masukan organisasi, 2. Memperbaiki semua proses penting dalam organisasi, dan 3. Memperbaiki upaya memenuhi kebutuhan para produk dan jasa pada masa kini dan diwaktu yang akan datang (Soewarso: 2004,1). Sekalipun kelihatan sederhana, penerapan TQM kelihatannya tidak mudah.

Pertama-tama karena dalam penerapannya membutuhkan kapasitas manajemen yang berbeda dengan sebelumnya. Penerapan TQM memerlukan terpenuhinya kapasitas manajemen organisasi yang sesuai dengan tuntutan era industri, era teknologi, dan era informasi atau globalisasi, dengan ciri-cirinya sebagai berikut: organisasi bergerak secara lebih efektif atas dasar missinya, organisasi bergerak atas dasar kebutuhan kustomer, antisipatif atau proaktif, lebih berorientasi pada pasar, lebih berorientasi pada output, mengejar daya saing, tekun bekerja (industrious), giat berusaha (enterprising), mau mengerahkan seluruh anggotanya drngan pembergayaan (empoweriment), mendorong anggota untuk maju (catalyst), Melaksanakan perencanaan terpadu dan pelaksanaan serta pengendalian terdesentralisasi (Ibid, 17).

Jika melihat hal-hal diatas, faktor yang amat diperlukan agar TQM dapat diterapkan adalah perubahan (transformasi) paradigma, mental dan sikap kerja dari yang lama menuju paradigma, mental dan sikap kerja baru. Bagi lembaga pendidikan, agar menjadi lembaga yang bermutu, maka perubahan yang diciptakan hendaknya mengarah pada terpenuhinya tuntutan muatan manajemen di atas. Jarome (2005, 11-14) mengemukakan dengan formula lain bahwa agar lembaga pendidikan menjadi bermutu diperlukaan beberapa komitmen, yaitu : Terfokus pada Kostumer, Keterlibatan total, Menerapkan tradisi pengukuran, Memandang pendidikan sebagai sistem, dan Perubahan berkelanjutan. Akan tetapi, perlu diantisipasi bahwa perubahan kearah baru itu tidak mudah. Dalam dunia pendidikan sendiri tercatat dua kendala dalam penerapan TQM ini (Ibid, 11-12), yaitu: Pertama, ―banyak profesional pendidikan yakin bahwa mutu pendidikan tergantung pada besarnya dana yang dialokasikan untuk pendidikan‖. Kedua, banyak profesional pendidikan yang tetap memandang pendidikan sebagai jaringan anak manis yang kebal terhadap tarikan profesional nonpendidikan, dalam hal ini profesional industri dan bisnis. D. Standarisasi Mutu Pendidikan Standarisasi mutu pendidikan di Indonesia memang tengah menjadi perbincangan. Jika ditelusuri terdapat beberapa masalah yang melatarbelakangi keperluan untuk itu. Pertama adalah adanya pengelola pendidikan yang tidak satu, selain ada yang negeri dengan dukungan (sebagian besarnya) biaya pemerintah, ada lembaga pendidikan yang dikelola swasta dengan mengandalkan (sebagian besarnya) biaya publik, di lembaga pendidikan pemerintah sendiri tidak hanya satu departemen yang mengelolanya. Kedua, adanya perubahan managemen pengelolaan pendidikan, dari yang dahulunya sentralisasi mennjadi desentralisasi, seiring dengan otda. Keadaan-keadaan seperti itu sangat mungkin terjadi ketidak menentuan kualitas, mengingat kemampuan yang berbeda antara negara dan swasta, dan antara daerah satu dengan daerah lainnya. Dilihat dari itu, maka standarisasi mutu bisa jadi hanya dalam rangka keseragaman mutu, untuk menjamin kesamaan kesempatan pendidikan secara kualitas, atau bisa juga sebagai bentuk

tantangan dalam rangka persaingan (sehat) mutu pendidikan antar penyelenggara. Diharapkan cara pandang yang kedua dijadikan pedoman. Namun demikian, standarisasi mutu pendidikan sendiri bukan tanpa masalah. Masalah yang dihadapi antara lain pada standard-standard itu sendiri. Terlebih jika yang dimaksudkan dengan mutu itu mencakup keseluruhan input, proses, dan output. Sekalipun demikian, standarisasi mutu memang seharusnya diusahakan agar terhindar dari praktek-praktek yang merugikan. E. Prospek Lembaga Pendidikan Islam Seperti telah diungkap di atas, perubahan paradigma, mental dan sikap kerja bukanlah sesuatu yang mudah. Perubahan demikian tidak cukup hanya dengan kemauan, melainkan memerlukan kekuatan dan tindakan nyata. Pengalaman dalam dunia industri dan bisnis menunjukkan banyak usaha transformasi yang tidak berhasil. Soewarso (2004, 18-22) menyebutkan 7 faktor penyebab kegagalan dunia industri menerapkan dalam TQM, yaitu : 1. Taidak cukup adanya penghayatan akan urgensi perubahan, 2. Tidak adanya kelompok inti yang kuat, 3. Tidak terdapat visi pimpinan yang jelas, 4. Tidak cukup tersedia sumberdaya dan insentif, 5. Tidak terdapat rencana tidak yang sistematis untuk mencapai kemanfaatan jangka pendek, 6. Terlalu puas dengan hasil yang dicapai, 7. Transformasi tidak ditopang oleh budaya organisasi. Jika hal-hal di atas direfleksikan terhadap realitas pendidikan Islam, maka akan butuh wktu yang cukup lama dan diperlukan usaha keras untuk menciptakan lembaga pendidikan Islam yang bermutu, sekalipun mutu yang dimaksud sebatas standard mutu yang diciptakan untuk kepentingan terbatas, Indonesia.

F. Ihtitam Mental untuk berubah memang merupakan ajaran Islam. Hanya seringkali kita terlena dalam comfort zone, sehingga perubahan merupakan malapetaka, padahal

seharusnya

merupakan

kewajiban.

Desah

standarisasi

mutu

pendidikan

jelas

menggelisahkan orang yang lelap dalam zona nyaman. Namun demikian, jika ada kemauan keras tidak ada yang tidak bisa dicapai.

Pepatah mengatakan, man jadda wajada. Seberapa besar jidd yang kita lahirkan sebesar itu harapan yang dapat kita wujudkan. Barangkali perlu juga difatwakaan bahwa pengelola lembaga pendidikan (Islam) akan menuai dosa jika tidak dapat

mempersembahkan mutu bagi masyarakatnya. Siapa takut ?. Ur Wallahu a’lam bi al-shawaab.

Daftar Pustaka Aan Komariyah, Cepi Triatna, 2005, Visionary Leadership, Menuju Sekolah Efektif, Jakarta: Bumi Aksara. Depdiknas, 2001, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, Jakarta. Daulat Tampubolon, 2001,Perguruan Tinggi Bermutu, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Fandy Tjiptono, 2000, Prinsip-Prinsip Total Quality Service, Yogyakarta: Andi Jamaluddin Idris, Dr. M Ed. 2005, Analisis Kritis Mutu Pendidikan,Yogyakarta: Suluh Press. Jerome S. Arcaro, 2005, Pendidikan Berbasis Mutu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Soewarso Hardjosoedarmo, 2004, Total Quality Management, Yogyakarta: Andi.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : Maksum Muchtar,

Tempat-Tgl lahir : Cirebon 9 Agustus 1984, Alamat : Jl. Kesepuhan 30, Rw 01/Rt 01 Kesepuhan Kota Cirebon, Jabatan : Puket I STAIN Cirebon

Pendidikan

: Ummul Qura University (Tahassus Tarbawi, 1984) IAIN Bandung (S1, Bahasa Arab, 1987) IAIN Jakarta (S2, Pemikiran, 1992)

IAIN Jakarta (S3, Pemikiran, 1998)

Pengalaman Mengajar : \ IAIN Bandung ( 1999 – 2004) IAIN Yogyakarta ( 2001 -2002) UMY Yogyakarta ( 2003 – 2005) STAIN Cirebon (1985 UPI Bandung (2005 ) )


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:19542
posted:3/11/2009
language:Indonesian
pages:10