TEKNIK IDENTIFIKASI JENIS GULMA DOMINAN DAN STATUS KETERSEDlAAN HARA

Document Sample
TEKNIK IDENTIFIKASI JENIS GULMA DOMINAN DAN STATUS KETERSEDlAAN HARA Powered By Docstoc
					TEKNIK IDENTIFIKASI JENIS GULMA DOMINAN DAN STATUS KETERSEDlAAN HARA
          NITROGEN, FOSFOR, DAN KALIUM BEBERAPA JENIS GULMA
                          DI LAHAN RAWA LEBAK

                                                                   Haryatun1



K     endala dalam pengembangan lahan lebak selain masalah
      air adalah masalah permukaan air tanah terus menurun
pada musim kemarau, yang menyebabkan terjadinya berbagai
                                                                           Danau Panggang Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan
                                                                           Selatan pada bulan Desember 2005. Bahan dan alat yang
                                                                           digunakan adalah kantong plastik untuk tempat contoh
proses oksidasi sehingga pH tanah menurun. Hal ini se-                     gulma yang diambil, paralon untuk membuat petak kuadrat
lanjutnya mengakibatkan ketersediaan hara untuk keperluan                  berukuran 1 m x 1 m, pisau untuk memotong gulma, alkohol
tanaman menurun. Di samping itu, ketersediaan hara seperti                 75% untuk menyemprot gulma yang dikumpulkan agar tidak
N, P, dan K di lahan rawa umumnya juga sangat rendah                       layu, serta karung plastik sebagai tempat contoh gulma yang
(Moehansyah dan Londong 1983).                                             telah diambil.
      Gulma merupakan tumbuhan yang merugikan dan tum-                          Contoh gulma diambil dengan cara menempatkan petak
buh pada tempat yang tidak dikehendaki. Karena sifat                       kuadrat berukuran 1 m x 1 m sebanyak tiga kali pada setiap
merugikan tersebut, maka di mana pun gulma tumbuh selalu                   desa terpilih. Pada setiap desa terpilih diambil contoh gulma
dicabut, disiang, dan bahkan dibakar. Sebenarnya bila di-                  pada lokasi lebak dangkal dan tengahan. Setiap spesies
kelola dengan benar dan optimal, gulma akan memberikan                     gulma yang terdapat pada petak kuadrat diidentifikasi ber-
manfaat dan meningkatkan produktivitas lahan. Bourlang et                  dasarkan spesies, kemudian dihitung jumlahnya dan di-
al. (1992) melaporkan bahwa gulma jenis rumput seperti akar                timbang bobot keringnya. Identifikasi gulma mengacu pada
wangi (Vetivera zizanoides) dapat digunakan untuk konser-                  Sastrapradja dan Afriastini (1980), Barnes dan Chandapillai
vasi tanah, dan daun yang muda untuk pakan ternak. Bahar                   (1972), Anonim (1987), Dinas Pertanian Tanaman Pangan
dan Abidin (1992) melaporkan bahwa sisa penyiangan gulma                   Propinsi Dati I Kalimantan Selatan (1992), serta meng-
dapat menjadi media penyimpan unsur hara. Di samping itu,                  gunakan herbarium gulma yang tersimpan di laboratorium
beberapa jenis gulma dapat dimanfaatkan sebagai mulsa atau                 hama dan penyakit tanaman Balai Penelitian Pertanian Lahan
untuk membuat kompos dengan status ketersediaan hara                       Rawa. Setelah itu dihitung frekuensi masing-masing spesies
sedang sampai tinggi. Yasin et al. (1993) mendapatkan                      pada petak kuadrat. Berdasarkan indikator tersebut, selanjut-
kandungan N, P, dan K pada gulma jenis rumput V. zizanoides                nya dihitung frekuensi relatif, kerapatan relatif, dan nisbah
masing-masing sebesar 1,23; 0,13; dan 2,43%.                               jumlah dominasi (Pablico dan Moody 1983).
     Berdasarkan kenyataan ini, pengelolaan gulma perlu
                                                                                                  Jumlah frekuensi adanya
diarahkan agar gulma tidak selalu diasumsikan dapat me-
                                                                                                       satu spesies
nurunkan dan merugikan produktivitas lahan, tetapi di sisi                 Frekuensi relatif =                                  x 100%
lain dapat memberikan nilai tambah dan keuntungan bagi                     (FR)                   Jumlah frekuensi seluruh
beberapa aktivitas makhluk hidup. Kegiatan ini bertujuan                                                  spesies
untuk mengidentifikasi jenis gulma dominan dan status
ketersediaan hara makro N, P, dan K pada beberapa jenis                                          Jumlah populasi satu spesies
                                                                           Kerapatan relatif =                                  x 100%
gulma yang tumbuh di lahan lebak Kalimantan Selatan.                                               Jumlah seluruh spesies
                                                                           (KR)
                                                                                                  Bobot kering satu spesies
                      BAHAN DAN METODE                                     Bobot kering relatif =                           x 100%
                                                                           (BKR)                  Jumlah BK seluruh spesies
Kegiatan dilaksanakan di lahan rawa lebak Kecamatan Nagara
                                                                                                         FR + KR + BKR
Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kecamatan Labuan Amas                       Nisbah jumlah dominasi =
Selatan Kabupaten Hulu Sungai Tengah, dan Kecamatan                        (NJD)                                3

1
    Teknisi Litkayasa Pelaksana Lanjutan pada Balai Penelitian Pertanian
    Lahan Rawa, Jalan Kebun Karet Loktabat Utara, Kotak Pos 31,
                                                                           Spesies yang mempunyai nilai NJD di atas nilai rata-rata
    Banjarbaru 70712, Telp. (0511) 4772534, Faks. (0511) 4772534           golongan dinyatakan sebagai spesies yang dominan.

Buletin Teknik Pertanian Vol. 13 No. 1, 2008                                                                                         19
     Untuk mengetahui kandungan hara N, P, K, dan C-            Tabel 1. Nisbah jumlah dominasi (NJD) gulma di lahan lebak
organik dari gulma yang didapat, dilakukan analisis jaringan             Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, dan
                                                                         Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, MH 2005
gulma di laboratorium. Contoh gulma yang berasal dari
                                                                Golongan/spesies gulma     Nama umum                      NJD (%)
lapang dibersihkan dengan air bebas ion untuk menghilang-
kan debu dan kotoran lainnya, kemudian dikeringkan dengan       Golongan berdaun lebar
                                                                  Eichornia crassipes      Eceng gondok                    9,17*
cara dioven selama 2 x 24 jam pada suhu 60°C. Gulma yang
telah kering kemudian dimasukkan ke dalam mesin penggiling        Culcumis sp.             -                               1,57
dengan kehalusan 0,5 mm. Hasil penggilingan lalu dimasuk-         Polygonum barbatum       Jukut carang                    6,26*
kan ke dalam plastik dan ditutup rapat agar tidak ter-            Grangea maderaspatama    Kembang paku konde              2,40
kontaminasi, kemudian diberi nomor urut sesuai dengan             Ludwigia perennis        Cacabean                        4,91*
                                                                  Ipomea aquatica          Kangkung                        4,68*
nomor contoh gulma yang diambil. Contoh gulma yang telah
                                                                  Ludwigia octovolvis      Papisangan                      2,11
dihaluskan selanjutnya dianalisis kandungan unsur hara N,         Cleome rutidosperma      Enceng-enceng                   5,62*
P, K, dan C-organik. Analisis kandungan hara N, P, K, dan C-      Cleome viscosal          Enceng-enceng                   0,82
organik dilakukan dengan cara pengabuan basah mengguna-           Ipomea trilata           Kangkung                        0,63
kan H2SO4 dan H2O2.                                               Salvinia cuculata        Kayambang                       3,96*
                                                                  Pistia stratiotes        Kiapu                           5,11
                                                                  Altenanthera sessilis    Bayam kremeh, kasisap sayur     3,88*
                                                                  Ludwigia hyssopifolia    Cacabean                        1,11
              HASIL DAN PEMBAHASAN
                                                                  Heptis brevipis          Godong puser, Kakuluman         4,60*
                                                                  Ageratum conyzoides      Babadotan, Kumpai salap         4,44*
                     Gulma Dominan                                Hydrolea zeylaniea       Gagabusan                       4,08*
                                                                  Jumlah                                                  65,35
Ada 25 spesies gulma yang ditemukan di lahan lebak di lokasi
                                                                Golongan rumput
penelitian, yang terdiri atas 17 spesies gulma berdaun lebar,
                                                                  Paspalidium punctatum    Kumpai babulu                   9,06*
lima spesies gulma golongan rerumputan, dan tiga spesies          Echinochloa crus-galli   Jajagoan                        1,51
gulma golongan teki. Dari 25 spesies gulma tersebut, ada 14       Leptochloa chinensis     Suket timunan                   7,29*
spesies gulma yang dominan, yakni 10 spesies gulma                Sacciolepis interupta    Utulan, kumpai babulu           9,21*
berdaun lebar, tiga spesies gulma golongan rerumputan, dan        Lersia hexandra          Banta                           2,70
satu spesies gulma golongan teki (Tabel 1). Hasil penelitian      Jumlah                                                  29,77
ini memberikan gambaran bahwa pengendalian gulma di             Golongan teki
lahan rawa perlu memperhatikan jenis-jenis gulma yang             Cyperus distan           Teki rawa                       2,44*
dominan.                                                          Cyperus halpan           Papayungan                      1,32
                                                                  Cyperus rotundus         Teki                            1,12
                                                                  Jumlah                                                   4,88
        Kandungan Hara N, P, K, dan C-organik                   Total                                                    100
                                                                *Gulma dominan
Hasil analisis jaringan beberapa spesies gulma yang diper-
oleh di tiga kabupaten yang disurvei menunjukkan bahwa
kandungan hara N, P, dan K umumnya cukup tinggi (Tabel 2).
Gulma berdaun lebar yang dominan, seperti Ageratum                   Hakim et al. (1986) mengemukakan bahwa bila rasio C/
conyzoides, Heptis brevipis, Pistia stratiotes, dan Polygonom   N bahan organik rendah, maka proses dekomposisi bahan
barbatum mempunyai kandungan N, P, dan K yang cukup             organik berlangsung cepat, sebaliknya bila rasio C/N tinggi,
tinggi, yaitu masing-masing (2,60%, 0,33%, 1,03%); (2,69%,      maka proses dekomposisi bahan organik berjalan lambat.
0,23%, 1,08%); (2,67%, 0,30%, 1,12%); dan (2,74%, 0,24%,        Rasio C/N gulma berdaun lebar berkisar antara 16,09-24,79%,
1,22%). Kandungan N, P, dan K dari gulma berdaun lebar ini      lebih rendah dibandingkan dengan rasio C/N jerami padi
lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan N, P, dan K          yaitu 40,83%, kompos jerami padi 26,19%, dan jerami jagung
pupuk organik (Noor et al. 1996), seperti kompos jerami padi,   62,59% (Noor et al. 1996). Hal ini menunjukkan bahwa gulma
jerami jagung, jerami kacang tanah, dan Flemingia sp. yaitu     dominan dari golongan berdaun lebar, selain sebagai sumber
masing-masing sebesar (1,21%, 0,16%, 1,26%); (0,84%,            hara juga berpotensi sebagai sumber bahan organik. Gulma
0,16%, 0,99%); (2,37%, 0,21%, 0,77%) dan (2,42%, 0,23%,         dominan berdaun lebar Ipomea aquatica dan Cyperus
1,45%).                                                         distans dari golongan teki, walaupun rasio C/N cukup tinggi



20                                                                            Buletin Teknik Pertanian Vol. 13 No. 1, 2008
Tabel 2. Kandungan hara N, P, K, dan C-organik gulma di lahan lebak   suplemen unsur hara N, P, dan K, sebaiknya gulma tersebut
         Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, dan       diberikan dekomposer atau mikroorganisme perombak bahan
         Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, MH 2005
                                                                      organik.
                                  Kandungan hara (%)          Rasio
Golongan/spesies gulma
                              C-org     N       P       K     C/N
Golongan berdaun lebar                                                                KESIMPULAN DAN SARAN
  Ageratum conyzoides*        41,84   2,60    0,33     1,03   16,09
  Altenanthera sessilis       44,80   2,79    0,23     1,35   16,05   Di lahan lebak Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai
  Cleome rutidosperma*        41,98   2,49    0,51     0,79   16,86   Tengah, dan Hulu Sungai Utara ditemukan 25 spesies gulma,
  Cleome viscosal             42,22   2,77    0,18     0,80   15,24
                                                                      yang terdiri atas 17 spesies gulma berdaun lebar, lima spesies
  Culcumis sp.                48,68   1,41    0,21     1,42   34,52
  Eichornia crassipes*        46,21   2,32    0,24     1,95   19,92   gulma golongan rumput, dan tiga spesies gulma golongan
  Grangea maderaspatama       47,29   1,64    0,14     1,55   28,83   teki. Gulma berdaun lebar yang dominan adalah Eichornia
  Heptis brevipis*            47,98   2,69    0,23     1,08   17,84   crassipes, Polygonom barbatum, Cleome rutidosperma,
  Hydrolea zeylaniea*         34,43   2,95    0,10     2,24   11,67   Salvinia cuculata, Heptis brevipis, Ageratum Conyzoides,
  Ipomea aquatica*            42,60   2,06    0,28     3,00   20,68
                                                                      Hydrolea zeylanica, Pistia stratiotes, Ludwigea parennis,
  Ipomea trilata              27,02   2,74    0,72     1,93    9,86
  Ludwigia perennis*          46,42   2,00    0,12     1,17   23,21
                                                                      dan Ipomea aquatica. Gulma yang dominan dari golongan
  Ludwigia octovolvis         45,82   1,33    0,15     2,33   34,45   rumput adalah Leptochloa chinensis, Paspalidium punctatum,
  Ludwigia hyssopifolia       47,85   2,66    0,20     0,57   17,99   dan Sacciolepis interupta, dan dari golongan teki adalah
  Pistia stratiotes*          35,20   2,67    0,30     1,12   13,18   Cyperus distans, Ageratum conyzoides, Heptis brevipis,
  Polygonum barbatum*         50,21   2,74    0,24     1,22   18,32   Pistia stratiotes, dan Polygonom barbatum.
  Salvinia cuculata*          41,97   2,58    0,28     0,87   16,27
Golongan rumput
  Paspalidium punctatum*      49,59   2,35    0,11     0,99   21,10
                                                                                           DAFTAR PUSTAKA
  Leptochloa chinensis*       54,49   1,41    0,06     1,68   38,64
  Echinochloa crus-galli      51,26   1,53    0,07     1,78   33,50
  Sacciolepis interupta*      49,80   2,79    0,18     0,84   17,85   Anonim. 1987. Weeds of rice in Indonesia. In M. Soerjani, J.G.H.
  Lersia hexandra             47,11   2,83    0,17     0,81   16,64       Kostermans, and G. Tjitrosoepomo (Eds.). Balai Pustaka,
                                                                          Jakarta.
Golongan teki
  Cyperus distans*            53,45   1,41    0,06     2,58   37,91   Bahar, F.A. dan Z. Abidin. 1992. Kepentingan pengelolaan gulma
  Cyperus halpan              50,32   1,23    0,08     2,32   40,91       dalam pembangunan pertanian di Indonesia Bagian Timur.
  Cyperus rotundus            52,65   1,19    0,05     2,41   44,24       Makalah Utama Kongres dan Seminar Nasional HIGI XI.
*Gulma dominan                                                            Ujung Pandang.
                                                                      Barnes, D.E. and M.M. Chandapillai. 1972. Common Malaysian
                                                                          Weeds and Their Control. Ansul (M) Sdn Berhad, Kuala
                                                                          Lumpur.
yaitu masing-masing 24,72% dan 37.91%, namun mempunyai                Bourlang, M.T., L. Rattan, G. Pimental, and L. Popenoe. 1992.
kandungan hara K yang cukup tinggi yaitu masing-masing                    Vetiver grass. A thin grass line against erosion. Board Science
3% dan 2,58%. Kandungan hara K ini lebih tinggi dibanding-                and Technology for International Development, Washington
kan dengan kandungan hara K pada kotoran sapi, kotoran                    D.C.
ayam, kompos jerami padi, Sesbania sp. dan Flemingia sp.,             Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Dati I Kalimantan
yaitu masing-masing 1,03%, 2,46%, 0,91%, 2,75%, 1,45%                     Selatan. 1992. Laporan Tahunan 1991. Dinas Pertanian
(Noor et al. 1996). Salah satu fungsi unsur hara K adalah                 Tanaman Pangan Propinsi Dati I Kalimantan Selatan,
                                                                          Banjarbaru.
untuk mengatasi keracunan besi. Oleh karena itu, gulma ini
mempunyai potensi sebagai suplemen unsur hara K.                      Hakim, N., M.Y. Nyakpa, A.M. Lubis, S.G. Nugroho, M.R. Saul,
                                                                          M.A. Diha, G.B. Hong, dan H.H. Bailey. 1986. Dasar-Dasar
    Golongan rumput Sacciolepis interupta mempunyai                       Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung.
kandungan N 2,79%, lebih tinggi dibandingkan dengan
                                                                      Moehansyah dan P. Londong. 1983. Keadaan tanah rawa dan
pupuk organik seperti kompos jerami padi, berangkasan                    potensi untuk pertanian di Kecamatan Sungai Pandan,
kacang tanah, dan Flemegia sp., yaitu masing-masing 0,84%,               Kabupaten Hulu Sungai Utara. Jurusan Tanah, Fakultas
2,37%, 2,42% (Noor et al. 1999), serta mempunyai rasio C/N               Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru.
yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa gulma ini                Noor, A., A. Jumberi, dan R.D. Ningsih. 1996. Peranan pupuk
berpotensi sebagai suplemen unsur hara N. Untuk memper-                   organik dalam meningkatkan hasil padi gogo di lahan kering.
cepat proses dekomposisi gulma yang berpotensi sebagai                    hlm. 575-586. Dalam M. Sabran, H. Sutikno, A Supriyo, S.


Buletin Teknik Pertanian Vol. 13 No. 1, 2008                                                                                          21
     Raihan, dan S. Abdussamad (Ed.). Prosiding Seminar Tekno-       Sastrapradja, S. dan J.J. Afriastini. 1980. Jenis Rumput Dataran
     logi Sistem Usahatani Lahan Rawa dan Lahan Kering. Balai             Rendah. Lembaga Biologi Nasional, LIPI, Bogor.
     Penelitian Tanaman Pangan Lahan Rawa, Banjarbaru.
                                                                     Yasin, H.G., M. Yahya, M.S. Pandang, dan Subandi. 1993. Sistem
Pablico, P.P. and K. Moody. 1983. Sampling of weeds and                   pertanaman lorong sebagai penghasil pakan ternak pada lahan
     vegetation analysis. Lecture prepared for participants               kritis bergelombang. Penelitian Usahatani Balittan Maros,
     attending the integrated pest management training course held        Ujung Pandang. hlm. 22-22.
     at the International Rice Research Institute, 15 August-24
     November 1983. Los Banos, Laguna, Philippines.




22                                                                                Buletin Teknik Pertanian Vol. 13 No. 1, 2008