ANALISIS TINGKAT KESEHATAN BANK PADA PD. BPR BANK PASAR
Document Sample


ANALISIS TINGKAT KESEHATAN BANK PADA
PD. BPR BANK PASAR KABUPATEN TEGAL
TAHUN 2004-2006
TUGAS AKHIR
Untuk memperoleh gelar Ahli Madya Akuntansi
pada Universitas Negeri Semarang
Oleh
Endang Triyana
NIM. 3351304522
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI
2007
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Tugas Akhir ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia
ujian Tugas Akhir pada:
Hari :
Tanggal :
Dosen Pembimbing
Drs. Tarsis Tarmudji
NIP.130529513
Mengetahui,
Ketua Jurusan Akuntansi
Drs. Sukirman, M.Si
NIP.131967646
ii
PENGESAHAN KELULUSAN
Tugas Akhir ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Tugas Akhir
Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang pada:
Hari : Kamis
Tanggal : 23 Agustus 2007
Penguji Tugas Akhir
Penguji I Penguji II
Drs. Tarsis Tarmudji Drs. Kusmuriyanto, M. Si
NIP.130529513 NIP. 131404309
Mengetahui:
Dekan Fakultas Ekonomi
Drs. Agus Wahyudin
NIP. 131658236
iii
PERNYATAAN
Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam Tugas Akhir ini benar-benar hasil
karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, sebagian atau
seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam Tugas Akhir
dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.
Semarang, Juni 2007
Endang Triyana
NIM 3351304522
iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto:
Kisah sukses ditulis oleh kita yang memiliki
keberanian, niat, dan hasrat untuk meraih sukses dalam
hidup.
Perhatikan masa lalu dan masa depanmu. Hidup adalah
ujian yang datang silih berganti, seseorang hendaknya
mampu keluar dari ujian itu sebagai pemenang.
Emasmu adalah agamamu, perhiasanmu adalah budi
pekertimu dan hartamu adalah sopan santunmu.
Persembahan:
Bapak dan ibu tercinta yang selalu
memberikan kasih sayang, dorongan,
dan doa.
Kakak dan adik tersayang yang selalu
memberikan semangat dan doa.
Seseorang yang tercinta dan tersayang
dihatiku yang selalu memberikan
semangat dan motivasi .
Sahabat-sahabat Az-Zahra Kost yang
menemani hari-hari sepiku.
Almamater tercinta dan teman-teman
Akuntansi D3 2004.
v
KATA PENGANTAR
Alhamdulilah, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat,
taufik, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Tugas
Akhir yang berjudul “ANALISIS TINGKAT KESEHATAN BANK PADA PD.
BPR BANK PASAR KABUPATEN TEGAL TAHUN 2004-2006”.
Penulisan Tugas Akhir ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat
dalam memperoleh gelar Ahli Madya Akuntansi pada Fakultas Ekonomi Universitas
Negeri Semarang. Dalam penyusunan Tugas Akhir ini, penulis memperoleh bantuan,
bimbingan, dan pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan
ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Prof. Dr. H. Sudjiono Sastroatmodjo, M.Si, Rektor Universitas Negeri Semarang.
2. Drs. Agus Wahyudin, M.Si, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri
Semarang.
3. Drs. Sukirman, M.Si, Ketua Jurusan Akuntansi Universitas Negeri Semarang.
4. Drs. Tarsis Tarmudji, Dosen Pembimbing atas bimbingan, ilmu, motivasi,
kesabaran, dan perhatiannya selama penulisan Tugas Akhir ini.
5. Drs. Kusmuriyanto, M.Si, Dosen Penguji atas saran dan kritik yang sangat
berguna bagi penulis.
6. Dwoyo Widyono, S.E, Direktur PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal yang telah
memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian.
7. Bapak, ibu dan semua keluarga besar tercinta atas kasih sayang, dorongan
semangat dan do’anya.
vi
8. Sahabat-sahabat di AZ-ZAHRA kost dan teman-teman Akuntansi D3 2004 untuk
semua kenangan yang indah sekali.
9. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Tugas Akhir ini yang tidak
dapat disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari sepenuhnya kemampuan yang ada dalam diri penulis,
untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diperlukan oleh penulis.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati yang tulus, penulis berharap
semoga penyusunan Tugas Akhir ini akan memberikan manfaat bagi pembaca dan
pihak-pihak yang bersangkutan. Amin.
Semarang, Juni 2007
Penulis
vii
SARI
Endang Triyana. 2007. Analisis Tingkat Kesehatan Bank pada PD. BPR Bank
Pasar Kabupaten Tegal Tahun 2004-2006. Tugas Akhir. Jurusan Akuntansi. Fakultas
Ekonomi. Universitas Negeri Semarang.105 halaman.
Kata Kunci: Capital, Asset Quality, Management, Earning, Liquidity.
Tingkat Kesehatan
Menurut UU No.7 Tahun 1992 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah bank
yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan Prinsip
Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas
pembayaran. PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal merupakan lembaga perbankan
milik Pemerintah Daerah yang kegiatan usahanya melaksanakan dan memperluas
pemberian pinjaman bagi pedagang, pengusaha golongan ekonomi lemah yang
produktif dan pegawai negeri maupun pegawai swasta serta para bakul di pasar-pasar
dan di desa-desa. Tujuan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal adalah untuk
mendukung program pemerintahan yaitu ikut berpartisipasi dalam pengentasan
kemiskinan di wilayah Kabupaten Tegal, mencegah semakin banyaknya kredit liar di
pasar dan menambah kontribusi pendapatan daerah yang berasal dari laba
perusahaan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi tingkat kesehatan dan
menganalisa apakah PD.Bank Pasar Kabupaten Tegal telah memenuhi kriteria bank
sehat yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia. Metode pengumpulan data yang
digunakan adalah metode dokumentasi, angket, wawancara dan kepustakaan. Metode
analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif untuk menilai tingkat
kesehatan Permodalan, Kualitas Aktiva Produktif, Rentabilitas, Likuiditas dan
analisis kualitatif untuk menilai tingkat kesehatan Manajemen.
Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa permodalan pada PD.
BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal tahun 2004-2006 sehat artinya bank mampu untuk
mempertahankan pengelolaan terhadap modal sendiri dan aktiva-aktiva yang
mengandung resiko, serta mampu untuk menutup kerugian atas kredit yang diberikan.
Untuk KAP pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal menunjukkan adanya
penurunan pada tahun 2006 karena adanya penyaluran kredit yang cukup tinggi dan
menyebabkan naiknya cadangan yang wajib dibentuk oleh bank akibat dari beberapa
pengembalian kredit yang kurang lancar, diragukan dan macet. PPAP yang dibentuk
tidak sebanding dengan cadangan aktiva yang harus dibentuk akibat dari sebagian
debitur tidak dapat mengembalikan kredit sesuai dengan tanggal jatuh tempo.
Manajemen pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal menunjukkan adanya
peningkatan pada tahun 2006 dibandingkan tahun sebelumnya karena kinerja
manajemen pada bank mengalami peningkatan dalam mengatur strategi dalam usaha
pencapaian tujuan bank dan pengaturan kegiatan operasional bank telah sesuai
dengan prosedur yang berlaku. ROA pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
mengalami penurunan pada tahun 2006 karena biaya operasional yang ditanggung
bank tidak seimbang dengan pendapatan operasional yang diperoleh sehingga bank
viii
mengalami kerugian yang dipengaruhi oleh biaya bunga, biaya administrasi dan
umum, biaya personalia, dan biaya PPAP. BOPO juga mengalami penurunan karena
pendapatan operasional yang dihasilkan bank lebih kecil daripada biaya operasional
yang ditanggung oleh bank. Cash Ratio pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
tahun 2004-2006 sehat berarti bank memiliki kemampuan dalam mengelola asset
yang digunakan untuk membayar kewajiban yang harus dibayar pada waktunya. LDR
juga mengalami kecenderungan peningkatan yang signifikan selama tahun 2004-2006
sehingga dana yang diterima oleh bank mengalami kenaikan baik dari tabungan,
deposito berjangka, modal inti yang berarti kemampuan bank dalam menyalurkan
kreditnya meningkat
Simpulan dalam penelitian ini adalah bahwa tingkat kesehatan pada PD.
BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal tahun 2004-2006 untuk komponen Capital,
Management, Liquidity cenderung mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Untuk komponen Asset Quality dan Earning mengalami peningkatan pada tahun
2004-2005, tetapi pada tahun 2006 mengalami penurunan karena bank rugi. Adapun
saran yang diberikan yaitu, PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal segera melakukan
pembentukan tim penagihan kredit yang tidak lancar kepada para nasabah dan
menjual asset yang tidak produktif untuk menutup kerugian.
ix
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ....................................................................... ii
PENGESAHAN KELULUSAN ........................................................................... iii
PERNYATAAN ................................................................................................... iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ........................................................................ v
KATA PENGANTAR .......................................................................................... vi
SARI ..................................................................................................................... viii
DAFTAR ISI......................................................................................................... x
DAFTAR TABEL................................................................................................. xiii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xv
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xvi
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................. 1
1.2 Permasalahan ............................................................................... 6
1.3 Tujuan Penelitian .......................................................................... 6
1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................ 7
BAB II LANDASAN TEORI................... ....................................................... 8
2.1 Konsep Dasar Bank....................................................................... 8
2.1.1 Pengertian Bank ................................................................ 8
2.1.2 Jenis Bank ......................................................................... 9
2.1.3 Usaha Pokok Bank ............................................................ 10
2.2 Tingkat Kesehatan Bank ............................................................... 11
2.3 Kriteria Kesehatan Bank ............................................................... 16
2.4 Penilaian Tingkat Kesehatan BPR ................................................ 17
2.5 Manfaat Penilaian Kesehatan Bank .............................................. 39
2.6 Kerangka Berpikir......................................................................... 39
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ........................................................ 43
3.1 Lokasi Penelitian........................................................................... 43
3.2 Objek Penelitian............................................................................ 43
x
3.3 Teknik Pengumpulan Data............................................................ 43
3.4 Metode Pengumpulan Data........................................................... 44
3.5 Metode Analisis Data.................................................................... 46
3.5.1 Analisis Kuantitatif .............................................................. 46
3.5.2 Analisis Kualitatif ................................................................ 52
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN................................... 55
4.1 Deskripsi Objek Penelitian............................................................ 55
4.1.1 Gambaran Umum PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal 55
4.1.2 Sejarah Berdirinya PD. Bank Pasar Kabupaten Tegal....... 56
4.1.3 Struktur PD. Bank Pasar Kabupaten Tegal........................ 57
4.1.4 Tugas dan Wewenang PD. Bank Pasar Kabupaten
Tegal.................................................................................. 60
4.1.5 Visi dan Misi PD. Bank Pasar Kabupaten Tegal ............... 67
4.1.6 Lokasi dan Wilayah Kerja PD. Bank Pasar Kabupaten
Tegal.................................................................................. 67
4.2 Analisis Tingkat Kesehatan Bank ................................................. 67
4.3 Pembahasan................................................................................... 68
4.3.1 Permodalan......................................................................... 69
4.3.2 Kualitas Aktiva Produktif .................................................. 75
4.3.2.1 Rasio Aktiva Produktif yang Diklasifikasikan
terhadap Total Aktiva Produktif ........................... 75
4.3.2.2 Rasio Penyisihan Penghapusan Aktiva
Produktif terhadap Penyisihan Penghapusan yang
Wajib Dibentuk ..................................................... 78
4.3.3 Manajemen.......................................................................... 80
4.3.4 Rentabilitas.......................................................................... 82
4.3.4.1 Rasio Laba Sebelum Pajak terhadap Rata-rata
Volume usaha........................................................ 83
4.3.4.2 Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan
Operasional ........................................................... 84
4.3.5 Likuiditas ........................................................................... 86
xi
4.3.5.1 Rasio Alat Likuid terhadap Hutang Lancar .......... 86
4.3.5.2 Rasio Kredit yang Diberikan terhadap Dana
yang Diterima oleh Bank ...................................... 88
4.4 Hasil Penilaian Kuantitatif ............................................................. 91
BAB V PENUTUP ........................................................................................... 102
5.1 Simpulan ....................................................................................... 102
5.2 Saran .............................................................................................. 104
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 105
LAMPIRAN-LAMPIRAN
xii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Perkembangan BPR di Provinsi Jawa Tengah.................................... 2
Tabel 2.1 Penggolongan Tingkat Kesehatan....................................................... 17
Tabel 2.2 Kriteria Penilaian Tingkat Kesehatan Faktor Permodalan.................. 27
Tabel 2.3 Kriteria Penilaian Tingkat Kesehatan Faktor KAP............................. 32
Tabel 2.4 Kriteria Penilaian Tingkat Kesehatan Faktor Manajemen.................. 33
Tabel 2.5 Kriteria Penilaian Tingkat Kesehatan Faktor Rentabilitas.................. 35
Tabel 2.6 Kriteria Penilaian Tingkat Kesehatan Faktor Likuiditas .................... 38
Tabel 3.1 Bobot Penilaian Tingkat Kesehatan BPR ........................................... 52
Tabel 3.2 Bobot Penilaian Tingkat Kesehatan Manajemen................................ 54
Tabel 4.1 Perhitungan ATMR Tahun 2004 ....................................................... 69
Tabel 4.2 Perhitungan ATMR Tahun 2005 ....................................................... 70
Tabel 4.3 Perhitungan ATMR Tahun 2006 ....................................................... 70
Tabel 4.4 Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Tahun 2004... 71
Tabel 4.5 Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Tahun 2005... 72
Tabel 4.6 Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Tahun 2006... 73
Tabel 4.7 Penilaian Permodalan Tahun 2004-2006 ............................................ 74
Tabel 4.8 Perbandingan Komposisi Aktiva Produktif yang
Diklasifikasikan terhadap Aktiva Produktif Tahun 2004-2006 .......... 76
Tabel 4.9 Perbandingan Komposisi PPAP terhadap PPAWD Tahun 2004-2006 78
Tabel 4.10 Penilaian Aspek Manajemen Tahun 2004-2006 ................................. 81
Tabel 4.11 Rasio Laba Sebelum Pajak terhadap Rata-rata Volume Usaha
(ROA) Tahun 2004-2006 .................................................................... 83
Tabel 4.12 Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional
Tahun 2004-2006 ................................................................................ 85
Tabel 4.13 Rasio Alat Likuid terhadap Hutang Lancar Tahun 2004-2006........... 87
Tabel 4.14 Rasio Kredit yang Diberikan terhadap Dana yang Diterima oleh
Bank Tahun 2004-2006....................................................................... 89
xiii
Tabel 4.15 Kuantitatif Perhitungan Tingkat Kesehatan Bank pada PD. BPR
Bank Pasar Kabupaten Tegal Tahun 2004.......................................... 91
Tabel 4.16 Kuantitatif Perhitungan Tingkat Kesehatan Bank pada PD. BPR
Bank Pasar Kabupaten Tegal Tahun 2004.......................................... 93
Tabel 4.17 Kuantitatif Perhitungan Tingkat Kesehatan Bank pada PD. BPR
Bank Pasar Kabupaten Tegal Tahun 2004.......................................... 96
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir............................................................................ 42
Gambar 4.1 Struktur Organisasi PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal ........... 59
Gambar 4.2 Grafik Perkembangan Tingkat Kesehatan BPR................................ 99
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Daftar Penilaian Aspek Manajemen
Lampiran 2 Daftar Pertanyaan Wawancara
Lampiran 3 Laporan Laba Rugi Komparatif PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
Tahun 2004-2006
Lampiran 4 Neraca Komparatif PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal Tahun
2004-2006
Lampiran 5 Surat Permohonan Ijin Penelitian
Lampiran 6 Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian
Lampiran 7 Surat Rekomendasi Telah Menyelesaikan Tugas Akhir
xvi
17
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perbankan memiliki peranan yang sangat strategis dalam menunjang
berjalannya roda perekonomian dan pembangunan nasional mengingat
fungsinya sebagai lembaga intermediasi, penyelenggara transaksi pembayaran,
serta alat tranmisi kebijakan moneter. Menurut Undang-undang RI Nomor 10
Tahun 1998 tentang Perbankan, yang dimaksud dengan bank adalah badan
usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan
menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-
bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Menurut Suyatno (1991:21) menjelaskan bahwa, bank adalah suatu
jenis lembaga keuangan yang melaksanakan berbagai macam jasa, seperti
memberikan pinjaman, mengedarkan mata uang, pengawasan terhadap mata
uang, bertindak sebagai tempat penyimpanan benda-benda berharga,
membiayai usaha perusahaan-perusahaan dan lain-lain.
Dalam UU No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan, menurut jenisnya
bank terdiri dari Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Bank
Perkreditan Rakyat (BPR) adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha
secara konvensional atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya
tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran (Peraturan Bank
Indonesia No. 8/26/PBI/2006). BPR sebagai lembaga perantara keuangan
1
2
(financial intermediary) yang menghimpun dana dari masyarakat dan
menyalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit, BPR harus
menjaga kepercayaan yang diberikan masyarakat dalam mengelola dana
mereka. Perwujudan dari kesungguhan BPR dalam mengelola dana
masyarakat adalah dengan menjaga kesehatan kinerjanya karena kesehatan
kinerja sangat penting bagi suatu lembaga usaha. Dengan mengetahui tingkat
kesehatan usaha, para stakeholders dapat dengan mudah menilai kinerja
lembaga tersebut.
Dengan digulirkannya beberapa kebijakan di sektor keuangan sejak 1
Juni 1983 telah mendorong dunia perbankan untuk berkembang dengan pesat
baik dari sisi jumlah Bank, jumlah Kantor Bank sampai ke jumlah BPR.
Berdasarkan Data Statistik Perbankan Indonesia Tahun 2006, Bank Indonesia
mencatat perkembangan jumlah BPR dan Kantor BPR di Jawa Tengah yang
semakin meningkat seperti terlihat pada tabel 1.1 yaitu:
Tabel 1.1 Perkembangan BPR di Provinsi Jawa Tengah
Keterangan 2001 2002 2003 2004 2005 2006
Jumlah BPR 582 578 582 594 587 590
Jumlah Kantor 587 585 601 713 670 675
Sumber: Statistik Ekonomi Keuangan Daerah Tahun 2006
Berdasarkan tabel 1.1 terjadi peningkatan dari tahun 2001 sampai
tahun 2006 sehingga mengakibatkan persaingan yang sangat tajam di dunia
perbankan, oleh karena itu dalam melakukan aktivitas operasionalnya pihak
bank dituntut dan harus melakukan suatu manajemen perbankan yang
profesional agar bank tetap dalam kondisi sehat. Perbankan Indonesia
3
sebagian besar masih menggantungkan sumber pendapatannya dari sektor
kredit, sedangkan resiko timbulnya kredit bermasalah selalu mengancam
industri perbankan.
Perkembangan BPR di Jawa Tengah yang sangat pesat seharusnya
juga diikuti oleh sumber daya manusia sebagai pengelola lembaga tersebut.
Hal ini sangat penting sehubungan dengan keberlangsungan usaha lembaga ini
yang memiliki peran sangat penting dalam membantu meningkatkan
perekonomian nasional. Harapan pemerintah BPR dapat memberikan
kontribusi dan berperan aktif dalam menata perekonomian nasional yang lebih
baik dengan ikut menunjang modernisasi pedesaan dan memberikan bagi
golongan ekonomi menengah ke bawah yang bergerak dalam Usaha Mikro,
Kecil, dan Menengah (UMKM).
Namun, banyaknya BPR di Jawa Tengah mengakibatkan persaingan
yang kurang sehat. Seringkali manajemen BPR mengambil jalan pintas dalam
memenangkan persaingan, salah satunya adalah kelonggaran-kelonggaran
yang diberikan kepada nasabah dalam pengajuan kredit. Persaingan dalam
penyaluran kredit mendorong perlombaan dalam kecepatan proses pemutusan
pemberian kredit, sehingga aspek-aspek analisis kredit cenderung dilakukan
secara terburu-buru. Hal ini akan menyebabkan masalah kredit macet yang
dapat mengakibatkan bank menjadi tidak sehat. Dengan
Pemerintah menegaskan pentingnya penilaian tingkat kesehatan bank
yang dituangkan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun
1998 tanggal 10 November 1998 pasal 29 ayat 2 yang menyatakan bahwa
4
bank wajib memelihara tingkat kesehatan bank sesuai dengan ketentuan
kecukupan modal, kualitas asset, kualitas manajemen, likuiditas, rentabilitas,
solvabilitas dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank, dan wajib
melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian.
Bank Indonesia selaku pembina dan pengawas bank juga
mengeluarkan peraturan mengenai penilaian kinerja BPR yang tertuang dalam
SK DIR BI No.30/12/KEP/DIR/1997 tanggal 30 April 1997 yang didasarkan
pada lima indikator penilaian yaitu: Capital, Assets, Management, Earning
dan Liquidity (CAMEL). Pada metode CAMEL ada batasan-batasan yang
telah ditentukan oleh Bank Indonesia adalah tentang seberapa besar/
prosentase kinerja keuangan yang memenuhi persyaratan bank tersebut untuk
dinyatakan sehat, serta tidak membahayakan/ merugikan pihak-pihak yang
berkepentingan.
Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 1998 tanggal 14 Mei
1998 menjelaskan bahwa PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal merupakan
lembaga perbankan milik Pemerintah Daerah yang kegiatan usahanya
melaksanakan dan memperluas pemberian pinjaman bagi pedagang,
pengusaha golongan ekonomi lemah yang produktif dan pegawai negeri
maupun swasta serta para bakul di pasar-pasar dan di desa-desa. Dengan
adanya pemberian pinjaman kredit tersebut diharapkan masyarakat ekonomi
menengah dapat memanfaatkanya untuk mendapatkan kredit guna
menjalankan usahanya sehingga taraf hidup masyarakat dapat meningkat.
5
Tujuan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal adalah untuk
mendukung program pemerintahan yaitu ikut berpartisipasi dalam
pengentasan kemiskinan di wilayah Kabupaten Tegal dan mencegah semakin
banyaknya kredit liar di pasar. Sebagai bentuk usaha perusahaan daerah, BPR
memberikan pembagian laba kepada Pemerintah Daerah Tingkat II Tegal
sebesar 40% dari laba setelah pajak untuk disetorkan ke kas daerah sebagai
sumber Pendapatan Asli Daerah Sendiri (PDAS).
Dari data Laporan Kualitas Aktiva Produktif pada PD. BPR Bank
Pasar Kabupaten Tegal dapat diketahui bahwa tahun 2004 kredit yang tidak
lancar (macet) sebesar 19%, tahun 2005 sebesar 20% dan tahun 2006 sebesar
23%. Sebagai badan usaha yang memberikan fasilitas kredit kepada
masyarakat yang mayoritas masih digolongkan dalam ekonomi menengah ke
bawah dimana hasil usahanya sering tidak menentu, menjadikan PD. BPR
Bank Pasar Kabupaten Tegal harus lebih berhati-hati dalam menganalisis
pemberian kredit. Kesungguhan dalam menerapkan prosedur pemberian kredit
yang sesuai dengan peraturan yang telah ditentukan adalah mutlak dilakukan
agar terhindar dari permasalahan yang selalu terulang dari tahun ke tahun
yaitu tingginya kredit macet yang dapat mengakibatkan bank menjadi tidak
sehat. Tingkat kesehatan perbankan penting artinya untuk meningkatkan
efisiensi dalam menjalankan usahanya sehingga kemampuan untuk
memperoleh keuntungan dapat ditingkatkan dan menghindari adanya potensi
kebangkrutan.
6
Dari uraian tersebut di atas menarik penulis untuk mengetahui lebih
jelas tentang kesehatan bank. Oleh karena itu, penulis mengambil judul
tentang “ANALISIS TINGKAT KESEHATAN BANK PADA PD. BPR
BANK PASAR KABUPATEN TEGAL TAHUN 2004-2006”.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka permasalahan yang dikaji
dalam dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana tingkat kesehatan untuk masing-masing komponen Capital,
Assets, Management, Earnings, Liquidity pada PD. BPR Bank Pasar
Kabupaten Tegal?
2. Bagaimana perkembangan tingkat kesehatan bank pada PD. BPR Bank
Pasar Kabupaten Tegal tahun 2004 sampai dengan tahun 2006 secara
keseluruhan jika ditinjau dari segi Capital, Assets, Management, Earnings,
Liquidity (CAMEL) apakah mengalami peningkatan atau penurunan?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui tingkat kesehatan masing-masing komponen Capital,
Assets, Management, Earnings, Liquidity pada PD. BPR Bank Pasar
Kabupaten Tegal.
2. Untuk mengetahui perkembangan tingkat kesehatan bank pada PD. BPR
Bank Pasar Kabupaten Tegal tahun 2004 sampai dengan tahun 2006 secara
7
keseluruhan jika ditinjau dari segi Capital, Assets, Management, Earnings,
Liquidity (CAMEL) apakah mengalami peningkatan atau penurunan.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Manfaat Teoritis
a. Ingin menerapkan konsep SK Dir BI No.30/12/KEP/DIR/1997 dan
SE BI No.30/3/UPPB mengenai tata cara penilaian kesehatan BPR
pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal.
b. Sebagai wacana tambahan yang diharapkan dapat berguna bagi
civitas akademis sehingga dapat memberikan pengetahuan mengenai
perbankan khususnya tata cara penilaian tingkat kesehatan BPR.
2. Manfaat Praktis
a. Sebagai bahan masukan atau sumbangan informasi kepada pihak
manajemen bank jika terjadi penyimpangan-penyimpangan sebagai
peringatan awal untuk menjaga kondisi kesehatan bank.
b. Sebagai bahan informasi bagi masyarakat pengguna jasa BPR agar
dapat memilih dan mempercayakan dananya pada BPR yang
memiliki kinerja baik.
c. Sebagai media menambah ilmu yang diperoleh di bangku kuliah
dengan praktek di lapangan guna menambah wawasan pengetahuan
dan pengalaman di dunia perbankan.
8
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Konsep Dasar Bank
2.1.1 Pengertian Bank
Bank adalah badan usaha yang kekayaannya terutama dalam
bentuk asset keuangan (financial assets) serta bermotifkan profit dan
juga sosial, jadi bukan hanya keuntungan saja (Hasibuan, 2003:2).
Menurut Dictionary of Banking and financial service by Jerry
Rosenberg, bank adalah lembaga yang menerima simpanan giro,
deposito dan membayar atas dasar dokumen yang ditarik pada orang
atau lembaga tertentu, mendiskonto surat berharga, dan menanamkan
dananya dalam surat berharga (Taswan, 2006:4)
Menurut Undang-undang RI Nomor 10 Tahun 1998 tentang
Perbankan, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari
masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada
masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam
rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bank adalah badan
usaha yang aktivitasnya menghimpun dana berupa giro, deposito
tabungan dan simpanan yang lain dari pihak yang kelebihan dana dan
menyalurkannya kembali kepada masyarakat yang membutuhkan dana
8
9
melalui penjualan jasa keuangan untuk meningkatkan kesejahteraan
rakyat banyak.
2.1.2 Jenis Bank
Menurut UU No.7 Tahun 1992 tentang perbankan sebagaimana
telah diubah dengan UU No.10 Tahun 1998 tentang perbankan, jenis
bank meliputi:
1. Bank Umum
Bank Umum menurut UU No.10 Tahun 1998 yaitu bank
yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan/atau
berdasarkan Prinsip Syariah yag dalam kegiatannya memberikan
jasa dalam lalu lintas pembayaran. Kegiatan-kegiatan usaha yang
dapat dilakukan oleh Bank Umum yaitu:
a. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan
berupa deposito berjangka, tabungan, dana atau bentuk lainnya
yang dipersamakan dengan itu.
b. Menerbitkan surat pengakuan utang.
c. Menerima pembayaran atas tagihan surat berharga dan melakukan
perhitungan dengan atau antar pihak ketiga.
2. Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
Bank Perkreditan Rakyat menurut UU No.10 Tahun 1998,
yaitu adalah sebagai bank yang melaksanakan kegiatan usaha
konvensional dan atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam
10
kegiatannya tidak memberikan jasa lalu lintas pembayaran. Tugas
dari Badan Perkreditan Rakyat meliputi:
a. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan
berupa deposito berjangka, tabungan, dana atau bentuk lainnya
yang dipersamakan dengan itu.
b. Memberikan kredit kepada pengusaha kecil dan rumah tangga.
c. Menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi
hasil sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan
Pemerintah.
Adapun tujuan dari Badan Perkreditan Rakyat adalah:
a. Menunjang kelancaran penyediaan sarana produksi terutama
permodalan dalam rangka pembangunan daerah pada umumnya
dan pembangunan desa pada khususnya.
b. Menciptakan pemerataan dalam kesempatan berusaha segolongan
ekonomi lemah di pedesaan dan menciptakan lapangan kerja
secara langsung.
2.1.3 Usaha Pokok Bank
Bank pada dasarnya merupakan perantara antara SSU (Surplus
Spending Unit) dengan DSU (Deficit Spenddung Unit), usaha pokok
bank didasarkan atas empat hal pokok yaitu:
1. Denomination Divisibility
Adalah bank yang menghimpun dana dari SSU (Surplus Spending
Unit) yang masing-masing nilainya relatif kecil, tetapi secara
11
keseluruhan jumlahnya akan sangat besar. Dengan demikian bank
dapat memenuhi permintaan DSU yang membutuhkan dana tersebut
dalam bentuk kredit.
2. Maturity Flexibility
Adalah bank dalam menghimpun dana menyelenggarakan bentuk-
bentuk simpanan yang bervariasi jangka waktu dan penarikannya
seperti rekening giro, rekening koran, deposito berjangka, sertifikat
deposito, buku tabungan dan lain sebagainya.
3. Liquidity Tranformation
Adalah dana yang disimpan oleh para penabung (SSU) kepada bank
umumnya bersifat likuid. Karena itu, SSU dapat dengan mudah
mencairkannya sesuai dengan bentuk tabungannya.
4. Risk Diversification
Adalah bank dalam menyalurkan kredit kepada banyak pihak atau
debitur dan sektor-sektor ekonomi yang beraneka ragam, sehingga
resiko yang dihadapi bank dengan cara menyebarkan kredit semakin
kecil.
2.2 Tingkat Kesehatan Bank
Peraturan Bank Indonesia No. 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004
tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan bank Umum menjelaskan bahwa
bank wajib melakukan penilaian tingkat kesehatan bank secara triwulan.
Peraturan tersebut menjelaskan bahwa tingkat kesehatan bank merupakan
12
hasil penilaian kualitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap
kondisi atau kinerja suatu bank melalui penilaian faktor permodalan, kualitas
asset, manajemen, rentabilitas,likuiditas, dan sensitivitas terhadap risiko pasar.
Penilaian terhadap faktor-faktor tersebut dilakukan melalui penilaian
kuantitatif dan atau kualitatif setelah mempertimbangkan unsur judgement
yang didasarkan atas materialitas dan signifikansi dari faktor-faktor penilaian
serta pengaruh dari faktor lainnya seperti kondisi industri perbankan dan
perekonomian nasional.
Penilaian faktor-faktor komponen dilakukan dengan sistem kredit
(system reward) yang dinyatakan dalam nilai kredit 0 sampai 100. Hasil
kuantifikatif dari komponen-komponen tersebut dinilai lebih lanjut dengan
memperhatikan informasi dan aspek-aspek lain yang secara material
berpengaruh terhadap kondisi dan perkembangan masing-masing faktor.
Tingkat kesehatan bank digolongkan dalam empat kategori yaitu: sehat, cukup
sehat, kurang sehat dan tidak sehat.
Sebagai pengawas bank, Bank Indonesia juga menilai performance
bank dengan memperhatikan enam indikator yang disebut CAMELS.
Penilaian sistem CAMELS ini mengukur apakah manajemen bank telah
melaksanakan sistem perbankan dengan asas-asas yang sehat. Enam indikator
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Aspek Permodalan (Capital)
Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor permodalan antara
lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen:
13
a. Kecukupan pemenuhan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum
(KPMM) terhadap ketentuan yang berlaku.
b. Komposisi permodalan.
c. Trend ke depan/ proyeksi KPMM.
d. Aktiva produktif yang diklasifikasikan dibandingkan dengan modal
bank.
e. Kemampuan bank memelihara kebutuhan penambahan modal yang
berasal dari keuntungan (laba ditahan).
f. Rencana permodalan bank untuk mendukung pertumbuhan usaha.
g. Akses kepada sumber permodalan.
h. Kinerja keuangan pemegang saham untuk meningkatkan permodalan
bank.
2. Aspek Kualitas Aktiva Produktif (Assets Quality)
Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor kualitas asset antara
lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen:
a. Aktiva produktif yang diklasifikasikan dibandingkan dengan total
aktiva produktif.
b. Debitur inti kredit diluar pihak terkait dibandingkan dengan total kredit.
c. Perkembangan aktiva produktif bermasalah non performing assets
dibandingkan dengan aktiva produktif.
d. Tingkat kecukupan pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva
Produktif (PPAP).
e. Kecukupan kebijakan dan prosedur aktiva produktif.
14
f. Sistem kaji ulang (review) internal terhadap aktiva produktif.
g. Dokumen aktiva produktif.
h. Kinerja penanganan aktiva produktif bermasalah.
3. Aspek Manajemen (Management)
Penilaian terhadap faktor manajemen antara lain dilakukan melalui
penilaian terhadap komponen-komponen:
a. Manajemen umum.
b. Penerapan sistem manajemen risiko.
c. Kepatuhan bank terhadap ketentuan yang berlaku serta komitmen
kepada Bank Indonesia dan atau pihak lain.
4. Aspek Rentabilitas (Earning)
Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor rentabilitas antara
lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen:
a. Return On Assets (ROA).
b. Return On Equity (ROE).
c. Net Interest Margin (NIM).
d. Biaya Operasional dibandingkan dengan Pendapatan Operasional
(BOPO).
e. Perkembangan laba operasional.
f. Komposisi portofolio aktiva produktif dan diversifikasi pendapatan.
g. Penerapan prinsip akuntansi dalam pengakuan pendapatan dan biaya
h. Prospek laba operasional
15
5. Aspek Likuiditas (Liquidity)
Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor likuiditas antara lain
dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen:
a. Aktiva likuid kurang dari 1 bulan dibandingkan dengan pasiva liquid
kurang dari 1 bulan.
b. 1-month maturity mismatch ratio.
c. Loan to Deposit Ratio (LDR).
d. Proyeksi cash flow 3 bulan mendatang.
e. Ketergantungan pada dana antara bank dan deposan inti.
f. Kebijakan dan pengelolaan likuiditas (Assets and Liabilities
Management/ ALMA)
g. Kemampuan bank untuk memperoleh akses kepada pasar uang, pasar
modal, atau sumber-sumber pendanaan lainnya.
h. Stabilitas Dana Pihak Ketiga (DPK).
6. Sensitivitas terhadap risiko pasar (Sensitivity to Market Risk)
Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor sensitivitas terhadap
resiko pasar antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-
komponen:
a. modal atau cadangan yang dibentuk untuk mengcover fluktuasi suku
bunga dibandingkan dengan potential loss sebagai akibat fluktuasi
(adverse movement) suku bunga.
16
b. modal atau cadangan yang dibentuk untuk mengcover fluktuasi nilai
tukar dibandingkan dengan potential loss sebagai akibat fluktuasi
(adverse movement) nilai tukar
c. kecukupan penerapan sistem manajemen risiko pasar.
2.3 Kriteria Kesehatan Bank
Tingkat kesehatan pada dasarnya dinilai dengan pendekatan
kuantitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi dan
perkembangan suatu bank. Pendekatan kuantitatif tersebut dapat dilakukan
dengan mengadakan penilaian terhadap faktor permodalan, kualitas aktiva
produktif, rentabilitas, likuiditas. Pendekatan kuantitatif diperlukan karena
masing-masing faktor tersebut mengandung berbagai aspek yang saling
berkaitan antara satu dengan lainnya serta saling mempengaruhi.
Pelaksanaan penilaian terhadap faktor-faktor tersebut dilakukan
dengan cara:
1. Mengkuantifikasi beberapa komponen penting dari masing-masing faktor.
2. Atas dasar kuantifikasi komponen-komponen penting tersebut dilakukan
penilaian lebih lanjut dengan memperhatikan aspek lain yang secara
materiil berpengaruh terhadap kondisi dan perkembangan masing-masing
faktor.
Sedangkan tata cara kuantifikasi penilaian kesehatan dilakukan
dengan reward system yaitu memberikan nilai kredit 0 sampai dengan 100
17
bagi masing-masing faktor komponen penilaian tingkat kesehatan bank BPR
beserta dengan bobotnya.
Tingkat kesehatan PD. BPR Bank Pasar digolongkan menjadi empat
kriteria yang ditentukan oleh pemerintah, mengacu pada PAKTRI 91/
PAKMEI 1993, menurut tingkat kesehatan bank nilai dan predikat tersebut:
Tabel 2.1 Penggolongan Tingkat Kesehatan
Nilai Predikat
81 − 100 Sehat
66 – < 81 Cukup Sehat
51 – < 66 Kurang Sehat
0 – < 51 Tidak Sehat
Sumber: SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR
2.4 Penilaian Tingkat Kesehatan BPR
Tata cara penialian tingkat kesehatan BPR pada dasarnya hampir
sama dengan penilaian tingkat kesehatan bank umum. Namun, dalam
penilaian tingkat kesehatan BPR tidak menggunakan indikator sensitivitas
terhadap resiko pasar. Selain itu terdapat perbedaan antara BPR dengan Bank
Umum pada penilaian faktor permodalan dan faktor manajemen. Pada faktor
permodalan yang membedakan adalah besarnya persentase bobot risiko yang
digunakan dalam perhitungan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR).
Sedangkan untuk faktor manajemen pada jumlah pertanyaan yang diajukan
pada pihak manajemen BPR lebih sedikit daripada pertanyaan yang diajukan
pada pihak manajemen Bank Umum. Perbedaan tersebut pada dasarnya
18
berkaitan juga dengan keterbatasan dari usaha yang boleh dilakukan BPR,
seperti tercantum dalam UU No.7 Tahun 1992, dimana BPR dilarang:
1. Menerima simpanan berupa giro dan ikut serta dalam lalu lintas
pembayaran.
2. Melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing.
3. Melakukan penyertaan modal.
4. Melakukan usaha perasuransian.
5. Melakukan usaha lain diluar kegiatan usaha sebagaimana dimaksud di atas.
Sesuai SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR dan SE BI No.30/3/UPPB
tanggal 30 April 1997 tentang tata cara penilaian tingkat kesehatan BPR,
faktor-faktor dan komponen CAMEL yang dinilai sebagai berikut:
1. Permodalan (Capital)
Modal merupakan salah satu faktor penting bagi bank dalam
rangka pengembangan usaha dan menampung risiko kemungkinan
kerugian.
Permodalan yang cukup adalah berkaitan dengan penyediaan
modal sendiri yang yang diperlukan yang mungkin timbul dari penanaman
dalam aktiva produktif yang mengandung risiko serta membagi
penanaman dalam benda tetap dan investasi.
1) Pengertian Modal
Menurut Hasibuan (2005:61) Dana/ modal Bank adalah
sejumlah uang yang dimiliki dan dikuasai suatu bank dalam kegiatan
19
operasionalnya. Dana bank terdiri dari dana (modal) sendiri dan dana
asing.
Modal Sendiri Bank (Equity Fund) adalah sejumlah uang tunai
yang telah disetorkan pemilik dan sumber-sumber lainnya yang berasal
dari dalam bank itu sendiri; terdiri dari modal inti dan modal
pelengkap.
Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 8/26/PBI/2006
tanggal 8 November 2006 tentang Kewajiban Penyediaan Modal
Minimum BPR menjelaskan rincian modal bagi BPR adalah sebagai
berikut:
1. Modal Inti
Modal inti terdiri atas modal disetor dan cadangan–
cadangan yang dibentuk dari laba setelah pajak. Secara rincian
modal inti dapat berupa bentuk-bentuk berikut:
a. Modal disetor
Modal disetor yaitu modal yang telah disetor secara riil dan
efektif oleh pemiliknya serta tekah disetujui oleh Bank
Indonesia. Bagi BPR yang berbadan hukum Koperasi, modal
disetor terdiri dari atas simpanan pokok dan simpanan wajib
dan hibah dari para anggotanya.
20
b. Agio saham
Agio saham yaitu selisih lebih tambahan modal yang diterima
BPR sebagai akibat harga saham yang melebihi nilai
nominalnya.
c. Modal sumbangan
Modal sumbangan yaitu modal yang telah diperoleh kembali
dari sumbangan saham, termasuk modal yang berasal dari
donasi pihak luar yang diterima oleh bank yang berbentuk
hukum koperasi .
d. Cadangan umum
Cadangan umum yaitu cadangan yang dibentuk dari penyisihan
laba yang ditahan atau dari laba bersih setelah dikurangi pajak
dan mendapat persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham atau
Rapat Anggota sesuai dengan ketentuan perundang-undangan
yang berlaku.
e. Cadangan tujuan
Cadangan tujuan yaitu bagian laba setelah dikurangi pajak yang
disisihkan untuk tujuan tertentu dan mendapat mendapat
persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham atau Rapat
Anggota sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
21
f. Laba yang ditahan (rentained earning)
Laba yang ditahan yaitu saldo laba bersih setelah dikurangi
pajak yang oleh Rapat Umum Pemegang Saham atau Rapat
Anggota diputuskan untuk tidak dibagikan.
g. Laba tahun lalu
Laba tahun lalu yaitu seluruh laba bersih tahun-tahun lalu
setelah dikurangi pajak kecuali apabila diperkenankan untuk
dikompensasi dengan kerugian sesuai dengan ketentuan pajak
yang berlaku dan belum ditetapkan penggunaanya oleh Rapat
Umum Pemegang Saham atau Rapat Anggota. Jumlah laba
tahun lalu yang diperhitungkan sebagai modal inti sebesar 50%.
Jika BPR mempunyai saldo rugi pada tahun-tahun lalu, seluruh
kerugian tersebut menjadi faktor pengurang dari modal inti.
h. Laba tahun berjalan
Laba tahun berjalan yaitu laba setelah diperhitungkan dengan
kekurangan pembentukan penyisihan penghapusan aktiva
produktif. Perhitungan taksiran utang pajak dikecualikan
apabila diperkenankan untuk dikompensasi dengan kerugian
sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku. Jumlah laba tahun
buku berjalan yang diperhitungkan sebagai modal inti hanya
sebesar 50%. Jika BPR mengalami kerugian pada tahun
berjalan, seluruh kerugian tersebut menjadi faktor pengurang
dari modal inti.
22
Modal inti tersebut diatas harus dikurangi dengan:
a) Goodwill yang ada dalam pembukuan bank.
b) Kekurangan jumlah penyisihan penghapusan aktiva produktif
dari jumlah yang sebenarnya dibentuk sesuai dengan ketentuan
Bank Indonesia.
2. Modal Pelengkap
Modal pelengkap terdiri dari cadangan-cadangan yang
dibentuk tidak dari laba setelah pajak, serta pinjaman yang sifatnya
dapat dipersamakan dengan modal. Secara rinci modal pelengkap
dapat berupa:
a. Cadangan revaluasi aktiva tetap
Cadangan revaluasi aktiva tetap yaitu cadangan yang dibentuk
dari selisih penilaian kembali aktiva tetap yang telah mendapat
persetujuan Direktorat Jenderal Pajak.
b. Cadangan penghapusan aktiva yang diklasifikasikan
Cadangan penghapusan aktiva yang diklasifikasikan yaitu
cadangan yang dibentuk dengan cara membebani laba rugi
tahun berjalan dengan maksud untuk menampung kerugian
yang mungkin timbul sebagai akibat dari tidak diterimanya
kembali sebagian atau seluruh aktiva produktif.
c. Modal pinjaman (sebelumnya disebut modal kuasi)
Modal kuasai yang menurut BIS disebut hybrid (dept/equity)
capital instrument yaitu modal yang didukung oleh instrument
23
atau warkat yang memiliki sifat seperti modal atau utang dan
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1) tidak dijamin oleh BPR yang bersangkutan, dipersamakan
dengan modal dan telah dibayar penuh.
2) tidak dapat dilunasi atau ditarik atas inisiatif pemilik, tanpa
persetujuan Bank Indonesia.
3) mempunyai kedudukan yang sama dengan modal dalam hal
jumlah kerugian BPR melebihi laba yang ditahan dan
cadangan-cadangan yang termasuk modal inti, meskipun
BPR belum dilikuidasi.
4) pembayaran bunga dapat ditangguhkan apabila BPR dalam
keadaan rugi atau labanya tidak mendukung untuk
membayar bunga tersebut.
d. Pinjaman subordinasi
Pinjaman subordinasi yaitu pinjaman yang setinggi-tingginya
sebesar 50% dari modal inti, dengan persyaratan sebagai
berikut:
1) terdapat perjanjian tertulis antara BPR dengan pemberi
pinjaman.
2) mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Bank Indonesia.
Dalam hubungan ini pada saat BPR mengajukan
permohonan persetujuan, BPR harus menyampaikan
24
program pembayaran kembali pinjaman subordinasi
tersebut.
3) tidak dijamin oleh BPR yang bersangkutan dan telah
dibayar penuh, minimal berjangka waktu 5 tahun.
4) pelunasan sebelum jatuh tempo harus mendapat persetujuan
dari Bank Indonesia dan dengan pelunasan tersebut
permodalan BPR tetap sehat.
5) hak tagih dalam hal terjadi likuidasi berlaku paling akhir
dari segala pinjaman yang ada (kedudukannya sama dengan
modal).
2) Pengertian Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR)
Pengertian Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) yaitu
pos-pos aktiva yang diberikan bobot risiko yang terkandung pada
aktiva itu sendiri atau bobot risiko yang didasarkan pada golongan
nasabah, peminjam atau sifat barang jaminan. Rincian bobot tersebut
adalah sebagai berikut:
a. 0% dikalikan dengan:
1) Kas
2) Surat Bank Indonesia
3) Kredit yang dijamin dengan saldo deposito berjangka dan
tabungan yang cukup milik peminjam pada BPR yang
bersangkutan
25
b. 20% dikalikan dengan:
1) Giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan serta
tagihan lainnya kepada bank lain
2) Kredit kepada bank lain atau pemerintah daerah
3) Kredit kepada atau kredit yang dijamin oleh bank lain/
pemerintah daerah.
c. 50 % dikalikan dengan:
Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau kredit yang dijamin oleh
hipotik pertama dengan tujuan untuk dihuni.
d. 100% dikalikan dengan:
1) Kredit kepada atau yang dijamin oleh BUMD, perorangan,
koperasi, perusahaan swasta dan lain-lain.
2) Aktiva tetap dan investasi (nilai buku).
3) Aktiva tetap lainnya yang tersebut diatas.
3) Perhitungan Kebutuhan Modal Minimum
Perhitungan Modal Minimum BPR dapat dilakukan dengan
cara:
a. ATMR dihitung dengan cara mengalikan nilai nominal pos-pos
aktiva dengan bobot risiko masing-masing.
b. ATMR dari masing-masing pos aktiva dijumlahkan.
c. Jumlah kewajiban penyediaan modal minimum BPR adalah 8%
dari jumlah ATMR (nomor b).
d. Dihitung jumlah modal inti dan modal pelengkap.
26
Dengan membandingkan jumlah modal pada nomor 4 dengan
kewajiban penyediaan modal minimum pada nomor 3, dapat diketahui
kelebihan atau kekurangan modal BPR.
Adapun penentuan besarnya nilai kredit untuk penilaian permodalan
ini adalah sebagai berikut:
a. Pemenuhan KPMM sebesar 8 % diberi predikat “sehat” dengan
nilai sebesar 81, dan untuk setiap kenaikan 0,1% dari pemenuhan
KPMM sebesar 8% nilai kredit ditambah 1 hingga maksimal 100.
b. Pemenuhan KPMM kurang dari 8% sampai dengan 7,9% diberi
predikat “kurang sehat” dengan nilai kredit 65, dan setiap
penurunan 0,1% dari pemenuhan KPMM sebesar 7,9% nilai kredit
1 hingga minimum 0.
4) Penilaian Permodalan
Penilaian terhadap faktor permodalan didasarkan pada rasio
modal terhadap Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) sesuai
yang dengan yang diatur dalam SK DIR BI No. 26/20/KEP/DIR
tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank dan Surat
Edaran Bank Indonesia Nomor 26/20/BPPP tentang Kewajiban Modal
Minimum BPR masing-masing tanggal 29 Mei 1993 . Ketentuan rasio
antara modal dan ATMR biasa disebut Capital Adequancy Ratio (CAR)
atau Rasio Kecukupan Modal merupakan analisis solvabilitas untuk
mendukung kegiatan bank secara efisien dan mampu menyerap
kerugian-kerugian yang tidak dapat dihindarkan serta apakah kekayaan
27
bank semakin bertambah atau semakin berkurang. Analisis ini juga
berguna untuk menunjukkan kemampuan BPR dalam memenuhi
segala kewajiban finansialnya baik berupa utang jangka pendek
maupun utang jangka panjang.
Rasio Permodalan (CAR) adalah sebagai berikut:
Modal (Inti + Pelengkap)
Rasio Permodalan (CAR) = × 100%
ATMR
Adapun formulasi rasio ini menjadi nilai kredit:
Rasio CAR
Nilai Kredit (NK) = + 1 (maksimal 100)
0,1
Pembobotan bagi komponen ini ditetapkan sebesar 30% dari
keseluruhan penilaian faktor CAMEL.
Hasil dari penilaian faktor permodalan terlihat pada Tabel 2.2 di bawah
ini.
Tabel 2.2 : Kriteria penilaian kesehatan faktor permodalan
Kriteria Hasil Rasio
Sehat ≥ 8%
CukupSehat ≥ 7,9% – < 8,0%
KurangSehat ≥ 6,5% − < 7,9%
Tidak Sehat < 6,5%
Sumber: SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97
2. Kualitas Aktiva Produktif (Assets Quality)
Perbankan sebagai lembaga pemberi jasa-jasa keuangan dalam
lalu lintas pembayaran, maka bank memberikan berbagai fasilitas kepada
nasabah, loanable funds dari bank yang terbesar diberikan dalam bentuk
28
kredit. Penilaian kualitas asset merupakan penilaian terhadap kondisi asset
bank dan kemampuan manajemen dalam mengelola kredit.
Berdasarkan SK Dir BI No. 26/22/KEP/DIR tanggal 29 Mei 1993
sebagaimana dirubah dalam PBI No. 8/19/PBI/2006 tentang Kualitas
Aktiva Produktif dan Pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva
Produktif (PPAP) BPR, disebutkan bahwa kinerja dan kelangsungan usaha
BPR dipengaruhi oleh kualitas penyediaan dana pada aktiva produktif,
termasuk kesiapan untuk menghadapi risiko kerugian dari penyediaan
dana tersebut dan dalam rangka mengembangkan usaha dan mengelola
risiko, pengurus BPR wajib menjaga kualitas aktiva produktif dan
membentuk penyisihan penghapusan aktiva produktif.
1) Pengertian Aktiva Produktif
Aktiva produktif yaitu semua aktiva dalam rupiah maupun
valuta asing yang dimiliki oleh bank dengan maksud untuk
memperoleh penghasilan sesuai dengan fungsinya, sehingga kredit
merupakan salah satu bentuk aktiva produktif (Susilo, 2000:30).
Pengelolaan aktiva produktif adalah bagian dari asset management
yang juga mengatur tentang cash reserve (liquidity assets) dan fixed
assets (aktiva tetap dan inventaris). Adapun komponen dari aktiva
produktif terdiri dari:
1. Kredit yang diberikan, yaitu penyediaan uang atau tagihan yang
dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau
kesepakatan pinjam meminjam antara BPR dengan pihak
29
peminjam yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi
utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga,
termasuk:
a. Pembelian surat berharga nasabah yang dilengkapi dengan Note
Purchase Agreement (NPA).
b. Pengambilalihan tagihan dalam rangka kegiatan anjak piutang.
2. Surat-surat berharga, yaitu penanaman dalam bentuk Sertifikat
Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Pasar Uang (SBPU), dan
saham-saham serta obligasi yang diperdagangkan di pasar modal.
3. Penanaman dana antar bank adalah penanaman dana BPR pada
bank lain dalam bentuk tabungan, deposito berjangka, sertifikat
deposito, kredit yang diberikan dan penanaman dana lainnya yang
sejenis baik dalam negeri maupun luar negeri.
Aktiva produktif yang dimiliki bank memiliki empat golongan
yaitu lancar, kurang lancar, diragukan dan macet sesuai dengan
kolektibilitasnya. Kolektibilitas merupakan keadaan pembayaran
kembali pokok dan bunga kredit nasabah serta tingkat kemungkinan
diterimanya kembali dana yang ditanamkan dalam surat berharga atau
penanaman lainnya.
2) Pengertian Aktiva Produktif yang Diklasifikasikan
Aktiva Produktif yang diklasifikasikan yaitu aktiva produktif,
baik yang sudah maupun yang mengandung potensi tidak memberikan
penghasilan atau menimbulkan kerugian bagi bank. Adapun cara
30
pengklasifikasian ini mengikuti cara kolektibilitas diatur dalam SE BI
No. 23/12/BPPP tanggal 28 Desember 1991, yaitu:
a. 0% dari aktiva produktif yang digolongkan lancar.
b. 50% dari aktiva produktif yang digolongkan kurang lancar.
c. 75% dari aktiva produktif yang digolongkan diragukan.
d. 100% dari aktiva produktif yang digolongkan macet.
3) Pengertian Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang Wajib
Dibentuk (PPAPWD)
Dalam rangka mengantisipasi kemungkinan terjadinya
kerugian dari setiap penanaman dana yang dilakukan bank, maka bank
wajib membentuk PPAP yang cukup guna menutup kerugian tersebut.
Besarnya pembentukan penyisihan sesuai dengan SK DIR BI No.
26/167/KEP/DIR dan SE BI No. 26/9/BPPP tentang penyempurnaan
PPAPWD tanggal 29 Maret 1994 adalah sekurang-kurangnya:
a. 0,5% dari aktiva produktif yang digolongkan lancar.
b. 10% dari aktiva produktif yang digolongkan kurang lancar setelah
dikurangi agunan yang dikuasai.
c. 50% dari aktiva produktif yang digolongkan diragukan setelah
dikurangi agunan yang dikuasai.
d. 100% dari aktiva produktif yang digolongkan macet setelah
dikurangi agunan yang dikuasai.
31
4) Penilaian Kualitas Aktiva Produktif (KAP)
Rasio penilaian terhadap Kualitas Aktiva Produktif adalah
sebagai berikut:
a. Perbandingan Aktiva Produktif yang diklasifikasikan terhadap
Total Aktiva Produktif
Aktiva Produktif yang Diklasifikasikan
Rasio KAP 1 = × 100%
Total Aktiva Produktif
Dengan rasio ini maka gagalnya pengambilan kredit yang
mengalami kemacetan dapat diukur. Adapun formulasi rasio ini
menjadi angka kredit yaitu untuk rasio 22,5% atau lebih diberi
kredit 0 untuk setiap penurunan 0,15% mulai dari 22,5% nilai
kredit ditambah 1 dengan maksimal 100.
22,5% − Rasio KAP
Nilai Kredit (NK) = (maksimal 100)
0,15
Bobot yang diberikan untuk penilaian ini adalah sebesar 25% dari
keseluruhan penilaian faktor CAMEL.
b. Perbandingan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP)
yang dibentuk terhadap Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif
yang Wajib Dibentuk (PPAPWD) yang telah ditetapkan oleh Bank
Indonesia.
PPAP
Rasio KAP 2 (PPAP) = × 100%
PPAP yang Wajib Dibentuk
Rasio ini mengukur pemenuhan PPAP yang dibentuk bank
terhadap PPAPWD yang ditetapkan Bank Indonesia sehubungan
32
dengan adanya kewajiban bank untuk membentuk PPAP yang
cukup untuk menutup resiko kemungkinan yang timbul dari
penanaman aktiva produktifnya.
Formulasi rasio ini menjadi nilai kredit ditentukan untuk rasio 0%
mendapat nilai 0 dan setiap kenaikan 1% dimulai dari 0 nilai kredit
ditambah 1 dengan maksimal nilai kredit 100.
Nilai Kredit (murni) = n Rasio x 1
Bobot yang diberikan untuk penilaian komponen ini yaitu 5% dari
keseluruhan penilaian faktor CAMEL.
Hasil penilaian faktor kualitas aktiva produktif terlihat pada Tabel
2.3 di bawah ini:
Tabel 2.3 : Kriteria penilaian tingkat kesehatan faktor KAP
Hasil Rasio
Kriteria
Rasio 1 Rasio 2
Sehat 0,00% − ≤ 10,35% ≥ 81,00%
Cukup Sehat > 10,35% − ≤12,60% ≥ 66,00% − <81,00%
Kurang Sehat > 12,60% − ≤14,85% ≥ 51,00% − <66,00%
Tidak Sehat > 14,85% < 51%
Sumber: SK DIR BI No.30/12/KEP/DIR/97
3. Faktor Manajemen (Management)
Penilaian manajemen merupakan inti dari pengukuran masyarakat
apakah sebuah bank telah berdasarkan asas-asas perbankan yang sehat
(sound banking business) atau dikelola secara tidak sehat. Selain itu
dengan penilaian manajemen maka ketrampilan manajerial dan
profesionalisme perbankan dari pimpinan atau manajer BPR yang
bersangkutan dapat diukur.
33
Menurut SK DIR BI No.30/12/KEP/DIR dan SE BI No.
30/3/UPPB tanggal 30 April 1997 tentang tata cara penilaian tingkat
produktif, manajemen umum, manajemen rentabilitas dan manajemen
likuiditas, penilaian factor manajamen didasarkan pada 25 aspek yang
memberikan penekanan pada manajemen umum ( 10 indikator yang terdiri
dari penilaian strategi/sasaran, struktur, sistem, dan kepemimpinan)
dengan bobot penilaian 10% dan manajemen risiko ( 15 indikator terdiri
dari penilaian risiko likuiditas, risiko kredit, dan risiko operasional)
dengan bobot penilaian 10%.
Tata cara penilaian yaitu dengan menggunakan daftar
pertanyaan/pernyataan (sesuai aspek yang dinilai). Skala penilaian untuk
setiap indikator antara 0 sampai 4 adalah sebagai berikut:
Nilai 0 mencerminkan kondisi lemah
Nilai 1,2,3 mencerminkan kondisi antara
Nilai 4 mencerminkan kondisi baik
Hasil penilaian faktor manajemen terlihat pada Tabel 2.4 di bawah ini:
Tabel 2.4 : Kriteria penilaian tingkat kesehatan faktor manajemen
Kriteria Manajemen Umum Manajemen Risiko
Sehat 35 – 40 49 − 60
Cukup Sehat 27 − < 35 40 − < 49
Kurang Sehat 21 − < 27 31 − < 40
Tidak Sehat 0 − < 21 0 − < 31
Sumber: SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97
34
4. Faktor Rentabilitas (Earning Ability)
Penilaian terhadap faktor rentabilitas didasarkan pada dua rasio.
Rasio pertama adalah rasio laba sebelum pajak terhadap rata-rata volume
usaha yang disebut dengan rasio Return on Asset (ROA). Yang dimaksud
laba sebelum pajak adalah laba yang diperoleh perusahaan 12 bulan
terakhir sebelum dikurangi dengan pajak. Sedangkan rata-rata volume
usaha adalah total volume usaha perusahaan dalam 12 bulan terakhir
dibagi dengan 12 bulan.
Rasio kedua yang digunakan dalam penilaian faktor rentabilitas
adalah rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO).
Biaya operasional adalah seluruh biaya yang dikeluarkan dalam
operasional selama 12 bulan terakhir. Sedangkan pendapatan operasional
adalah pendapatan operasional perusahaan selama 12 bulan terakhir.
1. Rasio Laba Sebelum Pajak terhadap Total Aktiva
Laba Sebelum Pajak
Rasio Rentabilitas 1 (ROA) = × 100%
Rata − rata Volum Usaha
Perhitungan terhadap ROA dilakukan dengan cara rasio sebesar 0%
atau negatif diberi nilai kredit 0 dan untuk setiap kenaikan 0,015%
mulai dari 0% nilai kredit ditambah 1 dengan maksimal 100.
Rasio ROA
Nilai Kredit (NK) = (maksimal 100)
0,015
Bobot untuk penilaian komponen ini adalah 5% dari keseluruhan
penilaian faktor CAMEL.
35
2. Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional
Biaya Operasional
Rasio Rentabilitas 2 (BOPO) = × 100%
Pendapatan Operasional
Perhitungan pada rasio efisiensi BOPO dilakukan dengan cara rasio
100% atau lebih diberi nilai kredit 0 dan untuk setiap penurunan
sebesar 0,08% nilai kredit ditambah 1 sampai dengan maksimal 100.
100 − Rasio BOPO
Nilai Kredit (NK) = (maksimal 100)
0,08
Bobot untuk penilaian komponen ini adalah 5% dari keseluruhan
penilaian faktor CAMEL.
Hasil penilaian faktor rentabilitas terlihat pada Tabel 2.5 di bawah ini:
Tabel 2.5 Kriteria penilaian tingkat kesehatan faktor rentabilitas
Hasil Rasio
Kriteria
Rasio 1 Rasio 2
Sehat > 1,215% ≤ 93,52%
Cukup Sehat > 0,999% − ≤ 1,215% > 93,52% − ≤ 94,72%
Kurang Sehat > 0,765% − ≤ 0,999% > 94,72% − ≤ 95,92%
Tidak Sehat ≤ 0,765% > 95,92%
Sumber: SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97
5. Faktor Likuiditas (Liquidity)
Suatu bank dikatakan likuid apabila bank yang bersangkutan
dapat memenuhi kewajiban hutang-hutangnya, dapat membayar semua
deposantnya, serta dapat memnuhi permintaan kredit yang diajukan tanpa
terjadi penangguhan (Mulyono, 1995:79). Oleh karena itu bank dikatakan
likuid apabila:
1. Bank tersebut memiliki cash assets sebesar kebutuhan yang akan
digunakan untuk memenuhi likuiditasnya.
36
2. Bank tersebut memiliki cash assets yang lebih kecil dari butir satu
diatas, tetapi yang bersangkutan juga mempunyai assets lain
(khususnya surat-surat berharga) yang dapat dicairkan sewaktu-waktu
tanpa mengalami penurunan nilai pasarnya.
3. Bank tersebut mempunyai kemampuan untuk menciptakan cash asset
baru melalui berbagai bentuk hutang.
Penilaian terhadap faktor likuiditas menggunakan dua rasio yang
dapat ditampilkan dalam rumus sebagai berikut:
1. Perbandingan antara Alat Likuid terhadap Hutang Lancar (Cash Ratio)
Cash Ratio adalah rasio alat likuid terhadap hutang lancar
yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam membayar
hutang lancarnya dengan menggunakan alat likuidnya.
Alat Liquid
Rasio Likuiditas 1 (Cash Rasio) = × 100%
Hutang Lancar
Yang dimaksud dengan alat likuid disini adalah kas,
penanaman pada bank lain dalam bentuk giro dan tabungan yang sudah
dikurangi dengan tabungan bank lain. Hutang lancar yang dimaksud
adalah kewajiban segera yaitu tabungan dan deposito berjangka. Rasio
ini menunjukan kemampuan bank untuk membayar kewajiban-
kewajiban yang sudah jatuh tempo dengan cash assets yang
dimilikinya.
Rasio CR
Nilai Kredit (NK) = (maksimal 100)
0,05
37
Formulasi ini menjadi nilai kredit yaitu 0% mendapat nilai
kredit 0, dan dari setiap kenaikan 0,05 nilai kredit ditambah 1 dengan
maksimal 100.
Bobot untuk penilaian komponen ini ditetapkan sebesar 5%
dari keseluruhan penilaian faktor CAMEL.
2. Perbandingan antara Kredit yang Diberikan terhadap Dana yang
Diterima oleh Bank (Loan to Deposi Ratio/LDR).
LDR adalah rasio antara seluruh jumlah kredit yang diberikan
bank dengan dana yang diterima oleh bank. Rasio ini menyatakan
seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan
dana yang dilakukan deposan dengan mengendalikan kredit yang
diberikan sebagai sumber likuiditasnya.
Kredit yang Diberikan
Rasio Likuiditas 2 (LDR) = × 100%
Dana yang Diterima Bank
Kredit yang dimaksud perhitungan ini meliputi:
a. Kredit yang diberikan kepada masyarkat dikurangi dengan bagian
kredit sindikasi yang dibiayai oleh bank lain.
b. Penanaman kepada bank lain dalam bentuk kredit yang diberikan
dengan jangka waktu lebih dari 3 bulan.
c. Penanaman kepada bank lain dalam bentuk kredit yang diberikan
dalam rangka kredit sindikasi.
38
Dana yang diterima oleh bank meliputi:
a. Deposito dan tabungan masyarakat
b. Pinjaman bukan dari bank lain dengan jangka waktu lebih dari 3
bulan (di luar pinjaman subordinasi).
c. Deposito dan pinjaman dari bank lain dengan jangka waktu lebih
dari 3 bulan.
d. Modal inti.
e. Modal pinjaman.
Perhitungan terhadap rasio likuiditas 2 dilakukan dengan cara rasio
sebesar 115% atau lebih diberi nilai kredit 0 dan untuk penurunan
sebesar 1% mulai dari 115% nilai kredit ditambah 4 dengan maksimal
100.
Nilai kredit = (115 – Rasio LDR) x 4
Bobot untuk komponen ini ditetapkan sebesar 5% dari keseluruhan
faktor CAMEL.
Hasil penilaian faktor likuiditas terlihat pada Tabel 2.6 di bawah ini:
Tabel 2.6 : Kriteria penilaian tingkat kesehatan faktor likuiditas
Hasil Rasio
Kriteria
Rasio 1 Rasio 2
Sehat > 4,05% ≤ 94,75%
Cukup Sehat > 3,30% − ≤ 4,05% > 94,75% − ≤ 98,5%
Kurang Sehat > 2,55% − ≤ 3,30% > 98,5% − ≤ 102,25%
Tidak Sehat ≤ 2,55% > 102,25%
Sumber: SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97
39
2.5 Manfaat Penilaian Kesehatan Bank
Dalam pemeriksaan bank, sebagai implikasi terhadap fungsi
pengawasan oleh Bank Indonesia, dikaitkan dengan ketentuan penilaian
tingkat kesehatan bank ini pada prinsipnya merupakan kepentingan pemilik
dan pengelola bank, masyarakat pengguna jasa bank maupun bagi pengawas
dan pembina bank.
Ketentuan penilaian tingkat kesehatan bank, bank dimaksudkan untuk
dapat dipergunakan sebagai:
1. Standar bagi manajemen bank untuk menilai apakah pengelolan bank telah
sesuai dengan asas-asas perbankan yang sehat dan ketentuan-ketentuan
yang berlaku
2. Standar untuk menetapkan arah pembinaan dan pengembangan bank secara
individual maupun untuk industri perbankan secara keseluruhan.
2.6 Kerangka Berfikir
Bank merupakan lembaga perantara (intermediary) antara pemilik
dana (lenders) dengan pemakai dana (borrowers). Sebagai perantara maka
bank akan menggantikan peran pemilik dana, apabila dana yang dipakai tidak
kembali baik pada saat jatuh tempo maupun karena pemakai dana tidak
mengembalikannya. Di sisi lain bank juga bertindak sebagai pemakai dana
berarti bank akan menggantikan peran pemakai dana untuk dapat memakai
dana setiap saat diperlukan. Hubungan antara pihak bank dan pihak para
pemakai jasa bank tentu harus terjaga untuk menjamin kelangsungan usaha
40
bank tersebut. Pentingnya menjaga kepercayaan kepada para pemakai jasa,
bank harus mampu menjaga tingkat kesehatannya untuk menjaga
kelangsungan usahanya.
Pentingnya kesehatan suatu bank didasarkan pada pertimbangan
bidang usaha bank yang merupakan lembaga kepercayaan masyarakat, dimana
kegunaan utamanya sebagai penyalur dana masyarakat. Kesehatan suatu bank
dalam hal ini adalah PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal merupakan
kepentingan semua pihak yang terkait, baik pemilik dan pengelola, masyarakat
pengguna jasa bank, maupun Bank Indonesia selaku pembina dan pengawas
bank. Penilaian tingkat kesehatan bank sangat penting dilakukan karena bank
harus selalu memperhatikan asas kehati-hatian agar dapat terhindar dari
masalah-masalah yang dapat mengancam kelangsungan hidup usaha bank.
Penilaian tingkat kesehatan bank dilakukan dengan maksud untuk
menilai sejauh mana kelayakan usaha dan kelangsungan hidup BPR.
Pentingnya penilaian tingkat kesehatan bank ini ditegaskan dalam UU No. 10
Tahun 1998 pasal 29 ayat 2 yang menyatakan bahwa bank wajib memelihara
tingkat kesehatan bank sesuai dengan ketentuan kecukupan modal, kualitas
asset, kualitas manajemen, likuiditas, rentabilitas, solvabilitas dan aspek lain
yang berhubungan dengan usaha bank, dan wajib melakukan kegiatan usaha
sesuai dengan prinsip kehati-hatian.
Adapun analisis tingkat kesehatan bank itu sendiri dilakukan sesuai
dengan Surat Keputusan Direktur Bank Indonesia No. 30/12/KEP/DIR/97 dan
Surat Edaran Bank Indonesia No. 30/3/UPPB/97 tanggal 30 April 1997
41
tentang Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat,
yaitu dengan cara menilai faktor permodalan, kualitas aktiva produktif,
manajemen, rentabilitas, dan likuiditas atau yang disebut CAMEL. Penilaian
tingkat kesehatan itu sendiri didasarkan pada ketentuan perhitungan rasio atas
berbagai faktor dan komponen yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia.
Rasio yang diperoleh dari hasil penilaian faktor dan komponen tersebut
selanjutnya diberi kredit 0 sampai dengan 100. Nilai kredit yang diperoleh dari
hasil kuantifikasi digunakan untuk menentukan predikat kesehatan dari BPR
yang meliputi sehat, cukup sehat, kurang sehat, dan tidak sehat.
42
Permodalan Rasio CAR
(Capital)
KA P Rasio KAP
(Assets) Rasio PPAP
Predikat T K S
Laporan SK DIR BI No.30/12/KEP/DIR Aspek Manajemen Manaj. Umum PD.BPR Sehat,
Keuangan SE BI No.30/3/UPPB CAMEL (Management) Manaj. Resiko Bank Pasar Cukup Sehat,
Kab. Tegal Kurang Sehat,
Rentabilitas Rasio ROA Tidak Sehat.
(Earning) Rasio BOPO
Likuiditas Cash Ratio
(Liquidity) LDR
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir
43
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan oleh penulis pada PD. BPR Bank Pasar
Kabupaten Tegal yang beralamat di Jalan Ahmad Yani No.11 Slawi
Telp./Fax. 491570-3321111 Tegal. Perusahaan daerah ini merupakan
lembaga perbankan milik Pemerintah Daerah yang kegiatan usahanya
melaksanakan dan memperluas pemberian pinjaman bagi pedagang,
pengusaha golongan ekonomi lemah yang produktif dan pegawai negeri
maupun swasta serta para bakul di pasar-pasar dan di desa-desa dalam rangka
meningkatkan taraf hidup masyarakat.
3.2 Objek Penelitian
Objek kajian dalam penelitian ini adalah tingkat kesehatan PD.
BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal yang diukur dari faktor CAMEL (Capital,
Assets Quality, Management, Earning, Liquidity).
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Data Primer
Data primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara
langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara). Dalam
43
44
penelitian ini data primer merupakan hasil interview dan observasi
langsung yang dilakukan pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal,
yang berupa:
a. Hasil pengisian 25 pertanyaan tentang manajemen terlampir.
b. Wawancara dengan direktur dan bagian keuangan pada PD. BPR
Bank Pasar Kabupaten Tegal tentang kebijakan perusahaan dalam
menjaga kesehatan bank terlampir.
2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh peneliti
secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat oleh
pihak lain). Dalam penelitian ini data sekunder diperoleh berupa laporan
keuangan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal Tahun 2004-2006
terlampir.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini,
maka metode pengumpulan data yang digunakan adalah:
1. Metode Dokumentasi
Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data sekunder
sebagai pendukung data primer. Metode ini dilakukan dengan cara
mengumpulkan data laporan keuangan pada PD. BPR Bank Pasar
Kabupaten Tegal Tahun 2004-2006, untuk mengetahui aspek permodalan,
kualitas aktiva produktif, manajemen, rentabilitas dan likuiditasnya.
45
2. Metode Kuisioner atau Angket
Kuisioner atau Angket yaitu daftar isian atau pertanyaan yang
harus dijawab (diisi) oleh para responden berkaitan dengan data yang
diperlukan dalam penelitian.
Indikator dalam penilaian manajemen meliputi:
1. Manajemen Umum
a. Strategi/ sasaran
b. Struktur
c. Sistem
d. Kepemimpinan
2. Manajemen Risiko
a. Risiko Likuiditas
b. Risiko Kredit
c. Risiko Operasional
d. Hukum
e. Risiko pemilik/ pengurus
3. Metode Wawancara
Metode wawancara adalah suatu bentuk komunikasi verbal jadi
semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi (Nasution
1994:114). Dalam wawancara pertanyaan dan jawaban diberikan secara
verbal. Biasanya komunikasi ini dilaksanakan dalam keadaan saling
berhadapan, namun komunikasi dapat juga dilaksanakan melalui telepon.
Metode ini dilakukan dengan cara tanya jawab secara langsung dengan
46
direktur dan bagian keuangan pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten
Tegal untuk memperoleh informasi yang lengkap mengenai
perkembangan usaha dalam rangka menjaga kepercayaan mayarakat
terhadap bank dan menjaga agar bank tetap sehat.
4. Metode Kepustakaan
Metode penelitian yang dilakukan dengan mempelajari buku-
buku, referensi, laporan-laporan, peraturan-peraturan, catatan-catatan
kuliah, jurnal dan sumber lainnya yang berkaitan dengan masalah yang
akan dibahas dalam tugas akhir ini. Metode ini digunakan untuk
mendapatkan data yang diperlukan terutama dalam pembahasan dan
untuk membandingkan dengan permasalahan yang sebenarnya sehingga
penulis memiliki landasan teori yang cukup kuat dalam menarik
kesimpulan.
3.5 Metode Analisis Data
3.5.1 Analisis Kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang sifatnya hanya
menggolongkan saja, termasuk dalam klasifikasi data yang berskala
ukur nominal dan ordinal (Dergibson Siagian dkk, 2002:17).
Analisis kuantitatif yaitu suatu cara untuk menghitung yang
digambarkan dengan angka dan jumlah tertentu atau dengan
perhitungan angka yang diproses. Dalam penelitian ini analisis
ditekankan pada tujuh rasio dari empat komponen:
47
a. Permodalan (Capital)
Modal Sendiri Bank (Equity Fund) adalah sejumlah uang
tunai yang telah disetorkan pemilik dan sumber-sumber lainnya
yang berasal dari dalam bank itu sendiri; terdiri dari modal inti dan
modal pelengkap.
Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) yaitu pos-pos
aktiva yang diberikan bobot risiko yang terkandung pada aktiva itu
sendiri atau bobot resiko yang didasarkan pada golongan nasabah,
peminjam atau sifat barang jaminan.
Ketentuan rasio antara modal dan ATMR biasa disebut
Capital Adequancy Ratio (CAR) atau Rasio Kecukupan Modal
merupakan analisis solvabilitas untuk mendukung kegiatan bank
secara efisien dan mampu menyerap kerugian-kerugian yang tidak
dapat dihindarkan serta apakah kekayaan bank semakin bertambah
atau semakin berkurang. Analisis ini juga berguna untuk
menunjukkan kemampuan BPR dalam memenuhi segala kewajiban
finansialnya baik berupa utang jangka pendek maupun utang jangka
panjang.
Modal (Inti + Pelengkap)
Rasio Permodalan (CAR) = × 100%
ATMR
Formulasi rasio dalam nilai kredit:
Rasio CAR
Nilai Kredit (NK) = + 1 (maksimal 100)
0,1
48
Nilai kredit dihitung sebagai berikut:
Untuk rasio permodalan 0% memiliki nilai kredit 0. Setiap kenaikan
0,1% nilai kredit ditambah 1 dengan maksimal 100, kemudian skor
diperoleh dengan cara mengalikan nilai kredit dengan bobot.
Bobot yang diberikan untuk penilaian ini adalah sebesar 25% dari
keseluruhan penilaian faktor CAMEL.
b. Kualitas Aktiva Produktif (Assets Quality)
Rasio penilaian terhadap Kualitas Aktiva Produktif adalah sebagai
berikut:
1) Perbandingan Aktiva Produktif yang diklasifikasikan terhadap
Total Aktiva Produktif.
Aktiva Produktif yang Diklasifikasikan
Rasio KAP 1 = × 100%
Total Aktiva Produktif
Dengan rasio ini maka gagalnya pengambilan kredit yang
mengalami kemacetan dapat diukur. Adapun formulasi rasio ini
menjadi angka kredit yaitu untuk rasio 22,5% atau lebih diberi
kredit 0 untuk setiap penurunan 0,15% mulai dari 22,5% nilai
kredit ditambah 1 dengan maksimal 100.
22,5% − Rasio KAP
Nilai Kredit (NK) = (maksimal 100)
0,15
Bobot yang diberikan untuk penilaian ini adalah sebesar 25%
dari keseluruhan penilaian faktor CAMEL.
49
2) Perbandingan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP)
yang dibentuk terhadap Penyisihan Penghapusan Aktiva
Produktif yang wajib dibentuk (PPAPWD).
PPAP
Rasio KAP 2 (PPAP) = × 100%
PPAP yang Wajib Dibentuk
Rasio ini mengukur pemenuhan PPAP yang dibentuk bank
terhadap PPAPWD yang ditetapkan Bank Indonesia sehubungan
dengan adanya kewajiban bank untuk membentuk PPAP yang
cukup untuk menutup resiko kemungkinan yang timbul dari
penanaman aktiva produktifnya.
Formulasi rasio ini menjadi nilai kredit ditentukan untuk rasio
0% mendapat nilai 0 dan setiap kenaikan 1% dimulai dari 0 nilai
kredit ditambah 1 dengan maksimal nilai kredit 100.
Nilai Kredit (murni) = n Rasio x 1
Bobot yang diberikan untuk penilaian ini adalah sebesar 25%
dari keseluruhan penilaian faktor CAMEL
c. Rentabilitas (Earning)
Penilaian terhadap faktor Rentabilitas menggunakan dua rasio yang
dapat ditampilkan dalam rumus sebagai berikut:
1) Rasio Laba Sebelum Pajak Terhadap Total Aktiva
Laba Sebelum Pajak
Rasio Rentabilitas 1 (ROA) = × 100%
Rata − rata Volum Usaha
Perhitungan terhadap ROA dilakukan dengan cara rasio sebesar
0% atau negatif diberi nilai kredit 0 dan untuk setiap kenaikan
50
0,015% mulai dari 0% nilai kredit ditambah 1 dengan maksimal
100.
Rasio ROA
Nilai Kredit (NK) = (maksimal 100)
0,015
Bobot untuk penilaian komponen ini adalah 5% dari keseluruhan
penilaian faktor CAMEL.
2) Rasio Biaya Operasional Terhadap Pendapatan Operasional
Biaya Operasional
Rasio Rentabilitas 2 (BOPO) = × 100%
Pendapatan Operasional
Perhitungan pada rasio efisiensi BOPO dilakukan dengan cara
rasio 100% atau lebih diberi nilai kredit 0 dan untuk setiap
penurunan sebesar 0,08% nilai kredit ditambah 1 sampai dengan
maksimal 100.
100 − Rasio BOPO
Nilai Kredit (NK) = (maksimal 100)
0,08
Bobot untuk penilaian komponen ini adalah 5% dari keseluruhan
penilaian faktor CAMEL.
d. Likuiditas (Liquidity)
Penilaian terhadap faktor Likuiditas menggunakan dua rasio yang
dapat ditampilkan dalam rumus sebagai berikut:
1) Perbandingan antara Alat Liquid terhadap Hutang Lancar (Cash
Ratio)
Alat Liquid
Rasio Liquiditas 1 (Cash Rasio) = × 100%
Hutang Lancar
51
Untuk resiko likuiditas 1 sebesar 0% nilai kredit 0, untuk setiap
kenaikan 0,05% nilai kredit ditambah 1 dengan maksimal 100
Rasio CR
Nilai Kredit (NK) = (maksimal 100)
0,05
Bobot untuk penilaian komponen ini adalah 5% dari keseluruhan
penilaian faktor CAMEL.
2) Perbandingan antara Kredit yang Diberikan Terhadap Dana yang
Diterima oleh Bank (Loan to Deposi Ratio/LDR).
Kredit yang Diberikan
Rasio Likuiditas 2 (LDR) = × 100%
Dana yang Diterima Bank
Untuk risiko likuiditas 2 sebesar 115% atau lebih, nilai kredit 0
dan untuk setiap penurunan 115% nilai kredit ditambah 4
dengan maksimal 100.
Nilai Kredit (NK) = (115 - Rasio LDR) x 4 (maksimal 100)
Bobot untuk penilaian komponen ini adalah 5% dari keseluruhan
penilaian faktor CAMEL.
Oleh Bank Indonesia gabungan faktor-faktor CAMEL dimana
besarnya bobot untuk masing-masing faktor dapat dilihat pada
Tabel 3.1:
52
Tabel 3.1 Bobot Penilaian Tingkat Kesehatan BPR
Faktor yang Komponen Bobot
Dinilai
Permodalan Rasio modal terhadap aktiva tertimbang 30%
menurut risiko (ATMR)
Kualitas Aktiva • Rasio aktiva produktif yang 25%
Produktif diklasifikasikan terhadap jumlah
aktiva produktif
• Rasio cadangan penghapusan aktiva 5%
terhadap jumlah aktiva yang
diklasifikasikan
Manajemen • Manajemen umum 10%
• Manajemen risiko 10%
Rentabilitas • Rasio laba terhadap rata-rata volume 5%
usaha
• Rasio biaya operasional terhadap 5%
pendapatan operasional
Likuiditas • Rasio alat likuid terhadap hutang 5%
lancar
• Rasio kredit yang diberikan terhadap 5%
dana yang diterima bank
Sumber: SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97
3.5.2 Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif adalah analisis yang tidak didasarkan pada
perhitungan perhitungan statistik yang berbentuk kuantitatif (jumlah)
akan tetapi dalam bentuk pernyataan dan uraian yang selanjutnya akan
disusun secara sistematis. Penilaian manajemen merupakan inti dari
pengukuran masyarakat apakah sebuah bank telah berdasarkan asas-
asas perbankan yang sehat (sound banking business) atau dikelola
secara tidak sehat. Selain itu dengan penilaian manajemen maka
ketrampilan manajerial dan profesionalisme perbankan dari pimpinan
atau manajer BPR yang bersangkutan dapat diukur.
53
Penilaian manajemen didasarkan pada hasil penilaian
jawaban pertanyaan dari komponen manajemen yang secara
keseluruhan berjumlah 25. Skor diperoleh dengan mengalikan masing-
masing indikator dengan bobot. Penilaian didasarkan pada dua aspek,
yaitu:
1) Manajemen umum (10 indikator) terdiri dari penilaian:
a. Strategi/ sasaran 1 indikator
b. Struktur 2 indikator
c. Sistem 4 indikator
d. Kepemimpinan 3 indikator
2) Manajemen risiko (15 indikator) terdiri dari penilaian:
a. Risiko likuiditas 2 indikator
b. Risiko kredit 3 indikator
c. Risiko operasional 3 indikator
d. Hukum 3 indikator
e. Risiko pemilik/pengurus 4 indikator
Tata cara penilaian manajemen yaitu dengan menggunakan
daftar pertanyaan/pernyataan (sesuai aspek yang dinilai). Skala
penilaian untuk setiap indikator antara 0 sampai 4 adalah sebagai
berikut:
Nilai 0 mencerminkan kondisi lemah.
Nilai 1,2,3 mencerminkan kondisi antara.
Nilai 4 mencerminkan kondisi baik.
54
Penilaian aspek manajemen dilakukan dengan menggunakan
sistem nilai kredit atau reward system yang dinyatakan dalam nilai
kredit 0 sampai 100. Bobot penilaiannya terlihat pada Tabel 3.2:
Tabel 3.2 Bobot Penilaian Tingkat Kesehatan Manajemen
Faktor yang dinilai Komponen Bobot
Manajemen a. Manajemen umum(10 indikator) 10%
b. Manajemen risiko (15 indikator) 10%
Jumlah 20%
Sumber: SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Objek Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
Dinamika perekonomian di wilayah Karesidenan Pekalongan saat ini tidak
lepas daripada perkembangan perbankan nasional yang sejak Paket Oktober (Pakto)
1988 menunjukkan perkembangan yang saat sangat pesat. Hal ini terlihat pada
peningkatan jumlah BPR yang jumlahnya semakin bertambah terus dari tahun ke tahun.
Peningkatan jumlah BPR tersebut, diharapkan memperluas jaringan usaha
penghimpunan dana masyarakat dan penyaluran dana kepada masyarakat terutama
pengusaha ekonomi lemah yang produktif yang beroperasi baik di pedesaan maupun di
perkotaan.
Selanjutnya terdapat langkah-langkah pengelompokkan BPR, yaitu: BPR gaya
lama dan BPR gaya baru, BPR sebelum Pakto dan setelah Pakto serta BPR BKD dan
BPR non BKD. Namun pada pembahasan ini, pengelompokkan BPR didasarkan pada
aspek kepemilikan BPR yaitu: BPR yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah dan BPR
yang dimiliki swasta.
BPR yang dimiliki Pemeritah Daerah terdiri dari PD. BPR Bank Pasar dan
BPR BKK. Komposisi kepemilikan untuk PD. BPR Bank Pasar 100% sahamnya
merupakan milik Pemerintah Daerah Kabupaten atau Kota, sedangkan BPR BKK
dengan komposisi 50% milik Pemerintah Provinsi, 35% milik Pemerintah Kabupaten
55
57
atau Kota dan 15% milik Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jawa Tengah. Sedangkan
bagi BPR swasta kepemilikan dan pendiriannya 100% dimiliki oleh pihak swasta.
4.1.2 Sejarah Berdirinya PD. Bank Pasar Kabupaten Tegal
Pengelolaan BPR Pasar Kabupaten Tegal mengalami 5 (lima) kali perubahan
dan yang terakhir berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Tegal
Nomor 3 Tahun 1998 tentang Perubahan Pertama Peraturan Daerah Nomor 17 Tahun
1994 tentang Perusahaan Daerah BPR Bank Pasar Kabupaten Daerah Tingkat II Tegal
yang telah disahkan oleh Gubernur Jawa Tengah Nomor 188.3/130/1998 pada tanggal
13 Mei 1998.
BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal sebelumnya merupakan Seksi Komisi dari
Dinas Pendapatan Daerah (Dipenda) Kabupaten Tegal, selanjutnya diupayakan untuk
menjadi Badan Usaha Milik Daerah yang berdiri sendiri. Setelah Surat Keputusan
Menteri Keuangan RI tentang izin usaha sebagai Bank Pasar turun, mulai tanggal 1
April 1982 PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal melepaskan diri dari Dipenda hingga
sekarang.
Untuk melanjutkan usaha, BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal telah
memperoleh izin dari Menteri Keuangan RI Nomor: S-429/11/1981 pada tanggal 7
Desember 1981. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal sebelumnya merupakan Seksi
Komisi dari Dinas Pendapatan Daerah (Dipenda) Kabupaten Tegal, selanjutnya
diupayakan untuk menjadi Badan Usaha Milik Daerah yang berdiri sendiri. Setelah
Surat Keputusan Menteri Keuangan RI tentang izin usaha sebagai Bank Pasar turun,
58
mulai tanggal 1 April 1982 PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal melepaskan diri dari
Dipenda hingga sekarang.
Sebagai tindak lanjut telah diundangkanya pada Lembaran Daerah Nomor 15
tanggal 14 Mei 1998 tersebut, PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal secara langsung
telah mendukung program pemerintah yaitu ikut berpartisipasi dalam pengentasan
kemiskinan di wilayah Kabupaten Tegal dengan memperluas pemberian pinjaman bagi
pedagang, pengusaha golongan ekonomi lemah yang produktif dan pegawai negeri
maupun pegawai swasta serta para bakul di pasar-pasar dan di desa-desa. Sebagai
bentuk usaha Perusahaan Daerah, BPR Bank Pasar memberikan pembagian laba kepada
Pemda Dati II Tegal sebesar 40% dari laba setelah pajak untuk setoran ke kas daerah
sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah Sendiri (PDAS).
Perkembangan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dari tahun ke tahun
telah mengalami peningkatan pelayanan yang lebih baik dan telah melaksanakan
pemberdayaan melalui peningkatan pendidikan sehingga mampu mengikuti
perkembangan sumber daya manusia dengan menggunakan sistem teknologi informasi,
memperbaiki kinerja dan manajemen pengelolaan. Keberadaan PD. BPR Bank Pasar
Tegal melalui pelayanannya juga mulai terlihat dapat diterima di semua lapisan
masyarakat terutama bagi masyarakat yang menanamkan dananya maupun bagi para
peminjam baik dari pengusaha maupun karyawan.
4.1.3 Struktur Organisasi PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
Struktur organisasi menunjukkan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap
hubungan-hubungan diantara fungsi-fungsi, bagian-bagian atau posisi-posisi maupun
59
orang-orang yang menunjukkan kedudukan, tugas wewenang dan tanggung jawab yang
berbeda-beda dalam suatu organisasi.
Struktur organisasi merupakan garis yang menghubungkan bagian kedudukan
pegawai-pegawai mulai dari tingkat yang atas sampai dengan yang bawah. Dengan cara
ini, maka akan terbina sistem tata kerja yang kokoh dan teratur sesuai dengan job
description dari apa yang digariskan manajemen.
Dalam menentukan struktur organisasi sangat tergantung pada besar kecilnya
BPR harus disesuaikan dengan penggolongan tipe BPR. Struktur organisasi PD. BPR
Bank Pasar Kabupaten Tegal yang masih berlaku disesuaikan dengan jumlah asset
BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal adalah sebagai berikut:
60
Halamabbbbn
untuk bagan
61
4.1.4 Tugas dan Wewenang pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
Adapun tugas tanggung jawab masing-masing dalam struktur organisasi
sebagai berikut :
1. Dewan Pengawas
Dewan pengawas mempunyai tugas menetapkan kebijaksanaan umum,
menjalankan pengawasan, pengendalian dan pembinaan terhadap pengelolaan BPR.
Untuk melaksanakan tugas tersebut Dewan Pengawas mempunyai fungsi :
a. Menyusun tata cara pengawasan dan pengelolaan BPR.
b. Melakukan pengawasan atas pengurusan BPR.
c. Menggariskan kebijakan anggaran dan keuangan BPR.
d. Membantu dan mendorong usaha pembinaan dan pengembangan BPR.
2. Direksi
Direksi mempunyai tugas menyusun perencanaan, melakukan koordinasi dalam
pelaksanaan tugas antara anggota Direksi dan melakukan pembinaan serta
pengendalian terhadap Bagian/Subag/Unit Pelayanan berdasarkan azas
keseimbangan dan keserasian. Untuk melaksanakan tugas tersebut Direksi
mempunyai fungsi :
a. Memimpin BPR berdasarkan kebijaksanaan umum yang ditetapkan oleh Dewan
Pengawas.
b. Menetapkan kebijaksanaan untuk melaksanakan pengurusan dan pengelolaan
BPR berdasarkan kebijaksanaan umum yang ditetapkan oleh Dewan Pengawas.
c. Menyusun dan menyampaikan rencana kerja tahunan dan anggaran BPR kepada
Kepala Daerah atau melalui Dewan Pengawas yang meliputi kebijaksanaan di
62
bidang organisasi, perencanaan, perkreditan, keuangan, kepegawaian umum dan
pengawasan untuk mendapat pengesahan.
d. Menyusun dan menyampaikan laporan perhitungan hasil usaha berkala dan
kegiatan BPR tiap-tiap 3 (tiga) bulan sekali kepada Kepala Daerah atau melalui
Dewan Pengawas.
e. Menyusun dan menyampaikan laporan tahunan yang terdiri atas neraca dan
perhitungan laba rugi BPR kepada Kepala Daerah atau melalui Dewan
Pengawas, untuk mendapat pengesahan.
Direksi terdiri dari :
a. Direktur Utama
b. Direktur
Pembagian tugas antara Direktur utama dan Direktur ditetapkan dengan keputusan
direksi, setelah mendapat persetujuan Dewan Pengawas.
3. Satuan Pengawas Intern
Satuan Pengawas Intern mempunyai tugas melaksanakan pengawasan intern atas
kegiatan-kegiatan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal. Sedangkan untuk
melaksanakan tugas tersebut, Satuan Pengawasan Intern mempunyai fungsi sebagai
berikut :
a. Melakukan pengawasan atas pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja
PD. BPR Bank Pasar, menyelenggarakan tata kerja dan prosedur dari unit-unit
organisasi di kantor pusat maupun cabang/unit pelayanan menurut ketentuan
yang berlaku serta pengawasan keamanan dan ketertiban PD. BPR Bank Pasar
Kabupaten Tegal.
63
b. Mengawasi dan memberikan penelitian terhadap kegiatan operasional PD. BPR
Bank Pasar secara berkala.
c. Melakukan audit atas administrasi keuangan dan pengelolaan penggunaan dana
seluruh kekayaan milik PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal.
d. Mengadakan supervisi atas cabang/unit pelayanan.
e. Mengadakan supervisi atas agunan dan lain-lain jaminan yang diterima oleh PD.
BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal.
f. Memberikan saran dan pertimbangan tentang langkah-langkah dan atau
tindakan-tindakan yang perlu diambil di bidang tugasnya.
4. Bagian Umum
Bagian Umum mempunyai tugas merencanakan, mengkoordinasikan, dan
mengevaluasi serta melaporkan kebijaksanaan penyelenggaraan kegiatan
ketatausahaan, data elektronik dan kerumahtanggaan. Untuk melaksanakan tugas
tersebut, bagian umum mempunyai fungsi sebagai berikut :
a. Melakukan koordinasi, pengawasan dan pengarahan terhadap kegiatan dan
pelaksanaan tugas sub bagian di bawahnya.
b. Melakukan urusan surat menyurat dan kearsipan.
c. Melakukan perencanaan kebutuhan pegawai dan pendidikan pegawai.
d. Melakukan pengadaan peralatan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal.
e. Melakukan pemeliharaan barang-barang inventaris.
f. Memberikan saran dan pertimbangan tentang langkah-langkah dan atau
tindakan-tindakan yang perlu diambil di bidang tugasnya .
Bagian Umum terdiri dari :
64
a. Sub Bagian Tata Usaha
b. Sub Bagian Data Elektronik
c. Sub Bagian Rumah Tangga
5. Bagian Kredit
Bagian Kredit mempunyai tugas melakukan penyaluran dana dan pemberian kredit
kepada nasabah. Untuk melaksanakan tugas tersebut, Bagian Kredit mempunyai
fungsi sebagai berikut :
a. Melakukan koordinasi pengawasan dan pengarahan terhadap kegiatan dan
pelaksanaan tugas sub bagian di bawahnya.
b. Memberikan penjelasan tentang syarat-syarat dan prosedur kredit kepada para
calon nasabah.
c. Melakukan penelitian syarat-syarat dan mengadakan analisis kredit.
d. Memberikan keputusan kredit sebagaimana yang telah ditentukan oleh Direksi.
e. Mengusulkan kepada Direksi terhadap permohonan kredit di atas
kewenangannya.
f. Melakukan administrasi kredit, mempersiapkan dan meneliti perjanjian kredit.
g. Bertanggung jawab atas penyimpangan dan pemeliharaan dokumen penting
yang berkenaan dengan tugasnya.
h. Melakukan perencanaan kredit.
i. Memberikan saran dan pertimbangan tentang langkah-langkah dan atau
tindakan-tindakan yang perlu diambil di bidang tugasnya.
Bagian Kredit terdiri dari :
a. Sub Bagian Kredit Usaha Kecil
65
b. Sub Bagian Kredit Investasi
c. Sub Bagian Kredit Kosumsi
d. Sub Bagian Progaram Hubungan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dengan
kelompok (PHBK)
6. Bagian Dana
Bagian Dana mempunyai tugas mengusahakan dan mengkoordinasikan
pengembangan dana PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal. Untuk melaksanakan
tugas tersebut, Bagian Dana mempunyai fungsi sebagai berikut :
a. Melakukan koordinasi, pengawasan dan pengarahan pelaksanaan sub bagian di
bawahnya.
b. Melakukan pengembangan dana.
c. Melakukan administrasi keluar masuk dana.
d. Meneliti dan menandatangani voucher laporan mutasi dana.
e. Memberikan saran dan pertimbangan tentang langkah-langkah dan atau
tindakan-tindakan yang perlu diambil di bidang tugasnya.
Bagian Dana terdiri dari :
a. Sub Bagian Deposito
b. Sub Bagian Tabungan
c. Sub Bagian Simpanan Lain
7. Bagian Kas
Bagian Kas mempunyai tugas melakukan koordinasi kegiatan pemasukan dan
pengeluaran keuangan. Untuk melakukan tugas tersebut, Bagian Kas mempunyai
fungsi sebagai berikut :
66
a. Melakukan koordinasi, pengawasan dan mengesahkan terhadap kegiatan dan
pelaksanaan tugas sub bagian di bawahnya.
b. Melakukan penelitian kebenaran laporan kas harian.
c. Melakukan penyediaan pengeluaran cek untuk Direksi.
d. Pemegang kunci kas.
e. Memberikan saran dan pertimbangan tentang langkah-langkah dan atau
tindakan-tindakan yang perlu diambil di bidang tugasnya.
Bagian kas terdiri dari:
a. Sub Bagian Kas
b. Sub Bagian Administrasi Kas
8. Bagian Pembukuan
Bagian Pembukuan mempunyai tugas melaksanakan pembukuan dan menerima
laporan-laporan dari bagian-bagian lain. Untuk melakukan tugas tersebut, Bagian
Pembukuan mempunyai fungsi sebagai berikut:
a. Melakukan koordinasi, pengawasan dan pengarahan terhadap kegiatan dan
pelaksanaan tugas sub bagian di bawahnya.
b. Melakukan pembukuan dari laporan setiap bagian.
c. Melakukan evaluasi dari laporan-laporan setiap bagian.
d. Memberikan saran dan pertimbangan tentang langkah-langkah dan atau
tindakan-tindakan yang perlu diambil di bidang tugasnya.
Bagian Pembukuan terdiri dari :
a. Sub Bagian Aggaran dan Laporan
b. Sub Bagian Pembukuan
67
9. Bagian Pembinaan Nasabah
Bagian Pembinaan Nasabah mempunyai tugas melakukan koordinasi dengan bagian
lain yang berhubungan dengan pembinaan nasabah. Untuk melakukan tugas
tersebut, Bagian Pembinaan Nasabah mempunyai fungsi sebagai berikut :
a. Melakukan usaha kolektibiliti yang tinggi.
b. Menjaga dan mengelola rekening nasabah.
c. Melakukan koordinasi dan pembinaan nasabah kredit usaha kecil, kredit
investasi, kredit konsumsi, program hubungan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten
Tegal dengan kelompok dan kredit bermasalah.
d. Melakukan koordinasi bagian kredit dan pembukuan.
e. Melakukan pembinaan nasabah yang kreditnya dihapuskan.
f. Melakukan penagihan secara intensif dan semaksimal mungkin atas kredit yang
telah dihapuskan.
g. Memberikan saran dan pertimbangan tentang langkah-langkah dan atau
tindakan-tindakan yang perlu diambil di bidang tugasnya.
10. Bagian Kredit usaha Kecil
Bagian Kredit Usaha Kecil mempunyai tugas mencari nasabah, menyalurkan dana
serta mengevaluasi kredit usaha kecil.
11. Unit Pelayanan
Unit Pelayanan mempunyai tugas sebagai perpanjangan tangan kantor pusat
dalam mencari dan melayani nasabah di wilayahnya.
68
4.1.5 Visi dan Misi PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
1. Visi
BPR andalan masyarakat dan mitra usaha yang tangguh.
2. Misi
Memberikan pelayanan prima kepada masyarakat kecil dan menengah di Kabupaten
Tegal,memberikan kontribusi PAD, dan kesejahteraan karyawan.
4.1.6 Lokasi dan Wilayah Kerja PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
Lokasi gedung kantor PD. Bank Pasar Kabupaten Tegal yang berstatus milik
sendiri sangat strategis yaitu di Jalan Ahmad Yani No. 11 Procot Slawi Telp: (0283)
491570 tepatnya di depan Terminal Bus Slawi. Jumlah loket-loket untuk melayani para
bakul/pedagang di pasar-pasar dan di desa sekitarnya dengan jumlah loket sebanyak 22
buah loket yang mempunyai lokasi menyebar di seluruh wilayah Kabupaten Tegal.
BPR memberikan pinjaman untuk umum dan pegawai negeri maupun swasta. Untuk
pinjaman umum minimal Rp 500.000,00 dengan bunga 3% dan untuk pegawai negeri
2% dengan syarat barang jaminan harus berdomisili di Kabupaten Tegal.
4.2 Analisis Tingkat Kesehatan Bank
Peraturan Bank Indonesia No. 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem
Penilaian Tingkat Kesehatan menjelaskan bahwa tingkat kesehatan bank merupakan hasil
penilaian kualitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi atau kinerja suatu
bank melalui penilaian faktor permodalan, kualitas aset, manajemen, rentabilitas,likuiditas,
dan sensitivitas terhadap risiko pasar.
69
Bank Indonesia selaku pembina dan pengawas bank juga mengeluarkan peraturan
mengenai penilaian kinerja BPR yang tertuang dalam Surat Keputusan Direktur Bank
Indonesia No.30/12/KEP/DIR/1997 tanggal 30 April 1997 yang didasarkan pada lima
indikator penilaian yaitu: Capital, Assets, Management, Earning dan Liquidity (CAMEL)
dengan empat kategori yaitu: sehat, cukup sehat, kurang sehat dan tidak sehat.
Berdasarkan laporan keuangan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal yang
terdapat dalam Neraca dan Laporan Laba Rugi merupakan salah satu yang akan digunakan
dalam penilaian tingkat kesehatan bank, yaitu penilaian tentang permodalan, kualitas aktiva
produktif, manajemen, rentabilitas, dan likuiditas.
Melihat posisi keuangan yang diketahui dari hasil laporan keuangan tersebut PD.
BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal mengalami kondisi yang naik dan turun selama 3 tahun.
Penilaian atas tingkat kesehatan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dilakukan dengan
cara mengkuantifikasi komponen-komponen permodalan, kualitas aktiva produktif,
manajemen, rentabilitas, dan likuiditas. Ketentuan-ketentuan atas tingkat kesehatan bank
dapat memberikan tolok ukur untuk menetapkan arah pembinaan dan pengembangan
bagaimana manajemen bank yang bersangkutan serta untuk menilai apakah pengelolaan bank
telah dilakukan baik dan benar berdasarkan peraturan yang berlaku.
4.3 Pembahasan
Penilaian Tingkat Kesehatan Bank pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
tahun 2004-2005 dilihat dari masing-masing komponen Capital, Asset, Management,
Earning, and Liquidity yaitu:
70
4.3.1 Permodalan
Penilaian permodalan perbankan dalam merupakan kewajiban penyediaan
modal minimum 8% dari ATMR yang telah ditetapkan oleh Bank of Internatioanal
Settlements (BIS). Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) yaitu pos-pos aktiva
yang diberikan bobot resiko yang terkandung pada aktiva itu sendiri. Ketentuan rasio
antara modal dan ATMR biasa disebut Capital Adequancy Ratio (CAR) atau Rasio
Kecukupan Modal yang merupakan analisa solvabilitas untuk mendukung kegiatan
bank secara efisien dan mampu menyerap kerugian-kerugian yang tidak dapat
dihindarkan serta apakah kekayaan bank semakin bertambah atau semakin berkurang.
Adapun penilaian permodalan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal,
perhitungannya:
Tabel 4.1
Perhitungan ATMR Tahun 2004
Dalam Ribuan Rupiah
Bobot 2004
Keterangan
Nominal ATMR
Aktiva Tertimbang Menurut Resiko
1. Aktiva Neraca
1.1 Kas 0% 31.834 0
1.2 Antar Bank Aktiva 20% 1.361.554 272.311
1.3 Kredit yang Diberikan 100% 8.916.593 8.916.593
1.4 Aktiva Tetap dan Inventaris 100% 548.863 548.863
1.5 Rupa-rupa Aktiva 100% 26.215 26.215
Jumlah ATMR 9.763.982
Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
Dari tabel 4.1 dapat dilihat bahwa ATMR pada tahun 2004, untuk kas yang
memiliki bobot resiko 0% dengan nominal 31.834 memiliki resiko 0, berarti kas
dalam perusahaan tidak mengandung risiko. Untuk antar bank aktiva memiliki bobot
risiko 20% dari nilai nominal 1.361.554 yaitu sebesar 272.311. Sedangkan untuk
aktiva-aktiva lain yang mengandung risiko seperti kredit yang diberikan, aktiva tetap
71
dan inventaris, dan rupa-rupa aktiva memiliki bobot risiko 100% dari nilai
nominalnya.
Tabel 4.2
Perhitungan ATMR Tahun 2005
Dalam Ribuan Rupiah
2005
Keterangan Bobot
Nominal ATMR
Aktiva Tertimbang Menurut Resiko
1. Aktiva Neraca
1.1 Kas 0% 145.928 0
1.2 Antar Bank Aktiva 20% 877.010 175.502
1.3 Kredit yang Diberikan 100% 8.893.499 8.893.499
1.4 Aktiva Tetap dan Inventaris 100% 515.130 515.130
1.5 Rupa-rupa Aktiva 100% 32.812 32.812
Jumlah ATMR 9.616.845
Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
Dari tabel 4.2 dapat dilihat bahwa ATMR pada tahun 2005, untuk kas yang
memiliki bobot resiko 0% dengan nominal 145.928 memiliki resiko 0, berarti kas
dalam perusahaan tidak mengandung risiko. Untuk antar bank aktiva memiliki bobot
risiko 20% dari nilai nominal 877.010 yaitu sebesar 175.502. Sedangkan untuk
aktiva-aktiva lain yang mengandung risiko seperti kredit yang diberikan, aktiva tetap
dan inventaris, dan rupa-rupa aktiva memiliki bobot risiko 100% dari nilai
nominalnya.
Tabel 4.3
Perhitungan ATMR Tahun 2006
Dalam Ribuan Rupiah
2006
Keterangan Bobot
Nominal ATMR
Aktiva Tertimbang Menurut Resiko
1. Aktiva Neraca
1.1 Kas 0% 168.064 0
1.2 Antar Bank Aktiva 20% 2.748.822 549.764
1.3 Kredit yang Diberikan 100% 9.023.037 9.023.037
1.4 Aktiva Tetap dan Inventaris 100% 454.856 454.856
1.5 Rupa-rupa Aktiva 100% 56.700 56.700
Jumlah ATMR 6.125.191
Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
72
Dari tabel 4.3 dapat dilihat bahwa ATMR pada tahun 2006, untuk kas yang
memiliki bobot resiko 0% dengan nominal 168.064 memiliki resiko 0, berarti kas
dalam perusahaan tidak mengandung risiko. Untuk antar bank aktiva memiliki bobot
risiko 20% dari nilai nominal 2.768.822 yaitu sebesar 549.764. Sedangkan untuk
aktiva-aktiva lain yang mengandung risiko seperti kredit yang diberikan, aktiva tetap
dan inventaris, dan rupa-rupa aktiva memiliki bobot risiko 100% dari nilai
nominalnya.
Tabel 4.4
Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) Tahun 2004
Dalam Ribuan Rupiah
2004
Keterangan Bobot
Nominal ATMR
I. Modal
1. Modal Inti
1.1 Modal Disetor 100% 1.171.752 1.171.752
1.2 Modal Sumbangan 100% - -
1.3 Cadangan Umum 100% 177.783 177.783
1.4 Cadangan Tujuan 100% 115.802 115.802
1.5 Laba Ditahan 100% - -
1.6 Laba Tahun Lalu 100% - -
1.7 Rugi tahun Lalu 100% - -
1.8 Laba Tahun Berjalan setelah THP 50% 166.046 83.023
1.9 Rugi Tahun Berjalan 100% - -
1.10 Kekurangan PPAP 100% 567.046 567.046
1.11 Jumlah Modal Inti 2.198.843 2.115.819
2. Modal Pelengkap
2.1 PPAP (max 1,25%xATMR) 1,25% 43.158
2.2 Modal Pinjaman 100% -
2.3 Pinjaman Subordinasi 100% -
2.4 Jumlah Modal Pelengkap 43.158
3. Jumlah Modal (1.11+2.4) 2.158.977
II. Modal Minimum ( 8%xATMR) 781.111
III. Kelebihan Modal 1.377.866
Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
Dari tabel 4.4 dapat dilihat data perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal
Minimum tahun 2004, aktiva-aktiva yang mengandung risiko pada modal disetor,
cadangan umum, cadangan tujuan, dan kekurangan PPAP memiliki bobot risiko
73
100% dari nilai nominal aktiva. Sedangkan untuk laba tahun berjalan memiliki bobot
risiko 50% dari nilai nominal 166.046 yaitu sebesar 83.023.
Tabel 4.5
Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) Tahun 2005
Dalam Ribuan Rupiah
2005
Keterangan Bobot
Nominal ATMR
I. Modal
1. Modal Inti
1.1 Modal Disetor 100% 1.500.000 1.500.000
1.2 Modal Sumbangan 100% - -
1.3 Cadangan Umum 100% 150.992 150.992
1.4 Cadangan Tujuan 100% 149.012 149.012
1.5 Laba Ditahan 100% - -
1.6 Laba Tahun Lalu 100% - -
1.7 Rugi tahun Lalu 100% - -
1.8 Laba Tahun Berjalan setelah THP 50% 177.801 88.902
1.9 Rugi Tahun Berjalan 100% - -
1.10 Kekurangan PPAP 100% 388.532 388.532
1.11 Jumlah Modal Inti 1.589.273 1.500.374
2. Modal Pelengkap
2.1 PPAP (max 1,25%xATMR) 1,25% 11.239
2.2 Modal Pinjaman 100% -
2.3 Pinjaman Subordinasi 100% -
2.4 Jumlah Modal Pelengkap 11.239
3. Jumlah Modal (1.11+2.4) 1.511.613
II. Modal Minimum ( 8%xATMR) 837.151
III. Kelebihan Modal 674.462
Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
Dari tabel 4.5 dapat dilihat data perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal
Minimum tahun 2005, aktiva-aktiva yang mengandung risiko pada modal disetor,
cadangan umum, cadangan tujuan, dan kekurangan PPAP memiliki bobot risiko
100% dari nilai nominal aktiva. Sedangkan untuk laba tahun berjalan memiliki bobot
risiko 50% dari nilai nominal 177.801 yaitu sebesar 88.902.
74
Tabel 4.6
Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) Tahun 2006
Dalam Ribuan Rupiah
2006
Keterangan Bobot
Nominal ATMR
I. Modal
1. Modal Inti
1.1 Modal Disetor 100% 1.500.000 1.500.000
1.2 Modal Sumbangan 100% - -
1.3 Cadangan Umum 100% 187.236 187.236
1.4 Cadangan Tujuan 100% 184.571 184.571
1.5 Laba Ditahan 100% - -
1.6 Laba Tahun Lalu 100% - -
1.7 Rugi tahun Lalu 100% - -
1.8 Laba Tahun Berjalan setelah THP 50% - -
1.9 Rugi Tahun Berjalan 100% (805.482) (805.482)
1.10 Kekurangan PPAP 100% - -
1.11 Jumlah Modal Inti 1.066.326 1.066.326
2. Modal Pelengkap
2.1 PPAP (max 1,25%xATMR) 1,25% 76.565
2.2 Modal Pinjaman 100% -
2.3 Pinjaman Subordinasi 100% -
2.4 Jumlah Modal Pelengkap 76.565
3. Jumlah Modal (1.11+2.4) 1.142.891
II. Modal Minimum ( 8%xATMR) 490.015
III. Kelebihan Modal 652.875
Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
Dari tabel 4.6 dapat dilihat data perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal
Minimum tahun 2006, aktiva-aktiva yang mengandung risiko pada modal disetor,
cadangan umum, cadangan tujuan, dan rugi tahun berjalan memiliki bobot risiko
100% dari nilai nominal aktiva.
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa Kewajiban
Penyediaan Modal Minimum (KPMM) tersebut lebih kecil dibandingkan dengan
jumlah modal yang tersedia sehingga mempunyai kelebihan modal. Hal ini berarti
peluang bagi PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal masih luas dalam menyalurkan
kredit kepada masyarakat. Dengan kondisi tersebut PD. BPR Bank Pasar Kabupaten
Tegal dituntut untuk lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit kepada masyarakat
75
yang bersumber dari tabungan dan deposito untuk menghindari terjadinya kredit
bermasalah.
Tabel 4.7
Penilaian Permodalan Tahun 2004-2005
Dalam Ribuan Rupiah
Tahun
Keterangan
2004 2005 2006
Modal 2.158.977 1.511.612 1.142.891
- Turun Turun
Naik/Turun Modal
29,98% 24,39%
ATMR 9.763.982 9.616.845 6.125.191
- Turun Turun
Naik/Turun ATMR
1,51% 36,30%
Rasio CAR 14,11% 15,72% 18,67%
Naik/Turun CAR Naik Naik
-
1,61% 2,95%
Nilai Kredit/NK 142 158 188
NK Max 100 100 100
Nilai Akhir = Bobot x NK 30 30 30
Indikator Sehat Sehat Sehat
Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
Dari tabel 4.7 dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Tahun 2004 rasio CAR yang dihasilkan 14,11%. Hal ini berarti bahwa bank
mampu untuk menjamin setiap Rp 1.000,00 kerugian yang mungkin akan terjadi
dari penanaman modal sendiri sebesar Rp 141,1. Berdasarkan kriteria BI, rasio
CAR tahun 2004 dinilai sehat karena lebih dari 8% dan mampu menyediakan
dana 14,11% dari ATMR yaitu sebesar Rp 9.763.982 sehingga apabila bank
dilikuidasi, bank akan mampu untuk memenuhi kewajibannya.
2. Tahun 2005 rasio CAR yang dihasilkan 15,72% dan mengalami kenaikan 1,61%.
Hal ini berarti bahwa bank mampu untuk menjamin setiap Rp 1.000,00 kerugian
yang mungkin akan terjadi dari penanaman modal sendiri sebesar Rp 157,2.
Berdasarkan kriteria BI, rasio CAR tahun 2005 dinilai sehat karena lebih dari 8%
dan mampu menyediakan dana 15,72% dari ATMR yaitu sebesar Rp 6.125.191
76
sehingga apabila bank dilikuidasi, bank akan mampu untuk memenuhi
kewajibannya.
3. Tahun 2006 rasio CAR yang dihasilkan 18,67% dan mengalami kenaikan 2,95%.
Hal ini berarti bahwa bank mampu untuk menjamin setiap Rp 1.000,00 kerugian
yang mungkin akan terjadi dari penanaman modal sendiri sebesar Rp 186,7.
Berdasarkan kriteria BI, rasio CAR tahun 2006 dinilai sehat karena lebih dari 8%
dan mampu menyediakan dana 18,67% dari ATMR yaitu sebesar Rp 9.616.845
sehingga apabila bank dilikuidasi, bank akan mampu untuk memenuhi
kewajibannya.
4.3.2 Kualitas Aktiva Produktif
Dalam penilaian aspek kualitas aktiva produktif rasio yang digunakan
untuk mengkuantifikasi aktiva produktif didasarkan pada dua rasio yaitu:
4.3.2.1 Rasio Aktiva Produktif yang diklasifikasikan terhadap Total Aktiva
Produktif atau rasio KAP (Kualitas Aktiva Produktif)
Rasio ini digunakan untuk mengetahui prosentase kerugian yang
terjadi pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dari sejumlah aktiva
tetap yang telah ditanamkan baik dalam kredit, surat berharga, penyertaan
maupun penanaman dana lainnya dalam usaha untuk meningkatkan
keuntungan.
77
Tabel 4.8
Perbandingan Komposisi Aktiva Produktif yang Diklasifikasikan terhadap
Aktiva Produktif Tahun 2004-2005
Dalam Ribuan Rupiah
Aktiva Produktif
Tahun
Kriteria
2004 2005 2006
Lancar 7.606.036 8.109.794 10.734.642
Kurang Lancar 355.843 421.472 511.526
Diragukan 835.42 1.060.945 537.549
Macet 119.294 178.298 1.032.341
Jumlah 8.916.593 9.770.509 12.816.058
Naik Naik
Naik/Turun A.P (%) -
9,58% 31,17%
Aktiva Produktif Diklasifikasikan
Tahun
Kriteria
2004 2005 2006
Lancar (0%) - - -
Kurang Lancar (50%) 177.922 210.736 255.763
Diragukan (75%) 626.565 795.709 403.162
Macet (100%) 119.294 178.298 1.032.341
Jumlah 923.781 1.184.743 1.691.266
Naik Naik
Naik/Turun A.P.D (%) -
28,25% 42,75%
Rasio KAP 10,36% 12,13% 13,19%
Naik Naik
Naik/Turun K.A.P (%) -
1,77% 1,06%
NK = (22.5% - R. KAP)
81 69 30
0,15%
NK Max 100 100 100
Nilai Akhir = Bobot x NK 20,25 17,25 5,5
Indikator Cukup Sehat Cukup Sehat Kurang Sehat
Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
Perhitungan rasio aktiva produktif yang diklasifikasikan terhadap aktiva produktif:
Aktiva Produktif yang Diklasifikasikan
Rasio KAP 1 = × 100%
Total Aktiva Produktif
923.781
Rasio (2004) = × 100% = 10,36%
8.916.593
1.184.743
Rasio (2005) = × 100% = 12,13%
9.770.509
78
1.691.266
Rasio (2006) = × 100% = 13,19%
12.816.059
Dari tabel 4.8 dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Tahun 2004 rasio yang dihasilkan sebesar 10,36%. Hal ini berarti setiap
Rp 1.000,00 dana yang ditanamkan pada aktiva produktif terdapat risiko kegagalan
pengembalian kredit sebesar Rp 103,6. Dari aktiva produktif bank mengambil
bunga sebesar 35% per tahun, jadi tingkat pengembalian kredit pada PD. BPR Bank
Pasar Kabupaten Tegal dinilai baik karena selisih antara bunga per tahun dengan
prosentase risiko gagalnya pengembalian kredit masih terdapat 24,64% dari total
aktiva produktif yang akan diterima sebagai pendapatan operasional. Berdasarkan
kriteria BI, maka kualitas aktiva produktif pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten
Tegal dinilai cukup sehat.
2. Tahun 2005 rasio yang dihasilkan sebesar 12,13%. Hal ini berarti setiap
Rp 1.000,00 dana yang ditanamkan pada aktiva produktif terdapat risiko kegagalan
pengembalian kredit sebesar Rp 121,3. Dari aktiva produktif bank mengambil
bunga sebesar 35% per tahun, jadi tingkat pengembalian kredit pada PD. BPR Bank
Pasar Kabupaten Tegal dinilai baik karena selisih antara bunga per tahun dengan
prosentase risiko gagalnya pengembalian kredit masih terdapat 22,87% dari total
aktiva produktif yang akan diterima sebagai pendapatan operasional. Berdasarkan
kriteria BI, maka kualitas aktiva produktif pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten
Tegal dinilai cukup sehat.
3. Tahun 2006 rasio yang dihasilkan sebesar 13,19%. Hal ini berarti setiap
Rp 1.000,00 dana yang ditanamkan pada aktiva produktif terdapat risiko kegagalan
pengembalian kredit sebesar Rp 131,9. Dari aktiva produktif bank mengambil
79
bunga sebesar 35% per tahun, jadi tingkat pengembalian kredit pada PD. BPR Bank
Pasar Kabupaten Tegal dinilai tidak baik karena selisih antara bunga per tahun
dengan prosentase risiko gagalnya pengembalian kredit masih terdapat 21,81% dari
total aktiva produktif yang akan diterima sebagai pendapatan operasional.
Berdasarkan kriteria BI, maka kualitas aktiva produktif pada PD. BPR Bank Pasar
Kabupaten Tegal dinilai tidak sehat.
4.2.3.2 Rasio Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif terhadap Penyisihan
Penghapusan Aktiva Produktif yang Wajib Dibentuk.
Rasio ini mengukur pemenuhan PPAP yang dibentuk bank terhadap
PPAPWD yang ditetapkan Bank Indonesia sehubungan dengan adanya
kewajiban bank untuk membentuk PPAP yang cukup untuk menutup resiko
kemungkinan yang timbul dari penanaman aktiva produktifnya.
Tabel 4.9
Perbandingan Komposisi PPAP terhadap PPAPWD tahun 2004-2006
Dalam Ribuan Rupiah
Tahun
Kriteria PPAPWD
2004 2005 2006
Lancar (0,5%) 38.03 40.549 53.673
Kurang Lancar (10%) 35.584 23.475 31.351
Diragukan (50%) 417.71 236.756 183.917
Macet (100%) 119.294 98.991 774.357
Jumlah 610.618 399.771 1.043.298
Turun Naik
Naik/Turun PPAPWD (%) -
34,53% 160,97%
PPAP 43.158 11.239 58.063
Turun Naik
Naik/Turun PPAP (%) -
73,95% 616,62%
Rasio PPAP 7,07% 2,81% 5,57%
Turun Naik
Naik/Turun Rasio (%) -
4,26% 2,76%
NK = Rasio x 1 7,07 2,81 5,57
NK Max 100 100 100
Nilai Akhir = Bobot x NK 7,07 2,81 5,57
Indikator Tidak Sehat Tidak Sehat Tidak Sehat
Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
80
Keterangan: PPAP : Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif
PPAPWD : Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang Wajib
Dibentuk.
Perhitungan rasio penyisihan penghapusan aktiva produktif yang wajib dibentuk
terhadap penyisihan penghapusan aktiva produktif yaitu:
PPAP
Rasio PPAP = × 100%
PPAPWD
43.158
Rasio (2004) = × 100%% = 7,07%
610.618
11.239
Rasio (2005) = × 100% = 2,81%
399.771
58.063
Rasio (2006) = × 100% = 5,57%
1.043.299
Dari tabel 4.9 dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Tahun 2004 rasio yang dihasilkan sebesar 7,07%. Hal ini berarti bahwa dari setiap
Rp 1.000,00 PPAPWD yang ditetapkan oleh BI, maka PD. BPR Bank Pasar
Kabupaten Tegal tidak mampu untuk menyediakan dana penghapusan piutang
sebesar Rp 70,7, jadi masih terdapat kerugian Rp 926,3 dan kerugian tersebut
secara langsung akan mempengaruhi jumlah laba yang akan diperoleh pihak bank.
Berdasarkan SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.3, maka kualitas
PPAP pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dinilai tidak sehat karena
kurang dari 51% dari standar penilaian BI.
2. Tahun 2005 rasio yang dihasilkan sebesar 2,81%. Hal ini berarti bahwa dari setiap
Rp 1.000,00 PPAPWD yang ditetapkan oleh BI, maka PD. BPR Bank Pasar
Kabupaten Tegal tidak mampu untuk menyediakan dana penghapusan piutang
81
sebesar Rp 28,1 jadi masih terdapat kerugian Rp 997,19 dan kerugian tersebut
secara langsung akan mempengaruhi jumlah laba yang akan diperoleh pihak bank.
Berdasarkan SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.3, maka kualitas
PPAP pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dinilai tidak sehat karena
kurang dari 51% dari standar penilaian BI.
3. Tahun 2006 rasio yang dihasilkan sebesar 5,57%. Hal ini berarti bahwa dari setiap
Rp 1.000,00 PPAPWD yang ditetapkan oleh BI, maka PD. BPR Bank Pasar
Kabupaten Tegal tidak mampu untuk menyediakan dana penghapusan piutang
sebesar Rp 5,57 jadi masih terdapat kerugian Rp 994,43 dan kerugian tersebut
secara langsung akan mempengaruhi jumlah laba yang akan diperoleh pihak bank.
Berdasarkan SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.3, maka kualitas
PPAP pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dinilai tidak sehat karena
kurang dari 51% dari standar penilaian BI.
4.3.3 Manajemen
Penilaian terhadap faktor manajemen terdiri dari 2 yaitu manajemen umum
dan manajemen resiko. Penilaian didasarkan pada jawaban atas daftar pertanyaan
yang terdiri dari 25 pertanyaan. Penilaian atas jawaban dibutuhkan sebagai berikut:
1. Kondisi lemah = 0
2. Kondisi antara = 1,2, dan 3
3. Kondisi baik = 4
82
Tabel 4.10
Penilaian Aspek Manajemen Tahun 2004-2006
Jumlah Tahun
Manajemen
Pertanyaan 2004 2005 2006
1. Manajemen Umum 10 23 27 29
2. Manajemen Resiko 15 31 33 41
Jumlah 54 60 70
NK 106,8 120,3 138,1
NK Max 100 100 100
Nilai Akhir = Bobot x NK 10,68 12,03 13,81
Kurang Kurang Cukup
Indikator
Sehat Sehat Sehat
Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
Dari tabel 4.10 dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Tahun 2004 dapat diketahui bahwa nilai manajemen umum adalah sebesar 23%
dan manajemen resiko adalah sebesar 31%. Berdasarkan SK DIR BI No.
30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.4, maka manajemen umum dan manajemen
resiko pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal berada dalam kondisi kurang
sehat artinya pada tahun yang bersangkutan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten
Tegal kurang mampu untuk mengatur bank baik dalam segi strategi, struktur,
sistem, kepemimpinan maupun setiap resiko yang timbul pada setiap aktivitasnya
sehingga bank tidak dapat maksimal dalam pencapaian hasil usahanya.
2. Tahun 2005 dapat diketahui bahwa nilai manajemen umum adalah sebesar 27%
dan manajemen resiko adalah sebesar 33%. Berdasarkan SK DIR BI No.
30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.4, maka manajemen umum dan manajemen
resiko pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal berada dalam kondisi kurang
sehat artinya pada tahun yang bersangkutan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten
Tegal kurang mampu untuk mengatur bank baik dalam segi strategi, struktur,
sistem, kepemimpinan maupun setiap resiko yang timbul pada setiap aktivitasnya
sehingga bank tidak dapat maksimal dalam pencapaian hasil usahanya.
83
3. Tahun 2006 dapat diketahui bahwa nilai manajemen umum adalah sebesar 29%
dan manajemen resiko adalah sebesar 41%. Berdasarkan SK DIR BI No.
30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.4, maka manajemen umum dan manajemen
resiko pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal berada dalam kondisi cukup
sehat artinya pada tahun yang bersangkutan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten
Tegal cukup mampu untuk mengatur bank baik dalam segi strategi, struktur,
sistem, kepemimpinan maupun setiap resiko yang timbul pada setiap aktivitasnya
sehingga bank dapat maksimal dalam pencapaian hasil usahanya.
4.3.4 Rentabilitas
Dalam penilaian rentabilitas faktor-faktor yang diperlukan dalam perhitungan
adalah total aktiva dan laba itu sendiri. Rentabilitas adalah kemampuan bank dalam
menghasilkan laba selama periode tertentu.
Adapun penilaian rentabilitas didasarkan pada dua rasio, yaitu:
1. Rasio laba sebelum pajak dalam 12 bulan terakhir terhadap rata-rata volume usaha
(ROA) dalam periode yang sama, dengan perhitungan sebagai berikut:
a. Untuk rasio 0 atau negatif diberi nilai kredit
b. Untuk setiap kenaikan 0,115% mulai dari 0% nilai kredit ditambah 1 dengan
maksimal 100.
2. Rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional dalam periode yang sama
dengan perhitungan sebagai berikut:
a. Untuk rasio 100% atau lebih diberi nilai kredit 0
b. Untuk setiap penurunan sebesar 0,08% mulai dari 100% nilai kredit ditambah 1
dengan maksimal 100.
84
4.3.4.1 Rasio Laba Sebelum Pajak terhadap Rata-rata Volume Usaha (ROA)
Rasio ini menunjukkan seberapa besar kemampuan PD. BPR Bank
Pasar Kabupaten Tegal dalam menghasilkan laba sebelum pajak dengan total
asset yang dimilikinya.
Tabel 4.11
Rasio Laba Sebelum Pajak terhadap Rata-rata Volume Usaha (ROA)
Tahun 2004-2006
Dalam Ribuan Rupiah
Tahun
Keterangan
2004 2005 2006
a) Laba/Rugi Sebelum Pajak 212.208 229.004 -805.482
b) Rata-rata Volume Usaha 10.481.901 10.453.142 12.452.380
c) Rasio (a : b) x 100% 1,96% 2,19% -1,76%
Naik Turun
Naik/Turun ROA (%) -
0,23% 3,95%
NK = c : 0,015% 130 146 -117
NK Max 100 100 100
Nilai Akhir = Bobot x NK 5 5 -5
Indikator Sehat Sehat Tidak Sehat
Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
Perhitungan rasio laba sebelum pajak terhadap rata-rata volume usaha (ROA) yaitu:
Laba Sebelum Pajak
Rasio (ROA) = × 100%
Rata − rata Volum Usaha
212.208
Rasio (2004) = × 100% = 1,96%
10.481.901
229.004
Rasio (2005) = × 100% = 2,19%
10.453.142
− 805.482
Rasio (2006) = × 100% = -1,76%
12.452.380
Dari tabel 4.11 dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Tahun 2004 rasio yang dihasilkan sebesar 1,96%. Hal ini menunjukkan bahwa
setiap Rp. 1.000,00 modal yang ditanamkan pada aktiva produktif mampu untuk
menghasilkan laba sebesar Rp 19,6. Berdasarkan SK DIR BI No.
85
30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.5, maka ROA pada PD. BPR Bank Pasar
Kabupaten Tegal berada dalam kondisi sehat karena lebih dari 1,22% standar
penilaian BI.
2. Tahun 2005 rasio yang dihasilkan sebesar 2,19%. Hal ini menunjukkan bahwa
setiap Rp. 1.000,00 modal yang ditanamkan pada aktiva produktif mampu untuk
menghasilkan laba sebesar Rp 21,9. Berdasarkan SK DIR BI No.
30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.5, maka ROA pada PD. BPR Bank Pasar
Kabupaten Tegal berada dalam kondisi sehat karena lebih dari 1,22% standar
penilaian BI.
3. Tahun 2006 rasio yang dihasilkan sebesar -1,76%. Hal ini menunjukkan bahwa
setiap Rp 1.000,00 modal yang ditanamkan pada aktiva produktif mampu untuk
menghasilkan laba sebesar Rp -17,6. Berdasarkan SK DIR BI No.
30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.5, maka ROA pada PD. BPR Bank Pasar
Kabupaten Tegal berada dalam kondisi tidak sehat karena kurang dari 1,22%
standar penilaian BI.
4.3.4.2 Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional
Rasio ini menunjukkan prosentase beban operasional terhadap
pendapatan operasional . Semakin besar prosentase rasio berarti semakin
besar beban operasional yang terdapat dalam setiap pendapatan operasional.
Hasil perhitungan rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional
terlihat pada tabel 4.12:
86
Tabel 4.12
Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional
Tahun 2005-2006
Dalam Ribuan Rupiah
Tahun
Keterangan
2004 2005 2006
a) Beban Operasional 2.591.829 2.847.819 4.008.708
b) Pendapatan Operasional 2.812.436 3.089.907 3.213.898
c) Rasio (a : b) x 100% 92,16% 92,17% 124,73%
Naik Naik
Naik/Turun BOPO (%) -
0,01% 32,56%
NK = 100% - c : 0,08% 98 98 -297
NK Max 100 100 100
Nilai Akhir = Bobot x NK 4,9 4,9 -5
Indikator Sehat Sehat Tidak Sehat
Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
Perhitungan rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional yaitu;
Biaya Operasional
Rasio (BOPO) = × 100%
Pendapatan Operasional
2.591.829
Rasio (2004) = × 100% = 92,16%
2.812.436
2.847.819
Rasio (2005) = × 100% = 92,17%
3.089.907
4.008.708
Rasio (2006) = × 100% = 124,73%
3.213.898
Dari tabel 4.12 dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Tahun 2004 rasio yang dihasilkan sebesar 92,16%. Hal ini berarti untuk
memperoleh pendapatan operasional sebesar Rp 1.000,00 maka PD. BPR Bank
Pasar Kabupaten Tegal harus mengeluarkan biaya operasional sebesar Rp 921,6.
Berdasarkan SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.5, maka rasio
BOPO PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dinilai sehat karena rasionya
kurang dari 93,52% standar penilaian BI.
87
2. Tahun 2005 rasio yang dihasilkan sebesar 92,17%. Hal ini berarti untuk
memperoleh pendapatan operasional sebesar Rp 1.000,00 maka PD. BPR Bank
Pasar Kabupaten Tegal harus mengeluarkan biaya operasional sebesar Rp 921,7.
Berdasarkan SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.5, maka rasio
BOPO PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dinilai sehat karena rasionya
kurang dari 93,52% standar penilaian BI.
3. Tahun 2006 rasio yang dihasilkan sebesar 123,73%. Hal ini berarti untuk
memperoleh pendapatan operasional sebesar Rp 1.000,00 maka PD. BPR Bank
Pasar Kabupaten Tegal harus mengeluarkan biaya operasional sebesar Rp 1237,3.
Berdasarkan SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.5, maka rasio
BOPO PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dinilai tidak sehat karena rasionya
lebih dari 93,52% standar penilaian BI.
4.3.5 Likuiditas
Penilaian terhadap faktor likuiditas didasarkan pada rasio yaitu:
a. Rasio alat likuid terhadap hutang lancar
b. Rasio kredit terhadap dana yang diterima oleh bank
4.3.5.1 Rasio Alat Likuid terhadap Hutang Lancar (Cash Ratio)
Rasio ini digunakan untuk mengetahui prosentase kemampuan bank
dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Adapun perhitungan rasio
alat likuid terhadap hutang lancar adalah sebagai berikut:
a. Untuk rasio 0% diberi nilai 0
b. Untuk setiap kenaikan 0,05% nilai kredit ditambah 1 dengan maksimal 100.
88
Tabel 4.13
Rasio Alat Likuid terhadap Hutang Lancar Tahun 2004-2006
Dalam Ribuan Rupiah
Tahun
Keterangan
2004 2005 2006
Alat Likuid
Kas 31.834 145.928 168.064
Antar Pasiva Bank 1.361.554 877.010 2.748.822
Jumlah 1.393.388 1.022.938 2.916.866
Turun Naik
Naik/Turun Alat Likuid (%) -
26,59% 185,15%
Hutang lancar
Kewajiban Segera 7.757 13.227 11.422
Tabungan 2.333.596 2.536.193 3.112.352
Deposito Berjangka 3.492.950 4.874.000 6.941.000
Jumlah 5.834.303 7.423.420 10.064.774
Naik Naik
Naik/Turun Hutang Lancar (%) -
27,24% 35,58%
Rasio 23,88% 13,78% 28,98%
Turun Naik
Naik/Turun CR (%) -
10,1% 15,2%
NK= Rasio : 0,05 477 276 580
NK Max 100 100 100
Nilai Akhir = Bobot x NK 5 5 5
Indikator Sehat Sehat Sehat
Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
Perhitungan rasio alat likuid terhadap hutang lancar yaitu:
Alat Liquid
Cash Rasio = × 100%
Hutang Lancar
1.393.388
Rasio (2004) = × 100% = 23,88%
5.834.303
1.022.938
Rasio (2005) = × 100% = 13,78%
7.423.420
2.916.866
Rasio (2006) = × 100% = 28,98%
10.064.774
Dari tabel 4.13 dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Tahun 2004 rasio yang dihasilkan sebesar 23,88%. Hal ini berarti setiap
Rp 1.000,00 hutang lancar pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dijamin
89
oleh alat likuid bank sebesar Rp 238,8. Berdasarkan SK DIR BI No.
30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.6, maka Cash Ratio pada PD. BPR Bank Pasar
Kabupaten Tegal dinilai sehat karena rasionya lebih dari 4,05% standar penilaian
BI.
2. Tahun 2005 rasio yang dihasilkan sebesar 13,78%. Hal ini berarti setiap
Rp. 1.000,00 hutang lancar pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dijamin
oleh alat likuid bank sebesar Rp 137,8. Berdasarkan SK DIR BI No.
30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.6, maka Cash Ratio pada PD. BPR Bank Pasar
Kabupaten Tegal dinilai sehat karena rasionya lebih dari 4,05% standar penilaian
BI.
3. Tahun 2006 rasio yang dihasilkan sebesar 28,98%. Hal ini berarti setiap
Rp. 1.000,00 hutang lancar pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dijamin
oleh alat likuid bank sebesar Rp 289,8. Berdasarkan SK DIR BI No.
30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.6, maka Cash Ratio pada PD. BPR Bank Pasar
Kabupaten Tegal dinilai sehat karena rasionya lebih dari 4,05% standar penilaian
BI.
4.3.5.2 Rasio Kredit terhadap Dana yang Diterima oleh Bank (LDR)
LDR adalah rasio antara seluruh jumlah kredit yang diberikan bank
dengan dana yang diterima oleh bank. Rasio ini menyatakan seberapa jauh
kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan
deposan dengan mengendalikan kredit yang diberikan sebagai sumber
likuiditasnya.
90
Adapun perhitungan kredit terhadap dana yang diterima oleh bank
ditentukan sebagai berikut:
a. Untuk rasio 115% diberi nilai 0
b. Untuk setiap penurunan 1% mulai dari rasio 115% nilai kredit dikalikan
4 dengan maksimal 100.
Tabel 4.14
Rasio Kredit yang Diberikan terhadap Dana yang Diterima oleh Bank
Tahun 2004-2006
Dalam Ribuan Rupiah
Tahun
Keterangan
2004 2005 2006
Kredit yang Diberikan
Kredit yang Diberikan 8.916.593 8.893.499 10.067.236
Turun Naik
Naik/Turun Kredit (%) -
0,26% 13,20%
Dana yang Diterima
Tabungan 2.333.596 2.536.193 3.112.352
Deposito Berjangka 3.492.950 4.874.000 6.941.000
Pinjaman yang Diterima - 22.166.666 3.499.931
Modal Inti 2.115.819 1.500.374 1.066.326
Jumlah 7.942.365 8.932.734 11.123.178
Naik Naik
Naik/Turun Dana yang Diterima (%) -
12,47% 24,52%
Rasio LDR 112,67% 99,56% 90,51%
Naik Turun
Naik/Turun Rasio LDR (%) -
13,11% 9,05%
NK = (115 - Rasio) x 4 10,94 98 62
NK Max 100 100 100
Nilai Akhir = Bobot x NK 0,55 4,9 3,1
Indikator Tidak Sehat Kurang Sehat Sehat
Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
Perhitungan rasio kredit yang diberikan terhadap dana yang diterima oleh bank yaitu:
Kredit yang Diberikan
Rasio (LDR) = × 100%
Dana yang Diterima Bank
8.916.593
Rasio (2004) = × 100% = 112,27%
7.942.365
8.932.734
Rasio (2005) = × 100% = 99,56%
8.893.499
91
11.123.178
Rasio (2006) = × 100% = 90,51%
10.067.236
Dari tabel 4.14 dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Tahun 2004 rasio yang dihasilkan sebesar 112,27%. Hal ini berarti setiap
Rp 1.000,00 dana yang diterima bank mampu untuk menyalurkan kembali pada
masyarakat dalam bentuk kredit sebesar Rp 1122,7. Berdasarkan SK DIR BI No.
30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.6, maka rasio LDR pada PD. BPR Bank Pasar
Kabupaten Tegal dinilai tidak sehat karena rasionya lebih dari 94,75% standar
penilaian BI.
2. Tahun 2005 rasio yang dihasilkan sebesar 99,56%. Hal ini berarti setiap
Rp 1.000,00 dana yang diterima bank mampu untuk menyalurkan kembali pada
masyarakat dalam bentuk kredit sebesar Rp 995,6. Berdasarkan SK DIR BI No.
30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.6, maka rasio LDR pada PD. BPR Bank Pasar
Kabupaten Tegal dinilai kurang sehat karena rasionya lebih dari 94,75% standar
penilaian BI.
3. Tahun 2006 rasio yang dihasilkan sebesar 90,51%. Hal ini berarti setiap
Rp 1.000,00 dana yang diterima bank mampu untuk menyalurkan kembali pada
masyarakat dalam bentuk kredit sebesar Rp 905,1. Berdasarkan SK DIR BI No.
30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.6, maka rasio LDR pada PD. BPR Bank Pasar
Kabupaten Tegal dinilai sehat karena rasionya lebih dari 94,75% standar
penilaian BI.
92
4.4 Hasil Penilaian Kuantitatif
Setelah perhitungan kelima indikator tingkat kesehatan bank pada PD. BPR Bank
Pasar Kabupaten Tegal, hasil perhitungan kelima indikator tersebut dikalikan dengan bobot
masing-masing indikator, kemudian nilai kredit tersebut dapat dikurangi dengan nilai kredit
yang berasal dari ketentuan tingkat kesehatan bank yang ditetapkan BI.
Adapun penilaian secara keseluruhan selama tahun 2004-2006 adalah sebagai
berikut:
Tabel 4.15
Kuantitatif Perhitungan Tingkat Kesehatan Bank pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten
Tegal Tahun 2004
Nilai
Komponen Rasio NK NK Max Bobot Indikator
Akhir
PERMODALAN
Rasio CAR 14,11% 142 100 30% 30 Sehat
KUALITAS AKTIVA
PRODUKTIF
1. Rasio KAP 10,36% 81 100 25% 20,25 Cukup Sehat
2. Rasio PPAP 7,07% 7,07 100 5% 0,35 Tidak Sehat
MANAJEMEN
1. Manajemen Umum 23% 57,5 100 10% 5,75 Kurang Sehat
2. Manajemen Resiko 31% 49,3 100 10% 4,93 Kurang Sehat
RENTABILITAS
1. ROA 1,96% 130 100 5% 5 Sehat
2. BOPO 92,16% 98 100 5% 4,9 Sehat
LIKUIDITAS
1. Cash Ratio 23,88% 477 100 5% 5 Sehat
2. LDR 112,67% 10,94 100 5% 0,55 Tidak Sehat
Total Nilai 76,73 Cukup Sehat
Sumber: Data Sekunder yang Diolah
Dari tabel 4.15, maka dapat diketahui bahwa tingkat kesehatan bank pada PD. BPR
Bank Pasar Kabupaten Tegal pada tahun 2004 memiliki bobot 76,73 yang berarti cukup sehat
berdasarkan kriteria penggolongan tingkat kesehatan pada SK DIR BI No.
30/12/KEP/DIR/97 dalam tabel 2.1. Permodalan 14,11% (sehat) karena nilai PPAP yang
cukup rendah sehingga mengakibatkan modal inti menjadi bertambah. ATMR cenderung
93
mengalami peningkatan yang tidak dapat diimbangi oleh modal inti yang dapat diperoleh
dengan cara menambah modal dari pemilik, cadangan dana operasional, cadangan likuid
kebutuhan kas jangka pendek dan cadangan kesejahteraan karyawan. Peningkatan ATMR
yang terjadi menyebabkan meningkat pula resiko yang terjadi pada aktiva yang dimiliki oleh
bank.
Rasio KAP sebesar 10,36% (cukup sehat) artinya PD. BPR Bank Pasar Kabupaten
Tegal mampu untuk mengatasi resiko usaha yang terkandung pada komponen kredit yang
diberikan apabila nasabah debitur gagal mengembalikan sebagian atau seluruhnya kredit
yang diterima dari bank.. Rasio PPAP sebesar 7,07% (tidak sehat) artinya PD. BPR Bank
Pasar Kabupaten Tegal dalam penyediaan dana untuk PPAP masih terlalu kecil, apabila
terjadi kerugian akibat penanaman aktiva produktif maka bank tidak mampu untuk menutup
kerugian tersebut sehingga laba yang dihasilkan menjadi berkurang sebesar kerugian yang
belum tertutup oleh PPAP yang dibentuk oleh bank tersebut. Pada tahun ini PD. BPR Bank
Pasar Kabupaten Tegal belum melaksanakan ketentuan-ketentuan PPAPWD sesuai dengan
peraturan PBI No. 8/19/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006 yang ditetapkan BI.
Manajemen sebesar 54% (kurang sehat) artinya PD. BPR Bank Pasar Kabupaten
Tegal yang dihasilkan kurang baik sehingga terjadi penurunan kinerja manajemen dalam
mengatur strategi dalam usaha pencapaian tujuan bank sehingga tidak dapat dioptimalkan
dan mengalami penurunan dalam pengaturan likuiditasnya yang berakibat pemberian kredit
dan pengawasan kegiatan operasional tidak sesuai dengan prosedur yang berlaku.
ROA sebesar 1,96% (sehat) artinya biaya operasional pada PD. BPR Bank Pasar
Kabupaten Tegal dapat seimbang dengan pendapatan operasional yang diperoleh sehingga
bank memperoleh laba yang cukup besar. Rasio BOPO sebesar 92,16% (sehat) artinya
94
pendapatan operasional yang dihasilkan pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal lebih
besar daripada biaya operasional yang ditanggung oleh bank.
Cash Ratio sebesar 23,88% (sehat) artinya PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
memiliki kemampuan dalam mengelola asset yang digunakan untuk membayar kewajiban
yang harus dibayar pada waktunya. Rasio LDR sebesar 112,67% (tidak sehat) artinya dana
yang diterima oleh PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal mengalami penurunan, baik dari
tabungan, deposito berjangka, modal inti yang berarti kemampuan bank dalam menyalurkan
kreditnya menurun.
Tabel 4.16
Kuantitatif Perhitungan Tingkat Kesehatan Bank pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten
Tegal Tahun 2005
Nilai
Komponen Rasio NK NK Max Bobot Indikator
Akhir
PERMODALAN
Rasio CAR 15,72% 158 100 30% 30 Sehat
KUALITAS AKTIVA
PRODUKTIF
1. Rasio KAP 12,13% 69 100 25% 17,25 Cukup Sehat
2. Rasio PPAP 2,81% 2,81 100 5% 0,14 Tidak Sehat
MANAJEMEN
1. Manajemen Umum 27% 67,5 100 10% 6,75 Kurang Sehat
2. Manajemen Resiko 33% 52,8 100 10% 5,28 Kurang Sehat
RENTABILITAS
1. ROA 2,19% 146 100 5% 5 Sehat
2. BOPO 92,17% 98 100 5% 4,9 Sehat
LIKUIDITAS
1. Cash Ratio 13,78% 276 100 5% 5 Sehat
2. LDR 99,56% 62 100 5% 3,1 Kurang Sehat
Total Nilai 77,42 Cukup Sehat
Sumber: Data Sekunder yang Diolah
Dari tabel 4.16, maka dapat diketahui bahwa tingkat kesehatan bank pada PD. BPR
Bank Pasar Kabupaten Tegal pada tahun 2005 memiliki bobot 77,42 yang berarti cukup sehat
berdasarkan kriteria penggolongan tingkat kesehatan pada SK DIR BI No.
30/12/KEP/DIR/97 dalam tabel 2.1. Permodalan sebesar 15,72% (sehat) mengalami
95
peningkatan sebesar 1,61% dibandingkan tahun 2004 karena nilai PPAP yang cukup rendah
sehingga mengakibatkan modal inti menjadi bertambah. ATMR cenderung mengalami
peningkatan yang tidak dapat diimbangi oleh modal inti yang dapat diperoleh dengan cara
menambah modal dari pemilik, cadangan dana operasional, cadangan likuid kebutuhan kas
jangka pendek dan cadangan kesejahteraan karyawan. Peningkatan ATMR yang terjadi
menyebabkan meningkat pula resiko yang terjadi pada aktiva yang dimiliki oleh bank.
Rasio KAP sebesar 12,13% (cukup sehat) mengalami peningkatan sebesar 1,77%
dibandingkan tahun 2004 artinya PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal mampu untuk
mengatasi resiko usaha yang terkandung pada komponen kredit yang diberikan apabila
nasabah debitur gagal mengembalikan sebagian atau seluruhnya kredit yang diterima dari
bank. Rasio PPAP sebesar 2,81% (tidak sehat) mengalami penurunan sebesar 4,26%
dibandingkan tahun 2004 karena nilai PPAP turun sebesar Rp 31.919.067,99 artinya PD.
BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dalam penyediaan dana untuk PPAP masih terlalu kecil,
apabila terjadi kerugian akibat penanaman aktiva produktif maka bank tidak mampu untuk
menutup kerugian tersebut sehingga laba yang dihasilkan menjadi berkurang sebesar
kerugian yang belum tertutup oleh PPAP yang dibentuk oleh bank tersebut. Pada tahun ini
PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal belum melaksanakan ketentuan-ketentuan PPAPWD
sesuai dengan peraturan PBI No. 8/19/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006 yang ditetapkan BI.
Manajemen sebesar 60% mengalami peningkatan sebesar 6% dibandingkan tahun
2004, tetapi masih dalam kondisi kurang sehat artinya PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
yang dihasilkan kurang baik sehingga terjadi penurunan kinerja manajemen dalam mengatur
strategi dalam usaha pencapaian tujuan bank sehingga tidak dapat dioptimalkan dan
96
mengalami penurunan dalam pengaturan likuiditasnya yang berakibat pemberian kredit dan
pengawasan kegiatan operasional tidak sesuai dengan prosedur yang berlaku.
ROA sebesar 2,19% (sehat) mengalami peningkatan sebesar 0,23% dibandingkan
tahun 2004 artinya biaya operasional pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dapat
seimbang dengan pendapatan operasional yang diperoleh sehingga bank memperoleh laba
yang cukup besar yang dipengaruhi oleh biaya yang ditanggung bank berkurang yaitu biaya
bunga, biaya administrasi dan umum, biaya personalia, dan biaya PPAP. Rasio BOPO
sebesar 92,17% (sehat) mengalami peningkatan sebesar 0.01% dibandingkan tahun 2004
artinya pendapatan operasional yang dihasilkan pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
lebih besar daripada biaya operasional yang ditanggung oleh bank.
Cash Ratio sebesar 13,78% (sehat) mengalami peningkatan sebesar 9,1%
diabndingkan tahun 2004 artinya PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal memiliki
kemampuan dalam mengelola asset yang digunakan untuk membayar kewajiban yang harus
dibayar pada waktunya. Rasio LDR sebesar 99,56% (kurang sehat) mengalami penurunan
sebesar 13,11% dibandingkan tahun 2004 artinya dana yang diterima oleh PD. BPR Bank
Pasar Kabupaten Tegal mengalami penurunan, baik dari tabungan, deposito berjangka, modal
inti yang berarti kemampuan bank dalam menyalurkan kreditnya menurun.
97
Tabel 4.17
Kuantitatif Perhitungan Tingkat Kesehatan Bank pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten
Tegal Tahun 2006
Nilai
Komponen Rasio NK NK Max Bobot Indikator
Akhir
PERMODALAN
Rasio CAR 18,66% 188 100 30% 30 Sehat
KUALITAS AKTIVA
PRODUKTIF
1. Rasio KAP 13,19% 30 100 25% 5,5 Kurang Sehat
2. Rasio PPAP 5,57% 5,57 100 5% 0,28 Tidak Sehat
MANAJEMEN
1. Manajemen Umum 29% 72,5 100 10% 7,25 Cukup Sehat
2. Manajemen Resiko 41% 65,6 100 10% 6,57 Cukup Sehat
RENTABILITAS
1. ROA -1,76% -117 100 5% -5 Tidak Sehat
2. BOPO 124,73% -297 100 5% -5 Tidak Sehat
LIKUIDITAS
1. Cash Ratio 28,98% 580 100 5% 5 Sehat
2. LDR 90,51% 98 100 5% 4,9 Sehat
Total Nilai 49,5 Tidak Sehat
Sumber: Data Sekunder yang Diolah
Dari tabel 4.17, maka dapat diketahui bahwa tingkat kesehatan bank pada PD. BPR
Bank Pasar Kabupaten Tegal pada tahun 2006 memiliki bobot 49,5 yang berarti tidak sehat
berdasarkan kriteria penggolongan tingkat kesehatan pada SK DIR BI No.
30/12/KEP/DIR/97 dalam tabel 2.1. Permodalan sebesar 18,66% (sehat) mengalami
peningkatan sebesar 2,94% dibandingkan tahun 2005 karena nilai PPAP yang cukup rendah
sehingga mengakibatkan modal inti menjadi bertambah. ATMR cenderung mengalami
peningkatan yang tidak dapat diimbangi oleh modal inti yang dapat diperoleh dengan cara
menambah modal dari pemilik, cadangan dana operasional, cadangan likuid kebutuhan kas
jangka pendek dan cadangan kesejahteraan karyawan. Peningkatan ATMR yang terjadi
menyebabkan meningkat pula resiko yang terjadi pada aktiva yang dimiliki oleh bank.
Rasio KAP sebesar 13,19% (kurang sehat) mengalami peningkatan sebesar 1,06%
dibandingkan tahun 2005 artinya PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal kurang mampu
98
untuk mengatasi resiko usaha yang terkandung pada komponen kredit yang diberikan apabila
nasabah debitur gagal mengembalikan sebagian atau seluruhnya kredit yang diterima dari
bank. Hal ini berarti komposisi aktiva produktif dikalsifikasikan perlu ditekan dan
penggunaan aktiva produktif diperketat, karena akan mempengaruhi tingkat Net Perfoming
Loan (NPL). Dengan kata lain, meningkatnya rasio NPL maka aktiva produktif bank tersebut
tidak dikelola secara efektif dan efisien. Oleh karena itu, perlu dilakukan penyaluran kredit
secara selektif untuk menekan besarnya komposisi aktiva produktif diklasifikasikan.
Rasio PPAP sebesar 5,57% mengalami peningkatan sebesar 2,76% dibandingkan
tahun 2005, walaupun nilai PPAP naik menjadi Rp 58.063.353,00 kondisinya masih tidak
sehat artinya PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dalam penyediaan dana untuk PPAP
masih terlalu kecil sehingga kerugian akibat penanaman aktiva produktif dan bank tidak
mampu untuk menutup kerugian tersebut sehingga laba yang dihasilkan menjadi berkurang
sebesar kerugian yang belum tertutup oleh PPAP yang dibentuk pada tahun sebelumnya.
Untuk mengatasi hal ini bank harus melakukan analisis kredit lebih ketat dalam artian bahwa
kredit hanya diberikan pada orang yang benar-benar memegang teguh janjinya untuk
melakukan kewajiban membayar kembali dana berikut bunganya, serta meningkatkan mutu
SDM dengan memberikan biaya pendidikan untuk karyawan dan mengikutsertakan
karyawan dalam seminar-seminar pengelolaan kredit. Pada tahun ini PD. BPR Bank Pasar
Kabupaten Tegal sudah melaksanakan ketentuan-ketentuan PPAPWD sesuai dengan
peraturan PBI No. 8/19/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006 yang ditetapkan BI sehingga bank
mengalami kerugian secara administratif.
Manajemen sebesar 70% mengalami peningkatan sebesar 10% dibandingkan tahun
2005, sehingga kondisinya menjadi cukup sehat artinya kinerja manajemen pada PD. BPR
99
Bank Pasar Kabupaten Tegal mengalami peningkatan dalam mengatur strategi dalam usaha
pencapaian tujuan bank sehingga tidak dapat di optimalkan dan mengalami peningkatan
dalam pengaturan likuiditasnya yang berakibat pemberian kredit dan pengawasan kegiatan
operasional telah sesuai dengan prosedur yang berlaku. Kepercayaan nasabah terhadap bank
untuk menyimpan dan meminjam uang ataupun pemanfaatan jasa lainnya sangat ditentukan
oleh kinerja bank tersebut. Hal itu dapat diartikan bahwa etos kerja sangat berpengaruh untuk
meciptakan karakteristik suatu bank dan sebagai sarana untuk mencapai tujuan.
ROA sebesar -1,76% (tidak sehat) mengalami penurunan sebesar 3,95%
dibandingkan tahun 2005 artinya biaya operasional pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten
Tegal lebih besar dari pendapatan operasional yang diperoleh sehingga bank mengalami rugi
yang cukup besar yang dipengaruhi oleh biaya yang ditanggung bank bertambah yaitu biaya
bunga, biaya administrasi dan umum, biaya personalia, dan biaya PPAP. Untuk
meningkatkan kondisi kesehatannya bank dapat melakukan penekanan pada biaya
operasionalnya. Rasio BOPO sebesar 124,73% (tidak sehat) mengalami peningkatan sebesar
32,56% dibandingkan tahun 2005 artinya pendapatan operasional yang dihasilkan PD. BPR
Bank Pasar Kabupaten Tegal lebih kecil daripada biaya operasional yang ditanggung oleh
bank karena terjadi pembengkakan biaya operasional pada beban PPAP yang ditanggung
bank cukup besar dan biaya bunga yang ditanggung bank dari pinjaman pihak ketiga
sehingga menyebabkan kondisi bank menjadi tidak sehat.
Cash Ratio sebesar 28,98% (sehat) mengalami peningkatan sebesar 15,2%
diabndingkan tahun 2005 artinya PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal memiliki
kemampuan dalam mengelola asset yang digunakan untuk membayar kewajiban yang harus
dibayar pada waktunya. Rasio LDR sebesar 90,51% (sehat) mengalami penurunan sebesar
100
9,05% dibandingkan tahun 2005 artinya dana yang diterima oleh PD. BPR Bank Pasar
Kabupaten Tegal mengalami kenaikan, baik dari tabungan, deposito berjangka, modal inti
yang berarti kemampuan bank dalam menyalurkan kreditnya meningkat. Kondisi yang baik
ini harus dipertahankan, salah satunya dengan cara bank membentuk tim independen yang
bertugas mengawasi pemberian kredit dan meningkatkan pelayanan terhadap nasabah agar
dapat mempercayakan pengelolaan dananya pada bank.
Berdasarkan hasil penilaian kuantitatif, maka perkembangan tingkat kesehatan PD.
BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal Tahun 2004-2006 dapat dilihat pada grafik 4.1:
100
90
80
70
60
Nilai
50
40
30
20
10
0
2004 2005 2006
Tahun
Grafik 4.1 Perkembangan Tingkat Kesehatan BPR
Pada grafik 4.1 dapat dilihat bahwa tingkat kesehatan bank pada PD. BPR Bank
Pasar Kabupaten Tegal pada tahun 2004 memiliki bobot nilai sebesar 76,73 yang berarti
cukup sehat berdasarkan kriteria penggolongan tingkat kesehatan pada SK DIR BI No.
30/12/KEP/DIR/97 dalam tabel 2.1. Hal ini berarti kinerja pada PD. BPR Bank Pasar
Kabupaten Tegal sudah cukup baik dan kegiatan operasional bank telah sesuai dengan
prosedur yang berlaku.
101
Tingkat kesehatan bank pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal pada tahun
2005 mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2004 dengan bobot nilai sebesar
77,73 tetapi bank masih dalam kondisi cukup sehat berdasarkan kriteria penggolongan
tingkat kesehatan pada SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97 dalam tabel 2.1. Hal ini berarti
kinerja pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal sudah cukup baik dengan adanya
peningkatan pada faktor likuiditas sehingga bank memiliki kemampuan dalam mengelola
asset yang digunakan untuk membayar kewajiban yang harus dibayar pada waktunya dan
kegiatan operasional bank telah sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Namun, tingkat kesehatan bank pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal pada
tahun 2006 mengalami penurunan yang cukup besar dibandingkan dengan tahun 2005
dengan bobot nilai sebesar 49,5 yang berarti dalam kondisi tidak sehat berdasarkan kriteria
penggolongan tingkat kesehatan pada SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97 dalam tabel 2.1.
Hal ini berarti kinerja pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal tidak baik dengan adanya
penurunan pada faktor kualitas aktiva produktif karena bank tidak mampu mengatasi resiko
usaha yang terkandung pada komponen kredit yang diberikan apabila nasabah debitur gagal
mengembalikan sebagian atau seluruhnya kredit yang diterima dari bank. Kondisi bank
bertambah buruk dengan adanya penurunan faktor rentabilitas sehingga bank mengalami
kerugian sebesar Rp 805.481.778,00 karena biaya yang ditanggung bank cukup besar yaitu
biaya bunga, biaya administrasi dan umum, biaya personalia, dan biaya PPAP.
PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal merupakan lembaga perbankan milik
Pemerintah Daerah yang kegiatan usahanya melaksanakan dan memperluas pemberian
pinjaman bagi pedagang, pengusaha golongan ekonomi lemah yang produktif dan pegawai
negeri maupun pegawai swasta serta para bakul di pasar-pasar dan di desa-desa. Dengan
102
adanya pemberian pinjaman kredit tersebut diharapkan masyarakat ekonomi menengah dapat
memanfaatkanya untuk mendapatkan kredit guna menjalankan usahanya sehingga taraf hidup
masyarakat dapat meningkat.
Oleh karena itu, PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal mempunyai loket-loket
sebanyak 22 buah loket yang lokasinya menyebar di seluruh wilayah Kabupaten Tegal untuk
melayani para bakul/pedagang di pasar-pasar dan di desa sekitarnya dalam membayar
kembali dana yang telah dipinjam ke bank. Akan tetapi, loket-loket tersebut sebagian besar
sudah tidak digunakan lagi (ditutup) karena banyak nasabah yang tidak membayar
kewajibannya yang menyebabkan kredit macet. Usaha yang dapat dilakukan PD. BPR Bank
Pasar Kabupaten Tegal untuk memperbaiki tingkat kesehatannya adalah dengan menjual
asset-asset yang tidak produktif seperti loket-loket yang sudah ditutup untuk menambah
modal bank.
103
BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Tingkat kesehatan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal tahun 2004-2006 untuk
masing-masing komponen yaitu:
a. Permodalan
Permodalan pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal tahun 2004-2006
termasuk dalam kriteria sehat artinya bank mampu untuk mempertahankan
pengelolaan terhadap modal sendiri dan aktiva-aktiva yang mengandung resiko, serta
mampu untuk menutup kerugian atas kredit yang diberikan.
b. Kualitas Aktiva Produktif
KAP pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal menunjukkan adanya
penurunan pada tahun 2006 dengan kriteria tidak sehat karena adanya penyaluran
kredit yang cukup tinggi, kemudian menyebabkan naiknya cadangan yang wajib
dibentuk oleh bank akibat dari beberapa pengembalian kredit yang kurang lancar,
diragukan dan macet.
c. Manajemen
Manajemen pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal menunjukkan adanya
peningkatan pada tahun 2006 dengan kriteria cukup sehat dibandingkan tahun
sebelumnya karena kinerja manajemen pada bank mengalami peningkatan dalam
mengatur strategi dalam usaha pencapaian tujuan bank sehingga dapat dioptimalkan
102
104
dan mengalami peningkatan dalam pengaturan likuiditasnya yang berakibat
pemberian kredit dan pengawasan kegiatan operasional telah sesuai dengan prosedur
yang berlaku.
d. Rentabilitas
ROA pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal mengalami penurunan pada
tahun 2006 dengan kriteria tidak sehat karena biaya operasional yang ditanggung
bank tidak seimbang dengan pendapatan operasional yang diperoleh sehingga bank
mengalami kerugian. BOPO juga mengalami penurunan karena pendapatan
operasional yang dihasilkan bank lebih kecil daripada biaya operasional yang
ditanggung oleh bank dan terjadi pembengkakan biaya operasional pada beban PPAP
yang ditanggung bank cukup besar.
e. Likuiditas
Cash Ratio pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal tahun 2004-2006
termasuk dalam kriteria sehat berarti bank memiliki kemampuan dalam mengelola
asset yang digunakan untuk membayar kewajiban yang harus dibayar pada waktunya.
Rasio LDR pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal mengalami kecenderungan
penigkatan yang signifikan selama tahun 2004-2006 sehingga dana yang diterima
oleh bank mengalami kenaikan baik dari tabungan, deposito berjangka, modal inti
yang berarti kemampuan bank dalam menyalurkan kreditnya meningkat.
2. Perkembangan tingkat kesehatan pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal tahun
2004-2006 untuk komponen Capital, Management, Liquidity cenderung mengalami
peningkatan yang cukup signifikan. Untuk komponen Asset Quality dan Earning
105
mengalami peningkatan pada tahun 2004-2005, tetapi pada tahun 2006 mengalami
penurunan karena bank rugi.
5.2 Saran
Berdasarkan simpulan di atas saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
1. PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal segera menjual asset-asset yang tidak produktif
untuk menutup kerugian.
2. Dalam pemberian kredit kepada nasabah, PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal harus
lebih ketat dalam artian bahwa kredit hanya diberikan pada nasabah yang benar-benar
memegang teguh janjinya untuk melakukan kewajiban membayar kembali dana berikut
bunganya.
106
DAFTAR PUSTAKA
Bank Indonesia, 1993.SE BI No.26/2/BPPP/93 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum
Bank bagi BPR.
, 1994. SK DIR BI No. 26/167/KEP/DIR tentang Kualitas Aktiva Produktif dan
Pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif.
, 1997. SK DIR BI No. 30/12/KEP/97 dan SE BI No.30/3/UPPB/97 tentang
Tata Cara Penilaian Kesehatan BPR
, 2004. SE BI No. 6/23/DPNP tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank
Umum
, 2004. Peraturan BI No. 6/22/PBI/2004 tentang Bank Perkreditan Rakyat
, 2006. Statistik Perbankan Indonesia. Jakarta
Arikunto, Suharsimi,1997. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Rineke Cipta :
Jakarta.
Kasmir, 2004. Manajemen Perbankan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Kasmir, 2003. Dasar-dasar Perbankan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Tri Santoso, Rudy. 1997. Mengenal Dunia Perbankan. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta.
Susilo, Y. Sri, dkk. 2000. Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Jakarta: Salemba Empat.
Munawir, Drs. S. 2002. Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty.
Gandapradja, Permadi. 2004. Dasar dan Prinsip Pengawasan Pengawasan Bank. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama .
Taswan, S.E., M.Si. 2006. Manajemen Perbannkan. Yogyakarta: UPP STIM YKPN Yogyakarta.
Djumhana, Muhammad. 1996. Hukum Perbankan di Indonesia. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
Djinarto, Bambang. 2000. Banking Asset Liability Manajemen: Perencanaan, Strategi,
Pengawasan, dan Pengelolaan Dana. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Handayani, Sri. 2004. Analisis Tingkat Kesehatan pada PD. BPR-BKK di Kabupaten Tegal.
Skripsi. Semarang FIS UNNES.
Kurniawan, M. Yusuf. 2006. Analisis Capital, Asset Quality, Management, Earning and
Liquidity sebagai Alat Penilaian Tingkat Kesehatan Bank pada Perusda BPR Bank Pasar
Kabupaten Kendal. Skripsi. Semarang FIS UNNES.
105
Related docs
Get documents about "