ANALISIS TINGKAT KESEHATAN BANK PADA PD. BPR BANK PASAR

Document Sample
scope of work template
							ANALISIS TINGKAT KESEHATAN BANK PADA
 PD. BPR BANK PASAR KABUPATEN TEGAL
            TAHUN 2004-2006


                 TUGAS AKHIR

     Untuk memperoleh gelar Ahli Madya Akuntansi
           pada Universitas Negeri Semarang




                        Oleh
                   Endang Triyana
                  NIM. 3351304522




       FAKULTAS EKONOMI
         JURUSAN AKUNTANSI
                2007
                          PERSETUJUAN PEMBIMBING


Tugas Akhir ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia

ujian Tugas Akhir pada:

                          Hari        :

                          Tanggal     :




                                    Dosen Pembimbing




                                 Drs. Tarsis Tarmudji
                                 NIP.130529513




                                          Mengetahui,
                                 Ketua Jurusan Akuntansi




                                  Drs. Sukirman, M.Si
                                  NIP.131967646




                                              ii
                        PENGESAHAN KELULUSAN


Tugas Akhir ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Tugas Akhir
Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang pada:


                       Hari          : Kamis

                       Tanggal       : 23 Agustus 2007


                                 Penguji Tugas Akhir




      Penguji I                                          Penguji II




Drs. Tarsis Tarmudji                               Drs. Kusmuriyanto, M. Si
NIP.130529513                                      NIP. 131404309




                                    Mengetahui:
                              Dekan Fakultas Ekonomi




                               Drs. Agus Wahyudin
                               NIP. 131658236




                                         iii
                                  PERNYATAAN



Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam Tugas Akhir ini benar-benar hasil
karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, sebagian atau
seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam Tugas Akhir
dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.




                                                      Semarang,   Juni 2007




                                                      Endang Triyana
                                                      NIM 3351304522




                                          iv
                    MOTTO DAN PERSEMBAHAN


Motto:
  Kisah    sukses     ditulis    oleh    kita      yang     memiliki
  keberanian, niat, dan hasrat untuk meraih sukses dalam
  hidup.
  Perhatikan masa lalu dan masa depanmu. Hidup adalah
  ujian yang datang silih berganti, seseorang hendaknya
  mampu keluar dari ujian itu sebagai pemenang.
  Emasmu   adalah     agamamu,       perhiasanmu     adalah     budi
  pekertimu dan hartamu adalah sopan santunmu.




                         Persembahan:
                           Bapak dan ibu tercinta yang selalu
                           memberikan kasih sayang, dorongan,
                           dan doa.
                           Kakak dan adik tersayang yang selalu
                           memberikan semangat dan doa.
                           Seseorang yang tercinta dan tersayang
                           dihatiku     yang    selalu    memberikan
                           semangat dan motivasi .
                           Sahabat-sahabat Az-Zahra Kost yang
                           menemani hari-hari sepiku.
                           Almamater tercinta dan teman-teman
                           Akuntansi D3 2004.




                                 v
                              KATA PENGANTAR




         Alhamdulilah, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat,

taufik, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Tugas

Akhir yang berjudul “ANALISIS TINGKAT KESEHATAN BANK PADA PD.

BPR BANK PASAR KABUPATEN TEGAL TAHUN 2004-2006”.

       Penulisan Tugas Akhir ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat

dalam memperoleh gelar Ahli Madya Akuntansi pada Fakultas Ekonomi Universitas

Negeri Semarang. Dalam penyusunan Tugas Akhir ini, penulis memperoleh bantuan,

bimbingan, dan pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan

ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Prof. Dr. H. Sudjiono Sastroatmodjo, M.Si, Rektor Universitas Negeri Semarang.

2. Drs. Agus Wahyudin, M.Si, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri

   Semarang.

3. Drs. Sukirman, M.Si, Ketua Jurusan Akuntansi Universitas Negeri Semarang.

4. Drs. Tarsis Tarmudji, Dosen Pembimbing atas bimbingan, ilmu, motivasi,

   kesabaran, dan perhatiannya selama penulisan Tugas Akhir ini.

5. Drs. Kusmuriyanto, M.Si, Dosen Penguji atas saran dan kritik yang sangat

   berguna bagi penulis.

6. Dwoyo Widyono, S.E, Direktur PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal yang telah

   memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian.

7. Bapak, ibu dan semua keluarga besar tercinta atas kasih sayang, dorongan

   semangat dan do’anya.


                                        vi
8. Sahabat-sahabat di AZ-ZAHRA kost dan teman-teman Akuntansi D3 2004 untuk

   semua kenangan yang indah sekali.

9. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Tugas Akhir ini yang tidak

   dapat disebutkan satu persatu.

         Penulis menyadari sepenuhnya kemampuan yang ada dalam diri penulis,

untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diperlukan oleh penulis.

         Akhirnya dengan segala kerendahan hati yang tulus, penulis berharap

semoga penyusunan Tugas Akhir ini akan memberikan manfaat bagi pembaca dan

pihak-pihak yang bersangkutan. Amin.



                                                          Semarang, Juni 2007



                                                                 Penulis




                                        vii
                                      SARI




Endang Triyana. 2007. Analisis Tingkat Kesehatan Bank pada PD. BPR Bank
Pasar Kabupaten Tegal Tahun 2004-2006. Tugas Akhir. Jurusan Akuntansi. Fakultas
Ekonomi. Universitas Negeri Semarang.105 halaman.

Kata Kunci: Capital, Asset Quality, Management, Earning, Liquidity.
               Tingkat Kesehatan
          Menurut UU No.7 Tahun 1992 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah bank
yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan Prinsip
Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas
pembayaran. PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal merupakan lembaga perbankan
milik Pemerintah Daerah yang kegiatan usahanya melaksanakan dan memperluas
pemberian pinjaman bagi pedagang, pengusaha golongan ekonomi lemah yang
produktif dan pegawai negeri maupun pegawai swasta serta para bakul di pasar-pasar
dan di desa-desa. Tujuan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal adalah untuk
mendukung program pemerintahan yaitu ikut berpartisipasi dalam pengentasan
kemiskinan di wilayah Kabupaten Tegal, mencegah semakin banyaknya kredit liar di
pasar dan menambah kontribusi pendapatan daerah yang berasal dari laba
perusahaan.
          Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi tingkat kesehatan dan
menganalisa apakah PD.Bank Pasar Kabupaten Tegal telah memenuhi kriteria bank
sehat yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia. Metode pengumpulan data yang
digunakan adalah metode dokumentasi, angket, wawancara dan kepustakaan. Metode
analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif untuk menilai tingkat
kesehatan Permodalan, Kualitas Aktiva Produktif, Rentabilitas, Likuiditas dan
analisis kualitatif untuk menilai tingkat kesehatan Manajemen.
          Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa permodalan pada PD.
BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal tahun 2004-2006 sehat artinya bank mampu untuk
mempertahankan pengelolaan terhadap modal sendiri dan aktiva-aktiva yang
mengandung resiko, serta mampu untuk menutup kerugian atas kredit yang diberikan.
Untuk KAP pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal menunjukkan adanya
penurunan pada tahun 2006 karena adanya penyaluran kredit yang cukup tinggi dan
menyebabkan naiknya cadangan yang wajib dibentuk oleh bank akibat dari beberapa
pengembalian kredit yang kurang lancar, diragukan dan macet. PPAP yang dibentuk
tidak sebanding dengan cadangan aktiva yang harus dibentuk akibat dari sebagian
debitur tidak dapat mengembalikan kredit sesuai dengan tanggal jatuh tempo.
Manajemen pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal menunjukkan adanya
peningkatan pada tahun 2006 dibandingkan tahun sebelumnya karena kinerja
manajemen pada bank mengalami peningkatan dalam mengatur strategi dalam usaha
pencapaian tujuan bank dan pengaturan kegiatan operasional bank telah sesuai
dengan prosedur yang berlaku. ROA pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
mengalami penurunan pada tahun 2006 karena biaya operasional yang ditanggung
bank tidak seimbang dengan pendapatan operasional yang diperoleh sehingga bank

                                       viii
mengalami kerugian yang dipengaruhi oleh biaya bunga, biaya administrasi dan
umum, biaya personalia, dan biaya PPAP. BOPO juga mengalami penurunan karena
pendapatan operasional yang dihasilkan bank lebih kecil daripada biaya operasional
yang ditanggung oleh bank. Cash Ratio pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
tahun 2004-2006 sehat berarti bank memiliki kemampuan dalam mengelola asset
yang digunakan untuk membayar kewajiban yang harus dibayar pada waktunya. LDR
juga mengalami kecenderungan peningkatan yang signifikan selama tahun 2004-2006
sehingga dana yang diterima oleh bank mengalami kenaikan baik dari tabungan,
deposito berjangka, modal inti yang berarti kemampuan bank dalam menyalurkan
kreditnya meningkat
         Simpulan dalam penelitian ini adalah bahwa tingkat kesehatan pada PD.
BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal tahun 2004-2006 untuk komponen Capital,
Management, Liquidity cenderung mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Untuk komponen Asset Quality dan Earning mengalami peningkatan pada tahun
2004-2005, tetapi pada tahun 2006 mengalami penurunan karena bank rugi. Adapun
saran yang diberikan yaitu, PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal segera melakukan
pembentukan tim penagihan kredit yang tidak lancar kepada para nasabah dan
menjual asset yang tidak produktif untuk menutup kerugian.




                                        ix
                                                       DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL ............................................................................................                      i
PERSETUJUAN PEMBIMBING .......................................................................                                 ii
PENGESAHAN KELULUSAN ...........................................................................                              iii
PERNYATAAN ...................................................................................................                iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ........................................................................                                 v
KATA PENGANTAR ..........................................................................................                     vi
SARI .....................................................................................................................   viii
DAFTAR ISI.........................................................................................................            x
DAFTAR TABEL.................................................................................................                xiii
DAFTAR GAMBAR ...........................................................................................                     xv
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................                     xvi
BAB I           PENDAHULUAN...............................................................................                     1
                 1.1 Latar Belakang .............................................................................              1
                 1.2 Permasalahan ...............................................................................              6
                 1.3 Tujuan Penelitian ..........................................................................              6
                 1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................               7
BAB II           LANDASAN TEORI................... .......................................................                     8
                 2.1 Konsep Dasar Bank.......................................................................                  8
                       2.1.1      Pengertian Bank ................................................................             8
                       2.1.2      Jenis Bank .........................................................................         9
                       2.1.3      Usaha Pokok Bank ............................................................               10
                 2.2 Tingkat Kesehatan Bank ...............................................................                   11
                 2.3 Kriteria Kesehatan Bank ...............................................................                  16
                 2.4 Penilaian Tingkat Kesehatan BPR ................................................                         17
                 2.5 Manfaat Penilaian Kesehatan Bank ..............................................                          39
                 2.6 Kerangka Berpikir.........................................................................               39
BAB III          METODOLOGI PENELITIAN ........................................................                               43
                 3.1 Lokasi Penelitian...........................................................................            43
                 3.2 Objek Penelitian............................................................................             43


                                                                 x
         3.3 Teknik Pengumpulan Data............................................................                   43
         3.4 Metode Pengumpulan Data...........................................................                    44
         3.5 Metode Analisis Data....................................................................              46
              3.5.1 Analisis Kuantitatif ..............................................................            46
              3.5.2 Analisis Kualitatif ................................................................           52
BAB IV   HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN...................................                                        55
         4.1 Deskripsi Objek Penelitian............................................................                55
              4.1.1 Gambaran Umum PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal                                               55
              4.1.2 Sejarah Berdirinya PD. Bank Pasar Kabupaten Tegal.......                                       56
              4.1.3 Struktur PD. Bank Pasar Kabupaten Tegal........................                                57
              4.1.4 Tugas dan Wewenang PD. Bank Pasar Kabupaten
                         Tegal..................................................................................   60
              4.1.5 Visi dan Misi PD. Bank Pasar Kabupaten Tegal ...............                                   67
              4.1.6 Lokasi dan Wilayah Kerja PD. Bank Pasar Kabupaten
                         Tegal..................................................................................   67
         4.2 Analisis Tingkat Kesehatan Bank .................................................                     67
         4.3 Pembahasan...................................................................................         68
              4.3.1 Permodalan.........................................................................            69
              4.3.2 Kualitas Aktiva Produktif ..................................................                   75
                        4.3.2.1 Rasio Aktiva Produktif yang Diklasifikasikan
                                    terhadap Total Aktiva Produktif ...........................                    75
                        4.3.2.2 Rasio               Penyisihan              Penghapusan              Aktiva
                                    Produktif terhadap Penyisihan Penghapusan yang
                                    Wajib Dibentuk .....................................................           78
              4.3.3 Manajemen..........................................................................            80
              4.3.4 Rentabilitas..........................................................................         82
                       4.3.4.1       Rasio Laba Sebelum Pajak terhadap Rata-rata
                                    Volume usaha........................................................           83
                       4.3.4.2 Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan
                                    Operasional ...........................................................        84
              4.3.5 Likuiditas ...........................................................................         86


                                                      xi
                             4.3.5.1 Rasio Alat Likuid terhadap Hutang Lancar ..........                             86
                             4.3.5.2 Rasio Kredit yang Diberikan terhadap Dana
                                        yang Diterima oleh Bank ......................................               88
             4.4 Hasil Penilaian Kuantitatif .............................................................           91
BAB V        PENUTUP ........................................................................................... 102
             5.1 Simpulan ....................................................................................... 102
             5.2 Saran .............................................................................................. 104
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 105
LAMPIRAN-LAMPIRAN




                                                         xii
                                          DAFTAR TABEL



Tabel 1.1 Perkembangan BPR di Provinsi Jawa Tengah....................................                        2
Tabel 2.1 Penggolongan Tingkat Kesehatan....................................................... 17
Tabel 2.2 Kriteria Penilaian Tingkat Kesehatan Faktor Permodalan.................. 27
Tabel 2.3 Kriteria Penilaian Tingkat Kesehatan Faktor KAP............................. 32
Tabel 2.4 Kriteria Penilaian Tingkat Kesehatan Faktor Manajemen.................. 33
Tabel 2.5 Kriteria Penilaian Tingkat Kesehatan Faktor Rentabilitas.................. 35
Tabel 2.6 Kriteria Penilaian Tingkat Kesehatan Faktor Likuiditas .................... 38
Tabel 3.1 Bobot Penilaian Tingkat Kesehatan BPR ........................................... 52
Tabel 3.2 Bobot Penilaian Tingkat Kesehatan Manajemen................................ 54
Tabel 4.1 Perhitungan ATMR Tahun 2004 ....................................................... 69
Tabel 4.2 Perhitungan ATMR Tahun 2005 ....................................................... 70
Tabel 4.3 Perhitungan ATMR Tahun 2006 ....................................................... 70
Tabel 4.4 Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Tahun 2004... 71
Tabel 4.5 Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Tahun 2005... 72
Tabel 4.6 Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Tahun 2006... 73
Tabel 4.7 Penilaian Permodalan Tahun 2004-2006 ............................................ 74
Tabel 4.8 Perbandingan Komposisi Aktiva Produktif yang
             Diklasifikasikan terhadap Aktiva Produktif Tahun 2004-2006 .......... 76
Tabel 4.9 Perbandingan Komposisi PPAP terhadap PPAWD Tahun 2004-2006 78
Tabel 4.10 Penilaian Aspek Manajemen Tahun 2004-2006 ................................. 81
Tabel 4.11 Rasio Laba Sebelum Pajak terhadap Rata-rata Volume Usaha
             (ROA) Tahun 2004-2006 .................................................................... 83
Tabel 4.12 Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional
             Tahun 2004-2006 ................................................................................ 85
Tabel 4.13 Rasio Alat Likuid terhadap Hutang Lancar Tahun 2004-2006........... 87
Tabel 4.14 Rasio Kredit yang Diberikan terhadap Dana yang Diterima oleh
             Bank Tahun 2004-2006....................................................................... 89




                                                     xiii
Tabel 4.15 Kuantitatif Perhitungan Tingkat Kesehatan Bank pada PD. BPR
          Bank Pasar Kabupaten Tegal Tahun 2004.......................................... 91
Tabel 4.16 Kuantitatif Perhitungan Tingkat Kesehatan Bank pada PD. BPR
          Bank Pasar Kabupaten Tegal Tahun 2004.......................................... 93
Tabel 4.17 Kuantitatif Perhitungan Tingkat Kesehatan Bank pada PD. BPR
          Bank Pasar Kabupaten Tegal Tahun 2004.......................................... 96




                                            xiv
                                        DAFTAR GAMBAR



Gambar 2.1 Kerangka Berpikir............................................................................ 42
Gambar 4.1 Struktur Organisasi PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal ........... 59
Gambar 4.2 Grafik Perkembangan Tingkat Kesehatan BPR................................ 99




                                                     xv
                            DAFTAR LAMPIRAN



Lampiran 1 Daftar Penilaian Aspek Manajemen

Lampiran 2 Daftar Pertanyaan Wawancara

Lampiran 3 Laporan Laba Rugi Komparatif PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal

            Tahun 2004-2006

Lampiran 4 Neraca Komparatif PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal Tahun

            2004-2006

Lampiran 5 Surat Permohonan Ijin Penelitian

Lampiran 6 Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian

Lampiran 7 Surat Rekomendasi Telah Menyelesaikan Tugas Akhir




                                      xvi
17
                                   BAB I

                             PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang

           Perbankan memiliki peranan yang sangat strategis dalam menunjang

   berjalannya roda perekonomian dan pembangunan nasional mengingat

   fungsinya sebagai lembaga intermediasi, penyelenggara transaksi pembayaran,

   serta alat tranmisi kebijakan moneter. Menurut Undang-undang RI Nomor 10

   Tahun 1998 tentang Perbankan, yang dimaksud dengan bank adalah badan

   usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan

   menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-

   bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

           Menurut Suyatno (1991:21) menjelaskan bahwa, bank adalah suatu

   jenis lembaga keuangan yang melaksanakan berbagai macam jasa, seperti

   memberikan pinjaman, mengedarkan mata uang, pengawasan terhadap mata

   uang, bertindak sebagai tempat penyimpanan benda-benda berharga,

   membiayai usaha perusahaan-perusahaan dan lain-lain.

           Dalam UU No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan, menurut jenisnya

   bank terdiri dari Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Bank

   Perkreditan Rakyat (BPR) adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha

   secara konvensional atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya

   tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran (Peraturan Bank

   Indonesia No. 8/26/PBI/2006). BPR sebagai lembaga perantara keuangan


                                     1
                                                                         2



(financial intermediary) yang menghimpun dana dari masyarakat dan

menyalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit, BPR harus

menjaga kepercayaan yang diberikan masyarakat dalam mengelola dana

mereka. Perwujudan dari kesungguhan BPR dalam mengelola dana

masyarakat adalah dengan menjaga kesehatan kinerjanya karena kesehatan

kinerja sangat penting bagi suatu lembaga usaha. Dengan mengetahui tingkat

kesehatan usaha, para stakeholders dapat dengan mudah menilai kinerja

lembaga tersebut.

        Dengan digulirkannya beberapa kebijakan di sektor keuangan sejak 1

Juni 1983 telah mendorong dunia perbankan untuk berkembang dengan pesat

baik dari sisi jumlah Bank, jumlah Kantor Bank sampai ke jumlah BPR.

Berdasarkan Data Statistik Perbankan Indonesia Tahun 2006, Bank Indonesia

mencatat perkembangan jumlah BPR dan Kantor BPR di Jawa Tengah yang

semakin meningkat seperti terlihat pada tabel 1.1 yaitu:

Tabel 1.1 Perkembangan BPR di Provinsi Jawa Tengah

   Keterangan        2001      2002      2003      2004    2005   2006
 Jumlah BPR           582       578       582       594    587     590
 Jumlah Kantor        587       585       601       713    670     675
Sumber: Statistik Ekonomi Keuangan Daerah Tahun 2006
        Berdasarkan tabel 1.1 terjadi peningkatan dari tahun 2001 sampai

tahun 2006 sehingga mengakibatkan persaingan yang sangat tajam di dunia

perbankan, oleh karena itu dalam melakukan aktivitas operasionalnya pihak

bank dituntut dan harus melakukan suatu manajemen perbankan yang

profesional agar bank tetap dalam kondisi sehat. Perbankan Indonesia
                                                                         3



sebagian besar masih menggantungkan sumber pendapatannya dari sektor

kredit, sedangkan resiko timbulnya kredit bermasalah selalu mengancam

industri perbankan.

        Perkembangan BPR di Jawa Tengah yang sangat pesat seharusnya

juga diikuti oleh sumber daya manusia sebagai pengelola lembaga tersebut.

Hal ini sangat penting sehubungan dengan keberlangsungan usaha lembaga ini

yang memiliki peran sangat penting dalam membantu meningkatkan

perekonomian nasional. Harapan pemerintah BPR dapat memberikan

kontribusi dan berperan aktif dalam menata perekonomian nasional yang lebih

baik dengan ikut menunjang modernisasi pedesaan dan memberikan bagi

golongan ekonomi menengah ke bawah yang bergerak dalam Usaha Mikro,

Kecil, dan Menengah (UMKM).

        Namun, banyaknya BPR di Jawa Tengah mengakibatkan persaingan

yang kurang sehat. Seringkali manajemen BPR mengambil jalan pintas dalam

memenangkan persaingan, salah satunya adalah kelonggaran-kelonggaran

yang diberikan kepada nasabah dalam pengajuan kredit. Persaingan dalam

penyaluran kredit mendorong perlombaan dalam kecepatan proses pemutusan

pemberian kredit, sehingga aspek-aspek analisis kredit cenderung dilakukan

secara terburu-buru. Hal ini akan menyebabkan masalah kredit macet yang

dapat mengakibatkan bank menjadi tidak sehat. Dengan

        Pemerintah menegaskan pentingnya penilaian tingkat kesehatan bank

yang dituangkan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun

1998 tanggal 10 November 1998 pasal 29 ayat 2 yang menyatakan bahwa
                                                                            4



bank wajib memelihara tingkat kesehatan bank sesuai dengan ketentuan

kecukupan modal, kualitas asset, kualitas manajemen, likuiditas, rentabilitas,

solvabilitas dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank, dan wajib

melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian.

         Bank Indonesia selaku pembina dan pengawas bank juga

mengeluarkan peraturan mengenai penilaian kinerja BPR yang tertuang dalam

SK DIR BI No.30/12/KEP/DIR/1997 tanggal 30 April 1997 yang didasarkan

pada lima indikator penilaian yaitu: Capital, Assets, Management, Earning

dan Liquidity (CAMEL). Pada metode CAMEL ada batasan-batasan yang

telah ditentukan oleh Bank Indonesia adalah tentang seberapa besar/

prosentase kinerja keuangan yang memenuhi persyaratan bank tersebut untuk

dinyatakan sehat, serta tidak membahayakan/ merugikan pihak-pihak yang

berkepentingan.

        Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 1998 tanggal 14 Mei

1998 menjelaskan bahwa PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal merupakan

lembaga perbankan milik Pemerintah Daerah yang kegiatan usahanya

melaksanakan dan memperluas pemberian pinjaman bagi pedagang,

pengusaha golongan ekonomi lemah yang produktif dan pegawai negeri

maupun swasta serta para bakul di pasar-pasar dan di desa-desa. Dengan

adanya pemberian pinjaman kredit tersebut diharapkan masyarakat ekonomi

menengah    dapat   memanfaatkanya      untuk   mendapatkan     kredit   guna

menjalankan usahanya sehingga taraf hidup masyarakat dapat meningkat.
                                                                             5



            Tujuan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal adalah untuk

mendukung        program   pemerintahan   yaitu   ikut   berpartisipasi   dalam

pengentasan kemiskinan di wilayah Kabupaten Tegal dan mencegah semakin

banyaknya kredit liar di pasar. Sebagai bentuk usaha perusahaan daerah, BPR

memberikan pembagian laba kepada Pemerintah Daerah Tingkat II Tegal

sebesar 40% dari laba setelah pajak untuk disetorkan ke kas daerah sebagai

sumber Pendapatan Asli Daerah Sendiri (PDAS).

            Dari data Laporan Kualitas Aktiva Produktif pada PD. BPR Bank

Pasar Kabupaten Tegal dapat diketahui bahwa tahun 2004 kredit yang tidak

lancar (macet) sebesar 19%, tahun 2005 sebesar 20% dan tahun 2006 sebesar

23%. Sebagai badan usaha yang memberikan fasilitas kredit kepada

masyarakat yang mayoritas masih digolongkan dalam ekonomi menengah ke

bawah dimana hasil usahanya sering tidak menentu, menjadikan PD. BPR

Bank Pasar Kabupaten Tegal harus lebih berhati-hati dalam menganalisis

pemberian kredit. Kesungguhan dalam menerapkan prosedur pemberian kredit

yang sesuai dengan peraturan yang telah ditentukan adalah mutlak dilakukan

agar terhindar dari permasalahan yang selalu terulang dari tahun ke tahun

yaitu tingginya kredit macet yang dapat mengakibatkan bank menjadi tidak

sehat. Tingkat kesehatan perbankan penting artinya untuk meningkatkan

efisiensi    dalam   menjalankan   usahanya   sehingga    kemampuan       untuk

memperoleh keuntungan dapat ditingkatkan dan menghindari adanya potensi

kebangkrutan.
                                                                              6



           Dari uraian tersebut di atas menarik penulis untuk mengetahui lebih

   jelas tentang kesehatan bank. Oleh karena itu, penulis mengambil judul

   tentang “ANALISIS TINGKAT KESEHATAN BANK PADA PD. BPR

   BANK PASAR KABUPATEN TEGAL TAHUN 2004-2006”.



1.2 Perumusan Masalah

           Berdasarkan latar belakang diatas maka permasalahan yang dikaji

   dalam dalam penelitian ini adalah:

   1. Bagaimana tingkat kesehatan untuk masing-masing komponen Capital,

      Assets, Management, Earnings, Liquidity pada PD. BPR Bank Pasar

      Kabupaten Tegal?

   2. Bagaimana perkembangan tingkat kesehatan bank pada PD. BPR Bank

      Pasar Kabupaten Tegal tahun 2004 sampai dengan tahun 2006 secara

      keseluruhan jika ditinjau dari segi Capital, Assets, Management, Earnings,

      Liquidity (CAMEL) apakah mengalami peningkatan atau penurunan?



1.3 Tujuan Penelitian

           Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

   1. Untuk mengetahui tingkat kesehatan masing-masing komponen Capital,

      Assets, Management, Earnings, Liquidity pada PD. BPR Bank Pasar

      Kabupaten Tegal.

   2. Untuk mengetahui perkembangan tingkat kesehatan bank pada PD. BPR

      Bank Pasar Kabupaten Tegal tahun 2004 sampai dengan tahun 2006 secara
                                                                              7



      keseluruhan jika ditinjau dari segi Capital, Assets, Management, Earnings,

      Liquidity (CAMEL) apakah mengalami peningkatan atau penurunan.



1.4 Manfaat Penelitian

           Manfaat dari penelitian ini adalah:

   1. Manfaat Teoritis

      a.   Ingin menerapkan konsep SK Dir BI No.30/12/KEP/DIR/1997 dan

           SE BI No.30/3/UPPB mengenai tata cara penilaian kesehatan BPR

           pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal.

      b.   Sebagai wacana tambahan yang diharapkan dapat berguna bagi

           civitas akademis sehingga dapat memberikan pengetahuan mengenai

           perbankan khususnya tata cara penilaian tingkat kesehatan BPR.

   2. Manfaat Praktis

      a.   Sebagai bahan masukan atau sumbangan informasi kepada pihak

           manajemen bank jika terjadi penyimpangan-penyimpangan sebagai

           peringatan awal untuk menjaga kondisi kesehatan bank.

      b.   Sebagai bahan informasi bagi masyarakat pengguna jasa BPR agar

           dapat memilih dan mempercayakan dananya pada BPR yang

           memiliki kinerja baik.

      c.   Sebagai media menambah ilmu yang diperoleh di bangku kuliah

           dengan praktek di lapangan guna menambah wawasan pengetahuan

           dan pengalaman di dunia perbankan.
                                                                           8



                                  BAB II

                           LANDASAN TEORI



2.1 Konsep Dasar Bank

   2.1.1 Pengertian Bank

                Bank adalah badan usaha yang kekayaannya terutama dalam

        bentuk asset keuangan (financial assets) serta bermotifkan profit dan

        juga sosial, jadi bukan hanya keuntungan saja (Hasibuan, 2003:2).

        Menurut Dictionary of Banking and financial service by Jerry

        Rosenberg, bank adalah lembaga yang menerima simpanan giro,

        deposito dan membayar atas dasar dokumen yang ditarik pada orang

        atau lembaga tertentu, mendiskonto surat berharga, dan menanamkan

        dananya dalam surat berharga (Taswan, 2006:4)

                Menurut Undang-undang RI Nomor 10 Tahun 1998 tentang

        Perbankan, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari

        masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada

        masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam

        rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

                Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bank adalah badan

        usaha yang aktivitasnya menghimpun dana berupa giro, deposito

        tabungan dan simpanan yang lain dari pihak yang kelebihan dana dan

        menyalurkannya kembali kepada masyarakat yang membutuhkan dana



                                     8
                                                                       9



      melalui penjualan jasa keuangan untuk meningkatkan kesejahteraan

      rakyat banyak.

2.1.2 Jenis Bank

              Menurut UU No.7 Tahun 1992 tentang perbankan sebagaimana

      telah diubah dengan UU No.10 Tahun 1998 tentang perbankan, jenis

      bank meliputi:

      1. Bank Umum

                   Bank Umum menurut UU No.10 Tahun 1998 yaitu bank

         yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan/atau

         berdasarkan Prinsip Syariah yag dalam kegiatannya memberikan

         jasa dalam lalu lintas pembayaran. Kegiatan-kegiatan usaha yang

         dapat dilakukan oleh Bank Umum yaitu:

         a. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan

            berupa deposito berjangka, tabungan, dana atau bentuk lainnya

            yang dipersamakan dengan itu.

         b. Menerbitkan surat pengakuan utang.

         c. Menerima pembayaran atas tagihan surat berharga dan melakukan

            perhitungan dengan atau antar pihak ketiga.

      2. Bank Perkreditan Rakyat (BPR)

                   Bank Perkreditan Rakyat menurut UU No.10 Tahun 1998,

         yaitu adalah sebagai bank yang melaksanakan kegiatan usaha

         konvensional dan atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam
                                                                          10



          kegiatannya tidak memberikan jasa lalu lintas pembayaran. Tugas

          dari Badan Perkreditan Rakyat meliputi:

          a. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan

            berupa deposito berjangka, tabungan, dana atau bentuk lainnya

            yang dipersamakan dengan itu.

          b. Memberikan kredit kepada pengusaha kecil dan rumah tangga.

          c. Menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi

            hasil sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan

            Pemerintah.

                  Adapun tujuan dari Badan Perkreditan Rakyat adalah:

          a. Menunjang kelancaran penyediaan sarana produksi terutama

            permodalan dalam rangka pembangunan daerah pada umumnya

            dan pembangunan desa pada khususnya.

          b. Menciptakan pemerataan dalam kesempatan berusaha segolongan

            ekonomi lemah di pedesaan dan menciptakan lapangan kerja

            secara langsung.

2.1.3 Usaha Pokok Bank

              Bank pada dasarnya merupakan perantara antara SSU (Surplus

     Spending Unit) dengan DSU (Deficit Spenddung Unit), usaha pokok

     bank didasarkan atas empat hal pokok yaitu:

     1.   Denomination Divisibility

          Adalah bank yang menghimpun dana dari SSU (Surplus Spending

          Unit) yang masing-masing nilainya relatif kecil, tetapi secara
                                                                                11



              keseluruhan jumlahnya akan sangat besar. Dengan demikian bank

              dapat memenuhi permintaan DSU yang membutuhkan dana tersebut

              dalam bentuk kredit.

        2.    Maturity Flexibility

              Adalah bank dalam menghimpun dana menyelenggarakan bentuk-

              bentuk simpanan yang bervariasi jangka waktu dan penarikannya

              seperti rekening giro, rekening koran, deposito berjangka, sertifikat

              deposito, buku tabungan dan lain sebagainya.

        3.    Liquidity Tranformation

              Adalah dana yang disimpan oleh para penabung (SSU) kepada bank

              umumnya bersifat likuid. Karena itu, SSU dapat dengan mudah

              mencairkannya sesuai dengan bentuk tabungannya.

        4.    Risk Diversification

              Adalah bank dalam menyalurkan kredit kepada banyak pihak atau

              debitur dan sektor-sektor ekonomi yang beraneka ragam, sehingga

              resiko yang dihadapi bank dengan cara menyebarkan kredit semakin

              kecil.



2.2 Tingkat Kesehatan Bank

             Peraturan Bank Indonesia No. 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004

   tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan bank Umum menjelaskan bahwa

   bank wajib melakukan penilaian tingkat kesehatan bank secara triwulan.

   Peraturan tersebut menjelaskan bahwa tingkat kesehatan bank merupakan
                                                                               12



hasil penilaian kualitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap

kondisi atau kinerja suatu bank melalui penilaian faktor permodalan, kualitas

asset, manajemen, rentabilitas,likuiditas, dan sensitivitas terhadap risiko pasar.

Penilaian terhadap faktor-faktor tersebut dilakukan melalui penilaian

kuantitatif dan atau kualitatif setelah mempertimbangkan unsur judgement

yang didasarkan atas materialitas dan signifikansi dari faktor-faktor penilaian

serta pengaruh dari faktor lainnya seperti kondisi industri perbankan dan

perekonomian nasional.

         Penilaian faktor-faktor komponen dilakukan dengan sistem kredit

(system reward) yang dinyatakan dalam nilai kredit 0 sampai 100. Hasil

kuantifikatif dari komponen-komponen tersebut dinilai lebih lanjut dengan

memperhatikan informasi dan aspek-aspek lain yang secara material

berpengaruh terhadap kondisi dan perkembangan masing-masing faktor.

Tingkat kesehatan bank digolongkan dalam empat kategori yaitu: sehat, cukup

sehat, kurang sehat dan tidak sehat.

         Sebagai pengawas bank, Bank Indonesia juga menilai performance

bank dengan memperhatikan enam indikator yang disebut CAMELS.

Penilaian sistem CAMELS ini mengukur apakah manajemen bank telah

melaksanakan sistem perbankan dengan asas-asas yang sehat. Enam indikator

tersebut adalah sebagai berikut:

1. Aspek Permodalan (Capital)

   Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor permodalan antara

   lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen:
                                                                            13



   a. Kecukupan pemenuhan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum

      (KPMM) terhadap ketentuan yang berlaku.

   b. Komposisi permodalan.

   c. Trend ke depan/ proyeksi KPMM.

   d. Aktiva produktif yang diklasifikasikan dibandingkan dengan modal

      bank.

   e. Kemampuan bank memelihara kebutuhan penambahan modal yang

      berasal dari keuntungan (laba ditahan).

   f. Rencana permodalan bank untuk mendukung pertumbuhan usaha.

   g. Akses kepada sumber permodalan.

   h. Kinerja keuangan pemegang saham untuk meningkatkan permodalan

      bank.

2. Aspek Kualitas Aktiva Produktif (Assets Quality)

   Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor kualitas asset antara

   lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen:

   a. Aktiva produktif yang diklasifikasikan dibandingkan dengan total

      aktiva produktif.

   b. Debitur inti kredit diluar pihak terkait dibandingkan dengan total kredit.

   c. Perkembangan aktiva produktif bermasalah non performing assets

      dibandingkan dengan aktiva produktif.

   d. Tingkat kecukupan pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva

      Produktif (PPAP).

   e. Kecukupan kebijakan dan prosedur aktiva produktif.
                                                                            14



   f. Sistem kaji ulang (review) internal terhadap aktiva produktif.

   g. Dokumen aktiva produktif.

   h. Kinerja penanganan aktiva produktif bermasalah.

3. Aspek Manajemen (Management)

   Penilaian terhadap faktor manajemen antara lain dilakukan melalui

   penilaian terhadap komponen-komponen:

   a. Manajemen umum.

   b. Penerapan sistem manajemen risiko.

   c. Kepatuhan bank terhadap ketentuan yang berlaku serta komitmen

      kepada Bank Indonesia dan atau pihak lain.

4. Aspek Rentabilitas (Earning)

   Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor rentabilitas antara

   lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen:

   a. Return On Assets (ROA).

   b. Return On Equity (ROE).

   c. Net Interest Margin (NIM).

   d. Biaya Operasional dibandingkan dengan Pendapatan Operasional

      (BOPO).

   e. Perkembangan laba operasional.

   f. Komposisi portofolio aktiva produktif dan diversifikasi pendapatan.

   g. Penerapan prinsip akuntansi dalam pengakuan pendapatan dan biaya

   h. Prospek laba operasional
                                                                              15



5. Aspek Likuiditas (Liquidity)

   Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor likuiditas antara lain

   dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen:

   a. Aktiva likuid kurang dari 1 bulan dibandingkan dengan pasiva liquid

       kurang dari 1 bulan.

   b. 1-month maturity mismatch ratio.

   c. Loan to Deposit Ratio (LDR).

   d. Proyeksi cash flow 3 bulan mendatang.

   e. Ketergantungan pada dana antara bank dan deposan inti.

   f. Kebijakan    dan    pengelolaan    likuiditas   (Assets   and   Liabilities

       Management/ ALMA)

   g. Kemampuan bank untuk memperoleh akses kepada pasar uang, pasar

       modal, atau sumber-sumber pendanaan lainnya.

   h. Stabilitas Dana Pihak Ketiga (DPK).

6. Sensitivitas terhadap risiko pasar (Sensitivity to Market Risk)

   Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor sensitivitas terhadap

   resiko pasar antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-

   komponen:

   a. modal atau cadangan yang dibentuk untuk mengcover fluktuasi suku

       bunga dibandingkan dengan potential loss sebagai akibat fluktuasi

       (adverse movement) suku bunga.
                                                                               16



        b. modal atau cadangan yang dibentuk untuk mengcover fluktuasi nilai

           tukar dibandingkan dengan potential loss sebagai akibat fluktuasi

           (adverse movement) nilai tukar

        c. kecukupan penerapan sistem manajemen risiko pasar.



2.3 Kriteria Kesehatan Bank

            Tingkat kesehatan pada dasarnya dinilai dengan pendekatan

   kuantitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi dan

   perkembangan suatu bank. Pendekatan kuantitatif tersebut dapat dilakukan

   dengan mengadakan penilaian terhadap faktor permodalan, kualitas aktiva

   produktif, rentabilitas, likuiditas. Pendekatan kuantitatif diperlukan karena

   masing-masing faktor tersebut mengandung berbagai aspek yang saling

   berkaitan antara satu dengan lainnya serta saling mempengaruhi.

            Pelaksanaan penilaian terhadap faktor-faktor tersebut dilakukan

   dengan cara:

   1.    Mengkuantifikasi beberapa komponen penting dari masing-masing faktor.

   2.    Atas dasar kuantifikasi komponen-komponen penting tersebut dilakukan

         penilaian lebih lanjut dengan memperhatikan aspek lain yang secara

         materiil berpengaruh terhadap kondisi dan perkembangan masing-masing

         faktor.

            Sedangkan tata cara kuantifikasi penilaian kesehatan dilakukan

   dengan reward system yaitu memberikan nilai kredit 0 sampai dengan 100
                                                                              17



   bagi masing-masing faktor komponen penilaian tingkat kesehatan bank BPR

   beserta dengan bobotnya.

           Tingkat kesehatan PD. BPR Bank Pasar digolongkan menjadi empat

   kriteria yang ditentukan oleh pemerintah, mengacu pada PAKTRI 91/

   PAKMEI 1993, menurut tingkat kesehatan bank nilai dan predikat tersebut:

   Tabel 2.1 Penggolongan Tingkat Kesehatan

         Nilai            Predikat
       81 − 100               Sehat
       66 – < 81        Cukup Sehat
       51 – < 66       Kurang Sehat
       0 – < 51         Tidak Sehat
   Sumber: SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR



2.4 Penilaian Tingkat Kesehatan BPR

           Tata cara penialian tingkat kesehatan BPR pada dasarnya hampir

   sama dengan penilaian tingkat kesehatan bank umum. Namun, dalam

   penilaian tingkat kesehatan BPR tidak menggunakan indikator sensitivitas

   terhadap resiko pasar. Selain itu terdapat perbedaan antara BPR dengan Bank

   Umum pada penilaian faktor permodalan dan faktor manajemen. Pada faktor

   permodalan yang membedakan adalah besarnya persentase bobot risiko yang

   digunakan dalam perhitungan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR).

   Sedangkan untuk faktor manajemen pada jumlah pertanyaan yang diajukan

   pada pihak manajemen BPR lebih sedikit daripada pertanyaan yang diajukan

   pada pihak manajemen Bank Umum. Perbedaan tersebut pada dasarnya
                                                                        18



berkaitan juga dengan keterbatasan dari usaha yang boleh dilakukan BPR,

seperti tercantum dalam UU No.7 Tahun 1992, dimana BPR dilarang:

1. Menerima simpanan berupa giro dan ikut serta dalam lalu lintas

   pembayaran.

2. Melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing.

3. Melakukan penyertaan modal.

4. Melakukan usaha perasuransian.

5. Melakukan usaha lain diluar kegiatan usaha sebagaimana dimaksud di atas.

        Sesuai SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR dan SE BI No.30/3/UPPB

tanggal 30 April 1997 tentang tata cara penilaian tingkat kesehatan BPR,

faktor-faktor dan komponen CAMEL yang dinilai sebagai berikut:

1. Permodalan (Capital)

            Modal merupakan salah satu faktor penting bagi bank dalam

   rangka pengembangan usaha dan menampung risiko kemungkinan

   kerugian.

           Permodalan yang cukup adalah berkaitan dengan penyediaan

   modal sendiri yang yang diperlukan yang mungkin timbul dari penanaman

   dalam aktiva produktif yang mengandung risiko serta membagi

   penanaman dalam benda tetap dan investasi.

   1) Pengertian Modal

               Menurut Hasibuan (2005:61) Dana/ modal Bank adalah

       sejumlah uang yang dimiliki dan dikuasai suatu bank dalam kegiatan
                                                                  19



operasionalnya. Dana bank terdiri dari dana (modal) sendiri dan dana

asing.

         Modal Sendiri Bank (Equity Fund) adalah sejumlah uang tunai

yang telah disetorkan pemilik dan sumber-sumber lainnya yang berasal

dari dalam bank itu sendiri; terdiri dari modal inti dan modal

pelengkap.

         Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 8/26/PBI/2006

tanggal 8 November 2006 tentang Kewajiban Penyediaan Modal

Minimum BPR menjelaskan rincian modal bagi BPR adalah sebagai

berikut:

1. Modal Inti

             Modal inti terdiri atas modal disetor dan cadangan–

   cadangan yang dibentuk dari laba setelah pajak. Secara rincian

   modal inti dapat berupa bentuk-bentuk berikut:

   a. Modal disetor

         Modal disetor yaitu modal yang telah disetor secara riil dan

         efektif oleh pemiliknya serta tekah disetujui oleh Bank

         Indonesia. Bagi BPR yang berbadan hukum Koperasi, modal

         disetor terdiri dari atas simpanan pokok dan simpanan wajib

         dan hibah dari para anggotanya.
                                                               20



b. Agio saham

   Agio saham yaitu selisih lebih tambahan modal yang diterima

   BPR sebagai akibat harga saham yang melebihi nilai

   nominalnya.

c. Modal sumbangan

   Modal sumbangan yaitu modal yang telah diperoleh kembali

   dari sumbangan saham, termasuk modal yang berasal dari

   donasi pihak luar yang diterima oleh bank yang berbentuk

   hukum koperasi .

d. Cadangan umum

   Cadangan umum yaitu cadangan yang dibentuk dari penyisihan

   laba yang ditahan atau dari laba bersih setelah dikurangi pajak

   dan mendapat persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham atau

   Rapat Anggota sesuai dengan ketentuan perundang-undangan

   yang berlaku.

e. Cadangan tujuan

   Cadangan tujuan yaitu bagian laba setelah dikurangi pajak yang

   disisihkan untuk tujuan tertentu dan mendapat mendapat

   persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham atau Rapat

   Anggota sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
                                                                 21



f. Laba yang ditahan (rentained earning)

   Laba yang ditahan yaitu saldo laba bersih setelah dikurangi

   pajak yang oleh Rapat Umum Pemegang Saham atau Rapat

   Anggota diputuskan untuk tidak dibagikan.

g. Laba tahun lalu

   Laba tahun lalu yaitu seluruh laba bersih tahun-tahun lalu

   setelah dikurangi pajak kecuali apabila diperkenankan untuk

   dikompensasi dengan kerugian sesuai dengan ketentuan pajak

   yang berlaku dan belum ditetapkan penggunaanya oleh Rapat

   Umum Pemegang Saham atau Rapat Anggota. Jumlah laba

   tahun lalu yang diperhitungkan sebagai modal inti sebesar 50%.

   Jika BPR mempunyai saldo rugi pada tahun-tahun lalu, seluruh

   kerugian tersebut menjadi faktor pengurang dari modal inti.

h. Laba tahun berjalan

   Laba tahun berjalan yaitu laba setelah diperhitungkan dengan

   kekurangan pembentukan penyisihan penghapusan aktiva

   produktif. Perhitungan taksiran utang pajak dikecualikan

   apabila diperkenankan untuk dikompensasi dengan kerugian

   sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku. Jumlah laba tahun

   buku berjalan yang diperhitungkan sebagai modal inti hanya

   sebesar 50%. Jika BPR mengalami kerugian pada tahun

   berjalan, seluruh kerugian tersebut menjadi faktor pengurang

   dari modal inti.
                                                                    22



   Modal inti tersebut diatas harus dikurangi dengan:

   a) Goodwill yang ada dalam pembukuan bank.

   b) Kekurangan jumlah penyisihan penghapusan aktiva produktif

      dari jumlah yang sebenarnya dibentuk sesuai dengan ketentuan

      Bank Indonesia.

2. Modal Pelengkap

         Modal pelengkap terdiri dari cadangan-cadangan yang

   dibentuk tidak dari laba setelah pajak, serta pinjaman yang sifatnya

   dapat dipersamakan dengan modal. Secara rinci modal pelengkap

   dapat berupa:

   a. Cadangan revaluasi aktiva tetap

      Cadangan revaluasi aktiva tetap yaitu cadangan yang dibentuk

      dari selisih penilaian kembali aktiva tetap yang telah mendapat

      persetujuan Direktorat Jenderal Pajak.

   b. Cadangan penghapusan aktiva yang diklasifikasikan

      Cadangan penghapusan aktiva yang diklasifikasikan yaitu

      cadangan yang dibentuk dengan cara membebani laba rugi

      tahun berjalan dengan maksud untuk menampung kerugian

      yang mungkin timbul sebagai akibat dari tidak diterimanya

      kembali sebagian atau seluruh aktiva produktif.

   c. Modal pinjaman (sebelumnya disebut modal kuasi)

      Modal kuasai yang menurut BIS disebut hybrid (dept/equity)

      capital instrument yaitu modal yang didukung oleh instrument
                                                                  23



   atau warkat yang memiliki sifat seperti modal atau utang dan

   mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

   1) tidak dijamin oleh BPR yang bersangkutan, dipersamakan

      dengan modal dan telah dibayar penuh.

   2) tidak dapat dilunasi atau ditarik atas inisiatif pemilik, tanpa

      persetujuan Bank Indonesia.

   3) mempunyai kedudukan yang sama dengan modal dalam hal

      jumlah kerugian BPR melebihi laba yang ditahan dan

      cadangan-cadangan yang termasuk modal inti, meskipun

      BPR belum dilikuidasi.

   4) pembayaran bunga dapat ditangguhkan apabila BPR dalam

      keadaan rugi atau labanya tidak mendukung untuk

      membayar bunga tersebut.

d. Pinjaman subordinasi

   Pinjaman subordinasi yaitu pinjaman yang setinggi-tingginya

   sebesar 50% dari modal inti, dengan persyaratan sebagai

   berikut:

   1) terdapat perjanjian tertulis antara BPR dengan pemberi

      pinjaman.

   2) mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Bank Indonesia.

      Dalam     hubungan     ini   pada   saat   BPR    mengajukan

      permohonan      persetujuan,   BPR     harus   menyampaikan
                                                                     24



              program      pembayaran   kembali   pinjaman   subordinasi

              tersebut.

           3) tidak dijamin oleh BPR yang bersangkutan dan telah

              dibayar penuh, minimal berjangka waktu 5 tahun.

           4) pelunasan sebelum jatuh tempo harus mendapat persetujuan

              dari Bank Indonesia dan dengan pelunasan tersebut

              permodalan BPR tetap sehat.

           5) hak tagih dalam hal terjadi likuidasi berlaku paling akhir

              dari segala pinjaman yang ada (kedudukannya sama dengan

              modal).

2) Pengertian Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR)

           Pengertian Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) yaitu

   pos-pos aktiva yang diberikan bobot risiko yang terkandung pada

   aktiva itu sendiri atau bobot risiko yang didasarkan pada golongan

   nasabah, peminjam atau sifat barang jaminan. Rincian bobot tersebut

   adalah sebagai berikut:

   a. 0% dikalikan dengan:

      1)    Kas

      2)    Surat Bank Indonesia

      3)    Kredit yang dijamin dengan saldo deposito berjangka dan

            tabungan yang cukup milik peminjam pada BPR yang

            bersangkutan
                                                                      25



   b. 20% dikalikan dengan:

      1)    Giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan serta

            tagihan lainnya kepada bank lain

      2)    Kredit kepada bank lain atau pemerintah daerah

      3)    Kredit kepada atau kredit yang dijamin oleh bank lain/

            pemerintah daerah.

   c. 50 % dikalikan dengan:

      Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau kredit yang dijamin oleh

      hipotik pertama dengan tujuan untuk dihuni.

   d. 100% dikalikan dengan:

      1)    Kredit kepada atau yang dijamin oleh BUMD, perorangan,

            koperasi, perusahaan swasta dan lain-lain.

      2)    Aktiva tetap dan investasi (nilai buku).

      3)    Aktiva tetap lainnya yang tersebut diatas.

3) Perhitungan Kebutuhan Modal Minimum

           Perhitungan Modal Minimum BPR dapat dilakukan dengan

   cara:

   a. ATMR dihitung dengan cara mengalikan nilai nominal pos-pos

      aktiva dengan bobot risiko masing-masing.

   b. ATMR dari masing-masing pos aktiva dijumlahkan.

   c. Jumlah kewajiban penyediaan modal minimum BPR adalah 8%

      dari jumlah ATMR (nomor b).

   d. Dihitung jumlah modal inti dan modal pelengkap.
                                                                    26



   Dengan membandingkan jumlah modal pada nomor 4 dengan

   kewajiban penyediaan modal minimum pada nomor 3, dapat diketahui

   kelebihan atau kekurangan modal BPR.

   Adapun penentuan besarnya nilai kredit untuk penilaian permodalan

   ini adalah sebagai berikut:

   a. Pemenuhan KPMM sebesar 8 % diberi predikat “sehat” dengan

      nilai sebesar 81, dan untuk setiap kenaikan 0,1% dari pemenuhan

      KPMM sebesar 8% nilai kredit ditambah 1 hingga maksimal 100.

   b. Pemenuhan KPMM kurang dari 8% sampai dengan 7,9% diberi

      predikat “kurang sehat” dengan nilai kredit 65, dan setiap

      penurunan 0,1% dari pemenuhan KPMM sebesar 7,9% nilai kredit

      1 hingga minimum 0.

4) Penilaian Permodalan

           Penilaian terhadap faktor permodalan didasarkan pada rasio

   modal terhadap Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) sesuai

   yang dengan yang diatur dalam SK DIR BI No. 26/20/KEP/DIR

   tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank dan Surat

   Edaran Bank Indonesia Nomor 26/20/BPPP tentang Kewajiban Modal

   Minimum BPR masing-masing tanggal 29 Mei 1993 . Ketentuan rasio

   antara modal dan ATMR biasa disebut Capital Adequancy Ratio (CAR)

   atau Rasio Kecukupan Modal merupakan analisis solvabilitas untuk

   mendukung kegiatan bank secara efisien dan mampu menyerap

   kerugian-kerugian yang tidak dapat dihindarkan serta apakah kekayaan
                                                                          27



      bank semakin bertambah atau semakin berkurang. Analisis ini juga

      berguna untuk menunjukkan kemampuan BPR dalam memenuhi

      segala kewajiban finansialnya baik berupa utang jangka pendek

      maupun utang jangka panjang.

      Rasio Permodalan (CAR) adalah sebagai berikut:

                                   Modal (Inti + Pelengkap)
      Rasio Permodalan (CAR) =                              × 100%
                                           ATMR

      Adapun formulasi rasio ini menjadi nilai kredit:

                            Rasio CAR
      Nilai Kredit (NK) =             + 1 (maksimal 100)
                                0,1

      Pembobotan bagi komponen ini ditetapkan sebesar 30% dari

      keseluruhan penilaian faktor CAMEL.

      Hasil dari penilaian faktor permodalan terlihat pada Tabel 2.2 di bawah

      ini.

      Tabel 2.2 : Kriteria penilaian kesehatan faktor permodalan

           Kriteria           Hasil Rasio
         Sehat              ≥ 8%
         CukupSehat         ≥ 7,9% – < 8,0%
         KurangSehat        ≥ 6,5% − < 7,9%
         Tidak Sehat        < 6,5%
      Sumber: SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97

2. Kualitas Aktiva Produktif (Assets Quality)

             Perbankan sebagai lembaga pemberi jasa-jasa keuangan dalam

   lalu lintas pembayaran, maka bank memberikan berbagai fasilitas kepada

   nasabah, loanable funds dari bank yang terbesar diberikan dalam bentuk
                                                                        28



kredit. Penilaian kualitas asset merupakan penilaian terhadap kondisi asset

bank dan kemampuan manajemen dalam mengelola kredit.

        Berdasarkan SK Dir BI No. 26/22/KEP/DIR tanggal 29 Mei 1993

sebagaimana dirubah dalam PBI No. 8/19/PBI/2006 tentang Kualitas

Aktiva Produktif dan Pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva

Produktif (PPAP) BPR, disebutkan bahwa kinerja dan kelangsungan usaha

BPR dipengaruhi oleh kualitas penyediaan dana pada aktiva produktif,

termasuk kesiapan untuk menghadapi risiko kerugian dari penyediaan

dana tersebut dan dalam rangka mengembangkan usaha dan mengelola

risiko, pengurus BPR wajib menjaga kualitas aktiva produktif dan

membentuk penyisihan penghapusan aktiva produktif.

1) Pengertian Aktiva Produktif

            Aktiva produktif yaitu semua aktiva dalam rupiah maupun

   valuta asing yang dimiliki oleh bank dengan maksud untuk

   memperoleh penghasilan sesuai dengan fungsinya, sehingga kredit

   merupakan salah satu bentuk aktiva produktif (Susilo, 2000:30).

   Pengelolaan aktiva produktif adalah bagian dari asset management

   yang juga mengatur tentang cash reserve (liquidity assets) dan fixed

   assets (aktiva tetap dan inventaris). Adapun komponen dari aktiva

   produktif terdiri dari:

   1. Kredit yang diberikan, yaitu penyediaan uang atau tagihan yang

       dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau

       kesepakatan pinjam meminjam antara BPR dengan pihak
                                                                      29



       peminjam yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi

       utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga,

       termasuk:

       a. Pembelian surat berharga nasabah yang dilengkapi dengan Note

          Purchase Agreement (NPA).

       b. Pengambilalihan tagihan dalam rangka kegiatan anjak piutang.

   2. Surat-surat berharga, yaitu penanaman dalam bentuk Sertifikat

       Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Pasar Uang (SBPU), dan

       saham-saham serta obligasi yang diperdagangkan di pasar modal.

   3. Penanaman dana antar bank adalah penanaman dana BPR pada

       bank lain dalam bentuk tabungan, deposito berjangka, sertifikat

       deposito, kredit yang diberikan dan penanaman dana lainnya yang

       sejenis baik dalam negeri maupun luar negeri.

           Aktiva produktif yang dimiliki bank memiliki empat golongan

   yaitu lancar, kurang lancar, diragukan dan macet sesuai dengan

   kolektibilitasnya. Kolektibilitas merupakan keadaan pembayaran

   kembali pokok dan bunga kredit nasabah serta tingkat kemungkinan

   diterimanya kembali dana yang ditanamkan dalam surat berharga atau

   penanaman lainnya.

2) Pengertian Aktiva Produktif yang Diklasifikasikan

           Aktiva Produktif yang diklasifikasikan yaitu aktiva produktif,

   baik yang sudah maupun yang mengandung potensi tidak memberikan

   penghasilan atau menimbulkan kerugian bagi bank. Adapun cara
                                                                      30



   pengklasifikasian ini mengikuti cara kolektibilitas diatur dalam SE BI

   No. 23/12/BPPP tanggal 28 Desember 1991, yaitu:

   a. 0% dari aktiva produktif yang digolongkan lancar.

   b. 50% dari aktiva produktif yang digolongkan kurang lancar.

   c. 75% dari aktiva produktif yang digolongkan diragukan.

   d. 100% dari aktiva produktif yang digolongkan macet.

3) Pengertian Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang Wajib

   Dibentuk (PPAPWD)

           Dalam    rangka   mengantisipasi    kemungkinan     terjadinya

   kerugian dari setiap penanaman dana yang dilakukan bank, maka bank

   wajib membentuk PPAP yang cukup guna menutup kerugian tersebut.

   Besarnya pembentukan penyisihan sesuai dengan SK DIR BI No.

   26/167/KEP/DIR dan SE BI No. 26/9/BPPP tentang penyempurnaan

   PPAPWD tanggal 29 Maret 1994 adalah sekurang-kurangnya:

   a. 0,5% dari aktiva produktif yang digolongkan lancar.

   b. 10% dari aktiva produktif yang digolongkan kurang lancar setelah

      dikurangi agunan yang dikuasai.

   c. 50% dari aktiva produktif yang digolongkan diragukan setelah

      dikurangi agunan yang dikuasai.

   d. 100% dari aktiva produktif yang digolongkan macet setelah

      dikurangi agunan yang dikuasai.
                                                                       31



4) Penilaian Kualitas Aktiva Produktif (KAP)

            Rasio penilaian terhadap Kualitas Aktiva Produktif adalah

   sebagai berikut:

   a. Perbandingan Aktiva Produktif yang diklasifikasikan terhadap

       Total Aktiva Produktif

                       Aktiva Produktif yang Diklasifikasikan
       Rasio KAP 1 =                                          × 100%
                               Total Aktiva Produktif

       Dengan rasio ini maka gagalnya pengambilan kredit yang

       mengalami kemacetan dapat diukur. Adapun formulasi rasio ini

       menjadi angka kredit yaitu untuk rasio 22,5% atau lebih diberi

       kredit 0 untuk setiap penurunan 0,15% mulai dari 22,5% nilai

       kredit ditambah 1 dengan maksimal 100.

                                22,5% − Rasio KAP
       Nilai Kredit (NK) =                        (maksimal 100)
                                       0,15

       Bobot yang diberikan untuk penilaian ini adalah sebesar 25% dari

       keseluruhan penilaian faktor CAMEL.

   b. Perbandingan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP)

       yang dibentuk terhadap Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif

       yang Wajib Dibentuk (PPAPWD) yang telah ditetapkan oleh Bank

       Indonesia.

                                         PPAP
      Rasio KAP 2 (PPAP) =                               × 100%
                                PPAP yang Wajib Dibentuk

       Rasio ini mengukur pemenuhan PPAP yang dibentuk bank

       terhadap PPAPWD yang ditetapkan Bank Indonesia sehubungan
                                                                            32



           dengan adanya kewajiban bank untuk membentuk PPAP yang

           cukup untuk menutup resiko kemungkinan yang timbul dari

           penanaman aktiva produktifnya.

           Formulasi rasio ini menjadi nilai kredit ditentukan untuk rasio 0%

           mendapat nilai 0 dan setiap kenaikan 1% dimulai dari 0 nilai kredit

           ditambah 1 dengan maksimal nilai kredit 100.

           Nilai Kredit (murni) = n Rasio x 1

           Bobot yang diberikan untuk penilaian komponen ini yaitu 5% dari

           keseluruhan penilaian faktor CAMEL.

           Hasil penilaian faktor kualitas aktiva produktif terlihat pada Tabel

           2.3 di bawah ini:

           Tabel 2.3 : Kriteria penilaian tingkat kesehatan faktor KAP

                                                Hasil Rasio
               Kriteria
                                 Rasio 1              Rasio 2
            Sehat         0,00% − ≤ 10,35%      ≥ 81,00%
            Cukup Sehat   > 10,35% − ≤12,60%    ≥ 66,00% − <81,00%
            Kurang Sehat > 12,60% − ≤14,85% ≥ 51,00% − <66,00%
            Tidak Sehat   > 14,85%              < 51%
           Sumber: SK DIR BI No.30/12/KEP/DIR/97


3. Faktor Manajemen (Management)

            Penilaian manajemen merupakan inti dari pengukuran masyarakat

  apakah sebuah bank telah berdasarkan asas-asas perbankan yang sehat

  (sound banking business) atau dikelola secara tidak sehat. Selain itu

  dengan     penilaian    manajemen    maka     ketrampilan   manajerial   dan

  profesionalisme perbankan dari pimpinan atau manajer BPR yang

  bersangkutan dapat diukur.
                                                                         33



        Menurut SK DIR BI No.30/12/KEP/DIR dan SE BI No.

30/3/UPPB tanggal 30 April 1997 tentang tata cara penilaian tingkat

produktif, manajemen umum, manajemen rentabilitas dan manajemen

likuiditas, penilaian factor manajamen didasarkan pada 25 aspek yang

memberikan penekanan pada manajemen umum ( 10 indikator yang terdiri

dari penilaian strategi/sasaran, struktur, sistem, dan kepemimpinan)

dengan bobot penilaian 10% dan manajemen risiko ( 15 indikator terdiri

dari penilaian risiko likuiditas, risiko kredit, dan risiko operasional)

dengan bobot penilaian 10%.

        Tata    cara   penilaian   yaitu   dengan    menggunakan    daftar

pertanyaan/pernyataan (sesuai aspek yang dinilai). Skala penilaian untuk

setiap indikator antara 0 sampai 4 adalah sebagai berikut:

Nilai 0 mencerminkan kondisi lemah

Nilai 1,2,3 mencerminkan kondisi antara

Nilai 4 mencerminkan kondisi baik

Hasil penilaian faktor manajemen terlihat pada Tabel 2.4 di bawah ini:

Tabel 2.4 : Kriteria penilaian tingkat kesehatan faktor manajemen

Kriteria         Manajemen Umum         Manajemen Risiko
Sehat                   35 – 40              49 − 60
Cukup Sehat            27 − < 35            40 − < 49
Kurang Sehat           21 − < 27            31 − < 40
Tidak Sehat            0 − < 21              0 − < 31
Sumber: SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97
                                                                         34



4. Faktor Rentabilitas (Earning Ability)

           Penilaian terhadap faktor rentabilitas didasarkan pada dua rasio.

   Rasio pertama adalah rasio laba sebelum pajak terhadap rata-rata volume

   usaha yang disebut dengan rasio Return on Asset (ROA). Yang dimaksud

   laba sebelum pajak adalah laba yang diperoleh perusahaan 12 bulan

   terakhir sebelum dikurangi dengan pajak. Sedangkan rata-rata volume

   usaha adalah total volume usaha perusahaan dalam 12 bulan terakhir

   dibagi dengan 12 bulan.

           Rasio kedua yang digunakan dalam penilaian faktor rentabilitas

   adalah rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO).

   Biaya operasional adalah seluruh biaya yang dikeluarkan dalam

   operasional selama 12 bulan terakhir. Sedangkan pendapatan operasional

   adalah pendapatan operasional perusahaan selama 12 bulan terakhir.

   1. Rasio Laba Sebelum Pajak terhadap Total Aktiva

                                       Laba Sebelum Pajak
      Rasio Rentabilitas 1 (ROA) =                           × 100%
                                     Rata − rata Volum Usaha

      Perhitungan terhadap ROA dilakukan dengan cara rasio sebesar 0%

      atau negatif diberi nilai kredit 0 dan untuk setiap kenaikan 0,015%

      mulai dari 0% nilai kredit ditambah 1 dengan maksimal 100.

                             Rasio ROA
      Nilai Kredit (NK) =              (maksimal 100)
                               0,015

      Bobot untuk penilaian komponen ini adalah 5% dari keseluruhan

      penilaian faktor CAMEL.
                                                                             35



   2. Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional

                                         Biaya Operasional
      Rasio Rentabilitas 2 (BOPO) =                           × 100%
                                       Pendapatan Operasional

      Perhitungan pada rasio efisiensi BOPO dilakukan dengan cara rasio

      100% atau lebih diberi nilai kredit 0 dan untuk setiap penurunan

      sebesar 0,08% nilai kredit ditambah 1 sampai dengan maksimal 100.

                            100 − Rasio BOPO
      Nilai Kredit (NK) =                    (maksimal 100)
                                   0,08

      Bobot untuk penilaian komponen ini adalah 5% dari keseluruhan

      penilaian faktor CAMEL.

      Hasil penilaian faktor rentabilitas terlihat pada Tabel 2.5 di bawah ini:

      Tabel 2.5 Kriteria penilaian tingkat kesehatan faktor rentabilitas

                                     Hasil Rasio
           Kriteria
                            Rasio 1                Rasio 2
       Sehat        > 1,215%                ≤ 93,52%
       Cukup Sehat > 0,999% − ≤ 1,215% > 93,52% − ≤ 94,72%
       Kurang Sehat > 0,765% − ≤ 0,999%     > 94,72% − ≤ 95,92%
       Tidak Sehat  ≤ 0,765%                > 95,92%
      Sumber: SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97

5. Faktor Likuiditas (Liquidity)

            Suatu bank dikatakan likuid apabila bank yang bersangkutan

   dapat memenuhi kewajiban hutang-hutangnya, dapat membayar semua

   deposantnya, serta dapat memnuhi permintaan kredit yang diajukan tanpa

   terjadi penangguhan (Mulyono, 1995:79). Oleh karena itu bank dikatakan

   likuid apabila:

   1. Bank tersebut memiliki cash assets sebesar kebutuhan yang akan

      digunakan untuk memenuhi likuiditasnya.
                                                                    36



2. Bank tersebut memiliki cash assets yang lebih kecil dari butir satu

   diatas, tetapi yang bersangkutan juga mempunyai assets lain

   (khususnya surat-surat berharga) yang dapat dicairkan sewaktu-waktu

   tanpa mengalami penurunan nilai pasarnya.

3. Bank tersebut mempunyai kemampuan untuk menciptakan cash asset

   baru melalui berbagai bentuk hutang.

        Penilaian terhadap faktor likuiditas menggunakan dua rasio yang

dapat ditampilkan dalam rumus sebagai berikut:

1. Perbandingan antara Alat Likuid terhadap Hutang Lancar (Cash Ratio)

           Cash Ratio adalah rasio alat likuid terhadap hutang lancar

   yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam membayar

   hutang lancarnya dengan menggunakan alat likuidnya.

                                        Alat Liquid
   Rasio Likuiditas 1 (Cash Rasio) =                 × 100%
                                       Hutang Lancar

           Yang dimaksud dengan alat likuid disini adalah kas,

   penanaman pada bank lain dalam bentuk giro dan tabungan yang sudah

   dikurangi dengan tabungan bank lain. Hutang lancar yang dimaksud

   adalah kewajiban segera yaitu tabungan dan deposito berjangka. Rasio

   ini menunjukan kemampuan bank untuk membayar kewajiban-

   kewajiban yang sudah jatuh tempo dengan cash assets yang

   dimilikinya.

                         Rasio CR
   Nilai Kredit (NK) =            (maksimal 100)
                           0,05
                                                                      37



          Formulasi ini menjadi nilai kredit yaitu 0% mendapat nilai

   kredit 0, dan dari setiap kenaikan 0,05 nilai kredit ditambah 1 dengan

   maksimal 100.

          Bobot untuk penilaian komponen ini ditetapkan sebesar 5%

   dari keseluruhan penilaian faktor CAMEL.

2. Perbandingan antara Kredit yang Diberikan terhadap Dana yang

   Diterima oleh Bank (Loan to Deposi Ratio/LDR).

            LDR adalah rasio antara seluruh jumlah kredit yang diberikan

   bank dengan dana yang diterima oleh bank. Rasio ini menyatakan

   seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan

   dana yang dilakukan deposan dengan mengendalikan kredit yang

   diberikan sebagai sumber likuiditasnya.

                                 Kredit yang Diberikan
   Rasio Likuiditas 2 (LDR) =                           × 100%
                                Dana yang Diterima Bank

   Kredit yang dimaksud perhitungan ini meliputi:

   a. Kredit yang diberikan kepada masyarkat dikurangi dengan bagian

      kredit sindikasi yang dibiayai oleh bank lain.

   b. Penanaman kepada bank lain dalam bentuk kredit yang diberikan

      dengan jangka waktu lebih dari 3 bulan.

   c. Penanaman kepada bank lain dalam bentuk kredit yang diberikan

      dalam rangka kredit sindikasi.
                                                                          38



Dana yang diterima oleh bank meliputi:

a. Deposito dan tabungan masyarakat

b. Pinjaman bukan dari bank lain dengan jangka waktu lebih dari 3

    bulan (di luar pinjaman subordinasi).

c. Deposito dan pinjaman dari bank lain dengan jangka waktu lebih

    dari 3 bulan.

d. Modal inti.

e. Modal pinjaman.

Perhitungan terhadap rasio likuiditas 2 dilakukan dengan cara rasio

sebesar 115% atau lebih diberi nilai kredit 0 dan untuk penurunan

sebesar 1% mulai dari 115% nilai kredit ditambah 4 dengan maksimal

100.

Nilai kredit = (115 – Rasio LDR) x 4

Bobot untuk komponen ini ditetapkan sebesar 5% dari keseluruhan

faktor CAMEL.

Hasil penilaian faktor likuiditas terlihat pada Tabel 2.6 di bawah ini:

Tabel 2.6 : Kriteria penilaian tingkat kesehatan faktor likuiditas

                                      Hasil Rasio
    Kriteria
                      Rasio 1                Rasio 2
 Sehat        > 4,05%                 ≤ 94,75%
 Cukup Sehat > 3,30% − ≤ 4,05%        > 94,75% − ≤ 98,5%
 Kurang Sehat > 2,55% − ≤ 3,30%       > 98,5% − ≤ 102,25%
 Tidak Sehat  ≤ 2,55%                 > 102,25%
Sumber: SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97
                                                                          39



2.5 Manfaat Penilaian Kesehatan Bank

           Dalam pemeriksaan bank, sebagai implikasi terhadap fungsi

   pengawasan oleh Bank Indonesia, dikaitkan dengan ketentuan penilaian

   tingkat kesehatan bank ini pada prinsipnya merupakan kepentingan pemilik

   dan pengelola bank, masyarakat pengguna jasa bank maupun bagi pengawas

   dan pembina bank.

          Ketentuan penilaian tingkat kesehatan bank, bank dimaksudkan untuk

  dapat dipergunakan sebagai:

  1. Standar bagi manajemen bank untuk menilai apakah pengelolan bank telah

     sesuai dengan asas-asas perbankan yang sehat dan ketentuan-ketentuan

     yang berlaku

  2. Standar untuk menetapkan arah pembinaan dan pengembangan bank secara

     individual maupun untuk industri perbankan secara keseluruhan.



2.6 Kerangka Berfikir

           Bank merupakan lembaga perantara (intermediary) antara pemilik

   dana (lenders) dengan pemakai dana (borrowers). Sebagai perantara maka

   bank akan menggantikan peran pemilik dana, apabila dana yang dipakai tidak

   kembali baik pada saat jatuh tempo maupun karena pemakai dana tidak

   mengembalikannya. Di sisi lain bank juga bertindak sebagai pemakai dana

   berarti bank akan menggantikan peran pemakai dana untuk dapat memakai

   dana setiap saat diperlukan. Hubungan antara pihak bank dan pihak para

   pemakai jasa bank tentu harus terjaga untuk menjamin kelangsungan usaha
                                                                             40



bank tersebut. Pentingnya menjaga kepercayaan kepada para pemakai jasa,

bank   harus   mampu     menjaga       tingkat   kesehatannya   untuk   menjaga

kelangsungan usahanya.

        Pentingnya kesehatan suatu bank didasarkan pada pertimbangan

bidang usaha bank yang merupakan lembaga kepercayaan masyarakat, dimana

kegunaan utamanya sebagai penyalur dana masyarakat. Kesehatan suatu bank

dalam hal ini adalah PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal merupakan

kepentingan semua pihak yang terkait, baik pemilik dan pengelola, masyarakat

pengguna jasa bank, maupun Bank Indonesia selaku pembina dan pengawas

bank. Penilaian tingkat kesehatan bank sangat penting dilakukan karena bank

harus selalu memperhatikan asas kehati-hatian agar dapat terhindar dari

masalah-masalah yang dapat mengancam kelangsungan hidup usaha bank.

        Penilaian tingkat kesehatan bank dilakukan dengan maksud untuk

menilai sejauh mana kelayakan usaha dan kelangsungan hidup BPR.

Pentingnya penilaian tingkat kesehatan bank ini ditegaskan dalam UU No. 10

Tahun 1998 pasal 29 ayat 2 yang menyatakan bahwa bank wajib memelihara

tingkat kesehatan bank sesuai dengan ketentuan kecukupan modal, kualitas

asset, kualitas manajemen, likuiditas, rentabilitas, solvabilitas dan aspek lain

yang berhubungan dengan usaha bank, dan wajib melakukan kegiatan usaha

sesuai dengan prinsip kehati-hatian.

        Adapun analisis tingkat kesehatan bank itu sendiri dilakukan sesuai

dengan Surat Keputusan Direktur Bank Indonesia No. 30/12/KEP/DIR/97 dan

Surat Edaran Bank Indonesia No. 30/3/UPPB/97 tanggal 30 April 1997
                                                                            41



tentang Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat,

yaitu dengan cara menilai faktor permodalan, kualitas aktiva produktif,

manajemen, rentabilitas, dan likuiditas atau yang disebut CAMEL. Penilaian

tingkat kesehatan itu sendiri didasarkan pada ketentuan perhitungan rasio atas

berbagai faktor dan komponen yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Rasio yang diperoleh dari hasil penilaian faktor dan komponen tersebut

selanjutnya diberi kredit 0 sampai dengan 100. Nilai kredit yang diperoleh dari

hasil kuantifikasi digunakan untuk menentukan predikat kesehatan dari BPR

yang meliputi sehat, cukup sehat, kurang sehat, dan tidak sehat.
42




                                                                 Permodalan      Rasio CAR
                                                                  (Capital)
                                                                    KA P         Rasio KAP
                                                                   (Assets)      Rasio PPAP
                                                                                                             Predikat T K S
     Laporan    SK DIR BI No.30/12/KEP/DIR         Aspek         Manajemen      Manaj. Umum      PD.BPR          Sehat,
     Keuangan       SE BI No.30/3/UPPB            CAMEL         (Management)    Manaj. Resiko   Bank Pasar    Cukup Sehat,
                                                                                                Kab. Tegal   Kurang Sehat,
                                                                 Rentabilitas   Rasio ROA                     Tidak Sehat.
                                                                  (Earning)     Rasio BOPO
                                                                  Likuiditas     Cash Ratio
                                                                  (Liquidity)      LDR
                                             Gambar 2.1 Kerangka Berpikir
                                                                            43



                                  BAB III

                        METODOLOGI PENELITIAN



3.1 Lokasi Penelitian

             Lokasi penelitian dilakukan oleh penulis pada PD. BPR Bank Pasar

    Kabupaten Tegal yang beralamat di Jalan Ahmad Yani No.11 Slawi

    Telp./Fax. 491570-3321111 Tegal. Perusahaan daerah ini merupakan

    lembaga perbankan milik Pemerintah Daerah yang kegiatan usahanya

    melaksanakan dan memperluas pemberian pinjaman bagi pedagang,

    pengusaha golongan ekonomi lemah yang produktif dan pegawai negeri

    maupun swasta serta para bakul di pasar-pasar dan di desa-desa dalam rangka

    meningkatkan taraf hidup masyarakat.



3.2 Objek Penelitian

             Objek kajian dalam penelitian ini adalah tingkat kesehatan PD.

    BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal yang diukur dari faktor CAMEL (Capital,

    Assets Quality, Management, Earning, Liquidity).



3.3 Teknik Pengumpulan Data

             Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

    1. Data Primer

       Data primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara

       langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara). Dalam



                                       43
                                                                                44



        penelitian ini data primer merupakan hasil interview dan observasi

        langsung yang dilakukan pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal,

        yang berupa:

        a. Hasil pengisian 25 pertanyaan tentang manajemen terlampir.

        b. Wawancara dengan direktur dan bagian keuangan pada PD. BPR

           Bank Pasar Kabupaten Tegal tentang kebijakan perusahaan dalam

           menjaga kesehatan bank terlampir.

   2. Data Sekunder

        Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh peneliti

        secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat oleh

        pihak lain). Dalam penelitian ini data sekunder diperoleh berupa laporan

        keuangan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal Tahun 2004-2006

        terlampir.


3.4 Metode Pengumpulan Data

              Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini,

   maka metode pengumpulan data yang digunakan adalah:

   1.   Metode Dokumentasi

                Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data sekunder

        sebagai pendukung data primer. Metode ini dilakukan dengan cara

        mengumpulkan data laporan keuangan          pada PD. BPR Bank Pasar

        Kabupaten Tegal Tahun 2004-2006, untuk mengetahui aspek permodalan,

        kualitas aktiva produktif, manajemen, rentabilitas dan likuiditasnya.
                                                                       45



2.   Metode Kuisioner atau Angket

             Kuisioner atau Angket yaitu daftar isian atau pertanyaan yang

     harus dijawab (diisi) oleh para responden berkaitan dengan data yang

     diperlukan dalam penelitian.

             Indikator dalam penilaian manajemen meliputi:

     1. Manajemen Umum

        a. Strategi/ sasaran

        b. Struktur

        c. Sistem

        d. Kepemimpinan

     2. Manajemen Risiko

        a. Risiko Likuiditas

        b. Risiko Kredit

        c. Risiko Operasional

        d. Hukum

        e. Risiko pemilik/ pengurus

3.   Metode Wawancara

             Metode wawancara adalah suatu bentuk komunikasi verbal jadi

     semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi (Nasution

     1994:114). Dalam wawancara pertanyaan dan jawaban diberikan secara

     verbal. Biasanya komunikasi ini dilaksanakan dalam keadaan saling

     berhadapan, namun komunikasi dapat juga dilaksanakan melalui telepon.

     Metode ini dilakukan dengan cara tanya jawab secara langsung dengan
                                                                                    46



        direktur dan bagian keuangan pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten

        Tegal   untuk        memperoleh      informasi     yang    lengkap    mengenai

        perkembangan usaha dalam rangka menjaga kepercayaan mayarakat

        terhadap bank dan menjaga agar bank tetap sehat.

   4.   Metode Kepustakaan

                Metode penelitian yang dilakukan dengan mempelajari buku-

        buku, referensi, laporan-laporan, peraturan-peraturan, catatan-catatan

        kuliah, jurnal dan sumber lainnya yang berkaitan dengan masalah yang

        akan dibahas dalam tugas akhir ini. Metode ini digunakan untuk

        mendapatkan data yang diperlukan terutama dalam pembahasan dan

        untuk membandingkan dengan permasalahan yang sebenarnya sehingga

        penulis memiliki landasan teori yang cukup kuat dalam menarik

        kesimpulan.


3.5 Metode Analisis Data

   3.5.1 Analisis Kuantitatif

                      Data     kuantitatif   adalah      data   yang   sifatnya   hanya

          menggolongkan saja, termasuk dalam klasifikasi data yang berskala

          ukur nominal dan ordinal (Dergibson Siagian dkk, 2002:17).

                      Analisis kuantitatif yaitu suatu cara untuk menghitung yang

          digambarkan dengan angka dan jumlah tertentu atau dengan

          perhitungan angka yang diproses. Dalam penelitian ini analisis

          ditekankan pada tujuh rasio dari empat komponen:
                                                                    47



a. Permodalan (Capital)

             Modal Sendiri Bank (Equity Fund) adalah sejumlah uang

  tunai yang telah disetorkan pemilik dan sumber-sumber lainnya

  yang berasal dari dalam bank itu sendiri; terdiri dari modal inti dan

  modal pelengkap.

             Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) yaitu pos-pos

  aktiva yang diberikan bobot risiko yang terkandung pada aktiva itu

  sendiri atau bobot resiko yang didasarkan pada golongan nasabah,

  peminjam atau sifat barang jaminan.

             Ketentuan rasio antara modal dan ATMR biasa disebut

  Capital Adequancy Ratio (CAR) atau Rasio Kecukupan Modal

  merupakan analisis solvabilitas untuk mendukung kegiatan bank

  secara efisien dan mampu menyerap kerugian-kerugian yang tidak

  dapat dihindarkan serta apakah kekayaan bank semakin bertambah

  atau semakin berkurang. Analisis ini juga berguna untuk

  menunjukkan kemampuan BPR dalam memenuhi segala kewajiban

  finansialnya baik berupa utang jangka pendek maupun utang jangka

  panjang.

                               Modal (Inti + Pelengkap)
  Rasio Permodalan (CAR) =                              × 100%
                                       ATMR

  Formulasi rasio dalam nilai kredit:

                        Rasio CAR
  Nilai Kredit (NK) =             + 1 (maksimal 100)
                            0,1
                                                                  48



  Nilai kredit dihitung sebagai berikut:

  Untuk rasio permodalan 0% memiliki nilai kredit 0. Setiap kenaikan

  0,1% nilai kredit ditambah 1 dengan maksimal 100, kemudian skor

  diperoleh dengan cara mengalikan nilai kredit dengan bobot.

  Bobot yang diberikan untuk penilaian ini adalah sebesar 25% dari

  keseluruhan penilaian faktor CAMEL.

b. Kualitas Aktiva Produktif (Assets Quality)

  Rasio penilaian terhadap Kualitas Aktiva Produktif adalah sebagai

  berikut:

  1) Perbandingan Aktiva Produktif yang diklasifikasikan terhadap

      Total Aktiva Produktif.

                      Aktiva Produktif yang Diklasifikasikan
      Rasio KAP 1 =                                          × 100%
                              Total Aktiva Produktif

      Dengan rasio ini maka gagalnya pengambilan kredit yang

      mengalami kemacetan dapat diukur. Adapun formulasi rasio ini

      menjadi angka kredit yaitu untuk rasio 22,5% atau lebih diberi

      kredit 0 untuk setiap penurunan 0,15% mulai dari 22,5% nilai

      kredit ditambah 1 dengan maksimal 100.

                            22,5% − Rasio KAP
      Nilai Kredit (NK) =                     (maksimal 100)
                                   0,15

      Bobot yang diberikan untuk penilaian ini adalah sebesar 25%

      dari keseluruhan penilaian faktor CAMEL.
                                                                      49



  2) Perbandingan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP)

      yang dibentuk terhadap Penyisihan Penghapusan Aktiva

      Produktif yang wajib dibentuk (PPAPWD).

                                        PPAP
      Rasio KAP 2 (PPAP) =                              × 100%
                               PPAP yang Wajib Dibentuk

      Rasio ini mengukur pemenuhan PPAP yang dibentuk bank

      terhadap PPAPWD yang ditetapkan Bank Indonesia sehubungan

      dengan adanya kewajiban bank untuk membentuk PPAP yang

      cukup untuk menutup resiko kemungkinan yang timbul dari

      penanaman aktiva produktifnya.

      Formulasi rasio ini menjadi nilai kredit ditentukan untuk rasio

      0% mendapat nilai 0 dan setiap kenaikan 1% dimulai dari 0 nilai

      kredit ditambah 1 dengan maksimal nilai kredit 100.

      Nilai Kredit (murni) = n Rasio x 1

      Bobot yang diberikan untuk penilaian ini adalah sebesar 25%

      dari keseluruhan penilaian faktor CAMEL

c. Rentabilitas (Earning)

  Penilaian terhadap faktor Rentabilitas menggunakan dua rasio yang

  dapat ditampilkan dalam rumus sebagai berikut:

  1) Rasio Laba Sebelum Pajak Terhadap Total Aktiva

                                       Laba Sebelum Pajak
      Rasio Rentabilitas 1 (ROA) =                           × 100%
                                     Rata − rata Volum Usaha

      Perhitungan terhadap ROA dilakukan dengan cara rasio sebesar

      0% atau negatif diberi nilai kredit 0 dan untuk setiap kenaikan
                                                                      50



      0,015% mulai dari 0% nilai kredit ditambah 1 dengan maksimal

      100.

                            Rasio ROA
      Nilai Kredit (NK) =             (maksimal 100)
                              0,015

      Bobot untuk penilaian komponen ini adalah 5% dari keseluruhan

      penilaian faktor CAMEL.

  2) Rasio Biaya Operasional Terhadap Pendapatan Operasional

                                        Biaya Operasional
      Rasio Rentabilitas 2 (BOPO) =                          × 100%
                                      Pendapatan Operasional

      Perhitungan pada rasio efisiensi BOPO dilakukan dengan cara

      rasio 100% atau lebih diberi nilai kredit 0 dan untuk setiap

      penurunan sebesar 0,08% nilai kredit ditambah 1 sampai dengan

      maksimal 100.

                            100 − Rasio BOPO
      Nilai Kredit (NK) =                    (maksimal 100)
                                   0,08

      Bobot untuk penilaian komponen ini adalah 5% dari keseluruhan

      penilaian faktor CAMEL.

d. Likuiditas (Liquidity)

  Penilaian terhadap faktor Likuiditas menggunakan dua rasio yang

  dapat ditampilkan dalam rumus sebagai berikut:

  1) Perbandingan antara Alat Liquid terhadap Hutang Lancar (Cash

      Ratio)

                                            Alat Liquid
      Rasio Liquiditas 1 (Cash Rasio) =                  × 100%
                                           Hutang Lancar
                                                                 51



   Untuk resiko likuiditas 1 sebesar 0% nilai kredit 0, untuk setiap

   kenaikan 0,05% nilai kredit ditambah 1 dengan maksimal 100

                         Rasio CR
   Nilai Kredit (NK) =            (maksimal 100)
                           0,05

   Bobot untuk penilaian komponen ini adalah 5% dari keseluruhan

   penilaian faktor CAMEL.

2) Perbandingan antara Kredit yang Diberikan Terhadap Dana yang

   Diterima oleh Bank (Loan to Deposi Ratio/LDR).

                                 Kredit yang Diberikan
   Rasio Likuiditas 2 (LDR) =                           × 100%
                                Dana yang Diterima Bank

   Untuk risiko likuiditas 2 sebesar 115% atau lebih, nilai kredit 0

   dan untuk setiap penurunan 115% nilai kredit ditambah 4

   dengan maksimal 100.

   Nilai Kredit (NK) = (115 - Rasio LDR) x 4 (maksimal 100)

   Bobot untuk penilaian komponen ini adalah 5% dari keseluruhan

   penilaian faktor CAMEL.

   Oleh Bank Indonesia gabungan faktor-faktor CAMEL dimana

   besarnya bobot untuk masing-masing faktor dapat dilihat pada

   Tabel 3.1:
                                                                           52



      Tabel 3.1 Bobot Penilaian Tingkat Kesehatan BPR

         Faktor yang                     Komponen                     Bobot
           Dinilai
       Permodalan      Rasio modal terhadap aktiva tertimbang        30%
                       menurut risiko (ATMR)
       Kualitas Aktiva • Rasio      aktiva    produktif   yang       25%
       Produktif         diklasifikasikan    terhadap   jumlah
                         aktiva produktif
                       • Rasio cadangan penghapusan aktiva           5%
                         terhadap      jumlah    aktiva   yang
                         diklasifikasikan
       Manajemen       • Manajemen umum                              10%
                       • Manajemen risiko                            10%
       Rentabilitas    • Rasio laba terhadap rata-rata volume        5%
                         usaha
                       • Rasio biaya operasional terhadap            5%
                         pendapatan operasional
       Likuiditas      • Rasio alat likuid terhadap hutang           5%
                         lancar
                       • Rasio kredit yang diberikan terhadap        5%
                         dana yang diterima bank
      Sumber: SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97


3.5.2 Analisis Kualitatif

                Analisis kualitatif adalah analisis yang tidak didasarkan pada

      perhitungan perhitungan statistik yang berbentuk kuantitatif (jumlah)

      akan tetapi dalam bentuk pernyataan dan uraian yang selanjutnya akan

      disusun secara sistematis. Penilaian manajemen merupakan inti dari

      pengukuran masyarakat apakah sebuah bank telah berdasarkan asas-

      asas perbankan yang sehat (sound banking business) atau dikelola

      secara tidak sehat. Selain itu dengan penilaian manajemen maka

      ketrampilan manajerial dan profesionalisme perbankan dari pimpinan

      atau manajer BPR yang bersangkutan dapat diukur.
                                                                   53



           Penilaian manajemen didasarkan pada hasil penilaian

jawaban    pertanyaan     dari   komponen    manajemen   yang   secara

keseluruhan berjumlah 25. Skor diperoleh dengan mengalikan masing-

masing indikator dengan bobot. Penilaian didasarkan pada dua aspek,

yaitu:

1) Manajemen umum (10 indikator) terdiri dari penilaian:

   a. Strategi/ sasaran            1 indikator

   b. Struktur                     2 indikator

   c. Sistem                       4 indikator

   d. Kepemimpinan                 3 indikator

2) Manajemen risiko (15 indikator) terdiri dari penilaian:

   a. Risiko likuiditas            2 indikator

   b. Risiko kredit                3 indikator

   c. Risiko operasional           3 indikator

   d. Hukum                        3 indikator

   e. Risiko pemilik/pengurus 4 indikator

           Tata cara penilaian manajemen yaitu dengan menggunakan

daftar pertanyaan/pernyataan (sesuai aspek yang dinilai). Skala

penilaian untuk setiap indikator antara 0 sampai 4 adalah sebagai

berikut:

Nilai 0 mencerminkan kondisi lemah.

Nilai 1,2,3 mencerminkan kondisi antara.

Nilai 4 mencerminkan kondisi baik.
                                                                   54



         Penilaian aspek manajemen dilakukan dengan menggunakan

sistem nilai kredit atau reward system yang dinyatakan dalam nilai

kredit 0 sampai 100. Bobot penilaiannya terlihat pada Tabel 3.2:

Tabel 3.2 Bobot Penilaian Tingkat Kesehatan Manajemen
 Faktor yang dinilai             Komponen                     Bobot
Manajemen              a. Manajemen umum(10 indikator)        10%
                       b. Manajemen risiko (15 indikator)     10%
Jumlah                                                        20%
Sumber: SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97
                                        BAB IV

                      HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN



4.1 Deskripsi Objek Penelitian

  4.1.1 Gambaran Umum PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal

                 Dinamika perekonomian di wilayah Karesidenan Pekalongan saat ini tidak

        lepas daripada perkembangan perbankan nasional yang sejak Paket Oktober (Pakto)

        1988 menunjukkan perkembangan yang saat sangat pesat. Hal ini terlihat pada

        peningkatan jumlah BPR yang jumlahnya semakin bertambah terus dari tahun ke tahun.

                 Peningkatan jumlah BPR tersebut, diharapkan memperluas jaringan usaha

        penghimpunan dana masyarakat dan penyaluran dana kepada masyarakat terutama

        pengusaha ekonomi lemah yang produktif yang beroperasi baik di pedesaan maupun di

        perkotaan.

                 Selanjutnya terdapat langkah-langkah pengelompokkan BPR, yaitu: BPR gaya

        lama dan BPR gaya baru, BPR sebelum Pakto dan setelah Pakto serta BPR BKD dan

        BPR non BKD. Namun pada pembahasan ini, pengelompokkan BPR didasarkan pada

        aspek kepemilikan BPR yaitu: BPR yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah dan BPR

        yang dimiliki swasta.

                 BPR yang dimiliki Pemeritah Daerah terdiri dari PD. BPR Bank Pasar dan

        BPR BKK. Komposisi kepemilikan untuk PD. BPR Bank Pasar 100% sahamnya

        merupakan milik Pemerintah Daerah Kabupaten atau Kota, sedangkan BPR BKK

        dengan komposisi 50% milik Pemerintah Provinsi, 35% milik Pemerintah Kabupaten




                                          55
                                                                                     57

     atau Kota dan 15% milik Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jawa Tengah. Sedangkan

     bagi BPR swasta kepemilikan dan pendiriannya 100% dimiliki oleh pihak swasta.



4.1.2 Sejarah Berdirinya PD. Bank Pasar Kabupaten Tegal

             Pengelolaan BPR Pasar Kabupaten Tegal mengalami 5 (lima) kali perubahan

     dan yang terakhir berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Tegal

     Nomor 3 Tahun 1998 tentang Perubahan Pertama Peraturan Daerah Nomor 17 Tahun

     1994 tentang Perusahaan Daerah BPR Bank Pasar Kabupaten Daerah Tingkat II Tegal

     yang telah disahkan oleh Gubernur Jawa Tengah Nomor 188.3/130/1998 pada tanggal

     13 Mei 1998.

             BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal sebelumnya merupakan Seksi Komisi dari

     Dinas Pendapatan Daerah (Dipenda) Kabupaten Tegal, selanjutnya diupayakan untuk

     menjadi Badan Usaha Milik Daerah yang berdiri sendiri. Setelah Surat Keputusan

     Menteri Keuangan RI tentang izin usaha sebagai Bank Pasar turun, mulai tanggal 1

     April 1982 PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal melepaskan diri dari Dipenda hingga

     sekarang.

             Untuk melanjutkan usaha, BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal telah

     memperoleh izin dari Menteri Keuangan RI Nomor: S-429/11/1981 pada tanggal 7

     Desember 1981. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal sebelumnya merupakan Seksi

     Komisi dari Dinas Pendapatan Daerah (Dipenda) Kabupaten Tegal, selanjutnya

     diupayakan untuk menjadi Badan Usaha Milik Daerah yang berdiri sendiri. Setelah

     Surat Keputusan Menteri Keuangan RI tentang izin usaha sebagai Bank Pasar turun,
                                                                                     58

     mulai tanggal 1 April 1982 PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal melepaskan diri dari

     Dipenda hingga sekarang.

              Sebagai tindak lanjut telah diundangkanya pada Lembaran Daerah Nomor 15

     tanggal 14 Mei 1998 tersebut, PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal secara langsung

     telah mendukung program pemerintah yaitu ikut berpartisipasi dalam pengentasan

     kemiskinan di wilayah Kabupaten Tegal dengan memperluas pemberian pinjaman bagi

     pedagang, pengusaha golongan ekonomi lemah yang produktif dan pegawai negeri

     maupun pegawai swasta serta para bakul di pasar-pasar dan di desa-desa. Sebagai

     bentuk usaha Perusahaan Daerah, BPR Bank Pasar memberikan pembagian laba kepada

     Pemda Dati II Tegal sebesar 40% dari laba setelah pajak untuk setoran ke kas daerah

     sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah Sendiri (PDAS).

             Perkembangan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dari tahun ke tahun

     telah mengalami peningkatan pelayanan yang lebih baik dan telah melaksanakan

     pemberdayaan    melalui    peningkatan   pendidikan   sehingga   mampu   mengikuti

     perkembangan sumber daya manusia dengan menggunakan sistem teknologi informasi,

     memperbaiki kinerja dan manajemen pengelolaan. Keberadaan PD. BPR Bank Pasar

     Tegal melalui pelayanannya juga mulai terlihat dapat diterima di semua lapisan

     masyarakat terutama bagi masyarakat yang menanamkan dananya maupun bagi para

     peminjam baik dari pengusaha maupun karyawan.



4.1.3 Struktur Organisasi PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal

             Struktur organisasi menunjukkan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap

     hubungan-hubungan diantara fungsi-fungsi, bagian-bagian atau posisi-posisi maupun
                                                                                59

orang-orang yang menunjukkan kedudukan, tugas wewenang dan tanggung jawab yang

berbeda-beda dalam suatu organisasi.

         Struktur organisasi merupakan garis yang menghubungkan bagian kedudukan

pegawai-pegawai mulai dari tingkat yang atas sampai dengan yang bawah. Dengan cara

ini, maka akan terbina sistem tata kerja yang kokoh dan teratur sesuai dengan job

description dari apa yang digariskan manajemen.

         Dalam menentukan struktur organisasi sangat tergantung pada besar kecilnya

BPR harus disesuaikan dengan penggolongan tipe BPR. Struktur organisasi PD. BPR

Bank Pasar Kabupaten Tegal yang masih berlaku disesuaikan dengan jumlah asset

BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal adalah sebagai berikut:
              60




Halamabbbbn
untuk bagan
                                                                                61


4.1.4   Tugas dan Wewenang pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal

         Adapun tugas tanggung jawab masing-masing dalam struktur organisasi

sebagai berikut :

1. Dewan Pengawas

    Dewan     pengawas   mempunyai    tugas   menetapkan    kebijaksanaan    umum,

    menjalankan pengawasan, pengendalian dan pembinaan terhadap pengelolaan BPR.

    Untuk melaksanakan tugas tersebut Dewan Pengawas mempunyai fungsi :

    a. Menyusun tata cara pengawasan dan pengelolaan BPR.

    b. Melakukan pengawasan atas pengurusan BPR.

    c. Menggariskan kebijakan anggaran dan keuangan BPR.

    d. Membantu dan mendorong usaha pembinaan dan pengembangan BPR.

2. Direksi

    Direksi mempunyai tugas menyusun perencanaan, melakukan koordinasi dalam

    pelaksanaan tugas antara anggota Direksi dan melakukan pembinaan serta

    pengendalian    terhadap   Bagian/Subag/Unit   Pelayanan   berdasarkan    azas

    keseimbangan dan keserasian. Untuk melaksanakan tugas tersebut Direksi

    mempunyai fungsi :

    a. Memimpin BPR berdasarkan kebijaksanaan umum yang ditetapkan oleh Dewan

        Pengawas.

    b. Menetapkan kebijaksanaan untuk melaksanakan pengurusan dan pengelolaan

        BPR berdasarkan kebijaksanaan umum yang ditetapkan oleh Dewan Pengawas.

    c. Menyusun dan menyampaikan rencana kerja tahunan dan anggaran BPR kepada

        Kepala Daerah atau melalui Dewan Pengawas yang meliputi kebijaksanaan di
                                                                                  62

       bidang organisasi, perencanaan, perkreditan, keuangan, kepegawaian umum dan

       pengawasan untuk mendapat pengesahan.

   d. Menyusun dan menyampaikan laporan perhitungan hasil usaha berkala dan

       kegiatan BPR tiap-tiap 3 (tiga) bulan sekali kepada Kepala Daerah atau melalui

       Dewan Pengawas.

   e. Menyusun dan menyampaikan laporan tahunan yang terdiri atas neraca dan

       perhitungan laba rugi BPR kepada Kepala Daerah atau melalui Dewan

       Pengawas, untuk mendapat pengesahan.

   Direksi terdiri dari :

   a. Direktur Utama

   b. Direktur

   Pembagian tugas antara Direktur utama dan Direktur ditetapkan dengan keputusan

   direksi, setelah mendapat persetujuan Dewan Pengawas.

3. Satuan Pengawas Intern

   Satuan Pengawas Intern mempunyai tugas melaksanakan pengawasan intern atas

   kegiatan-kegiatan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal. Sedangkan untuk

   melaksanakan tugas tersebut, Satuan Pengawasan Intern mempunyai fungsi sebagai

   berikut :

   a. Melakukan pengawasan atas pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja

       PD. BPR Bank Pasar, menyelenggarakan tata kerja dan prosedur dari unit-unit

       organisasi di kantor pusat maupun cabang/unit pelayanan menurut ketentuan

       yang berlaku serta pengawasan keamanan dan ketertiban PD. BPR Bank Pasar

       Kabupaten Tegal.
                                                                               63

  b. Mengawasi dan memberikan penelitian terhadap kegiatan operasional PD. BPR

     Bank Pasar secara berkala.

  c. Melakukan audit atas administrasi keuangan dan pengelolaan penggunaan dana

     seluruh kekayaan milik PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal.

  d. Mengadakan supervisi atas cabang/unit pelayanan.

  e. Mengadakan supervisi atas agunan dan lain-lain jaminan yang diterima oleh PD.

     BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal.

  f. Memberikan saran dan pertimbangan tentang langkah-langkah dan atau

     tindakan-tindakan yang perlu diambil di bidang tugasnya.

4. Bagian Umum

  Bagian Umum mempunyai tugas merencanakan, mengkoordinasikan, dan

  mengevaluasi   serta   melaporkan    kebijaksanaan    penyelenggaraan   kegiatan

  ketatausahaan, data elektronik dan kerumahtanggaan. Untuk melaksanakan tugas

  tersebut, bagian umum mempunyai fungsi sebagai berikut :

  a. Melakukan koordinasi, pengawasan dan pengarahan terhadap kegiatan dan

     pelaksanaan tugas sub bagian di bawahnya.

  b. Melakukan urusan surat menyurat dan kearsipan.

  c. Melakukan perencanaan kebutuhan pegawai dan pendidikan pegawai.

  d. Melakukan pengadaan peralatan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal.

  e. Melakukan pemeliharaan barang-barang inventaris.

  f. Memberikan saran dan pertimbangan tentang langkah-langkah dan atau

     tindakan-tindakan yang perlu diambil di bidang tugasnya .

  Bagian Umum terdiri dari :
                                                                                   64

   a. Sub Bagian Tata Usaha

   b. Sub Bagian Data Elektronik

   c. Sub Bagian Rumah Tangga

5. Bagian Kredit

   Bagian Kredit mempunyai tugas melakukan penyaluran dana dan pemberian kredit

   kepada nasabah. Untuk melaksanakan tugas tersebut, Bagian Kredit mempunyai

   fungsi sebagai berikut :

   a. Melakukan koordinasi pengawasan dan pengarahan terhadap kegiatan dan

      pelaksanaan tugas sub bagian di bawahnya.

   b. Memberikan penjelasan tentang syarat-syarat dan prosedur kredit kepada para

      calon nasabah.

   c. Melakukan penelitian syarat-syarat dan mengadakan analisis kredit.

   d. Memberikan keputusan kredit sebagaimana yang telah ditentukan oleh Direksi.

   e. Mengusulkan       kepada    Direksi   terhadap   permohonan   kredit   di   atas

      kewenangannya.

   f. Melakukan administrasi kredit, mempersiapkan dan meneliti perjanjian kredit.

   g. Bertanggung jawab atas penyimpangan dan pemeliharaan dokumen penting

      yang berkenaan dengan tugasnya.

   h. Melakukan perencanaan kredit.

   i. Memberikan saran dan pertimbangan tentang langkah-langkah dan atau

      tindakan-tindakan yang perlu diambil di bidang tugasnya.

   Bagian Kredit terdiri dari :

   a. Sub Bagian Kredit Usaha Kecil
                                                                                  65

   b. Sub Bagian Kredit Investasi

   c. Sub Bagian Kredit Kosumsi

   d. Sub Bagian Progaram Hubungan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dengan

      kelompok (PHBK)

6. Bagian Dana

   Bagian    Dana    mempunyai      tugas   mengusahakan   dan      mengkoordinasikan

   pengembangan dana PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal. Untuk melaksanakan

   tugas tersebut, Bagian Dana mempunyai fungsi sebagai berikut :

   a. Melakukan koordinasi, pengawasan dan pengarahan pelaksanaan sub bagian di

      bawahnya.

   b. Melakukan pengembangan dana.

   c. Melakukan administrasi keluar masuk dana.

   d. Meneliti dan menandatangani voucher laporan mutasi dana.

   e. Memberikan saran dan pertimbangan tentang langkah-langkah dan atau

      tindakan-tindakan yang perlu diambil di bidang tugasnya.

   Bagian Dana terdiri dari :

   a. Sub Bagian Deposito

   b. Sub Bagian Tabungan

   c. Sub Bagian Simpanan Lain

7. Bagian Kas

   Bagian Kas mempunyai tugas melakukan koordinasi kegiatan pemasukan dan

   pengeluaran keuangan. Untuk melakukan tugas tersebut, Bagian Kas mempunyai

   fungsi sebagai berikut :
                                                                               66

   a. Melakukan koordinasi, pengawasan dan mengesahkan terhadap kegiatan dan

      pelaksanaan tugas sub bagian di bawahnya.

   b. Melakukan penelitian kebenaran laporan kas harian.

   c. Melakukan penyediaan pengeluaran cek untuk Direksi.

   d. Pemegang kunci kas.

   e. Memberikan saran dan pertimbangan tentang langkah-langkah dan atau

      tindakan-tindakan yang perlu diambil di bidang tugasnya.

   Bagian kas terdiri dari:

   a. Sub Bagian Kas

   b. Sub Bagian Administrasi Kas

8. Bagian Pembukuan

   Bagian Pembukuan mempunyai tugas melaksanakan pembukuan dan menerima

   laporan-laporan dari bagian-bagian lain. Untuk melakukan tugas tersebut, Bagian

   Pembukuan mempunyai fungsi sebagai berikut:

   a. Melakukan koordinasi, pengawasan dan pengarahan terhadap kegiatan dan

      pelaksanaan tugas sub bagian di bawahnya.

   b. Melakukan pembukuan dari laporan setiap bagian.

   c. Melakukan evaluasi dari laporan-laporan setiap bagian.

   d. Memberikan saran dan pertimbangan tentang langkah-langkah dan atau

      tindakan-tindakan yang perlu diambil di bidang tugasnya.

   Bagian Pembukuan terdiri dari :

   a. Sub Bagian Aggaran dan Laporan

   b. Sub Bagian Pembukuan
                                                                              67

9. Bagian Pembinaan Nasabah

   Bagian Pembinaan Nasabah mempunyai tugas melakukan koordinasi dengan bagian

   lain yang berhubungan dengan pembinaan nasabah. Untuk melakukan tugas

   tersebut, Bagian Pembinaan Nasabah mempunyai fungsi sebagai berikut :

   a. Melakukan usaha kolektibiliti yang tinggi.

   b. Menjaga dan mengelola rekening nasabah.

   c. Melakukan koordinasi dan pembinaan nasabah kredit usaha kecil, kredit

       investasi, kredit konsumsi, program hubungan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten

       Tegal dengan kelompok dan kredit bermasalah.

   d. Melakukan koordinasi bagian kredit dan pembukuan.

   e. Melakukan pembinaan nasabah yang kreditnya dihapuskan.

   f. Melakukan penagihan secara intensif dan semaksimal mungkin atas kredit yang

       telah dihapuskan.

   g. Memberikan saran dan pertimbangan tentang langkah-langkah dan atau

       tindakan-tindakan yang perlu diambil di bidang tugasnya.

10. Bagian Kredit usaha Kecil

   Bagian Kredit Usaha Kecil mempunyai tugas mencari nasabah, menyalurkan dana

   serta mengevaluasi kredit usaha kecil.

11. Unit Pelayanan

   Unit Pelayanan mempunyai tugas sebagai perpanjangan tangan kantor pusat

   dalam mencari dan melayani nasabah di wilayahnya.
                                                                                             68


  4.1.5 Visi dan Misi PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal

        1. Visi

            BPR andalan masyarakat dan mitra usaha yang tangguh.

        2. Misi

            Memberikan pelayanan prima kepada masyarakat kecil dan menengah di Kabupaten

            Tegal,memberikan kontribusi PAD, dan kesejahteraan karyawan.



  4.1.6 Lokasi dan Wilayah Kerja PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal

                  Lokasi gedung kantor PD. Bank Pasar Kabupaten Tegal yang berstatus milik

        sendiri sangat strategis yaitu di Jalan Ahmad Yani No. 11 Procot Slawi Telp: (0283)

        491570 tepatnya di depan Terminal Bus Slawi. Jumlah loket-loket untuk melayani para

        bakul/pedagang di pasar-pasar dan di desa sekitarnya dengan jumlah loket sebanyak 22

        buah loket yang mempunyai lokasi menyebar di seluruh wilayah Kabupaten Tegal.

        BPR memberikan pinjaman untuk umum dan pegawai negeri maupun swasta. Untuk

        pinjaman umum minimal Rp 500.000,00 dengan bunga 3% dan untuk pegawai negeri

        2% dengan syarat barang jaminan harus berdomisili di Kabupaten Tegal.



4.2 Analisis Tingkat Kesehatan Bank

            Peraturan Bank Indonesia No. 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem

   Penilaian Tingkat Kesehatan menjelaskan bahwa tingkat kesehatan bank merupakan hasil

   penilaian kualitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi atau kinerja suatu

   bank melalui penilaian faktor permodalan, kualitas aset, manajemen, rentabilitas,likuiditas,

   dan sensitivitas terhadap risiko pasar.
                                                                                           69

            Bank Indonesia selaku pembina dan pengawas bank juga mengeluarkan peraturan

   mengenai penilaian kinerja BPR yang tertuang dalam Surat Keputusan Direktur Bank

   Indonesia No.30/12/KEP/DIR/1997 tanggal 30 April 1997 yang didasarkan pada lima

   indikator penilaian yaitu: Capital, Assets, Management, Earning dan Liquidity (CAMEL)

   dengan empat kategori yaitu: sehat, cukup sehat, kurang sehat dan tidak sehat.

            Berdasarkan laporan keuangan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal yang

   terdapat dalam Neraca dan Laporan Laba Rugi merupakan salah satu yang akan digunakan

   dalam penilaian tingkat kesehatan bank, yaitu penilaian tentang permodalan, kualitas aktiva

   produktif, manajemen, rentabilitas, dan likuiditas.

            Melihat posisi keuangan yang diketahui dari hasil laporan keuangan tersebut PD.

   BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal mengalami kondisi yang naik dan turun selama 3 tahun.

   Penilaian atas tingkat kesehatan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dilakukan dengan

   cara mengkuantifikasi komponen-komponen permodalan, kualitas aktiva produktif,

   manajemen, rentabilitas, dan likuiditas. Ketentuan-ketentuan atas tingkat kesehatan bank

   dapat memberikan tolok ukur untuk menetapkan arah pembinaan dan pengembangan

   bagaimana manajemen bank yang bersangkutan serta untuk menilai apakah pengelolaan bank

   telah dilakukan baik dan benar berdasarkan peraturan yang berlaku.



4.3 Pembahasan

            Penilaian Tingkat Kesehatan Bank pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal

   tahun 2004-2005 dilihat dari masing-masing komponen Capital, Asset, Management,

   Earning, and Liquidity yaitu:
                                                                                            70


4.3.1   Permodalan

                   Penilaian permodalan perbankan dalam merupakan kewajiban penyediaan

        modal minimum 8% dari ATMR yang telah ditetapkan oleh Bank of Internatioanal

        Settlements (BIS). Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) yaitu pos-pos aktiva

        yang diberikan bobot resiko yang terkandung pada aktiva itu sendiri. Ketentuan rasio

        antara modal dan ATMR biasa disebut Capital Adequancy Ratio (CAR) atau Rasio

        Kecukupan Modal yang merupakan analisa solvabilitas untuk mendukung kegiatan

        bank secara efisien dan mampu menyerap kerugian-kerugian yang tidak dapat

        dihindarkan serta apakah kekayaan bank semakin bertambah atau semakin berkurang.

                   Adapun penilaian permodalan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal,

        perhitungannya:

                                              Tabel 4.1
                                    Perhitungan ATMR Tahun 2004

                                                                 Dalam Ribuan Rupiah
                                                  Bobot                 2004
                      Keterangan
                                                                Nominal        ATMR
         Aktiva Tertimbang Menurut Resiko
         1. Aktiva Neraca
           1.1 Kas                                     0%            31.834                 0
           1.2 Antar Bank Aktiva                      20%         1.361.554          272.311
           1.3 Kredit yang Diberikan                 100%         8.916.593        8.916.593
           1.4 Aktiva Tetap dan Inventaris           100%           548.863          548.863
           1.5 Rupa-rupa Aktiva                      100%            26.215           26.215
                       Jumlah ATMR                                                 9.763.982
                                                     Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal

                Dari tabel 4.1 dapat dilihat bahwa ATMR pada tahun 2004, untuk kas yang

        memiliki bobot resiko 0% dengan nominal 31.834 memiliki resiko 0, berarti kas

        dalam perusahaan tidak mengandung risiko. Untuk antar bank aktiva memiliki bobot

        risiko 20% dari nilai nominal 1.361.554 yaitu sebesar 272.311. Sedangkan untuk

        aktiva-aktiva lain yang mengandung risiko seperti kredit yang diberikan, aktiva tetap
                                                                                    71

dan inventaris, dan rupa-rupa aktiva memiliki bobot risiko 100% dari nilai

nominalnya.

                                       Tabel 4.2
                             Perhitungan ATMR Tahun 2005
                                                         Dalam Ribuan Rupiah
                                                                2005
               Keterangan                  Bobot
                                                       Nominal         ATMR
 Aktiva Tertimbang Menurut Resiko
 1. Aktiva Neraca
   1.1 Kas                                     0%            145.928                0
   1.2 Antar Bank Aktiva                      20%            877.010         175.502
   1.3 Kredit yang Diberikan                 100%          8.893.499       8.893.499
   1.4 Aktiva Tetap dan Inventaris           100%            515.130         515.130
   1.5 Rupa-rupa Aktiva                      100%             32.812          32.812
                Jumlah ATMR                                                9.616.845
                                             Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal

        Dari tabel 4.2 dapat dilihat bahwa ATMR pada tahun 2005, untuk kas yang

memiliki bobot resiko 0% dengan nominal 145.928 memiliki resiko 0, berarti kas

dalam perusahaan tidak mengandung risiko. Untuk antar bank aktiva memiliki bobot

risiko 20% dari nilai nominal 877.010 yaitu sebesar 175.502. Sedangkan untuk

aktiva-aktiva lain yang mengandung risiko seperti kredit yang diberikan, aktiva tetap

dan inventaris, dan rupa-rupa aktiva memiliki bobot risiko 100% dari nilai

nominalnya.

                                       Tabel 4.3
                             Perhitungan ATMR Tahun 2006

                                                         Dalam Ribuan Rupiah
                                                                2006
                Keterangan                  Bobot
                                                       Nominal         ATMR
 Aktiva Tertimbang Menurut Resiko
 1. Aktiva Neraca
   1.1 Kas                                     0%            168.064                0
   1.2 Antar Bank Aktiva                      20%          2.748.822         549.764
   1.3 Kredit yang Diberikan                 100%          9.023.037       9.023.037
   1.4 Aktiva Tetap dan Inventaris           100%            454.856         454.856
   1.5 Rupa-rupa Aktiva                      100%             56.700          56.700
                Jumlah ATMR                                                6.125.191
                                             Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
                                                                                        72

         Dari tabel 4.3 dapat dilihat bahwa ATMR pada tahun 2006, untuk kas yang

memiliki bobot resiko 0% dengan nominal 168.064 memiliki resiko 0, berarti kas

dalam perusahaan tidak mengandung risiko. Untuk antar bank aktiva memiliki bobot

risiko 20% dari nilai nominal 2.768.822 yaitu sebesar 549.764. Sedangkan untuk

aktiva-aktiva lain yang mengandung risiko seperti kredit yang diberikan, aktiva tetap

dan inventaris, dan rupa-rupa aktiva memiliki bobot risiko 100% dari nilai

nominalnya.

                                         Tabel 4.4
         Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) Tahun 2004
                                                                Dalam Ribuan Rupiah
                                                                        2004
                     Keterangan                     Bobot
                                                               Nominal         ATMR
 I. Modal
    1. Modal Inti
       1.1 Modal Disetor                            100%       1.171.752       1.171.752
       1.2 Modal Sumbangan                          100%                -               -
       1.3 Cadangan Umum                            100%         177.783         177.783
       1.4 Cadangan Tujuan                          100%         115.802         115.802
       1.5 Laba Ditahan                             100%                -               -
       1.6 Laba Tahun Lalu                          100%                -               -
       1.7 Rugi tahun Lalu                          100%                -               -
       1.8 Laba Tahun Berjalan setelah THP            50%        166.046          83.023
       1.9 Rugi Tahun Berjalan                      100%                -               -
       1.10 Kekurangan PPAP                         100%         567.046         567.046
       1.11 Jumlah Modal Inti                                  2.198.843      2.115.819
    2. Modal Pelengkap
       2.1 PPAP (max 1,25%xATMR)                    1,25%                         43.158
       2.2 Modal Pinjaman                           100%                                -
       2.3 Pinjaman Subordinasi                     100%                                -
       2.4 Jumlah Modal Pelengkap                                                 43.158
   3. Jumlah Modal (1.11+2.4)                                                  2.158.977
 II. Modal Minimum ( 8%xATMR)                                                    781.111
 III. Kelebihan Modal                                                          1.377.866
                                                 Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal

         Dari tabel 4.4 dapat dilihat data perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal

Minimum tahun 2004, aktiva-aktiva yang mengandung risiko pada modal disetor,

cadangan umum, cadangan tujuan, dan kekurangan PPAP memiliki bobot risiko
                                                                                     73

100% dari nilai nominal aktiva. Sedangkan untuk laba tahun berjalan memiliki bobot

risiko 50% dari nilai nominal 166.046 yaitu sebesar 83.023.

                                    Tabel 4.5
       Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) Tahun 2005

                                                               Dalam Ribuan Rupiah
                                                                      2005
                  Keterangan                    Bobot
                                                              Nominal       ATMR
 I. Modal
    1. Modal Inti
       1.1 Modal Disetor                         100%         1.500.000     1.500.000
       1.2 Modal Sumbangan                       100%                 -             -
       1.3 Cadangan Umum                         100%           150.992       150.992
       1.4 Cadangan Tujuan                       100%           149.012       149.012
       1.5 Laba Ditahan                          100%                 -             -
       1.6 Laba Tahun Lalu                       100%                 -             -
       1.7 Rugi tahun Lalu                       100%                 -             -
       1.8 Laba Tahun Berjalan setelah THP        50%           177.801        88.902
       1.9 Rugi Tahun Berjalan                   100%                 -             -
       1.10 Kekurangan PPAP                      100%           388.532       388.532
       1.11 Jumlah Modal Inti                                 1.589.273     1.500.374
    2. Modal Pelengkap
       2.1 PPAP (max 1,25%xATMR)                1,25%                         11.239
       2.2 Modal Pinjaman                       100%                                -
       2.3 Pinjaman Subordinasi                 100%                                -
       2.4 Jumlah Modal Pelengkap                                             11.239
   3. Jumlah Modal (1.11+2.4)                                              1.511.613
 II. Modal Minimum ( 8%xATMR)                                                837.151
 III. Kelebihan Modal                                                        674.462
                                             Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal

         Dari tabel 4.5 dapat dilihat data perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal

Minimum tahun 2005, aktiva-aktiva yang mengandung risiko pada modal disetor,

cadangan umum, cadangan tujuan, dan kekurangan PPAP memiliki bobot risiko

100% dari nilai nominal aktiva. Sedangkan untuk laba tahun berjalan memiliki bobot

risiko 50% dari nilai nominal 177.801 yaitu sebesar 88.902.
                                                                                    74

                                    Tabel 4.6
       Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) Tahun 2006

                                                           Dalam Ribuan Rupiah
                                                                  2006
                Keterangan                   Bobot
                                                         Nominal        ATMR
 I. Modal
    1. Modal Inti
       1.1 Modal Disetor                      100%       1.500.000          1.500.000
       1.2 Modal Sumbangan                    100%                -                 -
       1.3 Cadangan Umum                      100%          187.236           187.236
       1.4 Cadangan Tujuan                    100%          184.571           184.571
       1.5 Laba Ditahan                       100%                -                 -
       1.6 Laba Tahun Lalu                    100%                -                 -
       1.7 Rugi tahun Lalu                    100%                -                 -
       1.8 Laba Tahun Berjalan setelah THP     50%                -                 -
       1.9 Rugi Tahun Berjalan                100%        (805.482)         (805.482)
       1.10 Kekurangan PPAP                   100%                -                 -
       1.11 Jumlah Modal Inti                            1.066.326          1.066.326
    2. Modal Pelengkap
       2.1 PPAP (max 1,25%xATMR)              1,25%                            76.565
       2.2 Modal Pinjaman                     100%                                   -
       2.3 Pinjaman Subordinasi               100%                                   -
       2.4 Jumlah Modal Pelengkap                                              76.565
   3. Jumlah Modal (1.11+2.4)                                               1.142.891
 II. Modal Minimum ( 8%xATMR)                                                 490.015
 III. Kelebihan Modal                                                         652.875
                                             Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal

         Dari tabel 4.6 dapat dilihat data perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal

Minimum tahun 2006, aktiva-aktiva yang mengandung risiko pada modal disetor,

cadangan umum, cadangan tujuan, dan rugi tahun berjalan memiliki bobot risiko

100% dari nilai nominal aktiva.

         Berdasarkan hasil perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa Kewajiban

Penyediaan Modal Minimum (KPMM) tersebut lebih kecil dibandingkan dengan

jumlah modal yang tersedia sehingga mempunyai kelebihan modal. Hal ini berarti

peluang bagi PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal masih luas dalam menyalurkan

kredit kepada masyarakat. Dengan kondisi tersebut PD. BPR Bank Pasar Kabupaten

Tegal dituntut untuk lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit kepada masyarakat
                                                                                        75

yang bersumber dari tabungan dan deposito untuk menghindari terjadinya kredit

bermasalah.

                                          Tabel 4.7
                            Penilaian Permodalan Tahun 2004-2005

                                                            Dalam Ribuan Rupiah
                                                           Tahun
          Keterangan
                                         2004              2005                2006
 Modal                                 2.158.977         1.511.612          1.142.891
                                           -               Turun              Turun
 Naik/Turun Modal
                                                          29,98%             24,39%
 ATMR                                  9.763.982         9.616.845          6.125.191
                                           -               Turun              Turun
 Naik/Turun ATMR
                                                           1,51%             36,30%
 Rasio CAR                              14,11%            15,72%             18,67%
 Naik/Turun CAR                                             Naik               Naik
                                           -
                                                          1,61%              2,95%
 Nilai Kredit/NK                          142               158                 188
 NK Max                                   100               100                 100
 Nilai Akhir = Bobot x NK                 30                 30                 30
 Indikator                               Sehat             Sehat              Sehat
                                                 Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal

Dari tabel 4.7 dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Tahun 2004 rasio CAR yang dihasilkan 14,11%. Hal ini berarti bahwa bank

   mampu untuk menjamin setiap Rp 1.000,00 kerugian yang mungkin akan terjadi

   dari penanaman modal sendiri sebesar Rp 141,1. Berdasarkan kriteria BI, rasio

   CAR tahun 2004 dinilai sehat karena lebih dari 8% dan mampu menyediakan

   dana 14,11% dari ATMR yaitu sebesar Rp 9.763.982 sehingga apabila bank

   dilikuidasi, bank akan mampu untuk memenuhi kewajibannya.

2. Tahun 2005 rasio CAR yang dihasilkan 15,72% dan mengalami kenaikan 1,61%.

   Hal ini berarti bahwa bank mampu untuk menjamin setiap Rp 1.000,00 kerugian

   yang mungkin akan terjadi dari penanaman modal sendiri sebesar Rp 157,2.

   Berdasarkan kriteria BI, rasio CAR tahun 2005 dinilai sehat karena lebih dari 8%

   dan mampu menyediakan dana 15,72% dari ATMR yaitu sebesar Rp 6.125.191
                                                                                      76

         sehingga apabila bank dilikuidasi, bank akan mampu untuk memenuhi

         kewajibannya.

      3. Tahun 2006 rasio CAR yang dihasilkan 18,67% dan mengalami kenaikan 2,95%.

         Hal ini berarti bahwa bank mampu untuk menjamin setiap Rp 1.000,00 kerugian

         yang mungkin akan terjadi dari penanaman modal sendiri sebesar Rp 186,7.

         Berdasarkan kriteria BI, rasio CAR tahun 2006 dinilai sehat karena lebih dari 8%

         dan mampu menyediakan dana 18,67% dari ATMR yaitu sebesar Rp 9.616.845

         sehingga apabila bank dilikuidasi, bank akan mampu untuk memenuhi

         kewajibannya.


4.3.2 Kualitas Aktiva Produktif

                 Dalam penilaian aspek kualitas aktiva produktif rasio yang digunakan

      untuk mengkuantifikasi aktiva produktif didasarkan pada dua rasio yaitu:

      4.3.2.1 Rasio Aktiva Produktif yang diklasifikasikan terhadap Total Aktiva

               Produktif atau rasio KAP (Kualitas Aktiva Produktif)

                         Rasio ini digunakan untuk mengetahui prosentase kerugian yang

               terjadi pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dari sejumlah aktiva

               tetap yang telah ditanamkan baik dalam kredit, surat berharga, penyertaan

               maupun penanaman dana lainnya dalam usaha untuk meningkatkan

               keuntungan.
                                                                                              77


                                      Tabel 4.8
         Perbandingan Komposisi Aktiva Produktif yang Diklasifikasikan terhadap
                         Aktiva Produktif Tahun 2004-2005

                                                                   Dalam Ribuan Rupiah
                                            Aktiva Produktif
                                                                  Tahun
             Kriteria
                                            2004                   2005             2006
 Lancar                                       7.606.036              8.109.794      10.734.642
 Kurang Lancar                                  355.843                421.472          511.526
 Diragukan                                       835.42              1.060.945          537.549
 Macet                                          119.294                178.298        1.032.341
 Jumlah                                       8.916.593              9.770.509      12.816.058
                                                                   Naik             Naik
 Naik/Turun A.P (%)                           -
                                                                  9,58%            31,17%
                                    Aktiva Produktif Diklasifikasikan
                                                                  Tahun
             Kriteria
                                            2004                   2005             2006
 Lancar (0%)                                           -                     -                -
 Kurang Lancar (50%)                            177.922                210.736          255.763
 Diragukan (75%)                                626.565                795.709          403.162
 Macet (100%)                                   119.294                178.298        1.032.341
 Jumlah                                         923.781              1.184.743        1.691.266
                                                                   Naik             Naik
 Naik/Turun A.P.D (%)                         -
                                                                 28,25%           42,75%
 Rasio KAP                                10,36%                 12,13%           13,19%
                                                                   Naik             Naik
 Naik/Turun K.A.P (%)                         -
                                                                  1,77%            1,06%
 NK =   (22.5% - R. KAP)
                                             81                    69                30
            0,15%
 NK Max                                    100                   100                100
 Nilai Akhir = Bobot x NK                 20,25                 17,25                5,5
 Indikator                           Cukup Sehat         Cukup Sehat           Kurang Sehat
                                                       Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal

Perhitungan rasio aktiva produktif yang diklasifikasikan terhadap aktiva produktif:

                               Aktiva Produktif yang Diklasifikasikan
Rasio KAP 1                =                                          × 100%
                                       Total Aktiva Produktif

                                923.781
Rasio (2004)               =             × 100% = 10,36%
                               8.916.593

                               1.184.743
Rasio (2005)               =             × 100% = 12,13%
                               9.770.509
                                                                                78


                          1.691.266
Rasio (2006)         =              × 100% = 13,19%
                         12.816.059

Dari tabel 4.8 dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Tahun 2004 rasio yang dihasilkan sebesar 10,36%. Hal ini berarti setiap

   Rp 1.000,00 dana yang ditanamkan pada aktiva produktif terdapat risiko kegagalan

   pengembalian kredit sebesar Rp 103,6. Dari aktiva produktif bank mengambil

   bunga sebesar 35% per tahun, jadi tingkat pengembalian kredit pada PD. BPR Bank

   Pasar Kabupaten Tegal dinilai baik karena selisih antara bunga per tahun dengan

   prosentase risiko gagalnya pengembalian kredit masih terdapat 24,64% dari total

   aktiva produktif yang akan diterima sebagai pendapatan operasional. Berdasarkan

   kriteria BI, maka kualitas aktiva produktif pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten

   Tegal dinilai cukup sehat.

2. Tahun 2005 rasio yang dihasilkan sebesar 12,13%. Hal ini berarti setiap

   Rp 1.000,00 dana yang ditanamkan pada aktiva produktif terdapat risiko kegagalan

   pengembalian kredit sebesar Rp 121,3. Dari aktiva produktif bank mengambil

   bunga sebesar 35% per tahun, jadi tingkat pengembalian kredit pada PD. BPR Bank

   Pasar Kabupaten Tegal dinilai baik karena selisih antara bunga per tahun dengan

   prosentase risiko gagalnya pengembalian kredit masih terdapat 22,87% dari total

   aktiva produktif yang akan diterima sebagai pendapatan operasional. Berdasarkan

   kriteria BI, maka kualitas aktiva produktif pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten

   Tegal dinilai cukup sehat.

3. Tahun 2006 rasio yang dihasilkan sebesar 13,19%. Hal ini berarti setiap

   Rp 1.000,00 dana yang ditanamkan pada aktiva produktif terdapat risiko kegagalan

   pengembalian kredit sebesar Rp 131,9. Dari aktiva produktif bank mengambil
                                                                                      79

   bunga sebesar 35% per tahun, jadi tingkat pengembalian kredit pada PD. BPR Bank

   Pasar Kabupaten Tegal dinilai tidak baik karena selisih antara bunga per tahun

   dengan prosentase risiko gagalnya pengembalian kredit masih terdapat 21,81% dari

   total aktiva produktif yang akan diterima sebagai pendapatan operasional.

   Berdasarkan kriteria BI, maka kualitas aktiva produktif pada PD. BPR Bank Pasar

   Kabupaten Tegal dinilai tidak sehat.

4.2.3.2 Rasio Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif terhadap Penyisihan

       Penghapusan Aktiva Produktif yang Wajib Dibentuk.

                 Rasio ini mengukur pemenuhan PPAP yang dibentuk bank terhadap

       PPAPWD yang ditetapkan Bank Indonesia sehubungan dengan adanya

       kewajiban bank untuk membentuk PPAP yang cukup untuk menutup resiko

       kemungkinan yang timbul dari penanaman aktiva produktifnya.


                                     Tabel 4.9
            Perbandingan Komposisi PPAP terhadap PPAPWD tahun 2004-2006

                                                             Dalam Ribuan Rupiah
                                                            Tahun
             Kriteria PPAPWD
                                          2004               2005              2006
        Lancar (0,5%)                          38.03            40.549            53.673
        Kurang Lancar (10%)                   35.584            23.475            31.351
        Diragukan (50%)                       417.71           236.756           183.917
        Macet (100%)                        119.294             98.991           774.357
        Jumlah                              610.618            399.771         1.043.298
                                                            Turun              Naik
        Naik/Turun PPAPWD (%)               -
                                                           34,53%           160,97%
        PPAP                                  43.158            11.239            58.063
                                                            Turun              Naik
        Naik/Turun PPAP (%)                 -
                                                           73,95%           616,62%
        Rasio PPAP                       7,07%              2,81%             5,57%
                                                            Turun              Naik
        Naik/Turun Rasio (%)                -
                                                            4,26%             2,76%
        NK = Rasio x 1                    7,07               2,81              5,57
        NK Max                            100                100               100
        Nilai Akhir = Bobot x NK          7,07               2,81              5,57
        Indikator                     Tidak Sehat        Tidak Sehat       Tidak Sehat
                                               Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal
                                                                                 80

Keterangan: PPAP         : Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif

               PPAPWD : Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif        yang Wajib

                           Dibentuk.

Perhitungan rasio penyisihan penghapusan aktiva produktif yang wajib dibentuk

terhadap penyisihan penghapusan aktiva produktif yaitu:

                        PPAP
Rasio PPAP         =          × 100%
                       PPAPWD

                        43.158
Rasio (2004)       =           × 100%% = 7,07%
                       610.618

                       11.239
Rasio (2005)       =           × 100%     = 2,81%
                       399.771

                         58.063
Rasio (2006)       =             × 100% = 5,57%
                       1.043.299

Dari tabel 4.9 dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Tahun 2004 rasio yang dihasilkan sebesar 7,07%. Hal ini berarti bahwa dari setiap

   Rp 1.000,00 PPAPWD yang ditetapkan oleh BI, maka PD. BPR Bank Pasar

   Kabupaten Tegal tidak mampu untuk menyediakan dana penghapusan piutang

   sebesar Rp 70,7, jadi masih terdapat kerugian Rp 926,3 dan kerugian tersebut

   secara langsung akan mempengaruhi jumlah laba yang akan diperoleh pihak bank.

   Berdasarkan SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.3, maka kualitas

   PPAP pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dinilai tidak sehat karena

   kurang dari 51% dari standar penilaian BI.

2. Tahun 2005 rasio yang dihasilkan sebesar 2,81%. Hal ini berarti bahwa dari setiap

   Rp 1.000,00 PPAPWD yang ditetapkan oleh BI, maka PD. BPR Bank Pasar

   Kabupaten Tegal tidak mampu untuk menyediakan dana penghapusan piutang
                                                                                              81

           sebesar Rp 28,1 jadi masih terdapat kerugian Rp 997,19 dan kerugian tersebut

           secara langsung akan mempengaruhi jumlah laba yang akan diperoleh pihak bank.

           Berdasarkan SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.3, maka kualitas

           PPAP pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dinilai tidak sehat karena

           kurang dari 51% dari standar penilaian BI.

        3. Tahun 2006 rasio yang dihasilkan sebesar 5,57%. Hal ini berarti bahwa dari setiap

           Rp 1.000,00 PPAPWD yang ditetapkan oleh BI, maka PD. BPR Bank Pasar

           Kabupaten Tegal tidak mampu untuk menyediakan dana penghapusan piutang

           sebesar Rp 5,57 jadi masih terdapat kerugian Rp 994,43 dan kerugian tersebut

           secara langsung akan mempengaruhi jumlah laba yang akan diperoleh pihak bank.

           Berdasarkan SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.3, maka kualitas

           PPAP pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dinilai tidak sehat karena

           kurang dari 51% dari standar penilaian BI.


4.3.3   Manajemen

               Penilaian terhadap faktor manajemen terdiri dari 2 yaitu manajemen umum

        dan manajemen resiko. Penilaian didasarkan pada jawaban atas daftar pertanyaan

        yang terdiri dari 25 pertanyaan. Penilaian atas jawaban dibutuhkan sebagai berikut:

        1. Kondisi lemah = 0

        2. Kondisi antara = 1,2, dan 3

        3. Kondisi baik = 4
                                                                                     82

                                      Tabel 4.10
                     Penilaian Aspek Manajemen Tahun 2004-2006

                              Jumlah                         Tahun
        Manajemen
                             Pertanyaan        2004          2005            2006
 1. Manajemen Umum               10             23             27             29
 2. Manajemen Resiko             15             31             33             41
 Jumlah                                         54             60             70
 NK                                            106,8         120,3           138,1
 NK Max                                         100           100            100
 Nilai Akhir = Bobot x NK                      10,68         12,03           13,81
                                              Kurang        Kurang          Cukup
 Indikator
                                              Sehat          Sehat          Sehat
                                              Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal

Dari tabel 4.10 dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Tahun 2004 dapat diketahui bahwa nilai manajemen umum adalah sebesar 23%

   dan manajemen resiko adalah sebesar 31%. Berdasarkan SK DIR BI No.

   30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.4, maka manajemen umum dan manajemen

   resiko pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal berada dalam kondisi kurang

   sehat artinya pada tahun yang bersangkutan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten

   Tegal kurang mampu untuk mengatur bank baik dalam segi strategi, struktur,

   sistem, kepemimpinan maupun setiap resiko yang timbul pada setiap aktivitasnya

   sehingga bank tidak dapat maksimal dalam pencapaian hasil usahanya.

2. Tahun 2005 dapat diketahui bahwa nilai manajemen umum adalah sebesar 27%

   dan manajemen resiko adalah sebesar 33%. Berdasarkan SK DIR BI No.

   30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.4, maka manajemen umum dan manajemen

   resiko pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal berada dalam kondisi kurang

   sehat artinya pada tahun yang bersangkutan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten

   Tegal kurang mampu untuk mengatur bank baik dalam segi strategi, struktur,

   sistem, kepemimpinan maupun setiap resiko yang timbul pada setiap aktivitasnya

   sehingga bank tidak dapat maksimal dalam pencapaian hasil usahanya.
                                                                                     83

      3. Tahun 2006 dapat diketahui bahwa nilai manajemen umum adalah sebesar 29%

          dan manajemen resiko adalah sebesar 41%. Berdasarkan SK DIR BI No.

          30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.4, maka manajemen umum dan manajemen

          resiko pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal berada dalam kondisi cukup

          sehat artinya pada tahun yang bersangkutan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten

          Tegal cukup mampu untuk mengatur bank baik dalam segi strategi, struktur,

          sistem, kepemimpinan maupun setiap resiko yang timbul pada setiap aktivitasnya

          sehingga bank dapat maksimal dalam pencapaian hasil usahanya.


4.3.4 Rentabilitas

            Dalam penilaian rentabilitas faktor-faktor yang diperlukan dalam perhitungan

      adalah total aktiva dan laba itu sendiri. Rentabilitas adalah kemampuan bank dalam

      menghasilkan laba selama periode tertentu.

            Adapun penilaian rentabilitas didasarkan pada dua rasio, yaitu:

     1. Rasio laba sebelum pajak dalam 12 bulan terakhir terhadap rata-rata volume usaha

        (ROA) dalam periode yang sama, dengan perhitungan sebagai berikut:

        a. Untuk rasio 0 atau negatif diberi nilai kredit

        b. Untuk setiap kenaikan 0,115% mulai dari 0% nilai kredit ditambah 1 dengan

            maksimal 100.

     2. Rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional dalam periode yang sama

        dengan perhitungan sebagai berikut:

        a. Untuk rasio 100% atau lebih diberi nilai kredit 0

        b. Untuk setiap penurunan sebesar 0,08% mulai dari 100% nilai kredit ditambah 1

            dengan maksimal 100.
                                                                                        84


4.3.4.1 Rasio Laba Sebelum Pajak terhadap Rata-rata Volume Usaha (ROA)

               Rasio ini menunjukkan seberapa besar kemampuan PD. BPR Bank

        Pasar Kabupaten Tegal dalam menghasilkan laba sebelum pajak dengan total

        asset yang dimilikinya.

                                    Tabel 4.11
         Rasio Laba Sebelum Pajak terhadap Rata-rata Volume Usaha (ROA)
                                Tahun 2004-2006

                                                             Dalam Ribuan Rupiah
                                                             Tahun
             Keterangan
                                            2004               2005             2006
 a) Laba/Rugi Sebelum Pajak               212.208           229.004          -805.482
 b) Rata-rata Volume Usaha               10.481.901       10.453.142        12.452.380
 c) Rasio (a : b) x 100%                   1,96%             2,19%            -1,76%
                                                              Naik             Turun
 Naik/Turun ROA (%)                           -
                                                             0,23%             3,95%
 NK = c : 0,015%                             130              146               -117
 NK Max                                      100              100               100
 Nilai Akhir = Bobot x NK                     5                 5                -5
 Indikator                                 Sehat             Sehat         Tidak Sehat
                                                Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal

Perhitungan rasio laba sebelum pajak terhadap rata-rata volume usaha (ROA) yaitu:

                          Laba Sebelum Pajak
Rasio (ROA)        =                            × 100%
                        Rata − rata Volum Usaha

                        212.208
Rasio (2004)       =              × 100% = 1,96%
                       10.481.901

                        229.004
Rasio (2005)       =              × 100% = 2,19%
                       10.453.142

                        − 805.482
Rasio (2006)       =              × 100% = -1,76%
                       12.452.380

Dari tabel 4.11 dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Tahun 2004 rasio yang dihasilkan sebesar 1,96%. Hal ini menunjukkan bahwa

   setiap Rp. 1.000,00 modal yang ditanamkan pada aktiva produktif mampu untuk

   menghasilkan        laba   sebesar   Rp   19,6.   Berdasarkan    SK    DIR     BI   No.
                                                                                 85

   30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.5, maka ROA pada PD. BPR Bank Pasar

   Kabupaten Tegal berada dalam kondisi sehat karena lebih dari 1,22% standar

   penilaian BI.

2. Tahun 2005 rasio yang dihasilkan sebesar 2,19%. Hal ini menunjukkan bahwa

   setiap Rp. 1.000,00 modal yang ditanamkan pada aktiva produktif mampu untuk

   menghasilkan      laba   sebesar   Rp   21,9.   Berdasarkan   SK   DIR   BI   No.

   30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.5, maka ROA pada PD. BPR Bank Pasar

   Kabupaten Tegal berada dalam kondisi sehat karena lebih dari 1,22% standar

   penilaian BI.

3. Tahun 2006 rasio yang dihasilkan sebesar -1,76%. Hal ini menunjukkan bahwa

   setiap Rp 1.000,00 modal yang ditanamkan pada aktiva produktif mampu untuk

   menghasilkan laba sebesar Rp -17,6. Berdasarkan SK DIR BI No.

   30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.5, maka ROA pada PD. BPR Bank Pasar

   Kabupaten Tegal berada dalam kondisi tidak sehat karena kurang dari 1,22%

   standar penilaian BI.

4.3.4.2 Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional

                   Rasio ini menunjukkan prosentase beban operasional terhadap

        pendapatan operasional . Semakin besar prosentase rasio berarti semakin

        besar beban operasional yang terdapat dalam setiap pendapatan operasional.

        Hasil perhitungan rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional

        terlihat pada tabel 4.12:
                                                                                       86

                                     Tabel 4.12
               Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional
                                  Tahun 2005-2006

                                                            Dalam Ribuan Rupiah
                                                          Tahun
          Keterangan
                                       2004                2005              2006
 a) Beban Operasional               2.591.829          2.847.819           4.008.708
 b) Pendapatan Operasional          2.812.436          3.089.907           3.213.898
 c) Rasio (a : b) x 100%             92,16%              92,17%            124,73%
                                                           Naik               Naik
 Naik/Turun BOPO (%)                    -
                                                          0,01%             32,56%
 NK = 100% - c : 0,08%                 98                    98               -297
 NK Max                               100                   100               100
 Nilai Akhir = Bobot x NK             4,9                   4,9                -5
 Indikator                           Sehat                Sehat           Tidak Sehat
                                                Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal

Perhitungan rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional yaitu;

                          Biaya Operasional
Rasio (BOPO)        =                          × 100%
                        Pendapatan Operasional

                        2.591.829
Rasio (2004)        =             × 100% = 92,16%
                        2.812.436

                        2.847.819
Rasio (2005)        =             × 100% = 92,17%
                        3.089.907

                        4.008.708
Rasio (2006)        =             × 100% = 124,73%
                        3.213.898

Dari tabel 4.12 dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Tahun 2004 rasio yang dihasilkan sebesar 92,16%. Hal ini berarti untuk

   memperoleh pendapatan operasional sebesar Rp 1.000,00 maka PD. BPR Bank

   Pasar Kabupaten Tegal harus mengeluarkan biaya operasional sebesar Rp 921,6.

   Berdasarkan SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.5, maka rasio

   BOPO PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dinilai sehat karena rasionya

   kurang dari 93,52% standar penilaian BI.
                                                                                       87

      2. Tahun 2005 rasio yang dihasilkan sebesar 92,17%. Hal ini berarti untuk

          memperoleh pendapatan operasional sebesar Rp 1.000,00 maka PD. BPR Bank

          Pasar Kabupaten Tegal harus mengeluarkan biaya operasional sebesar Rp 921,7.

          Berdasarkan SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.5, maka rasio

          BOPO PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dinilai sehat karena rasionya

          kurang dari 93,52% standar penilaian BI.

      3. Tahun 2006 rasio yang dihasilkan sebesar 123,73%. Hal ini berarti untuk

          memperoleh pendapatan operasional sebesar Rp 1.000,00 maka PD. BPR Bank

          Pasar Kabupaten Tegal harus mengeluarkan biaya operasional sebesar Rp 1237,3.

          Berdasarkan SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.5, maka rasio

          BOPO PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dinilai tidak sehat karena rasionya

          lebih dari 93,52% standar penilaian BI.



4.3.5 Likuiditas

                   Penilaian terhadap faktor likuiditas didasarkan pada rasio yaitu:

      a. Rasio alat likuid terhadap hutang lancar

      b. Rasio kredit terhadap dana yang diterima oleh bank

      4.3.5.1 Rasio Alat Likuid terhadap Hutang Lancar (Cash Ratio)

                        Rasio ini digunakan untuk mengetahui prosentase kemampuan bank

               dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Adapun perhitungan rasio

               alat likuid terhadap hutang lancar adalah sebagai berikut:

               a. Untuk rasio 0% diberi nilai 0

               b. Untuk setiap kenaikan 0,05% nilai kredit ditambah 1 dengan maksimal 100.
                                                                                       88

                                       Tabel 4.13
               Rasio Alat Likuid terhadap Hutang Lancar Tahun 2004-2006

                                                          Dalam Ribuan Rupiah
                                                          Tahun
             Keterangan
                                         2004             2005             2006
                                       Alat Likuid
 Kas                                    31.834           145.928            168.064
 Antar Pasiva Bank                     1.361.554         877.010           2.748.822
 Jumlah                                1.393.388        1.022.938          2.916.866
                                                          Turun               Naik
 Naik/Turun Alat Likuid (%)                -
                                                         26,59%            185,15%
                                      Hutang lancar
 Kewajiban Segera                        7.757            13.227             11.422
 Tabungan                              2.333.596        2.536.193          3.112.352
 Deposito Berjangka                    3.492.950        4.874.000          6.941.000
 Jumlah                                5.834.303        7.423.420         10.064.774
                                                           Naik               Naik
  Naik/Turun Hutang Lancar (%)             -
                                                         27,24%             35,58%
 Rasio                                  23,88%           13,78%             28,98%
                                                          Turun               Naik
 Naik/Turun CR (%)                         -
                                                          10,1%              15,2%
 NK= Rasio : 0,05                         477              276                580
 NK Max                                   100              100                100
 Nilai Akhir = Bobot x NK                  5                 5                  5
 Indikator                               Sehat            Sehat              Sehat
                                               Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal

Perhitungan rasio alat likuid terhadap hutang lancar yaitu:

                          Alat Liquid
Cash Rasio           =                 × 100%
                         Hutang Lancar

                         1.393.388
Rasio (2004)         =             × 100% = 23,88%
                         5.834.303

                         1.022.938
Rasio (2005)         =             × 100% = 13,78%
                         7.423.420

                          2.916.866
Rasio (2006)         =              × 100% = 28,98%
                         10.064.774

Dari tabel 4.13 dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Tahun 2004 rasio yang dihasilkan sebesar 23,88%.             Hal ini berarti setiap

   Rp 1.000,00 hutang lancar pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dijamin
                                                                                89

   oleh alat likuid bank sebesar Rp 238,8. Berdasarkan SK DIR BI No.

   30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.6, maka Cash Ratio pada PD. BPR Bank Pasar

   Kabupaten Tegal dinilai sehat karena rasionya lebih dari 4,05% standar penilaian

   BI.

2. Tahun 2005 rasio yang dihasilkan sebesar 13,78%.         Hal ini berarti setiap

   Rp. 1.000,00 hutang lancar pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dijamin

   oleh alat likuid bank sebesar Rp 137,8. Berdasarkan SK DIR BI No.

   30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.6, maka Cash Ratio pada PD. BPR Bank Pasar

   Kabupaten Tegal dinilai sehat karena rasionya lebih dari 4,05% standar penilaian

   BI.

3. Tahun 2006 rasio yang dihasilkan sebesar 28,98%.         Hal ini berarti setiap

   Rp. 1.000,00 hutang lancar pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dijamin

   oleh alat likuid bank sebesar Rp 289,8. Berdasarkan SK DIR BI No.

   30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.6, maka Cash Ratio pada PD. BPR Bank Pasar

   Kabupaten Tegal dinilai sehat karena rasionya lebih dari 4,05% standar penilaian

   BI.

4.3.5.2 Rasio Kredit terhadap Dana yang Diterima oleh Bank (LDR)

                LDR adalah rasio antara seluruh jumlah kredit yang diberikan bank

         dengan dana yang diterima oleh bank. Rasio ini menyatakan seberapa jauh

         kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan

         deposan dengan mengendalikan kredit yang diberikan sebagai sumber

         likuiditasnya.
                                                                                       90

                  Adapun perhitungan kredit terhadap dana yang diterima oleh bank

         ditentukan sebagai berikut:

         a. Untuk rasio 115% diberi nilai 0

         b. Untuk setiap penurunan 1% mulai dari rasio 115% nilai kredit dikalikan

               4 dengan maksimal 100.

                                      Tabel 4.14
         Rasio Kredit yang Diberikan terhadap Dana yang Diterima oleh Bank
                                  Tahun 2004-2006
                                                              Dalam Ribuan Rupiah
                                                              Tahun
                Keterangan
                                                2004           2005          2006
                                   Kredit yang Diberikan
 Kredit yang Diberikan                        8.916.593      8.893.499      10.067.236
                                                           Turun           Naik
 Naik/Turun Kredit (%)                            -
                                                           0,26%           13,20%
                                    Dana yang Diterima
 Tabungan                                    2.333.596       2.536.193      3.112.352
 Deposito Berjangka                          3.492.950       4.874.000      6.941.000
 Pinjaman yang Diterima                           -         22.166.666      3.499.931
 Modal Inti                                  2.115.819       1.500.374      1.066.326
 Jumlah                                      7.942.365       8.932.734      11.123.178
                                                                Naik           Naik
 Naik/Turun Dana yang Diterima (%)                -
                                                              12,47%          24,52%
 Rasio LDR                                   112,67%          99,56%          90,51%
                                                               Naik            Turun
 Naik/Turun Rasio LDR (%)                         -
                                                              13,11%          9,05%
 NK = (115 - Rasio) x 4                        10,94             98             62
 NK Max                                         100             100             100
 Nilai Akhir = Bobot x NK                       0,55            4,9             3,1
 Indikator                                  Tidak Sehat    Kurang Sehat        Sehat
                                                Sumber: PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal


Perhitungan rasio kredit yang diberikan terhadap dana yang diterima oleh bank yaitu:

                          Kredit yang Diberikan
Rasio (LDR)         =                            × 100%
                         Dana yang Diterima Bank
                         8.916.593
Rasio (2004)        =              × 100% = 112,27%
                         7.942.365
                         8.932.734
Rasio (2005)        =              × 100% = 99,56%
                         8.893.499
                                                                              91


                       11.123.178
Rasio (2006)       =              × 100% = 90,51%
                       10.067.236

Dari tabel 4.14 dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Tahun 2004 rasio yang dihasilkan sebesar 112,27%. Hal ini berarti setiap

   Rp 1.000,00 dana yang diterima bank mampu untuk menyalurkan kembali pada

   masyarakat dalam bentuk kredit sebesar Rp 1122,7. Berdasarkan SK DIR BI No.

   30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.6, maka rasio LDR pada PD. BPR Bank Pasar

   Kabupaten Tegal dinilai tidak sehat karena rasionya lebih dari 94,75% standar

   penilaian BI.

2. Tahun 2005 rasio yang dihasilkan sebesar 99,56%. Hal ini berarti setiap

   Rp 1.000,00 dana yang diterima bank mampu untuk menyalurkan kembali pada

   masyarakat dalam bentuk kredit sebesar Rp 995,6. Berdasarkan SK DIR BI No.

   30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.6, maka rasio LDR pada PD. BPR Bank Pasar

   Kabupaten Tegal dinilai kurang sehat karena rasionya lebih dari 94,75% standar

   penilaian BI.

3. Tahun 2006 rasio yang dihasilkan sebesar 90,51%. Hal ini berarti setiap

   Rp 1.000,00 dana yang diterima bank mampu untuk menyalurkan kembali pada

   masyarakat dalam bentuk kredit sebesar Rp 905,1. Berdasarkan SK DIR BI No.

   30/12/KEP/DIR/97 pada tabel 2.6, maka rasio LDR pada PD. BPR Bank Pasar

   Kabupaten Tegal dinilai sehat karena rasionya lebih dari 94,75% standar

   penilaian BI.
                                                                                                     92


4.4 Hasil Penilaian Kuantitatif

              Setelah perhitungan kelima indikator tingkat kesehatan bank pada PD. BPR Bank

   Pasar Kabupaten Tegal, hasil perhitungan kelima indikator tersebut dikalikan dengan bobot

   masing-masing indikator, kemudian nilai kredit tersebut dapat dikurangi dengan nilai kredit

   yang berasal dari ketentuan tingkat kesehatan bank yang ditetapkan BI.

              Adapun penilaian secara keseluruhan selama tahun 2004-2006 adalah sebagai

   berikut:


                                            Tabel 4.15
       Kuantitatif Perhitungan Tingkat Kesehatan Bank pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten
                                         Tegal Tahun 2004

                                                                              Nilai
         Komponen              Rasio         NK      NK Max     Bobot                    Indikator
                                                                              Akhir
    PERMODALAN
    Rasio CAR                  14,11%        142         100     30%           30           Sehat
    KUALITAS AKTIVA
    PRODUKTIF
    1. Rasio KAP               10,36%         81         100     25%          20,25    Cukup Sehat
    2. Rasio PPAP               7,07%        7,07        100      5%           0,35    Tidak Sehat
    MANAJEMEN
    1. Manajemen Umum           23%          57,5        100     10%          5,75     Kurang Sehat
    2. Manajemen Resiko         31%          49,3        100     10%          4,93     Kurang Sehat
    RENTABILITAS
    1. ROA                      1,96%        130         100      5%            5           Sehat
    2. BOPO                    92,16%        98          100      5%           4,9          Sehat
    LIKUIDITAS
    1. Cash Ratio             23,88%          477        100      5%            5          Sehat
    2. LDR                    112,67%        10,94       100      5%          0,55      Tidak Sehat
    Total Nilai                                                              76,73     Cukup Sehat
                                                                      Sumber: Data Sekunder yang Diolah

              Dari tabel 4.15, maka dapat diketahui bahwa tingkat kesehatan bank pada PD. BPR

   Bank Pasar Kabupaten Tegal pada tahun 2004 memiliki bobot 76,73 yang berarti cukup sehat

   berdasarkan     kriteria   penggolongan     tingkat    kesehatan    pada    SK     DIR     BI     No.

   30/12/KEP/DIR/97 dalam tabel 2.1. Permodalan 14,11% (sehat) karena nilai PPAP yang

   cukup rendah sehingga mengakibatkan modal inti menjadi bertambah. ATMR cenderung
                                                                                       93

mengalami peningkatan yang tidak dapat diimbangi oleh modal inti yang dapat diperoleh

dengan cara menambah modal dari pemilik, cadangan dana operasional, cadangan likuid

kebutuhan kas jangka pendek dan cadangan kesejahteraan karyawan. Peningkatan ATMR

yang terjadi menyebabkan meningkat pula resiko yang terjadi pada aktiva yang dimiliki oleh

bank.

        Rasio KAP sebesar 10,36% (cukup sehat) artinya PD. BPR Bank Pasar Kabupaten

Tegal mampu untuk mengatasi resiko usaha yang terkandung pada komponen kredit yang

diberikan apabila nasabah debitur gagal mengembalikan sebagian atau seluruhnya kredit

yang diterima dari bank.. Rasio PPAP sebesar 7,07% (tidak sehat) artinya PD. BPR Bank

Pasar Kabupaten Tegal dalam penyediaan dana untuk PPAP masih terlalu kecil, apabila

terjadi kerugian akibat penanaman aktiva produktif maka bank tidak mampu untuk menutup

kerugian tersebut sehingga laba yang dihasilkan menjadi berkurang sebesar kerugian yang

belum tertutup oleh PPAP yang dibentuk oleh bank tersebut. Pada tahun ini PD. BPR Bank

Pasar Kabupaten Tegal belum melaksanakan ketentuan-ketentuan PPAPWD sesuai dengan

peraturan PBI No. 8/19/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006 yang ditetapkan BI.

        Manajemen sebesar 54% (kurang sehat) artinya PD. BPR Bank Pasar Kabupaten

Tegal yang dihasilkan kurang baik sehingga terjadi penurunan kinerja manajemen dalam

mengatur strategi dalam usaha pencapaian tujuan bank sehingga tidak dapat dioptimalkan

dan mengalami penurunan dalam pengaturan likuiditasnya yang berakibat pemberian kredit

dan pengawasan kegiatan operasional tidak sesuai dengan prosedur yang berlaku.

        ROA sebesar 1,96% (sehat) artinya biaya operasional pada PD. BPR Bank Pasar

Kabupaten Tegal dapat seimbang dengan pendapatan operasional yang diperoleh sehingga

bank memperoleh laba yang cukup besar. Rasio BOPO sebesar 92,16% (sehat) artinya
                                                                                                94

pendapatan operasional yang dihasilkan pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal lebih

besar daripada biaya operasional yang ditanggung oleh bank.

         Cash Ratio sebesar 23,88% (sehat) artinya PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal

memiliki kemampuan dalam mengelola asset yang digunakan untuk membayar kewajiban

yang harus dibayar pada waktunya. Rasio LDR sebesar 112,67% (tidak sehat) artinya dana

yang diterima oleh PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal mengalami penurunan, baik dari

tabungan, deposito berjangka, modal inti yang berarti kemampuan bank dalam menyalurkan

kreditnya menurun.


                                        Tabel 4.16
   Kuantitatif Perhitungan Tingkat Kesehatan Bank pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten
                                     Tegal Tahun 2005

                                                                         Nilai
      Komponen            Rasio         NK     NK Max      Bobot                    Indikator
                                                                         Akhir
 PERMODALAN
 Rasio CAR                15,72%        158         100     30%           30           Sehat
 KUALITAS AKTIVA
 PRODUKTIF
 1. Rasio KAP             12,13%      69            100     25%          17,25    Cukup Sehat
 2. Rasio PPAP             2,81%     2,81           100     5%           0,14     Tidak Sehat
 MANAJEMEN
 1. Manajemen Umum         27%       67,5           100     10%          6,75     Kurang Sehat
 2. Manajemen Resiko       33%       52,8           100     10%          5,28     Kurang Sehat
 RENTABILITAS
 1. ROA                   2,19%         146         100      5%            5           Sehat
 2. BOPO                  92,17%         98         100      5%           4,9          Sehat
 LIKUIDITAS
 1. Cash Ratio            13,78%        276         100      5%           5          Sehat
 2. LDR                   99,56%        62          100      5%          3,1      Kurang Sehat
 Total Nilai                                                            77,42     Cukup Sehat
                                                                 Sumber: Data Sekunder yang Diolah

         Dari tabel 4.16, maka dapat diketahui bahwa tingkat kesehatan bank pada PD. BPR

Bank Pasar Kabupaten Tegal pada tahun 2005 memiliki bobot 77,42 yang berarti cukup sehat

berdasarkan   kriteria   penggolongan     tingkat    kesehatan    pada    SK     DIR    BI     No.

30/12/KEP/DIR/97 dalam tabel 2.1. Permodalan sebesar 15,72% (sehat) mengalami
                                                                                      95

peningkatan sebesar 1,61% dibandingkan tahun 2004 karena nilai PPAP yang cukup rendah

sehingga mengakibatkan modal inti menjadi bertambah. ATMR cenderung mengalami

peningkatan yang tidak dapat diimbangi oleh modal inti yang dapat diperoleh dengan cara

menambah modal dari pemilik, cadangan dana operasional, cadangan likuid kebutuhan kas

jangka pendek dan cadangan kesejahteraan karyawan. Peningkatan ATMR yang terjadi

menyebabkan meningkat pula resiko yang terjadi pada aktiva yang dimiliki oleh bank.

         Rasio KAP sebesar 12,13% (cukup sehat) mengalami peningkatan sebesar 1,77%

dibandingkan tahun 2004 artinya PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal mampu untuk

mengatasi resiko usaha yang terkandung pada komponen kredit yang diberikan apabila

nasabah debitur gagal mengembalikan sebagian atau seluruhnya kredit yang diterima dari

bank. Rasio PPAP sebesar 2,81% (tidak sehat) mengalami penurunan sebesar 4,26%

dibandingkan tahun 2004 karena nilai PPAP turun sebesar Rp 31.919.067,99 artinya PD.

BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dalam penyediaan dana untuk PPAP masih terlalu kecil,

apabila terjadi kerugian akibat penanaman aktiva produktif maka bank tidak mampu untuk

menutup kerugian tersebut sehingga laba yang dihasilkan menjadi berkurang sebesar

kerugian yang belum tertutup oleh PPAP yang dibentuk oleh bank tersebut. Pada tahun ini

PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal belum melaksanakan ketentuan-ketentuan PPAPWD

sesuai dengan peraturan PBI No. 8/19/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006 yang ditetapkan BI.

         Manajemen sebesar 60% mengalami peningkatan sebesar 6% dibandingkan tahun

2004, tetapi masih dalam kondisi kurang sehat artinya PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal

yang dihasilkan kurang baik sehingga terjadi penurunan kinerja manajemen dalam mengatur

strategi dalam usaha pencapaian tujuan bank sehingga tidak dapat dioptimalkan dan
                                                                                     96

mengalami penurunan dalam pengaturan likuiditasnya yang berakibat pemberian kredit dan

pengawasan kegiatan operasional tidak sesuai dengan prosedur yang berlaku.

         ROA sebesar 2,19% (sehat) mengalami peningkatan sebesar 0,23% dibandingkan

tahun 2004 artinya biaya operasional pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dapat

seimbang dengan pendapatan operasional yang diperoleh sehingga bank memperoleh laba

yang cukup besar yang dipengaruhi oleh biaya yang ditanggung bank berkurang yaitu biaya

bunga, biaya administrasi dan umum, biaya personalia, dan biaya PPAP. Rasio BOPO

sebesar 92,17% (sehat) mengalami peningkatan sebesar 0.01% dibandingkan tahun 2004

artinya pendapatan operasional yang dihasilkan pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal

lebih besar daripada biaya operasional yang ditanggung oleh bank.

         Cash Ratio sebesar 13,78% (sehat) mengalami peningkatan sebesar 9,1%

diabndingkan tahun 2004 artinya PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal memiliki

kemampuan dalam mengelola asset yang digunakan untuk membayar kewajiban yang harus

dibayar pada waktunya. Rasio LDR sebesar 99,56% (kurang sehat) mengalami penurunan

sebesar 13,11% dibandingkan tahun 2004 artinya dana yang diterima oleh PD. BPR Bank

Pasar Kabupaten Tegal mengalami penurunan, baik dari tabungan, deposito berjangka, modal

inti yang berarti kemampuan bank dalam menyalurkan kreditnya menurun.
                                                                                              97



                                        Tabel 4.17
   Kuantitatif Perhitungan Tingkat Kesehatan Bank pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten
                                     Tegal Tahun 2006

                                                                     Nilai
      Komponen            Rasio      NK      NK Max      Bobot                   Indikator
                                                                     Akhir
 PERMODALAN
 Rasio CAR                18,66%     188          100     30%          30           Sehat
 KUALITAS AKTIVA
 PRODUKTIF
 1. Rasio KAP             13,19%      30          100     25%           5,5     Kurang Sehat
 2. Rasio PPAP             5,57%     5,57         100     5%           0,28     Tidak Sehat
 MANAJEMEN
 1. Manajemen Umum         29%       72,5         100     10%          7,25    Cukup Sehat
 2. Manajemen Resiko       41%       65,6         100     10%          6,57    Cukup Sehat
 RENTABILITAS
 1. ROA                   -1,76%     -117         100     5%            -5      Tidak Sehat
 2. BOPO                 124,73%     -297         100     5%            -5      Tidak Sehat
 LIKUIDITAS
 1. Cash Ratio            28,98%     580          100     5%           5           Sehat
 2. LDR                   90,51%     98           100     5%          4,9          Sehat
 Total Nilai                                                        49,5        Tidak Sehat
                                                               Sumber: Data Sekunder yang Diolah

         Dari tabel 4.17, maka dapat diketahui bahwa tingkat kesehatan bank pada PD. BPR

Bank Pasar Kabupaten Tegal pada tahun 2006 memiliki bobot 49,5 yang berarti tidak sehat

berdasarkan   kriteria   penggolongan   tingkat    kesehatan    pada     SK   DIR     BI     No.

30/12/KEP/DIR/97 dalam tabel 2.1. Permodalan sebesar 18,66% (sehat) mengalami

peningkatan sebesar 2,94% dibandingkan tahun 2005 karena nilai PPAP yang cukup rendah

sehingga mengakibatkan modal inti menjadi bertambah. ATMR cenderung mengalami

peningkatan yang tidak dapat diimbangi oleh modal inti yang dapat diperoleh dengan cara

menambah modal dari pemilik, cadangan dana operasional, cadangan likuid kebutuhan kas

jangka pendek dan cadangan kesejahteraan karyawan. Peningkatan ATMR yang terjadi

menyebabkan meningkat pula resiko yang terjadi pada aktiva yang dimiliki oleh bank.

         Rasio KAP sebesar 13,19% (kurang sehat) mengalami peningkatan sebesar 1,06%

dibandingkan tahun 2005 artinya PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal kurang mampu
                                                                                          98

untuk mengatasi resiko usaha yang terkandung pada komponen kredit yang diberikan apabila

nasabah debitur gagal mengembalikan sebagian atau seluruhnya kredit yang diterima dari

bank. Hal ini berarti komposisi aktiva produktif dikalsifikasikan perlu ditekan dan

penggunaan aktiva produktif diperketat, karena akan mempengaruhi tingkat Net Perfoming

Loan (NPL). Dengan kata lain, meningkatnya rasio NPL maka aktiva produktif bank tersebut

tidak dikelola secara efektif dan efisien. Oleh karena itu, perlu dilakukan penyaluran kredit

secara selektif untuk menekan besarnya komposisi aktiva produktif diklasifikasikan.

         Rasio PPAP sebesar 5,57% mengalami peningkatan sebesar 2,76% dibandingkan

tahun 2005, walaupun nilai PPAP naik menjadi Rp 58.063.353,00 kondisinya masih tidak

sehat artinya PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal dalam penyediaan dana untuk PPAP

masih terlalu kecil sehingga kerugian akibat penanaman aktiva produktif dan bank tidak

mampu untuk menutup kerugian tersebut sehingga laba yang dihasilkan menjadi berkurang

sebesar kerugian yang belum tertutup oleh PPAP yang dibentuk pada tahun sebelumnya.

Untuk mengatasi hal ini bank harus melakukan analisis kredit lebih ketat dalam artian bahwa

kredit hanya diberikan pada orang yang benar-benar memegang teguh janjinya untuk

melakukan kewajiban membayar kembali dana berikut bunganya, serta meningkatkan mutu

SDM dengan memberikan biaya pendidikan untuk karyawan dan mengikutsertakan

karyawan dalam seminar-seminar pengelolaan kredit. Pada tahun ini PD. BPR Bank Pasar

Kabupaten Tegal sudah melaksanakan ketentuan-ketentuan PPAPWD sesuai dengan

peraturan PBI No. 8/19/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006 yang ditetapkan BI sehingga bank

mengalami kerugian secara administratif.

         Manajemen sebesar 70% mengalami peningkatan sebesar 10% dibandingkan tahun

2005, sehingga kondisinya menjadi cukup sehat artinya kinerja manajemen pada PD. BPR
                                                                                          99

Bank Pasar Kabupaten Tegal mengalami peningkatan dalam mengatur strategi dalam usaha

pencapaian tujuan bank sehingga tidak dapat di optimalkan dan mengalami peningkatan

dalam pengaturan likuiditasnya yang berakibat pemberian kredit dan pengawasan kegiatan

operasional telah sesuai dengan prosedur yang berlaku. Kepercayaan nasabah terhadap bank

untuk menyimpan dan meminjam uang ataupun pemanfaatan jasa lainnya sangat ditentukan

oleh kinerja bank tersebut. Hal itu dapat diartikan bahwa etos kerja sangat berpengaruh untuk

meciptakan karakteristik suatu bank dan sebagai sarana untuk mencapai tujuan.

         ROA sebesar -1,76% (tidak sehat) mengalami penurunan sebesar 3,95%

dibandingkan tahun 2005 artinya biaya operasional pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten

Tegal lebih besar dari pendapatan operasional yang diperoleh sehingga bank mengalami rugi

yang cukup besar yang dipengaruhi oleh biaya yang ditanggung bank bertambah yaitu biaya

bunga, biaya administrasi dan umum, biaya personalia, dan biaya PPAP. Untuk

meningkatkan kondisi kesehatannya bank dapat melakukan penekanan pada biaya

operasionalnya. Rasio BOPO sebesar 124,73% (tidak sehat) mengalami peningkatan sebesar

32,56% dibandingkan tahun 2005 artinya pendapatan operasional yang dihasilkan PD. BPR

Bank Pasar Kabupaten Tegal lebih kecil daripada biaya operasional yang ditanggung oleh

bank karena terjadi pembengkakan biaya operasional pada beban PPAP yang ditanggung

bank cukup besar dan biaya bunga yang ditanggung bank dari pinjaman pihak ketiga

sehingga menyebabkan kondisi bank menjadi tidak sehat.

         Cash Ratio sebesar 28,98% (sehat) mengalami peningkatan sebesar 15,2%

diabndingkan tahun 2005 artinya PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal memiliki

kemampuan dalam mengelola asset yang digunakan untuk membayar kewajiban yang harus

dibayar pada waktunya. Rasio LDR sebesar 90,51% (sehat) mengalami penurunan sebesar
                                                                                    100

9,05% dibandingkan tahun 2005 artinya dana yang diterima oleh PD. BPR Bank Pasar

Kabupaten Tegal mengalami kenaikan, baik dari tabungan, deposito berjangka, modal inti

yang berarti kemampuan bank dalam menyalurkan kreditnya meningkat. Kondisi yang baik

ini harus dipertahankan, salah satunya dengan cara bank membentuk tim independen yang

bertugas mengawasi pemberian kredit dan meningkatkan pelayanan terhadap nasabah agar

dapat mempercayakan pengelolaan dananya pada bank.

        Berdasarkan hasil penilaian kuantitatif, maka perkembangan tingkat kesehatan PD.

BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal Tahun 2004-2006 dapat dilihat pada grafik 4.1:


                 100
                 90
                 80
                 70
                 60
         Nilai




                 50
                 40
                 30
                 20
                 10
                  0
                          2004             2005             2006
                                          Tahun

                       Grafik 4.1 Perkembangan Tingkat Kesehatan BPR



        Pada grafik 4.1 dapat dilihat bahwa tingkat kesehatan bank pada PD. BPR Bank

Pasar Kabupaten Tegal pada tahun 2004 memiliki bobot nilai sebesar 76,73 yang berarti

cukup sehat berdasarkan kriteria penggolongan tingkat kesehatan pada SK DIR BI No.

30/12/KEP/DIR/97 dalam tabel 2.1. Hal ini berarti kinerja pada PD. BPR Bank Pasar

Kabupaten Tegal sudah cukup baik dan kegiatan operasional bank telah sesuai dengan

prosedur yang berlaku.
                                                                                       101

         Tingkat kesehatan bank pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal pada tahun

2005 mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2004 dengan bobot nilai sebesar

77,73 tetapi bank masih dalam kondisi cukup sehat berdasarkan kriteria penggolongan

tingkat kesehatan pada SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97 dalam tabel 2.1. Hal ini berarti

kinerja pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal sudah cukup baik dengan adanya

peningkatan pada faktor likuiditas sehingga bank memiliki kemampuan dalam mengelola

asset yang digunakan untuk membayar kewajiban yang harus dibayar pada waktunya dan

kegiatan operasional bank telah sesuai dengan prosedur yang berlaku.

         Namun, tingkat kesehatan bank pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal pada

tahun 2006 mengalami penurunan yang cukup besar dibandingkan dengan tahun 2005

dengan bobot nilai sebesar 49,5 yang berarti dalam kondisi tidak sehat berdasarkan kriteria

penggolongan tingkat kesehatan pada SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR/97 dalam tabel 2.1.

Hal ini berarti kinerja pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal tidak baik dengan adanya

penurunan pada faktor kualitas aktiva produktif karena bank tidak mampu mengatasi resiko

usaha yang terkandung pada komponen kredit yang diberikan apabila nasabah debitur gagal

mengembalikan sebagian atau seluruhnya kredit yang diterima dari bank. Kondisi bank

bertambah buruk dengan adanya penurunan faktor rentabilitas sehingga bank mengalami

kerugian sebesar Rp 805.481.778,00 karena biaya yang ditanggung bank cukup besar yaitu

biaya bunga, biaya administrasi dan umum, biaya personalia, dan biaya PPAP.

         PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal merupakan lembaga perbankan milik

Pemerintah Daerah yang kegiatan usahanya melaksanakan dan memperluas pemberian

pinjaman bagi pedagang, pengusaha golongan ekonomi lemah yang produktif dan pegawai

negeri maupun pegawai swasta serta para bakul di pasar-pasar dan di desa-desa. Dengan
                                                                                      102

adanya pemberian pinjaman kredit tersebut diharapkan masyarakat ekonomi menengah dapat

memanfaatkanya untuk mendapatkan kredit guna menjalankan usahanya sehingga taraf hidup

masyarakat dapat meningkat.

         Oleh karena itu, PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal mempunyai loket-loket

sebanyak 22 buah loket yang lokasinya menyebar di seluruh wilayah Kabupaten Tegal untuk

melayani para bakul/pedagang di pasar-pasar dan di desa sekitarnya dalam membayar

kembali dana yang telah dipinjam ke bank. Akan tetapi, loket-loket tersebut sebagian besar

sudah tidak digunakan lagi (ditutup) karena banyak nasabah yang tidak membayar

kewajibannya yang menyebabkan kredit macet. Usaha yang dapat dilakukan PD. BPR Bank

Pasar Kabupaten Tegal untuk memperbaiki tingkat kesehatannya adalah dengan menjual

asset-asset yang tidak produktif seperti loket-loket yang sudah ditutup untuk menambah

modal bank.
                                                                                        103


                                         BAB V

                                       PENUTUP



5.1 Simpulan

           Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut :

   1. Tingkat kesehatan PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal tahun 2004-2006 untuk

      masing-masing komponen yaitu:

      a. Permodalan

                Permodalan pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal tahun 2004-2006

         termasuk dalam kriteria sehat artinya bank mampu untuk mempertahankan

         pengelolaan terhadap modal sendiri dan aktiva-aktiva yang mengandung resiko, serta

         mampu untuk menutup kerugian atas kredit yang diberikan.

      b. Kualitas Aktiva Produktif

                KAP pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal menunjukkan adanya

         penurunan pada tahun 2006 dengan kriteria tidak sehat karena adanya penyaluran

         kredit yang cukup tinggi, kemudian menyebabkan naiknya cadangan yang wajib

         dibentuk oleh bank akibat dari beberapa pengembalian kredit yang kurang lancar,

         diragukan dan macet.

      c. Manajemen

                Manajemen pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal menunjukkan adanya

         peningkatan pada tahun 2006 dengan kriteria cukup sehat dibandingkan tahun

         sebelumnya karena kinerja manajemen pada bank mengalami peningkatan dalam

         mengatur strategi dalam usaha pencapaian tujuan bank sehingga dapat dioptimalkan

                                            102
                                                                                     104

        dan mengalami peningkatan dalam pengaturan likuiditasnya yang berakibat

        pemberian kredit dan pengawasan kegiatan operasional telah sesuai dengan prosedur

        yang berlaku.

   d.   Rentabilitas

               ROA pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal mengalami penurunan pada

        tahun 2006 dengan kriteria tidak sehat karena biaya operasional yang ditanggung

        bank tidak seimbang dengan pendapatan operasional yang diperoleh sehingga bank

        mengalami kerugian. BOPO juga mengalami penurunan karena pendapatan

        operasional yang dihasilkan bank lebih kecil daripada biaya operasional yang

        ditanggung oleh bank dan terjadi pembengkakan biaya operasional pada beban PPAP

        yang ditanggung bank cukup besar.

   e. Likuiditas

               Cash Ratio pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal tahun 2004-2006

        termasuk dalam kriteria sehat berarti bank memiliki kemampuan dalam mengelola

        asset yang digunakan untuk membayar kewajiban yang harus dibayar pada waktunya.

        Rasio LDR pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal mengalami kecenderungan

        penigkatan yang signifikan selama tahun 2004-2006 sehingga dana yang diterima

        oleh bank mengalami kenaikan baik dari tabungan, deposito berjangka, modal inti

        yang berarti kemampuan bank dalam menyalurkan kreditnya meningkat.

2. Perkembangan tingkat kesehatan pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal tahun

   2004-2006 untuk komponen Capital, Management, Liquidity cenderung mengalami

   peningkatan yang cukup signifikan. Untuk komponen Asset Quality dan Earning
                                                                                              105

      mengalami peningkatan pada tahun 2004-2005, tetapi pada tahun 2006 mengalami

      penurunan karena bank rugi.



5.2 Saran

            Berdasarkan simpulan di atas saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

   1. PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal segera menjual asset-asset yang tidak produktif

      untuk menutup kerugian.

   2. Dalam pemberian kredit kepada nasabah, PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Tegal harus

      lebih ketat dalam artian bahwa kredit hanya diberikan pada nasabah yang benar-benar

      memegang teguh janjinya untuk melakukan kewajiban membayar kembali dana berikut

      bunganya.
                                                                                       106


                                   DAFTAR PUSTAKA



Bank Indonesia, 1993.SE BI No.26/2/BPPP/93 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum
       Bank bagi BPR.

             , 1994. SK DIR BI No. 26/167/KEP/DIR tentang Kualitas Aktiva Produktif dan
       Pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif.

              , 1997. SK DIR BI No. 30/12/KEP/97 dan SE BI No.30/3/UPPB/97 tentang
       Tata Cara Penilaian Kesehatan BPR

              , 2004. SE BI No. 6/23/DPNP tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank
       Umum

              , 2004. Peraturan BI No. 6/22/PBI/2004 tentang Bank Perkreditan Rakyat

                , 2006. Statistik Perbankan Indonesia. Jakarta

Arikunto, Suharsimi,1997. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Rineke Cipta :
       Jakarta.

Kasmir, 2004. Manajemen Perbankan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Kasmir, 2003. Dasar-dasar Perbankan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Tri Santoso, Rudy. 1997. Mengenal Dunia Perbankan. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta.

Susilo, Y. Sri, dkk. 2000. Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Jakarta: Salemba Empat.

Munawir, Drs. S. 2002. Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty.

Gandapradja, Permadi. 2004. Dasar dan Prinsip Pengawasan Pengawasan Bank. Jakarta: PT
      Gramedia Pustaka Utama     .

Taswan, S.E., M.Si. 2006. Manajemen Perbannkan. Yogyakarta: UPP STIM YKPN Yogyakarta.

Djumhana, Muhammad. 1996. Hukum Perbankan di Indonesia. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.

Djinarto, Bambang. 2000. Banking Asset Liability Manajemen: Perencanaan, Strategi,
       Pengawasan, dan Pengelolaan Dana. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Handayani, Sri. 2004. Analisis Tingkat Kesehatan pada PD. BPR-BKK di Kabupaten Tegal.
      Skripsi. Semarang FIS UNNES.

Kurniawan, M. Yusuf. 2006. Analisis Capital, Asset Quality, Management, Earning and
      Liquidity sebagai Alat Penilaian Tingkat Kesehatan Bank pada Perusda BPR Bank Pasar
      Kabupaten Kendal. Skripsi. Semarang FIS UNNES.


                                               105

						
Related docs