Docstoc

efek rumah kaca

Document Sample
efek rumah kaca Powered By Docstoc
					    MAKALAH
GREENHOUSE EFFECT




         Oleh :

    RISKY SANTRIA M

        29 / XI S4




SMA NEGERI 1 PACITAN

         2010
                               PEMBAHASAN




A. Pengertian Efek Rumah Kaca

          Efek Rumah kaca dapat divisualisasikan sebagai sebuah proses. Pada
   kenyataanya, di lapisan atmosfer terdapat selimut gas. Rumah kaca adalah
   analogi atas bumi yang dikelilingi gelas kaca. Nah, panas matahari masuk ke
   bumi dengan menembus gelas kaca tersebut berupa radiasi gelombang pendek.
   Sebagian diserap oleh bumi dan sisanya dipantulkan kembali ke angkasa
   sebagai radiasi gelombang panjang. Namun, panas yang seharusnya dapat
   dipantulkan kembali ke angkasa menyentuh permukaan gelas kaca dan
   terperangkap di dalam bumi. Layaknya proses dalam rumah kaca di pertanian
   dan perkebunan, gelas kaca memang berfungsi menahan panas untuk
   menghangatkan rumah kaca.
       Masalah timbul ketika aktivitas manusia menyebabkan peningkatan
konsentrasi selimut gas di atmosfer (Gas Rumah KAca) sehingga melebihi
konsentrasi yang seharusnya. Maka, panas matahari yang tidak dapat
dipantulkan ke angkasa akan meningkat pula. Semua proses itulah yang
disebut Efek Rumah Kaca. Pemanasan global dan perubahan iklim merupakan
dampak dari efek rumah kaca.Efek rumah kaca, pertama kali ditemukan oleh
Joseph Fourier pada 1824, merupakan sebuah proses di mana atmosfer
memanaskan sebuah planet. Mars, Venus, dan benda langit beratmosfer
lainnya (seperti satelit alami Saturnus, Titan) memiliki efek rumah kaca.

       Efek rumah kaca dapat digunakan untuk menunjuk dua hal berbeda:
efek rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca
ditingkatkan yang terjadi akibat aktivitas manusia (lihat juga pemanasan
global). Yang belakangan ini diterima oleh semua; yang pertama diterima
kebanyakan oleh ilmuwan, meskipun ada beberapa perbedaan pendapat.

       Ketika radiasi matahari tampak maupun tidak tampak dipancarkan ke
bumi, 10 energi radiasi matahari itu diserap oleh berbagai gas yang ada di
atmosfer, 34% dipantulkan oleh awan dan permukaan bumi, 42% membuat
bumi menjadi panas, 23% menguapkan air, dan hanya 0,023% dimanfaatkan
tanaman untuk perfotosintesis.
          Malam hari permukaan bumi memantulkan energi dari matahari yang
  tidak diubah menjadi bentuk energi lain seperti diubah menjadi karbohidrat
  oleh tanaman dalam bentuk radiasi inframerah. Tetapi tidak semua radiasi
  panas inframerah dari permukaan bumi tertahan oleh gas-gas yang ada di
  atmosfer. Gas-gas yang ada di atmosfer menyerap energi panas pantulan dari
  bumi.

          Dalam skala yang lebih kecil – hal yang sama juga terjadi di dalam
  rumah kaca. Radiasi sinar matahari menembus kaca, lalu masuk ke dalam
  rumah kaca. Pantulan dari benda dan permukaan di dalam rumah kaca adalah
  berupa sinar inframerah dan tertahan atap kaca yang mengakibatkan udara di
  dalam rumah kaca menjadi hangat walaupun udara di luar dingin. Efek
  memanaskan itulah yang disebut efek rumah kaca atau ”green house effect”.
  Gas-gas yang berfungsi bagaikan pada rumah kaca disebut gas rumah kaca
  atau ”green house gases”.

B. Pengaruh Rumah Kaca

          Pengaruh rumah kaca terbentuk dari interaksi antara atmosfer yang
  jumlahnya meningkat dengan radiasi solar. Meskipun sinar matahari terdiri
  atas bermacam-macam panjang gelombang, kebanyakan radiasi yang
  mencapai permukaan bumi terletak pada kisaran sinar tampak. Hal ini
  disebabkan ozon yang terdapat secara normal di atmosfer bagian atas,
  menyaring sebagian besar sinar ultraviolet. Uap air atmosfer dan gas metana
  dari pembusukan – mengabsorpsikan sebagian besar inframerah yang dapat
  dirasakan pada kulit kita sebagai panas. Kira-kira sepertiga dari sinar yang
  mencapai permukaan bumi akan direfleksikan kembali ke atmosfer.
          Sebagian besar sisanya akan diabsorpsikan oleh benda-benda lainnya.
  Sinar yang diabsorpsikan tersebut akan diradiasikan kembali dalam bentuk
  radiasi inframerah dengan gelombang panjang atau panas jika bumi menjadi
  dingin. Sinar dengan panjang gelombang lebih tinggi tersebut akan
  diabsorpsikan oleh karbon dioksida atmosfer dan membebaskan panas
sehingga suhu atmosfer akan meningkat. Karbon dioksida berfungsi sebagai
filter satu arah, tetapi menghambat sinar dengan panjang gelombang lebih
untuk melaluinya dari arah yang berlawanan. Aktivitas filter dari karbon
dioksida mengakibatkan suhu atmosfer dan bumi akan meningkat. Keadaan
inilah yang disebut pengaruh rumah kaca.
       Pengaruh karbon dioksida yang dihasilkan dari pencemaran udara
berbentuk gas yang salah satunya adalah dari rumah kaca. Karbon dioksida
mempunyai sifat menyerap sinar (panas) matahari yaitu sinar inframerah –
sehingga temperatur udara menjadi lebih tinggi karenanya. Apabila kadar
yang lebih ini merata di seluruh permukaan bumi, temperatur udara rata-rata
di seluruh permukaan bumi akan sedikit naik, dan ini dapat mengakibatkan
meleburnya es dan salju di kutub dan di puncak-puncak pegunungan, sehingga
permukaan air laut naik.
       Iklim dan cuaca merupakan faktor penentu utama bagi pertumbuhan
dan produktifitas tanaman pangan. Sistem produksi pertanian dunia saat ini
mendasarkan pada kebutuhan akan tanaman setahun, kecuali beberapa
tanaman seperti pisang, kelapa, buah-buahan, anggur, kacang-kacangan,
beberapa sayuran seperti asparagus, rhubarb, dan lain-lain. Tanaman-tanaman
tersebut dikembangbiakan dalam kondisi pertanaman tertentu.
       Produktifitas pertanian berubah-ubah secara nyata dari tahun ke tahun.
Perubahan drastis cuaca, lebih berpengaruh terhadap pertanian dibanding
perubahan rata-rata. Tanaman dan ternak sangat peka terhadap perubahan
cuaca yang sifatnya sementara dan drastis. Perbedaan cuaca antar tahun lebih
berpengaruh dibanding dengan perubahan iklim yang diproyeksikan. Dan tak
terdapat bukti bahwa perubahan iklim akan mempengaruhi perubahan cuaca
tahunan.
       Petani selalu berhadapan dengan perubahan iklim. Besaran perbedaan
antar tahun telah melampaui prakiraan perubahan iklim. Fluktuasi iklim
tahunan, dalam beberapa urutan besaran lebih tinggi dibanding dengan besar
prediksi perubahan pelan-pelan iklim yang diajukan para ahli ekologi. Hal ini
digambarkan pada Musim panas daerah pertanian Jagung Amerika serikat,
antara tahun 1988 (kering dan panas) dan 1992 (basah dan dingin). Suhu
selama Juli dan Agustus berbeda 80F dalam dua tahun dibeberapa negara
bagian. Hal paling kritis yang belum diketahui adalah pola frekuensi kemarau.
Kemarau terjadi dibeberapa tempat didunia setiap tahun. Kemarau tahunan
juga lumrah terjadi di area pertanian India, China, Rusia dan beberapa negara
Afrika.
          Variabel menonjol yang diperkirakan akan sangat berpengaruh
terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman pangan akibat terjadinya
peningkatan kadar CO2 adalah bumi yang memanas. Berdasarkan pengamatan
obyektif di lapangan, diperkirakan akan lebih rendah dibanding permodelan
iklim yang lemah dan kasar menggunakan komputer. Berdasarkan permodelan
komputer, muka bumi rata-rata akan memanas sebesar 1,5-4,5OC jika kadar
CO2 meningkat duakali. Secara keseluruhan iklim akan memanas 3 kali
1,5OC pada akhir abad nanti, dan pemanasaan terbesar terjadi dikutub, dan
lebih rendah dikhatulistiwa.
          Kedua, kenaikan suhu dapat diperkirakan dan akan berpengaruh
terhadap pola hujan. Untuk kebanyakan tanaman pangan dan serat dan
beberapa spesies lain perubahan dalam ketersediaan air memiliki akibat yang
lebih besar dibanding kenaikan suhu. Permodelan iklim secara regional telah
dimodelkan dalam tingkat yang lebih kurang meyakinkan dibanding model
untuk iklim global.
          Perubahan yang diperkirakan, jika terjadi dalam pola hujan dan suhu
dengan kadar CO2 yang tinggi akan menguntungkan produksi tanaman
pangan beririgasi. Pertambahan areal pertanian beririgasi di Amerika terjadi di
delta misisipi dan dataran utara. Hal serupa terjadi di India, China dan Rusia
bagian selatan. Di USA, area tanam jagung dan gandum musim dingin akan
bergeser ke utara dan akan digantikan sorgum dan padi-padian.
          Ketiga, pemanasan global mempengaruhi variabel yang berpengaruh
terhadap produktifitas pertanian. Hal ini akan sangat penting bagi pertanian
yang terkait zona suhu, baik bagi pertambahan maupun intensitas masa tanam
atau satuan tingkat pertumbuhan. Perhatian petani akan tertuju pada perbedaan
musiman dan antar tahun pada curah hujan, salju, lama musim tanam, dan
beda suhu dalam hari-hari yang berpengaruh pada tahap pertumbuhan.
Stabilitas dan keandalan produksi adalah sama pentingnya dengan besaran
jumlah produksi itu sendiri.
       Keprihatinan akan perubahan iklim dimasa depan dan perubahan yang
lebih besar lagi akan diimbangi dengan penelitian mengenai manfaat
peningkatan CO2 bagi fotosintesis dan berkurangnya kebutuhan tanaman akan
air, dan tetap meningkatnya hasil. Selama 70 tahuan, perubahan cuaca,
mencerminkan bahwa hasil tanam di USA, Rusia, India, China, Argentina,
Canada dan Australia, memungkinkan negara dengan cuaca baik dapat
menjaga keamanan pangan negara dari cuaca yang buruk. Kekeringan secara
menyeluruh di dunia hampir tak pernah terjadi saat ini.
       Walau ada kepastian bahwa pertanian dunia dapat mengantisipasi
perubahan iklim, perubahan itu akan menambah masalah yang harus ditangani
dalam dasa warsa kedepan. Masalah lain adalah Kelangkaan air dan kualitas
air, tanah yang menjadi gersang, pengadaan energi dari bahan bakar fosil serta
kelangsungan praktek pertanian yang sekarang ada. Beberapa praktek yang
membahayakan kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan harus diubah
bersamaan dengan tingkat produksi yang aman dan dapat diandalkan juga
harus terus ditingkatkan. Prakiraan terjadinya perubahan iklim membuat
penelitian pertanian yang komprehensif menjadi sangat penting dalam
menghadapi perubahan itu secara efektif.
       Penelitian mengenai perubahan iklim, akan melengkapi usaha
peningkatan   produktivitas    tanaman,    yang   dipengaruhi   oleh   tekanan
lingkungan, yang kini tengah dilakukan melalui rekayasa genetik, perlakuan
kimiawi dan pola pengolahan. Ini akan memberi dua manfaat sekaligus, baik
sebagai pelindung mengahadapi perubahan jangka pendek lingkungan, seperti
kemarau dan juga membantu menghadapi perubahan iklim dalam jangka
panjang, dan untuk mengkapitalisasi sumberdaya hayati bagi peningkatan
produksi.
       Pandangan yang berbeda mengenai pemanasan global yang memiliki
bobot ilmiah yang baik muncul, mendukung penelitian yang telah dilakukan
sebelumnya, sekarang telah disimpulkan oleh beberapa ilmuwan bahwa model
prakiraan iklim yang dibuat merupakan penyederhanaan yang sangat
simplistis dari proses atmosfir dan lautan yang sangat kompleks. Dan tak
dapat dibuktikan bahwa pengeluaran gas rumah kaca akan berpengaruh
signifikan terhadap iklim dunia, sebab-sebab pemanasan global juga lebih
tidak dapat lagi dipastikan.
       Penelitian mengenai manfaat pengayaan CO2 dimulai abad lalu. Awal
1888, manfaat pemupukan dengan CO2 telah dilakukan pada tanaman di
dalam rumah kaca di Jerman, dan beberapa tahun kemudian di Inggris, serta
80 tahun yang lalu di USA. Hasil yang menguntungkan pertama kali
dilaporkan terjadi pada tanaman pangan seperti letuce, tomat, mentimun, dan
kemudian bunga dan tanaman hias.
       Banyak catatan dan pernyataan yang disusun mengenai pertumbuhan
tanaman yang berada dalam lingkungan yang dikontrol dan diberi pengayaan
CO2. Wittwer dan Robb membuat catatan menyeluruh mengenai data-data
sebelumnya dan ditambah hasil penelitiannya sendiri bahwa tanaman tomat
mencapai usia dewasa dan hasil produksi yang menguntungkan dalam rumah
kaca yang diperkaya CO2. Sementara Strain dan Cure menyusun Bibliographi
literature mengenai pengayaan CO2 dan efeknya terhadap lingkungan dan
tanaman yang lengkap. Kimball dkk. pada tahun 1983, 1985 dan 1996
mengumpulkan 770 penelitian mengenai hasil tanaman dalam rumah kaca
dengan pengayaan CO2, dan terbukti hasil tanaman tersebut meningkat 32%.
       Hanya sedikit keraguan bahwa kadar CO2 dalam atmosfir adalah
kurang optimal bagi fototosintesis ketika faktor lain yang berpengaruh
terhadap tanaman (cahaya, air, suhu dan unsur hara) mencukupi. Fotosintesa
Netto adalah jumlah fotosintesa brutto minus fotorespirasi, dan fotorespirasi
setidaknya memiliki besaran mengubah 50% karbohidrat hasil fotosintesa
kembali menjadi CO2, dengan peningkatan CO2 fotorespirasi diperkirakan
akan menurun. Peningkatan Biomassa terbukti terjadi ketika dilakukan
pengayaan CO2. Ini tak selalu muncul dari fotosintesa netto. Kadar CO2 yang
tinggi memicu penggunaan air yang efisian dalam tanaman C4 seperti jagung.
Peningkatan efisiensi air ini merangsang pertumbuhan tanaman.
       Dampak langsung yang dapat dijejaki dari peningkatan CO2 adalah
peningkatan tingkat fotosintesa daun dan kanopi. Peningkatan fotosintesis
akan meningkat sampai kadar CO2 mendekati 1000 ppm. Hasil paling pasti
adalah tanaman tumbuh cepat dan lebih besar. Ada perbedaan antara spesies.
Spesies C3 lebih peka terhadap peningkatan kadar CO2 dibanding C4. Terjadi
juga pertambahan luas dan tebal daun, berat per luas, tinggi tunas,
percabangan, bibit dan jumlah dan berat buah. Ukuran Tubuh meningkat
seiring rasio akar-batang. Rasio C:N bertambah. Lebih dari itu semua hasil
panen meningkat. Terutama pada Kentang, Ubi Jalar, Kedelai. Dengan
meningkatnya kadar CO2 menjadi dua kali sekarang secara global, hasil
pertanian diperkirakan akan meningkat sampai 32% dari sekarang. Perkiraan
sementara saat ini sekitar 5%-10% dari kenaikan produksi pertanian adalah
akibat kenaikan kadar CO2. Manfaat pengayaan CO2 terhadap pertumbuhan
dan produktifitas tanaman saat ini telah dikenal telah dikenal luas. Banyak
pengujian yang dilakukan dalam lingkungan terkontrol secara penuh atau
sebagian, terhadap beberapa tanaman komersial (padi, Jagung, gandum,
kedelai, kapas, kentang, tomat, ubi jalar, dan beberapa tanaman hutan), yang
membuktikannya.
       Kebutuhan utama tanaman yang lainnya adalah air, baik secara
kualitas maupun kuantitas. Air kini telah menjadi permasalahan penting bagi
lima negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia (China, India, USA,
Sovyet, Indonesia). Juga tentu dinegara-negara temur tengah, afrika utara dan
sub sahara. Satu faktor penting yang berpengaruh terhadap produksi tanaman
namun masih merupakan misteri adalah pola musim kering yang terjadi.
Kekeringan adalah hal yang paling ditakuti oleh para petani diberbagai negara
produsen pangan. Kebutuhan akan air menjadi semakin penting dan kritis, di
USA, 80–85 % konsumsi air bersih adalah untuk pertanian. Sepertiga
persediaan tanaman pangan sekarang tumbuh padi 18% lahan beririgasi.
          Aspek penting dari peningkatan kadar CO2 dalam atmosfir adalah
kecenderungan tanaman untuk menutup sebagian dari stomata pada daunnya.
Dengan tertutupnya stomata ini penguapan air akan menjadi perkurang, dan
dengan itu berarti efisiensi penggunaan air meningkat. Kekurangan air adalah
faktor pembatas utama dari produktifitas tanaman. Bukti yang selama ini
dikumpulkan menunjukan bahwa peningkatan CO2 di atmosfir meningkatkan
efisiensi penggunaan air. Hal ini adalah penemuan yang penting bagi bidang
pertanian dan juga bagi ekologi. Implikasi dari hal itu bermacam-macam,
salah satunya adalah peningkatan daya tahan terhadap kekeringan dan
berkurangnya kebutuhan air untuk pertanian.
          Efek langsung dari kadar CO2 dalam atmosfir terhadap fotosintesis
tanaman C4 adalah meningkatkan efisiensi air dalam fotosintesa. Dan pada
tanaman C4 dan C3 mengurangi membukanya stomata, hal ini ditunjukan oleh
Roger et al. pada tanaman kedelai. Tanaman dengan cara fotosintesa C3
mendapat keuntungan dengan 3 cara. Pertama meluasnya ukuran daun, kedua
peningkatan tingkat fotosintesis perunit luas daun, dan terakhir efisiensi
penggunaan air.
          Perubahan yang telah diperkirakan mengenai penguapan dan suhu
akibat     efek   rumah    kaca   dan   pemanasan     global    sepertinya   akan
menguntungkan lahan pertanian beririgasi. Di USA, luas areal pertanian
beririgasi akan meluas sampai dataran utara dan delta Missisipi, hal ini juga
berlaku untuk Cina, India dan negara lain. Dimana lingkungan lebih lembab
dan      diperuntukkan    untuk   tanaman   biji-bijian   dan   kacang-kacangan.
Kecenderungan ini telah terjadi di USA, China, dan India. Jagung dan
Gandum kini bergeser mendekati daerah yang dingin dan lebih lembab.
Produksi Sorgum dan padi-padian akan menggeser posisi areal gandum dan
jagung tersebut. Diharapkan juga, dimasa mendatang model dari atmosfir dan
iklim akan lebih berkembang dan melengakapi dari apa yang sekarang telah
dikembangkan, sehingga sensitivitas tanaman terhadap perubahan iklim lebih
dapat diketahui.
       Banyak tanaman pangan mampu beradaptasi terhadap perubahan
iklim. Di bumi padi, ubikayu, ubijalar dan jagung dapat tumbuh dimana saja
kelembaban dan suhu sesuai. Jagung mampu tumbuh di areal yang beraneka
ragam kelembaban, suhu, dan ketinggian dibumi ini. Areal produksinya di
USA telah meluas ke utara sampai 800 km selam lima puluh tahun ini.
Kedelai dan Kacang tanah dapat tumbuh di daerah tropik sampai lintang 450
LU dan 400 LS. Gandum musim dingin yang lebih produktif dari gandum
musim semi areal tanamnya telah meluas keutara sejauh 360 km. Ditambah
dengan kemampuan rekayasa genetik yang kita miliki perluasan areal tanam
akan semakin mungkin dan cepat terealisasi.
       Diperkirakan    penggandaan    kadar    CO2    akan    meningkatkan
produktivitas tanaman di Amerika Utara, hal serupa juga terjadi di Sovyet,
Eropa dan propinsi bagian utara China. Tanaman hortikultura dapat
berkembang bebearapa musim diseluruh negara bagian USA. Tanaman seperti
Tebu dan Kapas semakin meluas areal tanamnya dengan dimanfaatkannya
mulsa dan pelindung plastik. Pemanasan global akan lebih menguntungkan
dibanding dengan kembalinya era es sebagaimana diprediksi beberapa dekade
yang lalu. Terlebih dimana produksi tanaman pangan terpusat di Lintang 300
LU sampai 500 LS.
       Perubahan iklim secara drastis dan ekstrem sebagaimana yang selama
ini dipublikasikan adalah hal yang sangat berlebihan. Pemanasan secara
perlahan mungkin menguntungkan, karena memungkinkan penanaman
tumbuhan tropis seperti mangga, pepaya, nanas dan pisang , dinegara bagian
selatan USA.
       Sejak 1850, kadar CO2 dalam atmosfir telah meningkat sebesar 25 %
akibat pembakaran bahan bakar fosil dan penggundulan hutan tak ada yang
menentangnya. Kadar gas rumah kaca selain CO2 juga telah meningkat
melebih prosentase CO2 dan dengan efek pemanas yang setara CO2. Namun
terdapat kontrovesi mengenai kapan pemanasan global pertama kali muncul,
juga terdapat kontroversi mengenai besaran perubahan suhu yang terjadi, jika
terjadi pada masa yang akan datang. Perkiraan yang ada berkisar antara minus
   1,50C sampai 60C. Prakiraan iklim dan cuaca regional dengan sebaran
   variabel seperti awan, kelembaban, dan angin lebih tidak pasti lagi.
          Efek langsung dari meningkatnya CO2, berdampak positif terhadap
   tumbuhan, sebagaimana dibahas diatas, namun bila terjadi kekeringan
   sebagaimana ramalan hasil permodelan iklim yang sekarang, hasil pertanian
   tak dapat dipastikan. Namun secara garis besar dampak yang terjadi masih
   dapat kita kendalikan. Tindakan dari petani, ilmuwan dan kebijkan pemerintah
   lebih diperlukan dibandingkan dengan perubahan pola hidup kita.
          Prakiraan pengaruh CO2 terhadap iklim menimbulkan banyak
   spekulasi, dan beberapa riset telah dimulai untuk meneliti dampaknya
   terhadap hubungan hama dan tanaman dan strategi perlindungan tanaman.
   Gulma, Serangga, nematoda dan wabah berdampak sangat merugikan bagi
   pertanian. Perubahan Iklim yang mungkin akan berdampak pada hubungan
   tumbuhan – hasil panen – hama, dan ekosistem lain. Peningkatan kandungan
   karbohidrat dan akumulasi nitrogen akan berpengaruh terhadap pola makan
   serangga, ini telah ditunjukan dalam beberapa eksperimen. Pengendalian hama
   memasuki era baru, dengan pengintegrasian penanganan hama.


C. Proses Terjadinya
          Proses terjadinya efek rumah kaca ini berkaitan dengan daur aliran
   panas matahari. Kurang lebih 30% radiasi matahari yang mencapai tanah
   dipantulkan kembali ke angkasa dan diserap oleh uap, gas karbon dioksida,
   nitrogen, oksigen, dan gas-gas lain di atmosfer. Sisanya yang 70% diserap
   oleh tanah, laut, dan awan. Pada malam hari tanah dan badan air itu relatif
   lebih hangat daripada udara di atasnya. Energi yang terserap diradiasikan
   kembali ke atmosfer sebagai radiasi inframerah, gelombang panjang atau
   radiasi energi panas. Sebagian besar radiasi inframerah ini akan tertahan oleh
   karbon dioksida dan uap air di atmosfer. Hanya sebagian kecil akan lepas ke
   angkasa luar. Akibat keseluruhannya adalah bahwa permukaan bumi
   dihangatkan oleh adanya molekul uap air, karbon dioksida, dan semacamnya.
   Efek penghangatan ini dikenal sebagai efek rumah kaca.
       Sedangkan proses secara singkatnya yaitu ketika sinar radiasi matahari
menembus kaca sebagai gelombang pendek sehingga panasnya diserapa oleh
bumi dan tanaman yang ada di dalam rumah kaca tersebut. Untuk selanjutnya,
panas tersebut di radiasikan kembali namun dengan panjang gelombang yang
panjang(panjang geklombang berbanding dengan energi) sehingga sinar
radiasi tersebut tidak dapat menembus kaca. Akibatnya, suhu di dalam rumah
kaca lebih tinggi dibandingkan dengan suhu yang di luar rumah kaca.

       Proses terjadinya efek rumah kaca




       Peningkatan dari kadar CO2 di atmosfir menimbulkan masalah-
masalah penting yang disebabkan oleh alasan-alasan berikut ini. Karbon
dioksida memiliki sifat memperbolehkan cahaya sinar tampak untuk lewat
melaluinya   tetapi   menyerap   sinar   infra   merah.   Agar   bumi   dapat
mempertahankan temperatur rata-rata, bumi harus melepaskan energi setara
dengan energi yang diterima. Energi diperoleh dari matahari yang sebagian
besar dalam bentuk cahaya sinar tampak. Oleh karena CO2 di atmosfer
memperbolehkan sinar tampak untuk lewat, energi lewat sampai ke
  permukaan bumi. Tetapi energi yang kemudian dilepaskan (dipancarkan) oleh
  permukaan bumi sebagian besar berada dalam bentuk infra merah, bukan
  cahaya sinar tampak, yang oleh karenanya disearap oleh atmosfer CO2. Sekali
  molekul CO2 menyerap energi dari sinar infra merah, energi ini tidak
  disimpan melainkan dilepaskan kembali ke segala arah, memancarkan balik ke
  permukaan bumi. Sebagai konsekuensinya, atmosfer CO2 tidak menghambat
  energi matahari untuk mencapai bumi, tetapi menghambat sebagian energi
  untuk kembali ke ruang angkasa.

D. Dampak Rumah Kaca
  1. Dampak positif
         lobal warming adalah suatu peristiwa yang disebabkan meningkatnya
  efek rumah kaca (green house effect). Sebenarnya efek rumah kaca bukanlah
  suatu hal yang buruk, justru dengan adanya efek rumah kaca bumi kita bisa
  tetap hangat, bahkan memungkinkan kita bisa survive hingga sekarang.
         Kamu bisa mengibaratkan bumi kita seperti mobil yang sedang
  diparkir dalam cuaca yang cerah. Kamu pasti akan berpikir bahwa temperature
  di dalam mobil pasti akan lebih panas dibandingkan temperature di luar mobil.
  Sinar matahari memasuki mobil tersebut melalui celah-celah pada kaca
  jendela dan secara otomatis panas dari sinar matahari akan diserap oleh jok,
  karpet, dashboard serta benda-benda lain yang berada di dalam mobil. Ketika
  semua objek tersebut melepaskan kembali panas yang diserapnya, tidak semua
  panas tersebut akan bisa keluar melalui celah jendela, sebagian justru akan
  dipantulkan kembali- panas tersebut akan diradiasikan kembali oleh benda-
  benda yang ada di dalam mobil dengan panjang gelombang yang berbeda-
  beda. Sehingga sejumlah energy panas akan tetap tinggal di dalam mobil, dan
  hanya sebagian kecil dari energy tersebut yang bisa melepaskan diri. Pada
  akhirnya, mobil tersebut akan mengalami peningkatan temperature secara
  berkala, semakin lama akan semakin panas.
         Ketika cahaya matahari mengenai atmosfer serta permukaan bumi,
  sekitar 70% dari energi tersebut tetap tinggal di bumi, diserap oleh tanah,
lautan, tumbuhan serta benda-benda lainnya. 30 % sisanya dipantulkan
kembali melalui awan, hujan serta permukaan reflektif lainnya. Tetapi panas
yang 70 % tersebut tidak selamanya ada di bumu, karena bila demikian maka
suatu saat bumi kita akan menjadi “bola api”). Benda-benda di sekitar planet
yang menyerap cahaya matahari seringkali meradiasikan kembali panas yang
diserapnya. Sebagian panas tersebut masuk ke ruang angkasa, tinggal di sana
dan akan dipantulkan kembali ke bawah permukaan bumi ketika mengenai zat
yang berada di atmosfer, seperti karbon dioksida, gas metana dan uap air.
Panas tersebut yang membuat permukaan bumi tetap hangat dari pada di luar
angkasa, karena energy lebih banyak yang terserap dibandingkan dengan yang
dipantulkan kembali. Itulah peristiwa yang disebut dengan efek rumah kaca
(green house effect).




2. Dampak negatif
       Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya
perubahan iklim yang sangat ekstrem di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan
terganggunya    hutan   dan   ekosistem   lainnya,   sehingga   mengurangi
kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Pemanasan
global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang
dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan
mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan
terjadi kenaikan permukaan laut yang mengakibatkan negara Kepulauan akan
mendapatkan pengaruh yang sangat besar.
       Menurut perkiraan, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu bumi
rata-rata 1-5°C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti
sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5°C
sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer,
maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari
permukaan bumi diserap atmosfer. Hal ini akan mengakibatkan suhu
permukaan bumi menjadi meningkat.




       Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas
karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi
gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak
(BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui
kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorpsinya. Energi
yang masuk ke bumi mengalami: 25% dipantulkan oleh awan atau partikel
lain di atmosfer 25% diserap awan 45% diabsorpsi permukaan bumi 5%
dipantulkan kembali oleh permukaan bumi.
         Energi yang diabsorpsi dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi infra
  merah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar infra merah
  yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas lainnya,
  untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Dalam keadaan normal, efek rumah
  kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara siang
  dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda.
         Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah
  sulfur dioksida (SO2), nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2)
  serta beberapa senyawa organik seperti gas metana (CH4) dan khloro fluoro
  karbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam
  meningkatkan efek rumah kaca.


E. Usaha Mengurangi Efek Rumah Kaca




         Banyak hal gampang yang bisa kita lakukan untuk mengurangi efek
  rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Caranya, kita bisa
  mematikan lampu dan peralatan elektronik saat tidak digunakan. Selain hemat
  energi dan uang untuk bayar listrik, juga mengurangi polusi karena
  penggunaan bahan bakar. Rajin-rajin memanggil tukang servis AC.
  Carpooling atau berangkat bareng teman atau keluarga ke sekolah, tempat les,
  atau mal. Selain mengurangi kemacetan, kita juga menghemat energi. Saat
  mencetak tugas, usahakan memakai dua sisi kertas. Plastik adalah bahan yang
  sulit untuk diuraikan. Kalau dibakar, plastik akan menjadi zat racun atau
  polusi. Pemakaian kantong plastik saat belanja harus dikurangi. Seluruh
  plastik itu hanya menjadi sampah. Coba deh pakai tas karton atau tas kanvas.


F. Hujan asam
           Hujan asam diartikan sebagai segala macam hujan dengan pH di
  bawah 5,6. Hujan secara alami bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) karena
  karbondioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk
  sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena
  membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan
  dan binatang.
           Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan
  pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan
  oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi
  ke atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat dan asam
  nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan. Air hujan yang asam
  tersebut akan meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan yang
  terbukti berbahaya bagi kehidupan ikan dan tanaman. Usaha untuk mengatasi
  hal ini saat ini sedang gencar dilaksanakan.


  Pembentukan hujan asam
         Secara sedehana, reaksi pembentukan hujan asam sebagai berikut:
             Bukti terjadinya peningkatan hujan asam diperoleh dari analisa es
  kutub. Terlihat turunnya kadar pH sejak dimulainya Revolusi Industri dari 6
  menjadi 4,5 atau 4. Informasi lain diperoleh dari organisme yang dikenal
  sebagai diatom yang menghuni kolam-kolam. Setelah bertahun-tahun,
  organisme-organisme yang mati akan mengendap dalam lapisan-lapisan
  sedimen di dasar kolam. Pertumbuhan diatom akan meningkat pada pH
  tertentu, sehingga jumlah diatom yang ditemukan di dasar kolam akan
  memperlihatkan perubahan pH secara tahunan bila kita melihat ke masing-
  masing lapisan tersebut.
Sejak dimulainya Revolusi Industri, jumlah emisi sulfur dioksida dan nitrogen
oksida ke atmosfer turut meningkat. Industri yang menggunakan bahan bakar
fosil, terutama batu bara, merupakan sumber utama meningkatnya oksida
belerang ini. Pembacaan pH di area industri terkadang tercatat hingga 2,4
(tingkat keasaman cuka). Sumber-sumber ini, ditambah oleh transportasi,
merupakan penyumbang-penyumbang utama hujan asam.
       Masalah hujan asam tidak hanya meningkat sejalan dengan
pertumbuhan populasi dan industri tetapi telah berkembang menjadi lebih
luas. Penggunaan cerobong asap yang tinggi untuk mengurangi polusi lokal
berkontribusi dalam penyebaran hujan asam, karena emisi gas yang
dikeluarkannya akan masuk ke sirkulasi udara regional yang memiliki
jangkauan lebih luas. Sering sekali, hujan asam terjadi di daerah yang jauh
dari lokasi sumbernya, di mana daerah pegunungan cenderung memperoleh
lebih banyak karena tingginya curah hujan di sini.
       Terdapat hubungan       yang erat    antara rendahnya pH dengan
berkurangnya populasi ikan di danau-danau. pH di bawah 4,5 tidak
memungkinkan bagi ikan untuk hidup, sementara pH 6 atau lebih tinggi akan
membantu pertumbuhan populasi ikan. Asam di dalam air akan menghambat
produksi enzim dari larva ikan trout untuk keluar dari telurnya. Asam juga
mengikat logam beracun seperi alumunium di danau. Alumunium akan
menyebabkan beberapa ikan mengeluarkan lendir berlebihan di sekitar
insangnya sehingga ikan sulit bernafas. Pertumbuhan Phytoplankton yang
menjadi sumber makanan ikan juga dihambat oleh tingginya kadar pH.
         Tanaman dipengaruhi oleh hujan asam dalam berbagai macam cara.
Lapisan lilin pada daun rusak sehingga nutrisi menghilang sehingga tanaman
tidak tahan terhadap keadaan dingin, jamur dan serangga. Pertumbuhan akar
menjadi lambat sehingga lebih sedikit nutrisi yang bisa diambil, dan mineral-
mineral penting menjadi hilang.




       Ion-ion beracun yang terlepas akibat hujan asam menjadi ancaman
yang besar bagi manusia. Tembaga di air berdampak pada timbulnya wabah
diare pada anak dan air tercemar alumunium dapat menyebabkan penyakit
Alzheimer.

 Dampak Hujan Asam

         Terjadinya hujan asam harus diwaspadai karena dampak yang
ditimbulkan bersifat global dan dapat menggangu keseimbangan ekosistem.
Hujan asam memiliki dampak tidak hanya pada lingkungan biotik, namun juga
pada lingkungan abiotik, antara lain :
Danau
         Kelebihan zat asam pada danau akan mengakibatkan sedikitnya
species yang bertahan. Jenis Plankton dan invertebrate merupakan mahkluk
yang paling pertama mati akibat pengaruh pengasaman. Apa yang terjadi jika
didanau memiliki pH dibawah 5, lebih dari 75 % dari spesies ikan akan hilang
(Anonim, 2002). Ini disebabkan oleh pengaruh rantai makanan, yang secara
signifikan berdampak pada keberlangsungan suatu ekosistem. Tidak semua
danau yang terkena hujan asam akan menjadi pengasaman, dimana telah
ditemukan jenis batuan dan tanah yang dapat membantu menetralkan
keasaman.


Tumbuhan dan Hewan
         Hujan asam yang larut bersama nutrisi didalam tanah akan menyapu
kandungan tersebut sebelum pohon-pohon dapat menggunakannya untuk
tumbuh. Serta akan melepaskan zat kimia beracun seperti aluminium, yang
akan bercampur didalam nutrisi. Sehingga apabila nutrisi ini dimakan oleh
tumbuhan    akan    menghambat    pertumbuhan    dan   mempercepat     daun
berguguran, selebihnya pohon-pohon akan terserang penyakit, kekeringan dan
mati. Seperti halnya danau, Hutan juga mempunyai kemampuan untuk
menetralisir hujan asam dengan jenis batuan dan tanah yang dapat mengurangi
tingkat keasaman.
        Pencemaran udara telah menghambat fotosintesis dan immobilisasi
hasil fotosintesis dengan pembentukan metabolit sekunder yang potensial
beracun. Sebagai akibatnya akar kekurangan energi, karena hasil fotosintesis
tertahan di tajuk. Sebaliknya tahuk mengakumulasikan zat yang potensial
beracun tersebut. Dengan demikian pertumbuhan akar dan mikoriza terhambat
sedangkan daunpun menjadi rontok. Pohon menjadi lemah dan mudah
terserang penyakit dan hama.
                                   PENUTUP


Kesimpulan
  1.     Efek rumah kaca menyebabkan kenaikan suhu bumi – sehingga
        mempengaruhi iklim secara global.

  2.    Namun demikian, efek rumah kaca juga berdampak positif, seperti tetap
        berlangsungnya kegiatan pertanian pada musim dingin oleh orang-orang
        Eropa.

  3.     Efek rumah kaca menimbulkan dampak-dampak negatif lainnya yang
        menyebabkan kerugian pada manusia dan makhluk hidup lainnya.




Saran
  1.    Penggunaan emisi gas karbon dioksida, mobil-mobil yang boros bahan
        bakar sebaiknya lebih diefisienkan.

  2.     Mengganti bahan bakar minyak dengan tenaga tata surya yang ramah
        lingkungan.

  3. Penghijauan kembali hutan-hutan yang sudah ditebang untuk mengurangi
        kadar karbon dioksida.

  4. Penganekaragaman bahan bakar minyak, gas, tenaga listrik, bahkan tenaga
        tata surya.

  5.    Bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia sebaiknya melakukan
        pemeliharaan kendaraan emisi gas karbon dioksida atau dengan kata lain
        melaksanakan program Langit Biru untuk mengurangi kadar polusi udara
        yang sudah di ambang batas – terutama di kota-kota besar seperti Jakarta.
6.   Efek rumah kaca yang tidak terkendali dapat menyebabkan perubahan
     ekologi yang sulit ditebak, seperti perubahan suhu dan pola hutan yang
     mengurangi produktivitas pertanian.

7.   Kerugian Indonesia di bidang pertanian karena perubahan iklim yang
     disebabkan oleh dampak efek rumah kaca diperkirakan sangat besar.
     ANGLAS (Asian Least Gost Greenhouse Gas Abatement Strategy)
     memaparkan bahwa efek rumah kaca mengakibatkan antara lain: naiknya
     permukaan air laut, krisis air bersih, meningkatnya frekuensi penyakit
     yang ditularkan oleh nyamuk, rusaknya infrastruktur daerah tepi pantai,
     dan menurunnya produksi pertanian.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:4970
posted:7/26/2010
language:Indonesian
pages:23
Description: efek rumah kaca