Docstoc

interaksi belajar

Document Sample
interaksi belajar Powered By Docstoc
					1. 5Pengertian Aktif dan Reaktif :

       Aktif adalah suatu gambaran yang bergerak. Dalam belajar mengajar aktif
    bisa kita lihat dengan bagaimana anak didik kita menanggapai rangsangan
    (stimulus). Aktif mempunyai beberapa bagian salah satunya adalah sikap
    Reaktif.
       Akhir tahun 80 an Stephen Covey, penulis Seven Habits of Highly
    Effective People, membuat istilah baru sebagai lawan dari sikap reaktif, yaitu
    sikap “proaktif”. Istilah ini kemudian menjadi sangat populer di seluruh
    dunia.Sikap Reaktif adalah sikap seseorang yang gagal membuat pilihan
    respon ketika mendapatkan rangsangan (stimulus).Sederhananya adalah, bila
    seseorang selalu menjadi marah kalau dihina, maka orang tersebut dikatakan
    “reaktif” karena selalu memberikan tanggapan (respon) yang sama terhadap
    suatu rangsangan (stimulus).Binatang secara umum adalah makhluk yang
    reaktif. Bila Anda pukul, reaksinya hanya dua, takut atau marah. Suatu
    tanggapan yang mudah diduga sebelumnya.

2. pengertian belajar dan mengajar

   AABELAJAR

       Menurut Slameto (1995:2) belajar adalah “suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya.” Selanjutnya Winkel (1996:53) belajar adalah “suatu aktivitas
mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi yang aktif dengan lingkungan,
yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman,
keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif konstant.”
Kemudian Hamalik (1993:28) mendefinisikan belajar adalah “suatu pertumbuhan
atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah
laku yang baru berkat pengalaman dan latihan.”
            Pada dasarnya belajar merupakan suatu proses yang aktif memerlukan
    dorongan dan bimbingan kearah tercapainya tujuan yang dikehendaki.
    Nasution (1995:35) mengatakan bahwa : “Belajar membawa perubahan pada
    individu yang belajar, perubahan itu tidak hanya mengenai jumlah
    pengetahuan melainkan juga dalam bentuk kecakapan, kebiasaan, sikap,
    mengenai segala aspek organisme atau pribadi seseorang”.

            Dari berbagai pengertian yang telah dikemukakan para ahli di atas
    tentang belajar, semua menekankan pada perubahan tingkah laku manusia.
    Seseorang mempelajari sesuatu dan aktif dalam kegiatan itu tingkah lakunya
    tidak berubah, orang tersebut belum dapat dikatakan belajar.

MENGAJAR

       Sedangkan mengajar adalah : “suatu kegiatan agar proses belajar
seseorang atau sekelompok orang dapat terjadi, untuk keperluan tersebut seorang
guru seharausnya membuat suatu sistim lingkungan sedemikian rupa sehingga
proses belajar dapat tercapai secara efektif dan efisien (Sunaryo, 1989 : 10).

       Dengan demikian, istilah mengajar dalam pengertian ini adalah
menciptakan situasi dan kondisi yang mampu merangsang siswa untuk belajar.
Suatu proses belajar mengajar dapat berjalan efektif, bila seluruh komponen yang
berpengaruh dalam proses belajar yaitu siswa, guru, kurikulum, metode, sarana
prasarana, serta lingkungan saling mendukung dalam rangka mencapai tujuan.

Belajar yang efektif akan melahirkan kecakapan-kecakapan ketrampilan yang
fundamental. Landasan utama dalam mencapai keberhasilan belajar adalah
kesiapan mental, karena tanpa kesiapan mental ini para siswa pada umumnya
tidak dapat bertahan dalam kesulitan yang dialami selama belajar. Kesiapan
mental tersebut merupakan keterikatan terhadap tujuan belajar, minat terhadap
pelajaran dan kepercayaan pada diri sendiri.
Belajar dikatakan sukses apabila dari peserta didik dapat diharapkan didalam
kegiatan belajarnya suatu hasil yang tinggi, yang berupa nilai-nilai dan tingkah
laku yang bagus dan memuaskan. Seseorang yang ingin berhasil dalam belajar
maka ia harus mengetahui tentang prinsip belajar sebagaimana dikemukakan oleh
Anomymous (1984 : 319) yang meliputi :
      a. Bahwa dalam belajar dibutuhkan dorongan atau motivasi.
      b. Harus dapat memusatkan perhatian
      c. Untuk lebih menghasilkan penyerapan ilmu, sebaiknya materi yang telah
          diajarkan harus selalu diulang-ulang.
      d. Harus diyakini bahwa semua yang dipelajari akan berguna kelak.
      e. Dalam belajar perlu adanya istirahat
      f. Hasil belajar dari suatu pelajaran dapat digunakan untuk mempelajari
          pelajaran lainnya.
      g. Hasil belajar yang telah diperoleh dicoba untuk diutarakan kembali.
      h. Hal-hal yang menghambat pelajaran misalnya : rasa takut, benci, malu,
          marah dan kesal harus dihindari.

Demikian juga halnya dengan pendapat Sardiman (1986 : 230) tentang belajar
yaitu :
      Belajar berarti usaha merubah tingkah laku. Jadi belajar akan membawa
      suatu perubahan pada individu-individu yang belajar. Perubahan itu tidak
      karena berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga
      berbentuk kecakapan, ketrampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat,
      watak dan penyesuaian diri. Jelasnya menyangkut perubahan segala aspek
      organisme dan tingkah laku pribadi seseorang.

Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa belajar merupakan suatu
usaha yang mengarah kepada penguasaan pengetahuan dan skill yang dicapai oleh
siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah.
3. Hubungan Belajar Mengajar dalam Patient Education

Learning and teaching should not stand on opposite banks and just watch the
river flow by; instead, they should embark together on a journey…
~ Loris Malaguzzi (1920–1994).

Kutipan diatas telah menunjukkan bahwa belajar dan mengajar merupakan suatu
proses yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain dan akan selalu saling
berhubungan. Mengajar merupakan suatu aktivitas yang bertujuan untuk
menghasilkan suatu proses belajar, sedangkan belajar merupakan representasi dari
perubahan kebiasaan yang merupakan proses intelektual dan emosional.

Kebanyakan literatur menyebutkan bahwa teacher (guru) merupakan student-
centred ideologies. Penelitian pada pendidikan perawat pada umumnya
menunjukkan bahwa guru dan murid dalam proses belajar mengajar dilihat dari
persepsi kebanyakan manusia ialah: guru (teacher), merupakan yang terdepan
dalam hal pengetahuan dan murid (learner) merupakan passive recipient dalam
proses belajar mengajar. Persepsi seperti itu memang sudah sangat tertanam kuat
di dalam benak banyak orang dan banyak ungkapan yang menyebutkan bahwa
guru (teacher) merupakan orang yang paling tahu tentang banyak hal termasuk
orang yang menjadi muridnya.

Berbeda dengan uraian di atas, di dalam patient education hal itu tidak berlaku
dalam hubungan belajar mengajar antara perawat (educator) dan klien (learner).
Klien belajar dari perawat mengenai hal-hal yang perlu dilakukan terkait dengan
masalah kesehatannya dan perawat juga akan belajar dari klien mengenai hal-hal
baru yang terdapat di dalam diri klien yang akan dijadikan bahan pertimbangan
dalam memberikan asuhan keperawatan maupun pembelajaran bagi klien.
II. Isi

Belajar merupakan proses kolaboratif dan koperatif dalam pendidikan kesehatan
bagi klien (patient education). Perawat dalam menjalankan perannya sebagai
educator bagi klien harus mengetahui dan memahami hubungan antara belajar dan
mengajar dalam patient education. Proses kolaboratif dan koperatif antara perawat
dan klien terjadi selama proses belajar mengajar dalam patient education. Di
dalam proses keperawatan, hubungan antara perawat sebagai educator dan klien
sebagai orang yang belajar (learner), merupakan proses yang spesial yang
ditandai dengan adanya hubungan saling sharing atau berbagi, advocacy, dan
negosiasi antara perawat dengan klien.

 Proses pembelajaran yang efektif dalam patient education terjadi ketika klien dan
 health care professional atau perawat sama-sama berpartisipasi dalam proses
 belajar dan mengajar. Perawat harus sensitif dalam menentukan tipe dari proses
 pembelajaran yang paling tepat untuk klien selama proses pembelajaran
 berlangsung. Oleh karena itu, perlu adanya sharing dan negosiasi antara klien
 dan perawat selama proses itu berlangsung. Sebagai contoh, seorang klien
 memilih situasi belajar yang terstruktur dan terkontrol oleh perawat seperti pada
 proses belajar merawat luka iritasi setelah keluar dari rumah sakit. Sementara
 klien lain memilih proses belajar yang lebih kolaboratif dan melibatkan klien
 lebih banyak dimana mereka hanya akan bertanya pada perawat bagaimana
 melakukan prosedur dan meminta saran atau nasihat dari perawat, selebihnya
 klien ingin melakukan tindakan yang telah diajarkan sendiri.

 Tidak semua klien ingin terlibat aktif di dalam proses belajar mengajar dalam
 patient education. Ada saatnya dimana proses mengajar harus ditunda sampai
 klien memiliki keinginan untuk berpartisipasi secara aktif. Kualitas yang positif
 yang merupakan karakteristik dari proses belajar mengajar ditandai dengan
 adanya fokus klien (client focus), negosiasi (negotiation), holistik (holism), dan
 interaksi (interaction). (Craven & Hirnle, hal. 401-402)
Fokus klien (Client focus)

Patient education merupakan hubungan terapeutik yang harus difokuskan
terhadap kebutuhan spesifik klien. Klien memiliki nilai yang unik, kepercayaan
atau agama, kemampuan kognitif dan pilihan cara untuk belajar yang
mempengaruhi hasil akhir dari proses patient education. Oleh karena itu, seorang
perawat haruslah mengizinkan klien untuk berbagi (sharing) mengenai apa yang
menjadi kepercayaannya dan apa yang menjadi pilihannya. Dengan begitu,
perawat akan mengerti lebih baik lagi tentang keunikan setiap individu dan
mengetahui apa yang dibutuhkan oleh klien pada saat proses belajar berlangsung.

Holistik (Holism)

Hubungan belajar mengajar harus mencakup seluruh aspek dalam seorang
individu, tidak hanya mencakup sebagian atau suatu spesifik konten dalam diri
individu saja. Oleh karena itu, perawat harus mengumpulkan dan mengkaji data-
data mengenai klien untuk menentukan gambaran mengenai diri klien secara
menyeluruh. Dalam hal ini, perawat dapat menggunakan pengalaman mereka.
Sebagai contoh, ketika seorang perawat mengajarkan cara memberikan suntikan
insulin pada klien yang baru saja didiagnosa diabetes. Perawat akan
mengantisipasi masalah-masalah yang berdasarkan riwayat kesehatan dan
riwayat penyakit klien.

Negosiasi (Negotiation)

Perawat dan klien bersama-sama menentukan apa yang sudah diketahui dan apa
yang penting untuk dipelajari. Dengan begitu, mereka dapat mengembangkan
rencana dalam proses pembelajaran dengan menggunakan input yang sudah
mereka sepakati sebelumnya. Ada kalanya negosiasi menjadi proses yang lebih
formal seperti pada saat perubahan sikap dan kebiasaan dibutuhkan. Namun
terkadang, proses negosiasi dapat merupakan proses yang informal yang terjadi
begitu saja yang akan membantu proses belajar dalam patient education.
 Interaksi (Interaction)

 Hubungan belajar mengajar merupakan hubungan yang dinamik yang merupakan
 proses interaktif yang melibatkan partisipasi aktif dari perawat dan kliennya.
 Perawat belajar dari klien, begitu pun dengan klien yang belajar dari perawat.
 Mereka    mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan proses belajar,
 mengklarifikasi dan merevisi tujuan-tujuan spesifik dalam belajar atau
 menentukan kebutuhan-kebutuhan baru dalam proses belajar tersebut. Proses
 interaktif ini merupakan nonlinear model yang berbeda dari simplistic model
 yang mempresentasikan konten pelajaran, proses belajar dan melakukan evaluasi
 proses belajar.

III. Penutup

Kesimpulan

Sangat penting bagi seorang perawat untuk memperhatikan keempat karakteristik
hubungan yang positif dalam proses belajar mengajar di dalam memberikan
pendidikan kesehatan pada klien. Jika keempat hal tersebut dapat dilakukan
dengan baik dalam hubungan belajar mengajar antara perawat dan klien, maka
tujuan yang diharapkan di dalam patient education akan tercapai dengan baik
sesuai dengan yang diharapkan. Setelah melihat pembahasan di atas, jelaslah
sudah bahwa peran klien sebagai learner juga sangat menentukan keberhasilan
proses belajar mengajar dalam patient education.

3. Komunikasi dalar proses be/ajar mengajar.

Ada 3 poly komunikasi belajar mengajar, yaitu :

a. K o m u n i k a s i s e b a g a i a k s i --~ k o mu n i k a s i satu arah.

       Guru pemberi aksi ---- Siswa penerima aksi Guru aktif Siswa pasif.

       Ceramah pada dasarnya komunikasi satu arah, atau komunikasi sebagai
       aksi. Komunikasi jenis ini kurang menghidupkan kegiatan siswa belajar.
b. Komunikasi sebagai interaksi—

        dua arah.

        Pada komunikasi ini Guru dan S i swa dapat berperan sama, yakni pemberi
        aksi dan

        penerima aksi. Keduanya dapat saling memberi dan saling menerima.

c.Komunikasi sebagai Transaksi —} komuni- kasi banyak arah.

        Yakni komunikasi yang tidak hanya me-

        libatkan interaksi dinamis antar a guru dengan siswa tetapi juga
        melibatkan interak , si dinamis antar siswa yang satu dengan siswa
        lainnya.

        Model ini mengarah kepada_ pola siswa belajar aktif.

9. Pengertian istilah dari “ Diakhiri dengan evaluasi““

Evaluasi yang dimaksud lebih mengarah pada evaluasi kognitif,Menurutnya
istilah ini sangat penting dalam rangka memberi arti pendidikan hal ini untuk
melihat ptresentase kemampuan peserta didik selama awal sampai akhir
pembelajaran itu berlangsung. Sehingga bisa mengambil kesimpulan atas
pelajaran yang diberikan mampu diserap dengan baik atau tidak pada peserta didik
kita.

13. Pendapat tentang interaksi belajar mengajar harus dalam suasana Kondusif
saat PMB berlangsung.

Tugas pendidikan adalah tugas kemanusiaan. Pendidikan dapat dilakukan di
sekolah dan di luar sekolah. Sekolah merupakan salah satu lembaga sebagai
tempat berlangsung dan berkembangnya pendidikan. Lembaga pendidikan pada
garis besarnya ada tiga, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan bertugas melanjutkan, melengkapi dan
mengembangkan pendidikan yang sudah dan belum di berikan dalam keluarga.
Peranan sekolah sangat besar bagi usaha pemerintah memajukan pendidikan di
Indonesia untuk mewujudkan manusia yang berkualitas yang sanggup menghadapi
tuntutan kemajuan jaman. Sekolah diharapkan dapat mengubah input menjadi
output sesuai harapan pendidikan melalui suatu proses yang berkesinambungan.
Salah satu hal yang penting dan selama ini sepertinya kurang mendapat perhatian
adalah perlunya menciptakan suasana sekolah yang kondusif yang mendukung
upaya pendidikan bagi siswa. Untuk menciptakan suasana sekolah yang kondusif,
yang mendukung terhadap upaya berlangsungnya proses pendidikan tentunya
tidaklah mudah, banyak aspek-aspek terkait didalamnya.
Suasana sekolah yang kondusif merupakan hal yang perlu diwujudkan oleh warga
sekolah jika menginginkan keberhasilan dalam proses pendidikan di sekolah.
Suasana yang kondusif tidak bisa hanya dibangun oleh pengambil keputusan
dalam sekolah, dalam hal ini kepala sekolah, namun harus mendapat dukungan
dan perhatian dari seluruh warga sekolah, karena banyak aspek yang terkait dalam
upaya penciptaan suasana sekolah yang kondusif. Aspek yang terkait dengan
upaya penciptaan suasana lingkungan sekolah yang kondusif meliputi dua aspek,
yaitu aspek statis dan aspek dinamis. Apa saja kedua aspek tersebut akan dibahas
lebih jauh dalam tulisan ini.


16. intelegsi siswa mampu berbuat

1. Intelegensi Siswa

Intelegensi pada umunya dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk
mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara
yang tepat (Reber, 1988). Jadi, intelegensi sebenarnya bukan persoalan kualitas
otak saja, melainkan juga kualiitas organ-organ tubuh lainnya. Akan tetapi,
memang harus diakui bahwa peran otak dalam hubungannya dengan intelegensi
manusia lebih menonjol daripada peran organ-organ tubuh lainnya, lantaran otak
merupakan “menara pengontrol” hampir selruh otak manusia.
Tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ) siswa tak dapat diragukan lagi, sangat
menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Ini bermakna, semakin tinggi
kemampuan intelegensi seorang siswa maka semakin besar peluangnya unuk
meraih sukses. Sebaliknya, semakin rendah        kemampuan intelegensi seorang
siswa maka semakin kecil peluangnya untuk memperoleh sukses. Selanjutnya, di
antara siswasiswa yang mayoritas berintelegensi normal itu mungkin terdapat satu
atau dua orang yang tergolong gifted child atau talented child, yaitu anak sangat
cerdas dan anak sangat berbakat.

2. Sikap Siswa

Sikap adalah gejala internal yang berdimensi efektif berupa kecenderungan untuk
mereaksi atau merspons (respons tendency) dengan cara yang relatif tetap
terhadap objek orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif dan negatif.
Sikap (attitude) siswa yang positif, terutama kepada anda dan mata pelajaran yang
anda sajikan merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar siswa
tersebut. Sebaliknya, sikap negatif siswa terhadap anda dan mata pelajaran anda,
apalagi jika diiringi kebencian kepada anda atau kepada mata pelajaran anda dapat
menimbulakan kesulitan belajar siswa tersebut.

Untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya sikap negatif siswa seperti
tersebut di atas, guru dituntut untuk terlebih dahulu menunjukkan siap positif
terhadap dirinya sendiri dan terhadap mata pelajaran yang menjadi vaknya. Dalam
hal bersikap positif terhadap mata pelajarannya, seorang guru sangat dianjurkan
untuk senantiasa menghargai dan mencintai profesinya. Guru yang demikian tidak
hanya menguasai bahan-bahan yang terdapat dalam bidang studinya, tetapi juga
mampu meyakinkan kepada para siswa akan manfaat bidang studi itu bagi
kehidupan mereka. Dengan menyakini manfaat bidang studi tertentu , siswa akan
merasa membutuhkannya, dan dari persaan butuh itulah muncul sikap positif
terhadap bidang studi tersebut sekaligus terhadap guru yang mengajarkannya.
3. Bakat Siswa

Secara umum, bakat (aptitude) adalah kemampuan potensial yang dilmilki
seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Chaplin,
1972; Reber, 1988). Dengan demikian, sebetulnya setiap orang pasti memiliki
bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ketingkat tertentu
sesuai dengan kapasitas masing-masing. Jadi, secara global bakat itu mirip dengan
intelegensi. Itulah sebabnya seorang anak yang berintelegensi sangat cerdas
(superior) atau cerdas luar biasa (very superior) disebut juga sebagai talented
child, yaitu anak berbakat.

Dalam perkembangan selanjutnya, bakat kemudian diartikan sebagai kemampuan
individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya
pendidikan dan latihan. Seorang siswa yang berbakat dalam bidang elektro,
misalnya, akan jauh lebih mudah menyerap informasi, pengetahuan, dan
keterampilan yang berhubungan dengan bidang tersebut dibanding dengan siswa
lainnya. Inilah yang kemudian disebut bakat khusus (specific aptitude) yang
konon tak dapat dipelajari karena merupakan karunia inborn (pembawaan sejak
lahir). Sehubungan dengan hal di atas, bakat akan dapat mempengaruhi tinggi-
rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Oleh karenanya adalah
hal yang tidak bijaksana apabila orang tua memaksakan kehendaknya untuk
menyekolahkan anaknya pada jurusan keahlian tertentu tanpa mengetahui terlebih
dahulu bakat yang dimiliki anaknya itu. Pemaksaan kehendak terhadap seorang
siswa, dan juga ketidaksadaran siswa terhadap bakatnya sendiri sehingga ia
memilih jurusan keahlian tertentu yang sebenarnya bukan bakatnya, akan
berpengaruh buruk terhadapkinerja akademik (academic performance) atau
prestasi belajarnya.

1. Minat Siswa Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan
kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut
Reber (1988), minat tidak termasuk istilah popular dalam psikologi karena
ketergantungannya yang banyak pada faktor-faktor internal lainnya seperti:
pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi dan kebutuhan.

Namun terlepas dari masalah popular atau tidak, minat seperti yang dipahami dan
dipakai oleh orang selama ini dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil
belajar siswa dalam bidang-bidang studi tertentu. Umpamanya, seorang siswa
yang menaruh minat besar terhadap matematika akan memusatkan perhatiannya
lebih banyak daripada siswa lainnya. Kemudian,karena pemusatan perhatian yang
intensif terhadap materi itulah yang memungkinkan siswa tadi untuk balajar lebih
giat, dan akhirnya mencapai prestasi yang diinginkan. Guru dalam kaitan ini
sebaiknya berusaha membangkitkan minat siswa untuk menguasai pengetahuan
yang terkandung dalam bidang studinya dengan cara yng kurang lebih sama
dengan kiat membangun sikap positif seperti terurai di muka.




2. Motivasi Siswa Pengertian dasar motivasi ialah keadaan internal organisme
baik manusia

ataupun hewan yang mondorongnya utuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini,
motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah
(Gleitman, 1986; Reber, 1988).

Dalam perkembangan selanjutnya, motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam
yaitu: 1) motivasi intrinsik; 2) motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah
haldan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat
mendorongnya untuk melakukan tindakan belajar. Termasuk dalam motivasi
intrinsik siswa adalah perasaan menyenangi materi dan kebutuhannya terhadap
materi tersebut, misalnya untuk kehidupan masa depan siswa yang bersangkutan.
Adapun motivasi ekstrinsik adalah dan keadaan yang dating dari luar individu
siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Pujian dan
hadiah, peraturan/ tata tertib sekolah, suri teladan orang tua, guru, dan seterusnya
merupakan contoh-contoh       konkret motivasi ekstrinsik yang dapat menolong
siswa untuk belajar. Kekurangan atau ketiadaan motivasi, baik yang bersifat
internal   maupun   yang    bersifat   eksternal,   akan   menyebabkan   kurang
bersemangatnya siswa dalam melakukan proses pembelajaran materi-materi
pelajaran baik di sekolah maupun di rumah.

Dalam prespektif psikologi kognitif, motivasi yang lebih signifikan bagi siswa
adalah motivasi intrinsik karena lebih murni dan langgeng serta tidak bergantung
pada dorongan atau pengaruhorang lain. Selanjutnya, dorongan mencapai prestasi
dan dorongan memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk masa depan juga
member pengaruh kuat dan relativ lebih langgeng dibandingkan dengan dorongan
hadiah atau dorongan keharusan dari orang tua dan guru.




17. pola belajar yang bermakna

   1. Ketahui dan baca buku referensi yang ditunjukkan dosen kita. Baca buku
       referensi minimal dua kali agar isi buku itu benar-benar Anda pahami.
       Buku referensi biasanya juga akan disampikan oleh dosen dalam
       kuliahnya dan juga yang akan keluar ketika ujian.

   2. Dengarkan kuliah dosen walau membosankan. Jangan tergoda untuk asyik
       sendiri ketika jam kuliah. Catat juga apa yang disampaikan dosen.
       Biasanya apa yang disampaikan dosen akan keluar ketika ujian.

   3. Bentuk kelompok belajar yang anggotanya memang serius untuk belajar
       dan membagi ilmu di antara mereka. Dengan membentuk kelompok
       belajar, pemahaman dan wawasan kita tentang sesuatu topik akan lebih
       matang dan mendalam.

   4. Bagi SKS yang Anda ambil dalam setiap semester secara seimbang dalam
       jumlah dan tingkat kesulitan. Jangan hanya mengambil pelajaran yang
       mudah saja atau sebaliknya sulit semua dalam satu semester. Hal ini agar
       tingkat stres kita merata, tidak terlalu rendah atau terlalu tinggi dalam
       semester tertentu yang membuat akhirnya irama belajar kita menjadi tidak
       konstan.
   5. Biasakan belajar rutin. Tidak peduli ada atau tidak ada ujian. Jangan
       belajar dengan SKS (Sistem Kebut Semalam). Selain meningkatkan stres,
       SKS membuat ilmu yang kita pelajari menjadi dangkal dan sulit dipahami.

   6. Jangan lupa untuk menjaga hubungan baik dengan dosen (tetapi tidak
       perlu sampai menjilat). Kadangkala dosen memberikan nilai berdasarkan
       subyektivitas tertentu. Salah satunya dari ia mengenal mahasiswanya atau
       tidak. Dosen yang mengenal mahasiswanya akan lebih tidak tega untuk
       memberikan nilai jelek.

   7. Jangan tergoda untuk menyontek walau Anda tidak bisa mengerjakan
       ujian atau tugas yang diberikan dosen. Menyontek hanya akan
       menumbuhkan mental pengecut dan pecundang. Membuat kita malas
       belajar karena terbiasa mengambil jalan pintas(menyontek). Apalagi jika
       ketahuan, citra kita di mata dosen dan mahasiswa lainnya akan hancur.
       Demikian saran saya. Semoga Ananda Dhie dapat belajar lebih baik dan
       efektif lagi di bangku kuliah.

19.Sifat seorang organisator

      Sungguh-sungguh, hati-hati dan penuh semangat dalam perjuangan.

      Kesediaan dan tanpa rasa takut mengangung resiko, termasuk resiko
       perjuangan dan penderitaan. Seorang organizer harus menerima kenyataan
       bahwa pengorbanan dan penderitaan tidaklah dapat dihindarkan dalam
       perjuangan melawan kaum penindas yang memiliki mesin-mesin penindas.
       Seorang organizser harus siap menerima resiko demi pencapaian cita-cita
       perjuangan berupa pegorabanan dan penderitaan. Keberanaian seorang
       organizser bukan keberanian yang membabi buta, tapi keberanian yang
       penuh dengan kesadaran.

      Bersatu dengan kehangatan perkawanan bersama organizser lainya.
       Perjuangan bagi organizer bukanlah seperti mesin, ia harus berkawan agar
       dirinya tetap menjadi manusia.
      Menerima dengan terbuka dan lapang dada kritikan dari kawan, dan selalu
       siap memperbaiki diri sendiri.

      Jujur dalam bekerja bersama kawan. tanpa kejujuran, seorang organizer
       tidak akan dipercaya oleh kawan dan massa.

      Punya rasa humor, dengan rasa humor, seorang organizer tidak akan
       tenggelam dalam kepahitan hidup. Justru, ia akan bisa menarik pelajaran
       dari kepahitan hidup yang dialami, sehingga bisa bangkit.

      Punya banyak akal, atau disebut juga kreatif. Dalam melaksanakan tugas-
       tugasnya seorang organizer mesti mempunyai banyak akal. Bila gagal
       melakukan tugasnya dengan satu cara, maka ia akan mempergunakan cara
       lain. Tidak pernah seorang organizer kehilangan akal, sehingga berputus
       asa dalam menjalankan tugasnya.

      Bersikap rendah hati terhadap massa. Tidak pernah menyombongkan diri,
       juga tidak tengelam dalam massa. Tapi bila didepan memberikan teladan,
       bila ditengah bekerja penuh, bila dibelakang memberi semangat.

20. A. Metode Komando (Comand Style)

       1) Gaya komando atau gaya perintah ini, semua keputusan diambil oleh
          guru.
          Sasaran Metode

             Bagian ini akan merinci peranan guru, peranan siswa, dan hasil
              yang akan dicapai karena menggunakan gaya yang diuraikan.

             Dengan menggunakan gaya komando, maka sasaran yang akan di
              capai akan melibatkan siswa yang akan mengikuti petunjuk-
              petunjuk guru, dengan sasara-sasaran tertentu

       2) Menyusun Pelajaran Metode Metode Komando
      Semua keputusan pra pertemuan (pokok bahasan, tugas-tugas,
       organisasi, dan lain-lain) dibuat oleh guru.

      Semua keputusan selama pertemuan berlangsung dibuat oleh guru.

      Keputusan pasca pertemuan

      Umpan balik kepada siswa

      Sasarannya : harus memberi banyak waktu untuk pelaksanaan
       tugas.

3) Implikasi Penggunaan Gaya Komando

      Standar penampilan sudah mantap dan pada umumnya satu model
       untuk satu tugas.

      Pokok bahasan dipelajari secara meniru dan mengingat melalui
       penampilan.

      Pokok bahasan dipilah-pilah menjadi bagian-bagian yang dapat
       ditiru.

      Tidak ada perbedaan individual: diharapkan menirukan model.

4) Unsur-Unsur Khas Dalam Pelajaran Dengan Menggunakan Metode
   Komando

      Semua keputusan dibuat oleh guru.

      Menuruti petunjuk dan melaksanaan tugas adalah kegiatan utama
       siswa.

      Menghasilkan tingkat kegiatan yang tinggi.

      Dapat membuat siswa merasa terlibat dan termotivasi.
          Mengembangkan perilaku berdisiplin, karena harus menaati
           prosedur yang telah ditetapkan.

    5) Saluran-Saluran Pengembangan

          Menurut mosston, selama masa pembelajaran, setiap orang
           mempunyai kesempatan untuk mengembangkan ketrampilan-
           ketrampilan fisik, sosial, emosional dan kognitifnya.

          Mosston berbicara tentang 4 saluran perkembangan :

          Salran fisik : meningkat dengan pesat selama menggunakan gaya
           komando.

          Saluran sosial : terbatas

          Saluran emosional : terbatas

          Salura kognitif : terbatas

-   Metode Tugas

    Metode resitasi adalah metode penyajian bahan dimana guru memberikan
    tugas tertentu agar siswa melakukankegiatan belajar.

    Metode ini diberikan karena dirasakan bahan pelajaran terlalu banyak ,
    sementara waktu sedikit. Tugas dan resitasi tidak sama dengan pekerjaan
    rumah (PR), tetapi jauh lebih luas.

    Langkah-langkah yang harus diikuti metode tugas dan resitasi adalah :

          Fase Pemberian tugas
               o Tujuan yang akan dicapai
               o Jenis tugas yang jelas dan tepat
               o Sesuai dengan kemampuan siswa
               o Ada petunjuk/sumber yang dapat membantu pekerjaan
                   siswa
                 o Sediakan waktu yangcukup untuk mengerjakan tugas
                     tersebut
             Langkah Pelaksanaan Tugas
                 o Diberikan bimbingan/ pengawasan oleh guru
                 o Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja
                 o Diusahakan /dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak menyuruh
                     orang lain
                 o Dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh
             Fase mempertanggungjawabkan Tugas
                 o Laporan        siswa   baik   lisan/   tertulis   dari apa   yang
                     dikerjakannya
                 o Ada Tanya jawab/diskusi kelas
                 o Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maunpun
                     non tes

Kelebihan Metode ini adalah :

             Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktivitas belajar
              individual ataupun kelompok
             Dapat mengembangkan kemandirian siswa diluar pengawasan guru
             Dapat membina tanggung jwab dan disiplin siswa
             Dapat mengembangkan kreativitas siswa

Kekurangannya adalah :

             Siswa sulit dikontrol mengenai pengerjaan tugas
             Khusunya untuk tugas kelompok, tidak jarang yang aktif
              mengerjakan dan menyelesaikan adalah anggota tertentu saja ,
              sedangkan anggota lainnya tidak berpartisipasi dengan baik
             Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan pervedaan
              individu siswa
             Sering memberikan tugas yang monoton dapat menimbulkan
              kebosanan siswa
   Metode Penemuan ( Discovery)

       Proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep
atau prinsip. Yang dimaksud dengan proses mental adalah mengamati, mencerna,
mengerti, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat
kesimpulan.

Kelebihan metode discovery adalah :

             Mampu membantu siswa untuk mengembangkan, memperbanyak
              kesiapan , serta penguasaan             keterampilan dalam proses
              kognitif/pengenalan siswa
             Dapat membangkitkan kegairahan belajar para siswa
             Mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang
              dan maju sesuai dengan kemampuannya masing-masing
             Mampu mengarahkan cara siswa belajar , sehingga lebih memiliki
              motivasi yang kuat untuk belajar giat
             Membantu siswa untuk memperkuat dan menambah kepercayaan
              pada diri sendiri dengan proses penemuan sendiri
             Berpusat pada siswa tiadk pada guru

Kelemahan metode penemuan ini adalah :

             Siswa harus ada kesiapan dankematangan metal
             Bila kelas terlalu besar penggunaan tehnik ini kurang berhasil
             Bagi guru dan siswa yangsudah biasa dengan perencanaan dan
              pengajaran tradisional mungkin akan sangat kecewa bila diganti
              dengan metode ini
             Proses mental terlalu mementingkan proses pengertian saja ,
              kurangmemperhatikan perkembangan / pembentukan sikap dan
              keterampilann nagi siswa
             Tidak memberikan kesempatan untuk berpikir secara kreatif
Metode Pemecahan Masalah

       Metode ini dikenall sebagai Metode Brainstorming merupakan metode
yang merangsang berpikir dan menggunakan wawasan tanpa melihat kualitas
pendapat yang disampaikan oleh siswa

       Metode ini dapat dilaksankan pabila siswa telh berada pada tingkat yang
lebih tinggi dengan prestasi yang tinggi pula.

Penggunaan metode ini dengan mengikuti langkah-langkah sebagi berikut :

              Adanya masalah yang jelas untuk dipecahkan
              Mencari data atau keterangan       yang dapat digunakan untuk
               memecahkan masalah tersebut
              Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut
              Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut
              Menarik      kesimpulan artinya siswa harus sampai kepada
               kesimpulan terakhir tentang jawaban dari masalah tadi

Kelebihan Metode Pemecahan Masalah :

              Dapat membuat pendidikan sekolah menjadi lebih relevan dengan
               kehidupan khususnya dengan dunia kerja
              Proses belajar mengajar melalui pemecahan masalah dapat
               membiasakan para siswa menghadapi dan memecahkan masalah
               secara terampil ,
              Merangsang pengembangan kemampuan berpikir seiswa secara
               kreatif dan menyeluruh.

Kekurangan Metode ini adalah :

              Mementukan masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan
               tingkat berpikir siswa , sekolah dan kelas serta pengetahuan dan
               pengalaman yang telah dimiliki siswa.
              Seringmemerlukan        waktu      yang     cukup      banyak      dan
               seringmengambil waktu pelajaran lainnya
              Mengubah kebiasaan        siswa belajar dengan mendengarkan dan
               menerima informasi dari guru menjadi belajar dengan banyak
               berpikir memecahkan masalah sendiri atau kelompok

15. INTERAKSI EDUKATIF

       Guru sebagai makhluk sosial selalu membutuhkan kehadiran. Peserta
didiknya. Keberadaan guru selain diri menyebabkan proses hubungan timbal-balik
terjadi secara alamiah. Proses jalinan hubungan terjadi dalam rangkaian upaya
memenuhi kebutuhan. Motif saling membutuhkan yang berbeda-beda jenis
kebutuhan membuat guru dan murit saling melayani. Kecenderungan guru untuk
berhubungan melahirkan komunikasi dua arah melalui bahasa yang mengandung
tindakan dan perbuatan. Oleh karena ada aksi dan reaksi, maka interaksipun
terjadi. Oleh karena itu, interaksi akan berlangsung bila ada hubungan timbal
balik antara dua orang atau lebih. Ilustrasi tentang interaksi diatas adalah interaksi
manusia yang lazim terjadi dalam masyarakat. Hal itu berbeda dengan interaksi
edukatif, interaksi tersebut dilakukan secara alamiah tanpa dilandasi pedoman
tujuan yang mengikat. Mereka melakukan interaksi dengan tujuan masing-masing.
Oleh karena itu, interaksi antara manusia selalu mempunyai motif-motif tertentu
guna memenuhi tuntutan hidup dan kehidupan mereka masing-masing. Interaksi
yang berlangsung antara guru dan peserta didik dapat diubah menjadi “interaksi
yang bernilai edukatif”, yakni interaksi yang dengan sadar meletakkan tujuan
untuk mengubah tingkah laku dan perbuatan seseorang. Interaksi yang bernilai
pendidikan ini dalam dunia pendidikan disebut sebagai “interaksi edukatif”.
Interaksi edukatif harus menggambarkan hubungan aktif dua arah dengan
sejumlah pengetahuan sebagai mediumnya, sehingga interaksi itu merupakan
hubungan yang bermakna dan kreatif. Semua unsur interaksi edukatif harus
berproses dalam ikatan tujuan pendidikan. Oleh karena itu, interaksi edukatif
adalah suatu gambaran hubungan aktif dua arah antara guru dan anak didik yang
berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan.
        Proses interaksi edukatif adalah suatu proses yang mengandung sejumlah
norma. Semua norma itulah yang harus guru transfer kepada anak didik. Oleh
karena itu, wajarlah bila interaksi edukatif tidak berproses dalam kehampaan,
tetapi dalam penuh makna. Interaksi edukatif sebagai jembatan yang
menghidupkan     persenyawaan     antara   pengetahuan     dan   perbuatan,   yang
mengantarkan kepada tingkah laku sesuai dengan pengetahuan yang diterima anak
didik. Dengan demikian dapat dipahami bahwa
interaksi edukatif adalah hubungan dua arah antara guru dan anak didik dengan
sejumlah norma sebagai mediumnya untuk mencapai tujuan pendidikan.


14. GURU YANG EDUKATIF
       Dalam pengertian sederhana, guru adalah orang yang memberikan
pengetahuan kepada anak didik. Sementara anak didik adalah setiap orang yang
menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan
kegiatan pendidikan. Keduanya merupakan unsur paling vital di dalam proses
belajar-mengajar. Sebab seluruh proses, aktivitas orientasi serta relasi-relasi lain
yang terjalin untuk menyelenggarakan pendidikan selalu melibatkan keberadaan
pendidik dan peserta didik sebagai aktor pelaksana. Hal itu sudah menjadi syarat
mutlak atas terselenggaranya suatu kegiatan pendidikan. Tentu saja melihat ciri
khas tujuan tersebut mengindikasikan bahwa iklim dan orientasi belajar -
mengajar selalu mengupayakan terjalinnya transformasi nilai substansi pendidikan
agar sampai pada level pemahaman para murid dengan indikasi terpenuhinya
kriteria peningkatan kemampuan pribadi baik pada ranah kognitif, afektif maupun
psikomotorik. Untuk itu guru diperlukan guru yang edukatif yang mampu
menciptakan interaksi yang dengan sadar meletakkan tujuan untuk mengubah
tingkah laku dan perbuatan seseorang.


5    Agar siswa mendapat pengertian yang lebih jalan yang ditempuh sebagi
seorang pendidik.
Guru memperlukan suatu konsep pembelajaran yang baik dan terarah, agar peserta
didik mampu menyerap apa-apa ysang disampaikan. Hal ini berpengaruh sekali
dengan keadaan peserta didik baik dari aspek mental, emosional dan jasmanial.
Sehingga guru dituntut untuk mampu menjalin komunikasi dan pendekatan yang
baik, aktif dan kondusif.
Selain itu guru juga harus mampu membuat metode pembelajaran yang aktif
sehingga peserta didik tidak bosan dan menikmati ap yang disampaikan. Antara
lain metode tanya jawab, metode ceramah, Diskusi, Observasi, peragaan dan lain-
lain. Sehingga peserta didik mampu memahami materi dengan mudah dan lebih.


4. Jelaskan pengertian aspek mental, emosional dan jasmanial.
Aspek mental yang pada diri manusia adalah aspek-aspek yang dapat menentukan
sifat dan karakteristik manusia itu sendiri. Perbuatan dan tingkah laku manusia
sangat ditentukan oleh keadaan jiwanya yang merupakan motor penggerak suatu
perbuatan. Oleh sebab itu aspek-aspek mental tersebut bisa manusia kendalikan
melalui proses pendidikan.
Aspek Emosi adalah setiap kegiatan atau pengotakan pikiran, perasaan, nafsu,
setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Dan merujuk kepada suatu
perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, sutau keadaan bologis dan psikologis dan
serangkaian kencenderungan untuk bertindak.
Aspek jasmanial adalah setiap kegiatan emosional dan mental melalui perantara
jasmani kita, sehingga merupakan media untuk melakukan semua kegiatn bail
dalam melakukan aspek mental maupun emosional.


10 . interaksi edukatif tidak pernah sepi dari masalah


Ungkapan itu patut ada dan dibicarakan karena interaksi edukatif adalah suatu
yang amat penting dan sentral dalam berjalannya suatu pembelajran berlangsung.
Dan untuk mewujudkan suatu keadaan pembeljaran yang sempurna. Interaksi
edukatif tidak pernah sepi dari masalh sebagai sorotan dalam dunia pendidikan
pembeljaran.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:1554
posted:7/26/2010
language:Indonesian
pages:24
Description: interaksi belajar