Docstoc

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Solutio Plasenta

Document Sample
Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Solutio Plasenta Powered By Docstoc
					ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN SOLUTIO
              PLASENTA




                   OLEH:
         MUHAMMAD LATTIIFUR ROOFII



AKADEMI KEPERAWATAN PERINTAH
    KABUPATEN PONOROGO
            2009
           Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Solutio Plasenta



Solutio Plasenta adalah lepasnya plasenta dengan implantasi normal sebelum

waktunya pada kehamilan yang berusia di atas 28 minggu. (Arif Mansjoer. Kapita

Selekta edisi 3 jilid 1, Media Aeskulapius. 2001).

Solutio Plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri

sebelum janin lahir. (Prof. Dr. Hanifa Wikryosastro. Ilmu Kebidanan Jakarta. PT

Gramedia. 1992 ).

Solutio Plasenta adalah suatu keadaan dalam kehamilan viable, dimana plasenta yang

tempat implantasinya normal (pada fundus atau korpus uteri) terkelupas atau terlepas

sebelum kala III. (Dr. Chrisdiono. M. Achadiat,SP.2003)

Solutio Plasenta adalah pelepasan sebagian atau seluruh plasenta yang normal

implantasinya antara minggu 22 dan lahirnya anak. (Obstetri dan Ginekologi, FKU

Padjadjaran Bandung, 1984)

Nama lain dari Solutio Plasenta adalah:



  * Abrupsio Plasenta

  * Ablasio Plasenta

  * Accidental Haemorarrhge

  * Premature Separation Of The Normally Implanted Placenta



Etiologi Solutio Plasenta

Sebab primer Solutio Plasenta belum jelas, tapi diduga bahwa hal-hal tersebut dapat

disebabkan karena:
 1. Hipertensi dalam kehamilan (penyakit hipertensi menahun, preeklamsia,

eklamsia)

 2. Multiparitas, umur ibu yang tua

 3. Tali pusat pendek

 4. Uterus yang tiba-tiba mengecil (hidramnion, gemelli anak ke-2)

 5. Tekanan pads vena cava inferior

 6. Defisiensi gizi, defisiensi asam folat

 7. Trauma



Disamping itu ada pengaruh:



 1. Umur lanjut

 2. Multi Paritas

 3. Defisiensi ac. Folicum

 4. Defisiensi gizi

 5. Merokok

 6. Konsumsi alkohol

 7. Penyalahgunaan kokain



Patofisiologi Solutio Plasenta

Perdarahan dapat terjadi dari pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk

hematoma pada desidua, sehingga plasenta terdesak dan akhirnya terlepas.

Apabila perdarahan sedikit, hematoma yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan

plasenta, peredaran darah antara uterus dan plasenta belum terganggu, dan tanda serta
gejalanya pun tidak jelas. Kejadiannya baru diketahui setelah plasenta lahir, yang

pada pemeriksaan didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan

darah lama yang berwarna kehitam-hitaman.

Biasanya perdarahan akan berlangsung terus-menerus karena otot uterus yang telah

meregang oleh kehamilan itu tidak mampu untuk lebih berkontraksi menghentikan

perdarahannya. Akibatnya, hematoma retroplasenter akan bertambah besar, sehingga

sebagian dan akhirnya seluruh plasenta terlepas dari dinding uterus. Sebagian darah

akan menyelundup di bawah selaput ketuban keluar dari vagina; atau menembus

selaput ketuban masuk ke dalam kantong ketuban atau mengadakan ekstravasasi di

antara serabut-serabut otot uterus. Apabila ekstravasasinya berlangsung hebat, seluruh

permukaan uterus akan berbercak biru atau ungu. Hal ini disebut uterus Couvelaire,

menurut orang yang pertama kali menemukannya. Uterus seperti itu akan terasa

sangat tegang dan nyeri. Akibat kerusakan jaringan miometrium dan pembekuan

retroplasenter, banyak tromboplastin akan masuk ke dalam peredaran darah ibu,

sehingga terjadi pembekuan intravaskuler di mana-mana, yang akan menghabiskan

sebagian besar persediaan fibrinogen. Akibatnya, terjadi hipofibrinogenemi yang

menyebabkan gangguan pembekuan darah tidak hanya di uterus, akan tetapi juga pada

alat-alat tubuh lainnya. Perfusi ginjal akan terganggu karana syok dan pembekuan

intravaskuler. Oliguria dan proteinuria akan terjadi akibat nekrosis tubuli ginjal

mendadak yang masih dapat sembuh kembali, atau akibat nekrosis korteks ginjal

mendadak yang biasanya berakibat fatal.

Nasib janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus.

Apabila sebagian besar atau seluruhnya terlepas, mungkin tidak berpengaruh sama

sekali, atau mengakibatkan gawat janin.
Waktu, sangat menentukan hebatnya gangguan pembekuan darah, kelainan ginjal, dan

nasib janin. Makin lama sejak terjadinya Solutio plasenta sampai selesai, makin hebat

umumnya komplikasinya

Manifestasi Klinis Solutio Plasenta



 1. Perdarahan pervaginam disertai rasa nyeri di perut yang terus menerus, wama

darah merah kehitaman.

 2. Rahim keras seperti papan dan nyeri dipegang karena isi rahim bertambah dengan

darah yang berkumpul di belakang plasenta hingga rahim teregang (uterus enbois,

wooden uterus).

 3. Palpasi janin sulit karena rahim keras

 4. Fundus uteri makin lama makin naik

 5. Auskultasi DJJ sering negatif

 6. KU pasien lebih buruk dari jumlah darah yang keluar

 7. Sering terjadi renjatan (hipovolemik dan neurogenik)

 8. Pasien kelihatan pucat, gelisah dan kesakitan



Pembagian Solutio Plasenta

Plasenta yang terlepas semuanya disebut Solutio Plasenta Totalis. Plasenta yang

terlepas sebagian disebut Solutio Plasenta Parsial. Plasenta yang terlepas hanya

sebagian kecil pinggir plasenta disebut Ruptura Sinus Marginalis. Solutio Plasenta

dibagi menjadi 3:

a.Solutio Plasenta ringan



  * tanpa rasa sakit
  * pendarahan kurang dari 500cc warna akan kehitam-hitaman

  * plasenta lepas kurang dari 1/5 bagian

  * fibrinogen diatas 250mg %



b.Solutio Plasenta sedang



  * Bagian janin masih teraba

  * Pendarahan antara 500-100cc

  * Terjadi fetal distress

  * Plasenta lepas kurang dari 1/3 bagian



c.Solutio Plasenta berat



  * abdomen nyeri,palpasi janin sukar

  * janin telah meninggal



Komplikasi Solutio Plasenta



 1. Pendarahan dan syok

 2. Hypofibrinogenaemi

 3. Apoplexi uteroplasentair (uterus couvelaire)

 4. Gangguan faal ginjal



Pemeriksaan Penunjang
 1. Laboratorium Hemoglobin, hematokrit, trombosit, waktu protrombin, waktu

pembekuan, waktu tromboplastin parsial, kadar fibrinogen, gen elektrolit plasenta.

CBC, C T, BT, Elektrolit(bila perlu).

 2. Keadaan janin Kardiootokografi, Doppler, Laennec.

 3. USG Menilai letak plasenta, usia kehamilan dan keadaan janin secara

keseluruhan.



Penatalaksanaan Solutio Plasenta

a. Konservatif



  * Hanya untuk Solutio plasenta derajat ringan dan janin masih belum cukup bulan,

apalagi jika janin telah meninggal.

  * Transfusi darah (1x24 jam) bila anemia (HB kurang dari 10,0%).

  * Apabila ketuban telah pecah, dipacu dengan Oksitosin 10 IU dalam larutan Saline

500cc, kemudian ditunggu sampai lahir pervaginan.

  * Bila 1 botol tersebut belum lahir,ulangi dengan 1 botol lagi dan ditunggu sampai

lahir. Dengan langkah ini biasanya sebagian besar kasus dapat diselesaikan dengan

baik (90%), sedangkan bagi yang gagal dapat dilakukan SC emergency.



b. Pengobatan

1). Umum



  * pemberian darah yang cukup

  * pemberian O2

  * pemberian antibiotik
  * pada syok yang berat diberi kortikosteroid dalam dosis tinggi.



2). Khusus

a). Terhadap hypofibrinogenaemi



  * substansi dengan human fibrinogen 10 g atau darah segar.

  * menghentikan fibrinolyse dengan trasylol ( proteinase inhibitor) 200.000 S i.v.

selanjutnya kalau perlu 100.000 S/jam dalam infus.



b). Untuk merangsang diurese : Mannit, Mannitol diurese yang baik lebih dari 30-

40cc/jam.

Pada Solutio plasenta darah dari tempat pelepasan, mencari jalan keluar antara selaput

janin dan dinding rahim dan pada akhirnya keluar dari serviks. Terjadilah pendarahan

keluar atau pendarahan nampak.

Kadang darah tidak keluar tetapi berkumpul di belakang plasenta membentuk

hematom retroplasentair.pendarahan ini disebut pendarahan kedalam atau pendarahan

tersembunyi

Pendarahan juga dapat terjadi keluar tetapi sebagian masuk kedalam ruang amion,

terjadilah pendarahan keluar dan tersembunyi.

Perbedaan Solutio plasenta dengan Pendarahan tersembunyi dan pendarahan keluar :

Pendarahan tersembunyi



  * Pelepasan biasanya komplit

  * sering disertai toksemia

  * hanya merupakan 20% dari Solutio plasenta
Pendarahan keluar



  * Biasanya inkomplit

  * jarang disertai toxaemia

  * merupakan 80% dari Solutio plasenta



Perbedaan Solutio plasenta dengan plasenta previa:

Solutio Plasenta



  * Pendarahan dengan nyeri

  * pendarahan segera disusul partus

  * pendarahan keluar hanya sedikit

  * palpasi sukar

  * bunyi jantung anak biasanya tidak ada

  * pada toucher tidak teraba plasenta tapi ketuban yang terus menerus tegang

  * ada impresi pada jaringan plasenta karena hematom



Plasenta Previa



  * Pendarahan tanpa nyeri

  * pendarahan berulang-ulang sebelum partus

  * pendarahan keluar banyak

  * bagian depan tinggi

  * biasanya ada bunyi jantung
  * teraba jaringan plasenta

  * robekan selaput marginal



3). Obstetris

Pimpinan persalinan pada Solutio plasenta bertujuan untuk mempercepat persalinan

sedapat-dapatnya kelahiran terjadi dalam 6 jam.Alasan ialah:



  * bagian yang terlepas meluas

  * pendarahan bertambah

  * hypofibrinogaenami menjelma dan bertambah



Tujuan ini dicapai dengan:

a. Pemecahan ketuban

Pemecahan ketuban pada Solutio plasenta tidak bermaksud untuk menghentikan

pendarahan dengan segera tetapi untuk mengurangi regangan dinding rahim dan

dengan demikian mempercepat persalinan.

b. Pemberian infus pitocin ialah 5s dalam 500cc glukosa 5%.

c. SC dilakukan



  * kalau serviks panjang dan tertutup

  * kalau setelah pemecahan ketuban dan pemberian oksitosin dalam 2 jam belum

juga his.

  * kalau anak masih hidup
d. Hysterektomi dilakukan kalau ada atonia uteri yang berat yang tidak dapat diatasi

dengan usaha-usaha yang lazim.

				
DOCUMENT INFO