ASKEP TBC PADA ANAK DAN BAYI

Document Sample
ASKEP TBC PADA ANAK DAN BAYI Powered By Docstoc
					ASUHAN KEPERAWATAN TBC     PADA ANAK DAN
                  BAYI




                   OLEH:
         MUHAMMAD LATTIIFUR ROOFII



AKADEMI KEPERAWATAN PERINTAH
    KABUPATEN PONOROGO
            2009
                  TBC PADA ANAK DAN BAYI



PENGERTIAN


        Tuberculosis (sering dikenal sebagai “TB”) adalah penyakit yang disebabkan
oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Umumnya menginfeksi paru-paru,
walaupun dapat pula menginfeksi organ tubuh lainnya (seperti selaput otak, kulit,
tulang, kelenjar getah bening dll).
        Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap
asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam
(BTA). Kuman TBC cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan
hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman
ini dapat dormant, tertidur lama selama beberapa tahun.


PENULARANNYA


        TBC tidak hanya menyerang orang dewasa, tuberkolosis juga bisa menyerang
bayi. Penyebabnya bakteri Mycobacterium tuberculosis ini yang diidap ibunya selama
kehamilan ternyata menular kepada bayinya. Seperti tuberkolosis pada orang dewasa,
mycobacterium tuberculosis juga menyerang berbagai organ, terutama paru-paru
bayi.


        Sumber penularan TBC ke anak adalah orang dewasa, karena TBC pada anak
tidak menular. Penderita TBC bisa berasal dari keluarga penderita BTA positif
(kontak serumah), masyarakat (kunjungan Posyandu), atau pembantu atau pengasuh
anak.dari penderita-penderita yang berkunjung ke Puskesmas maupun yang langsung
ke Rumah Sakit.
       Pada TBC anak, kuman berkembang biak di kelenjar paru-paru. Jadi, kuman
ada di dalam kelenjar, tidak terbuka. Sementara pada TBC dewasa, kuman berada di
paru-paru dan membuat lubang untuk keluar melalui jalan napas. Namun jika
seseorang berhubungan dengan penderita TB belum pasti tertular


       Banyak faktor yang berperan untuk terjadinya infeksi TB.
Faktor sumber penularan, lingkungan, dan faktor daya tahan tubuh.
Tingkat eratnya hubungan (kontak) juga sangat berperan. Makin erat kontak
(dose contact) dan makin lama, makin besar risiko tertular.
       Masa inkubasi (waktu yang diperlukan untuk seseorang menjadi terinfeksi
setelah tertular) bervariasi antara mingguan hingga tahunan, tergantung dari orang itu
sendiri dan jenis infeksinya, apakah primer, progresif, atau reaktivasi.




GEJALA
Gejala umum TBC pada anak:
   1. Berat badan turun selama 3 bulan berturut-turut tanpa sebab yang jelas, dan
       tidak naik dalam 1 bulan meskipun sudah mendapatkan penanganan gizi yang
       baik (failure to thrive).
   2. Nafsu makan tidak ada (anorexia) dengan gagal tumbuh dan berat badan tidak
       naik (failure to thrive) dengan adekuat.
   3. Demam lama/berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifus, malaria atau
       infeksi saluran nafas akut), dapat disertai keringat malam.
   4. Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit. Biasanya multipel,
       paling sering didaerah leher, ketiak dan lipatan paha (inguinal).
   5. Gejala-gejala dari saluran nafas, misalnya batuk lama lebih dari 30 hari
       (setelah disingkirkan sebab lain dari batuk), tanda cairan di dada dan nyeri
       dada.
   6. Gejala-gejala dari saluran cerna, misalnya diare berulang yang tidak sembuh
       dengan pengobatan diare, benjolan (massa) di abdomen, dan tanda-tanda
       cairan dalam abdomen


DIAGNOSA TBC PADA ANAK
Untuk memastikan apakah anak terkena TB perlu dilakukan beberapa tahapan atau
cara untuk menemukan kuman TBC.


1. Tes Mantoux


 Uji TBC, yang biasa disebut sebagai tes Mantoux, merupakan tes tuberkulin pada
 kulit (penyuntikan intra kutan) dengan menggunakan 5 unit derifatif protein
 termurnikan (purified protein derivative, PPD).Uji TBC dalam bentuk lain tidak
 dianjurkan.


 Pembacaan dilakukan 48-72 jam setelah penyuntikan. Uji tuberkulin positif bila:
 1. indurasi > 10 mm (pada gizi baik),atau
 2. > 5 mm pada gizi buruk.




 2. Foto Rontgen




 3. Untuk melihat apakah ada kemungkinan proses TBC. Tapi karena TBC pada anak
 tidak terlalu khas maka hasil rontgen ini tidak bisa dijadikan patokan.




 4. Memeriksa dahak anak di laboratorium, jika terdapat kuman TBC berarti anak
 positif terkena TB.




PENGOBATAN


       Pengobatan dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap awal (intensif) dan tahap
lanjutan. Lama pengobatan , tergantung berat ringannya penyakit.


       Dokter biasanya menganjurkan rawat inap untuk evaluasi awal dan
pengobatan TBC, terutama jika:
       -   Penderita adalah anak kecil
       -   Adanya reaksi obat yang parah
       -   Adanya penyakit lain selain TB

Adapun dosis untuk pengobatan TBC jangka pendek selama 6 atau 9 bulan, yaitu:

   1. 2HR/7H2R2 : INH+Rifampisin setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian
       INH +Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 7 bulan
       (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH).
   2. 2HRZ/4H2R2 : INH+Rifampisin+Pirazinamid: setiap hari selama 2 bulan
       pertama, kemudian INH+Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 4
       bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH).

Pengobatan TBC pada anak-anak jika INH dan rifampisin diberikan bersamaan, dosis
maksimal perhari INH 10 mg/kgbb dan rifampisin 15 mg/kgbb.

Dosis anak INH dan rifampisin yang diberikan untuk kasus


TB tidak berat

   INH               : 5 mg/kgbb/hari

   Rifampisin        : 10 mg/kgbb/hari

TB berat (milier dan meningitis TBC)

   INH               : 10 mg/kgbb/hari

   Rifampisin        : 15 mg/kgbb/hari

   Dosis prednison : 1-2 mg/kgbb/hari (maks. 60 mg)




AKIBAT BILA MINUM OBAT TIDAK TERATUR


       Penyakit tidak akan sembuh atau bahkan menjadi lebih berat.
Penderita (anak) dapat terganggu perkembangan dan pertumbuhannya
Penyakit menjadi makin sukar diobati karena ada kemungkinan kuman TBC menjadi
kebal, sehingga diperlukan obat yang lebih kuat dan lebih mahal. Obat untuk kuman
yang kebal tidak tersedia di semua fasilitas kesehatan.
Perlu waktu lebih lama untuk sembuh.
Penderita dapat juga menularkan kuman yang sudah kebal obat pada orang lain.


PENCEGAHAN
       Pencegahan TB tergantung pada:
   1. Menghindari kontak dengan penderita aktif TBC
   2. Menggunakan obat-obatan sebagai langkah pencegahan pada kasus berisiko
       tinggi
   3. Menjaga standar hidup yang baik
                  KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

1. Riwayat Perjalanan Penyakit

a. Pola aktivitas dan istirahat
Subjektif : Rasa lemah cepat lelah, aktivitas berat timbul. sesak (nafas pendek), sulit
tidur, demam, menggigil, berkeringat pada malam hari.
Objektif : Takikardia, takipnea/dispnea saat kerja, irritable, sesak (tahap, lanjut;
infiltrasi radang sampai setengah paru), demam subfebris (40 -410C) hilang timbul.



b. Pola nutrisi
Subjektif : Anoreksia, mual, tidak enak diperut, penurunan berat badan.
Objektif : Turgor kulit jelek, kulit kering/bersisik, kehilangan lemak sub kutan.



c. Respirasi
Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas, sakit dada.
Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent, mukoid
kuning atau bercak darah, pembengkakan kelenjar limfe, terdengar bunyi ronkhi
basah, kasar di daerah apeks paru, takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru
dan pleural), sesak napas, pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura.),
perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural), deviasi trakeal (penyebaran
bronkogenik).
d. Rasa nyaman/nyeri
Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit, prilaku distraksi, gelisah, nyeri bisa
timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis.



e. Integritas ego
Subjektif : Faktor stress lama, masalah keuangan, perasaan tak berdaya/tak ada
harapan.
Objektif : Menyangkal (selama tahap dini), ansietas, ketakutan, mudah tersinggung.




2.Data Penunjang



a. Kultur sputum: Mikobakterium Tuberkulosis positif pada tahap akhir penyakit.
b. Tes Tuberkulin: Mantoux test reaksi positif (area indurasi 10-15 mm terjadi 48-72
jam).
c. Poto torak: Infiltnasi lesi awal pada area paru atas ; Pada tahap dini tampak
gambaran bercak-bercak seperti awan dengan batas tidak jelas ; Pada kavitas
bayangan, berupa cincin ; Pada kalsifikasi tampak bayangan bercak-bercak padat
dengan densitas tinggi.
d. Bronchografi: untuk melihat kerusakan bronkus atau kerusakan paru karena TB
paru.
e. Darah: peningkatan leukosit dan Laju Endap Darah (LED).
f. Spirometri: penurunan fuagsi paru dengan kapasitas vital menurun



B.DIAGNOSA KEPERAWATAN

   1. Bersihan jalan napas tidak efektif
   2. Gangguan pertukaran gas
   3. Resiko Infeksi
   4. Perubahan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
    5. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi,pengobatan,pencegahan




C.INTERVENSI
1. Bersihan jalan napas tidak efektif
             Tujuan: Mempertahankan jalan napas pasien. Mengeluarkan sekret tanpa
bantuan. Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas.
Berpartisipasi dalam program pengobatan sesuai kondisi. Mengidentifikasi potensial
komplikasi dan melakukan tindakan tepat.
• Intervensi:
a. Kaji fungsi pernapasan: bunyi napas, kecepatan, imma, kedalaman dan penggunaan
otot aksesori..
b. Catat kemampuan untuk mengeluarkan secret atau batuk efektif, catat karakter,
jumlah sputum, adanya hemoptisis.
c. Berikan pasien posisi semi atau Fowler, Bantu/ajarkan batuk efektif dan latihan
napas dalam.
d. Bersihkan sekret dari mulut dan trakea, suction bila perlu..
e. Pertahankan intake cairan minimal 2500 ml/hari kecuali kontraindikasi.
f. Lembabkan udara/oksigen inspirasi..g. Berikan obat: agen mukolitik, bronkodilator,
kortikosteroid sesuai indikasi.

2. Gangguan pertukaran gas
Tujuan: Melaporkan tidak terjadi dispnea. Menunjukkan perbaikan ventilasi dan
oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal. Bebas dari gejala
distress pernapasan.
Intervensi
a. Kaji dispnea, takipnea, bunyi pernapasan abnormal. Peningkatan upaya respirasi,
keterbatasan ekspansi dada dan kelemahan.
b. Evaluasi perubahan-tingkat kesadaran, catat tanda-tanda sianosis dan perubahan
warna kulit, membran mukosa, dan warna kuku.
3. Resiko infeksi
Tujuan: Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko penyebaran
infeksi. Menunjukkan/melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan
lingkungan yang. aman.
• Intervensi
a. Review patologi penyakit fase aktif/tidak aktif, penyebaran infeksi melalui bronkus
pada jaringan sekitarnya atau aliran darah atau sistem limfe dan resiko infeksi melalui
batuk, bersin, meludah, tertawa., ciuman atau menyanyi.
b. Identifikasi orang-orang yang beresiko terkena infeksi seperti anggota keluarga,
teman, orang dalam satu perkumpulan.
c. Anjurkan pasien menutup mulut dan membuang dahak di tempat penampungan
yang tertutup jika batuk.
d. Gunakan masker setiap melakukan tindakan.
e. Monitor temperatur.
f. Identifikasi individu yang berisiko tinggi untuk terinfeksi ulang Tuberkulosis paru,
seperti: alkoholisme, malnutrisi, operasi bypass intestinal, menggunakan obat
penekan imun/ kortikosteroid, adanya diabetes melitus, kanker.
g. Tekankan untuk tidak menghentikan terapi yang dijalani.
Rasional: Periode menular dapat terjadi hanya 2-3 hari setelah permulaan kemoterapi
jika sudah terjadi kavitas, resiko, penyebaran infeksi dapat berlanjut sampai 3 bulan.
h. Pemberian terapi INH, etambutol, Rifampisin.
i. Pemberian terapi Pyrazinamid (PZA)/Aldinamide, para-amino salisik (PAS),
sikloserin, streptomisin.
Rasional: Obat-obat sekunder diberikan jika obat-obat primer sudah resisten.
j. Monitor sputum BTA
Rasional: Untuk mengawasi keefektifan obat dan efeknya serta respon pasien
terhadap terapi.



4. Perubahan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Tujuan: Menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai
laboratoriurn normal dan bebas tanda malnutrisi. Melakukan perubahan pola hidup
untuk meningkatkan dan mempertahankan berat badan yang tepat.
• Intervensi:
a. Catat status nutrisi paasien: turgor kulit, timbang berat badan, integritas mukosa
mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus, riwayat mual/rnuntah atau diare.
b. Kaji pola diet pasien yang disukai/tidak disukai..c. Monitor intake dan output
secara periodik. d. Catat adanya anoreksia, mual, muntah, dan tetapkan jika ada
hubungannya dengan medikasi. Awasi frekuensi, volume, konsistensi Buang Air
Besar (BAB).
e. Anjurkan bedrest.
f. Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernapasan.
g. Anjurkan makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat.
h. Rujuk ke ahli gizi untuk menentukan komposisi diet.
i. Konsul dengan tim medis untuk jadwal pengobatan 1-2 jam sebelum/setelah makan.
j. Awasi pemeriksaan laboratorium. (BUN, protein serum, dan albumin).
k. Berikan antipiretik tepat.

5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan.
Tujuan: Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis dan kebutuhan
pengobatan. Melakukan perubahan prilaku dan pola hidup unruk memperbaiki
kesehatan umurn dan menurunkan resiko pengaktifan ulang luberkulosis paru.
Mengidentifikasi gejala yang mernerlukan evaluasi/intervensi. Menerima perawatan
kesehatan adekuat.
• Intervensi
a. Kaji kemampuan belajar pasien misalnya: tingkat kecemasan, perhatian, kelelahan,
tingkat partisipasi, lingkungan belajar, tingkat pengetahuan, media, orang dipercaya.
b. Identifikasi tanda-tanda yang dapat dilaporkan pada dokter misalnya: hemoptisis,
nyeri dada, demam, kesulitan bernafas, kehilangan pendengaran, vertigo.
c. Tekankan pentingnya asupan diet Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP) dan intake
cairan yang adekuat.
d. Berikan Informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan misalnya: jadwal minum
obat.
e. jelaskan penatalaksanaan obat: dosis, frekuensi, tindakan dan perlunya terapi dalam
jangka waktu lama. Ulangi penyuluhan tentang interaksi obat Tuberkulosis dengan
obat lain.
f. jelaskan tentang efek samping obat: mulut kering, konstipasi, gangguan
penglihatan, sakit kepala, peningkatan tekanan darah
g. Anjurkan pasien untuk tidak minurn alkohol jika sedang terapi INH.
h. Rujuk perneriksaan mata saat mulai dan menjalani terapi etambutol.. k. Anjurkan
untuk berhenti merokok.




D.EVALUASI
a. Keefektifan bersihan jalan napas.
b. Fungsi pernapasan adekuat untuk mernenuhi kebutuhan individu.
c. Perilaku/pola hidup berubah untuk mencegah penyebaran infeksi.
d. Kebutuhan nutrisi adekuat, berat badan meningkat dan tidak terjadi malnutrisi.
e. Pemahaman tentang proses penyakit/prognosis dan program pengobatan dan
perubahan perilaku untuk memperbaiki kesehatan
                             DAFTAR PUSTAKA


www.rumahkusorgaku.wordpress.com
www.tbcindonesia.or.id
www.sehatgroup.web.id
http://www.smallcrab.com/kesehatan/25-healthy/457-sekilas-mengenal-tuberkolosi
http://www.childparentingskills.info/2009/06/mengenali-tbc-pada-anak-sejak-
dini.htm

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:6346
posted:7/25/2010
language:Indonesian
pages:13