Docstoc

ASKEP Acute Myeloproliferative Leukemia

Document Sample
ASKEP Acute Myeloproliferative Leukemia Powered By Docstoc
					 ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN Acute
Myeloproliferative Leukemia (AMLL) atau Acute Non lymphocytic
                       Leukemia (ANLL)




                            OLEH:
                MUHAMMAD LATTIIFUR ROOFII



   AKADEMI KEPERAWATAN PERINTAH
       KABUPATEN PONOROGO
               2009
   Acute Myeloproliferative Leukemia (AMLL) atau Acute Non
                lymphocytic Leukemia (ANLL)

Acute Nonlymphocytic Leukimia (ANLL) atau Acute Myeloproliferative
Leukemia (AMLL) adalah penyakit maligna yang progressif terhadap
jaringan hematopoetic dan menyebabkan kerusakan stem cell. Ini
dikarakteristikan oleh perdominan dari sel marrow immature yang
menghalangi diferensiasi atau sebagian diferensiasi dari maturasi
dengan atau tanpa keterlibatan dari darah di sekitarnya. Normalnya
elemen myeloid menurun jumlahnya, tetapi pada penyakit ini didapat
sel-sel leukemia dan bahkan berubah jika proliferasi maligna tidak
terkontrol. Acute Acute Nonlymphocytic Leukimia (ANLL) merupakan
penyakit yang fatal. Kematian biasanya disebabkan oleh efek dari
pansitopenia (anemia, bleeding dan penurunan kekebalan terhadap
infeksi). Acute Nonlymphocytic Leukimia (ANLL) ditemukan terhadap
orang dewasa tetapi penyakit ini juga ditemukan pada semua umur.
Factor predisposisi pada laki-laki.

Penyebab dari Acute Nonlymphocytic Leukimia (ANLL) tidak jelas
dan merupakan kombinasi atau interaksi dari berbagai factor:

   * Radiasi Peran paparan radiasi menjadi factor berkembanganya
leukemia. Factor resikonya adalah:

  1. Seseorang yang bekerja diradiologi klinik tanpa menggunakan
pengaman yang standar.
  2. Pasien yang mendapatkan terapi radiasi terhadap ankylosing
spondylitis dibandingkan pasien lain dengan penyakit yang sama
tetapi tanpa mendapat radiasi.
  3. Seseorang yang selamat terhadap peristiwa Hirosima dan
Nagasaki.

Masing-masing factor    tersebut   mempunyai    insiden   terhadap
peningkatan leukemia.

   * Zat-zat kimia Obat-obatan dan terapi kimia dapat menyebabkan
depresi atau aplasia dari bone marrow yang memungkinkan
menyebabkan leukemia dan disebut leukemogens. Beberapa dari
cloramphenicol, phenylbutazone, komponen arsenic, sulfonamide,
dan beberapa insekstisida juga agen sitotoksik yang digunakan untu
terapi neoplasma mempunyai potensial terhadap leukemogens.
Termasuk phenylalanine mustard dan cyclophospamide digunakan
untuk terapi multiple myeloma, agen alkylating digunakan untuk
terapi beberapa tipe kanker termasuk penyakit Hodgkin, dan
immunosuppressant untuk terapi penyakit immunoinflammatory.
Benzena juga diketahui dengan jelas sebagai penyebab kanker.
   * Genetik Penyimpangan dari kromosom termasuk aneuploidy dan
kerusakan ditunjukkan dengan beberapa penyakit yang berhubungan
dengan peningkatan insiden Acute Nonlymphocytic Leukimia (ANLL).
Penyakit-penyakit tersebut termasuk Down syndrome (trisomy 21),
Fanconi’s syndrome (kerusakan kromosom yang berlebihan), Bloom
syndrome (kerusakan nilai kromosom dan rearrangement) dan D-
trisomy. Leukimia congenital biasanya nonlympositik. Penelitian
menunjukkan riwayat keluarga dengan leukemia juga mempunyai
factor genetic penyebab leukemia akut.
   * Virus Tidak ada kesimpulan terhadap pernyataan bahwa virus
merupakan penyebab leukemia pada manusia. Walaupun demikian
ada beberapa hasil penelitian yang menyokong teori virus sebagai
penyebab leukemia antara lain : enzim reverse transciptase
ditemukan dalam darah penderita leukemia. Seperti diketahui di
dalam virus onkogenik seperti retrovirus tipe-C, yaitu jenis virus RNA
yang menyebabkan leukemia pada binatang. Enzim tersebut
menyebabkan virus yang bersangkutan dapat membentuk bahan
genetic yang kemudian bergabung dengan genom sel yang terinfeksi.


Klasifikasi Acute Myeloproliferative Leukemia (AMLL) atau Acute
Non lymphocytic Leukemia (ANLL)
FAB (French-American-British) membagi Acute Myeloproliferative
Leukemia (AMLL) menjadi 6 jenis:
Mo : leukemia mieloblastik dengan minimal diferensiasi
M1 : leukemia mieloblastik tanpa pematangan
M2 : leukemia mieloblastik dengan berbagai derajat pematangan.
M3 : Leukimia promielositik hipergranuler.
M4 : Leukimia mielomonositik
M5 : Leukimia monoblastik
M6 : Eritroleukimia

Manifestasi klinik

  1. Anemia: Pallor, Letargy, Dyspneu, Fatigue, Kelemahan
  2. Neutropenia: Fever, Malaise, Infeksi
  3. Trombositopenia: Hemorrage, Memar/bruising, Petekia, Purpura,
Epistasis, Perdarahan gusi, Menorragi
  4. Inflitrasi organ: Nyeri tulang, Splenomegaly, Hepatomegaly,
Lympadenopathy, Hipertrofi gusi, Infiltrasi kulit, Ulcerasi membrane
mukosa, Syndrome meningeal; Headache Mual Muntah

Penatalaksanaan
Sampai saat ini belum ditemukan bentuk perawatan yang
memuaskan untuk penderita Acute Nonlymphocytic Leukimia (ANLL).
Berbagai kombinasi obat termasuk sitosin arabinosid, daunomisin,
vinkristin, 6-azauridin, 6-tioguanin dan 6-merkaptopurin dapat
menginduksi remisi pada sekitar 75% penderita. Rejimen yang paling
efektif menyertakan sitosin arabonosid dan daunomisin. Seperti pada
LLA, SSP dapat merupakan tempat relaps Acute Nonlymphocytic
Leukimia (ANLL). Frekuensi relaps SSP sebagai tanda awal reaktovasi
penyakit, dapat dikurangi dengan profilaksis, namun karena
seringnya relaps dini darah dan sumsum tulang, tindakan profilaksis
pada SSP tidak memperpanjang angka kelangsungan hidup
penderita.

Untuk terapi lanjutan (maintainance) dianjurkan beberapa rejimen
yang dapat memperpanjang remisi komplit. Tidak satupun dari
rejimen-rejimen ini lebih unggul dari lainnya. Beberapa rejimen
imunoterapi non spesifik menggunakan BCG dengan atau tanpa sel-
sel alogenik leukemik. Namun imunoterapi demikian menunjukkan
keuntungan yang nyata walaupun juga tidak menimbulkan efek yang
buruk.
Pemanfaatan sumsum tulang pada penderita dengan donor yang
sesuai, saat ini tengah diteliti. Komplikasi yang terjadi adalah GVHD
(Graft Versus Host Disease) yaitu limfosit T dari donor marrow
merusak sel lymphohemopoietic dari resipien.
Pada pasien leukemia promielositik akut, pemberian rejimen yang
terdiri dari sitosin arabinosid, daunomisin dan heparin pada awal
induksi remisi, berhasil mengatasi kecenderungan koagulasi
intravaskuler tersebar (DIC) dan timbulnya perdarahan. Beberapa
penderita dapat mencapai masa bebas penyakit jangka panjang.

Prognosis
Umumnya buruk, hingga sukar untuk membedakan tanda-tanda
prognostic spesifik. Tampilan sitologik awal tidak membantu
meramalkan prognosis, kecuali pada penderita leukemia promielositik
akut. Prognosis yang lebih baik bila jumlah leukosit pada saat
diagnosis, kurang dari 10.000/mm3, demikian pula bila jumlah
trombosit lebih dari 10.000/mm3. Dengan rejimen terapi mutakhir,
lama remisi (median) berkisar antara 1,5 sampai 2 tahun. Kurang
dari 30% penderita mencapai remisi lengkap kontinyu jangka
panjang; remisi demikian jarang mencapai 5 tahun

Diagnosa keperawatan
1. PK anemia
2. Nyeri akut
3. Resiko infeksi
4. Fatigue/kelelahan b.d kondisi fisik yang menurun, anemia,
penyakit yang dialami.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:685
posted:7/25/2010
language:Indonesian
pages:4