Docstoc

3 Bukti Logis

Document Sample
3 Bukti Logis Powered By Docstoc
					3 Bukti Logis & Faktual Allah swt Bukan Tuhan
Diterbitkan Desember 10, 2009 Artikel Menarik , Sejarah 37 Comments
Tags: allah swt, bulan sabit, dewa bulan, islam, kabah, mesjid, muhammad, muslim



Oleh : Duladi

Saya katakan MUSLIM itu GOBLOK, karena sudah jelas kalau allah swt yang mereka
sembah sesungguhnya bukanlah TUHAN tapi berhala, namun mereka masih saja
menutup mata dan tetap membohongi pikiran mereka sendiri kalau allah swt adalah
Tuhan. (Islam biasanya suka mengejek orang Nasrani karena mempertuhankan
manusia. Lebih goblok lagi, orang yang mempertuhankan batu!)

Saya boleh katakan, bangsa Arab sebenarnya tidak berniat menipu, mereka sendiri justru
tertipu oleh keprimitifan nenek moyang mereka yang menganggap batu hajar aswad
sebagai Tuhan. Mereka sendiri begitu yakin, sangat-sangat yakin, kalau batu itu adalah
Tuhan.
Hal ini tidak aneh, karena bila kita tilik dari sejarah bangsa-bangsa kuno, terutama
mereka yg begitu terbelakang, mereka mempercayai JIMAT, batu bertuah atau batu
jeda sebagai “DZAT” yang memiliki kekuatan supranatural (adikodrati) dan dapat
mempengaruhi kelangsungan jagat raya ini, termasuk hidup matinya makhluk hidup.

Maka kita akhirnya dapat mengerti dan menerima kegoblokan bangsa Arab itu, bahwa
mereka sesungguhnya sadar bahwa yang mereka sembah itu adalah batu, namun mereka
dengan senang hati melakukannya karena bagi mereka, batu itu adalah TUHAN SANG
PENCIPTA (wujud dari berhala dewa bulan sabit). Mereka tidak merasa diri mereka
goblok, karena otak mereka yang primitif.

Bila kita sebagai bangsa Indonesia yang sebenarnya telah memiliki peradaban lebih
tinggi dan lebih pintar dari bangsa primitif Arabia itu, malah mengikuti pola berpikir,
mengadopsi keprimitifan mereka, yaitu ikut-ikutan bangsa primitif itu dengan turut
melakukan penyembahan kepada batu, berarti kita sebagai bangsa Indonesia adalah
bangsa yang SANGAT GOBLOK.

Biarkan Arab punya tuhannya sendiri. Awloh adalah tuhan lokal mereka, biarkan mereka.
Mereka mau meyakini batu sebagai Tuhan, itu urusan mereka sendiri. Tapi sangatlah
GOBLOK bila kita yang lebih tinggi budayanya dari mereka malah ikut-ikutan bangsa
primitif itu.

Memang kita tidak bisa memungkiri, nabi mereka memang secara sengaja hendak
menjadikan tuhan lokal mereka menjadi tuhan universal, dengan cara memaksa bangsa-
bangsa lain untuk turut menyembahnya. Secara psikologis, bila awloh disembah di
seluruh dunia berarti derajat bangsa Arab akan terangkat pula, dan itu memberi
keleluasaan bangsa Arab untuk dapat berkuasa penuh di bumi. Itu secara umum; dan
secara khususnya, dengan mengorbitkan awloh sebagai satu-satunya sesembahan yg
agung, berarti mengangkat citra bani Quraish (penduduk kota Mekkah) sebagai suku
yang terhormat.

Anda bisa bayangkan, sewaktu seluruh dunia mengucapkan kalimat: “Laa illa ha
illalaaa…. Laa illa ha illalaaa….” Betapa bangganya orang Quraish, nama sesembahan
mereka diakui dan dipuja-puja.

Mereka yang pintar, kita yang goblok.

Maka dari itu, tanpa perlu banyak argumentasi/pendapat lagi, saya akan suguhkan bukti-
bukti logika kenapa MUSLIM itu GOBLOK.

Perhatikan ini!

1. Ke arah mana kiblat sholatmu? Ke Kaabah, di mana disitulah ditempatkan batu
“awloh” sembahan Quraish. Jadi, yang kamu sembah bukan SANG PENCIPTA,
tapi tuhannya Quraish, penduduk kota Mekkah.




Perhatikan juga ucapan nabi gadungan ini:

QS. 27 An Naml: 91
“Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (awloh sembahan
Quraish Mekkah) Yang telah dijadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu,
dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Awloh beda dengan Tuhan Yahudi & Nasrani:

Surat ALBAQARAH (2:62)
Sesungguhnya orang-orang mu‟min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan
orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada
Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan
mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Siapakah awloh? Awloh adalah batu hajar aswad, “Tuhan” bagi suku Quraish. Sebelum
Muhammad memproklamirkan diri sebagai nabinya awloh, batu hajar aswad sudah
demikian dikultuskan, dan menjadi salah satu penghuni Kaabah di samping 359 berhala
lain sembahan suku-suku di Arab.




                                  Ini dapat kita ketahui dari riwayat pengangkatan batu
tersebut sewaktu Kaabah rusak ditimpa banjir besar. Ingat! Waktu itu Muhammad belum
jadi “nabi”. Suatu ketika di saat Muhammad berusia 35 tahun, Kaabah rusak ditimpa
banjir. Orang-orang bersepakat membangun kembali kuil itu, tidak ketinggalan
Muhammad. Ketika sampai pada saat mengembalikan Hajar Aswad (Batu Keramat
berwarna Hitam) ke tempatnya semula, timbul kericuhan. Masing-masing merasa lebih
berhak mendapat kehormatan mengerjakan hal itu. Orang bersitegang, hingga seluruh
pekerjaan terhenti karenanya. Akhirnya dimufakati untuk menyerahkan keputusan
persoalan kepada barangsiapa yang esok harinya paling dahulu berada di Masjid al
Haram. Ternyata orang itu ialah Muhammad, padahal dia tidak sengaja berusaha datang
lebih pagi. Kemudian, Muhammad membeberkan selembar kain, mengangkat dan
meletakkan batu keramat itu di atas kain tersebut. Kemudian para kepala
keluarga/kelompok/ kafilah/orang terkemuka diajak beramai-ramai mengangkat dan
membawa kain itu ke tempat di mana batu hitam akan diletakkan dan Muhammad sendiri
meletakkannya di atas tempatnya semula. Sejak saat itu Muhammad mendapat tempat
terhormat di hati orang-orang Mekah. Kewibawaan Muhammad naik di mata rakyat. Dan
sejak saat itu pula, Muhammad semakin sering bersemedi di dalam gua angker, sebuah
gua yang sempit dan gelap gulita, namanya gua Hira. Untuk memasuki gua tersebut,
orang harus merangkak. Gua itu terletak di bukit Hira ±9km dari Mekah.

Baca juga di:

Samakah ALLAH SWT dengan Tuhannya Ibrahim dan para nabi?
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=22064

2. Simbol apa yang terpasang di atap rumah ibadatmu? Bulan Sabit. Awloh adalah
dewa bulan, yg simbolnya adalah bulan sabit. Ini sudah cukup dikenal oleh bangsa-
bangsa primitif di Timur Tengah sejak ribuan tahun yg lalu sebelum si Mamad
lahir.




Gbr 5. Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun, di atasnya terdapat lambang bualn
sabit (bdg. Gbr 6 & 7).
Gbr 6: Lambang bulan sabit yang
terdapat pada masjid-masjid di zaman   Gbr 7. Perunggu bulan sabit ditemukan di
sekarang (Bdg. Gbr 5 & 7).             benteng kuno Asyiria yang berusia 3000 tahun.
                                       Bulan sabit adalah simbol dewa bulan Asyiria.

Catatan: Lambang dewa bulan sabit memiliki bentuk yang persis sama dengan bulan
yang ada di atas Ka‟bah masjid.




Gbr 8. Raja Nabonidus, di atasnya terdapat
                                                  Gbr 9. Dewa bulan sabit, simbolnya
gambar bulan sabit yang pada masa ini terdapat di
                                                  adalah bulan sabit.
masjid-masjid.
Gambar ini diperoleh dari situs ISLAM TULEN: Arrahmah.com
3. Ritual apa yang dilakukan oleh para calon haji di Mekkah? Sebelum muter-
muter kaabah, sebisa mungkin mereka melakukan sunnah Muhammad yaitu
menciumi “awloh”. Dan sebelum mencium awloh, mereka mengucapkan: “Ya
awloh, aku penuhi panggilanmu.” Hal itu dicontohkan Muhammad ketika dia
melakukan ibadat haji:

Hadits Sahih Bukhari Volume 2, Book 26, Number 673:
Dikisahkan oleh Salim bahwa ayahnya berkata :
Aku melihat Rasul Allah tiba di Mekah; mula2 dia mencium batu hitam (hajar aswad)
ketika akan melakukan tawaf dan berlari-lari kecil di tiga putaran (tawaf) pertama dari
tujuh kali putaran (tawaf)

MUWATTA, Book 20, Number 20.33.113:
Yahya bercerita padaku dari Malik apa yang dia dengar bahwa ketika Rasul Allah SAW
telah selesai Tawaf Kabah, sholat dua rokaat, dan ingin berangkat ke Safa dan Marwa,
dia akan memberi hormat ke sudut tempat Batu Hitam berada sebelum berangkat.

BATU HITAM “awloh” itu begitu penting dalam ritual haji muhammad di
mekah….Pertama, dia cium itu batu hitam, terus berlari keliling kabah TIGA KALI…trus
berjalan keliling kabah EMPAT KALI!…

MUSLIM, Book 007, Number 2832:
Abdullah b. „Umar (Allah be pleased with them) melaporkan: Rasul Allah (mpbuh)
mengamati Tamattu‟ in Hajjat-ul-Qada‟, Pertama-tama dia pakai Ihram utk Umroh dan
kemudian utk Haji, dan lalu memberi korban binatang. Jadi dia bawa binatang kurban
itu bersamanya dari Dhu‟l-Hulaifa. Rasul Allah (mpbuh) memulai Ihram utk Umroh dan
dg demikian mengumumkan juga Talbiya utk Umroh. Lalu (memakai Ihram utk Haji) dan
mengumumkan Talbiya utk Haji. Dan orang2 melakukan Tamattu‟ ditemani Rasul Allah
(mpbuh). Mereka memakai Ihram utk Umroh (pertama tama) dan kemudian yang untuk
Haji. Beberapa dari mereka membawa binatang kurban. Jadi ketika Rasul Allah (mpbuh)
datang ke Mekah, dia bilang pada orang2: Dia yang membawa serta binatang kurban
tidak boleh menganggap apapun yang tidak hak baginya menjadi hak baginya sampai
dia menyelesaikan Haji; dan dia, yang tidak membawa binatang kurban harus
mengelilingi Kabah dan berlari diantara al-Safa‟ dan al-Marwa dan memotong
(rambutnya) dan melepas Ihram lalu memasang Ihram utk berhaji dan memberi kurban.
Tapi dia yang tidak menemukan kurban, harus melakukan puasa selama tiga hari selama
haji dan tujuh hari ketika dia kembali kepada keluarganya. Rasul Allah (mpbuh)
mengelilingi (kabah) ketika dia sampai di Mekah: Dia pertama-tama mencium sudut
(Kabah yang ada batu Hitam), lalu berlari tiga keliling dari tujuh dan berjalan empat
keliling. Dan lalu ketika dia selesai mengelilingi Kabah dia melakukan sholat dua rokaat
pada station (ibrahim), lalu mengucap Salaam (karena selesai Rokaat), dan berangkat ke
al-Safa‟ dan berlari tujuh kali antara al-Safa‟ dan al-Marwa. Setelah itu dia tidak
memperlakukan apapun sebagai hak segala sesuatu yang bukan hak sampai dia
melengkapi hajinya dan mengurbankan kurban dihari kurban (hari ke-10 Dhu‟l-Hijja).
Dan lalu kembali secepatnya (ke Mekah) dan mengelilingi Kabah (dikenal sebagai tawaf
ifada) setelah itu semua yang bukan hak baginya menjadi hak. Dan mereka yang
membawa hewan kurban bersama mereka melakukan apa yang dilakukan Rasul Allah
(mpbuh). Hadis ini diriwayatkan atas otoritas Aisha. Istri dari Rasul Allah (mpbuh),
mengenai Tamattu dari Haji dan Umrah dan bagaimana melakukan Tamattu oleh para
sahabat.

Ada lagi ritual selain mencium dan menghormat BATU HITAM “awloh”. muhammad
juga sering menunjuk menggunakan tongkat ke arah BATU HITAM seraya meneriakkan,
„allahuakbar‟!…

BUKHARI, Volume 2, Book 26, Number 677:
Diriwayatkan oleh Ibn Abbas.:
Dalam Haji Terakhirnya nabi melakukan Tawaf Kaba dengan naik unta dan menunjuk
sudut (kabah yg ada batu hitam) dengan tongkat yang berujung bengkok.

BUKHARI, Volume 2, Book 26, Number 697:
Diriwayatkan oleh Ibn Abbas.:
Rasul Allah melakukan Tawaf (kabah) dengan naik unta (saat itu kaki nabi sedang
terluka). Ketika sampai ke sudut (yang ada batu hitam) dia menunjuk kearah batu itu
memakai sesuatu pada tangannya dan berkata, “Allahu-Akbar.”




Calon haji cium batu

Hadis Sahih Muslim 1190
“Tatkala Rasulullah SAW tiba di Mekah, mula-mula beliau datangi Hajar Aswad lalu
beliau mencium.”

Hadis Sahih Muslim 1150
Sebelum mencium Hajar Aswad itu, Muhammad mengucapkan:
“Labbaik allahuma labbaik” yang berarti : “Ya Allah atas panggilanMu aku datang
kepadaMu.”
ABU DAWUD, Book 10, Number 1813:
Diriwayatkan Abdullah ibn Abbas:
Nabi (pbuh) berkata: Orang yang melakukan umrah harus berteriak talbiyah sampai dia
menyentuh Batu Hitam.

[Talbiyah = "Ya Allah, aku datang memenuhi undanganmu. Tiada sekutu bagimu..."]
Berdasarkan 3 (tiga) bukti logis ini, maka tak dapat disangkal lagi, bahwa MUSLIM itu
memang GOBLOK.
Sudah jelas-jelas allah swt itu bukan Tuhan, tapi masih diyakininya sebagai Tuhan.
Kalau orang Arab yang menganggap allah swt itu Tuhan, ya biarkan saja mereka, kenapa
kita yang lebih cerdas dan lebih pintar dari mereka malah ikut-ikutan mereka?

Kita harus lawan habis-habisan, setiap usaha kacung-kacung Arab untuk menyebarkan
Islam. Karena jelas ini adalah usaha penggoblokan, dan kita yang tidak ingin diri kita
digobloki, kita harus dengan tegas menolaknya.

Kalau mereka tetap memaksa kita menyembah batu, kita harus siap dengan PERANG
DUNIA KETIGA, karena membiarkan Arab tetap eksis sama saja membiarkan virus
berbahaya nongkrong di bumi kita. Tidak ada cara yang lebih jitu selain menuklir
Kaabah, sarang berhala itu.

                ────────────────────────────────

RINGKASAN:

3 BUKTI LOGIS DAN FAKTUIL YANG TIDAK TERBANTAHKAN :

    1. Arah Kiblat ke Kaabah, menunjukkan bahwa sesembahan Muslim adalah
       berhalanya Quraish.
    2. Simbol bulan sabit, adalah simbol DEWA BULAN.
    3. Ritual cium batu oleh para calon haji, yg diikuti dg seruan “Ya allah, aku
       datang kepadamu.”

-

    1. Kaabah, sebelum dibersihkan oleh Muhammad, berisi 360 berhala. Satu di
       antaranya adalah Allah taala yg wujudnya BATU. Orang Quraish yg primitif itu
       menganggap BATU tersebut adalah TUHAN SANG PENCIPTA. Demikianlah
       pandangan bodoh itu terus diadopsi hingga sekarang, tapi dikaburkan supaya
       tidak diketahui oleh dunia bahwa allah taala itu sebenarnya cuma sebuah batu.
    2. Bangsa-bangsa kuno di Mesopotamia menyembah DEWA BULAN, simbolnya
       BULAN SABIT. Dan sekarang Arab memakai simbol tersebut untuk agamanya,
       masihkah Anda mengelak dari kenyataan ini?
    3. Batu Hajar Aswad dicium, lalu diikuti seruan: “Ya allah, aku datang kepadamu”.
       Masihkah Anda membantah kalau batu itu bukan allah?
Catatan:
Saya tidak seharusnya mengotak-atik masalah ketuhanan mereka, seandainya “apa” yang
disebut tuhan oleh mereka itu tidak mengajarkan kebiadaban dan kekejian kepada umat
manusia.

Tapi karena “apa” yang disembah oleh mereka itu membawa dampak yg buruk bagi umat
manusia, maka “apa” sesungguhnya sesembahan mereka perlu kita ekspos habis-habisan,
bila perlu kita permalukan dan kita hina habis-habisan.

Pesan:
Biarkan orang mau menyembah apapun, asal “benda” itu tidak mengajarkan kebiadaban
dan kekejian bagi umat manusia.

Tapi terhadap “benda” yang sudah jelas-jelas berdampak negatif, tidak ada toleransi buat
“benda” seperti itu kecuali kita hancurkan.

Pertanyaan-pertanyaan:

Jika BATU HITAM itu AWLOH, kenapa ditempatkan di luar Kaabah, bukan di
dalamnya?

Masih ingat dengan istilah “PENUNGGU KAABAH”? Bangsa Arab percaya bahwa
awloh menjaga “RUMAH”-nya dengan cara berdiri di salah satu sudut rumahnya. Di
samping itu, awloh tidak sendirian, dia juga dikawal oleh 8.888 jin, yang diberi nama
“Huda Al-Fitiri”. Jadi, menempatkan batu “awloh” di luar, terutama di salah satu sudut
bangunan Kaabah memiliki arti “MENJAGA” atau “MENUNGGUI RUMAHNYA”.
Jika BATU HITAM yg ukurannya kecil itu AWLOH, bukankah ini bertentangan
dengan konsep “ALLAHU-AKBAR”?

Bangsa Arab tidak memandang ukuran fisiknya. Pengertian dari “akbar” di sini bukan
menyatakan ukuran fisiknya, tapi kekuasaannya. Bangsa Arab meyakini, walaupun awloh
“seukuran batu” namun kekuasaannya meliputi seluruh alam semesta. Itulah kenapa ada
mitos “ALLAHU-AKBAR”.

Muhammad sendiri memahami konsep tersebut, seperti terlihat dari hadist berikut ini:

BUKHARI, Volume 2, Book 26, Number 697:
Diriwayatkan oleh Ibn Abbas.:
Rasul Allah melakukan Tawaf (kabah) dengan naik unta (saat itu kaki nabi sedang
terluka). Ketika sampai ke sudut (yang ada batu hitam) dia menunjuk ke arah batu itu
memakai sesuatu pada tangannya dan berkata, “Allahu-Akbar.”

Jika BATU HITAM itu awloh, kenapa Muhammad tidak berterus-terang menulis
dalam Qurannya kalau awloh itu berwujud batu?

Walaupun bangsa Arab itu primitif, namun mereka tidak bodoh-bodoh amat. Mereka juga
dekat dan berinteraksi dengan agama-agama lain, terutama dengan agama-agama kitab
seperti Yahudi dan Nasrani. Tentu saja bangsa Arab akan merasa malu bila sampai dunia
tahu kalau awloh itu cuma sebuah batu. Walau begitu, mereka tetap tidak bisa
menyembunyikan identitas awloh sembahan mereka itu sebagai batu secara sempurna.
Mereka masih menyebut awloh sebagai “DZAT” (benda wujud). Bangsa Arab
menganggap Tuhan itu “DZAT” yang unique, distinct dan absolut (berbeda sendiri, tidak
ada yang menyamai bentuknya, dan tidak bisa berubah wujud), karena memang seperti
itulah hakikat BATU HITAM. Selain itu, penyebutan awloh sebagai tauhid juga
mengarah pada identitas kebendaan (tunggal secara bendawi).

Apa Hubungan SABIT dengan BATU HITAM?

Sabit adalah simbol dewa bulan. Orang-orang kuno di Mesopotamia menyembah bulan
sabit sebagai Tuhan, dan mewujudkannya dalam bentuk patung manusia (Hubal). Di
Kaabah juga terdapat Patung Hubal, sebagai salah satu di antara 360 berhala. Tapi, walau
suku Quraish Jahiliyah sama-sama menyembah Dewa Bulan, namun mereka tidak
memakai patung Hubal sebagai perwujudannya, melainkan sebuah BATU HITAM
“HAJARUL ASWAD”. Jadi, Patung Hubal adalah dewa bulannya suku lain di Arab,
sementara BATU HITAM adalah dewa bulannya suku Quraish. Ketika Muhammad
berhasil menaklukkan Mekkah, dia menyingkirkan berhala-berhala lain, termasuk patung
dewa bulan “Hubal” itu. Patung Hubal dia singkirkan, karena patung Hubal itu bukan
sesembahan bani Quraish, walau sama-sama diklaim oleh suku lain sebagai Dewa Bulan.
Sama-sama Dewa Bulan, tapi bentuknya beda, dan namanya pun juga beda. Bisa jadi, di
dalam Kaabah masih ada lagi Dewa Bulan-Dewa Bulan lain dengan bentuknya masing-
masing sesuai dengan keinginan suku pemiliknya. Nama “Allah” adalah eksklusif milik
suku Quraish Mekkah, dan tidak diterapkan pada patung lain, kecuali BATU HITAM itu.
Dan Muhammad masih memakai simbol sabit, karena sabit adalah identitas bagi BATU
HITAM, untuk menegaskan bahwa BATU HITAM itulah Dewa Bulan yang
sesungguhnya, bukan patung-patung yang lain.




Batu hitam "Hajar aswad"

Bila Awloh itu Berhala, kenapa Muhammad tidak pernah merasa menyembah
Berhala?

Bagi orang Arab primitif, berhala itu wujudnya makhluk, seperti misalnya: wujud
manusia atau wujud hewan. Bila bentuknya batu (tidak menyerupai apapun), maka
dianggap bukan berhala. Muhammad akan sangat murka bila sesembahannya diserupakan
dengan apapun. Allah taala dewa bulan itu absolut, unique dan distinct. Tak ada yang
menyamai bentuknya, sangat unik dan berbeda dari ciptaannya, serta tidak akan pernah
berubah wujud sampai kapan pun walau untuk sementara waktu (absolut secara
kebendaan). Banyak ayat-ayat Quran yang dia karang yang isinya melarang pengikutnya
menyerupakan awloh dengan makhluk. Muhammad benci pada patung, tapi cinta pada
batu. Karena bagi Muhammad, batu yang tak berbentuk atau tidak menyerupai apapun di
muka bumi bukanlah patung (berhala).

Bila Arab penyembah bulan, kenapa tidak ada ritual menyembah bulan secara
langsung?

Orang Jepang penganut agama Shinto, walau mereka menyembah Matahari, tapi mereka
tidak menjalankan ritual-ritual yg secara menyolok mengarah langsung pd pemujaan
Matahari, karena Sang Dewa sudah dialihkan ke dalam atribut lain, seperti berupa patung
atau jimat-jimat. Demikian pula Arab. Mereka tidak menunjukkan ritual pemujaan yg
langsung mengarah pada bulan di langit, karena Sang Dewa sudah dialihkan ke bentuk
batu bernama Hajar Aswad. Jadi, persembahyangan mereka ditujukan tidak lagi terhadap
bulan di langit, tapi kepada batu tersebut. Kenapa terjadi pengaburan? Apakah ini
bertujuan untuk mengelabuhi orang lain supaya tidak kentara kalau mereka sesungguhnya
penyembah benda-benda langit? Salah satu alasannya bisa begitu, karena perkembangan
informasi antar agama dan kemajuan Iptek membuat mereka merasa malu kalau sampai
diketahui dunia bahwa mereka adalah penyembah bulan. Jadi, sosok sesungguhnya yg
mereka sembah dengan sengaja disamarkan. Muhammad pun dengan cerdiknya menutupi
hal ini, seperti terlihat pada ayat berikut:

QS 2:189.
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah
tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan
memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan
orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan
bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.

Tetapi tetap saja dia tidak dapat menutupi hal ini secara sempurna, karena simbol itu, biar
bagaimanapun, masih harus dipakai sebagai simbol “Tuhan”.

Kenapa mula-mula sholat Islam diarahkan ke Yerusalem yg tidak ada BATU HITAM-
nya?

Itu tidak benar. Karena sholat mula-mula di Mekkah tidak mempunyai kiblat. Muslim
bebas menghadap ke arah mana pun. Setelah hijrah ke Medinah, pada awal-awal
interaksinya dengan orang Yahudi di kota itu, Muhammad menyamakan kiblat muslim
dengan orang Yahudi, yaitu ke Yerusalem. Hal itu terjadi selama lebih kurang 17 bulan.

Itu hanya trik awal Muhammad saja untuk menggaet orang-orang Yahudi Medinah agar
tertarik dan bersedia masuk Islam jadi pengikutnya.

Hadis Sahihu’l-Bukhari, Kitabu’l-Imam, vol. i. p. 18.
Pada awalnya, sang Nabi memerintahkan sembahyang dengan Qibla ke arah Yerusalem
selama enam belas atau tujuh belas bulan, dan dia senang ketika Mekah menjadi arah
Qibla.
Ketika tahu orang-orang Yahudi tetap tidak bersimpati padanya dan tidak mau
mengakuinya nabi, maka Muhammad menjadi sangat membenci umat itu, dan
memutuskan untuk mengubah arah kiblat ke kotanya sendiri, yaitu Mekkah.

Hal itu tampak dalam ayat-ayat Medinah tentang pemindahan kiblat yang dikarangnya:

QS 2:143.
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan
pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad)
menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi
kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang
mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa
amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah
tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang kepada manusia.

QS 2:144.
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami
akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah
Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan
sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil)
memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari
Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

QS 2:149.
Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil
Haram, sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan
Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.

QS 2:150.
Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil
Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke
arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim
diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku
(saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat
petunjuk.

Apakah ALLAH adalah bagian dari PERSERIKATAN (KELOMPOK) 360 Berhala
yang ada di Ka’bah?

Itu benar sekali. Allah adalah salah satu dari 360 berhala yang ngendon di Ka‟bah. Itulah
kenapa, ada ayat-ayat seperti ini (mohon perhatikan baik-baik):

QS 7:191.
Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhada-berhala yang tak dapat
menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang.

QS 17:42.
Katakanlah: “Jikalau ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka
katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai „Arsy.”

QS 22:26
“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat baitullah
(dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku
(=awloh) dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang
yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud.”
Ketika Muhammad menghancurkan berhala-berhala dari dalam Ka‟bah, Muhammad
menyisakan HAJAR ASWAD. Kenapa? Karena HAJAR ASWAD itulah ALLAH.
(Perhatikan kembali ayat-ayat di atas, sebagai pedoman Muhammad untuk melegalkan
sepak terjangnya).




Kalau awloh bukan salah satu dari 360 berhala, mengapa ada ayat-ayat di atas? Dan
kenapa HAJAR ASWAD tidak turut dimusnahkan?

HAJAR ASWAD = ALLAH.

Hajar aswad sekedar nama samaran, sedangkan ALLAH adalah nama yang
sesungguhnya. Arab-arab itu licik, mereka tidak ingin agamanya ditertawakan oleh umat
agama Samawi, jadi mereka perlu bersekongkol untuk menipu dunia dan berusaha
mengaburkan sosok awloh yang sesungguhnya.

Tapi, mereka tetap tidak bisa menutupinya secara sempurna.

Lihat, apa yang diperbuat Muhammad terhadap HAJAR ASWAD:

MUWATTA, Book 20, Number 20.33.113:
Yahya bercerita padaku dari Malik apa yang dia dengar bahwa ketika Rasul Allah SAW
telah selesai Tawaf Kabah, sholat dua rokaat, dan ingin berangkat ke Safa dan Marwa,
dia akan memberi hormat ke sudut tempat Batu Hitam berada sebelum berangkat.

BUKHARI, Volume 2, Book 26, Number 697:
Diriwayatkan oleh Ibn Abbas.:
Rasul Allah melakukan Tawaf (kabah) dengan naik unta (saat itu kaki nabi sedang
terluka). Ketika sampai ke sudut (yang ada batu hitam) dia menunjuk kearah batu itu
memakai sesuatu pada tangannya dan berkata, “Allahu-Akbar.”

Apakah Muhammad pernah hormat kepada Ka’bah? TIDAK PERNAH.
Apakah Muhammad pernah menunjuk ke arah Ka’bah, lalu berseru: “ALLAHU-
AKBAR”? TIDAK PERNAH.

MUSLIM, Book 007, Number 2907:
Salim melaporkan atas otoritas ayahnya bahwa Rasul Allah tidak menyentuh sudut
manapun dari Kabah, kecuali sudut Hitam (yang ada Batu Hitam terpasang) dan bagian
kecil di dekatnya, yang mengarah ke arah rumah2 suku Jumuhi.

Kalau masih ada orang yang menyangka Ka‟bah itulah ALLAH, ini salah. Karena
HAJAR ASWAD itulah ALLAH YG SEBENARNYA.

ABU DAWUD, Book 10, Number 1813:
Diriwayatkan Abdullah ibn Abbas:
Nabi (pbuh) berkata: Orang yang melakukan umrah harus berteriak talbiyah sampai dia
menyentuh Batu Hitam.

Talbiyah, adalah seruan-seruan terhadap awloh:
“Kami penuhi penggilan-Mu, kami penuhi panggilan-Mu, kami penuhi panggilan-Mu,
tiada sekutu bagi-Mu, kami penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan
kenikmatan bagi-Mu, dan kerajaan (bagi-Mu) tiada sekutu bagi-Mu.”

Muhammad tidak saja menghormat dan meneriaki Hajar Aswad sebagai “allah yang
maha akbar”, tapi juga menyentuh, mengelus dan menciumnya, ibarat seorang pemuja
jimat yang sangat cinta pada jimatnya.

ABU DAWUD, Book 10, Number 1884:
Diriwayatkan Abdullah ibn Abbas:
Nabi (pbuh) menjepit jubah pada ketiak kanannya dengan ujung jubah itu ada pada bahu
kirinya, dan menyentuh sudut (batu hitam), lalu meneriakkan “Allahu-Akbar” dan
berjalan dengan bangganya mengelilingi Kabah tiga kali. Ketika mereka (para sahabat)
mencapai sudut Yaman, dan menghilang dari mata orang Quraish, mereka berjalan
seperti biasa; ketika muncul dihadapan mereka mereka berjalan dengan gagah dan
langkah yang cepat. Dengan itu kaum Quraish berkata: Mereka seperti rusa (yang
sedang lompat). Ibn Abbas berkata: oleh karena itu hal ini lalu menjadi Sunnah (suri
tauladan Nabi).

Hadits Sahih Bukhari Volume 2, Book 26, Number 673:
Dikisahkan oleh Salim bahwa ayahnya berkata :
Aku melihat Rasul Allah tiba di Mekah; mula2 dia mencium batu hitam (hajar aswad)
ketika akan melakukan tawaf dan berlari-lari kecil di tiga putaran (tawaf) pertama dari
tujuh kali putaran (tawaf).*

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:56
posted:7/23/2010
language:Indonesian
pages:20