Spooring dan Balancing by neade

VIEWS: 6,724 PAGES: 36

									LAPORAN PRAKTEK INDU STRI
  SPOORING & BALANCING
      DI OTO CLINIC
    Disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah
         Praktek Industri semester VII 2009 /2010




                     Disusun oleh :

      Nama                :     Neade Suharto
      Nim                 :     K2506004
      Dosen Pengampu      :     Basori, S.Pd




FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
      UNIVERSITAS SEBELAS MARET
             SURAKARTA
                 2010




                              NEADE SUHARTO | PTM-PTK 1
                                             FKIP UNS
                                 BAB I
                             PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG PRAKTEK INDUSTRI
          Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini
  menunjukkan     kemajuan     yang    sangat     pesat.   Seiring    dengan
  perkembangan IPTEK tersebut, maka dituntut sumber daya manusia
  yang mempunyai kemampuan yang berkualitas.
          Sumber daya manusia Indonesia yang diharapkan yaitu
  manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
  Maha Esa, berbudi pek erti luhur, mandiri, maju, cerdas, kreatif,
  terampil, bertanggung jawab dan produktif serta sehat jasmani dan
  rohani. Untuk mewujudkan manusia Indonesia yang cerdas, kreatif dan
  terampil, maka setiap peserta didik dalam hal ini mahasiswa tidak
  hanya di tuntut memahami dan mengetahui ilmu yang sedang di
  tekuni, tetapi juga dituntut untuk bisa mempraktekan, menerapkan dan
  mengembangkan ilmu yang didapatkanya pada dunia kerja atau dunia
  industri.
          Perguruan tinggi     sebagai basis pengembangan intelektual
  mahasiswa diharapkan mampu memberi sarana dan prasarana dalam
  rangka mengembangkan kapasitas -kapasitas intelektual dan kreatifitas
  mahasiswa.
          Sebagai salah satu aktualisasi mahasiswa program PTK PTM
  FKIP UNS Surakarta, maka perguruan tinggi mengembangkan pola
  kekaryaan atau link dan match, sehingga mahasiswa mampu
  mengaplikasikan    potensi     keilmuan       yang   digelutinya.   Untuk
  mewujudkan hal tersebut, maka lembaga pendidikan tinggi khususnya
  pada Pendidikan Teknik Mesin FKIP UNS ini memberikan mata kuliah
  Praktek Industri yang wajib dijalani oleh mahasiswanya.




                                      NEADE SUHARTO | PTM-PTK 2
                                                     FKIP UNS
B. TUJUAN PELAKSANAAN PRAKTEK INDUSTRI
  1. Tujuan Umum
    a. Untuk memperoleh ilmu pengetahuan, mengga li perkembangan
         informasi dan teknologi terbaru
    b. Mahasiswa dapat langsung mengetahui dan merasakan situasi
         dunia industri dengan cara ikut terjun langsung praktek
         dilapangan.
    c.   Mengembangkan dan menerapkan ilmu yang telah di dapat
         selama perkuliahan
    d. Meningkatkan mutu lulusan dari Program Pendidikan Teknik
         Mesin Jurusan PTK Fakultas KIP Universitas Sebelas Maret
         Surakarta.
  2. Tujuan Khusus
    a. Mahasiswa dapat melakukan spooring dan balancing dengan
         prosedur yang baik dan benar.
    b. Adanya hubungan yang serasi antara dun ia industri/usaha
         dengan dunia pendidikan sehingga ada hubungan timbal balik di
         antara keduanya.
    c. Memenuhi tugas mata kuliah Praktek Industri


C. MANFAAT PELAKSANAAN PRAKTEK INDUSTRI
  1. Manfaat Praktek Industri Bagi Mahasiswa:
    a. Mahasiswa dapat melatih analisis dalam menyelesaikan suatu
         permasalahan yang timbul.
    b. Mahasiswa dapat membandingkan teori dan praktek di kampus
         dengan pelaksanaan praktek di lapangan
    c. Melatih dan mengembangkan ketrampilan sesuai keterampilan
         yang ada di lapangan.
  2. Manfaat Praktek Industri Bagi Perusahaan:
    a. Mendapatkan masukan dari mahasiswa baik berupa tenaga
         maupun pikiran.

                                   NEADE SUHARTO | PTM-PTK 3
                                                  FKIP UNS
    c. Secara tidak langsung perusahaan mendapatkan promosi atau
        dapat mengenalkan produknya baik yang berupa barang atau
        jasa.


D. DASAR PEMILIHAN TEMPAT PRAKTEK INDUSTRI
        Dasar pemilihan tempat ini adalah :
  1. Perusahaan yang menangani dan melayani perawatan dan
      perbaikan kendaraan ringan.
  2. Perusahaan yang menjaga kualitas mutu dan kepercayaan
      pelanggan.
  3. Bengkel yang memberikan kesempatan dan wewenang kepada
      mahasiswa untuk terjun langsung menangani job atau pekerjaan
      di bawah arahan pembimbing atau mekanik


E. TEMPAT DAN WAKTU PELAKSANAAN PRAKTEK INDUSTRI
   1. Tempat
      Praktek Industri penulis laksanakan di Bengkel mobil ”OTO
      CLINIC” yang beralamat di Jl. Raya Solo -Tawangmangu Km.7
      Palur, Karang Anyar.
   2. Waktu Pelaksanaan
      Praktek industri ini dilaksanakan selama satu bulan, dari 6 Juli
      2009 sampai dengan 6 Agustus 2009.


F. SASARAN KEGIATAN PRAKTEK INDUSTRI
   1. Sasaran secara umum
      Dalam kegiatan praktek industri ini adalah mahasiswa PTM
      angkatan 2006 PTK-FKIP-UNS.
   2. Sasaran secara khusus
      Sesuai dengan program konsentrasi yang diambil penulis yaitu
      otomotif, maka sasaran nya yaitu industri jasa otomotif yang
      melayani perawatan dan perbaikan kendaraan ringan.

                                    NEADE SUHARTO | PTM-PTK 4
                                                   FKIP UNS
G. METODE PENGUMPULAN DATA
          Metode pengumpulan data dalam penyusunan laporan Praktek
  Industri ini ada beberapa cara, yaitu:
  a. Metode Observasi
    Yaitu metode pengumpulan data pada objek dengan cara melihat
    dan    diperkuat      dengan    ikut   terjun   langsung   menangani
    job/pekerjaan.
  b. Metode Interview
    Yaitu metode pengumpulan data dengan cara tanya jawab secara
    langsung dengan nara sumber (mekanik, service advisor, service
    manager) mengenai pekerjaan yang dilakukan.
  c. Metode Literatur atau kepustakaan
    Yaitu metode pengumpulan data dengan cara mencari informasi
    dari buku-buku dan sumber internet yang terkait.


H. PEMBATASAN MASALAH
            Kegiatan penulis selama Praktek Industri di Bengkel mobil
  ”OTO CLINIC” banyak sekali. Akan tetapi dalam penulisan laporan ini
  penulis hanya menfokuskan pada spooring dan balancing.




                                    NEADE SUHARTO | PTM-PTK 5
                                                   FKIP UNS
                                   BAB II
                     TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN


A. Sejarah Singkat Perusahaan
            Berawal dari hobby dalam bidang otomotif, bapak H.
   Syarifuddin mempunyai ide untuk membuka bengkel mobil. Hingga
   yang pada akhirnya berdiri bengkel mobil OTO CLINIC ini. Bengkel
   Mobil OTO CLINIC merupakan anak perusahaan dari tiga serangkai.
            Sebelumnya sudah ada perusahaan sejenis yang didirikan,
   berikut secara urut bengkel mobil yang merupakan satu manajemen
   dalam montecarlo group:
            1.     MONTECARLO SOLO
            2.     MEGA MERAPI SUKOHARJO
            3.     MONTECARLO SALATIGA
            4.     MONTECARLO BANDAR LAMPUNG
            5.     OTOCLINIC KARANG ANYAR
            Untuk OTOCLINIC ini sendiri resmi berdiri pada tanggal 08
   Februari 2008 yang diresmikan oleh Hj. Siti Aminah.




                                   NEADE SUHARTO | PTM-PTK 6
                                                  FKIP UNS
B. Struktur Organisasi Perusahaan
             STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN

                           KOMISARIS
                      PT. TIGA SERANGKAI



                           MANAGER
                        H. SYARIFUDDIN
                            NOOR, SE


                       BRANCH MANAGER
                        AULIA PRAWIRA
                           NEGARA




     KU                                           CSO




   BAGIAN                                       BAGIAN
    MESIN                                        BRC

                         KARYAWAN




                               NEADE SUHARTO | PTM-PTK 7
                                              FKIP UNS
C. Manajemen perusahaan.
           Dari segmen pasar perusahaan ini tidak membatasi dan
   membedakan jenis dan kelas mobil yang masuk, semua pelanggan
   dilayani dengan haknya dan dengan prosedur yang ada. OTO CLINIC
   merupakan bengkel mobil umum, yang menangani semua jenis
   kendaraan ringan.
           Bagi Pelanggan tersedia Montecarlo Member Card (MMC),
   kartu member yang bisa digunakan untuk mengakses berbagai
   fasilitas khusus yang tidak diberikan kepada pelanggan non member.
   Fasilitas tersebut ada yang sifatnya tetap dan ada yang berkala,
   sesuai event yang ada.




                                 NEADE SUHARTO | PTM-PTK 8
                                                FKIP UNS
Skema Manajemen



                            Dibuatkan SPK
Mobil Masuk              (Surat perintah kerja)



                           Kepala Bengkel


                               Mekanik


                      Kembali ke kepala Bengkel
                       (Controller & Test Drive)



                    Costumer Service Officer (CSO)
                          Pembuatan Nota



                              Keuangan


                              Accounting




      Laporan                                           Evaluasi


   Branch Manager                                    Branch Manager


      Manager                                           Manager



      Komisaris                                        Karyawan

                            NEADE SUHARTO | PTM-PTK 9
                                           FKIP UNS
D. Lingkup Kegiatan Selama Praktek Industri
                Banyak kegiatan yang berlangsung di bengkel OTO CLINIC
   ini, meliputi dari setiap pelayanan yang ada. Adapun bidang kerja
   yang ada yaitu :
                1. Computerized Car Oven Paint
                2. Body Repair
                3. Tune Up
                4. Service Air Conditioning (AC)
                5. Understeel
                6. Kelistrikan Body
                7. Spooring
                8. Balancing
                9. Ganti Oli
                10. Cuci Salju
                11. Spare Part
                Dari semua kegiatan tersebut penulis ikut secara aktif di tune
   up, understeel, spooring, balancing, kelistrikan body, service ac, dan
   ganti oli.




                                        NEADE SUHARTO | PTM-PTK 10
                                                       FKIP UNS
                                     BAB III
                                 KAJIAN TEORI
A. Front Wheel Aligment (FWA)
         Definisi dari front wheel aligment ialah pengaturan roda-roda
   bagian depan meliputi camber, caster, steering axis inclination dan toe
   angle dari sistem suspensi depan kendaraan dengan model
   independent. Maksud dari independent yaitu sistem suspensi yang
   menopang roda sendiri tanpa tehubung bagian roda lain yang
   berseberangan dengan roda tersebut. Karena sifat dari independent
   tersebut maka tidak diperlukan axle penghubung roda. Roda -roda
   tersebut ditopang oleh steering knuckle
         Fungsi dari pegaturan tesebut diharapkan dapat meminimalisir
   strees atau ketegangan dari tiap -tiap komponen yang bekerja ataupun
   dalam menerima gaya, serta tujuan akhir dari penyetelan wheel
   aligment akan mendapatkan um ur pakai komponen lebih lama serta
   keyamanan dan keamanan dalam pengemudian kendaraan.
         Tujuan FWA
          •   Steer ringan
          •   Tidak terjadi shimmy
          •   Setelah belok roda segera kembali lurus
          •   Keausan ban merata
          •   Ban lebih awet
         Bagian Froont Wheel Aligment terdiri dari penyetelen sudut
   geometris dan ukuran roda depan. Setelah komponen suspensi dan
   kemudi terpasang pada chasis pada umumnya dapat dikategorikan
   dalam elemen sebagai berikut :
         1)     camber
         2)     caster
         3)     toe angle
         4)     steering axsis

                                     NEADE SUHARTO | PTM-PTK 11
                                                    FKIP UNS
         5)     turning radius
         Berdasar berbagai macam pengaturan sudut dan ukuran -
ukuran ini tergantung dari system suspensi, system penggerak roda
dan system kemudi. hal ini ditujukan agar kendaraan memiliki
kesetabilan dalam pengendalian sebaik mungkin serta penggunaan
komponen dapat lebih tahan lama.
         Untuk melakukan pengukuran atau penyetelan, hasil yang akan
dicapai       bergantung   dari   beban   kendaraan   dan   penempatan
kendaraan pada bidang datar sehingga dapat diperoleh tinggi
kendaraan yang tepat.
         Pengertian dari Camber, Caster,Toe Angle, Steering Axsis
Inclination, Turning Radius serta sudut-sudut yang akan terbentuk dari
roda-roda depan kendaraan terhadap chasis pada saat posisi lurus
atau saat membelok.
    1.        Camber
         Camber adalah sudut kemiringan roda pada bagian atasnya
bila dilihat dari depan, fungsi dari penyetelan camber adalah
memperkecil momen bengkok yang diterima spindle. Tujuannya
mencegah roda depan bagian bawah tertarik keluar dan berat
kendaraan tertumpu pada bagian dasar poros depan.
         Pemasangan roda-roda depan kendaraan dengan bagian
atasnya miring mengarah ke luar atau ke dalam (ini akan terlihat
langsung dari bagian depan kendaraan). Camber diukur dari posisi
vertikal.
         Apabila kemiringan roda mengarah keluar disebut camber
positif. Sebaliknya apabila miring kearah dalam disebut camber
negatif. Model camber positif atau camber negatif, akan menimbulkan
efek yang berbeda pada kendaran, masing -masing akan bergantung
pada fungsi dan tujuan dari kendaraan tersebut.




                                    NEADE SUHARTO | PTM-PTK 12
                                                   FKIP UNS
         Camber positif akan lebih meringankan beban pada kemudi,
oleh sebab itu camber positif          banyak digunakan pada kendaraan
angkutan barang atau kendaraan keluarga serta kendaraan dengan
model penggerak belakang (toyota kijang).




                   Gambar Camber positif dan camber negative


    2.     Steering Axis Inclination
         Steering Axis Inclination adalah sudut kemiringan king pin
terhadap garis vertikal bila dilihat dari depan kendaraan. Tujuan
membantu kestabilan steer dan ketika steer diputar roda akan
mengangkat poros roda, sehingga roda akan kembali lurus. Sudut
king pin : + 7º.




                                   NEADE SUHARTO | PTM-PTK 13
                                                  FKIP UNS
                        Gambar steering axis inclination
         Jarak “l” yaitu jarak dari titik potong garis tengah ban dengan
jalan ke titik potong steering axis dengan jalan disebut OFFSET. Jarak
OFFSET yang lebih kecil akan membuat kemudi menjadi lebih ringan
serta hentakan akibat pengereman atau saat kendraan bera kslerasi
berkurang. Di samping itu steering axis inclination menghasilkan daya
balik kemudi dengan memanfaatkan berat kendaraan.
    3.     Caster
         Caster adalah sudut antara kingpin dengan garis vertikal yang
dilihat dari samping kendaraan. Garis tengah steering axis biasanya
miring bila dilihat dari samping. Sudut yang dibentuk oleh garis ini
dengan garis vertical disebut caster. Fungsi Caster yaitu memperingan
kemudi dan mendapatkan daya balik kemudi yang baik setelah
kendaraan mengalami perlakuan belok. Peyetelan caster yang benar
akan mengurangi ketegangan ( strees) pada suspensi.
         Bila kemiringan dari steering axis ke arah belakang disebut
caster positif. Sebaliknya kemiringan kearah depan disebut caster
negatif.   Umumnya      caster   positif   yang   sering dipakai karena
menghasilkan kestabilan kendaraan dan menghasilkan menghasilkan

                                   NEADE SUHARTO | PTM-PTK 14
                                                  FKIP UNS
kestabilan kendaraan saat berjalan lurus dan daya balik kemudi
setelah membelok. Tujuan supaya steer dapat kembali lurus setelah
kendaraan belok.
         Jarak dari titik potong garis tengah steering axis dengan jalan,
ke titik pusat singgung ban dengan jalan di sebut trail




                                 Gambar Caster
         Caster positif yang besar menyebabkan trail makin panjang dan
daya balik kemudi makin besar. Akan tetapi kemodi cenderung
menjadi berat. Caster negatif. Membuat kem udi menjadi ringan tetapi
kestabilan kendaraan saat berjalan menjadi bekurang dan kemudi
kurang dapat dikontrol.


    4.     Toe Angle
         Pemasangan roda–roda depan pada porosnya tidak lurus ke
depan dengan tepat, tetapi agak diserongkan ke dalam sehingga
terjadi selisih jarak antara bagian depan dan belakang pada roda -roda
depan tersebut.




                                   NEADE SUHARTO | PTM-PTK 15
                                                  FKIP UNS
         Toe angle terdiri dari susunan toe in dan toe out. Apabila
bagian depan roda lebih menjorok ke arah dalam dibandingkan bagian
belakang roda (dilihat dari atas) ini disebut toe in. Sebaliknya susunan
yang berlawanan disebut toe out. Pada gambar dibawah toe-in dan
toe-out dinyatakan dalam satuan jarak (B -A).




                                Gambar Toe angle
         Bila roda-roda depan memiliki camber positif, maka bagian atas
roda miring mengarah keluar. Hal ini akan men yebabkan roda-roda
berusaha menggelinding kearah luar pada saat mobil berjalan lurus,
kemudian akan terjadi side slip (ban akan cepat aus). Untuk itu toe in
digunakan      pada    roda-roda    depan    untuk    mencegah     roda
menggelinding ke arah luar yang disebabkan oleh camber.


    5.      Turning Radius
         Kendaraan    sewaktu    berbelok   akan     membentuk   radius
melingkar pada masing-masing roda depan. Masing -masing roda
depan antara bagian kanan dan kiri memiliki jarak tempuh           saat
membelok. Apabila roda depan bagian kanan dan kiri mempuny ai
sudut belok yang sama besar atau memiliki turning radius yang sama
(r1 = r2) dengan demikian masing -masing roda akan mengelilingi titik
pusat yang berbeda (o1 dan o2). Akibatnya kendaraan tidak dapat
membelok dengan lembut karena terjadinya side-slip pada roda-roda.
                                   NEADE SUHARTO | PTM-PTK 16
                                                  FKIP UNS
               Gambar Turning radius dengan titik pusat berbeda
       Untuk menanggulangi hal ini, knuckle arm dan tie rod agar
pada saat membelok roda-roda menjadi sedikit toe out. Akibatnya
sudut belok roda inner sedikit lebih besar daripada sudut belik outer
dan   titik   pusat   putaran   roda   kiri   dan   kanan   berhimpit.   Ini
mengakibatkan turning radius menjadi berbeda (r1 > r2). Hal ini akan
membuat saat berbelok lebih halus dan nyaman.




                  Gambar Titik pusat yang sama saat berbelok
       Pada saat berbelok ke kanan maka langkah putaran roda kiri
akan lebih banyak       daripada roda bagian kiri, begitu pula apabila
membelok ke kiri maka akan terjadi sebaliknya sebaliknya.



                                   NEADE SUHARTO | PTM-PTK 17
                                                  FKIP UNS
B. Velg Roda (Disk Wheel)
          Karet ban tidak dapat terpasang langsung pada mobil tetapi
   melalui velg. Karena roda merupakan bagian terpenting yang
   menyangkut keselamatan mengemudi. Velg harus cukup kuat dalam
   menahan beban vertical dan horizontal, beban pengendaraan,
   pengereman dan berbagai macam tenaga yang tertumpu pada ban.
          Persyaratan dari velg tersebut harus seringan mungkin, harus
   balance dan dibuat akurat agar dapat mengikat ban dengan baik.
   Menurut type velg roda dapat dibedakan menjadi dua yaitu velg dari
   baja pres dan velg dari campuran besi tuang. Sistem kode spesifikasi
   velg : ukuran pelek tercetak pada permukaan velg itu sendiri.
   Biasanya meliputi lebar, bentuk dan diameter velg.
         Contoh cara membaca spesifikasi velg :




                            Gambar Spesifikasi Velg




                                    NEADE SUHARTO | PTM-PTK 18
                                                   FKIP UNS
C. Ban

                                               JENIS
                                                BAN

                                                                  BELTED
                            BIAS              RADIAL
                                                                   BIAS
Ban Bias            : Tenunan benang carcas dengan cara zig-zag membentuk
                     sudut (45 – 65)º terhadap keliling lingkaran ban.
Ban Radial          : Tenunan benang carcas dengan cara paralel membentuk
                     sudut 90º terhadap keliling lingkaran ban.
Ban Belted Bias :    Tenunan benang carcas dengan cara zig -zag membentuk
                     sudut (45 – 65)º terhadap keliling lingkaran ban dan
                     kontruksinya   dilengkapi    dengan    steel   belted   untuk
                     memperkuat carcas.




UKURAN BAN
10.00 –20 - 14PR : Lebar ban = 10 “

                                         NEADE SUHARTO | PTM-PTK 19
                                                        FKIP UNS
                  Diameter pelek = 20“
                  Ply Rating = 14
205 SR 14        : Lebar ban = 205 mm
                  Batas kecepatan maks,S = 180 km/j
                  Jenis ban, R = radial
                  Diamter pelek = 14“
195/70 R 14 86 H : Lebar ban = 195 mm
                  Aspect Ratio (T/L) = 70%
                  Jenis Ban = Radial
                  Diameter pelek = 14“
                  Load indeks = 86
                  Batas kecepatan maks.H = 210 km/j
165/70 SR 13     : Lebar Ban = 165 mm
                  Aspect Ratio (T/L) = 70 %
                  Batas kecepartan maks.S = 180 km/j
                  Jenis ban = Radial
                  Diameter pelek = 13“
5.00/9.00 – 13   : Tinggi ban = 5“
                  Lebar ban = 9“
                  Diameter pelek = 13“
19 x 8.00 – 10   : Diameter keseluruhan = 19“
                  Lebar ban = 8“
                  Diameter pelek = 10"




                                     NEADE SUHARTO | PTM-PTK 20
                                                    FKIP UNS
                                BAB IV
               PELAKSANAAN PRAKTEK INDUSTRI
                     SPOORING & BALANCING


A. KEGIATAN RUTIN
        Praktek dilaksanakan dari hari senin sampai dengan hari sabtu
  pukul 08.30-17.00, dan jam istirahat dibagi menjadi dua pada pukul
  12.00-13.00 dan 13.00-14.00. Khusus setiap hari sabtu pukul 08.00 -
  09.00 wib sebelum melakukan pekerjaan para mekanik termasuk
  praktikan diwajibkan mengikuti pengajian yang dilaksanakan di
  musholla secara bergantian setiap 2 minggu se kali.
        Selama melaksanaan praktek di bengkel OTO CLINIC ini,
  banyak kegiatan yang penulis jalani. Beberapa kegiatan yang meliputi
  tune up, understeel, ganti oli (oli mesin, oli transmisi), service air
  conditioning, kelistrikan body, spooring, balancing, tun e up injector, &
  exhaust system.
        Dalam pelaporan ini penulis khusus mengambil pembahasan
  mengenai spooring & balancing. Hal ini dengan pertimbangan karena
  spooring dan balancing di OTO CLINIC ini sudah menggunakan
  system komputer, yang merupakan penggunaan tekhnologi baru dan
  masih jarang di terapkan di bengkel mobil lain.




                                    NEADE SUHARTO | PTM-PTK 21
                                                   FKIP UNS
B. SPOORING
  Pemeriksaan
         Efek yang ditimbulkan dari penyetelan front wheel aligment
  dapat dianalisa   dengan adanya pengamatan serta pengujian.
  Kekurangan dari penyetelan wheel aligment dapat terdeteksi dari
  percobaan tes jalan lurus, saat berbelok, saat posisi kembali setelah
  perlakuan membelok, keausan bagian -bagian ban yang mendapat
  traksi pada bidang jalan serta seberapa besar faktor dari keselamatan
  pengemudi.
         Aspek pegamatan dari pengujian tersebut meliputi camber,
  caster, toe angle dan steering axis inclination. Pengamatan secara
  visual dapat terdeteksi dengan adanya pola -pola keausan ban.
         Adapun gejala-gejala yang timbul jika FWA tidak pada posisi
  standart yaitu:
  1. Camber
     a. Camber positif
         Kendaraan dengan camber positif maka beban akan bekerja
         pada steering knuckle yang berposisi dekat dengan spindle
         untuk mengurangi beban pada steering knuckle. Roda -roda
         terdorong ke dalam bertujuan untuk mencegah karet ban
         terlepas saat melaju dalam putaran tinggi. Camber yang terlalu
         positif akan menyebabkan keausan ban bagian luar.




                                  NEADE SUHARTO | PTM-PTK 22
                                                 FKIP UNS
                        Gambar Camber positif


   Dalam membelok pada kecepatan tinggi camber positif akan
   terasa limbung karena traksi ban kendaraan yang menapak
   jalan sedikit serta bodi kendaraan akan terasa lebih miring
   apabila dibandingkan kendaran yang memakai camber negatif.


b. Camber negatif
   Tujuan dari camber      negatif adalah untuk mengutamakan
   kendaraan dapat berjalan lurus dengan stabil. Camber negatif
   akan mengurangi kemiringan kendaraan pada saat berbelok
   (ground   camber).    Dalam    keadaan   membelok    dengan
   kecepatan tinggi.




                             NEADE SUHARTO | PTM-PTK 23
                                            FKIP UNS
                         Gambar camber negatif


      Model camber negatif akan lebih stabil karena traksi ban yang
      menyentuh jalan lebih luas. Kelemahan dari camber negatif
      yaitu kemudi akan terasa lebih berat, tetapi hal ini dibantu
      dengan adanya mekanisme power steering dengan fungsinya
      memperingan kemudi. Camber negatif yang terlalu berlebihan
      akan mengakibatkan keau san ban bagian       dalam. Camber
      negatif terdapat pada kendaraan dengan penggerak roda
      depan dan kendaraan dengan mesin depan. Pemakaian
      camber negatif diperlukan untuk kendaraan berkecepatan tinggi
      dengan kesetabilan yang memadai.


2. Caster
  a. Caster positif yang terlalu besar menyebabkan trail semakin
      panjang dan daya balik kemudi makin besar efek yang terasa
      kemudi cenderung menjadi berat.
  b. Caster terlalu negatif membuat kemudi menjadi lebih ringan
      tetapi kesetabilan kendaraan saat berjalan lurus berkurang
      serta kemudi kurang dapat terkontrol.
                                NEADE SUHARTO | PTM-PTK 24
                                               FKIP UNS
   3. Steering Axsis Kemudi
         Fungsi dari steering axis inclination yaitu meminimalisir kejutan
   pada kendaraan akibat pengereman dan saat percepatan. Disamping
   itu steering axis inclination menghasilkan daya balik kemudi dengan
   memanfaatkan berat kendaraan yang ditopang.




                    Gambar Steering axis inclination dan OFFSET


4. Toe angle




                              Gambar toe angle
                                   NEADE SUHARTO | PTM-PTK 25
                                                  FKIP UNS
      Jika jarak antara titik tengah kedua roda bagian depan (A) lebih
kecil daripada jarak antara titik tengah kedua roda depan bagian belakang
(B) ini dinamakan toe in (A<B) jika sebaliknya (B>A) ini dinamakan toe out.
      Bila roda-roda depan memiliki camber positif maka bagian atas
roda miring mengarah keluar. Hal ini akan menyebabkan roda -roda
berusaha menggelinding ke arah luar peda saat mobil berjalan lurus,
kemudian akan terjadi side slip. Ini berakibat ban menjadi aus. Untuk itu
toe in digunakan pada roda-roda depan untuk mencegah roda
menggelinding ke arah luar yang disebabkan camber positif.


5. Turning radius
      Bila roda depan kanan dan kiri memiliki sudut belok yang sama
besar (r1=r2) tetapi masing masing roda akan berpu tar mengelilingi titik
pusat yang berbeda O1 dan O2 akan terjadi side slip pada roda-roda.
       Untuk menanggulangi hal ini knuckle arm dan tie rod disusun agar
pada saat membelok roda-roda sedikit toe out. Akibatnya sudut belok roda
outer dan titik pusat putaran roda kiri dan kanan berhimpit. Akan tetepi
turning radiusnya berbeda (r1>r2). Disebut juga Prinsip ackerman.
      Diterangkan dalam gamber berikut ini :




                             Gambar Prinsip ackerman

                                     NEADE SUHARTO | PTM-PTK 26
                                                    FKIP UNS
      6. Pengamatan dari keausan ban
      Keausaan ban yang terjadi sebelum jangka waktu pemakaian dapat
terjadi dari berbagai faktor selain pemasalahan pada front wheel aligment.
Faktor yang mempengaruhi antara lain d isebabkan: tekanan angin kurang
atau tidak sama antara bagian kanan dan kiri, membelok pada kecepatan
tinggi, rotasi dari roda tidak sempurna, penggunaan rem yang tidak baik.




                    Gambar Bagian keausan ban


      Bagian-bagian ban dengan traksi ke jalan di tunjukkan pada
gambar di atas. Bagian yang m endapatkan arsiran ialah bagian yang
cenderung lebih banyak menerima traksi ban terhadap jalan, sehingga
bagian ini akan lebih cepat mengalami keausan.




                                     NEADE SUHARTO | PTM-PTK 27
                                                    FKIP UNS
      Skema gejala yang ditimbulkan pada ban:


                     GANGGUAN PADA BAN




Ausnya ban           Sewaktu jalan timbul          Ban aus sebelum
tidak merata         bunyi dan getaran             waktunya
                     pada body

Aus bagian luar                                  Tekanan udara ban
ban                  Tekanan udara ban           terlalu tinggi
                     kurang
                                                 Malaju dengn
Toe in terlalu                                   kecepatan tinggi saat
besar                Ban tidak balance           tekanan ban kurang

Camber terlalu
besar                Ban tidak rata              Membelok dengan
                                                 kecepatan tinggi

Aus bagian           Sikap roda depan
dalam ban            tidak baik                  Rotasi dari roda tidak
                                                 sempurna

Toe in terlalu
kecil                                            Penyetelan rem tidak
                                                 baik

camber terlalu
kecil                                            Sikap roda depen
                                                 tidak baik

Aus ban di
kedua sisi                                       Penggunaan rem
                                                 secara kasar
Tekanan ban
berkurang
                                                   Saat start secara
Berbelok dengan                                    tiba-tiba dan
kecepatan tinggi                                   dengan percepatan
                                                   yang tiba-tiba


Aus bagian                            NEADE SUHARTO | PTM-PTK 28
tengah ban                                           FKIP UNS
Pengukuran dan Penyetelan
      Pemeriksaan dan kemudian p enyetelan pada wheel aligment ini
bertujuan mengembalikan kondisi sudut -sudut kemiringan roda-roda
depan agar didapatkan kemampuan terbaik dari kestabilan pengendalian
dan daya balik kemudi yang baik.
      Langkah pengukuran dengan cara menempatkan kendaraan pada
posisi bidang datar. Dalam pekerjaan ini diharuskan keaadaan sistem
suspensi dan kemudi dalam keadaan siap, yang artinya dalam keadaan
setelah dilakukan pemeriksaan dan perbaikan.




                                   NEADE SUHARTO | PTM-PTK 29
                                                  FKIP UNS
     Berikut langkah-langkah kerja penyetelan spooring computer
(HESHBON HA-290 buatan Korea) :
      1 . Persiapan Spooring.
         a . Siapkan alat-alat yang diperlukan ( pipa, kunci set pas , dll)
         b . Pastikan tekanan ban s emuanya normal.
         c . Pastikan suspensi dalam keadaan stabil.
         d . Hubungkan sumber catu daya 220V.
         e . Hidupkan komputer spooring.
         f . Posisikan kendaraan posisi center di meja hidrolik
             spooring
         g . Pasang pengunci steer dan rem tangan
         h. Pasang head sensor pada masing-masing roda sesuai
             dengan tandanya, k emudian pastikan dalam posisi rata
             sampai muncul lampu hijau . (Kunci kuat, jangan sampai
             terjatuh)
      2. Pada computer hidupkan aplikasi scan tool “spooring”
         kemudian “Tekan F6”
      3. Masukkan data pemilik, kemudian “ Tekan F6”




                                    NEADE SUHARTO | PTM-PTK 30
                                                   FKIP UNS
4. Pilih merk kendaraan (missal: TOYOTA), kemudian “ Tekan F6”




5. Pilih jenis mobil (misal: TOYOTA KIJANG), kemudian “ Tekan
   F6”




6. Atur settingan diameter velg dengan menekan F5 dan F1,
   setelah selesai kemudian “Tekan F6”
7. Hasil pembacaan tampil di monitor. (Lihat pada monitor apabila
   angka masih berwarna merah, itu berarti tidak dalam keadaan
   standart)
8. Kendorkan baut pengunci pada Tie Rod
9. Lakukan penyetelan dengan cara memutar Tie Rod. (lakukan
   sampai angka pada monitor berwarna hijau)
10. Setelah angka sudah berubah warna hijau, kencangkan
   kembali baut pengunci pada tie rod.


                            NEADE SUHARTO | PTM-PTK 31
                                           FKIP UNS
11. Kemudian “Tekan F6” pada computer dan cetak hasil
   pengukuran bila diperlukan
12. Lepas head sensor pada masing-masing roda, lepas pengunci
   steer
13. Matikan komputer
14. Keluarkan kendaraan dari meja hidrolik spooring dan lakukan
   test drive. (Apabila kondisi belum normal atau terjadi
   pergeseran pada tie rod maka lakukan penyetelan ulang)




                              NEADE SUHARTO | PTM-PTK 32
                                             FKIP UNS
C. BALANCING
  Berikut langkah-langkah kerja Balancing computer (RAV G -112) :
   1. Lepas roda pada Kendaraan
   2. Letakkan roda pada center X pasang pengunci




   3. Hidupkan computer
   4. Atur settingan scan tool sesuai jenis velg
      -   Tekan “2” untuk pilih alu
      -   Pili alu yang sesuai dengan spesifikasi velg
          Misal :   Tekan angka 2 untuk alu 2 (velg racing)
   5. Setelah itu tekan “Menu”
   6. Pilih “Dimension”
   7. Atur settingan scan tool sesuai spesifikasi velg (lihat tulisan yang
      ada pada velg, missal 14x5,5)
      -   Diameter velg 14
      -   Lebarban 5,5
      -   Ukur jarak diameter paling luar velg dengan sisi terdekat scan
          tool, pakai alat yang ada pada sisi sebelah kanan scan tool
          (missal hasil = 7,00)
      -   Jadi masukkan data 7,00/5,5/14




                                      NEADE SUHARTO | PTM-PTK 33
                                                     FKIP UNS
8. Putar roda roda sedikit kemudian tekan tombol “start”
9. Perlahan tekan rem sampai berhenti, di monitor akan muncul hasil
   pembacaan




10. Angkat rem kemudian presisikan roda pas tengah sesuai dengan
   tanda pada penunjuk yang ada di monitor,
11. Injak rem kembali agar roda tidak berubah posisi
12. Temple timah pada bagian dalam velg posisi tengah atas. (berat
   timah sesuai hasil pembacaa di monitor)
13. Ulangi langkah 8-12 sampai muncol “OK” pada monitor
14. Setelah semua sudah “OK”, lepas pengunci dan l akukan langkah
   yang sama pada ban lainnya
15. Setelah selesai pasang kembali ban pada kendaraan




                                NEADE SUHARTO | PTM-PTK 34
                                               FKIP UNS
                                    BAB V
                                  PENUTUP


A. Kesimpulan
       Setelah mempelajari dan mengkaji tentang materi              front wheel
  aligment. Dapat diambil kesimpulan secara garis besar, antara lain :
  1. Front wheel aligment       ialah pengaturan roda-roda bagian depan dan
     belakang kendaraan meliputi camber, caster, steering axis inclination, toe
     angle dan turning radius
  2. Wheel aligment berfungsi untuk menjamin stabilitas pengendalian kemudi
     serta daya balik kemudi yang baik.
  3. Tujuan akhir dari penyetelan wheel aligment akan mendapatkan umur
     pakai komponen lebih lama se rta keyamanan dan keamanan             dalam
     pengemudian kendaraan
  4. Front wheel aligment pada TOYOTA KIJANG menggunakan model
     camber positif. Hal ini dipengaruhi oleh ciri TOYOTA KIJANG tersebut
     sebagai mobil angkutan keluarga serta dengan penggerak roda belakang.
  5. Gangguan yang terjadi pada wheel aligment toyota kijang dapat terdeteksi
     pada pola keausan ban dan efek -efek yang ditimbulkan pada kemudi
  6. Karet ban tidak dapat terpasang langsung pada mobil tetapi melalui velg
  7. Velg harus cukup kuat dalam menahan beban vertica l dan horizontal,
     beban pengendaraan, pengereman dan berbagai macam tenaga yang
     tertumpu pada ban.
  8. Velg harus seringan mungkin, harus balance dan dibuat akurat untuk
     menunjang kenyamanan dalam berkendara
  9. Jenis ban ada 3 yaitu ban bias, ban radial, ban belt ed bias




B. Saran
  1. Penyetelan front wheel aligment hanya dapat dilakukan apabila pekerjaan
     dari sistem steering dan sistem suspensi sudah diperiksa dan dibenahi.
  2. Sebelum melakukan pengecekan atau pemeriksaan maka periksalah
     keolengan roda dan tekanan udara dari ban.

                                       NEADE SUHARTO | PTM-PTK 35
                                                      FKIP UNS
3. Saat permeriksaan tempatkan kendaraan pada bidang datar.
4. Lakukan pecobaan jalan dan berbelok apabila penyetelan wheel aligment
   sudah terlaksana dengan baik.




                                   NEADE SUHARTO | PTM-PTK 36
                                                  FKIP UNS

								
To top