KTSP SMK Teknik Kendaraan Ringan dan Kebutuhan Industri di Surakarta by neade

VIEWS: 14,939 PAGES: 69

Hasil Penilitian mengenai Kesesuaian KTSP SMK Spektrum 2008 dengan Kebutuhan Industri Jasa Otomotif di Surakarta.
Juga terdapat manajemen bengkel yang baik, jenis-jenis usaha otomotif di solo.

More Info
									                                     ABSTRAK


Neade     Suharto.    KESESUAIAN           STANDAR      KOMPETENSI          KTSP
SPEKTRUM 2008 DENGAN KEBUTUHAN INDUSTRI JASA OTOMOTIF
DI SURAKARTA, Skripsi. Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret, Juli. 2010.
        Tujuan Penelitian adalah (1) Mengetahui kebutuhan kompetensi dan
keahlian lulusan yang dibutuhkan industri jasa otomotif . (2) Mengetahui kesesuaian
antara standar kompetensi Teknik Kendaraan Ringan KTSP SPE KTRUM 2008
dengan kebutuhan industri jasa otomotif.
        Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Populasi adalah
seluruh bengkel mobil, seluruh mekanik dan seluruh kepala bengkel yang ada di
Surakarta dan sekitarnya. Sampel diambil dengan purposive sampel (sampel
bertujuan) sejumlah 12 bengkel mobil umum, 62 mekanik dan 12 kepala bengkel.
Untuk memenuhi persyaratan sebagai sampel maka sebelumnya dilaksanakan
observasi dan pengamatan (bengkel yang memenuhi syarat yaitu bengkel umum yang
rata-rata perhari menerima 4 sampai dengan 6 mobil) .
        Data penelitian ini berupa dokumen KTSP Spektrum 2008 yang diperoleh
dari dokumentasi Mendikdasmen, kebutuhan industri jasa otomotif di Surakarta yang
diperoleh dari observasi terhadap bengkel, penyebar an angket terhadap mekanik dan
wawancara terhadap kepala bengkel . Analisis data dalam penelitian ini menggunakan
analisis data kualitatif model alir yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman
(1992). Uji validitas data menggunakan metode trianggulasi, yaitu trianggulasi
metode dan trianggulasi data/sumber.
        Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan (1) Secara keseluruhan
bidang usaha yang ada pada masyarakat saat ini mengarah ke spesialisasi dan
profesionalisme pekerjaan, dimana satu bidang usaha hanya m enangani satu jenis
pekerjaan. (2) Bidang usaha jasa otomotif yang ada di Surakarta meliputi perawatan
dan perbaikan engine, perawatan dan perbaikan dinamo, perawatan dan perbaikan
radiator, perawatan dan perbaikan accu, perawatan dan perbaikan power steering dan
understeel, ganti oli, velg, ban, accecorris, perawatan dan perbaikan body, custom,
cuci mobil, perawatan dan perbaikan AC (air conditioning), audio, spooring, dan
balancing. (3) Kebijakan perubahan Spektrum dengan jalan adanya pemusatan atau
spesialisasi pada bidang   materi tertentu, serta penyempitan dan juga perluasan
kelompok program pendidikan sudah sesuai dengan realita yang ditemukan di dunia
kerja. (4) Ada dua jenis atau tipe bengkel umum yang ada di masyarakat pada saat ini,
yaitu bengkel umum yang mengorganisasikan bengkel dengan manajemen
konvensional dan bengkel umum yang mengorganisasikan bengkel dengan
manajemen moderen. (5) Perbedaan dalam pelayanan dan manajemen mempengaruhi
kualitas dan jumlah pelanggan pada masing -masing bengkel, bengkel dengan
manajemen moderen lebih baik dan lebih ramai daripada bengkel dengan manajemen
konvensional.   (6) Standar Kompetensi yang telah dibuat Mendikdasmen sudah
“Sangat tinggi/sangat sesuai” dengan kebutuhan industri jasa otomotif di Surakarta.
(7) Dari 19 komponen yang ada tingkat kebutuhan bengkel umum terhadap Standar
Kompetensi tersebut adalah 3 komponen dinyatakan sangat rendah, 2 komponen
dinyatakan rendah, 1 komponen dinyatakan cukup tinggi, 6 komponen dinyatakan
tinggi, dan 7 komponen dinya takan sangat tinggi. (8) Kompetensi yang tingkat
kebutuhannya dinyatakan sangat rendah dan rendah bukan berarti tidak dibutuhkan,
namun memang di dunia kerja intensitas penggunaan kompetensi tersebut masih
sedikit. Selain itu, ada faktor lain yang mempenga ruhinya yaitu adanya keterbatasan
kemampuan pada mekanik dan juga sudah banyak unit usaha jasa yang secara khusus
menangani bidang/kompetensi tersebut (misal khusus AC, khusus pengelasan, dll).
(9) Selain Standar Kompetensi yang sudah ditetapkan masih ada kompetensi lain
yang dibutuhkan dari para pelaku industri jasa otomotif yaitu kompetensi perawatan
dan perbaikan sistem injeksi bensin (hal pokok yang sangat dibutuhkan saat ini),
kompetensi uji emisi gas buang, kompetensi perbaikan transmisi otomatis,
kompetensi perawatan dan perbaikan sistem door lock dan sistem power window,
kompetensi pengelolaan manajemen bengkel dan kompetensi pelayanan pelanggan.
                                     BAB I
                                PENDAHULUAN


                            A. Latar Belakang Masalah
        Di dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 disebutkan bahwa pendidikan
nasional diselenggarakan dengan tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan
mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan
bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, memiliki kemampuan dan keterampilan,
kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa
tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
        Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut, maka perlu adanya
keterlibatan berbagai komponen dan berbagai cara implementasinya. Hal tersebut
dilakukan agar pengembangan pendidikan dapat dilakukan dengan baik dan optimal,
sehingga memberikan peluang yang besar untuk keberhasilan pendidikan.
        Salah satu komponen yang paling penting dalam upaya terwujudnya tujuan
pendidikan adalah kurikulum, karen a kurikulum merupakan dasar dan pedoman
dalam pelaksanaan pendidikan. Adapun kurikulum yang pernah dipakai di negara kita
semenjak tahun 1984 adalah kurikulum 1984, kurikulum 1994, Kurikulum 2004 atau
biasa dikenal Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), dan yang masih dipakai
hingga sekarang adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006. Dengan
demikian terhitung dari tahun 1984 hingga sekarang, dengan rentang waktu 26 tahun
sudah terjadi 3 kali perubahan kurikulum di Indonesia. Satu hal yang menari k dari
pergantian tersebut yaitu ketika pergantian dari KBK ke KTSP yang hanya berselang
dalam waktu yang singkat, KBK dipakai pada 2004 dan diganti KTSP pada 2006
yang dipakai hingga sekarang.
        Sebagai pelaksana dari kurikulum tersebut salah satunya adalah pendidikan
formal, adapun jenjang pendidikan formal yang ada terdiri atas pendidikan dasar,
pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Untuk pendidikan menengah terdiri
atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan, untuk
pendidikan menengah kejuruan biasa kita kenal dengan SMK (Sekolah Menengah
Kejuruan).
        SMK merupakan lembaga yang berpotensi untuk mempersiapkan sumber
daya manusia yang berkualitas dan siap untuk kerja. Di dalam Undang-Undang No.
20 Tahun 2003 pasal 15 menyebutkan bahwa, “Pendidikan kejuruan merupakan
pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja
dalam bidang tertentu”. Lulusan dari SMK nantinya diharapkan mempunyai keahlian
dan keterampilan, sehingga dapat bersaing di dunia kerja.
        Untuk lingkup SMK baru-baru ini terjadi perubahan di dalam kurikulumnya,
perubahan     didasarkan    atas    keputusan     Dirjen    Mandikdasmen    nomor
251/C/KEP/MN/2008 tentang spektrum keahlian pendidikan menengah kejuruan .
Dengan adanya surat keputusan tersebut, maka surat edaran Direktur Jenderal
Dikdasmen Nomor 5111/C.C4/MN/1999 tentang Kurikulum SMK dinyatakan tidak
berlaku. Namun seperti kita ketahui setiap perubahan -perubahan yang terjadi
biasanya selalu membawa dampak yang luas, karena tidak hanya mempengaruhi
iklim pembelajaran di kelas tapi juga berkaitan dengan aspek yang kompleks dan
bahkan cenderung rumit. (perbedaan Spektrum 2004 dengan Spektrum 2008
terlampir)
        Dengan adanya pergantian tersebut banyak pihak yang menyikapinya secara
kurang tepat, salah satunya t imbul stigma/tanggapan negatif di masyarakat yang
menggeneralisasikan pergantian kurikulum sebagai dampak dari pergantian otorita
pendidikan baru. Timbul anggapan jika terjadi pergantian menteri/pimpinan baru,
maka akan terjadi pergantian sistem pendidikan dan juga kurikulum. Pada dunia kerja
yang menjadi basis utama dalam penerapan kompetensi dan keahlian pun tidak luput
dari dampak perubahan-perubahan ini, karena secara tidak langsung perubahan itu
akan berpengaruh terhadap kualitas para pekerja mereka. H ingga di dunia industri
juga timbul asumsi apakah kurikulum beserta standar kompetensi yang ada telah
sesuai dengan yang mereka butuhkan. Anggapan-anggapan yang timbul ini sangat
mungkin dapat memberikan dampak yang kurang baik terhadap terlaksanya
pendidikan, karena secara tidak sadar mereka yang mengalami stigma ini melakukan
penolakan secara psikologis.
        Menurut Charters dan Jones (1973) yang dikutip oleh Pusat Kurikulum
Badan Penelitian dan Pengembangan dalam Naskah Akademik Kajian Kebijakan
Kurikulum SMK menyatakan bahwa, “Setiap perubahan pada sektor pendidikan
seharusnya diikuti dengan upaya mengamati berbagai bentuk operasional di lapangan
sebagai tindak lanjut dan implikasi dari perubahan kebijakan tersebut”. Oleh sebab
itu, setiap kendala atau hambatan yang mungkin terjadi harus segera diantisipasi
sebelum menimbulkan masalah yang besar dan kompleks. Ketidakmampuan
mengatasi kendala-kendala tersebut akan           menyebabkan     kegagalan dalam
implementasi kebijakan atau perubahan yang ada.
        Di dalam dunia pendidikan khususnya sekolah juga dituntut adanya
penyesuaian, KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) merupakan kurikulum
yang menuntut partisipasi aktif sekolah dalam menyusun KTSP sekolah masing -
masing. Ita Saripati (Jurnal Pendidika n Inovatif, 2007:96) menyatakan bahwa, “KTSP
merupakan kurikulum yang bersifat desentralistik, yaitu Kurikulum yang disusun
oleh sekolah atau kelompok sekolah tertentu dalam suatu wilayah atau daerah”.
KTSP yang disusun dan dikembangkan oleh masing -masing satuan pendidikan ini
bisa berbeda antara satu sekolah dengan sekolah lainnya, karena p engembangan
kurikulum yang bersifat desentralisasi menuntut kreatifitas dari sekolah masing -
masing dalam penyusunannya, yang didasarkan atas karakteristik peserta didik,
kebutuhan daerah, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, perkembangan daerah,
dan berdasarkan kemampuan sekolah.
        Dengan adanya kebebasan tersebut, bukan berarti satuan pendidikan dapat
menyusun dan mengembangkan kurikulum tanpa menggunakan acuan. Kurikulum
yang disusun dan dikembangkan harus tetap mengacu pada Standar Nasioanal
Pendidikan yaitu meliputi: Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL).
Sebagaimana yang dinyatakan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20
Tahun 2003 (UU 20/2003) tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 (PP 19/2005) tentang Standar
Nasional Pendidikan yang mengamanatkan kurikulum pada KTSP jenjang pendidikan
dasar dan menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu kepada Satuan
Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) serta berpedoman pada panduan yang
disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Panduan yang disusun
BSNP sendiri terdiri atas dua bagian yaitu panduan umum yang memuat ketentuan
umum pengembangan kurikulum yang dapat diterapkan pada satuan pendidikan
dengan mengacu pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang terdapat
dalam SI dan SKL.
         Kurikulum juga harus memiliki kesesuaian atau           relevansi dalam
penyusunannya. Kesesuaian ini meliputi dua hal, pertama         kesesuaian antara
kurikulum dengan tuntutan, kebutuhan, kondisi, dan perkembangan masyarakat.
Kedua kesesuaian antara komponen -komponen kurikulum, yaitu isi sesuai dengan
tujuan, proses sesuai dengan isi dan t ujuan, demikian juga evaluasi sesuai dengan
proses, isi dan tujuan kurikulum.
         Pendidikan tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya keterkaitannya dengan
dunia usaha dan dunia industri. Direktorat Pembinaan SMK (2010:13) menyatakan
bahwa, “Kontribusi dunia usaha dan dunia industri dalam pendidikan menengah
kejuruan masih rendah”, dan untuk mengatasinya Direktorat pembinaan SMK juga
menyimpulkan agar adanya pembentukan sistem yang mengatur kemitraan sinergis
dengan dunia usaha dan dunia industri untuk peningk atan relevansi lulusan dengan
kebutuhan dunia usaha dan industri.
         Kurikulum mencerminkan hal -hal yang menjadi kebutuhan masyarakat atau
pemakai keluaran sekolah. Untuk keperluan itu, maka perlu ada kerja sama antara
pihak pendidikan dengan pihak luar pend idikan yang dalam hal ini pelaku industri
dalam pembenahan kurikulum. Dengan demikian, masyarakat atau pengguna lulusan
sekolah dapat memberikan bantuan, kritik, atau saran -saran yang berguna bagi
pembangunan program pendidikan di sekolah. Suhadi ibnu (Jurnal Pendidikan
Inovatif, 2007:56) menyatakan bahwa, “diperlukan penyikapan yang tepat dan
proporsional dari semua pihak agar KTSP tidak memicu penolakan pada tataran
psikologis atau praksis organisasi sekolah”.
         Dari uraian-uraian diatas dapat kita simpulka n bahwa pengembangan
kurikulum pada saat ini bersifat desentralistik yang dilaksanankan sesuai karakter
daerah dan dibuat oleh sekolah masing -masing, namun dalam pengembangannya
tetap berpedoman pada SKL dan SI yang sudah dirancang oleh BSNP serta harus
memperhatikan kesesuaiannya dengan kebutuhan industri dan perkembangan
masyarakat.
         Dengan demikian untuk mengetahui secara langsung kebutuhan dunia
industri pada saat ini, mengantisipasi dampak negatif yang mungkin terjadi,
membuka wawasan dan pemikiran ber bagai pihak mengenai pembaruan pendidikan,
serta untuk memberi masukan ke sekolah dalam penyusunan KTSP, m aka perlu
diadakan penelitian mengenai kebutuhan industri dan kesesuaiannya dengan S tandar
Kompetensi yang ada. Ita Sari pati (Jurnal Pendidikan Inovatif, 2007:96) berpendapat
bahwa, “Kurikulum pendidikan harus komprehensif dan responsif terhadap dinamika
sosial, relevan, tidak over load, dan mampu mengakomodasikan keberagaman
keperluan dan kemajuan tekhnologi”.
         Penelitian ini diharapkan dapat membantu pembaruan pendidikan agar
diterima secara luas dan pelaksanaan pendidikan benar -benar mendapat dukungan
dari berbagai pihak, sehingga tujuan pendidikan nasional untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa dan sumber daya manus ia yang berkualitas dapat tercapai.
                                   B. Fokus Penelitian
         Untuk lebih memperjelas pengkajian dalam pemecahan masalah, maka
pembahasan dalam penulisan penelitian ini perlu adanya beberapa batasan agar
masalah dapat dijawab dan dikaji secara mendalam. Adapun fokus permasalahan
yang akan dikaji adalah sebagai berikut:
1.   Standar Kompetensi yang diambil adalah Standar Kompetensi Program Produktif
     Teknik Kendaraan Ringan yang dikeluarkan oleh Mend ikdasmen 2008.
2.   Industri yang diteliti adalah industri jasa otom otif, khususnya yang menangani
     perawatan dan perbaikan kendaraan ringan (bengkel mobil umum).
3.   Penelitian dilakukan di wilayah Kota Surakarta dan sekitarnya.


                                 C. Perumusan Masalah
         Berdasarkan latar belakang dan fokus permasalahan tersebut diatas, maka
timbul beberapa pertanyaan:
1.   Kompetensi dan keahlian apa saja yang dibutuhkan industri jasa otomotif di
     surakarta bagi para mekaniknya?
2.   Apakah Standar Kompetensi Teknik Kendaraan Ringan KTSP Spektrum 2008
     sudah sesuai dengan kebutuhan industri jasa otomotif di Sur akarta?


                                  D. Tujuan Penelitian
         Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu :
1.   Mengetahui kebutuhan kompetensi dan keahlian lulusan yang dibutuhkan
     industri jasa otomotif.
2.   Mengetahui kesesuaian antara Standar Kompetensi Teknik Kendaraan Ringan
     KTSP Spektrum 2008 dengan kebutuhan industri jasa otomotif.
                               E. Manfaat Penelitian
      Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :
                               1. Manfaat Teoritis
a. Memberi masukan kepada pihak sekolah mengenai Standar Kompetensi Teknik
   Kendaraan Ringan yang di butuhkan oleh dunia industri jasa otomotif di
   surakarta.
b. Penelitian ini dapat dijadikan dasar rujukan teoritis untuk pengembangan
   kurikulum dan amanat KTSP, baik yang menyangkut aspek perencanaan,
   pelaksanaan, maupun evaluasinya.


                               2. Manfaat Praktis
a. Menjadi bahan wacana bagi para lulusan SMK yang ingin memasuki dunia kerja,
   khususnya industri jasa otomotif.
b. Meningkatkan kepercayaan masyarakat dan dunia industri terhadap pembaruan
   pendidikan.
                                          BAB II
                                   LANDASAN TEORI


                                  A. Kajian Pustaka
                                  1. Tinjauan Kurikulum
a. Pengertian Kurikulum
        Ditinjau dari asal kata, kurikulum berasal dari bahasa Yunani yang awal
mulanya digunakan dalam bidang olahraga atletik yaitu currere yang berarti jarak
tempuh lari. Dalam kegiatan berlari tentu saja ada jarak yang harus ditempuh dari star
(awal) sampai finish (akhir). Jarak dari start sampai finish ini disebut currere, atas
dasar tersebut kurikulum ditetapkan dalam bidang pendidikan.
        Menjelaskan pengertian kurikulum mungkin merupakan pekerjaan yang
sulit, hal ini disebabkan pengertian kurikulum yang ada sekarang ini berbeda antara
yang satu dengan lainnya, tergantung dari cara pandang para ahlinya masing -masing.
Oleh karena itu, maka para ahli pendidikan dan ahli kurikulum membatasi pengertian
kurikulum.
        Sebagai gambaran disini disajikan beberapa pengert ian kurikulum yang
dikemukakan oleh beberapa ahli.
        Hilda Taba (1962) mengatakan bahwa, “Kurikulum adalah pernyataan
tentang tujuan-tujuan pendidikan yang bersifat umum dan khusus, dan materinya
dipilih dan diorganisasikan berdasarkan suatu pola tertentu u ntuk kepentingan belajar
dan mengajar”.
        Oemar Hamalik (1990:31) bahwa, “Kurikulum merupakan alat pendidikan
untuk mencapai tujuan pendidikan”.
        Sedangkan pengertian kurikulum sebagaimana tercantum dalam Undang -
Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 t entang Sistem Pendidikan
Nasional menyatakan bahwa, "Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan,
isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu".
         Saylor, Alexander, dan Lewis (1981) menyatakan bahwa, “Kurikulum
sebagai suatu rencana yang berisi sekumpulan pengalaman belajar untuk anak didik
yang akan di didik”.
         Robert Gagne (1967) menyatakan bahwa, “Kurikulum adalah suatu
rangkaian unit materi belajar yang disusun sedemikian rupa sehingga anak didik
dapat mempelajarinya berdasarkan kemampuan awal yang dimiliki/dikuasai
sebelumnya”.
         John Dewey (1902) sejak lama telah menggunakan istilah kurikulum dalam
hubungannya dengan anak didik. Dewey menegaskan ba hwa, “Kurikulum dan anak
didik merupakan dua hal yang berbeda tetapi kedua -duanya adalah proses tunggal
dalam bidang pendidikan. Kurikulum merupakan suatu rekonstruksi berkelanjutan
yang memaparkan pengalaman belajar anak didik melalui suatu susunan penget ahuan
yang terorganisir dengan baik yang biasanya disebut kurikulum”.
         Berdasarkan beberapa pendapat diatas, maka dapat diartikan bahwa
kurikulum adalah seperangkat rencana pendidikan dan pedoman penyelenggaraan
pendidikan yang disiapkan untuk membelajarkan peserta didik, yang didalamnya
terdapat tujuan, isi, dan bahan pelajaran guna mencapai tujuan pendidikan tertentu.


b. Fungsi Kurikulum
        Muhammad Joko Susilo, 2006:83 menyatakan bahwa, fungsi kurikulum dapat
ditinjau dari tujuh segi yaitu:
1.   Fungsi kurikulum dalam rangka mencapai tujuan pendidikan
     Kurikulum merupakan kendaraan (alat/usaha) bagi sekolah untuk mencapai
     tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan, dengan kata lain bila tujuan yang
     diinginkan tidak tercapai maka orang cenderung untuk meninjau kembali alat
     yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut.
2.   Fungsi kurikulum bagi anak
     Kurikulum sebagai arahan belajar bagi siswa, yang disiapkan sebagai salah satu
     konsumsi bagi pendidikan mereka. Dengan begitu siswa diharapkan akan
     mendapat sejumlah pengalaman baru, dan dapat dikembangkan seiring dengan
     perkembangaan anak.
3.   Fungsi kurikulum bagi guru
     Kurikulum bagi guru ada 3 fungsi yaitu: (1) Sebagai pedoman kerja dalam
     menyusun dan mengorganisir pengalaman belajar bagi peserta didik, (2) Sebagai
     pedoman untuk evaluasi terhadap perkembangan anak dalam ramgka menyerap
     sejumlah pengalaman yang diberikan, dan (3) Sebagai pedoman untuk mengatur
     kegiatan pendidikan dan pengajaran.
4.   Fungsi kurikulum bagi Kepala Sekolah dan Pembina Sekolah
     Kurikulum bagi kepala sekolah dan pembina sekolah ada 5 yaitu (1) Sebagai
     pedoman dalam mengadakan fungsi supervisi yaitu memperbaiki situasi belajar,
     (2) Sebagai pedoman dalam melaksanakan supervisi dalam menciptakan situasi
     untuk menunjang situasi belajar anak kearah yang lebih baik, (3) Sebagai
     pedoman dalam melaksanakan supervisi dalam memberikan bantuan kepada guru
     untuk   memperbaiki     situasi   mengajar,   (4)   Sebagai   pedoman   untuk
     mengembangkan kurikulum lebih lanjut, dan (5) Sebagai pedoman untuk
     mengadakan evaluasi kemajuan belajar me ngajar.
5.   Fungsi kurikulum bagi Orang Tua Murid
     Dalam hal ini orang tua murid turut serta membantu usaha sekolah dalam
     memajukan putra-putrinya, bantuan orang tua dapat melalui konsultasi langsung
     dengan sekolah atau guru, dana, dan sebagainya.
6.   Fungsi kurikulum bagi sekolah pada tingkatan di atasnya
     Bagi sekolah tingkatan di atasnya kurikulum berfungsi sebagai arahan untuk
     mengontrol atau memelihara keseimbangan proses pendidikan, dan penyiapan
     tenaga guru. Dengan adanya pendidikan berkelanjutan, maka kuriku lum pada
     setiap tingkatan sekolah di atasnya dapat mengadakan penyesuaian, misalnya
     suatu kompetensi sudah diberikan pada tingkat di bawahnya (pelajaran di
     Sekolah Dasar), maka harus dipertimbangakan lagi pemilihan bahan pengajaran
     untuk sekolah tingkatan diatasnya (pelajaran di Sekolah Menengah Pertama).
7.   Fungsi kurikulum bagi Masyarakat dan Pemakai lulusan sekolah
     Bagi masyarakat kurikulum berfungsi sebagai penentu kualitas Sumber Daya
     Manusia yang dibentuk. Para lulusan sekolah dibentuk dan dipersiapkan untuk
     terjun di masyarakat, atau bisa dikatakan untuk bekerja sesuai dengan keahlian
     profesi yang dimiliki. Sekurang -kurangnya ada dua hal yang bisa dilakukan
     dalam fungsi ini yaitu pemakai lulusan ikut memberikan bantuan guna
     memperlancar pelaksanaan prog ram         pendidikan, dan ikut     memberikan
     kritik/saran yang membangun dalam rangka menyempurnakan program
     pendidikan di sekolah agar bisa lebih serasi dengan kebutuhan masyarakat dan
     lapangan kerja.


c. Komponen Kurikulum
         Kurikulum merupakan sebuah sistem, dan seba gai suatu sistem ia pasti
mempunyai bagian-bagian atau komponen-komponen yang saling mendukung dan
membentuk satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Setiap komponen kurikulum
merupakan kesatuan yang mempunyai pengaruh timbal balik antara satu dengan
lainnya, adapun komponen kurikulum yang utama adalah tujuan, isi atau materi,
proses atau sistem penyampaian dan media, serta evaluasi. Hal ini sesuai dengan
pendapat    Winarno Surachmad (1977:9) yang menyatakan bahwa, “Kurikulum
sebagai suatu program pendidikan y ang direncanakan dan akan direncanakan
mempunyai komponen-komponen yaitu : tujuan, isi, organisasi dan strategi”.
Sedangkan menurut Nana Syaodih Sukmadinata (1999:102) menyatakan bahwa,
“Unsur atau komponen-komponen dari anatomi tubuh kurikulum yang utama adalah
tujuan, isi atau materi, proses penyampian dan media serta evaluasi”.
         Berdasarkan uraian di atas tersebut dapat diketahui bahwa komponen -
komponen kurikulum terdiri dari :
         1) Komponen Tujuan
         Tujuan merupakan hal paling penting dalam proses pendidikan, yakni yang
dicapai secara menyeluruh, yang meliputi tujuan domain kognitif, domain afektif, dan
domain psikomotorik. Domain kognitif merupakan tujuan yang diinginkan yang
mengarah pada perkembang an akal dan intelektual peserta didik, sedangkan domain
afektif mengarah pada sikap peserta didik, serta domain psikomotorik mengarah pada
perkembangan ketrampilan jasmani peserta didik.
         Tujuan pendidikan yang berkaitan erat dengan perwujudan domain -domain
peserta didik diupayakan melalui suatu proses pendidikan yakni meliputi :
a.   Tujuan Pendidikan Nasianal
b.   Tujuan Institusional
c.   Tujuan kurikuler
d.   Tujuan Instruksional yang terdiri atas Tujuan Instruksional Umum dan khusus.
     (Abdullah Idi, 2007:51)
         2) Komponen Isi dan Struktur Program atau Materi
         Komponen isi dan struktur program atau materi merupakan materi yang
diprogramkan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Isi atau
materi yang dimaksud berupa materi bidang -bidang studi yang disesuaikan deng an
jenis, jenjang dan jalur pendidikan yang ada. Bidang -bidang studi tersebut telah
dicantumkan dalam struktur program kurikulum suatu sekolah.
         3) Komponen Media atau Sarana dan Prasarana
         Media merupakan alat bantu untuk memudahkan dalam mengaplikasi isi
kurikulum agar lebih mudah dimengerti oleh peserta didik dalam proses belajar
mengajar. Memilih alat media merupakan suatu hal yang dituntut bagi seorang
pendidik (guru) agar materi yang ditransfernya bisa berjalan sebagaimana mestinya,
dan tujuan pengajaran dari proses belajar mengajar yang ada diharapkan bisa tercapai
dengan baik.
          4) Komponen Strategi Belajar Mengajar
         Strategi menunjuk pada pendekatan, metode dan peralatan mengajar yang
diperlukan dalam pengajaran. Dengan menggunakan strategi yang tepat, diharapkan
hasil yang diperoleh dalam proses belajar mengajar dapat memuaskan bagi pendidik
maupun peserta didik.
        5) Komponen Proses Belajar Mengajar
        Komponen ini sangat penting dalam suatu proses pengajaran atau
pendidikan. Tujuan akhir dari proses belaja r mengajar adalah terjadinya perubahan
dalam tingkah laku peserta didik. Komponen ini juga punya kaitan erat dengan
suasana belajar yakni menumbuhkan motivasi dan kreativitas belajar di ruang kelas
maupun di luar kelas.
        Dalam kaitannya dengan kemampuan gur u dalam menciptakan suasana
pengajaran yang kondusif agar efektivitas tercipta dalam proses pengajaran, guru
perlu menerapkan dan mengembangkan metode mengajarnya, memusatkan pada
proses dengan produknya dan pada kompetensi yang relevan.
        6) Komponen Evaluasi atau Penilaian
        Untuk melihat sejauh mana keberhasilan dalam pelaksanaan kurikulum,
diperlukan evaluasi. Evaluasi mempunyai hubungan erat dengan komponen lainnya,
sehingga evalusi dijadikan alat ukur untuk menentukan tujuan kurikulum, materi atau
bahan serta proses belajar mengajar. Evaluasi tidak hanya untuk mmperlihatkan
sejauh mana tingkat prestasi peserta didik, tetapi juga sebagai sumber input dalam
upaya perbaikan dan pembaruan suatu kurikulum.


d. Sejarah Perkembangan Kurikulum di Indonesia
        Salah satu konsep terpenting untuk maju dan menjadi lebih baik adalah
melakukan perubahan, dan sebuah perubahan selalu di sertai dengan konsekuensi -
konsekuensi yang sudah selayaknya di pertimbangkan agar tumbuh secara bijak.
        Berikut merupakan deskripsi singkat t entang kurikulum yang pernah
dikembangkan dan dipakai dalam program pendidikan di negeri kita Indonesia:
        1) Masa setelah Merdeka sampai 1952
        Pada masa pendudukan Belanda, Indonesia dibagi menjadi negara -negara
bagian, sehingga perbedaan -perbedaan dalam pendidikan dari negara-negara itu pun
terjadi. Setelah merdeka 1945 dan kembali menjadi negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) yang diresmikan pada tanggal 17 agustus 1950, pendidikan pun
disatukan kembali dan pelaksanaan pendidikan berpedoman pada UUD 1945.
Pembaharuan pertama dikeluarkannya rencana pelajaran 1947 yang menggantikan
seluruh sistem kolonial Belanda.
        Rencana Pelajaran 1947 mengurangi pendidikan pikiran, tetapi yang
diutamakan pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat. Materi
pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari -hari, perhatian terhadap kesenian dan
pendidikan jasmani.
        2) Sejak Tahun 1952 sampai 1964
        Di penghujung era Presiden Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964
atau Kurikulum 1964. Pemikiran dan usaha pembaharuan yang m endorong lahirnya
rencana tersebut antara lain adalah tentang perlunya Indonesia mengejar
ketinggalannya di bidang ilmu pengetahuan khususnya di bidang ilmu -ilmu alam
(science) dan matematika. Rencana Pendidikan 1964 ini fokusnya pada
pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Pancawardhana). Mata
pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan,
emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih
menekankan pada pengetahuan dan keg iatan fungsional praktis.
        3) Kurikulum 1968
        Kelahiran Kurikulum 1968 ditandai dengan keadaan politik, yaitu alih orde
kurikulum 1968 mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk
Orde Lama. Tujuannya pada pembentukan manusia Pancasila seja ti, kurikulum 1968
menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran, kelompok pembinaan Pancasila,
pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus.
        4) Kurikulum 1975
        Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan
efektif. Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan
Sistem Instruksional (PPSI). Zaman ini dikenal istilah “satuan pelajaran”, yaitu
rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi sebagai
petunjuk umum, Tujuan Instruksion al Khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran,
kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975 ini banyak dikritik, karena
guru dibuat sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan
pembelajaran.
         5) Kurikulum 1984
         Kurikulum 1984 mengusung process skill approach yaitu mengutamakan
pendekatan proses dalam pembentukan kemampuan siswa, namun faktor tujuan tetap
penting. Kurikulum ini juga sering disebut kurikulum 1975 yang disempurnakan.
Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belaja r. Dari mengamati sesuatu,
mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara
Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Learning (SAL).
         Konsep CBSA yang baik secara teoritis dan bagus hasilnya di sekolah -
sekolah yang diujicobakan, mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan
secara nasional. Sayangnya banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA, yang
terlihat adalah suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, banyak
tempelan gambar, dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah.
Berangsur-angsur penolakan CBSA bermunculan.
         6) Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999
         Kurikulum 1994 dalam perjalanannya lebih pada upaya memadukan
kurikulum-kurikulum sebelumnya. Sayang, perpaduan tujuan dan proses belum
berhasil. Banyak kritik yang timbul lantaran beban belajar siswa dinilai terlalu berat,
dari muatan nasional hingga lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan
kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan
daerah, dan lain-lain. Berbagai kepentingan kelompok -kelompok masyarakat juga
mendesak agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum, dan hasilnya kurikulum 1994
menjelma menjadi kurikulum yang super padat. Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998
diikuti kehadiran Suplemen Kurik ulum 1999, tapi perubahannya hanya menambah
sejumlah materi.
        7) Kurikulum 2004
        Bahasa yang lazim kita kenal adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi
(KBK). Setiap pelajaran diurai berdasar kompetensi yang harus dicapai siswa, akan
tetapi ketidakharmosnisan muncul bila dikaitkan dengan alat ukur kompetensi siswa
yaitu ujian. Ujian akhir sekolah maupun nasional masih berupa soal pilihan ganda,
hal inilah yang menimbulkan polemik. Bila target kompetensi yang ingin dicapai,
dalam evaluasinya tentu harus lebih ba nyak soal praktik atau soal uraian yang mampu
mengukur seberapa besar pemahaman dan kompetensi siswa.
        Kurikulum ini baru di uji cobakan, meski demikian di sejumlah sekolah
kota-kota di Pulau Jawa dan kota besar di luar Pulau Jawa telah menerapkan KBK
dan hasilnya tak memuaskan.
        8) KTSP 2006
        KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di
masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan
pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan , kalender
pendidikan, dan silabus (BSNP, 2006).
        Awal 2006 ujicoba KBK dihentikan dan muncullah Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP). Pelajaran KTSP masih tersendat, karena tinjauan dari
segi isi dan proses pencapaian target kompetensi pelajaran oleh siswa, hingga teknis
evaluasi tidaklah banyak perbedaan dengan Kurikulum 2004. Perbedaan yang paling
menonjol adalah guru lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan pembelajaran
sesuai dengan kondisi siswa, lingkungan, serta kondisi sekolah berada. Hal ini
disebabkan Kerangka Dasar (KD), Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar
Kompetensi dan Kompetensi dasar (SKKD) setiap mata pelajaran untuk setiap satuan
pendidikan   telah   ditetapkan   oleh   Departemen   Pendidikan   Nasional.   Jadi,
pengembangan perangkat pem belajaran, seperti silabus dan sistem penilaian
merupakan kewenangan satuan pendidikan (sekolah) dibawah koordinasi dan
supervisi pemerintah Kabupaten/Kota. Konsep KTSP hingga sekarang masih terus
dilakukan pengembangan dan perbaikan.
        Kurikulum 2006 merupakan sebutan lain dari Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP). Menurut E. Mulyasa (2007:20) berpendapat bahwa, “Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk
mewujudkan sekolah yang efektif, produktif, dan berpresta si”. KTSP memberi
keleluasan penuh setiap sekolah mengembangkan kurikulum dengan tetap
mempertimbangkan potensi sekolah dan potensi daerah sekitar.
        Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan hasil penegasan dari
kebijakan desentralisasi yaitu memberika n peluang yang sebesar-besarnya kepada
daerah untuk berkembang.
        Peraturan Menteri No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi KTSP mencakup :
        1. Kerangka dasar dan Struktur kurikulum yang merupakan pedoman dalam
           penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
        2. Bahan belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan
           menengah.
        3. KTSP yang akan dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan
           panduan penyusunan kurikulum sebagai bagian yang tidak terpisahkan
           dari Standar Isi.
        4. Kalender pendidikan untuk penyelengg araan pendidikan pada satuan
           pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah.
        Disamping Standar      Isi   (SI), Standar   Kompetensi   Lulusan (SKL)
sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Mentri Pendidikan No.23 Tahun 2006
juga merupakan salah satu acuan dalam p enyusunan dan pengembangan KTSP oleh
satuan pendidikan. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) seperti yang tertuang dalam
pasal 1 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 Tahun 2006 juga digunakan
sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. Secara
keseluruhan Standar Kompetensi Lulusan mencakup :
       1. Standar Kompetensi Lulusan satuan pendidikan dasar dan menengah.
       2. Standar Kompetensi Lulusan minimal kelompok mata pelajaran.
       3. Standar Kompetensi Lulusan mata pelajaran.
                     2. Tinjauan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
        Menurut penjelasan Undang -Undang No. 20 Tahun 2003 pasal 15
menyebutkan bahwa, “Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang
mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu.”
Sedangkan dari sumber http://id.wikipedia.org/wiki/SMK dituliskan bahwa, “Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang
menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai
lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lai n yang sederajat atau lanjutan dari hasil
belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs.”
        Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa SMK merupakan pendidikan
menengah yang diselenggarakan untuk melanjutkan dan memperluas pendidikan
dasar serta menyiapkan peser ta didiknya untuk menjadi anggota masyarakat yang
memiliki kemampuan mengadakan dan mengembangkan kemampuannya lebih lanjut
dalam dunia kerja.
        Masa pendidikan SMK adalah tiga tahun, lulusan dari SMK diharapkan
dapat langsung bekerja dan juga diberi kesemp atan untuk melanjutkan ke perguruan
tinggi sesuai dengan programnya.
        Jalur    pendidikan    Sekolah    Menengah      Kejuruan   mengutamakan
pengembangan peserta didik untuk melaksanakan jenis pekerjaan -pekerjaan tertentu.
Pendidikan kejuruan dapat diklasifikasikan dalam         jenis pendidikan khusus
(specialized education) karena kelompok pengajaran atau program yang disediakan
hanya dipilih oleh orang-orang yang memiliki minat khusus untuk mempersiapkan
dirinya bagi lapangan pekerjaan di masa mendatang. Agar hal tersebut dapa t dicapai
maka pendidikan kejuruan berupaya menyiapkan sumber daya manusia yang
berkualitas yang dibutuhkan dalam dunia usaha dan industri.
        Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal
Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementeri an Pendidikan Nasional
menyebutkan bahwa SMK mempunyai motto, “SMK BISA! (Siap kerja, Cerdas, dan
Kompetitif)”. Untuk lebih memahami dan mengerti arah dan tujuan SMK 2010,
berikut visi, misi, dan tujuan Direktorat Pembinaan SMK 2010:
a. Visi
  Terwujudnya SMK bertaraf internasional, menghasilkan tamatan yang memiliki
  jati diri bangsa, mampu mengembangkan keunggulan lokal dan bersaing di pasar
  global
b. Misi
  1. Meningkatkan Profesionalisme dan Good Governance SMK sebagai Pusat
     Pembudayaan Kompetensi
  2. Meningkatkan Mutu Penyelenggaraan Pendidikan (8 Standar Nasional
     Pendidikan)
  3. Membangun dan memberdayakan SMK Bertaraf Internasional sehingga
     menghasilkan lulusan yang memiliki jati diri bangsa dan keunggulan kompetitif
     di pasar nasional dan global.
  4. Memberdayakan SMK untuk Mengembangkan Potensi Lokal menjadi
     Keunggulan Komparatif
  5. Memberdayakan SMK untuk Mengembangkan Kerjasama dengan Industri,
     PPPG, LPMP, dan Berbagai Lembaga Terkait
  6. Meningkatkan Perluasan dan Pemerataan Akses Pendidikan Kejuruan ya ng
     Bermutu
c. Tujuan
  1. Mewujudkan Lembaga Pendidikan Kejuruan yang akuntabel sebagai Pusat
     Pembudayaan Kompetensi Berstandar Nasional
  2. Mendidik Sumber Daya Manusia yang mempunyai etos kerja dan kompetensi
     berstandar internasional
  3. Memberikan berbagai layanan Pe ndidikan Kejuruan yang permeabel dan
     fleksibel secara terintegrasi antara jalur dan jenjang pendidikan
  4. Memperluas layanan dan pemerataan mutu pendidikan kejuruan
  5. Mengangkat keunggulan lokal sebagai modal daya saing bangsa
        Secara garis besar jalur pendidi kan SMK mengutamakan pengembangan
keterampilan peserta didik untuk melaksanakan jenis pekerjaan -pekerjaan tertentu.


                        3. Tinjauan KTSP SMK Spektrum 2008
        Sesuai dengan keputusan Direktur Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan
Menengah Departemen Pendidikan Nasional Nomor : 251/C/KEP/MN/2008, tanggal
22 Agustus 2008 menimbang bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi penentuan jurusan atau program
studi keahlian pada SMK mengacu pada spektrum keahlian pend idikan menengah
kejuruan yang diatur oleh direkorat teknis. Mengingat bahwa UU RI No 20 Th 2003
tentang Sistem Pendidikan Standar Nasional, PP RI No 19 Th 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan, Permen Diknas No 22, 23, 24 Tahun 2006 tentang Standar Isi,
Standar Kompetensi Lulusan, serta Standar Pelaksanaan Standar Isi dan Standar
Kompetensi Lulusan, memutuskan bahwa spektrum keahlian pendidikan menengah
kejuruan memuat bidang keahlian, program studi, kompetensi keahlian dan deskripsi
setiap kompetensi keahlian. Spektrum      yang dimaksud merupakan acuan dalam
menyelenggarakan bidang studi/program studi/kompetensi keahlian pada SMK.
         Di    dalam      surat    keputusan     Dirjen    Mandikdasmen       nomor
251/C/KEP/MN/2008 diatur tentang spektrum keahlian pendidikan menengah
kejuruan (SMK), adapun spektrum keahlian tersebut di kelompokkan menjadi bidang
studi keahlian, program studi keahlian, dan kompetensi keahlian. Diantara ketiga
kelompok tersebut Kompetensi Keahlian merupakan kelompok baru yang telah
ditetapkan oleh Dirjen Mand ikdasmen pada Spektrum 2008, dimana pada spektrum
sebelumnya hanya terdapat dua kelompok yakni Bidang Keahlian dan Program
Keahlian.
        Bidang Studi Keahlian adalah kelompok atau rumpun keahlian, pada
Spektrum 2008 terdapat 6 bidang studi keahlian yang terdiri atas:
        a. Teknologi dan Rekayasa
        b. Teknologi Informasi dan Komunikasi
        c. Kesehatan
        d. Seni, kerajinan dan pariwisata
        e. Agribisnis dan Agroteknologi
        f. Bisnis dan Manajemen
        Sedangkan Program Studi Keahlian adalah jurusan dalam suatu bidang studi
keahlian, pada spektrum sebelumnya disebut bidang keahlian. Pada Spektrum 2008
terdapat 40 Program studi keahlian, yang tersebar pada seluruh Bidang Studi
Keahlian (data bidang studi keahlian terlampir).
        Kompetensi keahlian adalah spesialisasi dalam suatu program studi kea hlian,
pada spektrum sebelumnya disebut program keahlian. Terdapat 121 Kompetensi
Keahlian yang telah ditetapkan oleh Dirjen Mandikdasmen pada Spektrum 2008 (data
kompetensi keahlian terlampir).
        Di dalam keputusan Dirjen Mandikdasmen ini juga menjelaskan bahwa
masing-masing kelompok program pendidikan diselenggarakan sesuai kemampuan
sekolah dan kebutuhan daerah masing -masing, dan setiap penambahan dan/atau
perubahan bidang studi/program, studi/kompetensi keahlian, tetap harus mendapat
persetujuan Kepala Dinas Pendidikan.
        Di dalam bidang studi keahlian Teknologi dan Rekayasa memuat beberapa
program studi keahlian yang meliputi : Teknik Bangunan, Teknik Blaming dan
Sanitasi, Teknik Survei dan Pemetaan, Teknik Ketenagalistrikan, Teknik Pendingin
dan Tata Udara, Teknik Mesin serta Teknik Otomotif. Pada Teknik Otomotif terdapat
kompetensi Keahlian Teknik Kendaraan Ringan.
        Dalam kekhususan kurikulum SMK ini memiliki harapan memberikan
peluang tumbuhnya potensi      SMK untuk mandiri dan bertanggung jawab dalam
mengembangkan program pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan
setempat dengan tetap mengikuti standar yang ditetapkan secara nasional.


                 4. Tinjauan Kompetensi Keahlian Kendaraan Ringan
         Seperti telah dijelaskan sebelumnya kompetensi keahlian Kendaraan Ringan
merupakan bagian dari program studi keahlian teknik otomotif, yang termasuk dalam
bidang studi keahlian teknologi dan rekayasa.
         Kompetensi keahlian kendaraan ringan adalah kompetensi keahlian di
sekolah kejuruan yang mempelajari tentang teknologi, c ara perawatan dan perbaikan
pada kendaraan ringan (passanger car). Durasi pendidikan selama 3 tahun, dan
tempat pembelajaran dilaksanakan di sekolah dan praktek kerja industri (Prakerin) di
dunia usaha/dunia industri.
         Pekerjaan yang dapat ditangani oleh lulusan ini mencakup pekerjaan
perawatan dan perbaikan kendaraan bermotor roda 4 meliputi engine/motor,
pemindah tenaga, chasis, kelistrikan bodi dan kontrol elektronik otomotif
         Dalam melaksanakan pekerjaan untuk Teknisi Kendaraan ringan para
lulusan mampu bekerja sendiri atau bekerja dalam kelompok kerja dibawah
koordinasi orang lain. Dalam melaksanakan pekerjaan para lulusan juga memiliki
kemampuan untuk perawatan dan          perbaikan yang berkaitan dengan Kendaraan
Ringan, meliputi kualifikasi sebagai berikut :
   1. Kegiatan sesuai arahan dengan otonomi terbatas.
   2. Dibawah pengawasan tidak langsung dan pemeriksaan mutu.
   3. Bertanggungjawab secara memadai terhadap kuantitas dan mutu hasil kerja.
   4. Dapat diberi tanggungjawab terhadap hasil kerja orang lain.
         Bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Peraturan Menteri (Permen) yang
sama menentukan sesuatu yang berbeda dari sekolah umum. Selain jumlah mata
pelajaran   dinyatakan   disesuaikan    dengan   kebutuhan    program       tetapi   juga
pengelompokan mata pelajaran dibedakan da ri sekolah umum. Di dalam penyusunan
kurikulum SMK mata pelajaran dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu kelompok
normatif, adatif, dan produktif. Kelompok normatif adalah mata pelajaran yang
dialokasikan    secara   tetap     yang   meliputi   Pendidikan   Agama,   Pendidi kan
Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Pendidikan Jasmani Olah raga dan Kesehatan,
dan Seni Budaya. Kelompok adaptif terdiri atas mata pelajaran Bahasa Inggris,
Matematika, IPA, IPS, Ketrampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi, dan
Kewirausahaan. Kelompok produktif terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang
dikelompokan dalam Kompetensi Dasar kejuruan dan Kompetensi Kejuruan.
Kelompok adaptif dan produktif adalah mata pelajaran yang dialokasikan waktunya
disesuaikan dengan kebutuhan program keahlian, dan dapat diselenggarakan dalam
blok waktu atau alternatif lain.
         Dasar akademik bagi penetapan Standar Kompetensi Lulusan Satuan
Pendidikan adalah tujuan pendidikan dari setiap satuan pendidikan. Pada lampiran
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 tahu n 2006 tanggal 23 Mei 2006
bagian A Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan Nomor 3 termaktub
sebagai berikut :
        Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL -SP) dikembangkan
        berdasarkan tujuan setiap satuan pendidikan, yakni: Pendidikan Menengah
        Kejuruan yang terdiri atas SMK/MAK bertujuan: Meningkatkan kecerdasan,
        pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan untuk hidup
        mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

        Ketentuan tersebut         masih berlaku hingga     sekarang, adapun tandar
Kompetensi Lulusan KTSP Spektrum 2008 pada Satuan Pendidikan Kejuruan adalah
sebagai berikut :
1.   Berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan
     perkembangan remaja
2.   Mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatk an kelebihan diri serta
     memperbaiki kekurangannya
3.   Menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku, perbuatan,
     dan pekerjaannya
4.   Berpartisipasi dalam penegakan aturan -aturan sosial
5.   Menghargai keberagaman agama, bangsa,          suku, ras, dan go longan sosial
     ekonomi dalam lingkup global
6.   Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis,
     kreatif, dan inovatif
7.   Menunjukkan      kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif dalam
     pengambilan keputusan
8.   Menunjukkan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan
     diri
9.   Menunjukkan sikap kompetitif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik
10. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah kompleks
11. Menunjukkan kemampuan menganalis is gejala alam dan sosial
12. Memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab
13. Berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara
     demokratis dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia
14. Mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya
15. Mengapresiasi karya seni dan budaya
16. Menghasilkan karya kreatif, baik individual maupun kelompok
17. Menjaga kesehatan dan keamanan diri, kebugaran jasmani, serta kebersihan
     lingkungan
18. Berkomunikasi lisan dan tulisan secara efekti f dan santun
19. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat
20. Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain
21. Menunjukkan ketrampilan membaca, menulis naskah secara sistematis & estetis
22. Menunjukkan ketrampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam
     bahasa Indonesia dan Inggris.
23. Menguasai kompetensi program keahlian dan kewirausahaan baik untuk
     memenuhi tuntutan dunia kerja maupun untuk mengikuti pendidikan tinggi
     sesuai dengan kejuruannya
        Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah
digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik.
Standar Kompetensi Lulusan tersebut meliputi standar kompetensi lulusan minimal
satuan pendidikan dasar dan menen gah, standar kompetensi lulusan minimal
kelompok mata pelajaran, dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran.
        Adapun kompetensi kejuruan dalam kompetensi keahlian teknik kendaraan
ringan adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Standar Kompetensi Keahlian Teknik Kendaraan Ringan

     STANDAR KOMPETENSI                          KOMPETENSI DASAR

 1. Memperbaiki sistem hidrolik       1.1 Mengidentifikasi sistem hidraulik
    dan kompresor udara               1.2 Memasang sistem hidraulik
                                      1.3 Menguji sistem hidraulik
                                      1.4 Memeliharan sistem hidraulik
                                      1.5 Memelihara kompresor udara dan
                                          komponen-komponennya
                                      1.6 Memperbaiki kompresor udara dan
                                          komponen-komponennya.

 2. Melaksanakan prosedur             2.1 Melaksanakan prosedur pengelasan
    pengelasan, pematrian,            2.2 Melaksanakan prosedur pematrian
    pemotongan dengan panas dan
    pemanasan                         2.3 Melaksanakan prosedur pemotongan dengan
                                          panas
                                      2.4 Melaksanakan prosedur pemanasan.

 3. Melakukan overhaul sistem         3.1 Memelihara/servis sistem pendingin dan
    pendingin dan komponen –              komponennya
    komponennya                       3.2 Memperbaiki sistem pendingin da n
                                          komponennya
                                      3.3 Melakukan overhoul sistem pendingin dan
                                          komponennya.
   STANDAR KOMPETENSI                          KOMPETENSI DASAR

4. Memelihara/servis sistem bahan   4.1 Memelihara komponen sistem bahan bakar
   bakar bensin                         bensin
                                    4.2 Memperbaiki komponen sistem bahan bakar
                                        bensin.

5. Memperbaiki sistem injeksi       5.1 Memelihara/servis sistem dan komponen
   bahan bakar diesel                   injeksi bahan bakar diesel
                                    5.2 Memperbaiki komponen injeksi bahan
                                        bakar diesel
                                    5.3 Mengkalibrasi Pompa Injeksi.

6. Memeliharaan/servis engine dan   6.1 Mengidentifikasi komponen -komponen
   komponen-komponen-nya                Utama engine
                                    6.2 Mengidentifikasi komponen -komponen
                                        engine
                                    6.3 Memelihara/servis engine dan komponen-
                                        komponennya (engine tune up)
                                    6.4 Melaksanaan pemeliharaan/servis
                                        komponen
                                    6.5 Menggunakan pelumas/cairan pembersih.

7. Memperbaiki unit kopling dan     7.1 Memelihara/servis unit kopling dan
   komponen-komponen sistem             komponen-komponen sistem pengoperasian
   pengoperasian                    7.2 Memperbaiki sistem kopling dan
                                        komponennya
                                    7.3 Mengoverhaul sistem kopling dan
                                        komponennya.
   STANDAR KOMPETENSI                        KOMPETENSI DASAR

8. Memelihara transmisi           8.1 Mengidentifikasi transmisi manual dan
                                      komponen-komponennya
                                  8.2 Mengidentifikasi transmisi otomatis dan
                                      komponen-komponennya
                                  8.3 Memelihara transmisi manual dan
                                      komponen-komponennya
                                  8.4 Memelihara transmisi otomatis dan
                                      komponen-komponennya.

9. Memelihara unit final          9.1 Mengidentifikasi unit final drive; penggerak
   drive/gardan                       roda depan, belakang dan Four Wheel drive
                                  9.2 Memelihara unit final drive penggerak roda
                                      depan
                                  9.3 Memelihara unit final drive penggerak roda
                                      belakang
                                  9.4 Memelihara unit final drive penggerak
                                      empat roda.

10. Memperbaiki poros penggerak   10.1 Memelihara/servis poros penggerak
    roda                               roda/drive shaft dan komponen-
                                       komponennya
                                  10.2 Memperbaiki poros penggerak roda/ drive
                                       shaft dan komponen-komponennya.
11. Memperbaiki roda dan ban      11.1 Mengidentifikasi konstrusksi roda dan ban
                                       serta sistem pemasangan
                                  11.2 Memeriksa roda
                                  11.3 Memasang ulang roda
                                  11.4 Memeriksa ban
                                  11.5 Memasang ulang ban
                                  11.6 Membalans roda dan ban.
   STANDAR KOMPETENSI                        KOMPETENSI DASAR

12. Memperbaiki sistem rem        12.1 Memelihara sistem rem dan komponennya
                                  12.2 Memperbaiki sistem rem dan
                                       komponennya
                                  12.3 Melakukan overhaul sistem rem.
13. Memperbaiki sistem kemudi     13.1 Mengidentifikasi berbagai jenis sistem
                                       kemudi
                                  13.2 Memeriksa kondisi sistem/komponen
                                       kemudi
                                  13.3 Memperbaiki berbagai jenis sistem
                                       kemudi.
14. Memperbaiki sistem suspensi   14.1 Memeriksa sistem suspensi dan
                                       komponen-komponenya
                                  14.2 Merawat sistem suspensi dan komponen -
                                       komponennya
                                  14.3 Memperbaiki sistem suspensi dan
                                       komponen-komponennya.
15. Memelihara baterai            15.1 Menguji baterai
                                  15.2 Memperbaiki baterai
                                  15.3 Merawat baterai
                                  15.4 Menjumper baterai.
     STANDAR KOMPETENSI                             KOMPETENSI DASAR

 16. Memperbaiki kerusakan ringan       16.1 Mengidentifikasi kesalahan
     pada rangkaian/sistem                   sistem/komponen kelistrikan dan
     kelistrikan, pengaman dan               pengaman
     kelengkapan tambahan               16.2 Memasang sistem pengaman kelistrikan
                                        16.3 Memperbaiki sistem pengaman kelistrikan
                                             dan komponennya
                                        16.4 Memasang sistem penerangan dan wiring
                                             kelistrikan
                                        16.5 Menguji sistem kelistrikan dan penerangan
                                        16.6 Memperbaiki wiring kelistrikan dan
                                             penerangan
                                        16.7 Memasang perlengkapan kelistrikan
                                             tambahan.
 17. Memperbaiki sistem                 17.1 Mengidentifikasi sistem pengapian dan
     pengapian                               komponennya
                                        17.2 Memperbaiki sistem pengapian dan
                                             komponennya.
 18. Memperbaiki sistim starter         18.1 Mengidentifikasi sistem starter
     dan pengisian                      18.2 Mengidentifikasi sistem pengisian
                                        18.3 Memperbaiki sistem starter dan
                                             komponen-komponennya
                                        18.4 Memperbaiki sistem pengisian dan
                                             komponen-komponennya.
 19. Memelihara/servis sistem AC        19.1 Mengidentifikasi sistem AC dan
     (Air Conditioner)                       komponennya
                                        19.2 Melakukan servis sistem AC dan
                                             komponennya.

                           5. Tinjauan Industri Jasa Otomotif
        Untuk pengertian jasa Kotler and Keller (2006 : 372) menyatakan bahwa, “ A
service is any act or performance that one party can offer to another that is
essentially intangible and does not result in the ownership of anything. Its production
may or may not be tied to a physical product. ” (Jasa adalah setiap tindakan atau
kinerja yang ditawarkan oleh satu pihak ke pihak lain yang secara prinsip tidak
berwujud dan tidak menyebabkan perpindahan kepemilikan. P roduksi jasa dapat
terikat atau tidak terikat pada suatu produk fisik).
         Selanjutnya Stanton (2002 : 537) menyatakan bahwa,“ Services are
identifiable, intangible activities that are the main object of a transaction designed to
provide want-satisfaction to customers. By this definition we exclude supplementary
services that support the sale of goods or other services”.
         Zeithaml and Bitner (2003 : 3) menyatakan bahwa, “ Include all economic
activities whose output is not a physical product or construction, is generally
consumed at the time it is produced, and provided added value in forms (such as
convenience, amusement, timeliness, comfort, or health) that are essentially
intangible concerns of its first purchaser”.
         Jasa pada dasarnya adalah seluruh aktivitas e konomi dengan output selain
produk dalam pengertian fisik, dikonsumsi dan diproduksi pada saat bersamaan,
memberikan nilai tambah dan secara prinsip tidak berwujud bagi pembeli
pertamanya.
         Jadi dapat kita tarik kesimpulan yang dimaksud industri jasa otomot if disini
adalah suatu usaha atau kegiatan yang memberikan pelayanan dan tindakan yang
ditawarkan oleh satu pihak ke pihak lain yang berupa perawatan dan perbaikan
kendaraan ringan. Industri jasa otomotif yang dimaksud dalam penelitian ini bisa juga
kita artikan/sebut sebagai bengkel mobil umum.


                                   6. Tinjauan Kesesuaian
         Kesesuaian adalah tingkat kecocokan, jadi dapat kita simpulkan kesesuaian
yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tingkat kecocokan antara Standar
Kompetensi KTSP spektrum 2008 dengan kebutu han industri.
                                B. Kerangka Bepikir
       Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan
bahan pelajaran yang digunakan sebagai pedoman dalam menyelenggarakan kegiatan
belajar mengajar. Kurikulum mempunyai kedudukan sendiri dalam seluruh proses
pendidikan. Selain itu juga mengarah segala bentuk aktivitas pendidikan demi
tercapainya tujuan pendidikan. Sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan pendidikan
tersebut secara jelas dirumuskan dan dicantumkan dalam kurikulum, juga disesuaikan
dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat.
       Perubahan kurikulum yang beberapa waktu lalu dilakukan (perubahan KBK
menjadi KTSP dan perubahan spektrum SMK 2004 menjadi spektrum 2008) dapat
menimbulkan tanggapan negatif dari masyarakat dan dunia industri, karena
perubahan ini masih menimbulkan beberapa pertanyaan yang belum terjawab
mengenai proses pelaksanaannya. Salah satu pertanyaan yang timbul adalah apakah
perubahan yang dilakukan sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dunia
industri. Jika dibiarkan tanggapan seperti ini dapat mempengaruhi terlaksananya
sistem pendidikan, sehingga pada pelaksanaannya tidak dapat berjalan dengan baik.
       Selain itu penerapan KTSP yang ada pada saat ini menuntut adanya
pengembangan dan kreatifitas dari sekolah masing -masing dalam penentuan
kompetensi dan indikator pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan pada
daerah masing-masing. Agar benar-benar tercapai sumber daya manusia yang
berkualitas, sebab sumber daya manusia merupakan potensi yang besar dalam
pembangunan     nasional.   Pengembangan     sumber    daya   manusia    ini   dapat
dikembangkan melalui jalur pendidikan, yaitu melalui kurikulum yang disesuaikan
dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat maupun lapangan pekerjaan.
       Oleh sebab itu, untuk menjawab keragu -raguan dari masyarakat dan dunia
industri serta sebagai bahan acuan bagi sekolah dalam menyusun kurikulum, maka
perlu dikaji lebih lanjut mengenai kebutuhan -kebutuhan industri dan diteliti
kesesuaiannya dengan kurikulum yang ada pada saat ini. Sehingga diharapkan
penerapan kurikulum yang ada benar-benar terlaksana sesuai kebutuhan daerah, dan
mendapat kepercayaan dan dukungan penuh dari masyarakat dan dunia industri.
        Proses belajar mengajar yang baik serta dukungan penuh dari masyarakat dan
dunia industri akan mempermudah tercapainya kurikulum SMK Spektrum 2008,
yaitu menghasilkan lulusan yang berkompeten serta menjadi sumber daya manusia
yang berkualitas. Sehingga diharapkan para lulusan dapat masuk di dunia usaha dan
industri sesuai dengan program keahlian yang ditekuni yaitu Teknik Otomotif dan
khususnya kompetensi keahlian kendaraan ringan.
        Untuk memperjelas pelaksanan dari uraian diatas dirumuskan gambar sebagai
berikut :



                  Standar Kompetensi
                  KTSP Spektrum 2008               Kebutuhan Industri




                                 Kesesuaian Kebutuhan
                                 Industri dengan KTSP
                                   SMK Spektrum 2008
                                 Kompetensi Keahlian
                                    Kendaraan ringan
                      Kepercayaan                       Pedoman
                      Masyarakat                  Pembentukan KTSP
                                                        Sekolah

                                     SDM berkualitas

                          Gambar 1. Bagan Kerangka Pemikiran
                                            BAB III
                                   METODE PENELITIAN


                            A. Tempat dan Waktu Penelitian
                                       1. Tempat
          Penelitian ini dilaksanakan pada industri jasa otomotif yang menangani
perawatan dan perbaikan kendaraan ringan (bengkel mobil umum) di wilayah kota
Surakarta dan sekitarnya.


                                       2. Waktu
         Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 1 Februari 2010 sampai dengan 30
Juni 2010, adapun jadwal kegiatan sebagai berikut:
Tabel 2. Jadwal Kegiatan Penelitian

                 Kegiatan                              Waktu Pelaksanaan

 Studi Literatur                             1 Februari 2010 – 28 Februari 2010
 Penyusunan Proposal                         1 Maret 2010 – 6 Mei 2010
 Seminar Proposal                            7 Mei 2010
 Revisi Proposal                             8 Mei 2010 – 9 Juni 2010
 Perijinan dan Penelitian                    14 Juni 2010 – 19 Juni 2010
 Analisis Data dan Penyusunan Laporan        20 Juni 2010 – 30 Juni 2010

                            B. Bentuk dan Strategi Penelitian
         Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, Bogdan dan Taylor
mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan
data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang -orang dan perilaku yang
dapat diamati (L. J. Moleong, 2007: 4).
      Penelitian kualitatif mengkaji perspektif partisipan dengan strategi -strategi yang
      bersifat interaktif dan fleksibel. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami
      fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang partisipan. De ngan demikian
      penelitian kualitatif adalah penelitian yang digunakan untuk meneliti pada
      kondisi objek alamiah dimana peneliti merupakan instrumen kunci (Sugiyono,
      2005).
        Penelitian Deskriptif bertujuan untuk membuat deskripsi secara sistematis,
faktual, dan akurat mengenai fakta dan sifat populasi atau daerah tertentu.
           Dengan demikian penelitian ini diarahkan pada latar dan individu objek
penelitian secara utuh, dan hasilnya akan menggambarkan kondisi yang
sebenarnya/alamiah secara sitematis, faktual, dan akurat.


                                    C. Sumber data
           Sumber data dalam penelitian ini diambil lan gsung berdasarkan peristiwa di
lokasi, dan arsip/dokumen yang berhubungan dengan masalah penelitian. Selain itu
ada 2 kelompok informan yang akan dijadikan sebagai sumber data utama dalam
penelitian ini, yaitu kelompok mekanik (sebagai pekerja teknis) dan kelompok kepala
bengkel.


                                 D. Teknik Sampling
                                1. Populasi Penelitian
           Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bengkel mobil yang ada di
Surakarta, seluruh mekanik dan seluruh kepala bengkel yang ada di dalamnya.
                                 2. Sampel Penelitian
           Teknik sampling yang digunak an yaitu sampel bertujuan (purposive sample),
dimana data ditentukan secara purposive berdasarkan karakteristik bengkel. Bengkel
yang diambil adalah bengkel mobil umum (bengkel mobil yang menangani semua
merek kendaraan) di Surakarta, minimal dalam satu hari ada 4 sampai dengan 6 mobil
yang melakukan perawatan atau perbaikan di bengkel ter sebut. Sampel yang diambil
dalam penelitian ini adalah 12 bengkel, 62 mekanik, dan 12 kepala bengkel pada
bengkel mobil umum di wilayah kota Surakarta dan sekitarnya.
                           E. Teknik Pengumpulan Data
          Ada 4 metode yang penulis gunakan untuk pengumpulan data dalam
penilitian ini, yaitu:
1.   Metode Observasi
     Metode Observasi adalah suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan
     jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung
     (Sukmadinata, 2006:220).
     Metode ini digunakan untuk memperoleh informasi mengenai bengkel yang
     dipilih, dan pengamatan langsung terhadap job/pekerjaan yang dilakukan para
     mekanik.
2.   Metode Wawancara
     Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu
     dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewancara (interviewer) yang mengajukan
     pertanyaan dan yang di wawancarai ( interviewee) yang memberikan jawaban atas
     pertanyaan itu (L. J. Moleong, 2007:186).
     Metode ini digunakan untuk memperoleh informasi tentang kebutuhan industri
     terhadap keahlian para mekanik.
3.   Metode Dokumentasi
     Metode dokumentasi adala metode pengumpulan data dengan menghimpun dan
     menganalisis dokumen, dokumen, baik dokumen tertulis, gambar, maupun
     elektronik (Sukmadinata, 2006:221).
     Metode ini digunakan untuk memperol eh informasi Standar Kompetensi yang
     terdapat pada KTSP SMK Spektrum 2008, dan data -data yang berhubungan
     dengan masalah.
4.   Metode Angket
     Metode angket adalah suatu teknik atau cara pengumpulan data secara tidak
     langsung (Sukmadinata, 2006:219). Dengan demikian dalam metode ini peneliti
     tidak langsung bertanya jawab dengan responden.
                                     F. Validitas Data
         Untuk memastikan validitas data dalam penelitian ini diperoleh melalui
trianggulasi, Lexy J. Moleong (2007:330) menyebutkan bahwa, “ trianggulasi adalah
teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data
itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu”.
Penggunaan trianggulasi dikarenakan validitasnya tidak berbentuk angka statistik,
akan tetapi validitas ditentukan berdasarkan pertimbangan yang logis. Penggunaan
trianggulasi ini nantinya berfungsi untuk memproleh data yang dapat dipercaya
kebenarannya karena tidak hanya dilihat dari satu cara pandang,                      tetapi
multiperspektif, dan selain it u data yang sudah diperoleh lebih diyakini keabsahan
datanya karena mempunyai pembanding.
         Patton (H. B. Sutopo, 2002:78) menyatakan bahwa ada empat macam teknik
trianggulasi yaitu “(1) trianggulasi data ( data triangulation), (2) trianggulasi peneliti
(investigator      triangulation),   (3)   trianggulasi    metodologis    ( methodological
triangulation), dan (4) trianggulasi teoretis ( theoritical triangulation)”.
         Pada penelitian ini menggunakan trianggulasi data dan trianggulasi metode,
trianggulasi data disebut juga t rianggulasi sumber.


                                     G. Analisis Data
         Teknik analisis yang digunakan adalah analisis data kualitatif model alir
yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman (1992), analisis dilakukan dalam 3
langkah, yaitu mereduksi data, menyajikan data, dan menyimpulkan data .
         Langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis data kualitatif ini adalah
sebagi berikut :
1. Reduksi data
   Reduksi      data   merupakan     proses   pemilihan,    pemusatan    perhatian   pada
   penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari
catatan-catatan tertulis di lapangan. Reduksi data berlangsung secara terus
menerus selama penelitian berlangsung.
Data yang telah terkumpul dianalisis secara deskriptif dengan langkah sebagai
berikut :
a. Menjumlah skor pada masing -masing butir soal
    Untuk kepentingan analisis, maka masing -masing pilihan jawaban pada
    instrumen penelitian (angket) diberi skor sebagai berikut:
            Sering                  =      3
            Kadang-kadang           =      2
            Pernah/Sangat jarang    =      1
            Tidak Pernah            =      0
b. Menghitung persentase
    Dari data yang sudah terkumpul penelit i menggunakan persentase nilai,
    dihitung dengan rumus sebagai berikut:
                           ∑X
                     N=       x 100%
                           ∑Y

    Keterangan :
            N = Persentase tingkat kesesuaian/kebutuhan
            X = Skor yang terkumpul pada butir soal
            Y = Skor maksimal pada butir soal
    Untuk analisis kesesuaian, dinilai tingkat persentase dengan ketentuan:
    Tidak Sesuai = ∑ TP (Tidak Pernah)
    Sesuai            = ∑ P (Pernah) + ∑ KK (Kadang -kadang) + ∑ S (Sering)
c. Hasil persentase lalu di deskripsikan/berpedoman pada kriteria sebagai berikut:
    Pencapaian 0% - 39% sangat rendah
    Pencapaian 40% - 55% rendah
    Pencapaian 56% - 65% cukup tinggi
    Pencapaian 66% - 79% tinggi
    Pencapaian 80% - 100% sangat tinggi (Suharsimi Arikunto, 1998:48)
2. Penyajian data
   Untuk menghindari kesulitan dalam melakukan penarikan kesimp ulan, data yang
   sudah     terkumpul   perlu     disajikan   dalam   bentuk -bentuk   tertentu   guna
   menggabungkan informasi yang tersusun dalam bentuk yang padu. Inti dari
   kegiatan ini adalah mengorganisir informasi secara sistematis guna mempermudah
   peneliti dalam menggabungkan dan merangkaikan keterikatan antar data terkait
   dengan fenomena yang ada pada obyek penelitian. Lebih lanjut, peneliti dapat
   membandingkan fenomena yang terjadi di lapangan dengan teori yang relevan.
3. Penarikan kesimpulan
   Penarikan kesimpulan dalam pe nelitian ini bukanlah langkah final dari kegiatan
   analisis. Dengan bertambahnya data, kesimpulan yang kabur menjadi lebih
   mendasar. Dalam hal ini kesimpulan senantiasa harus diverifikasi selama
   penelitian berlangsung.
           Kegiatan-kegiatan tersebut di atas dapat digambarkan secara skematis
sebagai berikut :



                    Pengumpulan                              Penyajian Data
                        Data


                    Reduksi Data                              Kesimpulan/
                                                               Verifikasi



      Gambar 2. Skema Analisis Model Interaktif (Huberman & Miles, 1992 : 20)




                                   H. Prosedur Penelitian
        Menyusun karya penelitian ilmiah merupakan suatu proses bertindak dan
berpikir yang logis dan sistematis, pada penelitian ini prosedur yang digunakan
adalah seperti pada gambar berikut :
                                 Memilih Masalah


                                 Studi Pendahuluan


                               Merumuskan Masalah


                         Merumuskan Tujuan dan Manfaat


                                Memilih Pendekatan


         Menentukan Variabel                       Menentukan Sumber Data



                           Menentukan dan Menyusun
                                  Instrumen


                                Mengumpulkan Data


                             Analisis dan Reduksi Data


                                Menarik Kesimpulan



                          Gambar 3. Prosedur Penelitian
                                        BAB IV
                                HASIL PENELITIAN


         Berdasarkan pengumpulan data yang telah dilakukan pada Spektrum 2004
dan Spektrum 2008 (Diambil dari Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan                Menengah,
Departemen Pendidikan Nasional: sumber www. Ditpsmk.net), dan kebutuhan
industri jasa otomotif di Surakarta diperoleh data mengenai perbedaan Spektrum
2004 dengan Spektrum 2008 dan juga kesesuaian KTSP Spektrum 2008 dengan
kebutuhan industri jasa otomotif.
         Penyajian dan analisis data mengacu pada lampiran 7 dan 8 tentang Surat
Keputusan Dirjen Mandikdasmen mengenai Spektrum 2008, lampiran 13, 14, dan 15
tentang rekapitulasi tingkat kebutuhan industri jasa otomotif di Surakarta. Berikut ini
disajikan secara berurutan deskripsi dan analisis data hasil penelitian.


                           A. Analisis dan Deskripsi Data
                 1. Deskripsi Industri Jasa Otomotif di Surakarta
                                    a. Bidang Usaha
         Berdasarkan hasil observasi ada 70 lebih Industri jasa otomotif di Surakarta,
yang terdiri dari berbagai bidang usaha. Baik usaha yang berkaitan dengan perawatan
dan perbaikan engine, perawatan dan perbaikan dinamo, perawatan dan perbaikan
radiator, perawatan dan perbaikan accu, perawatan dan perbaikan power steering dan
understeel, ganti oli, dan ban yang memang sebagai kebutuhan utama, maupun yang
bersifat tambahan seperti accecorris, perawatan dan perbaikan body, custom, cuci
mobil, perawatan dan perbaikan AC (air conditioning), velg, audio, spooring, dan
balancing.
                           b. Bidang Usaha Bengkel Umum
           Untuk data-data mengenai kebutuhan industri jasa otomotif diambil dan
diteliti secara langsung pada bengkel -bengkel di wilayah Kota Surakarta. Seperti
yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, sampel yang telah diambil sebanyak 12
bengkel umum, 48 mekanik dari 62 mekanik (tidak semua diambil karena ada
beberapa bengkel yang memberikan kebijakan untuk tidak semua mekaniknya
menjadi sampel, dengan alasan mekanik sibuk melayani customer), dan 12 kepala
bengkel.
           Adapun daftar bengkel mobil um um yang di ambil datanya adalah sebagai
berikut:
Tabel 3. Daftar Bengkel Umum di Surakarta
                                                                            Jumlah
                                                                            Diambil/
No.        Bengkel Mobil                        Alamat                      Jumlah
                                                                            Mekanik

                             Jl. DR. Rajiman No. 566, Laweyan -               3/4
1.    Majestic
                             Surakarta
                             Jl. Insinyur Juanda No. 123, Jebres-             4/4
2.    Makmur Mulya
                             Surakarta

3.    Opel Solo              Jl. Dr. Soeharso 54-56 Jajar, Surakarta          5/5

                             Jl. LU. Adisucipto No. 200 Karang asem,          3/6
4.    Setia Prima
                             Surakarta
                             Jl. Cokro Aminoto No. 2 Pucang Sawit,            5/5
5.    Hero
                             Surakarta
                             Jl. Prof. W.Z. Yohannes No. 19 Jagalan,          2/4
6.    Sugiyo Motor
                             Jebres-Surakarta

7.    Star Prima             Jl. Surya No. 147 Jagalan, Jebres -Surakarta     3/4
                               Jl. Kedempel No. 24 Dawung Wetan,         4/6
8.      Raswo
                               Surakarta
                               Jl. Ahmad Yani No. 75 Ngemplak,           3/4
9.      Lima Sekawan
                               Surakarta

10.     Sahabat                Jl. Slamet Riyadi No. 442, Makam Haji     6/7


11.     Agung Auto Service     Jl. Slamet Riyadi No. 397, Makam Haji     5/4


12.     Iwan Motor             Jl. Papagan, Makam Haji-Surakarta         5/9



          Bengkel umum ini menerima semua tipe dan jenis kendaraan, adapun yang
diterima dan di tangani pada bengkel umum ini adalah sebagai berikut:
     a. Sedan
     b. Truk
     c. Jeep
     d. Mini bus
     e. Niaga
     f. MPV
     g. Mini MPV
     (Mesin bensin, mesin diesel, mesin injeksi bensin)
          Bidang usaha yang menangani kebutuhan utama kendaraan seperti
perawatan dan perbaikan engine atau yang kita kenal dengan bengkel umum, hampir
sebagian besar berlokasi di pinggiran kota dan letaknya kecenderungan untuk
berkumpul di suatu wilayah. Ada dua jenis atau tipe bengkel umum yang ada di
masyarakat pada saat ini, yaitu bengkel umum yang mengorganisasikan bengkel
dengan manajemen konvensional dan b engkel umum yang sudah mengorganisasikan
bengkel dengan manajemen modern.
        Bengkel dengan manajemen konvensional adalah bengkel yang menangani
pelanggan dengan sistem ada keluhan langsung perbaiki, sedangkan bengkel dengan
manajemen moderen adalah bengkel yang menerima mobil/pelanggan dengan
beberapa tahapan yaitu:
1. Penerimaan,
    Mobil yang datang disambut oleh costumer service untuk dicatat kode plat mobil
    dan tipe/jenis kendaraannya, setelah itu pelanggan diterima oleh kepala bengkel
    serta ditanyakan keluhan yang terjadi.
2. Penjelasan
    Dari keluhan yang dirasakan pelanggan terhadap kendarannya kepala bengkel
    menjelaskan kemungkinan kerusakan yang terjadi.
3. Perbaikan
    Kepala bengkel memeriksa mobil untuk mengetahui kerusakan yang sebenarnya,
    setelah diketahui permasalahannya kemudian kepala bengkel menjelaskan
    perbaikan yang mungkin akan dilakukan berdasarkan kerusakan -kerusakan
    tersebut.
4. Estimasi biaya dan estimasi waktu
    Kepala bengkel menjelaskan biaya yang mungkin akan dikeluarkan serta
    lamanya waktu pengerjaan.
5. Pekerjaan yang baik
    Setelah ada persetujuan dari pemilik, kepala bengkel menyerahkan mobil kepada
    mekanik untuk segera dikerjakan dengan prosedur yang ada.
6. Penyerahan dan penjelasan setelah perbaikan
    Setelah di perbaiki, mobil diserahkan kembali kepada kepala bengkel untuk
    kemudian langsung diserahkan ke pemilik mobil dan juga dijelaskan perbaikan -
    perbaikan yang telah dilakukan.
7. Barang bekas
    Semua barang bekas ataupun barang sisa harus diketahui dan dikembalikan
    kepada pemilik.
8. Follow up setelah perbaikan
    Kepala bengkel menjelaskan perawatan yang perlu dilakukan agar tidak terjadi
    kerusakan lagi.
        Perbedaan ini memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kualitas dan
kepercayaan masyarakat, dari segi pelanggan yang diterima bengkel manajemen
modern lebih banyak berkisar 10-20 pelanggan/hari sedangkan manajemen
konvensional hanya berkisar 4 -8 pelanggan/hari.


          2. Deskripsi Kebutuhan Kompetensi Industri Jasa Otomotif
        Secara garis besar standar kompetensi yang telah dibuat Mendikdasmen
merupakan kebutuhan dari industri, namun kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan
secara global dan perancangannya belum secara optimal bersinggungan dengan
industri-industri kecil dan menengah, padahal industri kecil dan menengah
merupakan bidang usaha yang melakukan kontak langsung dengan masyarakat dari
berbagai golongan tingkat ekonomi.
        Berikut adalah kebutuhan industri jasa otomotif khususnya bengkel umum di
surakarta yang telah disesuaikan dengan standar kompetensi Spektrum 2008:
 Tabel 4. Tingkat Kebutuhan Industri Jasa Otomotif di Surakarta
                    STANDAR KOMPETENSI                                 TINGKAT
       TEKNIK KENDARAAN RINGAN SPEKTRUM 2008                         KEBUTUHAN
20. Memperbaiki sistem hidrolik dan kompresor udara
    1.7 Mengidentifikasi sistem hidraulik
    1.8 Memasang sistem hidraulik
    1.9 Menguji sistem hidraulik
                                                                      Sangat rendah
    1.10Memeliharan sistem hidraulik
    1.11Memelihara kompresor udara dan komponen -komponennya
    1.12Memperbaiki kompresor udara dan komponen -
        komponennya.
21. Melaksanakan prosedur pengelasan, pematrian, pemotongan
    dengan panas dan pemanasan
    2.5 Melaksanakan prosedur pengelasan
                                                                     Sangat Rendah
    2.6 Melaksanakan prosedur pematrian
    2.7 Melaksanakan prosedur pemotongan dengan panas
    2.8 Melaksanakan prosedur pemanasan.
22. Melakukan overhaul sistem pendingin dan komponen –
    komponennya
    3.4 Memelihara/servis sistem pendingin dan komponennya                  Rendah
    3.5 Memperbaiki sistem pendingin dan komponennya
    3.6 Melakukan overhaul sistem pendingin dan komponennya.
23. Memelihara/servis sistem bahan bakar bensin
    4.3 Memelihara komponen sistem bahan bakar bensin                 Sangat Tinggi
    4.4 Memperbaiki komponen sistem bahan bakar bensin.
                       STANDAR KOMPETENSI                        TINGKAT
       TEKNIK KENDARAAN RINGAN SPEKTRUM 2008                    KEBUTUHAN
24. Memperbaiki sistem injeksi bahan bakar diesel
    5.4 Memelihara/servis sistem dan komponen injeksi bahan
        bakar diesel                                               Rendah
    5.5 Memperbaiki komponen injeksi bahan bakar diesel
    5.6 Mengkalibrasi Pompa Injeksi.
25. Memeliharaan/servis engine dan komponen-komponen-nya
    6.6 Mengidentifikasi komponen -komponen Utama engine
    6.7 Mengidentifikasi komponen -komponen engine
    6.8 Memelihara/servis engine dan komponen-komponennya       Sangat Tinggi
        (engine tune up)
    6.9 Melaksanaan pemeliharaan/servis komponen
    6.10Menggunakan pelumas/cairan pembersih.
26. Memperbaiki unit kopling dan komponen -komponen sistem
    pengoperasian
    7.4 Memelihara/servis unit kopling dan komponen -komponen
                                                                Sangat Tinggi
        sistem pengoperasian
    7.5 Memperbaiki sistem kopling dan komponennya
    7.6 Mengoverhaul sistem kopling dan komponennya.
27. Memelihara transmisi
    8.5 Mengidentifikasi transmisi manual dan komponen -
        komponennya
    8.6 Mengidentifikasi transmisi otomatis dan komponen -
                                                                   Tinggi
        komponennya
    8.7 Memelihara transmisi manual dan komponen-komponennya
    8.8 Memelihara transmisi otomatis dan komponen -
        komponennya.
                    STANDAR KOMPETENSI                               TINGKAT
       TEKNIK KENDARAAN RINGAN SPEKTRUM 2008                        KEBUTUHAN
28. Memelihara unit final drive/gardan
    9.5 Mengidentifikasi unit final drive; penggerak roda depan,
        belakang dan Four Wheel drive
                                                                       Tinggi
    9.6 Memelihara unit final drive penggerak roda depan
    9.7 Memelihara unit final drive penggerak roda belakang
    9.8 Memelihara unit final drive penggerak empat roda.
 29. Memperbaiki poros penggerak roda
     10.3 Memelihara/servis poros penggerak roda/ drive shaft dan
           komponen-komponennya                                        Tinggi
     10.4 Memperbaiki poros penggerak roda/drive shaft dan
           komponen-komponennya.
 30. Memperbaiki roda dan ban
     11.7 Mengidentifikasi konstrusksi roda dan ban serta sistem
           pemasangan
     11.8 Memeriksa roda
                                                                       Tinggi
     11.9 Memasang ulang roda
     11.10 Memeriksa ban
     11.11 Memasang ulang ban
     11.12 Membalans roda dan ban.
 31. Memperbaiki sistem rem
     12.4 Memelihara sistem rem dan komponennya
                                                                    Sangat Tinggi
     12.5 Memperbaiki sistem rem dan komponennya
     12.6 Melakukan overhaul sistem rem.
                  STANDAR KOMPETENSI                               TINGKAT
     TEKNIK KENDARAAN RINGAN SPEKTRUM 2008                        KEBUTUHAN
32. Memperbaiki sistem kemudi
    13.4 Mengidentifikasi berbagai jenis sistem kemudi
                                                                  Sangat Tinggi
    13.5 Memeriksa kondisi sistem/komponen kemudi
    13.6 Memperbaiki berbagai jenis sistem kemudi.
33. Memperbaiki sistem suspensi
    14.4 Memeriksa sistem suspensi dan komponen -komponenya
    14.5 Merawat sistem suspensi dan komponen -komponennya        Sangat Tinggi
    14.6 Memperbaiki sistem suspensi dan komponen -
         komponennya.
34. Memelihara baterai
    15.5 Menguji baterai
    15.6 Memperbaiki baterai                                      Cukup Tinggi
    15.7 Merawat baterai
    15.8 Menjumper baterai.
35. Memperbaiki kerusakan ringan pada rangkaian/ sistem
    kelistrikan, pengaman dan kelengkapan tambahan
    16.8 Mengidentifikasi kesalahan sistem/komponen kelistrikan
         dan pengaman
    16.9 Memasang sistem pengaman kelistrikan
    16.10 Memperbaiki sistem pengaman kelistrikan dan                Tinggi
         komponennya
    16.11 Memasang sistem penerangan dan wiring kelistrikan
    16.12 Menguji sistem kelistrikan dan penerangan
    16.13 Memperbaiki wiring kelistrikan dan penerangan
    16.14 Memasang perlengkapan kelistrikan tambahan.
                     STANDAR KOMPETENSI                                    TINGKAT
       TEKNIK KENDARAAN RINGAN SPEKTRUM 2008                            KEBUTUHAN
 36. Memperbaiki sistem pengapian
     17.3 Mengidentifikasi sistem pengapian dan komponennya              Sangat Tinggi
     17.4 Memperbaiki sistem pengapian dan komponennya.
 37. Memperbaiki sistim starter dan pengisian
     18.5 Mengidentifikasi sistem starter
     18.6 Mengidentifikasi sistem pengisian
     18.7 Memperbaiki sistem starter dan komponen-                           Tinggi
           komponennya
     18.8 Memperbaiki sistem pengisian dan komponen -
           komponennya.
 38. Memelihara/servis sistem AC ( Air Conditioner)
     19.3 Mengidentifikasi sistem AC dan komponennya                     Sangat Rendah
     19.4 Melakukan servis sistem AC dan komponennya.


        Selain kompetensi yang sudah disebutkan diatas, masih ada kompetensi lain
yang dibutuhkan dari para pelaku industri. Di antaranya adalah sebagai berikut:
        1. Kompetensi perawatan dan p erbaikan sistem injeksi bensin atau yang
            sering dikenal dengan sebutan sistem EFI ( Electronic Fuel Injection).
            Kemampuan       perawatan dan perbaikan sistem EFI ini merupakan
            kebutuhan yang sangat dibutuhkan para pelaku industri, hal ini
            disebabkan oleh semakin banyaknya mobil bermesin injeksi bensin
            (sistem EFI) yang ada di masyarakat. Hal ini yang dikeluhkan oleh para
            kepala bengkel, kebutuhan yang tinggi ini masih belum sejalan dengan
            kemampuan para mekaniknya. Mereka para mekanik ini, masih banyak
            yang belum paham dan belum menguasai cara kerja komponen -
            komponen yang mendukung dalam sisten injeksi bensin.
   Dengan adanya keterbatasan ini kebanyakan bengkel mobil umum
   ataupun bengkel mobil jalanan tidak menerima perbaikan mobil -mobil
   dengan sistem injeksi bensin, hal ini pun mempengaruhi pemasukan dan
   kepercayaan masyarakat terhadap bengkel mereka.
2. Kompetensi uji emisi gas buang
   Dengan adanya peraturan pemerintah dengan standar emisi gas buang,
   uji emisi gas buang ini juga mulai di perlukan di masyarakat. Selain itu
   uji emisi gas buang ini juga berfungsi sebagai analisis pembakaran, yang
   nantinya berhubungan dengan efisiensi bahan bakar.
3. Kompetensi Perbaikan transmisi otomatis
   Bukan hanya sekedar mengidentifikasi dan memelihara, namun dapat
   memperbaiki.
4. Kompetensi driving (menyetir).
   Mekanik juga terkadang harus melakukan test drive terhadap mobil yang
   akan atau telah di perbaikinya.
5. Kompetensi perawatan dan perbaikan sistem door lock dan sistem power
   window.
   Mobil-mobil yang ada sekarang sudah mulai beralih dari sistem manual
   ke sistem otomatis, sehingga banyak komponen -komponen pelengkap
   mobil pun yang menganut paham ini. Termasuk di dalamnya sistem door
   lock secara otomatis dan power window yang juga sudah secara otomatis.
6. Kompetensi pelayanan pelanggan.
   Kemampuan besosialisasi dengan pelanggan merupakan salah satu
   kompetensi yang sangat penting, setiap usaha bidang jasa bisa bertahan
   dengan kepercayaan masyarakat yang timbul terhadap bengkel, dan
   kemampuan besrsosialisasi berperan besar dalam hal tersebut.
7. Kompetensi pengelolaan manajemen bengkel
   Kemampuan mengatur dan mengorganisasikan bengkel merupakan dasar
   berdirinya suatu bengkel.
        8. Kompetensi penggunaan alat -alat bantu
            Kemampuan dalam menggunakan alat bantu dalam bekerja sangat
            penting, karena dapat m empermudah dan mempercepat pekerjaan. Alat -
            alat bantu yang ada pada saat ini sudah berkembang dan semakin
            canggih. Peralatan yang ada dan sering dipakai oleh para mekanik yaitu
            toolbox/kunci-kunci standar (kunci ring. kunci pas, tang, obeng, dan lain -
            lain), scan tool, gas analizer, cleaning injector , spooring, balancing,
            meja hidrolik, kompresor, gerinda, mesin las listrik, mesin bor tangan,
            dan lainnya.
        Secara keseluruhan semua kebutuhan timbul dari perkembangan yang ada di
masyarakat, mengikuti perkembangan tekhnologi. Dengan meningkatnya tekhnologi
maka makin meningkat juga kebutuhan masyarakat, dan akhirnya meningkat juga
kebutuhan industri jasa dalam memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut. Dengan
kondisi ini diharapkan kurikulum dapat terus mengikuti perkembangan zaman yang
ada, sehingga dapat dihasilkan sumber daya manusia yang berkualitas.




             3. Deskripsi Kesesuaian KTSP Spektrum 2008 dengan
                           Kebutuhan Industri Jasa Otomotif
        Dari 12 bengkel yang telah diambil sampel hampir seluruhnya memiliki
keterbatasan tempat, alat, dan manajemen bengkel. Seperti yang telah di bahas
sebelumnya, masih banyak bengkel umum yang memakai manajemen konvensional.
Hanya ada beberapa bengkel yang sudah terorganisasi dengan baik dan memakai
manajemen moderen seperti bengkel Iwan Motor, Raswo motor, dan Majestic motor,
bengkel-bengkel yang disebutkan kecuali Majestic Motor memiliki pelanggan yang
lebih banyak dari yang lain (9 -15 pelanggan/hari). Dari hasil observasi dan
wawancara, semua bengkel yang ada telah memenuhi syarat untuk dilakukan
penelitian mengenai Kesesuaian KTSP Spektrum 2008 dengan Kebutuhan Industri
Jasa Otomotif di Surakarta.
        Tingkat kebutuhan bengkel umum terha dap Standar Kompetensi yang telah
dibuat adalah dari 19 komponen terdapat 3 komponen yang dinyatakan sangat rendah,
2 komponen dinyatakan rendah, 1 komponen dinyatakan cukup tinggi, 6 komponen
dinyatakan tinggi, dan 7 komponen dinyatakan sangat tinggi. Den gan demikian dari
hasil data yang diperoleh, untuk kesesuaian Standar Kompetensi dengan kebutuhan
industri jasa otomotif di Surakarta dinyatakan “Sangat Tinggi/Sangat Sesuai” (92,3%
Standar Kompetensi teknik kendaraan ringan KTSP Spektrum 2008 sesuai denga n
kebutuhan industri jasa otomotif, dan sebesar 7,7% tidak sesuai).
        Dari ketidaksesuaian Standar Kompetensi yang ada (7,7%), sebagian besar
berasal dari kompetensi perawatan sistem AC ( air conditioning), kompetensi
perawatan dan perbaikan kompresor udara, kompetensi perawatan sistem injeksi
diesel dan kompetensi pengelasan, pematrian, pemotongan dengan panas dan
pemanasan. Dari hasil pengamatan dan observasi yang ada ketidaksesuaian ini bukan
disebabkan kecilnya kebutuhan industri jasa otomotif akan kompete nsi tersebut, akan
tetapi lebih disebabkan karena adanya faktor lain yang mempengaruhinya.
        Untuk kompetensi perawatan AC, ketidaksesuaian ini disebabkan karena
tidak semua mekanik bisa menguasai perawatan sistem AC dan juga dipengaruhi oleh
sudah banyaknya unit usaha jasa yang khusus menangani AC. Keadaan ini juga sama
dengan kompetensi pengelasan, pematrian, pemotongan dengan panas dan
pemanasan. Di masyarakat juga sudah banyak unit usaha jasa yang khusus menangani
pengelasan. Dengan kondisi yang ada para pengelola bengkel mobil lebih
memprioritaskan    menangani     sistem -sistem   utama   kendaraan   seperti   sistem
pengapian, sistem bahan bakar, sistem penggerak, dan yang lainnya. Keterbatasan
kompetensi perawatan AC dan kompetensi pengelasan, pematrian, pemotongan
dengan panas dan pemanasan ini bisa saja dipengaruhi oleh masih kurangnya materi,
penanaman konsep, dan praktek di masa sekolah. Untuk mengetahuinya lebih lanjut
bisa dilakukan penelitian yang berkaitan.
        Untuk sistem injeksi diesel ketidaksesuaian lebih d isebabkan karena intesitas
bengkel dalam menerima perawatan dan perbaikan mobil mesin diesel masih sedikit,
dan dikarenakan jumlah mobil diesel pun memang terbatas.
        Kesesuaian ini juga bisa dipengaruhi pengalaman, tingkat kedewasaan dan
pendidikan dari para masing-masing mekanik. Untuk kepentingan analisis peneliti
mengambil data mengenai umur dan riwayat pendidikan dari para mekanik.
        Dari jumlah keseluruhan 48 responden untuk data mengenai umur dibagi
menjadi 5 kelompok umur (15 -20, 21-25, 26-30, 31-35, >35). Untuk mekanik yang
berada pada rentang umur 15 tahun sampai dengan 20 tahun berjumlah 3 orang
(6,25%), mekanik pada rentang umur 21 tahun sampai dengan 25 tahun berjumlah 11
orang (22,92%), mekanik pada rentang umur 26 tahun sampai dengan 30 tahun
berjumlah 11 orang (22,92%), mekanik pada rentang umur 31 tahun sampai dengan
35 tahun berjumlah 9 orang (18,75%), mekanik dengan rentang umur diatas 35 tahun
berjumlah 14 orang (29,16%).
        Untuk riwayat pendidikan dibagi menjadi 5 kelompok (SD, SMP, SMA,
STM, dan D1, D3, S1). Mekanik lulusan SD ada 1 orang, lulusan SMP berjumlah 3
orang, lulusan SMA 11 orang, lulusan STM berjumlah 30 orang, lulusan D1, D3, S1
berjumlah 3 orang.
            4. Kritik dan Saran Dunia Kerja pada Dunia Pendidikan
        Dunia kerja merupakan basis utama dalam penerapan kompetensi dan
keahlian yang dipelajari pada dunia pendidikan, sehingga sinkronisasi/kecocokan dan
upaya saling dukung sangat diperlukan dari kedua unsur ini. Berikut merupakan saran
dan kritik yang disampaikan dari pa ra pelaku industri, khususnya industri jasa
otomotif:
  a. Pihak sekolah harus benar-benar membuat kurikulum yang banyak menerima
      masukan dari dunia kerja
  b. Lulusan SMK harus benar-benar siap kerja
  c. Diperbanyak jam pelajaran sistem injeksi
  d. Diperbanyak jam pelajaran yang membahas Elektronika yang terkait dengan
      mobil
  e. Materi harus “up to date” mengikuti zaman
  f. Bagi para lulusan yang tidak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi untuk
      langsung masuk ke dunia kerja
  g. Alat-alat praktek di sekolah harus lengkap
  h. Guru harus mempunyai latar teknik di industri
  i. Dunia pendidikan banyak ketinggalan dari perkembangan tekhnologi,
      sebaiknya para pelajar maupun pengajar kreatif mencari info di luar dunia
      pendidikan
  j. Materi teori dan praktek harus sesuai dan seimbang
  k. Tingkatkan pendidikan dengan sistem yang baik
  l. Biasakan bekerja dengan standar yang ada, jangan hanya kebiasaan
  m. Utamakan kesehatan keselamatan kerja
                                 B. Pembahasan
                       i.   Karakteristik Spektrum 2008
        Pendidikan Menengah Kejuruan adalah pendidikan yang menyiapkan peserta
didik menjadi manusia yang produktif yang dapat langsung bekerja di bidangnya,
setelah melalui pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi. Pendidikan adalah
salah satu bentuk perwujud an seni dan budaya manusia yang dinamis dan syarat akan
perkembangan, karena itu perubahan dan perkembangan atau pembaruan pendidikan
memang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan. Perubahan
dalam arti perbaikan pendidikan pada semua tingkat perlu terus menerus dilakukan
sebagai persiapan dalam menghadapi kepentingan masa depan,
        Perubahan    Spektrum    yang    baru -baru   ini   dilakukan   oleh   Dirjen
Mendikdasmen sudah mengacu pada kebutuhan yang diperlukan masyarakat dan
lembaga/kelompok yang berkepentingan (stakeholder). Karakteristik dari Spektrum
2008 ini adalah adanya pemusatan atau spesialisasi pada bidang materi tertentu,
sehingga pembelajaran lebih terfokus dan pada akhirnya benar -benar dapat terbentuk
profesionalisme   pekerjaan.   Dari   tabe l   program-program    pendidikan    yang
dilaksanakan pada Spektrum 2008 dan Spektrum 2004 dapat kita lihat adanya
perbedaan yang mencolok antara keduanya, yaitu pada Spektrum 2008 terjadi
penyempitan dan juga perluasan kelompok program pendidikan. Kelompok yang ada
kesamaan materi dilakukan penyempitan, sedangkan perluasan disesuaikan dan
dilakukan berdasarkan atas profesi kerja yang ada di masyarakat. Salah satu
contohnya adalah bidang otomotif, pada Spektrum 2004 dikenal dengan bidang
keahlian teknik mesin dan di bawahnya ada program keahlian mekanik otomotif
yang mempelajari keseluruhan materi otomotif baik keilmuan         kendaraan ringan
(mobil) maupun keilmuan sepeda motor. Pada Spektrum 2008 ini bidang otomotif
masuk dalam Bidang studi keahlian Teknologi dan Rek ayasa, program studi yang
awalnya Teknik Mekanik Otomotif diubah nama menjadi Teknik Otomotif, dan di
bawahnya terdapat 2 Kompetensi Keahlian yaitu Teknik Kendaraan Ringan dan
Teknik Sepeda Motor.
        Kebijakan perubahan Spektrum dengan jalan adanya pemusatan atau
spesialisasi pada bidang   materi tertentu, serta penyempitan dan juga perluasan
kelompok program pendidikan sudah sesuai dengan realita yang ditemukan di dunia
kerja. Di dunia kerja yang ada pada saat ini sudah mengarah ke spesialisasi pekerjaan
dan fokus ke profesi pekerjaan, hal ini dapat kita lihat dari jenis dan bidang usaha
yang ada di masyarakat pada saat ini sudah sangat luas dan beragam. Dengan adanya
kebutuhan tersebut, maka perubahan dianggap sangat diperlukan.
        Di dalam keputusan Dirjen Man dikdasmen juga dijelaskan bahwa masing -
masing kelompok program pendidikan diselenggarakan sesuai kemampuan sekolah
dan kebutuhan daerah masing -masing, dan setiap penambahan dan/atau perubahan
bidang studi/program, studi/kompetensi keahlian, tetap harus men dapat persetujuan
Kepala Dinas Pendidikan. Dengan demikian sesuai arahan ini sekolah dapat secara
bebas menentukan fokus dan arah tujuan sekolah mereka, selain itu sekolah juga
dapat membentuk karakter dan ciri khas sekolah masing -masing sehingga dapat
membentuk lulusan yang berkualitas, terprogram dan terstruktur. Dengan demikian,
pembukaan program pendidikan di SMK diharapkan harus responsif terhadap
perubahan dan kebutuhan pasar kerja, agar program pendidikan yang dilaksanakan
dapat benar-benar memenuhi kepentingan masyarakat luas.
        Pengembangan KTSP Spektrum 2008 ini nantinya harus dikembangkan
sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan di bawah
koordinasi dan supervisi dinas pendidikan. Pengembangan KTSP mengacu pada SI
dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun BSNP,
serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah.
        Penyempurnaan atau perbaikan pendidikan untuk memenuhi kebutuhan dan
tantangan masa depan ini harus kita dukung dan tanggapi dengan respo n baik. Kita
ikut andil bagian dengan jalan berpikir positif terhadap program -program pendidikan
yang dilaksanakan, sehingga tujuan pendidikan nasional untuk menciptakan manusia
yang berkualitas, dan tujuan bangsa untuk mensejahterakan semua lapisan
masyarakat nantinya dapat benar -benar terwujud.
             ii.   Karakteristik Industri Jasa Otomotif di Surakarta
         Pendidikan secara nasional ditujukan untuk meningkatkan kualitas manusia
Indonesia, pendidikan ini berlangsung seumur hidup dalam lingkungan keluarga,
sekolah, dan masyarakat. Pendidikan dirancang dengan melihat kebutuhan dari dunia
kerja ataupun dunia industri, oleh sebab itu keadaan dan kebutuhan industri yang ada
pada saat ini sangat penting untuk kita ketahui.
         Secara keseluruhan bidang usaha yang ada pada masyar akat pada saat ini
mengarah ke spesialisasi dan adanya profesionalisme pekerjaan, dimana satu bidang
usaha hanya menangani satu jenis pekerjaan.
         Fenomena ini merupakan trend positif yang berkembang di dunia usaha
khususnya bidang otomotif bagi siswa SMK d i dunia kerja, karena makin banyak
kesempatan, peluang dan pilihan jenis usaha yang bisa di sesuaikan dengan
kemampuan masing-masing. Apalagi spesialisasi dan profesionalisme pekerjaan ini
juga sudah sejalan dengan program pendidikan yang telah dibuat Mand ikdasmen
pada Spektrum 2008, sehingga diharapkan siswa SMK nantinya benar -benar dapat
bersaing di dunia kerja.
         Di dalam dunia kerja pengelolaan manajemen bengkel yang baik dan
pelayanan pelanggan juga mempengaruhi tingkat keberhasilan, sehingga sangat perl u
untuk disiapkan dengan baik. Seperti yang ada pada bengkel -bengkel umum di
surakarta pada saat ini menggunakan 2 prinsip manajemen bengkel, yaitu manajemen
konvensional dan manajemen moderen. Dari kedua manajemen bengkel tersebut
dapat kita lihat perbedaan yang jelas pada pelanggannya, bengkel dengan manajemen
modern lebih baik dan lebih ramai daripada bengkel dengan manajemen
konvensional.
         Ramainya pelanggan bengkel dengan manajemen moderen ini pun nantinya
dapat meningkatkan kapasitas bengkel, salah sa tunya menambah dan memperbarui
alat-alat sehingga lebih meningkatkan kualitas bengkel. Adapun bengkel manajemen
konvensional seolah tidak bergerak dan sulit untuk berkembang, pelanggannya pun
semakin berkurang tiap tahunnya. Untuk itu diharapkan bagi setia p orang yang mau
terjun di dunia industri jasa otomotif, selain mempersiapkan keahlian -keahlian teknis
juga mempersiapkan keahlian non teknis seperti manajemen dan pelayanan
pelanggan.


iii.   Kesesuaian Dunia Pendidikan dan Dunia Industri Meningkatkan Sumber
                           Daya Manusia yang Berkualitas
          Secara garis besar Standar Kompetensi yang telah dibuat Mendikdasmen
sudah sesuai dengan kebutuhan dari industri. Dari 19 komponen Standar Kompetensi
program produktif yang ditampilkan, sebanyak 15 komponen persentase kebutuhan
dan kesesuiannya diatas 50%, dan 4 komponen persentasenya di bawah angka
tersebut. Kompetensi yang jarang dipakai atau lebih sedikit persentasenya bukan
berarti tidak dibutuhkan, keahlian tersebut dibutuhkan namun memang di dunia kerja
intensitas penggunaan kompetensi tersebut masih sedikit. Pada masing -masing
Standar Kompetensi dari hasil data yang ada, dapat kita tarik kesimpulan bahwa
dengan semakin tinggi persentasenya/kesesuaiannya maka semakin tinggi juga
tingkat kebutuhan industri akan Standar Kompete nsi tersebut. Oleh sebab itu,
kompetensi-kompetensi yang memiliki persentase diatas 50% diharapkan adanya
pelatihan dan pembelajaran materi yang lebih mendalam.
          Ada hal yang menarik untuk Standar Kompetensi yang persentasenya di
bawah 50% seperti memperbaiki sistem hidrolik dan kompresor udara , melaksanakan
prosedur pengelasan, pematrian, pemotongan dengan panas dan pemanasan,
melakukan     overhaul   sistem   pendingin dan     komponen –komponennya,       serta
memelihara/servis sistem AC ( Air Conditioner). Pada dunia kerja sudah ada unit
usaha yang mangani secara khusus dari standar kompetensi tersebut, kecuali Standar
Kompetensi memperbaiki sistem hidrolik dan kompresor udara . Untuk Standar
Kompetensi melakukan overhaul sistem pendingin dan komponen – komponennya
muncul bidang usaha servis radiator, dan begitu juga dengan pengelasan dan servis
AC sudah ada unit usaha sendiri. Untuk kompetensi memperbaiki sistem hidrolik dan
kompresor udara ini belum ada unit usaha sendiri, sehingga bisa dilakukan peneliti an
lebih lanjut mengenai kebutuhan industri akan kompetensi ini. Sehingga nantinya
bisa menjadi bahan pertimbangan bagi siapapun yang ingin membuka bidang kerja
berkaitan dengan kompetensi ini.
         Selain itu, untuk Standar Kompetensi melaksanakan prosedur pengelasan,
pematrian, pemotongan dengan panas dan pemanasan, dan memelihara/servis sistem
AC (Air Conditioner) perlu adanya diadakan pengkajian lebih lanjut. Standar
Kompetensi pengelasan dan servis AC sudah ada dibentuk program pendidikan
sendiri yaitu Teknik Pengelasan dan Teknik Pendinginan, sehingga perlu
dipertimbangkan kesesuaian materinya agar tidak merusak niat baik dalam
spesialisasi materi dan pekerjaan yang dicanangkan.
         Untuk kompetensi-kompetensi yang belum tercantum di dalam Standar
Kompetensi diharapkan diadakan penyesuaian, salah satunya seperti kompetensi
mengenai sistem injeksi bensin yang sangat diperlukan pada saat ini oleh para pelaku
industri. Untuk itu dunia pendidikan diharapkan terus mengadakan evaluasi terhadap
kurikulum yang dilaksanakan untuk diadakannya penyesuaian, agar sesuai dengan
kebutuhan dunia kerja.
         Dari data lain dapat kita lihat sebesar 2% mekanik merupakan lulusan
Sekolah Dasar (SD), sebesar 6% lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP), sebesar
23% lulusan SMA, sebesar 63% lulusan Sekolah Teknik Mesin, dan sebesar 6%
lulusan gabungan dari D1, D3 dan S1. Dengan lebih besarnya lulusan STM dan masih
ada lulusan lain yang masuk pada dunia industri jasa otomotif ini, maka niatan Ditjen
Mendikdasmen untuk mengembangkan dan memper luas SMK mempunyai dasar
yang kuat. Hal ini dikarenakan terbukti SMK memang sesuai dengan kebutuhan
industri pada saat ini.
         Adapun rentang umur mekanik menunjukkan umur 15 -20 sebesar 6%, umur
21-25 sebesar 23%, umur 26-30 sebesar 23%, umur 31-35 sebesar 29%, dan umur
>35 sebesar 19%. Dari data ini dapat kita lihat usia para mekanik lebih banyak yang
berada pada usia produktif (umur 21 -35), sehingga pengalaman mekanik dianggap
cukup.
         Selain itu dari data yang ada diharapkan adanya penyesuaian pada dunia
pendidikan terhadap saran dan kritik yang telah diberikan para pelaku industri pada
bahasan yang sudah dibahas sebelumnya, agar kekurangan yang ada dapat dikurangi
dan kelebihan yang dimiliki dapat ditingkatkan dan tujuan pendidikan nasional untuk
mewujudakan sumber daya manusia yang berkualitas dapat terwujud.




                                        BAB V
                     SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN


                                       A. Simpulan
1.   Secara keseluruhan bidang usaha yang ada pada masyarakat saat ini mengarah ke
     spesialisasi dan profesionalisme pekerjaan, dimana satu bidang usaha hanya
     menangani satu jenis pekerjaan.
2.   Bidang usaha jasa otomotif yang ada di Surakarta meliputi perawatan da n
     perbaikan engine, perawatan dan perbaikan dinamo, perawatan dan perbaikan
     radiator, perawatan dan perbaikan accu, perawatan dan perbaikan power steering
     dan understeel, ganti oli, velg, ban, accecorris, perawatan dan perbaikan body,
     custom, cuci mobil, perawatan dan perbaikan AC (air conditioning), audio,
     spooring, dan balancing.
3.   Kebijakan perubahan Spektrum dengan jalan adanya pemusatan atau spesialisasi
     pada bidang materi tertentu, serta penyempitan dan juga perluasan kelompok
     program pendidikan sudah sesuai dengan realita yang ditemukan di dunia kerja.
4.   Ada dua jenis atau tipe bengkel umum yang ada di masyarakat pada saat ini,
     yaitu bengkel umum yang mengorganisasikan bengkel dengan manajemen
     konvensional dan bengkel umum yang mengorganis asikan bengkel dengan
     manajemen moderen.
5.   Perbedaan dalam pelayanan dan manajemen mempengaruhi kualitas dan jumlah
     pelanggan pada masing-masing bengkel, bengkel dengan manajemen moderen
     lebih baik dan lebih ramai daripada bengkel dengan manajemen konvensio nal.
6.   Standar Kompetensi yang telah dibuat Mendikdasmen sudah “Sangat
     tinggi/sangat sesuai” dengan kebutuhan industri jasa otomotif di Surakarta.
7.   Dari 19 komponen yang ada tingkat kebutuhan bengkel umum terhadap Standar
     Kompetensi tersebut adalah 3 kompo nen dinyatakan sangat rendah, 2 komponen
     dinyatakan rendah, 1 komponen dinyatakan cukup tinggi, 6 komponen
     dinyatakan tinggi, dan 7 komponen dinyatakan sangat tinggi.
8.   Kompetensi yang tingkat kebutuhannya dinyatakan sangat rendah dan rendah
     bukan berarti tidak dibutuhkan, namun memang di dunia kerja intensitas
     penggunaan kompetensi tersebut masih sedikit. Selain itu, ada faktor lain yang
     mempengaruhinya yaitu adanya keterbatasan kemampuan pada mekanik dan juga
     sudah banyak unit usaha jasa yang secara khusus menangani bidang/kompetensi
     tersebut (misal khusus AC, khusus pengelasan, dll).
9.   Selain Standar Kompetensi yang sudah ditetapkan masih ada kompetensi lain
     yang dibutuhkan dari para pelaku industri jasa otomotif yaitu kompetensi
     perawatan dan perbaikan siste m injeksi bensin (hal pokok yang sangat
     dibutuhkan pada saat ini),      kompetensi uji emisi gas buang, kompetensi
     perbaikan transmisi otomatis, kompetensi perawatan dan perbaikan sistem door
    lock dan sistem power window, kompetensi pengelolaan manajemen bengk el dan
    kompetensi pelayanan pelanggan.




                                          B. Implikasi
       Berdasarkan hasil penelitian yang didukung oleh landasan teori, maka
penelitian ini dapat diterapkan ke dalam beberapa implikasi yang dikemukakan
sebagai berikut:
                                1. Implikasi Teoritis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan kepada pihak sekolah
   mengenai kompetensi Teknik Kendaraan Ringan yang di butuhkan oleh dunia
   industri jasa otomotif di surakarta.
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar rujukan teoritis unt uk
   pengembangan kurikulum dan amanat KTSP, baik yang menyangkut aspek
   perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasinya.
c. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menambah referensi dan bahan acuan
   dalam penelitian yang berkaitan.


                               2. Implikasi Praktis
a. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan wacana bagi para lulusan SMK yang
    ingin memasuki dunia kerja, khususnya industri jasa otomotif.
b. Dengan hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan
    masyarakat dan dunia industri terhadap pembaruan pendidikan.




                                       C. Saran


1. Kompetensi perawatan dan perbaikan sistem injeksi bensin, kompetensi uji emisi
  gas buang, kompetensi perbaikan transmisi otomatis, kompetensi perawatan dan
  perbaikan sistem door lock dan sistem power window, dan kompetensi pelayanan
  pelanggan dapat dimasukkan dalam KTSP sekolah sebagai Kompetensi Dasar
  pada Standar Kompetensi yang sesuai.
2. Perlu diadakan pengkajian lebih lanjut untuk Standar Kompetensi melaksanakan
  prosedur pengelasan, pematrian, pemotongan de ngan panas dan pemanasan, dan
  Standar Kompetensi memelihara/servis sistem AC ( Air Conditioner), karena
  Standar Kompetensi ini sudah ada dibentuk program pendidikan sendiri yaitu
  Teknik Pengelasan dan Teknik Pendinginan. Perlu dipertimbangkan kesesuaian
  materinya agar tidak merusak niat baik dalam membentuk spesialisasi materi dan
  profesionalisme pekerjaan yang telah dicanangkan.
3. Dapat dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengelompokkan bidang usaha
  jasa otomotif yang timbul di dunia kerja dan masyara kat, dan kemudian
  disesuaikan dengan bidang studi keahlian, program studi keahlian, dan kompetensi
  keahlian yang telah ditentukan Mendikdasmen.
4. Untuk kompetensi memperbaiki sistem hidrolik dan kompresor udara belum ada
  unit usaha yang muncul di masyarakat, sehingga bisa dilakukan penelitian lebih
  lanjut mengenai kebutuhan industri akan kompetensi ini. Sehingga bisa menjadi
  rekomendasi untuk pertimbangan bagi siapapun yang ingin membuka bidang kerja
  yang berkaitan dengan kompetensi ini.
5. Dapat   dilakukan   penelitian   lebih   lanjut   mengenai   faktor -faktor   yang
  mempengaruhi kualitas dan kepercayaan masyarakat terhadap bengkel umum.
6. Pembukaan program pendidikan di SMK diharapkan harus responsif dan relevan
  terhadap perubahan dan kebutuhan dunia kerja, agar program pen didikan yang
  dilaksanakan dapat benar-benar memenuhi kepentingan daerah dan masyarakat
  luas.
                                Daftar Pustaka


Abdullah Idi. 2007. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik . Jogjakarta: AR-
          Ruzz Media.
BSNP. 2006. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang
          Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: BSNP
Charters, W. & Jones, J. 1973. Dikutip oleh Pusat Kurikulum. 2007. Kajian
          Kebijakan     Kurikulum     SMK.       Jakarta:   Badan   Penelitian   dan
          Pengembangan. Depdiknas.
Dewey, John. 1902. Dikutip oleh Pusat Kurikulum. 2007. “ Laporan Pelaksanaan
          Bantuan Profesional Pengembangan Kurikulum TPK Provinsi Melalui
          Jaringan                        Kurikulum”.                       Sumber:
          http://www.puskur.net/download/prod2007/63_Laporan%20Umum%20B
          antuan%20Profesional%20melalui%20Jarkur.pdf . Diakses pada tanggal
          08 April 2010.
Direktorat Pembinaan SMK. 2010. Garis-Garis Besar Program Pembinaan SMK
          Tahun 2010. Jakarta: Depdiknas.
Gagne, Robert. 1967. Dikutip oleh Pusat Kurikulum. 2007. Laporan Pelaksanaan
          Bantuan Profesional Pengembangan Kurikulum TPK Provinsi Melalui
          Jaringan                  Kurikulum.                Sumber               :
          http://www.puskur.net/download/prod2007/63_Laporan%20Umum%20B
          antuan%20Profesional%20melalui%20Jarkur.pdf . Diakses pada tanggal
          08 April 2010.
Hilda Taba. 1962. Dikutip oleh Pusat Kurikulum. 2007. Laporan Pelaksanaan
          Bantuan Profesional Pengembangan Kurikulum TPK Provinsi Melalui
          Jaringan                        Kurikulum.                        Sumber:
          http://www.puskur.net/download/prod2007/63_Laporan%20Umum%20B
          antuan%20Profesional%20melalui%20Jarkur.pdf . Diakses pada tanggal
          08 April 2010.
H. B.Sutopo. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press.
Huberman, A.M. & Miles, M.B. 1984. Dikutip oleh H. B Sutopo. 2 002. Metodologi
           Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press.
Ita Saripati. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Mendorong
           terjadinya Accelerated Learning. Jurnal Pendidikan Inovatif. 2. No. 2:95-
           99.
Kotler.          &             Keller.          Dikutip            pada            :
           http://www.damandiri.or.id/file/endangsulistiariniunairbab2.pdf . Diakses
           pada tanggal 22 April 2010.
Lexy J. Moleong. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif . Bandung: PT. Remaja
           Rosdakarya.
M. Joko Susilo. 2007. KTSP Menejemen Pelaksaan dan Kesiapan Sekolah
           Menyongsongnya. Bandung : Pustaka Pelajar.
Mulyasa. 2007. Kurikulum berbasis kompetensi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Oemar Hamalik. 1990. Menejemen Pengembangan Kurikulum . Bandung : P.T.
           Remaja Rosdakarya.
Saylor, Alexander, dan Lewis. 1981. Dikutip oleh Pusat Kurikulum. 2007. Laporan
           Pelaksanaan Bantuan Profesional Pengembangan Kurikulum TPK
           Provinsi         Melalui      Jaringan         Kurikulum.         Sumber:
           http://www.puskur.net/download/prod2007/63_Laporan%20Umum%20B
           antuan%20Profesional%20melalui%20Jarkur.pdf . Diakses pada tanggal
           08 April 2010.
Stanton.                      Dikutip                     pada                     :
           http://www.damandiri.or.id/file/endangsulistiariniunairbab2.pdf . Diakses
           pada tanggal 22 April 2010.
Suhadi Ibnu. 2007. Menyikapi KTSP sebagai Tantangan untuk Menyelenggarakan
           Pembelajaran yang Lebih Baik”. Jurnal Pendidikan Inovatif. 2. No. 2:51-
           56.
Suharsimi Arikunto. 1998. Evaluasi Program. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT
            Remaja Rosdakarya
Zeithaml.           &            Bitner.          Dikutip           pada            :
            http://www.damandiri.or.id/file/endangsulistiariniunairbab2.pdf . Diakses
            pada tanggal 22 April 2010.

								
To top