BURUNG PELIKAN by Js_Saputra

VIEWS: 797 PAGES: 31

									                                 Kerabatku Pelikan
        Namaku Ambarsari. Keseharian, aku dipanggil Sari. Aku anak bungsu. Aku punya

dua saudara. Kak Nina dan Kak Rusmana. Mereka sangat sayang. Tak pernah mereka

membuatku sedih. Selalu bahagia bersama mereka.

        Tiap hari aku diajak bermain di pantai. Bermain-main dengan buih. Berkejaran dan

berlarian. Sesekali Kak Nina atau Kak Rusmana berburu ikan-ikan kecil. Aku bangga. Sangat

bangga. Kedua kakakku sangat mahir menangkap ikan dengan paruhnya. Bila kami lelah

bermain buih atau berkejaran, kami berpesta. Ikan-ikan kecil menjadi sangat lezat.

        Papa dan Mama sangat mencintai kami. Selalu saja membawakan ikan lezat bila

pulang dari bepergian. Aku sangat kagum pada Papa-Mama. Bertubuh besar, tegap dan

mempesona . Kata tetangga, kami mirip angsa. Bahkan, sering kami disebut angsa laut.

Tubuh papa-mama berwarna terang. Sayap lebar. Panjang dan indah. Paruh besar dan

panjang dilengkapi sebuah kantung kutil di antara percabangan rahang bawah. Kata papa-

mama, bila kami besar, juga perkasa dan mempesona.

        Di belakang kepala papa-mama yang besar terdapat jambul dengan bulu-bulu halus

berwarna kuning. Tampak mata papa-mama besar dengan lingkaran mata ditumbuhi bulu-

bulu halus.

        Ekor papa-mama pendek. Kakinya pun pendek. Ditumbuhi bulu berwarna abu-abu.

Kaki bagian bawah membesar. Dilengkapi empat jari, yang dihubungkan dengan selaput

kulit jari.

        Papa atau Mama sering bercerita sebelum kami pulas tidur. Ada saja bahan cerita dari

papa atau mama. Tentang danau, tentang sungai, tentang laut. Tentang pantai yang kotor

penuh sampah dan limbah hingga sulit mencari ikan. Tentang sungai yang tercemar hingga

ikan-ikan mati. Juga, tentang petualangan kerabat pelikan.

                                             -1-
                                             -2-

       Salah satu cerita yang paling mengesan tentang kerabat kami di seluruh dunia. Jumlah

kerabat kami ada tujuh. Tiga kerabat berada di negeri katulistiwa ini. Kata Papa-Mama kami

adalah kerabat burung pelikan. Kehebatan kerabat pelikan adalah penerbang kuat. Kami,

terbahak mendengarnya.

       ”Hai, kenapa kalian terbahak?” kata papa keheranan.

       ”Yang benar aja, Pa!” kata Kak Lina sambil terkekeh.

       ”Iya, Pa! Mana mungkin? Tubuh besar. Kaki pendek. Kok, penerbang hebat.

       ”Kak, dengerin dulu. Biar papa selesai cerita!”aku membela Papa.

       ”Apa kataku, Sari, adik kalian lebih cerdas, kan?”

       ”Wuahhh! Ada dua kubu nihhh..!” kata Kak Lina dan Rusmana berbarengan

       ”Ya, iyalah. Ini cerita kebesaran kerabat pelikan! Penting. Sangat penting!” kataku

dengan nada yang lucu.

       ”Benar, Sari. Kita harus bangga dengan kekerabatan pelikan. Bukankah tidak

mengenal, maka tidak sayang?”

       ”Benar juga ya, Pa!” jawab kedua kakakku.

       “Kita, kerabat pelikan adalah penerbang yang kuat. Badan besar dan kaki pendek

bukan halangan,” papa berhenti sejenak. Melirik kami bertiga. Dan, seperti biasanya papa

berucap, ”Kusangka kalian telah lelap!”

       ”Tidur bagaimana? Cerita papa selalu mempesona. Apalagi cerita tentang kerabat

kita!” kata Kak Lina.

       ”Gak sabar, nih! Gimana cara terbang kita?”

       “Karna badan kita besar, sedang kaki kita pendek, kita harus berlari dahulu!”

       ”Berlari? Lho, katanya penerbang kuat!”

       ”Kak Rusmana, dengar Papa dulu!” pintaku
                                            -3-

       ”Baik, adik sayang!” jawab Kak Rusmana. Dan, kami pun terbahak-bahak.

       ”Setelah berlari dengan kecepatan tinggi, baru kita meluncurkan tubuhnya ke atas,”

       ”Pa, apakah Sari nanti juga menjadi penerbang hebat?” aku merajuk Papa.

       ”Oh, pasti, anakku! Semua ada waktunya!”

       ”Maksud Papa?”

       ”Kalau waktunya telah tiba, kalian juga seperti Papa-mama. Penerbang hebat!”

       ”Pa, bolehkah Rusmana bertanya?”

       ”Kenapa tidak?”

       ”Selain penerbang hebat, apalagi kehebatan pelikan kerabat kita, Pa?”

       ”Inilah yang aku suka pada kalian, anakku!”kata Papa. Kami menghela napas. Bangga

juga mendapat pujian Papa.

       ”Dengan mengenali kerabat sendiri, kita semakin menyayangi.”

       ”Benar, Pa! Juga, semakin hormat pada kerabat di luar pelikan!” kataku.

       ”Itulah, anakku. Kita harus saling mengenal. Saling menghargai. Saling menyayangi.

Tanpa mengenal kerabat sendiri dan menyayanginya, tak mungkin kita bisa menyayangi

kerabat lainnya.”




       ”Papa, kapan selesainya?” Kak Nina protes.
                                             -4-

       ”Iya, iya. Sabar sedikit, kenapa sih!” suara papa terdengar lucu. ”Selain penerbang

hebat, kita juga sangat pandai berenang. Kalian tahu kan? Kita hidup di danau, sungai, dan

lautan. Kita akrab dengan air. Bergantung pada air. Maka, harus berkerabat juga dengan air.”

       ”Kalau gitu, aku diajari berenang ya Pa!” aku merengek.

       ”Semua ada waktunya!”

       ”Papa pasti gitu!”

       ”Bila saatnya tiba, Sari pasti pandai berenang!” kata Papa lembut.

       “Hanya terbang dan berenang, Pa?”sergah Lina.

       ”Kerabat kita, Burung Pelikan biasa hidup berkelompok. Selalu bergembira. Dan,

tidak senang bermusuhan dengan yang lain. Bila kerabat kita terbang, akan membentuk

barisan. Teratur, indah, dan mempesona. Didahului seekor pelikan yang terbang di depan

sebagai pimpinan.”

       ”Luar biasa, ya Pa!” kataku

       ”Mengharukan, ya Pa!” desah Kak Lina.

       ”Itulah kelebihan kerabat kita. Tapi, kita gak boleh sombong!” kata Kak Rusmana

       ”Benar! Kerabat kita memang luar biasa. Makanya, kalian harus memiliki kelebihan

itu. Melatihnya. Dan, yang utama jangan pernah anak-anakku menjadi sombong.”

       ”Pa, masih ada tidak kehebatan kerabat kita, kaum pelikan?” Kak Lina masih

bersemangat.

       ”Ya, masihlah! Masa, masih dong!” Papa menjawab singkat sambil tertawa.

       ”Kok papa malah ketawa? Nggak lucu!” aku protes

       ”Sari, sayang...kalau nggak lucu, papa pasti nggak ketawa!” Kak Lina menengahi.

       ”Hama ikan!” jawab papa. Masih sambil tertawa.

       ”Papa ketawa lagi. Sari ngambek nih!”
                                            -5-

       ”Apa, Pa? Hama ikan?” Kak Rusmana seolah tidak percaya.

       ”Kenyataannya begitu kan? Karena tubuh kita besar, kita butuh makan         banyak.

Sehari, kita dapat menghabiskan 6-9 ons ikan. Sehingga kita dianggap hama ikan. Para

nelayan dan petambak sering kesal pada kita.” Papa berhenti sejenak. Menarik napas panjang.

       ”Hama ikan! Benar juga. Tetapi, itu kodrat atau takdir kita!” Mama menyela. Seolah,

memberi dukungan papa. Kami pun terdiam. Malam semakin larut.




       ”Benar mamamu! Senang atau tidak senang, julukan itu harus kita terima!” kata Papa

       ”Ya, risiko gitu ya, Pa?” kata Kak Rusmana bergetar.

       “Tepat, Nak! Takdir nggak bisa ditolak. Kita hanya bisa menerimanya,” jawab papa

       “Masih ada lagi nggak Pa, kehebatan kerabat kita?” aku masih penasaran.

       “Kesederhanaan!” mama menjawab.

       “Maksud Mama?” Kak Lina bertanya.

       ”Kerabat Pelikan, seperti kita, membuat rumah di atas pohon-pohon daerah berawa,

danau, atau permukaan tanah di tepi laut. Kenapa?” Mama bertanya. Suara mama lucu. Lucu

sekali. Kami tertawan

       ”Hama ikan!” jawab kami bertiga. Dan, kami pun semakin terbahak-bahak.

       ”Tepat! Karna dekat dengan sumber hidup kita! Ya, seperti inilah rumah kerabat kita,

kaum pelikan. Terbuat dari ranting kayu kasar dan sangat sederhana. Ukurannya lebih kurang
                                          -6-

18 cm. Namun, kita bahagia kan?” Mama terdiam. Suasana malam yang hening, membawa

kami semakin yakin. Kegembiraan, kesederhanaan, kebahagiaan kami rasakan.

       ”Ya, sudah. Kita tidur di rumah sederhana. Kalian sudah ngantuk kan?” Papa

bertanya.

       Kami bungkam. Bukan karena duka. Bukan karena kami tinggal di rumah sederhana.

Bukan karna mendapat julukan hama ikan. Kami bungkam karna bangga. Sangat bangga.

Tentu, bukan karna kesombongan. Kami bangga karna itulah takdir kami sebagai kerabat

pelikan.
                                Hari-hari yang Sepi



       Papa-Mama dan kedua saudaraku belum juga pulang. Seharian aku tinggal di rumah

tanpa canda. Tanpa tawa. Tanpa keceriaan. Sepi dan sunyi menjadi teman akrabku.

       Aku menjadi sadar. Tak mungkin aku hidup sendirian. Kehadiran papa sangat berarti.

Tanpa papa hari-hariku menakutkan. Hari-hariku terasa berat. Tanpa papa, aku menjadi

cemas. Gelisah. Was-was!

       Aku merindukan mama. Sangat rindu. Sehari tanpa mama, aku sering meneteskan air

mata. Terasa, olehku, betapa besar arti seorang mama. Betapa tulus cinta mama. Betapa mulia

hati mama. Bersama mama aku tidak gentar. Bersama mama aku menjadi berani dan percaya

diri. Bersama mama semua menjadi mudah. Menyenangkan, membahagiakan.

       “Kak Lina, Kak Rusmana!” setiap saat aku ucap. Dan, air mata mengalir. Deras. Deras

sekali. Tanpa mereka aku tidak lagi bisa bermain buih di Pantai Kejawaan. Tanpa mereka aku

tidak lagi berlatih berburu ikan. Berkejaran di pasir. Berlari cepat melatih kekuatan kaki.

Bersama kedua kakakku, aku diajari bagaimana mengepakkan sayap. Diajari berlari kencang.

Diajari terbang.

       “Kak Lina, Kak Rusmana kapan pulang?”

       Aku harus mengurus diriku sendiri. Begitu bangun pagi, aku menyusuri pantai.

Berlarian di atas pasir. Melatih kaki agar kuat. Mengasyikkan. Aku berburu ikan kecil.

Berkat kedua saudaraku, aku tidak mengalami kesulitan menangkap ikan. Begitu capai, aku

rebahkan tubuh di pantai yang terlindung. Aku tertidur pulas.




                                            -7-
                                             -8-



       Ketika senja menjelang,     aku menjadi takut. Sangat takut. Cepat-cepat   pulang.

Duduk. Tiduran. Meneteskan air mata. Memanggil-manggil papa-mama. Namun, semuanya

tak mampu menghapus semua kenangan di rumah ini. Cerita papa atau mama sebelum kami

terlelap hilang. Berebut tempat untuk berdekatan dengan mama sirna.

       ”Kenapa aku begitu sombong? Kenapa aku begitu pongah? Kenapa aku berkata, ”

Papa-Mama, aku berani di rumah sendirian”? Kenapa aku tidak jujur? Kenapa aku tidak

katakan aku takut sendirian? Kenapa tidak aku katakan saja ‟aku ikut‟?”




       Aku menyesal. Membohongi diri, seolah-olah pemberani. Ya, demi pujian papa-mama

aku tidak jujur. Demi pujian papa-mama aku menjadi sombong. Sangat sombong. Demi

pujian papa-mama aku berpura-pura. Ah, penyesalan selalu datang terlambat.

       Aku berdoa. Tuhan, bimbing dan jagai papa-mama dan saudaraku. Lindungi mereka

dari marabahaya. Tuhan, beri aku keberanian. Lindungi aku agar lelap tidurku.
                                            -9-

       Pagi-pagi aku bangun. Tampak matahari bundar semburat di ufuk timur. Indah. Sangat

indah. Di Pantai Kejawaan, para nelayan sibuk. Sangat sibuk. Mereka menurunkan hasil jerih

payah semalaman.

       Terlihat ikan-ikan segar dipindahkan. Di pantai yang bersih itu pedagang ikan

menyambut para nelayan. Pemandangan pagi yang mengagungkan.

       Pelan aku keluar dari sarang. Tergiur ikan segar. Aku terbang mendekat. Ingin

merenggut seekor saja. Ya, seekor pun cukup untuk sarapan pagi.

       ”Plaaak!” Lemparan kerikil anak nelayan tepat mengenai punggungku. Aku meloncat.

Punggungku terasa sakit. Aku terbang dengan seekor ikan di paruhku. Menuju sarangku.
                                Hari yang Berat
        Aku gembira. Sangat gembira. Sebelum senja menjelang, papa-mamaku telah datang.

Ingin rasanya aku peluk mereka erat. Ingin aku tumpahkan kecemasan. Ingin rasanya aku

menangis.

        Semua aku urungkan. Wajah papa-mama tak bersahabat. Tak ada senyum. Tak ada

canda. Tak ada tawa. Bahkan, bagaimana keadaanku selama mereka bepergian, tak

ditanyakan. Aku gelisah. Sangat gelisah. Kedua saudaraku tidak bersama papa-mama.

        Mata mama sembab. Demikian juga, papa. Pasti bersedih. Belum pernah kulihat wajah

papa-mamaku seperti itu. Adakah hubungannya dengan kedua saudaraku?

        ”Sari, tidurlah! Papa-mamamu capai sekali!” kata papa.

        Aku mengangguk. Tak berani membantah. Aku rebahkan tubuhku. Terasa

punggungku masih sakit. Tapi, aku harus kuat. Tak ingin papa-mamaku tahu. Aku takut

malah menambah susah. Semalaman aku tak bisa tidur. Aku menangis sepanjang malam.

        Ketika bangun pagi papa-mama sudah pergi. Pasti, berburu ikan untukku. Pasti,

dengan paruhnya papa akan menggodaku. Dan, seperti biasanya aku meloncat mengejarnya.

Aku rindu sekali pagi ini.

        Papa-mama datang membawa hasil buruan. Aku heran. Ikan-ikan segar dimuntahkan

di depanku. Lalu, papa-mama membersihkan diri. Mengibas-ngibaskan sayap di pasir pantai.

        Agak kesal. Aku patuk seekor karena lapar. Daripada sakit, lebih baik aku jaga diri.

Papa-mama mengawasiku. Aku semakin heran. Ada perubahan. Papa-mama tidak seperti dulu

lagi.

        Begitu selesai menyantap seekor ikan, aku menyusul papa-mama. Aku bertekad untuk

minta penjelasan. Kenapa Kak Lina dan Kak Rusmana tidak pulang? Kenapa papa-mama

berubah?

                                            -10-
                                              -11-

       ”Papa-mama tidak sayang lagi pada Sari!” aku berteriak begitu sampai di dekatnya.

       Papa-mama berpandangan. Lama. Lama sekali. Ada sesuatu yang mereka rahasiakan.

Ada sesuatu yang telah terjadi.

       ”Sari, kami sayang. Sangat sayang!” kata papa. Mama mengangguk. Mendekatiku.

       ”Kenapa Kak Lina dan Kak Rus tidak bersama kita lagi?”

       ”Suatu saat, pasti bersama.”jawab mama.

       ”Papa-mama bohong!”

       ”Kami tidak bohong, Sari. Suatu saat kita akan bersama-sama. Berburu bersama.

Bercanda bersama. Itu pasti, anakku!” papa menimpali.

       “Sari butuh hari ini. Hari ini, Pa!” suaraku lantang.

       Sekali lagi, papa-mama berpandangan. Tak terucap sepatah kata. Aku semakin yakin.

Pasti terjadi sesuatu dengan kedua saudaraku.

       ”Apakah Kak Lina dan Kak Rus masih hidup?”

       ”Sari, kenapa bertanya begitu? Kedua kakakmu segar-bugar!”

       ”Sari tidak percaya! Kalau mereka segar-bugar, pasti pulang bersama papa-mama!”

       ”Suatu saat kita akan bersama mereka lagi, Sari! Percayalah!” mama merapatkan

tubuhnya. Aku melangkah. Aku hilang akal.

       ”Bukankah kedua kakakku sudah mati? Begitu kan? Papa-mama sengaja mengajak

mereka pergi. Lalu papa-mama tinggalkan mereka!”

       ”Sari!”bentak papa. Suaranya keras. Sangat keras. Belum pernah papa berbuat seperti

ini. Aku gemetar.

       ”Kalau dugaanmu benar, lalu kau mau apa? Mau apa?”bentak papa.
                                           -12-

       ”Jadi, kedua saudaraku papa-mama buang? Papa-mama jahat!” Aku menangis. Sedih.

Sangat sedih. Aku tidak tahu kenapa papa-mama yang begitu mencintai kami begitu teganya.

Membuang kedua saudaraku. Mama mencoba merapatkan tubuhnya. Aku kibaskan sayapku.

Aku mencoba menjauh.

       ”Papa-mama kejam. Sangat kejam!”

       ”Memang, papa-mamamu kejam. Bahkan, sangat kejam!”suara papa bergetar. Mama

menunduk. Tampak mama menahan kepedihan mendalam.

       ”Hampir dua hari papa-mamamu terbang bersama kedua kakakmu. Kami mencari

tempat dan kerabat yang tepat untuk mereka.”

       ”Sari, benci papa-mama!”

       ”Dengarkan dulu papamu, Sari!”

       ”Untuk apa mendengarnya, Ma? Untuk apa? Apakah akan membuat kedua kakakku

pulang dan bersama kita lagi?”

       ”Anakku, mama yakin, suatu saat kau akan mengerti mengapa papa-mamamu lakukan

semua ini. Papa-mama juga sedih. Berat. Terbeban. Tapi, itu yang harus papa-mama

lakukan.”

       ”Aku tidak mau dengar lagi! Aku hanya butuh kedua kakakku!”

       ”Itu, mama tahu. Sama seperti kamu, mama juga tersiksa. Tapi, itu yang harus mama-

papamu lakukan!”

       ”Ma, kalau begitu, Sari pun akan mengalami yang sama kan?”

       ”Sari! Cukup!”

       ”Aku gak bisa, Pa!”

       ”Diam!”

       ”Aku gak bisa diam, Pa!”
                                       -13-

       ”Lalu, kau mau apa?” bentak papa. Suara papa keras. Sangat keras. Aneh, aku

semakin berani. Pikiranku hanya pada kedua kakakku. Mama mendekati papa. Mencoba

menenangkan. Aku semakin terbeban.

       Tiba-tiba ada semacam dorongan di kedua kakiku. Di kedua sayapku. Lalu, aku

berlari. Secepat mungkin. Aku melesat. Aku terbang. Terbang meninggalkan papa-mama

yang sangat aku cintai.
                             Masih Ada Harapan
       Aku terus terbang. Meski punggungku masih terasa sakit, aku tak surut langkah.

Hanya satu yang kuinginkan, mencari kedua kakakku. Kutinggalkan Pantai Kejawaan yang

bersih. Indah. Penuh kenangan. Kutinggalkan papa-mamaku yang menyimpan rahasia padaku.




       Aku tinggalkan tempatku dibesarkan. Tempatku menempa diri. Tempatku yang telah

memberi banyak hal padaku.

       Aku melihat kerumunan kerabat pelikan di tepi danau. Berderet di pinggir danau

seperti gasis putih. Pelan aku mendekat. Pelan aku mendarat. Satu yang kutuju bertemu kedua

kakakku.

       ”Horeeeee! Selamat datang, saudariku!”berbarengan mereka menyapaku. Gegap

gempita. Aku tersenyum. Gembira. Benarlah kekerabatan pelikan luar biasa. Persaudaraan

yang memberi harapan.

       Aku tebar senyum. Sungguh, aku merasakan ketulusan mendalam. Kami pun

bergembira. Aku berjalan pelan. Menyapa kerabat baruku. Mataku nakal mencari apakah di

tengah-tengah kerabatku ini Kak Lina dan Kak Rusmana berapa.

       Sia-sia. Aku tak melihat kedua saudaraku. Meski, sudah kusisir dari ujung ke ujung

tidak juga aku temukan. Aku berhenti sejenak. Melangkah ke bawah rindang pohon. Duduk

menyendiri.
                                             -15-

         ”Mari bergabung saudariku!” ajak mereka.

         Aku menggeleng. Tak kuasa hati ini untuk bersuka sebelum kutemukan kedua

kakakku.

         ”Namaku, Susan! Baru sekali ini kami bertemu denganmu!” ucapnya sembari duduk

di sampingku.

         ”Aku Sari. Dari Pantai Kejawaan. Senang bersama kalian!”

         ”Terima kasih. Tertarikkah Sari ikut bersama kami terbang menuju Pulau Dewata?”

         ”Makasih, masih ada pekerjaan yang harus aku kerjakan?” jawabku lembut.

         ”Pekerjaan apa? Barangkali kami bisa membantu?”

         ”Aku sedang mencari kedua kakakku.”

         ”Teman-teman, Sari sedang mencari kedua kakaknya. Jadi, tidak bisa ikut dengan

kita!”

         ”Sayang ya!”jawab kerumunan pelikan bersamaan.

         ”Namanya siapa?” suara Susan merdu sekali.

         ”Lina dan Rusmana!”

         ”Nama-nama yang mempesona.”

         ”Pernahkah Susan melihat mereka?”

         ”Belum. Bila bertemu kami, pasti kami mengenalnya.”

         ”Teman-teman, kedua kakak Sari bernama Lina dan Rusmana. Barangkali, kita bisa

membantunya!” Susan berdiri. Dengan anggunnya mengangguk.

         ”Maaf, Sari. Kami harus berangkat sekarang. Bila bertemu kedua kakakmu, pasti aku

akan memberi tahumu!”

         ”Makasih. Susan!”
                                           -16-



       Susan pun melesat terbang. Diikuti kerabat pelikan lainnya. Meninggi. Membentuk

lengkungan. Semakin tinggi, semakin kecil. Lama-lama ditelan angkasa luas.

       Aku berdiri. Lapar. Lapar sekali. Aku pun mendekati danau. Memandangi air tenang.

Mengawasi ikan-ikan yang berenang. Aku meluncur. Paruhku menggaet seekor ikan. Aku

mengunyahnya.

       Kembali aku duduk. Gelisah menguasaiku. Kedua kakakku seolah memanggail-

manggil. ”Sari, di mana kau? Ke sini, mari bermain buih!”




       Tak terasa air mataku menetes. Aku seka dan bersihkan. Aku harus tegar, kataku

dalam hati.

       Aku terbang meninggalkan danau yang menawan. Matahari semakin meninggi. Dan,

aku tidak peduli. Satu keyakinan, menemukan kedua kakakku.

       Pantai indah mempesona di bawah. Kulihat kerabat pelikan menyerupai lengkungan

putih. Aku mencoba mendekat.
                                           -17-



       Aku disambut dengan gegap gempita. Bak, seorang ratu semua menyapaku. Aku

gembira. Berada di tengah kerabat pelikan selalu membersitkan harapan. Kurasakan

hangatnya persaudaraan. Ada yang bernyanyi. Ada yang menari. Ada yang membersihkan

diri. Ada yang tiduran. Ada juga yang menyendiri.
                                   Sebuah Harapan
       Aku sangat menikmati keindahan pantai ini. Tampak di kejauhan anak-anak sekolah

dasar sedang menanam mangrove bersama guru-gurunya. Aku kagum pada mereka. Kagum

atas ketulusan menjaga alam. Sepanjang mata memandang pantai menghijau. Sungguh,

berbudi mereka yang menjaga keindahan dan keperkasaan pantai ini.

       Aku berjalan menuju rimbunan mangrove. Sepelempar batu dari kerabat pelikan yang

bercengkerama menikmati keagungan Tuhan. Aku duduk di sela akar-akar yang menjuntai.

Ikan-ikan kecil berkejaran.

       ”Aku Yose!” Pelikan muda perkasa menghampiriku.

       ”Aku datang dari negeri jauh. Monterey nama kotaku. Bisakah kita berkawan?”

       Aku tetap membisu. Tak sepatah kata aku ucap. Kupandangi Yose. Tegap dan

perkasa. Duduk di sampingku.

       ”Aku terbang bermil-mil. Terdampar di pantai indah ini. Meski, tak seindah Monterey

aku terpikat tinggal di sini. Boleh berkenalan?”

       “Sari. Lengkapnya, Ambarsari!”

       “Senang bertemu denganmu Sari! Mudah-mudahan kita berteman baik!”

       Aku       tak   menjawab.   Yose   menatapku.   Aku   menunduk.   Menyembunyikan

kegelisahanku.

       ”Aku diusir oleh kedua orang tuaku. Aku tak tahu mengapa mereka lakukan itu.

Padahal, mereka begitu cinta. Tapi, apa mau dikata. Aku berlari menjauh. Meski, berat.

Sangat berat.”

       ”Diusir? Kenapa diusir?”




                                             -18-
                                             -19-



       ”Aku tidak tahu sebabnya. Suatu saat, kau akan mengerti mengapa aku mengusimu,

kata papa-mamaku!” kata Yose tegar.

       ‟Suatu saat kau akan mengerti‟ . Kalimat itu pula yang diucap papa-mamaku. Aku

melirik. Yose tampak tegar. Meski, sangat lelah.

       Dengan sigapnya Yose meluncur. Seekor ikan segar tertangkap. Meletakkan di

depanku. Ia melesat. Buruannya tertangkap.

       ”Makanlah! Kau tampak begitu lapar!”

       ”Terima kasih!”

       Aku dan Yose berpesta. Tampak berucap kata. Yose menatapku berulang-ulang.

Seolah mencemaskanku.

       ”Kenapa kau cemas, Sari?” Yose bertanya lembut.

       “Persis seperti kamu, Yose?”

       “Persis seperti aku? Kau diusir?”

       “Tidak! Aku meninggalkan rumahku”

       “Kenapa?”

       “Pasti, aku akan bernasib sama…”

       ”Apa maksudmu?”

       ”Kedua kakakku diusir oleh papa-mamaku. Dan, aku berlari untuk mencari mereka?”

       ”Untuk apa?”

       ”Aku sayang kedua kakakku!”

       ”Sama!”

       ”Apanya yang sama!”
                                              -20-



       ”Aku juga mengalami seperti kamu. Kakakku diusir papa-mama. Aku berontak. Dan,

akhirnya aku diusir juga!”

       ”Kenapa orang tua kita kejam?”

       ”Eeee, jangan salah sangka!”

       ”Kenyataannya!”

       ”Bulan lalu aku bertemu kakakku di Papua. Hidup bahagia. Kedua anaknya lucu dan

manja. Keluarga pelikan pendatang yang bahagia. Aku bangga pada mereka. Sangat bangga.

Padahal, ketika papa-mama mengusir kakakku, aku sangat keccewa.” Yose berhent sejenak

       ”Di depan mataku, kedua anaknya diusir dari rumahnya. Lalu, ia bilang padaku,

‟inilah rahasia yang dulu kita terima dari orang tua kita.”

       Yose berhenti. Ia menatapku. Aku menunduk. Mencoba mencari jawab. Yose

memandangku.

       “Inilah rahasia kehidupan. Tanda cinta sejati papa-mama pada anak-anaknya!” kata

Yose mantap.

       ”Dengan mengusirnya?”

       ”Ya, dengan mengusirnya,” Yose berhenti sejenak. Menarik napas panjang.

       ”Sari, aku telah membuktikannya. Bermil-mil aku tertang. Bermil-mil aku tinggalkan

papa-mama. Aku tinggalkan pantai indahku,” Yose berhenti. Terbata. Aku mendekat. Duduk

merapat.

       ”Kini, aku menyadari. Papa-mama sangat cinta. Mereka mengusirku, agar aku

mandiri. Dewasa. Tidak bergantung.”

       Papa-mama mengusir kakak-kakaku merupakan tanda cinta sejati mereka? Aku

mencoba memahami. Mencoba mengerti. Lalu, aku pun mengangguk-angguk.
                            Masa Depan Gemilang



       Aku dan Yose semakin akrab. Yose sangat peduli. Sangat sayang. Selalu membantu.

Selalu membimbingku. Aku bahagia hidup bersama dengan Yose.

       Berburu bersama. Bermain buih bersama. Berjemur di pantai bersama. Selalu bersama

dalam apa saja.

       Bersama Yose dan kerabat pelikan kita terbang bersama. Menikmati pantai-pantai

indah. Bercengkerama di danau-danau mempesona. Bersama kerabat kita berburu. Berpesta

hasil tangkapan. Bernyanyi di pucuk-pucuk mangrove yang mengijau di setiap pantai pulau-

pulau Nusantara. Sungguh, agung Sang Pencipta. Negeri jamrud khatulistiwa surga bagi kami

kerabat pelikan.

       Tak heran bila kerabat pelikan dari mana pun sering mampir. Bersilaturahmi. Saling

mengenal. Memperkokoh persaudaraan. Bertukar cerita.        Berpesta ikan-ikan lezat yang

melimpah di setiap jengkal laut nusantara.

       Yose mengajakku istirahat. Bertengger di rimbunan mangrove. Kami hari yang sangat

indah. Apalagi Yose. Yose sangat bahagia. Ia bertemu dengan kerabat pelikan Monterey.

Melepas rindu. Bahagian. Sangat bahagia.

       ”Nenek moyang kami pemalas,” Yose memulai berkisah.

       ”Lho, kok bisa?” aku menyelidik.

       ”Pantai Monterey sangat indah. Tenang. Nyaman. Mempesona. Bahkan, menjadi salah

satu pantai terindah di dunia. Nenek moyang kami tinggal di pantai indah itu. Hidup tenteram

di wilayah yang indah, tenang, dan segar.” Yose berhenti sejenak. Deburan ombak di

kejauhan terdengar merdu.
                                           -22-

        ”Para nelayan memanjakan kami. Ikan tuna segar menjadi santapan lezat. Tak perlu

bersusah payah. Tak perlu berburu di laut lepas. Hidup serba mudah. Bila lapar tiba, cukup

kami mendekati kapal. Ikan-ikan tuna segar diberikan untuk kerabat pelikan. Hingga musibah

terjadi...”




        ”Musibah?” akan memotong cerita Yose.

        ”Pantai Monterey akan dijadikan tempat wisata. Pemerintah melarang para nelayan

mencari nafkah di pantai itu. Kerabat pelikan kelabakan. Hilang penghidupan. Tak bisa

berburu. Tak bisa mencari ikan. Akhirnya, kerabat pelikan Monterey banyak yang mati

kelaparan.”

        ”Lalu, apa yang terjadi?”

        ”Pemerintah mendatangkan kerabat pelikan dari Florida. Kerabat pelikan Florida

mengajari nenek moyang kami berburu menangkap ikan. Nenek moyang kami belajar pada

kerabat pelikan Florida. Syukur pada Tuhan. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya nenek

moyang kami telah lihai berburu ikan. Kami terhindar dari kepunahan.”
                                         -23-



      ”Dan, salah satunya, ada di samping saya!”aku menimpali. Dan, kami tertawa

bersama.

      Aku dan Yose mulai membangun sarang. Mencari ranting-ranting mangrove kering.

Merajut menjadi rumah indah menawan. Sarang mungil di tengah rimbunan mangrove.

      Sarang tempat kami istirahat pada malam hari. Sarang tempat kami melepas penat.

Sarang tempat aku dan Yose menjalani hari-hari yang membahagiakan.
                          Terimakasih Papa-Mama
          Bergantian aku dan Yose mengerami empat butir telur. Bila Yose berburu ikan untuk

santapan, akulah yang mengeraminya. Bila aku yang berburu, Yose mengeraminya. Kami

selalu memohon pada Sang Pencipta agar keempatnya menetas menjadi pelikan perkasa

nantinya.

          Kami bersyukur. Pada hari ketiga puluh empat, satu per satu telur menetas. Empat

ekor pelikan kecil meramaikan sarang kami. Aku dan Yose bersyujud syukur. Kami bahagia.

Sangat bahagia. Yose pun memberi nama Yola, Yofa, Yosi, dan Yopi.

          Yose dan aku berbagi. Bergantian berburu. Bergantian menjadi pelikan kecil kami.

Ikan-ikan tangkapan, aku kunyah. Aku suapi. Kami bahagia. Cicit Yola, Yofa, Yosi, dan Yopi

menambah semaraknya tempat tinggal kami.

          Pada umur sebulan kami mengajak Yola, Yofa, Yosi, dan Yopi bermain di pasir

pantai. Berlarian. Saling kejar. Bila capai, bermain air di tepian. Suasana segar dan gembira.

Saling canda. Dan, aku melatih mereka bagaimana berburu dan menangkap ikan.

          ”Telah tiba saatnya, ” Yose mendekat. Duduk di sampingku. Ketika itu Yola, Yofa,

Yosi, dan Yopi sedang memamerkan gerakan akrobatik. Terbang di atas laut. Mengincar

buruan. Dan, cuuuuuuuuuuuuup! Seekor ikan telah berada di paruhnya.

          ”Ya, telah tiba saatnya,”jawabku.

          “Bagaimana caranya?” ucap Yose pelan.

          “Kita telah belajar dari orang tua kita kan?” aku menegaskan.

          “Ya, kita telah belajar dari orang tua kita, bagaimana mengusir anak-anaknya demi

cinta!”

          ”Besok pagi, kita usir mereka!”

          ”Ya, besok pagi kita usir mereka!” jawabku pelan. Berat rasanya mengucapkannya.
                                          -25-



       .Aku tinggalkan Yose di pantai. Aku kembali ke sarang. Teringat saat-saat bersama

papa-mama dan kedua kakakku. Teringat saat-saat aku melawan papa-mama. Teringat saat

dengan kemarahan dan kekecewaan aku tinggalkan rumah.

       Aku baru menyadari, kini. Karna aku mencintai Yola, Yofa, Yosi, dan Yopi maka aku

harus mengusirnya. Sama seperti papa-mama. Bukan karena benci. Bukan karena tidak

peduli. Bukan karena terbeban. ”Terima kasih papa-mama‟ ucapku dalam hati.

       ”Sari, kenapa menangis?” suara Yose mengejutkanku

       ”Aku teringat papa-mamaku! Kini, aku baru mengerti mengapa mereka mengusir

kami,” aku terbata.

       ”Aku juga! Tapi, ada perasaan bangga untuk mengusir Yola, Yofa, Yosi, dan Yopi”

       ”Aku juga!”

       ”Istirahatlah! Besok kita akan terbang jauh...mengantarkan anak-anak kita pada

kehidupan nyata!”




Cirebon, 29 Juli 2009
                               DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. Biodata

   1.   Nama                         : JS. Kamdhi Jaya Hadisaputra
   2.   Jabatan                      : Guru SMA Santa Maria 1 Cirebon
   3.   Pangkat/Gol.Ruang            : IIID
   4.   Tempat/ Tgl Lahir            : Yogyakarta, 9 Februasi 1956
   5.   Jenis Kelamin                : Laki-laki
   6.   Mata Pelajaran               : Bahasa dan Sastra Indonesia
   7.   Masa Kerja                   : Guru 27Tahun
   8.   Pendidikan Terakhir          : Sarjana Muda Filsafat (1980)
   9.   Sekolah
        Nama                  : SMA Santa Maria 1
        Jalan                 : Sisingamangaraja 22
        Kelurahan             : Panjunan
        Kecamatan             : Lemahwungkuk
        Kota                  : Cirebon
        Propinsi              : Jawa Barat
        Nomor Telp.           : (0231) 243480

   10. Rumah
       Jalan                  : Pilangsari Endah D-36
       Kelurahan              : Kedungjaya
       Kecamatan              : Cirebon Barat
       Kabupaten              : Cirebon
       Propinsi               : Jawa Barat
       Nomor Tlp.             : (0231) 233903/HP 08122405962
       Email                  : Js_kamdhi@yahoo.co.id
       Web                    : Kamdhi‟s Weblog
                                Tetesanembunjees.blogspot.com


II. Pelatihan

1. Penulisan Naskah Buku Pelajaran, Pusat Perbukuan, Nasional, 14 s.d. 19 November
   1994
2. DIKLAT: Membaca, Menulis, dan Apresiasi, Nasional, 22-29 November 2001
3. DIKLAT: Penulisan Artikel & Publiser, Nasional, 6 Februari 2003
4. DIKLAT: Warna Lokal dalam Sastra. Nasional, 4-7 November 2003
5. Workshop: Penyusunan Silabus Kurikulum 2004.Propinsi.13-18 November 2003
6. Workshop: Guru Berprestasi, Nasional. 26 Mei s.d. 1 Juni 2006
III. Penghargaan

1. Juara I Lomba Karya Ilmiah Tatakota-Taman Kota, Se-Wilayah III Cirebon, 1989
2. Juara Penulisan Buku Pelengkap Pembelajaran Bahasa Indonesia.Propinisi.1991
3. Juara I Penulisan Cerita Anak, Nasional, 1992
4. Juara V Lomba Mengulas Karya Sastra, Nasional, 2000
5. Profil Tokoh Masyarakat Cirebon, Harian Mitra Dialog, 2001
6. Pembicara Tamu: Pertemuan Ilmiah Bahasa dan Sastra Indonesia XXV, Universitas
   Negeri-Swasta Se-Indonesia
7. Finalis Lomba Penulisan Karya Ilmiah Kelautan, Nasional, 2004
8. Finalis Lomba Keberhasilan Pembelajaran, Nasional, 2005
9. Finalis Lomba Keberhasilan Pembelajaran, Nasional, 2006

IV. Buku-buku yang Diterbitkan

01. Agama Multidimensional, Alumni, Bandung, 1980
02. Mencari-Mu Hangus Jatidiriku, Kumpulan Puisi, 1989
03. Mega-Mendung, Kumpulan Puisi Penyair Cirebon, 1989
04. Bahasa Indonesia dan Proses Berpikir, Juara Propinsi, 1991
05. Mutiara-Mutiara, Juara Nasional, Binarena, Jakarta,1992
06. Menantang Badai, Hidup, Jakarta, 1994
07. Diskusi yang Efektif, Kanisius, Yogyakarta, 1995
08. Pengantar Antropologi, Gramedia, Jakarta, 1997
09. Tanjung (novel), Radar, Cirebon, 2000
10. Terampil Berbahasa Indonesia, Gramedia, Jakarta 2000
11. Terampil Berekspresi, Gramedia, Jakarta, 2003
12. Terampil Berwicara, Gramedia, Jakarta, 2003
13. Terampil Berargumentasi, Gramedia, Jakarta, 2003
14. LKS Terampil Berekspresi, Gramedia, Jakarta, 2007
15. LKS Terampil Bernarasi, Gramedia, Jakarta, 2007
16. LKS Terampil Berargumentasi, Gramedia, Jakarta, 2007




Cirebon, 13 Desember 2009




             JS Kamdhi
PELIKAN



    Oleh

  JS Kamdhi




 CIREBON

   2009
                                 KATA PENGANTAR



       Kecerdasan suatu bangsa sungguh menjadi suatu realitas bila membaca telah menjadi

kebutuhan masyarakatnya. Menjadikan „membaca sebagai kebutuhan‟ menuntut tanggung

jawab seluruh komponen bangsa. Artinya, tidak hanya institusi pendidikan yang berjuang dan

berusaha memotivasi peserta didik berkemampuan menempatkan membaca sebagai

kebutuhan.

       Lengkap dan beragamnya buku bacaan di perpustakaan: sekolah atau masyarakat

sangat berperan. Maka, prakarsa Penerbit Erlangga untuk mempersiapkan bacaan siswa TK &

SD layak diapresiasi.

       “PELIKAN” yang berkisah tentang burung pelikan, pelestarian lingkungan pantai,

danau dalam bentuk cerita rekaan. PELIKAN saya dedikasikan untuk anak-anak SD.




Cirebon, 13 Desember 2009
                                                   DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI



1. Kerabat Pelikan ...................................................................................................    1

2. Hari-hari yang Sepi ..............................................................................................     7

3. Hari yang Berat ....................................................................................................   10

4. Masih Ada Harapan .............................................................................................        14

5. Sebuah Harapan ...................................................................................................     18

6. Masa Depan Gemilang ........................................................................................           21

7. Terimakasih Papa-Mama ....................................................................................             24

								
To top