Docstoc

FILSAFAT BERPIKIR

Document Sample
FILSAFAT BERPIKIR Powered By Docstoc
					                                  BERPIKIR


A. Proses Berpikir
   1. Berbagai Cara Pemecahan Masalah
            Sebagaimana diterangkan di atas, berpikir selalu berhubungan
      dengan masalah-masalah yang timbul dari situasi masa kini, masa
      lampau dan mungkin masalah-masalah yang belum terjadi.
            Proses pemecahan masalah itu sebut proses berpikir. Dalam
      memecahkan tiap-tiap masalah timbullah dalam jiwa kita berbagai
      kegiatan antara lain :
         Kita menghadapi suatu situasi yang mengandung masalah. Pertama-
          tama kita mengetahui lebih dulu apa masalahnya, atau apakah yang
          kita hadapi itu suatu masalah.
         Bagaimanakah masalah itu dapat dipecahkan
         Hal-hal manakah yang sekiranya dapat membantu pemecahan
          masalah tersebut
         Apakah tujuan masalah itu dapat dipecahkan
             Dengan kata lain, tiap kita menghadapi masalah terdapat
      bermacam-macam faktor yang kesemuanya merupakan rangkaian
      pemecahan masalah-masalah itu sendiri.
             Dari kegiatan jiwa yang disebutkan di atas ada beberapa faktor
      yang biasanya tidak dapat ditinggalkan dalam berpikir. Apa masalahnya,
      bagaimana memecagkannya, apa tujuannya, faktor-faktor apa yang
      membantu. Maka dalam berpikir sering timbul pertanyaan apa, mengapa,
      bagaimana, untuk apa, dan sebagainya.
             Diantara     faktor-faktor    yang   disebutkan,   tujuan   adalah
      menentukan. Karena kalau memandang situasi itu tidak mengandung
      masalah, dengan sendirinya tidak memahami tujuan memecahkan
      masalah tersebut, kemungkinan besar situasi yang dihadapi tidak perlu
      dihadapi dengan berpikir.
             Dari bermacam-macam masalah ada pula bermacam-macam cara
      pemecahan, antara lain :
       Dengan instink’ dengan kebiasaan-kebiasaan
       Dengan aktivitas pikir
   2. Proses berpikir dan kegiatan jiwa dalam berpikir
      Dalam bab ini dibicarakan tentang berpikir dalam fungsinya untuk
      memecahkan suatu masalah. Dari uraian di atas dapat disimpulkan :
      a) Proses berpikir dalam memecahkan masalah :
           Ada minat untuk memecahkan masalah
           Memahami tujuan pemecahan masalah itu
           Mencari kemungkinan-kemungkinan pemecahan
           Melaksanakan kemungkinan-kemungkinan yang dipilih untuk
             memecahkan masalah
      b) Dalam proses berpikir timbul kegiatan-kegiatan jiwa :
           Membentuk pengertian
           Membentuk pendapat
           Membentuk kesimpulan


B. Berpikir sebagai Aktivitas Mental
          Berpikir adalah suatu kegiatan mental yang melibatkan kerja otak.
   Akan tetapi, pikiran manusia, walaupun tidak bisa dipisahkan dari aktivitas
   kerja otak, lebih dari sekadar kerja organ tubuh yang disebut otak. Kegiatan
   berpikir juga melibatkan seluruh pribadi manusia dan juga melibatkan
   perasaan dan kehendak manusia. Memikirkan sesuatu berarti mengarahkan
   diri pada objek tertentu, menyadari kehadirannya seraya secara aktif
   menghadirkannya dalam pikiran kemudian mempunyai gagasan atau
   wawasan tentang obyek tersebut.
          Kita semua berpikir, tetapi dengan cara yang berbeda-beda. Sebagian
   anak, umpamanya, tumbuh dengan kemahiran "alami‖ dalam bidang angka-
   angka, namun sebagai anak lainnya mempunyai kemampuan "intuitif" dan
   ada juga anak-anak yang "bagus dalam kata-kata". Sebagian pria kerap
mengatakan bahwa wanita cenderung berpikir "secara tidak logis". Sebagian
wanita suka mengatakan bahwa pria cenderung "tidak berperasaan". Kita
tnungkin mengatakan tentang seseorang bahwa "ia mempunyai pikiran yang
sistematis dan logis. Ia mempertimbangkan masak-masak segala sesuatu";
dan kita mengatakan tentang orang lain lagi bahwa "ia sangat imaginatif. Ia
mempunyai ide-ide yang tak akan mungkin pernah timbul dari pikiran saya.
       Perbedaan dalam cara berpikir dan memecahkan masalah merupakan
hal nyata dan penting. Perbedaan ini mungkin sebagian disebabkan oleh
faktor pembawaan sejak lahir dan sebagian lagi berhubungan dengan taraf
kecerdasan scseorang. Namun, jelas bahwa proses keseluruhan dari
pendidikan fornial dan pendidikan informal sangat mempengaruhi gaya
berpikir seseorang di kemudian hari, di samping mempengaruhi pula mutu
pemikirannya (Leavitt, 1978).
       Para ahli melihat ihwal berpikir ini dari perspektif yang berlainan.
Ahliahli psikologi, asosiasi, misalnya, menganggap bahwa berpikir adalah
kelangsungan tanggapan-tanggapan ketika subjek berpikir pasif. Plato
beranggapan bahwa berpikir adalah berbicara dalam hati. Sehubungan
dengan pendapat Plato ini, ada yang berpendapat bahwa berpikir adalah
aktivitas ideasional (Woodworth dan Marquis, dalam Suryabrata, 1995:54).
Pada pendapat yang terakhir itu dikemukakan dua kenyataan, yakni:
1. Berpikir adalah aktivitas; jadi subjek yang berpikir aktif, dan
2. Aktivitas bersifat ideasional, jadi bukan sensoris dan bukan motoris,
   walaupun dapat disertai oleh kedua hal itu; berpikir meriggunakan
   abstraksi-abstraksi atau "ideas".
       Piaget menciptakan teori bahwa cara berpikir logis berkembang
secara bertahap, kira-kira pada usia dua tahun dan pada sekitar tujuh tahun.
Ia menunjukkan bahwa anak-anak tidak seperti bejana yang menunggu untuk
diisi penuh dengan pengetahuan. Mereka secara aktif membangun
pemahamannya akan dunia dengan cara berinteraksi dengan dunia. Pada
beberapa periode yang berbeda dari perkembangan mereka, anak-anak
mampu melakukan berbagai jenis interaksi yang berbeda, dan sampai pada
   berbagai pemahaman yang berbeda. Periode sebelum sekitar usia dua tahun
   disebutnya periode sensori-motor, usia dua sampai tujuh tahun periode pra-
   operasional, dan dari usia-tujuh tahun seterusnya periode operasional (yang
   dibaginya menjadi dua) — periode operasi konkret (Tujuh sampai sebelas
   tahun) dan periode operasi formal (sebelas tahun sampai usia dewasa)
   (Sylva & Lunt, 1986).
          Berpikir itu, seperti kata ahli pikir, tampaknya mudah saja; sejak
   kecil semua orang biasa melakukannya. Namun, apabila diselidiki lebih
   lanjut, dan terutama bila dipraktikkan, ternyata mengandung banyak
   kesulitan. Orang dengan mudah bisa tersesat. Perasaan dan prasangka dapat
   mempengaruhi jalan pikiran. Semboyan-semboyan serta ‖pendapat umum‖
   dapat menutup mata orang terhadap kenyataan, dan dalam perdebatan,
   terutama tentang hal-hal yang sulit dan berbelit-belit, sering sukar untuk
   menentukan letak kebenaran.
          Pada hakekatnya, berpikir merupakan ciri utama bagi manusia untuk
   membedakan antara manusia dan makhluk lain. Dengan dasar berpikir ini,
   manusia dapat mengubah keadaan alam sejauh akal dapat memikirkannya.
   Berpikir disebut juga sebagai proses bekerjanya akal; manusia dapat berpikir
   karena manusia berakal. Akal merupakan intinya, sebagai sifat hakikat
   sedangkan makhluk sebagai genus yang merupakan dhat, sehingga manusia
   dapat dijelaskan sebagai makhluk yang berakal. Akal merupakan salah satu
   unsur kejiwaan manusia untuk mencapai kebaikan. Dengan akal inilah,
   manusia dapat berpikir untuk mencari kebenaran hakiki.


C. Berpikir dan Bernalar
          Dalam pemakaian sehari-hari, kata berpikir sering disamakan dengan
   bernalar atau berpikir secara diskursif dan kalkulatif. Kecenderungan ini
   menjadi sangat besar dengan semakin dominannya rasionalitas ilmiah,
   teknologis atau rasionalitas instrumental. Akan tetapi, menurut Sudarminta
   bernalar adalah kegiatan pikiran untuk menari kesimpulan dari premis-
   premis yang sebelumnya sudah diketahui. Bernalar bisa mengambil bentuk
   induktif, deduktif, ataupun abduktif. Penalaran induktif merupakan proses
   penarikan kesimpulan yang berlaku umum (universal) dari rangkaian
   kejadian yang bersifat khusus (partikular). Sebaliknya, penalaran deduktif
   adalah penarikan kesimpulan khusus berdasarkan hukum atau pernyataan
   yang berlaku umum. Adapun penalaran abduktif (suatu istilah yang
   diperkenalkan oleh Charles S. Pierce) adalah penalaran yang terjadi dalam
   merumuskan suatu hipotesis berdasarkan kemungkinan adanya korelasi
   antara dua atau lebih peristiwa yang sebelumnya sudah diketahui. Sebagai
   contoh, kita tahu bahwa semua pohon semangka di kebun kita adalah
   semangka non-biji. Nah, barangkali semanka yang disediakan di ruang
   makan itu diambil dari kebun kita.
          Memang kegiatan bernalar merupakan aspek yang amat penting
   dalam berpikir. Akan tetapi, menyamakan berpikir dengan bernalar, seperti
   dikatakan Sudarminta, merupakan suatu penyempitan konsep berpikir.
   Penalaran adalah kegiatan berpikir seturut asas kelurusan berpikir atau sesuai
   dengan hukum logika. Penalaran sebagai kegiatan berpikir logis belum
   menjamin bahwa kesimpulan yang ditarik atau pengetahuan yang dihasilkan
   pasti benar. Walaupun penalarannya betul atau sesuai dengan asas-asas
   logika, kesimpulannya yang ditarik bisa saja salah kalau premis-premis yang
   mendasari penarikan kesimpulan itu ada yang salah.


D. Bahasa dan Pikiran
          Dalam pengertian yang terbatas, berpikir tak bisa didefinisikan. Tiap
   kegiatan jiwa yang menggunakan kata-kata dan pengertian selalu
   mengandung hal berpikir. Namun, secara umum, tiap perkembangan dalam
   ide, konsep, dan sebagaimnya dapat disebut berpikir (Bochenski, dalam
   Suriasumantri, 1999 : 52). Umpamanya, jika seseorang bertanya kepada
   saya, ‖Apakah yang sedang kamu pikirkan?‖ Mungkin saya menjawab,
   ‖Saya sedang memikirkan keluarga saya.‖ Hal ini berarti bahwa bayangan,
   kenangan, dan sebagainya hadir dan ikut-mengikuti dalam kesadaran saya.
  Karena itu, definisi yang paling umum dari berpikir adalah perkembangan
  ide dan konsep.
         Menurut Watson, berpikir haruslah merupakan suatu tingkah laku
  motoris. Anak-anak, bahkan juga orang dewasa, sering berpikir dengan
  bersuara. Berpikir dengan bersuara ini adalah untuk membisiki diri sendiri.
  Pada fase selanjutnya, berbicara terhadap diri sendiri bukan hanya mengenai
  apa yang sedang dikerjakan, tetapi juga apa yang telah atau akan diperbuat.
  Oleh karema itu, ia dapat mencapai bentuk berpikir pada orang dewasa.
  Orang tuli, yang ―berbicara‖ dengan tangan, menurut Watson, juga berpikir
  dengan gerakan, yaitu gerakan tangan yang tidak tampak atau implict hand
  movement.


E. Macam-Macam Berpikir
         Secara garis besar, ada dua macam berpikir : berpikir autistik dan
  berpikir realistik (Rahmat, 1994 : 69). Yang pertama mungkin lebih tepat
  disebut melamun. Contoh berpikir autistik, seseorang melarikan diri dari
  kenyataan dan melihat hidup sebagai gambar-gambar fantastis. Adapun
  berpikir realistik atau sering pula disebut reasoning (nalar), adalah berpikir
  dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata. Floyd L. Ruch (1967),
  seperti dikutip Rakhmat (1994 : 69), menyebut tiga macam berpikir realistik,
  deduktif, induktif, evaluatif.
         Apa yang dimaksud berpikir deduktif, berpikir induktif, dan berpikir
  evaluatif ? Uraian berikut bisa memberi sedikit penjelasan.
  1. Berpikir Deduktif
              Deduktif merupakan sifat deduksi. Kata deduksi berasal dari kata
     Latin deducere (de berarti ’dari’ dan kata decure berarti ’mengantar’,
     ’memimpin’). Dengan demikian, kata deduksi yang diturunkan dari kata
     itu berarti mengantar dari suatu hal ke hal lain. Sebagai suatu istilah
     dalam penalaran, deduksi merupakan proses berpikir (penalaran) yang
     bertolak dari proposisi yang sudah ada, menuju proposisi baru yang
     berbentuk suatu kesimpulan (Keraf, 1994 : 57).
          Dilihat dari prosesnya, berpikir deduktif berlangsung dari yang
   umum menuju yang khusus. Dalam cara berpikir ini, orang bertolak dari
   suatu teori, prinsip, atau kesimpulan yang dianggapnya benar dan sudah
   bersifat umum. Dari situ, ia menerapkannya pada fenomena-fenomena
   yang khusus, dan mengambil kesimpulan khusus yang berlaku bagi
   fenomena tersebut. Jadi, untuk lebih jelasnya, berpikir deduktif adalah
   mengambil kesimpulan dari dua pernyataan; yang pertama merupakan
   pernyataan umum. Alam logika, ini disebut silogisme.
2. Berpikir Induktif
          Induktif artinya bersifat induksi. Induksi adalah proses berpikir
   yang bertolak dari satu atau sejumlah fenomena individual untuk
   menurunkan suatu kesimpulan (inferensi). Proses penalaran ini mulai
   bergerak dari penelitian evaluasi atas fenomena-fenomena yang ada.
   Karena semua fenomena harus diteliti dan dievaluasi terlebih dahulu
   sebelum melangkah lebih jauh ke proses penalaran induktif, proses
   penalaran itu juga disebut sebagai corak berpikir ilmiah. Namun, induksi
   tidak akan banyak manfaatnya jika tidak diikuti oleh proses berpikir yang
   pertama, yaitu deduksi, seperti telah kita bicarakan sebelumnya.
          Berpikir induktif (inductive thinking) ialah menarik suatu
   kesimpulan umum dari berbagai kejadian (data) yang ada disekitarnya.
   Dasarnya adalah observasi. Proses berpikirnya adalah sintesis. Tingkatan
   berpikirnya adalah induktif. Jadi jelas, pemikiran semacam ini
   mendekatkan manusia pada ilmu pengetahuan.
          Pada hakikatnya, semua pengetahuan yang dimiliki manusia
   berasal dari proses pengamatan (observasi) terhadap data. Rangkaian
   pengamatan data tersebut kemudian memberikan pengertian terhadap
   kejadian berdasarkan reasoning yang bersifat sintesis (synthesis).
          Tepat atau tidaknya keismpulan (cara berpikir) yang diambil
   secara induktif ini terutama bergantung pada representatif atau tidaknya
   sampel yang diambil, yang mewakili fenomena keseluruhan. Makin besar
   jumlah sample yang diambil, makin representatif dan makin besar pula
      taraf validitas dari kesimpulan itu; dan sebaliknya. Taraf validitas
      kebenaran kesimpulan itu masih ditentukan pula oleh obketifitas dari si
      pengamat dan homogenitas dari fenomena-fenomena yang diselidiki
      (Purwanto, 1998 : 47-48)
   3. Berpikir Evaluatif
             Berpikir evaluatif ialah berpikir kritis, menilai baik-buruknya,
      tepat atau tidaknya suatu gagasan. Dalam berpikir evaluatif, kita tidak
      menambah atau mengurangi gagasan. Kita menilaianya menurut kriteria
      tertentu (Rakhmat, 1994).
             Perlu diingat bahwa jalannya berpikir pada dasarnya ditentukan
      oleh berbagai macam faktor. Suatu masalah yang sama, mungkin
      menimbulkan pemecahan yang berbeda-beda pula. Adapun faktor-faktor
      yang memengaruhi jalannya berpikir itu, antara lain, yaitu bagaimana
      seseorang melihat atau memahami masalah tersebut, situasi yang tengah
      dialami seseorang dan situasi luar yang dihadapi, pengalaman-
      pengalaman orang tersebut serta bagaimana dinteligensi orang itu.


F. Gangguan Berpikir
          Setelah kita membicarakan fungsi dan peranan, sifat-sifat dan
   kualitas-kualitas berpikir, maka kita perlu mengetahui beberapa gangguan
   pikiran yang dapat menimbulkan penyelewengan-penyelewengan berpikir.
   Beberapa gangguan berpikir antara lain :
   1. Oligoprenia : tuna kecerdasan (oliges: sedikit, phren: jiwa, pikiran).
      Penderita oligoprenia seolah-olah dilahirkan dengan bekal-bekal yang
      terbatas, dan perkembangan inteleknya pun terbatas pula.
   2. Idiota : ketunaan yang terberat, terdapat tanda-tanda tidak ada
      kemampuan memenuhi hidup sendiri, sukar mengembangkan diri.
   3. Imbersila : dungu, lebih ringan daripada idiot. Orang yang imbesila
      sudah dapat mandi sendiri, makan sendiri, hanya tingkat perkembangan
      terbatas.
4. Debilita : tolol, moron, lemah kemampuan. Kemampuannya mendekati
   orang yang normal, namuin taraf kemajuan yang dapat dicapai masing
   sangat terbatas.
5. Demensia : Mula-mula penderita mengalami perkembangan normal,
   tetapi karena suatu sebab perkembangannya terhenti dan mengalami
   kemunduran yang mencolok.
6. Delusia : (keadaan yang menunjukkan gagasan yang ilusif). Delusia
   sangat erat hubungannya dengan gejala ilusi. Penderita mempunyai
   keyakinan yang kuat tentang sesuatu, tetapi keyakinan yang kuat sama
   sekali tidak menurut kenyataan.
7. Obsesia : (obsesio: pengepungan)
      Penderita seolah-olah dikepung atau dicengkeram oleh pikiran-
pikiran tertentu yang tidak masuk akal (tidak logis). Makin besar usaha
untuk melepaskan diri, makin besar pula gangguan pikiran yang
mencengkeram.
                                  BELAJAR


A. Apakah Belajar itu ?
          Belajar, menurut anggapan sementara orang adalah proses yang
   terjadi dalam otak manusia. Saraf dan sel-sel otak yang bekerja
   mengumpulkan semua yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan
   lain-lain, lantas disusun oleh otak sebagai hasil belajar. Itulah sebabnya,
   orang tidak bisa belajar jika fungsi otaknya terganggu.
          Secara singkat dan secara umum, belajar dapat diartikan sebagai
   ‖perubahan perilaku yang relatif tetap sebagai hasil adanya pengalaman‖.
   Disini, tidak termasuk perubahan perilaku yang diakibatkan oleh kerusakan
   atau cacat fisik, penyakit, obat-obatan, atau perusahaan karena proses
   pematangan.
          Pengertian belajar memang selalu berkaitan dengan perubahan, baik
   yang meliputi keseluruhan tingkat laku individu maupun yang hanya terjadi
   pada beberapa aspek dari kepribadian individu. Perubahan ini dengan
   sendirinya dialami tiap-tiap individu atau manusia, terutama hanya sekali
   sejak manusia dilahirkan. Sejak saat itu , terjadi perubahan-perubahan dalam
   arti perkembangan melalui fase-fasenya. Dan karena itu pula, sejak saat itu
   berlangsung proses-proses belajar.


B. Berbagai Rumusan tentang Belajar
          Para ahli berusaha merumuskan tentang belajar. Di bawah ini
   dikemukakan beberapa perumusannya.
   1. Dalam bukunya Conditioning and Instrumental Learning (1967), Walker
      mengemukakan arti belajar dengan kata-kata yang singkat, yakni
      ―Perubahan perbuatan sebagai akibat dari pengalaman‖. Definisi yang
      singkat dan sederhana ini tampaknya mencakup segala sesuatu yang
      diinginkan dalam pengertian belajar.
2. C. T. Morgan, dalam Introduction to Psychology (1961), merumuskan
   belajar sebagai ―Suatu perubahan yang relatif menetap dalam tingkah
   laku sebagai akibat atau hasil dari pengalaman yang lalu‖
3. Dalam Educational Psychology: a realistic Approach (1977), Good &
   Boophy mengartikan belajar sebagai ―The development of new
   associations as a result od experience”. Bertitik tolak dari definisi ini,
   mereka selanjutnya menjelaskan bahwa belajar merupakan proses yang
   benar-benar bersifat internal. Belajar menurut Good & Boophy, adalah
   suatu proses yang tidak bisa dilihat dengan nyata. Proses itu terjadi
   dalam diri seseorang yang sedang mengalami belajar. Jadi yang
   dimaksud dengan belajar, menurut pandangan mereka bukanlah suatu
   tingkah laku yang tampak, tetapi terutama prosesnya terjadi secara
   internal pada individu dalam usaha memperoleh berbagai hubungan baru.
   Hubungan-hubungan baru itu bisa berupa, hubungan antar perangsang
   antarreaksi, atau antara perangsang dan reaksi.
4. Crow & Crow, dalam buku Educational Psychology (1958), menyatakan,
   “Learning is acquisition of habits, knowledge, and attitude”, belajar
   adalah memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, dan sikap.
   Menurut, mereka, hal-hal yang dirumuskan di atas meliputi cara-cara
   yang baru guna melakukan suatu upaya memperoleh penyesuaian diri
   terhadap situasi yang baru. Belajar, dalam pandangan Crow & crow,
   menunjuk adanya perubahan yang progresif dari tingkah laku. Belajar
   dapat memuaskan minat individu untuk mencapai tujuan.


       Akhirnya perlu juga dikemukakan adanya pengertian belajar yang
lebih plastis, seperti yang dikemukakan. Dimyati Mahmud (1990 : 59). Ia
mengemukakan, tiga pengertian mengenai perkataan belajar, yakni :
 Menemukan
 Mengingat
 Menjadi efisien
C. Teori-teori Belajar
          Dalam psikologi, teori belajar selalu dihubungkan dengan stimulus
   respons dan teori-teori tingkah laku yang menjelaskan respons makhluk
   hidup dihubungkan dengan stimulus yang didapat dalam lingkungannya.
   Proses yang menunjukkan hubungan yang terus menerus antara respons yang
   muncul serta rangsangan yang diberikan dinamakan suatu proses belajar
   (Tan, 1981 : 91)
          Untuk lebih memperjelas pengertian kita mengenai proses belajar
   yang merupakan hasil penyeleidikan para ahli psikologi. Berikut ini, kita
   perlu mengenal beberapa teori belajar. Teori belajar yang dimaksud ialah :
   91) teori conditioning (2) teori connectionism, idan (3) teori psikologi
   Gestalt.
   1. Teori Conditioning
              Bentuk paling sederhana dalam belajar ialah conditioning. Karena
      conditioning sangat sederhana bentuknya dan sangat luas sifatnya, para ahli
      sering mengambilnya sebagai contoh untuk menjelaskan dasar-dasar dari
      semua proses belajar. Meskipun demikian, kegunaan conditioning sebagai
      contoh bagi belajar, masih menjadi bahan perdebatan (Walker, 1967)
      a. Conditioning Klasik (Classical Conditioning)
                Conditioning adalah suatu bentuk belajar yang kesanggupan
          untuk berespons terhadap situmlus tertentu dapat dipindahkan pada
          stimulus lain.
                Begitulah, menurut teori conditioning, belajar adalah suatu
          proses      perubahan   yang   terjadi    karena   adanya   syarat-syarat
          (conditions)     yang   kemudian         menimbulkan   respons.   Untuk
          menjadikan seseorang itu belajar, menurut teori conditioning, ialah
          adanya latihan-latihan yang kontinu. Yang diutamakan dalam teori
          ini ialah hal belajar yang terjadi secara otomatis.
                Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku
          manusia juga tidak lain merupakan hasil dari conditioning, yakni
          hasil dari latihan-latihan atau kebiasaan mereaksi terhadap syarat-
   syarat atau perangsang-perangsang tertentu yang dialaminya dalam
   kehidupannya.
         Kelemahan conditioning klasik, antara lain, adalah sebagai
   berikut (Purwanto, 1995) :
   (1) Teori ini menganggap bahwa belajar hanyalah terjadi secara
       otomatis; keaktifan dan penentukan pribadi dalam tidak
       dihiraukanya
   (2) Peranan latihan/kebiasaan terlalu ditonjolkan; sedangkan kita
       tahu bahwa dalam bertindak dan berbuat sesuatu, manusia tidak
       semata-mata bergantung pada pengaruh dari luar.aku atau
       pribadinya sendiri memegang peranan dalam memilih dan
       menentukan perbuatan serta reaksi apa yang akan dilakukannya.
   (3) Teori conditioning memang tepat kalau kita hubungkan dengan
       kehidupan binatang. Namun, pada manusia, teori ini hanya dapat
       kita terima dalam hal-hal belajar tertentu saja, umpamanya dalam
       belajar mengenai skills (kecekatan-kecekatan) tertentu dan
       mengenai pembiasaan pada anak-anak kecil.
b. Conditioning Operan (Operant Conditioning)
         Istilah conditioning operan (operant conditioning) diciptakan
   oleh Skinner dan memiliki arti umum conditioning perilaku. Istilah
   ―operan‖ di sini berarti operasi (operation) yang pengaruhnya
   mengakibatkan      organisme   melakukan   suatu   perbuatan   pada
   lingkungannya.
         Conditioning operan dirumuskan berdasarkan prosedurnya.
   Akan tetapi, program penyelidikan yang dikembangkannya memiliki
   sejumlah corak khusus yang tidak menuruti prosedur. Prinsip-prinsip
   yang penting itu ditata oleh Skinner (1938,1951,1953, 1961) dan
   sebagian dikembangkan oleh orang-orang lain, yaitu mengenai
   persoalan-persoalan dasar yang berhubungan dengan bidang belajar
   dan teori belajar. Keseluruhan istilah yang khusus, cara membuat
   eksperimen, dan sikap terhadap persoalan-persoalan teorities dan
       eksperimental, demikian pula arah dan penyelidikan utama, disebut
       sebagai aspek-aspek analisis eksperimental dari tingkah laku.
             Perbedaan antara proses belajar klasik dan belajar operan
       adalah adanya stimulus diskriminan tersebut, yaitu yangmembedakan
       antara kondisi saat suatu perilaku berhasil secara efektif dan kondisi
       perilaku tidak akan efektif (Sarwono, 1997 : 69)
             Diantara kelemahan-kelemahan teori tersebut adalah sebagai
       berikut (Syah, 1995 : 108).
       (1) Proses belajar dapat diamati secara langsung, padahal belajar
           adalah proses kegiatan mental yang tidak dapat disaksikan dari
           luar, kecuali sebagai gejalanya
       (2) Proses belajar bersifat otomatis-mekanis sehingga terkesan
           seperti gerakan mesin dan robot, padahal setiap individu
           memiliki slef-direction (kemampuan mengarakan diri) dan self
           control (pengendalian diri) yang bersifat kognitif, sehingga ia
           bisa menolak untuk merespons jika ia tidak menghendaki,
           misalnya karena lelah atau berlawanan dengan kata hati.
       (3) Proses belajar manusia yang dianalogikan dengan perilaku hewan
           itu sangat sulit diterima, mengingat mencoloknya perbedaan
           karakter fisik dan psikis antara manusia dan hewan.
2. Teori Psikologi Gestalt
          Teori belajar menurut psikologi Gestalt seringkali disebut insight
   full learning atau field theory. Adapula istilah lain yang sebetulnya
   identik dengan teori ini, yaitu organismic, pattern, holistic, integration,
   configuration, dan closure.
          Jiwa manusia, adalah suatu keseluruhan yang berstruktur atau
   merupakan suatu sistem, bukan hanya terdiri atas sejumlah bagian atau
   unsur yang satu sama lain terpisah, yang tidak mempunyai hubungan
   fungsional. Manusia adalah individu yang berupakan berbentuk jasmani-
   rohani. Sebagai individu, manusia itu bereaksi atau lebih tepatnya
   berinteraksi, dengan dunia luar, dengan kepribadiannya, dan dengan cara
yang unik pula. Sebagai ribadi, manusia tidak secara langsung bereaksi
terhadap suatu perangsang, dan tidak pula reaksinya itu dilakukan sevara
trial and error seperti dikatakan oleh penganut teori conditioning. Interaksi
manusia terhadap dunia luar bergantung pada cara ia menerima stimulus dan
bagaimana serta apa motif-motif yang ada padanya. Manusia adalah
makhluk yang memiliki kebebasan. Ia bebas memilih cara bagaimana ia
berinteraksi, stimulus mana yang diterimanya dan mana yang ditolaknya.
       Atas dasar itu, maka belajar, dalam pandangan psikologi Gestalt,
bukan sekadar proses asosiasi antara stimulus-respons yang kian lama
kian kuat disebabkan adanya berbagai latihan atau ulangan-ulangan.
Menurut aliran ini, belajar itu terjadi apabila terdapat pengertian
(insight). Pengertian ini muncul jika seseorang, setelah beberapa saat,
mencoba memahami suatu problem, tiba-tiba muncul adanya kejelasan,
terlihat olehnya hubungan antara sangkut pautnya, untuk kemudian
dimengerti maknanya.
       Prinsip-prinsip belajar berikut ini lebih merupakan rangkuman
atau kesimpulan dari teori psikologi Gestalt.
(1) Belajar dimulai dari suatu keseluruhan, kemudian baru menuju
    bagian-bagian. Dari hal-hal yang sangat kompleks menuju hal-hal
    yang lebih sederhana
(2) Keseluruhan memberi makna pada bagian-bagian. Bagian-bagian
    terjadi dalam suatu keseluruhan. Bagian-bagian itu hanya bermakna
    dalam rangka keseluruhan tersebut.
(3) Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan. Seseorang belajar
    jika ia dapat bertindak dan berbuat sesuai dengan yang dipelajarinya
(4) Belajar akan berhasil bila tercapai kematangan untuk memperoleh
    pengertian. Pengertian adalah kemampuan hubungan antara berbagai
    faktor dalam situasi yang problematis.
(5) Belajar akan berhasil jika ada tujuan yang berarti bagi individu
(6) Dalam proses belajar itu, individu selalu merupakan organisme yang
    aktif, bukan bejana yang harus diisi oleh orang lain.
D. Belajar sebagai Suatu Proses
          Dalam konteks belajar, tentu saja yang dimaksud proses disini – jika
   kita mengacu pada kamus di atas – adalah pada pengertian yang pertama.
   Kata ini, kalau kita cermati, mempunyai konotasi urutan langkah atau
   kemajuan yang mengarah pada suatu sasaran atau tujuan.
          Dengan demikian, jelas bahwa belajar pada dasarnya bukanlah suatu
   tujuan atau benda, tetapi merupakan suatu proses kegiatan untuk mencapai
   tujuan. Pengertian proses di sini lebih merupakan ‖cara‖ mencapai tujuan
   atau benda. Inilah langkah-langkah atau prosedur yang ditempuh. Dalam
   belajar, setiap kegiatan saling berinteraksi atau saling mempengaruhi.
          Pada hakikatnya, belajar adalah suatu proses kejiwaan atau peristiwa
   probadi yang terjadi di dalam diri setiap individu. Proses belajar itu sendiri,
   apabila berjalan dengan baik, kelak akan memberi hasil, yang kita sebut
   ―hasil belajar‖. Hasil belajar itu tidak akan bisa kita capai jika dalam diri kita
   sendiri tidak terjadi proses belajar. Jadi, kita tidak usah heran apabila kita
   merasa tidak mencapai hasil apa-apa jika memang dalam diri kita tidak
   pernah terjadi proses belajar itu. Kalau proses itu berlangsung kurang
   mantap, hasilnya pun tidak akan memuaskan.
          Proses dalam belajar merupakan faktor yang paling penting. Proses
   sebetulnya menekankan kreativitas. Pada umumnya, proses berkenaan
   dengan cara belajar berkembang, bagaimana siswa bergaul dengan guru,
   bagaimana siswa terlibat dalam proses itu.
          Soepartinah Pakasi dalam bukunya Anak dan Perkembangannya
   (1981), menguraikan beberapasifat proses belajar sebagai berikut :
   (1) Belajar merupakan suatu interaksi antara anak dna lingkungan
   (2) Belajar berarti berbuat
   (3) Belajar adalah suatu aktivitas yang bertujuan
   (4) Belajar memerlukan motivasi
   (5) Belajar memerlukan kesiapan pada pihak anak
   (6) Belajar memerlukan kesiapan pada pihak anak
   (7) Belajar bersifat integratif
       Dalam uraiannya mengenai proses belajar, Udai Pareek menyebutkan
tiga dimensi penting, yaitu penemuan pengetahuan, mengadakan percobaan,
dan perencanaan auto sistem (Pareek, 1996: 257-258).
1. Penemuan
         Belajar dapat mengembangkan seseorang secara efektif jika ia
   ‖menemukan‖ pengetahuan dan lain-lain dimensi penting, dan bukan
   ‖hanya menerimanya‖ dari guru. Belajar dengan cara penemuan
   menekankan pentingnya si pelajar, dan menyatakan kepercayaan pada
   kemampuan belajar untuk aktif dan kreatif. Hal ini penting bagi
   teknologi dan sistem-sistem lainnya – endosistem dan sistem pengaruh
   (guru). Salah satunya adalah dengan memberikan bimbingan minimum
   dari garis besar yang diperlukan, lalu mendorong si pelajar untuk
   menjelajahi lingkungan, bidang pengetahuan, keadaan dan organisasi,
   serta menemukan berbagai segi sendiri sehingga mendorong para pelajar
   untuk belajar menambah kreativitas.


2. Mengadakan Percobaan
       Erat hubungannya dengan penemuan adalah percobaan suatu peran
   aktif. Semua keterampilan memerlukan percobaan. Jika belajar harus
   kreatif   dan   menuju   kreativitas,   percobaan   diperlukan.   Melalui
   percobaanlah, si pelajar akan mengetahui bahwa ada berbagai cara untuk
   mngerjakan sesuatu, dan ia menemukan berbagai alternative yang
   membuatnya lebih efektif dalam kemampuannya untuk memilih dari
   berbagai alternative yang tersedia. Sebenarnya, ia belajar menciptakan
   berbagai alternative baru.
       Tanpa percobaan, pelajar tidak dapat membantu pengembangan suatu
   bidang. Jika hanya mempelajari cara mnggunakan beberapa teknik
   seperti yang telah diajarkan, ia hanya menjadi seorang ahli teknik.
   Padahal ia harus menjadi seorang insinyur untuk mengurus dan
   mengubah sesuatu sesuai dengan tantangannya.
3. Perencanaan Auto–Sistem
         Belajar juga harus membantu si pelajar untuk mengetahui cara belajar
   lebih lanjut. Untuk keperluan ini, si pelajar harus dibantu untuk
   mengembangkan sistem pribadi untuk belajar sendiri. Tiap orang
   menggunakan suatu sistem. Satu orang belajar dengan mengatur
   pikirannya melalui suatu garis besar sistematis; seorang lagi mungkin
   belajar melalui penerapan, lalu membuat konsepsi tentang hal ini, dan
   sebagainya. Ada pula yang membuat cara sendiri untuk mengingat
   berbagai hal, menyiapkan catatan-catatan, menyiapkan kartu-kartu acuan
   serta bahan, desain acuan, dan sebagainya. Para pelajar hendaknya
   didorong untuk meninjau efektifitas sistem mereka, dan mengetahui
   seluk-beluk mekanis lainnya yang tersedia, sehingga akhirnya mereka
   dapat memilih sistem sendiri dan mengembangkannya.
         Dalam bukunya The Guidance of Learning Activities, Burton
   (1952:316-317) menyimpulkan proses belajar ini sebagai berikut :
   (1)    Proses belajar adalah mengalami, melakukan, memeberikan reaksi,
          dan melampaui.
   (2)    Proses belajar mengalami berbagai macam pengalaman serta mata
          pelajaran-mata pelajaran yang terpusat pada tujuan tertentu.
   (3)    Proses dan pengalaman belajar secara maksimum bermakna untuk
          kehidupan individu.
   (4)    Proses belajar bersumber dari kebutuhan dan tujuan individu
          sendiri yang mendorong motivasi secara kontinu.
   (5)    Proses belajar an hasil belajar dipengaruhi oleh faktor-faktor
          hereditas dan lingkungan.
   (6)    Proses dan hasil belajar secara material dipengaruhi oleh berbagai
          perbedaan individual di kalangan individu-individu.
   (7)    Proses belajar berjalan secara efektif jika pengalaman-pengalaman
          dan hasil-hasil yang diharapkan disesuaikan dengan kematangan
          individu.
      (8)    Proses yang terbaik ialah jika pelajar mengetahui status serta
             kemajuannya.
      (9)    Proses belajar adalah fungsional dari produser-produser.
      (10) Proses belajar berjalan secara efektif di bawah bimbingan yang
             memberikan rangsangan, tanpa ada paksaan atau tekanan.


E. Jenis-jenis Belajar
            Jenis-jenis belajar bisa dikelompokkan berdastujuandan hasil yang
   diperoleh dari kegiatan belajar, cara atau proses yang ditempuh dalam
   belajar, teknik atau metode belajar dan sebagainya. Perkembangan atas
   pengelompokan jenis belajar ini muncul dalam dunia pendidikan sejalan
   dengan kebutuhan kehidupan manusia yang juga bermacam-macam.
            Dilihat dari tujuan dan hasil yang diperoleh dari kegiatan belajar,
   para ahli umumnya mengemukakan delapan jenis belajar berikut (Saodih dan
   Surya, 1971; Syah, 1995; Effendi dan Praja, 1993).
   1. Belajar Abstrak (Abstract Learning)
      Belajar abstrak, pada dasarnya adalah belajar dengan menggunakan cara-
      cara berpikir abstrak. Tujuannya ialah memperoleh pemahaman serta
      pemecahan yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak
      peranan akal atau rasio sangatlah penting. Begitu penguasaan atas
      prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Termasuk dalam jenis ini, isalnya,
      belajar tauhid, astronomi, kosmografi, kimia, dan matematika.
   2. Belajar Keterampilan (Skill Learning)
      Belajar     ketrampilan   merupakan    proses   belajar   yang    bertujuan
      memperoleh keterampilan tertentu dengan menggunakan gerakan-
      gerakan motorik. Dalam belajar jenis ini, proses pelatihan yang intensif
      dan teratur sangat diperlukan. Termasuk belajar dalam jenis ini, misalnya
      belajar cabang-cabang olah raga, melukis, memperbaiki benda–benda
      elektronik. Bentuk belajar keterampilan ini disebut juga latihan atau
      training.
3. Belajar Sosial (Social Learning)
   Belajar sosial adalah belajar yang bertujuan memperoleh keterampilan
   dan pemahaman terhada masalah-masalah sosial, penyesuaian terhadap
   nilai-nilai sosial dan sebagainya. Termasuk belajar jenis ini misalnya
   belajar memahami masalah keluarga, masalah penyelesaian konflik antar
   etnis atau antar kelompok, dan masalah lain yang bersifat sosial.
4. Belajar Pemecahan Masalah (Problem Solving)
   Belajar pemecahan masalah pada dasrnya adalah belajar untuk
   memeproleh keterampilan atau kemampuan memecahkan berbagai
   masalah secara logis dan rasional. Tujuannya ialah memperoleh
   kemampuan atau kecakapan kognitif guna memecahkan masalah secara
   tunta. Untuk itu, kemampuan individu dalam menguasai berbagai knsep,
   prinsip, serta generalisasi, amat diperlukan.
5. Belajar Rasional (Rational Learning)
   Belajar rasional adalah belajar dengan menggunakan kemampua berfikir
   secara logis atau sesuai denga akal sehat. Tujuannya ialah memperoleh
   beragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep.
   Jenis belajar ini berkaitan erat dengan belajar pemecahan masalah.
   Dengan belajar rasional, individu diharapkan memiliki kamampuan
   rational problem solving, yaitu kemampuan memecahkan masalah
   dengan menggunakan pertimbangan dan strategi akal sehat, logis dan
   sistematis.
6. Belajar Kebiasaan (Habitual Learning)
   Belajar kebiasaan adalah prose pembentukan kebiasaan baru atau
   perbaikan kebiasaan yang telah ada. Belajar kebiasaan, selain
   menggunakan perintah, keteladanan, serta pengalaman khusus, juga
   menggunakan      hukum     dan   ganjaran.      Tujuannya   agar    individu
   memeproleh sikap dan kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepat dan
   lebih positif, dalam arti elaras dengan kebutuhan ruang dan waktu atau
   bersifat kontekstual.
   7. Belajar Apresiasi (Appreciation Learning)
      Belajar apresiasi pada dasarnya adalah belajar mempertimbangkan nilai
      atau arti penting suatu objek. Tujuannya agar individu memperoleh dan
      mengembangkan kecakapan ranah rasa (effective skills), dalam hal ini
      kemampuan menghargai secara tepat, arti penting objek tertentu,
      misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik dan apresiasi seni lukis.
   8. Belajar Pengetahuan (Study)
      Belajar pengetahuan dimaksudkan sebagai balajar untuk memperoleh
      sejumlah pemahaman, pengertian, informasi, dan sebagainya. Belajar
      pengetahuan juga dapat diartikan sebagai sebuah program belajar
      terencana untuk menguasai materi pelajaran dangan melibatkan kegiatan
      investigasi atau pnelitian dan eksperimen. Tujuan belajar pengetahuan
      ialah agar individu memperoleh atau menambah informasi dan
      pemahaman terhadap pengetahuan tertentu, yang biasanya lebih rumit
      dan memerlukan kiat khusus dalam mempelajarinya, misalnya dengan
      menggunakan alat-alat laboratorium dan penelitian lapangan.


F. Faktor-faktor yang Mempenaruh Belajar
          Secara garis besar, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar anak
   atau individu dapat dibagi dalam dua bagian :
   (1) Faktor endogen, atau disebut juga faktor internal, yakni semua faktor
      yang berada dalam diri individu.
   (2) Faktor eksogen, tau disebut juga faktor eksternal, yakni semua fktor yang
      berada di luar diri individu, misalnya orang tua dan guru, atau kondisi
      lingkungan di sekitar individu.
          Kedua faktor di atas dalam banyak hal acap kali saling berkaitan dan
   mempengaruhi satu sama lain.
   1. Faktor Endogen
          Faktor endogen atau faktor yang berada dalam diri individu meliputi
      dua faktor, yakni afktor fisik dan faktor psikis.
      a. Faktor fisik
      b. Faktor psikis
         Banyak faktor yang termasuk aspek psikis yang bisa mempengaruhi
         kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran. Di antara begitu
         banyak faktor psikis, yang paling banyak atau aling sering disoroti
         pada saat ini adalh faktor-faktor berikut .
         (1) Faktor inteligensi atau kemampuan
         (2) Faktor perhatian dan minat
         (3) Faktor bakat
         (4) Faktor motivasi
         (5) Faktor kematangan
         (6) Faktor kepribadian
   2. Faktor Eksogen
      Seperti sudah dijelaskan, faktor endogen berasal dari luar diri anak.
      Faktor eksogen sebenarnya meliputi banyak hal, namun secara garis
      besar kita bisa membaginya dalam tiga faktor, yakni : (a) faktor keluarga,
      (b) faktor sekolah, (c) faktor lingkungan lain, diluar keluarg dan sekolah.


G. Metode dan Efisiensi Belajar
   1. Metode Balajar
      a. Metode SQ3R
         P. Robinson (1970), yaitu ―Metode SQ3R‖. Nama tersbut merupakan
         kependekan dari lima tugas yang harus kita hadapi atau kita lakukan.
         Survey (menyelidiki), question (bertanya), read (membaca), recite
         (menceritakan kembali), dan review (mengulangi)
      b. Metode PQRST
         Setelah metode SQ3R, ada lagi metode lain yang pokok isinya
         hampir sama, yaitu metode PQRST, yang merupakan singkatan dari
         (P)review, (Q)uestion, (R)ead, (S)tate, dan (T)est. Metode ini dibuat
         oleh Thomas F. Staton dalam bukunya How to Study (1952).
      c. Metode Quantum Learning
         Pada dasarnya, Quantum Learning mencakup aspek-aspek penting
         dalam program neurolinguistik (NLP), yaitu suatu penelitian tentang
         cara otak mengatur informasi. -Program ini meneliti hubungan antara
         bahasa dan perilaku, dan dapat digunakan untuk menciptakan jalinan
         pengertian antara siswa dan guru. Para pendidik dengan pengetahuan
         NLP mengetahui cara menggunakan bahasa yang positif untuk
         meningkatkan tindakan-tindakan positif—faktor penting untuk
         merangsang fungsi otak yang paling efektif. Semua ini dapat pula
         menunjukkan dan menciptakan gaya belajar terbaik dari setiap orang,
         dan menciptakan "pegangan" dari saat-saat keberhasilan yang
         meyakinkan.
   2. Efisiensi Belajar
         Efisiensi    adalah    sebuah   pengertian   atau   konsepsi    yang
      menggambarkan perbandingan terbaik antara usaha dan hasil yang
      dicapai (Gie, 1972:5). Dengan demikian, efisiensi sebagai perbandingan
      yang paling baik, dapat ditinjau dari dua segi, yaitu segi usaha belaiar
      dan segi hasil belajar.


H. Hubungan Belajar dengan Menghafal dan Mengingat
         Bahwa antara belajar dan menghafal terdapat hubungan timbal balik,
  memang benar. Namun, belajar dalam arti sesungguhnya, sebetulnya berbeda
  dengan menghafal. Menghafal hanya merupakan sebagian dari kegiatan
  belajar secara keseluruhan. Persamaannya adalah keduanya menyebabkan
  perubahan dalam diri individu:
         Menghafal erat hubungannya dengan proses mengingat, yaitu proses
  untuk menerima, menyimpan, dan memproduksikan tanggapan-tanggapan
  yang telah diperolehnya melalui pengamatan (antara lain melalui belajar).
  Menghapal adalah kemampuan untuk memproduksikan tanggapan-tanggapan
  yang telah tersimpan secara cepat dan tepat, sesuai dengan tanggapan-
  tanggapan yang diterimanya.
       Dalam menghafal, aspek perubahannya terbatas dalam kemampuan
menyimpan dan memproduksikan tanggapan. Adapun dalam belajar,
perubahan itu tidak saja dalam hal kemampuan tersebut, namun juga
meliputi perubahan tingkah laku lainnya, seperti sikap, pengertian, skills,
dan sebagainya. Dengan demikian, belajar akan berhasil dengan baik jika
disertai kemampuan menghafal.
       Dengan demikian, jelas, antara proses-proses belajar dan ingatan
terdapat hubungan yang erat. Tidak mungkin kita dapat mempelajari sesuatu
tanpa tersangkutnya fungsi ingatan sebagai salah satu aspek atau fungsi
psikis. Belajar tanpa memori, tanpa mengingat apa yang dipelajari adalah
nonsens, tidak ada artinya. Dengan belajar, kita bermaksud mendapatkan
sesuatu; ini tidak mungkin tanpa pertolongan ingatan. Ingatan yang kaya dan
kuat sangat berjasa sekali dalam proses belajar.
       Proses belajar telah kita ketahui mempunyai hubungan yang erat
dengan pengertian perubahan. Berbagai perubahan ini dialami secara setapak
demi setapak, yaitu suatu rangsangan dipersepsikan, kemudian diingat atau
dicamkan, baru kemudian menginjak tahap berikutnya, yaitu latihan.
       Kadang-kadang, tanpa latihan terjadi proses pencaman misalnya,
suatu rangsang itu sangat berkesan. Dengan proses yang sifatnya berurutan
ini,kita dapat mempelajari sesuatu secara keseluruhan.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:8058
posted:7/18/2010
language:Indonesian
pages:24
About good man