Kisah Siao Bao dan Paku

Document Sample
Kisah Siao Bao dan Paku Powered By Docstoc
					  Kisah Siao Bao dan Paku



(Erabaru.or.id) Siao Bao, nama bocah laki-laki yang sebenarnya pintar
tapi suka marah-marah. Sebagai anak satus-atunya, perilaku Siao Bao
kadang manja dan semaunya. Tentu saja orang tuanya merasa sedih
memikirkan perilaku Siao Bao.

'Seperti kejadian kemarin, saat Siao Bao sedang asyik menonton TV hingga
larut malam. Mama memanggilnya, “Siao Bao, tidurlah, hari sudah larut
malam!” Siao Bao berteriak dengan ketus, “Tidak mau, saya masih ingin
nonton TV!”

“Tapi besok pagi kamu tidak bisa bangun, bisa terlambat   masuk sekolah
lho!,” mama merayunya. Bukannya menurut, Siao Bao malah   menjerit-jerit,
“Saya tidak mau tidur! Sana, pergilah!” Sambil menghela   nafas, mamanya
membahas masalah ini dengan papa, “Papa, Siao Bao makin   suka marah-marah,
apa yang seharusnya kita perbuat.”

 “Ya, kita harus mencari cara agar sifatnya dapat menjadi lebih baik”,
kata papa.

Cuaca pagi di hari Minggu ini sungguh cerah, orang tua Siao Bao
mengajaknya bermain-main di taman belakang, papa membuatkan ayunan di
pohon, tentu saja Siao Bao sangat senang. Sambil memangku Siao Bao duduk
di ayunan, papa bertanya, “Siao Bao, mari kita melakukan suatu
permainan”. Dengan riang Siao Bao menjawab, “baiklah, permainan apa
papa?” Papa pun menjelaskan, “Permainannya adalah setiap kamu marah, maka
kita akan tancapkan satu paku di papan, tapi bila dalam sehari, kamu bisa
tidak marah, maka kita cabut satu paku”. “Yeah, saya paling senang
permainan!”, teriak Siao Bao.

Berturut-turut beberapa hari kemudian, selalu terdengar suara palu
dipukul. Betul, itu memang suara paku yang ditancapkan Siao Bao, sambil
berhitung, “Hari Ini ada 9 biji….Hari ini ada 8 biji….Hari ini ada 6
biji…..Hari ini hanya ada 5 biji lho…..”

Hingga suatu hari, orang tua Siao Bao mengajaknya duduk di taman, papa
berkata, “Eh, Siao Bao, mengapa pakunya makin hari makin sedikit?” Siao
Bao bilang, “Karena saya menemukan bahwa setiap kali menancapkan satu
paku, membuatku teringat masalah saat saya marah, hati jadi merasa tidak
enak, makin dipikir makin marah.”

“Oh, benarkah?”, kata mama. Siao Bao melanjutkan, “Ya, tetapi saat
mencabut paku, saya teringat kalau seharian saya tidak marah, hati jadi
senang”. Papa tersenyum, “Oh jadi kamu lebih senang mencabut paku”.
“Tentu saja! Bahkan setiap kali memaku paku, saya membayangkan rupa diri
saya sendiri yang suka marah”, kata Siao Bao. Sambil melihat ke pagar,
papa berkata, “nampaknya paku sudah hampir habis dicabut semua”. Siao Bao
menunjuk pagar lebih dekat, “Tapi lubang bekas paku yang tertinggal di
sini, sungguh jelek dan tidak enak dilihat”. Papa berkata, “Benar, setiap
kali sedang marah, maka ucapan kita seperti paku ini, bisa meninggalkan
luka dan kebencian dalam hati orang lain. Meskipun kita telah berulang
kali meminta maaf tetapi luka tersebut akan tetap ada.” Mama juga ikut
mendekat, “Sebenarnya yang paling penting adalah belajar mengontrol diri
kita”. Siao Bao memeluk keduanya, “Iya, sekarang saya mengerti sekarang”.

Perkataan yang emosional membuat orang sedih sedangkan perkataan yang
baik akan menghangatkan sanubari. (disadur dari : Cerita anak sekolah
Minghui/ntdtv/ing)

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:15
posted:7/18/2010
language:Indonesian
pages:2