Docstoc

Kisah Si Pencuri dan Biksu Tua

Document Sample
Kisah Si Pencuri dan Biksu Tua Powered By Docstoc
					  Kisah Si Pencuri dan Biksu Tua



(Erabaru.or.id) Di sebuah kaki gunung terdapat sebuah biara kecil yang
hanya dihuni seorang biksu tua. Biksu ini sangat tekun mengamalkan sila-
sila yang diajarkan dalam Kitab Suci, sehingga sinar wajahnya terlihat
tenang dan damai. Suatu malam, saat perjalanan pulang ke biaranya, sang
biksu menatap sang bulan, “Ah, bulan purnama malam ini sungguh indah,
terang benderang!”. Biksu itu berhenti sesaat menikmati indahnya sinar
rembulan tersebut, kemudian ia melanjutkan perjalanannya.

Setiba di biara, biksu tua melihat bayangan yang bergerak kian kemari,
“Eh, kok ada suara di dalam kuil? Di sini, khan hanya ada saya yang
tinggal”, pikirnya heran. Setelah lebih mendekat, biksu melihat bayangan
manusia, hatinya berkata, “Apa mungkin ada pencuri? Aduh, pencuri ini
sungguh salah tempat. Saya adalah biksu miskin, mana ada barang
untuknya?”

Setelah berpikir sejenak, biksu tua itu memutuskan menunggunya di depan
pintu. Dibawah sinar bulan, pencuri itu mengendap-ngendap keluar, tentu
kaget bukan kepalang melihat sang biksu telah berdiri di depannya,
“Wa..aaah!”

Biksu tua menenangkannya, “Jangan takut, jangan takut !”. Pencuri
ketakutan berkata, “Ssssaya tidak mengambil apa-apa! Sungguh tidak ambil
apapun!”. Biksu tua menjawabnya, “Saya tahu, saya tahu”. Ketika si
pencuri sedang berpikir apa yang akan diperbuat biksu kepadanya, tanpa
disangka si biksu tua melepaskan mantel hangatnya dan memberikan kepada
si pencuri, “Di atas gunung, udara amat dingin, kenakanlah mantel ini”.
Sang pencuri berlalu sambil berkata, “In…iniiii … anda sendiri yang
memberikan padaku lho ya!”

“Hati-hatilah di jalan!”, biksu memandang tubuh pencuri hilang di
kegelapan malam. Saat membalikkan tubuh hendak masuk ke biara, biksu
melihat sejenak ke arah rembulan, sambil menghela nafas dia berkata,
“Hmmm, … ingin rasanya memberikan juga sebuah rembulan untuknya.”

Keesokan pagi, ketika sang biksu hendak keluar, di depan pintunya
terdapat sebuah bungkusan. “Eei … bukankah ini mantelku?”, biksu ini
keheranan lalu tersenyum bijak, “Nampaknya rembulan ini telah
diterimanya, ha..ha..”.

Ternyata lewat tengah malam, pencuri ini mengembalikan mantel biksu ini,
sambil menangis di depan pintu biara dan berkata, “Anda telah tua, udara
sedingin ini pasti membutuhkan mantel ini tapi telah anda berikan pada
saya, padahal mantel ini satu-satunya milik anda….ah…Terima kasih biksu,
saya telah menerima hadiah yang terindah dari anda, mulai besok saya akan
rajin bekerja dan tidak akan mencuri lagi….Saya akan meneruskan hadiah
indah ini kepada yang lainnya!”.

Bagaimana adik-adik? Apakah mau menerima hadiah dari si pencuri tersebut,
“sebuah hati yang putih bersih bagai rembulan”, dan meneruskan memberinya
pada yang lain. Jika setiap orang berbuat demikian. Ah, betapa damainya
bumi kita ini! (disadur dari : Cerita anak sekolah Minghui/ntdtv/ing)

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:21
posted:7/18/2010
language:Malay
pages:2