Docstoc
EXCLUSIVE OFFER FOR DOCSTOC USERS
Try the all-new QuickBooks Online for FREE.  No credit card required.

Kisah Si Dua Gayung

Document Sample
Kisah Si Dua Gayung Powered By Docstoc
					  Kisah Si Dua Gayung


(Erabaru.or.id) Ini adalah sebuah kisah nyata yang terjadi di Tiongkok.
Di zaman dahulu kala, ada sebuah desa kecil yang indah dan sederhana di
pegunungan, namanya Desa Tian Hui (Tian Hui Cun).

Disana ada satu keluarga yang sangat kaya, bermarga Yang. Keluarga Yang
turun temurun adalah keluarga yang sangat baik hati, orang baik yang
sangat senang membantu orang lain.

Jika bertemu dengan Bhikkhu, Pendeta Tao, maka Tuan Yang pasti akan
memberikan nasi dan lauk pauk yang banyak dengan mangkok yang besar untuk
dimakan oleh para Bhikkhu dan Pendeta Tao.

Kadang kala, para tetangga juga pernah datang untuk meminjam bahan
makanan pada Tuan Yang. Namun pada saat mereka hendak mengembalikan bahan
makanan yang dulu dipinjam kepada Tuan Yang, beliau tidak menerimanya
karena para tetangganya miskin.

Para tetangga yang meminjam bahan makanan dari Tuan Yang merasa telah
sangat dibantu dengan dipinjamkannya makanan tersebut, mana boleh bahan
makanan yang telah dipinjam dari orang lain tidak dikembalikan? Mereka
merasa harus dikembalikan.

Oleh karena itu Tuan Yang mengambil sebuah labu besar yang ada di
rumahnya dan dibelah menjadi dua belahan (seperti gayung*), yang sebelah
besar, sedangkan belahan lainnya kecil.

* Zaman dahulu orang membuat gayung dari buah labu yang telah dikeringkan
lalu dibelah dua.

Ketika tetangga datang untuk meminjam bahan makanan lagi, Tuan Yang
menggunakan belahan gayung yang besar itu, setangkup demi setangkup besar
gayung yang berisi bahan makanan itu dipinjamkannya kepada tetangga.

Lalu pada saat tetangga datang lagi untuk mengembalikan bahan makanan,
Tuan Yang menggunakan belahan gayung yang kecil, hanya menerima kembali
dalam jumlah sedikit. Lama kelamaan, para penduduk menyebut beliau “Si
Dua Gayung”.

Pada saat „Si Dua Gayung‟ berusia 80 tahun di suatu musim gugur ketika
itu, biji gandum di ladangnya telah matang, „Si Dua Gayung‟ hendak
melihat – lihat ladang gandumnya.

Oleh karena itu, ia seorang diri dengan melangkah tertatih – tatih
dibantu oleh tongkatnya datang ke ladang. Tiba – tiba, awan hitam yang
pekat menggulung menyelimuti ladangnnya, halilintar menyambar dan guntur
menggelegar.
 „Si Dua Gayung‟ yang melihat keadaan ini, berpikir, “Saya sudah tua,
tidak mampu melarikan diri lagi, biarlah saya mati disini saja!”

Waktu itu, „Si Dua Gayung‟ mendengar sebuah suara yang luar biasa besar
di ladangnya, “Tuan Guntur, Nyonya Halilintar, Naga Air, kalian dengarkan
baik – baik, sekarang „Si Dua Gayung‟ sedang berada di ladang gandumnya,
kalian sama sekali tidak boleh meneteskan air barang setitik pun di atas
gandumnya!”

Setelah lewat lama sekali, hujan dan halilintar pun berhenti sudah, „Si
Dua Gayung‟ bangun dari ladang gandumnya dan melihat sekeliling, di
ladang gandum tempat ia terbaring tidak ada setetes air pun, sementara
gandum milik orang lain semuanya telah roboh terendam air lumpur.

 „Si Dua Gayung‟ pulang ke rumahnya dan menceritakan kejadian tersebut
kepada anak – anaknya, lalu membawa serta semua anak – anaknya untuk
bersujud dan He Shi, berterima kasih pada Sang Maha Pencipta yang telah
memberikan berkah padanya.

Adik – adik, mengapa sambaran halilintar dan guntur yang menggelegar
tidak melukai Tuan Yang? Karena dia seumur hidupnya telah banyak
melakukan kebaikan kepada orang lain, dia telah memikirkan orang lain
dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Di zaman Tiongkok kuno, semua orang memahami prinsip bahwa kebaikan dan
kejahatan pasti ada balasannya, percaya bahwa setiap hal yang dilakukan
oleh setiap orang, tidak peduli hal besar atau pun kecil, semuanya
dilihat dengan jelas oleh Sang Maha Pencipta! Oleh karena itu, semua
orang berusaha untuk berbuat baik, dan tidak melakukan kejahatan.

Adik – adik, apakah kalian tahu? Sekarang di dalam masyarakat kita ini
juga masih ada banyak sekali orang yang baik seperti „Si Dua Gayung‟!
Sebagian besar dari mereka adalah kakek – nenek, om – tante, kakak –
kakak, yang Xiu Lian (kultivasi) “Sejati, Baik, Sabar”. Kelihatannya
mereka sepertinya mengalami sedikit penderitaan, namun di kemudian hari
mereka pasti akan mendapat berkah yang baik.

Adik – adik, apakah kalian bersedia menjadi anak baik yang membantu orang
lain tanpa memikirkan diri sendiri, berhati mulia dan mau mengalah?

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:34
posted:7/18/2010
language:Indonesian
pages:2