enikmatan dan Kesenangan Menuju Kehancuran by rchndr21

VIEWS: 4 PAGES: 2

									  Kenikmatan dan Kesenangan Menuju Kehancuran



(Erabaru.or.id) Pepatah mengatakan “hidup dalam penderitaan, mati dalam
kedamaian”. Dari zaman dahulu hingga sekarang, hidup yang begitu enak dan
nyaman pernah mengubur sejumlah besar nyawa yang seharusnya berprestasi
di dunia. Semasa musim semi dan gugur, ahli ramal dari negeri Qi yakni
Guanzhong pernah memberi nasehat pada Qi Huangong, “Suka berfoya-foya dan
bermalas malasan, tidak boleh bersemayam di hati.“ Dalam pandangan orang
dahulu, mencari kenikmatan dan kesenangan lebih berbahaya daripada arak
beracun, sebab ia dapat menghancurkan hidup seseorang. Dan di masyarakat
modern yang moralnya merosot, masih saja banyak orang yang tidak
menghargai waktu, selalu membiarkan hasrat kenikmatan materiil, mengejar
kehidupan asusila tak terbatas dan tanpa tujuan seperti mimpi atau mabuk,
dan perlahan-lahan tanpa disadari menuju kehancuran.

Menurut cerita turun temurun, pada zaman dahulu di Tiongkok, di sebuah
danau besar sebelah utara terdapat sebuah pulau kecil, di pulau itu
hiduplah seorang nelayan tua bersama istrinya. Hari-hari biasa, si
nelayan tua mendayung perahunya ke danau untuk menangkap ikan, dan di
atas pulau itu, istrinya memelihara ayam dan bebek, selain membeli
keperluan untuk kebutuhan hidup, mereka jarang bergaul dan berhubungan
dengan dunia luar. Pada suatu ketika di musim gugur, sekumpulan angsa
tiba di pulau itu. Mereka terbang dari utara yang sangat jauh dan tiba di
pulau tersebut, dan bersiap untuk terbang ke selatan melewati musim
dingin. Suami-istri tampak sangat gembira melihat sekumpulan tamu dari
jauh ini. Sebab selama sekian lama mereka menetap di pulau itu, belum
pernah ada siapa pun yang datang mengunjungi mereka.

Untuk menyatakan kegembiraan mereka, suami-istri nelayan tersebut menjamu
angsa-angsa itu dengan mengeluarkan makanan ternak ayam dan ikan
tangkapannya. Selanjutnya, sekelompok angsa itu perlahan-lahan mulai
akrab dengan pasangan suami-istri ini. Di atas pulau itu, mereka tidak
saja mondar mandir dengan sesukanya, bahkan saat nelayan tua itu
menangkap ikan, mereka mengikuti perahu itu, bersenang-senang dan
gembira.

Musim dingin tiba, gerombolan angsa ini ternyata tidak melanjutkan
penerbangannya ke selatan, malamnya, mereka bertengger di pulau itu.
Permukaan telaga tertutup beku, dan mereka tidak bisa lagi mendapatkan
makanan, suami-istri itu membuka gubuk mereka dan menyuruh mereka masuk
untuk menghangatkan badan, dan memberi mereka makanan. Perhatian dan
perlakuan demikian terus berlangsung hingga musim semi tiba, dan
permukaan telaga cair kembali. Hari demi hari, tahun demi tahun. Setiap
tahun di musim dingin, suami-istri ini selalu tidak bosan-bosannya
memelihara sekumpulan angsa tersebut. Akhirnya pada suatu hari, mereka
pun mulai senja dan meninggal dunia. Dan si angsa juga menghilang sejak
itu, tapi, mereka tidak terbang ke selatan, melainkan mati kelaparan pada
musim dingin kedua ketika permukaan telaga menjadi beku.
Seseorang yang tidak mempunyai semangat untuk berusaha, atau mungkin
seorang yang kultivasi telah hilang semangatnya, juga akan sama seperti
angsa-angsa dalam cerita ini. Meskipun secara permukaan hidup tanpa
penderitaan, enak dan nyaman, namun, tidak lama dikemudian hari
tersandung bahaya hidup yang besar. Orang zaman dulu mengatakan “Orang
yang tidak mempunyai pertimbangan jangka panjang, pasti ada kecemasan di
depan mata.” Menghargai waktu berarti menyayangi hidup, bagi yang hanya
mencari kesenangan semata, akhir yang tragis dari kumpulan angsa itu
cukup untuk menjadikannya sebagai pelajaran bagi kita semua.

(Sumber: Dajiyuan.net)

								
To top