Docstoc

Dewa Dapur

Document Sample
Dewa Dapur Powered By Docstoc
					  Dewa Dapur



(Erabaru.or.id) Dahulu kala tersebutlah seseorang yang bernama Zhao
Wangye bermarga Zhang, sebenarnya dia seorang yang bertingkah laku buruk
dan selalu melakukan kejahatan, tapi, mengapa Maharaja Giok (dewa
tertinggi dalam agama Tao) mengizinkannya menjadi Zhao Wangye atau Dewa
Dapur? Sebab meskipun dia telah banyak berbuat jahat, namun, begitu
terlintas dalam benak sebersit ketulusan, telah melakukan satu hal yang
baik, karena itu Maharaja Giok memaafkannya.

Sebelum menjadi Zhao Wangye, dia adalah seorang yang pemalas, tidak
bekerja dan gemar berjudi. Karena kegemarannya berjudi, ia dapat
mempertaruhkan segala apa yang dimilikinya. Dia tidak memikirkan masa
depannya. Hingga pada suatu ketika, dia bertaruh (judi) dengan seseorang,
bukan saja menghabiskan seluruh harta keluarga, lebih buruknya lagi
istrinya pun dipertaruhkan. Oleh karena itu istrinya kemudian menikah
lagi dengan seorang pencari kayu bakar.

Karena kalah berjudi itu habislah sudah seluruh harta benda keluarga yang
dia miliki tanpa sisa bahkan dia masih memiliki sejumlah utang pada
beberapa orang. Sampai suatu kali dia tidak dapat membeli makanan. Dia
lalu menemui mantan istrinya yang dijual itu. Beruntunglah ia karena
mantan istrinya sangat pengasih, meskipun telah dijual, dia tetap
memberikan beberapa buah bacang, bahkan secara diam-diam menyelipkan 10
tael (mata uang Tiongkok kuno) ke dalam bacang, dan memberitahu
kepadanya: “Ambillah bacang ini, jangan kasih orang lain ya!” Begitu dia
pergi, kebetulan seseorang datang menagih utang padanya, “Cepat bayar
utangmu!”
“Saya tidak punya uang,” jawabnya.
“Apa, tidak punya uang? Lalu yang ditanganmu itu apa?”
“Makanan!”
“Makanan juga boleh!” Akhirnya bacang itu dirampasnya.

Setelah bacang itu dirampas, dia kembali menemui istrinya. Istrinya
bertanya padanya, ”bacangnya mana?” “Dirampas orang!” Katanya. Tepat
ketika pembicaraan sampai di situ, si suami yang seorang penebang kayu
bakar itu pun pulang, Zhao Wangye kebingungan mencari tempat untuk
sembunyi, lalu dia bergegas masuk ke dalam tungku. Si penebang kayu bakar
ini kelelahan peluhnya membasahi tubuhnya sambil memikul setumpuk kayu
bakar, dia hendak mandi sekembalinya memotong kayu bakar. Dan dia benar-
benar baik terhadap istrinya dengan mengatakan, “Biarlah air panasnya
saya yang siapkan.” Istrinya bergegas berkata, “O, jangan! Jangan!
Biarlah saya nyalakan!“ Tapi, suami barunya ini bersikeras, lalu
mengambil kayu bakar dan dinyalakan di dalam tungku.

Zhao Wangye bersembunyi di dalam dan memutuskan tidak keluar. Di benaknya
dia berpikir, “jika saya keluar, sang istri pasti akan dipukul sama
suaminya! Dia lebih baik mengorbankan diri, akhirnya dia tewas terbakar
hidup-hidup.

Setelah tewas terbakar, setiap pagi, siang maupun malam mantan istrinya
itu membakar dupa dan sembahyang di depan tungku. Melihat itu, suaminya
bertanya, “Lho! Aneh! Kenapa setiap pagi, siang atau malam kamu selalu
menyembahyangi tungku?” Tentu saja dia tidak boleh mengatakan kalau
mantan suaminya itu mati terbakar di tungku tersebut, dan dengan sangat
terpaksa dia berkata, “Kita manusia bisa hidup di dunia, harus bersyukur
pada tungku dan kompor, sebab benda-benda ini memasak nasi untuk kita.”
Kemudian belakangan orang-orang merasa kata-katanya memang benar, “Kita
harus bersyukur pada tungku dan kompor. Seandainya tidak ada tungku dan
kompor, kita tidak bisa hidup!” Lalu, tiap-tiap keluarga menyembahyangi
tungku dan kompor di rumah mereka.

Setelah Maharaja Giok mengetahui hal ini, ia mengampuni semua kesalahan
Zhao Wangye dan Maharaja Giok menobatkannya sebagai Zhao Wangye (Dewa
Dapur), dan memberi perintah kepadanya bahwa setiap 24 Desember tahun
Imlek naik ke istana langit untuk memberi laporan yang disebut “Kebaikan
di langit, kedamaian di bumi. Demikianlah asal usul legenda tentang Zhao
Wangye.
(Sumber: Mingxin)

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:48
posted:7/18/2010
language:Indonesian
pages:2