WANITA SOLEH DAN WANITA BAIK HATI

Document Sample
WANITA SOLEH DAN WANITA BAIK HATI Powered By Docstoc
					WANITA SOLEH DAN WANITA BAIK HATI
Oleh: Jum’an

“Tidak jadi solehpun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati, bukankah begitu
Stella?” Itulah sebaris kalimat dalam surat Raden Ajeng Kartini kepada sahabat
curhatnya Estella Zeehandelaar, seorang wanita tokoh feminis Yahudi Belanda.
Surat itu ditulisnya tanggal 6 November 1899, beberapa waktu setelah ia
dimarahi dan dikeluarkan oleh guru ngajinya. Ia mungkin bosan mengaji dan
menghafal dalam bahasa Arab tanpa pernah diterangkan artinya. Kutipan diatas
mengesankan bahwa ia dihadapkan pada dua pilihan untuk menjadi wanita soleh
atau wanita yang baik hati. Dalam pengertian keseharian saya, seorang wanita
soleh itu taat beribadah, taat kepada suami dan serba menutup aurat. Sedang
seorang wanita baik hati itu sopan santun, menghargai sesama, suka menolong
dan berbudi pekerti baik.

Beberapa lama sesudah peristiwa itu RA Kartini berkunjung kerumah pamannya
Bupati Demak. Saat itu sedang ada pengajian keluarga yang diberikan oleh Kiyai
Haji Soleh Darat, iapun ikut medengarkan dan mengakui sangat tergetar hatinya
mendengar uraian makna Surat Alfatihah. KH Soleh Darat adalah ulama besar
kelahiran Jepara dan guru dari KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari. Beliau
adalah penulis kitab tafsir Alqurán bahasa Jawa yang pertama di Nusantara. Jilid
pertama kitab itu (Faizur Rohman Fit Tafsiril Qur’an) dihadiahkan kepada RA
Kartini sebagai kado pernikahannya dengan Bupati Rembang RM Joyodiningrat.
Raden Ajeng Kartinilah yang mula-mula menghimbaunya untuk menulis kitab itu.

Mengapa soleh dan baik hati harus menjadi dua pilihan? RA Kartini memang
menghadapi banyak pengaruh: adat pergaulan yang ketat sebagai seorang gadis
ningrat puteri Bupati, pengaruh Islam dari guru-guru ngajinya dan pergaulannya
dengan wanita-wanita terpelajar Belanda yang memperkenalkan agama Kristen
dan Yahudi kepadanya. Sementara RA Kartini menghadapinya dengan bermodal
kejawaan, kecerdasan dan kebaikan hati yang dimilikinya.

Soleh adalah sifat-sifat baik menurut kriteria agama sedangkan baik hati adalah
ukuran kemanusiaan, meskipun dalam praktek kehidupan sehari-hari banyak
kesamaan manifestasinya. Bagi orang-orang yang tidak berpihak kepada agama,
baik hati dianggap lebih baik daripada soleh karena baik hati berasal dari diri
sendiri sedangkan soleh datang dari suatu perintah. Atau, apakah anda lebih
berpendirian bahwa bunga mawar, diganti namanya pun akan sama semerbak
wanginya? Yang penting adalah zatnya dan bukan namanya?

Bagi saya tidak. Saya sudah terikat janji untuk menjalankan printah Alloh dan
mengikuti sunnah Rosulnya, ada ganjarannya, ada pula hukumannya. Dituntut
kesinambungannya dan diminta pertanggung-jawabannya. Konsekwensinya
sangat mendasar yaitu sorga dan neraka. Dan saya pasrah sanggup ataupun
tidak sanggup. Sedangkan baik hati yang disebut-sebut oleh RA Kartini kepada
Estella tidak ada hubungannya dengan janji pasrah, syahadat, sorga atau
neraka. Ghofaolloh li wa lakum.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:309
posted:7/17/2010
language:Indonesian
pages:2
Description: TENTANG WANITA OLEH DAN WANITA BAIK HATI