PELESTARIAN SENI WAYANG SUKET SEBAGAI ASET BUDAYA TRADISIONAL JAWA

Document Sample
PELESTARIAN SENI WAYANG SUKET SEBAGAI ASET BUDAYA TRADISIONAL JAWA Powered By Docstoc
					           PROGRAM KREATIFITAS MAHASISWA


PELESTARIAN SENI WAYANG SUKET SEBAGAI ASET BUDAYA
                   TRADISIONAL JAWA


                   BIDANG KEGIATAN:

                        PKM-GT




                      Diusulkan oleh:

      1.   WINARSO                      (3101408108 / 2008)
      2.   WAHYU DWI AJI                (3101408007 / 2008)
      3.   NANANG PRATMAJI              (3101408039 / 2008)
      4.   RISMA SOFIATIL ULYA          (3111409010 / 2009)




           UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

                      SEMARANG

                          2010
                            HALAMAN PENGESAHAN
                    PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

1.    Judul Kegiatan      : Pelestarian Seni Wayang Suket sebagai Aset Budaya
                           Tradisional Jawa


2.    Bidang Kegiatan     : ( ) PKM-AI           ( ) PKM-GT
3.     Ketua Pelaksana Kegiatan
     a. Nama Lengkap                : Winarso
     b. NIM                         : 3101408108
     c. Jurusan                     : Sejarah
     d. Universitas                 : Universitas Negeri Semarang
     e. Alamat Rumah dan No Tel./HP : Ds. Kletek 5/II, Pucakwangi,
                                      Kab. Pati, jawa tengah. 59183 /
                                      085727132727
     f. Alamat email                : winarsospd@gmail.com
4. Anggota Penulis                   : 3 orang
5. Dosen Pendamping
   a. Nama Lengkap dan Gelar      : Dra. Rr. Sri Wahyu Sarjanawati, M.Hum.
   b. NIP                         : 19640727 199203 2001
   c. Alamat Rumah dan No Tel./HP : Jln. Bhakti II A/24-25 trangkil, Semarang.
                                    081325854835

                                                   Semarang, 22 Maret 2010

Menyetujui,
Ketua Jurusan/Program Studi,                       Ketua Pelaksana Kegiatan,



(Arif Purnomo, S.Pd., S.S, M.Pd)                   ( Winarso )
NIP. 19730131 199903 1002                          NIM. 3101408108

Pembantu Rektor III                                Dosen Pendamping,
Bidang Kemahasiswaan,



(Dr. Masrukhi, M.Pd)                               (Dra. Rr. Sri Wahyu S., M.Hum.)
NIP. 19620508 198803 1002                          NIP. 19640727 199203 2001
                             KATA PENGANTAR

    Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan
berkah serta inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini.
    Dengan diselesaikannya karya tulis ini, perkenankanlah penulis untuk
mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setingi-tingginya atas segala
bimbingan, bantuan, dukungan dan pengarahan yang telah diberikan kepada penulis.
Pada kesempatan ini juga, penulis tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada berbagai pihak yang telah banyak membantu dalam
menyelesaikan karya tulis ini, terutama kepada :
    1. Direktur Akademik Ditjen Dikti DIKNAS yang telah mengadakan kompetisi
       ini sehingga memacu dan memotivasi penulis.
    2. Bagian Kemahasiswaan Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan
       kesempatan bagi penulis untuk mengikuti kompetisi ini.
    3. Ibu Dra. Rr. Sri Wahyu Sarjanawati, M.Hum., selaku dosen pendamping
       yang telah merelakan waktu dalam kesibukannya untuk membimbing penulis
       dalam menyelesaikan penulisan ini.
    4. Orang tua yang selalu memberikan dorongan moral kepada penulis.
    5. Teman-teman fungsionaris HIMA Sejarah dan EXSARA yang telah
       memberikan motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini.
    6. Semua teman-teman di kampus yang tidak mungkin disebutkan satu per satu,
       yang telah banyak memberikan dorongan dan semangatnya, sekali lagi terima
       kasih untuk semuanya.
    Akhir kata, semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, termasuk
penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

                                                         Semarang, 22 Maret 2010


                                                                          Penulis
                                                     DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………………………………………………………..i
LEMBAR PENGESAHAN..............................................................................….ii
KATA PENGANTAR .........................................................................................iii
DAFTAR ISI ........................................................................................................iv
RINGKASAN........................................................................................................v
PENDAHULUAN .................................................................................................1
      Latar Belakang ...............................................................................................1
      Rumusan Masalah...........................................................................................2
      Tujuan Penulisan.............................................................................................2
      Manfaat Penulisan...........................................................................................2
TELAAH PUSTAKA ............................................................................................3
      Pengertian Seni dan Budaya .......................................................................... 3
      Pekembangan Kesenian Wayang di Jawa ......................................................4
      Wayang Suket ................................................................................................5
      Pergeseran Ruang Budaya jawa ……………................................................ 7
METODE PENULISAN........................................................................................9
      Diskriptif kualitatif ………………………………………………………….9
      Studi Pustaka……………………………………………………………….. 9
      Observasi…………………………………………………………………… 9
ANALISIS DAN SINTESIS.................................................................................10
      Analisis .........................................................................................................10
      Sintesis..........................................................................................................11
KESIMPULAN DAN SARAN............................................................................12
      Kesimpulan ..................................................................................................12
      Saran ............................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................13
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ..........................................................................L1
                                  RINGKASAN

      Dewasa ini masyarakat Indonesia terlihat lebih mengedepankan pendidikan
formal dibanding pendidikan dalam keluarga. Begitupun dengan pola mainan anak-
anak sekarang. Sekarang ini mereka lebih menyukai jenis-jenis mainan yang lebih
modern dari pada mainan rakyat atau mainan jenis tradisional. Tanpa kita sadari,
mainan rakyat ini merupakan suatu aset budaya bangsa yang perlu di lestarikan dan
dapat menunjang kreativitas anak. Salah satu jenis mainan rakyat yaitu wayang yang
terbuat dari rumput atau lebih dikenal dengan nama wayang suket (rumput). Jenis
wayang ini tidak banyak orang yang tahu karena dianggap jenis mainan yang kotor,
kuno, dan tidak berkualitas. Yang menjadi pokok masalah disini adalah ”bagaimana
peranan masyarakat dan pemerintah dalam menggali kembali aset seni dan budaya
bangsa yang tergeser dari pengaruh budaya asing, khususnya wayang suket?. Adapun
tujuannya adalah memberikan suatu gagasan untuk pemerintah dan masyarakat agar
kesenian wayang suket tidak tergeser oleh pengaruh budaya asing. Dengan
menggunakan beberapa metode yaitu Diskriptif Kualitatif, Studi Pustaka dan
Observasi sehingga karya tulis dapat tersusun dan semua ini dapat dimanfaatkan bagi
beberapa pihak, salah satunya bagi dinas terkait yaitu sebagai sinergi perencanaan
dan kegiatan pementasan seluruh stakeholders (pemangku) seni dan budaya
tradisional Indonesia.
        Kesenian merupakan salah satu sistem kebudayaan universal yang terdapat
disetiap masyarakat di dunia. Salah satu kesenian yang sangat berperan besar dalam
kehidupan masyarakat adalah kesenian wayang yang mendapat pengaruh dari India.
Kesenian wayang bukan sekedar hiburan, selain sebagai alat komunikasi, pementasan
wayang juga sarat makna dan mengandung falsafah hidup terutama bagi orang Jawa,
Bali, dan Sunda. Wayang suket sendiri merupakan bentuk tiruan dari berbagai figur
wayang kulit yang terbuat dari rumput (bahasa jawa;suket). Seniman asal Tegal,
Slamet Gundono yang lahir di Slawi, Tegal, pada tanggal 19 Juni 1996 ini dikenal
sebagai tokoh yang berusaha mengangkat wayang suket pada tingkat pertunjukan
panggung. Wayang suket pertama kali dimainkan pada tahun 1997 di Riau. Seni
pertunjukan wayang jawa merupakan salah satu kesenian tradisional yang sarat akan
filosofi dan kebijaksanaan. Akan tetapi indikasi pergeseran yang disebabkan karena
penyesuaian terhadap berbagai perubahan yang terjadi mulai dari cara pementasan
wayang dulu dengan sekarang.
     Seni pertunjukan wayang Suket merupakan salah satu kesenian tradisional yang
sarat akan filosofi dan kebijaksanaan. Masyarakat Jawa yang telah mendapat
pengaruh dari budaya luar sebagai dampak arus perkembangan jaman, sebagian
besar mulai melupakan makna         pagelaran wayang. Beragam wayang di Jawa
memang kian berkembang seiring bergulirnya jaman.
     Dalam rangka menumbuhkan sikap kepedulian seni dan budaya perlu dilakukan
kampanye pementasan wayang suket bersama menjangkau seluruh lapisan
masyarakat di berbagai tempat di Indonesia dan bahkan di dunia. Dengan adanya
hal itu akan memberikan dampak yang lebih dalam dan meluas sehingga akan lebih
mudah untuk dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya.
                               PENDAHULUAN

Latar Belakang

      Kehidupan masa kecil dalam lingkungan masyarakat di Indonesia sekarang
terlihat lebih mengedepankan pendidikan formal dibanding pendidikan dalam
lingkungan keluarga. Pada akhirnya masyarakat mengalami ketergantungan terhadap
pola pendidikan baru dari Barat itu dan pendidikan budaya sendiri hampir dilupakan
di Indonesia (Alif, 2006: 6).
     Ketergantungan terhadap pola tersebut berdampak pula terhadap kebutuhan
untuk menunjang kelengkapan sistem tersebut, seperti harus mengadakan dan
membeli mainan modern, buku yang mahal, dan alat peraga buatan pabrik.
Kenyataan tersebut akhirnya menimbulkan kesenjangan sosial sehingga terjadi
pengelompokan anak orang kaya, dan anak orang tak berpunya. Demikian pula jenis
permainan dan jenis mainan, untuk anak golongan kaya memiliki bahan mainan yang
mahal dan serba mewah dan mahal. Sedangkan mainan untuk masyarakat kelas
bawah adalah mainan murahan dan kotor. Namun, mainan anak kelas bawah inilah
yang cenderung ideal dan kreatif. Karena masyarakat kelas bawah untuk bermain
tidak menekankan untuk membeli, mereka berkreasi dengan alam (Alif, 2006:7).
     Kenyataan tersebut di atas akhirnya menyebabkan anak semakin jauh terhadap
pola mainan rakyat atau mainan tradisional. Padahal mainan rakyat merupakan suatu
aset budaya bangsa yang perlu dilestarikan karena, merupakan suatu wujud akan
kayanya bangsa Indonesia dari kemiskinan budaya seperti Negara lainnya. Mainan
rakyat dianggap mainan kelas bawah yang merupakan mainan kotor, berbahaya, dan
tidak berkualitas, selain anggapan tersebut, bahkan semakin jauhnya jarak sosial
dengan masyarakat desa, turut mendukung tidak berkembangnya budaya tradisional.
Bahkan banyak masyarakat yang tidak mengetahui lagi macam dan ragam jenis
budaya rakyat. Mainan dan permainan tersebut dianggap merupakan kenangan ketika
orang tua mereka semasa kecil dahulu. Salah satu mainan anak yang masih ada dan
dibudidayakan oleh salah satu seniman Indonesia yaitu selamet gundono saat ini
adalah wayang suket. Wayang suket merupakan bentuk tiruan dari berbagai figur
wayang kulit yang terbuat dari rumput (bahasa Jawa: suket).
     seni pertunjukkan wayang pernah demikian luas pengaruhnya di dalam
kehidupan masyarakat khususnya Jawa. Masuknya budaya asing yang tidak tersaring
dengan baik maka menyebabkan budaya asli menjadi terkubur. Seni dan budaya
bangsa sendiri menjadi terlantarkan tidak diperhatikan oleh pemerintah.
Permasalahan ini bukan mudah untuk diselesaikan. Penyelesaian masalah ini
sebenarnya lebih terletak pada kesadaran masing-masing individu masyarakat.
Kepedulian terhadap seni dan budaya tradisional tidak hanya butuh kesadaran saja,
tetapi juga butuh waktu yang sangat panjang dan bertahun-tahun, karena bangsa
indonesia sendiri masalah budaya sudah terlanjur banyak yang masuk dari barat.
Untuk itu kepedulian atau kesadaran masyarakat akan pentingnya seni dan budaya
harus dimulai sejak saat ini. Maka tulisan ini akan menitikberatkan bahasannya
mengenai seni tradisional pertunjukkan wayang suket di Jawa. Hal ini tidak lain,
karena seni pertunjukkan wayang suket merupakan salah satu seni nasional dan
memiki peran multiguna. Wayang tidak saja menjadi seni pertunjukkan yang
memberi hiburan (rekreatif), tetapi juga sebagai sarana yang memberi pendidikan
(edukatif), dan sarana penerangan (informatif).


Rumusan Masalah

    Dari uraian-uraian diatas, dirumuskan masalah sebagai berikut, yaitu
“Bagaimana peranan masyarakat dan pemerintah dalam menggali kembali aset seni
dan budaya bangsa yang tergeser dari pengaruh budaya asing, khususnya kesenian
Wayang Suket?”

Tujuan Penulisan

    Adapun tujuan dari penulisan ini adalah:
   1. Memberikan suatu gagasan untuk pemerintah dan masyarakat agar kesenian
      Wayang Suket tidak tergeser oleh pengaruh budaya asing.
   2. Memaparkan potensi daya tarik terhadap kesenian Wayang Suket terkait
      dengan sumber inspirasi modern yang diharapkan menjadi sebuah tradisi bagi
      masyarakat untuk senantiasa melestarikan kesenian tradisional demi
      memperkaya kelangsungan budaya nasional yang lebih baik di masa yang
      akan datang.


Manfaat Penulisan

     Adapun manfaat yang dapat diambil dari hasil penulisan ini adalah sebagai
berikut:
   1. Bagi Penulis:
      Memperluas wawasan dan pengetahuan penulis tentang Kesenian wayang
      jawa dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya.
   2. Bagi Sekolah:
      a. Sebagai bahan pertimbangan atau rujukan dalam membuat kebijakan guna
         meminimalisir salahnya asimilasi budaya yang tidak tepat sekaligus
         pedoman dalam menerapkan pelestarian seni dan budaya khususnya, bagi
         tiap-tiap institusi pendidikan di Indonesia
      b. Sebagai kampanye peduli terhadap pelestarian seni dan budaya tradisional
         dilingkungan sekolah.
   3. Bagi Dinas terkait:
      a. Dapat membangun kepedulian, pemahaman dan partisipasi bagi dinas
         pendidikan, pemda, pemerintah dan orang tua siswa untuk bersikap
   peduli terhadap seni dan budaya tradisional jawa dengan adanya
   pementasan wayang suket di sekolah.
b. Sebagai sinergi perencanaan dan kegiatan pementasan seluruh
   stakeholders (pemangku) seni dan budaya tradisional indonesia.
                              TELAAH PUSTAKA

Pengertian Seni dan Budaya

     Kata "seni" adalah sebuah kata yang semua orang dipastikan mengenalnya,
walaupun dengan kadar pemahaman yang berbeda. Konon kata seni berasal dari kata
"sani" yang artinya "Jiwa Yang Luhur/ Ketulusan jiwa". Dalam bahasa Inggris
dengan istilah "ART" (artivisial) yang artinya adalah barang/atau karya dari sebuah
kegiatan (Dinas Pendidikan Kota Samarinda, 2008: 4)
    Konsep seni terus berkembang sejalan dengan berkembangnya kebudayaan dan
kehidupan masyarakat yang dinamis. Beberapa pendapat tentang pengertian seni:
       a. Ensiklopedia Indonesia : Seni adalah penciptaan benda atau segala hal
          yang karena kendahan bentuknya, orang senang melihat dan mendengar.
       b. Aristoteles : seni adalah kemampuan membuat sesuatu dalam
          hubungannya dengan upaya mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan
          oleh gagasan tertentu.
       c. Ki Hajar Dewantara : seni adalah indah, menurutnya seni adalah segala
          perbuatan manusia yang timbul dan hidup perasaannya dan bersifat indah
          hingga dapat menggerakkan jiwa perasaan manusia lainnya.
       d. Akhdiat K. Mihardja : seni adalah kegiatan manusia yang merefleksikan
          kenyataan dalam sesuatu karya, yang berkat bentuk dan isinya
          mempunyai daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam alam
          rohani sipenerimanya.
       e. Erich Kahler : seni adalah suatu kegiatan manusia yang menjelajahi,
          menciptakan realitas itu dengan simbol atau kiasan tentang keutuhan
          “dunia kecil” yang mencerminkan “dunia besar”.
     Kesenian merupakan salah satu sistem kebudayaan universal yang terdapat
disetiap masyarakat di dunia. Dengan demikian, kesenian pasti terdapat disemua
masyarakat, termasuk masyarakat dari etnis Jawa. Salah satu kesenian yang
sangat berperan besar dalam kehidupan masyarakatnya, adalah kesenian wayang
yang mendapat pengaruh dari India. Pengaruh dari India ini begitu
menonjolnya,terutama karena pengaruh ajaran Hindu yang dulu begitu mengakar dan
masyarakat dalam kehidupan orang Jawa (Susatyo, 2008: 1).
    Budaya dalam pengertian yang luas adalah pancaran dari pada budi dan daya.
Seluruh apa yang difikir, dirasa dan direnung diamalkan dalam bentuk daya
menghasilkan kehidupan. Budaya adalah cara hidup sesuatu bangsa atau umat.
Budaya tidak lagi dilihat sebagai pancaran ilmu dan pemikiran yang tinggi dan
murni dari sesuatu bangsa untuk mengatur kehidupan berasaskan peradaban.
    Menurut Edward B. Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks,
yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum,
adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai
anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi,
kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
     Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan
yang mana akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide
atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan
sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan
adalah benda- benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya,
berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku,
bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya
ditujukan        untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan
bermasyarakat (Dinas Pendidikan Kota Samarinda, 2008: 2).


Pekembangan Kesenian Wayang di Jawa

     Seni pertunjukkan wayang yang ada di Jawa dan Bali, sampai sekarang masih
banyak yang memperdebatkan sejak jaman apa dimulainya. Pada umumnya orang
beranggapan bahwa, seni pertunjukkan wayang di Jawa dan Bali, khususnya di Jawa
Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, sudah ada sejak datangnya agama Hindu di
Indonesia (Mulyono, 1978: 59).
     Kesenian wayang bukan sekadar hiburan. Selain sebagai alat komunikasi,
pementasan wayang juga sarat makna dan mengandung falsafah hidup, terutama
bagi orang Jawa, Bali dan Sunda. Dalam prakteknya, pertunjukan wayang sering
dikaitkan dengan upacara adat, seperti perkawinan, selamatan kelahiran bayi,
pindahan rumah dan sunatan. Atau dipentaskan pada upacara keagamaan Hindu di
Bali.
      Cerita yang disajikan seringkali untuk memaknai hajatan yang sedang
digelar. Misalnya, pergelaran pada hajatan perkawinan kerap menampilkan cerita
„Parto Krama‟ (perkawinan Arjuna). Sedangkan untuk upacara kelahiran umumnya
mengambil cerita lahirnya Abimanyu. Isi cerita wayang menganut prinsip galur yang
dimainkan semalam suntuk.
     Perkembangan wayang cukup pesat terutama pada zaman para wali. Sunan
Kalijaga dan Sunan Bonang misalnya memanfaatkan wayang sebagai media
dakwah. Di zaman para wali itu, bentuk wayang menjadi lebih indah. Meski
mengadopsi cerita dari India, kesenian ini akhirnya menjalar ke berbagai daerah dan
melahirkan beragam aliran dengan cirri khas masing-masing. Di Jawa Barat,
masyarakatnya lebih mengenal wayang golek ketimbang wayang kulit. Begitupun di
daerah-daerah lain, mempunyai ciri dan karakteristik wayang yang berbeda.
Sebagai sebuah warisan budaya, usia wayang boleh dibilang cukup tua (Dee S,
2006: 15).
     Seni pertunjukan wayang Jawa merupakan salah satu kesenian tradisional yang
sarat akan filosofi dan kebijaksanaan. Demikian pula dengan Indonesia yang
memiliki beragam suku bangsa dan kebudayaan yang beranekaragam dan berbeda
satu dengan yang lainnya, namun semuanya turut memperkaya khsanah kebudayaan
ditanah air ini. Masyarakat Jawa yang telah mendapat pengaruh dari budaya luar
sebagai dampak arus perkembangan jaman, sebagian besar mulai melupakan makna
pagelaran wayang, oleh karena itu perlu diadakan penelitian mengenai masalah
pergeseran makna ruang pertunjukan wayang Jawa sebagai usaha untuk memberikan
pengetahuan kepada masyarakat (Soedarsono, 1986: 1).
     Jenis-jenis Wayang berbagai macam ragam antara lain ada Wayang Kedu,
wayang Tejokusuman, wayang Ngabean, wayang Surakarta, wayang Banyumas,
wayang Cirebon, wayang Gedog, wayang Sadat, wayang Madya, wayang Krucil,
wayang Catur, wayang Sasak, wayang Kaper, wayang Wahyu, wayang Kijang
Kencana, wayang Ukur, wayang Suluh, wayang Klithik, wayang Beber dan yang
lainnya. Namun, yang kini hampir punah atau dilupakan yang merupakan wayang
langka nusantara adalah wayang Intan, wayang Suket, wayang Beber, Wayang
Revolusi dan lain-lain.

Wayang Suket

     Wayang suket merupakan bentuk tiruan dari berbagai figur wayang kulit yang
terbuat dari rumput (bahasa Jawa: suket). Wayang suket biasanya dibuat sebagai alat
permainan atau penyampaian cerita perwayangan pada anak-anak di desa-desa Jawa.
Untuk membuatnya, beberapa helai daun rerumputan dijalin lalu dirangkai (dengan
melipat) membentuk figur serupa wayang kulit. Karena bahannya, wayang suket
biasanya tidak bertahan lama. Seniman asal Tegal, Slamet Gundono, dikenal sebagai
tokoh yang berusaha mengangkat wayang suket pada tingkat pertunjukan panggung.
(sumber: id.wikipedia.org).




    Gambar 1. Wayang Suket punakawan saat dipentaskan
     Slamet Gundono yang lahir di Slawi, Tegal, pada 19 Juni 1966 ini sama sekali
tidak berpikir bahwa suket akan menjadi tren wayang suket. Wayang suket adalah
pengalaman bawah sadar masa kecilnya. Bukan kesengajaan yang dimunculkan dan
dieksplorasi di dunia seni. Tiap hari di masa kecil ia ke sawah. Tiap hari ia melihat
suket. Ketika petani lagi santai suket mereka menganyam bagian batang jenis rumput
menyerupai model wayang untuk mengisi waktu.
    Pertama kali wayang suket dimainkan pada tahun 1997 di Riau. Tiba-tiba ia
harus mementaskan wayang. Padahal, di sana tidak ada wayang kulit. Juga tak ada
gamelan. Kebetulan kakak saya punya studio lukis yang terletak ditengah alang-alang
sawah. Muncullah pengalaman masa kecil tentang suket. Akhirnya ia memutuskan
untuk memakai suket, ia bentuk, ikat, dan gulung menjadi beragam bentuk yang
kemudian ia mainkan. Gamelannya pakai mulut, ala kadarnya dengan lakon
“Kelingan Lamun Kelangan”. Itulah pertunjukkan wayang suket pertamanya.
      Kelebihan wayang suket adalah ruang yang sangat bebas bagi penonton untuk
membangun imajinasinya. Menafsir kembali siapa itu wayang-wayang sebagai
bayangan hidup. Manusia terus tumbuh, tapi wayang kulit tidak. Werkudoro yang
sedang sakit tetap membusung gagah, menangis pun tetap membusung gagah. Satu
sisi ini menunjukkan wayang kulit sudah terlalu puncak, sudah selesai sebagai sebuah
perjalanan estetika. Sudah stagnan untuk memberi ruang bebas. Sehingga akhirnya
muncul eksperimen-eksperimen vulgar.
    Wayang suket yang terbuat dari rumput ini merupakan media seni teater berbasis
kesenian tradisional wayang. Warisan budaya masyarakat agraris ini sudah mengakar
di masyarakat jawa. (sumber: Liputan6.com).
     Wayang Suket yang biasa orang menyebut kesenian tradisional sudah ada sejak
masa lampau. Kata suket sengaja diberikan karena wayang ini terbuat dari
rerumputan. Beragam wayang di Jawa memang kian berkembang seiring bergulirnya
jaman. Ada wayang tengul yang terbuat dari kayu patung, ada wayang kulit, ada
wayang kerteh yang menyerupai topeng manusia, ada wayang timplong, ada wayang
potehi, ada wayang purwo, dan adapula wayang suket. Kesemua pewayangan itu
terbuat dari bahan dasar yang berbeda-beda. Sedangkan bahan utama dalam
menghasilkan sebuah mahakarya wayang suket adalah berbahan rumput. Seperti
rumput jerami, rumput jarum, atau juga rumput teki. Biasanya para pengrajin wayang
suket sengaja berburu bahan rumput hingga ke pelosok-pelosok pedesaan yang ada di
Jawa.
    Slamet Gundono salah satu seniman yang berusaha melestarikan seni dan budaya
memutuskan memilih wayang suket untuk memulai karir pengabdian terhadap
melemahnya kesenian tradisional masyarakat jawa.
     Slamet Gundono mengemas Wayang Suket secara apik dan unik sebagai kreasi
baru dunia pewayangan. Cerita yang diangkatnya bukan sekedar cerita-cerita klasik
yang bersumber dari kitab Mahabarata, Ramayana, kisah Panji, atau kisah Menak,
tapi sudah berkolaborasi dengan sumber cerita keseharian yang lagi menjadi sorotan.
Gundono menyandingkan tokoh-tokoh wayang yang biasa dikenal dengan tokoh yang
dicomot dari dunia keseharian sang dalang, semuanya berbalut kritik sampai joke-
joke yang membuat penonton terpingkal-pingkal.
    Filosifi suket sebagai sesuatu yang terus tumbuh adalah spirit yang membuatnya
bangga. Suket hanya butuh air dan sinar matahari. Kekuatan filosofi ini
menggambarkan kekuatan ruang imajinasi dari wayang suket. Pertunjukkannya
merupakan simbol grass root yang mempertanyakan tentang diri, bukan
memberontak atau merusak. Konsep pertunjukannya adalah pelataran seperti lagunya,
“urip kuwi mung koyo bocah cilik dolanan nang pelataran”. (sumber:
http://kedaipuisi.wordpress.com).
     Selain Slamet gundono, salah satu seniman lain Indonesia yang juga berperan
dalam pelestarian seni dan budaya tradisional mengenai wayang suket adalah eyang
thalib. Budayawan Thalib Prasodjo terus berkreasi. Pria yang akrab disapa Eyang
Thalib itu juga pernah mendemonstrasikan pembuatan wayang suket dan memainkan
beberapa lakon unik secara sederhana. Seniman wayang suket itu tak pernah berhenti
berkarya. Pada usianya yang ke-78, Thalib mencoba membuat wayang dari daun
siwalan atau biasa dikenal dengan daun lontar. Sebulan sebelum pameran, pria yang
akrab disapa Eyang Thalib itu mendapat inovasi baru tersebut.
     Selamet dan Eyang Thalib merupakan orang yang berfikir akan peduli terhadap
kesenian tradisional. Menurut mereka pementasan wayang suket memang penting
mengingat kurangnya perhatian dari pemerintah dan kurangnya kepedulian
masyarakat terhadap kesenian tradisional yang hampir terkubur.          (sumber:
http://wayangsuket.wordpress.com).


Pergeseran Ruang Budaya jawa
     Seni pertunjukan wayang Jawa merupakan salah satu kesenian tradisional yang
sarat akan filosofi dan kebijaksanaan. Demikian pula dengan Indonesia yang
memiliki beragam suku bangsa dan kebudayaan yang beranekaragam dan berbeda
satu dengan yang lainnya, namun semuanya turut memperkaya khasanah
kebudayaan ditanah air ini. Masyarakat Jawa yang telah mendapat pengaruh dari
budaya luar sebagai dampak arus perkembangan jaman, sebagian besar         mulai
melupakan makna pagelaran wayang jawa.
     Keterkaitan pagelaran wayang dengan perubahan fisik ruang dan
pergeseran nilai serta makna yang terjadi pada obyek studi terkait,
merupakan pokok permasalahan guna mencapai tujuan penelitian yang
mengamati pergeseran makna ruang dalam bangunan tradisional Jawa,
dikaitkan dengan pementasan wayang Jawa.
     Temuan penelitian ini menunjukkan indikasi pergeseran yang disebabkan
karena penyesuaian terhadap berbagai perubahan yang terjadi mulai dari cara
pementasan wayang dulu dengan sekarang. Serta yang meliputi pergeseran seperti
peristiwa pertunjukan, waktu, penonton, konten, dan ruang, dimana perbedaan ini
pada akhirnya mengakibatkan munculnya pergeseran makna ruang dalam suatu
pementasan wayang        Jawa. Hal ini tidak terlepas dari faktor-faktor yang
mempengaruhi timbulnya pandangan orang terhadap sebuah pertunjukan kesenian
tradisional yang menyangkut dalam konteks waktu pertunjukan wayang dulu dan
pertunjukan wayang sekarang.
    Kebudayaan Jawa yang syarat akan nilai-nilai etika, termasuk di dalamnya
pakem-pakem pementasan wayang kulit Jawa, ternyata lebih dari sekedar system
nilai yang pada akhirnya berpengaruh kepada seluruh bidang kehidupan. Sistem
nilai tersebut ternyata juga dapat diwujudkan dalam bentuk fisik. Pergeseran makna
ruang pertunjukan dari sistem nilai yang terjadi seiring dengan perkembangan jaman
tersebut juga berpengaruh terhadap perubahan dalam bentuk fisik, khususnya dalam
penelitian ini melihat pergeseran makna ruang pertunjukan wayang Jawa.
    Untuk mewujudkan dinamika budaya bangsa yang baik, suatu bangsa harus
memperdulikan aset kesenian yang hampir hilang dari pergeseran ruang. mengingat
kesenian wayang masih banyak di nikmati masyarakat, pemerintah harus
mengupayakan suatu langkah yang mengakibatkan kesenian wayang menjadi maskot
utama budaya bangsa terutama wayang langka seperti wayang Suket. Pada jaman
dahulu wayang ini memiliki suatu nilai yang baik dalam lingkup pendidikan sosial
masyarakat. Untuk melindungi sekaligus melestarikan kesenian wayang Suket,
diharapkan semua warga serta dinas terkait untuk ikut serta dalam penanganannya,
supaya wayang suket dapat terlihat kembali perannya.
                             METODE PENULISAN


Diskriptif Kualitatif

    Penyusunan karya tulis ini, penulis melakukan pendekatan yang berhubungan
dengan topik seperti yang telah disebutkan. Dengan analisa diskriptif kualitatif
penulis menggunakan pendekatan budaya. Pendekatan ini merupakan suatu metode
yang paling tepat untuk penyusunan karya tulis ini. Hasil yang dapat dicapai dengan
menggunakan metode ini adalah mendapatkan informasi yang tepat mengenai unsur-
unsur budaya seperti yang dimaksud.

Studi Pustaka

    Dalam penyusunan karya tulis ini, penulis melakukan penelusuran menggunakan
buku literatur mengenai kesenian daerah sebagai salah satu alternatif solusi dalam
meminimalisir kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kesenian tradisional serta
mengkaji dan menganalisis berbagai data sekunder. Hasil dari analisis ini pada
dasarnya diharapkan dapat dijadikan perbandingan yang merujuk pada penerapan
pementasan-pementasan pada lingkungan yang berorientasi pada sumber inspirasi
budaya modern.

Observasi

     Tema yang kami angkat dalam karya tulis ini berdasarkan sebuah artikel yang
menyebutkan bahwa masyarakat dan pemerintah Indonesia sebagian besar
mengabaikan seni dan budaya tradisional terutama kesenian wayang suket. Dengan
fakta itu kami mencoba mengamati langsung wayang suket ini untuk melengkapi
analisa dari beberapa metode yang dilakukan. Alasan kami mengamati langsung
fenomena masyarakat seperti tema yang diangkat.
                               ANALISIS DAN SINTESIS

Analisis

     Kesenian, merupakan salah satu sistem kebudayaan universal yang terdapat
disetiap masyarakat di dunia. Dengan demikian, kesenian pasti terdapat di semua
masyarakat, termasuk masyarakat dari etnis Jawa. Salah satu kesenian yang sangat
berperan besar dalam kehidupan masyarakatnya, adalah kesenian wayang yang
mendapat pengaruh dari India. Sejalan dengan semakin majunya suatu masyarakat,
atau bangsa, semakin besar pengaruh yang masuk dan diterima oleh masyarakat
bersangkutan. Salah satu faktor penting yang berperan besar dalam kehidupan
masyarakat, adalah pengaruh teknologi informasi.
     Meningkatnya sarana dan prasarana informasi dewasa ini, terutama sarana dan
prasarana teknologi informasi elektronika, seperti radio dan televisi selain memberi
dampak positif, ternyata juga membawa dampak negatif. Salah satu dampak negatif
dari radio dan televisi, adalah semakin menurunnya minat masyarakat untuk
menyaksikan secara langsung seni pertunjukan tradisional, seperti seni pertunjukan
wayang suket. Padahal pada masa penjajahan wayang suket dibuat untuk hiburan dan
mengisi ruang waktu anak – anak desa. Wayang yang terbuat dari rumput ini dibuat
sambil menggembala hewan ternak seperti sapi, kambing, kerbau dan lain-lain.
Pengembala hewan ternak ini biasa disebut bocah angon (bahasa jawa) atau anak
gembala. Dilihat dari bidang pendidikan kesenian wayang ini memberikan suatu nilai
pelajaran yang tinggi dan luas terutama di masyarakat. Nilai yang terkandung tersebut
merupakan sebuah hasil kesenian kreatif yang berasal dari cipta, rasa dan karsa.
Sekarang wayang suket sudah sangat jarang ditemukan, dijawa tengah hanya ada satu
pedepokan yang diketahui masih berusaha melestarikan kesenian wayang suket yaitu
di Solo Surakarta.
    Melihat kenyataan semacam itu seolah-olah kesenian wayang ini tidak lagi
menjadi sumber inspirasi kebudayaan. Memang harus ada usaha-usaha dari pihak
pemerintah daerah maupun pusat yang berusaha melestarikannya, dengan cara
memberikan subsidi dana. Seperti yang dilakukan oleh pemerintah daerah Jawa
Tengah. Namun demikian, subsidi ini tentunya tidak dapat mencukupi kebutuhannya.
Akibatnya, banyak dari seni tradisional ini, yang pernah mengalami masa
kejayaannya, terpaksa harus gulung tikar dan tidak mampu bertahan hidup sampai
sekarang.
     Mengingat seni pertunjukkan wayang ini pernah demikian luas    pengaruhnya
di dalam kehidupan masyarakat, khususnya Jawa, maka tulisan ini             akan
menitikberatkan bahasannya mengenai seni tradisional pertunjukkan wayang suket
di Jawa. Hal ini tidak lain, karena seni pertunjukkan wayang merupakan salah satu
seni nasional dan memiiki peran seni multiguna. Wayang tidak saja menjadi seni
pertunjukkan yang memberi hiburan (rekreatif), tetapi juga sebagai sarana yang
memberi pendidikan (edukatif), dan sarana penerangan (informatif).
    Sintesis
     Seni pertunjukan indonesia memiliki sifat yang lentur. Sifat yang demikian
karena lingkungan masyarakatnya selalu dalam kondisi yang berubah-ubah. Kodisi
tersebut berada dalam kurun waktu tertentu, mapan dan mengembangkan suatu sosok
yang tumbuh sebagai suatu “tradisi”. Seni pertunjukan Indonesia berangkat dari suatu
keadaan dimana ia tumbuh dalam lingkungan etnik yang berbeda-beda satu sama lain.
Peristiwa keadatan merupakan landasan yang utama pegelaran-pegelaran atau
pelaksanaan seni pertunjukan.
     Agar kesenian wayang khususnya wayang suket dan bisa popuer lagi di
masyarakatserta dapat kembali menjadi sumber inspirasi, maka perlu diadakannya
sosiaisasi. Dengan sosiaisasi ini diharapkan memberikan kontribusi yang baik agar
kesenian wayang Suket diakui masyarakat dan pemerintah sebagai kesenian
tradisional jawa yang patut dilestarikan. Sosialisasi yang dimaksud disini antara lain,
mengadakan diskusi yang mengangkat topik mengenai wayang suket ini,
mengkaitkan meteri tertentu mengenai wayang Suket dalam pelajaran di sekolah
maupun perguruan tinggi, memperluas pertunjukan-pertunjukan diberbagai daerah
yang tepat dan diawai dari yang sederhana.
     Pementasan wayang disosialisasikan kepada masyarakat dan dilakukan dengan
berbagai tahapan. Tahapan pertama hendaknya dipentaskan pada dimensi pendidikan.
Dunia pendidikan merupakan langkah yang berguna untuk mulai mengenalkan
pementasan. Sebelum mementaskan, unsur-unsur bidang formal pendidikan
hendaknya dikaitkan pada dunia pewayangan. Seperti yang dilakukan sunan kalijaga
dalam menyebarkan agama islam di jawa. Sunan kali jaga memadukan kebudayaan
jawa dengan ajaran agama islam supaya lebih mudah dipahami masyarakat. Tahapan
berikutnya adalah lebih meningkat dengan pengenalan kepada masyarakat luas. Jika
di sekolah dikaitkan dengan mata pelajaran maka dimasyarakat luas dipadukan
dengan unsur budaya yang sesuai. Jika hal ini dilakukan secara berturut dan dengan
metode-metode penyesuaian, maka sedikit demi sedikit harapan yang diinginkan
dapat tercapai.
                         KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

     Masuknya budaya asing yang tidak tersaring dengan baik maka menyebabkan
budaya asli menjadi terkubur. Seni dan budaya bangsa sendiri menjadi terlantarkan
tidak diperhatikan oleh pemerintah. Sejalan dengan semakin majunya suatu
masyarakat, atau bangsa, semakin besar pengaruh yang masuk dan diterima oleh
masyarakat bersangkutan. Salah satu faktor penting yang berperan besar dalam
kehidupan masyarakat, adalah pengaruh teknologi informasi.
     Seni pertunjukan wayang Jawa merupakan salah satu kesenian tradisional yang
sarat akan filosofi dan kebijaksanaan. Masyarakat Jawa yang telah mendapat
pengaruh dari budaya luar sebagai dampak arus perkembangan jaman, sebagian
besar mulai melupakan makna pagelaran wayang. Wayang Suket yang biasa orang
menyebut kesenian tradisional sudah ada sejak masa lampau. Kata suket sengaja
diberikan karena wayang ini terbuat dari rerumputan. Beragam wayang di Jawa
memang kian berkembang seiring bergulirnya jaman.


Saran
     Standarisasi teknologi komunikasi baik lembaga pedidikan maupun masyarakat
luas yang dapat mengkaitkan berbagai institusi pendidikan menjadi satu kesatuan
yang berujung pada pengembangan pengenalan wayang suket untuk dipentaskan
merupakan saran yang perlu dipertimbangkan bagi pemerintah. Selain itu, dalam
rangka menumbuhkan sikap kepedulian seni dan budaya perlu dilakukan kampanye
pementasan wayang suket bersama menjangkau seluruh lapisan masyarakat di
berbagai tempat di Indonesia dan bahkan di dunia. Dengan adanya hal itu akan
memberikan dampak yang lebih dalam dan meluas sehingga akan lebih mudah untuk
dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya. Kampanye besar tersebut perlu dilakukan
oleh seluruh komponen masyarakat yang memiliki keprihatinan dan perhatian yang
sama pada seni dan budaya tradisional. Sehubungan dengan hal tersebut perlu
dibangun tema dan merangkaikan semua kegiatan baik yang sudah atau akan
direncanakan.
                            DAFTAR PUSTAKA


Alif, Zaini. 2006. Telaah Desain & budaya Visual Nusantara. Bandung: KKDBV-
      ITB.
Dee S. 2006. Wayang Indonesia Pusaka Dunia. Jakarta: Mitra Panasonic.
________. 2008. Pengertian Kebudayaan dan Seni. Dinas Pendidikan Kota
      Samarinda
Mulyono, Sri. 1978. Wayang; Asal-Usul dan Masa Depannya. Jakarta: Gunung
      Agung.
Soedarsono. 1986. Dampak Modernisasi Terhadap Seni Pertunjukan Jawa di
      Pedesaan. Yogyakarta: Javanologi.
Susatyo, Rahmat. 2008. Seni dan Budaya Politik jawa. Bangdung: KIPS.

Website:
http://berita.liputan6.com/sosok/200905/230536/Slamet.Gundono.dan.Wayang.Suket
http://berita.liputan6.com/sosbud/200907/236704/Wayang.Suket.Wayang.Khas.Mojo
       kerto
http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_suket
http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/04/02/wayang-suket-pengalaman-bawah-
       slamet-gundono/
http://wayangsuket.wordpress.com/2008/01/17/kembangkan-sastra-lisan-dengan-
       wayang-suket/
                       DAFTAR RIWAYAT HIDUP

1.   Nama                : Winarso
     NIM                 : 3101408108
     TTL                 : Pati, 19 November 1991
     Jenis Kelamin       : Laki-laki
     Nama Orang Tua      : Saeran
     Riwayat Pendidikan : SDN Kletek 01 Pucakwangi-Pati
                          SMPN 1 Pucakwangi-Pati
                          Madrasah Aliyah Negeri 1 Pati
     Alamat Rumah        : Ds. Kletek Rt 5 Rw II Kec. Pucakwangi Kab. Pati
                          Jawa tengah. 59183
     Alamat di Semarang : PKM FIS (Jl. Taman Siswa Sekaran, Gunung pati,
                          Semarang, Jawa tengah).
     Telepon/HP          : 085727132727
     E-mail              : winarsospd@gmail.com

2.   Nama                : Wahyu Dwi Aji
     NIM                 : 3101408007
     TTL                 : Rembang, 23 januari 1991
     Jenis Kelamin       : Laki-laki
     Nama Orang Tua      : Sumarji
     Riwayat Pendidikan : SDN landoh 1 Sulang-Rembang
                          SMPN 1 Sulang-Rembang
                          SMAN 2 Rembang
     Alamat Rumah        : Ds. Landoh Rt 1 Rw III Kec. Sulang Kab. Rembang
                          Jawa tengah. 59254
     Alamat di Semarang : Jogo Bonito (Jl. Taman Siswa Sekaran, Gunung pati,
                          Semarang, Jawa tengah).
     Telepon/HP          : 08995661626
     E-mail              : Exsaravan@gmail.com
3.   Nama                : Nanang Pratmaji
     NIM                 : 3101408039
     TTL                 : klaten, 26 April 1990
     Jenis Kelamin       : Laki-laki
     Nama Orang Tua      : Suparto
     Riwayat Pendidikan : SD N 1 Cawas-Klaten
                          SMP N 1 Cawas- Klaten
                          SMA Negeri 1 Cawas- Klaten
     Alamat Rumah        : Ds. Cawas Rt 2 Rw XV Kec. Cawas Kab. Klaten,
                          Jawa tengah. 57463
     Alamat di Semarang : Rawa Rontek Kos (Gg. Jeruk, Jl. Taman Siswa
                          Sekaran, Gunung pati, Semarang, Jawa tengah).
     Telepon/HP          : 085647429026
     E-mail              : Nanangpratmaji@gmail.com


4.   Nama                : Risma Sofiatil Ulya
     NIM                 : 3111409010
     TTL                 : Batang, 31 mei 1990
     Jenis Kelamin       : Perempuan
     Nama Orang Tua      : Sumono Ebi
     Riwayat Pendidikan : SDN jambangan Bawang-Batang
                          MTS sunan kalijaga 1 Bawang-Batang
                          SMAN 1 Bawang-Batang
     Alamat Rumah        : Ds. jambangan Rt 7 Rw II Kec. Bawang Kab.
                          Batang, Jawa tengah. 51274
     Alamat di Semarang : Alamanda (Jl. Taman Siswa Sekaran, Gunung pati,
                          Semarang, Jawa tengah).
     Telepon/HP          : 085742762703
     E-mail              : risma.sofia@yahoo.co.id

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:2010
posted:7/16/2010
language:Indonesian
pages:21