Docstoc

Loyalitas Semu SBI

Document Sample
Loyalitas Semu SBI Powered By Docstoc
					                             LOYALITAS SEMU SBI
                           Oleh: Moh. Aniq Kh.B., S.Pd.


       Dalam perkembangan era modernisasi ini, kecenderungan posisi pendidikan di
Indonesia berada dalam problem skeptis. Diakui atau tidak, posisi tersebut menjulur
pada school hedonis yang mengarah pada sistem sekular-materialistik. Terbukti
bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih dalam tataran yang dinamis. Sistem
semacam ini lebih banyak memberikan kegagalan kepada manusia menjadi sosok
pribadi yang shohib assholah dan abid alsholih yang mushlih, yaitu menjadi generasi
yang cerdas dan berilmu yang mampu mengembangkan dan memanfaatkan ilmu
dengan baik.
       Salah satu yang menjadi persoalan ketat untuk dikaji adalah munculnya
seabreg sekolah yang menginginkan berstandar Internasional yang lebih kita kenal
sebagai Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Beberapa praktisi pendidikan
mengatakan bahwa sekolah yang (memaksa) bertaraf Internasional mengacu pada
taraf kebarat-baratan saja demi mendapatkan label Internasional. Kurikulum yang
dipakai juga menganut dan mengadopsi kurikulum International General Certificate
for Secondary Education (IGCSE) Cambridge.
       Niat pemerintah untuk menginginkan dan berharap sekolah berstandar
internasional perlu diberi appresiasi. Namun, persoalannya bukanlah terletak pada
keinginan dan harapan, tetapi bagaimana menyikapi upaya mengembangkan dan
memperbaiki model pendidikannya sendiri tanpa menghilangkan niat baik
pemerintah.
       Dapat dipahami ketika pemerintah menyelenggarakan standarisasi sekolah
agar dapat menjawab ketertinggalan pendidikan. Akan tetapi, sekarang ini banyak
yang beranggapan SBI hanyalah sebuah bus malam kelas eksekutif yang berharga
tinggi. Inilah yang sebenarnya dikhawatirkan sejak dini bahwa salah interpretasi akan
membawa dampak negatif bagi sistem pendidikan itu sendiri. Bahkan ada pula yang
memplesetkan SBI sebagai Sekolah “Bertarif” Internasional karena banyak orang
mengamini SBI menuntut tarif daripada taraf atau mutu. Fenomena-fenomena
ketidakyakinan masyarakat terhadap SBI sekarang ini justru memperlihatkan
ketidakelokan sistem pendidikan di Indonesia apakah sistem tersebut bertujuan
mencerdaskan bangsa ataukah hanya sebuah prestis.
“Rintisan” atau “Rintihan”?
       Kegalauan masyarakat tentang SBI muncul pada saat mereka berusaha
membandingkan output sekolah yang bertaraf internasional dengan yang tidak
bertaraf internasional. Menurut hemat penulis, kegalauan masyarakat diikutsertakan
dengan kesepahaman tentang SBI yang didorong oleh Depdiknas. Berbagai sekolah
favorit, misalnya, lebih dipilih dan ditetapkan serta didanai banyak oleh pemerintah
sehingga masuk ke dalam priority based school yang mengarah pada Rintisan
Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Penetapan tersebut juga menganjurkan mereka
mencontoh pendidikan di kelompok Negara ekonomi maju anggota OECD
(Organization for Economic Co-operation and Development).
       Maka tidak salah bila harus membelanjakan dana pendidikan ratusan juta
untuk kebutuhan teknologi. Sehingga SBI ibarat gadis bersolek yang meratakan
wajahnya dengan kosmetik dan jenis bedak tebal untuk mencapai karakteristik kelas
ber-AC, berfasilitas hot-spot area, dan penggunaan multimedia dalam pembelajaran di
kelas. Sementara kepala sekolah harus sesekali berkunjung ke sekolah luar negeri
untuk menjalin school relation. Padahal dana di atas hanya untuk keperluan sesaat
dan selanjutnya dikembalikan ke masyarakat sendiri.
       Selain itu, SBI juga menuntut semua guru mengajar dengan komunikasi
bahasa internasional yaitu bahasa Inggris. Namun, pada kenyataannya masih belum
terpenuhi sehingga banyak yang tidak terampil menggunakan bahasa Inggris. Jika
guru sejarah belum mampu menggunakan bahasa Inggris, maka akan terjadi
miskomunikasi dengan siswa. Seperti halnya kalimat “Pangeran Diponegoro
mempunyai pendirian yang kokoh” diterjemahkan “Pangeran Diponegoro has a firm
erection”. Maka yang terjadi adalah ketidaksesuaian pemakaian berbahasa yang
ditransferkan kepada siswa. Inilah yang berakibat sekolah merintih yang banyak
disebabkan oleh guru yang belum siap mengajarkan mata pelajaran dengan bahasa
Inggris sementara sistem sekolah menuntut guru menggunakannya.


Loyalitas dan Kualitas
       Melihat fenomena SBI di atas, perlu adanya kepastian dan pemertahanan
pendidikan di Indonesia. Kita harus banyak belajar dari pembelajaran pondok
pesantren. Walaupun menggunakan sistem tradisional, pondok pesantren tidak juga
ketinggalan dalam dunia IPTEK. Sistem pembelajaran yang mengutamakan dua
tahapan, yaitu sistem kolektif (bandongan) dan individual (sorogan). Sistem
pembelajaran seperti itu justru sekarang ini diadopsi oleh beberapa Universitas di
Amerika.
       Kepastian itu dapat dilihat melalui pandangan bahwa apakah SBI identik
dengan penggunaan bahasa Inggris dan apakah harus memakai bahasa Inggris untuk
dikatakan setara dengan sekolah-sekolah dari Negara maju. Andaikata harus memakai
bahasa Inggris, maka sekolah-sekolah di Jepang, China, Arab Saudi, Prancis, Jerman,
dan Rusia bukanlah sekolah kualitas Internasional karena mereka tidak menggunakan
bahasa Inggris untuk beberapa mapel, apalagi bahasa Inggris kurang dianggap begitu
penting dalam kehidupan sehari-hari di Negara itu.
       Mengacu pada Undang-undang Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pada
pasal 33 ayat 3 menerangkan bahwa bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa
pengantar pada satuan pendidikan tertentu untuk mendukung kemampuan siswa.
Dengan kata lain, penggunaan bahasa asing bukan merupakan suatu keharusan dan
kewajiban. Kalaupun harus digunakan, tujuannya adalah hanya untuk mengasah dan
menambah wawasan kemampuan berbahasa asing siswa yang bukan untuk tujuan
prestis (internasional-internasionalan), sehingga mampu menunjukkan kepribadian
bangsa melalui pendidikan khas „ala Indonesia.
       Selanjutnya, pemerintah perlu mengevaluasi terhadap apa yang telah
dilaksanakan dan juga berkewajiban untuk membuat kurikulum yang pasti sesuai
dengan kebutuhan pembelajar. Selain itu, menyediakan ketrampilan berbahasa asing
bagi guru mapel bila itu memungkinkan digunakan. Bila tidak ada evalusi, maka
dikhawatirkan muncul latah berinternasional-ria dengan modus Internasional lainnya
seperti Kantor Sekolah Bertaraf Internasional, Perpustakaan Sekolah Bertaraf
Internasional, Kafe Sekolah Bertaraf Internasional, Taman Sekolah Bertaraf
Internasional, Musholla Sekolah Bertaraf Internasional, atau Baju Sekolah Bertaraf
Internasional. Wallahu a’lamu bishshowab.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:40
posted:7/14/2010
language:Indonesian
pages:3
Description: Sekolah Berstandar Nasional hanya menyurutkan pandangan lokal sementara bahasa Inggris diwajibkan menjadi bahasa pengantar.