Guru Pasca Sertifikasi by makhb

VIEWS: 5,246 PAGES: 12

Guru pasca sertifikasi ternyata masih membawa nilai yang kurang terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia. Salah satu bukti kinerja guru pasca sertifikasi yang dianggap kurang serius adalah merosotnya kuantitas lulusan Ujian Nasional dan makin menambahnya jumlah sekolah yang tidak lulus 100%.

More Info
									 PROFESIONALISME GURU PASCA SERTIFIKASI DALAM
MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN DI INDONESIA



                                                Pemakalah:
                                         Moh. Aniq Kh.B., S.Pd.




               Disampaikan dalam Seminar Nasional di IKIP PGRI Semarang
    “OPTIMALISASI SERTIFIKASI GURU UNTUK PENINGKATAN KUALITAS
                                   PENDIDIKAN DI INDONESIA”




                                               SEMARANG
                                                25 MEI 2010




Profesionalisme Guru Pasca Sertifikasi dalam meningkatkan Kualitas Pendidikan di Indonesia   Page 1
    PROFESIONALISME GURU PASCA SERTIFIKASI DALAM MENINGKATKAN
                           KUALITAS PENDIDIKAN DI INDONESIA1
                                      Oleh: Moh. Aniq Kh.B, S.Pd2




I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
     Setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan adalah salah satu pernyataan
presidif yang diarahkan kepada pemerintah untuk mengupayakan warga negaranya
mendapatkan pendidikan yang mengarah pada tujuan pendidikan itu sendiri. Pada dasarnya
tujuan pendidikan yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945 adalah mencerdaskan
kehidupan bangsa. Artinya, pemerintah senantiasa memberikan kontribusi edukatif kepada
seluruh warga Negaranya sehingga kehidupan bangsa terhindar dari kebodohan. Terwujudnya
pendidikan yang bermutu membutuhkan frekuensi usaha dan upaya untuk selalu
meningkatkan pendidikan. Undang-undang sistem pendidikan nasional nomor 20 tahun 2003
pasal 11 ayat 1 memberikan taklif kepada pemerintah dan pemerintah daerah untuk menjamin
terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga Negara.
     Kata “Guru” dan “Profesi” seakan tak pernah luput dari perbincangan publik. Dalam
mewujudkan pendidikan yang bermutu tidaklah lepas dari beberapa faktor, antara lain: guru,
siswa, lingkungan pendidikan, sarana dan prasarana, dan kurikulum. Keberhasilan pendidikan
sangat dipengaruhi terutama oleh guru sebagai subjek pendidikan. Guru yang bermutu
mempengaruhi keberhasilan pendidikan. Dengan kata lain, kualitas guru sangat menentukan
pendidikan yang bermutu juga. Fasli Jalal3 mengatakan bahwa pendidikan yang bermutu
sangat tergantung pada keberadaan guru yang bermutu, yakni guru yang professional,
sejahtera, dan bermartabat. Oleh karena itu, keberadaan guru yang bermutu merupakan syarat
mutlak hadirnya sistem dan praktek peningkatan pendidikan.


1
  Disampaikan dalam seminar nasional “Optimalisasi Sertifikasi Guru untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan di
Indonesia” yang diselenggarakan oleh BEM IKIP PGRI Semarang, tanggal 25 Mei 2010 di Semarang
2
  Mahasiswa Program Pasca Sarjana Magister Linguistik jurusan Applied Linguistics in English tahun 2009 &
Tenaga Pengajar Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP PGRI Semarang.
Email: khairulbasyar@ymail.com
3
  Fasli Jalal. 2007. Sertifikasi untuk Mewujudkan Pendidikan yang Bermutu?. Makalah yang disampaikan pada
seminar pendidikan yang diselenggarakan oleh Program Pasca Sarjana UNAIR, tanggal 28 April di Surabaya.

Profesionalisme Guru Pasca Sertifikasi dalam meningkatkan Kualitas Pendidikan di Indonesia           Page 2
     Namun, sekarang ini seabreg kejadian yang menimpa pendidikan di Indonesia tidak lepas
dari keprofesian guru. Misalnya, persentase kuantitas ketidaklulusan Ujian Nasional yang
meningkat. Tingkat kelulusan peserta Ujian Nasional 2010 di tingkat Sekolah Menengah Atas
dan sederajat tercatat mencapai 89,88 persen dari jumlah total peserta 1.522.162 siswa.
Dengan kata lain, terjadi penurunan hingga tingkat kelulusan hingga 3,86 persen dibanding
tahun lalu, sebesar 93,74 persen. Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan
Kementerian Pendidikan Nasional, Mansyur Ramly, angka tersebut adalah mereka yang
mencapai kriteria rata-rata nilai di atas 5,5.
     Hasil Ujian Nasional pun mengalami hal yang sama seperti di tingkat SMA, angka
kelulusan UN SMP tahun 2010 juga jeblok dengan tingkat penurunan yang signifikan
disbanding UN 2009, yaitu dari 95,05 persen menjadi 90,27 persen. Atas dasar itu, jumlah
siswa yang ikut UN ulang sebanyak 350.798 dari total 3.605.163 peserta. Ironisnya, di Jawa
Tengah jumlah sekolah yang memiliki ketidaklulusan 100 persen sebanyak 105 sekolah yang
terdiri dari 84 sekolah negeri dan 21 sekolah swasta. Maka, tidak salah jika publik
menggemborkan omongan-omongan kecil mengapa sekolah negeri kalah dibandingkan
sekolah swasta.
     Tak seorang pun yang dapat mengelak untuk membicarakan sekolah dan guru. Secara
pragmatis dapat dijadikan polemik antara Ujian Nasional dan Profesionalitas Guru.
Afshohnya, bagaimana mungkin guru yang (tidak) professional dapat mencetak anak didik
yang berkualitas sehingga memberikan produk pendidikan yang bermutu. Dengan demikian,
ada beberapa sisi yang dapat dijadikan sasaran dalam penyampaian makalah ini, yaitu kinerja
guru serta sikap dan perilaku guru yang profesional.
     Berangkat dari permasalahan di atas, proses untuk mencapai keberadaan guru yang
bermutu perlu adanya uji kompetensi yang terkait dengan uji profesionalisme. Kebijakan
pemerintah tersebut tak lain juga mengandung intervensi memberikan jaminan dan
kesejahteraan hidup guru yang memadai. Salah satu kebijakan pemerintah adalah melalui
sertifikasi guru. Hal ini dilakukan agar guru yang sudah mendapatkan sertifikasi memperoleh
predikat guru yang professional.
     Sertifikasi Guru adalah proses pemberian sertifikasi pendidik kepada guru. Sejak
munculnya Undang-undang Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
(UUGD) yang disahkan pada Desember 2005, sertifikasi menjadi istilah yang sangat populer
dan menjadi topik pembicaraan yang hangat pada setiap pertemuan, baik di kalangan
akademisi, guru maupun masyarakat. Dengan diberlakukan UUGD minimal memiliki tiga
Profesionalisme Guru Pasca Sertifikasi dalam meningkatkan Kualitas Pendidikan di Indonesia   Page 3
fungsi. Pertama sebagai landasan yuridis bagi guru dari perbuatan semena-mena dari siswa,
orang tua dan masyarakat. Kedua untuk meningkatkan profesionalisme guru. Ketiga untuk
meningkatkan kesejahteraan guru baik yang berstatus sebagai pegawai negeri (PNS) ataupun
non PNS.
     Berdasarkan fenomena di atas, makalah ini saya susun untuk memberikan kontribusi
kepada para guru sebagai bahan kajian tentang profesionalisme dan kinerja guru pasca
sertifikasi dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
B. Rumusan Masalah
     Berdasarkan uraian latar belakang di atas, permasalahan yang hendak dikaji adalah
bagaimana profesionalisme guru pasca sertifikasi dilihat dari kinerjanya dalam meningkatkan
mutu pendidikan di Indonesia?
C. Tujuan Penyusunan Makalah
     Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk kinerja
guru pasca sertifikasi sebagai wujud profesionalisme untuk meningkatkan mutu pendidikan di
Indonesia.
D. Manfaat makalah
     Secara teoretis, makalah ini berusaha memberikan kajian profesionalisme guru pasca
sertifikasi berdasarkan kinerja dan perilakunya. Sedangkan secara praktis, makalah ini dapat
memberikan kontribusi khususnya kepada para guru pasca sertifikasi dan umumnya kepada
para pendidik yang lain.


II. PEMBAHASAN
A. Kinerja Guru
     Kinerja merupakan suatu wujud perilaku seseorang atau organisasi dengan orientasi
prestasi. Kinerja seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti: ability, capacity,
held, incentive, environment, dan validity (Atmojo, 1992). Menurut Mitchell, kinerja
seseorang dapat dilihat dari empat hal, yaitu:
     1. Quality of work (kualitas hasil kerja)
     2. Promptness (ketepatan waktu menyelesaikan pekerjaan)
     3. Initiative (prakarsa dalam menyelesaikan pekerjaan)
     4. Capability (kemampuan menyelesaikan pekerjaan)
     5. Communication (kemampuan membina kerjasama dengan pihak lain)


Profesionalisme Guru Pasca Sertifikasi dalam meningkatkan Kualitas Pendidikan di Indonesia   Page 4
     Kinerja guru mempunyai spesifikasi tertentu yang dapat dilihat dan diukur berdasarkan
spesifikasi atau criteria kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru. Berkaitan dengan
kinerja guru, implementasi kompetensi yang dimaksud adalah kegiatan guru dalam proses
pembelajaran yang terdiri dari bagaimana seorang guru merencanakan pembelajaran,
melaksanakan kegiatan pemblejaran, dan menilai hasil belajar.
     Menurut Nurdin (2002:34) terdapat sejumlah model kinerja guru dalam melaksanakan
proses belajar mengajar, diantaranya: Model Rob Norris, Model Oregon, dan Model
Stanford.
     1. Model Rob Norris
         Pada model ini, ada beberapa komponen kemampuan mengajar yang perlu dimiliki
         oleh seorang guru, yaitu: kualitas personal, persiapan mengajar, perumusan tujuan
         pembelajaran, ketrampilan guru dalam mengajar di kelas, penampilan siswa dalam
         belajar, dan evaluasi.
     2. Model Oregon
         Menurut model ini, kemampuan mengajar dikelompokkan menjadi lima bagian,
         yaitu: perencanaan dan persiapan mengajar, kemampuan guru dalam mengajar dan
         kemampuan siswa dalam belajar, kemampuan mengumpulkan dan menggunakan
         informasi hasil belajar, kemampuan untuk berhubungan secara interpersonal dengan
         siswa, supervisor, dan teman sejawat, serta kemampuan dalam memiliki tanggung
         jawab secara professional.
     3. Model Stanford
         Model ini membagi kemampuan mengajar dalam beberapa komponen yang meliputi:
         komponen tujuan, komponen guru mengajar, dan komponen evaluasi.
B. Kompetensi Guru
     Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16
Tahun 2007 tentang Standar Kualitas Akademik dan Kompetensi Guru, dijelaskan bahwa
standar kompetensi guru dikembangkan secara utuh dari 4 (empat) kompetensi utama, yaitu:
(1) kompetensi pedagogik, (2) kepribadian, (3) sosial, dan (4) professional.
    1. Kompetensi Pedagogik
         Kompetensi pedagogic yaitu kemampuan yang harus dimiliki oleh guru berkenaan
         dengan karakteristik siswa dilihat dari aspek seperti moral, emosional, dan intelektual.
         Hal tersebut berimplikasi bahwa seorang guru harus mampu menguasai teori belajar
         dan prinsip-prinsip belajar karena siswa memiliki karakter, sifat, dan interest yang
Profesionalisme Guru Pasca Sertifikasi dalam meningkatkan Kualitas Pendidikan di Indonesia   Page 5
         berbeda. Guru harus mampu mengoptimalkan potensi peserta didik untuk
         mengaktualisasikan kemmapuannya di kelas, dan ahrus mampu melakukan kegiatan
         penilaian terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Ada beberapa aspek
         yang perlu diamati berkenaan dengan kemampuan yang harus dimiliki oleh guru:
         a. Guru mampu mengembangkan kurikulum                           yang terkait dengan bidang
             pengembangan yang diampu,
         b. Penguasaan terhadap teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang
             mendidik,
         c. Menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik,
         d. Memanfaatkan          teknologi      informasi     dan     komunikasi       untuk   kepentingan
             penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik,
         e. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan
             berbagai potensi yang dimiliki,
         f. Penguasaan terhadap karkteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial,
             cultural, emosional, dan intelektual,
         g. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik,
         h. Melakukan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar,
         i. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran,
         j. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.
    2. Kompetensi Kepribadian
         Guru harus mempunyai kemampuan yang berkaitan dengan kematapan dan integritas
         kepribadian seorang guru. Aspek-aspek yang perlu diamati adalah sebagai berikut:
         a. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional
             Indonesia,
         b. Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi
             peserta didik dan masyarakat,
         c. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan
             berwibawa,
         d. Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru,
             dan rasa percaya diri,
         e. Menujunjung tinggi kode etik profesi guru.
    3. Kompetensi Sosial


Profesionalisme Guru Pasca Sertifikasi dalam meningkatkan Kualitas Pendidikan di Indonesia           Page 6
         Kemampuan sosial meliputi kemampuan guru dalam berkomunikasi, bekerja sama,
         bergaul simpatik, dan mempunyai jiwa yang menyenangkan. Kriteria kinerja guru
         yang harus dilakukan adalah:
         a. Bertindak objektif serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin,
             agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi,
         b. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun kepada peserta didik, sesama
             pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat,
         c. Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Repubil Indonesia yang
             memiliki keragaman sosial budaya,
         d. Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan
             tulisan atau bentuk yang lain.
    4. Kompetensi Profesional
         Kemampuan yang harus dimiliki guru dalam proses pembelajaran dapat diamati dari
         beberapa aspek sebagai berikut:
         a. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola piker keilmuan yang mendukung
             mata pelajaran yang diampu,
         b. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran atau bidang
             pengembangan yang diampu,
         c. Mengembangkan materi pelajaran yang diampu secara efektif dan kreatif,
         d. Mengembangkan keprofesionalan secar berkelanjutan dengan melakukan tindakan
             reflektif,
         e. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untu berkomunikasi dan
             mengembangkan diri.
C. Sertifikasi Guru: Antara Pengukuran dan Peningkatan
     Sudah lebih dari 12.000 guru lulus sertifikasi dengan memperoleh Sertifikat Profesi
Pendidik dan sebagian besar sudah mendapatkan tunjangan profesinya. Artinya,                 sertifikat
profesi pendidik bagi guru adalah bentuk pengakuan pemerintah terhadap profesionalisme
guru dan karena itu perlu mendapatkan bisyaroh (penghasilan) yang layak.
     Guru yang mendapatkan sertifikasi profesi pendidik tentu saja melewati beberapa
langkah. Dalam Permendiknas Nomor 18 tahun 2007 tentang Sertifikasi bagi Guru dalam
Jabatan disebutkan bahwa sertifikasi bagi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui uji
kompetensi dalam bentuk penilaian portofolio alias penilaian kumpulan dokumen yang
mencerminkan kompetensi guru, dengan mencakup 10 (sepuluh) komponen yaitu: (1)
Profesionalisme Guru Pasca Sertifikasi dalam meningkatkan Kualitas Pendidikan di Indonesia      Page 7
kualifikasi akademik, (2) pendidikan dan pelatihan, (3) pengalaman mengajar, (4)
perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, (5) penilaian dari atasan dan pengawas, (6)
prestasi akademik, (7) karya pengembangan profesi, (8) keikutsertaan dalam forum ilmiah,
(9) pengalaman organisasi di bidang pendidikan dan sosial, dan (10) penghargaan yang
relevan dengan bidang pendidikan.
     Jika kesepuluh komponen tersebut telah dapat terpenuhi secara obyektif dengan
mencapai skor minimal 850 atau 57% dari perkiraan skor maksimum (1500), maka yang
bersangkutan bisa dipastikan untuk berhak menyandang predikat sebagai guru profesional,
beserta sejumlah hak dan fasilitas yang melekat dengan jabatannya. Sayangnya, untuk
memenuhi batas minimal 57 % saja ternyata tidak semudah yang dibayangkan, sejumlah
permasalahan masih menghadang di depan.
     Selanjutnya, apakah dengan adanya sertifikasi profesi pendidik yang telah didapatkan
sudah selesai persoalannya dalam hubungannya dengan peningkatan mutu pendidikan?
Menurut hemat saya, ada dua testimoni dari beberapa tesis yang erat permasalahannya
dengan sertifikasi dan profesi guru, yaitu pengukuran dan peningkatan.
     Tesis pertama menyebutkan diperlukannya proses sertifikasi guru adalah untuk
menjawab problem spesifikasi keguruan. Beeby (1975) dalam Yamin4 mengatakan persoalan
kronis keguruan kita adalah “praktik kelas” yang membosankan. Guru-guru menerangkan
pelajaran dengan latar belakang pengetahuan dan keterampilan metodik yang minimal,
terbatas pada buku teks yang dimilikinya. Andalan lain mungkin sisa-sisa ingatannya dari apa
yang pernah dipelajarinya dulu di sekolah. Penyeragaman standar kualitas pendidik melalui
program sertifikasi guru bisa diasumsikan bahwa model penyiapan pendidikan profesi guru
telah gagal menyiapkan calon-calon pendidik handal sehingga dirasa perlu untuk dicarikan
solusi tambahan untuk benar-benar mendapatkan guru-guru yang mumpuni. Tesis tersebut
memang tidak berlaku secara keseluruhan karena ada tesis lain yang menyebutkan proses
sertifikasi guru adalah semacam motif politik belaka sehingga program sertifikasi guru sangat
urgen untuk dilaksanakan.
     Melihat kedua tesis di atas, rupanya tesis yang kedua yang dapat diterima akal. Almaqol,
betapa mungkin suatu profesi hanya dapat diukur secara tunggal dalam setumpuk lembaran.



4
 Yamin, Moh. 2009. Menggugat Pendidikan di Indonesia: Belajar adari Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantara.
Yogyakarta: Arruzz Media. Cet. Ke-1

Profesionalisme Guru Pasca Sertifikasi dalam meningkatkan Kualitas Pendidikan di Indonesia          Page 8
Bagaimana kemampuan mendidik mereka kalau hanya dimaknai dari selembar sertifikat.
Maka, sangat wajar jika guru dan Ujian Nasional menyandang permasalahan yang serius.
     Permasalahan lain yang terjadi di masyarakat adalah terjadinya disharmoni antar guru.
Seorang guru tua yang telah lama mengabdi dengan bekal ijazah SPG tidak lulus sertifikasi,
sedangkan guru muda yang baru saja lulus pendidikan kesarjanaannya dengan mudah lulus
sertifikasi dan memperoleh keuntungan ekonomi yang lebih daripada guru tua tersebut. Inilah
ahwal yang bisa kita lihat bahwa aspek keadilan masih belum terasa.
     Lepas dari kontoversi publik, permasalahan uji kompetensi tidak hanya dirasakan oleh
para guru yang belum memiliki kualifikasi D4/S1 saja, tetapi bagi para guru yang sudah
berkualifikasi D4/S1 pun tetap akan menjumpai sejumlah persoalan, terutama kesulitan untuk
memenuhi empat komponen lainnya, yaitu komponen: (1) pendidikan dan pelatihan, (2)
keikutsertaan dalam forum ilmiah, (3) prestasi akademik, dan (4) karya pengembangan
profesi. Hal itulah sebenarnya yang menjadi ukuran sulit dalam peningkatan profesi guru.
     Saat ini, keempat komponen tersebut belum sepenuhnya dapat diakses dan dikuasai oleh
setiap guru, khususnya oleh guru-guru yang berada jauh dari pusat kota. Frekuensi kegiatan
pelatihan dan pendidikan, forum ilmiah, dan momen-momen lomba akademik masih relative
minim dan terbatas. Begitu juga budaya menulis, budaya meneliti dan berinovasi belum
sepenuhnya berkembang di kalangan guru. Semua ini tentu akan menyebabkan kesulitan
tersendiri bagi para guru untuk meraih poin dari komponen-komponen tersebut.
D. Pembinaan dan Pemberdayaan Pasca Sertifikasi
     Jika kedepannya kegiatan sertifikasi guru masih menggunakan pola yang sama, yaitu
dalam bentuk penilaian portofolio dengan mencakup 10 (sepuluh) komponen seperti di atas,
maka perlu dipikirkan upaya-upaya agar setiap guru dapat memperoleh kesempatan yang
lebih luas untuk meraih poin dari komponen-komponen tersebut, diantaranya melalui
beberapa upaya seperti yang diungkapkan Sudrajat5 sebagai berikut:
     1. Meningkatkan kuantitas dan kualitas kegiatan pendidikan dan pelatihan, serta forum
         ilmiah di setiap daerah dan para guru perlu terus-menerus dimotivasi dan difasilitasi
         untuk dapat berpartisipasi di dalamnya. Memang idealnya, kegiatan pendidikan dan
         pelatihan atau mengikuti forum ilmiah sudah harus merupakan kebutuhan yang
         melekat pada diri individu guru itu sendiri, sehingga guru pun sudah sewajarnya ada

5
 Akhmad Sudrajat. Sertifikasi Guru dan Permasalahannya. Diakses melalui
http://www.akhmadsudrajat.worpress.com/opini/ tanggal 20 Mei 2010.

Profesionalisme Guru Pasca Sertifikasi dalam meningkatkan Kualitas Pendidikan di Indonesia   Page 9
         kerelaan berkorban, baik berupa materi, tenaga dan fikiran guna dan mengikuti
         kegiatan pendidikan dan pelatihan maupun forum ilmiah. Tetapi harus diingat pula
         bahwa kegiatan pendidikan, pelatihan dan forum ilmiah tidak hanya untuk
         kepentingan individu guru yang bersangkutan semata, tetapi organisasi pun (baca:
         sekolah atau dinas pendidikan) didalamnya memiliki kepentingan. Oleh karena itu
         sudah sewajarnya jika sekolah atau dinas pendidikan berusaha seoptimal mungkin
         untuk memfasilitasi kegiatan pendidikan dan pelatihan atau forum ilmiah bagi para
         guru.
     2. Meningkatkan frekuensi moment lomba-lomba, baik untuk kalangan guru maupun
         siswa (guru akan diperhitungan dalam perannya sebagai pembimbing) di daerah-
         daerah, secara berjenjang mulai dari tingkat sekolah, kecamatan sampai dengan
         tingkat kabupaten dan bahkan bila memungkinkan bisa diikutsertakan pada tingkat
         yang lebih tinggi. Lomba bagi guru tidak hanya diartikan dalam bentuk pemilihan
         guru berprestasi yang sudah biasa dilaksanakan setiap tahunnya, tetapi juga bentuk-
         bentuk perlombaan lainnya yang mencerminkan kemampuan akademik, pedagogik
         dan sosio-personal guru. Kegiatan lomba bagi guru dan siswa pada tingkat sekolah
         sebenarnya jauh lebih penting, karena melalui ajang lomba pada tingkat sekolah
         inilah dapat dihasilkan guru-guru dan siswa terpilih, yang selanjutnya dapat
         diikutsertakan berkompetisi pada ajang lomba tingkat berikutnya. Agar kegiatan
         lomba pada tingkat sekolah memperoleh respons positif, khususnya dari para guru,
         sudah barang tentu sekolah harus mampu memberikan apresiasi yang seimbang dan
         menarik.
     3. Untuk menumbuhkan budaya menulis, kiranya perlu dipikirkan agar di setiap sekolah
         diterbitkan bulletin, majalah sekolah atau media lainnya (publikasi melalui internet
         atau majalah dinding, misalnya), yang beberapa materinya berasal dari para guru
         secara bergiliran. Dalam hal ini, untuk sementara bisa saja mengabaikan dulu apakah
         berbobot atau tidaknya karya tulisan mereka, yang diutamakan di sini adalah
         kemauan mereka untuk memulai menulis. Apabila memang ditemukan karya guru
         yang dipandang bagus dan berbobot, tidak ada salahnya untuk mencoba dikirimkan
         ke majalah atau koran-koran tertentu yang memungkinkan bisa dipertimbangkan
         untuk kepentingan penilaian sertifikasi.
     4. Untuk menanamkan budaya meneliti di kalangan guru, sekolah-sekolah dapat
         memfasilitasi dan memberikan motivasi kepada guru untuk melaksanakan kegiatan
Profesionalisme Guru Pasca Sertifikasi dalam meningkatkan Kualitas Pendidikan di Indonesia   Page 10
         Penelitian Tindakan Kelas, bisa saja d.alam bentuk lomba Penelitian Tindakan Kelas
         atau bahkan bila perlu dengan cara mewajibkan para guru untuk melaksanakan
         Penelitian Tindakan Kelas, minimal dalam satu tahun satu kali. Di samping untuk
         kepentingan penilaian sertifikasi, kegiatan Penelitian Tindakan Kelas terutama dapat
         dimanfaatkan untuk kepentingan perbaikan mutu proses pembelajaran guru yang
         bersangkutan, sehingga guru tidak terjebak dan berkutat dalam proses pembelajaran
         yang sama sekali tidak efektif. Tentunya, dalam hal ini setiap hasil karya dari setiap
         guru perlu diapresiasi secara seimbang pula, baik dalam bentuk materi maupun non
         materi.
     Sepadan dengan apa yang diungkapkan Sudrajat, Dr. S. Eko Putro6 menyebutkan
pembinaan guru harus berlangsung secara berkesinambungan, karena prinsip mendasar
adalah guru harus merupakan a leraning person, belajar sepanjang hayat masih dikandung
badan. Sebagai guru profesional dan telah menyandang sertifikat pendidik, guru
berkewajiban untuk terus mempertahankan prosionalitasnya sebagai guru.
     Pembinaan profesi guru secara terus menerus (continuous profesional development)
menggunakan wadah guru yang sudah ada, yaitu kelompok kerja guru (KKG) untuk tingkat
SD dan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) untuk tingkat sekolah menengah.
Aktifitas guru di KKG/MGMP tidak saja untuk menyelesaikan persoalan pengajaran
yang dialami guru dan berbagi pengalaman mengajar antar guru, tetapi dengan strategi
mengembangkan kontak akademik dan melakukan refleksi diri. Desain                              jejaring    kerja
(networking) peningkatan profesionalitas guru berkelanjutan melibatkan instansi Pusat,
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK),
Lembaga         Penjaminan         Mutu Pendidikan             (LPMP)         dan      Dinas       Pendidikan
Propinsi/Kabupaten/Kota serta Perguruan Tinggi setempat. P4TK yang berbasis mata
pelajaran     membentuk        Tim      Pengembang         Materi Pembelajaran, bekerjasama dengan
Perguruan Tinggi bertugas:
     1. menelaah dan mengembangkan materi untuk kegiatan KKG dan MGMP
     2. mengembangkan model-model pembelajaran
     3. mengembangkan modul untuk pelatihan instruktur dan guru inti
     4. memberikan pembekalan kepada instruktur pada LPMP
6
 Dr. S. Eko Putro Widioko, M.Pd. 2008. Peranan Sertifikasi Guru dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan.
Makalah yang disampaikan dalam seminar nasional peningkatan mutu pendidikan melalui sertfikasi guru di
Universitas Muhammadiyah Purworejo, tanggal 5 Juli 2008.

Profesionalisme Guru Pasca Sertifikasi dalam meningkatkan Kualitas Pendidikan di Indonesia                Page 11
     5. mendesain pola dan mekanisme kerja instruktur dan guru inti dalam kegiatan KKG
        MGMP
     LPMP bersama dengan Dinas Pendidikan Propinsi melakukan seleksi guru untuk
menjadi Instruktur Mata Pelajaran Tingkat Propinsi per mata pelajaran dengan tugas:
     1. menjadi narasumber dan fasilitator pada kegiatan KKG dan MGMP
     2. mengembangkan inovasi pembelajaran untuk KKG dan MGMP
     3. menjamin keterlaksanaan kegiatan KKG dan MGMP
     Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota melakukan seleksi Instruktur Mata Pelajaran
Tingkat Kab/Kota dan membentuk Guru Inti per mata pelajaran dengan tugas:
     1. motivator bagi guru untuk aktif dalam KKG dan MGMP
     2. menjadi fasilitator pada kegiatan KKG dan MGMP
     3. mengembangkan inovasi pembelajaran
     4. menjadi narasumber pada kegiatan KKG dan MGMP
     KKG dan MGMP sebagai wadah pengembangan profesi guru melakukan kegiatan yang
bermanfaat bagi profesi guru. Selain itu perlu adanya pemberdayaan (empowerment)
guru yang telah memperoleh sertifikat. Hal ini dapat dilakukan dengan adanya
pemberian tugas yang sesuai dengan kompetensi guru maupun adanya dorongan dari
fihak manajemen sekolah yang mampu menumbuhkan motivasi kerja bagi para guru.
Meningkatnya kompetensi guru yang didukung adanya motivasi kerja yang tinggi akan
dapat meningkatkan kinerja guru. Meningkatnya kinerja guru akan meningkatkan
kualitas pembelajaran, yang pada akhirnya akan meningkatkan mutu pendidikan secara
keseluruhan, karena ujung tombak dari kegiatan pendidikan adalah pada kegiatan
pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan oleh guru.


III. SIMPULAN
     Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa profesionalisme guru pasca sertifikasi
adalah guru yang betul-betul mampu menjalankan kualifikasi profesi pendidik sesuai dengan
kompetensi yang ditetapkan, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan
professional dan juga dapat memberikan teladan yang baik demi peningkatan pendidikan di
Indonesia. Selain itu, guru pasca sertifikasi senantiasa selalu bercermin melalui peningkatan
kualitas diri dengan melakukan upaya-upaya yang telah diuraikan di atas. Para pendidik,
calon pendidik, dan pihak-pihak hendaknya mulai memahami, menerapkan, dan
mengembangkan potensi diri demi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Profesionalisme Guru Pasca Sertifikasi dalam meningkatkan Kualitas Pendidikan di Indonesia   Page 12

								
To top