Metode_ Strategi_ Teknik_ dan Model Pembelajaran

Document Sample
Metode_ Strategi_ Teknik_ dan Model Pembelajaran Powered By Docstoc
					Banyak yang tidak paham dengan perbedaan anatara strategi, model,pendekatan, metode, dan
teknik. Nah berikut ini ulasan singkat tentang perbedaan istilah tersebut.


Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang
disajikansecara khas oleh guru di kelas. Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian
kompetensi siswa dengan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

Pendekatan adalah konsep dasar yang mewadahi,menginsipi rasi, menguatkan, dan melatari
metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.

Metode pembelajaran adalah prosedur, urutan,langkah- langkah, dan cara yang digunakan guru
dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Dapat dikatakan bahwa metode pembelajaran merupakan
jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode
pembelajaran.
Dapat pula dikatakan bahwa metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke
pencapaian tujuan.

Dari metode, teknik pembelajaran diturunkan secara aplikatif, nyata, dan praktis di kelas saat
pembelajaran berlangsung.

Teknik adalah cara kongkret yang dipakai saat proses pembelajaran berlangsung. Guru dapat
berganti- ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama. Satu metode dapat
diaplikasikan melalui berbagai teknik pembelajaran.
Bungkus dari penerapan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran tersebut dinamakan
model pembelajaran.

Sebagai ilustrasi, saat ini banyak remaja putri menggunakan model celana Jablai yangterinspirasi
dari lagu dangdut dan film Jablai. Sebagai sebuah model, celana jablai berbeda dengan celana
model lain meskipun dibuat berdasarkan pendekatan, metode, dan teknik yang sama. Perbedaan
tersebut terletak pada sajian, bentuk, warna, dan disainnya. Kembali ke pembelajaran, guru dapat
berkreasi dengan berbagai model pembelajaran yang khas secara menarik, menyenangkan, dan
bermanfaat bagi siswa. Model guru tersebut dapat pula berbeda dengan model guru di sekolah
lain meskipun dalam persepsi pendekatan dan metode yang sama.

Oleh karena itu, guru perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai strategi yang di dalamnya
terdapat pendekatan, model, dan teknik secara spesifik. Dari uraian di atas, dapat dikatakan
bahwa sebenarnya aspek yang juga paling penting dalam keberhasilan pembelajaran adalah
penguasaan model pembelajaran.

Dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi, E. Mulyasa (2003)
mengetengahkan lima model pembelajaran yang dianggap sesuai dengan tuntutan Kurikukum
Berbasis Kompetensi; yaitu : (1) Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning); (2)
Bermain Peran (Role Playing); (3) Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and
Learning); (4) Belajar Tuntas (Mastery Learning); dan (5) Pembelajaran dengan Modul
(Modular Instruction). Sementara itu, Gulo (2005) memandang pentingnya strategi pembelajaran
inkuiri (inquiry).




Di bawah ini akan diuraikan secara singkat dari masing-masing model pembelajaran tersebut.

A. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning)

Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning) atau biasa disingkat CTL merupakan
konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan
dunia kehidupan nyata, sehingga peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan
kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pembelajaran kontekstual, tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar kepada
peserta didik, dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai. Guru
bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hapalan, tetapi mengatur
lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar.

Dengan mengutip pemikiran Zahorik, E. Mulyasa (2003) mengemukakan lima elemen yang
harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual, yaitu :

   1. Pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik
   2. Pembelajaran dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagian-bagiannya secara khusus
      (dari umum ke khusus)
   3. Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara: (a) menyusun konsep
      sementara; (b) melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari orang
      lain; dan (c) merevisi dan mengembangkan konsep.
   4. Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktekan secara langsung apa-apa yang
      dipelajari.
   5. Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang
      dipelajari.

B. Bermain Peran (Role Playing)
Bermain peran merupakan salah satu model pembelajaran yang diarahkan pada upaya
pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia (interpersonal
relationship), terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik.

Pengalaman belajar yang diperoleh dari metode ini meliputi, kemampuan kerjasama,
komunikatif, dan menginterprestasikan suatu kejadian

Melalui bermain peran, peserta didik mencoba mengeksplorasi hubungan-hubungan
antarmanusia dengan cara memperagakan dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama
para peserta didik dapat mengeksplorasi parasaan-perasaan, sikap-sikap, nilai-nilai, dan berbagai
strategi pemecahan masalah.

Dengan mengutip dari Shaftel dan Shaftel, E. Mulyasa (2003) mengemukakan tahapan
pembelajaran bermain peran meliputi : (1) menghangatkan suasana dan memotivasi peserta
didik; (2) memilih peran; (3) menyusun tahap-tahap peran; (4) menyiapkan pengamat; (5)
menyiapkan pengamat; (6) tahap pemeranan; (7) diskusi dan evaluasi tahap diskusi dan evaluasi
tahap I ; (8) pemeranan ulang; dan (9) diskusi dan evaluasi tahap II; dan (10) membagi
pengalaman dan pengambilan keputusan.

C. Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning)

Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning) merupakan model pembelajaran
dengan melibatkan peserta didik secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
pembelajaran. Dengan meminjam pemikiran Knowles, (E.Mulyasa,2003) menyebutkan indikator
pembelajaran partsipatif, yaitu : (1) adanya keterlibatan emosional dan mental peserta didik; (2)
adanya kesediaan peserta didik untuk memberikan kontribusi dalam pencapaian tujuan; (3)
dalam kegiatan belajar terdapat hal yang menguntungkan peserta didik.

Pengembangan pembelajaran partisipatif dilakukan dengan prosedur berikut:

   1.   Menciptakan suasana yang mendorong peserta didik siap belajar.
   2.   Membantu peserta didik menyusun kelompok, agar siap belajar dan membelajarkan
   3.   Membantu peserta didik untuk mendiagnosis dan menemukan kebutuhan belajarnya.
   4.   Membantu peserta didik menyusun tujuan belajar.
   5.   Membantu peserta didik merancang pola-pola pengalaman belajar.
   6.   Membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar.
   7.   Membantu peserta didik melakukan evaluasi diri terhadap proses dan hasil belajar.

D. Belajar Tuntas (Mastery Learning)

Belajar tuntas berasumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat semua peserta didik mampu belajar
dengan baik, dan memperoleh hasil yang maksimal terhadap seluruh materi yang dipelajari. Agar
semua peserta didik memperoleh hasil belajar secara maksimal, pembelajaran harus dilaksanakan
dengan sistematis. Kesistematisan akan tercermin dari strategi pembelajaran yang dilaksanakan,
terutama dalam mengorganisir tujuan dan bahan belajar, melaksanakan evaluasi dan memberikan
bimbingan terhadap peserta didik yang gagal mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan
pembelajaran harus diorganisir secara spesifik untuk memudahkan pengecekan hasil belajar,
bahan perlu dijabarkan menjadi satuan-satuan belajar tertentu,dan penguasaan bahan yang
lengkap untuk semua tujuan setiap satuan belajar dituntut dari para peserta didik sebelum proses
belajar melangkah pada tahap berikutnya. Evaluasi yang dilaksanakan setelah para peserta didik
menyelesaikan suatu kegiatan belajar tertentu merupakan dasar untuk memperoleh balikan
(feedback). Tujuan utama evaluasi adalah memperoleh informasi tentang pencapaian tujuan dan
penguasaan bahan oleh peserta didik. Hasil evaluasi digunakan untuk menentukan dimana dan
dalam hal apa para peserta didik perlu memperoleh bimbingan dalam mencapai tujuan, sehinga
seluruh peserta didik dapat mencapai tujuan ,dan menguasai bahan belajar secara maksimal
(belajar tuntas).

Strategi belajar tuntas dapat dibedakan dari pengajaran non belajar tuntas dalam hal berikut : (1)
pelaksanaan tes secara teratur untuk memperoleh balikan terhadap bahan yang diajarkan sebagai
alat untuk mendiagnosa kemajuan (diagnostic progress test); (2) peserta didik baru dapat
melangkah pada pelajaran berikutnya setelah ia benar-benar menguasai bahan pelajaran
sebelumnya sesuai dengan patokan yang ditentukan; dan (3) pelayanan bimbingan dan konseling
terhadap peserta didik yang gagal mencapai taraf penguasaan penuh, melalui pengajaran
remedial (pengajaran korektif).

Strategi belajar tuntas dikembangkan oleh Bloom, meliputi tiga bagian, yaitu: (1)
mengidentifikasi pra-kondisi; (2) mengembangkan prosedur operasional dan hasil belajar; dan
(3c) implementasi dalam pembelajaran klasikal dengan memberikan “bumbu” untuk
menyesuaikan dengan kemampuan individual, yang meliputi : (1) corrective technique yaitu
semacam pengajaran remedial, yang dilakukan memberikan pengajaran terhadap tujuan yang
gagal dicapai peserta didik, dengan prosedur dan metode yang berbeda dari sebelumnya; dan (2)
memberikan tambahan waktu kepada peserta didik yang membutuhkan (sebelum menguasai
bahan secara tuntas).

Di samping implementasi dalam pembelajaran secara klasikal, belajar tuntas banyak
diimplementasikan dalam pembelajaran individual. Sistem belajar tuntas mencapai hasil yang
optimal ketika ditunjang oleh sejumlah media, baik hardware maupun software, termasuk
penggunaan komputer (internet) untuk mengefektifkan proses belajar.

E. Pembelajaran dengan Modul (Modular Instruction)

Modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun
secara sistematis, operasional dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai dengan
pedoman penggunaannya untuk para guru.

Pembelajaran dengan sistem modul memiliki karakteristik sebagai berikut:

   1. Setiap modul harus memberikan informasi dan petunjuk pelaksanaan yang jelas tentang
      apa yang harus dilakukan oleh peserta didik, bagaimana melakukan, dan sumber belajar
      apa yang harus digunakan.
   2. Modul meripakan pembelajaran individual, sehingga mengupayakan untuk melibatkan
      sebanyak mungkin karakteristik peserta didik. Dalam setiap modul harus : (1)
      memungkinkan peserta didik mengalami kemajuan belajar sesuai dengan
      kemampuannya; (2) memungkinkan peserta didik mengukur kemajuan belajar yang telah
      diperoleh; dan (3) memfokuskan peserta didik pada tujuan pembelajaran yang spesifik
      dan dapat diukur.
   3. Pengalaman belajar dalam modul disediakan untuk membantu peserta didik mencapai
      tujuan pembelajaran seefektif dan seefisien mungkin, serta memungkinkan peserta didik
      untuk melakukan pembelajaran secara aktif, tidak sekedar membaca dan mendengar tapi
      lebih dari itu, modul memberikan kesempatan untuk bermain peran (role playing),
      simulasi dan berdiskusi.
   4. Materi pembelajaran disajikan secara logis dan sistematis, sehingga peserta didik dapat
      menngetahui kapan dia memulai dan mengakhiri suatu modul, serta tidak menimbulkan
      pertanyaaan mengenai apa yang harus dilakukan atau dipelajari.
   5. Setiap modul memiliki mekanisme untuk mengukur pencapaian tujuan belajar peserta
      didik, terutama untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik dalam mencapai
      ketuntasan belajar.

Pada umumnya pembelajaran dengan sistem modul akan melibatkan beberapa komponen,
diantaranya : (1) lembar kegiatan peserta didik; (2) lembar kerja; (3) kunci lembar kerja; (4)
lembar soal; (5) lembar jawaban dan (6) kunci jawaban.

Komponen-komponen tersebut dikemas dalam format modul, sebagai beriku:

   1. Pendahuluan; yang berisi deskripsi umum, seperti materi yang disajikan, pengetahuan,
      keterampilan dan sikap yang akan dicapai setelah belajar, termasuk kemampuan awal
      yang harus dimiliki untuk mempelajari modul tersebut.
   2. Tujuan Pembelajaran; berisi tujuan pembelajaran khusus yang harus dicapai peserta
      didik, setelah mempelajari modul. Dalam bagian ini dimuat pula tujuan terminal dan
      tujuan akhir, serta kondisi untuk mencapai tujuan.
   3. Tes Awal; yang digunakan untuk menetapkan posisi peserta didik dan mengetahui
      kemampuan awalnya, untuk menentukan darimana ia harus memulai belajar, dan apakah
      perlu untuk mempelajari atau tidak modul tersebut.
   4. Pengalaman Belajar; yang berisi rincian materi untuk setiap tujuan pembelajaran khusus,
      diikuti dengan penilaian formatif sebagai balikan bagi peserta didik tentang tujuan belajar
      yang dicapainya.
   5. Sumber Belajar; berisi tentang sumber-sumber belajar yang dapat ditelusuri dan
      digunakan oleh peserta didik.
   6. Tes Akhir; instrumen yang digunakan dalam tes akhir sama dengan yang digunakan pada
      tes awal, hanya lebih difokuskan pada tujuan terminal setiap modul

Tugas utama guru dalam pembelajaran sistem modul adalah mengorganisasikan dan mengatur
proses belajar, antara lain : (1) menyiapkan situasi pembelajaran yang kondusif; (2) membantu
peserta didik yang mengalami kesulitan dalam memahami isi modul atau pelaksanaan tugas; (3)
melaksanakan penelitian terhadap setiap peserta didik.

F. Pembelajaran Inkuiri
Pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal
seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau
peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri
penemuannya dengan penuh percaya diri.

Joyce (Gulo, 2005) mengemukakan kondisi- kondisi umum yang merupakan syarat bagi
timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa, yaitu : (1) aspek sosial di dalam kelas dan suasana bebas-
terbuka dan permisif yang mengundang siswa berdiskusi; (2) berfokus pada hipotesis yang perlu
diuji kebenarannya; dan (3) penggunaan fakta sebagai evidensi dan di dalam proses
pembelajaran dibicarakan validitas dan reliabilitas tentang fakta, sebagaimana lazimnya dalam
pengujian hipotesis,

Proses inkuiri dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:

   1. Merumuskan masalah; kemampuan yang dituntut adalah : (a) kesadaran terhadap
      masalah; (b) melihat pentingnya masalah dan (c) merumuskan masalah.
   2. Mengembangkan hipotesis; kemampuan yang dituntut dalam mengembangkan hipotesis
      ini adalah : (a) menguji dan menggolongkan data yang dapat diperoleh; (b) melihat dan
      merumuskan hubungan yang ada secara logis; dan merumuskan hipotesis.
   3. Menguji jawaban tentatif; kemampuan yang dituntut adalah : (a) merakit peristiwa,
      terdiri dari : mengidentifikasi peristiwa yang dibutuhkan, mengumpulkan data, dan
      mengevaluasi data; (b) menyusun data, terdiri dari : mentranslasikan data,
      menginterpretasikan data dan mengkasifikasikan data.; (c) analisis data, terdiri dari :
      melihat hubungan, mencatat persamaan dan perbedaan, dan mengidentifikasikan trend,
      sekuensi, dan keteraturan.
   4. Menarik kesimpulan; kemampuan yang dituntut adalah: (a) mencari pola dan makna
      hubungan; dan (b) merumuskan kesimpulan
   5. Menerapkan kesimpulan dan generalisasi

Guru dalam mengembangkan sikap inkuiri di kelas mempunyai peranan sebagai konselor,
konsultan, teman yang kritis dan fasilitator. Ia harus dapat membimbing dan merefleksikan
pengalaman kelompok, serta memberi kemudahan bagi kerja kelompok.

Sumber :

Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetya. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Pustaka Setia
E. Mulyasa.2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep; Karakteristik dan Implementasi.
      Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.
_________. 2004. Implementasi Kurikulum 2004; Panduan Pembelajaran KBK. Bandung : P.T.
      Remaja Rosdakarya.
Udin S. Winataputra, dkk. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Pusat Penerbitan
      Universitas Terbuka
W. Gulo. 2005. Strategi Belajar Mengajar Jakarta :. Grasindo.
Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga
seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1)
pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik
pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan
istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah
tersebut.



Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap
proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang
sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari
metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya,
pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang
berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan
pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi
pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat
unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :

   1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran
      (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat
      yang memerlukannya.
   2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif
      untuk mencapai sasaran.
   3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak
      titik awal sampai dengan sasaran.
   4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard)
      untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.

Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:

   1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil
      perilaku dan pribadi peserta didik.
   2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling
      efektif.
   3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik
      pembelajaran.
   4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan
      ukuran baku keberhasilan.

Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran
adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan
pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J.
R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung
makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang
keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari
strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-
discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008).
Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan
antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.

Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan
berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of
operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something”
(Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan
untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan
praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang
dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah;
(2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7)
brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.

Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan
demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam
mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah
pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang
tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang
jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan
teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya
tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor
metode yang sama.

Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau
teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama
menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang
digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena
memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki
sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang
sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan
dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru
yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga
seni (kiat)

Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah
terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model
pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang
tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model
pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan
teknik pembelajaran.
Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A.
Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1)
model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4)
model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model
pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.

Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat
divisualisasikan sebagai berikut:




Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain
pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur
umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara
merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran
tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai
kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah
modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan
unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun
beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria
penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah
yang akan dibangun.

Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional,
seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam
mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan,
sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru
atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-
kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat
sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat
memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan
teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat
secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas,
sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan
muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin
memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.

Sumber:



 Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.

 Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah).
        Bandung: FPTK-IKIP Bandung.

 Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas
        Terbuka.

 Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta:
       Kencana Prenada Media Group.

 Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran

Berbagai macam teknik penilaian dapat dilakukan secara komplementer (saling melengkapi)
sesuai dengan kompetensi yang dinilai. Teknik penilaian yang dimaksud antara lain melalui tes,
observasi, penugasan, inventori, jurnal, penilaian diri, dan penilaian antarteman yang sesuai
dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik.

   1. Tes adalah pemberian sejumlah pertanyaan yang jawabannya dapat benar atau salah. Tes
      dapat berupa tes tertulis, tes lisan, dan tes praktik atau tes kinerja. Tes tertulis adalah tes
      yang menuntut peserta tes memberi jawaban secara tertulis berupa pilihan dan/atau isian.
      Tes yang jawabannya berupa pilihan meliputi pilihan ganda, benar-salah, dan
      menjodohkan. Sedangkan tes yang jawabannya berupa isian dapat berbentuk isian singkat
      dan/atau uraian. Tes lisan adalah tes yang dilaksanakan melalui komunikasi langsung
      (tatap muka) antara peserta didik dengan pendidik. Pertanyaan dan jawaban diberikan
      secara lisan. Tes praktik (kinerja) adalah tes yang meminta peserta didik melakukan
      perbuatan/mendemonstasikan/ menampilkan keterampilan.

       Dalam rancangan penilaian, tes dilakukan secara berkesinambungan melalui berbagai
       macam ulangan dan ujian. Ulangan meliputi ulangan harian, ulangan tengah semester,
       ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Sedangkan ujian terdiri atas ujian
   nasional dan ujian sekolah.

   Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta
   didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk melakukan perbaikan
   pembelajaran, memantau kemajuan dan menentukan keberhasilan belajar peserta didik.
   a) Ulangan harian adalah kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk mengukur
   pencapaian kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu kompetensi dasar (KD)
   atau lebih.
   b) Ulangan tengah semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk
   mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8 – 9 minggu
   kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangan tengah semester meliputi seluruh indikator yang
   merepresentasikan seluruh KD pada periode tersebut.
   c) Ulangan akhir semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur
   pencapaian kompetensi peserta didik pada akhir semester. Cakupan ulangan akhir
   semester meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester
   tersebut.
   d) Ulangan kenaikan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik pada akhir
   semester genap untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik pada akhir
   semester genap pada satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket. Cakupan
   ulangan kenaikan kelas meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD
   pada semester genap.

   Ujian adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta
   didik sebagai pengakuan prestasi belajar dan/atau penyelesaian dari suatu satuan
   pendidikan.

   a) Ujian nasional adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik pada
   beberapa mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan
   teknologi dalam rangka menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan.
   b) Ujian sekolah adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik yang
   dilakukan oleh satuan pendidikan untuk memperoleh pengakuan atas prestasi belajar dan
   merupakan salah satu persyaratan kelulusan dari satuan pendidikan. Mata pelajaran yang
   diujikan pada ujian sekolah adalah mata pelajaran pada kelompok mata pelajaran ilmu
   pengetahuan dan teknologi yang tidak diujikan pada ujian nasional, dan aspek kognitif
   dan/atau psikomotorik untuk kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, serta
   kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian.
2. Observasi adalah penilaian yang dilakukan melalui pengamatan terhadap peserta didik
   selama pembelajaran berlangsung dan/atau di luar kegiatan pembelajaran. Observasi
   dilakukan untuk mengumpulkan data kualitatif dan kuantitatif sesuai dengan kompetensi
   yang dinilai, dan dapat dilakukan baik secara formal maupun informal. Penilaian
   observasi dilakukan antara lain sebagai penilaian akhir kelompok mata pelajaran agama
   dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok
   mata pelajaran estetika, serta kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan.
3. Penugasan adalah pemberian tugas kepada peserta didik baik secara perorangan maupun
   kelompok. Penilaian penugasan diberikan untuk penugasan terstruktur dan kegiatan
    mandiri tidak terstruktur, dan dapat berupa praktik di laboratorium, tugas rumah,
    portofolio, projek, dan/atau produk.
4. Portofolio adalah kumpulan dokumen dan karya-karya peserta didik dalam bidang
    tertentu yang diorganisasikan untuk mengetahui minat, perkembangan prestasi, dan
    kreativitas peserta didik (Popham, 1999). Bentuk ini cocok untuk mengetahui
    perkembangan unjuk kerja peserta didik dengan menilai bersama karya-karya atau tugas-
    tugas yang dikerjakannya. Peserta didik dan pendidik perlu melakukan diskusi untuk
    menentukan skor. Pada penilaian portofolio, peserta didik dapat menentukan karya-karya
    yang akan dinilai, melakukan penilaian sendiri kemudian hasilnya dibahas.
    Perkembangan kemampuan peserta didik dapat dilihat pada hasil penilaian portofolio.
    Teknik ini dapat dilakukan dengan baik apabila jumlah peserta didik yang dinilai
    sedikit.
5. Projek adalah tugas yang diberikan kepada peserta didik dalam kurun waktu tertentu.
    Peserta didik dapat melakukan penelitian melalui pengumpulan, pengorganisasian, dan
    analisis data, serta pelaporan hasil kerjanya. Penilaian projek dilaksanakan terhadap
    persiapan, pelaksanaan, dan hasil.
6. Produk (hasil karya) adalah penilaian yang meminta peserta didik menghasilkan suatu
    hasil karya. Penilaian produk dilakukan terhadap persiapan, pelaksanaan/proses
    pembuatan, dan hasil.
7. Inventori merupakan teknik penilaian melalui skala psikologis yang dipakai untuk
    mengungkapkan sikap, minat, dan persepsi peserta didik terhadap objek psikologis.
8. Jurnal merupakan catatan pendidik selama proses pembelajaran yang berisi informasi
    hasil pengamatan terhadap kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkait dengan
    kinerja ataupun sikap dan perilaku peserta didik yang dipaparkan secara deskriptif.
9. Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk
    menilai dirinya sendiri mengenai berbagai hal. Dalam penilaian diri, setiap peserta didik
    harus mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya secara jujur.
10. Penilaian antarteman merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik
    mengemukakan kelebihan dan kekurangan temannya dalam berbagai hal secara jujur.

    Kombinasi penggunaan berbagai teknik penilaian di atas akan memberikan informasi
    yang lebih akurat tentang kemajuan belajar peserta didik. Karena pembelajaran pada
    KTSP meliputi kegiatan tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak
    terstruktur, maka penilaianpun
11. A. Teknik Penilaian
12. Ada beberapa teknik dan alat penilaian yang dapat digunakan pendidik sebagai sarana
    untuk memperoleh informasi tentang keadaan belajar peserta didik. Penggunaan berbagai
    teknik dan alat itu harus disesuaikan dengan tujuan penilaian, waktu yang tersedia, sifat
    tugas yang dilakukan peserta didik, dan banyaknya/jumlah materi pembelajaran yang
    sudah disampaikan.
13. Teknik penilaian adalah metode atau cara penilaian yang dapat digunakan guru untuk
    rnendapatkan informasi. Teknik penilaian yang memungkinkan dan dapat dengan mudah
    digunakan oleh guru, misalnya: (1) tes (tertulis, lisan, perbuatan), (2) observasi atau
    pengamatan, (3) wawancara.
14. 1. Teknik penilaian melalui tes
15. a. Tes tertulis
   16. Tes tertulis adalah tes yang soal-soalnya harus dijawab peserta didik dengan memberikan
       jawaban tertulis. Jenis tes tertulis secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu:
   17. 1) tes objektif, misalnya bentuk pilihan panda, jawaban singkat atau isian, benar salah,
       dan bentuk menjodohkan;
   18. 2) tes uraian, yang terbagi atas tes uraian objektif (penskorannya dapat dilakukan secara
       objektif) dan tes uraian non-objektif (penskorannya sulit dilakukan secara objektif).
   19. b. Tes lisan
   20. Tes lisan yakni tes yang pelaksanaannya dilakukan dengan mengadakan tanya jawab
       secara langsung antara pendidik dan peserta didik. Tes ini memiliki kelebihan dan
       kelemahan. Kelebihannya adalah: (1) dapat menilai kemampuan dan tingkat pengetahuan
       yang dimiliki peserta didik, sikap, serta kepribadiannya karena dilakukan secara
       berhadapan langsung; (2) bagi peserta didik yang kemampuan berpikirnya relatif lambat
       sehingga sering mengalami kesukaran dalam memahami pernyataan soal, tes bentuk ini
       dapat menolong sebab peserta didik dapat menanyakan langsung kejelasan pertanyaan
       yang dimaksud; (3) hasil tes dapat langsung diketahui peserta didik. Kelemahannya
       adalah (1) subjektivitas pendidik sering mencemari hasil tes, (2) waktu pelaksanaan yang
       diperlukan relatif cukup lama.
   21. c. Tes perbuatan
   22. Tes perbuatan yakni tes yang penugasannya disampaikan dalam bentuk lisan atau tertulis
       dan pelaksanaan tugasnya dinyatakan dengan perbuatan atau unjuk kerja. Penilaian tes
       perbuatan dilakukan sejak peserta didik melakukan persiapan, melaksanakan tugas,
       sampai dengan hasil yang dicapainya. Untuk menilai tes perbuatan pada umumnya
       diperlukan sebuah format pengamatan, yang bentuknya dibuat sedemikian rupa agar
       pendidik dapat menuliskan angka-angka yang diperolehnya pada tempat yang sudah
       disediakan. Bentuk formatnya dapat disesuaikan menurut keperluan. Untuk tes perbuatan
       yang sifatnya individual, sebaiknya menggunakan format pengamatan individual. Untuk
       tes perbuatan yang dilaksanakan secara kelompok digunakan format tertentu yang sudah
       disesuaikan untuk keperluan pengamatan kelompok.
   23. 2. Teknik penilaian melalui observasi atau pengamatan
   24. Observasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan pendidik untuk mendapatkan informasi
       tentang peserta didik dengan cara mengamati tingkah laku dan kemampuannya selama
       kegiatan observasi berlangsung. Observasi dapat ditujukan kepada peserta didik secara
       perorangan atau kelompok. Dalam kegiatan observasi perlu disiapkan format
       pengamatan. Format pengamatan dapat berisi: (1) perilaku-perilaku atau kemampuan
       yang akan dinilai, (2) batas waktu pengamatan.
   25. 3. Teknik penilaian melalui wawancara
   26. Teknik wawancara pada satu segi mempunyai kesamaan arti dengan tes lisan yang telah
       diuraikan di atas. Teknik wawancara ini diperlukan pendidik untuk tujuan
       mengungkapkan atau menanyakan lebih lanjut hal-hal yang kurang jelas informasinya.
       Teknik wawancara ini dapat pula digunakan sebagai alat untuk menelusuri kesukaran
       yang dialami peserta didik tanpa ada maksud untuk menilai.
   27. Setiap teknik penilaian harus dibuatkan instrumen penilaian yang sesuai. Tabel berikut
       menyajikan teknik penilaian dan bentuk instrumen.
   28. Tabel 1. Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen

Teknik Penilaian                    Bentuk Instrumen
• Tes tertulis                       • Tes pilihan: pilihan ganda, benar-salah, menjodohkan dll.

                                     • Tes isian: isian singkat dan uraian
• Tes lisan                          • Daftar pertanyaan
• Tes praktik (tes kinerja)          • Tes identifikasi

                                     • Tes simulasi

                                      • Tes uji petik kinerja
• Penugasan         individual   atau • Pekerjaan rumah
kelompok
                                     • Projek
• Penilaian portofolio               • Lembar penilaian portofolio
• Jurnal                             • Buku cacatan jurnal
• Penilaian diri                     • Kuesioner/lembar penilaian diri
• Penilaian antarteman               • Lembar penilaian antarteman

    29. B. Prosedur Pengembangan Tes
    30. Sebelum menentukan teknik dan alat penilaian, penulis soal perlu menetapkan terlebih
        dahulu tujuan penilaian dan kompetensi dasar yang hendak diukur.
    31. Langkah-langkah penting yang dapat dilakukan sebagai berikut.
    32. 1. Menentukan tujuan penilaian. Tujuan penilaian sangat penting karena setiap tujuan
        memiliki penekanan yang berbeda-beda. Misalnya untuk tujuan tes prestasi belajar,
        diagnostik, atau seleksi. Contoh untuk tujuan prestasi belajar, lingkup materi/kompetensi
        yang ditanyakan/diukur disesuaikan seperti untuk kuis/menanyakan materi yang lalu,
        pertanyaan lisan di kelas, ulangan harian, tugas individu/kelompok, ulangan semester,
        ulangan kenaikan kelas, laporan kerja praktik/laporan praktikum, ujian praktik.
    33. 2. Memperhatikan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD). Standar
        kompetensi merupakan acuan/target utama yang harus dipenuhi atau yang harus diukur
        melalui setiap kompetensi dasar yang ada atau melalui gabungan kompetensi dasar.
    34. 3. Menentukan jenis alat ukurnya, yaitu tes atau non-tes atau mempergunakan keduanya.
        Untuk penggunaan tes diperlukan penentuan materi penting sebagai pendukung
        kompetensi dasar. Syaratnya adalah materi yang diujikan harus mempertimbangkan
        urgensi (wajib dikuasai peserta didik), kontinuitas (merupakan materi lanjutan), relevansi
        (bermanfaat terhadap mata pelajaran lain), dan keterpakaian dalam kehidupan sehari-hari
        tinggi (UKRK). Langkah selanjutnya adalah menentukan jenis tes dengan menanyakan
        apakah materi tersebut tepat diujikan secara tertulis/lisan. Bila jawabannya tepat, maka
        materi yang bersangkutan tepat diujikan dengan bentuk soal apa, pilihan ganda atau
        uraian. Bila jawabannya tidak tepat, maka jenis tes yang tepat adalah tes perbuatan:
        kinerja (performance), penugasan (project), hasil karya (product), atau lainnya.
    35. 4. Menyusun kisi-kisi tes dan menulis butir soal beserta pedoman penskorannya. Dalam
        menulis soal, penulis soal harus memperhatikan kaidah penulisan soal.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:3030
posted:7/11/2010
language:Indonesian
pages:14
Description: Yang Ngedownload/ ngeview harap di rate ya gan.. !!! ^_^ thanks.....