Docstoc

psikologis hubungan orang tua dg anak

Document Sample
psikologis hubungan orang tua dg anak Powered By Docstoc
					         Psikologi Klinis
“Hubungan Orang Tua dengan Anak”




                Oleh :
     Ajeng Diah Hartawati PS/05502




       Fakultas Psikologi
    Universitas Gadjah Mada
          Yogyakarta
              2010
PENDAHULUAN
       Psikolog dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Hastaning Sakti,
mengatakan orangtua perlu mendengarkan curahan hati anak supaya tidak semakin
sering muncul kasus kenakalan remaja. "Orangtua jangan berpikir kalau remaja zaman
sekarang berada pada posisi yang salah dan rawan," katanya di Semarang. Menurut
penilaiannya, jika ada pihak yang semestinya bertanggung jawab atas terjadinya kasus-
kasus kenakalan remaja, maka pihak tersebut adalah orangtuanya sendiri. Kasus
kenakalan remaja adalah perilaku menyimpang yang terjadi pada remaja. Masalah sosial
ini terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial
ataupun dari nilai dan norma sosial yang berlaku. Pemakaian narkotika dan obat-obatan
terlarang (narkoba) merupakan salah satu kasus kenakalan remaja yang semakin
meningkat setiap tahunnya.
       Kebanyakan kasus kenakalan remaja terjadi karena orangtua tidak menerapkan
metode "parenting skill" atau secara sederhana bisa diterapkan dengan mau
mendengarkan keluh kesah dan isi hati anak. Ia mengatakan, orangtua lebih sering
marah-marah dan menyalahkan anak daripada memberi solusi untuk mengatasi masalah
yang mereka hadapi. "Anak adalah anugerah yang harus dijaga. Kita tidak bisa
menyalahkan mereka begitu saja atau menyalahkan lingkungan, tetapi kembali kepada
diri orangtua sendiri, apakah selama ini menjaga anugerah tersebut dengan baik atau
tidak," kata Dosen Psikologi Universitas Diponegoro ini. Ia menjelaskan, pada masa
remaja, justru keinginan untuk mencoba-coba besar sekali. Pada usia remaja, mereka
berada pada masa pencarian jati diri. Ia mengatakan, di sinilah peran orangtua sangat
dibutuhkan untuk mengarahkan anak, bukan mempersalahkan, atau bahkan meremehkan
apa yang mereka kerjakan. "Satu yang perlu diingat, setiap orangtua sudah pernah
menjadi anak, tetapi anak belum pernah menjadi orangtua. Inilah mengapa orangtua
perlu mengerti anaknya," katanya. (ant)
(http://jurnalis-ntt.blogspot.com/2009/02/anak-nakal-salah-orangtua.html)
       Dalam makalah ini penulis memiliki hipotesis bahwa hubungan baik/positif
antara orang tua dengan anak dapat memperbaiki perilaku menyimpang anak. Hipotesis
ini akan diperkuat oleh beberapa jurnal dan buku yang telah penulis review.
PEMBAHASAN

          Dalam Santrock (2002), salah satu prediktor kenakalan adalah peran orang tua,
dalam arti kurangnya pemantauan, dukungan yang rendah, dan disiplin yang tidak
efektif. Dalam sebuah studi, relasi yang positif dengan orang tua dan orang lain penting
dalam mengurangi penggunaan obat-obatan oleh remaja. Sebagian masalah-masalah dan
gangguan remaja diantaranya meliputi penggunaan narkoba, kenakalan remaja, dan self-
injury.
          Seperti yang dikatakan oleh Hastaning Sakti, kebanyakan kasus kenakalan
remaja terjadi karena orangtua tidak menerapkan metode "parenting skill" atau secara
sederhana bisa diterapkan dengan mau mendengarkan keluh kesah dan isi hati anak,
dalam Gardner (2009) disebutkan bahwa perenting intervention efektif dalam mencegah
masalah perilaku anak. Tujuan dari penelitian Gardner (2009) adalah untuk mengetes
apakah ada perbedaan pengaruh/efek pada masalah perilaku anak karena keluarga dan
faktor orang tua. Dan dari hasil penganalisisan data dan pembahasan didapat kesimpulan
bahwa :
1. Pada orang tua dengan maternal education yang sedikit terlihat bahwa perubahan
   pada problem behavior anak tidak begitu terlihat dibandingkan dengan orang tua
   dengan maternal education lebih banyak yang lebih terlihat perubahannya.
2. Pada penelitian ini terlelihat efek yang lebih kuat pada two-parent family dari pada
   single mother family.hal ini dijelaskan kemungkinan karena pada single-mother
   susah untuk membuat menggunakan interfensi tanpa dukungan atau bantuan dari
   orang dewasa lainnya.
          Suatu hubungan dapat terjalin pasti tidak lepas kaitannya dengan sebuah
interaksi. Hubungan didalam sebuah keluarga dapat dilihat dari pola interaksi yang
terjadi didalamnya, antara orang tua (ibu ayah) dan sang anak. Maka interaksi keluarga
akan memberi pengaruh pada anak. Hasil dalam penelitian Crowell (2008) menunjukkan
bahwa kualitas interaksi keluarga secara signifikan berkorelasi dengan self-injuring
adolescent. Penelitian ini menguji hubungan antara pola interaksi orang tua dengan
anak, peripheral serotonin, dan self-injuring pada anak. Partisipan terdiri dari mereka
yang memiliki sejarah self-injury atau apapun mengenai mental disorder. Interaksi
keluarga yang negatif, kekompakan yang rendah, menunjukkan adanya pengaruh negatif
pada remaja. Hasil ini didapat dari percobaan sesi parent-child discussion.
       Dalam Yuliawati (2007), dapat dilihat sebuah korelasi dari hubungan antara
orang tua dengan anak. Dari data penelitian menunjukkan adanya kesamaan perubahan
yang dialami sang anak (remaja) dengan ibunya setelah ketiadaan ayah. Ibu yang
menjadi lebih tegar ternyata anaknya juga menjadi lebih tegar. Sementara pada ibu yang
bekerja lebih keras, anaknya mengaku mengalami masalah emosi karena sang ibu sulit
untuk membagi waktu antara pekerjaan dengan anaknya. Peneliti menduga hal tersebut
berkaitan dengan adanya pembelajaran respon subjek terhadap respon ibu terhadap
ketiadaan ayah. Hal ini merupakan bentuk dari modeling sang anak terhadap orang
tuanya. Hubungan antara seorang ibu dengan anak secara sadar maupun tidak sadar
dapat mempengaruhi pola fikir anak dan perilaku anak.
       Selain itu berdasar Greenbaum (2009), dapat dilihat perbandingan antara
pengaruh dari orang tua dengan teman sebaya dalam merubah perilaku seorang anak
yang mengalami behavior distortion. Peneliti membuat dua jenis kelompok experiment
dalam variable independennya, yaitu adolescence group therapy dan multidimensional
family therapy. Dalam riset ini dibuktikan bahwa penggunaan multidimensional family
therapy (MDTF) dimana dilakukan terapi perbaikan pada orang tua dan anak sangat
efektif untuk mengurangi penggunaan narkoba pada remaja yang telah terlibat dalam
penggunaan narkoba, tindak kriminal, dan internal distress, dibandingkan dengan
sekedar adolescence group yang dimana hanya sang remaja/anak yang diberi terapi
dengan penyuluhan oleh terapis.
       Untuk memperbaiki dan menciptakan hubungan baik antara orang tua dengan
anak dapat menggunakan multidimensional family therapy (Greenbaum, 2009).
Pendekatan dilakukan dengan family-based dan fokus pada 4 independent treatment
domains, yaitu:
1. The adolescence domain
        Membantu remaja agar dapat berkomunikasi dan membangun hubungan baik
   dengan orang tua mereka maupun orang dewasa, cara bersosialisasi, dan cara
   mengalihkan penggunaan narkoba menjadi kegiatan lain.
2. The parent domain
        Memperluas pengetahuan orang tua mengenai perilaku dan emosi remaja agar
   lebih memahami anaknya yang masih remaja serata membantu agar dapat
   mengimprove caranya mengawasi sang anak.
3. The family interactional domain
        Fokus dalam mengurangi konflik, cara melampiaskan emosi, pola komunikasi,
   dan penyelesaian masalah dengan suatu sesi dimana melibatkan anggota keluarga,
   yaitu orang tua dengan anak, berkumpul untuk dibicarakan.
4. The extrafamilial domain
        Membantu mengembangan kompetensi dan kerjasama keluarga agar dapat
   terlibat dalam semua lingkungan sosial dimana sang anak terlibat di dalamnya
   (seperti sekolah, rekreasi, juvenile justice).
       Dalam Santrock (2002) juga dijelaskan adanya coregulation, merupakan aturan
yang dibuat secara bersam-sama dari dua pihak yaitu orang tua dan anak. Selama
koregulasi ini orang tua harus memonitor, menuntun, dan mendukung anak dari jauh,
menggunakan waktu secara efektif ketika mengadakan kontak langsung dengan anak,
dan memperkuat kemampuan anak untuk memantau perilakuya sendiri, mengadopsi
standar-standar perilaku yang sesuai, menghindari resiko-resiko yang membahayakan,
dan merasakan kapan dukungan dan kontak orang tua sesuai.


KESIMPULAN
       Hubungan positif antara orang tua dengan anak yang dapat memperbaiki perilaku
menyimpang anak mencakup pola interaksi keluarga, modeling, family function, dan
parenting. Sebuah interaksi yang baik berupa pola komunikasi yang melibatkan antara
orang tua dan anak dengan pengendalian emosi, waktu berkumpul, dan penyelesaian
masalah. Fungsi keluarga sebagai pendukung perkembangan anak, dan seorang orang
tua secara sadar maupun tidak sadar akan menjadi model bagi anak. Dan orang tua harus
miliki kemampuan dalam menghadapi anaknya, sehingga mampu menciptakan suasana,
interaksi, hubungan yang pas dengan anak karena mampu mengerti masa perkembangan
anak dan menyesuaikannya.
DAFTAR PUSTAKA


Crowell, Sheila E., Theodore, Elizabeth, et al. 2008. Parent-Child Interactions,
      Peripheral Serotin, and Self-Inflicted Injury in Adolescent. Journal of Consulting
      and Clinical Psychology. Vol.76, No.1, Hal.15-21.

Gardner, Frances, et al. 2009. Moderators Of Outcome in Brief Family-Centered
      Intervention for Preventing Early Problem Behavior. Journal of Consulting and
      Clinical Psychology. Vol.77, No.3, Hal.543-553.

Greenbaum, Paul E. et al. 2009. Multidimensional Family Therapy for Young
      Adolescent Substance Abuse: Twelve-Month Outcomes of A Randomaized
      Controlled Trial. Journal of Consulting and Clinical Psychology. Vol.77, No.1,
      Hal.12-25.

Santrock, John. 2002. Life-Span Development :Perkembangan Masa hidup, edisi 5, jilid
       I. Jakarta : Erlangga.

Santrock, John. 2002. Life-Span Development :Perkembangan Masa hidup, edisi 5, jilid
       II. Jakarta : Erlangga.

Yuliawati, L., Jenny, and Teguh. 2007. Perubahan Pada Remaja Tanpa Ayah. Arkhe.
      Vol.12, No.1, Hal.9-19.

http://jurnalis-ntt.blogspot.com/2009/02/anak-nakal-salah-orangtua.html

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:4400
posted:7/11/2010
language:Indonesian
pages:6
Description: menjelaskan hubungan orang tua dengan anak dari hasil analisis jurnal dan buku dari segi psikologis