Docstoc

Inteligensi

Document Sample
Inteligensi Powered By Docstoc
					                          Inteligensi
                                         oleh

                                    Dody Luhansa




nteligensi adalah salah satu kemampuan mental, pikiran, atau intelektual manusia. Hal
yang dalam istilah bahasa inggris disebut intelligence ini merupakan bagian dari proses-
proses kognitif pada urutan yang paling tinggi (higher oreder congnition). Secara umum,
inteligensi sering disebut sebagai kecerdasan, sehingga orang yang memliki inteligesi
tinggi sering pula disebut sebagai orang yang cerdas atau jenius.

Para ahli belum memiliki satu kesatuan pendapat mengenai definisi intelegensi, karena
intelegensi merupakan suatu konsep yang kompleks; suatu kesatuan yang terdiri dari
sejumlah kemampuan atau kapasitas pikiran (Wechsler, 1975). Meskipun demikian,
kiranya perlu disampaikan salah satu definisi mengenai inteligensi agar orang
memperoleh gambaran yang lebih sederhana, sehingga mudah dipahami dan diingat.

Satu definisi kerja tentang inteligensi manusia diajukan oleh Solso (1988) di dalam
perspektif kogntif dan pemrosesan informasi. Solso mendefinisikan inteligensi sebagai
kemampuan memperoleh dan menggali pengetahuan; menggunakan pengetahuan
untuk memahami konsep-konsep konkret dan abstrak, dan menghubungkan diantara
obyek-obyek dan gagasan-gagasan; menggunakan pengetahuan dengan cara-cara yang
lebih berguna (in a meaningful way) atau efektif.



Intelegensi Sebagai Kemampuan
Kemampuan Mengklasfikasikan Pola-Pola Obyek

Semua orang mempunyai kemampuan intelegensi normal, mampu mengenali dan
mengklasifikasikan stimulus-stimulus yang tidak identik ke dalam satu kelas atau
rumpun. Misalnya, kemampuan mengkalsifikasikan meja, kursi, sebagai perabot rumah
atau mannga, jambu, pisang sebagai buah-buahan.



Kemampuan Beradaptasi (Kemampuan Belajar)

Orang yang memiliki intelegensi tinggi mampu beradaptasi dengan tuntutan (termasuk
perubahan) lingkungan dimana dia berada. Sebaliknya orang yang mempunyai
intelegensi rendah tidak memiliki kemampuan untuk berdaptasi, sehingga sering
memiliki kesulitan untuk meyesuaikan diri dengan tuntutan (perubahan) lingkungan,
baik alam maupun sosial-budaya.



Kemampuan Menalar Secara Deduktif

Orang yang intelegen mampu menalar secara logika deduktif; menarik kesimpulan
tertentu berdasarkan premis yang mendahului. Misalnya, semua makhluk hidup akan
mati, manusia adalah makhluk hidup, jadi keimpulannya adalah manusia juga akan mati.




Kemampuan Menalar Secara Induktif (Membuat Generalisasi)

Penalaran induktif meminta sesorang menarik kesimpulan di balik informasi yang
diberikan. Misalnya, seseorang yang membeli merek televisi “Aman” sebanyak tiga kali
dan ketiganya rusak, dia kemudian menyimpulkan bahwa televisi “Aman” mudah rusak
maka bisa dikatakan bahwa dia telah melakukan penalaran induktif.



Kemampuan Mengembangkan dan Menggunakan Konsep

Kemampuan ini meliputi bagimana seseorang membentuk suatu kesan-pemahaman
mengenai cara-cara suatu obyek bekerja dan berfungsi, dan bagaimana menggunakan
model itu untuk memahami dan menginterpretasikan kejadian. Contoh, ketika bola
dijatuhkan dari atas pada awalnya pantulannya keras, tapi lama kelamaan akan
melemah. Konsep ini dapat digunakan untuk memahami atau menerangkan efek
pemberitaan di media massa. Pada awal-awal pemberitaan respon masyarakat terhdap
berita itu akan sangat tinggi, namun lama kelamaan akan melemah.



Kemampuan Memahami

Kemampuan ini adalah kemampuan untuk melihat hubungan dari suatu masalah, dan
kemudian mencari pemecahan masalahnya.



Karakteristik Perilaku Intelegen
Menurut Wechsler (1975) ada empat karakteristik perilaku intelegen:

   1.   Adanya kesadaran (condition of awareness)
   2.   Mempunyai tujuan (goal directed)
   3.   Rasional
   4.   Memiliki nilai dan kegunaan
Dalam teori informal tentang intelegensi, Robert Joseph Sternberg menyatakan ada tiga
dimensi yang menjadi karakteristik perilaku intelegen:

    1. Dimensi kemampuan memecahkan masalah praktis
       Beberapa cirinya adalah:
       a. Cenderung melihat kesinambunagn tujuan dan mnyelesaikannya.
       b. Mampu membedakan dengan baik antara jawaban yang benar dan salah.
       c. Mampu menerapkan pengetahuan untuk masalah-masalah khusus.

    2. Dimensi keseimbangan dan integrasi intelektual
       Beberapa cirinya adalah:
       a. Mendengarkan (memperhatikan) semua segi dari suatu masalah.
       b. Mampu melihat segala hal dan menemukan benang merahnya.
       c. Memiliki kemampuan untuk emmahami situasi-situasi yang kompleks.



    3. Dimensi intelegensi kontekstual
       Beberapa cirinya adalah:
       a. Memiliki kemampuan untuk memahami dan menginterpretasikan
          lingkungannya.
       b. Mengetahui apa yang harus dilakukan di dalam kehidupan ini.



Teori-Teori Intelegensi
Teori Faktor

Spearman mengembangkan teori dua faktor dalam kemampuan metal manusia.

    1. Faktor kemampuan umum
       Faktor ini disebut faktor “g”, yaitu kemampuan menyelesaikan tugas atau
       masalah secara umum. Misalnya kemampuan menyelesaikan soal matematika.
    2. Faktor kemampuan khusus
       Kebalkan dari faktor sebelumnya, faktor ini dikenal sebagi faktor “s”, yaitu
       kemampuan menyelesaikan tugasa dan masalah khusus. Misalnya kemampuan
       mngerjakan soal perkalian pada tes matematika.



Cettel (dalam Hakstian dan Cettel, 1978) mengembangkan teori triadik tentang sruktur
kemampuan mental, yang meliputi (1) kapabilitas umum, (2) kemampuan provisional,
(3) kemampuan agensi.



Teori Struktural Intelektual

Menurut teori yang dikembangkan oleh Guilford (1967, 1985), intelegensi didefinisikan
sebagai suatu kumpulan yang sistematik mengenai kemampuan-kemampuan atau
fungsi-fungsi intelektual untuk memproses informasi yang beraneka ragam di dalam
berbagai bentuk. Definisi intelegensi ini mengandung implikasi bahwa masing-masing
kemampuan dasar diidentifikasi melalui konjungsi tiga variabel atau facets. Tiga bagian
itu adalahaktivitas mental atau pikiran (operation), isi informasi (content), dan hasil
informasi (product).




Seperti yang tertera pada gambar tiap bagian masih terbagi lagi menjadi jenis-jenis:

    1. Operations
       Di dalam operation terdapat lima jenis, yaitu:
       a. Evaluation
       b. Convergent production
       c. Divergent production
       d. Memory
       e. Cognition
    2. Product
       Di dalam product bisa ditemukan enam jenis, yaitu:
       a. Unit
       b. Class
       c. Relation
       d. System
       e. Transformation
       f. Implication
    3. Content
       Di dalam content terdapat lima jenis, yaitu:
       a. Visual
       b. Auditory
       c. Symbolic
       d. Semantic
       e. Behavioral



Teori Kognitif

Menurut Sternberg (1985a), inteligensi dibagi menjadi empat komponen:

    1. Metakomponen
    2. Komponen kinerja (performansi)
   3. Komponen akuisisi (perolehan pengetahuan)
   4. Komponen transfer

Selain itu Sternberg juga mengemukakan teori intelegensi yang disebut Triarchic Theory
of Intelligence (1977, 1985, 1995, dikutip dari http://wilderdom.com/personality/L2-
2SternbergTriarchicTheory.html). Teori itu juga merupakan kombinasi faktor “g”
Spearman dan juga komponen yang mendasari pemrosesan informasi, serta teori-teori
Sternberg sebelumnya. Teori inteligensi tersebut dibagi menjadi tiga subteori:




   1. Analytical (componential)
   2. Creative (experiential)
   3. Practical (contextual)

Teori dari Sternberg kebanyakan berasal dari observasinya mahasiswa program sarjana
di Universitas Yale. Sternberg percaya bila inteligensi didefinisikan dan diukur dengan
baik, maka hal itu kan terwujud menjadi kesuksesan di dunia nyata.



Teori Inteligensi Majemuk (Multiple Intelligence)

Teori inteligensi majemuk ini dikembangkan oleh Howard Gardner di awal tahun
1980an. Menurut Gardner inteligensi didefinisikan sebagai kemampuan untuk
menyelesaikan dan memecahkan masalah dan menciptakan produk (karya). Dia
mengemukakan bahwa ada tujuh jenis kecerdasan yang dimiliki manusia.

   1.   Inteligensi bahasa (verbal or linguistic intelligence)
   2.   Inteligensi matematika-logika (mathematical-logical intelligence)
   3.   Inteligensi ruang (spatial intelligence)
   4.   Inteligensi musik (musikal intelligence)
   5.   Inteligensi gerak tubuh (bodily-kinesthatic intelligence)
   6.   Inteligensi intrapersonal
   7.   Inteligensi interpersonal



Inteligensi dan Pemrosesan Informasi
Cara paling mudah untuk mengetahui apakah seseorang berinteligensia tinggi atau tidak
adalah dengan mengamati orang tersebut ketika memproses informasi, dan cermati
indikator-indikator yang menunjukkan orang tersebut inteligen atau tidak. Berdasarkan
hasil-hasil penelitian tentang kemampuan pemrosesan informasi, indikator-indikator itu
adalah ingatan jangka pendek, pengetahuan umum, penalaran dan pemecahan masalah,
dan perilaku adaptasi (Schunn dan Reder, 2001; Solso, 1987).




   1. Ingatan jangka pendek (short-term memory)
      Orang yang mempunyai inteligensi tingi cenderung lebih cepat dan akurat dalam
      memproses informasi.
   2. Pengetahuan umum (general knowledge)
   3. Penalaran dan pemecahan masalah (reasoning and problem solving)
   4. Adaptasi (adaptiveness)


Peran Inteligensi bagi Keihidupan Manusia

Sejak inteligensi umum diperkenalkan oleh Spearman pada tahun 1904, sampai
sekarang, inteligensi (IQ) masih dianggap relevan untuk dibicarakan ketika orang
berbicara tentang kemampuan mental umu (GMA-General Mental Ability). Inteligensi
merupakan hal yang sangat berguna untuk memahami manusia secar utuh, inteligensi
umum juga berperan penting dalam pencapaian kualitas hidup atau kesehatan dan
kesuksesan seseorang di dalam dunia karir dan akademik. Pandangan itu didasarkan
pada hasil-hasil penelitian yang dihimpun oleh penulis dalam artikel-artikel khusus
(Journal of Personality and Social Psychology, Volume 86, 2004), untuk memperingati
satu abad setelah Spearman memperkenalkan inteligensi umum sebagai kemampuan
kognitif manusia.

Contoh lainnya, misalnya, hasil penelitian yang dihimpun Schmidt dan Hunter (2004)
menunjukkan bahwa inteligensi umum (GMT) dapat memprediksi pencapaian jabatan
dan kinerja seseorang dalam dunia kerja. Kuncel, Hezlett, dan Ones (2004) dengan
menggunakan Miller Analogies Test (MAT) menunjukkan bahwa inteligensi umum
merupakan prediktor yang andal bagi prestasi akademik, potensi karir, kreativitas, dan
kinerja seseorang.



Inteligensi sebagai Faktor Genetik atau Lingkungan

Hasil-hasil penelitian genetik menunjukkan bahwa faktor genetik atau hereditas dan
lingkungan memberi andil terhadap inteligensi yang dimiliki seseorang. Akan tetapi
andil yang paling besar ada pada genetik sebesar 50%-80%. Di dalam perspektif
perkembangan, pengaruh terbesar dari lingkungan terhadap inteligensi terjadi pada
masa kanak-kanak, kemudiab mengalami penurunan setelah umur mereka bertambah
dewasa. Sebaliknya, semakin dewasa usia anak maka faktor genetik makin bear
pengaruhnya terhadap inteligensi (Plomin dan Spinath, 2004)

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:3452
posted:7/10/2010
language:Indonesian
pages:6