Docstoc

isi laporan PT.PANASIA

Document Sample
isi laporan PT.PANASIA Powered By Docstoc
					                                              PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




                                   BAB 1
                           PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Praktek Kerja Industri
   Berdasarkan kebijaksanaan pemerintah pada Garis-Garis Besar Haluan Negara
tahun 1983, menetapkan bahwa tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah
menghasilkan manusia pembangunan yang mampu berperan sebagai tenaga
terampil tingkat menengah yang layak bekerja dalam berbagai sektor
pembangunan. Sehingga kita sadar akan adanya ketergantungan yang tidak dapat
dihindari antara pendidikan menengah kejuruan di satu pihak dan dunia kerja di
lain pihak.
   Juga berdasarkan lampiran keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
tentang kurikulum 2004 sekolah menengah kejuruan, yaitu dokumen landasan.
Pada program dan kurikulum 2004 sekolah menengah kejuruan ini disebutkan
bahwa peningkatan mutu dan revelansi sekolah menengah kejuruan diarahkan
untuk mengembangkan suatu system yang utuh dan mantap sehingga terjadinya
kesinambungan antara dunia pendidikan dan dunia kerja.
   Misi penbentukan manusia pembangunan yang mampu berperan sebagai
tenaga terampil tingkat menengah yang layak kerja maupun mandiri dalam
berbagai kemampuan kejuruan, semuanya di jabarkan secara sistematis dalam
Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) berbagai program studi dalam
kurikulum 2004 sekolah menengah kejuruan.
   Serangkaian mata pelajaran yang mendukung tercapainya tujuan suatu
program studi dialokasikan dalam waktu dan jumlah kredit yang memadai,
sebagaimana tertera dalam struktur program yang bersangkutan. Dalam dunia
studi, senantiasa teralokasikan sejumlah kredit untuk pengalaman kerja lapangan
yang lama pelaksanaannya selama tiga bulan.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                        1
                                                PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




1.2 Tujuan Praktek Kerja Industri


      Parktik kerja industri (Prakerin) adalah proses pembelajaran yang
dilakukan siswa didunia usaha/industri secara sistematik dan terarah untuk
mendapatkan pengalaman yang sesuai dengan bidang keahlian mereka sehingga
mereka menjadi calon tenaga kerja yang siap pakai dan profesional memenuhi
standar Dunia Usaha / Dunia Industri (DU/DI).
      Praktik Kerja Industri merupakan salah satu Pendidikan Sistem Ganda
(PSG). Yang tujuannya adalah :
   a. Untuk mengembangkan, memperluas dan memantapkan keterampilan
       yang membentuk kemampuan siswa sebagai bekal untuk memasuki
       lapangan kerja yang sesuai dengan program studi yang di pilih.
   b. Untuk menumbuh-kembangkan dan memantapkan sikap profesional yang
       diperlukan siswa untuk memasuki lapangan kerja sesuai bidangnya.
   c. Untuk meningkatkan pengenalan siswa pada aspek-aspek yang potensial
       pada lapangan kerja antara lain struktur organisasi, jenjang karir dan
       manajement usaha.
   d. Untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk memasyarakatkan diri
       pada usaha atau iklim lingkungan kerja yang sebenarnya, baik sebagai
       pekerja penerima maupun        sebagai pekerja sendiri, terutama yang
       berkenaan dengan kedisiplinan kerja.
   e. Untuk meningkatkan, memperluas dan menetapkan proses penyerapan
       teknologi baru dari lapangan kerja ke sekolah dan sebaliknya.
   f. Memperoleh masukkan dan umpan balik guna memperbaiki dan
       menghambat kesesuaia program pendidikan kejuruan.


1.3 Tujuan Penulisan Laporan Praktek Kerja Industri
   a. Agar siswa mampu memahami, memantapkan dan mengembangkan apa
       yang di peroleh dari sekolah dan bagaimana penerapannya di dunia kerja.
   b. Siswa di latih mengembangkan daya pikir dalam menghadapi pokok-
       pokok yang berhubungan dengan situasi yang ada.



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                            2
                                              PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




   c. Siswa di latih aktif dan kreatif dalam mengembangkan pekerjaan atau
        analisa dalam bentuk karya tulis.
   d. Melatih siswa dalam membuat atau menarik kesimpulan dari analisa yang
        di buat.
   e. Melatih siswa untuk mengeluarkan pendapat dan mempertanggung-
        jawabkannya.


1.4 Pembatasan Masalah


    Berdasarkan hasil pengamatan selama praktik kerja industri yang dilakukan di
PT.PANASIA FILAMENT INTI 1 penyusun mencoba membatasi masalah yang
meliputi tentang proses pencelupan dari bahan polyester dengan zat warna
dispersi, pencelupan, pencapan dan finishing dari bahan poliester dengan zat wana
reaktif dan zat warna pigment dengan urutan proses sebagai berikut :
    1. Persiapan penyempurnaan
    2. Proses pencelupan
    3. Proses Pencapan
    4. Penyempurnaan khusus
        -Penyempurnaan Kimia
        -Penyempurnaan Fisika
    5. Proses akhir produksi ( finishing)


1.5 Sistematika Penyusunan Laporan


LEMBAR PENGESAHAN INDUSTRI
LEMBAR PENGESAHAN SEKOLAH
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I     PENDAHULUAN
          1.1 Latar belakang
          1.2 Tujuan praktik kerja industri



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                          3
                                                PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




          1.3 Tujuan pembuatan laporan
          1.4 Pembatasan Masalah
          1.5 Sistematika Penyusunan Laporan
BAB II    TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN
          2.1 Sejarah Singkat Perusahaan
              2.1.1 Sejarah Pendirian Perusahaan
              2.1.2 Permodalan
              2.1.3 Pemasaran
          2.2 Visi dan Misi Perusahaan
              2.2.1 Visi Perusahaan
              2.2.2 Misi Perusahaan
          2.3 Struktur Organisasi PT. Panasia
          2.4 Tugas dan Tanggung Jawab
          2.5 Ketenaga Kerjaan
              2.5.1 Penggolomgan dan Jumlah Tenaga Kerja
              2.5.2 Pengaturan Waktu Kerja
              2.5.3 Sistem Pengupahan
              2.5.4 Kesehatan dan Keselamatan Karyawan
          2.6 Sarana dan Prasarana
              2.6.1 Fasilitas
              2.6.2 Sarana Penunjang
                    2.6.2.1 Quality Control
                    2.6.2.2 Pemeliharaan Tempat Kerja dan Lingkungan Hidup
BAB III LANDASAN TEORI
         3.1 Serat Polyester
         3.2 Persiapan Penyempurnaan
            3.2.1 Penghilangan Kanji
            3.2.2 Pemasakan
            3.2.3 Relaksasi
            3.2.4 Pemantapan Panas
            3.2.5 Pengurangan Berat



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                        4
                                              PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




        3.3 Pencelupan
             3.3.1 Pencelupan Serat
         3.4 Printing
            3.4.1 Zat Warna Dispersi
            3.4.2 Definisi Zat Warna Dispersi
            3.4.3 Klasifikasi Zat Warna Dispersi
            3.4.4 Pencapan Serat Poliester dengan Zat Warna Dispersi
            3.4.5 Thickening (pengental)
            3.4.6 Auxilliries
        3.5 Pencucian
        3.5 Penyempurnaan Khusus
            3.5.1 Penyempurnaan Kimia
            3.5.2 Penyempurnaan Fisika
BAB IV KEGIATAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI
        4.1 Deskpipsi Kegiatan
            4.1.1 Proses Persiapan Penyempurnaan
            4.1.2 Proses Bakar Bulu
            4.1.3 Proses Penghilangan Kanji
            4.1.4 Proses Pemasakan
            4.1.5 Proses Relaksasi
            4.1.6 Proses Pemantapan Panas
            4.1.7 Proses Pengurangan Berat
            4.1.8 Proses Pencucian (Netralisasi)
            4.1.9 Proses Pencelupan
                 4.1.9.1 Proses Pencelupan Kain
                 4.1.9.2 Proses Pembuatan Lingkaran Warna
                 4.1.9.3 Pembuatan Segitiga Warna
            4.1.10      Proses Printing
                 4.1.10.1 Persiapan Proses Printing Pada Kain
                 4.1.10.2 Pembuatan Printing Pasta
                 4.1.10.3 Pengecekan Printing Pasta



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                  5
                                               PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




                 4.1.10.4 Perhitungan Printing Area
                 4.1.10.5 Reduction Cleaning (R/C)
                 4.1.10.6 Proses Pengujian Thickening
                 4.1.10.7 Pembuatan Printing Pasta Skala Laboratorium.
                     4.1.10.7.1 Perhitungan L, a, b
                 4.1.10.8 Proses Pencapan dengan Zat Warna Reaktif
                 4.1.10.9 Proses Pencapan Zat Warna Pigment
                 4.1.10.10 Proses Pencapan dengan Thickening Sintetik.
                 4.1.10.11 Cara Pengujian Ketahanan Luntur
                 4.1.10.12 Proses Pencapan Zat Warna Reaktif dengan
                           Variasi Urea dan Dalam Proses Fixasi
        4.2 Flow of Process

BAB V PEMBAHASAN
BAB VI PENUTUP
        6.1 Kesimpulan
            6.1.1 Proses Persiapan Penyempurnaan
        6.2 Saran
            6.2.1 Saran Untuk Pihak Sekolah
            6.2.2 Saran Untuk Pihak Industri


DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR LAMPIRAN




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                    6
                                               PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




                                   BAB II
                    TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN


2.1 Sejarah Singkat Perusahaan


    Untuk melengkapi persyaratan pendidikan maka kami sebagai siswa
melaksanakan Praktik Kerja Industri, yang bertempat di Kabupaten Bandung.
Nama Perusahaan      : PT. PANASIA FILAMENT INTI 1
Alamat Perusahaan    : Jalan Cisirung 95 Moch. Toha Km. 6-8 Bandung


2.1.1 Sejarah Pendirian Perusahaan


       Pada tahun 1950-1973, PT.PANASIA ini pertama memulai usahanya

dalam industri textil dengan sistem melakukan dyeing atau pencelupan dan

printing atau pencapan skala rumah yang pada waktu itu di beri nama

PT.HARAPAN DJAJA empat bersaudara dengan industri hilir yang memproduksi

kain polyester untuk wanita pada tahun 1975.

       Pada tahun 1987 berdiri PT.PANASIA COTTON Alam Mills yang

sekarang menjadi PT.PANASIA FILAMENT INTI II (PT.PANAFL II) dan pada

tahun 1988 karena kebutuhan bahan baku benang amat besar, maka berdiri

PT.PANASIA SYNTETIC ABADI (POLIESTER FILAMENT YARN) yang

sekarang menjadi PT.PANASIA INDOSINTEC I.

       Pada tahun 1989 bergabung PT.PANASIA SYNTETIC ABADI dengan

PT.HARAPAN DJAJA empat bersodara, dan sejak saat itu PT.HARAPAN

DJAJA telah menjadi industri terpadu.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                       7
                                            PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




         Pada tahun 1990 PT.HARAPAN DJAJA namanya diubah menjadi

PT.HADTEX INDOSYNTEC yang sekarang di sebut PT.PANASIA FILAMENT

INTI I (PANAFIL I), yang pada akhir tahun 1990 PT.HADTEX INDOSYNTEC

unit fiber menjadi PT.PANASIA INDOSYNTEC.

         Pada tahun 1992 berdiri PT.PANASIA INDOSYNTEC ABADI UNIT

FIBER yang kemudian pada awal tahun 1993 bergabung dengan PT.HADTEX

INDOSYNTEC. Pada tahun 1993 PT.HADTEX INDOSYNTEC mulai GO

PUBLIC di bursa efek jakarta.

         Pada tahun 1994 berdiri PT.HADTEX INDO GERMAN DAN

PT.PANASIA FILAMEN III (PANAFIL III). Pada tahun 1995 PT.HADTEX

INDOSYNTEC berubah menjadi PT.PANASIA INDOSYNTEC Tbk. dan

terdaftar di bursa efek Jakarta bersama dengan PT.PANASIA FILAMENT INTI

Tbk.

         Pada tahun 1996 berdiri PT.INTI TEXTURINDO MEGAH., PT.Fiberindo

Inti Prima Tanggerang.dan PT.Sinar Panca Jaya Semarang. Pada tahun1998

berdiri PT.PANASIA SPUNBONT dan PT.TRITAMA TEXSIDORAYA.

       PT. PANASIA FILAMENT terdiri dari beberapa Departemen diantaranya :
 Departemen persiapan
 Departemen pertenunan (Weaving)
 Departemen pencelupan (Dyeing)
 Departemen pencapan ( Printing)
 Departemen pengepakan (Verpacking)
       Untuk membantu kegiatan produksi terdapat unit departemen penunjang
meliputi Departemen tekhnik umum dan administrasi.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                        8
                                              PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




2.1.2     Permodalan
          Untuk menunjang kegiatan produksi agar lebih maju membutuhkan biaya
yang besar, oleh karena itu dalam permodalan PT. PANASIA FILAMENT INTI
diperoleh dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan saham keluarga
tehnico.


2.1.3     Pemasaran
          Dalam masalah pemasaran PT. PANASIA FILAMENT INTI tidak
mengalami kesulitan karena sudah mempunyai pelanggan atau costumer yang
tetap, baik lokal maupun luar negeri. Adapun untuk memenuhi kebutuhan
pelanggan lokal 20%, sedangkan untuk pelanggan eksport atau luar negeri
sebanyak 80%, akan tetapi dalam jumlah pelanggan tidak tetap seperti itu kadang-
kadang berubah.
          Untuk lokal yang merupakan pelanggan atau customer tetap di
PT.PANASIA FILAMENT INTI adalah : Bandung, Surabaya, dan Jakarta.
Sedangkan pelanggan tetap diluar negeri pelanggan tetap diluar yaitu negara-
negara yang berada diwilayah Timur Tengah, Asia Afrika, Asia dan Amerika
latin.
          Untuk pemasaran luar negeri PT. PANASIA FILAMENT INTI berusaha
agar pengiriman barangnya bisa tepat pada waktunya karena jarak yang jauh, jadi
perencanaan pengiriman barang benar-benar sudah diperhitungkan.


2.2 Visi dan Misi Perusahaan
     2.2.1 Visi perusahaan
     Menjadi perusahaan yang diakui dikalangan industri tekstil dalam
menghasilkan produk dan jasa yang berkualitas.
         2.2.2 Misi Perusahaan
         Memproduksi dan menjual barang tekstil yang baik dan harganya bisa
bersaing kepada konsumen dalam negeri maupun luar negeri.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                         9
                                                 PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




2.3 Struktur Organisasi
    Struktur organisasi dalam sebuah perusahaan sangatlah penting karena
dengan adanya struktur organisasi maka kedudukan, tanggung jawab dan
wewenang menjadi lebih jelas dan terarah, jika sudah demikian maka perusahaan
akan berjalan dengan baik dan lancar.
    Struktur organisasi yang digunakan oleh PT. PANASIA FILAMENT INTI
adalah sistem garis. Dalam sistem ini membuktikan adanya saling keterkaitan
atara pimpinam dan bawahan yang keduanya sekaligus turut bertanggung jawab
terhadap kelangsungan produksi di perusahaan.
          SISTEM GARIS BESAR PT. PANASIA FILAMENT INTI 1

                                      Direktur Utama


                                          Direksi


                                     Factory Manager


                                      Kepala Bagian


                                        Kepala Seksi




 Laboratorium         Pretreatment                  Dyeing   Finishing    QC




                                        Kepala Shift


                                        Kepala Regu


                                         Operator
       Gambar 2.3.2 Struktur Organisasi Departement Dyeing & Finishing



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                     10
                                             PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




  2.2.3 Tugas dan Tanggung Jawab


1 Direktur Utama
        Direktur utama mempunyai wewenang yang penuh dalam organisasi
perusahaan. Presiden direktur diangkat dan diberhentikan dalam rapat umum
pemegang saham.
        Tugas dan tanggung jabnya adalah :
   Membuat kebijakan perusahaan yang dihasilkan dari pertemuan antar
     pimpinan.
   Menagani segala harta kekayaan perusahaan.
   Memeriksa pembukuan surat penting yang menunjang keberadaan dan
     kelangsungan perusahaan.
2. Direktur
   Mengatur kegiatan kepal bagian serta memberi pembinaan pada bawahan
     dalam melaksanakan kegiatan perusahaan.
   Menyusun kegiatan dan anggaran kerja untuk mencapai sasaran perusahaan.
   Dapat mengambil alih operasional terutama apabila kegiatan tidak dapat
     diatasi.
3. Factory Manager
   Melepas hasil kerja dan perkembangan secara periodik.
   Melaksanakan proses yang telah ditetakan dalam budgeting.
4. Manager Pembelian
   Membuat perencanaan pembelian produksi yang dibuat oleh PPIC.
   Memutuskan peralihan supplier dengan alasan yang kuat.
5. Manager Pemasaran
   Membuat rencana penjualan.
   Melaksanakan tugas penjualan produk baik eksport maupun lokal.
   Melaporakan hasil penjualan kepada direktur utama.
   Memonitor pekerjaan dibidang pemasarandan administasi.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                    11
                                                PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




6. Kepala Bagian
       Terdiri dari kepala bagian personalia, kepala bagian akutansi, kepala
bagian Dyeing Finishing (DF), Kepala bagian pemasaran (merangkap kepal
bagian pengepakan), Kepala bgian teknik umum kepal bagian pajak, Kepala
bagian eksport import, Kepala bagian gudang (merangkap production planning
and inventory control).
7. Kepala Bagian Pajak
   Mengurus perhitungan pajak perusahaan dan pajak pegawai.
   Membuat laporan perhitungan pajak perusahaan setiap bulan.
8. Kepala Bagian Pemasaran
   Membuat prosedur yang jelas mengenai cara pengepakkan untuk kain lokal
     dan kain eksport.
   Merencanakan panyaluran hasil produksi.
   Bertanggung jawab atas seluruh dokumen pengiriman dan penerimaan
     produksi.
9. Kepala Bagian Akuntansi
   Membuat laporan keuangan.
   Membuat        anggaran    perencanaan   tentang   seluruh   pengeluaran   dan
     pemasukan.
   Mencatat segala pengeluaran uang kas perusahaan.
10. Kepala Bagian Pertenunan
   Melakukan pengawasan tugas terhadap hasil produksi agar kelancaran
     produksi bisa tercapai.
   Mengatur dan mengevaluasi terhadap tugas-tugas yang diberikan oleh atasan
     serta memberikan laporan penyimpangan yang terjadi.
11. Kepala Bagian Dyeing Finishing (DF)
   Melakukan perubahan-perubahan yang perlu agar diperoleh kualitas dan
     kuantitas produk sesuai dengan yang direncanakan.
   Menagatur dan mengevaluasi tugas yang diberikan atasan.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                          12
                                              PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




12. Kepala bagian personalia
   Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kepegawaian.
   Menetapkan kepegawaian dan standard tarif upah karyawan.
   Menyeleksi karyawan baru.
   Meningkakan efisiensi kerja dan produktivitas serta melakukan pembinaan
     terhadap karyawan.
13. Kepala Bagian Teknik Umum
   Membuat jadwal pemeliharaan dan perbaikan mesin, utilitas (berhubungan
     dengan persediaan air, uap dan angin) dan elektronik agar kegiatan produksi
     dapat berjalan dengan lancar.
   Bertanggung jawab atas perencanaan, pengkoordinasian, pengarahan, dan
     pengawasan atas pelaksanaan operasi yng bersifat teknis.
14. Kepala Bagian Ekspot dan Import
   Menetapkan omset penjualan Eksport.
   Menetapkan jumlah biaya Eksport dan Import.
   Melaksanakan standard prosedur operasi pemasarn Eksport dan Import.
15. Kepala Bagian Logistik
   Membuat rencana kerja bagian pelaksanaan produksi mengenai spesifikasi
     produksi yang harus di selesaikan sehinggamenjadi efektif dan efisien.
   Membuat rencana produksi mulai dari bahan baku sampai bahan jadi.
16. Kepala Seksi
   Wajib melaporkan apabila terjadi kerusakan yang dapat mengakibatkan
     kegiatan produksi terhambat.
   Menjalan tugas dari kepala bagian masing-masing serta mempertanggung
     jawabkan dengan laporan mengenai kegiatan yang sedang berlangsung gina
     memperlancar pendelegasian tugas masing-masing departement.
17. Kepala Shift
   Bertanggung jawab kepada kepala seksi.
   Bertanggung jawab dalam operasi mesin produksi.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                         13
                                              PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




18. Kepala Regu
   Menjalankan tugas dari kepala shift masing-msing serta mempertanggung
     jawabkan dengan memberikan keterangan yang bersangkutan dengan
     memberikan keterangan yang bersangkutan dengan bagiannya.
   Mengawasi kerja operator.
19. Operator
   Menjalankan mesin-mesin produksi guna memperlancar kegiatan produksi
     dan memberikan laporan kepada kepala regu.


2.5 Ketenaga Kerjaan
       Jumlah karyawan di PT.PANASIA FILAMENT INTI 1 sebanyak sekitar
±450 orang, pembagian di PT.PANASIA FILAMENT INTI 1 adalah berdasarkan
tenaga kerja bulanan, tenaga kerja hariaan.. Untuk penerimaan karyawan baru
akan dilaksanakan bila ada karyawan yang keluar. Ada tingkatan pendidikan di
PT.PANASIA FILAMENT INTI 1 yang berujuan untuk memudahkan dalam
pemberian pengarahan dalam menggunakan mesin-mesin produksi yang akan
dipergunakan.
       Sistem penerimaan tenaga kerja yang berlaku di PT.PANASIA
FILAMENT INTI 1 dibuat dengan cara penyeleksian yang cukup ketat sesuai
dengan kebutuhan perusahaan.
       Adapun prosedur penerimaan tenaga kerja adala sebagai berikut :
1. Penerimaan surat lamaran kerja ke personalia bisa lewat pos atau pengiriman
   langsung dengan datang sendiri ke perusahaan. Surat lamaran harus dilengkapi
   dengan surat-surat yang diperlukan.
2. Pengisian formulir.
3. Tes pengetahuan umum.
4. Tes Physikologi.
5. Pemeriksaan kesehatan.
6. Interview.
7. Setelah tes keseluruhan yang dilakukan oleh personalia memenuhi syarat,
   mereka dinyatakan lulus oleh personalia.



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                       14
                                               PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




8. Wawancara oleh departemen yang bersangkutan.
9. Tes kecerdasan berupa lisan maupun tulisan.
10. Orientasi dan persiapan training.
      Sedangkan persyaratan untuk karyawan baru ada dua macam yaitu syarat
    umum dan syarat khusus.
    Adapun syarat umum sebagai berikut :
1. Pendidikan minimal lulusan SMA, kecuali untuk penetapan dibagian tertentu
    yang menghendaki syarat pendidikan yang lebih tinggi.
2. Usia minimal 18 tahun, tinggi badan minimal 155cm untuk produksi kecuali
    jika perusahaan menginginkan lain..
3. Sehat jasmani dan rohani yang di nyatakan dokter dari perusahaan.
4. Diutamakan belum berpengalaman kecuali perusahaan menentukan lain.
5. Memberikan keterangan yang benar pada saat wawancara.
6. Berkelakuan baik yang dinyatakan oleh pihak yang berwenang.
      Adapun syarat khusus sebagai berikut :
1. Tidak mempunyai hubungan keluarga baik secara langsung maupun tidak
    langsung dengan salah satu karyawan yang masih aktif bekerja di
    perusahaaan.
2. Untuk karyawati mau menagguhkan masa kehamilannya minimal dua tahun
    sejak diangkatmenjadi karyawan tetap.
3. Belum pernah bekerja di PT. PANASIA FILAMENT INTI 1.
4. Lulus fisik dan mata.
5. Lulus tes atau memenuhi persyaratan lainnya baik yang berhubungan
    langsung dengan pekerjaan ataupun tes lain yang dipandang perlu dilakukan
    oleh perusahaan.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                     15
                                                      PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




2.5.1     Penggolongan Tenaga Keja
         Tenaga kerja di PT. PANASIA FILAMENT INTI 1 terdiri dari beberapa
         golongan yaitu :
1. Tenaga kerja bulanan terdiri dari :
         Tenaga kerja staf yaitu karyawan yang menduduki jabatan mulai dari
            kepala shift sampai manager.
         Tenaga kerja bulanan Biasanya (bukan staf) yaitu tenaga kerja mulai dari
            tingkat kepala regu kebawah.


2.   Tenaga kerja harian
         Tenaga kerja harian tetap yaitu karyawan menjadi tenaga kerja bulanan.
         Tenaga kerja harian lepas yaitu tenaga kerja yang di bayar harian atau
            tidak terikat oleh peraturan perjanjian kerja.


2.5.2     Pengaturan Waktu Kerja
  Berdasarkan Undang-Undang kerja yang di tentukan oleh pemerintah, PT.
PANASIA FILAMENT INTI 1 menetapkan sistem kerja 40 jam perminggu atau 1
jam berlaku untuk karyawan shift, dan bagi karyawan nonshift dengan waktu 40
jam perminggu 7 jam setiap harinya dengan istirahat 60 menit dengan pengaturan
waktu kerja yang dikelompokan menjadi tiga shift ditambah dengan yang
nonshift.




            Tabel 2.5.2 Hubungan pengaturan waktu karyawan nonshift
 Hari Kerja                           Jam Kerja                 Istirahat
 Senin - jum’at                       08.00 - 16.00             12.00-13.00
 Sabtu                                08.00 – 12.00




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                          16
                                                 PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




               Hubungan pengaturan waktu untuk karyawan shift
 Pembagian Shift                 Jam Kerja                Istirahat
 Shift A                         06.00 - 14.00            10.00 - 11.00
 Shift B                         14.00 - 22.00            18.00 - 19.00
 Shift C                         22.00 - 06.00            03.00 – 04.00


        Hari minggu atau hari libur merupakan hari libur bagi karyawan nonshift
kecuali Idul Fitri dan Tahun baru, seluruh karyawan diliburkan apabila masuk
kerja dianggap lembur.
        Pengabsenan dilakukan pada saat karyawan masuk dan pulang kerja
dengan menggunakan kartu absen dan sidik jari. Dengan demikian tujuan dari jam
kerja PT.PANASIA FILAMENT INTI 1 adalah untuk melaksanakan efisiensi dan
produktivitas kerja.


2.5.3     Sistem Pengupahan
        Pengupahan diatur dan diberikan berdasarkan pada perusahaan dengan
mempertimbangkan beberapa hal diantaranya yaitu : pengalaman, pendidikan,
tugas dari karyawan, kemampuan, kecakapan usaha atau prestasi karyawan,
disesuaikan dengan ketentuan pemerintah berdasakan upah minimum kerja.
        Sistem pengupahan karyawan menjadi tiga golongan :
1. Upah bulanan satu yaitu upah yang diberikan pada karyawan, yang berstatus
    kerja
   Harian, karyawan tersebut dibayar setiap bulan terhitung tanggal 28 bulan
   berikutnya misalnya operator.
2. Upah bulanan dua yaitu upah yang diberikan pada karyawan bagian umum
   atau       staf yang dibayarkan setiap bulan terhitung sejak tanggal 1 hingga
   tanggal 1 bulan berikutnya.
3. Upah bulanan tiga yaitu upah yang diberikan kepada karyawan mulai dari
   tingkatan seksi sampai manager yang dibayarkan setiap bulan terhitumg sejak
   tanggal 3 sampai tanggal 3 berikutnya.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                        17
                                                PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




         Selain mendapatkan gaji pokok harian karyawan yang mendapatkan
tunjangan, jabatan, upah lembur, premi, dan tunjangan lainnya pengupahan yang
di hitung berdasarkan jam kerja misalnya :
1) Dalam satu hari tidak bekerja maka upah satu hari hilang 100 % ditambah
   preminya hilang 25 %, dua hari tidak hadir upah satu hari hilang 100 %
   ditambah premi hilang 50 %, tiga hari tidak hadir naik upah maupun premi
   hilang 100 % selama satu hari.
2) Tidak hadir tetapi ada surat atau keterangan disetujui dan tidak diketahui oleh
   perusahaan maka upah satu hari tetap hanya preminya saja yang berkurang.
   Untuk satu hari tidak bekerja dengan keterangan maka premi akan berkurang
   25 %, dua hari tidak bekerja maka premi hilang 50 %. Dan tiga hari tidak
   bekerja maka premi berkurang 100 %.
3) Tidak hadi karena cuti tahunan hanya preminya saja yang hilang. Upah lembur
   adalah yang diberikan pada karyawan yang melakukan pekerjaan selain jam
   kerja ataupun diluar jam kerja, untuk pelaksanaan lembur harus mengikuti dan
   mentaati UU maupun peraturan pemerintah yag berlaku.


2.5.4    Kesehatan dan Keselamatan karyawan
         Dalam hal kesehatan dan keselamatan kerja PT.PANASIA FILAMENT
INTI 1 berusaha menerapkan peraturan UUD No.1 Tahum 1970 yang menyangkut
masalah kerja.
         Mengingat keselamatan kerja sangat diutamakan di PT.PANASIA
FILAMENT INTI 1, maka dilakukan beberapa tindakan keamanan dan
keselamatan yaitu :
   1 Menyediakan alat pelindung antara lain :
         Pakaian khusus bekerja
         Sarung tangan
         Masker
   2. Menempatkan tabung-tabung pemadam kebakaran.
   3. Memasang alat-alat pengatur suhu, tanda-tanda peringatan pada daerah –
         daerah yang berbahaya.



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                          18
                                                PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




      4. Menyediakan sarana medis.
      5. Larangan-larangan merokok di area pabrik.
      6. Memperkerjakan petugas keamanan untuk melakukan pengawasan.
      7. Memasang ventilasi udara dan pemasangan etiket –etiket pada daerah
         berbahaya.
         Mengenai masalah kesehatan karyawan, perusahaan memberikan jaminan
melalui pemeriksaan dan perawatan kesehatan oleh dokter perusahaan. Apabila
perusahaan tidak mampu maka dokter mengirim pasien kerumah sakit yang telah
ditunjuk oleh perusahaan dengan biaya rumahsakit ditanggung sepenuhnya oleh
perusahaan.


2.6      Sarana dan Prasarana Perusahaan
2.6.1     Fasilitas
         Seluruh karyawan di PT.PANASIA FILAMENT INTI 1 tergabung dalam
Pekerja Serikat Indonesia (PSI), sehingga jika ada hal-hal yang sekiranya akan
merugikan kesejahteraan karyawan maka bisa melaporkan ke PSI, Namun pihak
perusahaan pun berusaha meningkatkan kesejahteraan karyawan. Hal ini
dilakukan dengan memberi fasilitas dan tunjangan diantaranya :
      1. Pemberian premi.
      2. Makan satu kali sehari selama kerja.
      3. Pembagian seragam kerja satu kali setahun.
      4. Pengobatan yang bebas 100 % jika melakukan prosedur yang ada.
      5. Jamsostek, asuransi kecelakaan, jaminan hari tua dan lain-lain.
      6. Pemberian pinjaman koperasi.
      7. Tersedfianya angkutan transportasi antar jemput.
      8. Sarana ibadah berupa mushola.
      9. Sarana olah raga.


2.6.2     Sarana Penunjang.
      Mesin-mesin yang digunakan di PT.PANASIA FILAMENT INTI




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                      19
                                              PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




   1. Mesin Andless
          Mesin ini digunakan pada saat menggulung kain yang tebal untuk
      proses pencucian kanji di Mesin Rotary Washer.
   2. Mesin Unroll
          Mesin ini digunakan pada saat menggulung kain yang tipis untuk
      proses pencucian kanji di Mesin Zet Dyeing.
   3. Mesin Scouring Continous
          Mesin ini digunakan untuk menghilangkan kanji pada proses
      penghilangan kanji pada tahap penyempurnaan serat-serat kain. Mesin ini
      menerima suply kain dari mesin Andless, yaitu kain – kain yang tebal.
   4. Mesin Zet Dyeing
          Mesin ini digunakan untuk menghilangkan kanji pada proses
      penghilangan kanji pada tahap penyempurnaan serat-serat kain. Mesin ini
      menerima suply kain dari mesin Unroll, yaitu kain – kain yang tipis.
      Dengan flow proses:
              dyeing → dry→ intermediate → setting→ final set.
                         ↓                       ↓            ↓
                  Temp.160 0C              Temp. 160 0C      Temp. 150 0C
                                           Speed:40m/s


      Intermediate adalah proses penyediaan stock kain yang dibutuhkan pada
      proses pencelupan ataupun pencapan agar tidak terlalu banyak kain yang
      terbuang.
   5. Mesin Stenter
          Untuk proses heat sets dan juga proses presets
   6. Mesin Continous Weight Reduces
           Mesin ini digunakan untuk Proses pengurangan berat. Pada umumnya
      serat polyester memiliki serat yang lebih keras di bandingkan dengan serat
      alam sehingga jika dipegang akan terasa kasar, hal ini disebabkan karena
      pada permukaan serat polyester terdapat bagian yang berbentuk kristal




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                         20
                                                PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




      (keras). Agar serat menjadi lembut, permukaan permukaan keras tersebut
      harus dikikis.
   7. Mesin Expose Blenset
          Mesin ini digunakan pada proses pengexpossan motif gambar yang
      dikirimkan dari unit CADCAM ke unit Screen untuk di cetak gambit motif
      tersebut kedalam screen rotary.
   8. Mesin Expose Screen Master
          Mesin ini digunakan pada proses pengexpossan motif gambar yang
      dikirimkan dari unit CADCAM ke unit Screen untuk di cetak gambit motif
      tersebut kedalam screen flat.
   9. Mesin Flat Screen
          Mesin ini digunakan pada proses printing untuk skala lapangan. Pada
      mesin flat screen ini, jalannya kain pada mesin secara mendatar. Dengan
      ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
      a. Ukuran screen / repeat       :      62 / 80 cm
      b. Kecepatan                    :      5 – 7 m/s
      c. Density                      :      sesuai jenis kain
      d. Rakel karet                  :      60 psi
      e. Jarak                        :      1 – 2 mm
      f. Pengepasan motif             :      sesuai motif
             Memasang kain pada looper melalui rool densimatic sampai ke
              bagian gulung roti.
             Mengisi setiap screen dengan printing pasta sesuai dengan urutan
              screen dan printing pasta.
             Mengepaskan motif atau gambar.
             Mengatur tekanan tiap rakelnya.
      g. Pengamatan selama proses
             Memeriksa printing pasta pada screen, pengisian jangan terlambat.
             Memeriksa pengepasan gambar, jika tidak sesuai stel setting
              pointernya.
             Memeriksa kondisi screen mampat atau bocor tidak.



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                        21
                                               PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




             Memeriksa tekanan rakel.
             Memeriksa air untuk sikat blanket washer jangan sampai kosong.
   10. Mesin Rotary Screen
              Mesin ini digunakan pada proses printing skala lapangan. Pada
      mesin rotary screen ini, jalannya kain pada mesin secara berputar.
      Keunggulan mesin ini yaitu dapat dengan lebih cepat memprint lapisan
      kain dengan perbandingan 2 : 1. ketentuan-ketentuan pada mesin ini yaitu:
      a. Ukuran screen / repeat     :       32 – 64 cm
      b. Kecepatan                  :       30 – 70 m/s
      c. Tekanan padder             :       2,5 – 4 ton
   11. Mesin Steamer H.S STORK
          Mesin ini digunakan untuk proses steam atau proses fixasi. Proses
      steam atau fixasi ini dikaukan untuk mematangkan warna dari printing
      pasta yang menempel pada kain dengan corak warna-warna yang masih
      mentah menjadi matang. Ketentuan-ketentuan yang berlaku adalah sebagai
      berikut:
      a. Temperatur burner 1        :       222 – 228 0C
      b. Temperatur burner 2        :       240 – 245 0C
      c. Uap kering ruangan         :       170 – 178 0C
      d. Uap basah ruangan          :       2 – 5 kg f/cm
      e. Water colone               :       2 – 3 mm
      f. Loop length 1              :       2 – 2,75 m
      g. Loop length 2              :       2–3m
      h. Speed 1                    :       24 – 25 m/s
      i. Speed 2                    :       24 – 27 m/s
   12. Mesin Winch Washing Contious
          Mesin ini digunakan untuk proses pencucian (washing). Setiap kain
      yang akan dicuci ditentukan dulu resep pencuciannya sesuai dengan jenis
      kain, bentuk motif, thickening, printing pasta dan auxilliries lain yang
      digunakan.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                            22
                                                            PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




                  Proses    pencucian    atau     netralisasi   dilakukan    dengan   tujuan
           mengembalikan kondisi kain setelah mengalami proses persiapan yang
           sebelumnya, agar zat-zat yang masih menempel dapat lepas sehingga kain
           menjadi benar-benar netral dan bersih, terutama dari alkali.


SCREEN                        Coating 3 kali ( Foil dikasih Rumah 5 Pixel )
PRINTING                      Standard Normal ( Harnes Rakel 60 )
STEAM                         Normal 175 oC X 8
R/C




           13. Mesin Resin Finishing
                             Silicon     Anti        Bahan      Bahan       Bahan     Bahan
        RESEP     Silicon
                            Softener    Static         X           Y         Z         A
           A       12 gr      6 gr      0,5-1gr         -          -          -         -
           B        7 gr      4 gr      0,5-1gr         -          -          -         -
           C        5 gr      7 gr      0,5-1gr         -          -          -         -
           D        3 gr      5 gr      0,5-1gr         -          -          -         -
           E        5 gr      7 gr      0,5-1gr         -          -          -         -
           F         -          -          -         1 gr/l     0.5 gr/l      -         -
           G         -          -          -            -          -        5 gr      15 gr




        Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                               23
                                             PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




2.6.3   Sarana Menunjang
2.6.3.1 Quality Control (QC)
        Quality control adalah pengendalian mutu terhadap barang-barang hasil
produksi agar sesuai dengan standard spesifikasi yang diharapkan oleh pemesan.
Tujuan dari Quality Control itu sendiri adalah untuk mempertankan dan untuk
meningkatkan mutu atau kualits barang yang dihasilkan demi kebutuhan dan
memuaskan customer.


2.6.3.2 Pemeliharaan Tempat Kerja dan Lingkungan Hidup
        Suatu proses produksi dalam suatu Industri selain menghasilkan sesuatu
yang positif juga dapat berdampak negatif.
        PT. PANASIA FILAMENT INTI 1 berusaha untuk menjaga dan
memelihara tempat kerja dan lingkungan hidup di sekitar masyarakat dan
meminimalkan dampak negatif tersebut.
        Hal ini dibuktikan dengan :
    Adanya pengolahan air limbah sebelum air limbah tersebut dibuang
        kesungai.
    Pembuatan sungai yang aliran airnya bermuara kesungai besar Citarum.
    Melakukan pengolaha         limbah dari departement DF antara lain
        menurunkan pH larutan sebelum dibuang kesungai.


        Pemeliharaan kebersihan juga dilakukan di tempat kerja, hal tersebut
bertujuan untuk memajukan semangat bekerja yang lebih baik bagi para pekerja.
        Usaha-usaha kebersihan lingkungan dilakukan dengan :
    Menyedikan tempat sampah di detiap departement dari sudut jalan.
    Menempatkan petugas kebersihan disetiap departement.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                       24
                                               PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




                                    BAB III
                           LANDASAN TEORI

1.1 Serat Polyester

   Tekstil adalah bahan yang berasal dari serat yang diolah menjadi benang atau

kain sebagai bahan untuk pembuatan busana dan berbagai produk kerajinan

lainnya. Dari pengertian tekstil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa

bahan/produk tekstil meliputi produk serat, benang, kain, pakaian dan berbagai

jenis benda yang terbuat dari serat. Pada umumnya bahan tekstil dikelompokkan

menurut jenisnya sebagai berikut:


   1. Berdasar jenis produk/bentuknya: serat staple, serat filamen, benang, kain,
       produk jadi (pakaian / produk kerajinan dll)
   2. Berdasar jenis bahannya: serat alam, serat sintetis, serat campuran
   3. Berdasarkan jenis warna/motifnya: putih, berwarna, bermotif/bergambar
   4. Berdasarkan jenis kontruksinya: tenun, rajut, renda, kempa. benang
       tunggal, benang gintir

       Pengetahuan tentang jenis dan sifat serat tekstil merupakan modal dasar

bagi mereka yang akan terjun di Industri tekstil dan fashion Pengetahuan tentang

jenis dan sifat serat tekstil sangat diperlukan untuk mengenali, memilih,

memproduksi, menggunakan dan merawat berbagai produk tekstil seperti serat,

benang, kain, pakaian dan tekstil lenan rumah tangga lainnya. Karakteristik dan

sifat bahan tekstil sangat ditentukan oleh karakteristik dan sifat serat

penyusunnya. Disamping itu sifat-sifat bahan tekstil juga dipengaruhi oleh proses

pengolahannya sperti dari serat dipintal menjadi benang, dari benang ditenun



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                         25
                                                 PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




menjadi kain kemudian dilakukan proses penyempurnaan hingga menjadi produk

jadi. Oleh karena itu untuk memahami lebih jauh tentang bahan tekstil diperlukan

pengetahuan tentang karakteristik dan sifat berbagai jenis serat dan teknik

pengolahannya menjadi bahan tekstil.


         Untuk lebih jelasnya proses pengolahan mekanik dan kimia dari serat

menjadi produk tekstil dapat dilihat pada tabel berikut.


                       TABEL PENGOLAHAN SERAT TEKSTIL


                                             Teknologi
      Proses Produksi                                                   Hasil
                                   Mekanik                 Kimia
Serat Alam                     Pertanian (kapas)    Pupuk          Serat alam
                               yute,linen)          Organik        seperti sutera,
                                                    Nonorganik     kapas, wool,
                               Peternakan
                                                                   yute, linen,
                               (sutera, wool)
                                                                   sisal dll
Serat Sintetis                 Pemintalan leleh     Polymerisasi   Filamen/staple
                                                                   serat polyester
                               Pemintalan
                                                                   , nilon, rayon,
                               kering
                                                                   Benang nylon,
                                                                   polyester
                               Pemintalan basah
Benang                         Pemintalan           Tidak          Benang kapas,
                                                    membutuhkan benang sutera,
Bahan dari serat alam dan      Mesin Blowing,
                                                    zat kimia      benanhg wool,
serat campuran dalam           Carding
                                                    secara         benang
bentuk serat pendek(staple)    Drawing, ring
                                                    signifikan     campuran
                               spinning/sistem
                                                                   (alam dan
                               rotor.
                                                                   sintetis)



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                             26
                                                  PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




Kain tenun/rajut               Mesin                Proses          Kain grey
                               Penganjian           penganjian      tenun
                                                    dengan kanji
                               Mesin warping,                       Kain rajut
                                                    sintetis dan
                               mesin cucuk,
                                                    kanji alam
                               Mesin tenun,
                               Mesin rajut,
                               Mein tenun
                               jacquard, dobby
                               dsb
Kain non woven                 Mesin kempa          Resin, kimia    Kain non
                               (mesin press)        analisis, kimia woven
                                                    organic,
                                                                    Seperti kulit
                                                    polimer.
                                                                    sintetis dsb
                                                    Proses kimia,
Pewarnanaan                    Mesin Cap            Teknologi zat   Kain berwarna
                               (screen printing     warna, Kimia
(Pencelupan dan Pencapan)                                           Kain bermotif
                               dll), Mesin celup    Tekstil, obat
                               (padding, Jigger     Bantu, kimia
                               Box, Jet dyeing      fisika, kimia
                               dll ),               analisis
Finishing (penyempurnaan)      Mesin                Kimia Tekstil, Kain halus,
                               penyempurnaaan, Resin,               berkilau ,
sebagain proses dilakukan
                               bakar bulu,          bioteknologi,   langsai, kain
sebelum proses pewarnaan (
                               desizing,            kimia organic, dengan tujuan
Proses bakar bulu,
                               bleaching,           kimia           khusus anti
desizing,bleaching,scouring)
                               scouring,            fisika,kimia    api, anti air,
                               pemasakan,           analisis        kain dengan
                               mesrcerisasi ,                       sifat sifat
                               mesin sanforis,                      khusus.dsb
                               spreading, heat




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                                27
                                                    PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




                               setting, anti air,
                               anti susut
Pakaian (Garmen)               Pembuatan              Tidak ada      Pakaian ,
                               disain, pola,          proses kimia   kemeja ,
                               Mesin jahit,           secara         celana
                               pasang kancing,        signifikan
                               mesin potong,
                               mesin prres

       Karakteristik dan sifat serat juga sangat menentukan proses pengolahannya
baik dari sisi pemilihan peralatan, prosedur pengerjaan maupun jenis zat-zat kimia
yang digunakan. Selama proses pengolahan tekstil sifat-sifat dasar serat tidak akan
hilang. Proses pengolahan tekstil hanya ditujukan untuk memperbaiki,
meningkatkan, menambah dan mengoptimalkan sifat dasar serat tersebut sehingga
menjadi bahan tekstil berkualitas sesuai tujuan pemakaiannya.

       Poliester adalah suatu polimer (sebuah rantai dari unit yang berulang-
ulang) dimana masing-masing unit dihubungkan oleh sebuah sambungan ester.
Sebagai suatu poliester sintetis, bahan utama yang digunakan adalah polyethylene
terephthalate (PET), yang di buat dari asam terephthalic dan ethilene glycol (EG).
Serat poliester yang bersifat hidrofobik umumnya dicelup dengan zat warna
dispersi. Zat warna dispersi adalah zat warna organik yang dibuat secara sintesis,
yang kelarutannya dalam air sedikit dan merupakan larutan dispersi. Zat warna
tersebut digunakan untuk mewarnai serat-serat sintetis atau serat tekstil yang
bersifat hidrofobik. Dalam pemakaiannya, zat warna dispersi memerlukan zat
pembantu yang berfungsi untuk mendispersikan zat warna dan mendistribusikan
zat warna secara merata. Zat warna dispersi dapat mewarnai serat poliester dengan
baik dengan memakai metoda zat pengemban, dengan temperatur tekanan tinggi
atau dengan cara Thermosol.
       Nama lazim dari polyester adalah poli(etilen tereftalat). Nama sehari-
harinya tergantung pada apakah digunakan sebagai serat atau sebagai material




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                            28
                                                PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




untuk membuat produk seperti botol untuk minuman ringan. Jika digunakan
sebagai serat untuk membuat kain, biasanya sering hanya disebut poliester.
terkadang juga dikenal dengan nama perdagangannya seperti Terilen atau Dacron.
Jika digunakan untuk membuat botol biasanya disebut PET.
Pembuatan Polyester.
        Bahan baku untuk pembuatan poliester yang sekarang dipakai adalah PTA
dan EG dengan rumus molekul sebagai berikut :
        Etilena yang berasal dari penguraian minyak tanah dioksidasi dengan
udara, menjadi etilena oksida yang kemudian di dehidrasi menjadi etilena glikol.
        Asam tereftalat dibuat dari para-xilena yang harus bebas dari isomer meta
dan orto. Pemisahan dilakukan dengan kristalisasi, p-xilena membeku pada suhu
250C. Oksida dengan asam Nitrat pada suhu 2200C dan tekanan 30 atmosfer
merubah p-xilena menjadi asam tereftalat. Cara lain adalah dengan oksidasi p-
xilena dengan udara dan katalisator kobalt toluat pada suhu 200C, menjadi asam
toluat yang diesterkan menjadi metil toluat dan oksidasi selanjutnya terjadi
monometil tereftalat. Monometil tereftalat atau asam tereftalat diubah menjadi
dimetil tereftalat.
        Asam tereftalat atau esternya dan etilena glikol dipolimerisasikan dalam
tempat hampa udara dan suhu tinggi. Polimer disemprotkan dalam bentuk pita dan
kemudian dipotong-potong menjadi serpih-serpih dan dikeringkan.
        Pada tahap polimerisasi, ester sederhana ini dipanaskan pada suhu sekitar
260°C dan pada tekanan rendah. Dalam hal ini diperlukan sebuah katalis misalnya
senyawa-senyawa antimoni seperti antimoni(III) oksida. Poliester yang terbentuk
dan setengah dari etana-1,2-diol dilakukan pembaharuan yang selanjutnya
dilepaskan dan disiklus ulang sesuai reaksi :
        Bila dimethyl terephtalate (DMT) dipergunakan sebagai bahan mentah,
gabungan metanol harus di ubah menjadi EG. Tahap ini disebut penggantian ester.
        Pada polimerisasi kondensasi, jika monomer - monomer bergabung
bersama, ada sebuah molekul kecil yang hilang. Ini berbeda dengan polimerisasi
adisi yang menghasilkan polimer seperti poli(eten) - dimana pada proses ini tidak
ada yang hilang ketika monomer-monomer bergabung bersama. Sebuah poliester



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                          29
                                                PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




dibuat dengan sebuah reaksi yang melibatkan sebuah asam dengan dua gugus -
COOH, dan sebuah alkohol dengan dua gugus -OH.
         Pada poliester umum terdapat: asam benzen-1,4-dikarboksilat (nama lama:
asam tereftalat) dan alkohol yaitu etana-1,2-diol (nama lama: etilen glikol).
         Senyawa-senyawa ini secara bergantian terbentuk ester dimana masing-
masing gugus asam dan masing-masing gugus alkohol, kehilangan satu molekul
air setiap kali sebuah sambungan ester terbentuk. Hasilnya sesuai dengan reaksi
dibawah kimia ini :
         Ester-ester sederhana mudah dihidrolisis melalui reaksi dengan asam atau
basa encer. Poliester diserang dengan mudah oleh basa, tetapi jauh lebih lambat
oleh asam encer. Hidrolisis dengan air saja sangat lambat sehingga hampir tidak
diperhitungkan. (Poliester tidak akan terurai menjadi bagian-bagian kecil jika
terkena air hujan). Jika ditumpahkan basa encer pada sebuah kain yang terbuat
dari poliester, maka sambungan-sambungan esternya akan putus. Etana-1,2-diol
terbentuk bersama dengan garam asam karboksilat. Karena dihasilkan molekul-
molekul kecil dan bukan polimer asli, maka serat-serat kain tersebut akan hancur,
dan terbentuk sebuah lubang pada kain.
         Sebagai contoh, jika mereaksikan poliester dengan larutan natrium
hidroksida, reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
         Seperti dengan nylon, poliester juga dipintal leleh. Kebutuhan–
kebutuhannya sama seperti untuk nylon, kecuali peralatannya harus mempunyai
ketahanan yang lebih tinggi terhadap panas, karena titik lelehnya lebih tinggi, dan
perencanaan pengatur udara dalam ruang pemintalan agak berbeda.
         Untuk proses after–stretching, poliester harus dipanaskan sampai kurang
lebih 900C. Bagian penarik dari draw-twister filamen mempunyai rol penyuapan
dan rol – rol penarikan dua tingkat. Benang yang belum di tarik diberi penarikan
pendahuluan di antara rol – rol penyuap dan rol penarik pertama, dan kemudian
terjadi penarikan utama di rol pertama dan kedua, sementara benangnya di
panaskan mulai pada rol pertama, yang permukaannya dipertahankan pada suhu
9000C.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                           30
                                              PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




       Pada penarikan utama benangnya di lewatkan di atas sebuah flat panas di
mana suhu permukaannya dipertahankan pada suhu tetap antara 1300 – 1500C.
Tujuan penggunaan plat panas tersebut adalah untuk mempermudah penarikan
dan untuk menstabilkan struktur dalam dari serat yang sudah di tarik, sistim
kontrol pemanasan dan suhu harus di rencanakan dengan sangat teliti agar suhu
rol dan suhu plat panas konstan.
       Bagian – bagian utama dari mesin harus kukuh dan dikerjakan dengan
ketelitian tinggi untuk mempertahankan kecepatan tarik dan konstan. Perhatian
demikian harus diberikan untuk menjamin mutu benang yang rata, mutu yang
tidak rata di sebabkan pada tahap ini akan mempengaruhi daya tarik terhadap zat
warna, dan menyebabkan pencelupan yang tidak rata atau noda – noda pada kain
tenun atau rajut.
       Menurut kebiasaan lapisan permukaan dari gulungan benang diambil
sebagai contoh untuk diteliti mutunya. Cara ini tidak memuaskan karna tidak
selalu ada hubungan antara bagian permukaan dan bagian dalam yang
menyangkut ketidak rataan atau cacat benang. Akhir – akhir ini telah
dikembangkan sejenis instrumen baru yang dapat dapat mengukur ketidak
teraraturan tiap benang yang sedang berjalan,dan mendeteksi perubahan –
perubahan sifat – sifat dielektrik.
       Dengan mempergunakan alat ini seluruh produk dapat diperiksa tanpa
kekurangan benang sedikit pun. Ini memungkinkan mesin penarikan bekerja terus
sambil dilakukan pemeriksaan benang yang telah di tarik terhadap kerataan.
Pada pembuatan serat staple penarikan di lakukan dengan cara yang sama seperti
pada nylon, ikatan serat dari pemintalan di himpun menjadi besar dan dibawa
ketahap after drawing. Pemanasan dilakukan pada waktu penarikan utama oleh rol
panas, plat panas atau larutan panas.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                        31
                                                PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




                                        Polyester


                                        Scouring

                                        Relaxing

                                       Heat Setting

                                     Weight Reduce

                                     Whitening Agent



         Dyeing                                                       Printing



                                         Finishing


  3.1 Diagram Alir Proses Kain Polyester

       Teknologi dyeing, printing dan finishing (Penyempurnaan tekstil) yang
semakin maju memungkinkan para produsen tekstil/industri tekstil membuat kain
yang seperti sutera padahal bukan sutera, memproses kain dalam larutan kimia
tertentu sehingga sifatnya baik, memberi efek kilau, warna kilap dan langsai
namun hanya bersifat sementara (ketika masih di produsen/toko) sehingga setelah
sekali dicuci (di tangan konsumen) sifatnya berubah. Didukung berkembangnya
teknologi serat sintetis yang semakin pesat sehingga sangat memungkinkan
melakukan teknik mixing (pencampuran serat) pada komposisi struktur benang
(serat alam dan sintetis) yang akan dibuat kain sehingga memiliki sifat sifat
khusus. Ditambah lagi ketersediaan beragam obat bantu tekstil (zat-zat kimia),
macam macam proses penyempurnaan tekstil, teknologi permesinan serta
teknologi proses kimia tekstil sangat memungkinkan rekayasa sifat sifat kain, baik
bersifat sementara (hilang setelah satu kali pencucian) maupun bersifat permanent
(tidak hilang walaupun dicuci berkali kali).




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                            32
                                               PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




       Untuk itu konsumen tekstil perlu memiliki pengetahuan tentang kualitas
bahan tekstil sehingga mampu memilih bahan tekstil yang tepat dan sesuai syarat-
syarat penggunaan dan keinginannya. Pengetahuan tersebut antara lain
pengetahuan sifat dan jenis serat tekstil, pegangannya, ketahanan luntur warna,
tekstur, kenampakannya dan labelisasi tekstil. Berbagai pengetahuan tersebut akan
sangat membantu konsumen tekstil untuk memilih bahan tekstil yang tersedia
dalam beragam kualitas dari yang paling murah hingga yang sangat mahal dengan
tepat dan terhindar dari penipuan serta kekeliruan pembelian baik dari aspek harga
maupun kualitas.

       Pengetahuan tentang kualitas dan pemilihan bahan tekstil ini tidak hanya
penting bagi konsumen tekstil tetapi juga sangat diperlukan bagi para produsen,
pedagang, pelajar, maupun akademisi. Bagi produsen pengetahuan kualitas bahan
tekstil sangat penting untuk pedoman, pelaksaanaan dan pengambilan keputusan
produksi. Bagi pedagang sangat berguna untuk memudahkan proses pemesanan
dan pembelian dari produsen, pengenalan jenis mutu dan kualitas. Bagi pelajar
dan akademisi pengetahuan kualitas bahan tekstil sangat penting untuk
pengembangan keilmuan seperti kegiatan eksperimen dan penelitian.

3.1.1 Persiapan Penyempurnaan Tekstil
       Proses persiapan penyempurnaan merupakan pengerjaan pada bahan
tekstil grey dengan cara kimia atau fisika dengan tujuan menghilangkan segala
macam kotoran dan memperbaiki kenampakan kain dan sifat-sifatnya.
       Proses persiapan panyempurnaan adalah proses yang dilakukan sebelum
proses penyempurnaan, seperti penghilangan kanji (Desizing), pemasakan kain
(Scouring), yang bertujuan untuk menghilangkan kotorn-kotoran yang menempel
ataupun yang terdapat pada serat tersebut dan terbawa sampai menjadi kain. Agar
proses selanjutnya berjalan dengan baik dan penyerapannya baik sehingga pada
saat proses pencelupan zat warna dapat diserap dengan baik dan rata. Pada serat
sintetik tidak memerlukan proses pengelantangan (bleaching), karena pada saat
pembuataanya mengalami pemurnian dan pengelantangan. Namun serat sintetik




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                          33
                                                     PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




biasanya memerlukan proses relaksasi dan juga proses (Weight Reduce) jika
diperlukan.

       Proses penyempurnaan tekstil ini pada umumnya terbagi menjadi 3
tahapan yaitu:

           1. Proses Persiapan penyempurnaan (Pre Treatment)

                 Dalam proses persiapan penyempurnaan ini bahan tekstil yang
                 masih mentah (kain grey) diolah menjadi kain putih sehingga dapat
                 diproses lanjut celup, cap ataupun finishing agar memenuhi standar
                 kualitas yang diharapkan.

           2. Proses Pencelupan dan Pencapan

                 Pada proses ini dilakukan proses pemberian warna dan motif pada
                 bahan tekstil sehingga bahan memiliki warna dan motif tertentu.

           3. Proses Finishing (penyempurnaan khusus)

                 Pada proses ini dilakukan pengolahan bahan tekstil agar memiliki
                 sifat-sifat khusus sehingga memenuhi syarat-syarat penggunaan
                 tertentu seperti anti kusust, anti air, anti susut, anti api, anti bakteri,
                 efek creep, efek kilap dan lainnya.

1.1.1 Penghilangan kanji (Desizing)

       Proses penghilangan kanji dilakukan pada kain tenun, yang bertujuan
menghilangkan kanji yang terdapat pada benang lusi, karena pada saat proses
petenunan benag lusi banyk mengalami gesekan, agar tidak putus maka benang
lusi diberi kanji sehingga menjadi kuat. Kanji tersebut akan menghalangi proses
pencelupan jika tidak dihilangkan, karena kanji yang terdapat pada kain akan
menghalangi zat warna masuk kedalam serat dan hasil pencelupannya akan belang
dan tampak tidak rata. Prinsipnya adalah mengubah kanji yang tidak larut dalam



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                                    34
                                                PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




air menjadi glukosa yang larut dalam air dengan menambahkan zat penghilang
kanji.
         Ada tiga jenis kanji yang dapat digunakan dalam pemberian kanji sewaktu
proses penganjian dalam pertenunan :
    1. Kanji alam (Strach)
         Didapatkan dari alam, seperti kanji yang terbuat dari jagung, tepung dan
lain-lain atau dengan istlah lain adalah natural strach (jagung), modified strach
(tepung tapioka).
    2. Kanji Hewan (Gelatin)
         Proses penghilangan untuk kanji hewan dilakukan dengan cara
perendaman enzim, asam, basa atau alkali dan oksidator.
    3. Kanji Sintetik
         Kanji sintetik adalah kanji yang di buat oleh manusia (kanji buatan)
seperti kanji acrylic, PVA dan lain-lain.


         Menurut sifatnya masing-masing, ketiga kanji tersebut mempunyai sifat
yang berbeda. Adapun sifat dari kanji alam yaitu : mudah didapat, harganya
murah tetapi sangat sulit dihilangkan pada proses desizing (penghilangan kanji).
Sedangkan kanji buatan mudah dihilangkan tetapi harganya sangat mahal. Oleh
karena itu para ahli tekstil mencari alternatif lain supaya ada kanji yang murah dan
tidak sulit saat dihilangkan. Maka pada saat itu ditemukan alternatif yang memang
memudahkan pada saat proses desizing dan harganya tidah mahal, yaitu dengan
mencampurkan dua bahan kanji tersebut sehingga disebut dengan kanji campuran
(kanji semi sintetik).
         Cara identifikasi kanji :
        Tes dengan Iodida dengan menentukan kanji
        Tes untu kanji yang larut, diukur dengan mencuci dalam air kemudian
         dihitung pengurangn beratnya.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                            35
                                               PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




1.1.2 Pemasakan (Scouring)
        Suatu proses penyempurnaan tekstil berupa penghilangan kotoran bawaan
yang terdapat didalam serat (impurities) seperti lilin, lemak dan minyak juga
kotoran luar seperti debu, oli. Zat-zat ini merupakan kotoran dari serat yang akan
menghalangi penyerapan obat pada proses berikutnya. Prinsipnya pada serat alam
dilakukan dengan menggunakan alkali yang mengubah zat-zat pada serat menjadi
mudah larut, sedangkan pada serat buatan dengan zat aktif permukaan yang
bersifat mencuci dan detergent yang akan mengemulsi kotoran yang menempel
pada permukaanya. Proses ini dilakukan setelah desizing sebelum bleaching tetapi
dapat juga di simultan dengan desizing dan bleaching.


1.1.3   Relaksasi (Relaxing)
        Proses Relaxing bertujuan untuk memberi kesempatan pada kain untuk
mengendor sehingga puntiran kain cenderung terbuka dan memberi efek tegangan
lembut, lemas dan bergelombang. Prinsipnya adalah merubah struktur amorf
menjadi kristalin dan biasanya dilakukan secara simultan dengan proses scouring
untuk menghemat waktu sehingga dapat menghemat biaya pula.


1.1.4   Pemantapan panas (Heat Setting)
        Proses pemantapan panas bertujuan untuk menstabilkan dmensi kain. Hal
ini dikarenakan kain sintetik mempunyai sifat termoplastis. Prinsipnya
memanaskan kain sintetik dengan suhu mendekati titik leleh selama wakti tertentu
dengan diberi tegangan atau bentuk. Setelah dimantapkan kain ayau bahan tekstil
harus segera didinginkan supaya dimensinya tidak berubah kembali.


1.1.5 Pengurangan Berat Bahan (Weight Reduce)
        Proses pengurangan berat (Weight Reduce) bertujuan untuk mengurangu
berat kain. Pada umumnya serat plyester memiliki serat yang lebih keras di
bandingkan dengan serat alam sehingga jika dipegang akan terasa kasar, hal ini
disebabkan karena pada permukaan serat polyester terdapat bagian yang




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                          36
                                               PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




berbentuk kristal (keras). Agar serat menjadi lembut, permukaan permukaan keras
tersebut harus dikikis, dan proses pengkikisan ini disebut Weight Reduce.


3.1.2 Pencelupan (Dyeing)
       Pencelupan adalah proses pemberian earna secara merata dan bersifat
permanen dengan menggunakan medium utama air.
       Pencelupan pada umumnya terdiri dari melarutkan atau mendispersikan
zat warna dalam air, kemudian memasukan bahan tekstil bahan tekstil ke dlam
larutan tersebut, sehingga terjadi penyerapan zat warna kedalam serat.
       Dalam proses pencelupan, partikel zat warna masuk kedalam serat dalam
keadaan terdispersi molekuler dan terikat dalam serat. Zat warna dispersi dapat di
buat dari beberapa struktur kimia yang berbeda.
       Struktur kimia yang umum di gunakan dalam zat warna dispersi dan
persentasi penggunaannya adalah sebagai berikut:

      Azo (NN) : 55%
      Diazo (NN-NN) : 10%
      Antrakwinon : 20%
      Lain – lain : 15%

       Zat warna dispersi jenis azo adalah zat warna jenis ini umumnya
mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
a) Daya pewarnaan yang tinggi
b) Pemakaian ekonomis
c) Sifat kerataan celupan bervariasi, ada yang mudah rata ada juga yang sulit
   tetapi secara umum lebih sulit dari jenis antrakwinon
d) Termomigrasi relatif lebih baik dari pada antrakwinon
e) Daya punutup ketidak rataan benang kurang lebih sebanding dengan
   antrakwinon.
       Zat warna dispersi jenis diazo adalah zat warna dispersi yang umumnya
mempunyai sifat yang sama dengan jenis azo tetapi mempunyai daya sublimasi
yang tinggi. Zat warna ini banyak di gunakan untuk warna-warna tua. Karena



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                          37
                                                    PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




makin sulit mahalnya bahan baku antrakwinon maka dewasa ini terdapat
kecenderungan untuk sedapat mungkin menggantikan dengan zat warna jenis azo.
Berbagai macam cara dilakukan untuk membuat zat warna azo yang menyerupai
antrakwinon dalam hal kemurnian kecerahan warna dan sifat yang baik.
        Zat antrakwinon adalah zat warna yang umumnya mempunyai sifat – sifat
sebagai berikut:
a) Warna lebih cerah tetapi daya pewarna lebih rendah.
b) Relatif lebih mahal.
c) Sifat kecerahan dan migrasi relatif lebih baik dari azo.
d) Termomigrasi lebih jelek, bila di bandingkan dengan azo.
e) Daya penutupan ketidakrataan benang yang baik.
f) Daya tahan reduksi / hidrolisa yang baik.
g) Daya tahan sinar umumnya sangat tinggi


Sifat – sifat fisika zat warna dispersi
Kelarutan
        Meskipun Azobenzena, Antrakuinon dan Defilamina dalam bentuk
dispersi dapat mencelup kedalam hidrofop, dalam perdagangan kebanyak zat
warna dispersi mengandung gugus aromatik dan alifatik yang mengikat gugus
fungsional (-OH, -NH2-BHR, dsb.) dan bentuk sebagai gugus pemberi (donor)
Hidrogen. Gugus fungsional tersebut merupakan pengikat dipol (dwikutub) dan
juga membentik ikatan hidrogen dengan gugus karbonol atu gugus asentil dari
serat poliester, seperti pada reaksi dibawah ini:
Reaksi terbentuknya ikatan hidrogen dengan serat poliester
Reaksi terbentuknya ikatan dwikutub dengan serat poliester
        Adanya gugus aromatik OH dan alifatik AH2 dan gugus fungsional yang
lain menyebabkan zat warna sedikit larut dalam air.


Sensitivitas
        Zat warna dispersi yang berupa partikel – partikel kecil tidak mungkin
berada pada keadaan terdispersi yang stabil tanpa adanya zat pendispersi



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                       38
                                                PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




(Dispersing Agent) zat pendispersi ini berfungsi sebagai pelindung di sekeliling
zat warna sehingga adanya gaya elektrostatis yang saling tolak menolak juga
dapat membantu terjadinya stabilitas. Kestabilan dispersi zat warna di pengaruhui
oleh:
a) Jenis zat pendispersi : umumnya yang digunakan adalah jenis an ionik yaitu
   lignin sulfonat yang berasal dari alam tetapi ada pula yang berasal dari
   sintetik.
b) Kualitas dari pigmen zat warna dan ketidakmurnian pigmen zat warna
c) Bentuk kristal dari pigmen zat warna. Bentuk kristal tertentu mudah
   dibersihkan dan ada yang relatip sulit .
d) Distribusi partikel ukuran zat warna


3.1.3 Pencapan (Printing)
        3.1.3.1 Zat Warna Dispersi
        Zat warna dispersi pertama dibuat pada tahun 1923 oleh Baddley dan
Shepherdson dari British Dyestuffe sebagai zat warna Dispersol. Dan Ellis dari
British Cabanase menemukan zat warna S.R.A (Sulpho Ricinolei Acid).
        Zat warna ini mulai ditemukan untuk mencap serat selulosa asetat yang
bersifat hidrofob dan mampu menyerap zat organik yang tidak larut dalam air,
dengan membuatnya dalam bentuk suspensi.
        Penemuan zat dispersi ini menjadi sangat penting dengan ditemukannya
serat sintetik lainnya yang sifatnya lebih hidrofobik daripada serat selulosa asetat,
seperti serat Poliamida, Poliester dan Poliakrilat. Terutama untuk serat poliester
yang kebanyakan hanya dapat dicap dengan zar warna dispersi.


        3.1.3.2 Definisi Zat Warna Dispersi
        Zat warna dispersi adalah zat warna organik yang dibuat secara sintesis,
yang kelarutannya dalam air sedikit dan merupakan zat pendispersi. Zat warna
tersebut digunakan untuk mewarnai serat-serat sintetis atau serat tekstil.
        Zat warna ini mempunyai berat molekul yang kecil dan tidak mengandung
gugus pelarut. Dalam pemakaiannya diperlukan zat pembantu yang berfungsi



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                             39
                                                PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




untuk mendispersikan zat warna dan mendistribusikannya secara merata, yang
disebut zat pendispersi.
       Zat warna dispersi dapat mewarnai serat poliester dengan baik jika
memakai zat pembantu. Zat warna dispersi mula-mula diperdagangkan dalam
bentuk pasta, tetapi sekarang dapat diperoleh dalam bentuk bubuk.


   Sifat-sifat umum zat warna dispersi
a. Tidak larut dalam air, karena tidak mempunyai gugus pelarut didalam struktur
   molekul.
b. Mempunyai titik leleh yang cukup tinggi yaitu 1500C dengan ukuran partikel
   antara 0,5-2 mikron
c. Bersifat non-ionik, walaupun mengandung gugus-gugus – NH2 – NHR – OH
d. Selama proses pencapan dengan zat dispersi tidak mengalami perubahan kimia


   Sifat – sifat kimia zat warna dispersi
       Berlainan dengan serat tekstil yang lain polyester tidak mempunyai gugus
ionik sehingga tidak dapat dicap berdasarkan mekanisme ionik (semi ionik). Serat
ini hanya dapat dicap dengan zat warna non ionik (zat warna.dispersi) yang
praktis tidak larut dalam air.
       Cara melarutkannya dengan bantuan zat lain. Zat warna dispersi di
gunakan dalam bentuk dispersi yang halus dalam air ukuran partikel dispersi 0,5
mikron di sebabkan oleh sifatnya yang hidrofobik maka zat warna ini mempunyai
daya afinitas yang tinggi terhadap serat polyester yang juga bersifat hidrofobik.


       3.1.3.3 Klasifikasi Zat Warna Dispersi
       Zat warna dispersi dapat di golongkan menurut sifat sublimasinya, secara
umum di bagi menjadi 4 kelompok yaitu :
   a) Golongan satu (A)
       Zat warna dispersi ini mempunyai sifat sublimasi rendah tetapi
mempunyai sifat celup yang baik. Karena molekulnya kecil dengan sifat sublimasi
yang rendah biasanya digunakan untuk pencelupan serat rayon, serat poliamida,



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                               40
                                                PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




serat di/tri asetat, dapat juga di gunakan untuk serat poliester yang di bantu
dengan zat pembantu pada temperatur 1000C
    b) Golongan Kedua (B)
          Zat warna dispersi yang mempunyai berat molekul yang relatif kecil
dengan sifat sublimasinya cukup. Memiliki sifat cap yang baik sehingga sangat
baik untuk pencapan polyester dengan zat pembantu pada temperatur tinggi,
kecuali untuk mewarnai warna – warna muda, dengan temperatur yang lebih
rendah.
    c) Golongan Ketiga (C)
          Zat warna dispersi yang mempunyai berat molekul sedang dengan sifat
sublimasi yang baik. Sifat cap dan sublimasi yang baik biasa di gunakan untuk
pencapan dengan zat pembantu.
    d) Golongan Keempat (D)
          Zat warna dispersi yang mempunyai berat molekul besar dengan sifat
sublimasi tinggi. Mempunyai sifat cap yang kurang baik atau sifat sublimasinya
yang paling tinggi tidak dapat di gunakan untuk pencapan dengan zat pembantu.
Tetapi sangat cocok untuk pencapan temperatur tinggi berat molekul ukuran dan
bentuk zat warna dispersi memegang peranan penting, terhadap sifat pencapan.
          Klasifikasi zat warna dispersi terutama berdasarkan sifat pencapannya
dengan metode pencapan cara fixasi, pencucian dan ketahanannya terhadap panas.
Secara umum dapat dikatakan ada korelasi yang kuat antara persyaratan pencapan
dengan beberapa aspek fixasi dengan bantuan dari beberapan zat pembantu atau
auxilliries.
Identifikasi golongan zat warna dispersi
Identifikasi ini ditujukan untuk menentukan golongan zat warna dispersi yang
dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a) 3-5 gram kaprolaktam diletakan dalam tabung reaksi 50 ml diatas nyala api
    bunsen yang kecil.
b) 100-300 mg contoh uji polyester di larutkan didalam masa kaprolaktam yang
    meleleh sambil di aduk dengan pengaduk kaca. Kemudian tabung reaksi
    dijauhkan dari api



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                          41
                                              PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




c) Ditambah 3 ml etanol untuk mencegah supaya kaprolaktam tidak menjadi
   padat.
d) Campuran tersebut didinginkan dibawah suhu 350C, kemudian diencerkan
   dengan 15 ml eter dan disaring.
e) Apabila lapisan eter terwarnai, maka dilakukan dua kali ekstraksi dengan 20-
   30 ml air untuk memisahkan kaprolaktam, dengan menambahkan 2-3 gram
   natrium sulfat untuk mencegah terjadinya emulsi.
f) Lapisan eter dipisahkan kedalam tabung reaksi 35 ml dan ditambah 10 ml air
   bersama-sama dengan beberapa tetes larutan zat pendispersi 10%, misalnya
   marasperse N.
g) Eter diuapkan dengan jalan mendidihkan larutan diatas penangas air.
h) Ditambahkan 100 mg kain asetat putih kedalam dispersi zat warna dalam air
   tersebut, kemudian dibiarkan 10 menit diatas penangas air.
i) Pewarnaan pada kain asetat dalam warna yang sama dengan warna asli contoh
   polyester, menunjukkan adanya zat warna dispersi.
j) Jika warna yang terjadi warna muda, maka menunjukkan adanya zat warna
   bejana atau zat warna yang dibangkitkan.
k) Kain asetat diambil, kemudian dispersi zat warna yang panas dicampur dengan
   3 ml natrium hidroksida IN dan beberapa miligram natrium hidrosulfit sambil
   diaduk-aduk.
l) Apabila warnanya hilang atau berubah dan warna asli tidak timbul lagi pada
   saat dikocok-kocok dengan udara, maka dalam hal ini kain poliester diwarnai
   dengan zat warna yang dibangkitkan.
m) Zat warna bejana akan teroksidasi kewarna semula pada waktu pengocokan
   dengan udara. Apabila polyester telah dicap dengan cara polimer (dope-dyed)
   dengan zat warna pigmen atau dengan zat warna basa, maka ekstraksi lelehan
   kaprolaktam dalam eter hampir-hampir tidak berwarna dan endapan polyester
   pada saringan berwarna dengan jelas.
n) Contoh uji polyester berwarna didihkan dalam asam asetat glasial selama satu
   menit dan larutan tersebut diuapkan diatas penangas air atau penangas uap dan
   sisanya dilarutkan dalam 5 ml air.



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                        42
                                               PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




o) Sepotong kain kapas yang telah dibeitsa dengan tanin atau sepotong kain
   polyakrilat, dimasukan kedalam larutan ektraksi tersebut dan didihkan selama
   satu menit.
p) Adanya zat warna basa akan mewarnai kain kapas yang dibeitsa tanin atau kain
   polyakrilat tersebut.
q) Adanya zat warna pigmen dapat ditentukan dari hasil ekstrasi dengan asam
   asetat glasial yang tidak berwarna atau sisa penguapannya yang tidak larut
   dalam air. Apabila penampang lintang dari serat yang dicelup dengan cara
   pencelupan larutan polymer diperiksa dengan mikroskop akan menunjukkan
   adanya pigmen yang tersebar merata.


3.1.3.4 Pencapan Serat Poliester dengan Zat Warna Dispersi.
       Mekanisme pencapan
       Pencapan serat poliester dengan zat warna dispersi merupakan peristiwa
distribusi zat padat kedalam dua zat pelarut yang tidak dapat dicampur. Dalam hal
ini zat warna dispersi merupakan zat padat yang larut dalam medium serat.
Adsorpsi zat warna. Mekanisme pencapannya adalah sebagai berikut : zat warna
dispersi berpindah dari keadaan agregat dalam printing pasta masuk kedalam serat
sebagai bentuk molekuler. Pigmen zat warna dispersi larut hanya ada dalam
jumlah yang kecil sekali, tetapi bagian zat warna yang terlarut tersebut sangat
mudah terserap oleh serat. Sedangkan bagian yang tidak larut merupakan gudang
atau timbunan zat warna yang sewaktu-waktu akan larut untuk mempertahankan
kesetimbangan.
       Untuk zat warna yang kurang sekali terdispersi pada waktu pencapan rata
– rata pada termperatur 850C akan lebih besar. Kerja zat warna lebih tertarik pada
fasa pasta sehingga pencapan mudah merata walaupun penyerapan kedalam serat
berkurang. Serat poliester mempunyai kristalisasi yang tinggi, bersifat hidrofob
dan tidak mengandung gugusan-gugusan yang aktif sehingga sukar sekali
ditembus oleh molekul. Molekul yang berukuran besar sukar ataupun tidak
bereaksi dengan zat warna anion atau kation.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                          43
                                                 PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




       Dalam praktek serat polyester pada umumnya dicap dengan zat warna
dispersi dan dengan bantuan pengental atau thickening sehingga membentuk
printing pasta, penyerapan zat warna dispersi pada kesetimbangan adalah baik
tetapi pada difusi kedalam serat sangat lambat. Beberapa zat warna dispersi
mempunyai kecepatan difusi yang cukup besar sehingga memungkinkan pencapan
akan mudah atau sedang dalam waktu pencapan yang tidak terlalu lama.
Fungsi Zat-Zat Pembantu
Faktor lain yang tidak dapat diabaikan perannya dalam pencapan adalah zat
pembantu. Sebab zat bantu inilah yang akan menutupi kekurangan atau sifat-sifat
yang kurang menguntungkan dalam suatu pencapan.
       Adapun zat-zat bantu yang umumnya digunakan adalah sebagai berikut :
          Thickener (pengental)
Thickener adalah zat pembantu yang dapat menghantarkan zat warna pada kain.
Sifat thickener (pengental) ini hanyalah sebagai zat pembantu sehingga ketika zat
warna telah terhantarkan kedalam kain, zat pambantu thickener ini akan dibuang.
Thickener yang terdapat di alam hanya 2, yaitu
   a. Yang berasal dari tumbuhan.
       Nama lain dari thickener yang terbuat atau berasal dari tumbuhan ini
       adalah tamarin. Sifat dari thickener thamarin ini adalah sebagai berikut:
           -   penetrasi bagus
           -   memiliki kerataan pada serat kain yang bagus
           -   proses pencucian dengan kostik
           -   menghasilkan warna-warna tua
           -   hasil setelah cuci bagus
   b. Yang berasal dari rumput laut
       Nama lain dari thickener yang terbuat atau berasal dai rumput laut ini
       adalah alginat. Sifat dari thickener alginat ini adalah sebagai berikut :
           -   dapat memberikan hasil print yang bagus pada motif yang di beri
               gliter
           -   dapat memberikan hasil print yang bagus pada motif yang di beri
               foil



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                              44
                                              PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




           -    mudah dicuci
           -    proses pencucian hanya menggunakan air hangat.
   c. thickener pembantu
       bentuk thickener ini biasanya berupa CMC, yaitu (carboksil metil
       celulose). Tapi sekarang CMC sudah jarang digunakan, bahkan tidak
       pernah digunakan karena sekarang telah ada thickener yang telah sekaligus
       megandung CMC (carboksil metil celulose), yaitu CMS (carboksil metil
       stat).


          Zat pendispersi
       Zat pendispersi termasuk jenis surface aktive agent yang terdiri dari
senyawa yang mempunyai berat molekul tinggi dengan gugus-gugus ion dan non
ion tersusun bergantian sepanjang rantai molekulnya.
Penambahan zat pendispersi kedalam larutan dapat meningkatkan kelarutan zat
warna sampai mencapai titik optimum, dimana diatas kelarutan zat warna terlalu
tinggi sehingga zat warna yang telah diserap mudah terlepas kembali.


       Natrium Alginat
       Pengentalan natrium alginat sangat praktis dan relatif mudah dalam
pemakainnya, serta mudah dilarutkan. Sehingga pasta pengental mudah disiapkan.
Lapisan pengental mudah dicuci setelah proses pencapan atau pencelupan,
walaupun pengerjaan fixasi dengan suhu tinggi. Persediaan larutan dapat disimpan
selama 2-3 hari dan untuk melindunginya dari serangan senyawa organik dapat
ditambahkan formaldehida.


       Asam
       Digunakan sebagai pemberi suasana asam pada printing pasta atau pada
thickening. Pencapan poliester dengan zat warna dispersi dapat berjalan dengan
baik apabila ditambahkan asam hingga pH ±5. pH printing pasta ini sangat
berpengaruh terhadap kestabilan zat warna dispersi.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                        45
                                              PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




         Zat pembantu (Auxilliries) yang lainnya adalah sebagai berikut:


                       Fungsi Dyestuff dan Auxilliries
NO               Auxilliries                              Fungsi
 1   Anti Oli                        Sebagai anti oli
 2   Anti Bakteri                    Sebagai anti bakteri
 3   Anti Busa                       Sebagai anti busa
 4   Anti Crease Mark                Sebagai anti kanji
 5   Anti Slip                       Sebagai anti kusut
 6   Anti Static                     Agar tidak ada muatan listrik
 7   Anti Reduksi                    Supaya warna tidak turun
 8   Anti Migrasi / Bleeding         Supya tidak bleber
 9   Softener Agent                  pelembut
10   Resin Silicon                   pelembut
11   Sabun R/C                       Sabun dalam proses pencucian
12   Sabun Scouring                  Menurunkan tegangan permukaan
13   Chelating Agent                 Untuk menurunkan tegangan pada kain
14   Desizing                        Untuk menghilangkan kanji
15   Leveling Agent                  Perata warna
16   Dispersing Levelling Agent      Pendispersi atau pemecah molekul
17   Wetting Agent (Apollotex)       Pembasah
18   Colour Improver                 Menaikkan warna
19   Binder Gliter                   Sebagai lem penampel gliter
20   Binder pigment                  Sebagai lem penampel pigment
21   Binder Foil                     Sebagai lem penampel foil
22   Pemutih Optik                   Untuk memberikan kesan putih bersih
23   Oil Print                       Untuk penetrasi atau penyerapan
24   Asam Organik Pengental          Untuk membuat suasana asam
25   Tio Urea R/C                    Sebagai oksidator
26   Asam Dyeing                     Untuk penambah suasana asam




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                       46
                                                PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




         Ketahanan Luntur
         Ketahanan luntur zat warna dispersi ini dipengaruhi oleh :
a) Faktor utama struktur kimia zat warna meskipun hubungan antara pengaruh
    struktur kimia dan ketahanan lunturnya kurang jelas .
b) Faktor sekunder – aplikasi zat warna. Faktor ini meliputi antara lain metode
    pencapan, kesalahan pada penggunaan thickening, kesalahan penggunaan
    pendispersi, temperatur fixasi, waktu fixasi, jenis bahan yang di cap dan zat
    bantu yang di gunakan.
         Cara Uji Tahan Luntur
         Beberapa ketahanan luntur sering di permasalahkan dapat di sebutkan
antara lain:
a) Daya tahan sublimasi
         Ukuran prilaku zat warna pada fase transisi dari bentuk padat ke bentuk
gas. Sublimasi dapat terjadi pada saat fiksasi zat warna. Dalam pencapan pada
waktu pengerjaan panas (Heat setting finishing) berpengaruh setelah pencapan
daya tahan sublimasi di pengaruhi oleh ukuran molekul zat warna. Makin besar
molekul zat warna makin tinggi daya tahan sublimasinya (menguap masuk
kedalam serat). Selain itu juga tergantung dari pada ikatan zat warna dengan
bahan.
b) Daya tahan luntur terhadap pencucian
         Daya tahan luntur zat warna dispersi dipengaruhi oleh mobilitas molekul
zat warna dan adanya gugus pelarut. Umumnya zat warna dispersi menunjukan
daya tahan luntur yang baik pada polyester dalam penggunaan yang normal, akan
tetapi apabila di inginkan daya tahan luntur dengan menggunakan kain poliamid
sebagai bahan penguji maka seleksi zat warna perlu di lakukan.


c) Daya tahan terhadap thermomigrasi
         Daya tahan luntur dari pencapan bahan polyester sering menurun karena
adanya gabungan pengaruh panas dan sisa zat aktif permukaan yang terdapat pada
serat. Zat aktif permukaan yang sering berpengaruh antara lain:



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                         47
                                                    PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




zat pembantu pencelupan non ionik
zat pelemas
zat anti statik
     Fenomena termomigrasi ternyata bukan hanya terjadi karena pengaruh panas
tetapi juga karena adanya penyimpanan yang lama dari bahan hasil pencapan.
Termomigrasi dapat menyebabkan penurunan:
a) Daya tahan gosokan kering dan gosokan basah
b) Daya tahan luntur terhadap pencucian
c) Daya tahan luntur terhadap air
d) Daya tahan luntur terhadap keringat
e) Daya tahan luntur terhadap sinar
f) Daya tahan luntur terhadap Dry clean.


3.1.4 Pencucian (Washing)
          Setiap akhhir psoses pengerjaan tertentu, pada bahan harus dilakukan
proses pencucian sabun yaitu proses yang bertujuan untuk menghilangkan zat
warna yang tidak terfixasi pada bahan yang telah diproses pencapan sebelumnya,
dengan menggunakan zat yang mengandung suhu antara 80-90ºC. sedangkan
proses pencucian dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cuci panas dan cuci
dingin.


3.1.5 Penyempurnaan Khusus (Finishing)
          Maksud daripada penyempurnaan khusus yaitu penyempurnaan yang telah
atau belum mengenai prosee-proses tertentu, dengan tujuan untuk menambah daya
guna dari bahan tekstil tertentu.
          Berdasarkan arti penyempurnaan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1.Penyempurnaan dalam arti luas yang meliputi teknik penyempurnaan dari bahan
 tekstil dasar sampai menjadi bahan tekstil yang telah siap untuk digunakan baik
 sebagai bahan industri maupun sebagai bahan sandang.
2.   penyempurnaan      dalam       arti   khusus   yaitu   bagian   dalam   teknologi
 penyempurnaan tekstil dalam arti luas yang meliputi cara-cara penyempuraan



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                              48
                                              PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




 tekstil yang telah atau belum mengalami proses tertentu dengan maksud untuk
 dapat memenuhi syarat-syarat penggunaan yang diperlkan seperti memotong
 pinggiran kain dimesin heat cut supaya untuk menghilangkan bekas tusukan
 jarum pada mesin stenter.
       Penyempurnaan ini dilihat dari cara pengerjaan yang dapat dibagi dua
golongan, yaitu:
    1. Penyempurnaan kimia, yaitu untuk penyempurnaan bahan tekstil dengan
        menggunakan larutan kimia sehingga dapat merubah sifat-sifat bahan
        tekstil baik untuk selamanya maupun untuk sementara.
    2. penyampurnaan fisika, yaitu pengerjaan yang diberikan pada bahan tekstil
        untuk menambah sifat yang dimiliki pada bahan itu secara fisik.


    3.1.5.1 Penyempurnaan Kimia
       Penyempuranaan kimia dapat disebut penyempurnaan anti creasemark.
Penggunaan anti crease mark dalam penyempurnaan kimia ini dimaksudkan agar
kain tidak mudah kusut yang tinbul karena suhu tinggi dan air yang mendidih
pada saat pencucian kain hasil pencapan, maka dri itu pada saat proses finishing,
kain hasil pencapan ditambahkan zat anti creasemark.


    3.1.5.2 Penyempurnaan Fisika (mesin cntinous weight reduce)
      Kain yang di proses dengan menggunakan resin finishing
       Yang dimaksud dimaksud dengan kain yang diproses menggunakan mesin
       resin finishing adalah kain diproses dengan penambahan zat-zat seperti
       carcot dengan fungsi fungsi untuk menambah daya kilap dan memberikan
       pegangan supaya lembut.
      Memotong pinggiran kain
       Proses ini dilakukan dengan tujuan untuk merapikan pinggiran kain dari
       tusukan jarum mesin stenter dan kemudian membakar pinggiran kain
       supaya tidak melar.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                         49
                                            PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




    3.1.5.3 Melipat dn Menggulung Kain (mesin inspection)
Bahan-bahan tekstil yang telah disempurnakan dan disiapkan untuk dipasarkan
memerlukan bentuk khusus. Bentuk tersebut dapat berbentuk gulungan roll atau
berbentuk gulungan piece. Yang dimaksud dengan gulungan ialah kain yang di
giulung pada roll atau piece yang telah di inspeksi terlebih dahulu dimesin
inspection.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                    50
                                             PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




                                  BAB IV
         KEGIATAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI

4.1 Deskripsi Kegiatan
4.1.1 Proses Persiapan Penyempurnaan
       Proses persiapan penyempurnaan adalah suatu proses penghilangan
kotoran baik yang bersifat alamiah maupun yang bersifat buatan. Kotoran yang
terdapat di dalam dan di permukaan kain. Tujuan dilakukannya proses persiapan
penyempurnaan adalah untuk mempermudah proses selanjutnya. Proses persiapan
penyempurnaan meliputi proses baker bulu, proses penghilangan kanji, proses
pemasakan, proses relaksasi, proses pemantapan panas, proses pengurangan berat
dan proses pencucian.


4.1.2 Proses Bakar Bulu
       Proses baker bulu adalah proses menghilangkan bulu-bulu yang muncul
pada permukaan kain sebagai akibat dari gesekan-gesekan mekanik dan
peregangan-peregangan pada saat proses pentenunan.
       Prinsip pengerjaan baker bulu adalah melakukan kain pada api (burner)
dengan kecepatan dan yegangan tertentu sehingga bulu-bulu yang akan
mengganggu proses selanjutnya diharapkan dapat hilang.
       Umumnya pembakaran bulu dapat dilakukan pada kain rayon staple atau
campurannya dengan kain polyester. Kain yang akan diproses dimasukan, kain
melewati sikat untuk mengeluarkan bulu dan membersihkan kain yang akan
dibakar kemudian dilewatkan pada kedua burner dengan kecepatan tertentu.


4.1.3 Proses Penghilangan Kanji
       Tujuan proses penghilangan kanji adalah untuk menghilangkan kanji yang
diberikan sebelum proses pentenunan pada benang lusi agar tidak mengganggu
pada proses selanjutnya. Sebelum di tenun, biasanya benang lusi tunggal untuk
kain rayon, kain sintetik, kain campuran serat alam atau sintetik perlu dikanji




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                       51
                                                PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




terlebih dahulu untuk menambah kekuatan dan daya tahan benang-benang tersebut
terhadap gesekan. Bila tidak dikanji terlebih dahulu, benang-benang lusi tersebut
akan mudah putus sehingga mengurangi mutu dan efisiensi kain.


        Pada dasarrnya jenis kain yang biasa digunakan terdiri dari dua jenis, yaitu
kanji alam dan kanji sintetik.
        Kanji alam meliputi :
            Pati, seperti kanji tapioca, kanji jagung (maizena), kanji kentang
               (farina) dan kanji gandum(terigu).
            Proteina, seperti glue (perekat) , gelatin dan kasein.
            Gom, seperti Gom Arab.
            Alginate, seperti Manutex.
            Modifikasi kanji, seperti dekstrin.
        Kanji sintetik meliputi :
            Resin, seperti Polyvinil Alkohol (PVA) dan akrilik.
            DErivat selulosa, seperti tylose (CMC), Hydroksil Etil Selulosa
               dan Metal Selulosa.
            Derivate kanji, seperti starch dan starch eter.


                         RESEP DAN MESIN
KODE                                                             KETERANGAN
              ROTARY WASHER                JET RELAXING
                       NaOH
                                                 NaOH
                     DS 1000G                                    Kain-kain yang di
 TYPE                                          DS 1000G
                  CARCOT AS 40                                    twisting (lusi X
   A                                       CARCOT AS 40
                   CHELATING                                            pakan)
                                             CHELATING

                       NaOH                      NaOH
                     DS 1000G                  DS 1000G               Lusi : sizing
 TYPE
                  CARCOT AS 40             CARCOT AS 40               (marposol)
   B
                   CHELATING                 CHELATING            Pakan : twisting
                       DZSP                      DZSP




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                                 52
                                           PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




                   STEP 1                   STEP 1
                 SODA ASH                 SODA ASH
                    DZSP                    DZSP
                 SNOGEN SB               SNOGEN SB      Lusi : sizing (sky
TYPE
                 CHELATING               CHELATING            bon)
   C
                   STEP 2                   STEP 2      Pakan : twisting
                    NaOH                    NaOH
                  DS 1000G                DS 1000G
                 SNOGEN SB               SNOGEN SB
                   STEP 1
                 SODA ASH
                    DZSP
                 SNOGEN SB                  NaOH
TYPE
                 CHELATING               SNOGEN SB       Kain kringkle
  D
                   STEP 2
                    NaOH
                  DS 1000G


                 SODA ASH                                  Dope Dyed
                                          SODA ASH
                 CHELATING                              Viscose Cationik
TYPE                                     CHELATING
                  DS 1000G                                    Yarn.
   E                                      DS 1000G
               CARCOT AS 40
                                        CARCOT AS 40
                                                           Di twisting
                    NaOH                    NaOH
                  DS 1000G                DS 1000G
TYPE
               CARCOT AS 40             CARCOT AS 40
   F
                 CHELATING               CHELATING
                ANTICREASE              ANTICREASE
                    NaOH                    NaOH
                    DZPS                    DZPS
TYPE
                  DS 1000G                DS 1000G
  G
               CARCOT AS 40             CARCOT AS 40
                 CHELATING               CHELATING




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                    53
                                              PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




                 ANTICREASE                ANTICREASE
                     STEP 1
                                               STEP 1
                   SODA ASH
                                            SODA ASH
                     DZSP
                                               DZSP
                  SNOGEN SB
                                            SNOGEN SB
                  CHELATING
TYPE                                        CHELATING
                     STEP 2
   H                                           STEP 2
                     NaOH
                                               NaOH
                   DS 1000G
                                             DS 1000G
                  SNOGEN SB
                                            SNOGEN SB
                 ANTICREASE
                                           ANTICREASE

                     STEP 1                    STEP 1
                   SODA ASH                 SODA ASH
                     DZSP                      DZSP
                                                               Lusi : sizing (sky
                  SNOGEN SB                 SNOGEN SB
                                                                     bon)
TYPE I            CHELATING                 CHELATING
                                                                 Pakan : non
                     STEP 2                    STEP 2
                                                                   twisting
                   SODA ASH                    NaOH
                  SNOGEN SB                 SNOGEN SB


                   SODA ASH                 SODA ASH
                                                                Sizing yang di
TYPE J          CARCOT AS 40              CARCOT AS 40
                                                                   printing
                  CHELATING                 CHELATING




4.1.4 Proses Pemasakan
       Proses pemasakan kain grey rayon bertujuan untuk menghilangkan
kotoran-kotoran dan serat seperti minyak, lemak, debu, dan lail-lain. Sedangkan
pada serat sintetik atau polyester tidak perlu dilakukan proses pemasakan, karena
sudah dibuat bersih dan murni. Proses pemasakan biasanya disimultankan dengan
proses pengelantangan.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                          54
                                               PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




        Proses pemasakan serat-serat alam dilakukan dengan menggunakan alkali
seperti NaOH dan Na2CO3. NaOH sebagai alkali berfungsi kuat untuk membantu
aktifnya proses pengelantangan. Sedangkan H2O2 berfungsi sebagai zat oksidator
pada proses pengelantangan.


4.1.5 Proses Relaksasi
        Proses relaksasi dikerjakan pada kain polyester dengan maksud untuk
membuka atau mengendurkan puntiran benang yang tegangannya tinggi sehingga
puntiran benangnya cenderung terbuka. Dengan proses ini, dapat diperoleh kain
polyester yang memberi efek pegangan atau handling lembut, lemas dan
bergelombang. [ada proses ini zat yang digunakan dan memberi peranan yang
sangat penting adalah NaOH sebagai alkali yang akan mempermudah benang
untuk membuka putirannya.


4.1.6 Proses Pemantapan Panas
        Proses pemantapan panas bertujuan untuk memperoleh kain yang memiliki
lebar yang lebih seragam dan anyaman kain yang tidak mudah bergeser pada
proses pengerjaan selanjutnya. Prinsip pengerjaannya adalah dengan melakukan
kain pada suatu ruangan berudara panas dengan kondisi kain ditarik kea rah lebar.
Proses pemantapan panas menggunakan suhu pengerjaan yang mendekati kondisi
titik leleh serat kain sehingga memungkinkan untuk terjadinya penstabilan kondisi
kain.
        Proses pemantapan panas terdiri dari tiga macam, yaitu :
        1. Pemantapan panas awal, yaitu pemantapan panas yang dilakukan pada
           kain yang telah mengalami proses penghilangan kanji dan proses
           relaksasi.
        2. Pemantapan panas antara, yaitu pemantapan panas pada kain yang
           akan dilakukan proses pencapan.
        3. pemantapan panas akhir, yaitu pemantapan panas setelah kain
           mengalami proses pencelupan dan atau pencapan.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                         55
                                                        PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




        4.1.7 Proses Pengurangan Berat
               Proses pengurangan berat merupakan proses pengikisan permukaan serat
        polyester dengan larutan alkali pekat pada suhu didih sehingga berat kain
        berkurang dan bahan tersebut menjadi lemas, lembut, dan tipis seperti sutera
        (silky) yang bersifat permanent.


        4.1.8 Proses Pencucian (Netralisasi)
               Proses pencucian atau netralisasi dilakukan dengan tujuan mengembalikan
        kondisi kain setelah mengalami proses persiapan yang sebelumnya, agar zat-zat
        yang masih menempel dapat lepas sehingga kain menjadi benar-benar netral dan
        bersih, terutama dari alkali.


SCREEN                          Coating 3 kali ( Foil dikasih Rumah 5 Pixel )
PRINTING                        Standard Normal ( Harnes Rakel 60 )
STEAM                           Normal 175 oC X 8
R/C




                              Gambar proses pencucian kain polyester




        Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                      56
                                                  PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




4.1.9 Proses Pencelupan
          Proses pencelupan bertujuan untuk memberikan warna secara merata pada
          permukaan kain dengan sifat permanent.
          Pada proses pencelupan terjadi tiga peristiwa penting, yaitu :
    1. Melarutkan zat warna yang mengusahakan agar larutan zat warna bergerak
          dan menempel pada bahan. Peristiwa ini disebut dengan migrasi.
    2. Mendorong larutan zat warna agar dapat terserap dan menempel pada
          bahan. Peristiwa ini disebut dengan adsorpsi.
    3. Penyerapan zat warna dari [ermukaan bahan kedalam bahan. Peristiwa ini
          disebut dengan fixasi.


      Zat warna yang biasa digunakan pada saat pencelupan digolongkan
    berdasarkan pada cara memperolehnya, zat warna terdiri dari zat warna alam
    dan zat warna sintetik (zat warna buatan). Sifat pencelupan yang dimiliki zat
    warna ada dua, yaitu :
       Zat warna sub stantif, yaitu zat warna yang dapat secara langsung
           mewarnai serat.
       Zat warna ejektif, yaitu zat warna yang memerlukan zat pembantu
           (auxiliaries) untuk melakukan proses mewarnai pada serat tersebut.
      Adapun syarat-syarat zat warna yang harus dimiliki oleh sebuah zat warna,
yaitu :
      1. Memiliki gugus yang menandung Chomovor, Nitro, Nitroso, dan
           sebagainya.
      2. Memeliki gugus yang dapat beresktif terhadap serat tekstil
           Auxscorcom, misalnya Amino dan Hidroksil.


4.1.9.1 Proses Pencelupan Kain Menggunakan Zat Warna Direk
4.1.9.1.1 Tujuan Percobaan
          Untuk mengetahui cara atau proses dan hasil pencelupan menggunakan zat
          warna direk panas dengan memvariasikan zat warnanya.
4.1.9.1.2 Alat dan Bahan yang digunakan



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                           57
                                               PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




               Zat warna
               Teepol
               NaCl
               Soda Ash
               Air (volt 1 : 30)


4.1.9.1.3 Tabel Resep Pencelupan Kain Kapas dengan Zat Warna Direk
   Resep          Satuan            I           II        III           IV
Zat warna           %               1           2          3            4
Teepol             ml/L             1           1          1            1
NaCl               gr/L             10         10         10            10
Soda Ash           gr/L             5           5          5            5
                    0
Suhu                    C           90         90         90            90
Waktu              menit            60         60         60            60


4.1.9.1.4   Fungsi Zat
        Zat warna, befungsi sebagai zat pemberi warna.
        Teepol adalah sebagai zat pembasah yang befogs menurunkan dan
         menaikkan tegangan pemukaan kain sehingga memudahkan masuknya zat
         warna kedalam serat.
        Garam dapur (NaCl) sebagai elektrolit yang befogs untuk memperbesar
         penyerapan zat warana oleh kain.
        Soda ash sebagai pembawa suasana alkali.


4.1.9.1.5   Cara Kerja
            1. Menimbang kain dan membuat larutan celup sesuai dengan resep.
            2. Memesukkan kain yang akan di celup tang sudah di buat.
            3. Panaskan pada suhu 90C selama 60 menit.
            4. Angkat.
            5. Lakukan penyabunan dengan resep yang telah ditentukan.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                        58
                                               PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




             6. Angkat, lalu lakukan pencucian dengan menggunakan air dingin
                 yang mengalir.


4.1.9.1.6    Hasil Percobaan
   1. Berdasarkan hasil percobaan, bertambah besarnya konsentrasi zat waarna
       tidak menentukan tua mudanya warna hasil pencelupan, karena tua
       mudanya warna sangat di pengaruhi oleh besar kecilnya elektrolityang
       ditambahkan sesuai dengan fungsinya, yaitu untuk mengatur jumlah zat
       warna yang masuk pada kain, di Bantu dengan tambahan garam dapur (zat
       aktif permukaan).
   2. Bertambah besarnya konsentrasi zat warna pada kondisi jumlah elektrolit
       yang sama akan mempengaruhi kerataan zat warna yang terserap. Semakin
       besar konsentrasi zat warnayang masuk pada kondisi jumlah elektrolit
       yang sama maka akan menghasilkan kain dengan hasil celupan yang tidak
       rata.


4.1.9.2 Proses Pembuatan Lingkaran Warna
4.1.9.2.1 Tujuan Percobaan
            Untuk mengetahui komposisi campuran warna yang tepat sehingga
            menghasilkan linkaran warna, dengan menggunakan zat warna disperse.
4.1.9.2.2 Alat dan bahan yang di gunakan
       Alat :                                        Bahan :
             1. pipet volume                 1. zat warna dianix yellow
             2. piala gelas                  2. zat warna dianix red
             3. gelas ukur                   3. sinteepol
             4. labu ukur                    4. carrier
             5. neraca                       5. CH3COOH
             6. pengaduk kaca                6. Stamol WS
             7. kassa Bunsen
             8. thermometer




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                        59
                                               PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




4.1.9.2.3 Tabel resep pencelupan dengan zat warna disperse lingkaran warna.
    Resep         satuan      I     II   III   IV      V    VI    VII     VIII          IX
Dianix yellow          %     0,5         0,5   3            3      3,5                  3,5
Dianix red             %     3,5   0,5         1       3           0,5    3,5
Dianix blue            %           3,5   3,5           1    1             0,5           0,5
Sintapol          ml/L       2      2    2     2       2    2      2          2         2
Carier            ml/L       4      4    4     4       4    4      4          4         4
Stamol WS             gr/L   1      1    1     1       1    1      1          1         1
Asam asetat       ml/L       1      1    1     1       1    1      1          1         1
Suhu                  °C     75     75   75    75      75   75     75         75        75
Waktu             menit      60     60   60    60      60   60     60         60        60


Resep R/C Penyabunan
        NaOH
        Na2SO4
        Suhu 100 °C
        Waktu 15 menit


4.1.9.2.4 Fungsi Zat
        Zat warna, berfungsi sebagai pemberi warna.
        Teepol adalah sebagai zat pembasah yang berfungsi menurunkan dan
         menaikkan tegangan pemukaan kain sehingga memudahkan masuknya zat
         warna kedalam serat.
        Carier sebagai zat yang dapat menembangkan struktur di dalam serat
         sehingga ruang antar molekul serat menjadi lebih besar dan dapat
         dimasuki oleh zat warna.
        Stamol WS sebagai zat pendispersi yang berfunsi untuk mendispersikan
         zat warna.
        CH3COOH sebagai zat pemberi suasana asam agar zat-zat lain bekerja
         dengan baik.
        Soda ash sebagai pembawa suasana alkali.



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                              60
                                              PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




4.1.9.2.5 Cara Kerja
     1. Menimbang kain dan membuat larutan celup sesuai dengan resep.
     2. Memasukkan kain yang akan di celup
     3. Panaskan pada suhu 90°C selama 60 menit
     4. Angkat.
     5. Lakukan penyabunan dengan resep yang telah ditentukan
     6. Angkat, lalu lakukan pencucian dengan menggunakan air dingin yang
        mengalir.
4.1.10.3         Pembuatan Segitiga Warna
4.1.9.3.1 Tujuan Percobaan
        Untuk menetahui proses dan car apembuatan segi tiga warna dengan
        menggunakan zat warna asam.
4.1.9.3.2 Alat dan Bahan
        Bahan:
        1. zat warna asam 2%
        2. teepol
        3. CH3COOH
        4. air (volt 1 : 30)
        5. kain nylon
4.1.9.3.3 Table Penggunaan Jumlah Zat Warna Pada Pembuatan Segitiga
No         Chemalon Yellow        Chemalon Red          Chemalon Turquise
1                   6                    -                       -
2                 5,4                   0,6                      -
3                 5,4                    -                      0,6
4                 4,8                   1,2                      -
5                 4,8                   0,6                     0,6
6                 4,8                   1,2                      -
7                 4,2                   1,8                      -
8                 4,2                   1,2                     0,6
9                 4,2                   0,6                     1,2




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                       61
                                            PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




10            4,2                      -                   1,8
11            3,6                     2,4                   -
12            3,6                     1,8                  0,6
13            3,6                     1,2                  1,2
14            3,6                     0,6                  1,8
15            3,6                      -                   2,4
16             3                       3                    -
17             3                      2,4                  0,6
18             3                      1,8                  1,2
19             3                      1.2                  1,8
20             3                      0,6                  2,4
21             3                       -                   3
22            2,4                     3,6                   -
23            2,4                      3                   0,6
24            2,4                     2,4                  1,2
25            2,4                     1,8                  1,8
26            2,4                     1,2                  2,4
27            2,4                     0,6                  3
28            2,4                      -                   3,6
29            1,8                     4,2                   -
30            1,8                     3,6                  0,4
31            1,8                      3                   1,2
32            1,8                     2,4                  1,8
33            1,8                     2,4                  1,8
34            1,8                     1,2                  3
35            1,8                     0,6                  3,6
36            1,8                      -                   4,2
37            1,2                     4,8                   -
38            1,2                     4,2                  0,6
39            1,2                     3,6                  1,2




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah               62
                                            PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




40            1,2                      3                   1,8
41            1,2                     2,4                  2,4
42            1,2                     1,8                  3
43            1,2                     1,2                  3,6
44            1,2                     0,6                  4,2
45            1,2                      -                   4,8
46            0,6                     5,4                   -
47            0,6                     4,8                   -
48            0,6                     4,2                  1,2
49            0,6                     3,6                  1,8
50            0,6                      3                   2,4
51            0,6                     2,4                  3
52            0,6                     1,8                  3,6
53            0,6                     1,2                  4,2
54            0,6                     0,6                  4,8
55            0,6                      -                   5,4
56              -                      6                    -
57              -                     5,4                  0,6
58              -                     4,8                  1,2
59              -                     4,2                  1,8
60              -                     3,6                  2,4
61              -                      3                   3
62              -                     2,4                  3,6
63              -                     1,8                  4,2
64              -                     1,2                  4,8
65              -                     0,6                  5,4
66              -                      -                   6




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah               63
                                               PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




Resep Penyabunan
      teepol
      soda ash
      suhu 70°C
      waktu 15 menit
4.1.9.3.5 Fungsi zat yang di gunakan
      Zat warna, berfungsi sebagai pemberi warna.
      Teepol adalah sebagai zat pembasah yang berfungsi menurunkan dan
       menaikkan tegangan pemukaan kain sehingga memudahkan masuknya zat
       warna kedalam serat.
      CH3COOH sebagai zat pemberi suasana asam agar zat-zat lain bekerja
       dengan baik.
      Soda ash sebagai pembawa suasana alkali.
4.1.9.3.6 Cara kerja
   1. Menimbang kain dan membuat larutan celup sesuai dengan resep.
   2. Memasukkan kain yang akan di celup
   3. Panaskan pada suhu 90°C selama 60 menit
   4. Angkat.
   5. Lakukan penyabunan dengan resep yang telah ditentukan
   6. Angkat, lalu lakukan pencucian dengan menggunakan air dingin yang
       mengalir
4.10 Proses Printing
       Proses printing atau pencapan bertujuan untuk memberikan motif atau
warna yang beragam pada suatu permkaan kain dengan sifat permanent.
       Pada proses printing atau pencapan yang perlu kita perhatikan adalah ada
beberapa faktor, yaitu:
   1. Thickening atau pengental. Thickener adalah zat pembantu yang dapat
       menghantarkan zat warna pada kain. Sifat thickener (pengental) ini
       hanyalah sebagai zat pembantu sehingga ketika zat warna telah
       terhantarkan kedalam kain, zat pambantu thickener ini akan dibuang.
       Thickener yang terdapat di alam hanya 2, yaitu



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                        64
                                                PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




           a. Yang berasal dari tumbuhan.
           b. Yang berasal dari rumput laut.
   1. Dyestuff atau zat warna. Dyestuff berfungsi sebagai pemberi warna pada
       kain. Dyestuff yang digunakan dalam proses printing ada 2, yaitu :
           a. Zat warna direx.
           b. Zat warna reaktif.
  3.   Proses Fixasi atau pematangan warna.
  4.   Proses pencucian.


4.10.1 Persiapan Proses Printing Pada Kain
4.10.1.1 Pembuatan Stock Thickening
          Persiapan Obat
              1. Membuat larutan sequestering agent (x : x)
              2. Menimbang thickening powder
              3. Menimbang pula auxilliries lainnya yang akan digunakan
          Membuat Stock Thickening
              1. Memasukan thickening powder kedalam bak pengaduk sedikit
                  demi sedikit.
              2. Mengisi air kedalam bak penampungan tyersebut.
              3. Memasukkan cictid acid, fixanol HT, dan larutan sequestering
                  agent kedalam bak penampungan.
              4. Mengaduknya hingga rata.
              5. Memasukkan sisa thickener powder dan juga sisa air secara
                  pelan-pelan dan sedikit demi sedikit.
              6. Memasukkan larutan matexil DAN dan revanol S, mengaduk
                  hingga rata.
              7. Mengaduk stock thickening hingga rata dan benar-benar
                  homogen.
              8. Memeriksa pH stock thickening.
              9. Mendiamkan stock thickening selama 8 hingga 12 jam untuk
                  selanjutnya siap digunakan.



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                       65
                                                  PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




             10. Memeriksa viskositasnya.
             11. Mencatat hasil pengujian pada buku pemeriksaan viskositas
                    dan pH untuk flat dan rotary.
4.10.1.2 Pembuatan Printing Pasta
      1. Menyiapkan tong-tong yang sudah bersih, banyak tong disesuaikan
          dengan kebutuhan pembuatan printing pasta pada resep yang telah
          ditentukan.
      2. Memberi identitas pada tong:
          - Nomor motif
          - Nomor kombinasi
          - Jumlah kebutuhan printing pasta
          - Tanggal penimbangan
      3. Menimbang kebutuhan           komponen sesuai dengan resep     yang
          diinginkan.
          - Thickening
          - Dyestuff
          - Air
      4. Megaduk printing pasta hingga larut dan homogen.
      5. Memeriksa pH dan viskositas printing pasta


        Bentuk motif                 Viscositas                pH
        Warna muda                5000 – 8500 cps             5–6
        Block dasar               5000 – 8500 cps             5–6
        Block daun                5000 – 8500 cps             5–6
        Block bunga               5000 – 8500 cps             5–6
         Warna tua                9000 – 20000 cps            5–6
          Conture                 9000 – 20000 cps            5–6
            Line                  9000 – 20000 cps            5–6
           Raster                 9000 – 20000 cps            5–6
          Emboss                  9000 – 20000 cps            5–6




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                     66
                                               PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




       6. Printing pasta yang telah siap ditempatkan sesuai kombinasi motif.
       7. Untuk order OP, dilakukan pada mesin jalan.
       8. Untuk order OR, dilakukan sesuai standard OP kecuali flat screen.
       9. Mencatat hasil pengamatan pada form resep PRT-212-02 untuk mesin
           flat dan rotary.


4.10.1.3   Pengecekan Printing Pasta
       1. Semua printing pasta hasil pembuatan manual dan dispenser setelah
           prosees pengadukan atau mixer harus dilakukan pengepressan,
       2. Mencocokkan hasil tes colour kitchen dengan jenis contoh pada form
           resep.
       3. Apabila hasil test tidak sesuai, lakukan perbaikan.
       4. Apabila hasil test sesuai dengan contoh, letakkan printingf pasta pada
           tempat yang telah disediakan.
       5. Sebaiknya printing pasta sebelum dibawa ke produksi lakukan
           penyaringan atau filter.
       6. Printing pasta yang tidak jadi di produksi lebih dari waktu 24 jam,
           maka printing pasta dilakukan lagi test ulang.


4.10.1.4   Perhitungan Printing Area
       1. Memeriksa kain yang akan di printing.
           Contoh      :
           Kain palace 140 kg / 1100 m = 1kg / 8m
           Untuk menghitung daya serap kain = lebar + 20%
       2. Menghitung area gambar atau motif, dengan melihat area screen
           perwarna =         % area gambar x 140 kg




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                          67
                                              PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




4.10.1.5   Reduction Cleaning (R/C)
       1. Menyiapkan kain yang akan di R/C.
       2. Memisahkan kain-kain tersebut untuk motif-motif dasar tua dan dasar
           muda.
       3. Menyiapkan larutan R/C yang akan dipakai
           Resep          :
              -     Detergen                       3 gr/l
              -     Hidrosulfit                    6 gr/l
              -     NaOH (Liq) 48 – 49 0Be         6 gr/l
              -     Air panas 70 – 80 0C           0,985 L +
                          Jumlah                   1000 ml
       4. Memasukkan kain yang telah disiapkan pada bak air dingin sampai
           kelunturannya hilang.
       5. Memasukkan kain kedalam bak larutan R/C.


4.10.1.6 Proses Pengujian Thickening
1. Thichening Disperse
       Pengujian dilakukan menggunakan dyestuff disperse khusus untuk kain
       polyester.
      Bahan yang digunakan
          Komposisi stock thickening untuk 1 kg
            No                     Bahan           Banyaknya (gram)

             1      Thickener                           8% = 80

             2      Anti Reduksi                            40

             3      Colour Improver                         20

             4      Chelating Agent                          2

             5      Asam                                    10

             6      Air                                     848




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                        68
                                                 PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




           Komposisi Printing Pasta untuk 200 gram
             No                 Bahan                  Banyaknya (gram)

              1 Thickening                                   140

              2 Dye Stuff                                     X

              3 Air                                           X


           Komposisi Larutan Reduction Cleaning (RC) untuk 1 Liter
             No                 Bahan                  Banyaknya (gr/L)

              1     NaOH (Caustic Soda)                       4

              2     Cleaner / Sabun                           1

              3     Oxidator                                  1

              4     Air suhu 900C                            994




           Prosedur Kerja
        1. Pembuatan Stock Thickening
            a) Timbang masing-masing bahan yang dibutuhkan secara terpisah
                  (kecuali untuk asam).
            b) Masukkan air kedalam wadah secukupnya (sisakan untuk
                  membilas sisa bahan yang lainnya).
            c) Masukkan thickener sedikit demi sedikit kedalam air sambil
                  dikocok (diawali dengan kecepatan rendah kemudian kecepatan
                  tinggi).
            d) Masukkan anti reduksi, colour improver, dan chelating agent
                  kedalam adonan sambil dikocok.
            e) Masukkan sisa air dengan membilas wadah anti reduksi, colour
                  improver, dan chelating agent sambil dikocok hingga homogen.
            f) Diamkan semalam.
            g) Besok cek pH dan viscosity thickening.



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                            69
                                              PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




          h) Tambahkan asam kemudian kocok hingga homogen.
          i) Cek pH dan viscosity setalah penambahan asam.
          j) Stock thickening siap untuk digunakan.
      2. Pembuatan Printing Pasta
          a) Timbang masing-masing bahan yang dibutuhkan secara terpisah.
          b) Masukkan air ke dalam dye stuff sambil diaduk hingga larut.
          c) Masukkan thickening ke dalam larutan dye stuff kemudian aduk
             hingga homogen.
      3. Proof printing pasta ke permukaan kain polyester menggunakn screen
          dan rakel.
      4. Angin-anginkan kain hasil proof hingga benar-benar kering.
      5. Steam kain setelah setelah kering menggunakan mesin steam khusus
          dye stuff disperse, pada suhu 1800C selama 10 menit.
      6. Pembuatan larutan RC
          a) Timbang masing-masing bahan yang dibutuhkan secara terpisah
             (untuk liquid dapat digabung).
          b) Panaskan sebagai terlebih dahulu menggunakan uap.
          c) Masukkan sebagian air kedalam gelas kimia 1 liter lalu panaskan.
          d) Masukkan NaOH, Cleaner (sabun) dan Oxidator ke dalam gelas
             kimia.
          e) Bilas wadah bekas ketiga zat tersebut dan masukkan ke dalam
             gelas kimia.
          f) Masukkan sisa air hingga volumenya mencapai 1000 mL atau 1
             Liter.
          g) Panaskan air hingga mencapai suhu 900C.
      7. Basahi kain terlebih dahulu bengan air.
      8. Setelah suhu mencapai 900C, masukkan kain dan aduk selam 10 menit.
      9. Setelah selesai cuci kain dengan air hingga bersih.
      10. Keringkan di mesin press selama 20 – 30 menit.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                       70
                                                PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




      Cara Pengujian
       Bandingkan hasil kain yang sudah jadi antara standar dengan sampel.


2. Thickening Reaktif
       Pengujian dilakukan menggunakan dye stuff reaktif khusus untuk kain
       rayon.
      Bahan yang digunakan :
          Komposisi Stock Thickening untuk 1 kg
            No                  Bahan                  Banyaknya (gram)
             1     Thickener                               10% = 100
             2     Anti Reduksi                                50
             3     Air                                         850


          Komposisi Printing Pasta untuk 200 gram
            No                  Bahan                  Banyaknya (gram)
             1     Thickening                                  100
             2     Dye Stuff                          12(liquid) & 6 (padat)
             3     Soda Kue                                     5
             4     Urea                                        30
             5     Air                                          X


          Komposisi Larutan Reduction Cleaning (RC) untuk 1 Liter
           No                   Bahan                   Banyaknya (gr/L)
            1     Cleaner (sabun)                             1–2
            2     Air suhu 900C                                 X


      Prosedur kerja
       1. Pembuatan Stock Thickening
           a) Timbang masing-masing bahan yang dibutuhkan secara terpisah
                 (kecualiuntuk asam).
           b) Masukkan air kedalam wadah secukupnya (sisakan untuk
                 membilas sisa bahan yang lainnya).



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                          71
                                              PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




          c) Masukkan thickener sedikit demi sedikit kedalam air sambil
             dikocok (diawali 2 dengan kecepatan rendah kemudian kecepatan
             tinggi).
          d) Masukkan Anti Reduksi ke dalam adonan sambil dikocok.
          e) Masukkan sisa air dengan membilas wadah anti reduksi sambil
             dikocek hingga homogen.
          f) Diamkan semalam.
          g) Stock thickening siap digunakan.
      2. Pembuatan Printing Pasta
          a) Timbang masing-masing bahan yang dibutuhkan secara terpisah.
          b) Masukkan soda kue ke dalam air hingga larut (sisakan air untuk
             membilas).
          c) Masukkan urea ke dalam larutan soda kue sedikit semi sedikit
             hingga larut.
          d) Masukkan larutan soda kue dan urea ke dalam dye stuff dan air
             sambil diaduk sedikit semi sedikit hingga dye stuff larut (larutan
             soda kue + urea jangan dihabiskan bila dye stuff sudah larut).
          e) Masukkan thickening ke dalam larutan dye stuff kemudian aduk
             hingga homogen.
          f) Maasukkan sisa larutan ke dalam adonan lalu aduk hingga
             homogen.
          g) Ukur viskositas adonan printing pasta.
      3. Proffing printing pasta ke permukaan kain rayon menggunakan screen
          dan rakel.
      4. Angin-anginkan kain hasil proof hingga benar-benar kering.
      5. Steam kain setelah kering menggunakan mesin steam khusus dye stuff
          reaktif, pada suhu 1800C selama 10 menit.
      6. Pembuatan larutan RC
          a) Timbang masing-masing bahan yang dibutuhkan secara terpisah
             (untuk liquid dapat digabung).
          b) Panaskan air terlebih dahulu menggunakan uap.



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                         72
                                               PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




           c) Masukkan sebagian air ke dalam gelas kimia.
           d) Masukkaaan Cleaner (sabun) ke dalam gelas kimia.
           e) Bilas wadah bekas zat tersebut da masukkan ke dalam gelas kimia.
           f) Masukkan sisa air hingga volumenya mencapai 1000mL atau 1 L.
           g) Panaskan air hingga mecapai suhu 900C.
       7. Basahi kai terlebih dahulu dengan air.
       8. Setelah suhu mencapai 900C, masukkan kain dan aduk selama 10
           menit.
       9. Setelah selesai mencuci, bilas dengan air hingga bersih.
       10. Keringkan di mesin press selam 20 – 30 menit.


      Cara pengujian
       Bandingkan hasil kain yang sudah jadi antara standar dengan sampel.


4.10.1.7 Pembuatan Printing Pasta Skala Laboratorium

       Printing pasta adalah pasta yang akan dicapkan pada permukaan kain yang
akan diwarnai atau diberi motif. Printing pasta terdiri dari thickening(pengental),
zat warna, dan air.

a. Pembuatan Stock Thickening:
    1. Resep 1:
       Seatex HV            100 gr
       Asam                    7 gr
       Matexil               20 gr
       Air                  873 gr     +

       Jumlah               1000 gr


    2. Resep 2:
       NT 80                   60 gr
       NT 100                  20 gr
       Asam                     7 gr
       Dispersing              20 gr
       Air                    893 gr +
       Jumlah                 1000gr




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                           73
                                               PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




b. Resep Printing Pasta:

    1. Dianix Black

          Resep 1:
              Thickening             140 gr
              Dyestuff               6 gr
              Air                    54 gr    +
                      Jumlah          200 gr

          Resep 2:
              Thickening             160 gr
              Dyestuff               6 gr
              Air                    34 gr    +
                      Jumlah          200 gr

          Resep 3:
             Thickening              120 gr
             Dyestuff                6 gr
             Air                     74 gr    +
                     Jumlah           200 gr

Hasil :

           Resep 1                   Resep 2                   Resep 3




     7000 – 8000 pcs            9000 – 10000 pcs           5000 – 6000 pcs

          Evaluasi :
              Resep 1, diperoleh viscositas sebesar 7000 – 8000 psc
              Resep 2, diperoleh viscositas sebesar 9000 – 10000 psc
              Resep 3, diperoleh viscositas sebesar 5000 – 6000 psc




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                        74
                                                 PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




    2. Amacron Black

          Resep 1:
              Thickening              140 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     54 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 2:
              Thickening              160 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     34 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 3:
             Thickening               120 gr
             Dyestuff                 6 gr
             Air                      74 gr +
                     Jumlah            200 gr


Hasil :

Resep 1                      Resep 2                    Resep 3




7000 – 8000 pcs              9000 – 10000 pcs           5000 – 6000 pcs

          Evaluasi :
              Resep 1, diperoleh viscositas sebesar 7000 – 8000 psc
              Resep 2, diperoleh viscositas sebesar 9000 – 10000 psc
              Resep 3, diperoleh viscositas sebesar 5000 – 6000 psc




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                     75
                                                 PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




    3. Disperse Black

          Resep 1:
              Thickening              140 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     54 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 2:
              Thickening              160 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     34 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 3:
             Thickening               120 gr
             Dyestuff                 6 gr
             Air                      74 gr +
                     Jumlah            200 gr



Hasil :

Resep 1                      Resep 2                    Resep 3




7000 – 8000 pcs              9000 – 10000 pcs           5000 – 6000 pcs

          Evaluasi :
              Resep 1, diperoleh viscositas sebesar 7000 – 8000 psc
              Resep 2, diperoleh viscositas sebesar 9000 – 10000 psc
              Resep 3, diperoleh viscositas sebesar 5000 – 6000 psc




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                     76
                                                 PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




    4. Serilene Brill Blue

          Resep 1:
              Thickening              140 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     54 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 2:
              Thickening              160 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     34 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 3:
             Thickening               120 gr
             Dyestuff                 6 gr
             Air                      74 gr +
                     Jumlah            200 gr



Hasil :

Resep 1                      Resep 2                    Resep 3




7000 – 8000 pcs              9000 – 10000 pcs           5000 – 6000 pcs

          Evaluasi :
              Resep 1, diperoleh viscositas sebesar 7000 – 8000 psc
              Resep 2, diperoleh viscositas sebesar 9000 – 10000 psc
              Resep 3, diperoleh viscositas sebesar 5000 – 6000 psc




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                     77
                                                 PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




    5. Amacron Violet

          Resep 1:
              Thickening              140 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     54 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 2:
              Thickening              160 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     34 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 3:
             Thickening               120 gr
             Dyestuff                 6 gr
             Air                      74 gr +
                     Jumlah            200 gr


Hasil :

Resep 1                      Resep 2                    Resep 3




7000 – 8000 pcs              9000 – 10000 pcs           5000 – 6000 pcs


          Evaluasi :
              Resep 1, diperoleh viscositas sebesar 7000 – 8000 psc
              Resep 2, diperoleh viscositas sebesar 9000 – 10000 psc
              Resep 3, diperoleh viscositas sebesar 5000 – 6000 psc




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                     78
                                                 PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




    6. Amacron Red

          Resep 1:
              Thickening              140 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     54 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 2:
              Thickening              160 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     34 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 3:
             Thickening               120 gr
             Dyestuff                 6 gr
             Air                      74 gr +
                     Jumlah            200 gr


Hasil :

Resep 1                      Resep 2                    Resep 3




7000 – 8000 pcs              9000 – 10000 pcs           5000 – 6000 pcs

          Evaluasi :
              Resep 1, diperoleh viscositas sebesar 7000 – 8000 psc
              Resep 2, diperoleh viscositas sebesar 9000 – 10000 psc
              Resep 3, diperoleh viscositas sebesar 5000 – 6000 psc




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                     79
                                                 PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




    7. Miketon Orange

          Resep 1:
              Thickening              140 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     54 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 2:
              Thickening              160 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     34 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 3:
             Thickening               120 gr
             Dyestuff                 6 gr
             Air                      74 gr +
                     Jumlah            200 gr


Hasil :

Resep 1                      Resep 2                    Resep 3




7000 – 8000 pcs              9000 – 10000 pcs           5000 – 6000 pcs

          Evaluasi :
              Resep 1, diperoleh viscositas sebesar 7000 – 8000 psc
              Resep 2, diperoleh viscositas sebesar 9000 – 10000 psc
              Resep 3, diperoleh viscositas sebesar 5000 – 6000 psc




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                     80
                                                 PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




    8. Serilene Yellow

          Resep 1:
              Thickening              140 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     54 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 2:
              Thickening              160 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     34 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 3:
             Thickening               120 gr
             Dyestuff                 6 gr
             Air                      74 gr +
                     Jumlah            200 gr


Hasil :

Resep 1                      Resep 2                    Resep 3




7000 – 8000 pcs              9000 – 10000 pcs           5000 – 6000 pcs

          Evaluasi :
              Resep 1, diperoleh viscositas sebesar 7000 – 8000 psc
              Resep 2, diperoleh viscositas sebesar 9000 – 10000 psc
              Resep 3, diperoleh viscositas sebesar 5000 – 6000 psc




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                     81
                                                 PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




    9. Serilene Scarlet

          Resep 1:
              Thickening              140 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     54 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 2:
              Thickening              160 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     34 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 3:
             Thickening               120 gr
             Dyestuff                 6 gr
             Air                      74 gr +
                     Jumlah            200 gr

Hasil :

Resep 1                      Resep 2                    Resep 3




7000 – 8000 pcs              9000 – 10000 pcs           5000 – 6000 pcs


          Evaluasi :
              Resep 1, diperoleh viscositas sebesar 7000 – 8000 psc
              Resep 2, diperoleh viscositas sebesar 9000 – 10000 psc
              Resep 3, diperoleh viscositas sebesar 5000 – 6000 psc




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                     82
                                                  PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




    10. Amacron Yellow Brown

          Resep 1:
              Thickening               140 gr
              Dyestuff                 6 gr
              Air                      54 gr +
                      Jumlah            200 gr

          Resep 2:
              Thickening               160 gr
              Dyestuff                 6 gr
              Air                      34 gr +
                      Jumlah            200 gr

          Resep 3:
             Thickening                120 gr
             Dyestuff                  6 gr
             Air                       74 gr +
                     Jumlah             200 gr


Hasil :

   Resep 1                    Resep 2                   Resep 3




   7000 – 8000 pcs            9000 – 10000 pcs          5000 – 6000 pcs

          Evaluasi :
              Resep 1, diperoleh viscositas sebesar 7000 – 8000 psc
              Resep 2, diperoleh viscositas sebesar 9000 – 10000 psc
              Resep 3, diperoleh viscositas sebesar 5000 – 6000 psc




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                     83
                                                 PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




    11. Amacron Rubine

          Resep 1:
              Thickening              140 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     54 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 2:
              Thickening              160 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     34 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 3:
             Thickening               120 gr
             Dyestuff                 6 gr
             Air                      74 gr +
                     Jumlah            200 gr


Hasil :

Resep 1                      Resep 2                    Resep 3




7000 – 8000 pcs              9000 – 10000 pcs           5000 – 6000 pcs


          Evaluasi :
              Resep 1, diperoleh viscositas sebesar 7000 – 8000 psc
              Resep 2, diperoleh viscositas sebesar 9000 – 10000 psc
              Resep 3, diperoleh viscositas sebesar 5000 – 6000 psc




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                     84
                                                 PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




    12. Amacron Flour Red

          Resep 1:
              Thickening              140 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     54 gr +
                      Jumlah           200 gr
          Resep 2:
              Thickening              160 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     34 gr +
                      Jumlah           200 gr
          Resep 3:
             Thickening               120 gr
             Dyestuff                 6 gr
             Air                      74 gr +
                      Jumlah           200 gr


Hasil :

Resep 1                      Resep 2                    Resep 3




7000 – 8000 pcs              9000 – 10000 pcs           5000 – 6000 pcs

          Evaluasi :
              Resep 1, diperoleh viscositas sebesar 7000 – 8000 psc
              Resep 2, diperoleh viscositas sebesar 9000 – 10000 psc
              Resep 3, diperoleh viscositas sebesar 5000 – 6000 psc




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                     85
                                                 PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




    13. Disperse Yellow Brown

          Resep 1:
              Thickening              140 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     54 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 2:
              Thickening              160 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     34 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 3:
             Thickening               120 gr
             Dyestuff                 6 gr
             Air                      74 gr +
                     Jumlah            200 gr


Hasil :

Resep 1                      Resep 2                    Resep 3




7000 – 8000 pcs              9000 – 10000 pcs           5000 – 6000 pcs


          Evaluasi :
              Resep 1, diperoleh viscositas sebesar 7000 – 8000 psc
              Resep 2, diperoleh viscositas sebesar 9000 – 10000 psc
              Resep 3, diperoleh viscositas sebesar 5000 – 6000 psc




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                     86
                                                 PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




    14. Amacron Bordeaux

          Resep 1:
              Thickening              140 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     54 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 2:
              Thickening              160 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     34 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 3:
             Thickening               120 gr
             Dyestuff                 6 gr
             Air                      74 gr +
                     Jumlah            200 gr


Hasil :

Resep 1                      Resep 2                    Resep 3




7000 – 8000 pcs              9000 – 10000 pcs           5000 – 6000 pcs

          Evaluasi :
              Resep 1, diperoleh viscositas sebesar 7000 – 8000 psc
              Resep 2, diperoleh viscositas sebesar 9000 – 10000 psc
              Resep 3, diperoleh viscositas sebesar 5000 – 6000 psc




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                     87
                                                 PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




    15. Dianix Blue Plus

          Resep 1:
              Thickening              140 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     54 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 2:
              Thickening              160 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     34 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 3:
             Thickening               120 gr
             Dyestuff                 6 gr
             Air                      74 gr +
                     Jumlah            200 gr



Hasil :

Resep 1                      Resep 2                    Resep 3




7000 – 8000 pcs              9000 – 10000 pcs           5000 – 6000 pcs

          Evaluasi :
              Resep 1, diperoleh viscositas sebesar 7000 – 8000 psc
              Resep 2, diperoleh viscositas sebesar 9000 – 10000 psc
              Resep 3, diperoleh viscositas sebesar 5000 – 6000 psc




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                     88
                                                 PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




    16. Foron Navi Blue

          Resep 1:
              Thickening              140 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     54 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 2:
              Thickening              160 gr
              Dyestuff                6 gr
              Air                     34 gr +
                      Jumlah           200 gr

          Resep 3:
             Thickening               120 gr
             Dyestuff                 6 gr
             Air                      74 gr +
                     Jumlah            200 gr


Hasil :

Resep 1                      Resep 2                    Resep 3




7000 – 8000 pcs              9000 – 10000 pcs           5000 – 6000 pcs

          Evaluasi :
              Resep 1, diperoleh viscositas sebesar 7000 – 8000 psc
              Resep 2, diperoleh viscositas sebesar 9000 – 10000 psc
              Resep 3, diperoleh viscositas sebesar 5000 – 6000 psc




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                     89
                                             PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




   4.10.1.8 Perhitungan L, a, b

      L = Light
      Bila nilai L besar, maka menandakan warna muda
      Bila nilai L kecil, maka menandakan warna tua.

      a
      Bila nilai a positif, maka warna lebih condong ke merah
      Bila nilai a negatif, maka warna lebih condong ke hijau

      b
      Bila nilai b positif, maka warna lebih condong ke kuning.
      Bila nilai b negatif, maka warna lebih condong ke biru.

      Dari nilai L, a dan b, dapat diperoleh ∆E nya atau perubahan warna.
      Dengan rumus:


      ∆E = (a1 a2)  (b1 b2)  (L1 L2)

      Evaluasi dari warna-warna yang berbeda dari dyestuff diatas dapat
      diperoleh L,a,b, dan ∆E sebagai berikut :

   1. Dianix Black
                          Resep 1              Resep 2            Resep 3
             L             31,65                30,09              32,69
             a             -0,18                 0,00              -0,92
             b             -4,93                -4,72              -5,04
            ∆E               -                   1,58               1,28
   2. Amacron Black
                          Resep 1              Resep 2            Resep 3
              L            21,16                21.94              22.47
              A             0,29                 0.25                0
              B            -3.13                -3.26              -3.56
              ∆E              -                  0.79               1.14

   3. Disperse Black
                          Resep 1              Resep 2            Resep 3
              L            30.81                32.97              31.87
              A            -0.73                -0.58              -0.64
              B            -5.27                -0.53              -5.18
              ∆E             -                   2.18               1.07




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                       90
                                           PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




   4. Serilene Brill Blue
                            Resep 1          Resep 2       Resep 3
              L              32.79            34.67         35.01
               a             14.27            12.30         11.49
               b            -54.07           -54.61        -53.88
              ∆E               -               2.78          3.56

   5. Amacron Violet
                            Resep 1          Resep 2       Resep 3
              L              21.51            21.27         21.44
               a             15.48            15.91         14.90
               b            -15.05           -15.70        -14.56
              ∆E               -               0.81          0.76

   6. Amacron Red
                            Resep 1          Resep 2       Resep 3
              L               3.15            35.07         34.68
               a             50.72            52.00         50.03
               b             14.34            14.58         13.80
              ∆E                -              1.31          1.00

   7. Miketon Orange
                            Resep 1          Resep 2       Resep 3
              L              58.63            57.76         57.09
               a             45.96            48.31         49.05
               b             60.75            63.12         61.09
              ∆E               -               3.45          3.47

   8. Serilene Yellow
                            Resep 1          Resep 2       Resep 3
              L              79.42            81.16         81.53
               a              3.43             2.16          2.10
               b             93.26            95.58         97.26
              ∆E                -              3.17          4.17

   9. Serilene Scarlet
                            Resep 1          Resep 2       Resep 3
              L              41.56            43.47         41.70
               a             53.81            55.27         54.71
               b             29.53            30.84         29.79
              ∆E               -               2.74          0.95




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                91
                                           PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




   10. Amacron Yellow Brown
                        Resep 1              Resep 2       Resep 3
              L          48.36                49.17         47.95
              a          44.99                 4.41         44.57
              b          44.74               456.21         44.40
             ∆E            -                   1.10          0.08

   11. Amacron Rubine
                           Resep 1           Resep 2       Resep 3
              L             37.92             38.15         39.25
               a            49.69             49.58         49.88
               b            11.49             11.29         10.90
              ∆E              -                0.32          1.47

   12. Amacron Flour Red
                           Resep 1           Resep 2       Resep 3
              L             63.38             64.20         64.92
               a            70.67             69.59         69.20
               b            27.35             24.97         24.62
              ∆E              -                2.74          3.46

   13. Disperse Yellow Brown
                         Resep 1             Resep 2       Resep 3
                L         45.59               47.26         45.24
                a         46.19               46.28         46.02
                b         40.63               43.58         41.87
               ∆E           -                  3.39          1.30

   14. Disperse Bordeaux
                           Resep 1           Resep 2       Resep 3
              L             32.79             35.92         30.85
               a            45.85             46.31         45.96
               b           -26.40            -28.26        -24.81
              ∆E              -                3.67          2.51

   15. Dianix Blue Plus
                           Resep 1           Resep 2       Resep 3
              L             28.22             27.44         28.76
               a             3.48              4.15          3.01
               b           -30.56            -30.67        -30.79
              ∆E               -               1.03          0.75




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                92
                                               PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




   16. Foron Navi Blue
                           Resep 1              Resep 2            Resep 3
                 L          21.91                25.06              26.23
                  a          1.83                 1.05               0.64
                  b        -12.94               -16.34             -17.35
                 ∆E            -                  4.70               6.29



4.10.1.8 Proses Pencapan atau Printing dengan Zat Warna Reaktif
4.10.1.8.1 Tujuan Percobaan
       Untuk mengetahui proses, cara kerja dan hasil pencapan atau printing
       dengan menggunakan zat warna reaktif.
4.10.1.8.2 Alat dan bahan yang digunakan.
       Alat :
      Pipet volume
      Neraca
      Mixer
      Rakel
      Screen
      Kassa Bunsen / pemanas
      Kain


       Bahan :
      Seatex HV
      Urea
      Matexil DAN
      Na2CO3
      Matexil WAKBN
      Zat warna reaktif
      Air




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                         93
                                              PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




4.10.1.8.3 Resep Printing Pasta
           - thickening seatex HV 5%               600 gr
           - urea                                  40 gr
           - matexil DAN                           10 gr
           - Na2CO3                                20 gr
           - matexil WAKBN                         10 gr
           - zat warna rektif                      30 gr
           - air                                   290 gr
                        Jumlah                     1000 gr
4.10.1.8.4 Cara kerja
   1. Membuat printing pasta sesuai dengan resep yang telah di tentukan.
   2. Mencap kain dengan motif dan printing pasta sesuai dengan resep.
   3. Lakukan pengeringan (drying) paad suhu 1000C selama 2 menit.
   4. Lakukan pemanasan (steaming) pada suhu 1000C selama 8 menit.
   5. Lakukan pencucian pada air dingin.
   6. Lakukan proses penyabunan dengan menggunakan teepol (2cc/ L) dan
       Na2CO3 (1gr/ L) pada suhu 800C selama 10 menit.
   7. Lakukan pencucian kembali dan pembilasan dengan air dingin.


4.10.1.9 Proses Pencapan Zat Warna Pigment
4.10.1.9.1 Tujuan Percobaan
       Untuk mengetahui proses, cara kerja dan hasil pencapan atau printing
       dengan menggunakan zat warna pigment.
4.10.1.9.2 Alat dan bahan yang digunakan.
       Alat :
      Pipet volume
      Neraca
      Mixer
      Rakel
      Screen
      Kassa Bunsen / pemanas



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                         94
                                              PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




       Bahan :
      Emulsifier
      Stock emulsi
      Urea
      Fixator
      Binder
      Zat warna pigment
      Eter
      Matexil DAN


4.10.1.9.3 Resep
   1. Resep Pembuatan Stock Emulsi
       - emulsifier                 50 gr
       - air                        350 gr
       - eter                       600 gr
                 Jumlah             1000 gr
   2. Resep Pembuatan Printing Pasta
       - stock emulsi               810 gr
       - zat warna pigment          30 gr
       - urea                       20 gr
       - fixator                    20 gr
       - binder                     100 gr
       - matexil DAN                20 gr
                 Jumlah             1000 gr
4.10.1.9.4 Cara kerja
   1. Membuat printing pasta sesuai dengan resep yang telah di tentukan.
   2. Mencap kain dengan motif dan printing pasta sesuai dengan resep.
   3. Lakukan pengeringan (drying) pada suhu 1000C selama 2 menit.
   4. Lakukan pemanasan (steaming).
   5. Lakukan penyetrikaan. Untuk fixasi zat warna / printing pasta.
   6. Lakukan pencucian dengan air dingin yang mengalir.



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                      95
                                                 PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




4.10.1.10 Proses Pencapan Zat Warna Pigment dengan Thickening Sintetik
4.10.1.10.1 Tujuan percobaan
          Untuk mengetahui proses, cara kerja dan hasil pencapan atau printing
          dengan menggunakan zat warna pigment dengan thickening sintetik.
4.10.1.10.2 Alat dan zat yang digunakan.
          Alat :
         Pipet volume
         Neraca
         Mixer
         Rakel
         Screen
         Kassa Bunsen / pemanas
         Kain
          Bahan :
         Stock emulsi
         Sol print
         Binder
         Fixator
         Zat warna pigment
      Resep variasi stock emulsi pada proses pencapan dengan zat warna pigment
Zat/ bahan            satuan           I         II             III         IV
Sol print               Gr            15         20             25          30
Air                     Gr            885       880             875        870
Binder                  Gr            100       100             100        100


          Resep pembuatan printing pasta
          -   Stock emulsi                            960 gr
          -   Zat warna pigment                                30 gr
          -   Fixator                                 10 gr +
                             jumlah                   1000 gr




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                            96
                                                   PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




4.10.1.10.3 Cara kerja
     1. Membuat printing pasta sesuai dengan resep yang telah di tentukan.
     2. Mencap kain dengan motif dan printing pasta sesuai dengan resep.
     3. Lakukan pengeringan (drying) pada suhu 1000C selama 2 menit.
     4. Lakukan pemanasan (steaming).
     5. Lakukan thermofikasi pada suhu 1500C selama 3 menit.
     6. Lakukan pengujian terhadap ketahanan kelunturan warna terhadap
         gosokan kering dan gosokan basah dan juga ketahanan kelunturan warna
         terhadap pencucian.


4.10.1.10.4 Cara Pengujian Ketahanan Luntur
        Cara pengujian ketahanan kelunturan terhadap gosokan kering dan
         gosokan basah.
            1. Tahan luntur terhadap gosokan kering dan gosokan basah : contoh
                uji = ukuran kain 3 x 20 cm
            2. Dijepit pada alat uji crock meter
            3. Digosok 10 kali bolak-balik dengan kain katun yang di pasang
                pada kepala penggosok.
            4. Untuk gosokan basah, kain penggosok terlebih dahulu dibasahi
                dengan aquadest.




                   Tabel hasil uji tahan kuntur terhadap gosokan
No            Variasi solprint                        Hasil uji gosokan
                                               Kering                     Basah
1                I ( 15 gr )                       3-4                     2
2                II ( 20 gr )                      3-4                    3-4
3               III ( 25 gr )                      3-4                     3
4               IV ( 30 gr )                       3-4                     3




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                             97
                                                 PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




        Cara pengujian tahan luntur warna terhadap pencucian 700C
         1. Kain yang diuji dilapisi kain katun dan polyester dengan ukuran sama
            5 x 10 cm.
         2. Kemudian dijahit pada 2 sisis yang berlawanan.
         3. Cuci dengan sabun.
         4. Suhu 700C
         5. Selama 30 menit.


     Tabel hasil uji tahan luntur terhadap pencucian 700C
no             Variasi               Perubahan                   Penodaan
               sol print               warna             kapas          polyester
1              I (15 gr )               4-5               4-5               4-5
2             II (20 gr )               4-5               4-5               4-5
3             III (25 gr )              3-4               3-4               3-4
4            IV ( 30 gr )               3-4               4-5               4-5


4.101.1.10.5 Hasil Percobaan
     1. Dari hasil percobaan, diperoleh ketajaman motif terbaik pada variasi
         thickening sintetik 3%.
     2. Ketuaan warna terbaik dicapai pada variasi thickening sintetik 3%.
     3. Hasil uji tahan luntur warna terhadap gosokan kering dan gosokan basah
         terbaik dicapai pada variasi thickening sintetik 2%.
     4. Hasil uji tahan luntur warna terhadap pencucian suhu 700C terbaik dicapai
         pada variasi thickening sintetik 1,5% dan 2%.
     5. Hasil terbaik dicapai pada thickening sintetik dengan konsentrasai 3% dan
         viscositas 120 poise pada spindle 2.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                               98
                                               PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




4.10.1.11 Proses Pencapan Zat Warna Reaktif dengan Variasi Urea dan
         Dalam Proses Fixasi.
4.10.1.11.1 Tujuan Percobaan
                Untuk mengetahui proses, cara kerja dan hasil pencapan atau
                printing dengan menggunakan zat warna rektif dengan variasi urea
                dan proses fixasi.
4.10.1.11.2 Alat dan Zat
       Alat :
      Pipet volume
      Neraca
      Mixer
      Rakel
      Screen
      Kassa Bunsen / pemanas
      Kain
       Bahan :
      Seatex HV
      Anti reduce
      Urea
      Na2CO3
      Zat warna reaktif
   4.10.1.11.3 .Resep
   1. Resep pembuatan thickening alginate
       - Seatex HV 5%                               50 gr
       - Air                                        940 gr
       - Anti reduce                                10 gr
                        Jumlah                      1000 gr




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                         99
                                              PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




   2. Resep variasi printing pasta pada proses pencapan dengan zat warna
       reaktif
   Bahan         satuan          1             2             3             4
Thickening         Gr           700           700           700           700
  alginate
 Zat warna         Gr            30            30            30            30
   reaktif
   Urea            Gr             -            40            60            80
 Soda kue          Gr            20            20            20            20
    Air            Gr           250           210           190           170
  jumlah           Gr           1000         1000          1000          1000


4.10.1.11.4 Cara Kerja
   1. Membuat printing pasta sesuai dengan resep yang telah di tentukan.
   2. Mencap kain dengan motif dan printing pasta sesuai dengan resep.
   3. Lakukan pengeringan (drying) pada suhu 1000C selama 2 menit.
   4. Lakukan pemanasan (steaming).
   5. Lakukan fixasi dengan angina-angin, cure, steaming dan block silikat.
   6. Lakukan penyabunan, pencucian dan pembilasan.


4.10.1.11.5 Hasil Pengamatan
   1. Pada variasi nomor 1, warna kain kurang terang kareana tidak
       menggunakan urea. Sedangkan pada variasi nomor 2 , 3 , dan 4 warn kain
       terang karena menggunakan urea.
   2. Hasil pencapan zat warna reaktif dingin yang terbaik diperoleh dengan
       cara fixasi, steaming. Sedangkan fixasi airing, curring dan block silikat
       hasilnya cukup baik.
   3. Hasil pencapan zat warna reaktif panas diperoleh dengan cara fixasi ,
       steaming, sedangkan fixasi airing, curring dan block silikat hasilnya tidak
       baik.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                           100
                                              PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




   4. Hasil pencapan zat arna reaktif     P hasilnya baik sekali dengan fixasi
      steaming curring, block silikat. Dan cukup baik dengan fixasi airing.
   5. Hasil pencapan zat warna reakif remazol hasil terbaik pada fixasi steaming
      dan block silikat.
   6. Cara fixasi airing, steaming, curring, block silikat cocok digunakan untuk
      zat warna reaktif dingin dan zat warna reaktif P. Sedangkan zat warna
      reaktif panas dan zat warna reaktif remazol tidak cocok dengan fixasi
      tersebut.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                         101
                                               PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




4.2 Flow of Process
                                    Persiapan


                                     Weaving


                                    Inspecting


                                   Gudang grey


                                    Pemartaian


                                     Desizing


          Singeing                   Scouring


                                     Relaxing


                                     Drying


                                     Setting


      Weight Reduce                  Dyeing


                                      Drying


                                      Finish



                      Gambar 4.1 Diagram Alir Processing




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                 102
                                             PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




                                  BAB V
                            PEMBAHASAN


       Teknologi printing (pencapan), dyeing (pencelupan) dan finishing
(penyempurnaan) yang terdapat pada proses pengolahan serat kain ataupun
sebelum pengolahan serat kain diantaranya adalah:
1. Proses Persiapan Penyempurnaan
       Proses persiapan penyempurnaan adalah suatu proses penghilangan
kotoran baik yang bersifat alamiah maupun yang bersifat buatan. Kotoran yang
terdapat di dalam dan di permukaan kain. Tujuan dilakukannya proses persiapan
penyempurnaan adalah untuk mempermudah proses selanjutnya. Proses persiapan
penyempurnaan meliputi proses baker bulu, proses penghilangan kanji, proses
pemasakan, proses relaksasi, proses pemantapan panas, proses pengurangan berat
dan proses pencucian.


2. Proses Bakar Bulu
       Proses baker bulu adalah proses menghilangkan bulu-bulu yang muncul
pada permukaan kain sebagai akibat dari gesekan-gesekan mekanik dan
peregangan-peregangan pada saat proses pentenunan.
       Prinsip pengerjaan baker bulu adalah melakukan kain pada api (burner)
dengan kecepatan dan yegangan tertentu sehingga bulu-bulu yang akan
mengganggu proses selanjutnya diharapkan dapat hilang.
       Umumnya pembakaran bulu dapat dilakukan pada kain rayon staple atau
campurannya dengan kain polyester. Kain yang akan diproses dimasukan, kain
melewati sikat untuk mengeluarkan bulu dan membersihkan kain yang akan
dibakar kemudian dilewatkan pada kedua burner dengan kecepatan tertentu.


3. Proses Penghilangan Kanji
       Tujuan proses penghilangan kanji adalah untuk menghilangkan kanji yang
diberikan sebelum proses pentenunan pada benang lusi agar tidak mengganggu



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                      103
                                              PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




pada proses selanjutnya. Sebelum di tenun, biasanya benang lusi tunggal untuk
kain rayon, kain sintetik, kain campuran serat alam atau sintetik perlu dikanji
terlebih dahulu untuk menambah kekuatan dan daya tahan benang-benang tersebut
terhadap gesekan. Bila tidak dikanji terlebih dahulu, benang-benang lusi tersebut
akan mudah putus sehingga mengurangi mutu dan efisiensi kain.


4. Proses Pemasakan
       Proses pemasakan kain grey rayon bertujuan untuk menghilangkan
kotoran-kotoran dan serat seperti minyak, lemak, debu, dan lail-lain. Sedangkan
pada serat sintetik atau polyester tidak perlu dilakukan proses pemasakan, karena
sudah dibuat bersih dan murni. Proses pemasakan biasanya disimultankan dengan
proses pengelantangan.
       Proses pemasakan serat-serat alam dilakukan dengan menggunakan alkali
seperti NaOH dan Na2CO3. NaOH sebagai alkali berfungsi kuat untuk membantu
aktifnya proses pengelantangan. Sedangkan H2O2 berfungsi sebagai zat oksidator
pada proses pengelantangan.


5. Proses Relaksasi
       Proses relaksasi dikerjakan pada kain polyester dengan maksud untuk
membuka atau mengendurkan puntiran benang yang tegangannya tinggi sehingga
puntiran benangnya cenderung terbuka. Dengan proses ini, dapat diperoleh kain
polyester yang memberi efek pegangan atau handling lembut, lemas dan
bergelombang. [ada proses ini zat yang digunakan dan memberi peranan yang
sangat penting adalah NaOH sebagai alkali yang akan mempermudah benang
untuk membuka putirannya.


6. Proses Pemantapan Panas
       Proses pemantapan panas bertujuan untuk memperoleh kain yang memiliki
lebar yang lebih seragam dan anyaman kain yang tidak mudah bergeser pada
proses pengerjaan selanjutnya. Prinsip pengerjaannya adalah dengan melakukan
kain pada suatu ruangan berudara panas dengan kondisi kain ditarik kea rah lebar.



Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                        104
                                              PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




Proses pemantapan panas menggunakan suhu pengerjaan yang mendekati kondisi
titik leleh serat kain sehingga memungkinkan untuk terjadinya penstabilan kondisi
kain.


7. Proses Pengurangan Berat
        Proses pengurangan berat merupakan proses pengikisan permukaan serat
polyester dengan larutan alkali pekat pada suhu didih sehingga berat kain
berkurang dan bahan tersebut menjadi lemas, lembut, dan tipis seperti sutera
(silky) yang bersifat permanent.


8. Proses Pencucian (Netralisasi)
        Proses pencucian atau netralisasi dilakukan dengan tujuan mengembalikan
kondisi kain setelah mengalami proses persiapan yang sebelumnya, agar zat-zat
yang masih menempel dapat lepas sehingga kain menjadi benar-benar netral dan
bersih, terutama dari alkali.


9. Proses Pencelupan (Dyeing)
        Pencelupan adalah proses pemberian earna secara merata dan bersifat
permanen dengan menggunakan medium utama air. Pencelupan pada umumnya
terdiri dari melarutkan atau mendispersikan zat warna dalam air, kemudian
memasukan bahan tekstil bahan tekstil ke dlam larutan tersebut, sehingga terjadi
penyerapan zat warna kedalam serat.


10. Proses Pencapan (Printing)
        Proses printing atau pencapan bertujuan untuk memberikan motif atau
warna yang beragam pada suatu permkaan kain dengan sifat permanent. Pada
proses printing atau pencapan yang perlu kita perhatikan adalah ada beberapa
faktor, yaitu:
1. Thickening atau pengental. Thickener adalah zat pembantu yang dapat
    menghantarkan zat warna pada kain. Sifat thickener (pengental) ini hanyalah




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                        105
                                                PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




    sebagai zat pembantu sehingga ketika zat warna telah terhantarkan kedalam
    kain, zat pambantu thickener ini akan dibuang.
        Thickener yang terdapat di alam hanya 2, yaitu
            a. Yang berasal dari tumbuhan.
            b. Yang berasal dari rumput laut.
   2.    Dyestuff atau zat warna. Dyestuff berfungsi sebagai pemberi warna pada
         kain. Dyestuff yang digunakan dalam proses printing ada 2, yaitu :
            a. Zat warna direx.
            b. Zat warna reaktif.
   3. Proses Fixasi atau pematangan warna.
   4. Proses pencucian.


        Adapula faktor yang menghambat pada proses printing atau pencapan yaitu,
pada setiap proses produksi, selalu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Misalkan
saja pada proses matching colour. Bila warna yang di pesan tidak sesuai dengan
pesanan dari buyer, maka kita sebagai customer harus mengejar target agar sesuai
persis dengan keinginan dari buyer.
         Terkadang penggunaan thickening atau bahan pengental, penambahan
auxilliries dan penggunaan dyestuff atau zat warna dapat mempengaruhi pada
proses produksi. Karena mempengaruhi pada proses berikutnya, yaitu pada proses
fixasi., seperti kejadian berikut :
   1. Pada variasi nomor 1, warna kain kurang terang karena tidak
         menggunakan urea. Sedangkan pada variasi nomor 2 , 3 , dan 4 warn kain
         terang karena menggunakan urea.
    2. Hasil pencapan zat warna reaktif dingin yang terbaik diperoleh dengan
         cara fixasi, steaming. Sedangkan fixasi airing, curring dan block silikat
         hasilnya cukup baik.
    3. Hasil pencapan zat warna reaktif panas diperoleh dengan cara fixasi ,
         steaming, sedangkan fixasi airing, curring dan block silikat hasilnya tidak
         baik.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                           106
                                                PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




    4. Hasil pencapan zat arna reaktif       P hasilnya baik sekalidengan fixasi
        steaming curring, block silikat. Dan cukup baik dengan fixasi airing.
    5. Hasil pencapan zat warna reakif remazol hasil terbaik pada fixasi steaming
        dan block silikat.
    6. Cara fixasi airing, steaming, curring, block silikat cocok digunakan untuk
        zat warna reaktif dingin dan zat warna reaktif P. sedangkan zat warna
        reaktif panas dan zat warna reaktif remazol tidak cocok dengan fixasi
        tersebut.


        Jika perbedaan warna yang terjadi sangat kecil, maka tidak perlu dilakukan
perbaikan lagi tinggal disesuaikan dengan batas toleransi yang diberikan. Jika
perbedaan warna yang terjadi sangat mencolok, maaka perlu dlakukan shading
terhadap warna yang kurang.
        Untuk menjaga supaya kualitas produksi berjalan lancardan sesuai dengan
standar produksi yang telah ditetapkan, maka perlu dilakukan usaha-usaha sebagai
berikut :
    1. Mengadakan bimbingan dan penyuluhan kepada para karyawan secara
       intensif mengenai standard kerja yang baik dan pengetahuan terhadap
       mesin-mesin yang digunakan. Dengan demikian akan didapat kualitas
       produksi yang baik dan efisien, karena karyawan tahu apa yang dikerjakan
       dan tanggung jawabmya.
    2. Mengadakan pertemuan-pertemuan antar unit produksi secara berkala
       untuk membahas masalah-masalah yang ada pada proses produksi tersebut.
    3. Hal ini diharapkan supaya komunikasi antar unit produksi sesuai dengan
       standar system yang digunakan dan ditetapkan. Sehingga setiap masalah
       yang ada dapat teratasi dan dapat mengambil langkah yang tepat untuk
       mrncegah timbulnya hal-hal yang dapat mengganggu stabilitas produksi.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                            107
                                             PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




                                    BAB VI
                                PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
        Berdasarkn hasil pengamatan selama praktik Kerja Industri (Prakerin)
yang dilaksanakan di PT. Panasia Filament Inti 1 khususnya pada bagian Printing
dan processing, kami mengambil kesimpulan sebagai berikut :


5.1.1 Proses persiapan penyempurnaan meliputi :
       Pemartaian Kain
       Penghilangan kanji (Desizing)
       Pemasakan Kain (Scouring)
       Pengelantangan (Bleaching)
       Relaksasi (Relaxing)
       Pengurangan Berat (Weight Reduce)
       Pembakaran Bulu (Singeni)
5.1.2 Proses Pencelupan Dengan Menggunakan Zat warna Dispersi.
5.1.3 Proses Pencapan Pada Kain Menggunakan zat warna Pigment dan
       Reaktif.
5.1.4 Proses Fixasi
5.1.5 Proses Reduces Cleaning
5.1.3 Proses Penyempurnaan




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                      108
                                                PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




5.2 SARAN


     5.2.1 Saran Untuk Pihak Sekolah
    Pihak sekolah sebaiknya menyedikan sarana dan prasarana yang memadai
      untuk proses pembelajaran yang efektif.
    Pihak sekolah sebaiknya memperhatikan kinerja para pelajar saat proses
      pembelajaran.
    Pihak sekolah sebaiknya memberikan pemantapan yang lebih baik kepada
      siswa-siswinya sejak kelas satu.
    Pihak sekolah sebaiknya lebih memperhatikan kemampuan siswa-siswi
      dalam bidangnya daripada pembinaan kedisiplinan untuk seluruh program
      keahlian.
    Pihak sekolah sebaiknya meminimalisasi biaya praktek kerja industri.
    Pihak sekolah sebaiknya memperhatikan kinerja para pembimbing saat
      praktek kerja industri.
    Pihak sekolah sebaiknya menyesuaikan biaya praktek kerja industri sesuai
      dengan kenyataan.
    Pihak sekolah sebaiknya lebih memperhatikan siswa-siswinya saat praktek
      di sekolah, alangkah kurang baiknya jika jadwalnya praktek tetapi
      kenyataannya tidak.
    Pihak sekolah sebaiknya lebih memperhatikan kepuasan siswa-siswinya
      selama proses pembelajaran di sekolah.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                       109
                                             PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




     5.2.2   Saran Untuk Pihak Industri


    Pihak industri sebaiknya lebih memperhatikan siswa –siswi yang prakerin.
    Pihak industri sebaiknya menyiapkan seorang pembimbing untuk siswa-
      siswi yang sedang prakerin.
    Pihak industri sebaiknya menyediakan fasilitas untuk siswa-siswi yang
      sedang prakerin
    Pihak industri sebaiknya lebih terbuka kepada siswa-siswi agar ilmu yang
      kami dapatkan selama prakerin memuaskan kami.




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                      110
                                              PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




                        DAFTAR PUSTAKA




      http//www.teoripencelupantekstil.com
      http//www.pencelupanseratpolyester.com
      http//www.pencapanserattekstil.com
      http//www.serat-serattekstil.com
      Gunadi,Yudi.SOP Laboratorium




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah                111
                                           PT.PANASIA FILAMENT INTI 1




                      DAFTAR LAMPIRAN




Laporan Praktek Kerja Industri SMK Negeri 2 Baleendah             112

				
Thessa Tri Astuty Thessa Tri Astuty thessa'site http://www.google.com/profiles/dr.triyas/
About me it's me..