Faktor sosiekonomi yang mempengaruhi fertilitas wanita di sumtera barat by DavyHnedri

VIEWS: 4,107 PAGES: 39

More Info
									       PENGARUH FAKTOR SOSIAL EKONOMI TERHADAP

  FERTILITAS PASANGAN USIA SUBUR (PUS) DI SUMATERA

                           BARAT




                     Proposal Skripsi


      Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna
            Mencapai Gelar sarjana Ekonomi Islam
                   Pada Fakultas syari’ah




                          Oleh:

                  RENI SUMARNIS
                       306 233




JURUSAN EKONOMI ISLAM FAKULTAS SYARI’AH
    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
             IMAM BONJOL PADANG
                    1431 H/ 2010 M




                            1
                                     BAB I

                               PENDAHULUAN

A. Dasar Pemilihan Judul

          Masalah kependudukan merupakan salah satu permasalahan yang

   dihadapi hampir semua negara berkembang di dunia, khususnya akibat tingkat

   fertilitas (kelahiran) yang tinggi. Pertambahan penduduk yang besar akan

   mempunyai dampak terhadap berbagai aspek kehidupan (Ahmad, 1982:4)

          Laju pertumbuhan penduduk yang cepat menyebabkan terhambatnya

   pertumbuhan ekonomi maupun kesejahteraan penduduk itu sendiri. Fertilitas

   yang tinggi terutama sering terlihat pada masyarakat lapisan kelas bawah,

   sehingga korelasi yang negatif antara fertilitas dan kemiskinan dapat dianggap

   sebagai suatu hukum sosio demografi (Jaim : 1939). Memang jumlah

   penduduk yang banyak merupakan sumber daya yang potensial dalam

   pembangunan, tetapi perlu diingat pertumbuhan penduduk yang terlalu cepat

   sering kali tidak diimbangi oleh penyediaan sarana yang memadai. Akibatnya

   pertambahan penduduk tidak potensial lagi bahkan menjadi beban bagi

   pembangunan.

          Salah    satu   kebijaksanaan       yang   penting   dan   relevan   untuk

   memperlambat atau menekan pertumbuhan penduduk adalah variabel

   fertilitas. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya tantangan bagi para ahli

   untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk

   dan mengkaji lebih lanjut sampai sejauh mana terjadinya suatu hubungan

   antara fertilitas dengan faktor-faktor sosial ekonomi.




                                          2
       Pada dasarnya faktor sosial ekonomi yang dianggap berperan dalam

usaha untuk menurunkan tingkat fertilitas sangat banyak. Tetapi disisni

penulis hanya mengkaji dari empat faktor saja yaitu jumlah akseptor Keluarga

Berencana (KB), tingkat pendapatan, umur perkawinan pertama dan tingkat

pendidikan wanita.

       Pengendalian pertumbuhan penduduk dilakukan melalui upaya

pengendalikan tingkat kelahiran dan tingkat kematian bayi dan anak.

Penurunan tingkat kelahiran dapat dilakukan melalui gerakan keluarga

berencana yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak

dalam mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera. (GBHN,1988).

Secara resmi program nasional keluarga berencana mulai dilaksanakan pada

tahun 1970. Berdasarkan struktur organisasi yang ditetapkan dengan

Keputusan Presiden No. 8 tahun 1970, gerakan keluarga berencana nasional

dilakukan melalui rumah sakit, puskesmas, posyandu dan klinik-klinik. Di

Sumatera Barat program keluarga berencana relatif baru dimulai (awal periode

1980-an) namun program ini nampaknya mendapat sambutan dari masyarakat.

Ini terbukti dari semakin meningkatnya jumlah akseptor KB setiap tahunnya.

       Tingkat pendapatan (tingkat pendapatan perkapita) suatu daerah

merupakan faktor penunjang yang utama di dalam pengadaan sarana dan

prasarana yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk mencapai suatu kehidupan

yang lebih baik, terutama penyediaan sarana di bidang kesehatan, pendidikan,

perluasan kesempatan kerja dan lain-lain. Maka dengan adanya peningkatan

pendapatan diharapkan dapat menekan atau memperkecil tingkat fertilitas.




                                   3
       Para peneliti mengungkapkan bahkan perkawinan muda atau

perkawinan remaja banyak memiliki sisi negatif, seperti makin muda umur

perkawinan pertama, makin memungkinkan terjadi perceraian, sehingga akan

terjadi perkawinan ulang. Perceraian dan perkawinan ulang memiliki dampak

negatif bagi kehidupan anak. Makin muda umur perkawinan maka makin

panjang pula masa reproduksinya, sekalipun terjadi perceraian (Supratilah dan

Suradji,1979).

       Pertumbuhan penduduk Sumatera Barat tergolong rendah bila

dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk di daerah-daerah Indonesia

lainnya secara keseluruhan. Rendahnya pertumbuhan penduduk bukan

disebabkan karena penurunan angka kelahiran dan kematian namun banyak

disebabkan oleh arus migrasi keluar Sumatara Barat.

       Bila diamati berdasarkan angka kelahiran, maka transisi fertilitas di

Sumatera Barat juga disebabkan oleh faktor budaya. Faktor budaya ini

dimaksudkan karena anak merupakan aset bagi keluarga, khususnya anak

perempuan pada sistem kemasyarakatan matriakat. Faktor budaya merantau

diperkirakan memberi dampak terhadap tingginya keinginan rumah tangga

untuk memiliki anak, yang tujuannya untuk berjaga-jaga. Karena di

Minangkabau anak laki-laki sebagian besar pada saat dewasa cenderung pergi

meninggalkan kampung halaman atau diistilahkan dengan merantau.

       Masalah fertilitas ini mempunyai hubungan langsung dengan jumlah

Pasangan Usia Subur (PUS) yang ada di Sumatera Barat yang berumur antara

15 sampai 49 tahun. Karena penurunan tingkat fertilitas dilaksanakan




                                    4
   berdasarkan kesadaran dan tanggung jawab mereka untuk mensukseskan

   program keluarga berencana.

            Berdasarkan uraikan di atas, penulis berminat untuk menyusun skripsi

   yang berjudul “PENGARUH FAKTOR SOSIAL EKONOMI TERHADAP

   FERTILITAS PASANGAN USIA SUBUR (PUS) DI SUMATERA

   BARAT”.



B. Perumusan Masalah

            Masalah penduduk yang paling utama dihadapi Sumatera Barat adalah

   masih relatif tingginya pertumbuhan penduduk. Fertilitas merupakan salah

   satu faktor yang sangat penting dalam menentukan besar atau kecilnya laju

   pertumbuhan penduduk.

            Semakin banyaknya wanita memperoleh pendidikan yang lebih baik

   pada gilirannya akan menyebabkan tertundanya umur perkawinan pertama.

   Hal ini akhirnya dapat menurunkan tingkat fertilitas karena terdapat pola

   hubungan yang bersifat negatif antara umur perkawinan pertama terhadap

   fertilitas.

            Dengan semakin luasnya kesempatan kerja bagi wanita sehingga

   mereka bisa menambah pendapatan keluarganya. Hal ini juga mempengaruhi

   pola fertilitas dalam suatu keluarga, karena semakin sibuk wanita atau

   semakin besar peranan wanita dalam masyarakat sekitar maka semakin kecil

   tingkat fersilitasnya.




                                       5
          Untuk itu penulis mengaggap perlu adanya suatu penelitian untuk

   mengetahui analisa yang penulis kemukakan diatas, dengan mengemukakan

   permasalahan :

          1. Seberapa besarkah pengaruh tingkat pendapatan terhadap fertilitas

                di Sumatera Barat ?

          2. Sejauh manakah pengaruh program keluarga berencana terhadap

                fertilitas di Sumatera Barat ?

          3. Sejauh mana pula pengaruh umur perkawinan pertama terhadap

                fertilitas di Sumatera Barat ?

          4. Usaha-usaha        apa    sajakah   yang   dapat   ditempuh   untuk

                menanggulangi laju pertumbuhan penduduk yang cepat ?



C. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian

         Sehubungan dengan dasar pemilihan judul dan perumusan masalah

  maka tujuan penelitian ini adalah :

    a. Untuk mengetahui besarnya pengaruh tingkat pendapatan, program KB

       dan umur perkawinan pertama terhadap tingkat fertilitas.

    b. Untuk mengetahui perkembangan Total Fertility Rate (TFR) di Sumatera

       Barat.

    c. Mengemukakan beberapa kebijakan untuk menekan laju pertumbuhan

       penduduk.

          Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang :




                                          6
    1. Pengaruh faktor sosial ekonomi terhadap tingkat fertilitas di Sumatera

        Barat dan hal-hal yang terkait di dalamnya.

    2. Pola fertilitas di Sumatera Barat dan menyusun rencana yang berkaitan

        dengan masalah kependudukan.

D. Hipotesa

          Berdasarkan kepada permasalahan dan tujuan penelitian, maka dapat

   dirumuskan hipotesa sebagai berikut :

          1. Tingkat pendapatan mempunyai hubungan yang negatif dengan

              tingkat fertilitas. Hal ini terjadi karena adanya kecenderungan

              sebagian orang tua untuk mengganti kualitas dari pada kuantitas

              dengan cara memperkecil jumlah anak.

          2. Jumlah wanita akseptor KB diduga mempunyai hubungan yang

              negatif dengan tingkat fertilitas. Semakin banyak wanita menjadi

              akseptor KB maka angka fertilitasnya akan turun.

          3. Diduga umur perkawinan pertama juga mempunyai hubungan yang

              positif dengan tingkat fertilitas. Semakin muda umur perkawinan

              pertama seorang semakin panjang pula waktu orang tersebut untuk

              melahirkan anak.

          4. Tingkat pendidikan wanita, semakin banyak wanita memperoleh

              pendidikan yang lebih baik pada gilirannya akan menyebabkan

              tertundanya umur perkawinan pertama. Dan hal ini akhirnya dapat

              menurunkan tingkat fertilitas karena terdapat pola hubungan antara

              umur perkawinan pertama terhadap fertilitas.




                                       7
E. Ruang Lingkup Pembahasan

           Untuk menghindari penyimpangan dari tujuan yang dimaksud, perlu

   ditegaskan batasan-batasan masalah yang akan dibahas, yaitu :

           “Tingkat penelitian dibatasi pada beberapa variabel saja. Jadi dalam

             hal ini yang menjadi variabel bebas adalah tingkat pendapatan

             perkapita atas dasar harga konstan, jumlah wanita akseptor KB dan

             umur perkawinan pertama, sedangkan variabel tidak bebasnya

             adalah tingkat fertilitas”.



F. Tinjauan Judul

       Pengaruh          :Daya yang ada atau yang timbul dari variabel yang

                         membentuk watak, kepercayaan variabel lain.

       Fakror            :Hal (keadaan, peristiwa) yang ikut menyebabkan

                         (mempengaruhi) terjadinya sesuatu.

       Sosial            :Berkenaan         dengan   masyarakat    perlu     adanya

                         komunikasi, usaha menunjang pembangunan, atau suka

                         memperhatikan kepentingan umum.

       Ekonomi           :Kegiatan         manusia   dalam    usaha        memenuhi

                         kebutuhannya.

       Fertilitas        :Tingkat rata-rata jumlah bayi yang dilahirkan hidup oleh

                         seorang wanita selama usia suburnya atau dimasa-masa

                         reproduksinya (Sardjono, 1982).




                                            8
G. Sistematika Penulisan

   BAB I     PENDAHULUAN

             Bab satu berisikan dasar pemilihan judul, rumusan masalah, tujuan

             dan manfaat penelitian, hipotesa, ruang lingkup pembahasan dan

             sistematika penulisan.

   BAB II    KERANGKA TEORI

             Disini dijelaskan tentang kerangka teori.

   BAB III METODOLOGI PENELITIAN

             Bab tiga ini berisikan metodologi penelitian, yang membahas

             tentang data dan sumber data, metode analisis data, serta Uji

             Statistik.

   BAB IV KONDISI SOSIAL EKONOMI SUMATERA BARAT

             Pada bab ini dianalisa tentang perkembangan faktor sosial ekonomi

             di Sumatera Barat, meliputi tingkat pendapatan, umur perkawinan

             pertama dan perkembangan Total Fertility Rate (TFR) di Sumatera

             Barat.

   BAB V     HASIL ESTIMASI, ANALASIS DAN AMPLIKASI

             Pada bab ini akan dibahas hasil perhitungan regresi dan

             kebijaksanaan yang dapat diambil oleh pemerintah dalam rangka

             penurunan tingkat fertilitas di Sumatera Barat.

   BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

             Pada bab ini akan diuraikan kesimpulan bedasarkan hasil analisis

             data dan pembahasan serta diakhiri dengan saran.




                                       9
                                      BAB II

                           LANDASAN TEORITIS

A. Kajian Teori

   1.Angka Kelahiran

           Angka kelahiran termasuk salah satu subjek penting bagi ilmu

   Demografi yang memberikan pengaruh langsung pada pertumbuhan penduduk

   terutama yang menyangkut distribusi, stuktur dan perubahan jumlah

   penduduk. Hal ini dilihat dari hasil reproduksi yang nyata dari seorang wanita.

   Angka kelahiran adalah banyaknya bayi lahir hidup dan lahir mati yang

   dilahirkan oleh seorang wanita dalam jangka waktu tertentu.

           Tingkat fertilitas adalah tingkat rata-rata jumlah bayi yang dilahirkan

   hidup oleh seorang wanita selama usia suburnya atau dimasa-masa

   reproduksinya (Sardjono, 1982). Fertilitas dapat pula diartikan sebagai hasil

   reproduksinya yang nyata dari seorang wanita (LDUI), 1985). Dengan kata

   lain fertilitas ini menyangkut banyaknya bayi yang lahir hidup.

           Angka kelahiran ini berhubungan sekali dengan tingkat fertilitas.

   Fertilitas ini mengandung arti Menurut kamus bahasa Indonesia yang artinya

   adalah kemampuan untuk menghasilkan keturunan. Menurut asal katanya

   fertilitas berasal dari bahasa Inggris yaitu fertility yang berarti kesuburan,

   Sedangkan menurut Sembiring dalam proposal Andy Febrian (2009) Fertilitas

   adalah taraf kelahiran yang sesungguhnya berdasarkan jumlah kelahiran yang

   telah terjadi (lahir hidup dan lahir mati). (Andy Febrian,2009).




                                        10
       Beberapa penulis kependudukan terdahulu cenderung percaya bahwa

yang menentukan fertilitas adalah faktor-faktor non ekonomi (analisa fertilitas

diluar analisa ekonomi). Namun seiring dengan terus berkembangnya ilmu

ekonomi, kepercayaan tentang hubungan fertilitas dengan faktor ekonomi

semakin kuat, seperti dengan munculnya ide Neo Mathusian yang berpendapat

bahwa peningkatan pendapatan mempunyai pengaruh terhadap fertilitas. Teori

ini   menekankan    pada    pembatasan     pertumbuhan     penduduk    dengan

menggunakan pembatasan kelahiran (Lucas, 1990:224).

       Teori ekonomi kependudukan yang dikemukakan oleh beberapa ahli

menjelaskan bahwa faktor-faktor yang menentukan jumlah kelahiran anak

yang diinginkan perkeluarga di antaranya adalah berapa banyak kelahiran

yang dapat dipertahankan hidup (survive). Tekanan yang utama adalah cara

bertingkah laku itu sesuai dengan yang dikehendaki apabila orang

melaksanakan perhitungan-perhitungan kasar mengenai jumlah kelahiran anak

yang diinginkannya. Perhitungan-perhitungan demikian itu tergantung pada

keseimbangan antara kepuasan atau kegunaan (utility) yang diperoleh dari

biaya tambahan kelahiran seorang anak, baik berupa keuangan maupun psikis

(Calwell,1983).

       Pandangan terhadap faktor-faktor ekonomi yang mempunyai pengaruh

kuat terhadap fertilitas bukan hal yang baru. Dasar pemikiran yang utama dari

teori transisi demografi yang sudah dikenal luas adalah sejalan dengan

diadakannya pembangunan sosial ekonomi.




                                    11
       Transisi demografi adalah kondisi yang merupakan proses perubahan

dari tingkat kelahiran dan kematian yang tinggi secara perlahan menuju

ketingkat menengah dan rendah. Dasar pemikiran yang utama dari teori

Transisi Demografi adalah bahwa sejalan dengan diadakannya pembangunan

sosial ekonomi, maka keinginan mempunyai anak lebih merupakan suatu

proses ekonomis daripada proses biologis (Robinson dalam Buku David

Lucas dkk,1990).

       Angka       kelahiran        mengasumsikan               bahwa        permintaan        untuk

mendapatkan sejumlah anak ditentukan oleh preferensi keluarga itu sendiri

atas jumlah anak yang dianggap ideal (biasanya yang lebih mereka inginkan

adalah anak laki-laki). Dari perspektif demografi, angka kelahiran merupakan

faktor penentu dinamika kependudukan.

       Tinggi rendahnya angka kelahiran dapat menggambarkan kecepatan

pertumbuhan penduduk suatu daerah atau negara. Untuk dapat melihat ukuran

angka kelahiran yang sering digunakan antara lain :

1) Crude Bith Rate (CBR) atau angka kelahiran kasar.

       Sering juga disebut sebagai kelahiran perseribu penduduk. Cara

   perhitungannya dengan Rumus :

                       �������������������� ℎ ���������������� ℎ���������������� �������������������� ���������������� �������� ℎ��������
   CBR =                                                                                   x 1000
                    �������������������� ℎ �������������������������������� �������������������� �������� ℎ�������� ��������������������������������

       Jumlah penduduk biasanya dihitung pertengahan tahun (tgl 1 Juli)

CBR ini disebut juga sebagai angka kelahiran kasar karena sebagai penyebut

atau pembaginya dipakai jumlah total penduduk yang termasuk laki-laki dan




                                             12
anak-anak. Sedangkan penduduk yang melahirkan hanyalah wanita yang

dalam masa produksi dalam keadaan kawin.

General Fertility (GFR)

        General Fertility Rate adalah penghalusan dari Crude Birth Rate

 dimana pada GFR penyebut atau pembagi bukan lagi jumlah total penduduk

 tetap adalah jumlah wanita usia subur (biasanya usia antara 15 hingga 45).

 Rumusnya adalah sebagai berikut :

                       �������������������� ℎ ���������������� ℎ���������������� �������������������� �������������������� �������� ℎ��������
    CFR =                                                                                     x 1000
              �������������������� ℎ ������������������������ ���������������� 15−45 ���������������� �������� ℎ�������� ��������������������������������

        GFR ini biasanya jauh lebih tinggi GBR, tergantung dari jumlah

 wanita usia subur pada penduduk tersebut.

2) Age Spesific Rate

        Angka ini dipakai untuk mengetahui tingkat fertilitas pada wanita usia

 tertentu. Yaitu terdapat dari jumlah kelahiran pada wanita usia tertentu atau

 golongan usia tersebut.

 Rumus :

         �������������������� ℎ ���������������� ℎ���������������� ���������������� ������������������������ �������������������������������� ����������������
ASFR =                                                                                     x 1000
              �������������������� ℎ ������������������������ �������������������������������� ���������������� ��������������������������������

        Golongan usia yang biasanya dipakai ialah 5 tahunan seperti misalnya

15-19 atau 20-24 hingga 45-49.



3) Total Fertility Rate (TFR)

        Angka TFR ini didapat dengan menjumlahkan semua ASFR tiap umur

dari wanita pada usia subur. Total Fertility Rate adalah suatu ukuran yang



                                                13
berguna untuk menggambarkan keadaan fertilitas yang murni atau yang

sebenarnya pada waktu tertentu.

4) Gross Reprodusi Rate (GRR)

       Gross Reproduksi Rate adalah angka yang menunjukkan rata-rata

jumlah anak perempuan yang dilahirkan oleh seorang wanita seumur

hidupnya.

5) Net Reproduction Rate (NRR)

       NRR adalah angka yang menunjukkan rata-rata jumlah anak

perempuan yang dilahirkan oleh seorang wanita seumur hidupnya dan didapat

tetap hidupnya hingga mencapai umur ibunya ketika melahirkannya.

       Dari kelima ukuran diatas yang dipergunakan di Indonesia adalah total

fertilitas Rate (TFR). Total fertility Rate inilah yang murni atau biasanya

dapat menggambar keadaan fertilitas (kelahiran). (Mulyadi, S,2002)

       Menurut teori Maltus bahwa makanan merupakan unsur penting bagi

kehidupan manusia, nafsu manusia tidak dapat dibendung dan ditahan,

akibatnya pertambahan penduduk jauh lebih pesat daripada pertumbuhan

makanan. Penduduk bertambah menurut deret ukur sedangkan makanan

bertambah menurut deret hitung.

       Teori Neo Maltusian bahwa kelahiran seorang bayi kedunia sebagai

suatu tekanan terhadap lingkungan, setiap bayi yang lahir memerlukan ruang,

air, makanan, pakaian, trasportasi, pendidikan, perawatan kesehatan, dan

pekerjaan setelah ia dewasa. Semakin banyak bayi yang dilahirkan semakin

besar tekanan terhadap lingkungan dan pembangunan. Teori Nassau William




                                   14
Senior bahwa cita-cita untuk memperbaiki keluarga sama kuatnya dengan

keinginan untuk menurunkan tingkat keturunan. Akibatnya dalam suasana

kehidupan yang normal, pertambahan penduduk tidak mungkin lebih tinggi

dari bahan kehidupan yang ada. (Makalah Andy Febrian,2009).

1. Pada tahap ini, harga seorang anak sangat rendah. Akibatnya jumlah anak

   yang diinginkan sangat banyak. Namun umumnya keadaan sosial

   ekonomi masih buruk, begitu pula kondisi keselamatan para ibu. Kondisi

   gizi belum baik, sehingga kesuburan para ibu dan resiko keguguran sangat

   tinggi. Fertilitas sangat rndah.

   Dengan demikian tidak mengherankan jika penduduk mengalami “defisit

   fertilitas”. Jumlah anak yang diinginkan lebih besar daripada jumlah anak

   yang bisa dilahirkan. Angka fertilitas tergantung pada fertilitas alamiah

   semata. Perbaikan pada kondisi sosial ekonomi yang mempengaruhi

   kondisi kesehatan, sehingga menaikkan fertilitas alamiah-langsung

   meningkatkan angka fertilitas penduduk. Karena jumlah anak yang bisa

   mereka miliki, pada tahap ini pelayanan kontrasepsi tidak diperlukan.

2. Pada tahap ini, harga seorang anak sudah mulai meningkat, begitu pula

   tingkat fertilitas alamiah. Bahkan, fertilitas alamiah sudah melampaui

   jumlah anak yang diinginkan. Dengan demikian, penduduk mengalami

   “surplus fertilitas”. Mereka mulai membutuhkan kontrasepsi.

   Sayangnya, pada tahap ini harga pelayanan kontrasepsi masih sangat

   mahal. Tidak saja harganya terlalu tinggi (aspek moneter), tetapi juga

   nilai-nilai sosial belum bisa menerima penggunaan kontrasepsi (aspek non




                                      15
  moneter). Akibatnya dengan tingkat pendapatan saat itu, penduduk tidak

  mampu menjangkauan pelayanan kontrasepsi, terdapat unmet need

  terhadap kontrasepsi, sehingga angka fertilitas masih dipengaruhi fertilitas

  alamiah semata. Meskipun penduduk sudah membutuhkan pelayanan

  kontrasepsi, tetapi dampaknya belum terlihat pada angka fertilitas. Sekali

  lagi, perbaikan pada kondisi sosial ekonomi yang mempengaruhi kondisi

  kesehatan, sehingga menaikkan fertilitas alamiah-langsung meningkatkan

  angka fertilitas penduduk.

3. Pada tahap ini, harga anak sudah cukup tinggi dan harga kontrasepsi

   sudah mulai terjangkau oleh sebagian penduduk. Sebagian penduduk itu,

   sudah menginginkan dan menggunakan kontrasepsi. Namun, belum

   semua penduduk dapat menjangkau pelayanan kontrasepsi. Sebagian

   penduduk yang berpendapatan rendah, belum mampu menjangkau

   pelayanan kontrasepsi. Dengan kata lain masih ada unmet need terhadap

   kontrasepsi.

   Pada tahap ini, perbaikan kondisi sosial ekonomi tidak selalu membawa

   peningkatan angka fertilitas perbaikan ekonomi sosial masih akan

   meningkatkan tingkat fertilitas alamiah, namun dengan peningkatan

   semakin menurun. Sementara itu, kenaikan harga anak dan penurunan

   harga kontrasepsi membuat semakin banyak orang yang memakai

   kontrasepsi dibandingkan waktu-waktu sebelumnya. Dengan demikian,

   angka fertilitas tergantung pada kedua hal tersebut. Jika dampak




                                  16
       perbaikan sosial ekonomi pada fertilitas alamiah lebih kecil daripada

       dampak pemakaian kontrasepsi, maka fertilitas akan menurun.

   4. Pada tahap ini, harga anak sudah demikian tinggi, namun nilai harga

       pelayanan kontrasepsi sudah semakin rendah. Sebagian besar penduduk

       sudah dapat menjangkau pelayanan kontrasepsi dan memakai kontrasepsi.

       Karena kondisi kesehatan penduduk sudah sedemikian baiknya, perbaikan

       kondisi sosial ekonomi sudah tidak lagi membawa peningkatan fertilitas

       alamiah. Dengan demikian, angka fertilitas semata-mata dipengaruhi oleh

       jumlah anak yang dipengaruhi oleh jumlah anak yang diinginkan oleh

       penduduk. Perbaikan kondisi sosial ekonomi mempengaruhi angka

       fertilitas melalui pemakaian kontrasepsi.

          Pada tahap ini tercapai kondisi Replecement Level Fertility, yang

   ditandai dengan angka Net Replecement Rate sama dengan satu (NRR).

   (Mulyadi, S,2002).



2. Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Wanita Dengan Angka Kelahiran

          Tingkat    pendidikan    berkaitan   erat   dengan   penguasaan   ilmu

   pengetahuan dan teknologi. Tingkat pendidikan yang tinggi memungkinkan

   penduduk mengolah sumber daya alam dengan baik. Disamping itu

   penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi memudahkan penduduk

   memenuhi berbagai kebutuhan hidup sehingga taraf hidupnya meningkat.

   Sedang tingkat pendidikan yang rendah dapat menyebabkan lambannya taraf

   hidup, dengan demikian kemajuan menjadi terhambat (Torop dalam proposal




                                       17
Andy Febrian, 2009). Pendidikan merupakan kegiatan (usaha) yang dijalankan

dengan sengaja, teratur dan terencana dengan maksud mengubah tingkah laku

yang diinginkan.

         Dalam Undang-Undang no 2/1989) tentang sistim pendidikan nasional

pasal 4 berbunyi : Pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan

bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia

yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi

pekerti luhur memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan

rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab

kemasyarakatan dan kebangsaan. Pendidikan merupakan faktor penting dalam

pengembangan sumber daya manusia, sebab pendidikan tidak saja menambah

pengetahuan tetapi juga meningkatkan keterampilan kerja (Simanjuntak,

1988).

         Pendidikan adalah 1) Proses dimana seseorang mengembangkan

kemampuannya, sikap dan bentuk tingkah laku lainnya didalam masyarakat

dimana dia berada, 2) Proses sosial dimana dia dihadapkan pada pengaruh

lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang dating dari wikolah),

sehingga dapat diperoleh atau menalami perkembangan kemampuan individu

yang optimum. (Andy Febrian, 2009).

         Hubungan antara pendidikan dengan pola pikir, persepsi dan perilaku

masyarakat memang sangat signifikan, dalam arti bahwa semakin tinggi

tingkat pendidikan seseorang semakin rasional dalam pengambilan berbagai

keputusan. Orang tua dalam keluarga tentu saja menginginkan agar anaknya




                                   18
berkualitas. Untuk itu lebih mudah, dibutuhkan strategi dan metode yang baik.

Apakah mungkin menciptakan anak yang berkualitas kondisi keuangan atau

pendapatan yang terbatas.

       Pendidikan menunjukkan pengaruh yang lebih kuat terhadap angka

kelahiran daripada variabel lain. Seorang dengan tingkat pendidikan yang

relative tinggi tentu saja dapat mempertimbangkan berapa keuntungan

finansial yang diperoleh seorang anak dibandingkan dengan biaya yang harus

dikeluarkan untuk membesarkannya. Hubungan antara pendidikan dan nilai

anak juga terlihat pada diri wanita. Semakin tinggi tingkat pendidikan wanita,

bukan saja semakin rasional, akan tetapi semakin besar peluangnya untuk

memasuki pasar kerja. Sementara itu waktu bagi seorang wanita yang bekerja

sangat sedikit, dengan demikian untuk mengasuh dan membesarkan anak

semakin berkurang. Itulah sebabnya nilai anak baginya mungkin berbeda

dengan wanita kebanyakan, terutama yang tidak perpeluang untuk bekerja di

luar rumah (Peran Publik). (Bouge dalam David Lucas (1990).

       Penduduk yang mempunyai pendidikan yang tinggi cenderung

memilih atau merencanakan angka kelahiran atau jumlah anak yang

diinginkan rendah atau fertilitas rendah akan menuju norma keluarga kecil

sejahtera (Andy Febrian, 2009).




                                   19
3. Hubungan Antara Pendapatan Perkapita Dengan Angka Kelahiran

             Pendapatan adalah jumlah seluruh uang yang diterima oleh seseorang

   atau rumah tangga selama jangka waktu satu tahun. Pendapatan terbagi dua

   yaitu :

            Pendapatan pribadi merupakan semua jenis pendapatan termasuk

             pendapatan yang diperoleh tanpa memberikan suatu kegiatan apapun,

             yang diterima oleh penduduk suatu negara.

            Pendapatan disposibel seluruh pendapatan pribadi dikurangi oleh pajak

             yang harus di bayar oleh para penerima pendapatan. (Sadono

             Sukirno,1994:417).

             Menurut kamus Bahasa Indonesia pendapatan itu adalah hasil usaha.

   Pendapatan adalah gambaran yang paling tepat tentang posisi ekonomi

   keluarga (termasuk semua barang dan hewan peliharaan).

             Pendapatan perkapita salah satu komponen dan pendapatan nasional

   yang selalu dilakukan perhitungannya. Pendapatan perkapita salah satu

   komponen dan pendapatan nasional yang selalu dillakukan perhitungannya.

   Pendapatan perkapita yaitu pendapatan rata-rata penduduk suatu negara pada

   waktu tertentu nilainya diperoleh dari membagi nilai pendapatan nasional

   bruto atau pendapatan domestik bruto pada satu tahun tertentu dengan jumlah

   penduduk pada tahun tersebut. Dengan demikian pendapatan perkapita dapat

   dihitung dengan menggunakan salah satu persamaan berikut. (Sadono

   Sukirno, 1994:417).

                               ���������������������������������������� �������������������������������� ��������������������
            Perkapita PNB =
                                       �������������������� ℎ ��������������������������������



                                               20
                         �������������������������������� �������� �������������������������������� ��������������������
      Perkapita PDB =
                                  �������������������� ℎ ��������������������������������

       Pendapatan perkapita merupakan pendapatan yang didapat oleh

sebuah rumah tangga/keluarga dalam suatu daerah atau negara, dimana

sebuah keluarga itu terlihat sejahtera atau tidak. Sebab itu pendapatan inilah

akan terlihat tentang pemenuhan kebutuhan keluarga. Tinggi pendapatan

keluarga dan rendahnya angka kelahiran maka semua kebutuhan akan

terpenuhi dan kesejahteraan akan tercapai, dan sebaliknya kalau tinggi angka

kelahiran tentu pembaginya juga tinggi maka pendapatan perkapita tentu akan

rendah.

       Menurut Teori Neo Maltusian adalah kelahiran seorang bayi kedunia

sebagai suatu tekanan terhadap lingkungan, setiap bayi yang lahir memerlukan

ruang, air, makanan, pakaian,transportasi, pendidikan, perawatan kesehatan,

dan pekerjaan setelah ia dewasa. Semakin banyak bayi yang dilahirkan

semakin besar takanan terhadap lingkungan dan pembangunan. (Makalah

Andy Febrian : 2009)

       Ahli kependudukan, Easterlin dan Chimmins mengemukakan bahwa

keputusan mengenai jumlah anak yang diinginkan dipengaruhi oleh harga

anak menurut si orang tua. Ini berarti keputusan jumlah anak tergantung dari

pendapatan/ kekayaan si orang tua. Dalam hal ini, harga anak dan pendapatan

dihitung dalam nilai sekarang (present value), dan keduanya tidak terbatas

pada aspek moneter. Dengan asumsi suatu tingkat pendapatan/ kekayaan

tertentu, makin tinggi harga anak makin sedikit jumlah anak yang diinginkan,




                                         21
   makin rendah harga anak, makin banyak jumlah anak yang diinginkan.

   (Mulyadi. S, 2003: 18-20).



4. Pandangan Islam Terhadap Angka Kelahiran

          Allah SWT memuji siapa yang ingin mempunyai banyak keturunan

   (keluarga besar). Untuk itu memperbanyak keturunan sangat dianjurkan,

   sehingga   perbuatan   tersebut   merupakan   perbuatan   yang   “mandub”

   (dianjurkan) bukan hanya mubah (diperbolehkan) dan perbuatan ini bukanlah

   suatu kewajiban, hal ini hanyalah suatu perbuatan mandub dalam arti bahwa

   siapa yang mengerjakan mendapatkan pahala dan apabila tidak dilakukan

   tidak berdosa atau mendapat hukuman baik dari negara atau di hari akhir

   kiamat nanti oleh Allh SWT.

          Pada hadits riwayat Abu Dawud dan At Tirmidzi, Rasulullah SAW

   bersabda : “Nikahilah wanita yang sayang dan subur, maka aku akan bangga

   padamu.” Mu’qil bil Yassar melaporkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

   “Nikahilah wanita yang penyayang dan subur keturunannya karena

   sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan

   para nabi yang lain pada hari kiamat nanti”. At Tabrani dari bukunya yang

   berjudul Al Mu’jam Al Kabeer, bahwa Rasulullah SAW bersabda :

   “Menikahlah agar kamu mempunyai banyak keturunan (keluarga besar).”




                                      22
Dalam Firman Allah SWT : Surat An Nisa Ayat 1

             
        
         
         
            
               
         
                 
        
                  
          
“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada tuhan-mu yang telah menciptakan

istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki

dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan

(mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan

(peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan

mengawasi kamu.”

          Memperbanyak keturunan adalah perbuatan yang mandub oleh karena

itu tidak berdosa apabila tidak dilakukan, tetapi untuk menciptakan keturunan

yang berkualitas memerlukan banyak pengorbanan dan pertimbangan yang

dilakukan oleh siorang tua tentunya. Ini terlihat dari pendapatan yang

diperoleh suatu keluarga. Dalam hal ini orang tua berperan sangat penting

dalam memenuhi kebutuhan sianak, tentunya bagi orang tua yang

berpendidikan yang mempertimbangkan segala aspek dimasa yang akan

datang.

          Islam   mengajarkan   dan    memerintahkan   agar   memperbanyak

keturunan dan menjadikan serta menjaga keturunan sebagai cita-cita yang




                                      23
 tinggi. Islam memberikan serangkaian aturan untuk mempertahankan

 keturunan seperti pernikahan dan juga untuk memeliharanya.

 Dalam Firman Allah SWT QS.Al Israa’ ayat 31

                                                  

  

                                                        

                              

                         
                                                     

                                                               
                                                               

 “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu Karena takut kemiskinan.

 kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu.

 Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar”.

        Pandangan Demografi menurut Thomas Robert Maltus yaitu

 pertumbuhan penduduk meningkat secara geometri sementara kebutuhan

 meningkat secara aritmetika menyebabkan kemiskinan dan penderitaan tidak

 dapat dihindari. Menurut kaum kapitalis disebabkan karena barang dan jasa

 dikuasai oleh satu orang sedangkan kebutuhan manusia begitu banyak, dan

 sejak saat itu barang dan jasa menjadi terbatas jumlahnya sehingga tidak bisa

 memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas.

        Bagaimanapun, Islam menyadari bahwa sebab dari permasalahan

 ekonomi dunia sekarang adalah pendistribusian harta yang tidak merata dan

 bukan minimnya produksi. Karena pada kenyataannya sumber daya alam di

 bumi yang diambil melebihi/ melampai kebutuhan manusia.



                                    24
    Dalam Firman Allah SWT : Surat Huud Ayat 6

                                                          

                                            

                                             

  

                                                

    

                                                       

                                           

                            

                                       

    “ Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang

    memberi rezkinya, dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan

    tempat penyimpanannya. semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh

    mahfuzh)”.

           Sebab dari pendistribusiannya yang tidak merata adalah aturan yang

    tidak adil dari penguasa sehingga menyebabkan hanya beberapa orang saja

    yang menjadi miskin sekali, lebih jauh lagi kekayaan akan diatur dan dikelola

    oleh beberapa orang saja. Sesungguhnya Islam merupakan sistem yang sangat




                                       25
   adil dan dapat diandalkan dalam memecahkan masalah ekonomi di dunia

   miskin sekali, lebih jauh lagi kekayaan akan diatur dan dikelola oleh beberapa

   orang saja. Sesungguhnya Islam merupakan sistem yang sangat adil dan dapat

   diandalkan dalam memecahkan masalah ekonomi di dunia saat ini. Tidak ada

   satu sistem manapun yang lebih adil dan lebih dapat diandalkan daripada

   sistem Islam. (Fadly, 2007).



B. Kerangka Konseptual

          Kelahiran merupakan sangat penting yang mempengaruhi laju

   pertumbuhan penduduk karena kelahiran yang selalu bertambah akan

   mengakibatkan pertambahan kebutuhan primer, sekunder dan kebutuhan yang

   lebih tinggi akan memerlihatkan kualitas penduduk yang lebih akan

   dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan.

          Tingkat pendidikan mempunyai dampak terhadap tingkat fertilitas,

   orang yang berpendidikan akan dapat menunda usia perkawinan, menambah

   pengetahuan, bersikap dan bertingkah laku yang serta menatap masa depan

   yang lebih optimis. Oleh karena itu mempunyai anak lebih sedikit, ini berarti

   akan menentukan tingkat fertilitas itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa

   Tingkat pendidikan merupakan faktor utama yang mendorong terjadinya

   penurunan angka kelahiran, dimana semakin tinggi tingkat pendidikan

   seorang wanita maka akan semakin kecil tingkat kelahiran.

          Andy Febrian, 2009, “Dampak Fertilitas Terhadap Kehidupan Sosial

   Ekonomi Keluarga Di Kecamatan Kuranji Kota Padang” dalam penelitiannya




                                      26
dikemukakan adanya peningkatan yang cukup signifikan hubungan antara

pendapatan terhadap fertilitas.

        Yulius Patubuan, 2008, faktor-faktor penyebab terjadinya kasus gizi

buruk pada balita di Kota Kendari. Dalam penelian ini dikemukakan

pendapatan mempunyai hubungan yang cukup signifikan terhadap fertilitas.

        Setiap keluarga umumnya mendambakan seorang anak karena anak

merupakan cita-cita dari sebuah perkawinan. Berapa banyak yang diinginkan

tergantung dari keluarga itu sendiri dengan pertimbangan pendapatan yang

diterima oleh sebuah keluarga tersebut. Dengan pendekatan ini sulit

diterangkan mengapa pendapatan berpengaruh terhadap fertilitas karena setiap

orang (dalam hal ini orang tua) menginginkan anaknya dapat tercukupi

dengan kebutuhan dengan maksimal yang mereka butuhkan, sehingga mereka

lebih memilih kualitas dari pada kuantitas anak.

Davis dan Blake (1981) mendekati masalah fertilitas melalui faktor sosial

ekonomi yang mempunyai pengaruh langsung terhadap fertilitas yang disebut

dengan Intermediate variables. Intermediate variables tersebut meliputi :

        1. Tahap hubungan kelamin (the intercouse periode), yaitu faktor-

           faktor yang mempengaruhi hubungan kelamin yang terdiri dari :

           a. Umur memulai melakukan hubungan kelamin.

           b. Selibat permanen : proporsi wanita yang tidak pernah

               melakukan hubungan kelamin.

           c. Lamanya berstatus kawin.

           d. Abstinensi terpaksa (misal sakit, berpisah sementara)




                                    27
   e. Abstinensi sukarela.

   f. Frekwensi bersenggama.



2. Tahap konsepsi (the conception periode), yaitu faktor yang

   mempengaruhi kemungkinan terjadinya pembuahan yang terdiri

   dari :

   a. Kesuburan     dan    kemandulan      brologis   (fekonditas   dan

       infekunditas) yang tidak disengaja.

   b. Fekunditas dan infekunditas yang disengaja (misal sterilisasi)

   c. Pemakaian alat kontrasepsi.

       Pemakaian alat kontrasepsi pada perempuan kawin usia 15-49

       tahun masih menunjukan perkembangan yang cukup lambat,

       pelayanan KB oleh pemerintah memang perlu ditingkatkan,

       tidak saja dalam upaya pengendalian pertumbuhan penduduk,

       melainkan    juga     kerena   KB     merupakan    bagian    dari

       kesehatanreproduksi yang dapat menurunkanangka kematian

       ibu.

3. Tahap kehamilan (the gestatian periode), yaitu faktor yang

   mempengaruhi kehamilan yang terdiri dari :

   a. Mortalitas janin karena sebab-sebab yang tidak disengaja.

   b. Mortalitas janin karena sebab-sebab yang disengaja




                             28
       Seperti dikemukakan sebelumnya bahwa tingkat fertilitas dipengaruhi

oleh faktor-faktor sosial ekonomi melalui variabel tertentu yang disebut

variabel antara. Variabel tersebut diantaranya adalah faktor pendidikan ibu,

usia pertama kali kawin, tingkat kesehatan keluarga, tingkat gizi keluarga,

tingkat kematian bayi serta pemakaian alat kontrasepsi.




       Dilihat dari segi pendidikan, tingkat pendidikan yang ditamatkan oleh

penduduk Indonesia (terutama wanita) masih rendah. Tingkat pendidikan

yang rendah ini banyak ditemui di kota-kota kecil atau pedesaan. Untuk itu

pemerintah berusaha melakukan berbagai pembangunan fisik seperti sekolah,

balai-balai latihan kerja, rumah sakit, serta prasarana transportasi sampai ke

tingkat desa dengan tujuan supaya masyarakat yang tinggal di pedesaan dapat

mengecap pendidikan sampai tingkat tertinggi dan dapat menikmati berbagai

fasilitas pembangunan seperti masyarakat yang tinggal di kota.

       Selain hal di atas, pemerintah Indonesia juga mengkampanyekan

gerakan wajib belajar 9 tahun dengan tujuan untuk memberantas buta huruf

dan meningkatkan taraf pendidikan masyarakat. Dampak program pendidikan

wajib belajar 9 tahun ini juga menyangkut keikutsertaan wanita dalam

pendidikan formal adalah tertundanya umur perkawinan pertama.

       Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya peraturan tidak tertulis di

hampir semua sekolah dasar atau menengah, bahwa murid-murid tidak

diperkenankan menikah selama dalam pendidikan. Data menunjukkan bahwa




                                    29
pengaruh pendidikan yang negatif terhadap fertilitas wanita usia subur (15-49

tahun) disebabkan karena pengaruh nyata dari usia perkawinan pertama yang

tertunda.

       Salah satu faktor penyumbang penurunan tingkat fertilitas yang

dicapai Indonesia adalah semakin tingginya kesadaran masyarakat terhadap

pemakaian alat kontrasepsi. Keberhasilan Indonesia dalam pelaksanaan

program keluarga berencana banyak diikuti oleh beberapa negara berkembang

lainnya seperti Philipina, India, dan China. Tingginya kesadaran dan

partisipasi masyarakat terhadap program keluarga berencana karena adanya

perbaikan di bidang pendidikan, seperti yang telah dikemukakan di atas.

Karena perbaikan di bidang pendidikan secara langsung mengubah cara

berfikir ke arah yang lebih modern. Kondisi yang dialami oleh Indonesia juga

dialami oleh negara-negara berkembang lainnya seperti Philipina, Indonesia,

Bangladesh, dll.




                                   30
                                  BAB III

                    METODOLOGI PENELITIAN

A. Metodologi Penelitian

        Penelitian ini berbentuk penulisan deskriptif kuantitatif, yang berusaha

untuk melihat pengaruh variabel bebas dengan variabel tidak bebas,

Selanjutnya dilakukan pengujian secara statistik, sehingga dari pembuktian

hipotesa dapat dilihat tingkat keberartian (signifikan) pengaruh antara variabel

tersebut di atas.

        Alasan pemilihan bentuk penelitian ini didasari atas kebutuhan

pembuktian hipotesa, dimana untuk membuktikan kebenaran hipotesa tersebut

di atas dibutuhkan metode analisa regresi.



B. Data dan Sumber Data

        Studi ini menggunakan data sekunder yang dipublikasikan oleh Badan

Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat, ditambah dengan data lain yang berasal

dari instansi-instansi terkait. Dalam penelitian ini menggunakan Series data.




                                    31
Metode yang digunakan untuk mendapatkan data ini adalah Research Library

Observation.




C. Metode Analisis Data

       Untuk mengetahui pengaruh variabel tingkat pendapatan perkapita,

pendidikan dan umur perkawinan pertama terhadap perkembangan TFR

selama kurun waktu yang ditentukan, dilakukan pendekatan dengan

pengukuran berdasarkan persamaan :



       TFR= f (�������� ), i = 1,2,3..........................................................................(1)



Selanjutnya metode yang digunakan untuk menerangkan kerangka dasar

perhitungan hubungan antara jumlah variabel TFR dengan seluruh variabel

bebas yang mempengaruhinya dalam jangka waktu tertentu.

       Untuk menyerhanakan perhitungan dengan metode ekonometrika,

maka variabel terikat yaitu TFR dengan notasi Y dan variabel bebasnya

tingkat pendapatan perkapita (����1 ), jumlah wanita akseptor KB (����2 ) dan umur

perkawinan pertama (����3 ).




                                                32
Y = bo + ����1 ����1 + ����2 ����2 + ����3 ����3 + U................................................................(2)



          Fungsi tersebut diatas dapat juga dinyatakan dalam bentuk double

logaritma untuk memperkirakan elastisitas masing-masing variabel yang

mempengaruhi tingkat fertilitas (TFR) yaitu :



Log Y =bo + ����1 Log����1 + ����2 Log����2 + ����3 Log����3 + Log U.................................(3)

Dimana :

          Y              = Total Fertility Rate (TFR)

          Bo             = Konstanta

          X1             = Tingkat Pendapatan Perkapita

          X2             = Jumlah Wanita Akseptor KB

          X3             = Umur Perkawinan Pertama

          b1, b2, dan b3 = Elastisitas masing-masing variabel bebas

          U              = Disturbance



D. Uji Statistik

    Pengujian statistik bertujuan untuk melihat pengaruh dari variabel-variabel

    baik secara terpisah maupun secara bersamaan terhadap variabel tidak

    bebas. Dengan cara melakukan analisa regresi berganda diperoleh besar

    koefisien masing-masing variabel ini sehingga dapat dilihat kuat tidaknya

    pengaruh variabel bebas terhadap variabel tidak bebas, Menurut Gujarati

    (1998) pengujian statistika ini dilakukan dengan tahap berikut :




                                                  33
a. Pengujian ���� 2

   Pengujian ���� 2 atau koefisien determinasi berguna untuk melihat seberapa

   besar proporsi sumbangan seluruh variabel bebas terhadap naik turunnya

   variabel tidak bebas. Nilai ���� 2 didapat dengan menggunakan model

   sebagai berikut :



   �������� = �������� ∑�������� Y + �������� ∑�������� Y + �������� ∑�������� Y

   Koefisien Determinan (���� 2 ) nilainya adalah antara 0 dan 1 (0 < ���� 2 < 1),

   Seandainya ���� 2 = 1 berarti persentase variabel tidak bebas yang dapat

   dijelaskan oleh variabel bebas ����1 , ����2, , ����3 adalah 100%. Jika ���� 2 = 0 berarti

   variasi variabel tidak bebas yang dapat dijelaskan oleh variabel bebas

   adalah 0% (tidak ada).



b. Pengujian –F (F-Test)

   Yaitu pengujian yang dilakukan dengan membandingkan nilai F-test

   dengan nilai F-tabel. Nilai F-test dihitung dengan menggunakan rumus

   sebagai berikut :



                  �������� /����−����
   F-test =   (����−�������� )/(����−����)




   Dimana :             ���� 2       = Koefisien determinasi

                       K           = Jumlah variabel



                                            34
                    N        = Jumlah tahun pengamatan

                    k-1      = V1 (degree of freedom numeration)

                    n-k      = V2 degree of freedom denumeration)




Ho : b1 = b2 = b3 = 0, artinya tidak ada pengaruh yang signifikan variabel

                          bebas terhadap variabel tidak bebas.

Ha : paling tidak ada salah satu variabel b ≠ 0, artinya pada pengaruh yang

                          signifikan antara variabel bebas dengan variabel tidak

                          bebas.

         Pengujian ini bertujuan untuk melihat ada tidaknya pengaruh seluruh

variabel bebas terhadap variabel tidak bebas atau untuk mengkaji hipotesa

sebagai berikut :

Jika F-test ≤ F tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak, berarti variabel bebas

secara bersama-sama tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel tidak

bebas.

Jika F- test > F tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima, berarti variabel bebas

bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel tidak bebas.



c. Pengujian –t (t-test)

         Untuk melihat nilai signifikan masing-masing parameter yang

diestimasi maka digunakan t0test dengan rumus :




                                       35
      ��������
t = ������������

Dimana :

             T = nilai mutlak pengujian

             bi = koefisien regresi

             Sbi = Standar deviasi

             Apabila nilai t-test diperoleh lebih besar dari t dalam tabel distribusi t,

maka parameter tersebut signifikan. Sebaiknya apabila nilai t-test yang

diperoleh lebih kecil daripada nilai t yang terdapat dalam tabel distribusi t,

maka parameter tersebut tidak signifikan.

             Nilai t-test ini akan bernilai positif bila koefisien regresi variabel

bebas ditemukan positif, demikian pula sebaliknya bila koefisien regresi bebas

ditemukan negatif berarti nilai t-test ini juga negatif.




                                           36
                              DAFTAR PUSTAKA

Andy Febrian,2009, “Dampak Fertilitas Terhadap Kelahiran Sosial Ekonomi

Keluarga Di Kecamatan Kuranji Kota Padang”. Universitas Negeri Padang



Andy Febrian,2009 “Makalah Fertilitas”, diambil dari web http://mangkutak,

wordpress.com/2009/01/05/makalah-fertilitas), 12 desember 2009, 11.15 AM



Fadly, 2007, hukum Islam tentang kontrasepsi, arrahman. Com.

Caldwell, John C. 1983. Direct Economic Costs and Benefits of Children.

Academic Press, New York/London.



Hatmadji, Sri Harijati. 1971. Fertilitas (Kelahiran) dalam Pengantar Demografi.

Lembaga Demografi FE UI, Jakarta.



Kartumo Wirasuharjo, 1989, “Kebijakan Kependudukan Dan Tenaga Kerja Di

Indonesia”, FE-UI: Jakarta.




                                      37
Lucas, D., McDonald, P., Young, C. 1990. Pengantar Kependudukan

(Terjemahan). Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.



Mulyadi, S, 2002, Ekonomi Sumber Daya Manusia, PT. Grafindo Jakarta

Persada.

Nachrowi Djalal Nachrowi dan Hardius Usman, Penggunaan Tekhnik

Ekonometri, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2008).

Robinson, Warren C. Dan Sarah F.H. 1983. Menuju Fertilitas Terpadu

(Terjemahan). Pusat Penelitian dan Studi Kependudukan UGM, Yogyakarta.



Simanjuntak Payaman J, 1988, Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia,

LPEE UI, Jakarta.



Sukirno, Sadono. 1994. Pengantar Teori Makro Ekonomi. Raja Grafindo

Persada, Jakarta.



Achmad, Syamsiah. 1994. Peningkatan Peranan Wanita dalam Pembangunan.

Kantor Menteri UPWRI, Jakarta.



Alfian. 1986. Persepsi Masyarakat tentang Kebudayaan. Gramedia, Jakarta.

Amannullah, Gantjang dkk. 1999. Indikator Kesejahteraan Anak. BPS Statistics,

Indonesia.




                                     38
Anonim. 1990. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, Tentang Perkawinan dan

Peraturan Pelaksanaannya. Bina Dharma Pemuda, Indonesia.



Bakir, Zainab dan Manning, Chris. 1984. Angkatan Kerja di Indonesia.Rajawali,

Jakarta.




                                     39

								
To top