Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Extra dan Ko-Kurikuler Mahasiswa yang Strategis - “Extra dan Ko

VIEWS: 237 PAGES: 3

									“Membina Mahasiswa Berbasis Kompetensi”
Oleh : M Djalu Djatmiko, Drs., M Ds. Mantan Kajur & DPK Jurusan Desain,

        Judul di atas merupakan ajakan penulis untuk memikirkan strategi yang tepat
meningkatkan Sumber Daya Mahasiswa (SDM) Itenas melalui tawaran isi tulisan ini. Hal
ini mengingat bahwa Itenas memiliki Falsafah, Visi, Misi dan Tujuan dalam
menyelenggarakan pendidikannya, sehingga jika perencanaan menyeluruh harus matang
terlebih output yang dihasilkan dan yang akan diserap masyarakat adalah seorang sarjana.
Semoga kita bisa merumuskan strategi yang tepat ditengah langkanya diskusi ilmiah dan
wacana yang terselenggarakan di kampus kita ini. Tanpa mengurangi hormat penulis
kepada seluruh pejabat terkait di Itenas maka tulisan ini bersifat terbuka guna
kepentingan bersama.

Masa pancaroba
         Menjadi mahasiswa bukan berarti lansung menjadi manusia “bebas semau gue”
yang dikarenakan sudah merasa dewasa atau dianggap dewasa oleh orang tua. Secara
fisik si “buyung dan upik” memang sudah seperti orang dewasa. Idealnya memang
pertumbuhan fisik diiringi dengan pertumbuhan psikis pula. Usia mahasiswa baru yang
rata-rata 17 hingga 19 tahun memang merupakan usia yang rawan karena tidak
dikategorikan remaja lagi tetapi belum cukup disebut dewasa, oleh karenanya sering pula
disebut dewasa awal sehingga artinya masih belajar menjadi dewasa. Usia ini memang
ditandai dengan kondisi fisik yang baik dan kuat serta semangat yang tinggi tetapi
pertimbangan logikanya belum matang, sehingga seringkali keputusan-keputusan
pemikiran hanya diolah sesaat serta dipengaruhi dorongan emosi yang besar (self
confidence/egosentris/aroganis/heroisme/fanatisme buta).

        Kondisi demikian sebetulnya dapat menjadi positif jika para mahasiswa baru ini
mendapat bimbingan dari berbagai pihak secara proporsional dan bertanggungjawab.
Tentu saja pendidikan keluarga sangat berpengaruh dalam mengisi dan menanamkan
dasar-dasar pemikiran, sikap, perilaku bahkan nilai-nilai kehidupan bermasyarakat.
Tetapi pergaulan dengan berbagai pihak juga akan berpengaruh membentuk karakter
mahasiswa, misalnya pergaulan selama masa sekolah sebelumnya yaitu SMA atau
pergaulan dengan teman-teman dilingkungan tempat tinmggal. Jika dilihat secara fisik
sangat banyak hal positif untuk memanfaatkan kelebihan mahasiswa dalam berkerja atau
belajar asalkan diatur dengan efektif, sehingga seorang mahasiswa seharusnya akan tahan
secara fisik untuk mengikuti sistem perkuliahan dengan bentuk yang berbeda
dibandingkan kala SMA. Konsentrasi, motifasi dan upaya berpikir yang kritis ditambah
dengan semangat baru pada dunia pendidikan tinggi yang lebih terbuka dan kompetisi
positif juga menimbulkan suasana jiwa menjadi lebih bergairah. Predikat mahasiswa
sebagai simbol yang menunjukkan seseorang tidak lagi anak SMA dan tidak lagi remaja
membuat status sosial seseorang akan menjadi terangkat dan menyebabkan lebih percaya
diri.

       Salah satu hal yang meringankan orang tua juga adalah memilihkan tempat
tinggal berupa kamar kontrak atau “Indekost” (jika berasal dari luar daerah) dengan
aturan yang ketat, sehingga tujuan utama menjadi mahasiswa adalah kuliah yang benar.
Berdasarkan pembicaraan dengan salah satu tokoh masyarakat pengurus RW di daerah
Suka Senang (Kampung seberang Kampus Itenas), cukup banyak mahasiswa (termasuk
mahasiswa Itenas) yang kurang bersosialisasi dengan masyarakat dan tidak mengikuti
prosedur administrasi kependudukan yang benar ketika menjadi warga baru (lapor
RT/RW, membawa surat keterangan dari daerah semula).

Dinamika Mahasiswa & Kehidupan Kampus
        Menjadi mahasiswa sudah merupakan kebutuhan status bagi lulusan SMA, karena
dari status tersebut akan berkorelasi pada status yang lain berupa Sosial, Politis dan
Intelektual. Pada status Sosial, mahasiswa selaku pemuda dengan semangat idealnya
akan memberikan contoh bagi masyarakat lingkungannya dengan membantu memberikan
sumbangan tenaga dan pikirannya. Hal ini dapat dilihat melalui aktivitasnya di
lingkungan perumahan tempat mereka tinggal sebagai aktivis pemuda dengan organisasi
Taruna Karya/Karang Taruna dan organisasi masyarakat lain di bidang sosial,
keagamaan, kesenian, olahraga dan pencinta alam misalnya. Tentu saja yang lebih
difanatiki adalah organisasi himpunan mahasiswanya sendiri di tingkat jurusan atau
institusi untuk berkegiatan sosial di masyarakat berupa membantu korban bencana alam
contohnya. Adalah suatu tradisi yang dilakukan berkelanjutan di setiap tahun ajaran baru
oleh mahasiswa lama, yaitu berupa kegiatan yang mengatasnamakan
“Mabim/Ospek/Mapram” yang banyak terlaksana dalam bentuk perpeloncoan terhadap
mahasiswa baru. Kegiatan ini di Itenas bahkan menjadi suatu kegiatan yang sepertinya
hukumnya “wajib” diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan, dengan kata lain
jika tidak dilakukan sepertinya merupakan “dosa besar” bagi himpunan tersebut. Seolah
kegiatan ini punya makna dan nilai yang maha tinggi yang mengalahkan seluruh kegiatan
yang ada di kampus tsb, bahkan kegiatan kurikuler sekalipun bisa tidak dianggap penting
ketika Mabim berlangsung termasuk terhadap pelaksana perkuliahan yang disebut
pendidik atau dosen. Mahasiswa lama akan menjadi “raja, rektor,atau dosen” bagi
mahasiswa baru dengan segala sepak terjangnya yang lebih banyak non akademis, non
intelektual, tidak berdasarkan logika positif bahkan cenderung feodalis dan primitif.
Sesuatu hal yang sangat disayangkan bisa terjadi di perguruan tinggi berbasis teknologi.

        Apakah hanya itu yang disebut kegiatan mahasiswa dengan skala besar dan
anggaran besar, effort besar serta energi yang besar. Mengapa kita tidak bisa ciptakan
kegiatan yang lebih positif daripada berperilaku seperti “orang gila/stress”. Kita sebagai
pendidik tentu pernah mengalami hal itu semua, suka mau pun tidak. Lalu apakah kita
tetap diam dan menyetujui hal tersebut tetap berjalan sementara kita sudah tahu bahwa
hal tersebut lebih banyak nilai sia-sianya, mubazirnya bahkan mudharatnya ketimbang
positifnya. Seribu mahasiswa baru setiap tahun ajaran baru yang masih segar dengan
energi baru hanya dimaki, ditekan, diintimidasi dipermainkan di kampus ini sungguh
perbuatan yang bodoh. Dan jika kita melegitimasi kegiatan itu maka kita lebih bodoh dari
pelaksananya. Apakah kita tidak bisa merumuskan sejak jauh-jauh hari tentang program
pembinaan mahasiswa di kampus sepanjang mereka menjadi mahasiswa selama kurang
lebih 4,5 tahun? Apakah kita tidak punya waktu barang 5 hari membuat loka karya
tentang perancangan kegiatan pembinaan mahasiswa terpadu? Apakah kita tidak punya
waktu untuk melakukan penelitian atau studi banding dan konsultasi kepada para pakar
sepanjang tahun sebelum datangnya masa-masa yang memprihatinkan itu? Tentu saja
jawabannya adalah ada, kita punya waktu bahkan banyak. Tapi mungkin kita tidak punya
kemauan. Kemauan untuk bekerja merumuskan kegiatan dinamika dan kehidupan
kampus yang akademis dalam bentuk ko dan ekstra kurikuler yang berbasis kompetensi.

Posisi Ekstra & Ko-Kurikuler
       Dimanakah posisi kegiatan Extra dan Ko-Kurikuler pada sistem Pendidikan
Tinggi? Menurut Metoda penyusunan kurikulum berbasis kompetensi, dua kegiatan
tersebut sangat berkompeten untuk mendukung pelaksanaan kurikulum utama berupa
pendidikan dan pengajaran atau perkuliahan. Jadi jika di dalam kurikulum tersebut
terdapat satu mata kuliah maka seharusnya dapat direncanakan dan diciptakan bentuk
pendukungnya dalam ekstra dan ko-kurikulernya. Artinya jika di dalam kurikulum
tersebut terdapat sekian mata kuliah maka logikanya harus ada pula sistem yang
mendukung secara ekstra dan ko-kurikuler bagi kemajuan dan ketercapaian kualitas
keilmuan pada mahasiswanya. Tentu saja bisa kita pilih secara skala prioritas bahwa mata
kuliah yang mana yang diutamakan untuk ditindaklanjuti pada kegiatan Ko dan Ekstra
Kurikuler. Untuk lebih mudahnya mari kita lihat langsung dalam salah satu contoh (pada
tabel) mata kuliah yang memang ada di kurikulum salah satu jurusan di salah satu atau
masing-masing fakultas di Itenas.

Mata Kuliah           sks Kurikuler       Ko Kurikuler          Ekstra Kurikuler
Perancangan           3   Perkuliahan     Asistensi,            Kunjungan ke situs,
Arsitektur                                Responsi, Diskusi,    Pemutaran Film, Lomba
(FTSP)                                    Belajar Kelompok,     Rancang,Talk       Show
                                          Ekskursi              Arsitek.
Proses Produksi       4     Perkuliahan   Asistensi,            Kunjungan
(FTI)                                     Responsi, Diskusi,    Pabrik/Industri,
                                          Belajar Kelompok,     Pemutaran Film, Talk
                                          Ekskursi              Show Industriawan.
Ilustrasi Dasar       3     Perkuliahan   Asistensi,            Kunjungan           Biro
(FSRD)                                    Responsi, Diskusi,    Konsultan        Desain,
                                          Belajar Kelompok,     Pemutaran          Film,
                                          Ekskursi              Pameran Karya, Lomba
                                                                Ilustrasi,Workshop,Talk
                                                                Show Ilustrator.

Artinya seluruh kegiatan kemahasiswaan bisa direncanakan dan dikaitkan dengan
kurikuler dan kokurikuler, dengan berbagai variant dan lokasi serta penjadwalan waktu
disesuaikan dengan seluruh mahasiswa. Sehingga kerjasama atau sinergi antara Jurusan
dan Himpunan, DPK, PD III serta PR III pasti bisa dilakukan dengan baik dan produktif.
Jika masih memerlukan kegiatan yang bersifat pembinaan mental dan fisik tentu
rumusannya bisa dikonsultasikan pada pakar olah raga dan psikologi, dengan
pelaksanaan berbentuk out bond, manajemen lapangan dll oleh pihak profesional. Bahkan
secara ekstrim bisa saja dalam bentuk program bela negara berupa latihan militer. Mari
berpikir.

								
To top