Kesehatan - DOC by edicahyadi

VIEWS: 3,816 PAGES: 9

									STRATEGI PELAYANAN KEBIDANAN DI KOMUNITAS

SRATEGI PELAYANAN KEBIDANAN DI KOMUNITAS
By Eny Retna Ambarwati


A. PENDEKATAN EDUKATIF DALAM PERAN SERTA MASYARAKAT.
Pelayanan kebidanan komunitas dikembangkan berawal dari pola hidup masyarakat yang tidak
lepas dari faktor lingkungan, adat istiadat, ekonomi, sosial budaya dll. Sebagian masalah
komunitas merupakan hasil perilaku masyarakat sehingga perlu melibatkan masyarakat secara
aktif. Keberadaan kader kesehatan dari masyarakat sangat penting untuk meningkatkan rasa
percaya diri masyarakat terhadap kemampuan yang mereka miliki.
1. Definisi
a. Secara umum
Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara sistematis, terencana dan terarah dengan
partisipasi aktif individu, kelompok, masyarakat secara keseluruhan untuk memecahkan masalah
yang dirasakan masyarakat dengan mempertimbangkan faktor sosial, ekonomi dan budaya
setempat.
b. Secara khusus
Merupakan model dari pelaksanaan organisasi dalam memecahkan masalah yang dihadapi
masyarakat dengan pendekatan pokok yaitu pemecahan masalah dan proses pemecahan masalah
tersebut.
2. Tujuan pendekatan edukatif
a. Memecahkan masalah yang dihadapi oleh masyarakat yang merupakan masalah kebidanan
komunitas.
b. Kembangkan kemampuan masyarakat, hal ini berbeda dengan memecahkan masalah yang
dihadapi atas dasar swadaya sebatas kemampuan.
3. Strategi dasar pendekatan edukatif
a. Mengembangkan provider
Perlu adanya kesamaan persepsi dan sikap mental positif terhadap pendekatan yang ditempuh
serta sepakat untuk mensukseskan.
Langkah-langkah pengembangan provider
1) Pendekatan terhadap pemuka atau pejabat masyarakat.
Bertujuan untuk mendapat dukungan, sehingga dapat menentukan kebijakan nasional atau
regional. Bentuknya pertemuan perorangan, dalam kelompok kecil, pernyataan beberapa pejabat
yang berpengaruh.
2) Pendekatan terhadap pelaksana dari sektor diberbagai tingkat administrasi sampai dengan
tingkat desa.
Tujuan yang akan dicapai adalah adanya kesepahaman, memberi dukungan dan merumuskan
kebijakan serta pola pelaksanaan secara makro. Berbentuk lokakarya, seminar, raker,
musyawarah.
3) Pengumpulan data oleh sektor kecamatan/desa
Merupakan pengenalan situasi dan masalah menurut pandangan petugas/provider. Macam data
yang dikumpulkan meliputi data umum , data khusus dan data perilaku.
b. Pengembangan masyarakat
Pengembangan masyarakat adalah menghimpun tenaga masyarakat untuk mampu dan mau
mengatasi masalahnya sendiri secara swadaya sebatas kemampuan. Dengan melibatkan
partisipasi aktif masyarakat untuk menentukan masalah, merecanakan alternatif, melaksanakan
dan menilai usaha pemecahan masalah yang dilaksanakan. Langkah– langkahnya meliputi
pendekatan tingkat desa, survei mawas diri, perencanaan, pelaksanaan dan penilaian serta
pemantapan dan pembinaan

B. PELAYANAN YANG BERORIENTASI PADA KEBUTUHAN MASYARAKAT.
Proses dimana masyarakat dapat mengidentifikasi kebutuhan dan tentukan prioritas dari
kebutuhan tersebut serta mengembangkan keyakinan masyarakat untuk berusaha memenuhi
kebutuhan sesuai skala prioritas berdasarkan atas sumber – sumber yang ada di masyarakat
sendiri maupun berasal dari luar secara gotong royong. Terdiri dari 3 aspek penting meliputi
proses, masyarakat dan memfungsikan masyarakat.
Terdiri dari 3 jenis pendekatan :
1. Specifict Content Approach
Yaitu pendekatan perorangan atau kelompok yang merasakan masalah melalui proposal program
kepada instansi yang berwenang.
Contoh : pengasapan pada kasus DBD
2. General Content objektive approach
Yaitu pendekatan dengan mengkoordinasikan berbagai upaya dalam bidang kesehatan dalam
wadah tertentu.
Contoh : posyandu meliputi KIA, imunisasi, gizi, KIE dsb.
3. Proses Objective approach
Yaitu pendekatan yang lebih menekankan pada proses yang dilaksanakan masyarakat sebagai
pengambil prakarsa kemudian dikembangkan sendiri sesuai kemampuan.
Contoh : kader

C. MENGGUNAKAN ATAU MEMANFAATKAN FASILITAS DAN POTENSI YANG ADA
DI MASYARAKAT.
Masalah kesehatan pada umumnya disebabkan rendahnya status sosial – ekonomi yang
akibatkan ketidaktahuan dan ketidakmampuan memelihara diri sendiri (self care) sehingga
apabila berlangsung terus akan berdampak pada status kesehatan keluarga dan masyarakat juga
produktivitasnya.
1. Definisi
a. Usaha membantu manusia mengubah sikapnya terhadap masyarakat, membantu
menumbuhkan kemampuan orang, berkomunikasi dan menguasai lingkungan fisiknya.
b. Pengembangna manusia yang tujuannya adalah untuk mengembangkan potensi dan
kemampuan manusia mengontrol lingkungannya.
2. Langkah - langkah
a. Ciptakan kondisi agar potensi setempat dapat dikembangkan dan dimanfaatkan
b. Tingkatkan mutu potensi yang ada
c. Usahakan kelangsungan kegiatan yang sudah ada.
d. Tingkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
3. Prinsip - prinsip dalam mengembangkan masyarakat
a. Program ditentukan oleh atau bersama masyarakat.
b. Program disesuaikan dengan kemampuan masyarakat.
c. Dalam pelaksanaan kegiatan harus ada bimbingan, pengarahan, dan dorongan agar dari satu
kegiatan dapat dihasilkan kegiatan lainnya.
d. Petugas harus bersedia mendampingi dengan mengambil fungsi sebagai katalisator untuk
mempercepat proses.
4. Bentuk - bentuk program masyarakat
a. Program intensif yaitu pengembangan masyarakat melalui koordinasi dengan dinas
terkait/kerjasama lintas sektoral.
b. Program adaptif yaitu pengembangan masyarakat hanya ditugaskan pada salah satu
instansi/departemen yang bersangkutan saja secara khusus untuk melaksanakan kegiatan
tersebut/kerjasama lintas program
c. Program proyek yaitu pengembangan masyarakat dalam bentuk usaha – usaha terbatas di
wilayah tertentu dan program disesuaikan dengan kebutuhan wilayah tersebut.

Referensi :
Bidan Menyongsong Masa Depan, PP IBI. Jakarta.
Behrman. Kliegman. Arvin. (2000). Ilmu Kesehatan Anak (Nelson Textbook of Pediatrics).
EGC. Jakarta.
Depkes. (2007). Kurikulum dan Modul Pelatihan Bidan Poskesdes dan Pengembangan Desa
Siaga. Depkes. Jakarta.

Depkes RI. (2007) Rumah Tangga Sehat Dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Pusat
Promosi Kesehatan.

Depkes RI, (2006) Modul Manajemen Terpadu Balita Sakit, Direktorat Bina Kesehatan Anak,
Direktorat Bina Kesehatan Masyarakat, Jakarta.

Depkes RI. (2006). Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-
KIA). Direktorat Bina Kesehatan Anak, Direktorat Bina Kesehatan Masyarakat, Jakarta.

Depkes RI. (2006). Manajemen BBLR untuk Bidan. Depkes. Jakarta.

Depkes RI. (2003). Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta.

Depkes RI. (2002). Pelatihan Konseling Pasca Keguguran. Depkes. Jakarta.

Depkes RI. (2002). Standar Profesi Kebidanan. Jakarta.

Depkes RI. (2002). Standar Pelayanan Kebidanan. Jakarta.

Depkes RI. (2002). Kompetensi Bidan Indonesia. Jakarta
Depkes RI. Asuhan Kesehatan Anak Dalam Konteks Keluarga . Depkes RI. Jakarta.
Depkes RI. (1999). Buku Pedoman Pengenalan Tanda Bahaya pada Kehamilan, Persalinan dan
Nifas, Departemen kesehatan, Departemen Dalam Negeri, Tim Penggerak PKK dan WHO.
Jakarta.
Effendy Nasrul. (1998). Dasar – Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. EGC. Jakarta.
International Confederation Of Midwives (ICM) yang dianut dan diadopsi oleh seluruh
organisasi bidan di seluruh dunia, dan diakui oleh WHO dan Federation of International
Gynecologist Obstetrition (FIGO).

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 900/MENKES/SK/VII/2002 tentang Registrasi Dan
Praktik Bidan;

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 741/MENKES/per/VII/2008 tentang Standar Pelayanan
Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota;

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 828/MENKES/SK/IX/2008 tentang Petunjuk Tehnis
Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota;

keputusan Menteri Kesehatan Nomor 369/Menkes/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Bidan.

Konggres Obtetri dan Gynecologi Indonesia XII. (2003). Forum Dokter Bidan. Yogyakarta.
Markum. A.H. dkk. (1991). Ilmu Kesehatan Anak. FKUI. Jakarta.
UU no 23 tahun 1992 tentang kesehatan

Pelayanan Obtetri dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) Asuhan Neonatal Essensial.
2008.

Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional

Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan
Soetjiningsih. (1998). Tumbuh Kembang Anak. EGC. Jakarta.
Syahlan, J.H. (1996). Kebidanan Komunitas. Yayasan Bina Sumber Daya Kesehatan.
Widyastuti, Endang. (2007). Modul Konseptual Frame work PWS-KIA Pemantauan dan
Penelusuran Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Neonatal. Unicef.




Home > Komunikasi dan Konseling > Kegiatan Kelompok Sebagai Salah Satu Kegiatan Bidan

Kegiatan Kelompok Sebagai Salah Satu Kegiatan Bidan
July 28th, 2009 lusa Leave a comment Go to comments

Pengertian
Kelompok adalah sekumpulan orang-orang yang terdiri dari tiga orang atau lebih. Kelompok
memiliki hubungan yang intensif diantara satu sama lainnya, terutama kelompok primer.

Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang dilakukan oleh lebih dari dua orang, tetapi dalam
jumlah terbatas dan materi komunikasi hanya diakes oleh kalangan kelompok tersebut.
Kelompok kecil adalah sekumpulan perorangan yang relatif kecil yang masing-masing
dihubungkan oleh beberapa tujuan yang sama dan mempunyai derajat organisasi tertentu
diantara mereka.
Penggolongan Kelompok Sosial (Charles H. Cooley)
Primary group
Kelompok primer lebih intensif dan lebih erat antara anggotanya (face to face). Kelompok
primer menjadi sangat penting karena merupakan kerangka untuk mengembangkan sifat-sifat
sosial. Sifat komunikasi kelompok bercorak pada kekeluargaan dan simpati.

Secondary group
Komunikasi kelompok sekunder merupakan komunikasi dalam hubungan yang tidak langsung,
tidak akrab, kurang bersifat kekeluargaan dan bersifat formal, lebih objektif.
Prinsip yang ada dalam kelompok sekunder agar efektif adalah : suasana; rasa aman dan
kesadaran berkelompok.

Karakteristik Komunikasi Kelompok

Kepribadian kelompok
Kelompok memiliki kepribadian kelompok sendiri, berbeda dengan kepribadian individu para
anggotanya.

Norma kelompok
Norma didalam kelompok mengidentifikasikan anggota kelompok berperilaku. Tiap kelompok
menetapkan sistem nilai dan konsep perilaku normatif mereka sendiri. Norma kelompok ini akan
menjadi norma individu.
Napier dan Gershenfeld mengemukakan bahwa para anggota kelompok akan menerima norma
kelompok apabila : (1) Anggota kelompok menginginkan keanggotaan yang kontinyu dalam
kelompok; (2) Pentingnya keanggotaan kelompok; (3) Kelompok bersifat kohesif, yaitu
anggotanya berhubungan erat satu sama lain dan dapat memenuhi kebutuhan anggotanya; (4)
Pelanggaran kelompok dihukum dengan reaksi negatif dari kelompok.
Efektivitas kelompok dilihat dari aspek produktivitas, moral, dan kepuasan para anggotanya.
Produktivitas kelompok dapat dilihat dari keberhasilan mencapai tujuan kelompok. Moral
diamati dari semangat dan sikap para anggotanya. Kepuasan dilihat dari keberhasilan anggota
dalam mencapai tujuan pribadinya.

Kohesivitas kelompok
Kohesivitas merupakan kekuatan yang saling tarik menarik diantara anggota-anggota kelompok.
Faktor yang mempengaruhi kohesivitas kelompok antara lain: (1) Perilaku normatif yang kuat;
(2) Lamanya menjadi anggota kelompok.

Pemenuhan tujuan
Individu memiliki tujuan yang paralel dengan tuuan kelompok. Oleh karena itu, para anggota
kelompok berusaha untuk mencapai keberhasilan tujuan kelompok dan menghindari kegagalan
tujuan kelompok.

Pergeseran risiko
Keputusan yang diambil kelompok akan lebih besar beresiko daripada keputusan itu diambil oleh
satu kelompok. Hal ini disebabkan adanya penyebaran tanggung jawab yang terjadi di dalam
proses pengambilan keputusan kelompok.
Manfaat Komunikasi Kelompok
Komunikasi kelompok digunakan untuk saling bertukar informasi, menambah pengetahuan,
memperteguh atau mengubah sikap dan perilaku. Kelompok menjadi kerangka rujukan (frame of
reference) dalam berkomunikasi. Kelompok menentukan cara berkata, berpakaian, bekerja, dll.
Oleh karena itu, komunikasi kelompok tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari.
Menurut Handy (1985), kegunaan komunikasi kelompok adalah: (1) Memenuhi kebutuhan
sosial; (2) Membentuk konsep diri; (3) Memberi/ menerima dukungan dan bantuan; (4) Berbagi
dengan orang lain.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keefektifan Komunikasi Kelompok
The input – process – out put model
Input adalah sesuatu yang mempengaruhi kelompok. Proses adalah sesuatu yang terjadi dalam
kelompok dan Out put adalah sesuatu yang dihasilkan kelompok.

The structural perspective
Ada tiga teori komunikasi kelompok yang diperkenalkan dalam aliran input-proses-out put
model : (a) A general organizing model, menekankan pada bagaimana kelompok memiliki
energi yang digunakan untuk aktivitas pengambilan keputusan. (b) The funcional tradition,
menekankan pada kualitas kelompok, membahas kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh
kelompok pada waktu pengambilan keputusan. (c) The interactional tradition, menekankan pada
aspek komunikasi yang terjadi di dalam kelompok. Bahwa ouput kelompok sangat ditentukan
oleh interaksi yang terjadi dalam kelompok.

Kepimpinan Kelompok
Ciri-ciri kepimpinan kelompok harus mengacu pada kepentingan bersama. Syarat yang harus
dipenuhi antara lain: (a) Berorientasi pada tugas; (b) Menggunakan waktu secara efektif; (c)
Berorientasi pada orang; (d) Peduli pada perasaan dan masalah anggota kelompok.

Gaya kepimpinan dalam komunikasi kelompok yaitu:
1. Gaya tunggal yaitu berdasarkan pencapaian tugas yang telah ditentukan bagi kelompok
2. Gaya eklektik yaitu berdasarkan gaya-gaya yang berpusat pada anggota kelompok atau
berdasarkan pembagian pada tugas.

Ciri-Ciri Kelompok yang Kompak
Ciri-ciri kelompok yang kompak adalah organisasi baik, hubungan yang baik dan riwayat
keberhasilan yang baik.
Dasar pelaksanaan sumbang saran yang harus ditaati antara lain:
1. Tidak boleh melakukan penilaian ide-ide sebelum acara selesai
2. Kelompok harus beranggapan sebagai penghasil ide dan tidak merasa khawatir dengan
kualitas idenya.
3. Anggota kelompok dibiarkan berpikir dengan bebas.
4. Ide-ide yang ditawarkan anggota kelompok harus dihargai dan dikembangkan.

Tahapan penyelesaian masalah pada kelompok yang kompak adalah :
1. Mengklarifikasi tugas yang harus diselesaikan
2. Mengidentifikasi solusi yang akan dilaksanakan
3. Membuat dan mengimplementasikan rencana tindakan

Pengorganisasian Kegiatan Kelompok
Langkah-langkah dalam penyelenggaraan kegiatan kelompok adalah :
Merencanakan pengorganisasian kegiatan kelompok
Meliputi kegiatan : merencanakan masalah; siapa yang menjadi peserta; sasaran kegiatan; waktu
pelaksanaan dan tempat kegiatan; metode yang digunakan; media yang digunakan; jenis
pencairan kelompok yang digunakan; evaluasi kegiatan.

Mempersiapkan tempat
Meliputi : mempersiapkan ruang dan perlengkapannya; persiapan alat tulis, alat bantu, materi;
persiapan tempat duduk; pengeras suara; meletakkan alat bentu sesuai kebutuhan.

Melaksanakan kegiatan
Bagian-bagian kegiatan kelompok adalah : (a) Pembukaan, menentukan jalannya presentasi/
diskusi kelompok; (b) Bagian utama kegiatan, mencakup materi yang akan disampaikan; (c)
Bagian penutup, bagian terpenting dari seluruh kegiatan.
Mengakhiri kegiatan dapat dilakukan dengan cara: mengatakan bahwa waktu telah habis,
merangkum, menunjukkan pertemuan selanjutnya, berdiri, isyarat tangan, menyampaikan catatan
singkat dan memberikan tugas.

Mengevaluasi Kegiatan
Evaluasi kegiatan dapat mengetahui dan menganalisa kebutuhan peserta untuk mempersiapkan
pembicaraan yang akan datang, memperbaiki pelaksanaan kegiatan yang akan datang,
mengetahui dampak kegiatan kelompok dan menentukan keberhasilan kegiatan.

Strategi Bidan untuk Membantu Kelompok yang Negatif Sesuai Tipe Kelompok
Menurut Smith dan Bass (1982)
1. Menciptakan perasaan yang dimiliki
2. Menciptakan lingkungan yang peka
3. Mendorong partisipasi dan kontribusi
4. Menghargai pendapat yang berbeda
5. Menciptakan perasaan komitmen

Menurut Tarigan (2002)
Tipe Pasif
Strategi bidan adalah : mengajukan pertanyaan langsung pada peserta; meminta berbagi perasaan
dengan pasangannya; meminta untuk menulis komentar; memberikan insentif; mengubah metode
penyampaian.

Tipe Agresif
Strategi bidan adalah : mengajukan pertanyaan tentang penyebab agresif; memberi kesempatan
untuk mencurahkan perasaan dirinya; tidak menggangap orang tersebut sebagai wakil kelompok;
mempresentasikan data; memprakarsai diskusi secara pribadi.
Tipe Banyak Bicara
Strategi bidan adalah : memberi tanggung jawab tertentu dan memberikan kesempatan berperan
sebagai pemimpin kelompok; menghindarkan pandangan atau menghadapkan tubuh pemandu ke
arah peserta lain; beritahu dengan cara yang halus; memberi tugas secara tertulis.

Tipe Pesimis
Strategi bidan adalah : menjadi pendengar yang aktif; memberi jawaban yang positif;
menanyakan pendapat anggota lainnya tentang pendapat orang tersebut.

Tipe Pelawak
Strategi bidan adalah : memberi tanggung jawab; mengajukan pertanyaan dan
mempertimbangkan lawakannya dalam mencairkan suasana.

Referensi
Suparyanti, R. 2008. Handout Komunikasi Kelompok.
Tyastuti, dkk., 2008, Komunikasi & Konseling Dalam Praktik Kebidanan, Yogyakarta:
Fitramaya.
Wiryanto, 2004. Ilmu Komunikasi. PT Gramedia, Jakarta.

								
To top