PROSEDUR DAN EFEKTIFITAS PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN KITAB MATNUL by bmd18385

VIEWS: 662 PAGES: 103

									                                               1




 PROSEDUR DAN EFEKTIFITAS PENGEMBANGAN MEDIA
PEMBELAJARAN KITAB MATNUL GHOYAH WAT TAQRIB
   BAB HAJI MENGGUNAKAN MACROMEDIA FLASH 8
     DI PESANTREN LUHUR ALHUSNA SURABAYA


                    SKRIPSI



                     Oleh :
                 SAIFUL ARIFIN
                 NIM. D01303005




INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
             FAKULTAS TARBIYAH
       JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

                      2008
                                                                                   2




                                         BAB I

                                 PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

              Pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan merupakan realitas

   yang tidak dapat dipungkiri. Sepanjang sejarah yang dilaluinya, pesantren

   terus menekuni bidang pendidikan keagamaan dan menjadikannya sebagai

   fokus kegiatan. Dalam mengembangkan pendidikan, pesantren telah

   menunjukkan daya tahan yang cukup kokoh sehingga mampu melewati

   berbagai jaman dengan beragam masalah yang dihadapinya. Dalam

   sejarahnya itu pula, pesantren telah menyumbangkan sesuatu yang tidak kecil

   bagi Islam di negeri ini.1 Eksistensinya sampai sekarang tentu menjadi

   kebanggaan tersendiri bagi umat Islam. Di tengah arus globalisasi,

   individualisme, dan pola hidup materialistik yang semakin mengental,

   pesantren masih konsisten menyuguhkan sistem pendidikan yang khas yang

   oleh sebagian orang dianggap tradisional. Pesantren menurut Hasyim Muzadi

   mempunyai peranan yang sangat vital dari pemberdayaan dan perkembangan

   masyarakat.2

              Pengajaran kitab-kitab kuning adalah salah satu elemen dasar dari

   tradisi pesantren selain kyai, pondok, masjid, dan santri. Doktrin-doktrin

   1
       Abdul A'la, Pembaruan Pesantren (Yogyakarta:Pustaka Pesantren, 2006), 15.
   2
       Lukman Hakim, Perlawanan Islam Kultural (Pustaka Eureka: 2004), 110.


                                         1
                                                                                         3




dalam kitab kuning merupakan salah satu roh yang menjiwai kehidupan

pesantren Jika seluruh kitab kuning diteliti secara substansial, maka tentu

semua itu merupakan penjabaran dari al-Qur’an dan hadith. Paling tidak

referensinya mengambil legitimasi dari dua sumber ajaran ini, yang di

dalamnya tidak hanya membahas bidang ibadah, fiqih, tauhid, tafsir, hadith

dan akhlak saja, melainkan juga materi sejarah, peradaban, sastra, filsafat,

mistisisme, pranata sosial, dan politik pun bisa menjadi materi kajian penting

dalam kurikulum pendidikannya.3

          Di kalangan pesantren, kitab kuning biasanya diajarkan dengan dua

cara yaitu sorogan dan wetonan. Dalam cara sorogan, satu demi satu santri

menghadap kyai dengan membawa kitab, kyai membacakannya dan santri

mengulanginya sampai mampu membaca dan memahami maknanya.

Sedangkan cara wetonan semua santri bersama-sama menghadap kyai dengan

membawa kitab tertentu kemudian kyai membacakan kitab itu dengan makna

dan penjelasan secukupnya, sementara para santri mencatat semua yang

dikatakan kyai seperlunya.4

          Namun, akhir-akhir ini kedua cara penyampaian materi kitab kuning di

atas mendapat kritik dari para pemerhati pendidikan, karena memiliki

kelemahan dan kurang sesuai dengan pandangan sistem pendidikan modern

yang student centered. Pengajaran kitab-kitab kuning, baik secara wetonan


3
    Abdurrahman Wahid, Pesantren Masa Depan (Cirebon : Pustaka Hidayah,1998), 253-254.
4
    Ibid, 265-266.
                                                                                       4




dan sorogan, memiliki kelemahan metodologis di antaranya adalah ketika

tidak terjadinya dialog antara santri dan kyai, santri menjadi pasif. Kegiatan

belajar mengajar terpusat pada kyai. Akhirnya, daya kreatifitas dan aktifitas

santri menjadi lemah dan dalam hal ini, kyai juga tidak segera memperoleh

umpan balik tentang penguasaan materi yang disampaikan.5

        Kenyataan      di   atas    seharusnya     dapat    memacu       mereka      yang

berkompeten dalam pengembangan pesantren agar melakukan langkah-

langkah transformatif, bila pesantren akan dijadikan sebagai institusi

pendidikan yang menjanjikan pada era modern. Sudah saatnya bagi pesantren

untuk melakukan reorientasi tata nilai dan tata operasional pendidikannya,

agar lebih relevan dengan dinamika kemodernan, tanpa meninggalkan nilai-

nilai tradisional yang telah lama mengakar kuat di pesantren.6 Sebagaimana

telah disebutkan dalam kaidah yang sangat terkenal di pesantren, yaitu :

                               ِ ‫ ﹶ ِ ِ ﺼ ِ َ ﹸ ﹶ ِ ﹶ‬ ‫ ﹶ ﹶﹸ‬ ‫ﹸ‬
                               ‫ﺎِﻟﺢ َﻭﺍﻷ ﺧﺬ ﺑِﺎﳉﺪِﻳﺪ ﺍﻷَﺻﻠﺢ‬ ‫ﺍﳌﺤﺎﻓﻈﺔ ﻋﻠﹶﻰ ﺍﻟﻘﺪﱘ ﺍﻟ‬
Artinya :

"Memelihara keadaan yang lama yang maslahat dan mengambil yang baru

yang lebih maslahat"7

        Salah satu kitab kuning yang diajarkan di pesantren adalah kitab

Matnul Ghoyah Wat-Taqrib karya Al-Qadhi Abu Syuja’ Ahmad bin Al

Husain bin Ahmad Al-Asfihani. Dari kitab ini muncul beberapa kitab yaitu

5
  Abdurrahman Wahid, Pesantren, 281.
6
  Modernisasi Pendidikan Pesantren, http://www.smu-net.com/, diakses 17 Juni 2008.
7
  A. Djazuli,Kaidah-kaidah Fikih (Jakarta : Kencana, 2006),110.
                                                                                            5




        Iqna' karya Syarbini (977 H/1569 M), kitab Kifayat Akhyar karya Damsyaqi

        (829 H/ 1426) dan kitab Fathul Qorib karya Ibnu Qasim (918 H/1512 M).8 Di

        pesantren kitab ini lebih dikenal dengan nama Kitab Taqrib. Kitab yang padat

        menjelaskan hukum-hukum fiqh ini menguraikan 16 bab hukum fiqh mulai

        dari bab thaharah sampai bab ahkamul i'tqi. Salah satu bab yang menarik

        dibahas di dalamnya adalah bab Haji. Suatu bab yang menjelaskan hukum dan

        tata cara menunaikan rukun Islam yang kelima setelah syahadat, shalat, zakat

        dan puasa.

                   Namun, penyajian bab ini menggunakan metode wetonan maupun

        sorogan tentu masih menyisakan beberapa persoalan dalam aspek pemahaman

        santri seperti bagaimanakah gambaran tentang thawaf, sai, wukuf, jumroh

        yang sudah tentu tidak bisa dijelaskan dengan kedua metode itu saja. Adanya

        media yang mampu memaparkan haji dalam bentuk teks, gambar, suara, dan

        video (audiovisual) tentu sangat diperlukan.

                   Dengan melihat perkembangan pesat teknologi informasi dewasa ini

        maka Macromedia Flash tentu dapat menjadi tawaran pertama untuk

        memberikan solusi dari permasalahan diatas. Macromedia Flash merupakan

        gabungan konsep pembelajaran dengan teknologi audiovisual yang mampu

        menghasilkan fitur-fitur baru yang dapat dimanfaatkan dalam pendidikan.

        Pembelajaran berbasis multimedia tentu dapat menyajikan materi pelajaran


        8
             Affandi Mukhtar, Membedah Diskursus Pendidikan Islam (Ciputat : penerbit Kalimah,
2002), 63.
                                                                                        6




       yang lebih menarik, tidak monoton, dan memudahkan penyampaian. Peserta

       didik dapat mempelajari materi pelajaran tertentu secara mandiri dengan

       komputer yang dilengkapi program multimedia.9

               Macromedia Flash adalah program untuk membuat animasi dan

       aplikasi web profesional. Bukan hanya itu, Macromedia Flash juga banyak

       digunakan untuk membuat game, animasi kartun, dan aplikasi multimedia

       interaktif seperti demo produk dan tutorial interaktif.10 Software keluaran

       Macromedia ini merupakan program untuk mendesain grafis animasi yang

       sangat populer dan banyak digunakan desainer grafis. Kelebihan flash terletak

       pada kemampuannya menghasilkan animasi gerak dan suara. Awal

       perkembangan flash banyak digunakan untuk animasi pada website, namun

       saat ini mulai banyak digunakan untuk media pembelajaran karena kelebihan-

       kelebihan yang dimiliki.

               Akan     tetapi,   penggunaan    Macromedia      Flash    sebagai   media

       pembelajaran sangat jarang digunakan di pesantren. Padahal penggunaan

       media ini telah banyak diterapkan di lingkungan pendidikan di luar pesantren.

       Apabila dilihat dari kelebihan media ini, dan kelemahan pada sistem

       pembelajaran tradisional pesantren, maka sudah saatnya pembelajaran di

       perantren juga menggunakan Macromedia Flash. Bukankah Allah tidak akan


       9
             Chusnul Chotimah, Macromedia Flash Sebagai Media Pembelajaran (Januari, 2008)
http://www.smu-net.com/main.php?act=int&xkd=169.
          10
             Chandra, 7 Jam Belajar Flash MX 2004 untuk Orang Awam (Palembang : Maxikom,
2004), 2.
                                                                                                 7




        merubah keadaan suatu kaum tanpa diikuti usaha untuk merubahnya?

        Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Quran Surat Ar-Ra’ad ayat 11 :

                                             ِِ ‫ﹶ ﹸ‬        ‫ ﺮ‬ ‫ﺘ‬ ٍ  ‫ ﹶ‬  ‫ ﹶ‬ ‫ﱠ ﹼ‬
                                            ‫ﻧﻔﺴﻬﻢ‬‫ﺎ ِﺑﺄ‬‫ﻭﺍ ﻣ‬ ‫ﻴ‬‫ﻳﻐ‬ ‫ﻰ‬‫ﺎ ِﺑﻘﻮﻡ ﺣ‬‫ﻴﺮ ﻣ‬‫ﻐ‬‫ِﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳ‬
        Artinya :

        "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga

        mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."11

                Di Surabaya selatan sejak 31 Agustus 2001 berdiri Pesantren Luhur

        Al-Husna Surabaya. Pesantren yang di asuh oleh KH. Ali Maschan Moesa

        merupakan satu diantara sekian banyak pesantren di kota Surabaya. Di

        pesantren inilah para santri dididik dan digembleng untuk menguasai ilmu-

        ilmu keagamaan.

                Seperti kebanyakan pesantren lain, metode wetonan menjadi salah satu

        metode pengajaran kitab kuning di Pesantren Luhur Al-Husna. Di sisi lain

        santri yang hampir 100% adalah mahasiswa di beberapa perguruan tinggi di

        Surabaya ini tentu juga memiliki tugas belajar di perguruan tinggi masing-

        masing. Oleh karenanya, untuk menunjang tugas belajar tersebut, kebanyakan

        para santri memiliki komputer di kamarnya masing-masing. Dari sinilah

        terbuka lebar kesempatan untuk mencoba memanfaatkan komputer juga

        sebagai penunjang pendidikan mereka di pesantren, tidak hanya sebagai

        penunjang pendidikan di kampus saja.

        11
          Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung : Penerbit
Diponegoro, 2000), 199.
                                                                              8




          Berangkat dari paparan sebelumnya, maka peneliti merasa sangat perlu

   untuk melakukan inovasi media pembelajaran menggunakan Macromedia

   Flash di lingkup pesantren. Dengan melihat kelemahan metode pengajaran

   sistem wetonan dan kebutuhan akan media pembelajaran audiovisual pada

   materi Haji kitab Taqrib serta kesempatan emas tersedianya komputer yang

   dimiliki santri Pesantren Luhur Al-Husna maka peneliti menetapkan

   penelitian berjudul "Prosedur dan Efektifitas Pengembangan Media

   Pembelajaran       Kitab   Matnul    Ghoyah     Wat    Taqrib    Bab     Haji

   Menggunakan Macromedia Flash 8 di Pesantren Luhur Al-Husna

   Surabaya".

B. Alasan Pemilihan Judul

   1.   Pembelajaran kitab kuning dengan metode tradisional belum bisa

        memberi gambaran menyeluruh tentang bab haji kitab Matnul Ghoyah

        Wat Taqrib.

   2.   Kebutuhan pembelajaran yang berbasis multimedia kitab Matnul Ghoyah

        wat Taqrib pada bab Haji untuk meningkatkan pemahaman santri.

   3.   Adanya kesempatan untuk memanfaatkan komputer sebagai media

        pembelajaran seiring pesatnya perkembangan software pembuat animasi

        multimedia seperti Macromedia Flash.

   4.   Peneliti merasa tertarik untuk mengetahui hasil penelitian pembelajaran

        menggunakan Macromedia Flash 8 di pesantren karena selama ini media

        tersebut masih digunakan di lembaga pendidikan di luar pesantren.
                                                                             9




   5.   Peneliti menganggap masalah tersebut penting untuk diteliti karena

        hasilnya bisa dijadikan pertimbangan untuk mengadakan pembaharuan

        media pembelajaran di pesantren.

C. Rumusan Masalah

          Berdasarkan uraian latar belakang diatas, peneliti mengklasifikasikan

   beberapa rumusan masalah, yaitu:

    1. Bagaimanakah prosedur pengembangan media pembelajaran kitab

        Matnul Ghoyah Wat Taqrib bab haji menggunakan Macromedia Flash 8

        di Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya?

    2. Bagaimanakah efektifitas pengembangan media pembelajaran kitab

        Matnul Ghoyah Wat Taqrib bab haji menggunakan Macromedia Flash 8

        di Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya?

D. Tujuan Penelitian

          Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka

   tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut::

    1. Untuk mengetahui prosedur pengembangkan media pembelajaran kitab

        Matnul Ghoyah Wat Taqrib bab haji menggunakan Macromedia Flash 8

        di Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya.

    2. Untuk mengetahui efektifitas pengembangan media pembelajaran kitab

        Matnul Ghoyah Wat Taqrib bab haji menggunakan Macromedia Flash 8

        di Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya.
                                                                                                          10




E. Kegunaan Penelitian

                Kegunaan penelitian dari permasalahan yang telah dikemukakan diatas adalah

     sebagai berikut ini:

     1. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan

         dibidang pendidikan khususnya tentang pengembangan media pembelajaran kitab

         Matnul Ghoyah Wat Taqrib di pesantren.

     2. Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk

         pengembangan media pembelajaran kitab Matnul Ghoyah Wat Taqrib dan dapat

         menjadi acuan untuk penelitian lebih lanjut.

     3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif pengembangan media

         pembelajaran di pesantren.

F.   Definisi Operasional

                Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang pengertian judul skripsi ini,

     maka peneliti tegaskan beberapa istilah yang terdapat dalam judul skripsi ini yaitu :

     1. Prosedur

                     Prosedur adalah jalur penyelesaian (masalah); cara bekerja; cara

         menyetakan (pendapat/usulan).12 Dalam penelitian ini terkait dengan tahap-tahap

         penyelesaian pengembangan media pembelajaran.

     2. Efektifitas

                     Efektifitas adalah ketepatgunaan; hasil guna; menunjang tujuan.13 Agar

         pengembangan media pembelajaran dapat menunjang tujuan pembelajaran maka

         diukur melalui empat aspek yaitu aspek kualitas tampilan, penyajian materi,

         interaksi pengguna dan interaksi program.

        12
             Pius A. Partanto, M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer (Surabaya : Arkola, 1994), 632.
        13
             Pius A. Partanto, Kamus, 128.
                                                                                        11




3. Media Pembelajaran

           Media pembelajaran adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan

   dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan

   siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.14

4. Kitab Matnul Ghoyah Wat Taqrib

           Kitab Matnul Ghoyah Wat Taqrib yaitu kitab keagamaan berbahasa arab

   sebagai produk pemikiran Abu Syuja’ Al-Asfihani. Dari kitab ini muncul kitab

   Iqna' karya Syarbini (977 H/1569 M), kitab Kifayat Akhyar karya Damsyaqi (829

   H/ 1426) dan kitab Fathul Qorib karya Ibnu Qasim (918 H/1512 M).15 Dalam

   penelitian ini kitab Matnul Ghoyah Wat Taqrib selanjutnya ditulis kitab Taqrib.

5. Macromedia Flash 8

           Program untuk membuat animasi dan aplikasi web profesional, juga

   banyak digunakan untuk membuat game, animasi kartun, dan aplikasi multimedia

   interaktif seperti demo produk dan tutorial interaktif.16

6. Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya

           Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya adalah lokasi diadakan penelitian.

   Pesantren Luhur Al-Husna diasuh oleh KH. Ali Maschan Moesa tepatnya di Jl.

   Jemurwonosari Gg. Masjid 42 C Surabaya.




  14
     Oemar Hamalik, Media Pendidikan (Bandung : Citra Aditya, 1989), 12.
  15
     Affandi Mukhtar, Membedah, 63.
  16
     Chandra, 7 Jam Belajar Flash MX 2004 untuk Orang Awam (Palembang : Maxikom, 2004), 2.
                                                                                               12




    G. Metodologi Penelitian

                  Metodologi penelitian merupakan suatu strategi yang umum dilakukan

        untuk mencoba mengumpulkan data serta menganalisanya. Selain itu, bahwa

        dengan       mengaplikasikan      metodologi      penelitian     yang     sesuai    akan

        memudahkan untuk melakukan atau menyikapi suatu problem yang diteliti.

        1. Jenis dan Pendekatan Penelitian

                    Penelitian adalah usaha dalam bidang ilmu pengetahuan yang secara

             sadar diarahkan untuk mengetahui atau mempelajari fakta-fakta baru.17

             Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif untuk

             mengungkapkan gejala secara holistik, kontektual melalui pengumpulan

             data dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci utama.18

             Selain itu, penelitian kualitatif tidak mengandalkan bukti berdasarkan logika

             matematis. Prinsip angka atau metode statistik yang menjadi cirinya adalah

             pembicaraan yang sebenarnya, isyarat dan tindakan sosial lainnya.19

                    Untuk mendeskripsikan dan menginterpretasikan apa yang ada

             mengenai kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang sudah tumbuh,

             proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau

             kecenderungan yang tengah berkembang, maka digunakan penelitian



        17
           Suparmoko, Metode Penelitian praktis : Untuk Ilmu-ilmu Sosial dan ekonomi, (Yogyakarta:
BPFE, 1996), 1.
        18
            Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, Pedoman Penulisan Skripsi Program strata
Satu Fakultas Tarbiyah (Surabaya : IAIN Sunan Ampel, 2004), 9.
        19
           Deddy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif : Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan
Ilmu Sosial Lainnya, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2004), 150.
                                                                                              13




           diskriptif.20 Dan disebutkan penelitian deskriptif adalah penelitian non

           hipotesa.21

                  Penelitian ini berusaha untuk memberikan gambaran mengenai

           fakta-fakta secara sistematis, faktual dan akurat.22 Dengan demikian laporan

           penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran

           penyajian.23 Data tersebut berasal dari naskah wawancara, gambar/foto, dan

           dokumen-dokumen.

                  Adapun untuk memberi gambaran lengkap tentang pengembangan

           media pembelajaran kitab Taqrib bab haji menggunakan Macromedia Flash

           8 dalam penelitian ini digunakan model pengembangan berdasarkan model

           Alessi dan Trollip yang terdiri dari 10 tahapan pengembangan yang meliputi

           tahap menentukan kebutuhan dan tujuan, mengumpulkan sumber,

           mempelajari materi, menghasilkan gagasan, mendesain pembelajaran,

           membuat bagan alir pelajaran, memajang storyboard secara tertulis,

           memprogram       pelajaran,     membuat      materi     yang    mendukung,       dan

           mengevaluasi dan meninjau kembali.24 Akan tetapi pentahapan tersebut




      20
           Sumanto, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan : Aplikasi Metode Kuantitatif dan
Statistika dalam Penelitian. (Yogyakarta : Andi Offset, 1995), 77.
        21
            Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek(Jakarta: Rineka
Cipta,1998), 76.
        22
           Huzaini Usman dan Purnomo S. Akbar, Metodologi Penelitian Sosial (Bandung : Bumi
Aksara, 1996), 4.
        23
           Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Rosda Karya, 2002), 6.
        24
            Edy Wihardjo, Pembelajaran Berbantuan Komputer (Jember : November, 2007),14,
http://elearning.unej.ac.id/courses/ CL4fe8/document/buku_ajar_PBKom.pdf? idReq=CL02d1.
                                                                          14




 telah dimodifikasi dan disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan dalam

 penelitian ini.

2. Tahap-Tahap Penelitian.

  a. Tahap Pra Lapangan

              Pada tahap penelitian bagian pertama ini, ada enam kegiatan

       yang harus dilakuakan oleh peneliti yaitu, menyusun rancangan

       penelitian, memilih lapangan, mengurus perizinan, menjajaki, dan

       memilih keadaan lapangan, memilih dan memanfaatkan informasi serta

       menyiapkan perlengkapan penelitian.

  b. Tahap Pekerjaan Lapangan

              Ada 3 hal yang harus dilakukan oleh peneliti dalam tahapan ini,

       yaitu sebagai berikut ini :

       1)   Memahami latar penelitian dan persiapan diri

       2)   Memasuki lapangan

       3)   Berperan serta mengambil, mengumpulkan data

  c. Tahap Mengolah Data

               Untuk mengolah hasil penelitian, peneliti menggunakan

       metode analisa diskriptif kualitatif.

  d.   Tahap Penyusunan Laporan Penelitian

               Tahap akhir penelitian ini adalah penyusunan laporan

       penelitian, peneliti mengkomunikasikan masalah yang diteliti. Hal ini

       dilakukan untuk mendukung keabsahan penelitian.
                                                                         15




3. Sumber dan Jenis Data

  a. Sumber Data

             Untuk mengetahui dan memperoleh data dalam penelitian ini,

    maka peneliti memanfaatkan dua sumber data yaitu :

    1) Sumber data manusia, yang terdiri dari santri, ustadz, dan pakar

        media.

    2) Sumber data non manusia, terdiri dari dokumen-dokumen yang ada

        hubungannya dengan penelitian.

  b. Jenis Data

             Data adalah hasil pencatatan peneliti, baik berupa fakta maupun

    angka. Dengan kata lain segala fakta dan angka yang dapat dijadikan

    bahan menyusun informasi. Untuk memperoleh hasil yang diharapkan

    dalam penelitian ini memerlukan jenis data kualitatif yaitu data yang

    dinyatakan dalam bentuk uraian atau kalimat, dapat berupa gambaran

    umum obyek penelitian, respon santri, ustadz, dan pakar media.

4. Metode Pengumpulan Data

         Dalam     pengumpulan      data   guna    mempermudah        dalam

  pengolahannya, maka perlu adanya sebuah metode yang akan dipakai.

  Dalam penelitian ini akan memakai metode dibawah ini :

  a. Metode Dokumentasi

            Dokumentasi adalah suatu teknik atau metode untuk mencari

    data mengenai hal-hal atau variable berupa catatan, prasasti, majalah,
                                                                                           16




               agenda, transkrip, koran, buku, surat kabar, notulen rapat, lengger, dan

               sebagainya.25

                       Metode dokumentasi ini dipakai untuk menghimpun data yang

               berhubungan dengan prosedur pengembangan media pembelajaran kitab

               Taqrib bab haji menggunakan Macromedia Flash 8 di pesantren luhur

               Al-Husna Surabaya.

             b. Metode kuesioner

                       Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan

               dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis

               kepada responden untuk dijawabnya.26 Metode kuesioner ini peneliti

               gunakan untuk menghimpun data yang berkaitan dengan respon para

               santri sebagai pengguna media pembelajaran ini. Kuesioner ini peneliti

               susun dalam dua bagian yaitu pernyataan tertutup dan pertanyaan

               terbuka. Pernyataan tertutup digunakan untuk menghimpun data tentang

               kecenderungan santri memilih opsi jawaban tertentu. Sedangkan,

               kuesioner pertanyaan terbuka digunakan untuk menghimpun respon

               santri secara deskriptif.




        25
            Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek (Jakarta : Rineka
Cipta, 1998), 236.
         26
            Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Bandung : Alfabeta,
2008), 142.
                                                                                        17




     c. Metode Interview

                 Interview adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang

        berlangsung secara lisan dimana dua orang atau lebih bertatap muka

        mendengarkan secara lansung informasi-informasi atau keterangan-

        keterangan.27 Interview ini dilakukan dengan ustadz dan pakar media

        pembelajaran.

                 Metode interview ini peneliti gunakan untuk menghimpun data

        yang berkaitan dengan :

        1) Respon pakar media terhadap media ini

        2) Respon pakar materi terhadap media ini

5. Teknik Analisa Data

             Analisa data merupakan langkah yang sangat penting dalam

     penelitian, sebab dari hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menjawab

     suatu rumusan masalah yang telah diajukan oleh peneliti. Adapun teknik

     analisa data menggunakan metode sebagai berikut :

     a. Metode Induktif

                 Yaitu suatu penelitian yang berangkat dari faktor-faktor yang

        bersifat khusus, peristiwa yang konkret, kemudian dari fakta yang




27
     Cholid Narbuko, Abu Ahmadi, Metodologi Penelitian (Jakarta : Bumi Aksara, 1999), 70.
                                                                                       18




              khusus atau peristiwa konkret tersebut ditarik satu generalisasi atau

              kesimpulan yang bersifat umum.28

            b. Metode Komparatif

                      Metode ini dimaksudkan untuk membandingkan pendapat yang

              satu dengan yang lainnya, kemudian diambil suatu kesimpulan jika

              memungkinkan      mengikuti    salah   satu   pendapat    yang    dianggap

              mempunyai landasan yang paling kuat.

                      Karena jenis penelitian ini adalah kualitatif, maka penelitian ini

              mendasarkan pola paradigma induktif artinya bahwa langkah peneliti

              untuk mencari kebenaran berpijak dari data yang diperoleh di lapangan

              dari temuan-temuan ilmiah yang berupa data (baik primer maupun

              sekunder). Kemudian digeneralisasikan secara apa adanya sehingga

              dapat diperoleh kesimpulan dari hasil penelitian.

       6. Pengukuran Keabsahan Data

                    Dalam pengukuran keabsahan, analisa dan penyusunan data yang

            sudah diperoleh tidak menutup kemungkinan akan terjadi kesalahan yang

            menyebabkan kurangnya validitas pada penelitan tersebut, sehingga

            tertuang dalam bentuk laporan. Oleh karena itu, perlu adanya pengecekan

            data dengan teknik sebagai berikut :




       28
           Sutrisno Hadi, Metodologi Research (Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi, UGM,
Yogyakarta, 1986), 42.
                                                                             19




     a. Perpanjangan keikutsertaan

                 Perpanjangan keikutsertaan peneliti dalam penelitian ini sangat

         menentukan dalam pengumpulan data. Keikutsertaan tersebut tidak

         hanya dilakukan dalam waktu yang relatif singkat melainkan dengan

         waktu yang cukup lama. Perpanjangan keikutsertaan peneliti ini dituntut

         juga    untuk    mendeteksi     dan   memperhitungkan   distorsi   yang

         memungkinkan data menjadi tidak valid, guna berorientasi dengan

         situasi dalam memastikan apakah konteks itu dapat dipahami dan

         dihayati.29

     b. Ketekunan pengamatan

                 Ketekunan pengamatan bermaksud menemukan ciri-ciri dan

         unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan yang

         sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut

         secara rinci. Dengan kata lain jika perpanjangan keikutsertaan

         menyediakan lingkup, maka ketekunan pengamatan menyediakan

         kedalaman.

                 Dalam ketekunan pengamatan peneliti mengadakan pengamatan

         dengan teliti dan rinci secara berkesinambungan terhadap faktor-faktor

         yang menonjol. Peneliti dalam teknik ini menguraikan secara rinci

         bagaimana proses penemuan secara tentatif dan penelaahan secara rinci,

         sehingga peneliti paham apa yang diteliti.
29
     Lexy J. Moleong, Metode, 175-177.
                                                                             20




      c. Trianggulasi

                  Trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang

         memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan

         pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.30 Paton

         menyatakan        trianggulasi   dengan   penggunaan   sumber   berarti

         membandingkan dan mengecek balik derajat suatu informasi yang

         diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif.

         Hal ini dapat dicapai dengan jalan :

         1) Membandingkan data yang dihasilkan dari pengamatan dengan hasil

              wawancara.

         2) Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan

              yang dilakukan secara pribadi.

         3) Membandingkan apa yang dikatakan orang tentang situasi penelitian

              dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu.

         4) Membandingkan keadaan seseorang dengan berbagai pendapat dan

              pendengaran responden den informasi yang lain.

         5) Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang

              berkaitan.




30
     Ibid, 178.
                                                                               21




H. Sistematika Pembahasan

            Untuk mempermudah dalam memahami skripsi ini, maka perlu

   peneliti sajikan sistematika dari pembahasan yang ada dalam skripsi ini, yaitu

   sebagai berikut :

   BAB I      : Pendahuluan

                 Yang terdiri dari latar belakang masalah, alasan pemilihan judul,

                 rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, definisi

                 operasional, metodologi penelitian dan sistematika pembahasan.

   BAB II     : Kajian Teori

                 Kajian teori yang menguraikan teori-teori secara mendalam

                 tentang pengembangan media pembelajaran kitab Taqrib bab haji

                 menggunakan Macromedia Flash 8.

   BAB III : Hasil Penelitian

                 Paparan hasil penelitian yang mencakup secara lengkap

                 penyajian dan analisis data.

   BAB IV : Penutup

                 Bab ini terdiri dari kesimpulan dan saran-saran.

            Demikian sistematika pembahasan yang menjadi alur penelitian skripsi

   ini sesuai dengan urutan-urutan penelitiannya dan setelah sampai pada

   penutupan juga dicantumkan daftar pustaka beserta lampiran-lampiran.
                                                                             22




                                BAB II

                            KAJIAN TEORI



A. MEDIA PEMBELAJARAN

         Proses belajar mengajar akan berjalan efektif dan efisien bila didukung

  dengan tersedianya media yang menunjang. Penyediaan media serta

  metodologi pendidikan yang dinamis, kondusif serta dialogis sangat

  diperlukan bagi pengembangan potensi peserta didik, secara optimal. Hal ini

  disebabkan karena potensi peserta didik akan lebih terangsang bila dibantu

  dengan sejumlah media atau sarana dan prasarana yang mendukung proses

  interaksi yang sedang dilaksanakan.

         Media dalam perspektif pendidikan merupakan instrumen yang sangat

  strategis dalam ikut menentukan keberhasilan proses belajar mengajar. Sebab

  keberadaannya secara langsung dapat memberikan dinamika tersendiri

  terhadap peserta didik.

         Dengan keterbatasan yang dimilikinya, manusia seringkali kurang

  mampu menangkap dan menanggapi hal-hal yang bersifat abstrak atau

  yang belum pernah terekam dalam ingatannya. Untuk menjembatani proses

  internalisasi belajar mengajar yang demikian, diperlukan media pendidikan

  yang memperjelas dan mempermudah peserta didik dalam menangkap

  pesan-pesan pendidikan yang disampaikan. Oleh karena itu, semakin


                                    21
                                                                                       23




banyak peserta didik disuguhkan dengan berbagai media dan sarana

prasarana yang mendukung, maka semakin besar kemungkinan nilai-nilai

pendidikan mampu diserap dan dicernanya.31

1. Pengertian Media Pembelajaran

              Kata media pembelajaran berasal dari bahasa latin medius yang

       secara harfiah berarti tengah, perantara atau pengantar. Dalam bahasa

       Arab, media perantara (‫ )ﻭﺳﻠﺌﻠﻢ‬atau pengantar pesan dari pengirim kepada


       penerima pesan. Gerlach & Ely (1971) mengatakan bahwa media apabila

       dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang

       membangun        kondisi     yang    membuat       siswa     mampu      memperoleh

       pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini guru, buku

       teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus,

       pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan alat-

       alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan

       menyusun kembali informasi visual dan verbal.32

              Association for Education and Communication Technology (AECT)

       mendefinisikan media yaitu segala bentuk yang dipergunakan untuk suatu

       proses penyaluran informasi. Sedangkan Education Association (NEA)

       mendefinisikan sebagai benda yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar,


31
     http://www.damandiri.or.id/file/ahmadsuyutiunairbab2.pdf, diakses 2 Juli 2008.
32
     Azhar Arsyad, Media Pengajaran (Jakarta:RajaGrafindo Persada, 1997),3.
                                                                                         24




     dibaca atau dibicarakan beserta instrument yang dipergunakan dengan

     baik dalam kegiatan belajar mengajar, dapat mempengaruhi efektifitas

     program instruksional.33

           Menurut Oemar Hamalik media pembelajaran adalah Alat, metode,

     dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan

     komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan

     dan pengajaran di sekolah.34 Menurut Suprapto dkk, menyatakan bahwa

     media pembelajaran adalah suatu alat pembantu secara efektif yang dapat

     digunakan oleh guru untuk mencapai tujuan yang diinginkan.35

           Dalam penelitian kali ini peneliti lebih cenderung menggunakan

     definisi media pembelajaran dari Oemar Hamalik dengan alasan bahwa

     cakupannya lebih luas, tidak hanya dibatasi sebagai alat tetapi juga teknik

     dan metode sehingga dapat mencakup definisi dari para ahli pendidikan

     lainnya.

           Kebanyakan para ahli membedakan antara media dan alat peraga,

     namun kedua istilah tersebut juga digunakan saling bergantian. Perbedaan

     penggunaan istilah tersebut dapat dilihat pada pola yang tergambar pada

     diagram berikut :




33
   Basyiruddin Usman, Asnawir, Media Pembelajaran (Jakarta:Ciputat Pers,Juni 2002),11.
34
   Oemar Hamalik, Media Pendidikan (Bandung : Citra Aditya, 1989), 12.
35
   Mahfud Shalahuddin, Media Pendidikan Agama (Bandung : Bina Islam, 1986), 4.
                                                                       25




                                 Strategi
                               Perencanaan
                                Kurikulum



                       Guru                  Guru
                       Kelas                 Kelas



Guru               Alat Bantu/                             Guru
                                             Media
Kelas                Peraga                              Bermedia




                                  Siswa


    Gambar 2.1 : Pola Interaksi Pendidikan/Pengajaran

  a. Dalam pola 1, sumber belajar siswa hanyalah berupa orang. Guru

        kelas atau dosen memegang kendali penuh atas terjadinya kegiatan

        belajar mengajar.

  b. Dalam pola 2, sumber belajar berupa orang yang dibantu sumber

        lain. Dalam pola ini guru atau dosen memegang kendali, hanya saja

        tidak mutlak karena ia dibantu sumber lain. Dalam pola

        instruksional ini sumber yang berfungsi sebagai alat bantu disebut

        alat peraga.

  c. Dalam pola 3, sumber belajar berupa orang bersama-sama dengan

        sumber lain berdasarkan suatu pembagian tanggung jawab. Dalam

        hal ini kontrol terhadap kegiatan belajar mengajar dibagi bersama
                                                                              26




                antara sumber manusia dengan sumber lain. Sumber lain itu

                merupakan bagian integral dari seluruh kegiatan belajar. Dalam

                pola ini sumber lain itu dinamakan media.

          d. Dalam pola 4 ini anak didik belajar hanya dari satu sumber yang

                bukan manusia. Keadaan ini terjadi dalam suatu pengajaran melalui

                media. Sumber bukan manusia tersebut dinamakan media (guru

                bermedia).

                Dari penjelasan tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa

      perbedaan antara media dengan alat peraga terletak pada fungsi, bukan

      pada substansinya. Sumber belajar dikatakan alat peraga jika hal tersebut

      fungsinya hanya sebagai alat bantu saja. Hal tersebut dikatakan media jika

      sumber belajar itu merupakan bagian yang integral dari seluruh kegiatan

      belajar. Di sini ada pembagian tugas dan tanggung jawab antara guru kelas

      atau dosen di satu pihak dan sumber yang bukan manusia (media) di pihak

      lain.36

2. Manfaat dan Fungsi Media Pembelajaran

                Pada awalnya media hanya berfungsi sebagai alat bantu dalam

      kegiatan belajar mengajar yaitu berupa sarana yang dapat memberikan

      pengalaman visual kepada siswa dalam rangka mendorong motivasi

      belajar, memperjelas, dan mempermudah konsep yang kompleks dan

      abstrak menjadi lebih sederhana, konkrit, serta mudah dipahami. Dengan
36
     Basyiruddin Usman, Media.,11-13.
                                                                       27




demikian media dapat berfungsi untuk mempertinggi daya serap dan

retensi anak terhadap materi pembelajaran.

      Edgar Dale mengklasifikasi pengalaman belajar anak mulai dari

hal-hal yang paling konkrit sampai kepada hal-hal yang dianggap paling

abstrak. Klasifikasi pengalaman tersebut diikuti secara luas oleh kalangan

pendidikan dalam menentukan alat bantu apa seharusnya yang sesuai

untuk pengalaman belajar tertentu. Klasifikasi pengalaman tersebut lebih

dikenal dengan Kerucut Pengalaman (Cone of Experience). Perhatikan

gambar berikut ini :


                                                           Abstrak
                            Verbal
                            Simbol
                            Visual
                            Visual
                            Radio
                             Film
                           Televisi
                           Pameran
                         Karyawisata
                         Demonstrasi
                 Pengalaman dramatisasi
                       Pengalaman tiruan
                  Pengalaman langsung

       Gambar 2.2 : Kerucut Pengalaman Edgar Dale          Konkrit
                                                                          28




       Menurut Azhar Arsyad ada beberapa manfaat praktis dari

penggunaan media pembelajaran di dalam proses belajar mengajar sebagai

berikut :

a.   Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan

     informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses

     dan hasil belajar.

 b. Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian

     anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang

     lebih langsung antara siswa dan lingkungannya, dan kemungkinan

     siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan

     minatnya.

 c. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan

     waktu :

     (1) Obyek atau benda yang terlalu besar untuk ditampilkan langsung

            di ruang kelas dapat diganti dengan gambar, foto, slide, realita,

            film, radio, atau model.

     (2) Obyek atau benda yang terlalu kecil yang tidak tampak oleh

            indera dapat disajikan dengan bantuan mikroskop, film, slide,

            atau gambar.

     (3) Kejadian langka yang terjadi di masa lalu atau terjadi sekali

            dalam puluhan tahun dapat ditampilkan melalui rekaman video,

            film, foto, slide disamping secara verbal.
                                                                                  29




            (4) Obyek atau proses yang amat rumit seperti peredaran darah dapat

                 ditampilkan secara kongkret melalui film, gambar, slide, atau

                 simulasi komputer.

            (5) Kejadian atau percobaan yang dapat membahayakan dapat

                 disimulasikan dengan media seperti komputer, film, dan video.

            (6) Peristiwa alam seperti terjadinya letusan gunung berapi atau

                 proses yang dalam kenyataan memakan waktu lama seperti

                 proses kepompong menjadi kupu-kupu dapat disajikan dengan

                 teknik-teknik rekaman time-lapse untuk film, video, slide, atau

                 simulasi komputer.

        d. Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman

            kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka, serta

            memungkinkan           terjadinya   interaksi   langsung   dengan   guru,

            masyarakat, dan lingkungannya misalnya melalui karyawisata,

            kunjungan-kunjungan ke museum atau kebun binatang.37

               Penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar

       juga mempunyai nilai-nilai praktis sebagai berikut:

        a. Media dapat mengatasi berbagai keterbatasan pengalaman yang

            dimiliki siswa atau mahasiswa.

        b. Media dapat mengatasi ruang kelas.



37
     Azhar Rasyad, Media, 26-27.
                                                                              30




        c. Media memungkinkan adanya interaksi langsung antara siswa dengan

            lingkungan.

        d. Media menghasilkan keseragaman pengamatan.

        e. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit dan

            realistis.

        f. Media dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru.

        g. Media dapat membangkitkan motivasi dan merangsang siswa untuk

            belajar.

        h. Media dapat memberikan pengalaman yang integral dari suatu yang

            konkrit sampai kepada yang abstrak.38

3. Ciri-ciri Media Pembelajaran

              Gerlach & Ely (1971) mengemukakan tiga ciri media yang

      merupakan petunjuk mengapa media digunakan dan apa-apa saja yang

      dapat dilakukan oleh media yang mungkin guru tidak mampu (atau kurang

      efisien) melakukannya.

      a. Ciri Fiksatif (Fixative Property)

           Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan,

      melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau obyek. Suatu

      peristiwa atau obyek dapat diurut dan disusun kembali dengan media

      seperti fotografi, video tape, audio tape, disket komputer, dan film. Suatu

      obyek yang telah diambil gambarnya (direkam) dengan kamera atau video
38
     Basyiruddin Usman, Media, 14-15.
                                                                       31




kamera dengan mudah dapat direproduksi dengan mudah kapan saja

diperlukan. Dengan ciri fiksatif, media memungkinkan suatu rekaman

kejadian   atau    obyek   yang   terjadi   pada   satu   waktu   tertentu

ditransportasikan tanpa mengenal waktu.

   Ciri ini amat penting bagi guru karena kejadian-kejadian atau obyek

yang telah direkam atau disimpan dengan format media yang ada dapat

digunakan setiap saat. Peristiwa yang kejadiannya hanya sekali (dalam

satu dekade atau satu abad) dapat diabadikan dan disusun kembali untuk

keperluan pengajaran. Prosedur laboratorium yang rumit dapat direkam

dan disusun untuk kemudian direproduksi berapa kali pun pada saat

diperlukan. Demikian pula kegiatan siswa dapat direkam untuk kemudian

dianalisisi dan dikritik oleh siswa sejawat baik secara perorangan maupun

secara kelompok.

b. Ciri Manipulatif (Manipulative Property)

   Transformasi suatu kejadian atau obyek dimungkinkan karena media

memiliki ciri manipulatif. Kejadian yang memakan waktu berhari-hari

dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan

teknik pengambilan gambar time-lapse recording. Misalnya, bagaimana

proses larva menjadi kepompong kemudian menjadi kupu-kupu dapat

dipercepat dengan teknik rekaman fotografi tersebut. Di samping dapat

dipercepat, suatu kejadian dapat pula diperlambat pada saat menayangkan

kembali hasil suatu rekaman video. Misalnya, proses loncat galah atau
                                                                      32




reaksi kimia dapat diamati melalui bantuan kemampuan manipulatif dari

media. Demikian pula, suatu aksi gerakan dapat direkam dengan foto

kamera untuk foto. Pada rekaman gambar hidup (video, motion film)

kejadian dapat diputar mundur. Media (rekaman video atau audio) dapat

diedit sehingga guru hanya menampilkan bagian-bagian penting/utama

dari ceramah, pidato, atau urutan suatu kejadian dengan memotong

bagian-bagian yang tidak diperlukan. Kemampuan media dari ciri

manipulatif memerlukan perhatian sungguh-sungguh oleh karena apabila

terjadi kesalahan dalam pengaturan kembali urutan kejadian atau

pemotongan bagian-bagian yang salah, maka akan terjadi pula kesalahan

penafsiran yang tentu saja akan membingungkan dan bahkan menyesatkan

sehingga dapat mengubah sikap mereka ke arah yang tidak diinginkan.

   Manipulasi kejadian atau obyek dengan jalan mengedit hasil rekaman

dapat menghemat waktu. Proses penanaman dan panen gandum,

pengolahan gandum menjadi tepung, dan penggunaan tepung untuk

membuat roti dapat dipersingkat waktunya dalam suatu urutan rekaman

video atau film yang mampu menyajikan informasi yang cukup bagi siswa

untuk mengetahui asal-usul dan proses dari penanaman bahan baku tepung

hingga menjadi roti.

c. Ciri Distributif (Distributive Property)

   Ciri distributive dari media memungkinkan suatu obyek atau kejadian

ditransformasikan melalui ruang, dan secara bersamaan kejadian tersebut
                                                                              33




       disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan stimulus pengalaman yang

       relatif sama mengenai kejadian itu. Dewasa ini, distribusi media tidak

       hanya terbatas pada satu kelas atau beberapa kelas pada sekolah-sekolah

       di dalam suatu wilayah tertentu, tetapi juga media itu misalnya rekaman

       video, audio, disket komputer dapat dsebar ke seluruh penjuru tempat

       yang diinginkan kapan saja.

           Sekali informasi direkam dalam format media apa saja, ia dapat

       direproduksi seberapa kali pun dan siap digunakan secara bersamaan

       diberbagai tempat atau digunakan secara berulang-ulang disuatu tempat.

       Konsistensi informasi yang telah direkam akan terjamin sama atau hampir

       sama dengan aslinya.39

4. Klasifikasi dan Karakteristik Media Pembelajaran

               Rudi Bretz (1977) mengklasifikasikan ciri utama media pada tiga

       unsur pokok yaitu suara, visual dan gerak. Bentuk visual itu sendiri

       dibedakan lagi pada tiga bentuk, yaitu gambar visual, garis (linergraphic)

       dan simbol. Di samping itu dia juga membedakan media siar (transmisi)

       dan media rekam (recording), sehingga terdapat 8 klasifikasi media :

       a. Media audio visual gerak

       b. Media audio visual diam

       c. Media audio semi gerak

       d. Media visual gerak
39
     Azhar Rasyad, Media, 11-14.
                                                                        34




e. Media visual diam

f. Media visual semi gerak

g. Media audio, dan

h. Media cetak.

Jenis-jenis media tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini :



 MEDIA TRANSMISI                                MEDIA REKAMAN


                      AUDIO VISUAL GERAK
                           X X X X X               Film/suara
  Televisi (TV)            X X X X X               Pita Video
                           X X X X X               Film TV
                           X X X X X               Holografi
  Gambar/Suara             X X X X X
                       AUDIO VISUAL DIAM
  Slow-Scan TV             X X X X X               TV diam
  Time Shared TV
                           X X X X X               Film Rangkai/suara
                           X X X X X               Film Bingkai/suara
                           X X X X X               Halaman/suara
                           X X X X X               Buku dengan radio
                       AUDIO SEMI GERAK
  Tulisan jauh             X       X X X           Rekaman tulisan
                                                   Jauh
                           X       X X X           Audio Pointer
                          VISUAL GERAK
                                                                         35




                                X X X X                 Film bisu
                            VISUAL DIAM
  Facximile                     X X X X                 Halaman cetak
                                X X X X                 Film rangkai
                                X X X X                 Seri gambar
                                X X X X                 Microform
                                X X X X                 Arsip Video
                            SEMI GERAK
  Teleaugraph                       X X X
                            SEMI GERAK
  Telepon radio            X                            Cakram audio
                           X                            Pita audio
                            SEMI GERAK
  Teletip                                X              Pita berlubang

       Gambar 2.3 : Taksonomi Media menurut Rudy Bretz (1972)

       Menurut Oemar Hamalik (1985:63) ada 4 klasifikasi media

pengajaran yaitu :

a. Alat-alat visual yang dapat lihat misalnya filmstrip, transparansi,

   micro projection, papan tulis, buletin board, gambar-gambar,

   illustrasi, chart, grafik, poster, peta dan globe.

b. Alat-alat yang bersifat auditif atau hanya dapat didengar misalnya :

   phonograph record, transkripsi electris, radio, rekaman pada tape

   recorder.
                                                                            36




      c. Alat-alat yang bisa dilihat dan didengar, misalnya film dan televisi,

          benda-benda tiga dimensi yang biasanya dipertunjukkan, misalnya :

          model, spicemens, bak pasir, peta electris, koleksi diorama.

      d. Dramatisasi, bermain peranan, sosiodrama, sandiwara boneka, dan

          sebagainya.

               Disamping itu para ahli media lainnya juga membagi jenis-jenis

      media pengajaran itu kepada :

      a. Media asli dan tiruan

      b. Media bentuk papan

      c. Media bagan dan grafis

      d. Media proyeksi

      e. Media dengar (audio)

      f. Media cetak atau printed materials40

5. Prinsip Penggunaan Media Pembelajaran

               Media pembelajaran digunakan dalam rangka upaya peningkatan

      atau mempertinggi mutu proses kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu

      harus diperhatikan prinsip-prinsip penggunaannya yang antara lain :

      a. Penggunaan media pengajaran hendaknya dipandang sebagai bagian

          yang integral dari suatu sistem pengajaran dan bukan hanya sebagai

          alat bantu yang berfungsi sebagai tambahan yang digunakan bila

          dianggap perlu dan hanya dimanfaatkan sewaktu-waktu dibutuhkan.
40
     BasyiruddinUsman, Media, 27-29.
                                                                       37




b. Media pengajaran hendaknya dipandang sebagai sumber belajar yang

    digunakan dalam usaha memecahkan masalah yang dihadapi dalam

    proses belajar mengajar.

c. Guru hendaknya benar-benar menguasai teknik-teknik dari suatu

    media pengajaran yang digunakan.

d. Guru seharusnya memperhitungkan untung-ruginya pemanfaatan suatu

    media pembelajaran.

e. Penggunaan media pembelajaran harus diorganisir secara sistematis

    bukan sembarang menggunakannya.

f. Jika sekiranya suatu pokok bahasan memerlukan lebih dari macam

    media,      maka   guru    dapat   memanfaatkan   multimedia   yang

    menguntungkan dan memperlancar proses belajar mengajar dan juga

    dapat merangsang siswa dalam belajar.

          Adapun beberapa syarat umum yang harus dipenuhi dalam

pemanfaatan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar

yaitu :

a. Media pembelajaran yang digunakan harus sesuai dengan tujuan

    pembelajaran yang telah ditetapkan.

b. Media pembelajaran tersebut merupakan media yang dapat dilihat atau

    didengar.

c. Media pengajaran yang digunakan dapat merespon siswa belajar.

d. Media pengajaran juga harus sesuai dengan kondisi individu siswa.
                                                                            38




      e. Media pengajaran tersebut merupakan perantara (medium) dalam

           proses pembelajaran siswa.

      Penggunaan       media     pembelajaran   seharusnya    mempertimbangkan

      beberapa hal berikut ini :

      a. Guru harus berusaha dapat memperagakan atau merupakan model dari

           suatu pesan (isi pelajaran) disampaikan.

      b. Jika obyek yang akan diperagakan tidak mungkin dibawa ke dalam

           kelas, maka kelaslah yang diajak ke lokasi obyek tersebut.

      c. Jika kelas tidak memungkinkan dibawa ke lokasi obyek tersebut,

           usahakan model dan tiruannya.

      d. Bilamana model atau maket juga tidak didapatkan, usahakan gambar

           atau foto-foto dari obyek yang berkenaan dengan materi (pesan)

           pelajaran tersebut.

      e. Jika gambar atau foto juga tidak didapatkan, maka guru berusaha

           membuat sendiri media sederhana yang menarik perhatian belajar

           siswa.

      f. Bilamana media sederhana tidak dapat dibuat oleh guru, gunakan

           papan tulis untuk mengilustrasikan obyek atau pesan tersebut melalui

           gambar sederhana dengan garis lingkaran.41




41
     Basyiruddin Usman, Media, 19-20.
                                                                                                39




       B. MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPUTER

         1. Sejarah, Konsep dasar dan Terminologi Komputer

                   Kemajuan pesat teknologi informasi mendorong pesatnya penggunaan

         komputer di seluruh dunia. Komputer yang semula hanya menjadi kebutuhan

         sekunder bahkan tersier, kini telah menjadi kebutuhan primer dan ini

         disebabkan ketergantungan manusia demi kemudahan dalam aktivitas

         hidupnya. Komputer yang mungkin dikenal sebagai alat elektronik yang dapat

         bekerja secara otomatis, dengan menggunakan program untuk mengolah

         data,42 ternyata berkembang dari sebuah teknologi yang cukup besar

         memakan ruang, kemudian berkembang menjadi komputer pribadi (PC) pada

         tahun 1978. Lalu berkembang lagi menjadi komputer dekstop, notebook

         (1988) dan akhirnya menjadi multimedia.43

                   Perkembangan komputer yang sedemikian pesat sebenarnya diawali

         oleh seorang profesor matematika Inggris, Charles Babbage (1791-1871).

         Tahun 1812, Babbage memperhatikan kesesuaian alam antara mesin mekanik

         dan matematika: mesin mekanik sangat baik dalam mengerjakan tugas yang

         sama berulangkali tanpa kesalahan; sedang matematika membutuhkan repetisi

         sederhana dari suatu langkah-langkah tertenu. Masalah tersebut kemudian

         berkembang hingga menempatkan mesin mekanik sebagai alat untuk


         42
              Pius A. Partanto, M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer (Surabaya : Arkola, 1994),
355.
         43
         Burhan Bungin, Pornomedia: Konstruksi Sosial teknologi Telematika dan Perayaan Seks di
Media Massa (Jakarta: Prenada Media. 2003), 12.
                                                                                           40




        menjawab kebutuhan mekanik. Usaha Babbage yang pertama untuk

        menjawab masalah ini muncul pada tahun 1822 ketika ia mengusulkan suatu

        mesin untuk melakukan perhitungan persamaan differensil. Mesin tersebut

        dinamakan Mesin Differensial. Dengan menggunakan tenaga uap, mesin

        tersebut dapat menyimpan program dan dapat melakukan kalkulasi serta

        mencetak hasilnya secara otomatis. Setelah bekerja dengan Mesin Differensial

        selama sepuluh tahun, Babbage tiba-tiba terinspirasi untuk memulai membuat

        komputer general-purpose yang pertama, yang disebut Analytical Engine.

        Asisten Babbage, Augusta Ada King (1815-1842) memiliki peran penting

        dalam pembuatan mesin ini. Ia membantu merevisi rencana, mencari

        pendanaan dari pemerintah Inggris, dan mengkomunikasikan spesifikasi

        Anlytical Engine kepada publik. Selain itu, pemahaman Augusta yang baik

        tentang mesin ini memungkinkannya membuat instruksi untuk dimasukkan ke

        dlam mesin dan juga membuatnya menjadi programmer wanita yang pertama.

        Pada tahun 1980, Departemen Pertahanan Amerika Serikat menamakan

        sebuah bahasa pemrograman dengan nama ADA sebagai penghormatan

        kepadanya.44

                  Tahun 1988 pengembangan komputer multimedia telah dilakukan

        secara besar-besaran sehingga tahun ini dianggap sebagai tahun pertama dari

        komputer pribadi multimedia. Komputer multimedia mengunakan interaksi


        44
             Ivan Sudirman, Romi Satria Wahono, Sejarah Komputer, http://www.ilmukomputer.com,
2003.
                                                                                 41




antara komputer dan penggunanya untuk memadukan keenam medianya,

yaitu: teks, grafik, suara, musik, animasi dan video, sehingga memenuhi

kebutuhan komunikasi. Semenjak itulah komputer pribadi telah menjadi

platform multimedia. Bahkan hanya lewat modem, sambungan telepon dan

server, kita dapat mengakses data apapun dari website dan sekaligus menjadi

terminal intelijen di Net.45

           Komputer yang pada masa-masa awal hanya sebagai alat hitung

(computare: menghitung -bahasa Latin-) ini, dalam sistemnya (computer

sistem) terdiri dari tiga elemen yakni: pertama, hardware (Perangkat Keras:

peralatan yang secara fisik terlihat dan bisa dijamah). Kedua, software

(Perangkat Lunak: program yang berisi instruksi atau perintah untuk

melakukan         pengolahan      data).   Ketiga,    brainware      (manusia   yang

mengoperasikan dan mengendalikan sistem komputer).46 Begitu kompleknya

jenis-jenis komputer dan untuk mempermudah mengenalkan komputer pada

msayarakat maka dilakukan penggolongan berdasarkan beberapa hal berikut

ini:

a. Berdasarkan data yang diolah

       1) Komputer analog

       2) Komputer digital

       3) Komputer hybrid


45
     Burhan Bungin, Pornomedia, 12-13.
46
     Romi Satria Wahono, Apa Itu Komputer, http://www.ilmukomputer.com, 2003.
                                                                                42




b. Berdasarkan penggunanya

      1) Komputer untuk tujuan khusus (special purpose computer)

      2) Komputer untuk tujuan umum (general purpose computer)

c. Berdasarkan kapasitas dan ukurannya

      1) Komputer Mikro (Micro Computer)

      2) Komputer Mini (Mini Computer)

      3) Komputer Kecil (Small Computer)

      4) Komputer Menengah (Medium Computer)

      5) Komputer Besar (Large Computer)

      6) Komputer Super (Super Computer)

d. Berdasarkan generasinya

      1) Komputer Generasi Pertama (1946-1959)

      2) Komputer Generasi Kedua (1959-1964)

      3) Komputer Generasi Ketiga (1964-1970)

      4) Komputer Generasi Keempat (1979-sekarang)

      5) Komputer Generasi Kelima 47

2. Penggunaan Komputer di bidang pendidikan

          Komputer adalah hasil teknologi modern yang membuka kemungkinan-

kemungkinan besar alat pendidikan.48 Dewasa ini komputer memiliki fungsi

yang berbeda-beda dalam bidang pendidikan dan latihan. Komputer berperan


47
     Romi Satria Wahono, Apa Itu Komputer, http://www.ilmukomputer.com, 2003.
48
     S. Nasution, Teknologi Pendidikan (Jakarta : Bumi Aksara, 1994), 110.
                                                                           43




sebagai manager dalam proses pembelajaran yang dikenal dengan nama

Computer-manajed Instruction (CMI). Ada pula peran komputer sebagai

pembantu tambahan dalam belajar; pemanfaatannya meliputi penyajian

informasi isi materi pelajaran, latihan, atau kedua-duanya. Modus ini dikenal

sebagai Computer-assisted instruction (CAI). CAI mendukung pengajaran dan

pelatihan akan tetapi ia bukanlah penyaji utama materi pelajaran. Komputer

dapat menyajikan informasi dan tahapan pembelajaran lainnya disampaikan

bukan dengan media komputer.49

           Komputer sebagai alat pelajaran (CAI atau Computer Assisted

Instruction) mempunyai sejumlah keuntungan :

       1. Ia dapat membantu murid dan guru dalam pelajaran. Karena komputer

           itu "sabar, cermat, mempunyai ingatan yang sempurna", ia sesuai

           sekali untuk latihan dan remedial teaching. Tak ada guru yang dapat

           memberi latihan tanpa jemu-jemunya seperti komputer.

       2. CAI memiliki banyak kemampuan yang dapat dimanfaatkan segera

           seperti membuat hitungan atau memproduksi grafik, gambaran dan

           memberikan bermacam-macam informasi yang tak mungkin dikuasai

           oleh manusia manapun.

       3. CAI sangat fleksibel dalam mengajar dan dapat diatur menurut

           keinginan peneliti pelajaran atau penyusunan kurikulum.



49
     Azhar Rasyad, Media, 93.
                                                                                           44




       4. CAI dan mengajar oleh guru dapat saling melengkapi. Bila komputer

           tidak dapat menjawab pertanyaan murid dengan sendirinya guru akan

           menjawabnya. Adakalanya komputer dapat memberi jawaban yang tak

           dapat segera dijawab oleh guru.

       5. Selain itu komputer dapat pula menilai hasil setiap pelajaran dengan

           segera.50

           Selain keuntungan diatas, komputer memiliki beberapa peran dalam

penggunaannya di bidang pendidikan antara lain :.

       1. Penggunaan komputer sebagai superkalkulator

       2. Penggunaan komputer untuk mengajar komputer dan memprogram

           dengan komputer

       3. Penggunaan komputer sebagai alat bantu langsung dalam proses

           belajar mengajar

       4. Mode tutor pengganti

       5. Mode laboratorium simulasi

       6. Peranan komputer dalam bidang administrasi dan manajemen

       7. Penggunaan komputer sebagai pusat data (data-based)51




50
     Nasution, Teknologi,110-111.
51
     Fred Percival, Henry Ellington, Teknologi Pendidikan (Jakarta:Erlangga, 1988), 139-147.
                                                                            45




           Penggunaan komputer sebagai media pembelajaran secara umum

mengikuti proses instruksional sebagai berikut :

       1. Merencanakan, mengatur dan mengorganisasikan, dan menjadwalkan

           pengajaran;

       2. Mengavaluasi siswa (tes);

       3. Mengumpulkan data mengenai siswa;

       4. Melakukan analisis statistik mengenal data pembelajaran;

       5. Membuat catatan perkembangan pembelajaran (kelompok atau

           perseorangan).52

           Format penyajian pesan dan informasi dalam CAI terdiri dari beberapa

macam yaitu:

       1. Tutorial Terprogram

           Tutorial terprogram adalah seperangkat tayangan baik statis maupun

           dinamis yang telah dahulu diprogramkan. Secara berurut, seperangkat

           kecil informasi ditayangkan yang diikuti dengan pertanyaan. Jawaban

           siswa dianalisis oleh komputer (dibandingkan dengan kemungkinan-

           kemungkinan jawaban yang telah diprogram oleh guru/perancang),

           dan berdasarkan hasil analisis itu umpan balik yang sesuai.

       2. Tutorial Intelejen

           Berbeda dari tutorial terprogram karena jawaban komputer terhadap

           pertanyaan siswa dihasilkan oleh intelejensia artificial, bukan
52
     Azhar Rasyad, Media, 94.
                                                                   46




   jawaban-jawaban yang terprogram yang terlebih dahulu disiapkan oleh

   perancang pelajaran. Dengan demikian, dialog dari waktu ke waktu

   antara siswa dan komputer. Baik siswa maupun komputer dapat

   bertanya atau memberi jawaban.

3. Drill and Practice

   Digunakan dengan asumsi bahwa suatu konsep, aturan atau kaidah,

   atau prosedur telah diajarkan kepada siswa. Program ini menuntun

   siswa dengan serangkaian contoh untuk meningkatkan kemahiran

   menggunakan keterampilan. Hal terpenting adalah memberikan

   penguatan secara konstan terhadap jawaban yang benar. Komputer

   dengan sabar memberi latihan sampai suatu konsep benar-benar

   dikuasai sebelum pindah kepada konsep lainnya.

4. Simulasi

   Simulasi pada komputer memberikan kesempatan untuk belajar secara

   dinamis, interaktif dan perorangan. Dengan simulasi, lingkungan

   pekerjaan yang kompleks dapat ditata hingga menyerupai dunia nyata.

   Simulasi yang menyangkut hidup-mati seperti pada bidang kedokteran

   atau penerbangan dan pelayaran sangat bermanfaat jika tidak

   dikatakan merupakan cara terbaik untuk memperoleh pengalaman
                                                                               47




           nyata. Keberhasilan simulasi dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu

           sekenario, model dasar, dan lapisan pengajaran.53

3. Kelebihan          dan     Keterbatasan   Media     Pembelajaran     Berbasis

       Komputer

               Seperti halnya media pembelajaran yang lain, media pembelajaran

       berbasis komputer juga memiliki        kelebihan dan keterbatasan dalam

       penggunaannya sebagai media pembelajaran. Adapun beberapa kelebihan

       dan keterbatasan tersebut adalah sebagai berikut :

       a. Kelebihan

           1) Komputer dapat mengakomodasi siswa yang lamban menerima

               pelajaran, karena ia dapat memberikan iklim yang lebih bersifat

               afektif dengan cara yang lebih individual, tidak pernah lupa, tidak

               pernah bosan, sangat sabar dalam menjalankan instruksi seperti

               yang diinginkan program yang digunakan.

           2) Komputer dapat merangsang siswa untuk mengerjakan latihan,

               melakukan kegiatan laboratorium atau simulasi karena tersedianya

               animasi grafik, warna, dan musik yang dapat menambah realisme.

           3) Kendali berada di tangan siswa sehingga tingkat kecepatan belajar

               siswa dapat disesuaikan dengan tingkat penguasaannya. Dengan

               kata lain, komputer dapat berinteraksi dengan dengan siswa secara

               perorangan misalnya dengan bertanya dan menilai jawaban.
53
     Azhar Arsyad, Medi., 94-96.
                                                                            48




   4) Kemampuan merekam aktifitas siswa selama menggunakan suatu

      program pengajaran memberi kesempatan lebih baik untuk

      pembelajaran secara perorangan dan perkembangan setiap siswa

      selalu dapat dipantau.

   5) Dapat berhubungan dengan, dan mengendalikan, peralatan lain

      seperti compact disk, video tape, dan lain-lain dengan program

      pengendali dari komputer.

b. Keterbatasan

   1) Meskipun harga perangkat keras komputer cenderung semakin

      menurun (murah), pengembangan perangkat lunaknya masih relatif

      mahal.

   2) Untuk menggunakan komputer diperlukan pengetahuan dan

      keterampilan khusus tentang komputer.

   3) Keragaman        model       komputer     (perangkat      keras)   sering

      menyebabkan program (software) yang tersedia untuk satu model

      tidak cocok (kompatibel) dengan model lainnya.

   4) Program yang tersedia saat ini belum memperhitungkan kreatifitas

      siswa,      sehingga   hal     tersebut   tentu   tidak     akan   dapat

      mengembangkan kreatifitas siswa.

   5) Komputer hanya efektif bila digunakan oleh satu orang atau

      beberapa orang dalam kelompok kecil. Untuk kelompok yang lebih
                                                                                        49




                        besar    diperlukan   tambahan   peralatan   lain   yang   mampu

                        memproyeksikan pesan-pesan di monitor ke layar lebih besar.54

                         Menurut Ikhsan, menyatakan, kelebihan dan kekurangan media

                 komputer berbasis video antara lain:

                 a. Kelebihan

                  1) Dapat menstimulasi efek gerak.

                  2) Dapat diberi suara dan warna,

                  3) Tidak memerlukan keahlian khusus dalam penyajian.

                  4) Tidak memerlukan ruang gelap dalam penyajian.

                 b. Kekurangan

                  1) Memerlukan peralatan khusus dalam penyajian.

                  2) Memerlukan tenaga listrik.

                  3) Memerlukan keterampilan khusus dan kerja tim dalam pembuatan.55

    C. MACROMEDIA FLASH 8

                    Macromedia Flash adalah program untuk membuat animasi dan

            aplikasi web profesional. Bukan hanya itu, Macromedia Flash juga banyak

            digunakan untuk membuat game, animasi kartun, dan aplikasi multimedia

            interaktif seperti demo produk dan tutorial interaktif.56 Software keluaran

            Macromedia ini merupakan program untuk mendesain grafis animasi yang


            54
               Azhar Arsyad, Media, 54-55
            55
               http://teknologipendidikan.wordpress.com/, diakses 27 September 2007.
            56
               Chandra, 7 Jam Belajar Flash MX 2004 untuk Orang Awam (Palembang : Maxikom,
2004), 2.
                                                                                       50




       sangat populer dan banyak digunakan desainer grafis. Kelebihan flash terletak

       pada kemampuannya menghasilkan animasi gerak dan suara. Awal

       perkembangan flash banyak digunakan untuk animasi pada website, namun

       saat ini mulai banyak digunakan untuk media pembelajaran karena kelebihan-

       kelebihan yang dimiliki.

               Macromedia Flash merupakan gabungan konsep pembelajaran dengan

       teknologi audiovisual yang mampu menghasilkan fitur-fitur baru yang dapat

       dimanfaatkan dalam pendidikan. Pembelajaran berbasis multimedia tentu

       dapat menyajikan materi pelajaran yang lebih menarik, tidak monoton, dan

       memudahkan penyampaian. Peserta didik dapat mempelajari materi pelajaran

       tertentu secara mandiri dengan komputer yang dilengkapi program

       multimedia.57

               Program Macromedia Flash terdiri dari beberapa versi, versi terbaru

       adalah Flash 8. Flash versi sebelumnya antara lain: Flash 5, Flash MX, dan

       Flash MX 2004. Semakin baru versi program, maka semakin lengkap fasilitas

       yang diberikan.58




       57
             Chusnul Chotimah, Macromedia Flash Sebagai Media Pembelajaran (Januari, 2008)
http://www.smu-net.com/main.php?act=int&xkd=169
          58
             Edy Wihardjo, Pembelajaran Berbantuan Komputer (Jember : November, 2007),14,
http://elearning.unej.ac.id/courses/CL4fe8/document/buku_ajar_PBKom.pdf? idReq=CL02d1.
                                                                              51




        Macromedia Flash memiliki sejumlah kelebihan. Beberapa kelebihan

Flash antara lain :

    1. Animasi dan gambar konsisten dan fleksibel, karena tetap terlihat

        bagus pada ukuran jendela dan resolusi layar berapapun pada monitor

        pengguna.

    2. Kualitas       gambar   terjaga.   Hal   ini   disebabkan   karena   flash

        menggunakan teknologi Vector Graphics yang mendeskripsikan

        gambar memakai garis dan kurva, sehingga ukurannya dapat diubah

        sesuai dengan kebutuhan tanpa mengurangi atau mempengaruhi

        kualitas gambar. Berbeda dengan gambar bitmap seperti bmp, jpg dan

        gif yang gambarnya pecah-pecah ketika ukurannya dibesarkan atau

        diubah karena dibuat dari kumpulan titik-titik.

    3. Waktu loading (kecepatan gambar dan animasi muncul atau loading

        time) lebih cepat dibandingkan dengan pengolah animasi lainnya

        seperti animated gif dan java Applet.

    4. Mampu membuat website interaktif, karena pengguna (user) dapat

        menggunakan keyboard atau mouse untuk berpindah ke bagian lain

        dari halaman web atau movie, memindahkan obyek., memasukkan

        informasi ke form.

    5. Mampu menganimasi grafis yang rumit dengan sangat cepat, sehingga

        membuat animasi layar penuh bisa langsung disambungkan ke situs

        web.
                                                                             52




        6. Mampu secara otomatis mengerjakan sejumlah frame antara awal dan

             akhir sebuah urutan animasi, sehingga tidak membutuhkan waktu yang

             lama untuk membuat berbagai animasi.

        7. Mudah diintegrasikan dengan program Macromedia yang lain, seperti

             Dreamweaver, Fireworks, dan Authorware, karena tampilan dan tool

             yang digunakan hampir sama.

        8. Dapat diintegrasikan dengan skrip sisi-server (server side scripting)

             seperti CGI, ASP dan PHP untuk membuat aplikasi pangkalan data

             web.

        9. Lingkup pemanfaatan luas. Selain tersebut diatas, dapat juga dipakai

             untuk membuat film pendek atau kartun, presentasi, iklan atau web

             banner, animasi logo, kontrol navigasi dan lain-lain.59

D. MEDIA PEMBELAJARAN KITAB KUNING DI PESANTREN

             Banyak anggapan bahwa pesantren sebagai sebuah sistem pendidikan

  khusus, sampai-sampai sejumlah pakar pendidikan menyatakan bahwa

  pendidikan pesantren merupakan pendidikan non-klasikal yang mempunyai

  corak tersendiri dengan out put pendidikan yang khusus pula. Hal ini terlihat

  pada metode yang digunakan dalam proses pembelajarannya.

             Pola pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren erat kaitannya

  dengan tipologi pondok pesantren yaitu pesantren yang masih bersifat

  tradisional dan modern. Berangkat dari pemikiran dan kondisi pondok
  59
       Edy Wihardjo, Pembelajaran, 15-16
                                                                        53




pesantren yang ada, maka ada beberapa metode pembelajaran pondok

pesantren yaitu :

1. Metode Pembelajaran Tradisional

       Metode tradisional adalah berangkat dari pola pelajaran yang sangat

sederhana dan sejak semula timbulnya, yakni pola pengajaran sorogan,

wetonan dan hafalan dalam mengkaji kitab-kitab agama yang ditulis oleh para

ulama’ pada zaman abad pertengahan dan kitab-kitab itu dikenal dengan

istilah kitab kuning.

a. Metode Wetonan

             Metode ini merupakan metode kuliah dimana para santri

   mengikuti pelajaran dengan duduk disekeliling kyai yang menerangkan

   pelajaran. Santri menyimak kitab masing-masing dan mencatat bila perlu.

   Istilah wetonan ini di Jawa Barat di sebut dengan bandongan.

b. Metode Sorogan

             Metode sorogan sedikit berbeda dari wetonan dimana santri

   menghadap ke kyai satu per satu dengan membawa kitab yang dipelajari

   sendiri. Kyai membacakan dan menerjemahkan kalimat demi kalimat

   kemudian menerangkan maksudnya, atau kyai cukup menunjukkan cara

   membaca yang benar, tergantung materi yang diajukan dan kemampuan

   santri.
                                                                                          54




       c. Metode Hafalan

                     Adapun metode hafalan berlangsung dimana santri menghafal teks

            atau kalimat tertentu dari kitab yang dipelajarinya. Materi hafalan biasanya

            dalam bentuk syair atau nazham. Sebagai pelengkap metode hafalan sangat

            efektif untuk memelihara daya ingat (memorizing) santri terhadap materi

            yang dipelajari, karena dapat dilakukan baik di dalam atau di luar kelas.60

       2. Metode Pembelajaran Modern

                 Di dalam perkembangannya pondok pesantren tidaklah semata-mata

       tumbuh atas pola lama yang bersifat tradisional dengan ketiga pola

       pembelajaran di atas yaitu klasikal, kursus-kursus dan pelatihan.

       a. Klasikal

                     Pola penerapan sistem klasikal ini adalah dengan pendirian

            sekolah-sekolah baik kelompok yang mengelola pengajaran agama atau

            ilmu yang dimasukkan dalam kategori umum dalam arti termasuk di dalam

            disiplin ilmu-ilmu kauni (“Ijtihadi – hasil perolehan manusia) yang berbeda

            dengan agama yang sifatnya “tauqili“(dalam arti kata langsung diterapkan

            bentuk dan wujud ajarannya).

                     Kedua disiplin ilmu di dalam sistem persekolahan diajarkan

            berdasarkan kurikulum yang telah baku dari Departemen Agama dan

            Departemen Pendidikan.

       60
           Sulton Masyhud, Moh. Khusnurdilo, Manajemen Pondok Pesantren (Jakarta : Diva
Pustaka, 2005), 89.
                                                                                        55




b. Kursus-kursus

               Pola pengajaran yang ditempuh melalui kursus (takhassus) ini

      ditekankan pada pengembangan keterampilan berbahasa inggris, disamping

      itu diadakan keterampilan yang menjurus kepada terbinanya kemampuan

      psikomotorik seperti, kursus menjahit, mengetik komputer, dan sablon.

               Pengajaran sistem ini mengarah pada terbentuknya santri yang

      memiliki kemampuan praktis guna terbentuknya santri-santri yang mandiri

      menopang ilmu-ilmu agama yang tuntut dari Kyai melalui pelajaran

      sorogan, wetonan. Sebab pada umumnya santri tidak tergantung pada

      pekerjaan dimasa mendatang melainkan harus mampu menciptakan

      lapangan pekerjaan sesuai dengan kemampuan mereka.

c. Pelatihan

               Di samping sistem pengajaran klasikal dan kursus-kursus,

      dilaksanakan juga sistem pelatihan yang menekankan pada kemampuan

      psikomotorik. Pola pelatihan yang dikembangkan adalah termasuk

      menumbuhkan         kemampuan        praktis    seperti,    pelatihan    pertukangan,

      perkebunan, perikanan, manajemen koperasi, dan kerajinan-kerajinan yang

      mendukung terciptanya kemandirian intergratif. Hal ini erat kaitannya

      dengan kemampuan yang lain yang cenderung lahirnya santri intelek dan

      ulama yang mumpuni. 61


61
     http://www.damandiri.or.id/file/ahmadsuyutiunairbab2.pdf, diakses 2 juli 2008
                                                                         56




                                        BAB III

                               HASIL PENELITIAN



A. Penyajian dan Analisis Data tentang Prosedur Pengembangan Media

   Pembelajaran Kitab Matnul Ghoyah Wat Taqrib Bab Haji menggunakan

   Macromedia Flash 8 di Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya

            Pengembangan media pembelajaran kitab Matnul Ghoyah Wat Taqrib

   bab haji menggunakan Macromedia Flash 8 di pesantren luhur Al-husna

   Surabaya dalam penelitian ini menggunakan model pengembangan berdasarkan

   model Alessi dan Trollip yang terdiri dari 10 tahapan pengembangan yang

   meliputi tahap menentukan kebutuhan dan tujuan, mengumpulkan sumber,

   mempelajari materi, menghasilkan gagasan, mendesain pembelajaran, membuat

   bagan alir pelajaran, memajang storyboard secara tertulis, memprogram

   pelajaran, membuat materi yang mendukung, dan mengevaluasi dan meninjau

   kembali.62 Akan tetapi dalam penelitian ini pentahapan tersebut akan

   dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan pengembangan media yang diinginkan

   dengan menyederhanakan tahapan-tahapan itu. Secara lebih rinci pentahapan

   termodifikasi tersebut adalah sebagai berikut :




     62
          Edy Wihardjo, Pembelajaran, 7-10

                                             55
                                                                                  57




 a. Menentukan Kebutuhan dan Tujuan

            Tahap ini menentukan tujuan dari suatu pembelajaran tunggal. Tujuan

  pembelajaran meliputi apa yang akan diketahui atau bisa dilakukan siswa

  setelah menyelesaikan pembelajaran. Pertimbangan utama yang mempengaruhi

  definisi tujuan adalah pengetahuan masukan dari siswa. Menentukan tujuan oleh

  karena      itu meliputi menilai karakteristik dan pembelajaran dari para siswa

  yang diharapkan.63

            Tujuan dari pengembangan media komputer Macromedia Flash 8 dalam

  pembelajaran kitab Taqrib bab haji ini adalah agar santri bisa mendeskripsikan

  tentang bab haji dalam kitab Taqrib.

b. Mengumpulkan Sumber Daya

            Material    sumber     daya   terkait   dengan   pokok   materi   perihal

  pengembangan pembelajaran, dan sistem pengiriman pembelajaran, dalam hal

  ini komputer. Sumber daya pokok yang bermanfaat meliputi buku teks, buku

  referensi (petunjuk), materi-materi sumber asli, film, dan yang paling penting,

  pengetahuan orang lain di bidang itu. Materi sumber daya untuk desain

  pembelajaran meliputi teks mendesain pembelajaran , lembar storyboarding,

  materi seni grafik, suatu (perangkat lunak) pengolah kata, dan jika semua

  mungkin, orang yang mempunyai pengalaman mendesain pembelajaran.

  Sumber daya materi untuk sistem pengiriman meliputi komputer itu sendiri,

  manual operasinya, panduan referensi perangkat lunak, dan orang yang
   63
        Edy Wihardjo, Pembelajaran, 7.
                                                                               58




  berpengalaman dengan komputer dan perangkat lunak yang digunakan selama

  pengembangan.64

            Secara    spesifik,    pengembangan   media   dalam   penelitian   ini

  menggunakan sumber daya pokok yang meliputi sarah kitab Matnul Ghoyah

  wat Taqrib yaitu kitab Fathul Qorib karya Syekh Muhammad ibnu Qashim Al

  Ghazi, terjemah kitab Matnul Ghoyah Wat Taqrib yang ditulis Basori Alwi,

  buku panduan haji dan video CD haji. Sedangkan sumber daya untuk desain

  pembelajaran meliputi software pengolah gambar yaitu Adobe Photoshop,

  software pengolah suara Cool Edit Pro 2.0 dan Jet Audio 7.0 serta software

  pengolah video Windows Movie Maker dan Total Converter. Adapun sumber

  daya materi untuk sistem pengiriman meliputi buku-buku panduan dan tutorial

  Macromedia Flash 8, serta PC standar untuk desain pembelajaran.

c. Mempelajari Materi

            Orang yang mengembangkan suatu perangkat ajar berbasis teknologi

  informasi akan menjadi salah satu pakar materi yang harus belajar mengenai

  desain Perangkat ajar berbasis teknologi informasi atau seorang perancang yang

  harus belajar materi pembelajaran. Bahkan ketika bekerjasama dengan seorang

  pakar materi, perancang harus belajar materi itu. Hingga suatu batas tertentu,

  pakar materi akan juga belajar mengenai pembelajaran. Bagi perancang,

  mempelajari materi meliputi mewawancarai pakar, membaca teks dan materi

  pembelajaran lain, dan biasanya menjadi seorang siswa lagi. Perancang tidak
   64
        Edy Wihardjo, Pembelajaran, 7.
                                                                                   59




  bisa mengembangkan pembelajaran efektif yang mana menghadapi tantangan

  para siswa secara kreatif kecuali jika perancang menjadi secara menyeluruh

  terbiasa dengan materi itu. Pemahaman dangkal hanya dapat menghasilkan

  suatu pembelajaran dangkal.65

            Dalam pengembangan media pembelajaran ini peneliti melibatkan

  ustadz yang berkompeten dalam mendalami materi kitab Taqrib khususnya pada

  bab haji yang selanjutnya dikomparasikan dengan buku-buku panduan yang

  berkaitan. Keterlibatan ustadz sebagai pakar materi kitab taqrib tidak hanya

  dalam proses mendalami materi saja, tetapi juga konsultasi-konsultasi yang

  diperlukan dalam pengembangan media seperti hal-hal yang berkenaan dengan

  kelemahan-kelemahan penyampaian materi kitab taqrib bab haji menggunakan

  metode wetonan. Sehigga diharapkan materi-materi yang tidak bisa dijelaskan

  dengan metode itu dapat dikuatkan dengan pengembangan media.

d. Menghasilkan Gagasan

            Tahap    ini   terdiri   dari   curah   pendapat   (brainstorming)   untuk

  menghasilkan gagasan kreatif. Membangkitkan gagasan melalui curah pendapat

  sangat penting, dan disarankan prosedur ini dapat memberikan harapan gagasan

  kreatif di dalam proses pengembangan. Banyak perancang mendapatkan tetap

  tinggal di awal titik ini, yang manapun meluangkan terlalu banyak waktu

  dengan berusaha untuk sampai pada gagasan yang sempurna atau, lebih sering,

  menyerah dan meneruskan dengan suatu gagasan cukupan. Dengan curah
   65
        Edy Wihardjo, Pembelajaran, 8.
                                                                          60




  pendapat, perancang, dengan bantuan dari lainnya, mengejar tujuan untuk

  membangkitkan sebanyak mungkin gagasan, menunda untuk menghakimi

  manapun pertimbangan dari kelayakan atau kualitas mereka sampai suatu waktu

  kemudian. Perancang disarankan melakukan dengan sungguh-sungguh curah

  pendapat sebab telah terbukti menjadi suatu metode yang memudahkan

  kreatifitas dan dengan cepat menghasilkan suatu daftar yang akan meliputi

  beberapa gagasan baik dan menarik.66

            Untuk mendapatkan gagasan yang sempurna dalam pengembangan

  media pembelajaran ini dilakukan diskusi tentang hal-hal yang perlu

  disempurnakan dalam pembelajaran kitab taqrib bab haji dengan metode

  wetonan. Sedangkan untuk menggagas pengembangan media yang kreatif

  dilakukan teknik komparasi dengan program-program pengembangan media

  pembelajaran yang sudah ada, terutama tutorial-tutorial pembelajaran yang

  dikembangkan oleh pakar yang lain.

e. Mendesain Pembelajaran

            Hasil curah pendapat adalah suatu daftar panjang gagasan yang

  mencakup di dalam hal kualitas dari sangat jelek ke sangat baik. Perancang

  harus menghapuskan gagasan yang terburuk dan kemudian mulai mengurutkan,

  mendetilkan, dan menyuling gagasan yang baik. Ini dilaksanakan dengan

  menganalisis tugas dan konsep pada materi itu. Dengan mengabaikan sifat

  alami materi, analisa seperti itu memusatkan pada prinsip belajar untuk
   66
        Edy Wihardjo, Pembelajaran, 8.
                                                                          61




menciptakan (assemble) rencana suatu pelajaran yang efektif. Ini termasuk

aneka pilihan persiapan tentang faktor dan metodologi pembelajaran.

          Itu tidak bisa ditekankan cukup bahwa pengembangan pembelajaran

yang baik itu menyertakan evaluasi sepanjang proses, tidak hanya pada bagian

akhir. Ini dicerminkan di dalam model dengan menyertakan kegiatan revisi dan

evaluasi secara eksplisit sebagai bagian dari beberapa tahap. Setelah tahap

desain, evaluasi meliputi diskusi dan tinjauan ulang oleh pakar konsep, para

perancang pembelajaran, dan pengguna (klien). Revisi boleh memerlukan

penilaian kembali tujuan, pengumpulan lebih banyak sumber daya, belajar lebih

banyak tentang materi, membangkitkan lebih banyak gagasan, mengoreksi

analisa tugas, mengubah metodologi, dan seterusnya. Setelah revisi maka

evaluasi harus diulangi. Revisi dan evaluasi membentuk suatu siklus yang mana

maju sampai semua bagian terkait disetujui bahwa kualitas adalah cukup untuk

maju kepada tahap yang berikutnya.67

          Desain pembelajaran dalam pengembangan media ini tetap memakai

metode wetonan untuk menyampaikan materinya. Namun, telah dimodifikasi

sedemikian rupa sehingga diharapkan santri dapat mengulang-ulang materi

dengan mudah dengan mendengarkan bacaan-bacaan dari ustadz sama seperti

ketika belajar dengan metode wetonan. Namun materinya diperjelas lagi dengan

keterangan-keterangan, gambar dan klip video yang diperlukan. Untuk



 67
      Edy Wihardjo, Pembelajaran, 8.
                                                                                 62




  mempermudah penggunaannya desain pembelajaran dibuat seperti lazimnya

  menggunakan komputer dengan sistem operasi pada umumnya.

f. Memajang Storyboard Secara Tertulis

             Pembuatan storyboard adalah proses menyiapkan pajangan tekstual dan

  gambar sehingga mereka akan sesuai di dalam keterbatasan pajangan dari

  komputer. Jika bagan alir melukiskan urutan dan keputusan dari suatu pelajaran,

  storyboard melukiskan materi dan presentasinya. Tahap ini meliputi

  merencanakan (drafting) pesan pembelajaran nyata yang akan para siswa lihat,

  seperti presentasi informasi, pertanyaan, umpan balik, petunjuk, prompt,

  gambar, dan animasi.

             Dalam posisi ini draft pelajaran secara tertulis harus secara hati-hati

  dievaluasi dan ditinjau ulang sampai anggota tim proyek setuju pada kualitas

  ini. Adalah penting untuk menggunakan lebih dari pakar materi dan para

  perancang pembelajaran untuk tinjauan ulang ini. Material perlu juga dilihat

  oleh para siswa potensial dan para orang tidak telah banyak mengetahui tentang

  materi itu. Ini membongkar kerancuan, kebingungan atau materi yang hilang,

  dan materi yang terlalu mudah atau juga terlalu sukar.68

             Adapun storyboard pengembangan media komputer Macromedia Flash

  8 dalam pembelajaran kitab Taqrib bab haji adalah sebagai berikut :




    68
         Edy Wihardjo, Pembelajaran, 9.
                                                                                63




Tabel 4.1. Storyboard Pengembangan Media Pembelajaran Kitab Taqrib Bab
                      Haji dengan Macromedia Flash 8

 Nama File                           Isi                           Keterangan

Haji_Taqrib_    Aplikasi   induk    yang    berisi   gabungan

Microsaif.exe   komponen pembuka, menu, inti dan penutup

                serta music background dan tampilan hari dan

                jam sekarang.


                Komponen pembuka berisi:                        Agar        menarik

                1) Ucapan “selamat datang!”                     ditambahkan

                2) Judul                                        animasi     booting

                3) Keterangan atau uraian singkat mengenai      seperti pada saat

                    : tujuan pembelajaran dan khalayak          pertama

                    sasaran                                     menghidupkan

                4) Pembuat (pemrogram)                          komputer    dengan

                5) Tombol navigasi [mulai] untuk memulai        sistem      operasi

                    kegiatan pembelajaran dengan                Microsoft

                    menggunakan password “bismillah”            windows

                Komponen menu berisi :

                1) Ucapan “selamat belajar!”

                2) Sejumlah tombol navigasi, yaitu: materi,

                    bacaan, simulasi, dan evaluasi; serta
                                                                             64




                      tombol home dan exit.

                 Komponen Inti berisi materi, simulasi dan Ditambahkan

                 evaluasi pembelajaran                       background musik

                 Komponen penutup berisi ucapan terima Ditambahkan

                 kasih pada pengguna atas kesediaan mereka background musik

                 meluangkan waktu untuk belajar.



g. Memprogram Pelajaran

            Ini adalah proses penterjemahan apa yang sudah ditulis ke dalam satu

  rangkaian pembelajaran yang dapat dimengerti ke komputer itu. Disini

  digunakan kata pemrograman ("proggramming") dalam suatu pengertian yang

  lebih umum dibanding telah digunakan di masa lalu. Menurut sejarah,

  pemrograman telah menunjuk pada penelitian kode di dalam suatu bahasa

  standar seperti Pascal atau BASIC yang digunakan sebagai apapun juga dalam

  memproduksi suatu pelajaran dengan komputer. Seperti status seni dari macam

  bahasa-bahasa pemrograman yang berbeda, pengarang bahasa, pengarang

  sistem, dan perkakas. Perancang membuat sejumlah usul bagaimana cara

  melakukan pemrograman, bagaimana cara menghindari kesalahan, memeriksa

  program dari kesalahan, dan membuat perubahan hingga menjadi sebagaimana

  yang diinginkan.69



   69
        Edy Wihardjo, Pembelajaran, 10.
                                                                                               65




            Actionscript      merupakan        bahasa      pemrograman         dalam      flash.70

  Pengembangan media ini menggunakannya untuk membuat animasi interaktif,

  sehingga pengguna dapat berinteraksi dengan movie interaktif yang telah

  dibuat. Penggunaannya antara lain untuk membuat navigasi menu, soal-soal dan

  latihan serta untuk mengontrol movie klip yang dibuat.

h. Membuat Materi yang Mendukung

            Perangkat ajar berbasis teknologi informasi jarang cukup tanpa materi

  pendukung. Ada empat hal yang perlu didiskusikan yaitu tentang manual untuk

  siswa, manual untuk instruktur, manual teknis, dan pembelajaran tambahan

  yang berarti. Para guru dan para siswa mempunyai kebutuhan berbeda, dan

  materi untuk mereka seharusnya berbeda. Para guru memerlukan informasi

  tentang pengaturan program, mengakses data siswa, dan mengintegrasikan

  materi ke dalam kurikulum mereka. Mereka juga memerlukan informasi

  ringkasan, kedua-duanya untuk menentukan apakah untuk menggunakan

  program tertentu dan juga untuk menopang para siswa yang lulus program. Para

  siswa terutama semata memerlukan bantuan bagaimana menjalankan program

  dan bergerak di sekitarnya. Manual teknis adalah perlu manakala pengaturan

  suatu pelajaran rumit atau memerlukan alat canggih seperti jaringan area lokal.

  Pembelajaran tambahan meliputi lembar kerja (worksheets), diagram, ujian,

  foto, dan lembar tugas.71


   70
        Roy Setio, Practicial Flash Project Series (Surabaya : TriExs Media, 2007), 62.
   71
        Edy Wihardjo, Pembelajaran, 10.
                                                                              66




            Pengembangan media pembelajaran dalam penelitian ini tidak

  memerlukan pengaturan manual teknis yang rumit. Tidak diperlukan jaringan

  area lokal antar komputer. Sedangkan untuk membantu santri menjalankan

  program telah disediakan petunjuk tentang penggunaan program yang telah

  disertakan dalam media ini. Ustadz mendistribusikan dan mensosialisasikan

  media dan untuk evaluasi telah disediakan dalam bentuk latihan dan soal-soal

  dalam media. Tetapi untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh dan

  bersamaan dapat digunakan lembar tugas atau ujian akhir secara bersama-sama.

i. Mengevaluasi dan Meninjau Kembali

            Akhirnya, Perangkat ajar berbasis teknologi informasi dan materi

  pendukung harus dievaluasi dengan penekanan pada bagaimana Perangkat ajar

  berbasis teknologi informasi dilihat dan bekerja. Perancang akan menentukan

  seberapa baik penampakan Perangkat ajar berbasis teknologi informasi dengan

  menggunakannya sendiri dan meminta orang yang berpengalaman desain yang

  berhasil. Prosedur ini disebut tinjauan ulang Perangkat ajar berbasis teknologi

  informasi. Perancang akan menilai seberapa baik Perangkat ajar berbasis

  teknologi informasi bekerja dengan pedoman mengamati hasil dari siswa yang

  mempelajari dan menaksir berapa banyak mereka belajar. Siswa ini harus

  mewakili pada siapa materi pembelajaran dimaksudkan. Tahap ini meliputi

  pengujian dan pengesahan (validasi).72



   72
        Edy Wihardjo, Pembelajaran,10.
                                                                                          67




              Pengembangan media pembelajaran ini telah disempurnakan beberapa

      kali berdasarkan hasil diskusi dengan ustadz sebagai pakar materi untuk

      mengevaluasi materi-materi mana saja yang perlu dipertegas kembali

      penyampaiannya dengan tambahan teks, suara, gambar maupun video klip.

B. Penyajian dan Analisa Data tentang Efektifitas Pengembangan Media

     Pembelajaran Kitab Taqrib Bab Haji menggunakan Macromedia Flash 8 di

     Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya

             Pengembangan media pembelajaran yang baik harus memperhatikan

     unsur efektifitas dan efisiensinya dalam menunjang suatu proses pembelajaran.

     Media pembelajaran yang efektif adalah media pembelajaran yang dapat

     memberikan pengalaman yang jelas dan konkrit kepada peserta didik. Sedangkan

     media pembelajaran yang efisien adalah media pembelajaran yang dalam waktu

     singkat dapat membentuk peserta didik memiliki kompetensi pembelajaran yang

     diharapkan dari suatu proses pembelajaran.73

             Adapun tolok ukur efektifitas pengembangan media pembelajaran ini

     dilihat dari empat aspek yaitu aspek kualitas tampilan gambar, aspek penyajian

     materi, aspek interaksi program dan aspek interaksi pengguna.




        73
           Hasil wawancara dengan ibu Nur Hayati Yusuf tanggal 14 Agustus 2008 pukul 14:04 di
kantor akademik Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya.
                                                                                     68




1.        Aspek Kualitas Tampilan

                  Penilaian aspek kualitas tampilan media ini dapat dilihat dari

          kejelasan petunjuk penggunaan program, keterbacaan teks, kualitas tampilan

          gambar, sajian animasi, komposisi warna, kejelasan suara atau narasi dan

          daya dukung musik.

                  Dari 22 responden santri pesantren luhur Al-Husna Surabaya

          diperoleh data tentang kejelasan petunjuk penggunaan program, 8 santri

          (36%) menyatakan sangat jelas, 9 santri (41%) menyatakan jelas dan 5

          santri (23%) menyatakan cukup. Secara umum penilaian untuk aspek ini

          adalah baik atau jelas. Setelah didalami menggunakan kuesioner terbuka

          seorang santri mengusulkan agar petunjuk penggunaan program ditambah

          dan diperjelas kembali secara lebih rinci agar pengguna yang masih awam

          dapat mengoperasikan program dengan lebih mudah.74

                  Penilaian responden terhadap keterbacaan teks atau tulisan dalam

          program ini, 3 santri (14%) menyatakan sangat mudah, 16 santri (72%)

          santri menyatakan mudah dan 3 santri (14%) menyatakan cukup. Secara

          umum penilaian untuk aspek ini adalah mudah. Secara tertulis dua orang

          santri menyatakan bahwa huruf arab yang dipakai dalam materi media ini

          kurang jelas.75 Hal ini disebabkan Macromedia Flash yang dipakai dalam

          pembuatan program memiliki keterbatasan dalam penulisan huruf arab
     74
          Hasil kuesioner terbuka dari M. Fatih tanggal 14 Agustus 2008
     75
          Hasil kuesioner terbuka dari Muhaimin dan Taufik tanggal 14 Agustus 2008
                                                                                              69




             sehingga tulisan arab ditampilkan menggunakan format gambar (JPEG).

             Oleh karena itu, dalam pembuatan media pembelajaran yang baik tidak

             perlu terlalu rumit agar tidak menyebabkan tujuan utama pembelajaran

             menjadi kabur. Penggunaan huruf yang praktis dan sederhana akan

             memudahkan pembacaan teks dalam media pembelajaran ini.76

                    Sedangkan penilaian responden terhadap aspek kualitas tampilan

             gambar, 8 santri (36%) menyatakan sangat baik, 7 santri (32%) menyatakan

             baik, 4 santri (18%) menyatakan cukup dan 3 santri (14%) menyatakan

             kurang baik. Berdasarkan pendalaman menggunakan kuesioner terbuka,

             empat orang santri memiliki pendapat yang sama tentang kualitas gambar

             video dalam media ini yaitu video kurang jelas atau kabur.77 Pendapat yang

             senada juga disampaikan oleh ibu Nur Hayati Yusuf.78 Hal ini disebabkan

             video dalam media ini memakai format 3GP dengan resolusi yang rendah,

             sehingga kualitas tampilan videonya tidak jelas dan kabur.

                    Adapun penilaian responden terhadap sajian animasi, 3 santri (14%)

             menyatakan sangat baik, 9 santri (40%) menyatakan baik, 7 santri (32%)

             menyatakan cukup dan 3 (14%) santri menyatakan kurang baik. Secara

             umum sajian animasi memperoleh nilai baik. Akan tetapi, animasi yang


        76
           Hasil wawancara dengan ustadz Abdul Qadir pada tanggal 14 Agustus 2008 pukul 18:50
WIB di Kantor Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya.
        77
           Hasil komparasi kuesioner terbuka dari Widji Santoso, Ismail, Rosyid dan Misnatun pada
14 Agustus 2008.
        78
           Hasil Wawancara dengan Ibu Nur Hayati Yusuf pada tanggal 14 Agustus 2008 jam 14:04
WIB di Akademik Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya
                                                                                70




     terbatas mendapat kritik salah seorang santri.79 Sehingga animasi dalam

     media ini disarankan agar ditambah, bukan hanya menampilkan gambar-

     gambar video saja tetapi juga animasi-animasi multimedia yang mendukung

     materi haji dalam kitab Taqrib.

             Sedangkan penilaian responden terhadap komposisi warna adalah

     sebagai berikut 5 santri (23%) menyatakan sangat baik, 10 santri (45%)

     menyatakan baik, 4 santri (18%) menyatakan cukup dan 3 santri (14%)

     menyatakan kurang baik. Secara umum data ini menunjukkan komposisi

     warna media ini cukup baik, terbukti ada 15 santri dari 22 total responden

     menjawab sangat baik dan baik. Meskipun ada 4 santri yang menyatakan

     cukup dan 3 santri yang menyatakan kurang. Secara tertulis seorang santri

     menyarankan agar komposisi warna dalam media ini ditambah dan didesain

     sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pembuatan media.80

             Penilaian responden terhadap kejelasan suara dan narasi adalah

     sebagai berikut 1 santri (5%) menyatakan sangat baik, santri 9 (40%)

     menyatakan baik, santri 7 (32%) menyatakan cukup dan santri 5 (23%)

     menyatakan kurang baik. Secara umum data ini menunjukkan aspek

     kejelasan suara dan narasi dinilai baik oleh santri. Akan tetapi setelah

     ditelusuri lebih dalam, secara tertulis ada sembilan santri yang menilai suara

     dan narasi masih kurang jelas. Ini artinya data yang menyatakan suara dan

79
     Hasil kuesioner terbuka dari Widji Santoso pada tanggal 14 Agustus 2008.
80
     Hasil kuesioner terbuka dari Muammar pada tanggal 14 Agustus 2008.
                                                                                             71




             narasi kurang baik naik dari 23% menjadi 41%, suatu kenaikan yang sangat

             signifikan. Beberapa orang dari mereka memberi alasan sebagai berikut ini :

             a. Pembacaan narasi berbahasa Indonesia tidak seimbang dengan narasi

                berbahasa Arab.81

             b. Volume suara masih kurang keras.82

             c. Suara narator terlalu besar (bass).83

             d. Efek narasi dalam bahasa Indonesia terlalu menggema.84

             Penilaian yang sama juga disampaikan oleh ibu Nur Hayati Yusuf, pakar

             media yang dilibatkan dalam penilaian media ini.85 Ini merupakan saran

             yang sangat baik untuk perbaikan media ini selanjutnya.

                    Adapun penilaian responden terhadap aspek daya dukung musik

             mendapat penilaian 2 santri (9%) menyatakan sangat baik, 6 santri (27%)

             menyatakan baik, 12 santri (55%) menyatakan cukup dan 2 santri (9%)

             menyatakan kurang baik. Secara umum data ini menunjukkan bahwa aspek

             daya dukung musik dinilai cukup.

                    Aspek daya dukung musik sangat menunjang aspek kualitas

             tampilan media. Ada beberapa pendapat santri tentang daya dukung musik

             dalam media ini. Pendapat-pendapat itu antara lain :

        81
            Hasil kuesioner terbuka dari Zuhdi pada tanggal 14 Agustus 2008
        82
            Hasil kuesioner terbuka dari Samsul dan Choirul Anam pada tanggal 14 Agustus 2008
         83
            Hasil kuesioner terbuka dari Muhaimin pada tanggal 14 Agustus 2008
         84
            Hasil kuesioner terbuka dari A’ang pada tanggal 14 Agustus 2008
         85
            Hasil wawancara dengan ibu Nur Hayati Yusuf pada tanggal 14 Agustus 2008 di Akademik
Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya pukul 14:04 WIB.
                                                                                          72




     a. Daya dukung musik kurang pas dengan materi.86

     b. Terdapat suara-suara tombol yang mengganggu konsentrasi pengguna.87

     c. Jumlah musik dan bunyi terlalu banyak sehingga menyebabkan

        pengguna tidak fokus terhadap materi.88

     Sedangkan untuk memperbaiki daya dukung musik, saran mereka begitu

     beragam antara lain :

     a. Musik latar sebaiknya diganti dengan musik islami.89

     b. Musik latar sebaiknya diganti dengan musik klasik.90

     c. Musik latar sebaiknya diganti dengan musik yang unik seperti musik-

        musik daerah.91

            Keberagaman saran ini sangat wajar karena selera musik setiap

     orang sangatlah berbeda. Meskipun demikian saran ini merupakan masukan

     yang sangat baik untuk perbaikan media selanjutnya.

            Dari paparan diatas dapat diketahui bahwa secara umum aspek

     kualitas tampilan media adalah cukup. Meskipun demikian terdapat

     beberapa catatan penting, antara lain (a) Petunjuk penggunaan program

     perlu ditambah dan diperjelas kembali agar lebih mudah dioperasikan oleh

86
   Hasil kuesioner terbuka dari M. Subhan pada tanggal 14 Agustus 2008
87
   Hasil kuesioner terbuka dari Harun Ar Rosyid dan Ismail pada tanggal 14 Agustus 2008
88
   Hasil kuesioner terbuka dari Saiful Rahman pada tanggal 14 Agustus 2008
89
   Hasil kuesioner terbuka dari Widji Santoso pada tanggal 14 Agustus 2008
90
   Hasil kuesioner terbuka dari A’ang pada tanggal 14 Agustus 2008
91
   Hasil kuesioner terbuka dari Samsul pada tanggal 14 Agustus 2008
                                                                             73




     pengguna yang masih awam, (b) Huruf arab yang dipakai masih kurang

     jelas, tampilan video masih kabur dan animasi masih terbatas sehingga perlu

     pembenahan, (c) Komposisi warna dan sajian musik perlu didesain ulang

     sesuai dengan tujuan pembuatan media, (d) Narasi dalam bentuk bahasa

     Indonesia menggema dan suara-suara tombol yang mengganggu perlu

     diperbaiki. Beberapa catatan ini merupakan masukan yang baik agar

     digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memperbaiki program

     selanjutnya.

2.   Aspek Penyajian Materi

            Aspek    penyajian   materi   merupakan     aspek    penting   dalam

     pengembangan media pembelajaran. Penyajian materi yang baik dalam

     media akan menghasilkan pemahaman yang baik bagi pengguna media.

     Kajian terhadap aspek ini mencakup penilaian terhadap kejelasan tujuan

     pembelajaran, kemudahan memahami kalimat, kemudahan memahami

     materi pelajaran, dan bantuan belajar dengan program ini.

            Aspek pertama yang dinilai adalah aspek kejelasan tujuan

     pembelajaran. Media pembelajaran ini disajikan bagi santri yang mendalami

     kitab Taqrib bab haji dan diharapkan setelah mengikuti pembelajaran

     dengan media ini, santri dapat mendeskripsikan bab haji dalam kitab taqrib

     dengan baik.
                                                                        74




       Dari 22 responden santri pesantren luhur Al-Husna Surabaya

diperoleh data tentang kejelasan tujuan pelajaran yaitu 5 santri (23%)

menyatakan sangat baik, 15 santri (68%) menyatakan baik dan 2 santri (9%)

menyatakan cukup. Secara umum dari data tersebut santri menilai aspek

kejelasan tujuan pembelajaran adalah baik.

       Aspek berikutnya yang dinilai adalah aspek kemudahan memahami

kalimat. Kalimat yang baik adalah kalimat yang ditulis dengan benar dan

jelas yaitu sesuai dengan penelitian yang baku, tidak menimbulkan

pemaknaan ganda dan tidak mengaburkan pesan yang ingin disampaikan

sehingga kalimat tersebut mudah untuk dipahami.

       Adapun dalam aspek kemudahan memahami kalimat diperoleh data

6 santri (27%) menyatakan sangat baik, 13 santri (59%) menyatakan baik, 2

santri (9%) menyatakan cukup dan 1 santri (5%) menyatakan kurang baik.

Secara umum data tersebut menunjukkan bahwa aspek kemudahan

memahami kalimat dalam media ini juga mendapat nilai baik.

       Media ini menyajikan materi menggunakan susunan kalimat dalam

bentuk bahasa Arab dan Indonesia. Setelah ditelusuri secara mendalam

ditemukan kata yang tidak tepat pada materi berbahasa Arab yaitu kata   ‫ﺛﻠﺜﺔ‬

dalam kalimat   ‫ ﻭﻭﺍﺟﺒﺎﺕ ﺍﳊﺞ ﻏﲑﺍﻻﺭﻛﺎﻥ ﺛﻠﺜﺔ ﺍﺷﻴﺎﺀ‬yang seharusnya ditulis
                                                                                            75




             ‫ 29. ﺛﻼﺛﺔ‬Temuan ini merupakan temuan yang sangat berharga untuk bahan

             perbaikan media ini selanjutnya.

                       Sedangkan penilaian santri terhadap aspek kemudahan memahami

             materi pelajaran adalah 2 santri (9%) menyatakan sangat baik, 13 santri

             (59%) menyatakan baik dan 7 santri (32%) menyatakan cukup. Secara

             umum data ini menggambarkan bahwa aspek kemudahan memahami materi

             pelajaran dalam media ini adalah baik. 15 santri dari 22 santri yang diteliti

             menyatakan sangat baik dan baik sementara sisanya menyatakan cukup.

             Meskipun demikian terdapat kekurangan dalam narasi berbahasa jawa yang

             dinilai oleh pakar materi dapat mempengaruhi cara baca santri ketika

             membaca kitab Taqrib bab haji menggunakan bahasa jawa. Padahal aturan

             baca kitab telah dibakukan dan disesuaikan dengan kaidah ilmu nahwu dan

             shorof. Kekurangan tersebut yaitu ketika narator membacakan arti dari

             kalimat      ..‫ﻭﺍﺭﻛﺎﻥ ﺍﻟﻌﻤﺮﺓ ﺛﻼﺛﺔ: ﺍﻻﺣﺮﺍﻡ‬       narator membacakan artinya


             sebagai berikut “utawi pira-pira rukune umrah, iku telu pira-pira perkara,

             yaiku ihram..”, padahal cara membacakan arti yang benar adalah “utawi

             pira-pira rukune umrah iku telu pira-pira perkara, rupane ihram..”. kata




        92
           Hasil wawancara dengan ustadz Qadir pada tanggal 14 Agustus 2008 jam 18:50 di kantor
Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya setelah mengoperasikan media pembelajaran ini.
                                                                                              76




             yaiku pada pembacaan arti tersebut tidak tepat, seharusnya dibaca rupane

             karena kalimat berikutnya berkedudukan sebagai badal bukan khobar.

                    Memang secara sepintas cara baca diatas tidak memiliki pengaruh

             yang besar terhadap pemahaman santri, akan tetapi cara baca yang salah

             oleh narator akan menyebabkan cara baca kitab yang salah juga oleh

             pengguna.93

                    Adapun penilaian responden terhadap aspek bantuan belajar dengan

             program ini adalah 15 santri (68%) menyatakan sangat baik, 6 santri (27%)

             menyatakan baik, 1 santri (5%) menyatakan cukup. Data ini menunjukkan

             pengguna merasa sangat terbantu dalam mempelajari materi haji melalui

             media pembelajaran berbasis komputer ini.

                    Dari paparan diatas dapat diketahui bahwa penilaian terhadap aspek

             penyajian materi ini secara umum adalah cukup baik. Akan tetapi, ada

             catatan penting untuk perbaikan media ini selanjutnya yaitu pengembangan

             media pembelajaran kitab kuning tidak hanya aspek kemudahan pemahaman

             materi yang perlu diperhatikan, tetapi juga aspek kesesuaian pembacaan

             makna kitab kuning menggunakan bahasa jawa juga harus menjadi

             perhatian serius. Karena aspek ini berkaitan erat dengan ilmu tata bahasa

             arab yang baik dan benar sesuai kaidah ilmu nahwu dan shorof.



        93
           Hasil wawancara dengan ustadz Qadir pada tanggal 14 Agustus 2008 jam 18:50 di kantor
Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya setelah mengoperasikan media pembelajaran ini.
                                                                                 77




3.        Aspek Iteraksi Pengguna

                  Penilaian terhadap aspek interaksi pengguna bertujuan untuk

          mengetahui apakah media ini memiliki kelayakan sistem pengoperasian

          program dengan memberikan fasilitas kemudahan bagi santri untuk aktif

          belajar melalui berbagai strategi interaksi. Dalam hal ini yang dinilai

          meliputi aspek kemudahan penggunaan media sehingga dapat dioperasikan

          sendiri, urutan tampilan dapat maju atau mundur, kemudahan pengguna

          memilih kegiatan karena ketersediaan menu pilihan dan kemudahan keluar

          masuk program setiap saat.

                  Penilaian pertama dari aspek kemudahan penggunaan media

          diperoleh jawaban 10 santri (45%) menjawab sangat baik, 11 santri (50%)

          menjawab baik dan 1 santri (5%) menjawab cukup. Secara umum aspek ini

          mendapat respon yang cukup baik, terbukti 21 santri memberi nilai baik dan

          sangat baik. Meskipun demikian secara tertulis 3 orang santri memberi

          pendapat beragam. Santri pertama memberi masukan agar petunjuk

          penggunaan program dijelaskan secara lebih rinci lagi, agar program mudah

          dioperasikan oleh orang yang masih awam dengan media pembelajaran

          berbasis komputer.94

                  Berkenaan dengan hal ini secara lebih detail santri kedua

          menyarankan agar petunjuk penggunaan tombol next pada sajian video

     94
          Hasil kuesioner terbuka dari M. Fatih tanggal 14 Agustus 2008.
                                                                            78




     multimedia diperjelas secara rinci kegunaannya agar tidak tertukar dengan

     fungsi tombol selanjutnya.95 Santri ketiga memberi masukan ketika

     mengaktifkan tombol keluar dari materi berbahasa Indonesia, suara narasi

     yang telah dipilih tidak bisa berhenti.96 Beberapa masukan ini merupakan

     saran yang sangat baik, yang kemudian tentunya dapat digunakan sebagai

     bahan pertimbangan untuk memperbaiki program.

             Penilaian berikutnya tentang aspek urutan tampilan dapat maju

     maupun mundur dalam program ini mendapat penilaian 4 santri (18%)

     menilai sangat baik, 13 santri (59%) menilai baik, 4 santri (18%) menilai

     cukup dan      1 santri (5%) menilai kurang baik. Secara umum penilaian

     terhadap aspek ini cukup baik yang ditunjukkan dengan kecenderungan

     santri yang memilih nilai baik dan sangat baik sebanyak 17 santri. Program

     ini memang sangat memungkinkan pengguna tidak hanya maju mundur dari

     materi ke materi saja, tetapi juga mampu berpindah-pindah secara acak dari

     materi yang satu ke materi yang lain dengan ketersediaan menu pilihan yang

     dapat diakses setiap saat.

             Komponen inti program ini menyediakan menu yang dapat diakses

     hanya dengan klik satu kali pada tombol mulai. Selanjutnya, dengan mudah

     pengguna dapat masuk pada menu yang telah disediakan antara lain menu

     materi, multimedia, evaluasi, dan petunjuk. Menu materi memiliki sub menu

95
     Hasil kuesioner terbuka dari Choirul Anam tanggal 15 Agustus 2008.
96
     Hasil kuesioner terbuka dari Muhaimin tanggal 15 Agustus 2008
                                                                       79




materi berbahasa Arab, Jawa, dan Indonesia. Menu multimedia memiliki

sub menu tahallul, wukuf, thawaf, sa’i, jumroh dan hitungan dam. Menu

evaluasi memiliki sub menu latihan dan soal-soal. Sedangkan menu

petunjuk berisi petunjuk penggunaan program.

       Berkaitan dengan hal tersebut penilaian terhadap tersedianya menu

pilihan sehingga dapat memilih kegiatan dalam program secara umum

memperoleh nilai yang cukup baik. Secara lebih rinci aspek ini mendapat

penilaian 11 santri (50%) menyatakan sangat baik, 10 santri (45%)

menyatakan baik dan 1 santri (5%) menyatakan cukup.

       Sedangkan penilaian terhadap aspek kemudahan masuk dan keluar

program setiap saat diperoleh data 11 santri (50%) menyatakan sangat baik,

8 santri (36%) menyatakan baik, 2 santri (9%) menyatakan cukup dan 1

santri (5%) menyatakan kurang baik. Secara umum penilaian terhadap aspek

ini adalah baik terbukti santri yang menyatakan sangat baik dan baik

berjumlah 19 santri.

       Dari paparan diatas dapat diketahui bahwa aspek interaksi pengguna

dalam mengoperasikan media ini secara umum dinilai baik oleh pengguna.

Meskipun demikian ada beberapa catatan penting yang perlu diperhatikan

yaitu antara lain (a) petunjuk penggunaan program perlu diperjelas kembali

secara lebih rinci agar pengguna memahami dengan baik fungsi-fungsi

menu, sub menu dan tombol-tombol navigasi (b) fungsi-fungsi tombol perlu
                                                                           80




     dicek kembali agar bisa bekerja sesuai dengan fungsinya. Beberapa catatan

     ini merupakan masukan yang baik agar digunakan sebagai bahan

     pertimbangan untuk memperbaiki program selanjutnya.

4.   Aspek Interaksi Program

            Penilaian terhadap aspek interaksi program bertujuan untuk

     mengetahui apakah media ini memiliki kelayakan sistem interaksi stimulus

     yang diberikan oleh santri dengan respons yang ditampilkan komputer,

     sehingga santri termotivasi untuk tetap mengikuti pembelajaran. Untuk

     mengetahui hal ini perlu dikaji tentang empat hal yang berkaitan dengan

     aspek interaksi program yaitu antara lain sajian soal-soal evaluasi oleh

     program, kemampuan program menyajikan pencapaian hasil belajar,

     kemampuan program mengoreksi soal setelah pengguna merespon jawaban

     dan kemampuan program mengulang materi setiap saat sehingga

     meningkatkan daya ingat pengguna.

            Aspek pertama yang dikaji adalah sajian evaluasi oleh program.

     Evaluasi merupakan tolok ukur keberhasilan suatu proses pembelajaran.

     Pembelajaran yang baik harus diikuti oleh sistem evaluasi yang baik pula.

     Dengan demikian akan diketahui sejauh mana pemahaman santri dalam

     mengikuti proses pembelajaran yang dalam penelitian ini menggunakan

     media pembelajaran berbasis komputer.
                                                                              81




              Pengembangan media pembelajaran kitab Taqrib bab haji dengan

     Macromedia Flash 8 ini menyajikan soal-soal evaluasi dalam dua bentuk

     soal yaitu bentuk soal-soal latihan dan soal-soal tes. Perbedaan kedua

     bentuk evaluasi ini adalah bentuk soal-soal latihan memberi kesempatan

     santri untuk memperbaiki kesalahan jika menjawab soal latihan dengan

     jawaban salah. Sedangkan, pada bentuk soal-soal tes, santri tidak diberi

     kesempatan memperbaiki kesalahan jika menjawab soal tes dengan jawaban

     salah.

              Dari 22 responden santri Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya

     diperoleh data tentang sajian soal-soal evaluasi dalam program ini sebagai

     berikut 13 santri (59%) menyatakan sangat baik, 8 santri (36%) menyatakan

     baik, dan 1 santri (5%) menyatakan cukup. Hal ini mengindikasikan bahwa

     soal-soal evaluasi program secara umum dinilai baik oleh para santri.

     Meskipun demikian ada salah seorang santri yang mengusulkan agar soal-

     soal evaluasi diperbanyak lagi agar pengguna dapat berlatih dengan banyak

     soal dan dapat mengukur keberhasilan belajarnya dengan semakin baik.97

              Sedangkan penilaian santri tentang sajian nilai pencapaian hasil

     belajar oleh program secara umum mendapat nilai baik. Terbukti dengan

     data yang diperoleh 5 santri (23%) menyatakan sangat baik, 16 santri (72%)

     menyatakan baik dan 1 santri (5%) menyatakan cukup.


97
     Hasil kuesioner terbuka dari Choirul Anam pada tanggal 15 Agustus 2008
                                                                                         82




             Sajian pencapaian hasil belajar oleh program ini dapat dijadikan

     tolok ukur pengguna media untuk menilai pemahamannya terhadap materi

     yang disajikan oleh program. Media ini akan secara otomatis menghitung

     berapa perolehan nilai masing-masing individu ketika mereka menjawab

     soal-soal evaluasi. Dalam 10 soal evaluasi satu pertanyaan yang berhasil

     dijawab dengan benar akan mendapat nilai 10, sedangkan satu pertanyaan

     yang dijawab dengan salah akan dikurangi 10 juga.

             Adapun penilaian responden terhadap aspek umpan balik (koreksi

     jawaban) yang diberikan program setelah pengguna merespon jawaban

     memperoleh penilaian 9 santri (41%) menyatakan sangat baik, 11 santri

     (50%) menyatakan baik dan 2 santri (8%) menyatakan cukup. Secara umum

     penilaian santri dalam aspek ini adalah baik. Meskipun demikian salah

     seorang santri mengusulkan agar program menunjukkan jawaban mana yang

     benar setiap kali program merespon jawaban salah untuk mempermudah

     pengguna dalam melakukan perbaikan jawaban.98

             Sedangkan       penilaian     responden      terhadap        aspek   kemudahan

     pengulangan materi sehingga dapat meningkatkan daya ingat santri

     diperoleh data 13 santri (59%) menyatakan sangat baik, 8 santri (36%)

     menyatakan baik dan 1 santri (5%) menyatakan cukup. Interaksi program

     dalam aspek ini dinilai sangat baik oleh 59% responden atau jika


98
     Hasil kuesioner terbuka dari Suparni pada tanggal 15 Agustus 2008.
                                                                             83




       digabungkan 21 santri menilai program ini diatas nilai yang baik. Hal ini

       dapat dilihat dari kemudahan mengakses materi setiap saat dengan menu-

       menu yang telah disediakan oleh program. Tidak hanya itu pengguna dapat

       berinteraksi dengan materi secara acak dari materi satu dengan yang

       lainnya.

              Dari paparan diatas dapat diketahui bahwa aspek interaksi program

       dalam menstimulasi respon dari pengguna adalah cukup baik. Hal ini

       terbukti dengan adanya respon yang baik dari santri dan pakar. Meskipun

       demikian ada beberapa catatan penting yaitu (a) soal-soal evaluasi perlu

       diperbanyak agar pengguna dapat berlatih dengan lebih banyak soal dan

       dapat mengukur keberhasilan belajarnya dengan lebih baik, (b) diharapkan

       program menunjukkan jawaban mana yang benar setiap kali merespon

       jawaban yang salah untuk mempermudah pengguna dalam memperbaiki

       jawaban. Beberapa catatan ini merupakan masukan yang baik agar

       digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memperbaiki program

       selanjutnya.

      Media pembelajaran kitab Taqrib bab haji menggunakan Macromedia Flash

8 di pesantren luhur Al-Husna Surabaya tergolong dalam jenis media pembelajaran

audio visual aid karena mampu menampilkan suara, gambar dan gerakan secara

bersama-sama. Hal ini sangat membantu peserta didik dalam memahami materi haji

daripada menggunakan sistem ceramah biasa maupun menggunakan media gambar
                                                                                        84




 dan diagram. Media ini juga lebih efektif karena peserta didik akan mendapatkan

 pengalaman lebih jelas dan konkrit tentang pelaksanaan haji dan rukun-rukunnya,

 dan juga lebih efisien karena peserta didik akan memiliki kompetensi yang

 diharapkan dalam waktu singkat.

            Adapun kelebihan media pembelajaran audiovisual aid, dan media

 pembelajaran elektronika lainnya adalah sebagai berikut :

 1. Memiliki kemampuan menangkap, menyimpan, dan dapat ditayangkan sewaktu-

    waktu (Fixative Property)

 2. Dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan; dapat dipercepat atau diperlambat,

    diperbesar atau diperkecil, dan dapat digunakan sekarang atau nanti

    (Manipulative Property)

 3. Sekali tayang dapat dinikmati oleh seluruh pengguna (Distributive Property)

            Agar lebih fungsional, media pembelajaran ini harus dilengkapi dengan

 LCD proyektor dalam penggunaannya di kelas, kecuali jika telah tersedia komputer

 yang memadai untuk setiap peserta didik. Kemudian dalam pemilihan media

 pembelajaran perlu diperhatikan beberapa hal yaitu media pembelajaran mendukung

 materi yang akan dipelajari, sesuai dengan tujuan pembelajaran, tidak membosankan

 dan efektif serta efisien dalam penggunaannya.99




       99
         Hasil wawancara dengan ibu Nur Hayati Yusuf pada tanggal 14 Agustus 2008 di kantor
Akademik Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya
                                                                                 85




          Agar media pembelajaran kitab Taqrib bab haji ini dapat mendukung materi

dengan baik, maka harus diperhatikan kaidah-kaidah pembacaan kitab kuning yang

sesuai dengan kaidah ilmu nahwu dan shorof. Pembacaan kitab Taqrib bab haji

dengan makna bahasa jawa harus sesuai kaidah baku pembacaan kitab kuning

menggunakan pemaknaan bahasa jawa. Hal ini sangat penting, karena pembacaan

yang tidak sesuai dengan kaidah akan membingungkan para santri.

          Selanjutnya sebagai bahan pertimbangan pengembangan media pembelajaran

kitab kuning berikutnya disarankan agar materi disusun sesuai dengan tingkat

pemahaman santri terhadap kitab kuning. Materi dapat disusun dalam tiga tingkatan

yaitu :

1. Untuk tingkat pemula, materi kitab kuning disajikan dalam bentuk tulisan arab

   berharakat dengan makna jawa dibawahnya.

2. Untuk tingkat menengah, materi kitab kuning disajikan dalam bentuk tulisan arab

   tidak berharakat dan diberi tanda kedudukannya dalam kalimat, seperti tanda

   ‫ﻡ‬untuk mubtada’, ‫ ﺥ‬untuk khobar’, atau ‫ ﺑﺪ‬untuk badal dan sebagainya.

3. Untuk tingkat atas, materi kitab kuning disajikan dalam bentuk tulisan Arab tidak

   berharakat saja.
                                                                                        86




        Perbaikan dan revisi harus selalu dilaksanakan setiap kali menemukan

kekurangan. Perancang media harus selalu berkonsultasi kepada para pakar yang ahli

dibidangnya seperti para pakar media dan pakar materi. Hal ini bertujuan agar media

pembelajaran semakin sempurna sehingga bisa menunjang pembelajaran kitab kuning

di pesantren dengan baik. 100




       100
            Hasil wawancara dengan ustadz Qadir pada tanggal 14 Agustus 2008 pukul 18:50 di
kantor pesantren Luhur Al-Husna Surabaya.
                                                                             87




                                   BAB IV

                                   PENUTUP



A.   Kesimpulan

            Berdasarkan penyajian dan analisa data, maka peneliti dapat

     memberikan kesimpulan sebagai berikut :

     1. Prosedur Pengembangan media pembelajaran kitab Matnul Ghoyah Wat

        Taqrib bab haji menggunakan Macromedia Flash 8 di pesantren luhur Al-

        Husna menggunakan prosedur pengembangan berdasarkan model Alessi

        dan Trollip yaitu (a) menentukan kebutuhan dan tujuan, (b) mengumpulkan

        sumber, (c) mempelajari materi, (d) menghasilkan gagasan, (e) mendesain

        pembelajaran, (f) membuat bagan alir pelajaran, (g) memajang storyboard

        secara tertulis, (h) memprogram pelajaran, (i) membuat materi yang

        mendukung, (j) mengevaluasi dan meninjau kembali. Pentahapan tersebut

        telah dimodifikasi dengan tidak melakukan pembuatan bagan alir pelajaran

        karena tidak diperlukan.

     2. Secara umum pengembangan media pembelajaran kitab Matnul Ghoyah

        Wat Taqrib bab haji menggunakan Macromedia Flash 8 di pesantren luhur

        Al-Husna Surabaya cukup efektif untuk menunjang pembelajaran di

        pesantren karena didukung kualitas tampilan, penyajian materi, interaksi

        pengguna dan interaksi program yang baik.


                                      86
                                                                              88




B.   Saran

             Dari kesimpulan yang peneliti kemukakan diatas, akhirnya peneliti

     memberikan saran-saran sebagai berikut ini :

     1. Diharapkan pengembangan media pembelajaran kitab Matnul Ghoyah Wat

        Taqrib bab haji menggunakan Macromedia Flash 8 di pesantren luhur Al-

        Husna dapat memacu         para pemerhati pendidikan pesantren      agar

        berkompetisi mengembangkan media pembelajaran kitab kuning.

     2. Diharapkan beberapa catatan penting ini bisa dijadikan bahan pertimbangan

        penyempurnaan media pembelajaran ini yaitu : (a) petunjuk penggunaan

        program perlu diperjelas secara lebih rinci untuk mempermudah

        pengoperasikan program, (b) penulisan huruf arab yang salah dan kurang

        jelas, tampilan video yang masih kabur perlu dibenahi dan animasi yang

        masih terbatas perlu ditambah, (c) komposisi warna dan sajian musik perlu

        disesuaikan dengan materi, (d) narasi yang kurang jelas dan suara tombol

        yang mengganggu perlu diperbaiki (e) pembacaan makna kitab kuning

        menggunakan bahasa jawa perlu disesuaikan (f) fungsi-fungsi tombol perlu

        dicek kembali agar bisa berfungsi sebagaimana mestinya (g) soal-soal

        evaluasi perlu diperbanyak agar dapat mengukur keberhasilan belajar

        pengguna lebih baik (b) diharapkan program menunjukkan jawaban mana

        yang benar setiap kali merespon jawaban yang salah untuk mempermudah

        pengguna dalam memperbaiki jawaban.
                                                                                 89




                             DAFTAR PUSTAKA

A'la, Abdul, 2006. Pembaruan Pesantren (Yogyakarta : Pustaka Pesantren)

Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta:
       Rineka Cipta)

Arsyad, Azhar, 1997. Media Pengajaran (Jakarta:RajaGrafindo Persada)

Bungin, Burhan, 2003, Pornomedia: Konstruksi Sosial teknologi Telematika dan
       Perayaan Seks di Media Massa (Jakarta : Prenada Media)

Chandra, 2004. 7 Jam Belajar Flash MX 2004 untuk Orang Awam (Palembang :
      Maxikom)

Chotimah, Chusnul, 2008. Macromedia Flash Sebagai Media Pembelajaran.
      http://www.smu-net.com/main.php?act=int&xkd=169

Departemen Agama Republik Indonesia, 2000. Al-Qur’an dan Terjemahnya
       (Bandung : Penerbit Diponegoro)

Djazuli, A. , 2006. Kaidah-kaidah Fikih (Jakarta : Kencana)

Hadi, Sutrisno. 1986. Metodologi Research (Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi,
       UGM, Yogyakarta)

Hakim, Lukman, 2004. Perlawanan Islam Kultural (Surabaya : Pustaka Eureka)

Hamalik, Oemar, 1989. Media Pendidikan (Bandung : Citra Aditya)

http://teknologipendidikan.wordpress.com/, diakses 27 September 2007.

http://www.damandiri.or.id/file/ahmadsuyutiunairbab2.pdf, diakses 2 Juli 2008.

_________, Modernisasi Pendidikan Pesantren, http://www.smu-net.com/, diakses
      17 Juni 2008

Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, 2004. Pedoman Penulisan Skripsi
        Program strata Satu Fakultas Tarbiyah (Surabaya : IAIN Sunan Ampel)



                                         88
                                                                                    90




Masyhud, Sulton dan Moh. Khusnurdilo, 2005. Manajemen Pondok Pesantren
      (Jakarta : Diva Pustaka)

Moleong, Lexy J., 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Rosda Karya)

Mukhtar, Affandi , 2002. Membedah Diskursus Pendidikan Islam (Ciputat : penerbit
      Kalimah)

Mulyana, Deddy, 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif : Paradigma Baru Ilmu
      Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya, (Bandung : Remaja Rosdakarya)

Narbuko, Cholid dan Abu Ahmadi, 1999. Metodologi Penelitian (Jakarta : Bumi
      Aksara)

Nasution, S., 2004. Teknologi Pendidikan (Jakarta : Bumi Aksara)

Partanto, Pius A. dan M. Dahlan Al-Barry, 1994. Kamus Ilmiah Populer (Surabaya :
        Arkola)

Percival, Fred dan Henry Ellington, 1988. Teknologi Pendidikan (Jakarta:Erlangga)

Setio, Roy, 2007. Practicial Flash Project Series (Surabaya : TriExs Media)

Shalahuddin, Mahfud, 1986.Media Pendidikan Agama (Bandung : Bina Islam)

Sudirman, Ivan dan Romi Satria             Wahono,     2003.   Sejarah    Komputer,
      http://www.ilmukomputer.com

Sugiyono, 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Bandung :
      Alfabeta)

Sumanto, 1995. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan : Aplikasi Metode
      Kuantitatif dan Statistika dalam Penelitian. (Yogyakarta : Andi Offset)

Suparmoko, 1996. Metode Penelitian praktis : Untuk Ilmu-ilmu Sosial dan ekonomi,
      (Yogyakarta: BPFE)

Usman, Basyiruddin dan Asnawir, 2002. Media Pembelajaran (Jakarta : Ciputat Pers)

Usman, Huzaini dan Purnomo Setiadi Akbar, 1996. Metodologi Penelitian Sosial
      (Bandung : Bumi Aksara)
                                                                             91




Wahid, Abdurrahman. 1998. Pesantren Masa Depan (Cirebon : Pustaka Hidayah)

Wahono, Romi Satria, 2003. Apa Itu Komputer, http://www.ilmukomputer.com.

Wihardjo, Edy, 2007. Pembelajaran Berbantuan Komputer (Jember : November).
      http://elearning.unej.ac.id/courses/CL4fe8/document/buku_ajar_PBKom.pdf?
      idReq=CL02d1.
                                                                              92




                 PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN



Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama                       :   Saiful Arifin
NIM                        :   D01303005
Jurusan/Program Studi      :   Pendidikan Agama Islam
Fakultas                   :   Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar
merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambil-alihan tulisan atau
pikiran orang lain yang saya aku sebagai hasil tulisan atau pikiran saya sendiri.

Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa skripsi ini hasil
jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.



                                                     Surabaya, 21 Agustus 2008
                                                     Yang Membuat Pernyataan




                                                            Saiful Arifin
                                                                                93




                           Daftar Riwayat Hidup


       Saiful Arifin dilahirkan di Mojokerto, Jawa Timur tanggal 2 April 1983, anak
pertama dari dua bersaudara pasangan bapak Sagi dan ibu Senintri. Pendidikan dasar
dan menengah pertama ditempuh di kampung halamannya di SDN I Brayublandong
tamat pada tahun 1995 dan SLTP Negeri I Dawarblandong tamat pada tahun 1998.
Kemudian melanjutkan ke SMK Telekomunikasi Darul ‘Ulum Peterongan Jombang
mengambil jurusan Elektronika komunikasi dan Informatika, tamat pada tahun 2001.
       Semenjak kelas 6 SD mengenyam pendidikan di Pesantren Menara Barokah
di kampung halamannya cabang dari pesantren Menara Taufik, Jombang asuhan Gus
Mu’min. Kemudian bersamaan dengan masuk SMK Telkom dididik di Pesantren
Darul ‘Ulum Peterongan Jombang asuhan KH. As’ad Umar.
       Selama menjadi pelajar, waktunya lebih banyak dihabiskan di perpustakaan,
dan pramuka. Terpilih menjadi ketua Dewan Penggalang periode 1996/1997 di
SLTPnya. Tercatat sebagai siswa dengan nilai terbaik ketika lulus SD, dan terbaik
ketiga ketika lulus SLTP. Mulai suka menulis sejak kelas 2 SLTP dan menekuni
bidang jurnalistik selama di SMK Telkom. Lulus SMK dengan tugas akhir
“Komputerisasi Pengolahan Data Toserba Menggunakan Bahasa Program Foxbase.”
Kemudian melanjutkan di lembaga pendidikan non-formal, LPK (Lembaga Pelatihan
Kerja) Tallium Surabaya konsentrasi program elektronika dan teknik komputer tahun
2001. Awal tahun 2002 diperbantukan untuk mengajar komputer di LPK tersebut.
Bersamaan dengan itu, terpilih sebagai ketua Jamiyah Sholawat Thoriqotul Muhibbin
Surabaya periode 2002/2003. Pada tahun 2003 berkeinginan lagi melanjutkan kuliah
di bidang teknik Informatika.
       Namun, keinginan tersebut tidak mendapat dukungan dari ayahnya, karena
merasa pendidikan teknik bagi putra sulungnya tersebut sudah lebih dari cukup.
Ayahnya menyarankan agar ia memperdalam ilmu agama di IAIN Sunan Ampel
Surabaya tepatnya di Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah. Semasa
mahasiswa aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan, baik intra maupun ekstra
kampus seperti Fosiska dan PMII. Akan tetapi, minatnya terhadap seni musik
membawanya lebih aktif di organisasi Paduan Suara Mahasiswa IAIN Sunan Ampel
Surabaya. Selama menjadi mahasiswa, ia juga menjadi santri di Pesantren Luhur
Al-Husna Surabaya asuhan Dr. KH. Ali Maschan Moesa, M.Si. sampai sekarang.
                                                                              94




LAMPIRAN



                        PANDUAN WAWANCARA




  1. Dalam suatu pengembangan media pembelajaran berbasis komputer dengan
     macromedia flash tentu perlu diperhatikan aspek kualitas tampilan desainnya.
     Menurut Bapak/Ibu, bagaimanakah kualitas tampilan media ini?


  2. Aspek penyajian materi merupakan aspek penting dalam suatu pengembangan
     media pembelajaran. Penyajian materi yang baik akan menghasilkan
     pemahaman yang baik pula bagi penggunanya. Bagaimanakah menurut
     Bapak/Ibu penyajian materi dalam media ini?


  3. Untuk mengetahui apakah pengguna dapat menjalankan media dengan baik
     tentu kemudahan interaksi terhadap media menjadi faktor penting.
     Bagaimanakah menurut Bapak/Ibu, interaksi pengguna terhadap media ini?


  4. Menurut Bapak/Ibu apakah kelebihan dan kekurangan media pembelajaran
     ini?


  5. Apa sajakah saran Bapak/Ibu untuk pengembangan media pembelajaran ini
     selanjutnya?




                                      93
                                                                               95




                        Laporan Hasil Wawancara
                       dengan Ibu Nur Hayati Yusuf
                     Sebagai pakar media pembelajaran
         di Akademik Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya
                  Tanggal 14 Agustus 2008 jam 14:04 WIB


        Media pembelajaran ini sangat bagus sekali, dapat membantu daya pikir anak
yang tentu dalam menerangkan bab haji tidak mungkin kita mengajak meraka kesana
melihat pelaksanaan ibadah haji. Dengan adanya media ini kita seakan-akan bisa
mengikuti kegiatan pelaksanaan ibadah haji di Mekkah. Sudah bagus karena lebih
baik daripada memakai media ceramah biasa, apalagi memakai gambar atau diagram
saja.
        Media ini lebih efektif dan efisien, efektif karena siswa dapat mempunyai
pengalaman yang jelas dan konkrit tentang pelaksanaan ibadah haji. Efisien karena
dalam waktu singkat anak lebih memiliki kompetensi setelah melihat gerakan-
gerakan haji melalui media ini.
        Salah satu tujuan media pembelajaran adalah agar materi dapat disampaikan
dengan jelas dan sekonkrit mungkin, sesuai dengan tujuan tersebut media ini bisa
menampilkan materi secara lebih jelas dan konkrit. Akan tetapi suara media masih
kurang jelas dan gambarnya masih kabur. Juga belum ada gambar video tentang
mabid di Muzdalifah.
        Dalam pemilihan media harus sesuai dengan kriteria pemilihan media yang
baik yaitu mendukung materi, sesuai dengan tujuan pembelajaran, tidak
membosankan, efektif dan efisien.
        Adapun Kelebihan media elektronika adalah :
    a. Memiliki kemampuan menangkap, menyimpan, dan dapat ditayangkan
        sewaktu-waktu (Fixative Property)
    b. Dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan; dapat dipercepat atau diperlambat,
        diperbesar atau diperkecil, dan dapat digunakan sekarang atau nanti
        (Manipulative Property)
    c. Sekali tayang dapat dinikmati oleh seluruh pengguna (Distributive Property)
        Agar lebih efektif media ini harus didukung dengan perangkat media yang
lainnya ketika disampaikan di kelas, yaitu dengan memakai LCD proyektor kecuali
telah tersedia komputer bagi masing-masing siswa. Jadi, media ini akan menjadi
kurang fungsional kalau tidak bisa dinikmati oleh seluruh siswa.
                                                                                96




                         Laporan Hasil Wawancara
                         dengan Ustadz Abdul Qodir
                     Sebagai pakar Materi kitab kuning
                    di kantor Pesantren Luhur Al-Husna
                   Tanggal 14 Agustus 2008 jam 18:50 WIB


       Melihat kualitas tampilan gambar media ini sudah sangat bisa membantu
proses pembelajaran. Akan tetapi, masalah tampilan tidak perlu terlalu njlimet agar
tidak mengaburkan tujuan menggunakan media ini yaitu agar santri dapat
memahami materi.
        Dalam penyajian materi kitab Taqrib bab haji ini dapat mendukung materi
dengan baik, maka harus diperhatikan kaidah-kaidah pembacaan kitab kuning yang
sesuai dengan kaidah ilmu nahwu dan shorof. Pembacaan kitab Taqrib bab haji
dengan makna bahasa jawa harus sesuai kaidah baku pembacaan kitab kuning
menggunakan pemaknaan bahasa jawa. Hal ini sangat penting, karena pembacaan
yang tidak sesuai dengan kaidah akan membingungkan para santri.
       Contoh secara riil dari pembacaan yang kurang tepat dari pembacaan kitab
kuning dalam media ini adalah :

ketika membacakan arti dari kalimat       ..‫ﻭﺍﺭﻛﺎﻥ ﺍﻟﻌﻤﺮﺓ ﺛﻼﺛﺔ: ﺍﻻﺣﺮﺍﻡ‬      narator
membacakan artinya sebagai berikut “utawi pira-pira rukune umrah, iku telu pira-
pira perkara, yaiku ihram..”, padahal cara membacakan arti yang benar adalah
“utawi pira-pira rukune umrah iku telu pira-pira perkara, rupane ihram..”. kata
yaiku pada pembacaan arti tersebut tidak tepat, seharusnya dibaca rupane karena
kalimat berikutnya berkedudukan sebagai badal bukan khobar.
Akan tetapi pada prinsipnya media ini sudah dapat membantu pemahaman santri.
Karena pembacaan makna sendiri ada 2 macam yaitu pembacaan sesuai dengan
kaidah baku dan pembacaan secara murod. Pada sistem baca murod, yang terpenting
maksud dari materi dapat dipahami.
       Interaksi dari media pembelajaran ini sangat membantu dan petunjuknya
sudah praktis, pengoperasiannya mudah.
        Selanjutnya sebagai bahan pertimbangan pengembangan media pembelajaran
kitab kuning berikutnya disarankan agar materi disusun sesuai dengan tingkat
pemahaman santri terhadap kitab kuning. Materi dapat disusun dalam tiga tingkatan
yaitu :
                                                                                 97




a. Untuk tingkat pemula, materi kitab kuning disajikan dalam bentuk tulisan arab
   berharakat dengan makna jawa dibawahnya.
b. Untuk tingkat menengah, materi kitab kuning disajikan dalam bentuk tulisan arab
   tidak berharakat dan diberi tanda kedudukannya dalam kalimat, seperti tanda
   ‫ﻡ‬untuk mubtada’, ‫ ﺥ‬untuk khobar’, atau ‫ ﺑﺪ‬untuk badal dan sebagainya.
c. Untuk tingkat atas, materi kitab kuning disajikan dalam bentuk tulisan Arab tidak
   berharakat saja.
        Perbaikan dan revisi harus selalu dilaksanakan setiap kali menemukan
kekurangan. Perancang media harus selalu berkonsultasi kepada para pakar yang ahli
dibidangnya seperti para pakar media dan pakar materi. Hal ini bertujuan agar media
pembelajaran semakin sempurna sehingga bisa menunjang pembelajaran kitab kuning
di pesantren dengan baik.
                                                                           98




                                LEMBAR KOESIONER



Responden            : Santri
Petunjuk             :
   1. Pernyataan ini mohon di jawab dengan jujur dan obyektif sesuai dengan
      kenyataan.
   2. Cara menjawabnya dengan memberi tanda silang (X) pada alternatif jawaban
      yang sesuai.
A. Tentang kualitas tampilan
   1. Kejelasan petunjuk penggunaan program
      a. Sangat baik      b. Baik        c. Cukup        d. Kurang baik
   2. Keterbacaan teks atau tulisan
      a. Sangat baik      b. Baik        c. Cukup        d. Kurang baik
   3. Kualitas tampilan gambar
      a. Sangat baik      b. Baik        c. Cukup        d. Kurang baik
   4. Sajian animasi
      a. Sangat baik      b. Baik        c. Cukup        d. Kurang baik
   5. Komposisi warna
      a. Sangat baik      b. Baik        c. Cukup        d. Kurang baik
   6. Kejelasan suara atau narasi
      a. Sangat baik      b. Baik        c. Cukup        d. Kurang baik
   7. Daya dukung musik
      a. Sangat baik      b. Baik        c. Cukup        d. Kurang baik
B. Tentang penyajian materi
   8. Kejelasan tujuan pelajaran
      a. Sangat jelas     b. Jelas       c. Cukup        d. Kurang jelas
   9. Petunjuk belajar
      a. Sangat jelas     b. Jelas       c. Cukup        d. Kurang jelas

                                       97
                                                                                                                                     99




     10. Kemudahan memahami kalimat
           a. Sangat mudah b. mudah                                    c. Cukup                      d. Sulit
     11. Kecukupan latihan
           a. Sangat baik                b. Baik                       c. Cukup                      d. Kurang baik
C. Tentang interaksi pemakai
     12. Program dapat dijalankan tanpa harus dibantu orang lain
           a. Sangat baik                b. Baik                       c. Cukup                      d. Kurang baik
     13. Urutan tampilan (dapat maju atau mundur)
           a. Sangat baik                b. Baik                       c. Cukup                      d. Kurang baik
     14. Terdapat menu pilihan sehingga dapat memilih kegiatan
           a. Sangat baik                b. Baik                       c. Cukup                      d. Kurang baik
     15. Dapat masuk dan keluar (exit) program setiap saat
           a. Sangat baik                b. Baik                       c. Cukup                      d. Kurang baik
D. Tentang interaksi program
     16. Terdapat soal-soal evaluasi (tes)
           a. Sangat baik                b. Baik                       c. Cukup                      d. Kurang baik
     17. Program menyajikan hasil/nilai pencapaian hasil belajar (evaluasi)
           a. Sangat baik                b. Baik                       c. Cukup                      d. Kurang baik
     18. Umpan balik (koreksi terhadap soal) diberikan segera setelah merespon
           jabawan
           a. Sangat baik                b. Baik                       c. Cukup                      d. Kurang baik
     19. Materi dapat diulang setiap saat sehingga meningkatkan daya ingat
           a. Sangat baik                b. Baik                       c. Cukup                      d. Kurang baik

Berikanlah Kritik dan Saran Untuk Program Ini!

........................................................................................................................................
........................................................................................................................................
........................................................................................................................................
........................................................................................................................................
                                                                                                                100




                                                 HASIL KUESIONER
                                              PERNYATAAN TERTUTUP


NO   R1   R2   R3   R4   R5   R6   R7    R8    R9   R10   R11   R12   R13   R14   R15   R16   R17   R18   R19   R20   R21   R22

1    A    A    B    A    A    A    C     B     B    B     B     C     A     A     C     B     C     B     B     B     A     C

2    B    B    C    B    B    B    B     B     B    C     B     C     B     A     A     B     B     A     B     B     B     B

3    B    A    C    C    B    A    A     A     D    C     A     C     A     D     B     B     D     A     B     B     A     B

4    A    C    B    B    B    C    D     B     C    C     C     D     B     B     B     C     D     A     B     C     B     A

5    B    A    D    A    B    B    A     B     B    B     C     D     A     B     C     C     D     A     C     B     B     B

6    B    B    D    B    A    D    C     C     B    C     D     D     B     C     B     D     C     B     C     B     C     B

7    C    C    C    A    B    C    D     C     C    D     C     C     B     B     B     C     C     A     B     C     B     C

8    B    A    B    B    B    B    B     B     A    C     B     A     C     A     B     B     B     B     A     B     B     B

9    C    B    A    A    B    B    B     B     A    B     D     A     B     B     B     B     A     A     B     B     C     B

10   B    C    B    A    B    B    C     C     B    C     C     A     C     B     B     B     B     B     B     B     B     C

11   A    B    A    A    A    B    C     B     B    A     A     B     A     A     A     A     A     A     A     A     B     A

12   B    A    B    A    A    A    A     B     A    B     B     C     B     A     A     A     B     A     B     B     B     B

13   B    B    D    A    B    B    B     C     B    C     C     C     A     A     B     B     B     A     B     B     B     B

14   A    A    A    B    B    A    B     B     A    A     B     C     B     B     A     A     B     A     A     B     A     B

15   A    D    A    A    A    A    A     C     A    A     B     C     B     B     B     B     A     A     B     B     B     A

16   B    A    A    B    B    A    A     B     B    A     A     A     A     A     B     A     A     A     B     A     C     B

17   C    B    B    B    A    B    B     B     B    A     A     A     B     A     B     B     B     B     B     B     B     B

18   B    C    B    A    B    A    B     B     A    B     A     B     B     A     B     A     C     A     A     B     B     A

19   A    A    A    A    B    A    B     C     A    B     A     A     A     B     B     A     B     A     A     B     B     A


          Keterangan :
          Kolom R1-R22                 : Kolom Responden 1 sampai responden 22
          Baris No. 1 s/d 19           : Baris Pernyataan yang ditanyakan
          A,B,C,D                      : Opsi jawaban yang dipilih

          Adapun rekap hasilnya dapat dilihat di halaman berikutnya.
                                                                                             101




Rekap Hasil Kuesioner Pernyataan Tertutup dan prosentasenya

                                               Jawaban
          Pernyataan
                            A              B                  C              D
              1            8    36%        9   41%        5       23%    0        0%
              2            3    14%       16   73%        3       14%    0        0%
              3            8    36%        7   32%        4       18%    3       14%
              4            3    14%        9   41%        7       32%    3       14%
              5            5    23%       10   45%        4       18%    3       14%
              6            1     5%        9   41%        7       32%    5       23%
              7            2     9%        6   27%       12       55%    2        9%
              8            5    23%       15   68%        2        9%    0        0%
              9            6    27%       13   59%        2        9%    1        5%
             10            2     9%       13   59%        7       32%    0        0%
             11          15     68%        6   27%        1        5%    0        0%
             12          10     45%       11   50%        1        5%    0        0%
             13            4    18%       13   59%        4       18%    1        5%
             14          11     50%       10   45%        1        5%    0        0%
             15          11     50%        8   36%        2        9%    1        5%
             16          13     59%        8   36%        1        5%    0        0%
             17            5    23%       16   73%        1        5%    0        0%
             18            9    41%       11   50%        2        9%    0        0%
             19          13     59%        8   36%        1        5%    0        0%
            Total      134      32%      198   47%       67       16%   19        5%



Apabila diolah menggunakan skor dengan ketentuan jawaban A skornya 4, jawaban
B skornya 3, jawaban C skornya 2 dan jawaban D skornya 1 maka diperolehan skor
rata-rata tiap pernyataan adalah sebagai berikut


                                                                                 Rata-rata
     No.                              Pernyataan
                                                                                   skor
      1        Kejelasan petunjuk penggunaan program                              3.14
      2        Keterbacaan teks atau tulisan                                      3.00
      3        Kualitas tampilan gambar                                           2.91
      4        Sajian animasi                                                     2.55
      5        Komposisi warna                                                    2.77
      6        Kejelasan suara atau narasi                                        2.27
      7        Daya dukung musik                                                  2.36
      8        Kejelasan tujuan pelajaran                                         3.14
                                                                              102




    9       Kemudahan memahami kalimat                                 3.09
   10       Kemudahan memahami materi pelajaran                        2.77
   11       Bantuan belajar dengan program ini                         3.64
   12       Program mudah dijalankan tanpa bantuan orang lain          3.41
   13       Urutan tampilan (dapat maju atau mundur)                   2.91
   14       Terdapat menu pilihan sehingga dapat memilih kegiatan      3.45
   15       Dapat masuk dan keluar (exit) program setiap saat          3.32
   16       Terdapat soal-soal evaluasi (tes)                          3.55
            Program menyajikan hasil/nilai pencapaian hasil belajar
   17                                                                  3.18
            (evaluasi)
            Umpan balik (koreksi jawaban) diberikan segera setelah
   18                                                                  3.32
            merespon jawaban
            Materi dapat diulang setiap saat sehingga memudahkan
   19                                                                  3.55
            daya ingat
                                                     Total Rata-rata   3.07



        REKAP HASIL KUESIONER PERTANYAAN TERBUKA

Responden                         Masukan, kritik dan saran

            1. Sudah cukup bagus, sangat menarik tapi berlaku pada orang yang
            sudah bisa mengoperasikan komputer dengan baik
    1
            2. Kalo bisa di onlinekan di internet agar bisa diakses semua orang
            (virtual learning environment)
            Ada beberapa tombol yang jika digeser menggunakan pointer mouse
    2       sehingga muncul bunyi-buyian yang sangat mengganggu dalam proses
            belajar
            1. Kejelasan suara atau narasi masih kurang karna belum
            menggambarkan seorang tutor
            2. Volume suara yang kurang jelas
    3       3. Perpaduan warna kurang begitu sempurna
            4. Masalah tombol next pada menu materi akan membingungkan orang
            yang masih awam ama komputer
            5. perbendaharaan soalnya kurang banyak
            1. Gambar media kurang jelas
    4       2. Animasi terbatas
            3. Lagu penutup diganti dengan yang lebih islami
            1. Materi terlalu sedikit
    5       2. Gambar kurang menarik, bisa membosankan. Buat gambar yang bikin
            santri tertarik agar tidak ngantuk
            1. Kualitas tampilan cukup baik, tetapi teks / font kurang jelas
            2. Suara : kurang jelas, kurang keras, terlalu ngebas. Musik harap
    6       dikecilkan agar tidak mengganggu pembelajaran
            3. Saat keluar dari menu pilihan tertentu, terkadang meteri yang
            didengarkan mash belum berhenti
                                                                         103




     1. Materinya terlalu sedikit, terlalu mudah
7
     2. tampilan videonya kurang jelas
     1. Suara kurang jelas
8
     2. Bunyi-bunyian yang mengganggu dihilangkan
9    Kreasi warna dan gambarnya diperlejas lagi
     Untuk soal yang telah dijawab dan apabila salah maka diberi penjelasan
10
     kebenarannya
     Program cukup baik akan tetapi ada kekurangan yang perlu diperbaiki
     yaitu
11   1. Pengisi suara kurang jelas
     2. Dalam penulisan font arabnya kurang jelas
     3. Pengaturan suara antara penjelasan suara dengan lagu kurang pas
     1. Program pembelajaran santri dengan metode ini sangat baik dalam
     mengembangkan dan memperdalam pengetahuan dan nalar santri
     2. Kurang ada sajian warna, komposisi warna dan suara yang didesain
12
     menarik sehingga santri kurang tertarik dan mudah jenuh
     3. HARAPAN agar program ini lebih diperbarui sesuai dengan
     kebutuhan peserta didik sehingga mereka tidak jenuh dan bosan
     1.Media pembejaran ini saya rasa sungguh bagus diterapkan di lingkup
     pendidikan
13
     2. Program ini dalam segi panduan pemakaian atau pengoperasian
     kurang jelas. Jadi seorang pemakai akan kesulitan mengoperasikannya.
14   Gambarnya harap diperjelas
     Tampilan sudah baik, akan tetapi daya dukung musik terlalu banyak
15   sehingga peserta didik cenderung tertarik pada alur musiknya, tidak
     fokus pada isi materi yang ada dalam media ini
     1. Kejelasan suara atau narasi kurang sehingga perlu diperjelas dan
16
     2. musik pengiring kurang pas
     1. Efek untuk musiknya mohon dengan musik yang melo dikit
17   2. Narator kurang pas, efek suaranya terlalu menggema seperti efek
     saat penyampaian wahyu malaikat
18   Musiknya jangan pakai gending, ganti yang lebih islami
     1. Suara narasi antara indonesia dan arab dibagian materi harap
     diseragamkan, dan dibagian indonesia kurang jelas, mohon diperjelas
19   kembali
     2. Untuk suara setelah mulai dan setelah mengakhiri itu ada suara,
     harap dihilangkan saja
     1. Agar pembelajaran seperti ini bisa dikembangkan disekolah atau TPQ
     karena pembelajaran ini sangat membantu daya ingat pengguna dan
20   bisa dipelajari dirumah
     2. Tampilan gambar lebih diperbarui lagi agar enak dilihag dan tidak
     jenuh saat belajar
     Program sudah sangat baik dan mudah dioperasikan. Tetapi masih perlu
21
     dipebaiki lagi dalam penyampaiannya dan tata letaknya
     1. Tambah lagi musik daerahnya.
22
     2. Suaranya yang lebih jelas dan keras

								
To top