Makalah Manusia Beriman, Bermoral, dan Berbudaya dan Kaitannya dengan Human Trafficking

Document Sample
Makalah Manusia Beriman, Bermoral, dan Berbudaya dan Kaitannya dengan Human Trafficking Powered By Docstoc
					          Makalah Mata Ajar Pengembangan Kepribadian Agama




Manusia Beriman, Bermoral, dan Berbudaya dan Kaitannya dengan
                        Human Trafficking




                             Disusun oleh :

                 Alfredo Simanjuntak – 0906533764
                 Deasy Agnes Ariweny – 0906524450
                            Mikha Purba –
                    Melin Panjaitan – 0906524646
                   Natalia Gunawan – 0906561396
                    Valerian Timoth – 0906561433




                  Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

                         Universitas Indonesia

                                  2009
                                           ABSTRAK




      Makalah ini membahas mengenai hubungan gender, keluarga Kristen, dan iman Kristen
dengan human trafficking. Dimulai dengan bab satu yang berisi pendahuluan, terbagi menjadi latar
belakang, tujuan pembuatan makalah, perumusan masalah, metode penelitian, dan sistematika
makalah. Di dalam bab satu ini secara garis besar dijelaskan mengenai alasan pembuatan makalah
oleh penulis. Dimana penulis membuat makalah ini sebagai salah satu syarat tugas dalam MPK
agama Kristen. Sedangkan alasan diambilnya kasus utama human trafficking ini berkaitan dengan
maraknya isu perdagangan manusia, khususnya perempuan, di dunia. Dalam bab dua, berisikan
teori – teori daripada masing – masing anggota kelompok penulis. Teori – teori ini diantaranya
mengenai konsep gender dalam pandangan masyarakat, gender dan iman Kristen, masalah biasa
gender dalam gereja, konsep keluarga Kristen, memilih teman hidup, dan pernikahan. Bab tiga
merupakan bagian dari hasil kolaborasi semua konsep dalam bab dua yang lalu dikaitkan dengan
kasus utama. Tidak itu saja, bab tiga pun mengandung hasil analisa dari penulis mengenai human
trafficking. Relevansi antara kasus dengan konsep – konsep teori pun dijabarkan secara terperinci
di sini. Selanjutnya bab empat, terdapat kesimpulan dan saran yang diberikan penulis untuk kasus
human trafficking di ke depannya. Kesimpulan yang diberikan merupakan inti daripada makalah
ini. Penulis menutup makalah ini dengan bab lima yang berisikan daftar pustaka. Sumber – sumber
yang didapatkan penulis baik dari buku maupun internet didata secara runut di bagian ini.




                                                2
                                           BAB I

                                     PENDAHULUAN

1.1 Perumusan Masalah
      Makalah ini berdasarkan CL (Collaborative Learning) bukan PBL (Problem Based
Learning). Oleh karena itu perumusan masalah disini bukanlah pemaparan dari suatu
masalah yang penulis ambil dan dicari solusinya namun merupakan suatu inti dari makalah
ini. Makalah ini membahas mengenai peranan konsep gender dalam pandangan
masyarakat, gender dan iman Kristen, masalah biasa gender dalam gereja, konsep keluarga
Kristen, memilih teman hidup, dan pernikahan dengan human trafficking.

      Di dalam masyarakat, masalah gender muncul setelah terjadi ketidakadilan gender.
Fenomena perbedaan gender adalah hal normal dan tidak masalah. Namun karena ada
nilai-nilai yang berkembang, yang dipandang merugikan salah satu gender sehingga
muncul ketidakadilan gender di hampir segala aspek. Seperti dalam kantor, masyarakat,
dan keluarga.

      Faktor penyebab ketidak adilan gender adalah stereotype-stereotype yang
menyudutkan perempuan. Jika stereotype-stereotype itu bersifat sama atau setara maka
tidak akan berkembang fenomena ketidakadilan gender, tetapi stereotype-stereotype ini
mayoritas bersifat negatif sehingga dipakai untuk menyerang seseorang atas nama gender.
Dalam kacamata iman kristen sendiri hal ini salah, karena dimata Tuhan, laki-laki dan
perempuan adalah sama.




1.2 Tujuan Penulisan

      Suatu hal dibuat karena memiliki tujuan, begitu pula dengan makalah yang dibuat
oleh penulis ini. Beberapa tujuan yang penulis miliki yaitu :

       1. Mahasiswa :
               Mahasiswa menjadi sadar akan keterkaitan antar gender, iman Kristen dan
                human trafficking.
               Diharapkan setelah mahasiswa mengetahui permasalah utama yang ada,
                mereka dapat memberikan peran aktif dalam penyelesaiannya.
                                             3
             Mahasiswa dapat segera melaporkan apabila melihat ataupun mengalami
              sendiri daripada ketidakadilan gender maupun human trafficking.
             Mahasiswa mengerti akan topik utama yang dibahas dalam makalah ini dan
              mengaplikasikannya sesuai dengan norma di kehidupan sehari – hari.


       2. Masyarakat :
             Agar masyarakat yang dalam hal ini merupakan subjek yang lebih luas
              sadar akan bahaya dan kerugian dari human trafficking yang bahkan bisa
              mengancam mereka pula.
             Masyarakat dapat mencari solusi dan alternatif untuk menyelesaikan
              permasalahan utama (human trafficking) secara bersama – sama.
             Masyarakat diharapkan dapat mengatakan tidak kepada human trafficking
              baik kepada pelaku maupun hal lainnya yang berhubungan dengan hal
              tersebut.


       Uraian – uraian di atas merupakan tujuan utama penulis. Tujuan – tujuan tersebut
tidaklah hanya terpaku kepada kedua subjek di atas, namun juga bagi semua orang yang
membaca makalah ini. Diharapkan pembaca – pembaca tersebut dapat mengerti akan topik
yang dibahas dalam makalah ini, sehingga kemudian dapat dengan lantang mengatakan
tidak kepada human trafficking.


1.3 Metode Penelitian
   Pada makalah ini, penulis menggunakan metode penelitian deskriptif analitis.
   Penelitian deskriptif analitis adalah metode penelitian yang berorientasi pada
   pemecahan masalah. Pengerjaan ini penulis mulai dengan mengumpulkan data dengan
   mencari sumber dari internet dan buku-buku. Data tersebutlah yang menjadi sumber
   dari kasus yang ada. Setelah kasus yang diambil dimengerti, maka kemudian
   dirumuskan. Setelah dirumuskan, penulis memilih teori – teori atau konsep – konsep
   yang dapat penulis jadikan landasan teoritis penelitian. Adapun kasus yang kami ambil
   adalah masalah human trafficking yang menfokuskan pada perempuan sebagai
   komoditi perdagangan. Penulis menjadikan teori gender dalam pandangan masyarakat,
   gender dalam iman Kristen, masalah bias gender dalam gereja, konsep keluarga
   Kristen, memilih teman hidup dan pernikahan sebagai sumber analisis. Pada metode


                                           4
    pengumpulan data, penulis menggunakan metode dokumentasi karena sumber teori
    berasal dari tulisan atau dokumen.


1.4 Sistematika Penulisan

      Dalam penulisan makalah ini, penulis membagi penulisan kedalam empat bab besar
yang terdiri dari: Pendahuluan, Kerangka Teoritis, Analisis Hasil Penelitian, dan Penutup.
Didalam empat bab tersebut masih akan diuraikan kedalam sub-sub bab yang akan lebih
spesifik.

      Dalam bab satu: pendahuluan. Penulis membagi kedalam lima sub-bab: latar
belakang, perumusan masalah, tujuan penulisan, metode penelitian, dan sistematika
penulisan. Lata belakang berisi motivasi penulis memilih topik bahasan yang akan diteliti.
Tujuan penulisan berisi maksud dari penelitian ini dilakukan. Metode penelitian berisi
cara-cara penulis meneliti topik masalah ini. Sistematika berisi petunjuk-petunjuk
penulisan karya Ilmiah.

      Dalam bab dua: kerangka teoritis. Kerangka teoritis berisi ulasan-ulasan dari hasil
fokus group masing-masing. Didalam bab dua, lebih banyak berisi teori-teori yang menjadi
landasan sub-bahasan masing-masing. Nantinya teori-teori dasar ini dijadikan dasar
pembahasan bab tiga.

      Dalam bab tiga: analisis hasil penelitian dibagi menajdi dua sub-bab: kolaborasi
keenam lingkup sub-pokok landasan, dan relevansi pembandingan kasus. Dalam tiga sub-
bab pertama, seluruh teori-teori dasar di satukan (dikolaborasikan) ke dalam satu kesatuan
untuk menjadi alat bahasan kasus.

      Bab empat: penutup. Ini adalah bagian terakhir makalah yang berisi kesimpulan dan
saran. Dalam kesimpulan terdapat rangkuman dari topik permasalahan tanpa disertai
solusi, hanya bagian akhir analisis berdasarkan teori-teori yang dikaitkan dengan topik
permasalahan. Makalah diakhiri dengan daftar pustaka.




                                            5
                                                BAB II

                                     KERANGKA TEORITIS




2.1 Gender dalam Pandangan Masyarakat

      Banyak orang yang masih mengartikan kata gender ini secara ambigu. Terdapat
beberapa hal yang menjadi penyebab ketidakjelasan arti gender yakni pertama karena kata
gender itu sendiri yang tidak memiliki kata khusus dalam Bahasa Indonesia dan kedua
belum ada uraian singkat yang mampu menjelaskan secara jelas mengenai konsep gender. 1
Gender harus dibedakan dengan jenis kelamin (sex), gender menurut Fakih adalah sifat
yang melekat pada kaum lelaki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial
maupun kultural.2 Sedangkan Macionis mengatakan gender sebagai ciri – ciri pribadi
ataupun posisi sosial dari suatu anggota masyarakat yang melekat yang menunjukkan dia
sebagai laki – laki ataupun perempuan.3 Dalam hal ini perempuan dianggap sebagai
makhluk yang lemah, emosional dan keibuan, sebaliknya laki – laki dikenal makhluk yang
kuat, jantan, dan perkasa.

      Suatu anggapan yang sudah terbentuk lama ini akhirnya menciptakan suatu
stereotype tersendiri bagi perempuan. Perempuan yang dianggap sebagai makhluk yang
lemah dianalogikan selalu dengan pekerjaan – pekerjaan administratif seperti sekretaris
maupun domestik seperti pekerjaan rumah tangga. Selain stereotype yang timbul yang
sangat memojokkan perempuan ini, muncul pula bentuk ketidakadilan gender lainnya
seperti subordinasi, marginalisasi perempuan, kekerasan, dan beban kerja yang tidak adil
bagi perempuan.

      Di dalam makalah ini, penulis akan menfokuskan ke dalam bentuk ketidakadilan
gender berupa kekerasan karena sangat berhubungan erat dengan kasus yang penulis ambil
yakni human trafficking. Kekerasan adalah serangan atau invasi (assault) terhadap fisik
maupun integritas mental psikologis seseorang (Fakih, 1995 : 17). Bentuk – bentuk
kekerasan gender dapat berupa fisik, psikis, seksual dan ekonomi. Kekerasan seksual


1
  Mansour Fakih, Menggeser Konsep Gender dan Transformai Sosial, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1996),
hal. 7
2
  Ibid., hal. 8.
3
  John J. Macionis, Sociology 12th edition, (USA : Prentice Hall, 2007), page. 330.

                                                   6
merupakan dasar dari human trafficking yang secara kuantitas kebanyakan korbannya
adalah perempuan.

          “Sexual harassment refers to comments, gestures, or physical contacts of a
    sexual nature that are deliberate, repeated, and unwelcome”. (Macionis, 2007 : 246)

     Secara garis besar kekerasan seksual yang disebabkan oleh bias gender ini
dikategorikan ke dalam delapan hal yaitu pertama bentuk pemerkosaan terhadap
perempuan, termasuk di dalamnya perkawinan. Hal ini terjadi apabila perempuan diminta
melayani suami tanpa kerelaan dari perempuan tersebut. Kedua, aksi pemukulan dan
serangan non fisik yang terjadi dalam rumah tangga. Ketiga, bentuk penyiksaan yang
mengarah pada organ alat kelamin (genital mutilation), misalnya penyunatan anak
perempuan. Keempat, prostitusi, prostitusi ini merupakan suatu mekanisme yang dibuat
yang merugikan kaum perempuan dimana perempuan dijadikan sebagai barang ekonomi.
Kelima, kekerasan dalam bentuk pornografi, sama dengan prostitusi, pornografi pun
menjadikan perempuan sebagai barang komoditi yang dapat dengan mudahnya
diperjualbelikan melalui perantaraan media. Keenam, kekerasan dalam bentuk pemaksaan
sterilisasi dalam bentuk keluarga berencana (enforced sterilization). Ketujuh, jenis
kekerasan terselubung (molestation) dimana digunakannya berbagai cara dan kesempatan
untuk menyentuh tubuh perempuan. Terakhir, yang kedelapan, tindak kejahatan pelecehan
seksual (sexual and emotional harassment) (Fakih, 1995 : 16 – 20).

     Faktor lain yang menjadi salah satu penunjang utama human trafficking adalah
subordinasi. Subordinasi inilah yang menciptakan adanya hirarki sosial dimana laki – laki
superordinat dan perempuan subordinat. Suatu anggapan bahwa perempuan irasional dan
lemah akhirnya membuat perempuan lebih mudah dimanfaatkan dan dijadikan sebagai
komoditi dalam human trafficking. Contoh lain gambaran subordinasi adalah ketika
pemerintah menerapkan suatu peraturan dimana seorang perempuan yang akan bekerja di
luar negeri haruslah mendapat perizinan dari suami, sebaliknya suami dapat menentukan
keputusannya sendiri.

2.2 Gender dan Iman Kristen

     Keberadaan laki-laki dan perempuan, dalam Alkitab, digambarkan bahwa
sebenarnya hakekat laki-laki dan perempuan adalah setara. Kejadian 1 ayat (27), Mazmur
8 ayat (59) menggambarkan bahwa Tuhan menciptakan manusia segambar dengan Allah.

                                            7
Dalam penafsiran penulis, bukan berarti Tuhan punya telinga dan sebagainya, tetapi
manusia selain merupakan anugerah sebagai mahkluk yang mulia, juga mempunyai
kewajiban       untuk       mencerminkan          citra      Allah       yang       mulia.
Dalam Kejadian 2 ayat (15-18) disebutkan ; "Tuhan menciptakan manusia di taman Eiden
untuk mengusahakan dan memelihara Eden. Penulis mempunyai penafisran baru bahwa
Eden itu bukan merupakan suatu tempat, tetapi merupakan sebuah kondisi, yang kita
sebagai orang yang beriman menggambarkannya sebagai salam, salom,sahdu dan sandu.
Suasana di mana relasi manusia dengan Allah, relasi manusia dengan sesama, dengan
lingkungan terjadi harmonisasi. Ditegaskan khususnya dalam di Kejadian 2 ayat (18);
"Tidak baik manusia itu seorang diri saja, aku memberikan penolong yang sepadan dengan
dia." Teks ini secara tradisional ditafsirkan hadirnya seorang perempuan bagi laki-laki.
Sedangkan dalam hal panggilan untuk melayani kalau dulu dalam tradisi, perempuan
diletakkan dalam posisi sub ordinat, kemudian muncul feminisme yang memperjuangkan
kesejajaran gender, apakah ada pengaruh dari ajaran agama sehingga muncul pergerakan
kesejajaran gender? Tidak sependapat hal itu pengaruh dari ajaran agama. Kemunculan
pergerakan itu karena kepenatan manusia. Ketika orang penat terhadap penindasan, maka
perjuangan, semangat berontak itu muncul.

     Paulus sangat mendasari integritas keabsahan dan keefektifan pelayanan atas dasar
suri teladannya dan kehidupannya. Baik perempuan maupun laki-laki harus memberikan
suri teladan yang indah sehingga orang di luar dapat melihat kesaksian hidup kita,
kesetiaan kita, dan kesanggupan kita. Tidak ada perbedaan dalam hal melayani, tidak
melihat apakah perempuan maupun laki-laki.

2.3 Masalah Bias Gender dalam Gereja

     Isu-isu marginalisasi, subordinasi, dan stereotype telah ada di dalam masyarakat
sejak lama dan masih ada sampai di zaman modern saat ini. Isu-isu tersebut bukan hanya
terjadi di dalam masyarakat, namun juga terjadi di dalam gereja. Salah satu isu tersebut
berhubungan dengan peran gender dalam gereja. Masih adanya perbedaan-perbedaan
gender dalam gereja yang bersifat bias. Bias gender ini terjadi karena adanya masalah
wiradati (cultural-natural) yaitu apa yang diposisi-diposisi kepriaan dan kewanitaan akibat
tafsir manusiawi yang membudaya dalam kehidudapan berbangsa baik dalam bidang
politik, budaya, pendidikan, ekonomi. Tafsiran atas kodrat kepriaan dan kewanitaan inilah
yang menjadi bias.

                                            8
     Di dalam gereja sendiri ada anggapan tidak langsung bahwa wanita lebih lemah.
Anggapan seperti ini pernah terlihat dalam salah satu liturgika paskah salah satu gereja.
Dalam liturgika tersebut ada kalimat responsoria kaum bapak yang berbunyi: “ampunilah
kami karena membiarkan isteri kami mencari nafkah”. Kalimat ini memberi kesan seakan-
akan bekerja mencari nafkah merupakan mutlak kewajiban suami dan jika membiarkan
isteri mencari nafkah merupakan perbuatan dosa.

     Perbedaan peran gender dapat juga dilihat ke dalam struktur gereja itu sendiri yaitu
mengenai peranan antara pendeta pria dan pendeta wanita. Dibeberapa gereja, jemaat
masih memiliki pandangan stereotype terhadap pendeta wanita. Ada anggapan bahwa
wanita lebih lemah, kurang dapat menjaga rahasia, dan terlalu sentimental, terlihat dari
sikap beberapa jemaat yang tidak sepenuhnya percaya dan menomorduakan pendeta
perempuan.

     Keadaan ini bisa terjadi akibat kebudayaan awal dari masyarakat yang umumnya
menjadikan pria sebagai pemimpin, sehingga bila ada wanita yang berperan sebagai
pemimpin dianggap liberalisme dan penyimpangan terhadap tatanan sosial-budaya.
Penyebab lainnya adalah penafsiran yang terlalu harfiah terhadap ayat-ayat Alkitab yang
bias gender. Misalnya dalam kitab Kejadian dikisahkan bahwa Hawa-lah yang terlebih
dahulu memetik buah terlarang. Hal ini menjadi alasan bahwa wanita adalah sumber dosa.
Apakah benar begitu? Hawa kemudian dihukum oleh Allah yaitu “Engkau akan berahi
kepada suamimu dan ia akan berkuasa kepadamu.” Dalam konteks ini kata “berkuasa”
sering diindikasi sebagai penguasaan harafiah sehingga wanita harus tunduk terhadap pria.
Penafsiaran ayat-ayat Alkitab seperti itu semata-mata hanya akan memojokkan wanita.

     Namun apakah benar Alkitab sedemikian memojokkan wanita sehingga dalam
prakteknya – bahkan dalam gereja sendiri – wanita seakan-akan memiliki peran di bawah
pria? Bila ditelaah lebih jauh, Alkitab sama sekali tidak bermaksud memojokkan wanita.
Dalam kitab Kejadian, hukuman Allah kepada Hawa bahwa suaminya akan berkuasa atas
dirinya bukan berarti bahwa sang suami memiliki hak mutlak untuk kekuasaan secara
mutlak, melainkan pria akan berperan mengkoordinasi atau mengepalai rumah tangga.
Ayat-ayat bias gender dalam Alkitab juga terjadi karena adanya pengaruh paradigma
budaya Timur Tengah yang menganggap derajat wanita lebih rendah dari pada pria. Dalam
kultur Yahudi saat itu, Hukum Taurat tidak diperkenankan untuk diajarkan kepada kaum
wanita; pria Yahudi dilarang berbicara dengan wanita di tengah jalan; dan penggunaan
wanita untuk keperluan birahi saja.

                                           9
     Yesus sendiri menentang hal ini. Ia memberi teladan untuk berlaku hormat terhadap
setiap wanita bahkan terhadap pelacur sekalipun. Yesus memulihkan martabat wanita
dengan berbagai cara: Ia bukan hanya mengajar kaum pria namun juga kaum wanita (saat
Maria dari Betania duduk di dekat kaki Yesus untuk mendengar ajaran-Nya), Ia
mengampuni perempuan yang kedapatan berzinah, Ia berbicara dengan wanita Samaria
yang berdosa di sumur Yakub, dan yan gpaling penting adalah Ia memberi penghormatan
kepada kaum wanita untuk menjadi saksi pertama atas kebangkitan-Nya (Maria yang
mengunjungi makam Yesus). Teladan-teladan Yesus tersebut menunjukkan betapa
sebenarnya Yesus sendiri memperlakukan wanita dan pria sederajat.
2.4 Konsep Keluarga Kristen

     Gender mencangkup aspek psikologi, sosial, dan budaya tentang maskulin dan
feminism (Kessler dan McKenna 1978:7).

     Didalam keluarga sendiri, setidaknya ada 10 faktor penentu suksesnya keluarga
menurut Lewis M. Terman:

           1. Faktor kebahagiaan orang tua pasangan tersebut.
           2. Kebahagiaan masa anak-anak.
           3. Tidak ada konflik dengan ibu mereka.
           4. Peraturan rumah yang disiplin namun tidak mengekang.
           5. Kedekatan dengan ayah.
           6. Kedekatan dengan ibu.
           7. Tidak ada konflik dengan ayah.
           8. Keterusterangn orangtua terhadap sebuah jenis kelamin atu sex.
           9. Kurangnya frekuensi hukuman pada masa kecil.
           10. Pensosialisasian tentang tata laku bebas dari pelecehan seksual.

       Jika dipandang dari sudut iman Kristen, sebuah keluarga yang ideal adalah yang
menganalogikan keluarga seperti tubuh kristus. Yesus sebagai kepalanya, dan badan serta
anggota tubuh lainnya adalah keluarga itu sendiri. Sehingga apapun yang dilakukan
keluarga tersebut seperti apa yang Tuhan kehendaki.

2.5 Memilih Teman Hidup

     Manusia diciptakan Tuhan untuk hidup bersama dengan orang lain. Tuhan
menghendaki manusia untuk saling berinteraksi dan bergaul dengan sesamanya. Tuhan

                                            10
menghendaki manusia itiu untuk hidup saling berpasang-pasangan atau dengan kata lain
setiap manusia memiliki pasangan hidup.

     Kunci untuk memilih pasangan hidup yang tepat adalah carilah seseorang yang
berkarakter baik, bukan kepribadiannya saja yang baik. Sebab karakter akan menentukan
cara ia memperlakukan dirinya, pasangannya dan anak-anaknya suatu hari kelak. Karakter
adalah dasar dari setiap hubungan yang sehat.

     Terdapat beberapa kriteria yang menjadi patokan dalam memilih teman hidup yaitu
seiman, memiliki orientasi hidup, memiliki prinsip hidup, memiliki kehidupan rohani yang
baik, memiliki tanggungjawab terhadap dirinya sendiri, memiliki visi dan misi yg sama
dengan pasangan .

     Dengan memenuhi hal – hal diatas diharapkan pasangan – pasangan tersebut kettika
membangun sebuah keluarga menjadi keluarga yang memang sesuai dengan kehendak
Tuhan .

     2.6 Pernikahan

       Alkitab dengan jelas menginformasikan bahwa Tuhanlah yang menjadi inisiator
dan perancang sebuah pernikahan atau lembaga keluarga. Keinginan untuk membentuk
dan membangun keluarga merupakan keinginan Allah. Pernikahan yang dirancang dan
ditetapkan Allah itu bertujuan untuk memberikan kebaikan dan kebahagiaan bagi manusia.
Pernikahan yang dikehendaki Allah hanya boleh terjadi di antara seorang manusia
perempuan dengan manusia laki-laki. Alkitab juga menegaskan bahwa pasangan kristen
adalah pasangan yang seiman (2 Korintus 6:14).

       Pernikahan ada untuk memuliakan nama Tuhan. Keluarga dalam pernikahan
diciptakan untuk membawa kemuliaan dan hormat bagi Allah. Keluarga harus dibangun
dengan dasar bangunan Tuhan Yesus Kristus. Sebagai keluarga kristen haruslah
mempraktekkan hidup di dalam kasih Allah dan membawakan kasih itu bagi keluarga-
keluarga lainnya.

       Untuk mencapai kebahagiaan dalam pernikahan, sejak semula Allah tidak pernah
merancangkan jalan apapun untuk peceraian. Cinta kasih dalam rumah tangga akan
menyelamatkan sebuah pernikahan dari keinginan untuk bercerai. Alkitab dengan tegas



                                           11
mengatakan bahwa pernikahan yang telah dibangun dengan cinta harus berlangsung untuk
selamanya dan hanya dapat dipisahkan oleh maut.




                                         12
                                         BAB III

                            ANALISIS HASIL PENELITIAN




3.1 Kolaborasi Keenam Lingkup

     Dari keenam lingkup pembahasan yang terkumpul pada bab dua, penulis akan
mengkolaborasikan menjadi satu teori dasar yang akan menjadi rujukan membahas
permasalahan yang ada. Masalah yang akan dibahas adalah perdagangan manusia, namun
dilihat dari sudut geder, iman Kristen dan keluarga Kristen.

     Dari sudut gender, masalah perdagangan manusia lebih dominan terjadi pada wanita.
Atas alasan gender wanita yang lebih lemah, lebih lembut, pasif dan penurut sehingga
disalah gunakan oleh kelompok-kelompok yang ingin mendapat keuntungan. Umumnya
berurusan dengan pekerjaan, dominan dilakukan laki-laki, Maka dari itu ada fenomena
laki-laki mengeksploitasi perempuan.

     Hal ini dipandang salah oleh gereja. Karena dalam gereja alasan wanita sebagai
kaum yang lebih lemah, bukan untuk dieksploitasi. Namun justru harus dilindungi dan
dijaga kesuciannya. Beberapa firman juga sering disalah artikan oleh beberapa orang yang
megira kaum perempuan itu kaum yang disalahkan. Sebagai contoh, hawa(perempuan
pertama) yang jatuh ke dalam dosa dengan mengambil buah pengetahuan yang baik dan
yang jahat. Padahal dalam hal ini, laki-laki juga salah karena tidak menjaga istri dan juga
ikut memakan buah tersebut.

     Dari sudut keluarga Kristen sendiri, ekspoitasi perempuan dalam soal seks adalah
dosa. Tuhan yang menciptakan institusi keluarga, dengan maksud memuliakan nama-Nya.
Namun, dalam kasus perdagangan wanita yang dieksploitasi seks-nya tidak akan
menciptakan keluarga yang di kehendaki Tuhan. Pihak wanita yang menjadi korban karena
mereka tidak berhak diperlakukan semena-mena atas dasar gender. Karena itu, sebuah
keluarga Kristen yang baik adalah keluarga yang pasangannya seimbang, seiman, dan
memuliakan Tuhan lewat kasih sayang antara suami istri, anak dan orang tua.

     Dari kolaborasi ini, penulis menyimpulkan perdagangan wanita dalam eksploitasi
seks adalah dosa dan tidak menciptakan institusi keluarga yang di kehendaki Tuhan.

                                            13
3.2 Relevansi Pembahasan dengan Kasus

      “Belakangan ini, marak sekali kasus perdagangan orang yang terjadi di negara
Indonesia. Hal ini ditunjukkan oleh Data Badan Reserse Republik Indonesia yang
menunjukkan pada tahun 2005 ada 71 kasus perdagangan orang dengan korban 125 orang
dewasa dan 18 anak, tahun 2006 ada 84 kasus dengan korban 496 orang dewasa dan 129
anak, serta pada 2007 ada 123 kasus dengan korban 210 orang dewasa dan 71 anak. Jadi
bisa dilihat bukan hanya orang dewasa terutama wanita saja yang menjadi koarban tetapi
anak-anak juga banyak yang menjadi korban perdagangan orang. Namun data-data ini bisa
diibaratkan sebagai fenomena gunung es. Yang terlihat hanya ratusan tetapi yang tidak
terlihat mencapai ribuan orang yang bukan hanya dilakukan oleh warga negara Indonesia
asli saja tetapi juga warga negara lain.”




      Beberapa perdagangan anak yang terjadi dilakukan langsung oleh orang tua kandung
si anak tersebut. Alasan yang sering muncul karena motif ekonomi. Karena merasa tidak
sanggup membiayai hidup si anak, orang tua tega menjual anaknya sendiri. Tuhan Allah
menghendaki bahwa dalam setiap keluarga baik ayah, ibu maupun anak harus saling
mengasihi, bisa mewujudkan keluarga yang bahagia. Tetapi karena beberapa faktor, orang
tua tega menjual anaknya sendiri. Ini berarti ia telah melanggar kehendak Allah. Anak
adalah berkat dan anugrah yang diberikan Allah kepada manusia. Kita sebagai manusia
harus menghargai dan menjaga anugerah yang diberikan Allah tersebut. Jadi tidak
seharusnya perdagangan anak dilakukan.

      Banyak orang yang menjual anaknya sendiri menganggap bahwa ia melakukannya
karena ia tidak mampu membahagiakan anak-anaknya karena ekonominya yang kurang.
Padahal dasar keluarga yang tertulis di Alkitab adalah dasar keluarga yang berbahagia
adalah kepercayaan dan kasih seorang suami terhadap istri dan anaknya dan sebaliknyadan
penghargaan hormat istri terhadap suaminya. Jadi kebahagiaan bukan hanya dilihat dari
faktor ekonomi saja.




                                            14
     Salah satu bentuk perdagangan orang adalah adanya praktik kawin kontrak yang
marak terjadi saat ini. Dimana antara pihak wanita dan pihak pria membuat suatu
perjanjian pernikahan yang dibatasi oleh waktu tertentu misalnya satu atau dua tahun.
Berdasarkan fenomena ini pernikahan ini sebagai hal yang melanggar keinginan Allah.
Keinginan untuk membentuk dan membangun keluarga merupakn keinginan Allah.
Pernikahan yang dirancang dan ditetapkan Allah itu bertujuan untuk memberikan
kebaikan dan kebahagiaan bagi manusia. Dengan demikian kita harus memilih teman
hidup yang sepadan dan dikehendaki Allah karena untuk membentuk dan membangun
sebuah rumah tangga merupakan keinginan hati Allah untuk kebaikan manusi yang telah
diciptakan-Nya.

     Allah juga menghendaki pernikahan yang sekali seumur hidup bukan pernikahan
yang hanya satu atau dua bulan seperti yang terjadi pada kawin kontrak. Karena di dalam
Alkitab telah disebutkan bahwa pernikahan itu hanya bisa dipisahkan oleh maut. Dan
ketika kawin kontrak terjadi tentu pelaku kawin kontrak tidak memilih calon pasangannya
sesuai dengan kriteria pasangan hidup yang ada di dalam kristen. Pelaku yang melakukan
kawin kontrak bisa saja hanya melihat fisik calon pasangannya. Perkawinan ini dilakukan
hanya untuk memuaskan hawa nafsu saja bukan karena dorongan kasih sayang diantara
kedua orang tersebut.

     Melihat kasus perdagangan orang yang terjadi saat ini tentu kita bisa melihat bahwa
kasus ini banyak terjadi pada perempuan. Ini adalah suatu bukti bahwa terdapat
ketidakadilan gender di dalam masyarakat. Perempuan menjadi pihak yang tertindas dan
yang menjadi korban dari berbagai macam ketidakadilan. Hal ini sedikit banyak
mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap perempuan. Masyarakat memandang
perempuan kedudukannya lebih rendah di dalam masyarakat.




                                          15
                                        BAB IV

                                       PENUTUP




4.1 Kesimpulan

      Seharusnya, orang tua menjaga anaknya, tidak diperjual-belikan demi ekonomi atau
yang lainnya. Karena itu adalah ciptaan dan anugerah Tuhan.

      Setiap laki-laki tidak seharusnya memandang kedudukan perempuan lebih rendah
dari kedudukan laki-laki karena hal ini dapat mengakibatkan ketidakadilan gender.
Contohnya kasus perdagangan wanita dalam bentuk kawin kontrak.

      Karena didalam alkitab tertulis, “Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-
laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari
Allah.” (1 korintus 11: 12).

      4.2 Saran

      Sebaiknya, laki-laki tidak merendahkan perempuan dari laki-laki. Seperti firman
Tuhan, “Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki
dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah.” (1 korintus 11: 12).
Dalam keluarga, suami mengasihi istrinya, istri menghormati suaminya, “…Kasihilah
isterimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya.”(Efesus 5:
33b). mengenai istri yang baik tertuang dalam Amsal 31: 10-31.

      Untuk negara, Indonesia perlu usaha besar dalam menangkap pelaku yang
mengambil keuntungan dari perdagangan manusia ini. Dan juga, perlu biaya besar yang
diatur Negara dalam merawat, merehabilitasi dan menjaga korban perdagangan, tanpa
bersandar besar pada donor internasional.(2007 US Department of State Trafficking in
Persons Report)

      Untuk gereja, perlu usaha dari gereja agar firman-firman yang dipakai tidak disalah
artikan sehingga mengakibatkan sosialisasi nilai-nilai gender yang salah, kurang tepat.




                                           16
Jadi, gereja sebaiknya menambah jumlah khotbah soal gender sehingga firman-firman bias
diulas dan jemaat mengerti bahwa laki-laki dan perempuan kedudukannya sama.




                                         17
                                          BAB V

                                  DAFTAR PUSTAKA




Fakih, Mansour. 1996. Menggeser Konsep Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar.

Kessler, J. Suzanne and Wendy McKenna. 1978. Gender : An Ethnomethodological
Approach. USA : The University of Chicago Press.

Macionis, John J. 2007. Sociology 12th edition. USA : Prentice Hall.

Weymann, Dorothy Mason. 2009. Thus Saith God’s Word. Jakarta : Immanuel.

http://cfis.uii.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=47&Itemid=87 (diakses 8
Maret 2010, 22 : 33)




                                            18

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:6219
posted:6/26/2010
language:Indonesian
pages:18