Docstoc

BUKU PROFIL KABUPATEN PENERIMA THROPY RAKSANIYATA DAN PENGHARGAAN

Document Sample
BUKU PROFIL KABUPATEN PENERIMA THROPY RAKSANIYATA DAN PENGHARGAAN Powered By Docstoc
					PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU



                                                                  KATA PENGANTAR


Program Menuju Indonesia Hijau merupakan instrumen pengawasan kinerja
Pemerintah Kabupaten dalam penaatan peraturan perundang-undangan di bidang
konservasi sumber daya alam dan pengendalian kerusakan lingkungan.

Pada tahun 2009, melalui Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor
564 Tahun 2009 tentang Penerima Penghargaan Raksaniyata Tahun 2009,
ditetapkan 11 kabupaten penerima penghargaan, yakni:

   A. Penghargaan Trophy Raksaniyata
      1. Kab. Fak-fak, Provinsi Papua Barat
      2. Kab. Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku
      3. Kab. Sarolangun, Provinsi Jambi
      4. Kab. Maluku Tengah, Provinsi Maluku
      5. Kab. Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah
      6. Kab. Buleleng, Provinsi Bali

   B. Penghargaan Piagam Raksaniyata
      1. Kab. Berau, Provinsi Kalimantan Timur
      2. Kab. Pasir, Provinsi Kalimantan Timur
      3. Kab. Jombang, Provinsi Jawa Timur
      4. Kab. Kuantan Singingi, Provinsi Riau
      5. Kab. Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat

Untuk keperluan publikasi dan sosialisasi, disusun Buku Profil Penerima
Penghargaan Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009. Dengan harapan hal-hal
terkait dengan upaya yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten penerima
penghargaan, apabila sesuai dengan kondisi di daerah lain dapat menjadi
rujukan atau sebagai perbandingan.

Semoga buku ini bermanfaatkan bagi kabupaten lainnya, terutama dalam
pelaksanaan Program Menuju Indonesia Hijau.


                                                               Jakarta, Oktober 2009

                                                                   Deputi III MENLH
                                             Bidang Peningkatan Konservasi SDA dan
                                                Pengendalian Kerusakan Lingkungan,



                                                        Dra. Masnellyarti Hilman, MSc.




Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                        1
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU




                  Trophy Raksaniyata

ARTI DAN MAKNA “RAKSANIYATA”

ARTI:
Raksaniyata terdiri dari 2 kata, yakni Raksa dan Niyata
Raksa (Sansekerta) = Perlindungan
Niyata (Sansekerta) = Dikendalikan

MAKNA:
Penghargaan bagi pemerintah kabupaten yang dinilai berhasil
melakukan PENGENDALIAN kerusakan lingkungan untuk
MELINDUNGI kehidupan dan meningkatkan pendapatan
masyarakat




Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009   2
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU




                         Kabupaten Penerima
                         Trophy Raksaniyata
                                2009




             Kabupaten Fak-fak, Provinsi Papua Barat
          Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku
               Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi
            Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku
       Kabupaten Banggai Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tengah
                 Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali




Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009   3
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU


1. Kabupaten Fak-fak, Provinsi Papua Barat
  A. Kinerja Dalam Program Menuju Indonesia Hijau
      Penerima Trophy Raksaniyata : Tahun 2007 dan 2008

  B. Gambaran Umum Wilayah
     Kabupaten Fak-fak memiliki luas wilayah 14.320 Km2 dengan penduduk
     sekitar 68.276 jiwa (tahun 2008). Daerah ini secara topografis kondisi
     alamnya bervariasi mulai dari bertebing curam sampai dengan dataran.
     Lahan dengan kemiringan lereng >40% tersebar di wilayah pegunungan.
     Sedangkan lahan datar dengan kemiringan 0–15% terdapat di wilayah
     bagian tengah dan lahan bergelombang dengan kemiringan 16–25%
     terdapat di daerah pesisir. Dengan demikian daerah kabupaten Fak-fak
     memiliki 3 (tiga) karakteristik wilayah yaitu; wilayah pegunungan, pesisir
     dan pulau.
     Dalam pembangunan lingkungan hidup, Kabupaten Fak-fak menerapkan
     konsep dengan membagi 2 (dua) zona, yaitu; (1) Zona atas (hulu: hutan
     lindung, hutan cagar alam, hutan konversi, daerah resapan/daerah
     penyangga, (2) Zona Bawah (hilir: budidaya kehutanan dan perkebunan,
     pengembangan pelayanan umum, jasa pemerintahan dan pemukiman).

  C. Tutupan Vegetasi Berhutan
     Dari interpretasi citra Landsat
     tahun 2009, sekitar 93% dari
     wilayah Kab. Fak-fak berupa
     tutupan vegetasi berhutan.


                                Gambar 1.
                Tutupan Lahan Kab. Fak-fak
                               Tahun 209




       Tabel 1. Tutupan Lahan Kab. Fak-fak Tahun 2009
        TUTUPAN LAHAN             LUAS (HA)      %
       Hutan Primer             1.014.608,65    90,75
       Hutan Sekunder              17.844,03     1,60
       Mangrove                     4.066,76     0,36
       Kebun Campuran               3.855,34     0,34
       Perkebunan                      31,57     0,00
       Permukiman                   1.492,02     0,13
       Rawa                         2.351,27     0,21
       Semak/Belukar                1.653,05     0,15
       Tanah Terbuka               65.916,91     5,90
       Tegalan/Ladang               2.696,12     0,24
       Tubuh Air                    3.513,25     0,31
       TOTAL                    1.118.028,97 100,00

       Berdasarkan tutupan vegetasi berhutan tersebut, kondisi pada masing-
       masing kawasan lindung yakni pada kawasan Hutan Lindung terdapat 96%
       yang berhutan, kemiringan lereng >40% terdapat 94% berhutan,


Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                 4
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

       sempadan pantai 81% berhutan, sempadan sungai 80% berhutan dan
       sekitar danau 60% berhutan.

                                                     Gambar 2. Kondisi Tutupan Vegetasi
                                                     pada Kawasan Hutan Lindung,
                                                     Sempadan Sungai dan Sempadan
                                                     Pantai di Kab. Fak-fak
                                                     Kawasan Hutan Lindung
                                                     (Didominasi oleh tanaman kayu,
                                                     seperti mahoni, bawang, besi dll)




                                                     Sempadan Sungai
                                                     (Vegetasi kelapa, sagu dan
                                                     mangrove)




                                                     Sempadan Pantai
                                                     (Vegetasi mangrove, kelapa,
                                                     ketapang, mangga, dengan tutupan
                                                     kanopi rapat. Sebagian pantai
                                                     berbatasan langsung dengan hutan
                                                     alam)




  D. Keanekaragaman Hayati
     Di wilayah Kab. Fak-fak terdapat 19
     jenis tumbuhan dan 43 jenis satwa
     yang dilindungi. Tumbuhan yang ada               Anggrek
     seperti jenis-jenis anggrek, damar,                bulan
     dan gaharu. Sedangkan satwa seperti
     berbagai burung cendrawasih, kakatua
     raja, kakatua putih, nuri merah kepala
     hitam,    jambul     kuning,   kasuari,
     berbagai jenis buaya, berbagai jenis              Duyung
     kupu-kupu, serta rusa, kuskus,
     kangguru, ular, landak dan duyung.
                                                                                Gambar 3.
                                  Salah Satu Tumbuhan dan Satwa Dilindungi di Kab. Fak-fak

       Dengan kondisi tutupan vegetasi yang sebagian besar masih berhutan,
       perairan darat dan laut yang kualitas lingkungannya masih baik, menjadi
       habitat bagi kelangsungan kehidupan tumbuhan dan satwa yang dilindungi
       tersebut. Salah satu habitat tumbuhan dan satwa tersebut di Cagar Alam
       Pegunungan Fak-Fak.



Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                              5
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

       Pemanfaatan tumbuhan dan satwa dilindungi tersebut, setiap pengumpul
       harus mendapatkan ijin dari Balai KSDA setempat, dan harus ikut usaha
       melestarikan melalui pembudidayaan atau penangkaran.

  E. Peranserta Masyarakat
     1) Kearifan Lokal
        Masyarakat lokal Fak-fak memiliki kearifan berupa upacara adat ”kera-
        kera” dalam melestarikan lingkungan
        hidup di wilayahnya. Upacara adat
        ”kera-kera” tersebut berupa larangan
        menebang dan memetik hasil dari
        pohon yang masih dianggap belum
        tua/matang. Setiap 20 ha luas wilayah
        dipasang satu tanda larangan (kera-
        kera).
                                           Gambar 4.
                           Tanda Larangan (kera-kera)

          Sebagaimana masyarakat papua pada umumnya, masih memiliki hak
          ulayat dalam mengelola hutan. Hak ulayat tersebut berupa masyarakat
          dapat mengambil hasil hutan (seperti berupa pala) sebagai sumber
          pendapat masyarakat.

                                             Gambar 5.
                                 Masyarakat di Sekitar Hutan Raduria




                   Bebarapa anggota masyarakat      Pala basah yang belum dipisahkan
                  sedang memanen pala di Hutan               dari bunganya
                             Raduria


       2) Masyarakat Peduli
          Di wilayah Kab. Fak-fak, juga memiliki potensi laut yang bernilai
          komersil, salah-satunya ikan duyung yang langka sebagai daya tarik
          wisatawan mancanegara dan lokal. Potensi wisata ini dikelola oleh
          masyarakat setempat di Kampung Kiat, Kecamatan Fak-fak Barat.

  F. Ekonomi Masyarakat
     Perekonomian masyarakat Fak-fak masih mengandalkan sektor primer
     (pertanian, perkebunan dan perikanan). Dari ketiga sektor tersebut,
     perkebunan merupakan kontribusi tertinggi. Lahan perkebunan, terdapat
     seluas 5.822 ha yang dikelola oleh 5.497 KK (data tahun 2004), dengan
     komoditi pala (3.983 ha), cengkeh (565 ha), kopi (42 ha), kelapa (780 ha),
     kakao (155 ha) dan jambu mede (297 ha).

  G. Upaya Pemerintah Kabupaten
     Untuk mendukung agar tutupan vegetasi berhutan dapat dipertahankan,
     Pemkab Fak-fak menetapkan berbagai kebijakan, seperti:

Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                           6
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU




       1) Peningkatan kapasitas lembaga adat
          Keberadaan masyarakat adat dan pranata
          adatnya seperti ”kera-kera” dan ”hak ulayat”
          memberikan kontribusi terhadap kelestarian
          hutan. Untuk memperkuat kuat lembaga
          tersebut, Pemkab melakukan berbagai kegiatan
          melalui pembinaan, pelatihan dan bantuan
          tanaman produktif.
                                                      Gambar 6.
                                      Tanda Larangan ”Kera-kera”

       2) Pengembangan Agroforestri
          Pada umumnya masyarakat di Kab. Fak-fak sangat konservasionis, ini
          dapat dilihat dari upaya mereka menjadikan lahan disekitar tempat
          tinggalnya untuk penanaman berbagai jenis tanaman buah. Hampir
          semua masyarakat melakukan kegiatan penanaman pohon terutama
          pohon pala. Kegiatan semacam ini merupakan telah menjadi budaya
          secara turun temurun.
          Untuk meningkatkan ekonomi masyarakat tersebut, Pemkab
          mengembangkan agroforestri melalui bantuan berbagai tanaman yang
          memiliki nilai ekonomi dan konservasi.




Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009              7
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

2. Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku
  A. Kinerja Dalam Program Menuju Indonesia Hijau
       Penerima Trophy Raksaniyata : Tahun 2007 dan 2008

  B. Gambaran Umum Wilayah
     Kabupaten Seram Bagian Barat mempunyai luas wilayah sekitar 84.181 km2
     (92,30% wilayah laut dan 7,70% berupa daratan), dengan jumlah penduduk
     sebanyak 156.356 jiwa. Secara morfologis wilayah Kab. Seram Bagian Barat
     merupakan gugus pulau yang terdiri dari 33 pulau (7 pulau berpenghuni dan
     26 pulau tidak berpenghuni).
     Potensi sumberdaya alam di Kab. Seram Bagian Barat meliputi komoditi laut
     dengan produksi pada tahun 2005 mencapai 11.778 ton senilai 25,3 milyar.
     Sedangkan dari potensi lahan pertanian didominasi oleh tanaman buah
     pisang (16.425 ha), duku/langsat (6.110 ha), salak (6.775 ha), cengkeh
     (5.374 ha), kelapa (3957 ha), jeruk, durian dan coklat.

  C. Tutupan Vegetasi Berhutan
     Dari hasil interpretasi citra Landsat
     tahun 2009, 83% dari luas wilayah
     daratan merupakan tutupan vegetasi
     berhutan.


                                     Gambar 19.
                             Peta Tutupan Lahan
                     di Kab. Seram Bagian Barat
                                     Tahun 2009


     Tabel 5.
     Tutupan Lahan di Kab. Seram Bagian Barat Tahun 2009
      TUTUPAN LAHAN              LUAS (HA)         %
       Hutan Primer                 279.279,07 60,06
       Hutan Sekunder               108.763,58 23,39
       Mangrove                       2.629,47   0,57
       Kebun Campuran                37.239,21   8,01
       Permukiman                       702,42   0,15
       Rawa                             736,82   0,16
       Semak/Belukar                 30.197,17   6,49
       Tanah Terbuka                  1.304,62   0,28
       Tegalan/Ladang                   429,84   0,09
       Tubuh Air                      3.743,75   0,81
       TOTAL                        465.025,95 100,00

     Berdasarkan kondisi tutupan vegetasi berhutan tersebut, pada kawasan
     hutan lindung terdapat 92% berhutan dan kelerengan >40% terdapat 89%
     berhutan. Sedangkan pada sempadan pantai hanya terdapat 37% dan
     sempadan sungai 61%.



Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                8
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

       Pulau Marsegu atau pulau kelelawar merupakan kawasan hutan lindung
       dengan luasan 240,20 Ha. Setengah dari Pulau ini merupakan daerah
       hutan mangrove dari jenis Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata,
       Brugueira gymnorrhiza, Brugueira sexangula, Ceriops tagal, Xylocarpus
       mollucensis, Xylocarpus granatum, Heritiera littoralis, Lumnitzera littorea,
       Aegiceras corniculatum, Excoecaria agallocha, Pemphis acidula dan
       Scyphiphora hydrophyllacea.


                                                   Gambar 20
                                                   Sempadan Sungai dan Pantai
                                                   Di Kab. Seram Bagian Barat

                                                   Sungai Kaliate
                                                   (±213 buah sungai besar dan kecil.
                                                   Tutupan vegetasi terutama berupa kebun
                                                   masyarakat yang sebagian besar berupa
                                                   kelapa, pisang, mahoni, jati dan bambu
                                                   serta sagu.




                                                   Pantai Pulau Osi
                                                   Tutupan vegetasi merupakan vegetasi
                                                   pantai (rhizopora, avicenia, pandan
                                                   pantai, dll) serta kelapa.




  D. Keanekaragaman Hayati
     Kab. Seram Bagian Barat mempunyai kekayaan hayati yang sangat
     beragam. Keanekaragaman hayati tersebut sebagain besar berada di dalam
     kawasan konservasi, seperti Cagar Alam Marsegu dan cagar Alam Pulau
     Kasa serta beberapa hutan lindung. Beberapa jenis tumbuhan di taman
     nasional ini antara lain tancang (Bruguiera sexangula), bakau (Rhizophora
     acuminata), api-api (Avicennia sp.), kapur (Dryobalanops sp.), pulai (Alstonia
     scholaris), ketapang (Terminalia catappa), pandan (Pandanus sp.), meranti
     (Shorea selanica), benuang (Octomeles sumatrana), matoa/kasai (Pometia
     pinnata), kayu putih (Melaleuca leucadendron), berbagai jenis anggrek, dan
     pakis endemik (Chintea binaya). Selain itu terdapat juga berbagai jenis
     burung, dimana       diantaranya endemik seperti kesturi ternate (Lorius
     garrulus), nuri tengkuk ungu/nuri kepala hitam (L. domicella), kakatua Seram
     (Cacatua moluccensis), raja udang (Halcyon lazuli dan H. sancta), burung
     madu Seram besar (Philemon subcorniculatus), dan nuri raja/nuri ambon
     (Alisterus amboinensis).
     Satwa lainnya di taman nasional ini adalah kuskus (Phalanger orientalis
     orientalis), soa-soa (Hydrosaurus amboinensis), babi hutan (Sus
     celebensis), luwak (Pardofelis marmorata), kadal panama (Tiliqua gigas


Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                             9
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

     gigas), duyung (Dugong dugon), penyu hijau
     (Chelonia mydas), dan berbagai jenis kupu-
     kupu.

     Pemanfaatan secara lestari sudah dilakukan
     meskipun     sangat   terbatas,     seperti:
     ekowisata (CA. Marsegu), penelitian dan
     pemanfaatan tradisional untuk tanaman
     obat. Ancaman yang ada adalah: kerusakan
     habitat akibat penebangan liar, perburuan liar,
     dan kerusakan bakau dan terumbu karang.

  E. Peranserta Masyarakat
     1) Kearifan Lokal
        Kearifan lokal yang ada berupa sasi/kewang.
        Sasi terdiri dari sasi negeri dan sasi gereja.
        Contoh sasi adalah sasi kelapa, sasi cengkeh,
        sasi ikan.




                                                                 Gambar 21.
                                                                 Sasi cengkeh dan sasi
                                                                 kelapa




     2) Masyarakat Peduli
        Masyarakat peduli lingkungan di Kab. Seram Bagian Barat terdapat lebih
        dari 50 kelompok dengan sekitar 20-25 anggota per kelompok. Kelompok
        peduli ini dibentuk oleh SK Bupati.
         Kelompok Tani “Usaha Baru” terletak di dusun Telaga Desa Piru
            Kecamatan Seram Barat. merupakan
            pemantau lapangan dan melaporkan
            jika    ada    kejadian   di    bidang
            lingkungan ke kantor Lingkungan.
            Kegiatannya antara lain penanaman
            pohon bakau (5 ha), rehabilitasi
            hutan kayu putih serta penyulingan
            minyak kayu putih.


                                                                                 Gambar 22.
                                          Rehabilitasi Mangrove di desa Tihulale Kec. Kairatu

            Masyarakat adat desa Morokau melakukan perlindungan 3 mata air
             melalui peraturan negeri yang melarang penebangan pohon radius
             200 m di sekitar mata air. Untuk pelestarian mata air di desa Adat
             Morokau, secara swadaya mereka mengupayakan pemasangan pipa
Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                              10
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

            dan mesin penyedot air. Selain itu,
            penduduk juga melakukan kegiatan
            budidaya berbagai jenis angrek yang
            dilindungi, seperti angrek bulan dan
            angrek macan.

       .
                                                Gambar 23.
                       Perlindungan dan pemanfaatan mata air
                                           Di Desa Morokau



  F. Ekonomi Masyarakat
     Secara umum penghasilan masyarakat adalah gabungan antara nelayan
     dan petani. Rata-rata penghasilan mereka berada di atas UMR yang Rp
     644.000/bulan. Sebagai contoh adalah Kelompok tani” Rajawali 1” di desa
     Latu Kec. Kairatu. Mereka melakukan pembangunan hutan rakyat.
     Penghasilan dari kebun coklat sekitar 2-3 ton per panen. Setahun 2 kali
     panen dengan harga Rp 15.000-21.000 per kg. Dengan demikian rata-rata
     pendapatan dari kebun coklat adalah= 2x2xRp.15.000x 1000 = Rp 60 jt per
     tahun. Berarti penghasilan per bulan sekitar Rp 5 jt/bln. Penghasilan
     tersebut dibagi 5 anggota kelompok yang aktif sehingga penghasilan per
     bulan sekitar Rp 1 jt.

  G. Upaya Pemerintah Kabupaten
     Bupati Seram Bagian Barat menerbitkan SK Nomor 660.1/326 tahun 2005
     Tentang Pembentukan Kelompok Pemerhati Lingkungan Tingkat kecamatan
     se Kabupaten Seram Bagian Barat. Kelompok Pemerhati Lingkungan ini
     bertugas menyampaikan data dan informasi kondisi lingkungan di
     wilayahnya, mendorong peran dan partisipasi warga serta kesiapsiagaan.




Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009             11
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

3. Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi
  A. Kinerja Dalam Program Menuju Indonesia Hijau
       Penerima Trophy Raksaniyata : Tahun 2007
       Penerima Piagam Raksaniyata : Tahun 2008

  B. Gambaran Umum Wilayah
     Wilayah Kab. Sarolangun seluas 6.174 km2, dengan jumlah penduduk
     205.097 jiwa (Susenas 2006). Topografi wilayah bervariasi dari datar,
     bergelombang dan berbukit, yang berupa dataran rendah 5.248 km2 (85%)
     dan dataran tinggi 0.926 km2 (15%) dengan ketinggian dari 0 – 1000 mdpl.
     Kab. Sarolangun berada diantara ekosistem hutan pegunungan dataran
     tinggi dan dataran rendah berawa, dengan luas kawasan hutan 158.476 ha
     (30% dari luas wilayah). Kawasan hutan tersebut terdiri dari Hutan Lindung
     95.000 ha dan Kawasan Pelestarian Alam seluas 12.741 ha, yang terdiri dari
     Taman Nasional Bukit Dua Belas seluas 12.700 ha dan Cagar Alam Luncuk
     II seluas 41 ha, Hutan Produksi seluas 22.925 ha, HTI seluas 38.335 ha,
     Hutan Rakyat seluas 1.725 ha. Sedangkan lahan perkebunan seluas
     163.185 ha (30 %), dan pemukiman seluas 29.472 ha.

  C. Tutupan Vegetasi Berhutan
     Dari hasil interpretasi citra Landsat
     tahun 2009, tutupan vegetasi
     berhutan      di    wilayah      Kab.
     Sarolangun terdapat sekitar 36%
     dari luas wilayah.

                                     Gambar 7.
                           Peta Tutupan Lahan
                            di Kab. Sarolangun
                                   Tahun 2009

     Tabel 2.
     Tutupan Lahan di Kabupaten Sarolangun Tahun 2009

       TUTUPAN LAHAN             LUAS (HA)         %
       Hutan Primer               124.737,81      21,15
       Hutan Sekunder              89.410,81      15,16
       Kebun Campuran             272.301,50      46,18
       Perkebunan                  58.342,73       9,89
       Permukiman                   5.136,07       0,87
       Sawah                        9.950,38       1,69
       Semak/Belukar               14.047,93       2,38
       Tanah Terbuka                4.670,76       0,79
       Tegalan/Ladang               7.980,00       1,35
       Tubuh Air                    3.107,39       0,53
       TOTAL                      589.685,37     100,00

       Berdasarkan tutupan vegetasi berhutan tersebut, kondisi pada masing-
       masing kawasan lindung yakni pada kawasan Hutan Lindung terdapat 95%
       yang berhutan, kemiringan lereng >40% terdapat 84% berhutan, dan
       sempadan sungai hanya 5% yang berhutan.
Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                12
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU


                                                     Gambar 8.
                                                     Kondisi Tutupan Lahan pada Kawasan
                                                     Hutan Lindung, dan Sempadan Sungai
                                                     di Kab. Sarolangun

                                                     Hutan Lindung Bukit Tinjau Limus




                                                    Sungai Limun di Ds. Lubuk Bedorong
       (




  D. Keanekaragaman Hayati
     Wilayah Kab. Sarolangun terdapat tumbuhan dan satwa yang dilindungi
     menurut PP No. 7 Tahun 1999, yakni ada 22 Jenis tumbuhan (seperti
     Bulian, Jelutung, Tembesu, Suren) dan 58 jenis satwa (seperti Tapir,
     Harimau Sumatera, Kukang, Owa, Beruang Madu, Rangkong). Habitat
     tumbuhan dan satwa tersebut terutama
     berada di TN. Bukit Duabelas, Cagar Alam.
     Luncuk II, Hutan Lindung TNBD, Bukit
     Tinjau Liman dan Hulu Landai Bukit Pala
     serta Hutan Adat.
                                           Gambar 9.
                                         Pohon Bulian

     Disamping itu, Kab. Sarolangun telah menetapkan Flora Fauna Identitas
     Kabupaten melalui Keputusan Bupati Sarolangun No: 52 Tahun 2001 yaitu
     Pohon Enau/Aren (Arenga Pinnata) dan anggrek bukit bulan sebagai Flora
     Identitas dan Ikan Takalso/Arwana (Scherophgus cormasus) sebagai Fauna
     Identitas.
     Pemanfaatan kayu pada hutan adat hanya diatur dengan aturan adat, untuk
     kebutuhan perorangan hanya diperbolehkan untuk bahan ramuan, rumah,
     masjid, sekolah, kantor, desa dan jembatan dengan syarat pengambilan
     melapor, setiap pengambilan satu batang pohon wajib menanam 10 batang
     bibit kayu-kayuan yang ada di hutan adat. Pemanfaatan lainnya berupa
     getah jelutung dan ekowisata.

  E. Peranserta Masyarakat
     1) Kearifan Lokal
        Kearifan lokal untuk melindungi hutan berupa hutan adat yang terdapat
        dibeberapa desa seperti Ds. Meribung, Desa Lubuk Bedorong, Desa
        Mersip, Desa Napal Melintang di Kecamatan Limun. Keberadaan hutan
        adat ini menurut kepala adat adalah untuk melindungi sumber air,
        melindungi sumber daya alam hutan dengan menjaga daerah tangkapan
        air, mencegah erosi dan mencegah kerusakan hutan. Khusus hutan Adat
        desa Napal Melintang, keberadaannya juga dimanfaatkan untuk menjaga

Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                             13
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

        kestabilan debit sungai Limun, untuk keperluan Pembangkit Listrik
        Tenaga Motor Hidrolik (PLTMH) dengan kapasitas 20.000 watt.
        Selain hutan adat, masyarakat Ds
        Maribung memanfaatkan gua menjadi
        wisata alam.




                                         Gambar 10.
      Gua sebagai objek wisata alam di desa Maribung



        Asas yang diterapkan di Hutan adat adalah asas musyawarah mufakat
        dan asas kemanfaatan dengan pengelolaan secara lestari dan
        berkelanjutan. Untuk pemanfaatan hasil hutan seperti rotan, cara
        mengambilnya tidak boleh ditebang kayunya tetapi harus dijujut atau
        ditarik, untuk pohon yang berbuah maka hanya boleh diambil buahnya
        dan pohonnya tidak boleh ditebang, sedangkan untuk jenis kayu yang
        ada getahnya seperti jelutung hanya boleh diambil getahnya dan tidak
        boleh ditebang. Sanksi yang diterapkan bagi yang melanggar adalah
        denda 1 ekor kambing, beras 20 gantang, dan membayar uang Rp.
        500.000,- untuk setiap pohon yang ditebang. Bagi setiap orang yang
        melanggar akan dihadapkan pada persidangan kampung yang dipimpin
        oleh kelompok pengelola yang merupakan hasil mufakat seluruh warga,
        sedangkan pelanggara yang berasal dari golongan tengganai, pegawai
        sarak, pejabat desa atau tokoh masyarakat akan dikenakan sanksi lebih
        berat dari pada masyarakat biasa.

        Di bagian hulu Sungai Limun yaitu di Desa Lubuk Bedorong, Kecamatan
        Limun menerapkan aturan adat berupa Lubuk larangan dimana
        masyarakat dilarang untuk melakukan pengambilan ikan. Aturan ini
        diterapkan sepanjang 2 km di bagian hulu Sungai Limun. Pengambilan
        ikan dilakukan secara bersama dan biasanya pada waktu-waktu tertentu
        seperti acara mauludan atau pada waktu akan lebaran. Apabila ada
        pelanggaran pengambilan ikan maka akan dikenai sanksi berupa denda
        seekor ayam potong untuk anak-
        anak, sedangkan untuk dewasa
        denda Rp. 700 000 – Rp.
        1000.000,-. Jenis ikan yang
        diperlihara adalah ikan gabus,
        emas, semah, kapiat, dan nila.


                                   Gambar 11.
                               Lubuk Larangan
                          Desa Lubuk Bedorong




Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009              14
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

     2) Dunia Usaha Peduli
        Peran dunia usaha dalam peningkatan konservasi sudah ada namun
        masih rendah. Peningkatan konservasi yang dilakukan perusahaan masih
        bersifat insidentil dan belum terprogram. Perusahaan-perusahaan yang
        melakukan konservasi tersebut diantaranya PT. Petro Cina, PT. Makin
        Grup, PT. Agro Wiyana . Kegiatan ini telah dilakukan sejak tahun 2003
        bekerjasama dengan pemerintah dalam bentuk konsultasi dan koordinasi.

  F. Ekonomi Masyarakat
     Untuk kawasan budidaya non hutan sebagian besar didominasi oleh
     perkebunan karet seluas 117. 995 ha dan kelapa sawit 34.479 ha.
     Perkebunan lain adalah rotan seluas 179 ha dan kelapa 670 ha serta
     persawahan seluas 9.672 ha.
     Kegiatan peningkatan konservasi lainnya yang dilakukan oleh masyarakat
     adalah kegiatan penanaman karet, mahoni, dan surian di Hutan Tanaman
     Rakyat di Desa Taman Bandung Kec. Pauh. Dari penanaman mahoni dan
     surian, masyarakat dapat memperoleh pendapatan Rp. 72 Juta/ daur (1 daur
     = 15 Tahun), sedangkan dari tanaman karet sebesar Rp. 9.500.000,-/ Tahun
     (mulai panen pada tahun ke 7). Kegiatan lainnya adalah budidaya tanaman
     rotan manau, rotan jernang, gaharu dan sawit di kawasan budidaya. Dari
     budidaya rotan Manau, penghasilan yang diperoleh sebesar Rp.
     25.000.000,/daur (1 daur = 10 tahun), dari budidaya rotan jernang,
     penghasilan yang diperoleh Rp. 13.500.000/Tahun (mulai panen tahun ke
     7), dari budidaya Gaharu penghasilan yang diperoleh Rp. 200.000/ daur ( 1
     daur= 15 Tahun), dari budidaya sawit penghasilan yang diperoleh
     1.500.000/Bulan dengan asumsi harga Rp. 500/Kg (Tahun panen tahun ke
     3). Bila dilihat dari penghasilan yang diperolah dari penanaman karet dan
     budidaya rotan, gaharu dan sawit, maka dapat disimpulkan bahwa nilai
     tersebut jauh diatas nilai UMR Kabupaten Sarolangun yaitu Rp. 780.000

  G. Upaya Pemerintah Kabupaten
     Beberapa upaya yang dilakukan Pemkab untuk konservasi sumber daya
     alam dan pengendalian kerusakan lingkungan, seperti:
     1) Penetapan Peraturan Desa Meribung No.1 tahun 2008 tentang
        Pengelolaan Hutan Adat.
     2) Kegiatan Penambahan tutupan vegetasi dan upaya perbaikan lingkungan
        melalui kegiatan reboisasi, hutan rakyat, pengembanan aneka usaha
        kehutanan melalui budidaya rotan Manau, gaharu, rotan jernang,
        peremajaan tanaman karet dan budidaya kelapa sawit. Kegiatan tersebut
        telah dilakukan di Desa Kasiro, seluas 25 sejak tahun 2006, Desa Pauh
        Km 7 seluas 60 Ha sejak tahun 2006, Desa Gurun Tuo Simpang seluas
        50 Ha sejak tahu 2005 di Kecamatan Pauh. Secara keseluruhan
        penambahan vegetasi seluas 135 Ha dengan kondisi baik.




Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009               15
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

4. Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku
  A. Kinerja Dalam Program Menuju Indonesia Hijau
       Penerima Piagam Raksaniyata : Tahun 2008

  B. Gambaran Umum Wilayah
     Kabupaten Maluku Tengah mempunyai luas wilayah sekitar 147.480,55 ha
     (92,30% wilayah laut dan 7,70% wilayah daratan), dengan panjang pantai
     sekitar 989 km dan mempunyai sekitar 112 pulau (dihuni sebanyak 40 buah,
     dan tidak dihuni sebanyak 73 buah). Jumlah penduduk sekitar 368.136 jiwa.

     Sebagai kabupaten yang sebagain besar berupa laut, potensi kelautan dan
     perikanan diperkirakan sebesar 484.532 ton/tahun dengan jumlah
     tangkapan yang diperbolehkan sebesar 387.556 ton/tahun. Potensi di sektor
     perkebunan dengan komoditi kelapa, cengkeh, pala, coklat, kopi dan jambu
     mete. Usaha perkebunan ini umumnya perkebunan rakyat dengan serapan
     tenaga kerja mencapai 51.413 KK dengan total area 40.801 ha.
     Sedangkan sumber daya hutan, di Kab. Maluku Tengah terdapat kawasan
     hutan seluas sekitar 746.000 ha (hutan konservasi seluas 193.334 ha, hutan
     lindung 137.548 ha, dan hutan produksi 415.622 ha.

  C. Tutupan Vegetasi Berhutan
     Dari hasil interpretasi citra Landsat tahun 2009, di Kab. Maluku Tengah
     terdapat 78% dari wilayah daratan merupakan tutupan vegetasi berhutan.




                                     Gambar 16.
                           Peta Tutupan Vegetasi
                            Kab. Maluku Tengah
                                     Tahun 2009


       Tabel 4.
       Tutupan Lahan Kab. Maluku Tengah Tahun 2009
        TUTUPAN LAHAN            LUAS (HA)             %
          Hutan Primer                594.278,28     70,39
          Hutan Sekunder               64.245,13      7,61
          Mangrove                      6.109,76      0,72
          Kebun Campuran               84.954,00     10,06
          Perkebunan                      204,80      0,02
          Permukiman                    3.669,77      0,43
          Rawa                          3.754,66      0,44
          Sawah                         1.118,80      0,13
          Semak/Belukar                11.696,92      1,39
          Tambak/Empang                   752,21      0,09
          Tanah Terbuka                 7.772,90      0,92
          Tegalan/Ladang               57.514,25      6,81
          Tubuh Air                     8.139,56      0,96
        TOTAL                         844.211,04    100,00


Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                16
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

       Dari tingkat tutupan vegetasi berhutan tersebut, kondisi pada kawasan
       hutan lindung terdapat 97% berhutan, elevasi >2000 mdpl terdapat 93%
       berhutan, kelerengan >40% terdapat 93% berhutan, tetapi di sempadan
       pantai hanya 37% yang berhutan.
       Secara umum vegetasi pada kelerengan >40% masih berupa hutan
       dengan vegetasi cukup rapat. Sedangkan tutupan vegetasi di sempadan
       sungai berupa kebun masyarakat dengan tanaman kelapa, pisang, pohon
       kayu (mahoni, jati) dan bambu serta sagu. Di sempadan pantai tutupan
       vegetasi berupa rhizopora, avicenia, pandan pantai, kelapa dan tanaman
       karet.

                                           Gambar 17.
                Kondisi Tutupan Vegetasi pada Kelerengan >40%, Sempadan Sungai
                           dan Sempadan Pantai Di Kab. Maluku Tengah




                    Lahan kelerengan >40% di Masohi-Wahai dan Sungai Routa




                              Pantai Wahai Desa Parigi, Kec. Wahai

  D. Keanekaragaman Hayati
     Kabupaten Maluku Tengah mempunyai kekayaan keanekaragaman hayati
     yang sangat beragam. Keanekaragaman hayati tersebut sebagain besar
     berada di dalam kawasan konservasi, seperti Taman nNasional Manusela
     dan beberapa kawasan lindung dan cagar alam. Beberapa jenis tumbuhan
     di taman nasional ini antara lain tancang (Bruguiera sexangula), bakau
     (Rhizophora acuminata), api-api (Avicennia sp.), kapur (Dryobalanops sp.),
     pulai (Alstonia scholaris), ketapang (Terminalia catappa), pandan (Pandanus
     sp.), meranti (Shorea selanica), benuang (Octomeles sumatrana),
     matoa/kasai (Pometia pinnata), kayu putih (Melaleuca leucadendron),
     berbagai jenis anggrek, dan pakis endemik (Chintea binaya). Sekitar 117
     jenis burung terdapat di Taman Nasional Manusela, dimana 14 jenis
     diantaranya endemik seperti kesturi ternate (Lorius garrulus), nuri tengkuk
     ungu/nuri kepala hitam (L. domicella), kakatua Seram (Cacatua
     moluccensis), raja udang (Halcyon lazuli dan H. sancta), burung madu
     Seram besar (Philemon subcorniculatus), dan nuri raja/nuri ambon (Alisterus
     amboinensis).
Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                     17
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

     Burung kakatua seram merupakan salah satu satwa endemik Pulau Maluku,
     keberadaannya terancam punah di alam akibat perburuan liar, perusakan
     dan penyusutan habitatnya. Satwa lainnya di
     taman nasional ini adalah rusa (Cervus
     timorensis moluccensis), kuskus (Phalanger
     orientalis orientalis), soa-soa (Hydrosaurus
     amboinensis), babi hutan (Sus celebensis), luwak
     (Pardofelis marmorata), kadal panama (Tiliqua
     gigas gigas), duyung (Dugong dugon), penyu
     hijau (Chelonia mydas), dan berbagai jenis kupu-
     kupu.

     Pemanfaatan secara lestari sudah dilakukan meskipun
     sangat terbatas, seperti: ekowisata (terutama di TN.
     Manusela), penelitian dan pemanfaatan tradisional untuk
     tanaman obat. Ancaman yang ada adalah: kerusakan
     habitat akibat penebangan liar, perburuan liar, dan
     pengambilan telur burung Maleo.

  E. Peranserta Masyarakat
     1) Kearifan Lokal
        Kearifan lokal yang ada di Kab. Maluku Tengah
        berupa sasi/kewang. Sasi terdiri dari sasi negeri dan
        sasi gereja. Contoh sasi adalah sasi kelapa, sasi
        cengkeh, sasi ikan.

     2) Masyarakat Peduli
         Terdapat sekitar 95 kelompok Tani, dengan sekitar
          3.500 anggota . Kegiatan pelestarian sudah
          dilakukan cukup lama yaitu rata-rata lebih dari 10
          tahun.
         Pusat Rehabilitasi Satwa Masihulang terletak di desa Masihulang, Kec.
          Sawai yang merupakan daerah penyangga TN. Manusela. Saat ini
          terdapat sekitar 87 jenis burung yang dilindungi seperti nuri kepala
          hitam dan kakatua seram jambul kuning. Pada awalnya kegiatan ini
          didanani oleh LSM Walacea, namun sejak beberapa tahun terakhir
          donasi tersebut berhenti. Pusat Rehabilitasi satwa secara rutin
          melakukan pelepasliaran jenis yang sudah dianggap mampu, seperti
          kasuari, kanguru pohon dan beberapa jenis burung. Untuk pelestarian
          satwa di Pusat Rehabilitasi satwa Masihulang terdapat berberapa
          sarana yaitu kandang, klinik dan penjaga.
         Perlindungan hutan sagu dan pelestarian mata air salahutu. Mata air ini
          dimanfaatkan untuk kegiatan wisata, Air Minum bagi masyarakat,
          kegiatan mandi dan cuci serta konservasi ikan. Mata air ini digunakan
          oleh masyarakat dengan pembagian nyata. Mata air ini dikelola secara
          bersama oleh masyarakat desa.
         Salah satu kegiatan masyarakat adalah pelestarian habitat burung
          Maleo (Eulipoa wallacei) di desa Kailolo Kec. Haruku yaitu dengan cara
          menjaga kelestarian habitat burung maleo dengan cara dilarang
          mengambil telur sebelum waktu panen serta dilarang melakukan
          perburuan terhadap burung maleo serta merusak habitat di sekitarnya


Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                  18
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU




                   Gambar 18.
         Habitat Burung Maleo
          di desa Kailolo Kec.
                       Haruku




  F. Ekonomi Masyarakat
     Beberapa kegiatan masyarakat yang terkait dengan pelestarian hutan dan
     sumber air di Kab. Maluku Tengah dikembangkan dengan beberapa jenis
     unggulan yakni karet, coklat, kelapa, jeruk, dan perikanan laut. Untuk
     meningkatkan pemberdayaan masyarakat di bidang tersebut, maka dibentuk
     berbagai kelompok tani dan nelayan. Saat ini terdapat sekitar 95 kelompok
     Tani, dengan anggota sekitar 3.500 orang. Satu kelompok tani
     beranggotakan sekitar 20-40 orang. Berdasarkan data, 80% penduduk
     berprofesi sebagai petani kebun. Rata-rata penghasilan masyarakat dari
     hasil kebun > Rp 1 juta.
     Sebagai gambaran adalah penghasilan penduduk dari kegiatan perikanan
     dan pembuatan kopra. Kebun kelapa menghasilkan sekitar Rp 1 jt per bulan
     sekali panen (setahun 3x panen). Jadi dari kopra memperoleh Rp 250.000
     per bulan. Dari hasil perikanan laut rata-rata diperoleh Rp 500.000/bulan.
     Maka pendapatan per bulan sekitar Rp 750.000/bln Penghasilan ini berada
     di atas UMR yang hanya sekitar RP 700.000/bulan.

  G. Upaya Pemerintah Kabupaten
     Pemkab Maluku Tengah telah melakukan berbagai kegiatan konservasi dan
     pengendalian kerusakan lingkungan, seperti:
     1) Peningkatan perekonomian daerah (berbasis sumber daya alam). Dari
        upaya ini, pada tahun 2008 Bupati Maluku Tengah menerima
        penghargaan dari Presiden RI berupa "Meratas Ketertinggalan Award".
     2) Program/kegiatan berupa pembinaan dan pemberdayaan masyarakat di
        daerah penyangga melalui pembentukan kelompok tani dan kader
        lingkungan; sosialisasi, penghijauan, dll.




Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                19
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU




5. Kabupaten Banggai Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tengah
  A. Kinerja Dalam Program Menuju Indonesia Hijau
       Penerima Piagam Raksaniyata : Tahun 2008

  B. Gambaran Umum Wilayah
     Kabupaten Banggai Kepulauan dengan luas wilayah 22.042,56 km2, terdiri
     dari 123 pulau dan panjang garis pantai 1.714,218 km. Jumlah penduduk
     157.792 jiwa, dengan matapencaharian penduduk 72% bekerja disektor
     pertanian, 9% di sektor perikanan, 4% sebagai PNS dan 15% di sektor
     peternakan, perdagangan, dan industri.

  C. Tutupan Vegetasi Berhutan
     Dari hasil interpretasi citra Landsat tahun 2009, di wilayah Kab. Banggai
     Kepulauan terdapat tutupan vegetasi berhutan sebanyak 72% dari luas
     wilayah daratan.




                           Gambar 12.
                   Peta Tutupan Lahan
               Kab. Banggai Kepulauan
                           Tahun 2009




     Tabel 3.
     Tutupan Lahan Kab. Banggai Kepulauan Tahun 2009
                                  LUAS
        TUTUPAN LAHAN            (HA)          %
          Hutan Primer             22.956,61     7,53
          Hutan Sekunder          194.367,49    63,73
          Mangrove                  3.549,67     1,16
          Kebun Campuran           53.935,53    17,69
          Perkebunan                  758,02     0,25
          Permukiman                2.683,72     0,88
          Rawa                        179,04     0,06
          Semak/Belukar               279,72     0,09
          Tanah Terbuka            20.418,35     6,70
          Tegalan/Ladang              974,02     0,32
          Tubuh Air                 4.869,61     1,60
        TOTAL                     304.971,78   100,00




Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009               20
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

     Dari tingkat tutupan vegetasi berhutan tersebut, kondisi pada kawasan hutan
     lindung terdapat 88% berhutan, kelerengan >40% terdapat 84% berhutan,
     dan di sempadan pantai 52% yang berhutan.

     Pada kawasan sempadan sungai di Tatakalai, tutupan vegetasi berupa
     kebun campuran dengan tumbuhan dominan adalah kelapa, coklat dan
     enau dengan tingkat kerapatan kanopi sedang. Sedangkan pada sempadan
     pantai, tutupan lahan berupa hutan mangrove dengan tingkat kerapatan
     tinggi, dengan tumbuhan dominan adalah dari jenis Rhizophora apiculata,
     mucronata, avicenia, bruguera, ceriopstagal dan ketapang. Kawasan lindung
     lainnya, yakni pada kelerengan >40% di Desa Mansamat, berupa hutan
     yang masih rapat dengan jenis tumbuhan dominan meranti, kayu putih,
     nyatoh, lasi, kayu besi, palapi, cempaka, agatis, dao dan waru.

  D. Keanekaragaman Hayati
     Keanekaragaman hayati jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi (PP No.
     7/1999), yang terdapat di Banggai Kepulauan adalah tumbuhan eboni
     (Diospyros sulawesi) dan Bayur (Pterospermum celebicum). Sedangkan
     satwa terdapat 7 jenis yaitu burung nuri,
     tarsius peleng, penyu belimbing, kuskus
     peleng, burung raja udang, gagak
     banggai, burung hantu peleng.

                                      Gambar 13.
                     Tumbuhan dan Satwa Dilindungi
                        Di Kab. Banggai Kepulauan
                       Eboni (Diospyros celebica Bak.)




                                 Burung Raja             Penyu Belimbing (Demochelys sp)
                                 Udang (Alcenidae)
     Perlindungan terhadap satwa dan tumbuhan tersebut oleh Pemerintah
     Kabupaten Banggai Kepulauan dilakukan baik secara alami dengan
     membiarkannya sesuai habitatnya dan melakukan penangkaran, seperti
     penangkaran burung maleo dan penyu.

  E. Peranserta Masyarakat
     Peran serta masyarakat yang dijumpai di lapangan menunjukkan bahwa,
     terdapat kegiatan budidaya rumput laut di pesisir Kecamatan Tinangkung.
     Budidaya rumput laut ini memberikan kontribusi bagi peningkatan
     pendapatan masyarakat di Kab. Banggai Kepulauan.

     Selain itu terdapat kegiatan rehabilitasi hutan mangrove seluas 15 ha, yang
     dilakukan oleh ibu-ibu dasawisma di Kecamatan Tinangkung Selatan Desa
     Tatakalae. Peran serta masyarakat juga terlihat dari adanya penanaman

Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                               21
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

     tumbuhan jati secara perorangan seluas 50 Ha dan 150 Ha di Luk Sagu dan
     Palam.




                                                Gambar 14.
         Anngota Dasa Wisma melakukan rehabilitasi mangrove



  F. Upaya Pemerintah Kabupaten
     Dalam rangka pelaksanaan konservasi sumber daya alam dan pengendalian
     kerusakan di Kab. Banggai Kepulauan, upaya yang dilakukan Pemkab
     antara lain:
     1) Kawasan lindung yang berupa hutan lindung, sempadan sungai,
        sempadan pantai, sekitar mata air, dan sekitar danau/waduk telah dimuat
        dalam Perda RTRW.
     2) Kegiatan yang terpadu antar unit kerja misalnya dalam pemberdayaan
        masyarakat untuk melakukan budidaya rumput laut.
     3) Penambahan tutupan vegetasi dengan
        jenis jati seluas + 200 ha di Desa Luk
        Sagu dan Desa Palam, serta jenis
        mangrove seluas + 15 ha di Desa
        Tatakalai.

                                         Gambar 15.
                               Lokasi penanaman jati
                                   Di Desa Luk Sagu




Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                22
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

6. Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali
  A. Kinerja Dalam Program Menuju Indonesia Hijau
       Penyerahan Profil Kabupaten (Isian Kuesioner) : Tahun 2008

  B. Gambaran Umum Wilayah
     Kab. Buleleng memiliki wilayah seluas 1.365,88 Km2 dan pantai sepanjang
     144 Km, dengan penduduk sebanyak 643.274 jiwa (Tahun 2007).
     Topografi Kab. Buleleng berupa daerah berbukit yang membentang di
     bagian selatan, dataran rendah di bagian utara, serta terdapat Gunung
     Tapak (1903 M) dan gunung Jae (222 M).
     Kabupaten Buleleng memiliki potensi sumber daya air berupa 54 mata air
     dengan debit air bervariasi mulai dari 0,1 l/detik hingga 150 l/detik, dua buah
     danau yaitu Danau Tamblingan (110 ha) dan Danau Buyan (360 ha), serta
     59 sungai dengan debit terbesar 31.787.000 m3/tahun (di S. Tukad Buus).
     Kawasan hutan di wilayah Kab. Buleleng terdiri dari TN Bali Barat seluas
     10,2 ribu ha, Cagar Alam Batukau seluas 813,6 ha dan Taman Wisata Alam
     Batukau seluas 948,65 ha, kawasan hutan lindung seluas 31.936,32 ha,
     serta hutan produksi tetap seluas 1.524 ha dan hutan produksi terbatas
     seluas 3.207,95.

  C. Tutupan Vegetasi Berhutan
     Dari hasil interpretasi citra Landsat
     tahun 2009, terdapat 53% dari luas
     wilayah Kab. Buleleng merupakan
     tutupan vegetasi berhutan.



                                  Gambar 24.
                          Peta Tutupan Lahan
                             Di Kab. Buleleng
                                  Tahun 2009

       Tabel 6.
       Tutupan Lahan di Kab. Buleleng Tahun 2009
        TUTUPAN LAHAN         LUAS (HA)       %
        Hutan Primer            53.042,67    39,32
        Hutan Sekunder          16.654,63    12,35
        Mangrove                    677,18    0,50
        Kebun Campuran          28.607,79    21,21
        Perkebunan                3.863,33    2,86
        Permukiman                3.124,80    2,32
        Sawah                     7.470,41    5,54
        Semak/Belukar             9.895,70    7,34
        Tambak/Empang               314,94    0,23
        Tanah Terbuka               269,93    0,20
        Tegalan/Ladang            9.959,11    7,38
        Tubuh Air                 1.008,47    0,75
        TOTAL                  134.888,97 100,00

     Berdasarkan sebaran tutupan vegetasi berhutan tersebut, pada kawasan
     hutan lindung terdapat 77% berhutan dan kelerengan >40% terdapat 85%
     berhutan. Sedangkan pada sekitar danau hanya 39% yang berhutan,
     sempadan pantai 19% dan sempadan sungai tidak ada yang berhutan.
Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                     23
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU


                                          Gambar 25.
      Kondisi Tutupan Lahan di Kawasan hutan Lindung, Kelerengan >40%, Sempadan Sungai,
                       Sempadan Pantai dan Sekitar Danau di Kab. Buleleng




       Hutan lindung Bali Barat    Kelerengan > 40 % di Kec. Gerogak
       (RTK 19)




       s
       e
       m
       p
       Sekitar Danau Buyan         Sempadan pantai              Sempadan sungai di Tejakula
                                   Sumberkima



  D. Keanekaragaman Hayati
     Di Kab. Buleleng terdapat berbagai jenis satwa yang dilindungi (sesuai PP 7
     Tahun 1999), yakni Jalak Putih Bali (Sturnus melanopterus), Penyu Hijau
     (Chelonia mydas), Kijang (Muntiacus muncak), Rusa Timor (Cervus
     timorensis) serta lumba-lumba (Dolphinidae).

                                       Gambar 26.
                         PenangkaranJalak Putih Bali di TN Bali Barat




     Habitat Jalak Putih Bali berada di TN Bali Barat. Di TN Bali Barat di kawasan
     Kecamatan Gerogak terdapat penangkaran burung yang sekaligus menjadi
     daya tarik wisata. Sedangkan habitat rusa timor dan kijang sebagian besar
     berada di dalam kawasan taman nasional. Sedangkan habitat penyu dan
     lumba-lumba berada di pesisir utara pantai Kabupaten Buleleng.
     Upaya pemanfaatan keanekaragaman hayati telah dikembangkan dengan
     adanya upaya penangkaran rusa baik oleh masyarakat perorangan maupun
     oleh perusahaan swasta. Selain itu terdapat pemanfaatan lumba-lumba oleh
     salah sebuah perusahaan untuk terapi kesehatan.


Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                              24
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

  E. Peranserta Masyarakat
     1) Kearifan Lokal
        Dalam pengelolaan konservasi sumberdaya laut seperti yang ditemukan
        di Desa Tejakula, masyarakat membuat daerah pengelolaan laut (marine
        management area) yang selanjutnya dibuat peraturan desa. Dalam pola
        ini masyarakat membuat zonasi pada
        wilayah pantai yang ada di desa mereka,
        yang meliputi zona inti dan zona
        penyangga. Dalam zona inti hanya
        diperbolehkan kegiatan penelitian dan
        wisata terbatas. Adapun kegiatan yang
        dilarang adalah pengambilan pasir, batu,
        menginjak     dan    memegang    karang,
        membuang sampah, jangkar dan aktivitas
        budaya. Sedangkan zona penyangga
        hanya     diperbolehkan  berlabuh    dan
        kegiatan perikanan tradisional pancing
        dasar dan jaring apung.

                                               Gambar 27.
                    Zona pengelolaan laut di Desa Tejakula

     2) Masyarakat Peduli
        Keberadaan masyarakat yang peduli lingkungan dapat ditemukan baik
        pada pengelolaan sumberdaya laut maupun sumberdaya hutan. Salah
        satu kelompok masyarakat peduli sumberdaya laut terdapat di Desa Les,
        Kecamatan Tejakula yakni Kelompok Nelayan Ikan Hias Mina Bhakti
        Soansari.       Kelompok       ini
        melakukan                budidaya
        (transplantasi) terumbu karang
        sejak    tahun     2001,    untuk
        mengembalikan kondisi terumbu
        karang yang rusak.

                                      Gambar 28.
      Aktivitas transplantasi terumbu karang oleh
       Kelompok Nelayan Ikan Hias Mina Bhakti
                                         Soansari

        Masyarakat peduli kelestarian
        hutan, salah satunya Kelompok Tani Wana Sumber Makmur, sejak tahun
        2002 melakukan pengeloaan kawasan hutan negara dengan penanaman
        tanaman mahoni, panggal buaya, kayu
        putih serta suar pada lahan seluas 200
        ha. Pengelolaan dilakukan dengan
        sistem tumpang sari dengan tanaman
        jagung dan cabai.

                                         Gambar 29.
                                   Pengelolaan hutan
                        oleh KT Wana Sumber Makmur




Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009              25
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

     3) Dunia Usaha Peduli
        Di Kab. Buleleng terdapat beberapa perusahaan yang peduli terhadap
        kelestarian lingkungan, melalui kegiatan penangkaran biota laut dan
        terumbu karang, penangkaran kijang, rusa, landak dan kupu-kupu, serta
        pelestarian terumbu karang. Pedulian dunia usaha ini berkaitan dengan
        kepentingan di bidang pariwisata.



                                         Gambar 30.
                                 Lokasi penangkaran
                              Rusa Timor dan Landak




  F. Ekonomi Masyarakat
     Sebagian besar penduduk Kab. Buleleng bekerja di sektor pertanian
     (pertanian, kehutanan, perkebunan dan perikanan) yakni mencapai 42,07 %.
     Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar 4,49 triliun pada Tahun
     2006 (PDRB berdasarkan harga berlaku), nilai PDRB tersebut sebesar
     32,9% dari sektor pertanian.
     Salah satu penyumbang di sektor pertanian tersebut adalah kegiatan
     kehutanan. Dari luasan 1,524 ribu hektar sebagian besar dalam kondisi
     kritis, sehingga Pemkab melakukan kegiatan rehabilitasi hutan dengan pola
     PHBM. Ada lima kelompok masyarakat yang terlibat dalam kegiatan
     rehabilitasi hutan ini yakni: 1) Wahana Sumber Makmur; 2) Sangga Langit;
     3) Pejarakan; 4) Musi dan 5) Sumber Klampok. Luas kawasan yang dikelola
     masyarakat mencapai ± 800 ha, dengan jumlah masyarakat yang terlibat
     sekitar ± 1600 orang. Berdasarkan informasi pendapatan masyarakat dalam
     mengelola lahan tersebut bisa mencapai Rp. 10 juta rupiah/tahun/orang dari
     hasil tanaman jagung dan cabai dari pola tumpang sari.

  G. Upaya Pemerintah Kabupaten
     Dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan dikembangkan dengan
     kerjasama, baik antar instansi maupun dengan kerjasama luar negeri,
     seperti:
     1) Pengukuran kualitas air, udara dan tanah.
     2) Penanganan kerusakan lingkungan fisik.
     3) Program penanganan danau secara terpadu
     4) Pengelolaan pesisir melalui program Integrated Coastal Management
        (ICM).




Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                26
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU




                         Kabupaten Penerima
                         Piagam Raksaniyata
                               2009




             Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur
             Kabupaten Pasir, Provinsi Kalimantan Timur
              Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur
              Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau
           Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat




Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009    27
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

1. Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur
  A. Kinerja Dalam Program Menuju Indonesia Hijau
      Penerima Piagam Raksaniyata : Tahun 2008 dan 2009

  B. Gambaran Umum Wilayah
     Kabupaten Berau secara geografis terletak antara 116o – 119o Bujur Timur
     dan 1o – 2o 33’ Lintang Utara, dengan luas wilayah 3.412.700 ha. Penduduk
     sekitar 164.501 jiwa yang tersebar di 11 kecamatan dan 103 kelurahan atau
     desa.
    Di wilayah ini terdapat 7 sumber mata air dan dilalui 3 sungai. Terdapat rawa
    gambut (rawa Sukan seluas 2.000 hektar dan rawa Tepian Buah seluas
    5.000 hektar). Disamping itu juga terdapat kawasan hutan seluas
    2.112.025,33 hektar, yang terdiri dari Hutan Konservasi (500 hektar), Hutan
    Lindung (339.391,45 hektar), Hutan Produksi Tetap ( 616.210,93 hektar) dan
    Hutan Produksi Terbatas (631.491,85 hektar).
    Kabupaten Berau juga memiliki sumber daya laut maupun pesisir yang
    sangat melimpah, salah satu daerah yang saat ini sangat dikenal baik
    nasional maupun internasional adalah pulau derawan.

  C. Tutupan Vegetasi Berhutan
     Dari interpretasi citra Landsat tahun
     2009, sekitar 79% dari wilayah Kab.
     Berau berupa tutupan vegetasi
     berhutan.

                                      Gambar 36.
                              Peta Tutupan Lahan
                        di Kab. Berau Tahun 2009

     Tabel 9.
     Tutupan Lahan Kab. Berau Tahun 2009
           TUTUPAN LAHAN            LUAS (HA)         %
        Hutan Primer                460.230,62        21,76
        Hutan Sekunder            1.147.385,70        54,25
        Mangrove                     73.213,25         3,46
        Kebun Campuran               69.930,19         3,31
        Perkebunan                  133.424,10         6,31
        Permukiman                    7.042,70         0,33
        Rawa                         16.133,90         0,76
        Sawah                         1.025,69         0,05
        Semak/Belukar               147.144,34         6,96
        Tambak/Empang                 8.089,84         0,38
        Tanah Terbuka                19.129,20         0,90
        Tegalan/Ladang               17.302,45         0,82
        Tubuh Air                    15.001,38         0,71
        TOTAL                     2.115.053,35       100,00

     Berdasarkan tutupan vegetasi berhutan tersebut, kondisi pada masing-
     masing kawasan lindung yakni pada kawasan hutan lindung terdapat 97%
     berhutan, kemiringan lereng >40% terdapat 97% berhutan, sempadan pantai
     terdapat 58% berhutan dan sempadan sungainya terdapat 59% berhutan.

Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                  28
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU


                                       Gambar 37. Kondisi Tutupan vegetasi di Hutan Lindung




                                     HL Sungai Lesan




                                                                  Sempadan Pantai
                                                                  (Derawan)
  D. Keanekaragaman Hayati
     Dari hasil identifikasi yang dilakukan oleh Pemda (tahun 2005) ditemukan 34
     jenis mamalia, 106 jenis burung, 18 jenis kelelawar, 12 jenis amphibi dan 4
     jenis reptile. Di Hutan Lindung Sungai Lesan terdapat tanaman ulin, meranti,
     bengkirai, gaharu, bayur, tampa, sedangkan satwanya seperti enggang,
     elang, bangau, kera.
     Di hutan kota juga banyak ditemukan
     seperti     tanaman      ulin,   bengkirai,
     medang, jenis tanaman kapur dan
     anggrek hutan, dan lain-lain demikian
     juga dengan satwa seperti burung
     enggang dan buaya.


                                                                               Gambar 38.
                                                                                  Buaya

     Di kawasan Konservasi Laut Derawan terdapat keanekaragaman hayati
     seperti jenis ikan (sekitar 872 spesies ikan karang dan 507 jenis karang
     keras), jenis tanaman pesisir (nipah, nibung, bakau, api-api, prapat, tancang,
     tanger), jenis penyu (hijau, belimbing, tempayan, sisik, pipih, ridel), dan
     berbagai jenis udang.

  E. Peraserta Masyarakat
     1) Kearifan Lokal
        Berbagai kearifan lokal yang ada di masyarakat pada umumnya
        mendukung upaya pelestarian kawasan hutan, diantaranya larangan
        penebangan untuk jenis jenis pohon yang dilindungi serta larangan
        perburuhan terhadap jenis satwa yang dilindungi serta penerapan sistim
        gilir balik dalam pola perladangan/pertanian.




Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                            29
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

     2) Masyarakat Peduli
        Peranserta masyarakat dibawah naungan Badan Pengelola Segah
        ditetapkan dengan SK Bupati Berau No. 251 tahun 2004, dan lima
        kampung masyarakat sekitar perusahaan melalui penetapan kawasan
        HCVF (high Conservacy Value Forest) seluas 8500 ha, lokasinya
        berdampingan dengan kawasan HPH PT Sumalindo Jaya IV,
        membentang sampai sempadan Sungai Mahkam yang melewati 5
        kampung (Long Pai, Long Laai, Long Ayan, Long Ayap dan Long
        Okeng). Pengelolaan HCVP ini dilakukan sepenuhnya oleh masyarakat
        5 kampung tersebut yang dituangkan dalam Peraturan Kampung
        (Perkam) dengan system Pengelolaan lestari.

  F. Ekonomi Masyarakat
     Di Pulau Derawan terdapat Kelompok Masyarakat Pesisir yang memiliki
     komitmen untuk menjaga daerahnya dari proses abrasi air laut. Terdapat 5
     kelompok dengan kegiatan penanaman mangrove yang sampai saat ini
     hampir 10.000 ha yang terealisasi. Dari penanaman mangrove tersebut
     sebenarnya tidak hanya sebatas untuk mengurangi abrasi namun disisi lain
     untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui hasil perikanan.
     Pendapatan masyarakat tersebut sekitar 100 ribu /hari.
     Selain itu, di sekitar Hutan Lindung Muara
     Sungai Lesan, masyarakat memanfaatkan
     hasil lebah madu hutan sebagai salah satu
     mata pencaharian, selain nelayan dan
     pertanian. Penghasilan dari lebah madu
     tersebut sebesar 500 ribu/5 liter.

                                        Gambar 39.
                     Kegiatan pemanenan lebah madu



  G. Upaya Pemerintah Kabupaten
    Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Berau 2005-2011
    wilayah Kabupaten Berau akan memiliki luasan hutan lindung 597.449
    hektar, hutan produksi terbatas 576.973 hektar, hutan produksi tetap 18.890
    ha, kawasan khusus wisata kehutanan, penelitian dan pelindung ekologi
    seluas 138.168 ha serta areal penggunaan lain seluas 577.667 ha atau
    diprediksikan akan terjadi peningkatan luasan kawasan hutan lindung sekitar
    10 % daripada tata ruang yang lama.
    Beberapa Kawasan lindung tersebut yang diusulkan dalam RTRW baru
    untuk di rubah dari Kawasan Budidaya Non Kehutanan(KBNK) menjadi
    Kawasan Budidaya Kehutanan (KBK) adalah sebagai berikut :
             -. Kawasan Hutan Lindung Lesan (12.192 ha)
             -. Kawasan Hutan Lindung Kelay (114.817 ha)




Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                30
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

2. Kabupaten Pasir, Provinsi Kalimantan Timur
  A. Kinerja Dalam Program Menuju Indonesia Hijau
      Penerima Piagam Raksaniyata : Tahun 2009

  B. Gambaran Umum Wilayah
     Kabupaten Pasir terletak pada posisi 0º45’18,37” - 2º27’20,82” Lintang
     Selatan dan 115º36’14,5” - 116º57’35,03” Bujur Timur. Wilayahnya terdiri
     atas 10 kecamatan dan 125 kelurahan/desa/UPT. Luas wilayah 1.160.494
     hektar (yang terdiri dari 1.085.118 hektar daratan dan 75.276 hektar lautan),
     dengan jumlah penduduk 185.051 jiwa dan tingkat kepadatan penduduk
     relatif rendah (rata-rata 16 jiwa per km2).
     Topografi di wilayah ini, pada bagian timur dataran rendah, datar/landai
     hingga bergelombang. Sedangkan bagian barat merupakan daerah
     bergelombang. Ketinggian wilayah Kabupaten Pasir berkisar antara 0
     sampai 100 mdpl.
     Potensi hutan yang ada di wilayah ini seluas 714.021 hektar (66% dari luas
     wilayah daratan), yang berupa Hutan Lindung seluas 136.201 hektar, Hutan
     Cagar Alam seluas 111.616 hektar dan Hutan Produksi seluas 466.204
     hektar.

  C. Tutupan Vegetasi Berhutan
     Dari interpretasi citra Landsat tahun
     2009, sekitar 53% dari wilayah Kab.
     Pasir berupa tutupan vegetasi
     berhutan.


                                     Gambar 31.
                            Peta Tutupan Lahan
                       di Kab. Pasir Tahun 2009


   Tabel 8.
   Tutupan Lahan di Kab. Pasir 2009
    TUTUPAN LAHAN             LUAS (HA)     %
    Hutan Primer            380.491,12     35,05
                                      Berdasarkan    tutupan   vegetasi
    Hutan Sekunder          143.134,07     13,18
                                      berhutan tersebut, kondisi pada
    Mangrove                  56.863,20     5,24
                                      masing-masing kawasan lindung
    Kebun Campuran          137.389,72     12,65
                                      yakni pada kawasan Hutan Lindung
    Perkebunan                89.045,45     8,20
                                      terdapat 95% yang berhutan,
    Permukiman                 5.066,79     0,47
                                      kemiringan lereng >40% terdapat
    Rawa                    108.900,91     10,03
    Sawah                             77% berhutan, sempadan pantai
                               1.301,76     0,12
    Semak/Belukar           125.997,85terdapat 56% dan sempadan sungai
                                           11,61
    Tambak/Empang                     48% yang berhutan.
                              19.791,16     1,82
    Tanah Terbuka                     Kab. Paser memiliki empat hutan
                               3.172,00     0,29
    Tegalan/Ladang                    lindung,
                               2.827,43     0,26 Gunung     Ketam    di
    Tubuh Air                         Kecamatan di Muara Komam, Hutan
                              11.730,25     1,08
    TOTAL                 1.085.711,95    100,00
                                      Sungai Sawang (Muara Samu),
     Hutan Gunung Lumut (Kuaro), MuaraKomam, Long Ikis, Long Kali) dan
     Hutan Sungai Samu (Muara Samu, Muara Komam) dan dua cagar alam,
     teluk Adang dan teluk Apar.

Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                   31
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU




                                      Mangrove
                               Di Sungai Seratai                        Gua Tengkorak

                                                                             Gambar 32.
                  Kondisi Tutupan Lahan pada Kawasan Hutan Lindung, dan Sempadan Sungai
                                                                            di Kab. Pasir

  D. Keanekaragaman Hayati
     Di Wilayah Kab. Paser terdapat
     tumbuhan asli yaitu: Anggrek Hitam,
     Anggrek Tebu dan Pohon Mentega.
     Pohon mentega ini merupakan endemik
     pinggir sungai.

                                       Gambar 33.
                                    Pohon Mentega



     Di Hutan Lindung Gunung Lumut, terdapat berbagai flora dan fauna, seperti
     beruk (Macaca nemestrina), owa-owa (Hylobates muelleri) dan lutung merah
     (Presbytis rubicunu), serta terdapat sedikitnya 160 jenis burung : antara lain
     murai (copsycus sp), burung tiung (Gracula religiosa), enggang atau
     rangkong (bucerotidae). Disamping itu, terdapat juga beragam jamur dan
     lumut. Sedikitnya terdapat 120 jenis jamur, seperti jamur Amauroderma,
     jamur Ramaria largentii.

  E. Peraserta Masyarakat
     1) Kearifan Lokal
        Kampung Muluy yang terletak di dalam Hutan Lindung Gunung Lumut,
        secara langsung bersentuhan dengan kawasan ini. Masyarakat di
        kampung tersebut terdapat 13 generasi yang memanfaatkan isi HLGL
        tanpa merusak, dengan hanya mengambil hasil hutan bukan kayu
        (HHBK) berupa rotan, madu, dan gaharu.

     2) Masyarakat Peduli
        Di Kab. Pasir terdapat berbagai kegiatan Kelompok Tani Hutan Rakyat
        (KTHR), seperti pembuatan HR Murni (274 kelompok), HR Tumpang Sari
        (91 kelompok), Kebun Bibit Desa (7 kelompok), Budidaya Rotan dan
        Gaharu, serta Reboisasi dan Rehabilitasi Mangrove (30 kelompok).
        Salah satunya KTHR Desa Kayungo Sari Kecamatan Long Ikis Pasir,
        dibentuk sejak Agustus 2000. Kelompok Tani Hutan saat ini
        penghasilanya mengandalkan dari tanaman sawit. Dengan bantuan bibit
        pohon jati membantu masyarakat untuk merubah sebagian lahan yang
        dimiliki dari non hutan menjadi hutan.


Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                          32
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

3. Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur
  A. Kinerja Dalam Program Menuju Indonesia Hijau
      Penerima Piagam Raksaniyata : Tahun 2009

  B. Gambaran Umum Wilayah
     Kabupaten Jombang secara geografis terletak pada posisi 112 o LU/LS
     200BT – 01’’ (kiri atas peta), 112o LU/LS 300BT – 01’’ (kiri bawah peta), 7o
     LU/LS 200BT – 01’’ (kanan atas peta) dan 7o LU/LS 450BT – 01’’ (kanan
     bawah peta) dengan luas wilayah administratif 115.950 ha . Kabupeten ini
     memiliki 21 Kecamatan, 307 desa, dengan jumlah penduduk 1.174.059 jiwa.
     Topografi kabupaten Jombang bervariasi, dari datar, bergelombang dan
     berbukit-bukit serta bergunung dengan ketinggian wilayah 44 – 800 mdpl
     dengan curah hujan rata-rata 1800 mm/tahun, suhu rata-rata 20 - 32oC.
     Kabupaten Jombang terdapat hutan 30.155,83 ha yang terdiri dari hutan
     lindung (2.125,1 ha), hutan produksi (20.580,8 ha), Tahura R Suryo
     (2.864,7 ha) dan Wana Wisata Sumberboto (10,2 ha).

  C. Tutupan Vegetasi Berhutan
     Dari interpretasi citra Landsat
     tahun 2009, sekitar 4,65% dari
     wilayah Kab. Jombang berupa
     tutupan vegetasi berhutan.

                                  Gambar 34.
                          Peta Tutupan Lahan
                 di Kab. Jombang Tahun 2009


       Tabel 8.
       Tutupan Lahan di Kab. Jombang Tahun 2009
        TUTUPAN LAHAN              LUAS (HA)        %
        Hutan Primer                  4.591,93       4,02
        Hutan Sekunder                  709,66       0,62
        Kebun Campuran               17.974,30      15,75
        Perkebunan                    5.305,27       4,65
        Permukiman                   17.508,93      15,34
        Sawah                        52.331,44      45,86
        Tanah Terbuka                   240,59       0,21
        Tegalan/Ladang               15.007,60      13,15
        Tubuh Air                       449,73       0,39
        TOTAL                       114.119,45     100,00

     Berdasarkan tutupan vegetasi berhutan
     tersebut, kondisi pada masing-masing
     kawasan lindung yakni pada kemiringan
     lereng >40% terdapat 92% berhutan,
     tetapi sempadan sungainya tidak ada
     yang berhutan.

                                        Gambar 35.
                                   Tutupan Berhutan


Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                  33
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU


  D. Keanekaragaman Hayati
     Di kawasan Taman Hutan Raya R Suryo, tumbuhan yang ada didominasi
     Cemara (Casuarinajunghuniana), dan Suren (Toena sureni). Sedangkan
     fauna yang ada seperti Rusa (Cerous timorensis), Kijang (Muntiacus
     muncak), Babi hutan (Sus Srofa), Kera abu-abu (Macaca fascicuis), Budeng
     (Presbytis cristata) dan berbagai jenis burung.

  E. Peraserta Masyarakat
     1) Kearifan Lokal
        Kearifan lokal yang ada di Kab. Jombang, berupa kegiatan perlindungan
        mata air. Secara umum mata air di percaya oleh hampir seluruh
        masyarakat desa memiliki kesakralan, sehingga apabila terjadi kerusakan
        mereka percaya akan mengakibatkan bencana.
         Kearifan Lokal Sendang Made Dusan Made Desa Made
          Sendang Made dipercaya oleh masyarakat Jombang sebagai tempat
          pertapaan prabu airlangga dan dikenal sebagai tempat untuk wisuda
          para Sinden. Petuah – petuah yang menjadi norma disana adalah
          bahwa masyarakat dilarang untuk
          melakukan       penebangan     pohon
          sekitar mata air dan dilarang
          membunuh satwa yang berada pada
          sendang tersebut.
         Kearifan Lokal Sendang Widodari di
          desa Cupak dipercaya sebagai
          tempat pertapaan Dewi Kilisuci.
          norma yang berlaku disana adalah
          bahwa masyarakat dilarang untuk melakukan penebangan pohon
          sekitar mata air dan dilarang membunuh satwa yang berada pada
          sendang tersebut

     2) Masyarakat Peduli
        Peranserta masyarakat dalam peningkatan sumberdaya hutan dan
        pengendalian kerusakan lingkungan antara lain melalui :
         Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Desa Carang Wulung
          Kecamatan Wonosalam merupakan kelompok konservasi sumberdaya
          alam dan pengendalian kerusakan lingkungan yang telah melakukan
          penanaman, perawatan dan pembibitan tanaman Cemara Gunung,
          Sorean, Gmelina, Lamtoro dan mahoni.
         Masyarakat Desa Manduro yang berjumlah 900 KK telah melakukan
          rehabilitasi lahan kritis seluas 100 ha dengan menanam jati dan
          melakukan perlindungan terhadap mata air.

     3) Dunia Usaha Peduli
        Kegiatan dunia usaha peduli terhadap konservasi sumber daya alam dan
        pengendalian kerusakan lingkungan, antara lain:
         PT. Sejahtera Usaha Bersama (SUB) melakukan sengonisasi di 21
          kecamatan, salah satunya berada pada kawasan penyangga Tahura R
          Suryo. Mekanisme pelaksanaanya adalah perusahaan memberikan
          bantuan bibit kepada masyarakat untuk ditanam pada lahan
          masyarakat. Apabila produksi perusahaan bersedia menampung hasil
          kayunya tetapi tidak mengikat, sedangkan Pemerintah Kabupaten

Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                34
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

          Jombang memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada masyarakat
          untuk perawatan dan pemeliharaan tanaman. Selain itu Pemkab juga
          memberikan bantuan pupuk kepada
          masyarakat.
         Perhutani menerapkan bagi hasil
          kepada masyarakat sekitar hutan
          perhutani,   dimana     masyarakat
          diperbolehkan menanam tumpang
          sari   dengan     tanaman   nilam,
          cengkeh,kopi dengan bagi hasil
          produksi (30% Perhutani dan 70%
          masyarakat), namun kompensasi yang diminta perusahaan adalah
          memelihara tanaman produksinya antara lain cemara gunung, jati
          dengan bagi hasil (30% masyarakat dan 70% Perhutani).

  F. Ekonomi Masyarakat
     Beberapa sumber pendapatan masyarakat dari pengelolaan hutan dan
     lahan, antara lain:
      Komoditi cengkeh di Desa Segunung Kecamatan Wonosalam. Dari
        luasan (sampel) lahan 6.5 ha menghasilkan 15 ton cengkeh dengan
        harga Rp 16.000/Kg, masyarakat memperoleh penghasilan Rp 960.000,-
        per orang per bulan.
      Komoditi Nilam dengan luas 150 ha menghasilkan 10.000 lt per musim
        panen. Petani memperoleh penghasilan Rp 428.572 per orangnya.
      Komoditi Kakao dengan luas lahan 75 ha menghasilkan 13.000 kg,
        sehingga petani memperoleh penghasilan Rp 2.730.000 ,- per orang.

  G. Upaya Pemerintah Kabupaten
     Dalam upaya pengelolaan lingkungan hidup, Pemerintah Kab. Jombang
     telah menetapkan berbagai kebijakan, antara lain:
      Peraturan Daerah Kabupaten Jombang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang
        Retribusi Izin Penebangan Pohon Dan Tata Usaha Hasil Hutan Di Luar
        dan Di Dalam Kawasan Hutan
      Peraturan Daerah Kabupaten Jombang Nomor 7 Tahun 2004 Tentang
        Retribusi Izin Pengelolaan Air Bawah Tanah
      Peraturan Daerah Bupati Jombang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang
        Rehabilitasi Kawasan Lindung dan Kawasan Rawan Bencana/Lahan
        Kritis.
     Untuk keperluan rehabilitasi hutan dan lahan, Pemkab melakukan kegiatan:
      Pemberian bantuan bibit tanaman kepada masyarakat.
      Penanaman pohon peneduk di bantaran sungai/tanggul-tanggul, saluran
        dalam kota dan pinggiran jalan kota.
      Pembuatan hutan kota di taman Merdeka, Taman Kepiaksari, Kantor
        Dinas PU, Desa Banjardowo (TPA) dan GOR Jombang.




Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009              35
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

4. Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau
  A. Kinerja Dalam Program Menuju Indonesia Hijau
      Penerima Piagam Raksaniyata : Tahun 2009

  B. Gambaran Umum Wilayah
     Kabupaten Kuantan Singingi terletak mulai dari 0’00 Lintang Utara – 1’00
     Lintang Selatan dan 101’02-101’55 Bujur Timur. Luas wilayah 766.854 ha,
     yang terdiri dari 12 kecamatan dengan penduduk sekitar 318.866 jiwa.
     Topografi wilayah dengan derajat kemiringan yang bervariasi, namun
     sebagian besar memiliki derajat kemiringan 0 – 15% dengan luas 202.176
     Ha, 15-25% seluas 172.324 Ha, 25 – 40 % seluas 70.040 Ha dan sebagian
     kecil memiliki derajat kemiringan > 40% dengan luas 22.358 Ha.
     Komoditas yang dihasilkan adalah karet, kelapa sawit, kelapa hibrida,
     kelapa dalam, kakao, kopi, pinang, enau, cengkeh, lada, kemiri, kayu manis,
     kapuk, jahe, dan gambir. Tetapi yang diusahakan secara massal, karet dan
     kelapa sawit.

  C. Tutupan Vegetasi Berhutan
     Dari interpretasi citra Landsat tahun
     2009, sekitar 38% dari wilayah Kab.
     Kuantan Singingi berupa tutupan
     vegetasi berhutan.

                                     Gambar 40.
                             Peta Tutupan Lahan
                            Kab. Kuantan Singingi
                                     Tahun 2009

     Tabel 10.
     Tutupan Lahan Kab. Kuantan Singingi Tahun 2009
        TUTUPAN LAHAN      LUAS (HA)   %
       Hutan Primer         107282,4 20,51
       Hutan Sekunder       93997,78 17,97
       Perkebunan           60309,46 11,53
       Permukiman           7436,001   1,42
       Rawa                 27289,66   5,22
       Sawah                533,5752   0,10
       Semak/Belukar        97644,59 18,66
       Tanah Terbuka        6765,518   1,29
       Tegalan/Ladang       119624,2 22,87
       Tubuh Air            2286,336   0,44
       TOTAL                523169,6 100,00

     Berdasarkan tutupan vegetasi berhutan tersebut, kondisi pada masing-
     masing kawasan lindung yakni pada kawasan hutan lindung terdapat 66%
     berhutan, kemiringan lereng >40% terdapat 100% berhutan, dan sempadan
     sungainya hanya 27% berhutan.



  D. Keanekaragaman Hayati

Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                 36
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

     Satwa liar yang dilindungi yang masih terdapat di Kabupaten Singingi
     umumnya merupakan satwa yang lindungi diatur dalam PP no 7/ Tahun
     1999, yang diantaranya adalah :
      Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrensis).
      Gajah (Elephasmaximus).
      Trenggiling (Manis Javanicu).
      Rusa (Cervus timorencis).
      Kera hutan (Macaca Fascicilarus).
     Disamping terdapat tumbuhan yang dilindungi diantaranya
     adalah:
      Pohon Lebah/Sialang
      Kayu Jalur
                                                             Gambar 41.
                                                          Pohon Siamang
  E. Peraserta Masyarakat
     1) Kearifan Lokal
        Salah satu lokasi kearifan tradisional yang ada adalah kegiatan
        perlindungan hutan oleh lembaga adat desa Jake di Kawasan Rimbo
        Larangan Jake. Bentuk kearfian tradisional di lokasi ini adalah berupa
        aturan adat yang melarang kegiatan perkebunan di kawasan Rimbo
        Larangan Jake yang seluas 400 ha. Selain itu Pemerintah memberlakukan
        aturan pelarangan kepemilikan hak tanah di kawasan ini dan pengawasan
        dilakukan oleh Lembaga desa adat Jake.

     2) Masyarakat Peduli
        Dalam membangun kepedulian masyarakat maupun kelompok
        masyarakat dan terus meningkatkan jumlahnya Pemerintah Kabupaten
        Kuantan Singingi memberikan perhatian kepada kelompok masyarakat
        yang melalukan kegiatan konservasi dan biodeversity dengan
        memberikan penghargaan yang diberikan oleh Bupati Kabupaten
        Kuantan Singingi.
        Selain untuk kegiatan konservasi dan biodeversity Pemerintah juga
        memberikan perhatian kepada masyarakat peduli api dengan
        mengukuhkan Kelompok masyarakat peduli api, yang bertujuan untuk
        melakukan kegiatan antisipasi dan perlindungan kerusakan hutan dan
        lahan akibat dari bencana kebakaran hutan.

  F. Ekonomi Masyarakat
     Peningkatan pendapatan masyarakat diperoleh dari          nilai jual karet, durian
     dan matoa. Tingkat pendapatan yang diperoleh              dapat mencapai Rp.
     2.000.000 rupiah dari hasil penjualan buah pohon           tersebut. Pendapatan
     tersebut merupakan dapat dikatakan sebagai salah          satu keberhasilan dari
     kegiatan konservasi dan penanaman.

  G. Upaya Pemerintah Kabupaten
     Pemerintah Kabupaten Singingi melakukan perlindungan terhadap tanaman
     aseli daerah yaitu Pohon lebah/Sialang yang ditetapkan dalam Peraturan
     Bupati Kuantan Singingi No 14 Tahun 2006 tentang Perlindungan Pohon
     Sialang dan hutan kepungannya. Pelestarian kayu jalur ditetapkan dalam
     RTRW dan Larangan adat masyarakat setempat.
5. Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat
Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                        37
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU


  A. Kinerja Dalam Program Menuju Indonesia Hijau
      Penerima Piagam Raksaniyata : Tahun 2009

  B. Gambaran Umum Wilayah
     Kabupaten Pesisir Selatan terletak antara 0º59´ - 2º28´ Lintang Selatan dan
     100º19´ - 101º18´ Bujur Timur. Dengan luas wilayah ± 5.749,89 km², yang,
     yang meliputi 11 kecamatan, 2 Perwakilan Kecamatan dan 36 Nagari
     dengan 185 Desa dan 3 Desa UPT yang lama disebut kampong. Jumlah
     penduduk tercatat 415.125 jiwa, Topografi wilayah bergelombang dan
     dilintasi oleh 18 buah sungai besar dan kecil serta bagian barat terdiri dari
     dataran rendah yang sempit, sedangkan bagian Selatan cenderung landai.
     Kab. Pesisir Selatan memiliki kawasan hutan seluas ± 3.969,15 km² atau
     69,03% dari luas wilayah. Pesisir Selatan memiliki panorama alam yang
     cukup indah dan mempesona seperti Kawasan Mandeh (masuk dalam
     Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional).

  C. Tutupan Vegetasi Berhutan
     Berdasarkan interpretasi Landsat
     tahun 2009, tutupan vegetasi
     berhutan di Kab. Pesisir Selatan
     seluas 610.777,56 ha atau 59,01%
     dari luas wilayah.

                                    Gambar 42.
                            Peta Tutupan Lahan
               Kab. Pesisir Selatan Tahun 2009


       Tabel 11.
       Tutupan Lahan Kab. Pesisir Selatan Tahun 2009
           TUTUPAN LAHAN           LUAS (HA)         %
         Hutan Primer             314.939,26        51,56
                                                               Tutupan         vegetasi
         Hutan Sekunder            45.307,19         7,42      berhutan        tersebut
         Mangrove                     151,99         0,02      sebagian besar berada
         Kebun Campuran            39.104,87         6,40      di   kawasan       hutan
         Perkebunan                50.392,36         8,25      TNKS, HSAW dan HL.
         Permukiman                 5.531,28         0,91      Di kawasan HL, hanya
         Rawa                      14.042,29         2,30      36% yang bervegetasi
         Sawah                     35.153,45         5,76      hutan. Sedangkan pada
                                                               lahan dengan lereng
         Semak/Belukar             39.457,53         6,46
                                                               >40% yang terdapat di
         Tambak/Empang                 44,66         0,01      kawasan hutan TNKS
         Tanah Terbuka              2.538,31         0,42      dan HSAW, 87,84%
         Tegalan/Ladang            62.266,01        10,19      masih berhutan.
         Tubuh Air                  1.848,36         0,30
         TOTAL                    610.777,56       100,00




  D. Keanekaragaman Hayati
Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                        38
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

     Dengan kondisi TNKS, HSAW dan HL yang tutupan vegetasi masih baik,
     merupakan indikator masih terjaganya tumbuhan dan satwa yang berada di
     dalam kawasan hutan tersebut. Tumbuhan dan satwa yang berada di TNKS
     dan HSAW diantaranya Harimau Sumatera (Panthera trigris saumatraensis),
     Tapir (Tapirus indicus), dan Beruang madu (Herlactos malayanus).
     Tumbuhan yang masih dapat ditemukan antara
     lain Rafflesia arnodi, tanaman Pohon Andalas
     (Morus macraura), Pinus Kerinci (Pinus Merkusii
     Strain Kerinci), dan Meranti. Selain kekayaan
     keanekaragaman hayati darat, Kab. Pesisir
     Selatan juga kaya dengan keanekaragaman hayati
     di laut, salah satunya penyu.



                                                Gambar 43.
                               Penyu dan Kawasan Konservasi



  E. Peraserta Masyarakat
     1) Kearifan Lokal
        Dalam upaya pelestarian sumber daya alam agar bisa dimanfaatkan
        secara kontinyu, terdapat keraifan lokal ”lubuk larangan” di 22 kawasan.
        Salah satunya Sungai Lubuk Labau di Nagari Kotopulai Kecamatan
        Lengayang. Sungai Ikan di Sungai ini tidak boleh diambil oleh masyarakat
        secara sembarangan. Pengambilan ikan dilakukan secara bersama-sama
        dengan membuat/mengadakan suatu even tertentu. Ikan yang hidup di
        Sungai Labau ini adalah jenis ikan lokal yakni ikan Garing yang
        merupakan populasi yang paling banyak, disamping itu juga terdapat ikan
        panjang, ikan mungkui dan udang. Menurut mitos masyarakat setempat
        apabila ada yang melanggar
        atutran adat tersebut dengan
        mengambil ikan di lubuk
        larangan tersebut maka akan
        mengalami sakit perut apabila
        memakan ikan tersebut.


                               Gambar 44.
            Lokasi Lubuk Larangan dan Ikan
                                 Larangan



     2) Masyarakat Peduli
        Peran serta masyarakat dalam upaya pelestarian hutan/alam, salah
        satunnya adalah kelompok masyarakat Timbulun Tujuh yang berlokasi di
        Kampung Koto Gadang Nagari Air Aji Kecamatan Lingga Sari Beranti
        Kabupaten Pesisir Selatan. Kelompok tani ini memiliki anggota sebanyak
        70 orang yang bergerak dibidang perkebunan karet dan tanaman
        campuran. Luas areal kelompok tani ini adalah 75 Ha yang terdiri-dari 25
        Ha berupa lahan kebun karet dan 50 Ha lahan kebun tanaman campuran
        antara lain surian, mahoni, pala, coklat dan lain-lain.

Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                 39
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU




                                         Gambar 45.
          Lokasi Penanaman Oleh Kelompok Masyarakat




     Selain dari itu, peran serta masyarakat di Kabupaten Pesisir Selatan juga
     dilakukan di areal pantai, yakni dengan menanam cemara laut di sepanjang
     pantai. Kegiatan ini sangat bertmanfaat
     untuk menjaga lingkungan sekitar pantai
     atau pesisir agar tidak mengalami
     kerusakan misalnya pengikisan oleh ombak
     laut. Disamping itu keberadaan pohon ini
     juga turut memberikan fungsi lain misalnya
     satwa/burung di daerah sekitar dapat
     bersarang dan berkembang biak.

                                                                            Gambar 46.
                                                Tanaman Cemara Laut di Sempadan Sungai

     Dalam rangka pemeliharaan lingkungan sekitar pantai maupun pesisir,
     disamping melakukan penanaman cemara laut, di wilayah pantai yang lain
     juga telah dilakukan penanaman mangrove. Tanaman mangrove ini berguna
     untuk mencegah kerusakan areal pantai dan pesisir, serta bermanfaat bagi
     perkembangbiakan hewan/fauna di laut.

  F. Ekonomi Masyarakat
     Apabila dilihat dari kontribusi sektor terhadap PDRB, sektor yang dominan
     atau memiliki kontribusi yang tinggi adalah sektor pertanian, perdagangan,
     hotel dan restoran. Untuk mengetahui peningkatan ekonomi masyarakat dari
     pemanfaatan sumber daya alam, salah satu sub sektor pertanian adalah
     perkebunan dengan komoditi karet, kopi dan gambir. Dari 3 komoditi ini,
     menggunakan lahan seluas lebih dari 14.000 ha.

     Sebagai contoh masyarakat yang tinggal di Nagari Koto Pulai, memiliki mata
     pencaharian berkebun karet dengan jumlah penduduk sekitar 3500 jiwa atau
     700 KK, pada umumnya adalah. Luas kebuh karet yang dimiliki oleh
     masyarakat adalah sekitar 0,5 Ha per KK. Dengan lahan seluas itu dapat
     diperoleh hasil sabanyak 60 kg karet tiap minggu. Dengan harga karet per
     kilo sekitar Rp. 7.000, maka dapat diperoleh hasil Rp. 420.000 atau Rp.
     1.680.000 tiap bulan. Dengan nilai pendapatan tersebut, maka sudah
     melampaui batas/di atas upah minimum Kabupaten Pesisir Selatan.
     Disamping tanaman karet, penduduk di daerah ini juga berkebun durian.
     Hasil dari durian ini juga dapat membantu peningkatan perekonomian
     masyarakat setempat.




Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                       40
PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

  G. Upaya Pemerintah Kabupaten
     Dengan keterbatasan lahan yang dapat
     digunakan dalam peningkat ekonomi,
     Pemda dan masyarakat setempat sedang
     mengembangkan             percontohan
     pengelolaan perikanan secara terpadu
     pada kawasan Mandeh. Untuk keperluan
     pengembangan tersebut, Pemda telah
     melakukan penghijauan kembali.

                                                                           Gambar 47.
                            Kawasan Mandeh Pengembangan Pengelolaan perikanan Terpadu

     Wilayah Kab. Pesisir Selatan yang kawasan budidayanya sangat terbatas,,
     Pemda secara terus menerus sejak tahun 2003 telah melakukan rehabilitasi
     ;lahan dengan tanaman Mahoni, Surian, Gaharu dan Pete. Disamping itu,
     penambahan tutupan vegetasi juga dilakukan dengan komoditi karet, kopi
     dan lain-lain.




Profil Kabupaten Penerima Trophy dan Piagam Raksaniyata 2009                      41

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1900
posted:6/25/2010
language:Indonesian
pages:41