Docstoc

proposal penelitian - PDF

Document Sample
proposal penelitian - PDF Powered By Docstoc
					PROPOSAL SKRIPSI




EFEKTIVITAS        MODEL        PEMBELAJARAN        KOOPERATIF        DENGAN
METODE PENEMUAN BERBANTUAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS)
PADA        PEMBELAJARAN                MATEMATIKA       MATERI         POKOK
TRIGONOMETRI DI SMA NEGERI 1 SEMENDE DARAT LAUT


1. Latar Belakang

       Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari

tingkat sekolah dasar sampai sekolah tingkat menengah. Adapun tujuan pembelajaran

matematika di sekolah-sekolah ini adalah untuk membentuk kemampuan pada diri

siswa yang tercermin melalui kemampuan berpikir kritis, logis, sistematis, dan

memiliki sifat obyektif, jujur, dan disiplin dalam memecahkan suatu permasalahan

baik dalam bidang matematika, bidang lain, maupun dalam kehidupan sehari-hari

(Widdiharto, 2004:1). Namun, pada proses pembelajaran matematika ini terdapat

banyak permasalahan, salah satunya yang paling konseptual yaitu kesulitan siswa

dalam belajar matematika itu sendiri.


                                          1
       Mengingat betapa pentingnya pembelajaran matematika di setiap jenjang-

jenjang pendidikan, maka peran guru sangatlah penting untuk mewujudkan

tercapainya tujuan pembelajaran matematika tersebut. Seorang guru bukan hanya

memberikan pengetahuan mengenai materi pembelajaran yang akan diajarkan

kepada siswa, namun guru harus bisa merencanakan suatu pembelajaran yang efektif.

Sehingga apa yang menjadi tujuan pembelajaran tersebut dapat tercapai.


       Berdasarkan penuturan salah satu guru mata pelajaran matematika di SMA

Negeri 1 Semende Darat Laut, bahwa masih banyak siswa kelas X yang kurang

pemahamannya mengenai materi pokok trigonometri. Semua ini bukan semata-mata

hanya kesalahan siswa tetapi dapat juga karena penggunaan model, metode

pembelajaran yang kurang tepat dan kurang efektif sehigga menimbulkan suasana

pembelajaran yang tidak efektif. Kurangnya kevariasian model, metode pembelajaran

yang digunakan guru disebabkan karena guru merasa kesulitan dalam memilih model,

metode, dalam pembelajaran matematika karena dipengaruhi oleh perbedaan

individual siswa yang satu dengan yang lainnya. Hal tersebut menyebabkan

kurangnya minat belajar siswa terhadap mata pelajaran matematika, karena

pembelajaran matematika di kelas cenderung monoton berpusat pada guru sehingga

membuat siswa bosan untuk mengikuti pembelajaran matematika tersebut.

       Selain itu, pada saat pembelajaran materi pokok trigonometri kebanyakan

siswa hanya menerima dan menghafal konsep-konsep, rumus-rumus yang diajarkan,

tanpa tahu bagaimana proses dari penemuan konsep-konsep dan rumus dari materi



                                         2
trigonometri tersebut. Hal tersebut menyebabkan kurangnya pemahaman siswa

terhadap konsep-konsep dari materi trigonometri.

       Untuk mengatasi permasalahan dalam pembelajaran matematika seperti yang

telah diuraikan di atas, maka perlu kiranya dikembangkan suatu bentuk atau model,

metode,dan alat bantu pembelajaran yang efektif, berpusat pada siswa, memahami

prinsip perbedaan individual siswa, dan mampu meningkatkan peran aktif siswa

dalam pembelajaran matematika khususnya pada materi trigonometri. Salah satu

bentuk atau model, metode, alat bantu pembelajaran yang dapat mengakomodasi

kepentingan untuk mengkolaborasikan pengembangan diri di dalam proses

pembelajaran matematika adalah model pembelajaran kooperatif dengan metode

penemuan berbantuan lembar kerja siswa (LKS). Menurut Darmadi (2006:4) dengan

adanya pembelajaran kelompok kecil dengan metode penemuan, siswa dapat lebih

aktif dan bekerja dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang yang memiliki

kemampuan yang berbeda-beda untuk mendapatkan pengetahuan baru yang

merupakan penemuan individu serta dengan LKS dapat membantu siswa dalam

menemukan sifat-sifat, rumus-rumus dalam trigonometri. Sehinga kompetensi-

kompetensi dasar dalam pembelajaran matematika materi pokok trigonometri ini

dapat tercapai.

       Dari hasil kajian terdahulu yang relevan dengan model pembelajaran

kooperatif dengan metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa (LKS) ini yaitu

penelitian Dwi Darmadi dengan judul penelitian “Keefektifan model pembelajaran

kooperatif dengan metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa (LKS) pada

                                        3
pembelajaran matematika sub materi pokok trigonometri kelas X SMA Negeri 8

Semarang semester 2 tahun pelajaran 2006/2007”. Didapatkan kesimpulan bahwa

model pembelajaran kooperatif dengan metode penemuan berbantuan lembar kerja

siswa lebih baik daripada pembelajaran konvensional dengan metode ekspositori.

       Adapun yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu

pada tempat penelitian, dan variabel penelitian yang menjadi titik perhatian penulis.

       Dari uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang

“Efektifitas Model Pembelajaran Kooperatif Dengan Metode Penemuan

Berbantuan Lembar Kerja Siswa            (LKS) Dalam Pembelajaran Matematika

Materi Pokok Trigonometri Di SMA Negeri 1 Semende Darat Laut”



2. Masalah dan Pembatasan Masalah

2.1 Masalah

       Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi masalah dalam

penelitian ini adalah “ bagaimana efektivitas model pembelajaran kooperatif dengan

metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa (LKS) materi pokok trigonometri

dilihat dari hasil belajar siswa di SMA Negeri 1 Semende Darat Laut ?



2.2 Pembatasan Masalah

       Untuk menghindari kesalahpahaman dalam penafsiran permasalahan di atas

maka penulis memberikan pembatasan masalah. Adapun pembatasan masalah yang

dimaksud dalam proposal ini yaitu sebagai berikut :

                                           4
1) Efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti dapat membawa hasil; berhasil

   guna (usaha tindakan) (KBBI,1997:293). Jadi yang dimaksud dengan efektivitas

   dalam proposal penelitian ini adalah dapat membawa hasil atau keberhasilan

   dalam mencapai tujuan dengan model pembelajaran kooperatif dengan metode

   penemuan berbantuan lembar kerja siswa (LKS) yang dilihat dari hasil belajar

   siswa mencapai ketuntasan belajar secara perorangan dengan skor  65 % atau 6,5

   dan secara klasikal dikelas tersebut telah mendapat  85 % siswa telah tuntas

   secara perseorangan.

2) Model pembelajaran kooperatif dalam proposal ini adalah suatu bentuk

   pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil

   yang terdiri dari 4-6 orang yang heterogen untuk menyelesaikan suatu

   permasalahan atau tugas yang diberikan oleh guru.

3) Metode penemuan adalah suatu metode dimana guru dalam proses pembelajaran

   memperkanankan siswanya untuk menemukan sendiri informasi-informasi,

   rumus-rumus dengan cara siswa itu sendiri. Menurut Darmadi (2006:6), Metode

   penemuan ini digabung dengan model pembelajaran kooperatif berdasar pada

   teori bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep sulit bila

   menggunakan model pembelajaran ini.

4) Lembar kerja siswa disingkat LKS merupakan salah satu media cetak berupa

   lembaran kertas yang berisi soal atau pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa.

   Adapun LKS yang dimaksud dalam proposal ini adalah alat bantu pembelajaran



                                        5
   yang berupa soal-soal yang menuntun siswa dalam proses penemuan mengenai

   konsep-konsep dan rumus dari materi trigonometri yang harus dipahami oleh

   siswa. Dengan berbantuan LKS ini siswa diharapkan dapat berperan aktif dalam

   proses penemuan mengenai konsep-konsep dan rumus dari materi trigonometri.

5) Dalam kamus Matematika, kata Trigonometri berasal dari Yunani yang berarti

   ukuran segitiga. Trigonometri merupakan salah satu materi pokok untuk siswa

   kelas X semester 2 Tahun Pelajaran 2006/ 2007. Trigonometri terdiri dari sub

   pokok bahasan perbandingan Trigonometri, perbandingan Trigonometri sudut

   berelasi, grafik fungsi Trigonometri dan persamaan Trigonometri serta aturan

   sinus, kosinus dan luas daerah segitiga. Pada penelitian ini materi yang dibahas

   adalah aturan sinus, kosinus dan luas daerah segitiga

6) Subjek yang diteliti disini adalah siswa kelas X di SMA Negeri 1 Semende

   Darat Laut.



3. Tujuan Penelitian

      Berdasarkan rumusan masalah yang telah penulis/calon peneliti uraikan di

atas, maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui

efektifitas model pembelajaran kooperatif dengan metode penemuan berbantuan

lembar kerja siswa sub materi pokok bentuk Trigonometri di kelas X SMA Negeri 1

Semende Darat Laut.




                                          6
4. Manfaat Penelitian

   Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai bertikut :

Bagi Guru, yaitu sabagai motivasi untuk meningkatkan keterampilan memilih bentuk

pembelajaran yang berpusat pada siswa, membuat siswa aktif, dan dapat

meningkatkan      kemampuan   siswa   serta   mempersiapkan     diri dalam    proses

pembelajaran.



5. Tinjauan Pustaka

5.1 Efektivitas

       Efektivitas berasal dari bahasa inggris yaitu Effective yang berarti berhasil,

tepat atau manjur. Efektivitas menunjukan taraf tercapainya suatu tujuan, suatu usaha

dikatakan efektif jika usaha itu mencapai tujuannya. Secara ideal efektivitas dapat

dinyatakan dengan ukuran-ukuran yang agak pasti, misalnya usaha X adalah 60%

efektif dalam Mencapai tujuan Y. Didalam Kamus Bahasa Indonesia Efektivitas

berasal dari kata efektif yang berarti mempunyai efektif, pengaruh atau akibat, atau

efektif juga dapat diartikan dengan memberikan hasil yang memuaskan. Dari uraian

diatas dapat dijelaskan kembali bahwa efektivitas merupakan keterkaitan antara

tujuan dan hasil yang dinyatakan, dan menunjukan derajat kesesuaian antara tujuan

yang dinyatkan dengan hasil yang di capai.


       Efektivitas pembelajaran dapat diukur dengan mengadaptasi pengukuran

efektivitas pelatihan yaitu melalui evaluasi .Pengukuran efektivitas proses belajar



                                         7
mengajar dapat diukur melalui nilai evaluasi siswa. Bila hasil belajar siswa berhasil

mencapai ketuntasan belajar secara perorangan dengan skor ≥ 65 % atau 6,5 dan

secara klasikal dikelas tersebut telah terdapat ≥ 85 % siswa telah tuntas secara

perorangan,maka pembelajaran tersebut dikatakan efektif.(Depdikbud:1994 dalam

http://sambasalim. com/pendidikan/konsep-efektifvitas-pembelajaran.html).


           Demikian juga dengan efektivitas model pembelajaran kooperatif dengan

metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa dalam proses pembelajaran

matematika. Dalam hal ini dikhususkan pada materi pokok trigonometri. Efektivitas

dalam penelitian ini adalah keberhasilan dalam mencapai tujuan dengan model

pembelajaran kooperatif dengan metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa

pada pembelajaran matematika materi pokok trigonometri di SMA Negeri 1 Semende

Darat Laut yang diukur melalui nilai evaluasi siswa pada akhir materi pembelajaran.

Bila hasil belajar siswa berhasil mencapai ketuntasan belajar secara perorangan

dengan skor ≥ 65 % atau 6,5 dan secara klasikal dikelas tersebut telah terdapat ≥ 85

% siswa telah tuntas secara perorangan, maka pembelajaran tersebut dikatakan

efektif.



5.2 Model Pembelajaran

           Menurut Joice dan Weil (dalam Isjoni, 2009: 73) model pembelajaran adalah

suatu pola atau rencana yang sudah direncanakan sedemikian rupa dan digunakan

untuk menyusun kurikulum, mengatur materi pembelajaran, dan memberi petunjuk



                                           8
kepada pengajar dikelasnya. Sedangkan menurut Soekamto, dkk (dalam Widdiharto,

2004:3) model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur

yang sistematis dalam mengorganisasikan penglaman belajar untuk mencapai tujuan

belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran

dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.

        Ismail      (dalam   Widdiharto,   2003:3)   mengemukakan    bahwa     model

pembelajaran mempunyai empat ciri khusus. Ciri khusus tersebut antara lain sebagai

berikut :

    a. Rasional teoritik yang logis yang disusun oleh penciptanya.

    b. Tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

    c. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model pembelajaran tersebut

        berhasil.

    d. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran tercapai.

        Dari pendapat-pandapat dan ciri-ciri khusus model pembelajaran di atas,

penulis menyimpulkan bahwa model pembelajaran adalah pola atau bentuk

pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir pembelajaran yang disajikan

secara khas oleh guru        dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang ingin

dicapai.



5.3 Model Pembelajaran Kooperatif

        Model pembelajaran kooperatif bukanlah hal yang baru dalam dunia

pendidikan khususnya pada mata pelajaran matematika. Model pembelajaran

                                            9
kooperatif ini adalah suatu perubahan bentuk pembelajaran yang selama ini monoton

berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Menurut Slavin

(dalam Isjoni, 2009:15) pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran

dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang anggotanya

4-6 orang dengan struktur kelompok yang heterogen. Selanjutnya, Jhonson &

Jhonson (dalam Isjoni, 2009: 63) mengemukakan pembelajaran kooperatif adalah

mengerjakan sesuatu bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya

sebagai satu tim untuk mencapai tujuan bersama.

       Dari kedua pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa model

pembelajaran kooperatif adalah suatu bentuk atau model yang mengelompokkan

siswa kedalam suatu kelompok yang heterogen terdiri dari 4-6 orang untuk besama-

sama mendiskusikan atau menyelesaikan suatu tugas atau bahan pembelajaran yang

diberikan untuk mencapai tujuan bersama.

       Menurut Ibrahim (dalam Isjoni, 2009: 39) pada dasarnya model pembelajaran

kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran

yang penting, yaitu :

       a. Hasil belajar akademik, pembelajaran kooperatif bertujuan untuk

           meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.

       b. Penerimaan terhadap perbedaan individu, model pembelajaran kooperatif

           bertujuan untuk penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda-

           beda     berdasarkan   ras,     budaya,   kelas   sosial,   kemampuan,

           ketidakkemampuannya.

                                         10
       c. Pengembangan keterampilan sosial, model pembelajaran kooperatif

           bertujuan untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerjasama dan

           kolaborasi.

       Terkait dengan pembelajaran kooperatif, menurut Lestari (2006:10) ciri-ciri

pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :

       a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan

           materi belajarnya.

       b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang,

           dan rendah.

       c. Bilamana mungkin, anggota kelompok barasal dari ras, budaya, suku,

           jenis kelamin berbeda-beda.

       d. Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.

5.4 Metode Penemuan

       Metode penemuan merupakan komponen dari praktik pendidikan yang

meliputi metode mengajar yang memajukan cara belajar aktif, berorientasi pada

proses, mengarahkan sendiri, mencari sendiri dan reflektif. Menurut Encylopedia of

Educational Research (Suryobroto, 2009: 178) , penemuan merupakan suatu strategi

yang unik dapat diberi bentuk oleh guru dalam berbagai cara, termasuk dalam

mengajarkan keterampilan menyelidiki dan memecahkan masalah sebagai alat bagi

siswa untuk mencapai tujuan pendidikannya.

       Menurut Sukarti (2006:13), Metode penemuan dapat dibagi menjadi dua jenis

diantaranya adalah :

                                         11
1) Penemuan murni

       Dilaksanakan dengan murni, pelajaran terfokus pada siswa dan tidak terfokus

pada guru. Siswalah yang menentukan tujuan dan pengalaman yang diinginkan.

Peranan guru adalah menyajikan suatu situasi belajar atau masalah kepada siswa.

Kemudian para siswa diminta untuk mengkaji dan menemukan fakta atau relasi yang

terdapat dalam masalah tadi dan akhirnya para siswa yang akan menarik suatu

generalisasi dari apa yang mereka temukan. Kegiatan ini biasanya diterapkan pada

siswa yang tergolong mampu.

2) Penemuan terbimbing atau inkury

       Guru mengarahkan atau memberi petunjuk kepada para siswa tentang materi

pelajaran, dengan bimbingan ini memungkinkan berkurangnya frustasi pada siswa.

Bentuk bimbingan yang diberikan guru bisa berupa petunjuk, arahan, pertanyaan atau

dialog sehingga diharapkan siswa sampai pada kesimpulan atau generalisasi sesuai

dengan yang diinginkan guru.



5.4.1 Langkah-Langkah Metode Penemuan

       Di dalam penggunaan metode penemuan ada beberapa langkah yang harus

diperhatikan, diantaranya sebagai berikut :

   1) Identifikasi kebutuhan siswa.

   2) Seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian konsep dan

       generalisasi yang akan dipelajari.

   3) Seleksi bahan, dan problema / tugas-tugas.

                                            12
   4) Membantu memperjelas.

   5) Tugas / problema yang akan dipelajari.

   6) Peranan masing-masing siswa.

   7) Mempersiapkan setting kelas dan alat-alat yang diperlukan.

   8) Mengecek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan dan

      tugas-tugas siswa.

   9) Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan penemuan.

   10) Membantu siswa dengan informasi / data, jika diperlukan oleh siswa.

   11) Memimpin analisis sendiri (self analysis)        dengan pertanyaan yang

      mengarahkan dan mengidentifikasi proses.

   12) Merangsang terjadinya interaksi antar siswa dengan siswa.

   13) Memuji dan membesarkan siswa yang bergiat dalam proses penemuan.

   14) Membantu siswa merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi atas hasil

      penemuannya.

      (Suryobroto, 2009:184)



5.5 Lembar Kerja Siswa (LKS)

      Lembar kerja siswa disingkat LKS ini merupakan salah satu media cetak

berupa lembaran kertas yang berisi informasi soal atau pertanyaan yang harus

dijawab oleh siswa (Hidayah dalam Lestariningsih, 2006:8). Dengan berbantuan LKS

ini siswa diharapkan dapat berperan aktif dalam mengerjakan soal-soal yang

diberikan yang menghasilkan penemuan-penemuan terhadap konsep yang harus

                                        13
dipahami oleh siswa agar pemahaman konsep-konsep tersebut dapat bertahan lama di

dalam diri siswa.



5.6 Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif Dengan Metode

     Penemuan Berbantuan Lembar Kerja Siswa

       Dari uraian-uraian mengenai komponen-komponen model pembelajaran

kooperatif dengan metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa di atas, penulis

menggambarkan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif dengan metode

penemuan berbantuan lembar kerja siswa sebagai berikut :

   1) Guru      menyampaikan       materi        pembelajaran   secara   singkat   serta

       menginformasikan bahwa siswa nantinya akan dikelompokkan kedalam

       beberapa kelompok untuk menyelesaikan serta menemukan sifat-sifat, rumus,

       pengertian dari materi yang diberikan.

   2) Guru mengelompokkan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar yang

       heterogen terdiri dari 4-6 siswa.

   3) Guru menjelaskan bahwa setiap masing-masing kelompok nantinya diberikan

       kesempatan untuk melakukan penemuan tentang konsep-konsep, rumus dari

       materi yang diberikan.

   4) Guru membagikan lembar kerja siswa (LKS) yang harus dikerjakan oleh

       masing-masing kelompok yang sudah terbentuk.




                                            14
   5) Guru memberikan arahan kepada masing-masing siswa dalam kelompok

       untuk menggunakan lembar kerja siswa dalam proses pengerjaan soal latihan

       yang berujung pada penemuan-penemuan konsep-konsep dan rumus.

   6) Guru mengamati dan memantau kinerja masing-masing siswa dalam tiap

       kelompok.

   7) Guru memilih secara acak perwakilan dari masing-masing kelompok untuk

       menyampaikan/mempresentasekan hasil temuannya ke depan kelas.

   8) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanggapi hasil temuan

       yang disampaikan di depan kelas.

   9) Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang baru saja dipelajari

   10) Diakhir pertemuan atau pada akhir materi pokok guru memberikan tes untuk

       mengevaluasi hasil belajar siswa dalam hal ini pada materi trigonometri.



6. Kajian Terdahulu Yang Relevan

       Seperti yang telah diuraikan oleh penulis pada bagian latar belakang bahwa

ada penelitian terdahulu yang relevan dengan model pembelajaran kooperatif dengan

metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa (LKS) ini. Untuk menghindari

dugaan “plagiat”, maka pada bagian ini penulis akan menguraikan hasil penelitian

terdahulu mengenai model pembelajaran kooperatif dengan metode penemuan

berbantuan lembar kerja siswa (LKS) ini.

       Dari penelitian Dwi Darmadi dengan judul penelitian “Keefektifan model

pembelajaran kooperatif dengan metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa

                                           15
(LKS) pada pembelajaran matematika sub materi pokok trigonometri kelas X SMA

Negeri 8 Semarang semester 2 tahun pelajaran 2006/2007”, diperoleh kesimpulan

bahwa model pembelajaran kooperatif dengan metode penemuan berbantuan lembar

kerja siswa lebih baik daripada model pembelajaran konvensional dengan metode

ekspositori.

       Adapun yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu

tempat penelitian, dan variabel penelitian yang menjadi titik perhatian penulis.



7. Prosedur Penelitian

7.1 Variabel Penelitian

       “Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu

penelitian” (Arikunto, 2006:116).

       Adapun variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah hasil belajar

matematika siswa setelah diterapkannya model pembelajaran kooperatif dengan

metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa yang diukur melalui nilai evaluasi

siswa pada akhir materi pokok trigonometri.



7.2 Definisi Operasional Variabel

       Agar pengertian variabel dalam penelitian ini lebih jelas, maka perlu

didefinisikan, yaitu Hasil belajar matematika siswa setelah diterapkannya model

pembelajaran kooperatif dengan metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa

merupakan nilai tes yang diperoleh siswa pada akhir materi pokok trigonometri.

                                          16
8. Populasi dan Sampel

8.1 Populasi

       Menurut Komarudin (dalam Mardalis, 2008:53) Populasi adalah semua

individu yang menjadi sumber dalam pengambilan sampel. Pada kenyataannya

populasi itu adalah sekumpulan kasus yang perlu memenuhi syarat-syarat tertentu

yang berkaitan dengan masalah penelitian. Kasus tersebut dapat berupa orang,

barang, binatang, hal atau peristiwa Adapun populasi dalam penelitian ini adalah

seluruh siswa kelas X di SMA Negeri 1 Semende Darat Laut tahun pelajaran

2009/2010 yang terdiri atas 4 kelas dengan jumlah siswa sebanyak siswa, dengan

rincian sebagai berikut:

      Kelas                Laki-laki        Perempuan             Jumlah

      X. A                    13               24                   37

      X. B                    17               20                   37

      X. C                    23               14                   37

      X. D                    24               12                   36

     Jumlah                   77               70                   147

Sumber: Tata Usaha SMA Negeri 1 Semende Darat Laut tahun pelajaran 2009/2010



8.2 Sampel

       Sampling atau sampel berarti contoh, yaitu sebagian dari seluruh individu

yang menjadi objek penelitian. (Mardalis, 2008:55). Adapun teknik pengambilan



                                       17
sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simple random sampling.

Penggunaan teknik simple random sampling ini dilakukan setelah memperhatikan

ciri-ciri antara lain siswa mendapat materi beradasarkan kurikulum yang sama, siswa

yang dijadikan objek duduk dikelas yang sama yaitu kelas X, dan pembagian kelas X

di SMA Negeri Satu Semende Darat Laut tidak berdasarkan peringkat melainkan

disebar secara merata disetiap kelas sehingga tidak terdapat kelas unggulan.

       Dengan menggunakan teknik simple random sampling, maka dipilih kelas

X.A sebagai kelas eksperimen, dengan rincian sebagai berikut :

      Kelas              Laki-laki            Perempuan                Jumlah

      X. A                  13                     24                     37

     Jumlah                 13                     24                     37

Sumber: Tata Usaha SMA Negeri 1 Semende Darat Laut tahun pelajaran 2009/2010



8.3 Metode Penelitian

       “Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam

mengumpulkan data penelitiannya” (Arikunto, 2002:136). Metode yang digunakan

dalam penelitian ini adalah metode eksperimen semu kategori one shot case study.

“Metode eksperimen semu kategori one shot case study adalah sebuah eksperimen

yang dilaksanakan tanpa adanya kelompok pembanding dan juga tes awal, dengan

metode ini peneliti ingin mengetahui efek dari perlakuan yang diberikan pada

kelompok tanpa mempengaruhi faktor lain (Arikunto,2002:169)




                                         18
8.4 Teknik Pengumpulan Data

Menurut Arikunto (2002:197) bahwa pengumpulan data merupakan pekerjaan yang

paling penting dalam penelitian. Metode-metode yang digunakan untuk pengumpulan

data yaitu:

1. Metode Dokumentasi

       Metode ini digunakan untuk memperoleh data nama siswa yang akan menjadi

sampel dalam penelitian ini dan untuk memperoleh data nilai ulangan harian. Data

nilai ulangan harian ini nantinya akan dijadikan acuan dalam pembentukan kelompok

pada kelas eksperimen yang mendapatkan perlakuan model pembelajaran kooperatif

dengan metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa (LKS).

2. Metode Tes

       Setelah semua materi pelajaran diberikan pada siswa, maka langkah

berikutnya adalah pemberian tes berupa soal essay berbentuk uraian. Metode tes

digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar matematika       siswa serta ketuntasan

belajar siswa secara perseorangan maupun klasikal pada materi pokok trigonometri.

       Instrumen yang digunakan terdiri atas 5 butir soal yang sudah diujicobakan di

kelas uji coba instrumen dengan durasi waktu 60 menit. Hasil tes tersebut digunakan

sebagai data akhir untuk mengukur efektivitas model pembelajaran kooperatif dengan

metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa (LKS) pada pembelajaran

matematika materi pokok trigonometri di SMA Negeri 1 Semende Darat Laut.




                                        19
8.5 Teknik Analisis Data

8.5.1 Analisa Data Tes

       Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskiptif yang

digunakan untuk menggambarkan hasil belajar siswa setelah digunakan model

pembelajaran kooperatif dengan metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa

(LKS) pada pembelajaran matematika materi pokok trigonometri di SMA Negeri 1

Semende Darat Laut.

       Adapun langkah langkah yang dilakukan untuk menganalisis data terhadap

hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika adalah :

   1. Membuat kunci jawaban

   2. Membuat pedoman penskoran

   3. Memeriksa jawaban siswa

   4. Memberikan skor hasil jawaban siswa sesuai dengan pedoman penskoran

   5. Menentukan skor rata-rata yang diperoleh masing – masing siswa yang

       dikonversikan menjadi nilai dalam rentang 0 – 100 dengan aturan

              jumlah skor yang dipeoleh
       Na =                             x 100
                  jumlah skor maks

   6. Membuat analisis hasil belajar pada materi pokok trigonometri




                                         20
                                Skor yang dipeoleh                        Ketuntasan
    N       No soal       1     2    3    4    5 Jmlh             %       Ya Tidak
    o                                                        ketercapaian
         Bobot soal
         Nama siswa




         Jumlah skor


         Jumlah skor
         maks

         % skor
         tercapai


        Keterangan

       Ketuntasan belajar individual

        Ketuntasan belajar individual (siswa) tercapai jika siswa tersebut telah mencapai

        nilai ≥ 65 %.

       Ketuntasan belajar klasikal

        Suatu kelas dikatakan tuntas klasikal apabila dalam kelas tersebut terdapat ≥ 85 %

        siswa telah tuntas secara individual.(Depdikbud:1994 dalam http://sambasalim.

        com/pendidikan/konsep-efektifvitas-pembelajaran.html).




                                             21
                              DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta

Darmadi, Dwi. 2006. Keefektifan Model Pembelajaran Kooperatif Dengan Metode
      Penemuan Berbantuan Lembar Kerja Siswa (LKS) Pada Pembelajaran
      Matematika Sub Materi Pokok Trigonometri Kelas X SMA Negeri 8 Semarang
      Semester 2 Tahun Pelajaran 2006/200. Skripsi. Semarang: UNNES.

http://sambasalim. com/pendidikan/konsep-efektifvitas-pembelajaran.html).

Isjoni. 2009. Pembelajaran Kooperatif Meningkatkan Kecerdassan Komunikasi
        Antar Peserta Didik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Lukman, Ali. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Balai Pustaka.

Mardalis.2008. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: PT Bumi
      Aksara.

Slameto. 2003. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Memperngaruhinya. Jakarta: PT
      Rineka Cipta.

Sudjana. 1996. Metoda Statistika. Bandung: PT Tarsito.

Sukarti, 2006.

Suryosubroto. 2009. Proses Belajar Mengajar Di Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta.




                                         22

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:4240
posted:6/23/2010
language:Indonesian
pages:22