proposal - Download as DOC

Document Sample
proposal - Download as DOC Powered By Docstoc
					PROPOSAL PENELITIAN


EFEKTIVITAS        MODEL       PEMBELAJARAN          KOOPERATIF          DENGAN
METODE PENEMUAN BERBANTUAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS)
PADA        PEMBELAJARAN                MATEMATIKA         MATERI        POKOK
TRIGONOMETRI DI SMA NEGERI 1 SEMENDE DARAT LAUT


1. Latar Belakang

       Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari

tingkat sekolah dasar sampai sekolah tingkat menengah. Adapun tujuan pembelajaran

matematika di sekolah-sekolah ini adalah untuk membentuk kemampuan pada diri

siswa yang tercermin melalui kemampuan berpikir kritis, logis, sistematis, dan

memiliki sifat obyektif, jujur, dan disiplin dalam memecahkan suatu permasalahan

baik dalam bidang matematika, bidang lain, maupun dalam kehidupan sehari-hari

(Widdiharto, 2004:1). Namun, pada proses pembelajaran matematika ini terdapat

banyak permasalahan, salah satunya yang paling konseptual yaitu kesulitan siswa

dalam belajar matematika itu sendiri.

       Mengingat betapa pentingnya pembelajaran matematika di setiap jenjang-

jenjang pendidikan, maka peran guru sangatlah penting untuk mewujudkan

tercapainya tujuan pembelajaran matematika tersebut. Seorang guru bukan hanya

memberikan pengetahuan mengenai materi pembelajaran yang akan diajarkan

kepada siswa, namun guru harus bisa merencanakan suatu pembelajaran yang efektif.

Sehingga apa yang menjadi tujuan pembelajaran tersebut dapat tercapai.



                                          1
       Berdasarkan penuturan salah satu guru mata pelajaran matematika di SMA

Negeri 1 Semende Darat Laut, bahwa masih banyak siswa kelas X yang kurang

pemahamannya mengenai materi pokok trigonometri. Pada saat pembelajaran materi

pokok trigonometri tersebut, kebanyakan siswa hanya menerima dan menghafal

konsep-konsep dan rumus-rumus yang diajarkan, tanpa tahu bagaimana proses dari

penemuan konsep-konsep dan rumus dari materi trigonometri tersebut. Hal tersebut

menyebabkan kurangnya pemahaman siswa terhadap konsep-konsep dan rumus dari

materi trigonometri. Semua ini bukan semata-mata hanya kesalahan siswa tetapi juga

karena kurang tepatnya penggunaan model dan metode pembelajaran sehingga

menimbulkan suasana pembelajaran yang tidak efektif. Selama ini, guru sudah

terbiasa   menggunakan pembelajaran ekspositori dimana pembelajaran cenderung

monoton berpusat pada guru sehingga siswa kurang dilibatkan dalam proses

pembelajaran. Hal tersebut menyebabkan kurangnya minat belajar dan keaktifan

siswa pada proses pembelajaran matematika. Permasalahan di atas tentu saja berujung

pada ketidaktercapainya hasil belajar yang diinginkan yaitu ketuntasan belajar siswa.

       Dari guru mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Semende Darat Laut

tersebut juga diperoleh informasi bahwa hanya sekitar 70 % siswa dari keseluruhan

siswa disetiap kelas X yang         bisa dikategorikan tuntas pada materi pokok

trigonometri dilihat dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Adapun Kriteria

Ketuntasan Minimal untuk mata pelajaran matematika di kelas X SMA Negeri 1

Semende Darat Laut yaitu 65.




                                          2
       Untuk mengatasi permasalahan dalam pembelajaran matematika seperti yang

telah diuraikan di atas, maka perlu kiranya dikembangkan suatu bentuk atau model,

metode, dan alat bantu pembelajaran yang efektif, berpusat pada siswa, memahami

prinsip perbedaan individual siswa, dan mampu meningkatkan peran aktif siswa

dalam pembelajaran matematika khususnya pada materi trigonometri. Salah satu

bentuk atau model, metode, alat bantu pembelajaran yang dapat digunakan didalam

proses pembelajaran matematika adalah model pembelajaran kooperatif dengan

metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa (LKS). Menurut Darmadi (2006:4)

dengan adanya pembelajaran kelompok kecil dengan metode penemuan, siswa dapat

lebih aktif dan bekerja dalam kelompok kecil    yang terdiri dari 4-5 orang yang

memiliki kemampuan yang berbeda-beda untuk mendapatkan pengetahuan baru yang

merupakan penemuan individu serta dengan LKS dapat membantu siswa dalam

menemukan sifat-sifat, rumus-rumus dalam trigonometri. Sehinga kompetensi-

kompetensi dasar dalam pembelajaran matematika materi pokok trigonometri ini

dapat tercapai.

       Dari hasil kajian terdahulu yang relevan dengan model pembelajaran

kooperatif dengan metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa (LKS) ini yaitu

penelitian Dwi Darmadi dengan judul penelitian “Keefektifan model pembelajaran

kooperatif dengan metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa (LKS) pada

pembelajaran matematika sub materi pokok trigonometri kelas X SMA Negeri 8

Semarang semester 2 tahun pelajaran 2006/2007”. Didapatkan kesimpulan bahwa




                                       3
model pembelajaran kooperatif dengan metode penemuan berbantuan lembar kerja

siswa lebih baik daripada pembelajaran konvensional dengan metode ekspositori.

       Adapun yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu

pada tempat penelitian, dan variabel penelitian yang menjadi titik perhatian penulis.

       Dari uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang

“Efektifitas Model Pembelajaran Kooperatif Dengan Metode Penemuan

Berbantuan Lembar Kerja Siswa           (LKS) Dalam Pembelajaran Matematika

Materi Pokok Trigonometri Di SMA Negeri 1 Semende Darat Laut”.

2. Masalah dan Pembatasan Masalah

2.1 Masalah

       Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi masalah dalam

penelitian ini adalah “ bagaimanakah efektivitas model pembelajaran kooperatif

dengan metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa (LKS) materi pokok

trigonometri dilihat dari hasil belajar siswa di SMA Negeri 1 Semende Darat Laut ?

2.2 Pembatasan Masalah

       Untuk menghindari kesalahpahaman dalam penafsiran permasalahan di atas

maka penulis memberikan pembatasan masalah. Adapun pembatasan masalah yang

dimaksud dalam proposal ini yaitu sebagai berikut :

1) Efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti dapat membawa hasil; berhasil

   guna (usaha tindakan) (KBBI,1997:293). Jadi yang dimaksud dengan efektivitas

   dalam proposal penelitian ini adalah dapat membawa hasil atau keberhasilan

   dalam mencapai tujuan dengan model pembelajaran kooperatif dengan metode

                                           4
   penemuan berbantuan lembar kerja siswa (LKS) yang dilihat dari hasil belajar

   siswa mencapai ketuntasan belajar secara perorangan dengan skor  65 % atau 6,5

   dan secara klasikal dikelas tersebut telah mendapat  85 % siswa telah tuntas

   secara perseorangan.

2) Model pembelajaran kooperatif dalam proposal ini adalah suatu bentuk

   pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil

   yang terdiri dari 4-6 orang yang heterogen untuk menyelesaikan suatu

   permasalahan atau tugas yang diberikan oleh guru.

3) Metode penemuan adalah suatu metode dimana guru dalam proses pembelajaran

   memperkanankan siswanya untuk menemukan sendiri konsep-konsep dan rumus-

   rumus dengan cara siswa itu sendiri. Menurut Darmadi (2006:6), metode

   penemuan ini digabung dengan model pembelajaran kooperatif berdasar pada

   teori bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep sulit bila

   menggunakan model pembelajaran ini.

4) Lembar kerja siswa disingkat LKS merupakan salah satu media cetak berupa

   lembaran kertas yang berisi soal atau pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa.

   Adapun LKS yang dimaksud dalam proposal ini adalah alat bantu pembelajaran

   yang berupa soal yang menuntun siswa dalam proses penemuan mengenai

   konsep-konsep dan rumus dari materi trigonometri yang harus dipahami oleh

   siswa.




                                        5
5) Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan nilai tes yang

   diperoleh siswa pada akhir materi pokok.

6) Dalam kamus Matematika, kata Trigonometri berasal dari Yunani yang berarti

   ukuran segitiga. Trigonometri merupakan salah satu materi pokok untuk siswa

   kelas X semester 2 Tahun Pelajaran 2006/ 2007. Trigonometri terdiri dari sub

   pokok bahasan perbandingan Trigonometri, perbandingan Trigonometri sudut

   berelasi, grafik fungsi Trigonometri dan persamaan Trigonometri serta aturan

   sinus, kosinus dan luas daerah segitiga. Pada penelitian ini materi yang dibahas

   adalah aturan sinus, kosinus dan luas daerah segitiga

7) Subjek yang diteliti disini adalah siswa kelas X di SMA Negeri 1 Semende

   Darat Laut.

3. Tujuan Penelitian

       Berdasarkan rumusan masalah yang telah peneliti uraikan di atas, maka yang

menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas model

pembelajaran kooperatif dengan metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa

(LKS) materi pokok trigonometri yang dilihat dari hasil belajar siswa kelas X SMA

Negeri 1 Semende Darat Laut.

4. Manfaat Penelitian

       Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah bagi guru, yaitu

sabagai motivasi untuk meningkatkan keterampilan memilih bentuk pembelajaran

yang berpusat pada siswa, sehingga membuat siswa aktif, dan dapat meningkatkan

kemampuan siswa serta mempersiapkan diri dalam proses pembelajaran.

                                          6
5. Tinjauan Pustaka

5.1 Efektivitas

         Didalam Kamus Bahasa Indonesia Efektivitas berasal dari kata efektif yang

berarti mempunyai efektif, pengaruh atau akibat, atau efektif juga dapat diartikan

dengan     memberikan hasil yang memuaskan. Menurut Suryosubroto (2009:7),

efektivitas suatu kegiatan tergantung dari terlaksana tidaknya perencanaan. Karena

perencanaan maka pelaksanaan pengajaran menjadi baik dan efektif.

         Menurut Simanjuntak (dalam Suryosubroto,2009:7), Pendidikan Efektivitas

dapat ditinjau dari dua segi, yaitu :

    1) Mengajar guru, dimana menyangkut sejauh mana kegiatan belajar mengajar

         yang direncanakan terlaksana.

    2) Belajar murid, yang menyangkut sejauh mana tujuan pembelajaran yang

         diinginkan tercapai melalui kegiatan belajar mengajar (KBM)

         Hal yang sama juga dikatakan oleh Nosution dalam (Suryosubroto,2009:9)

bahwa, efektivitas guru mengajar nyata dari keberhasilan siswa menguasai apa yang

diajarkan guru itu.

         Menurut Tim Pembina Mata Kuliah Diktatik Metodik/Kurikulum IKIP

Surabaya (dalam Suryosubroto, 2009:8) mengemukakan bahwa, untuk mengetahui

efektivitas mengajar, dengan memberikan tes sebagai hasil tes dapat dipakai untuk

mengevaluasi berbagai aspek proses pengajaran. Dari hasil tes yang diberikan kita

dapat mengetahui apakah siswa telah menguasai materi pelajaran atau belum. Jika




                                          7
siswa telah menguasai materi tersebut, maka siswa dikatakan telah tuntas dalam

belajar.

           Terkait   hal    tersebut,   menurut      Depdikbud:      2003      (dalam

http://sambasalim.com/pendidikan/konsep-efektifvitas-pembelajaran.html),

mengemukakan banwa efektivitas pembelajaran dapat diukur dengan mengadaptasi

pengukuran efektivitas pelatihan yaitu melalui evaluasi. Pengukuran efektivitas

proses belajar mengajar dapat diukur melalui nilai evaluasi siswa. Bila hasil belajar

siswa berhasil mencapai ketuntasan belajar secara perorangan dengan skor ≥ 65 %

atau 6,5 dan secara klasikal dikelas tersebut telah terdapat ≥ 85 % siswa telah tuntas

secara perorangan, maka pembelajaran tersebut dikatakan efektif.

           Demikian juga dengan efektivitas model pembelajaran kooperatif dengan

metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa dalam proses pembelajaran

matematika. Dalam hal ini dikhususkan pada materi pokok trigonometri. Efektivitas

dalam penelitian ini adalah keberhasilan dalam mencapai tujuan dengan model

pembelajaran kooperatif dengan metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa

(LKS) pada pembelajaran matematika materi pokok trigonometri di SMA Negeri 1

Semende Darat Laut yang diukur melalui nilai evaluasi siswa pada akhir materi

pembelajaran. Bila hasil belajar siswa berhasil mencapai ketuntasan belajar secara

perorangan dengan skor ≥ 65 % atau 6,5 dan secara klasikal dikelas tersebut telah

terdapat ≥ 85 % siswa telah tuntas secara perorangan, maka pembelajaran tersebut

dikatakan efektif.




                                          8
5.2 Model Pembelajaran

       Menurut Joice dan Weil (dalam Isjoni, 2009: 73) model pembelajaran adalah

suatu pola atau rencana yang sudah direncanakan sedemikian rupa dan digunakan

untuk menyusun kurikulum, mengatur materi pembelajaran, dan memberi petunjuk

kepada pengajar dikelasnya.

       Terkait dengan model pembelajaran, Ismail (dalam Widdiharto, 2003:3)

mengemukakan bahwa model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus. Ciri

khusus tersebut antara lain sebagai berikut :

a) Rasional teoritik yang logis yang disusun oleh penciptanya.

b) Tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

c) Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model pembelajaran tersebut

   berhasil.

d) Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran tercapai.

       Dari pendapat dan ciri-ciri khusus model pembelajaran di atas, penulis

menyimpulkan bahwa model pembelajaran adalah pola atau bentuk pembelajaran

yang tergambar dari awal sampai akhir pembelajaran yang disajikan secara khas oleh

guru dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

5.3 Model Pembelajaran Kooperatif

       Model pembelajaran kooperatif bukanlah hal yang baru dalam dunia

pendidikan khususnya pada mata pelajaran matematika. Model pembelajaran

kooperatif ini adalah suatu perubahan bentuk pembelajaran yang selama ini monoton

berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Menurut Slavin

                                           9
(dalam Isjoni, 2009:15) pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran

dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang anggotanya

4-6 orang dengan struktur kelompok yang heterogen. Selanjutnya, Jhonson &

Jhonson (dalam Isjoni, 2009: 63) mengemukakan pembelajaran kooperatif adalah

mengerjakan sesuatu bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya

sebagai satu tim untuk mencapai tujuan bersama.

       Dari kedua pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa model

pembelajaran kooperatif adalah suatu bentuk atau model yang mengelompokkan

siswa kedalam suatu kelompok yang heterogen terdiri dari 4-6 orang untuk besama-

sama mendiskusikan atau menyelesaikan suatu tugas atau bahan pembelajaran yang

diberikan untuk mencapai tujuan bersama.

       Menurut Ibrahim (dalam Isjoni, 2009: 39) pada dasarnya model pembelajaran

kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran

yang penting, yaitu :

   a) Hasil     belajar   akademik,   pembelajaran   kooperatif   bertujuan   untuk

       meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.

   b) Penerimaan terhadap perbedaan individu, model pembelajaran kooperatif

       bertujuan untuk penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda-beda

       berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, ketidakkemampuannya.

   c) Pengembangan keterampilan sosial, model pembelajaran kooperatif bertujuan

       untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerjasama dan kolaborasi.




                                        10
       Terkait dengan pembelajaran kooperatif, menurut Lestari (2006:10) ciri-ciri

pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :

   a) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi

       belajarnya.

   b) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan

       rendah.

   c) Bilamana mungkin, anggota kelompok barasal dari ras, budaya, suku, jenis

       kelamin berbeda-beda.

   d) Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.

5.4 Metode Penemuan

       Metode penemuan merupakan komponen dari praktik pendidikan yang

meliputi metode mengajar yang memajukan cara belajar aktif, berorientasi pada

proses, mengarahkan sendiri, mencari sendiri dan reflektif. Menurut Encylopedia of

Educational Research (dalam Suryobroto, 2009: 178) , penemuan merupakan suatu

strategi yang unik dapat diberi bentuk oleh guru dalam berbagai cara, termasuk dalam

mengajarkan keterampilan menyelidiki dan memecahkan masalah sebagai alat bagi

siswa untuk mencapai tujuan pendidikannya. Dengan demikian, dapat dikatakan

bahwa metode penemuan itu adalah suatu metode dimana dalam proses belajar

mengajar guru memperkenankan siswa-siswanya menemukan sendiri informasi yang

secara tradisional biasa diberitahukan atau diceramahkan saja.




                                         11
5.4.1 Langkah-Langkah Metode Penemuan

       Di dalam penggunaan metode penemuan ada beberapa langkah yang harus

diperhatikan, diantaranya sebagai berikut :

   1) Identifikasi kebutuhan siswa.

   2) Seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian konsep dan

       generalisasi yang akan dipelajari.

   3) Seleksi bahan, dan problema / tugas-tugas.

   4) Membantu memperjelas.

   5) Tugas / problema yang akan dipelajari.

   6) Peranan masing-masing siswa.

   7) Mempersiapkan setting kelas dan alat-alat yang diperlukan.

   8) Mengecek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan dan

       tugas-tugas siswa.

   9) Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan penemuan.

   10) Membantu siswa dengan informasi / data, jika diperlukan oleh siswa.

   11) Memimpin analisis sendiri (self analysis) dengan pertanyaan yang

       mengarahkan dan mengidentifikasi proses.

   12) Merangsang terjadinya interaksi antar siswa dengan siswa.

   13) Memuji dan membesarkan siswa yang bergiat dalam proses penemuan.

   14) Membantu siswa merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi atas hasil

       penemuannya.

       (Suryobroto, 2009:184)

                                            12
5.5 Lembar Kerja Siswa (LKS)

       Lembar kerja siswa disingkat LKS ini merupakan salah satu media cetak

berupa lembaran kertas yang berisi informasi soal atau pertanyaan yang harus

dijawab oleh siswa (Suyitno dalam Lestari, 2006:6). LKS dalam kegiatan belajar

mengajar dapat dimanfaatkan pada tahap penanaman konsep (menyampaikan konsep

baru) atau pada tahap pemahaman konsep (tahap lanjutan dari penanaman konsep)

karena LKS dirancang untuk membimbing siswa dalam mempelajari topik. Pada

tahap pemahaman konsep, LKS dimanfaatkan untuk mempelajari suatu topik dengan

maksud memperdalam pengetahuan tentang topik yang telah dipelajari sebelumnya

yaitu penanaman konsep.

       Dengan berbantuan LKS ini siswa diharapkan dapat berperan aktif dalam

mengerjakan soal yang diberikan yang menghasilkan penemuan-penemuan terhadap

konsep yang harus dipahami oleh siswa agar pemahaman konsep-konsep tersebut

dapat bertahan lama didalam diri siswa.

5.6 Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif Dengan Metode

     Penemuan Berbantuan Lembar Kerja Siswa

       Dari uraian-uraian mengenai komponen-komponen model pembelajaran

kooperatif dengan metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa (LKS) di atas,

peneliti menggambarkan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif dengan

metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa sebagai berikut :

   1) Guru     menyampaikan       materi        pembelajaran   secara   singkat   serta

       menginformasikan bahwa siswa nantinya akan dikelompokkan kedalam

                                           13
   beberapa kelompok untuk menyelesaikan serta menemukan sifat-sifat, rumus,

   pengertian dari materi yang diberikan.

2) Guru mengelompokkan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar yang

   heterogen terdiri dari 4-6 siswa.

3) Guru menjelaskan bahwa setiap masing-masing kelompok nantinya diberikan

   kesempatan untuk melakukan penemuan tentang konsep-konsep, rumus dari

   materi yang diberikan.

4) Guru membagikan lembar kerja siswa (LKS) yang harus dikerjakan oleh

   masing-masing kelompok yang sudah terbentuk.

5) Guru memberikan arahan kepada masing-masing siswa dalam kelompok

   untuk menggunakan lembar kerja siswa dalam proses pengerjaan soal latihan

   yang berujung pada penemuan-penemuan konsep-konsep dan rumus.

6) Guru mengamati dan memantau kinerja masing-masing siswa dalam tiap

   kelompok.

7) Guru memilih secara acak perwakilan dari masing-masing kelompok untuk

   menyampaikan/mempresentasekan hasil temuannya ke depan kelas.

8) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanggapi hasil temuan

   yang disampaikan di depan kelas.

9) Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang baru saja dipelajari

10) Diakhir pertemuan atau pada akhir materi pokok guru memberikan tes untuk

   mengevaluasi hasil belajar siswa dalam hal ini pada materi trigonometri.




                                       14
5.7 Hasil Belajar

       Hasil    belajar    adalah    penguasaan       pengetahuan/ketrampilan     yang

dikembangkan oleh mata pelajaran yang biasanya ditunjukkan dengan nilai tes atau

angka nilai yang diberikan guru. (Lestari, 2006:14)

       Penilaian hasil belajar adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengetahui

sejauh mana proses belajar dan pembelajaran telah berjalan secara efektif. Efektifitas

pembelajaran tampak pada kemampuan siswa mencapai tujuan belajar yang

ditetapkan. Dari segi guru, penilaian hasil belajar akan memberikan gambaran mengenai

keefektifan mengajarnya, apakah model, metode dan alat bantu pembelajaran yang

digunakan mampu membantu siswa mencapai tujuan belajar yang ditetapkan (ketuntasan

belajar). Tes hasil belajar yang dilakukan pada siswa dapat memberikan informasi sampai

dimana penguasaan dan kemampuan yang telah dicapai siswa dalam mencapai tujuan

pembelajaran tersebut. Jadi, Hasil belajar merupakan hal yang penting yang akan

dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan siswa dalam belajar dan sejauh mana sistem

pembelajaran yang diberikan guru berhasil atau tidak. Suatu proses belajar mengajar

dikatakan berhasil apabila kompetensi dasar yang diinginkan tercapai.

       Untuk mengetahui tercapai tidaknya kompetensi tersebut, guru mengadakan

tes setelah selesai menyajikan materi pokok kepada siswa. Dari hasil tes ini diketahui

sejauh mana keberhasilan siswa dalam belajar. Hasil belajar dalam periode tertentu

dapat dinilai dari nilai raport, yang secara nyata dapat dilihat dalam bentuk angka-

angka. Siswa yang belajar dengan baik akan mendapatkan hasil yang lebih baik

dibanding siswa yang cara belajarnya asal-asalan atau tidak secara teratur.


                                          15
       Dari uraian diatas mengenai hasil belajar, disimpulkan bahwa hasil belajar

adalah nilai tes yang diberikan oleh guru pada akhir materi pokok untuk mengetahui

pemahaman siswa terhadap materi pokok yang diajarkan.

5.8 Ketuntasan Belajar

       Ketuntasan belajar atau disebut juga daya serap adalah pencapaian taraf

penguasaan minimal yang telah ditetapkan oleh guru dalam tujuan pembelajaran setiap

satuan pelajaran. (Hartutik dalam Setyanti. 2006:18)

       Ketuntasan belajar yang dimaksud dalam proposal ini adalah ketuntasan

belajar dari hasil belajar siswa mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

yang telah ditetapkan.

6. Kajian Terdahulu Yang Relevan

       Seperti yang telah diuraikan oleh penulis pada bagian latar belakang bahwa

ada penelitian terdahulu yang relevan dengan model pembelajaran kooperatif dengan

metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa (LKS) ini. Untuk menghindari

dugaan “plagiat”, maka pada bagian ini penulis akan menguraikan hasil penelitian

terdahulu mengenai model pembelajaran kooperatif dengan metode penemuan

berbantuan lembar kerja siswa (LKS) ini.

       Dari penelitian Dwi Darmadi dengan judul penelitian “Keefektifan model

pembelajaran kooperatif dengan metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa

(LKS) pada pembelajaran matematika sub materi pokok trigonometri kelas X SMA

Negeri 8 Semarang semester 2 tahun pelajaran 2006/2007”, diperoleh kesimpulan

bahwa model pembelajaran kooperatif dengan metode penemuan berbantuan lembar


                                           16
kerja siswa lebih baik daripada model pembelajaran konvensional dengan metode

ekspositori.

       Adapun yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu

tempat penelitian, dan variabel penelitian yang menjadi titik perhatian penulis.

7. Prosedur Penelitian

7.1 Variabel Penelitian

       “Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu

penelitian” (Arikunto, 2002:96).

       Adapun variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah hasil belajar

matematika siswa setelah diterapkannya model pembelajaran kooperatif dengan

metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa (LKS) yang diukur melalui nilai

evaluasi siswa pada akhir materi pokok trigonometri.

7.2 Definisi Operasional Variabel

       Agar pengertian variabel dalam penelitian ini lebih jelas, maka perlu

didefinisikan, yaitu Hasil belajar matematika siswa setelah diterapkannya model

pembelajaran kooperatif dengan metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa

(LKS) merupakan nilai tes yang diperoleh siswa pada akhir materi pokok

trigonometri.

8. Populasi dan Sampel

8.1 Populasi

       Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2002:108). Adapun

populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X di SMA Negeri 1

                                          17
Semende Darat Laut tahun pelajaran 2009/2010 yang terdiri atas 4 kelas dengan

jumlah siswa sebanyak 147 siswa, dengan rincian sebagai berikut:

     Kelas              Laki-laki             Perempuan            Jumlah
      X. A                 13                     24                 37
      X. B                 17                     20                 37
      X. C                 23                     14                 37
      X. D                 24                     12                 36
     Jumlah                77                     70                147
Sumber: Tata Usaha SMA Negeri 1 Semende Darat Laut Tahun Pelajaran 2009/2010

8.2 Sampel

       Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Adapun teknik

pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simple

random sampling. Penggunaan teknik simple random sampling ini dilakukan setelah

memperhatikan ciri-ciri antara lain siswa mendapat materi beradasarkan kurikulum

yang sama, siswa yang dijadikan objek duduk dikelas yang sama yaitu kelas X, dan

pembagian kelas X di SMA Negeri Satu Semende Darat Laut tidak berdasarkan

peringkat melainkan disebar secara merata disetiap kelas sehingga tidak terdapat

kelas unggulan.

       Dengan menggunakan teknik simple random sampling, maka dipilih kelas

X.A sebagai kelas eksperimen, dengan rincian sebagai berikut :

      Kelas             Laki-laki             Perempuan            Jumlah
      X. A                 13                     24                 37
    Jumlah              13                   24                   37
Sumber: Tata Usaha SMA Negeri 1 Semende Darat Laut Tahun Pelajaran 2009/2010


                                         18
8.3 Metode Penelitian

       “Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam

mengumpulkan data penelitiannya” (Arikunto, 2002:136). Metode yang digunakan

dalam penelitian ini adalah metode eksperimen semu kategori one shot case study.

“Metode eksperimen semu kategori one shot case study adalah sebuah eksperimen

yang dilaksanakan tanpa adanya kelompok pembanding dan juga tes awal, dengan

metode ini peneliti ingin mengetahui efek dari perlakuan yang diberikan pada

kelompok tanpa mempengaruhi faktor lain (Arikunto, 2002:77)

8.4 Teknik Pengumpulan Data

       Menurut Arikunto (2002:197) bahwa pengumpulan data merupakan pekerjaan

yang paling penting dalam penelitian. Metode-metode yang digunakan untuk

pengumpulan data yaitu:

1. Metode Dokumentasi

       Metode ini digunakan untuk memperoleh data nama siswa yang akan menjadi

sampel dalam penelitian ini dan untuk memperoleh data nilai ulangan harian. Data

nilai ulangan harian ini nantinya akan dijadikan acuan dalam pembentukan kelompok

pada kelas eksperimen yang mendapatkan perlakuan model pembelajaran kooperatif

dengan metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa (LKS).

2. Metode Tes

       Setelah semua materi pelajaran diberikan pada siswa, maka langkah

berikutnya adalah pemberian tes berupa soal essay berbentuk uraian. Metode tes




                                       19
digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar matematika         siswa serta ketuntasan

belajar siswa secara perseorangan maupun klasikal pada materi pokok trigonometri.

       Instrumen yang digunakan terdiri atas 5 butir soal yang sudah diujicobakan di

kelas uji coba instrumen dengan alokasi waktu 2 x 40 menit. Hasil tes tersebut

digunakan sebagai data akhir untuk mengukur efektivitas model pembelajaran

kooperatif dengan metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa (LKS) pada

pembelajaran matematika materi pokok trigonometri di SMA Negeri 1 Semende

Darat Laut.

8.5 Teknik Analisis Data

8.5.1 Analisa Data Tes

       Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskiptif yang

digunakan untuk menggambarkan hasil belajar siswa setelah digunakan model

pembelajaran kooperatif dengan metode penemuan berbantuan lembar kerja siswa

(LKS) pada pembelajaran matematika materi pokok trigonometri di SMA Negeri 1

Semende Darat Laut.

       Adapun langkah langkah yang dilakukan untuk menganalisis data terhadap

hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika adalah :

   1) Membuat kunci jawaban

   2) Membuat pedoman penskoran

   3) Memeriksa jawaban siswa

   4) Memberikan skor hasil jawaban siswa sesuai dengan pedoman penskoran




                                         20
     5) Menentukan skor rata-rata yang diperoleh masing – masing siswa yang

        dikonversikan menjadi nilai dalam rentang 0 – 100 dengan aturan

               jumlah skor yang dipeoleh
        Na =                             x 100
                   jumlah skor maks

     6) Membuat analisis hasil belajar pada materi pokok trigonometri

                             Skor Yang Diperoleh                         Ketuntasan
 N          No soal         1 2 3 4 5 Jumlah             Ketercapaian    Ya Tidak
 o                                                           (%)
         Bobot Soal
         Nama Siswa




         Jumlah Skor
         Jumlah Skor
          Maksimal

      Skor Tercapai (%)
Keterangan :

    Ketuntasan belajar individual

     Ketuntasan belajar individual (siswa) tercapai jika siswa tersebut telah mencapai

     nilai ≥ 65 %.

    Ketuntasan belajar klasikal

     Suatu kelas dikatakan tuntas klasikal apabila dalam kelas tersebut terdapat ≥ 85 %

     siswa telah tuntas secara individual.(Depdikbud:2003 dalam http://sambasalim.

     com/pendidikan/konsep-efektifvitas-pembelajaran.html).



                                          21
                              DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Darmadi, Dwi. 2006. Keefektifan Model Pembelajaran Kooperatif Dengan Metode
      Penemuan Berbantuan Lembar Kerja Siswa (LKS) Pada Pembelajaran
      Matematika Sub Materi Pokok Trigonometri Kelas X SMA Negeri 8 Semarang
      Semester 2 Tahun Pelajaran 2006/2007. Skripsi. Semarang : UNNES.

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. 2010. Pedoman Penulisan Skripsi.
       Palembang : FKIP Universitas PGRI Palembang.

http://sambasalim. com/pendidikan/konsep-efektifvitas-pembelajaran.html).

Isjoni. 2009. Pembelajaran Kooperatif Meningkatkan Kecerdassan Komunikasi
        Antar Peserta Didik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Lestari, Linda P. 2006. Keefektifan Pembelajaran Dengan Penggunaan Alat
        Peraga dan Lembar Kerja Siswa (LKS) Terhadap Hasil Belajar
        Matematika Dalam Pokok Bahasan Bangun Segiempat Pada Siswa kelas VII
        Semester 2 di SMP Muhammadiyah Margasari Kabupaten Tegal Tahun
        Pelajaran 2005/2006. Skripsi. Semarang : UNNES.

Setiawan. 2004. Pembelajaran Trigonometri Berorientasi PAKEM di SMA.
       Yogyakarta: Departemen Pendidikam Nasional Direktorat Jendral Pendidikan
       Dasar dan Menengah Pusat Pengembangan Penataran Guru Matematika
       Yogyakarta.

Setyanty, Desi R. 2007. Efektivitas Pembelajaran Matematika Bangun Ruang
       Dengan Strategi Student Team Heroic Leadership dan Pemberian Tugas
       Terstruktur Pada Peserta Didik Kelas VIII SMP N 15 Semarang. Skripsi.
       Semarang : UNNES.

Suryosubroto. 2009. Proses Belajar Mengajar Di Sekolah. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Widdiharto, Rachmadi. 2004. Model-Model Pembelajaran Matematika SMP.
      Yogyakarta: Widyaiswara PPG Matematika Yogyakarta




                                        22

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1798
posted:6/23/2010
language:Indonesian
pages:22