Docstoc

MAKALAH1- FENOMENALOGI DAN ETNOGRAFI

Document Sample
MAKALAH1- FENOMENALOGI DAN ETNOGRAFI Powered By Docstoc
					                                METODE PENELITIAN
                        FENOMENOLOGI DAN ETNOGRAFI


Pendahuluan
        Dalam penelitian---seperti telah dibahas pada pertemuan terdahulu---kita
mengenal dua paradigma penelitian, yaitu paradigma penelitian kuantitatif dan
kualitatif. Secara umum pengenalan kita pada pokok persoalan penelitian kuantitatif
telah cukup memadai. Karenanya saat ini, kami akan mulai membuka cakrawala
berpikir pada pengenalan paradigma penelitian kualitatif.
        Untuk mereview pembahasan terdahulu, terlihat bahwa dari segi peristilahan
para ahli nampak menggunakan istilah atau penamaan yang berbeda-beda untuk
penelitian kualitatif. Berikut akan dikemukakan penamaan yang dipakai oleh para
ahli tersebut.
                                          Tabel 1.
                 Quantitative and Qualitative Research : Alternative Labels
Quantitative                    Qualitative                    Authors
Rasionallistic                  Naturalistic                   Guba &Lincoln (1982)
Inquiry from the Outside        Inquiry from the inside        Evered & Louis (1981)
Functionalist                   Interpretative                 Burrel & Morgan (1979)
Positivist                      Constructivist                 Guba (1990)
Positivist                      Naturalistic-ethnographic      Hoshmand (1989)
                             Sumber : Julia Brannen (Ed): 1992 : 58)
        Sementara itu Noeng Muhadjir (1994 : 12) mengemukakan beberapa nama
yang dipergunakan para ahli tentang metodologi penelitian kualitatif yaitu: grounded
research, ethnometodologi, paradigma naturalistik, interaksi simbolik, semiotik,
heuristik, hermeneutik, atau holistik .
        Selain kedua tokoh tersebut di atas, Patton (1990 : 88) memberi klasifikasi
yang lebih rinci, yakni dengan penamaan sebagai berikut:




                                               1
                                              Tabel 2.
                   Variety in qualitative Inquiry : Theoritical traditions
No       Perspektif            Akar Ilmu                         Pertanyaan Utama
1    Ethnography          Anthropology               Apa kebudayaan masyarakat ini ?
                                                     Apa struktur dan esensi pengalaman atas
     Phenomenolog
2                         Philosophy                 gejala-gejala ini bagi masyarakat
     y
                                                     tersebut?
                                                     Apa pengalaman saya mengenai gejala-
                          Psikologi                  gejala ini dan apa pengalaman essensial
3    Heuristics
                          Humanistik                 bagi yang lain yang juga mengalami
                                                     gejala ini secara intens ?
                                                     Bagaimana orang memahami kegiatan
     Ethnomethodol                                   sehari-hari mereka sehingga berprilaku
4                         Sosiology
     ogy                                             dengan cara yang dapat diterima secara
                                                     sosial ?
                                                     Apa simbol dan pemahaman umum yang
     Symbolic
5                         Psikologi social           telah muncul dan memberikan makna
     interactionism
                                                     bagi interaksi sosial masyarakat ?


                                                     Bagaimana orang-orang mencapai tujuan
     Echological          Psikologi
6                                                    mereka melalui perilaku tertentu dalam
     Psychology           lingkungan
                                                     lingkungan yang tertentu ?
                                                     Bagaimana dan kenapa sistem ini
7    System theory        Interdisipliner
                                                     berfungsi secara keseluruhan ?
     Chaos theory:
                          Fisika teoritis :          Apa yang mendasari keteraturan gejala-
8    non -linier
                          ilmu-ilmu alam             gejala yang tak teratur jika ada ?
     dynamics




                                                 2
                                                  Apa kondisi-kondisi yang melahirkan
                         Teologi, filsafat,
9      Hermeneutics                               prilaku atau produk yang dihasilkan yang
                         kritik sastra
                                                  memungkinkan penafsiran makna ?
       Orientional,      Ideologi, ekonomi        Bagimana perspektif ideologi seseorang
10
       qualitative       politik                  berujud dalam suatu gejala ?


         Dari klasifikasi yang diberikan Patton di atas, nampak jelas bahwa penelitian
fenomenologi dan etnografi          memiliki akar ilmu yang berbeda. Fenomenologi
merupakan salah satu jenis penelitian kualitatif yang memiliki akar ilmu filsafat,
sementara etnografi adalah dari ilmu antropologi. Meskipun demikian, keduanya
dapat saling mengisi satu sama lain, karena kedua metode penelitian ini---
fenomenalogi dan etnografi--- dapat digunakan untuk jenis penelitian sosial,
antropologi, agama, budaya, termasuk pendidikan dan bahasa.
         Makalah ini tidak bermaksud membahas semua jenis penelitian kualitatif di
atas. Pembahasan selanjutnya hanya akan menguraikan dua jenis metodologi
penelitian kualitatif, yaitu mengenai penelitian fenomenologi dan etnografi.


I. Metode Penelitian Fenomenologi
    1.1. Aksioma Paradigma Penelitian Ilmiah (Positivisme) dan Alamiah
     (Fenomenologi)
         Penelitian fenomenologi, seperti umumnya penelitian lainnya pada hakikatnya
merupakan wahana untuk menemukan kebenaran atau untuk lebih membenarkan
kebenaran. Usaha untuk mengejar kebenaran tersebut dilakukan melalui model-model
tertentu yang biasanya dikenal dengan paradigma. Paradigma adalah kumpulan
longgar dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama, konsep atau proposisi yang
mengarahkan cara berpikir dan penelitian.
         Menurut      Moleong,     ada   bermacam-macam       paradigma,    tetapi   yang
mendominasi ilmu pengetahuan adalah scientifik paradigm (paradigma ilmiah) dan




                                              3
naturalistik paradigm (paradigma alamiah). Paradigma ilmiah bersumber dari
pandangan positivisme sedangkan paradigma alamiah bersumber pada pandangan
fenomenalogis. Bila paradigma positivisme menekankan pada upaya mencari fakta
dan penyebab fenomena sosial, tapi kurang mempertimbangkan keadaan subjektif
individu, maka dalam paradigma alamiah justru mempertimbangkan ”fakta sosial”
atau ”fenomena sosial” sebagai ”sesuatu” yang memberikan pengaruh dari luar atau
memaksakan pengaruh tertentu terhadap perilaku manusia.1
       Kedua paradigma tersebut sama-sama dipengaruhi oleh aliran filsafat,
positivisme dan fenomenologi. Kedua aliran filsafat tersebut terus berkembang
dengan dukungan pengikut-pengikutnya, yang dalam wacana metodologi penelitian
telah mendorong lahirnya paradigma penelitian kuantitatif (positivisme) dan
paradigma penelitian kualitatif (fenomenologi). Kedua paradigma pendekatan
penelitian tersebut nampak sekali mempunyai asumsi/aksioma dasar filosofis dan
paradigma berbeda yang menurut Moleong, seperti yang dikutipnya dari Lincoln dan
Guba, perbedaan tersebut terletak dalam asumsi/aksioma tentang kenyataan,
hubungan pencari tahu dengan tahu (yang diketahui), generalisasi, kausalitas, dan
masalah nilai.
       Dalam pandangan positivisme dari sudut ontologi meyakini bahwa realitas
merupakan suatu yang tunggal dan dapat dipecah-pecah untuk dipelajari/dipahami
secara bebas, obyek yang diteliti bisa dieliminasikan dari obyek-obyek lainnya,
sedangkan dalam pandangan fenomenologi kenyataan itu merupakan suatu yang utuh,
oleh karena itu obyek harus dilihat dalam suatu konteks natural tidak dalam bentuk
yang terfragmentasi.
       Dari sudut epistemologi, positivisme mensyaratkan adanya dualisme antara
subyek peneliti dengan obyek yang ditelitinya, pemilahan ini dimaksudkan agar dapat
diperoleh hasil yang obyektif, sementara itu dalam pandangan fenomenologis subyek



       1
           Ibid., h. 31



                                        4
dan obyek tidak dapat dipisahkan dan aktif bersama dalam memahami berbagai
gejala.
          Dari sudut aksiologi, positivisme mensyaratkan agar penelitian itu bebas nilai
agar dicapai obyektivitas konsep-konsep dan hukum-hukum sehingga tingkat
keberlakuannya bebas tempat dan waktu, sedangkan dalam pandangan fenomenologi
penelitian itu terikat oleh nilai sehingga hasil suatu penelitian harus dilihat sesuai
konteks.
          Perbedaan aksioma tersebut di atas selanjutnya dijelaskan Moleong pada tabel
berikut :
                                         Tabel 3.
              Perbedaan Aksioma Paradigma Positivisme dan Alamiah
             Aksioma                 Paradigma                      Paradigma
No
              Tentang                Positivisme                Alamiah/Kualitatif
                              Kenyataan adalah tunggal,          Kenyataan adalah
              Hakikat
 1                              nyata dan fragmentaris       ganda,dibentuk, dan me-
             kenyataan
                                                                rupakan keutuhan
             Hubungan         Pencari tahu dengan yang       Pencari tahu dengan yang
 2        pencari tahu dan    tahu adalah bebas, jadi ada     tahu aktif bersama, jadi
             yang tahu                 dualisme                tidak dapat dipisahkan
                                Generalisasi atas dasar      Hanya waktu dan konteks
            Kemungkinan        bebas-waktu dan bebas-         yang mengikat hipotesis
 3
            Generalisasi         konteks (pernyataan        kerja (pernyataan idiografis)
                                      nomotetik)                yang dimungkinkan
                                  Terdapat penyebab           Setiap keutuhan berada
            Kemungkinan        sebenarnya yang secara         dalam keadaan mempe-
 4        hubungan sebab       temporer terhadap, atau        ngaruhi secara bersama-
               akibat          secara simultan terhadap     sama sehingga sukar mem-
                                      akibatnya              bedakan mana sebab dan




                                            5
             Aksioma                   Paradigma                          Paradigma
No
              Tentang                  Positivisme                   Alamiah/Kualitatif
                                                                          mana akibat

    5       Peranan nilai         Inkuirinya bebas nilai            Inkuirinya terikat nilai
        (Sumber : Lexy J. Moleong : 2000 : 31)


1.2. Arti dan Asal Mula Fenomenologi
        Istilah ’fenomenologi’ sering digunakan sebagai anggapan umum untuk
menunjuk pada pengalaman subjektif dari berbagai jenis dan tipe subjek yang
ditemui. Menurut Moleong, peneliti dalam pandangan fenomenologis berusaha
memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang yang berada
dalam situasi-situasi tertentu. Hal ini berangkat dari arti asal kata fenomenologis yaitu
’fenomena’ atau gejala alamiah. Jadi para fenomenolog berusaha memahami
fenomena-fenomena yang melingkupi subyek yang diamatinya sedemikian rupa
sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan
oleh mereka di sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari-hari. 2
        Selain itu fenomenologi tidak berasumsi bahwa peneliti mengetahui arti
sesuatu bagi orang-orang yang sedang diteliti oleh mereka. Inkuiri fenomenologis
memulai dengan diam. Diam merupakan tindakan untuk menangkap pengertian
sesuatu yang sedang diteliti. Karenanya hal yang ditekankan oleh para fenomenolog
ialah aspek subjektif dari perilaku orang. Dengan kata lain mereka berusaha masuk ke
dalam dunia konseptual para subyek yang mereka teliti dalam rangka memahami
bagaimana dan apa makna yang mereka konstruk dalam setiap peristiwa dalam hidup
mereka.3



        2
         Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001, h.
9
        3
        Robert C. Bogdan dan Sari Knopp Biklen, Qualitative Research for Education, Boston: Allyn
and Bacon, 1992, h. 34



                                               6
          Jadi yang ditekankan dalam fenomenologi adalah pemahaman terhadap
pengalaman subyektif atas peristiwa dan kaitan-kaitannya yang melingkupi subyek.
Fenomenologi bertumpu pada pemahaman terhadap pengalaman subyektif atas gejala
alamiah (fenomena) atau peristiwa dan kaitan-kaitannya. Pada fenomenologi, ibarat
fotografer, peneliti ’merekam’ dunia (pengalaman, pemikiran, dan perasaan
subyektif) si subyek dan mencoba memahami atau menyelaminya.
          Metode penelitian fenomenologi ini pada dasarnya dipengaruhi oleh filsafat
fenomenologi yang dikembangkan oleh Edmund Husserl dari gurunya Brentano.
Dalam penelitian fenomenologi semua asumsi tentang sebab-sebab eksternal dan
lebih luas serta sebab akibat dari proses internal harus diabaikan. Husserl berpendapat
bahwa fenomenologi merupakan sebuah investigasi a priori dari makna-makna
umum sampai sebuah pemikiran tertentu dari beragam perspektif yang berbeda. 4
Selain Husserl, fpengaruh lainnya berasal dari Weber yang memberi tekanan pada
verstehen, yaitu pengertian interpretatif terhadap pemahaman manusia.5
          Dalam faham fenomenologi sebagaimana diungkapkan oleh Husserl, bahwa
kita harus kembali kepada benda-benda itu sendiri (zu den sachen selbst), obyek-
obyek harus diberikan kesempatan untuk berbicara melalui deskripsi fenomenologis
guna mencari hakekat gejala-gejala (Wessenchau). Menurutnya, asal mula
pengetahuan adalah fenomena dari pengalaman, yang muncul dengan hakekat gejala
yang beragam, baik dalam bentuk sensasi, persepsi, dan ide yang muncul secara
sadar.6
          Selain itu Husserl juga berpendapat bahwa kesadaran bukan bagian dari
kenyataan melainkan asal kenyataan, dia menolak bipolarisasi antara kesadaran dan
alam, antara subyek dan obyek, kesadaran tidak menemukan obyek-obyek, tapi
obyek-obyek diciptakan oleh kesadaran.


          4
          Antony Flew, A Dictionary of Philosophy, New York: St. Martin’s Press, 1979, h. 266
          5
          Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Loc.Cit.
         6
          Meredith D. Gall, et.al., Educational Research: An Introduction, Boston: Pearson Education,
Inc., 2003, h. 48



                                                  7
       Kesadaran merupakan sesuatu yang bersifat intensionalitas (bertujuan),
artinya kesadaran tidak dapat dibayangkan tanpa sesuatu yang disadari. Supaya
kesadaran timbul perlu diandaikan tiga hal yaitu : ada subyek, ada obyek, dan subyek
yang terbuka terhadap obyek-obyek. Kesadaran tidak bersifat pasif karena menyadari
sesuatu berarti mengubah sesuatu, kesadaran merupakan suatu tindakan, terdapat
interaksi antara tindakan kesadaran dan obyek kesadaran, namun yang ada hanyalah
kesadaran sedang obyek kesadaran pada dasarnya diciptakan oleh kesadaran.
       Berkaitan dengan hakekat obyek-obyek, Husserl berpendapat bahwa untuk
menangkap    hakekat     obyek-obyek       diperlukan     tiga   macam      reduksi    guna
menyingkirkan semua hal yang mengganggu dalam mencapai wessenchau yaitu:
Reduksi pertama. Menyingkirkan segala sesuatu yang subyektif, sikap kita harus
obyektif, terbuka untuk gejala-gejala yang harus diajak bicara. Reduksi kedua.
Menyingkirkan seluruh pengetahuan tentang obyek yang diperoleh dari sumber lain,
dan semua teori dan hipotesis yang sudah ada Reduksi ketiga. Menyingkirkan seluruh
tradisi pengetahuan. Segala sesuatu yang sudah dikatakan orang lain harus, untuk
sementara, dilupakan, kalau reduksi-reduksi ini berhasil, maka gejala-gejala akan
memperlihaaaatkan dirinya sendiri/dapat menjadi fenomin.
       Dengan demikian secara etimologis, fenomenologi hendak membangun suatu
refleksi intelektual yang terarah kepada pengetahuan di dalam konteks pengalaman
manusia. Melalui pengalaman kontekstual ini maka dapat disusun pengetahuan secara
terus menerus berdasarkan fakta yang teramati. Sisi lain dari arti pemikiran
fenomenologis ini adalah bahwa pengetahuan dapat ditempatkan di dalam
pengalaman manusia secara dinamis dan menyeluruh. Kondisi itulah yang
memungkinkan manusia dapat menemuakan pengertian dan makna. Fenomenologi
dengan ini mulai mengaitkan pengetahuan dengan hidup dan kehidupan manusia
sebagai konteksnya.7



       7
       Aholiab Watloly, Tanggung Jawab Pengetahuan, Yoyakarta: Kanisius, 2001, h. 95



                                             8
1.3. Langkah-langkah Penelitian Fenomenologi
       Langkah-langkah penelitian fenomenologi tidak berbeda jauh dengan
prosedur penelitian kualitatif umumnya. Langkah yang harus dilakukan adalah
sebagai berikut:8
       1.3.1. Mengidentifikasi sebuah topik tertentu dengan melihat signifikasi
sosialnya. Peneliti harus dapat memilih topik yang                            sesuai, tidak saja
mempertimbangkan alasan intelektual tapi juga emosional.
       1.3.2. Memilih partisipan (informan) yang tepat. Kriteria utama untuk
menyeleksi partsipan adalah memilih partisipan yang memiliki pengalaman terhadap
fenomena yang sedang diteliti dan dapat mendiskusikan ketertarikan peneliti dalam
memahami hakikat dari fenomena maupun pemaknaan fenomena itu. Melalui sebuah
proses empati, seorang individu bisa datang untuk mengenal orang lain dan menguji
apakah pengalamannya terhadap sebuah fenomena berhubungan dengan pengalaman
orang lain. Oleh karena itu, partisipan dalam penelian fenomenologi dapat juga
disebut sebagai co-researchers.
       1.3.3. Melakukan interview (wawancara) kepada masing-masing partisipan.
Para peneliti fenomenologi secara umum melakukan sekurang-kurangnya satu
interview panjang dengan masing-masing partisipan yang telah dipilih. Proses
interview dalam penelitian fenomenologi adalah tidak terstruktur, namun terfokus
untuk mendapatkan semua aspek dari pengalaman tertentu yang diteliti.
       1.3.4. Menganalisa data wawancara. Secara umum analisis data dalam
penelitian fenomenologi mengikuti prosedur penelitian case study. Selanjutnya akan
diuraikan.


1.4. Analisis Data Penelitian Fenemonologi



       8
           Meredith D. Gall, et.al., Educational Research: An Introduction, Op.Cit., h. 481-482



                                                   9
       Menurut Meredith, data penelitian fenomenologi dapat dianalisis dengan
melakukan tahapan berikut:9
       1.4.1. Data interview dari masing-masing partisipan dipilah dalam beberapa
segmen;
       1.4.2. Peneliti mencari makna dari masing-masing unit dan tema yang
terdapat dalam segmen tersebut;
       1.4.3. Pemaknaan terhadap masing-masing unit dan tema dikomparasikan
dengan peristiwa atau kasus yang terjadi;
       1.4.4. Temuan-temuan kasus atau peristiwa itu disintesakan dan divalidasi
melalui upaya cross-check kepada partisipan yang tadi telah diinterview. Jenis sintesa
ada dua yakni textural dan structural. Deskripsi textural adalah sebuah catatan dari
intuisi seseorang dan persepsi prereflective dari sebuah fenomena dengan melihat
setiap sudut anglenya. Sedangkan deskripsi struktural adalah sebuah catatan dari
pemikiran, pendapat, imaginasi yang teratur dan sistematis yang menggarisbawhi
pengalaman terhadap sebuah fenomena dan kemudian memberikan pemaknaan
terhadapnya.
       Berbeda dengan Meredith, Moleong tidak memberikan penjelasan untuk
analisis data penelitian fenemenologi secara spesifik. Namun apa yang dikemukakan
Moleong untuk analisis penelitian kualitatif secara umum, nampaknya juga dapat
digunakan untuk analisis data penelitian fenemenologi.
       Menurut Moleong, analisis data penelitian kualitatif selalu dimulai dengan
menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber. Setelah dibaca, dipelajari,
dan ditelaah, maka langkah berikutnya ialah mengadakan reduksi data yang dilakukan
dengan jalan membuat abstraksi. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman
yang inti, proses, dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada
di dalamnya. Langkah selanjutnya adalah menyusunnya dalam satuan-satuan. Satuan-
satuan itu kemudian dikategorisasikan pada langkah berikutnya. Kategori-kategori itu


       9
        Ibid.



                                            10
dilakukan sambil membuat koding. Tahap akhir dari analisis data ini ialah
mengadakan pemeriksaan keabsahan data. Setelah tahap ini, mulailah kini tahap
penafsiran data dalam mengolah hasil sementara menjadi teori substantif dengan
menggunakan beberapa metode tertentu.10
           Sehubungan dengan uraian tentang proses analisis dan penafsiran data
tersebut, uraian selanjutnya akan menjelaskan beberapa persoalan mengenai
pemrosesan satuan, kategorisasi termasuk pemeriksaan keabsahan data, diakhiri
dengan penafsiran data.11
           1.4.1. Pemrosesan Satuan (unityzing).
           Pemrosesan satuan terdiri atas tipologi satuan dan penyusunan satuan.
           1.4.1.1. Tipologi Satuan.
           Satuan atau unit adalah satuan suatu latar sosial. Pada dasarnya satuan itu
merupakan alat untuk menghaluskan pencatatan data. Lincoln dan Guba seperti yang
dikutip Moleong, menamakan satuan itu sebagai satuan informasi yang berfungsi
untuk menentukan atau mendefinisikan kategori.
           Jenis tipe satuan itu dibedakan oleh Patton (1987:306-310) menjadi tipe asli
dan tipe hasil kontruksi analis. Patton (hal. 106) menyatakan bahwa tipe asli inilah
yang menggunakan perspektif emik dalam antropologi. Hal ini didasarkan atas
asumsi bahwa perilaku sosial dan kebudayaan hendaknya dipelajari dari segi
pandangan dari dalam dan definisi perilaku manusia. Jadi konseptualisasi satuan
hendaknya ditemukan dengan menganalisis proses kognitif dan struktur kognitif
orang-orang yang diteliti, bukan dari segi etnosentrisme peneliti.
           Pendekatan ini menuntut adanya analisis kategori verbal yang digunakan oleh
subjek untuk merinci kompleksitas kenyataan ke dalam bagian-bagian. Secara
fundamental maksud penggunaan bahasa itu penting untuk memberikan ”nama”
sehingga membedakannya dengan yang lain dengan ”nama” yang lain pula. Setelah

           10
            Lihat lebih lengkap dalam Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Op.Cit., h.
190-204.
           11
                Ibid.



                                                  11
”label” tersebut ditemukan dari apa yang dikatakan oleh subjek, tahap berikutnya
ialah berusaha menemukan ciri atau atribut atau karakteristik yang membedakan
sesuatu dengan sesuatu yang lain.
       Pada setiap penelitian ada kemungkinan akan ada kosakata khusus yang
digunakan para subjek untuk membedakan setiap jenis kegiatan, membedakan para
peserta, gaya berperanserta yang berbeda dan lain-lain. Tipologi asli ini merupakan
kunci bagi peneliti untuk memberikan nama sesuai dengan apa yang sedang
dipikirkan, dirasakan, dan dihayati oleh para subjek dan dihendaki oleh latar
penelitian. Penting bagi seorang peneliti alamiah untuk memahami berbagai
peristilahan dengan implikasinya karena hal itu memberikan arti mendalam tentang
cara berpikir, bertindak, dan gaya hidup seseorang pada suatu latar tertentu.
       1.4.1.2. Penyusunan Satuan
       Penyusunan satuan memiliki dua karakteristik, yaitu: Pertama, satuan itu
harus heuristik artinya mengarah pada satu pengertian atau satu tindakan yang
diperlukan oleh peneliti atau akan dilakukannya, dan satuan itu hendaknya juga
menaraik. Kedua, satuan itu hendaknya merupakan ”sepotong” informasi terkecil
yang dapat berdiri sendiri, artinya satuan itu harus dapat ditafsirkan tanpa informasi
tambahan selain pengertian umum dalam konteks latar penelitian.
       Langkah pertama dalam pemrosesan satuan ialah peneliti hendaknya
membaca dan mempelajari secara teliti seluruh jenis data yang sudah terkumpul.
Setelah itu usahakan agar satuan-satuan itu diidentifikasi. Peneliti memasukkannya ke
dalam kartu indeks. Penyusunan satuan dan pemasukannya ke dalam kartu indeks
hendaknya dapat dipahami oleh orang lain. Pada tahap ini peneliti hendaknya jangan
dulu membuang satuan yang ada walaupun mungkin dianggap tidak relevan.
       Jika tugas penyusunan satuan itu telah dapat diselesaikan, langkah selanjutnya
adalah membuat kategorisasi.
       1.4.2. Kategorisasi
       1.4.2.1. Fungsi dan Prinsip Kategorisasi




                                          12
        Kategorisasi berarti penyusunan kategori. Kategori tidak lain adalah salah satu
tumpukan dari seperangkat tumpukan yang disusun atas dasar pikiran, intuisi,
pendapat, atau kriteria tertentu. Tugas pokok kategorisasi adalah:
        1.4.2.1.1. Mengelompokkan kartu-kartu yang telah dibuat ke dalam bagian-
bagian isi yang secara jelas berkaitan;
        1.4.2.1.2. Merumuskan aturan yang menguraikan kawasan kategori dan yang
akhirnya dapat digunakan untuk menetapkan inklusi setiap kartu pada kategori dan
juga sebagai dasar untuk pemeriksaan keabsahan data;
        1.4.2.1.3. Menjaga agar setiap kategori yang telah disusun satu dengan
lainnya mengikuti prinsip taat asas.
        1.4.2.2. Langkah-langkah Kategorisasi
        Metode yang digunakan dalam kategorisasi didasarkan atas metode analisis
komparatif dengan langkah-langkah sebagai berikut:
        1.4.2.2.1. Pilihlah kartu pertama di antara yang telah disusun pada
penyusunan satuan, bacalah kartu itu dan catatlah isinya. Kartu pertama merupakan
entri pertama dari kategori yang akan diberi nama. Tempatkan kartu itu pada satu sisi
tertentu.
        1.4.2.2.2. Pilihlah kartu kedua, baca dan catat pula isinya. Periksa kartu
tersebut dan kemudian buatlah keputusan, apakah kartu kedua tampak sama dengan
kartu perama. Bila benar-benar sama, tempatkanlah kartu itu di tempat yang sama.
Tapi jika ternyata tidak sama dengan kartu pertama, maka kartu itu merupakan entri
pertama untuk kategori kedua yang akan diberi nama.
        1.4.2.2.3. Lanjutkanlah dengan kartu-kartu berikutnya sampai selesai seperti
langkah kedua. Bila ternyata ada kartu baru yang tidak cocok dengan kategori-
kategori sebelumnya, tempatkan kartu-kartu itu pada tempat lain dan jangan dibuang.
Lakukan terus langkah tersebut sampai kartu untuk membuat kategori habis.
        1.4.2.2.4. Apabila tumpukan kartu satuan sudah selesai diproses, keseluruhan
perangkat kategori ditelaah dengan langkah sebagai berikut:




                                          13
       Pertama, perhatian hendaknya diberikan pada kartu-kartu yang ditumpukan
pada ”tumpukan-tumpukan lain”, kalau-kalau ada di antara kartu-kartu itu yang dapat
ditumpukkan ke dalam kategori yang telah ditetapkan. Pada saat ini peneliti dapat
mencermati beberapa kartu yang mungkin sama sekali tidak relevan dengan semua
kategori,dan kartu demikian boleh dibuang. Namun, jika masih ada kartu-kartu yang
belum dapat dipastikan masuk ke dalam kategori yang sudah dibuat, usahakan tidak
lebih dari 5%-7%. Jika jauh melebihi itu, kemungkinan sistem dan aturan kategorisasi
yang dibuat ada kelemahan-kelemahannya
       Kedua, kategori-kategori itu harus ditelaah untuk memeriksa adanya tumpang
tindih. Satu tumpukan kartu yang membentuk kategori dipandang tidak memenuhi
jika ada ambigiuitas atau keraguan tentan bagaiaman suatu kartu itu dapat
dikategorisasikan. Jika terjadi demikian, kartu itu hendaknya ditulis kembali ke dalam
dua buah kartu sehingga keraguan demikian itu hilang. Suatu kategori yang bersih
dapat dicapai bila kategori itiu didefinisikan sedemikian rupa sehingga tercapai
kategiru yang secara internal sehomogen mungkin dan secara eksternal seheterogen
mungkin.
       Ketiga, perangkat kategori itu harus diuji untuk menemukan hubungan di
antara sesamanya.Ada kemungkinan bahwa kategori tertentu merupakan bagia dari
suatu kategori lainnya. Ada pula kategori yang masih perlu dipisah atau beberapa
kategori yang hilang. Kategori seperti hilang, tidak lengkap, atau kategori lainnya
yang tidak memuaskan menuntut peneliti mengadakan tindak lanjut pengumpulan
data lagi.
       1.4.2.2.5. Kategori yang masih memerlukan data lainnya dapat dilakukan
dengan mengikuti strategi perluasan, pengaitan dan pengapungan. Perluasan adalah
mulai mengumpulkan butir yang diketahui tentang informasi. Butir-butir informasi
dijadikan dasar untuk mengajukan pertanyaan atau sebagai petunjuk bagi pengujian
dokuman. Jadi, pengumpulan informasi itu dilakukan dari yang diketahui kemudian
bergerak ke arah yang tidak diketahui. Pengaitan adalah memulai dengan beberapa
hal yang diketahui, tetapi jelas-jelas terputus sebagai butir-butir informasi dan



                                         14
hubungannya tidak dipahami. Yang diketahui dan tidak dipahami oleh peneliti
dikaitkan agar menjadi sesuatu yang dipahami. Pengapungan adalah mengumpulkan
informasi baru yang dapat ditemukan di lapangan dan kemudian memverifikasi
keberadaannya.
       1.4.2.2.6. Menghentikan pengumpulan dan pemrosesan keputusan. Ada empat
kriteria yang dapat digunakan untuk memberikan informasi guna menghentikan
pembuatan keputusan yaitu: Kehabisan sumber, kejenuhan kategori, munculnya
keteraturan, dan terlalu diperluas
       1.4.2.2.7. Terakhir, peneliti harus menelaah sekali lagi seluruh kategori agar
jangan sampai ada yang terlupakan. Setelah selesai dianalisis, sebelum menafsirkan
peneliti wajib mengadakan pemeriksaan terhadap keabsahan datanya.
       1.4.3. Penafsiran Data
       Tujuan penafsiran data ialah salah satu di antara tiga tujuan berikut:
       Pertama, deskripsi semata-mata yaitu menerima dan menggunakan teori dari
rancangan organsisasional yang telah ada dalamm suatu disiplin tertentu. Peneliti
dapat menyusun dan menghubungkan sejumlah kategori ke dalam kerangkan sistem
kategri yang diperoleh dari data.
       Kedua, deskripsi analitik, rancangan organisasional dikembangkan dari
kategori-kategori yang ditemukan dan hubungan-hubungan yang disarankan atau
yang muncul dari data. Dengan demikian deskripsi baru yang perlu diperhatikan
dapat dicapai.
       Ketiga, penyusunan teori substantif. Untuk memperoleh teori baru, yaitu teori
dari dasar, peneliti harus menampakkan metafora atau rancangan yang telah
dikerjakannya dalam analisis. Kemudia ia mentransformasikan metafora itu ke dalam
bahsa disiplin ilmu yang dipilih (sosiologi, antropologi, dan lain-lain) yang akhirnya
membangun identitas sendiri.


1.5. Manfaat Penelitian Fenomenologi




                                          15
       Sebagai sebuah pendekatan penelitian kualitatif, penelitian fenemenologi
memiliki beberapa manfaat, yakni:12
       1.5.1. Penelitian fenemenologi dapat digunakan untuk mengkaji fenomena
yang memiliki ruang lingkup yang luas, termasuk pendidikan, misalnya dalam
mengkaji proses pengalaman murid dalam belajar dan saat menjalankan test, atau
mengkaji tentang pengalaman guru dalam memberikan proses belajar mengajar di
dalam kelas;
       1.5.2. Penggunaan proses interview data penelitian fenemenologi adalah luas,
karenanya data tersebut mungkin dapat menemukan banyak aspek dari pengalaman
yang boleh jadi membuktikan kajian penting tanpa melakukan analisis lanjutan atau
sebagai variable dalam penelitian kualitatif dan kuantitatif berikutnya;
       1.5.3. Langkah-langkah penelitian fenemenologi relatif mudah dilakukan
(tidak complicated). Bagi peneliti yang mungkin memiliki pengalaman yang sedikit
dianjurkan untuk menggunakan metode penelitian fenemenologi dibandingkan harus
menggunakan metode penelitian kualititatif lain seperti etnografi atau semiotik.




       12
         Meredith D. Gall, et.al., Educational Research: An Introduction, Op.Cit.,h. 483



                                                16

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2458
posted:6/21/2010
language:Indonesian
pages:16