Docstoc

REMITAN DAN DAMPAKNYA DI TINGKAT RUMAH TANGGA, KOMUNITAS DAN MAKRO

Document Sample
REMITAN DAN DAMPAKNYA DI TINGKAT RUMAH TANGGA, KOMUNITAS DAN MAKRO Powered By Docstoc
					 REMITAN DAN DAMPAKNYA DI TINGKAT RUMAH TANGGA,
              KOMUNITAS DAN MAKRO
                             (Sebuah Kajian Literatur)
                                      Elanvito


Pengertian remitan secara umum berasal dari transfer, baik dalam bentuk cash atau
sejenisnya, dari seorang asing kepada sanak keluarga di negara asalnya. IMF
mendefinisikannya ke dalam 3 kategori, yaitu:
(i) remitan pekerja atau transfer dalam bentuk tunai atau sejenisnya dari pekerja
    asing kepada keluarganya di kampung halaman
(ii) kompensasi terhadap pekerjaan atau pendapatan, gaji atau renumerasi dalam
    bentuk tunai atau sejenisnya yang dibayarkan kepada individu yang bekerja di
    satu negara lain di mana keberadaan mereka adalah resmi, dan
(iii) transfer uang seorang asing yang merujuk kepada transfer kapital dari aset
    keuangan yang dibuat orang asing tersebut selama perpindahan dia dari satu
    negara ke lainnya dan tinggal lebih dari satu tahun. (Addy, Wijkstrom dan
    Thouez 2003:5).


Berdasarkan bentuknya, Sorensen (2004:3-4) memilah remitan menjadi dua macam,
yaitu:
a. Monetary remittances
Remitan umumnya didefiniskan sebagai bagian dari pendapatam buruh migran yang
dikirim dari negara tujuan ke daerah asalnya. Walaupun remitan bisa dalam bentuk
barang, terminologi ‘remitan’ biasanya mengacu kepada transfer uang. Dalam
banyak literatur, terminologi ini kemudian dipersempit lagi mengacu pada remitan
buruh migran, yang adalah, transfer uang yang dikirim oleh buruh migran ke
keluarganya di kampungnya.


b. Social remittances
Perubahan-perubahan yang terjadi karena proses migrasi tidak hanya berasal dari
arus uang masuk. Selain remitan dalam bentuk uang, bentuk lain adalah social
remittance. Oleh Levit (1996:2), social remittance didefinisikan sebagai ide,
perbuatan, identitas dan social capital yang berasal dari negara tujuan. Social
remittance ditransfer oleh buruh migran atau melalui surat atau bentuk komunikasi
lain, termasuk telepon, fax, internet atau video. Social remittance ini dapat
berpengaruh pada hubungan keluarga, peran gender, kelas dan identitas kesukuan,
politik, ekonomi dan partisipasi keagamaan.
Dalam penelitian ini pengertian remitan yang akan digunakan mengacu kepada
remitan dalam bentuk uang yang dihasilkan oleh buruh migran, selama bekerja di
luar negeri lebih dari satu tahun, baik yang dikirim maupun yang dibawa langsung
oleh buruh migran ke kampungnya.




Pola Penggunaan Remitan
     Penggunaan remitan dipengaruhi oleh banyak variabel. Dari sisi si buruh
migran, faktor yang mempengaruhi adalah tingkat penghasilan, lama bekerja di luar
negeri, dan sebagainya). Dari sisi rumahtangga di daerah asal sebagai contoh;
cenderung menggunakan remitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari
(makanan, pakaian, kesehatan) dan untuk untuk membangun atau renovasi rumah,
membeli tanah atau ternak atau barang-barang lainnya. Ada yang memandang
bahwa pengeluaran ini adalah bukan “investasi produktif”, misalnya kegiatan-
kegiatan yang bisa menghasilkan pendapatan dan mempekerjakan orang, atau
usaha atau aktivitas lainnya yang memiliki multiplier effect. Pandangan alternatif
melihat   bahwa    penggunaan      remitan   tersebut   adalah    rasional,   dengan
mempertimbangkan hambatan-hambatan struktural untuk berinvestasi. Puri dan
Ritzema (1999:15) menyimpulkan bahwa keluarga buruh migran menggunakan
remitannya secara rasional.

Oleh karena itu penggunaan remitan juga akan sangat bervariasi. Namun demikian
pola penggunaan remitan ini dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a. Makanan, pakaian, kesehatan dan pendidikan.
Sejumlah besar remitan yang dikirim oleh migran berfungsi untuk menyokong
kerabat/keluarga migran yang ada di daerah asal. Migran mempunyai kewajiban dan
tanggung jawab untuk mengirimkan uang/barang untuk menyokong biaya hidup
sehari- hari dari kerabat dan keluarganya, terutama untuk anak-anak dan orang tua.
Hal ini ditemukan Caldwell pada penelitiannya di Ghana, Afrika tahun 1969 (dalam
Russell, Jacobsen, and Stanley, 1990:28). Di daerah ini, 73 persen dari total remitan
yang dikirimkan oleh migran dituju¬kan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dari
keluarga di daerah asal. Terkadang remitan juga digunakan untuk investasi di
pendidikan. Di Maroko, anak-anak yang berasal dari keluarga buruh migran memilki
tingkat pendidikan yang lebih tinggi dibanding yang bukan (de Haas, 2006:31)
b. Perumahan
Fenomena membangun rumah baru atau merenovasi rumah dari uang remitan, tidak
hanya terjadi di Indonesia. Penelitian di negara-negara lain menunjukkan bahwa
fenomena ini termasuk salah satu penggunaan uang remitan yang terbanyak.


c. Modal usaha
Banyak buruh migran/keluarganya yang menggunakan uang remitan untuk
mendirikan kegiatan usaha baru di daerah asalnya. Effendi (1993) dalam
penelitiannya di tiga desa Jatinom, Klaten menemukan bahwa remitan telah
digunakan untuk modal usaha pada usaha-usaha skala kecil seperti pertanian jeruk,
peternakan ayam, perdangan dan bengkel sepeda. Woodruff and Zenteno dalam
penelitian mereka di Meksiko menemukan bahwa remitan berdampak positif
terhadap perkembangan usaha kecil dan menengah di sana. Pemanfaatan remitan
untuk modal usaha juga bisa membawa dampak yang berkelanjutan terhadap
ekonomi keluarga.


d. Rumah Ibadat dan Peringatan hari-hari besar
Di samping mempunyai tanggung jawab terhadap kebutuhan hidup sehari-hari
keluarga dan kerabatnya, seorang migran juga berusaha untuk dapat pulang ke
daerah asal pada saat diadakan peringatan hari-hari besar yang berhubungan
dengan siklus hidup manusia, misalnya kelahiran, perkawinan, dan kematian
(Connel dan Brown 2005). pada saat itulah, jumlah remitan yang dikirim atau
ditinggalkan lebih besar daripada hari-hari biasa. Remitan juga digunakan untuk
menyumbang ke pembangunan rumah-rumah ibadat seperti telah dijabarkan di atas.
     Pola penggunaan remitan diatas dipengaruhi oleh motivasi mengirim remitan
oleh buruh migran. Beberapa penelitian telah menjelaskan mengenai motif-motif ini.
Menurut Rappaport dan Docquier (2004:10), motif mengirim remitan adalah:
altruism, pertukaran, alasan strategis, asuransi, motif investasi, warisan dan motif
campuran. Jauh sebelumnya, Lucas dan Stark (1985), berdasarkan penelitian
mereka di Bostwana, telah menyimpulkan bahwa motif mengirim remitan adalah;
pure altruism, pure self interest, dan Tempered Altruism or Enlightened Self-Interest.
Sementara itu Poirine, menmperkenalkan teori Impicit Family Loan Arrangement,
yang menyatakan bahwa remitan adalah bentuk pembayaran hutang dari orang yang
melakukan migrasi ke keluarganya.


     Klaisifikasi yang dibuat oleh Solimano (2003:4) menyimpulkan bahwa motif
pengiriman remitan sebagai berikut:
a. Motif Altruistik
Dalam model altruistik, buruh migran mengirimkan remitan ke rumah karena adanya
kepeduliaan terhadap nasib keluarganya di negara asalnya, dan remitan kemudian
memberikan kepuasan terhadap buruh migran akan kesejahteraan keluarganya.


b. Motif Kepentingan-Pribadi
Bertolak belakang dengan motif altrusitik adalah imigran yang mengirimkan remitan
ke negara asalnya dengan tujuan-tujuan ekonomi dan finansial untuk kepentingan
pribadi.


c. Perjanjian Keluarga Implisit I: Pembayaran Hutang
Teori ini mengasumsikan bahwa keluarga menciptakan sebuah perjanjian implicit
antara individu (buruh migran) yang memilih untuk tinggal di luar negeri, dan yang
tinggal di rumah. Perjanjian implisit ini mempunyai dimensi intertemporal, misalnya
beberapa     tahun    bahkan   beberapa     dekade   sebagai   elemen   waktu,   dan
dikombinasikan dengan elemen investasi dan pembayaran hutang. Dalam teori
pembayaran hutang, keluarga melakukan investasi pada pendidikan buruh migran
dan biasanya membiayai kebutuhan untuk melakukan migrasi (biaya perjalanan dan
biaya hidup selama sementara selama di negara penerima). Hal ini merupakan
elemen hutang (investasi) di dalam teori. Pembayaran hutang dilakukan setelah
buruh migran sudah mulai mapan di negara penerima, serta pendapatannya mulai
meningkat dari waktu ke waktu, maka ia harus sudah memulai untuk membayar
hutangnya (baik hutang dasar dan bunga) kembali ke keluarganya dalam bentuk
remitan. Dalam hal ini keluarga melakukan investasi pada aset yang lebih
menghasilkan – yaitu pada buruh migran yang mempunyai penghasilan yang lebih
tinggi di negara asing daripada anggota keluarga lain yang tinggal dan bekerja di
rumah.


d. Perjanjian Keluarga Implisit II: co-insurance
Varian lain dari teori remitan ini melihat pengiriman remitan sebagai akibat dari
perjanjian implisit antara yang bermigrasi dengan anggota keluarga di daerah asal,
berdasarkan diversifikasi resiko. Orang yang bermigrasi, dalam hal ini, mempunyai
peran untuk membantu keluarganya yang dalam kesusahan di negara asal.
Sedangkan bagi si migran, adanya keluarga di daerah asal, merupakan jaminan
ketika kondisi ekonomi di negara tujuan memburuk.
DAMPAK REMITAN
         Belakangan ini, semakin banyak negara yang melihat buruh migran sebagai
salah    satu   sumber   daya   yang   sangat   bernilai    untuk      pembangunan    dan
penanggulangan kemiskinan di negara asalnya. Di banyak negara berkembang, arus
remitan dari buruh migran di luar negeri bahkan melebihi bantuan pembangunan dan
investasi asing. Remitan dari orang-orang yang bekerja di luar negeri ini seringkali
merupakan komponen utama pendapatan keluarga. Selain berkontribusi untuk
kesejahteraan keluarga, remitan juga dapat menyokong pembangunan melalui
investasi dalam pendidikan, tanah dan usaha kecil. Di beberapa tempat, buruh
migran bahkan menyumbangkan sebagian dari remitannya untuk pembangunan
sarana umum di daerah asalnya, seperti yang dilakukan oleh para buruh migran
Dukuh Temukerep, Desa/Kecamatan Larangan, Brebes, yang membangun mesjid di
desa mereka. (Wawasan Digital, 21 Juni, 2007). Hal ini sejalan dengan pendapat
Javed Burki (ILO, 2000:8) yang menyatakan bahwa :

            “Buruh migran telah membantu pembangunan di daerah asalnya melalui
           tiga cara. Pertama, mereka mengirim remitan ke keluarga mereka. Dalam
           hal ini, jalur metode pengiriman yang dilakukan berbeda-beda tergantung
           tingkat pendidikan si migran dan keterbukaan sektor keuangan di negara
           terkait. Kedua, migran yang sudah mapan di negara tujuan cenderung
           melakukan investasi jangka panjang di negara asal mereka, Ketiga,
           migran mengirim remitan untuk sumbangan atau tujuan-tujuan
           pemberdayaan masyarakat.”

         Pembahasan mengenai pola penggunaan remitan di tingkat rumahtangga
adalah    penting   dalam   pembahasan     mengenai        implikasi    remitan   terhadap
pembangunan dan juga terhadap rancangan kebijakan untuk meningkatkan dampak
remitan terhadap pembangunan (Puri dan Ritzema, 1999:15). Hal ini berkaitan
dengan efek berantai dari penggunaan remitan di tingkat rumah tangga. Lebih jauh,
Puri dan Ritzema (1999:15-16) menjelaskan mengenai implikasi remitan terhadap
perekonomian secara keseluruhan sebagai berikut:

           ”Implikasi Mikro: Sebagian besar remitan digunakan untuk pengeluaran
           sehari-hari seperti makanan, pakaian dan kesehatan. Sebagian juga
           digunakan untuk membangun atau memperbaiki rumah, membeli tanah
           atau ternak, dan juga membeli barang-barang lainnya seperti tv dan mesin
           cuci. Pada umumnya hanya sedikit yang dialokasikan untuk tabungan dan
           investasi produktif, memulai usaha sendiri dan aktivitas lain yang
           mempunyai multiplier effects.
           Implikasi Makro: Ada dua pandangan yang berlawanan mengenai dampak
           remitan d tingkat marko ini. Pertama, remitan merupakan sumber penting
           mata uang asing, meningkatkan pendapatan nasional, pembiayaan import
           dan berkontribusi kepada neraca pembayaran. Yang lain percaya bahwa
           remitan tidak saja gagal membantu perekonomian tetapi juga menurunkan
            kecenderungan perbaikan ekonomi. Dana yang masuk dapat mencipakan
            ketergantungan bagi penerimanya, mendorong migrasi yang berkelanjutan
            dan menurunkan daya tarik investasi karena kurangnya tenaga kerja di
            negara asal. Banyak juga yang melihat remitan meningkatkan
            ketidtidakmerataan. Juga remitan seringkali digunakan untuk membeli
            barang—barang impor, bukan produk lokal, sehingga mengurangi potensi
            efek berantai dari perputaran uang dan meningkatkan permintaan impor
            dan inflasi.”

          Dilihat dari sudut pandang ekonomi, dampak remitan di tingkatan lokal dapat
terjadi dalam dua cara utama (Orozco, Paiewonsky, 2007:3):
1. Melalui pengaruh langsung terhadap rumah tangga, dimana meningkatnya
   penghasilan memungkinkan adanya daya konsumsi yang semakin tinggi dan
   memberikan akses yang semakin baik untuk kesehatan dan pendidikan. Hasil
   akhir dari pengaruh langsung ini adalah berkurangnya kemiskinan dan
   berkurangnya kerentanan pada situasi-situasi. Semua dampak positif tersebut
   dapat dimaksimalkan dengan melakukan ‘investasi produktif’, misalnya investasi
   yang dapat meningkatkan penghasilan rumah tangga di masa yang akan datang
   menjadi tidak lagi tergantung pada remitan.


2. Melalui pengaruh tidak langsung terhadap komunitas secara keseluruhan, yang
   bisa    terjadi   dalam   beberapa   cara:   a)   dengan   memberikan   efek   yang
   menguntungkan terhadap aktivis ekonomi lokal, dimana penerima remitan
   membeli barang dan jasa dari pengusaha atau penyedia jasa lokal b) dengan
   adanya peningkatan modal sumber daya manusia, terutama dengan kesehatan
   dan pendidikan yang lebih baik, sehingga dapat mengarah terhadap produktivitas
   ekonomi yang lebih baik pula c) dengan meningkatkan ketersediaan modal
   financial yang inklusif, yang dapat diberikan melalui kredit untuk investasi
   produktif bagi rumah tangga penerima maupun non-penerima remitan. Semua
   pengaruh diatas menitikberatkan remitan sebagai entry point meningkatnya
   kemampuan financial, pendidikan dan jasa dari komunitas lokal secara
   keseluruhan.


          Berdasarkan literatur, manfaat maupun efek negatif dari migrasi dan remitan
luar negeri dapat diklasifikasi dengan menggunakan tiga perspektif, yaitu pada
tingkat rumah tangga, pada tingkat lokal atau tingkat komunitas, dan pada tingkat
makro:
1. Dampak remitan di tingkat rumah tangga
Efek dari remitan terhadap keluarga penerima remitan merupakan hal yang sangat
jelas. Buruh     migran    biasanya   mengirimkan    porsi yang    cukup    besar dari
penghasilannya untuk dikirimkan ke keluarga yang tinggal di negara asal, hal ini
meningkatkan pendapatan keluarga. Remitan tersebut langsung menjadi bagian dari
dana rumah tangga dimana keluarga dapat menggunakannya untuk keperluan dasar
maupun sebagai dana tambahan untuk membeli barang-barang atau disimpan
dalam tabungan.


        Remitan juga dapat digunakan sebagai modal untuk memulai usaha. Dalam
hal ini, dapat dikatakan bahwa arus uang dari luar negeri seperti remitan umumnya
meningkatkan kualitas kehidupan keluarga penerima. Meskipun demikian, harus
dicatat bahwa hal ini hanya berlaku bagi rumah tangga yang anggota keluarganya
dapat mengatur pengeluaran dengan bijaksana dan hati-hati. Oleh karena itu,
keuntungan yang didapat dari remitan memang sangat tergantung tentang
bagaimana keluarga penerima remitan menggunakan uang tersebut.


        Beberapa studi secara empiris berhasil membuktikan bahwa remitan dapat
meningkatkan tingkat pendidikan dari anak keluarga penerima remitan. Di Mexico,
Lopez (2004:2) menemukan bahwa meningkatnya jumlah rumah tangga yang
menerima remitan berpengaruh kepada meningkatnya Angka Partisipasi Sekolah
dan turunnya Angka Buta Aksara pada anak-anak berumur 6-14 tahun. Meskipun
demikian, Mckenzie (1997 dalam Capistrano and Maria 2008:7) menemukan
bahwa migrasi dapat mengakibatkan menurunnya kerberhasilan atau prestasi
pendidikan anak yang disebabkan karena tidak adanya orang tua di rumah karena
harus bekerja sebagai buruh migran luar negeri. Selain dari dampak terhadap
pendidikan, migrasi dan remitan juga mempunyai efek yang positif terhadap status
kesehatan dari keluarga penerima remitan. Pendidikan dan kesehatan merupakan
dua faktor yang utama dalam pengembangan sumber daya manusia (human
capital).   Di   Mexico,   hasil   penelitian   Hildebrant   and   McKenzie    (2005:3)
memperlihatkan bahwa migrasi dari Mexico ke Amerika Serikat telah berimplikasi
terhadap peningkatan kesehatan anak, berkurangnya Angka Kematian Bayi dan
terjadinya peningkatan berat bayi yang baru lahir.       Penelitian ini mengidentifikasi
adanya dua saluran dari dampak remitan, yaitu adannya perbaikan status kesehatan
yang disebabkan oleh meningkatnya pendapatan, serta adanya temuan bahwa
mempunyai anggota keluarga yang bekerja sebagai buruh migran berkaitan dengan
meningkatnya tingkat kesadaran para ibu akan kesehatan.
       Penelitian Wahyu Budi Nugroho (2006:78) di Kabupaten Bandung juga
menyimpulkan bahwa remitan terbukti dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Hal ini ditandai dengan perubahan kondisi rumah yang semakin bagus, kepemilikan
barang berharga, kemampuan menyekolahkan anak yang lebih tinggi, tambahan
sumber penghasilan dan kemampuan daya beli yang lebih tinggi. Menurut Wahyu,
secara aggregat remitan juga berdampak terhadap kesejahteraan keluarga, ditandai
dengan menurunnya tingkat kemiskinan penduduk di desa Budiharja di tahun 2005.


       Walaupun migrasi dan remitan terbukti membawa beberapa keuntungan bagi
rumah tangga, namun ada juga dampak negatif ekonomi dan sosial yang disebabkan
olehnya.   Pada    sisi   ekonomi,   migrasi   dapat     membuat      adanya    perilaku
ketergantungan pada tingkat rumah tangga (Meins 2007). Remitan luar negeri,
seperti yang dijelaskan oleh Bridi (2005) juga meningkatkan adanya perilaku
keengganan untuk bekerja dari anggota keluarga penerima. Chami dkk (2005:61)
menekankan bahwa migrasi dapat menciptakan masalah moral yang cukup serius,
migrasi dapat menyebabkan anggota keluarga lain malas untuk bekerja atau mencari
kerja. Pada sisi sosial, Rodriguez (2003) menyatakan bahwa migrasi mempunyai
efek yang tidak baik terhadap keluarga buruh migran, karena tidak adanya kehadiran
orang tua di rumah dan kurangnya didikan orangtua menyebabkan anak-anak
berkembang menjadi nakal. Lebih jauh lagi, remitan dapat menyebabkan adanya
rasa tidak nyaman antar keluarga buruh migran.

       Pada    tingkat    rumah   tangga,   remitan    seringkali   dipandang   sebagai
pemasukan rumahtangga sama dengan gaji, dimana surplus dari remitan tersebut
digunakan sebagai pengganti dari jasa-jasa dasar yang tidak disediakan oleh Negara
(kesehatan, pendidikan, dana pensiun). Oleh karena itu, jumlah yang tersedia untuk
tabungan cenderung sangat kecil sehingga tidak memungkinkan adanya usaha-
usaha investasi. Newland (2007:1) menjelaskan bahwa:
           “Sedikitnya jumlah remitan yang digunakan untuk investasi (selain dari
           investasi SDM berupa pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan) tidak
           hanya memperlihatkan kebutuhan-kebutuhan mendesak dari keluarga
           miskin, tapi juga adanya iklim yang tidak mendukung usaha investasi bagi
           mereka. Sampai masalah-masalah - seperti buruknya infrastruktur,
           korupsi, kurangnya akses untuk mendapatkan pinjaman, jarak yang jauh
           dari pasar, kurangnya pelatihan dalam kemampuan wirausaha, dan
           kurangnya motivasi untuk menabung – bisa ditangani, tidaklah realistis
           untuk mengharapkan remitan dapat menyelesaikan masalah rendahnya
           investasi di komunitas miskin. Remitan memang dapat mengangkat
           banyak penerima-nya dari jurang kemiskinan, namun hanya selama
           kiriman remitan tetap dilakukan”
2. Dampak remitan di tingkat komunitas
       Walaupun remitan dapat berpengaruh langsung pada rumah tangga
penerima, namun keluarga yang tidak menerima remitan juga bisa mendapatkan
keuntungan tidak langsung dari pengiriman remitan tersebut, yaitu dalam kaitannya
dengan     meningkatkan      pembangunan        lokal.   Penjelasan     berikutnya   akan
memaparkan tentang berbagai cara rumah tangga non-migran dapat mendapatkan
keuntungan langsung dari migrasi, atau secara khusus dari remitan.


       Pertama, meningkatnya daya konsumsi rumah tangga migran dapat
menghasilkan multiplier effects: Apabila keluarga penerima meningkatkan konsumsi
rumah tangga mereka dengan membeli barang atau jasa lokal, maka hal ini akan
menguntungkan      anggota       komunitas   lokal   melalui    peningkatan    permintaan
barang/jasa yang kemudian akan meningkatkan produksi lokal. Peningkatan
produksi   lokal   ini   dapat    menciptakan    lapangan      kerja   dan   meningkatkan
pembangunan lokal.


       Kedua, remitan juga terbukti dapat menciptakan bentuk-bentuk usaha kecil
menengah, yang kemudian meningkatkan pembangunan lokal. Remitan dapat
mengurangi hambatan-hambatan dalam mendapatkan kredit usaha, dan seperti
yang disebutkan sebelumnya, remitan juga dapat digunakan sebagai modal bagi
penerima untuk melakukan usaha. Hal ini akan menciptakan lapangan pekerjaan
dan meningkatkan pengembangan komunitas lokal penerima remitan. Woodruff and
Zenteno (2001:24) melakukan survei data kepada 12.005 usaha kecil menengah
yang dimiliki oleh 11.823 orang di 44 daerah urban Mexico, mereka menemukan
adanya dampak besar yang positif dari remitan terhadap pengembangan usaha kecil
menengah di Mexico.


       Terakhir, selain investasi usaha, remitan juga dapat berkontribusi terhadap
terciptanya aset-aset sosial dan jasa, serta dibangunnya infrastruktur dalam
komunitas seperti sekolah, pusat pelayanan kesehatan, jalan, dan lain-lain. Disinilah
dimana perkumpulan buruh migran memainkan perannya. Biasanya perkumpulan ini
mengumpulkan uang mereka dan mengirimkan ke negara asal mereka untuk
pengembangan komunitasnya (Ghosh 2006). Menurut Sorenses dan Pedersen
(2002:18), hal ini bisa dijadikan pijakan yang dapat memberikan pembangunan yang
signifikan di dalam komunitas yang akan menguntungkan bagi keluarga buruh
migran maupun keluarga non-buruh migran.


       Penelitian Nugroho (2006:79) menyatakan bahwa dampak remitan terhadap
pengembangan desa terjadi ketika peredaran uang semakin meningkat sebagai
akibat lokasi pembelanjaan remitan di desa dan munculnya multiplier effect sebagai
dampak dari remitan. Hal ini kemudian menggairahkan perekonomiam lokal dan
secara agregat meningkatkan pendapatan masyarakat.


       Pada   tingkat   komunitas,   remitan   juga   berpengaruh   pada   distribusi
pendapatan. Ravanilla dan Robleza (2003 dalam Capistrano and Maria, 2008:8)
melakukan analisis dekomposisi untuk mengetahui kontribusi remitan terhadap
keseluruhan ketidakmerataan pendapatan di Filipina. Hasil dari riset itu menemukan
bahwa remitan cenderung meningkatkan ketidakmerataan pendapatan dan efeknya
lebih besar di area perkotaan daripada pedesaan.


3. Dampak remitan di tingkat makro
       Salah satu keuntungan yang paling signifikan dari remitan terhadap sebuah
negara adalah peningkatan pendapatan devisa negara, Dampak dari peningkatan
pendapatan devisa ini terlihat sangat sifnifikan di banyak negara, terutama negara-
negara berkembang, yang mengalami defisit keuangan, hutang luar negeri,
perdagangan yang tak seimbang dan berkelanjutan, serta terbatasnya investasi
langsung luar negeri (Pernia 2006:7). Menurut Ratha (2003:1), remitan menjadi
pendapatan yang cukup stabil dan menjadi sumber devisa bagi negara berkembang.


       Menurut beberapa studi, remitan juga dapat meningkatkan pertumbuhan
ekonomi, melalui efeknya terhadap beberapa variable makroekonomi.          Beberapa
literatur telah mengidentifikasi adanya dua saluran dimana remitan dapat
memberikan pengaruh terhadap negara penerima remitan: yaitu efek langsung
melalui tabungan dan investasi dan juga efek tidak langsung melalui konsumsi
(Cattaneo 2005:2). Cattaneo memaparkan bahwa remitan biasanya digunakan untuk
investasi pada aset-aset fisik dan juga investasi untuk pembangunan SDM melalui
pendidikan dan kesehatan yang kemudian meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Saluran kedua dimana remitan dapat mempengaruhi pertumbuhan adalah konsumsi.
Remitan dapat menstimulasi pertumbuhan ekonomi melalui konsumsi multiplier dan
mencipatakan efek tidak langsung yang tidak hanya menguntungkan bagi keluarga
penerima namun juga untuk keluarga non-buruh migran (Cattaneo 2005:4).


     Penelitian yang dilakukan Acosta dkk [2007 dalam de Haas, 2007:11), yang
melakukan analisa antar negara untuk mengeksplorasi bagaimana kontribusi remitan
terhadap kemiskinan di Amerika Latin dan Karibia, menunjukkan bahwa remitan
berefek positif dan signifikan terhadap pertumbuhan enkonomi dan menyebabkan
penurunan tingkat ketidakmerataan.          Penelitian ini menggunakan pendekatan
ekonomi yang berbeda yang memungkinkan mereka untuk memperhitungkan efek
terpisah dari remitan pada dua faktor penentu kemiskinan; pertumbuhan rata-rata
pendapatan dan tingkat ketidakmerataan penghasilan. Mereka menyimpulkan bahwa
pertumbuhan 1 persen dari rasio remitan terhadap PDB menurunkan kemiskinan di
Amerika Latin sebesar 0,4 persen.


     Hasil penelitian Jongwanich (2007:12) juga menyatakan hasil yang serupa.
Jongwannich memperhitungkan efek dari remitan terhadap kemiskinan dengan
menguraikan dampaknya kepada efek langsung dan tidak langsung. Dengan
menggunakan data dari negara-negara Asia Pasifik selama periode 1992-2003,
Jongwanich menemukan bahwa remitan secara langsung mengurangi tingkat
kemiskinan malalui peningkatan penghasilan keluarga. Dampak tidak langsung pada
penurunan kemiskinan dilihat melalui efek pada pertumbuhan dan sumber daya
manusia. Jongwanich kemudian menyimpulkan bahwa “remitan dapat berpengaruh
pada penghasilan bahkan untuk keluarga yang tidak menerima remitan sama sekali
melalui multiplier effect yang dapat mengurangi tingkat kemiskinan, bahkan pada
beberapa keluarga miskin yang tidak menerima remitan.”




         Beberapa penulis mengatakan bahwa migrasi dapat menyebabkan hilangnya
atau berkurangnya individu berkemampuan tinggi di negara asal, sebuah kondisi
yang dikenal sebagai brain drain.       Adams (2003:4) pada studinya mengenai 24
negara     pengirim   buruh   migran,     menemukan    bahwa    migrasi   internasional
mengakibatkan keluarnya orang-orang yang berpendidikan tinggi dari negara asal,
sehingga    untuk     beberapa   negara    pengirim   buruh   migran,   migrasi   dapat
menyebabkan brain drain. Terlepas dari hilangnya pekerja yang skillfull dan
berpendidikan tinggi, brain drain juga berimplikasi terhadap hilangnya pendapatan
pajak dari mereka (IOM, 2006).
          Beberapa   diskusi   lain   menyebutkan   bahwa     migrasi     dan     remitan
menyebabkan terjadinya perubahan yang cukup kuat dalam nilai tukar uang,
meningkatkan permintaan untuk kurs lokal dan mempengaruhi export dan daya
saing eksternal dari negara pengirim buruh migran. Fenomena ini dikenal sebagai
dutch disease (Meins 2007). Masuknya modal dalam bentuk remitan kemudian
menghasilkan adanya penurunan daya saing dari negara pengirim buruh migran di
pasaran ekspor dunia.


          Walaupun migrasi dan remitan membawa keuntungan bagi negara pengirim
buruh migran, namun masalah-masalah seperti brain drain, Dutch disease dan
ketergantungan negara terhadap ekspor buruh harus diatasi. Masalah-masalah yang
disebutkan diatas merupakan efek negative dari migrasi dan remitan.


Dampak Remitan terhadap Ekonomi Rumah Tangga dan Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi
          Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa migrasi dan remitan yang
dihasilkannya untuk banyak orang merupakan jalan keluar dari kemiskinan. Sebagai
contoh, Stark (1991:140) menyatakan bahwa di pedesaan Meksiko, rumah tangga
yang miskin lebih cenderung untuk melakukan imgrasi internasional dibandingkan
dengan rumah tangga dengan kondisi yang lebih baik. Sementara itu Adam
(1991:74) yang mengukur tingkat penghasilan rumah tangga di Mesir sebelum dan
sesudah migrasi internasional, menyatakan bahwa jumlah rumah tangga miskin
turun 9,8 persen jika pendapatan rumah tangga termasuk remitan internasional, dan
remitan merupakan 14,7 persen dari total pendapatan keluarga-keluarga miskin.


     Akan tetapi beberapa studi lain justru menampilkan hasil yang berbeda, bahwa
migrasi    dan   remitan   tidak   menguntungkan    banyak    orang     miskin.   Seperti
dikemukakan oleh Stahl (1982:883) “karena migrasi internasional biasanya
memerlukan biaya yang mahal, maka biasanya hanya rumah tangga yang lebih
mampu yang bisa bermigrasi dan mengirim remitan. Sementara keluarga-keluarga
miskin tidak mendapat keuntungan dari arus remitan, maka ada kecenderungan
menimbulkan      ketidakmerataan,     sehingga   akhirnya    kemiskinan     meningkat.”
Walaupun begitu, hasil penelitian Setiadi (1999:36) justru mengungkapkan bahwa
intensi yang besar dari orang untuk bekerja di luar negeri, akan membuat keluarga
buruh migran tidak punya cukup uang untuk meminjam dari orang lain. Menurut
Setiadi (1999:23), 44 persen dari 365 orang mantan buruh migran meminjam uang
untuk menutup biaya keberangkatannya. Walapun remitan dapat menurunkan
tingkat kemiskinan rumah tangga, akan tetapi menurut Chimhowu (2003:7) juga
memiliki dampak yang tidak menurunkan tingkat kemiskinan seperti dapat dilihat dari
tabel 3.Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa dampak remitan terhadap ekonomi
keluarga dipengaruhi oleh pola penggunaan remitan tersebut.


                                      Tabel 4
                  Dampak remitan terhadap tingkat kemiskinan
        Dampak menurunkan tingkat                Tidak menurunkan tingkat
                   kemiskinan                            kemiskinan
    Meningkatnya pendapatan rumah             Ketergantungan pada remitan
    tangga meningkatkan konsumsi (Azan        membuat keluarga rentan
    and Gubert, 2002; Kannan and Hari,        terhadap perubahan-perubahan
    2002)                                     dalam lingkaran migrasi.
    Meningkatnya tabungan dan akumulasi       Porsi yang lebih besar dari
    aset (liquid dan non-liquid aset)         penggunaan remitan untuk
    menyediakan jaminan untuk pinjaman        investasi non-produktif ( Ballard,
    dan dapat dicairkan ketika krisis         2001)
    ekonomi (Lucas dan Stark, 1985; Hadi,
    1999)

     Perbaikan akses ke pelayanan             Akses yang berbeda terhadap
    kesehatan dan nutrisi yang lebih baik     sumber daya-sumber daya
    (berpotensi untuk meningkatkan            tambahan tergantung jenis
    produktivitas ( Yang, 2003)               kelamin dan umur (Kothari, 2002;
                                              Dostie and Vencatachellum,
                                              2002)

    Akses ke pendidikan yang lebih baik       Adopsi kebiasaan baru yang tidak
    yang lebih lama dan menghentikan          sesuai dengan kehidupan lokal
    pekerja anak (Edward and Ureta, 2001)

    • Peningkatan modal sosial dan
    kemampuan untuk berpartisipasi dalam
    kelompok-kelompok sosial dan
    kegiatan-kegiatan, kelompok
    menabung, arisan, dll.
    • Akses lebih baik ke informasi (Adams,
    1991; Ballard, 2001)

 Diolah dari Chimhowu, 2003 (7).


       Chimhowu    (2003:8)   menyimpulkan      bahwa    di   tingkat   lokal,   remitan
merupakan bagian penting dari strategi mata pencaharian rumah tangga. Remitan
secara langsung berkontribusi dalam peningkatan pendapatan. Remitan juga
memungkinkan rumah tangga meningkatkan konsumsi barang-barang dan jasa di
tingkat lokal. Walaupun demikian, berdasarkan bukti-bukti yang ada Chimhouw,
menyarankan untuk berhati-hati dalam menyimpulkan remitan sebagai strategi lebih
luas untuk memerangi kemiskinan dengan dua alasan. Remitan hanya dapat
membuat kontribusi dalam masa tertentu. Dalam jangka panjang remitan akan
berhenti ketika migran pulang ke negara asal atau mereka telah berintegrasi ke
dalam masyarakat di negara penerima.


        Untuk bisa keluar dari kemiskinan, rumah tangga miskin harus meningkatkan
aset yang dapat mereka pergunakan secara produktif untuk memperoleh
pendapatan yang lebih tinggi (Ellis, 2003:6). Menurut Ellis, upaya untuk keluar dari
kemiskinan adalah proses yang kumulatif, seringkali dalam bentuk peningkatan yang
sangat kecil. Aset ditukar dalam urutan kecil ke besar, sebagai contoh, ayam ke
kambing, ke sapi, ke tanah; atau uang dari penghasilan non pertanian digunakan
untuk membeli alat-alat atau kebutuhan pertanian, untuk meningkatkan hasil
pertanian (Ellis, 2003:7). Disinilah pendapatan dari remitan dapat memainkan peran
penting dalam memulai dan menyokong terus menerus proses kumulatif ini. Menurut
Ellis (2003:7), pembelian aset-aset berikut dapat meningkatkan kesejahteraan:
    •   Investasi dalam bentuk tanah, atau perbaikan lahan
   •    Penggunaan uang untuk input-input pertanian (tenaga kerja, pupuk, pestisida,
        dll) yang dapat memperbaiki dan meningkatkan hasil pertanian.
   •    Pembelian alat-alat pertaninan.
   •    Investasi dalam pendidikan untuk harapan lebih baik bagi generasi
        berikutnya.
   •    Investasi dalam aset yang dapat menghasilkan income lainnya (ojek, mesin
        giling padi, warung, dll).


        Sementara itu menurut de Haas (2007:7) migrasi tenaga kerja lebih
merupakan strategi mata pencaharian yang dilakukan oleh sebuah kelompok sosial
(rumah tangga) untuk menyebar resiko mata pencaharian, mengamankan dan
meningkatkan penghasilan dan melakukan investasi, dibanding sebagai respon
terhadap kemiskinan. Dalam hal ini remitan menjadi unsur utama dalam menghadapi
kesulitan-kesulitan di tingkat lokal.

Sampai di mana rumah tangga yang terlibat dalam migrasi ini dapat meraih tujuan-
tujuannya melakukan migrasi tergantung kepada kondisi-kondisi spesifik yang
melatarbelakangi migrasi (de Haas, 2007:7). Contohnya pada penelitian yang
dilakukan di Burkina Faso        (Hampshire 2002; Wouterse 2006 dalam de Haas,
2007:7) menyatakan bahwa migrasi internal dan internasional di Afrika haruslah
dilihat sebagai alat untuk meningkatkan jaminan mata pencaharian melalui
diversifikasi pendapatan. Di negara ini migrasi ke Eropa adalah yang terutama
memungkinkan rumah tangga untuk mengumpulkan aset. Ellis (2003:4) menyatakan
bahwa bagaimanapun, migrasi memainkan berbagai peran yang kompleks dalam
mengurangi kerentanan rumah tangga, dan dalam akumulasi aset yang bisa
memberikan jalan keluar dari kemiskinan untuk keluarga-keluarga miskin.

       Lebih jauh de Haas (2007:7) membahas isu ini dengan melihat kepada
motivasi    mengirim   remitan.   Berdasarkan   riset   literatur,   de   Haas   (2007:7)
menyimpulkan ada dua motif utama mengirim remitan yaitu altruism dan kepentingan
pribadi untuk mengamankan hak waris dan untuk berinvestasi dalam bentuk rumah
dalam kaitannya dengan harapan untuk pulang kembali. Akan tetapi temuan dari
penelitian empiris seringkali bertabrakan dengan konsep altruism dan kepentingan
pribadi (Agunias 2006:21 dalam de Haas, 2007:8).

       Lucas and Stark (1985:904) menyatakan bahwa motif altruism dan
kepentingan pribadi seringkali sulit untuk dipisahkan, sehingga pada akhirnya orang
tidak bisa membuktikan apakah motifnya murni rasa kasihan atau lebih egois dalam
artian untuk meningkatkan prestise dengan bersikap memberi perhatian. Karena itu,
mereka menyatakan bahwa daripada memisahkan dua motif ini, model yang
sebaiknya dipakai adalah dengan menggabungkan dua motif ini, yaitu model
“tempered altruism or enlightened self-interest” di mana remitan adalah satu elemen
dalam perjanjian antara migran dan keluarga di daerah asal. (Lucas and Stark
1985:905). Dalam model ini, remitan dapat dilihat sebagai keuntungan dari investasi
yang dilakukan keluarga dalam proses migrasi, sebagai bagian dari strategi
diversifikasi dan sebagai sumber modal investasi yang dapat digunakan untuk
kegiatan wiraswasta, pendidikan atau untuk membiayai migrasi anggota keluarga
lainnya (de Haas, 2007:8). Pandangan ini didukung oleh penelitian empiris di tingkat
mikro yang mengindikasikan bahwa penggabungan motif keluarga dan individu
menjelaskan kecenderungan dan jumlah remitan (Rappoport and Docquier,
2005:10).


       Penjelasan di atas sejalan dengan hipotesis new economic of labor migration
bahwa remitan berfungsi sebagai jaminan pendapatan dan melindungi orang dari
income shock yang disebabkan oleh kegagalan ekonomi, konflik politik atau bencana
alam. (de Haas, 2007:8) Selain melindungi dari income shock, beberapa penelitian
empiris membuktikan sumbangan positif dari remitan internasional terhadap
kesejahteraan rumah tangga, nutrisi, makanan, kesehatan dan kondisi kehidupan di
daerah asal (Rappoport and Docquier (2005:40-47)


       Berdasarkan tulisan di atas, dapat disimpulkan bahwa dampak remitan
terhadap ekonomi rumah tangga dipengaruhi oleh pola penggunaan remitan.
Perbandingan yang dibuat oleh Chimhowu (2003) mengenai dampak remitan
terhadap tingkat kemiskinan, memperlihatkan bahwa penggunaan remitan untuk
kegiatan atau pengeluaran tertentu berkaitan dengan dampaknya terhadap ekonomi
rumah tangga. Hal ini juga diperkuat oleh pendapat Ellis (2003) bahwa pembelian
aset-aset tertentu dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga.


       Pola penggunaan remitan ini terkait erat dengan motif melakukan migrasi dan
mengirim remitan, sebagaimana telah dibahas oleh de Haas (2007), dimana motif
melakukan migrasi sebenarnya adalah merupakan strategi mata pencaharian yang
dilakukan oleh sebuah kelompok sosial (rumah tangga) untuk menyebar resiko mata
pencaharian, mengamankan dan meningkatkan penghasilan dan melakukan
investasi. Sementara itu, menurut de Haas (2007), remitan dilihat sebagai
keuntungan dari investasi yang dapat digunakan sebagai sumber modal investasi
atau untuk kegiatan wiraswasta, pendidikan atau untuk membiayai migrasi anggota
keluarga lainnya.




                                   Bibliografi


Stark, Oded. 1991, The Migration of Labor. Cambridge, Massachusetts: Blackwell
     Publishers.

Adams, Jr., Richard, 1991, “The economic uses and impact of international
    remittances in rural Egypt”, Economic Development and Cultural Change, 39:
    695-722

Adams, Richard H. Jr., 2003, “International Migration, Remittances and the Brain
    Drain: A Study of 24 Labor-Exporting Countries.” World Bank Policy Research
    Working Paper 3069, Washington, D.C.

Bridi, H. 2005, “Consequences of Labour Migration for the Developing Countries
      Management of Remittances.” World Bank Brussels Office

Cattaneo C. 2005 “International Migration and Poverty; Cross-Country Analysis.”

Chami, Ralph, Connel Fullenkamp, dan Samir Jahjah 2005, Are Immigrant
    Remittance Flows a Source of Capital for Development?, IMF Staff Papers, Vol.
    52, no. 1, International Monetery Fund
Chimhowu, Admos, 2003, Assessing The Impact Of Migrant Workers’ Remittances
    On Poverty, presented at the EDIAS Conference on New Directions In Impact
    Assessment For Development: Methods And Practice, 24 – 25 November

Connel, John dan Richard Brown, Remittances in Pacific:an Overview, ADB, 2005

de Haas, Hein, 2006, Migration, Remittances and Regional Development in Southern
     Morocco. Geoforum 37(4), 565-580.

de Haas, Hein, 2007, Remittances, migration and social development. Geneva:
    United Nations Research Department for Social Development (UNRISD)

Ellis, F., 2003, A Livelihoods Approach to Migration and Poverty Reduction, paper
       commissioned by DFID London, November

Ghosh, B. 2006, “Migrants’ Remittances and Development: Myths, Rhetoric and
    Realities.” International Organization for Migration (IOM).


Hildebrandt, Nicole & McKenzie, David, 2005, "The effects of migration on child
     health in Mexico," Policy Research Working, The World Bank.Paper Series
     3573, The World Bank.


International Organization for Migration (IOM) 2006, International Migration and
      Development.

Jongwanich, Juthathip. 2007. "Workers' Remittances, Economic Growth and Poverty
    in Developing Asia and the Pacific Countries." UN ESCAP Working Paper
    WP/07/01, Economic and Social Commission for Asia and the Pacific, United
    Nations, Bangkok.


López Córdova, E. 2005, “Globalization, Migration and Development: The Role of
    Mexican Migrant Remittances” Economia, Journal of the Latin American and
    Caribbean Economic Association.

Meins, R. 2007, “Remittances: An Introduction”.        Foundation for International
     Migration & Development (FIMD).

Newland, Kathleen. 2007, “A New Surge of Interest in Migration and Development” .
    Migration Policy Institute.

Orozco, Amaia Pérez, Denise Paiewonsky 2007, Working Paper 4: Remittances:
     UN-INSTRAW

Pernia, E. “Diaspora, Remittances and Poverty in RP’s Regions.” UPSE Discussion
     Paper. 2006

Poirine, Bernard, A Theory of Remittances as an Implicit Family Loan Arrangement”
      Universite’ FranGuise du Pacifque, Tahiti World Development, Vol. 25, No. 4,
      pp. 583-611, 1997

Puri, Shivani; Ritzema, Tineke 1999: Migrant Worker Remittances, Micro-finance and
     the Informal Economy: Prospects and Issues. Working Paper 21, International
     Labour Organization.


Rappaport, Hillel, and Frederic Docquier. 2005, “The Economics of Migrant
    Remittances.” IZA Discussion Paper 1531. Bonn: Institute for the Study of
    Labor, March

Ratha, D. “Workers’ Remittances: An Important and Stable Source of External
     Development Finance.” In Global Development Finance 2003. World Bank.
     Washington, D.C. 2003


Rodriguez, E. “Does International Migration Benefit Non-Migrant Households?
     Evidence from the Philippines.” 2003 www.brocku.ca/epi/casid/rodriguez.htm

Russell, Sharon S., Karen Jacobsen dan Willian D. Stanley, 1990, International
    migration and development in Sub-Saharan Africa , World Bank discussion
    papers; Africa Technical Department

Setiadi 1999. “Konteks Sosiokultural Migrasi Internasional: Kasus di Lewolotok,
Flores Timur”. Buletin Penelitian Kebijakan Kependudukan “Populasi” , vol. 10, nos.
      2. Pp. 17-38

Solimano, Andrés, 2003, Remittances by Emigrants Issues and Evidence * UNU-
     WIDER Discussion Paper No. 2003/89 December

Sorensen, Ninna Nyberg, 2004, The Development Dimension          of Migrant
     Remittances, Migration Policy Research IOM Working Papers Series No.1 –
     June

Sorensen, N. and P. Pedersen 2002, “The Migration and Development Nexus:
     Evidence and Policy Options.” Policy Study, Center for Development research
     (CDR), Copenhagen.

Stahl, C.W 1982, “Labor Emigration and Economic Development”, International
Migration Review, Vol. 16, No. 4: 869-899

Stark, Oded and David Bloom 1985, “The New Economics of Labor Migration.” The
     American Economic Review, Vol. 75 (2): 173-178. May.

Wijkstrom, Addy, D.N. danThouez, 2003, C. “Migrant Remittances-Country of Origin
     Experiences: Developmental Impact and Future Prospect.” International
     Confrence on Migrant Remittance: London, 9~10 October

Woodruff, C. and R. Zenteno, 2004, "Remittances and Microenterprises in Mexico.”
    University of California, San Diego, California.


Nugroho, Wahyu, Analisa Dampak Remitan Tenaga Kerja Wanita Terhadap
     Pengembangan Desa(Studi Kasus di Desa Budiharja, Kkecamatan Cililin,
     Kabupaten Bandung, Tesis, ITB, Bandung 2006

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1156
posted:6/21/2010
language:Indonesian
pages:18