Docstoc

Minat Baca

Document Sample
Minat Baca Powered By Docstoc
					Pengertian                                    Minat                                       Membaca



Tampubolon (1993) menjelaskan bahwa minat membaca adalah kemauan dan keinginan

seseorang untuk mengenali huruf dan dapat menangkap makna dari tulisan tersebut.



Lilawati (Sandjaja, 2005) mengartikan minat membaca adalah suatu perhatian yang kuat dan

mendalam disertai dengan perasaan senang terhadap kegiatan membaca sehingga dapat

mengarahkan seseorang untuk membaca dengan kemauannya sendiri. Sinambela (Sandjaja,

2005) mengartikan minat membaca sebagai sikap positif dan adanya rasa keterikatan dalam

diri    terhadap     aktivitas   membaca       dan      tertarik    terhadap      buku     bacaan.

(www.unika.ac.id.02/05/05)



Minat membaca merupakan kemamapuan seseorang berkomunikasi dengan diri sendiri untuk

menangkap makna yang terkandung dalam tulisan sehingga memberikan pengalaman emosi

yang didapat akibat dari bentuk perhatian yang mendalam terhadap makna bacaan. (Crow &

Crow,                                     1984;Tarigan,                                     1985).



Minat membaca adalah sumber motivasi kuat bagi seseorang untuk menganalisa dan

mengingat serta mengevaluasi bacaan yang telah dibacanya, yang merupakan pengalaman

belajar menggembirakan dan akan mempengaruhi bentuk serta intensitas seseorang dalam

menentukan cita-citanya kelak dimasa yang akan datang, hal tersebut juga adalah bagian dari

proses pengembangan diri yang harus senantiasa diasah sebab minat membaca tidak

diperoleh     dari      lahir.   (Petty       &       Jensen,      1980;       Hurlock,     1993).



Minat membaca juga dapat dijelaskan sebagai sebuah motivasi intrinsik untuk menyalurkan
ide dan gagasan atau tranmisi pemikiran yang berpengaruh positif untuk menambah proses

pengayaan pribadi, mengembangkan intelektualitas, membantu mengerti permasalahan orang

lain dan mengembangkan konsep diri sebagai sebuah proses pembelajaran yang daapt diingan

dalam      jangka      waktu   yang   lama.     (Petty   &   Jensen,   1980;   Ormrod,   2003)



Ginting (2005) mendefinisikan minat membaca adalah bentuk-bentuk prilaku yang terarah

guna melakukan kegiatan membaca sebagai tingkat kesenangan yang kuat dalam melakukan

kegiatan        membaca         karena        menyenangkan      dan      memberikan      nilai.

(www1.bpkpenabur.or.id/jurnal/04/017-035.pdf).



Minat membaca merupakan karakteristik tetap dari proses pembelajaran sepenjang hayat

(life-long learning) yang berkontribusi pada perkembangan, seperti memacahkan persoalan,

memahami karakter orang lain, menimbulkan rasa aman, hubungan interpersonal yang baik

serta penghargaan yang bertambah terhadap aktivitas keseharian. (Cole, 1963; Elliot dkk,

2000;      Sugiarto,    www.depdiknas.go.id/Jurnal/37/perbedaan_hasil_belajar_membaca.htm)



Dari berbagai definisi minat membaca di atas dapat disimpulkan, bahwa minat membaca

merupakan aktivitas yang dilakukan dengan penuh ketekunan dan cendrung menetap dalam

rangka membangun pola komunikasi dengan diri sendiri agar pembaca dapat menemukan

makna tulisan dan memperoleh informasi sebagai proses transmisi pemikiran untuk

mengembangkan intelektualitas dan pembelajaran sepenjang hayat (life-long learning) serta

dilakukan dengan penuh kesadaran dan mendatangkan perasaan senang, suka dan gembira




Pengertian, Peran, dan Fungsi Perpustakaan
Pada zaman global sekarang, pendidikan merupakan sesuatu yang penting. Karena

pendidikan merupakan akar dari peradaban sebuah bangsa. Pendidikan sekarang telah

menjadi kebutuhan pokok yang harus dimiliki setiap orang agar bisa menjawab tantangan

kehidupan.Untuk memperoleh pendidikan, banyak cara yang dapat kita capai. Diantaranya

melalui perpustakaan. Karena di perpustakaan berbagai sumber informasi bisa kita peroleh,

selain itu banyak juga manfaat lain yang dapat kita peroleh melalui perpustakaan. Ketika kita

mendengar kata perpustakaan, dalam benak kita langsung terbayang sederetan buku-buku

yang tersusun rapi di dalam rak sebuah ruangan. Pendapat ini kelihatannya benar, tetapi kalau

kita mau memperhatikan lebih lanjut, hal itu belumlah lengkap. Karena setumpuk buku yang

diatur di rak sebuah toko buku tidak dapat disebut sebagai sebuah perpustakaan.


Memang pengertian perpustakaan terkadang rancu dengan dengan istilah – istilah pustaka,

pustakawan, kepustakawanan, dan ilmu perpustakaan. Secara harfiah, perpustakaan sendiri

masih dipahami sebagai sebuah bangunan fisik tempat menyimpan buku – buku atau bahan

pustaka. Untuk itu, pada pembahasan kali ini akan dikupas secara mendalam tentang

pengantar umum perpustakaan yang meliputi : pengertian perpustakaan, maksud dan tujuan

pendirian perpustakaan, jenis – jenis perpustakaan, peranan, tugas, dan funsi perpustakaan,

aktifitas pokok perpustakaan, dan perpustakaan sebagai disiplin ilmu.


Pengertian                                                                        Perpustakaan

Perpustakaan diartikan sebuah ruangan atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku

dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu yang digunakan

pembaca bukan untuk dijual ( Sulistyo, Basuki ; 1991 ).
Ada dua unsur utama dalam perpustakaan, yaitu buku dan ruangan. Namun, di zaman

sekarang, koleksi sebuah perpustakaan tidak hanya terbatas berupa buku-buku, tetapi bisa

berupa film, slide, atau lainnya, yang dapat diterima di perpustakaan sebagai sumber

informasi. Kemudian semua sumber informasi itu diorganisir, disusun teratur, sehingga

ketika kita membutuhkan suatu informasi, kita dengan mudah dapat menemukannya.


Dengan memperhatikan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa perpustakaan adalah

suatu unit kerja yang berupa tempat menyimpan koleksi bahan pustaka yang diatur secara

sistematis dan dapat digunakan oleh pemakainya sebagai sumber informasi. ( Sugiyanto )


Menurut RUU Perpustakaan pada Bab I pasal 1 menyatakan Perpustakaan adalah institusi

yang mengumpulkan pengetahuan tercetak dan terekam, mengelolanya dengan cara khusus

guna memenuhi kebutuhan intelektualitas para penggunanya melalui beragam cara interaksi

pengetahuan.


Perpustakaan adalah fasilitas atau tempat menyediakan sarana bahan bacaan. Tujuan dari

perpustakaan sendiri, khususnya perpustakaan perguruan tinggi adalah memberikan layanan

informasi untuk kegiatan belajar, penelitian, dan pengabdian masyarakat dalam rangka

melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi (Wiranto dkk,1997).


Secara umum dapat kami simpulkan bahwa pengertian perustakaan adalah suatu institusi unit

kerja yang menyimpan koleksi bahan pustaka secara sistematis dan mengelolanya dengan

cara khusus sebagai sumber informasi dan dapat digunakan oleh pemakainya.


Namun, saat ini pengertian tradisional dan paradigma lama mulai tergeser seiring

perkembangan berbagai jenis perpustakaan, variasi koleksi dalam berbagai format

memungkinkan perpustakaan secara fisik tidak lagi berupa gedung penyimpanan koleksi

buku.
Banyak kalangan terfokus untuk memandang perpustakaan sebagai sistem, tidak lagi

menggunakan pendekatan fisik. Sebagai sebuah sistem perpustakaan terdiri dari beberapa

unit kerja atau bagian yang terintergrasikan melalui sistem yang dipakai untuk pengolahan,

penyusunan dan pelayanan koleksi yang mendukung berjalannya fungsi – fungsi

perpustakaan.


Perkembangannya menempatkan perpustakaan menjadi sumber informasi ilmu pengetahuan,

teknologi dan budaya. Dari istilah pustaka, berkembang istilah pustakawan, kepustakaan,

ilmu perpustakaan, dan kepustakawanan yang akan dijelaskan sebagai berikut :


1. Pustakawan : Orang yang bekerja pada lembaga – lembaga perpustakaan atau yang sejenis

dan memiliki pendidikan perpustakaan secara formal.


2. Kepustakaan : Bahan – bahan yang menjadi acuan atau bacaaan dalam menghasilkan atau

menyusun tulisan baik berupa artikel, karangan, buku, laporan, dan sejenisnya.


3. Ilmu Perpustakaan : Bidang ilmu yang mempelajari dan mengkaji hal – hal yang berkaitan

dengan perpustakaan baik dari segi organisasi koleksi, penyebaran dan pelestarian ilmu

pengetahuan teknologi dan budaya serta jasa- jasa lainnya kepada masyarakat, hal lain yang

berkenaan dengan jasa perpustakaan dan peranan secara lebih luas.


4. Kepustakawanan : Hal – hal yang berkaitan dengan upaya penerapan ilmu perpustakaan

dan profesi kepustakawanan.


B. Maksud dan Tujuan Pendirian Perpustakaan


Aktifitas utama dari perpustakaan adalah menghimpun informasi dalam berbagai bentuk atau

format untuk pelestarian bahan pustaka dan sumber informasi sumber ilmu pengetahuan

lainnya. Maksud pendirian perpustakaan adalah :
Menyediakan sarana atau tempat untuk menghimpun berbagai sumber informasi untuk

dikoleksi        secara           terus      menerus,              diolah       dan       diproses.

Sebagai sarana atau wahana untuk melestarikan hasil budaya manusia ( ilmu pengetahuan,

teknologi dan budaya ) melalui aktifitas pemeliharaan dan pengawetan koleksi.

Sebagai agen perubahan ( Agent of changes ) dan agen kebudayaan serta pusat informasi dan

sumber belajar mengenai masa lalu, sekarang, dan masa akan datang. Selain itu, juga dapat

menjadi      pusat         penelitian,    rekreasi      dan         aktifitas    ilmiah   lainnya.

Tujuan pendirian perpustakaan untuk menciptakan masyarakat terpelajar dan terdidik,

terbiasa membaca, berbudaya tinggi serta mendorong terciptanya pendidikan sepanjang hayat

( Long life education ).


C. Jenis – Jenis Perpustakaan


Jenis – jenis perpustakaan yang ada dan berkembang di Indonesia menurut penyelenggaraan

dan tujuannya dibedakan menjadi :


Perpustakaan Digital adalah Perpustakaan yang berbasis teknologi digital atau mendapat

bantuan komputer dalam seluruh aktifitas di perpustakaannya secara menyeluruh. Contohnya

: Buku atau informasi dalam format electiric book, piringan, pita magnetik, CD atau DVD

rom.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, selanjutnya disebut Perpustakaan Nasional,

adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) yang melaksanakan tugas

pemerintahan di bidang perpustakaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang

berlaku,          yang              berkedudukan              di            Ibukota        Negara.

Perpustakaan Provinsi adalah Lembaga Teknis Daerah Bidang Perpustakaan yang

diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Provinsi yang mempunyai tugas pokok

melaksanakan pengembangan perpustakaan di wilayah provinsi serta melaksanakan layanan
perpustakaan                                  kepada                                   masyarakat.

Perpustakaan Kabupaten/Kota adalah Lembaga Teknis Daerah Bidang Perpustakaan yang

diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, yang mempunyai tugas pokok

melaksanakan pengembangan perpustakaan di wilayah Kabupaten/Kota serta melaksanakan

layanan           perpustakaan                kepada                masyarakat             umum.

Perpustakaan Umum : Perpustakaan yang ada di bawah lembaga yang mengawasinya.

Perpustakaan                 umum                      terbagi               atas                   :

Perpustakaan Umum Kecamatan, adalah Perpustakaan yang berada di Kecamatan sebagai

cabang layanan Perpustakaan Kabupaten/Kota yang layanannya diperuntukkan bagi

masyarakat                       di                    wilayah                      masing-masing.

Perpustakaan Umum Desa/Kelurahan adalah perpustakaan yang berada di Desa/Kelurahan

sebagai cabang layanan Perpustakaan Kabupaten/Kota yang layanannya diperuntukkan bagi

masyarakat                  di                  desa/kelurahan                      masing-masing.

Perpustakaan Khusus : Perpustakaan yang diperuntukkan untuk koleksi- koleksi tokoh

terkenal.        Contohnya               :           Perpustakaan           Bung               Hatta.

Perpustakaan lembaga Pendidikan : Perpustakaan yang berada di lingkungan lembaga

pendidikan (SD, SMP, SMA, PT, dan LSM). Contohnya : perpustakaan Universitas. Pada

perpustakaan tingkat PT, perpustakaan dapat dibagi kembali menjadi dua, yaitu :

perpustakaan        pusat             dan        perpustakaan            tingkat          fakultas.

Perpustakaan Lembaga Keagamaan : Perpustakaan yang berada di lingkungan lembaga

keagamaan.     Contohnya         :    Perpustakaan     Masjid,      perpustakaan     Gereja,      dll

Perpustakaan Pribadi : Perpustakaan yang diperuntukkan untuk koleksi sendiri dan

dipergunakan dalam ruang lingkup yang kecil. Contohnya : Perpustakaan keluarga.

D. Peranan, Tugas, dan Fungsi Perpustakaan


Peranan Perpustakaan
Setiap perpustakaan dapat mempertahankan eksistensinya apabila dapat menjalankan

peranannya. Secara umum peran – peran yang dapat dilakukan adalah :


Menjadi media antara pemakai dengan koleksi sebagai sumber informasi pengetahuan.

Menjadi lembaga pengembangan minat dan budaya membaca serta pembangkit kesadaran

pentingnya                         belajar                    sepanjang                    hayat.

Mengembangkan komunikasi antara pemakai dan atau dengan penyelenggara sehingga

tercipta   kolaborasi,     sharing       pengetahuan     maupun   komunikasi    ilmiah   lainnya.

Motivator, mediator dan fasilitator bagi pemakai dalam usaha mencari, memanfaatkan dan

mengembangkan                   ilmu            pengetahuan              dan         pengalaman.

Berperan      sebagai      agen      perubah,    pembangunan      dan      kebudayaan    manusia.

Tugas Perpustakaan


Setiap perpustakaan memiliki kewajiban yang sudah ditentukan dan direncanakan untuk

dilaksanakan. Tugas setiap jenis perpustakaan berbeda – beda sesuai dengan kewajiban yang

ditetapkan.


Fungsi Perpustakaan


Pada umumnya perpustakaan memiliki fungsi yaitu :


Fungsi penyimpanan, bertugas menyimpan koleksi (informasi) karena tidak mungkin semua

koleksi                 dapat                dijangkau            oleh              perpustakaan.

Fungsi informasi, perpustakaan berfungsi menyediakan berbagai informasi untuk masyarakat.

Fungsi pendidikan, perpustakaan menjadi tempat dan menyediakan sarana untuk belajar baik

dilingkungan                    formal              maupun                non             formal.

Fungsi rekreasi, masyarakat dapat menikmati rekreasi kultural dengan membaca dan

mengakses berbagai sumber informasi hiburan seperti : Novel, cerita rakyat, puisi, dan
sebagainya.

Fungsi kultural, Perpustakaan berfungsi untuk mendidik dan mengembangkan apresiasi

budaya masyarakat melalui berbagai aktifitas, seperti : pameran, pertunjukkan, bedah buku,

mendongeng,                    seminar,                  dan                  sebagainya.

Hal-hal yang Menghambat Fungsi Perpustakaan Sekolah


Perjalanan perpustakaan sekolah tidaklah semulus yang diharapkan. Ada beberapa hal yang

sering menghambat fungsi perpustakaan sekolah. Pertama, terbatasnya ruang perpustakaan di

samping letaknya yang kurang strategis. Banyak perpustakaan yang hanya menempati ruang

sempit, dengan tanpa memperhatikan kesehatan dan kenyamanan. Kesadaran dari pihak

sekolah sebagai penyelenggara sangatlah kurang. Perpustakaan hanyalah untuk menyimpan

koleksi bahan pustaka saja. Pengunjung tidak merasa nyaman membaca buku di

perpustakaan, sehingga perpustakaan dipandang sebagai tempat yang kurang bermanfaat.

Dengan melihat keadaan di atas sepertinya pihak sekolah kurang menyadari tentang

pentingnya perpustakaan. Keberadaan perpustakaan hanyalah untuk pelengkap saja.


Kedua, keterbatasan bahan pustaka, baik dalam hal jumlah, variasi maupun kualitasnya.

Keberadaan bahan-bahan pustaka yang bermutu dan bervariasi sangatlah penting. Dengan

banyaknya variasi bahan pustaka, anak akan semakin senang berada di perpustakaan,

kegemaran membaca dapat tumbuh dengan subur sehingga kemampuan bahasa siswa dapat

berkembang baik dan dapat membantu anak dalam memahami pelajaran-pelajaran lainnya.

Mengingat kemampuan bahasa merupakan kemampuan dasar yang sangat berpengaruh dalam

belajar. Begitu juga jika bahan pustakanya bermutu, maka anak akan banyak memperoleh

pengetahuan yang berguna dalam hidupnya. Namun, untuk mengadakan bahan pustaka yang

banyak dan bervariasi dibutuhkan dana yang sangat besar, mengingat harga bahan pustaka

biasanya mahal, lebih-lebih jika bahan pustaka tersebut bermutu. Namun, dari pihak sekolah
sendiri sering kurang berusaha untuk menambah koleksi bahan pustaka, dengan alasan utama

adalah mahalnya harga bahan pustaka. Padahal, anggaran untuk belanja bahan pustaka setiap

tahunnya selalu ada, namun jumlah bahan pustaka tidak pernah bertambah.


Ketiga, terbatasnya jumlah petugas perpustakaan (pustakawan). Banyak perpustakaan sekolah

yang tidak ada petugasnya, atau hanya tugas sambilan. Maksudnya, mereka bukan petugas

yang hanya mengurus perpustakaan saja, sehingga sering tugas di perpustakaan jadi

dikesampingkan dan perpustakaan dianggap kurang bermanfaat. Lebih-lebih bertugas di

perpustakaan adalah pekerjaan yang sangat menjenuhkan, baik dalam hal pelayanan

pengunjung maupun perawatan bahan pustaka yang ada, sehingga dibutuhkan suatu

kesabaran yang tinggi.


Keempat, kurangnya promosi penggunaan perpustakaan menyebabkan tidak banyak siswa

yang mau memanfaatkan jasa layanan perpustakaan. Anak kurang tahu tentang kegunaan

perpustakaan, begitu juga dengan bahan pustakanya. Dia membutuhkan dorongan dan ajakan

untuk berkunjung ke perpustakaan.


Aktivitas Pokok Perpustakaan


Untuk mencapai visi, misi, dan tujuannya perpustakaan menjalankan aktifitas – aktifitas

pokok meliputi : pengembangan, pengolahan, dan pelayanan koleksi.


Perkembangan Disiplin Ilmu Perpustakaan


Cara melihat sesuatu sebagai disiplin ilmu (Scwab,. 1990;7)


Subyek                                                                             kajian

aplikasi                                   dan                                  kapasitas

metode
hasil                                                                                  akhir

Ilmu perpustakaan dan informasi menurut Syhabuddin Qolyabu (2003; 63) diartikan sebagai

ilmu yang mempelajari dan mengkaji rekaman informasi, struktur, dinamika dan transferan

informasi, cara memperoleh, mencatat, menyimpan dan menemukankembali untuk

didayagunakan dan didistribusikan.


Ilmu perpustakaan dapat dikatakan sebagai disiplin dapat dilihat dari tiga dimensi, yaitu

produk, proses dan masyarakat (Daoed Joesoef 1987). Disiplin ilmu menurut Thomson

sebagai body of knowledge, sekelompok konsep yang diajarkan bersama.


Perpustakaan dipandang sebagai ilmu dari tiga aspek yaitu :


1. Ontologis, ilmu perpustakaan dapat dikaji dari definisi dan obyek yang menjadi kajiannya.


2. Epistemologis, bahwa ilmu perpustakaan memiliki kerangka pemikiran logis dan konsisten

dengan argumen yang tersusun sebelumnya, menjabarkan hipotesisi sebagai deduksi

kerangka pemikirannya, dan melakukan falsifikasi dan verifikasi atas hipotesisi dan

mengujinya secara faktual.


3. Aksiologis, bahwa terbukti ilmu perpustakaan telah membawa kemaslahatan bagi umat

manusia.


Dengan demikian ilmu perpustakaan dapat berdiri sebagai disiplin ilmu tersendiri. Saat ini

perkembangannya terpengaruhi oleh banyak bidang ilmu namun syarat-syarat diatas bisa

terpenuhi
Pengertian                                                                          Minat



Hurlock (1993) menjelaskan bahwa minat adalah sumber motivasi yang mendorong

seseorang untuk melakukan apa yang ingin dilakukan ketika bebas memilih. Ketika seseorang

menilai bahwa sesuatu akan bermanfaat, maka akan menjadi berminat, kemudian hal tersebut

akan mendatangkan kepuasan. Ketika kepuasan menurun maka minatnya juga akan menurun.

Sehingga minat tidak bersifat permanen, tetapi minat bersifat sementara atau dapat berubah-

ubah.



Crow & Crow (1984) menjabarkan bahwa minat dapat menunjukkan kemampuan untuk

memperhatikan seseorang, Sesuatu barang atau kegiatan atau sesuatu yang dapat memberi

pengaruh terhadap pengalaman yang telah distimuli oleh kegiatan itu sendiri. Minat dapat

menjadi sebab sesuatu kegiatan dan hasil dari turut sertanya dalam kegiatan tersebut. Lebih

lanjut, Crow and Crow menyebutkan bahwa minat mempunyai hubungan yang erat dengan

dorongan-dorongan,         motif-motif         dan        respon-respon         emosional.



Minat, menurut Chauhan (1978) pada orang dewasa menentukan aturan penting dalam

perkembangan pribadi dan prilaku mereka. Minat adalah hal penting untuk mengerti individu

dan          menuntun       aktivitas       dimasa         yang        akan        datang.



Tampubolon (1993) mengemukakan bahwa minat adalah perpaduan antara keinginan dan

kemauan          yang       dapat        berkembang         jika       ada        motivasi.




Hal senada juga dikemukakan oleh Sandjaja (2005) bahwa suatu aktivitas akan dilakukan
atau tidak sangat tergantung sekali oleh minat seseorang terhadap aktivitas tersebut, disini

nampak bahwa minat merupakan motivator yang kuat untuk melakukan suatu aktivitas.

Meichati (Sandjaja, 2005) mengartikan minat adalah perhatian yang kuat, intensif dan

menguasai    individu   secara   mendalam    untuk   tekun   melakukan     suatu   aktivitas.

(www.unika.ac.id.02/05/05)



Aiken (Ginting, 2005) mengungkapkan definisi minat sebagai kesukaan terhadap kegiatan

melebihi kegiatan lainnya. Ini berarti minat berhubungan dengan nilai-nilai yang membuat

seseorang mempunyai pilihan dalam hidupnya, hal tersebut diungkapkan oleh Anastasia dan

Urbina (Ginting, 2005). Selanjutnya Ginting (2005) menjelaskan, minat berfungsi sebagai

daya penggerak yang mengarahkan seseorang melakukan kegiatan tertentu yang spesifik,

lebih jauh lagi minat mempunyai karakteristik pokok yaitu melakukan kegiatan yang dipilih

sendiri dan menyenangkan sehingga dapat membentuk suatu kebiasaan dalam diri seseorang.

(www1.bpkpenabur.or.id/jurnal/04/017-035.pdf)



Ditegaskan oleh Elliott dkk (2000) bahwa minat adalah sebuah karakteristik tetap yang

diekspresikan oleh hubungan antara seseorang dan aktivitas atau objek khusus



Sutjipto (2001) menjelaskan bahwa minat adalah kesadaran seseorang terhadap suatu objek,

orang, masalah, atau situasi yang mempunyai kaitan dengan dirinya. Artinya, minat harus

dipandang sebagai sesuatu yang sadar. Karenanya minat merupakan aspek psikologis

seseorang untuk menaruh perhatian yang tinggi terhadap kegiatan tertentu dan mendorong

yang            bersangkutan            untuk             melaksanakan             kegiatan

tersebut. (www.depdiknas.go.id/Jurnal/45/sutjipto.htm)
Nunnally (Sutjipto, 2001) menjabarkan minat sebagai suatu ungkapan kecenderungan tentang

kegiatan yang sering dilakukan setiap hari, sehingga kegiatan itu disukainya; sedangkan

Guilford (Sutjipto, 2001) menyatakan minat sebagai tendensi seseorang untuk berperilaku

berdasarkan ketertarikannya pada jenis-jenis kegiatan tertentu. Sementara itu Sax (Sutjipto,

2001) mendefinisikan bahwa minat sebagai kecenderungan seseorang terhadap kegiatan

tertentu di atas kegiatan yang lainnya. Sedangkan Crites (Sutjipto, 2001) mengemukakan

bahwa minat seseorang terhadap sesuatu akan lebih terlihat apabila yang bersangkutan

mempunyai                rasa              senang               terhadap               objek

tersebut. (www.depdiknas.go.id/Jurnal/45/sutjipto.htm)



Hurlock (1993) mengemukakan bahwa minat merupakan hasil dari pengalaman belajar,

bukan hasil bawaan sejak lahir. Hurlock (1993) juga menekankan pentingnya minat, bahwa

minat menjadi sumber motivasi kuat bagi seseorang untuk belajar, minat juga mempengaruhi

bentuk dan intensitas aspirasi seseorang dan minat juga menambah kegembiraan pada setiap

kegiatan                    yang                     ditekuni                     seseorang.



Hurlock (1978) juga menjelaskan bahwa secara keseluruhan, pada masa anak-anak, minat

memberikan sebuah kekuatan untuk belajar. Anak-anak yang berminat dalam sebuah

aktivitas, berada dimanapun, akan memberikan usaha empat kali lipat untuk belajar

dibandingkan anak-anak yang minatnya sedikit atau mudah merasa bosan. Jika pengalaman

belajar menimbulkan kesan pada anak-anak, maka akan menjadi minat. Hal tersebut adalah

sesuatu yang dapat diasah dengan proses pembelajaran. Di masa yang akan datang, minat

sangat     berpengaruh   pada   bentuk    dan   intensitas   dari   cita-cita   pada   anak.



Hidi & Derson (Ormrod, 2003) berpendapat minat adalah bentuk dari motivasi intrinsik.
Pengaruh positif minat akan membuat seseorang mereka tertarik untuk bereksperimen seperti

merasakan kesenangan, kegembiraan, dan kesukaan. Garner (Ormrod, 2003) menjelaskan

bahwa seseorang yang memiliki minat terhadap apa yang dipelajari lebih dapat mengingatnya

dalam jangka panjang dan menggunakannya kembali sebagai sebuah dasar untuk

pembelajaran                 dimasa                yang               akan                 datang.



Pintrich dan Schunk (1996) juga menyebutkan bahwa minat merupakan sebuah aspek penting

dari     motivasi   yang    mempengaruhi      perhatian,   belajar,   berpikir   dan     prestasi.



Krapp, Hidi, dan Renninger (Pintrich dan Schunk, 1996) membagi definisi minat secara

umum menjadi tiga, yaitu: minat pribadi, minat situasi dan minat dalam ciri psikologi.

a)     Minat pribadi, diartikan sebagai karakteristik kepribadian seseorang yang relatif stabil,

yang cendrung menetap pada diri seseorang. Minat pribadi biasanya dapat langsung

membawa seseorang pada beberapa aktifitas atau topik yang spesifik. Minat pribadi dapat

dilihat ketika seseorang menjadikan sebuah aktivitas atau topik sebagai pilihan untuk hal

yang pasti, secara umum menyukai topik atau aktivitas tersebut, menimbulkan kesenangan

pribadi serta topik atau aktivitas yang dijalani memiliki arti penting bagi seseorang tersebut.

b)      Minat situasi merupakan minat yang sebagian besar dibangkitkan oleh konsisi

lingkungan.

c)     Minat dalam ciri psikologi merupakan interaksi dari minat pribadi seseorang dengan ciri-

ciri minat lingkungan. Renninger menjelaskan bahwa minat pada definisi ini tidak hanya

pada karena seseorang lebih menyukai sebuah aktivitas atau topik, tetapi karena aktivitas atau

topik tersebut memiliki nilai yang tinggi dan mengetahui lebih banyak mengenai topik atau

aktivitas                                                                              tersebut.
Dari beberapa definisi minat di atas dapat ditarik kesimpulan mengenai minat, bahwa minat

merupakan sebuah motivasi intrinsik sebagai kekuatan pembelajaran yang menjadi daya

penggerak seseorang dalam melakukan aktivitas dengan penuh ketekunan dan cendrung

menetap, dimana aktivitas tersebut merupakan proses pengalaman belajar yang dilakukan

dengan penuh kesadaran dan mendatangkan perasaan senang, suka dan gembira
Pengertian                                                                     Membaca



Tampubolon (1993) menjelaskan pada hakekatnya membaca adalah kegiatan fisik dan mental

untuk menemukan makna dari tulisan, walaupun dalam kegiatan itu terjadi proses pengenalan

huruf-huruf. Dikatakan kegiatan fisik, karena bagian-bagian tubuh khususnya mata, yang

melakukannya. Dikatakan kegiatan mental karena bagian-bagian pikiran khususnya persepsi

dan ingatan, terlibat didalamnya. Dari definisi ini, kiranya dapat dilihat bahwa menemukan

makna dari bacaan (tulisan) adalah tujuan utama membaca, dan bukan mengenali huruf-

huruf. Diperjelas oleh pendapat Smith (Ginting, 2005) bahwa membaca merupakan suatu

proses       membangun          pemahaman         dari      teks       yang       tertulis.

(www1.bpkpenabur.or.id/jurnal/04/017-035.pdf                                             ).



Proses membaca menurut Burn, Roe dan Ross (1984) merupakan proses penerimaan simbol

oleh sensori, kemudian mengintererpretasikan simbol, atau kata yang dilihat atau

mempersepsikan, mengikuti logika dan pola tatabahasa dari kata-kata yang ditulis penulis,

mengenali hubungan antara simbol dan suara antara kata-kata dan apa yang ingin

ditampilkan, menghubungkan kata-kata kembali kepada pengalaman langsung untuk

memberikan kata-kata yang bermakna dan mengingat apa yang merela pelajari dimasa lalu

dan menggabungkan ide baru dan fakta serta menyetujui minat individu dan sikap yang

merasakan                                 tugas                                 membaca.



Dijabarkan juga oleh Tarigan (1985) bahwa membaca adalah suatu proses yang dilakukan

serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, suatu metode yang dipergunakan

untuk    berkomunikasi dengan    diri   sendiri dan kadang-kadang orang lain,        yaitu

mengkomunikasikan makna yang terkandung atau tersirat pada lambang-lambang tertulis.
Finochiaro dan Bonomo (Tarigan, 1985) mendefinisikan secara singkat, membaca adalah

memetik serta memahamai arti makna yang terkandung di dalam bahan tertulis.



Sedangkan Juel (Sandjaja, 2005) mengartikan bahwa membaca adalah proses untuk

mengenal kata dan memadukan arti kata dalam kalimat dan struktur bacaan, sehingga hasil

akhir dari proses membaca adalah seseorang mampu membuat intisari dari bacaan.

(www.unika.ac.id.02/05/05)



Spache & Spache (Petty & Jensen, 1980) mengemukakan bahwa membaca merupakan proses

yang kompleks yang terdiri dari dua tahap. Tahap pertama merupakan tahap dimana individu

melakukan pembedaan terhadap apa yang dilihatnya, selanjutnya individu berusaha untuk

mengingat kembali, menganalisa, memutuskan, dan mengevaluasi hal yang dibacanya.

Sebagai suatu proses yang kompleks, membaca memiliki nilai yang tinggi dalam

perkembangan diri seseorang. Secara umum orang menilai bahwa membaca itu identik

dengan          belajar,        dalam          arti         memperoleh           informasi.



Membaca adalah proses berpikir, hal tersebut dikemukakan oleh Burn, Roe dan Ross (1984),

maksudnya adalah ketika seseorang sedang membaca, maka seseorang tersebut akan

mengenali kata yang memerlukan interpresi dari simbol-simbal grafis. Untuk memahami

sebuah bacaan sepenuhnya, seseorang harus dapat menggunakan informasi untuk membuat

kesimpulan dan membaca dengan kritis dan kreatif agar dapat mengerti bahasa kiasan, tujuan

yang ditetapkan penulis, mengevaluasi ide-ide yang dituliskan oleh penulis dan menggunakan

ide-ide tersebut pada situasi yang tepat. Keseluruhan proses ini merupakan proses berpikir.



Chambers dan Lowry (Burn, Roe dan Ross, 1984) menggaris bawahi juga menegasakan hal
yang sama bahwa membaca lebih dari sekedar mengenali kata-kata tetapi juga membawa

ingatan yang tepat, merasakan dan mendefinisikan beberapa keinginan, mengidentifikasi

sebuah solusi untuk memunuhi keinginan, memilih cara alternatif, percobaan dengan

memilih, menolak atau menguasai jalan atau cara yang dipilih, dan memikirkan beberapa cara

dari hasil yang evaluasi. hal tersebut secara keseluruhan termasuk respon dari berpikir.



Stauffer (Petty & Jensen, 1980) menganggap bahwa membaca, merupakan transmisi pikiran

dalam kaitannya untuk menyalurkan ide atau gagasan. Selain itu, membaca dapat digunakan

untuk membangun konsep, mengembangkan perbendaharaan kata, memberi pengetahuan,

menambahkan proses pengayaan pribadi, mengembangkan intelektualitas, membantu

mengerti dan memahami problem orang lain, mengembangkan konsep diri dan sebagai suatu

kesenangan.



Ginting (2005) menyebutkan bahwa membaca merupakan proses ganda meliputi proses

penglihatan dan proses tanggapan. Proses penglihatan dijabarkan oleh Wassman & Rinsky

(Ginting, 2005), sebagai proses penglihatan, membaca bergantung pada kemampuan melihat

simbol-simbol, oleh karena itu, mata memainkan peranan penting. Dan sebagai proses

tanggapan dijabarkan Ahuja (Ginting, 2005), membaca menunjukkan interpretasi segala

sesuatu yang kita persepsi. Proses membaca juga meliputi identifikasi simbol-simbol bunyi

dan mengumpulkan makna melalui simbol-simbol tersebut. Broughton (Gunting, 2005)

mengemukakan      membaca     merupakan     keterampilan    yang    bersifat   pemahaman

(comprehension skills) yang dapat dianggap berada pada urutan yang lebih tinggi (higher

order).                                   (www1.bpkpenabur.or.id/jurnal/04/017-035.pdf).



Lebih jauh lagi, Bowman and Bowman (Sugiarto, 2001) mengemukakan bahwa membaca
merupakan sarana yang tepat untuk mempromosikan suatu pembelajaran sepanjang hayat

(life-long learning). Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Allen dan Valette

(Sugiarto, 2001) mengatakan bahwa membaca adalah sebuah proses yang berkembang (a

developmental process). Davies (Sugiarto, 2001) memberikan pengertian membaca sebagai

suatu proses mental atau proses kognitif yang di dalamnya seorang pembaca diharapkan bisa

mengikuti dan merespon terhadap pesan si penulis. Dari sini dapat dilihat bahwa kegiatan

membaca      merupakan    sebuah   kegiatan    yang    bersifat   aktif   dan   interaktif.

(www,depdiknas.go.id/jurnal/37/perbedaan_hasil_belajar_membaca.htm).



Ditegaskan oleh Cole (1963) bahwa membaca mempunyai nilai besar untuk orang dewasa

karena berkontribusi pada perkembangan, seperti dapat membebaskan dari tekanan, bekerja

dengan penuh inisiatif, mendapatkan informasi untuk memecahkan konflik dan mengenali

karakter dengan mudah. Lebih jauh lagi Cole (1963) menjelaskan bahwa membaca dapat juga

menimbulkan rasa aman dan merealisasikan diri dalam kehidupan pribadi seperti hubungan

yang lebih baik dengan keluarga dan kelompok, perubahan sikap, ide-ide baru serta semakin

menghargai             bebagai           aktivitas           dalam              kehidupan.



Berbagai definisi membaca telah dipaparkan diatas, dan dapat disimpulkan bahwa membaca

adalah kegiatan fisik dan mental, yang menuntut seseorang untuk menginterpretasikan

simbol-simbol tulisan dengan aktif dan kritis sebagai pola komunikasi dengan diri sendiri

agar pembaca dapat menemukan makna tulisan dan memperoleh informasi sebagai proses

transmisi pemikiran untuk mengembangkan intelektualitas dan pembelajaran sepenjang hayat

(life-long learning)

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:6870
posted:6/20/2010
language:Indonesian
pages:21