Docstoc

GLOBAL WARMING - DOC

Document Sample
GLOBAL WARMING - DOC Powered By Docstoc
					global warming global warming globa
global warming global warming globa
global warming global warming globa
global warming global warming globa
global warming global warming globa
        GLOBAL WARMING globa
global warming global warming
          TRAGEDI PERADABAN MODERN
global warming global warming globa
                    global warming globa
global warmingMTQ NASIONAL XXIII
            KOTA BENGKULU PROVINSI BENGKULU

global warming global warming globa
                  No. Peserta: ……..


global warming global warming globa
global warming global warming globa
global warming global warming globa
global warming global warming globa
global warming global warming globa
global warming global warming globa
global warming global warming globa
global warming global warming globa
         GLOBAL WARMING TRAGEDI PERADABAN MODERN

A. Mukadimah
       Ibarat tubuh manusia, cuaca – iklim juga terdiri dari organ-organ tubuh
yaitu udara bumi dan cahaya matahari. Kalau salah satu organ tubuh tersebut sakit
maka dapat dipastikan seluruh tubuh akan merasakan sakit. Begitupun kalau salah
satu faktor baik udara, bumi atau cahaya matahari terganggu maka cuaca yang
terbentuk akan menjadi ekstrim dan timbulnya gejala perubahan cuaca dalam
jangka panjang yang biasa disebut sebagai perubahan iklim (climate change).
       Terjadinya perubahan iklim akibat pemanasan global (global warming)
yang diiringi dengan beragam fenomena alam ini sebenarnya telah banyak
diberitakan dalam Al-Qur‘an maupun hadits. Global Warming yang baru ramai
dibicarakan oleh manusia di akhir abad ke-20 dan semakin panas isunya di abad
ke-21 saat manusia semakin merasakan dampaknya pada diri dan lingkungan
mereka tinggal, sebenarnya hal itu telah banyak disebutkan dalam 2 sumber pokok
ajaran kita (umat islam). Dampak dari global warming telah disebutkan dalam Al-
Qur‘an maupun al-Hadits sebagai tanda kehancuran dunia.
       Mayoritas kajian akademik dan penelitian tentang global warming baru
dilakukan dalam dua perspektif: ilmu pengetahuan-teknologi dan kebudayaan.
Sedikit sekali kajian serius yang melihat masalah global warming dari perspektif
keagamaan (Islam). Oleh karenanya, tulisan ini akan mengulas tanda-tanda
sekaligus dampak yang ditimbulkan global warming di dalam Al-Qur‘an maupun
Al-Hadits serta solusi yang ditawarkan keduanya.

B. Apa Itu Global Warming?
       Saat ini, hampir seluruh penduduk dunia merasakan suhu udara yang
semakin panas. Kekeringan terjadi di mana-mana. Musim yang tidak menentu
menyebabkan gagal panen, terutama di kalangan petani tradisional. Konon
menurut para ahli, kondisi demikian merupakan dampak global warming.
       Global warming merupakan istilah yang menunjukkan peningkatan suhu
rata-rata udara permukaan bumi dan lautan. Suhu udara rata-rata permukaan bumi
meningkat 0.740 ± 0.180 C dalam 100 tahun terakhir. Suhu global cenderung


                                       1
meningkat sebesar 1.10 sampai 6.40 C antara tahun 1990 dan 2100. (Bruce
Mitchell, 2000:24). Artinya, bencana tersebut sudah di ambang pintu alias di
depan mata. Diperkirakan 30 tahun mendatang air laut naik 10 meter dan akan
sanggup menenggelamkan demikian banyak wilayah di Indonesia, bahkan dunia.
(2000:37). Jika peristiwa itu benar terjadi, sama artinya tragedi bagi umat manusia
di bumi.
       Penyebab utama global warming adalah tingginya level greenhouse gases
(gas-gas rumah kaca), terutama CO2 (karbondioksida) dan metana di atmosfer
akibat aktifitas manusia, seperti tingginya laju pembakaran bahan bakar fosil—
seperti bensin, solar, dan lainnya—dan perubahan fungsi lahan terutama
deforestasi (penebangan hutan). (Achmad Baiquni, 1995:99).
       Global warming telah terbukti memiliki dampak yang sangat luas pada
kehidupan manusia. Tejadinya berbagai bencana alam, seperti gelombang panas,
badai tropis, banjir, tsunami, atau kekeringan berkepanjangan yang melanda
beberapa negara beberapa tahun terakhir ini ditengarai merupakan efek dari global
warming. Selain menelan korban jiwa, bencana-bencana tersebut telah
menimbulkan kerugian ekologi, ekonomi, dan sosial yang sangat besar.
Meningginya level permukaan laut akibat global warming juga telah
menimbulkan kekhawatiran pada masyarakat penghuni pulau-pulau kecil di
beberapa negara akan keberadaan tempat tinggalnya pada beberapa tahun yang
akan datang.
       Global warming juga diyakini sebagai penyebab munculnya wabah
berbagai penyakit. Dimana, perubahan iklim dapat merubah pola distribusi dari
vektor-vektor tersebut dan juga mempengaruhi laju reproduksi dan maturasi
(pematangan benih) dari agen infektif yang ada di dalam tubuh vektor. (Purwanto,
2008:29). Kondisi inilah yang diyakini menjadi salah satu penyebab tingginya
kejadian Malaria dan Dengue pada beberapa negara, termasuk Indonesia.
       Seperti kita ketahui bersama bahwa dampak dari global warning
(pemanasan global) atau perubahan iklim cuaca sudah menjadi isu internasional
yang dikampanyekan untuk segera dicarikan solusinya. Bahkan merupakan salah
satu isu yang sangat penting di seluruh dunia saat ini, selain terorisme. Gegap-


                                        2
gempita penyelamatan alam semesta sudah dimulai sejak KTT Bumi di Rio de
Janeiro, Juni 1992. Tercatat 154 kepala negara menyepakati hasil Konvensi
Perubahan Iklim (Convention on Climate Change) yang mulai diberlakukan pada
1994. Langkah terus berlanjut dengan disetujuinya Protokol Kyoto I dan II,
dimana negara-negara industri yang merupakan agen terbesar terjadinya global
warming harus menurunkan secara sistematis emisi CO2 dan gas rumah kaca.
(Kompas, 18 Januari 2001. Hal. 8, 18).
       Kampanye selanjutnya berlangsung di Bali, Indonesia pada 3 – 14
Desember 2007. Pemilihan Indonesia sebagai tuan rumah dalam kegiatan tersebut
merupakan suatu hal yang menarik. Mengingat Indonesia merupakan paru-paru
dunia yang memiliki luas hutan terbesar di dunia sehingga tidak hanya untuk
Indonesia sendiri, namun negara-negara lain pun memiliki kepentingan terhadap
kelestarian hutan yang ada di Indonesia.

C. Global Warming dalam Al-Qur’an
       Secara eksplisit, istilah global warming atau pemanasan dunia global tidak
akan ditemukan di dalam Al-Qur‘an maupun hadits, karena ia merupakan istilah
baru yang diperkenalkan manusia modern (para ahli bumi) disebabkan penemuan
ilmiah mereka tentang keadaan cuaca yang tidak menentu, terjadinya bencana
alam di hampir seluruh permukaan bumi, glasier es kutub yang mencair sehingga
menenggelamkan beberapa pulau di dunia, munculnya wabah-wabah penyakit di
beberapa negara secara bersamaan dan fenomena-fenomena alam lainnya yang
ternyata kesemuanya itu disebabkan oleh satu hal yang sama.
       Kondisi demikian diketahui akibat semakin meningkatnya volume
kebutuhan manusia terhadap alat transportasi sekaligus penggunaan bahan
bakarnya, kebutuhan terhadap pakaian dan lain-lainnya menyebabkan munculnya
industri-industri baru yang mayoritas tidak memperhatikan pembuangan limbah
olahannya, penebangan dan pembakaran hutan dan lain sebagainya disamping
jumlah kelahiran di dunia yang tidak seimbang dengan jumlah kematian juga turut
menentukan penyebab global warming. (Purwanto, 2008:24).




                                           3
       Setiap aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya pasti
mempengaruhi lingkungan. Hal tersebut telah ditanyakan oleh para malaikat
kepada Allah saat malaikat bertanya tentang penciptaan manusia sebagai khalifah
di muka bumi padahal manusia itu akan membuat kerusakan di dalamnya.
Pertanyaan ini terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 30:
   
    
    
                                           
                             
    
        
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman:
“Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-Baqarah:
30).

       Manusia sejak lahir memerlukan dukungan alam seperti selimut, kain,
popok, makanan, susu dan lain sebagainya, sehingga keberadaan manusia di muka
bumi akan mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Semakin banyak jumlah
manusia maka kecenderungan kerusakan lingkungan semakin besar. Semakin
banyak kebutuhan manusia, semakin cepat terdegradasi lingkungan di sekitarnya.
       Lingkungan memiliki daya lenting berupa kemampuan untuk kembali ke
keadaan semula setelah diintervensi. Lingkungan dapat kembali ke keadaan
keseimbangan apabila terjadi intervensi, namun tingkat pengembaliannya
memerlukan banyak waktu. (Baiquni, 1996:98). Kecepatan intervensi manusia
sendiri tergantung dari tingkat kebutuhan dan keinginannya.
       Penyebab utama pemanasan global adalah pembakaran bahan bakar fosil,
seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam yang melepas karbondioksida dan
gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Pembakaran
bahan bakar fosil umumnya disebabkan aktivitas industri, transportasi, dan rumah
tangga. Aktivitas tersebut meningkat seiring dengan pertambahan penduduk dan
keinginan masyarakat modern yang semakin beragam.


                                       4
       Jika demikian halnya, pelaku kerusakan lingkungan adalah manusia-
manusia itu sendiri yang hanya bisa menjadi konsumen terhadap sumber daya
alam dan untuk memenuhi selera konsumtifnya mereka berlomba-lomba
mendirikan   pabrik-pabrik,   industri-industri   tanpa   banyak   memperhatikan
kelestarian lingkungan. Sehingga sangat wajar bila kemudian terjadi berbagai
macam musibah bencana alam yang menimpa seluruh masyarakat di dunia ini.
Hal ini memang telah digariskan Allah di dalam Al-Qur‘an:
    
   
                                              
“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh
perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari
kesalahan-kesalahanmu)”. (QS. Al-Syura: 30).

       Sebagai contoh sederhana, kita makan dengan sambal yang sangat pedas
dan berlebihan, lantas sakit perut tentu saja itu disebabkan kesalahan kita akibat
makan sambal berlebihan. Demikian pula perubahan iklim dan pemanasan global
akibat terbukanya lapisan ozon yang menjadi pelindung bumi dari sinar-sinar
―jahat‖ matahari (ultraviolet). Pencemaran (polusi) udara merupakan salah satu
penyebabnya. Polusi ini sudah dimulai sejak manusia menggunakan api untuk
membuka lahan pertanian, memanaskan serta memasak dan semakin besar
permasalahannya ketika dimulainya Revolusi Industri abad ke-18 dan ke-19.
Ditambah kebutuhan terhadap alat transportasi yang semakin tinggi yang
merupakan salah satu penyumbang terbesar polusi udara.(Purwanto, 2008: 18).
       Polusi udara berupa gas SO2 (Sulfur Dioksida) dan oksida-oksida nitrogen
bersenyawa dengan uap air menghasilkan asam sulfur dan asam nitrogen. Asam-
asam ini jatuh ke tanah bersama air hujan atau salju, sehingga kemudian dikenal
dengan hujan asam. (Purwanto, 2008:22). Hujan asam ini menyebabkan kematian
organisme air sungai dan danau serta kerusakan hutan dan bangunan. Keadaan ini
telah disebutkan Rasulullah saw. di dalam Haditsnya sebagai tanda akhir zaman:



“Kebinasaan adalah segala sesuatu yang jelas merusak berasal dari hujan, salju,
belalang, angin atau kebakaran”. (HR. Abu Daud, Juz 9 no. 3011).


                                        5
       Dan sabda Nabi saw.:




Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya kiamat
bukanlah karena tidak ada hujan, tetapi kiamat adalah ketika langit menurunkan
hujan tetapi bumi tidak menumbuhkan sesuatu apapun”. (HR. Ahmad, Juz 17 no.
8155).

       Di dalam situs Wikipedia dijelaskan bahwa peningkatan suhu global akan
menyebabkan permukaan air laut naik serta akan merubah jumlah dan pola curah
hujan. Pemanasan tersebut diramalkan akan semakin tinggi di sekitar kutub utara
yang akan berdampak pada mencairnya es kutub. (www.wikipedia.com). Kutub
utara dan kutub selatan yang terdiri dari gunung dan benua es secara berangsur
terus mencair. Bahkan Emil Salim (mantan Menteri Lingkungan Hidup)
menyatakan dalam 10 tahun terakhir 23 pulau-pulau kecil tak berpenghuni
tenggelam akibat permukaan air laut naik. Daerah Pantura (Pantai Utara) Jawa
Barat; sudah setengah tahun desa dan kampung-kampungnya setiap hari terendam
banjir akibat air laut naik. (Purwanto, 2008:25). Ini tidak mungkin bisa diatasi
dengan membendung laut. Semua disebabkan pemanasan global yang efeknya
sudah sangat jauh.
       Jika volume air laut bertambah, maka permukaan laut akan naik.
Diperkirakan pada tahun 2030 suhu akan naik 1.5 – 4.50 C. Air laut naik 25 – 140
cm. Kota yang tanahnya di bawah permukaan laut—seperti Jakarta, Semarang,
dan Surabaya—punya masalah besar. Jika permukaan laut naik 1 cm, garis pantai
akan mundur 1 m. (Purwanto, 2008:15). Untuk kenaikan 25 – 140 cm, maka garis
pantai mundur 25 – 140 m. Bisa kita bayangkan seperti apa perubahan wajah peta
dunia. Firman Allah swt. dalam Surat Al-Infithar ayat 3 sudah terbukti
kebenarannya.
           
“Dan apabila lautan dijadikan meluap”. (QS. Al-Infithar: 3).

       Sering kita dengar istilah efek rumah kaca (green house effect) akibat gas
karbon (monooksida dan dioksida) yang dihasilkan negara-negara industri


                                       6
membentuk semacam lapisan kaca di udara mengakibatkan cahaya matahari yang
masuk ke bumi tidak bisa terpantulkan lagi karena terhalang efek rumah kaca ini.
(Purwanto, 2008:27). Demikian halnya dengan hutan, pepohonan dan dedaunan
yang seharusnya mampu mengatasi proses asimilasi karbon menjadi senyawa
berbahaya. Tetapi karena illegal loging terjadi dimana-mana maka gas karbon
kemudian mengangkasa mengakibatkan global warming yang terus meningkat.
       Hubungan manusia dengan tanah sangat erat. Kita berasal dari tanah dan
hidup dari tanah. Karena itu, kita harus punya perhatian pada planet tempat kita
berpijak. Sayangnya, penebangan tanpa diikuti peremajaan hutan, selalu terjadi.
Akibatnya, tanah perbukitan rusak, bencana banjir bandang dan tanah longsor
membunuh penduduk sekitar, air menggenangi lahan pertanian, kala kemarau
kebakaran hutan mencemari langit kita. Fenomena ketidakseimbangan hidrologik
dan klimatologik sudah di depan mata. Belum lagi binatang-binatang tertentu
semakin langka, pembangunan kota dilakukan tanpa aturan tata ruang yang baik,
areal persawahan semakin sempit terdesak ekspansi areal perumahan baru dan
industri. Padahal, Allah telah mengingatkan kita di dalam firman-Nya:
    
                                        
    
                           
“Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan
kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah
tidak menyukai kebinasaan”. (QS. Al-Baqarah: 205).

       Siklus air (hidrologis) merupakan bagian terpenting dalam kehidupan
manusia. Air yang turun ke bumi dalam bentuk hujan, diserap pepohonan, lalu
menguap ke udara membentuk awan dan kembali menjadi hujan. (Purwanto,
2008:15). Namun, jika proses penguapan itu berasal dari air yang dikotori
sampah-sampah manusia, limbah-limbah industri dan rumah tangga yang
mengandung berbagai macam zat kimia, maka ia akan bersatu dengan unsur-unsur
di udara membentuk senyawa baru yang lebih berbahaya dan selanjutnya turun ke
bumi bersama air hujan.
       Bisa dibayangkan akibat yang terjadi, yaitu pepohonan tidak dapat
menyerap air beracun, manusia kesulitan mendapatkan air bersih, berbagai jenis


                                       7
penyakit baru mewabah (penyakit kulit, saluran pencernaan, pernapasan, dengue,
dan lain sebagainya), para nelayan kesulitan mencari ikan karena kadar oksigen
air terkontaminasi dan ikan-ikan mencari tempat steril di laut yang lebih dalam.
Bila hal ini berlangsung terus-menerus, kiamat memang sudah kian dekat. (Sayuti
Rahawarin, 2006:77). Sebagaimana sebuah Hadits marfu‟ diriwayatkan Anas bin
Malik bahwa Nabi saw. bersabda:
         “Sungguh diantara tanda kiamat adalah maraknya kematian secara
         mendadak”. (HR ................. ).

         Kerusakan lingkungan hidup (ecological destruction) yang dilakukan
manusia telah menyebabkan global warming kemudian berakibat pada climate
change serta semakin rusaknya keseimbangan alam. Inilah bencana sekaligus
musibah massal yang Allah timpakan kepada umat manusia tanpa memandang
usia, jenis kelamin, kebangsaan, suku, status sosial, muslim-kafir, shaleh-thaleh.
Demikian itu merupakan bukti kebenaran sabda Nabi Muhammad saw. ketika
ditanya para sahabatnya tentang kemungkinan terjadinya bencana di suatu daerah
yang di sana masih terdapat orang shaleh dan „abid (ahli ibadah), yakni ketika
mereka berdiam diri dan tidak peduli terhadap kemaksiatan yang terjadi di
sekelilingnya. (HR ...................... ).

D. Saatnya Menjadi Rahmatan lil ‘Alamin
         Proses kerusakan lingkungan telah terjadi dan terus terjadi. Alam seperti
tak bersahabat lagi dengan manusia. Tidak ada kenyamanan lagi kala menghirup
udara pagi. Hingga bisa jadi, suatu saat kehidupan terhenti dengan cepat. Itu
semua karena ulah tangan manusia dan bencananya pun menimpa manusia itu
sendiri. (QS. Ar-Rum: 41).
         Untuk mengatasinya, kita harus membentuk Sumber Daya Manusia
(SDM) bertakwa yang bisa mengelola bumi sesuai petunjuk Allah swt. Dengan
begitu, bukan hanya kita (manusia) yang sejahtera tapi juga alam ikut lestari.
Sebab, manusia diciptakan Allah untuk mengemban tugas seperti yang
dibebankan kepada Nabi kita:
                                 
                                            

                                               8
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi)
rahmat bagi semesta alam”. (QS. Al-Anbiya: 107).

       Paradigma rahmatan lil „alamin bukan hanya menyangkut aspek diniyah,
tapi juga secara zhahir bahwa seorang mukmin adalah manusia yang menjadi
bagian dan pemberi kesejahteraan bagi lingkungan tempat hidupnya. Sayyid
Quthub di dalam tafsirnya, Fi Dzilal Al-Qur‟an (2004: Juz 8, 92), menjelaskan
bahwa risalah Nabi Muhammad saw. berlaku untuk umatnya yang beriman dan
keseluruhan manusia serta segala hal yang manusia berhubungan/berinteraksi
dengannya. Hal senada juga diungkapkan Quraish Shihab di dalam Tafsir Al-
Mishbah (2002: Juz 8, 135), bahwa maksud rahmatan lil „alamin bukanlah rahmat
hanya bagi kaum muslimin—sebagaimana dipahami golongan Mu‘tazilah—tetapi
ia diperuntukkan bagi seluruh umat, muslim maupun kafir dan bahkan kepada
seluruh makhluk ciptaan Allah. Jadi, keselamatan, kesejahteraan dan keutuhan
ekosistem tempat hidup kita adalah bukti keimanan yang ada di dalam dada kita.
Jika rusak, itu pertanda ada amalan kita yang belum sempurna dalam
mengaplikasikan ajaran Allah swt.
       Mengingat dampak global warming yang sangat luas bagi kehidupan
makhluk hidup yang ada di bumi, sehingga tanggung jawab akan rehabilitasi
lingkungan bukan hanya menjadi tanggungan pemerintah semata, tetapi menjadi
tanggungjawab kita semua. Kampanye anti global warming yang telah banyak
dilaksanakan pemerintah dan berbagai organisasi massa—hingga dikenal slogan
“Let‟s Go Green”, rupanya belum sepenuhnya dapat menyadarkan seluruh
lapisan masyarakat untuk ikut bertanggung jawab.
       Melalui konsep rahmatan lil „alamin, kita dapat memperbarui metode
kampanye dengan pendekatan kesadaran pelestarian lingkungan melalui
eksplorasi ajaran agama. Ajaran-ajaran agama dan spiritual dianggap mampu
memperkuat kesadaran umat manusia untuk mengimplementasikan tugas-tugas
perlindungan lingkungan, juga mampu memperkaya konsep-konsep hukum
tentang kesinambungan ekologi. Nilai-nilai ini dipercaya memiliki kemampuan
tinggi dalam mempengaruhi world-view pemeluknya dan menggerakkan dengan
amat kuat perilaku-perilaku mereka dalam kehidupan. Karena itu, dalam konteks


                                      9
umat beragama, kepedulian terhadap lingkungan amat tergantung pada bagaimana
aspek-aspek ajaran agama mengenai lingkungan disajikan dan dieksplorasi oleh
para pemimpin dan tokoh agama dengan bahasa serta idiom-idiom modern dan
ekologis.
        Dalam konteks hukum Islam, pelestarian lingkungan dan tanggung jawab
manusia terhadap alam banyak dibicarakan. Namun, dalam pelbagai tafsir dan
fikih, isu-isu lingkungan hanya disinggung dalam konteks generik dan belum
spesifik sebagai suatu ketentuan hukum yang memiliki kekuatan. Fikih-fikih
klasik telah menyebut isu-isu tersebut dalam beberapa bab yang terpisah dan tidak
menjadikannya buku khusus. Ini bisa dimengerti karena konteks perkembangan
struktur masyarakat waktu itu belum menghadapi krisis lingkungan sebagaimana
terjadi sekarang ini.
        Namun, kini para intelektual Islam telah memperluas ruang lingkup
kajiannya pada isu-isu modern tersebut dalam karya-karya mereka. Ini menandai
adanya sense of future dari para ulama untuk memperbesar kapasitas peran hukum
Islam dalam kehidupan modern. Pengembangan fikih lingkungan kini bisa
menjadi suatu pilihan penting di tengah krisis-krisis ekologis secara sistematis
oleh keserakahan manusia dan kecerobohan penggunaan teknologi. Upaya
pengembangan fiqh al-bi‟ah (fikih lingkungan) dan perumusannya ke dalam
kerangka-kerangka yang lebih sistematik merupakan sebuah keniscayaan.
        Islam sebagai agama yang secara organik memerhatikan manusia dan
lingkungannya memiliki potensi amat besar untuk memproteksi bumi. Manusia,
bumi, dan makhluk ciptaan lainnya di alam semesta adalah sebuah ekosistem yang
kesinambungannya amat bergantung pada moralitas manusia sebagai khalifah di
bumi.
        Tidak sedikit nash Al-Qur‘an maupun Al-Sunnah yang membahas isu
lingkungan. Pesan-pesan Al-Qur‘an mengenai lingkungan sangat jelas. Mulai dari
penegasan Al-Qur‘an bahwa lingkungan adalah suatu sistem dan manusia harus
bertanggung jawab untuk memeliharanya. (QS. Al-Hijr: 19-23). Al-Qur‘an juga
melarang kita merusak lingkungan dan menerangkan bahwa alam adalah sumber
daya yang harus dikembangkan, bukan dirusak. (QS. Al-A‘raf: 56, Al-Rum: 41).


                                       10
       Meski ayat-ayat tersebut lebih bersifat antroposentris (manusia sebagai
penguasa alam), namun ada perintah untuk mengelolanya dengan segenap
pertanggungjawaban, yakni konsep khalifah sebagaimana disebut dalam Al-
Qur‘an Surat Al-Baqarah ayat 30 yang bermakna responsibility. Dalam kerangka
pemikiran tersebut, maka melindungi dan merawat lingkungan merupakan suatu
kewajiban setiap muslim dan bahkan menjadi tujuan pertama syariah.

E. Khatimah
       Sebagai sebuah sistem, lingkungan terdiri atas dua unsur yang bekerja
secara totalitas sebagai suatu kesatuan. Kedua unsur itu adalah unsur biotik
(manusia, hewan, dan tumbuhan) dan abiotik (udara, air, tanah, iklim dan
lainnya). Semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup yang ada di dalamnya,
termasuk manusia, adalah satu kesatuan yang bekerja mengikuti hukum-hukum
yang telah Allah tentukan kadar ukurannya. Dan, manusia menjadi faktor penentu
capaian tingkat kesejahteraan makhluk lain di sekitarnya. Atau dengan kata lain,
ekosistem sebagai tatanan kehidupan keberlangsungannya sangat ditentukan oleh
perilaku manusia.
       Keterlibatan umat Islam dalam kampanye pencegahan global warming
bukan merupakan sesuatu yang aneh, asing atau terkesan dipaksakan. Tetapi
merupakan sesuatu yang sangat realistis, perlu dan sudah semestinya. Sehingga
menjadi penting untuk melibatkan peranan ulama dan tokoh agama dalam
mengkampanyekan isu internasional tentang perubahan iklim ini. Disamping itu
juga, penting untuk mengeksplorasi tafsir dan fikih yang berkaitan dengan
lingkungan secara optimal. Melalui eksplorasi tafsir dan fikih lingkungan secara
optimal dapat menguatkan kapasitas hukum Islam dalam kehidupan modern.
Sungguh menarik apa yang dikatakan seorang juru dakwah abad ke-14 hijriah.
Hasan Al-Banna menulis:
       Islam adalah suatu sistem yang lengkap, ia dapat mengatasi segala
       fenomena kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, atau pemerintah dan
       bangsa. Ia adalah moral dan potensi, atau rahmat dan keadilan. Ia adalah
       pengetahuan dan undang-undang, atau ilmu dan keputusan. Ia adalah
       materi dan kekayaan, atau pendapatan dan kesejahteraan. Ia adalah jihad



                                      11
dan dakwah, atau tentara dan ide. Begitu pula ia adalah akidah yang benar
dan ibadah yang syah. (Hasan Al-Banna, 1985:15).

Wallahu a‟lam bi al-shawwab.




                               12
                             SENARAI RUJUKAN


Baiquni, Achmad. Al-Qur‟an, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Yogyakarta:
       Dana Bhakti Prima Yasa, 1996.
Banna, Muhammad Hassan. Risalah Al-Ta‟lim, Mesir: Maktabah Al-Baabi Al-
       Halabi, 1985.
Hanbal, Ahmad ibn. Musnad Ahmad ibn Hanbal, Juz 17, Al-Maktab Al-Islami,
       1985.
Kompas, 18 Januari 2001.
Mitchell, Bruce. dkk. Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan, Yogyakarta:
       Gadjah Mada University Press, 2000.
Purwanto, Awas Banjir, Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti, 2008.
------------, Awas Polusi, Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti, 2008.
Quthub, Sayyid. Fi Dzilal Al-Qur‟an, Terj. Juz 8, Jakarta: Gema Insani Press,
       2004.
Rahawarin, Sayuti. Kiamat Tinggal Menghitung Hari, Jakarta: Pustaka Al-
       Mawardi, 2006.
Shihab, Quraish. Tafsir Al-Mishbah, Juz 8, Jakarta: Lentera Hati, 2002.
Sijistani, Abu Daud Sulaiman ibn Al-Asy‘ats Al-. Sunan Abi Dawud, Juz 9,
       Beirut: Maktabh Al-‗Ashriyah, tth.
www.wikipedia.com




                                        13